Rabu, 31 Januari 2018

KH Cholisudin Yusa, Dermawan Posko Banjir NU

Tangerang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sosok kyai NU KH Cholisudin Yusa, MA Ketua Yayasan Tebar Iman Tangerang Selatan sangat peka dan peduli ketika mendengar banjir melanda Banten khususnya di wilayah Kecamatn Kresek dan Gunung Kaler serta wilayah Serang yang berdekatan dengan Kabupaten Tangerang.

Ia langsung terjun ke lokasi (Ahad, 13/1) lalu dan bertemu dengan tokoh NU Banten KH. Ahmad Maimun Alie, MA guna berkoordinasi dalam rangka memberikan bantuan tahap I sebanyak 200 dus mie instan dan 10 dus sarden serta uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah).

KH Cholisudin Yusa, Dermawan Posko Banjir NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Cholisudin Yusa, Dermawan Posko Banjir NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Cholisudin Yusa, Dermawan Posko Banjir NU

Tidak hanya sampai di situ, selang satu minggu kemudian, mendengar Posko NU masih banyak kebutuhan yang diperlukan untuk korban banjir, pada hari Ahad (20/1) ia kembali datang ke Posko NU untuk memberikan bantuan tahap II berupa 1 ton beras untuk diberikan kepada warga korban banjir di sekitar kecamatan Kresek.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Para relawan Posko NU sangat menyambut gembira terutama para korban banjir begitu mendapatkan bantuan yang sangat dinanti.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Basit

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PWNU Lampung Angkat Bicara Soal Pidato Bupati Lampung Selatan

Bandarlampung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Hari Santri Nasional 2017 dinodai dengan ujaran kebencian dan pernyataan provokatif terhadap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang dilakukan oleh Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan di depan para kiai dan santri pada acara HSN tingkat Kabupaten Lampung Selatan, Ahad (24/10).

Terkait dengan isi pidato Zainudin Hasan, Wakil Ketua PWNU Lampung H Aom Karomani menyayangkan statement seorang pemimpin daerah yang seharusnya mampu memberikan pernyataan yang menyejukkan dan menjalin persatuan dan kesatuan.

PWNU Lampung Angkat Bicara Soal Pidato Bupati Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Angkat Bicara Soal Pidato Bupati Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Angkat Bicara Soal Pidato Bupati Lampung Selatan

"Statemen Ketum PBNU ihwal jenggot, celana cingkrang, jubah dan sorban mestinya tidak dimaknai bupati secara general. Ujaran dalam konteks pragmatik selalu melibatkan teks dan konteks. Selalu melibatkan siapa, berbicara apa, dalam konteks apa dengan tujuan apa dan lain-lain," jelasnya, Selasa (24/10).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Oleh karena itu menurutnya para ahli linguistik seperti Levinson, Lech dan lain-lain memahami ujaran selalu melibatkan berbagai aspek itu hingga menjadi utuh maknanya.

"Ujaran Ketum PBNU soal jenggot, celana cingkrang, jubbah, dan sorban tentu tidak ditujukan secara general pada semua umat Islam apalagi pada para pendiri NU yang berjenggot dan bersorban tapi ditujukkan pada orang-orang tertentu yang beragama secara formal, tidak pada esensi atau substansi agama," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ujaran ini ditujukan kepada kelompok yang cenderung membidahkan pihak-pihak lain termasuk para ulama pendiri NU itu sendiri.

"Jadi Bupati harus tahu konteksnya tentang makna dan tujuan statemen Ketum PBNU tersebut. Makanya ia harus tabayun dulu sebelum bicara soal itu," tegasnya seraya mengingatkan hal inilah yang harus dipahami oleh pihak di luar NU.

Senada dengan Aom, Ketua MUI Lampung KH Khairuddin Tahmid menyayangkan pernyataan yang disampaikan langsung di depan warga NU Lampung Selatan tersebut.

"Mestinya pejabat publik harus bijak dan memilih diksi yang arif sekaligus berhati-hati dalam berujar. Apalagi sumbernya tidak jelas sehingga penarikan pendapatnya juga tidak sesuai dengan yang sebenarnya," ujarnya.

Ia berharap hal ini tidak boleh lagi terjadi lagi kepada siapapun. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Loket Pendaftaran Mudik Bareng PBNU Dipadati Peminat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Takmir Masjid PBNU kembali membuka pendaftaran Rombongan Mudik Bareng PBNU hari ini, Senin (7/7) pagi di masjid An-Nahdlah PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat. Para pendaftar tampak antre untuk mendapatkan tiket dari 15 bus rombongan mudik untuk tujuan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Untuk mendapatkan tiket, para pendaftar cukup mengisi formulir yang disediakan panitia dengan menunjukkan fotokopi KTP atau Kartu Keluarga. Mereka yang sudah mengisi formulir diberikan sebuah nota untuk ditukarkan tiket berangkat pada tanggal yang ditetapkan panitia

Loket Pendaftaran Mudik Bareng PBNU Dipadati Peminat (Sumber Gambar : Nu Online)
Loket Pendaftaran Mudik Bareng PBNU Dipadati Peminat (Sumber Gambar : Nu Online)

Loket Pendaftaran Mudik Bareng PBNU Dipadati Peminat

“Panitia menentukan Senin depan, 14 Juli di mana pengunjung dapat menukarkan nota yang mereka miliki dengan tiket,” kata seorang penjaga loket, Dedi Kurniawan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara penjaga lainnya, Sahid memastikan, kuota tiket tujuan Banyuwangi, Surabaya, Madura, Lamongan, Mojokerto, Yogyakarta, dan Solo sudah habis. Yang tersisa Gresik, Semarang, Rembang, Temanggung, Tegal, Brebes, Pekalongan.

“Panitia tidak memastikan hari penutupan. Pastinya pendaftaran akan ditutup kalau kuota tiket dari semua tujuan sudah terpenuhi,” kata Sahid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LTM PBNU menyediakan lima belas bus dengan tiga provinsi tujuan. Rombongan mudik bareng ini akan berangkat pada Ahad 20 Juli. Sebanyak delapan bus akan menyebar ke sejumlah kabupaten di Jateng. Enam bus menuju Jawa Timur. Sementara satu bus untuk tujuan Jawa Barat.

Saat menukarkan nota pada 14 Juli nanti, para pendaftar disyaratkan berinfaq untuk Gerakan Infaq dan Shodaqah Masjid (Gismas) LTM PBNU sebesar Rp. 10.000, tandas Sahid. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, PonPes Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, konflik yang berkecamuk di beberapa negara merupakan akibat dari sikap intoleran. Radikalisme yang dikembangkan segelentir umat beragama di beberapa negara telah menimbulkan perpecahan dan kekisruhan di antara mereka.

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

“Padahal jika ajaran agama dipahami dan diamalkan secara benar, tidak akan menimbulkan kebencian terhadap siapapun, justru yang timbul adalah sikap toleran dan solidaritas,” jelasnya saat bertausiah pada haflah akhirissanah Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Di hadapan ribuan hadirin, Kiai asal Cirebon ini bersyukur peristiwa tersebut relatif tidak ada di Tanah Air. Menurutnya, umat beragama di Indonesia mayoritas bersikap moderat dan hal itu merupakan jasa dari kiprah pesantren.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Alhamdulillah kalau di Indonesia, kita punya warisan sistem pendidikan keagamaan yang mampu mencetak generasi muslim yang moderat, menanamkan karakter bangsa yang luhur, serta mengedepankan akhlakul karimah. Sistem pendidikan tersebut adalah pondok pesantren,” lanjut Kang Said, sapaan akrabnya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, mudir Madrasah Al Hikamus Salafiyah KH Azka Hammam Syaerozi dalam sambutannya menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berorientasi pada pendidikan karakter berbasis pesantren, sehingga mereka diharapkan mampu menjadi figur khoiru ummah (teladan masyarakat), “Madrasah Al Hikamus Salafiyah merupakan lembaga yang memiliki kurikulum independen, mengacu pada pendalaman kitab kuning, mulai dari tingkat ibtida’iyah, tsanawiyah, aliyah dan ma’had aly”.  

Bersama para kiai babakan, Kang Said Aqil juga diberi kehormatan untuk mewisuda siswa MHS dari seluruh tingkatan. Prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh KH Makhtum Hannan, sesepuh pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Acara puncak haflah akhirussanah yang berlangsung di halaman utama Madrasah Al Hikamus Salafiyah itu, sebelumnya diawali dengan atraksi sepak bola api dan mandi petasan di lapangan bola Desa Babakan, Ciwaringin. Hal ini merupakan tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun, dilakukan oleh para siswa kelas I Aliyah Madrasah Al Hkamus Salafiyah. Masyarakat sekitar pun menyambutnya dengan sangat antusias. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gubernur Aceh: Islam Sangat Menghargai Keberagaman

Banda Aceh, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bersyukurlah dengan Indonesia yang beragam. Islam mengajarkan untuk menghormati keberagaman. Maka sangat tepat jika tema Pentas PAI 2017 di Aceh ini mengangkat tema keberagaman yang dipadu dengan keberagamaan.

Gubernur Aceh: Islam Sangat Menghargai Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Aceh: Islam Sangat Menghargai Keberagaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Aceh: Islam Sangat Menghargai Keberagaman

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Provinsi Aceh, Irwandi Yusuf ketika memberikan sambutan dalam acara pembukaan Pekan Keterampilan dan Seni (Pentas) Pendidikan Agama Islam (PAI), Senin (9/10) malam di Taman Sulthanan Shafiatuddin Banda Aceh.

“Islam sangat menghargai keberagaman. Tidak membedakan suku, agama, bahasa, dan lain-lain karena yang dilihat oleh Allah adalah ketaqwaan seseorang,” tegas Irwandi Yusuf dihadapan ribuan hadirin yang memadati tempat pembukaan termasuk warga Aceh yang terlihat antusias melihat berbagai pertunjukan budaya di dalamnya.

Gubernur yang mahir menerbangkan pesawat ini juga menyatakan, seharusnya umat Islam sebagai mayoritas menjaga saudara sebangsa yang minoritas. Menurutnya, dimana ada Islam, di situ ada kedamaian dan perlindungan.

“Umat Islam tidak boleh defensif karena tabiat defensif adalah tanda orang tertekan,” jelas pria kelahiran Bireuen 57 tahun yang lalu ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Irwandi memandang, justru yang terlihat di dalam Islam selama ini cenderung reaktif dan hiperaktif. Merasa tersinggung langsung berbuat ekstrim dan anarkis. Dia pun mencontohkan ketika di Aceh terjadi konflik antaragama dalam kasus pembakaran rumah ibadah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebenarnya siapa yang mayoritas harus melindungi minoritas, karena dalam Islam tidak pernah kita diperintah untuk menyerang dan merusak rumah ibadah,” terang Dokter Hewan lulusan Universitas Syiah Kuala Aceh ini.

Lebih jauh, dia menerangkan hukum perang yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi perang, dilarang menyakiti perempuan dan anak-anak, dilarang merusak tanaman, dilarang membunuh musuh yang sudah menyatakan mnyerah, dan merusak rumah ibadah.

“Itu dalam kondisi perang, apalagi dalam suasana damai seperti sekarang. Kita sebagai umat Islam harus menjaga perdamaian dan menghormati sesama,” tutur pria yang pernah menjadi Tim Perunding GAM di Helsinki, Finlandia ini.

Dalam perhelatan Pentas PAI 2017 yang pertama kali digelar di luar Pulau Jawa ini, Irwandi yang juga pernah menjabat Gubernur Aceh pada periode 2007-2012 ini berharap, anak didik tidak hanya bersaing dalam lomba, tetapi juga saling mengenal satu sama lain.

“Semoga para siswa semakin cinta akan keberagaman dan siap menyongsong masa depan gemilang,” tandas Gubernur. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lemahnya jiwa wirausaha ditengarai menjadi salah satu penyebab maraknya korupsi di Indonesia. Saat ini Indonesia berada pada rangking ke 124 dengan nilai produktifitas kurang dari 5 %.

Demikian salah satu poin kesimpulan dalam workshop kewirausahaan yang digelar dalam rangkaian kegiatan Pasar Rakyat Indonesia di Malang, Sabtu (22/12) lalu.

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha

Nur Shodiq Ask, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi salah satu pembicara dalam acara workshop kewirausahaan yang digelar di kaki gunung semeru, tepatnya  di Aula SMK NU Sunan Ampel desar Wonomulyo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam paparannya, Nur Sodiq mengambil asal muasal keterpurukan Indonesia. Posisi peringkat korupsi Indonesia jauh di dibawah Singapura (peringkat 5), Brunei Darussalam (46), Malaysia (54) dan Thailand (88). Sedang Indonesia saat ini berada pada posisi 118, dan hanya lebih baik bila dibandingkan  Laos (160) dan Myanmar (172).  

Menurutnya, keterpurukan dan rendahnya moralitas itu salah satunya karena kurangnya bangsa Indonesia yang menjadi wirausaha.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka perlu dibangun kebanggaan menjadi wirausaha dan pasti akan banyak memberikan nilai tambah yang bisa diciptakan dan akan berpengaruh langsung terhadap tingkat kesejahteraan rakyat,” katanya.

Yang perlu dibangun diantaranya, mengembangkan potensi lokal menjadi produk unggulan, sehingga kecintaan akan produk dalam negeri semakin meningkat. Dalam hal ini NU, dalam membangun dan mengembangkan wirausaha harus berbasis pada potensi anggota, agar pengembangannya dapat berpengaruh pada perkembangan organisasi, pengelola dan masyarakat.

Ditambahkan, jaringan organisasi NU yang sudah mengakar sampai di pelosok desa adalah potensi yang sangat besar jika dikelola dengan baik. Jaringan ini dapat dipergunakan sebagai jalur distribusi yang sangat cepat dan efektif dalam mendistribusikan produk dan jasa ke pelanggan.

Ketua Panitia Wokrshop dan Pasar Rakyat H Abdul Mujib Syadzili di sela berlangsungnya kegiatan menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk munculkan energi positif para peserta yang umumnya berasal dari kalangan muda NU agar terbentuk mental pengusaha sejati yang pantang menyerah.

“Diharapkan pertumbuhan dan perkembangan wirausahawan-wirausahawan NU kian hari akan semakin meningkat sehingga lebih membawa manfaat bagi jam’iyah,” tandasnya.

Workshop kewirausahaan ini diikuti oleh sekitar 120 peserta yang terdiri dari pengurus MWCNU se Kabupaten Malang dan Ranting NU se Kecamatan Poncokusumo. Juga tampak memadati ruangan, para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Malang.  

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : Sekretariat NU Kab. Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peringatan tahun ketiga wafatnya Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, ulama terkemuka Suriah, berlangsung meriah di Auditorium Universitas Damaskus, Damaskus, Suriah. Para ulama dan petinggi negara setempat hadir memberi hormat Imam Masjid Besar Umayyah Damaskus yang syahid akibat serangan bom bunuh diri ini.

Bagian Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud) KBRI Damaskus kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah melaporkan, acara yang digelar Senin (28/3) tersebut dihadiri sekitar dua ratus orang, termasuk tokoh Suriah seperti Menteri Kebudayaan Suriah Dr Essam Khalil, Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto, Dubes Iran, serta para akademisi, ulama, mahasiswa, masyarakat dan para undangan lainnya.

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Para pembicara dalam acara tersebut adalah Dr Badie Lahham atas nama murid almarhum; Dr Taufik Ramadhan al-Buthi, putra tertua almarhum sekaligus Ketua Persatuan Ulama Syam, mewakili keluarga almarhum; Rektor Universitas Damaskus Dr Muhammad Hasan Kurdi, Menteri Wakaf Suriah Dr Muhammad Abdul Sattar al-Sayyed, dan Menteri Pendidikan Tinggi Suriah Dr M Amer Mardini.

Dalam testimoni mereka memuji Syekh Said Ramadhan al-Buthi sebagai tokoh dengan jasa yang luar biasa kepada masyarakat Suriah. Terbunuhnya al-Buthi oleh kelompok garis keras pada 21 Maret 2013 dinilai tak bisa membungkam semangat juang dan ilmu-ilmunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peringatan haul kali ini juga menjadi momen peluncuran dalil “warisan” Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buti yang berisi pelajaran, khutbah, rekaman acara televisi, video, audio dan buku-bukunya yang dapat diakses melalui media sosial: naseemalsham.com/app, facebook.com/sh.albouti, facebook.com/albouti.e (untuk bahasa Inggris)? dan youtube.com.naseemalshami.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Imam Syahid Muhammad Said Ramadan Al-Bouti yang lahir pada tahun 1929 dikenal sebagai ulama moderat berjuluk “Guru dari Tanah Syam” atau “Syaikh of the Levant.” Ia juga dikenal sebagai pakar dalam berbagai disiplin ilmu agama dan menulis lebih dari 60 buah buku keilmuan Islam dalam bidang syariah, akidah, tasawuf, sejarah, dakwah dan pengajian Islam. Buku-bukunya banyak diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mudik ke Jombang

Pada 1-5 Agustus 2015 dalam suasana mudik lebaran, Nahdlatul Ulama (NU) akan menyelenggarakan forum permusyawaratan tertinggi Muktamar ke-33. Muktamar kali ini sangat istimewa karena digelar di daerah asal para pendiri NU: KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri. Hampir satu abad organisasi NU berdiri baru kali ini muktamar digelar di Jombang.

Sebenarnya ada dua lagi pilihan lagi daerah yang diusulkan sebagai tuan rumah muktamar dalam Munas dan Konbes NU 2014 lalu, yakni Medan Sumatera Utara dan Lombok Nusa Tenggara Barat. Muktamar di luar Jawa akan mempunyai nilai syiar yang lebih luas. Pada masa awal-awal NU berdiri tahun 1936 pun NU sudah menggelar Muktamar di Banjarmasin. Selain itu, Muktamar ke-30 tahun 1999 kemarin sebagai salah satu muktamar terpenting karena waktu itu Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden RI juga telah diadakan di Jawa Timur, di Pesantren Lirboyo Kediri. Namun semangat untuk bermuktamar di daerah asal sekaligus daerah dimana para pendiri NU dimakamkan itu memang sudah tak terbendung. Menjelang peringatan satu abad, NU dirasa perlu memikirkan langkah dan strategi baru dari Jombang.

Muktamar ke-33 akan dihadiri oleh perwakilan 34 wilayah (PWNU) dan lebih dari 500 cabang (PCNU) seluruh Indonesia, ditambah perwakilan cabang istimewa (PCINU) luar negeri. Masing-masing akan mendelegasikan 6 peserta resmi, sesuai dengan jumlah sidang komisi yang ada: bahtsul masail diniyah waqiiyah, bahtsul masail diniyah maudluiyah, bahtsul masail diniyah qonuniyah, komisi program, organisasi dan rekomendasi. Namun panitia tidak mungkin membatasi warga NU yang ingin hadir menyaksikan muktamar di luar utusan resmi. Ditambah warga Nahdliyin yang ada di Jombang dan sekitarnya, diperkirakan ratusan ribu warga akan hadir memeriahkan Muktamar.

Mudik ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mudik ke Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mudik ke Jombang

Muktamar Jombang akan diadakan di empat pondok pesantren besar yakni Pesantren Tebuireng, Pesantren Tambak Beras, Pesantren Denanyar, dan Pesantren Darul Ulum. Para Muktamirin akan menginap di empat pesantren itu. Masing-masing pesantren akan menjadi tuan rumah sidang-sidang komisi, sementara acara pembukaan dan sidang pleno akan dipusatkan di alun-alun kota Jombang. Warga Nahdliyin yang tidak mengikuti forum-forum resmi muktamar akan mengunjungi stand-stand pameran, bazaar dan pasar rakyat, pentas seni budaya, atau berziarah ke makam-makam para kiai dan pendiri NU di Jombang dan sekitarnya.

Salah satu yang menarik menjelang Muktamar ke-33 ini adalah tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.” Tidak biasanya tema muktamar menjadi bahan perbincangan dan diskusi karena media massa lebih suka mengolah isu-isu yang “news” yang dibahas dalam sidang-sidang komisi, terutama dalam komisi bahtsul masail diniyyah yang membahas berbagai persoalan hukum Islam. Istilah “Islam Nusantara” yang dimunculkan oleh NU ternyata memicu polemik yang berkepanjangan di sejumlah media massa nasional. Sebagian besar perbincangannya cukup menarik disimak karena melibatkan para tokoh dan cendekiawan muslim. Perkembangan media sosial modern berbasis internet juga menyebabkan perbincangan mengenai Islam Nusantara juga cepat sekali menyebar dan bersahut-sahutan. Beberapa kalangan Muslim yang merasa “terganggu” atau salah paham dengan istilah Islam Nusantara itu juga praktis menambah semarak suasana menjelang muktamar.

Forum permusyawaratan tertinggi lima tahunan tentunya juga mengagendakan proses pergantian kepemimpinan. Muktamar kali akan menerapkan model baru dalam pemilihan Rais Aam NU dengan sistem yang disebut ahlul halli wal aqdi atau sering disingkat ahwa. Sistem ini merupakan penerjemahan dari istilah musyawarah mufakat yang ada dalam AD/ART NU, yakni pemilihan oleh 9 orang kiai yang dipilih oleh utusan seluruh PWNU, PCNU dan PCINU. Jadi muktamirin tidak lagi memilih pemimpin NU secara langsung, namun mendelegasikan hak pilih kepada 9 orang ahlul halli wal aqdi itu. Dalam draft yang ada, 9 anggota ahlul halli wal aqdi akan memilih Rais Aam sebagai pucuk Pimpinan NU, setelah itu mereka akan menetapkan calon-calon Ketua Umum sebagai pelaksana organisasi dan kemudian dipilih secara langsung oleh muktamirin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebenarnya ahlul halli wal aqdi sudah diterapkan sejak NU berdiri tahun 1926, namun kemudian berganti dengan sistem pemilihan langsung semenjak NU menjadi berubah menjadi partai politik tahun 1950-an. Kemudian pada Muktamar ke-27 tahun 1984, NU menyatakan “Kembali ke Khittah 1926” sebagai organisasi sosial keagamaan dan menerapkan kembali sistem ahlul halli wal aqdi. Namun sistem ini tidak berlanjut pada muktamar-muktamar berikutnya. Eforia demokrasi mengarahkan NU untuk menerapkan sistem pemilihan langsung.

Setelah beberapa kali pelaksanaan muktamar, terutama muktamar terakhir yang ke-32 kemarin di Makassar, model pemilihan langsung dirasakan tidak paas untuk organisasi ulama atau dalam pemilihan pemimpin para ulama. Para kiai atau para pendukungnya akan tampil berhadap-hadapan seperti dalam pelaksanaan pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. Maka dalam Rapat Pleno PBNU di Wonosobo tahun 2013 dan Munas-Konbes 2014 di Jakarta disepakati untuk diterapkannya kembali sistem ahlul halli wal aqdi, terutama dalam pemilihan Rais Aam. Jika telah diketok palu dalam muktamar ke-33 nanti, maka sistem ahlul halli wal aqdi langsung akan diterapkan.

Semua warga Nahdliyin pasti berharap yang terbaik dari pelaksanaan muktamar kali ini. Warga Nahdliyin saat ini sudah tersebar sedemikian rupa, tidak hanya di desa-desa, tetapi juga di kota-kota besar di berbagai daerah di Indonesia dan di luar negeri dengan berbagai polarisasi bidang, peran, dan konsentrasi dan dalam suasana yang berbeda dengan seratus tahun yang lalu menjelang NU didirikan. Bahkan menilik kembali tema muktamar yang sangat ambisius “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,” berarti bukan hanya Nahdliyin yang boleh berharap kepada NU, tetapi juga bangsa Indonesia dan warga dunia. Bukan hanya soal pemimpin NU yang terpilih, tetapi juga keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam muktamar, gebyarnya, suasananya, dan proses-prosesnya adalah cerminan dari sebuah ormas Islam terbesar di dunia. (A. Khoirul Anam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU AGH M. Sanusi Baco memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (20/12) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tampak � hadir dalam penganugerahan itu antara lain Dr H M. Jusuf Kalla, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Dalam sambutan Promotor dan Co Promotor Prof Dr H. Minjahuddin MA dan Prof Dr H. Achmad Abubakar M.Ag. mengatakan, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Beliau telah berupaya pengembangan Ilmu Perbandingan Mazhab, selaku dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin mengajarkan Ilmu Ushul Fikih dan Ilmu Fikih Perbandingan Mazhab. Ternyata ketiak Promovendus menjadi Ketua Jurusan Perbandinagan Mazhab Fakultas Syariah antara tahun 1977-1983," jelas Minhajudin.

"Beliau telah berupaya mengembangkan Ilmu Fiqih Perbandingan Mazhab dengan mewajibkan bagi mahasiswa yang akan ujian akhir jurusan agar membaca salah satu buku referensi dalam Mata Kuliah, diantaranya, Kitabul Fiqh ‘ala Habbul Arba’ah (Mazhab Syafi’i), Bidayatul Mujtahid (Mazhab Maliki), Fiqh Hanbali, dan Fiqh Al Islamiyah Wa Adillatuhu (MAzhab Hanafi),” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Metode perbandingan Mazhab juga diajarkan Promovendus kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Penyelenggaraan PKU tersebut dipusatkan di Masjid Raya Makassar dan Asrama PHI dan hingga kini sudah terlaksana sampai angkatan ke-15. Lulusan PKU tersebut ada yang melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2-S3) UIN Alauddin Makassar, ada yang menjadi PNS, Pengusaha dan ada yang menjadi imam dan membina pesantren di daerahnya. Jelas Promotor beliau

AGH M. Sanusi Baco, Lc dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai Rois Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua MUI Sulsel, serta pada Muktamar NU 2009 di Makassar beliapun masuk dalam jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Redaktur Â? Â? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Doa, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Episode Baru PCINU Pakistan

Oleh Firman Arifandi

Sudah merupakan tradisi yang sejak lama bergulir, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sarat dengan pendekatan-pendekatan intelektual dan sosial kemasyarakatan guna mensyiarkan Islam yang tasamuh rahmatan li-alamin. Hal ini juga menjadi pedoman kami, Pengurus Cabang Istimewa  Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan dalam menjalankan program kerja di negeri Ali Jinnah ini.

PCINU Pakistan merupakan wadah organisasi NU di Pakistan yang berdiri pada tanggal 28 Mei 2005 dan diresmikan oleh Rais Syuriah DR. KH. M. Mashuri Naim, MA. Peresmian yang juga diisi dengan sumpah pengurus tersebut disaksikan oleh Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan Duta Besar RI untuk Pakistan H. Anwar Santoso serta para pejabat KBRI dan masyarakat Indonesia di Islamabad.

Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Episode Baru PCINU Pakistan

PCINU Pakistan yang diresmikan adalah Muhammad Niam, LLM selaku Musytasyar, Reza Muhammad, Lc selaku Rais Syuriah dan M. Sodiq Ahmad, Lc selaku Ketua Tanfidziah untuk masa jabatan 2005-2006.

Salah satu tujuan penting diresmikannya PCINU Pakistan adalah untuk mensinergikan program yang bertujuan memberdayakan kader muda NU. PCI-NU Pakistan yang semula hanya berbentuk paguyuban komunitas NU merubah diri menjadi PCI-NU untuk lebih memperkuat hubungan struktural dengan PBNU di Jakarta. Masyarakat NU di Pakistan menyebar tidak hanya di Islamabad, namun juga di kota-kota lain seperti Lahore, Karachi dan Rawalpindi terdiri dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di Pakistan dan beberapa pekerja Indonesia di lembaga asing di Pakistan.

Sepanjang perjalanannya sejak diresmikan, tak sedikit agenda yang dihelat dan tak lepas dari nuansa keilmuwan, kekeluargaan, dan semangat kenusantaraan. Karena mayoritas warga NU di Pakistan adalah mahasiswa yang notabene menempuh jurusan agama seperti ushuluddin dan fakultas syariah, maka tak jarang mereka menggelar acara diskusi keilmuwan, bahtsul masail, dan lain sebagainya yang memang sengaja dikemas untuk seluruh warga Indonesia di Pakistan dan tidak bersifat eksklusif. Selain itu, acara-acara yang bertujuan mempererat tali persaudaraan antar WNI dan bersifat santai juga kerap digelar seperti tabadul hadayah, Jalan santai berhadiah, perlombaan anak-anak, NU Cup, dan lain-lain sehingga NU di mata WNI dirasa sangat dekat dan bersahabat tidak hanya antar sesama muslim tapi juga semua.

Namun perjalanan yang maksimal ini sempat  mengalami masa kevakuman beberapa waktu dikarenakan beberapa hal. Yakni pada pertengahan tahun 2010 pasca kejadian pemboman di kampus International Islamic University yang menelan belasan korban, dan kemudian berdampak pada kebijakan pemerintah untuk memperketat regulasi di bidang imigrasi. Sehingga terasa sekali susahnya mendapat visa study ke Pakistan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara para pelajar dan mahasiswa yang kerap mewarnai pergerakan NU di Pakistan juga sedikit demi sedikit kembali ke tanah air karena masa studynya telah usai. Masa kevakuman ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dengan kuantitas SDM yang sangat minim sekali, namun NU masih ada dan eksis dengan segala kegiatannya yang sederhana di internal.

Pada akhir tahun 2012 intensitas kehadiran mahasiswa baru mulai kembali dirasakan dan mahasiswa berlatarbelakang NU juga mulai nampak terlihat antusiasnya untuk membentuk aktivitas pada interes yang sama. Mulailah sejak enam bulan setelahnya, yakni tepatnya pada Agustus 2013 kumpulan mahasiswa ini sepakat untuk menggelar yasinan dan kajian rutin setiap malam jum’at bergilir di setiap asrama. Ide terus bergulir hingga akhirnya komunitas NU kembali bisa merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan menggelar pengajian mingguan ke rumah-rumah.

Atas inisiasi bersama, akhirnya mahasiswa berlatarbelakang NU yang berjumlah 25 orang setelah berkonsultasi dengan senior yang ada dan masyarakat yang telah lama tinggal di Pakistan, semuanya sepakat untuk melanjutkan roda organisasi PCI-NU Pakistan yang sempat mengalami masa surut.

Untuk memaksimalkan kerja usaha membangun komunikasi, rencana dan strategi maka PCI NU Pakistan penting  untuk dilanjutkan. Lembar episode baru kini mulai ditoreh kembali setelah para warga Nahdliyin di Pakistan yang terdiri dari segala elemen WNI, mereka kembali menggelar Konfercab NU pada bulan februari 2014 yang saat itu berhasil membentuk formatur dewan Suriah dan pengurus Tanfiziyah yang baru untuk masa Bhakti 2014-2015.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berawal dari pengajian dan tahlilan rutin setiap malam Jum’at di hostel kampus IIUI sejak pertengahan tahun 2013 lalu, dipupuk rasa kebersamaan antar mahasiswa, hingga saat ini PCI-NU Pakistan dan warganya kembali merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan bergilir menggelar yasinan, tahlil dan dilanjutkan dengan kajian kegamaan dari rumah ke rumah. Hal ini dibentuk demi menghidupkan dua aspek penting yaitu menyambung silaturahim dan atmosphere keagamaan.

Beberapa waktu lalu, pada tanggal 2 Maret 2014 Lakpesdam yang dikomandoi oleh saudara Hasanuddin Tosimpak, S.Pd.I menggelar acara nonton bareng alias nobar film Sang KIai mengundang segenap mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Islamabad. Nobar ini dimaksudkan untuk merefleksikan kembali perjalanan kalangan santri dan ulama yang mewarnai proses menuju kemerdekaan Indonesia. Hadir dalam acara tersebut, ketua PIP-PKS Pakistan, saudara Irfan Abdul Aziz, ketua Pengurus Muhammadiyah cabang Pakistan saudara Hatta Fahamsyah, dan perwakilan PERSIS cabang Pakistan saudara Emha Hasan Saifullah. Bedah film dipresentasikan oleh rais Syuriah NU Pakistan saudara Ahmad Badruddin, Lc.

Tak kalah pentingnya, badan otonom Fatayat NU yang merupakan wadah untuk mengoptimalkan gerakan muslimat pada khususnya, juga menggelar kegiatan yang berkaliber unggul. Hingga saat ini program yang rutin mereka gelar adalah kajian mingguan dan satu program yang melibatkan masyarakat Indonesia di Pakistan bernamakan DKI (Daily Khotmil-Qur’an Islamabad), yakni merupakan program mengaji harian untuk membiasakan setiap orang bisa mengkhatamkan satu juz dalam sehari, targetnya agar setiap individu tak lepas kesehariannya dari Qur’an sebagai pedoman dan kemudian mentadaburinya. Program DKI ini dikoordinir oleh saudari Fina Fandini, S.Pd.I dan saudari Ummi Salamah S.Pd.I

Dalam bidang pengembangan  sumber daya masyarakat yang dipegang oleh Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat) PCI-NU Pakistan akan berkonsentrasi menggelar kajian-kajian bertemakan Islam dan nusantara, menggelar bahtsul masail terhadap fenomena-fenomena kontemporer. Selain itu, Lakpesdam juga berkonsentrasi memfasilitasi  paham ke NU-an untuk warganya dalam program orientasi NU yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, Lakpesdam juga telah menggelar pelatihan penggunaan almaktabah as-syamilah dan metodologi penelitian berbasis teknologi digital yang digelar untuk umum dan pada mahasiswa khususnya.

Demikianlah progress seputar PCINU Pakistan pasca konfercab pada Februari kemarin, lembaran baru telah dimulai harapannya ke depan kita mampu bersinergi bersama seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh instansi Indonesia di Pakistan dalam menerapkan program bersama demi membangun solidaritas dan menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan agama.

 

Firman Arifandi, Ketua PCINU Pakistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Ciputat, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kematian tragis salah seorang petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, mengetuk hati masyarakat Indonesia untuk menyampaian solidaritas, tak terkecuali mahasiswa.

Atas peristiwa tersebut, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat menggelar aksi solidaritas di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas membentangkan poster dan juga bendera PMII.

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Aksi yang berlangsung Kamis (1/10) ini dimulai dari depan Fakultas Tarbiyah yang kemudian berjalan menuju taman Fakultas Sains Teknologi dan Fakultas Ekonomi Bisnis. Lalu, massa bergerak menuju taman Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Setelah itu berhenti di Fakultas Adab dan Humaniora dan Fakultas Syariah dan Hukum. Hingga berakhir di depan pintu masuk UIN Jakarta. Setiap taman Fakultas yang disinggahi, mereka berorasi dan mengajak kepada seluruh civitas akademika UIN Jakarta untuk turut bersimpati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami mengangkat tema ‘Ciputat Berduka Cita Atas Meninggalnya Salim Kancil’, dengan maksud membuka setiap mata para civitas akademika UIN Jakarta bahwa ada pelanggaran HAM dalam peristiwa yang menimpa saudara kita di Lumajang,” ujar Abdurrahman Wahid selaku koordinator lapangan aksi.

Dalam aksi tersebut, mahasiwa menuntut pemerintahan Lumajang agar segera menyelesaikan kasus tersebut, dan menghukum seberat-beratnya pelaku yang telah menganiaya korban penganiayaan, Tosan; serta korban pembunuhan sadis, Salim Kancil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya berorasi, mereka juga membawa kotak donasi untuk Tosan yang masih dirawat. Aksi solidaritas tersebut juga diwarnai dengan puisi untuk Salim dan drama teatrikal. Aksi yaang sempat membuat macet jalan raya depan kampus UIN Jakarta ini berlangsung lancar dan damai. (Dany Setiyawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementeria Agama akan memfasilitasi siswa Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Trate Putra Gresik Noval Ilham Arfiansyah untuk menjadi salah satu wakil Indonesia, di ajang Olimpiade Matematika tingkat internasional pada Juli 2016 di Singapura mendatang.

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan memastikan kalau Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag akan menanggung biaya untuk mengikutsertakan Noval pada ajang ilmiah bergengsi itu.

"Kemenag sudah menyiapkan anggaran untuk memfasilitasi para siswa berprestasi untuk mengikuti ajang olimpiade internasional," tegas M. Nur Kholis di Jakarta, Kamis (5/5) melalui rilis pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

"Bahkan siswa madrasah yang menjadi pemenang Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI juga akan difasilitasi keberangkatannya ke Arizona (Amerika)," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut M Nur Kholis, Kementerian Agama selama ini berkomitmen untuk terus memudahkan akses para siswa madrasah dalam meraih prestasi. Pada saat yang sama, Kemenag juga terus meningkatkan kualitas pendidikan madrasah untuk memastikan para siswanya mendapat pendidikan berciri khas Islam yang bermutu.

Karenanya, lanjut Nur Kholis, dalam beberapa tahun terakhir banyak prestasi yang diraih para siswa madrasah. Bahkan, tidak sedikit siswa madrasah yang diterima di beberapa perguruan tinggi ternama, baik di dalam negeri, Jepang, maupun Eropa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Diversifikasi madrasah dan pendirian Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di berbagai daerah menjadi bukti kehadiran Kemenag dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat," kata sosok yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sebelumnya, diinformasikan di salah satu media bahwa Noval Ilham Arfiansyah terancam batal ikut Olimpiade Matematika di Singapura. Pasalnya, pihak keluarga maupun jajaran pengurus dan pengajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Trate Putra Gresik, Jawa Timur, tidak punya dana untuk membiayai kepergiaan Noval mengikuti kejuaraan tingkat Internasional tersebut.

"Dana yang dibutuhkan itu mencapai sekitar Rp 15 juta, sementara pihak sekolah tidak mempunyai dana sebesar itu. Kalau nanti tidak ada pihak dari luar sekolah yang bersedia membiayai, terpaksa Noval tidak bisa ikut," kata Kepala Sekolah MINU Trate Putra Gresik Huda Arifin.

Selain Noval ada satu lagi siswa MINU Trate Putra Gresik yang berhasil menjadi wakil Indonesia di Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut. Ia adalah Tangguh Achmad Fairuzzabady. Namun berbeda dengan Noval, orangtua Tangguh telah menyatakan sanggup menyediakan dana pribadi bagi anaknya dalam mengikuti Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut.

“Kalau Tangguh, kemungkinan besar akan bisa berangkat mengikutinya, karena orangtuanya memang cukup mampu dan berada, sementara Noval tidak,” ucap Huda.

Noval dan Tangguh berhak mewakili Indonesia di ajang tersebut setelah mencatat prestasi apik di Kompetisi Matematika Nalaria Realistik se-Indonesia (KMNR) ke-11 tingkat SD/MI yang digelar oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Gedung Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga Bogor, bulan lalu. Tangguh membukukan medali perak, sementara Noval menyabet perunggu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanulhaq mengungkapkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Jokowi harus disertai perhatian negara untuk pesantren.

Hal itu dikemukakan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat ini saat memberikan materi dalam Focus Group Discussion (FGD) RUU Madrasah dan Pondok Pesantren, Rabu (19/10) di Hotel Lumire Jakarta Pusat.

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Dalam FGD yang digelar LP Ma’arif NU, FPKB DPR RI, dan Kementerian Agama tersebut, kiai yang akrab disapa Kang Maman ini menuturkan bahwa menurutnya, selama ini seolah hari santri hanya sebatas arak-arakan, kirab, dan seremonial.

“Oleh negara, kita seolah sudah cukup bergembira dikasih hari santri. Pengakuan negara terhadap santri mestinya disertai perhatian mereka bahwa pesantren selama ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap pembangunan bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” papar Anggota DPR RI FPKB ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu menurutnya, momen penting Hari Santri harus dimanfaatkan oleh NU untuk mem-breakdown gagasan-gagasan demi kepentingan pesantren dari sudut pandang alokasi anggaran tetap APBN untuk pesantren dan madrasah.

Karena menurut penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini, tidak terpungkiri bahwa selama ini pesantren dan madrasah terutama swasta masih mengalami diskriminasi alokasi anggaran negara. Tidak seperti pendidikan umum yang terbiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekaligus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka dari itu, pengguliran RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini semoga bisa memperkuat payung hukum yang ada selama ini sehingga eksistensi penting madrasah dan pesantren tidak terabaikan secara regulatif,” terangnya.

Senada dengan Kang Maman, Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI M. Nur Kholis Setiawan juga menerangkan bahwa warga NU jangan hanya gegap gempita dengan Hari Santri. Tetapi juga harus mendorong pemerintah atau negara agar melakukan rekognisi (pengakuan) sehingga pesantren terperhatikan dalam alokasi anggaran negara.

“Kita sekarang masih gegap gempita dengan Hari Santri, tetapi bagi saya, ekstrim saya katakan, percuma ada Hari Santri kalau pesantren masih hanya dianggap sebagai pemadam kebakaran. Negara belum hadir di sana,” ujar Nur Kholis.

Karena menurutnya, kita tidak mungkin berargumentasi bahwa guru-guru dan ustadz-ustadz pesantren harus mendapatkan penghargaan negara. “Sama sekali belum bisa. Sebab selama ini, pesantren hanya masuk nomenklatur pendidikan non-formal,” tutur Nur Kholis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mars Fatayat pun Bergema di Hongkong

Bait-bait mars Fatayat NU bergema di gedung Leaders Dancer Shuengwan Hongkong, China, pada acara pengajian akbar dan dzikir senandung munajat pada Ahad siang (6/1) lalu. Kegiatan tersebut digelar atas nama Jamaah Al-Ikhlas Mujahidah bekerjasama dengan 3G.

Fatayat Nahdlatul Ulama

Teladan pemudi utama

Mars Fatayat pun Bergema di Hongkong (Sumber Gambar : Nu Online)
Mars Fatayat pun Bergema di Hongkong (Sumber Gambar : Nu Online)

Mars Fatayat pun Bergema di Hongkong

Berguna bagi nusa bangsa

Menjunjung tinggi agama

Fatayat Nahdlatul Ulama

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wanita berpribadi luhur

Setia trampil dan jujur

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nuju masyarakat adil makmur

Mars Fatayat NU dikumandangkan karena penggerak-penggerak majelis itu adalah aktivis Fatayat NU, baik ketika di tanah air dan dikembangkan di Hongkong melalui Fatayat NU Imroatu Zahro (Imza). 

Buah karya H Mahbub Djunaidi tersebut dinyanyikan 21 anggota Fatayat dengan tujuan memperkenalkan kepada hadirin bahwa di Hongkong ada rintisan PCINU yang diprakarsai Fatayat dan Muslimat.

Tidak ada yang komplain mars tersebut dinyanyikan karena kebanyakan hadirin yang berprofesi sebagai buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong adalah warga NU. 

“Mereka juga termasuk Fatayat dan anggota rintisan PCINU juga, sehingga mars dimasukkan dalam acara. Pada bulan Februari nanti baru Fatayat akan membuat acara khusus,” jelas Umi Muawanah, salah seorang penggerak Fatayat Hongkong, Senin (7/1) melalui surat elektronik.

Pengajian akbar dan dzikir dipimpin KH Imam Hanbali, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Aliya dan Majelis Dzikir Rahmatal Lilalamin Surabaya serta pengasuh 3G. Sementara pelantun senandung shalawat adalah Abdul Muid dari Çepu, Jawa Tengah.

Imam Hanbali, dalam tausiyahnya mengatakan kegiatan semacam itu bisa menambah syiar dan istiqomah. Ia juga mengatakan membaca  shalawat  dan senandung munajat adalah dzikir, dan doa termasuk Istighotsah. 

Dan istighotsah boleh sebisanya. Misal bisanya "Laahaula wa laa quwwata illaa billaahil aliyyil adziim", ya membaca itu saja, yang penting istiqomah dan yaqin, pasti akan diqobulkan hajatnya.

Kegiatan yang berlangsung digedung berkapasitas 700 orang tersebut, diikuti sekitar 500 orang buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong. 

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis     : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:

Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial

Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : 2016

Tebal : 204 halaman

Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mulai mengadakan sosialisasi tentang IPNU dan IPPNU ke sejumlah sekolah umum di Kota Tangerang. Mereka masuk antara lain ke SMKN 8 Kota Tangerang. Mereka juga membagikan Media Pelajar dan Santri (MAJAS), buletin dakwah dwi mingguan terbitan pelajar NU kota Tangerang.

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Organisasi, Pelajar NU Kota Tangerang Keluar-Masuk Sekolah

Guru Agama dan juga pembina Rohis SMKN 8 kota Tangerang M Sudarto menyambut baik kehadiran IPNU-IPPNU ke sekolahnya.

“Saya selaku guru agama dan pembina rohis merasa bangga dengan hadirnya IPNU dan IPPNU ke sekolah-sekolah untuk menyosialisasikan kegiatan-kegiatannya yang bermanfaat terutama hadirnya buletin MAJAS untuk pelajar dan santri” ujar Sudarto, Ahad (11/1).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sosialisasi ini merupakan agenda mingguan IPNU dan IPPNU kota Tangerang. Para pelajar sekolah yang didatangi diperkenalkan apa itu IPNU dan IPPNU. Mereka juga diajak menonton film dokumenter, motivasi belajar dan berorganisasi, dan spiritualitas keislaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung sekali sepekan. Pengurus IPNU-IPPNU kota Tangerang menargetkan kunjungan mereka ke seluruh sekolah-sekolah di kota Tangerang.

“Kegiatan sosialisasi IPNU dan IPPNU ke sekolah merupakan salah satu cara memperkenalkan organisasi pelajar NU kepada para siswa sekolah umum, agar mereka mengetahui kegiatan IPNU dan IPPNU yang bermanfaat bagi pelajar dan sosialisasi buletin MAJAS untuk mereka,” kata pengurus IPNU kota Tangerang Zulbiyadi Fadlan, (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

GP Ansor Lumajang Masa Khidmah 2017-2021 Dilantik

Lumajang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Lumajang resmi dilantik di halaman kampus IAI Syarifuddin Wonorejo, Rabu (20/12). Pelantikan bertema “Bersama Ansor Lawan Radikalisme” tersebut perwakilan Muslimat, Fatayat, serta organisasi kepemudaan seperti PMII, IPNU dan IPPNU.

GP Ansor Lumajang Masa Khidmah 2017-2021 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lumajang Masa Khidmah 2017-2021 Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lumajang Masa Khidmah 2017-2021 Dilantik

Dalam pelantikan tersebut, Ketua PCNU Lumajang KH Nur Syahid mengimbau kepada pengurus GP Ansor yang baru untuk menjalankan amanah dengan menjalankan tugas sebaik-baiknya selama lima tahun ke depan.

“Mudah-mudahan pengurus baru ini membawa amanah selama lima tahun ke depan dan terus bergerak melakukan kaderisasi,” harapnya.

Ia juga berharap bahwa GP Ansor ini berada di garda depan dalam menghadapi radikalisme untuk membentengi NU dan NKRI.

“Saya harap GP Ansor ini berada di garda depan dalam membentengi NU dan NKRI  dari radikalisme, baik melalui Banser bersama Pagar Nusa,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelatihan Kader Penggerak (PKP), lanjutnya harus segera dilaksanakan karena merupakan amanat Muktamar NU ke-33 sebagai syarat dalam kepemimpinan NU yang akan datang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PC GP Ansor Kabupaten Lumajang untuk masa khidmah 2017-2021 dipimpin Ketua H. Fahrur Rozi dan Sekretaris M. Farid Wazdi. (Ismail/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Kajian Sunnah, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Jambi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menguatkan nilai-nilai Islam moderat di Indonesia. Pesan ini ditegaskan Kiai Said pada agenda pengajian Haul 3 Kiai Jambi (Syaikh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim) di Pesantren Asad di Jambi, Rabu (29/11/2017).

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Hadir dalam agenda ini, Pengasuh Pesantren Asad KH Najmi Qadir,  Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, Wasekjen PBNU H Suwadi D. Pranoto, Bendahara Pagar Nusa, Indrawan Husairi, Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda, Gubernur Jambi Zumi Zola, serta sesepuh NU dan pesantren di Jambi.

Dalam ceramahnya, Kiai Said menegaskan pentingnya menyebarkan nilai-nilai Islam Nusantara di ranah internasional dan media sosial. "Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam," jelas Kiai Said.  

Dalam pandangan Kiai Said, penting untuk merawat budaya sebagai pondasi dakwah keislaman. "Islam Nusantara itu Islam yang dibangun dari sendi-sendi budaya. Budaya negeri ini, bukan budaya Arab, tapi budaya Nusantara," terang Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta.

"Saya di Arab tiga belas tahun, pulang membawa empat anak. Tapi yang saya bawa pulang itu ilmu, bukan simbol-simbol budaya. Demikian pula Prof Quraish Shihab, Prof Aqil Munawar, dan Kiai Mustofa Bisri. Semuanya bawa ilmu, tidak ada yang mengimpor budaya Arab ke negeri ini," ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Said berpesan agar warga muslim negeri ini mencintai tanah air. "Mari kita cintai negeri ini. Mari kita kuatkan Islam dan nasionalisme kita. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengusir orang-orang yang bikin gaduh, bikin rusuh di Madinah," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Said mendorong pemimpin daerah tegas terhadap pelaku kerusahan, kelompok teroris. "Untuk sekarang, para pemimpin daerah, silakan usir para pengusik dan perusuh bangsa. Usir ideologinya, kalau orangnya silakan masuk NU, silakan masuk Muhammadiyah, masuk Persis, dan ormas Islam moderat lainnya," tegas Kiai Said. 

KH Najmi, pengasuh pesantren Asad Jambi, mengungkapkan pentingnya meneladani kiai-kiai untuk masa depan santri. "Syekh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim, merupakan teladan bagi pengembangan keilmuan dan akhlak santri," ungkapnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren Asad Jambi, didirikan oleh Kiai Majid al-Jambi, yang diteruskan oleh Kiai Ibrahim Majid dan Kiai Qadir Ibrahim. Kiai Majid al-Jambi, merupakan penasihat keagamaan Sultan Thaha, Kasultanan Jambi. Pada masa kolonial, Kiai Majid pernah diutus Sultan Jambi ke Kasultanan Ottoman di Turki, untuk melawan pasukan kolonial di Hindia Belanda. 

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengkonsolidasi pasukan inti Pagar Nusa di Jambi. "Kalau kita mau keras, itu harus punya keris, seperti pernyataan Kiai Wahab Chasbullah. Pasukan inti Pagar Nusa untuk mengabdi dan mengawal kiai, mengkampanyekan Islam Nusantara," jelas Nabil. 

Dalam kesempatan ini, Direktur NU Care-LAZISNU,  Syamsul Huda juga menyerahkan bantuan untuk perbaikan infrastrukur pesantren Asad Jambi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tragedi Losarang

Tragedi politik menjelang Pemilu 1971. Losarang adalah sebuah daerah basis Partai NU di wilayah Kabupaten Indramayu, yang mengalami kekerasan sadis, diteror dan diintimidasi. 

Penduduknya mengungsi untuk menyelamatkan diri, sebagian mereka tinggal di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Tragedi Losarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Losarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Losarang

Peristiwa ini terungkap dan diangkat di harian Sinar Harapan. Koran ini mengirim seorang wartawannya, Panda Nababan, untuk meliput Losarang. Nababan datang ke Losarang ditemani KH Yusuf Hasyim dan Zamroni. 

Mereka menyaksikan masjid dibakar atau rumah-rumah dihancurkan. Nababan mengatakan warga NU Losarang meninggalkan tiba-tiba rumahnya, karena dirinya menyaksikan di atas meja makan masih ada piring-piring  dan cangkir beserta makanan yang membusuk.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah tiba di Jakarta, Nababan melaporkan liputannya dengan judul “Empatpuluh Lima Djam Bersama Orang Kuat NU”. Tulisan tersebut dimuat di halaman pertama lengkap dengan foto yang menunjukkan kondisi Losarang, dan berencana dimuat berseri. 

Tapi tulisan kedua tidak sempat muncul, karena dihentikan tentara. Nababan sendiri dibawa ke Markas Intelijen Pertahanan dan Keamanan. Interogasi ini merupakan yang kedua setelah diciduk oleh Kodim Indramayu dan disuruh pergi dari Indramayu. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Sholawat, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Aceh, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ulama besar asal Pattani, Thailand, Tuan Guru Haji Ismail bin Umar akan berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Batee Iliek, Aceh. Kunjungan ke Batee Iliek dijadwalkan pada Sabtu (28/5) pagi setelah sebelumnya berkunjung ke beberapa dayah (pesantren) seperti Dayah Darul Muarrif, Dayah Ulee Titi, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Babussalam Blang Blahdeh, dan juga Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga.

Baba Ismail, demikian ia disapa, akan menyampaikan tausiah di depan santri dan dewan guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah sekitar pukul 08.00 Wib di Mushalla Teungku Ahmad Syarif. Selain dalam rangka dakwah, kunjungan pengarang beberapa kitab seperti Mizan ad-Durari, Hikam Jawi, dan Mawaiz al-Iman ini merupakan salah satu bentuk keseriusan para ulama di Pattani dalam memperkokoh hubungan silaturahmi dengan ulama Aceh yang sebelumnya telah berkunjung ke Pattani, termasuk pimpinan Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Dr Tgk Muntasir A. Kadir.

Selain Baba Ismail, beberapa ulama dari luar yang berkunjung ke dayah yang berlokasi di Komplek Makam Syuhada Tgk Chik Kuta Gle ini, seperti Syeikh Abdurrahman bin Umar Al-Ahdhal dari Yaman, Mufti Damaskus Syekh Adnan Al-Afyouni, Syekh Mahmud Syahadah dan Syekh Omar Dib yang ketiganya berasal dari Suriah, dan juga beberapa ulama lainnya dari dalam dan luar negeri.

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok Pagi, Baba Ismail Thailand Berkunjung ke Dayah Jamiah Al-Aziziyah Aceh

Banyaknya ulama yang berkunjung ke dayah salah satunya disebabkan nama besar pendirinya, Abu Mudi yang memang telah mempersiapkan 18 hektar lahan di tempat ini sebagai cikal bakal lahirnya Universitas Al-Aziziyah. (Muhammad Iqbal Jalil/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

Oleh Muhammad Ishom

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Rum, Ayat 21:

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkawinan, Seks, dan Cinta dalam Islam

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian semua istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ayat di atas cukup populer dan sering dibacakan oleh para qari’ dalam acara resepsi perkawinan. Demikian pula para kiai atau ustadz juga sering mengutip ayat itu untuk memberikan wejangan atau taushiyah kepada pengantin baru yang sedang melaksanakan walimatul ‘ursy.

Tulisan ini saya maksudkan sebagai sebuah refleksi dari perkawinan kami yang pada tanggal 28 September lalu merupakan ultah perkawinan kami yang ke-25, atau sering disebut ultah perkawinan perak. Refleksi ini juga saya maksudkan sebagai sharing pembelajaran tentang hidup berumah tangga kepada para pemuda yang belum atau akan menikah; sekaligus mengingatkan kembali komitmen para pasutri (pasangan suami istri) dalam membangun rumah tangga.

Sebagaimana saya nyatakan di atas bahwa 25 tahun lalu kami memulai hidup baru. Tetapi pernikahan kami tidak melalui proses berurutan sebagaimana lazimnya di zaman sekarang, yakni: cinta – perkawinan – seks. Terus terang hubungan kami berawal dari perkawinan, seks, lalu cinta. Jadi kami menikah dulu tanpa pacaran dan langsung menjadi suami istri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pertanyaannya adalah proses atau pola urutan manakah yang lebih sesuai dengan tuntunan Islam dalam membangun rumah tangga? Apakah seperti yang lazim di masyarakat di zaman sekarang, yakni cinta - perkawinan – seks, ataukah seperti pengalaman kami yang itu sering terjadi di zaman dulu, yakni perkawinan - seks - cinta?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita kembali pada ayat yang di awal telah saya sebutkan. Ayat tersebut akan saya uraikan sesuai dengan kandungan maknanya. Secara sederhana dapat saya uraikan bahwa ayat di atas memiliki sedikitnya 3 (tiga) makna penting sebagai berikut:

1. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri.”

Salah satu makna terpenting dalam penggalan ayat ini adalah bahwa sebuah rumah tangga diawali dengan perkawinan. Tidak boleh sebuah rumah tangga diawali dengan seks tanpa perkawinan, karena inilah yang disebut kumpul kebo. Kumpul kebo itu sendiri seringkali barawal dari cinta. Oleh karena itu kita patut berhati-hati dengan cinta yang datangnya sebelum perkawinan karena ia bisa menjerumuskan jika tidak dikelola dengan baik.

Sudah banyak terjadi apa yang sering disebut dengan “kecelakaan” di mana seorang perempuan mengalami kehamilan, atau seorang laki-laki menghamilinya sebelum perkawinan. Ini artinya mereka telah menempatkan seks sebelum perkawinan. Jelas hal ini tidak sesuai dengan penggalan ayat di atas yang menegaskan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan keluarga atau rumah tangga dimulai dari perkawinan.

Melalui perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan akad nikah dengan syarat dan rukun tertentu. Sekali lagi prosesi perkawinan merupakan awal terbentuknya rumah tangga di mana hubungan mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan kemudian menjadi hubungan suami istri secara sah. Hubungan ini penting karena memberikan legitimasi terbentuknya sebuah rumah tangga sebagai tempat berlabuh untuk mencapai ketentraman hidup atau yang disebut dengan kehidupan yang sakinah.

2. ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Allah menciptakan istri-istri untuk kamu semua dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Penggalan ayat di atas mengandung makna bahwa tempat berlabuh berupa rumah tangga dimaksudkan oleh Allah agar manusia dapat mencapai ketenteraman hidup atau kehidupan yang sakinah. Kita semua tahu bahwa manusia dianugerahi Allah SWT dengan syahwat atau hawa nafsu sebagaimana dinyatakan dalam penggalan ayat 14 dalam Surah Ali Imran berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ....

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...”

Penggalan ayat di atas menegaskan bahwa dalam hidup ini manusia dibekali dengan nafsu tertentu, seperti laki-laki memiliki kecenderungan untuk menyukai perempuan dan sebaliknya perempuan memiliki kecenderungan menyukai laki-laki. Mereka juga cenderung menyukai anak-anak sebagai darah dagingnya sendiri. Untuk itulah maka manusia dibekali dengan nafsu seks untuk mendapatkan keturunan. Nafsu seks seperti itu harus mendapatkan tempat penyaluran yang benar, yakni dengan memiliki pasangan hidup yang disebut istri atau suami melalui perkawinan.

3. ? ? ? ?

Artinya: “Dan dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Dengan adanya tempat berlabuh yang jelas melalui perkawinan yang sah, maka di situlah nafsu seks yang kemudian berkembang menjadi rasa kasih atau cinta birahi menemukan salurannya secara benar. Cinta birahi (mawaddah) adalah rasa kasih yang pengungkapannya melalui seks. Sebagaimana diuraikan di atas, seks itu sendiri hanya boleh disalurkan setelah perkawinan. perkawinan tanpa seks sulit untuk mencapai cinta, dan seks tanpa perkawinan adalah perzinahan dan tidak akan menghasilkan cinta sejati yang dalam bagian ayat itu disebut sayang (rahmah). Sayang atau cinta sejati atau rahmah menjadi puncak dari perkawinan dan seks.

Dengan demikian berdasarkan pada Surah Ar-Rum, ayat 21, saya berkesimpulan proses atau pola urutan membangun rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Islam adalah perkawinan – seks – cinta.

Apa yang saya uraiakan di atas secara tidak langsung menegaskan bahwa dalam Islam tidak dikenal pacaran dimana laki-laki dan perempuan menjalin hubungan dengan dorongan cinta. Sebagaimana saya uraikan di atas cinta yang tumbuh dan berkembang sebelum perkawinan bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan apabila tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik. Namun demikian, Islam membolehkan ta’aruf, yakni perkenalan antara laki-laki dan perempuan sebatas pada hal-hal mendasar, seperti identitas diri dan asal usul keturunan masing-masing.

Pertanyaannya kemudian, bisakah perkawinan atau pembentukan rumah tangga tanpa ada cinta sebelumnya?

Jawabnya adalah seseorang bisa membangun rumah tangga meski tanpa didasari cinta. Dalam Islam, niat beribadah kepada Allah sesungguhnya merupakan pondasi yang lebih mendasar dan kokoh bagi sebuah perkawinan dari pada sekedar cinta yang sewaktu-waktu bisa meredup di tengah jalan, atau hanya menggebu-gebu di awal, atau bahkan berubah menjadi kebencian yang mendalam. Sebetulnya tidak menjadi masalah ada cinta sebelum perkawinan selama cinta itu dapat dikelola dengan baik, tetapi janganlah cinta itu menjadi hal satu-satunya yang mendasari perkawinan karena sekali lagi ada hal yang lebih luhur dan mulia dari pada sekitar cinta, yakni niat beribadah kepada Allah SWT.

Perkawinan yang didasari ibadah akan menghasilkan cinta sejati yang bersumber dari cinta ilahi. Maka seyogianya ibadah itu menjadi dasar perkawinan dan cinta sejati menjadi puncaknya. Cinta yang tumbuh dan berkembang setelah perkawinan dan seks memang memiliki karakter yang sangat berbeda dengan cinta yang tumbuh sebelum kedua hal itu. Dalam perkawinan terdapat rahmat Tuhan. Di sana berkah-Nya dilimpahkan kepada suami dan istri karena perkawinan adalah sunnah Rasulullah SAW. Melalui perkawinan terjadilah sebuah revolusi. seks yang sebelumnya diharamkan serta merta dihalalkan dan bernilai idadah karena diperintahkan setelah berlangsung perkawinan. Dengan seks yang diberkati Tuhan, suami dan istri saling membahagiakan untuk mencapai ridha-Nya. Di titik itu cinta insani dan cinta ilahi bertemu, lalu menyatu menjadi cinta seutuhnya – cinta manunggal.?

Semoga apa yang saya sampaikan di atas dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua khususnya dalam kaitannya dengan perkawinan. Kita diingatkan bahwa puncak dari perkawinan adalah cinta. Maka cinta harus selalu ada dan hidup dalam rumah tangga kita karena itu merupakan rahmah atau cinta sejati yang bersumber dari Allah SWT. Jika akhir-akhir ini kita sering mendengar akronim samara, yang merupakan kependekan dari sakinah, mawaddah wa rahmah, maka implementasinya adalah melalui perkawinan – seks – cinta sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rum, ayat 21 di atas.

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus radio swasta maupun komunitas yang selama ini sudah eksis menyapa pendengar di wilayah Jawa Tengah, berkumpul di Radio Fast FM Magelang Ahad (30/11). Mereka membahas berbagai hal termasuk menjajaki kemungkinan untuk membentuk wadah sebagai ajang komunikasi dan silaturahmi.

Pertemuan yang diprakarsai PWNU Jawa Tengah disambut sangat antusias oleh media radio maupun televisi yang selama ini telah eksis bersiaran secara santun beraqidah aswaja. Sedikitnya 34 pimpinan radio dari 37 undangan, hadir dalam pertemuan ini.

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Sekretaris PWNU Jawa Tengah H Arja Imroni menyambut gembira atas kerelaan insan media radio dan televisi yang selama ini membantu NU menyiarkan ajaran aswaja. Karena, hingga kini PWNU Jawa Tengah belum mampu mendirikan media siaran radio maupun televisi seperti di NU Jawa Timur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Mewakili jajaran PWNU Jawa Tengah, saya menyambut gembira dan ucapan terima kasih kepada insan radio yang dengan secara tulus membantu menyiarkan ajaran aswaja," ucap Arja yang juga pengajar UIN Walisongo Semarang.

Mantan Anggota Komisioner KPID Jawa Tengah H Najahan Musyafa yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah mencatat, hingga hari ini tidak kurang dari 37 radio yang terdiri dari 27 radio swasta dan 10 radio komunitas aktif bersiaran menyapa masyarakat Jawa Tengah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Potensi besar ini, menurut Najahan, sudah seharusnya berhimpun dalam satu wadah untuk saling bersinergi baik dalam program, iklan, dan Sumber Daya Manusia (SDM).?

Pertemuan ini kemudian menyepakati sejumlah poin antara lain menyetujui pembentukan wadah jaringan radio aswaja, menugaskan tim formatur untuk menyusun pengurus dan membuat program. Mereka juga akan mengadakan pertemuan rutin di tempat masing-masing secara bergantian untuk saling mengenal radio anggota.

Hadir dalam pertemuan perdana Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah H Dian Nafi yang juga pemilik Radio Gesma FM Solo, pendiri radio Soutunna FM Purworejo KH Khalwani Nawawi, pemilik radio Fastabiq (Fast FM) Magelang KH Yusuf Chudlori dan anggota komisioner KPID Jawa Tengah Tazkiyatul Mutmainnah. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, PonPes, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar 50 orang rombongan Kirab Hari Santri dan Resolusi Jihad NU akhirnya tiba di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/10), tepat pada puncak peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rombongan Kirab Hari Santri Disambut Semarak di Tugu Proklamasi

Mereka yang menempuh perjalanan sejak 18 Oktober lalu dari Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, ini disambut meriah ribuan pelajar-santri dari berbagai sekolah dan pondok pesantren di Jabodetabek, serta para kader IPNU dan IPPNU. Kibaran bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama terlihat di berbagai sudut.

Rombongan Kirab Hari Santri sebelumnya ? menempuh perjalanan menggunakan empat bus mini dan singgah di sejumlah titik di kawasan Pantura. Mereka melakukan ziarah ke makam tokoh-tokoh NU, silaturahim ke kiai-kiai dan pesantren, serta membacakan teks Resolusi Jihad dan Ikrar Santri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam orasinya menegaskan bahwa Hari Santri tidak monopoli milik murid-murid pesantren, melainkan seluruh umat Islam Indonesia yang mempunyai kesamaan spirit kebangsaan. "Insyaallah ini akan ekspor ke luar negeri. Kita tunjukkan Islam Indonesia punya ciri khas," ujarnya.

Hadir dalam kesempatan ini Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin bersama pengurus syuriyah dan tanfidziyah PBNU lain, para pimpinan ormas Islam, para pimpinan badan otonom NU, para kiai, serta beberapa kelompok pasukan TNI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Maruf Amin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang sudah menandatangani penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober dan mendeklarasikannya Kamis (22/10) siang ini. Menurutnya, Resolusi Jihad mesti direvitalisasi maknanya sesuai dengan kekinian, dari jihad perang menjadi jihad perbaikan bagi kehidupan bangsa Indonesia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan.

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sosialisasi empat pilar kebangsaan penting untuk menanamkan paham kebangsaan bagi pelajar sebagai penerus bangsa. Kali ini acara diselenggarakan oleh PP IPNU di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Pusat, Sabtu (29/4).?

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan. (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan. (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan.

Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid mengatakan PP IPNU berfokus melakukan kaderisasi, dengan melakukan penguatan kader dan penataan kembali organisasi. Sebelumnya, pada rapat pleno PP IPNU menghasilkan beberapa kebijakan, yang segera direalisasikan secepatnya sampai ke seluruh daerah.?

?"Kita ingin pemahaman faham kebangsaan bagi pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, dengan paham empat pilar yang kuat," katanya.

Dia menambahkan, para pelajar harus kuat dalam pemahaman kebhinekaan, di tengah ?dinamika berbangsa dan bernegara. Para pelajar ditekankan memperkuat toleransi sehingga tidak terpengaruh dengan yang ingin memecah belah bangsa.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Paham toleransi dan kebangsaan harus ditumbuhkan sejak pelajar, sehingga tidak terpengaruh dengan ideologi yang radikal," pungkasnya.?

Sementara Anggota DPR RI H. Zainut Tauhid Saadi mengatakan, kader IPNU sebagai generasi penerus bangsa harus memahami empat pular kebangsaan. Pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, harus memiliki jiwa kepemimpinan dan paham kebangsaan yang kuat.?

"Para pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, harus memahami dengan penanaman paham kebangsaan," terangnya.?

Dia menambahkan, Pancasila sebagai dasar negara, UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan. ? ?Pandangan diri kebangsaan bangsa Indonesia penting disosialisasikan terus menerus, terutama menangkal pelajar dari pemahaman radikal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kita akan mensosialisasikan empat pilar terus menerus, ? agar pelajar memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah