Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi

Choirotun Chisaan dalam buku Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan mengatakan pandangan kebudayaan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) adalah humanisme relijius, yaitu berlandaskan kepada ketauhidan dan kemanusiaan. 

Lebih tegasnya adalaha adalah, hablum minallah wahablum minan nas, yaitu mencintai Allah dan mencintai manusia. Menurut Chisaan, pandangan Lesbumi semacam itu, merupakan gejala baru di Indonesia di antara pandangan-pandangan kesenian lain yang muncul di tahun 50-60-an.

Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi

Sementara itu, menurut Ketua PP Lesbumi Sastro Ngatawi, pandangan kebudayaan Lesbumi pada masa awal berdiri bisa dilihat dari pandangan para tokohnya pada saat itu, khususnya Usmar Ismail dalam sebuah pidato kebudayaan dan Asrul Sani dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Intinya, Lesbumi pada saat itu menentang liberalisme seni budaya, termasuk ungkapan seni untuk seni. Karena bagi Lesbumi, di balik seni ada etika, norma dan berbagai spirit religiusitas yang tidak bisa semata-mata diabdikan untuk seni,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, melaluis surat elektronik, Ahad (24/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, Lesbumi pada saat itu juga menentang hegemoni kebudayaan asing terhadap budaya lokal. Hal ini dibuktikan dengan penentangan Lesbumi terhadap beredarnya film-film asing secara bebas dan berlebihan.

Sastro menjelaskan, itu bukan sentimen terhadap film asing, melainkan sebagai upaya menumbuhkan dan meningkatkan kualitas film nasional. Upaya itu berhasil dilakukan dengan bukti impor film asing turun sampai mendekati angka 50% dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, sementara produksi film nasional naik hampir 100%.

Artinya, nasionalisme kebudayaan merupakan visi kebudayaan Lesbumi dan pandangan kebudayaan Lesbumi. “Pandangan dan visi seperti itu yang kami teruskan hingga saat ini,” katanya.

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 07 Februari 2018

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia

Sorong, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innâ lillaahi wa innâ ilaihi râji‘ûn. Kabar duka datang dari Papua Barat. Ketua Majelis Ulama Idonesia (MUI) Kabupaten Sorong dan Ketua Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sorong, KH Achmad Anderson Meage meninggal dunia, Ahad (31/1).

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Papua Barat Pelopor Kerukunan Meninggal Dunia

Informasi yang berhasil terhimpun, almarhum wafat di Rumah Sakit Sele Be Solu sekitar pukul 16.00 WIT.

"KH? Achmad Anderson Meage, S.Pdi, M.Pd meninggal kemaren siang (31/1) saat akan mengisi ceramah pengajian di Klafdalim ,beliau pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Saat perjalnan menuju rumah sakit beliau meninggal," tutur KH Ahmad Sutedjo, Rais Suriah PCNU Sorong melalui sambungan telepon pagi ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jenazah almarhum tiba di rumah duka di SP 3 Kelurahan Makbusun sekitar pukul 17.45 WIT. Warga masyarakat yang mengetahui kabar meninggalnya almarhum langsung berbondon-bondong untuk bertakziah ke rumah duka.

Ribuan tamu datang silih berganti, mulai dari para pelajar, santri pondok pesantren, dan ratusan masyarakat dari Wamena. Mereka datang untuk berbelasungkawa dan memberikan penghormatan terakhir berpulangnya sang tokoh yang vokal dalam menyuarakan kerukunan dan persatuan itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampak hadir pula Wakil Bupati Sorong Suka Harjono, Sekda Kabupaten Sorong H Solossa, Kepala BPKAD Kabupaten Sorong Johny Kamuru, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sorong, jajaran Kemenag Kota Sorong, tokoh agama muslim maupun nonmuslim, tokoh masyarakat, dan tokoh adat setempat.

Almarhum dikenal sebagai sosok muslim Papua yang taat dan dekat dengan siapa saja, dan yang perlu diacungi jempol adalah sebagai seorang pemimpin selalu mengayomi semua pihak tanpa membeda-bedakan.

Selain sebagai Ketua MUI dan Ketua FKUB, semasa hidup ia juga sebagai Kepala Sekolah MTsN Model Mariyai (SP 2). Ia lahir tahun 1978 yang dikaruniai 4 orang anak dari satu istri, juga aktif sebagai pengurus Pondok Pesantren Nurul Yaqin (Makbusun). Selain mengajar, almarhum juga selalu aktif untuk memenuhi sejumlah undangan untuk berceramah dalam acara, baik tingkat lokal maupun tingkat Kabupaten.

Aktivis NU Papua, Abdul Wahab menilai Anderson termasuk ulama yang murah senyum dan tegas. Wahab yang pernah berkunjung ke kediamanya bebrapa bulan silam mengaku menerima banyak kenangan bersama ulama yang pandai berbahasa Jawa tersebut.

"Kenangan yang terngiang dibenak saya adalah ketika saya diajak bersama berkunjung ke Pulau Arar. Beliau banyak menceritakan tentang keadan umat beragama di Papua yang rukun dan damai. Beliau juga memberikan nasehat agar bagimana dakwah bisa diterima semua umat," tuturnya.

Wahab menceritakan, Anderson pernah menyampaikan bahwa Papua sebagai provinsi paling timur Indonesia bukan hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga menantikan sentuhan dakwah Islam.

"Tapi karakter Islam yang didakwahkan tersebut harus menampakkan wajah Islam yang santun, teduh, damai, toleran, dan penebar rahmat untuk semesta alam. Islam Nusantara bagi beliau dianggap mampu menjadi perekat NKRI," tuturnya. Al-Fatihah... (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanulhaq mengungkapkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Jokowi harus disertai perhatian negara untuk pesantren.

Hal itu dikemukakan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat ini saat memberikan materi dalam Focus Group Discussion (FGD) RUU Madrasah dan Pondok Pesantren, Rabu (19/10) di Hotel Lumire Jakarta Pusat.

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Dalam FGD yang digelar LP Ma’arif NU, FPKB DPR RI, dan Kementerian Agama tersebut, kiai yang akrab disapa Kang Maman ini menuturkan bahwa menurutnya, selama ini seolah hari santri hanya sebatas arak-arakan, kirab, dan seremonial.

“Oleh negara, kita seolah sudah cukup bergembira dikasih hari santri. Pengakuan negara terhadap santri mestinya disertai perhatian mereka bahwa pesantren selama ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap pembangunan bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” papar Anggota DPR RI FPKB ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu menurutnya, momen penting Hari Santri harus dimanfaatkan oleh NU untuk mem-breakdown gagasan-gagasan demi kepentingan pesantren dari sudut pandang alokasi anggaran tetap APBN untuk pesantren dan madrasah.

Karena menurut penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini, tidak terpungkiri bahwa selama ini pesantren dan madrasah terutama swasta masih mengalami diskriminasi alokasi anggaran negara. Tidak seperti pendidikan umum yang terbiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekaligus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka dari itu, pengguliran RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini semoga bisa memperkuat payung hukum yang ada selama ini sehingga eksistensi penting madrasah dan pesantren tidak terabaikan secara regulatif,” terangnya.

Senada dengan Kang Maman, Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI M. Nur Kholis Setiawan juga menerangkan bahwa warga NU jangan hanya gegap gempita dengan Hari Santri. Tetapi juga harus mendorong pemerintah atau negara agar melakukan rekognisi (pengakuan) sehingga pesantren terperhatikan dalam alokasi anggaran negara.

“Kita sekarang masih gegap gempita dengan Hari Santri, tetapi bagi saya, ekstrim saya katakan, percuma ada Hari Santri kalau pesantren masih hanya dianggap sebagai pemadam kebakaran. Negara belum hadir di sana,” ujar Nur Kholis.

Karena menurutnya, kita tidak mungkin berargumentasi bahwa guru-guru dan ustadz-ustadz pesantren harus mendapatkan penghargaan negara. “Sama sekali belum bisa. Sebab selama ini, pesantren hanya masuk nomenklatur pendidikan non-formal,” tutur Nur Kholis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTT gelar diskusi terbatas pemuda lintas agama di Sekretariat PWNU NTT Jalan W. H. M Oematan Kelurahan Kelapa Lima Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Jumat (23/12). Mereka mendeklarasikan NTT Damai yang memuat sembilan butir pernyataan.

Dalam pertemuan itu seluruh perwakilan pemuda menyatakan mendukung deklarasi cinta damai untuk pemuda dari NTT untuk Indonesia dan melahirkan beberapa poin rekomendasi masing-masing OKP.

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis menegaskan, diskusi terbatas GP Ansor bersama pemuda lainnya adalah bentuk nyata pemuda harus duduk bersama untuk membicarakan berbagai dinamika dari daerah. Pemuda adalah pemimpinan masa depan bangsa.

"Pemuda duduk bersama untuk membicarakan kemajuan bangsa," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam pertemuan ini Kasat Binmas Polres Kupang Kota, Pimpinan Laskar Merah Putih NTT, Ketua Budha NTT, Ketua Pemuda Hindu NTT, Ketua GMKI Kupang, HMI Kupang, PMII Kupang, Kahmi Kota Kupang, GP Ansor Kota Kupang, Fatayat serta Muslimat NU NTT, dan perwakilan media cetak serta beberapa undangan lain dari OKP lokal. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Jokowi Ingatkan NU Agar Perkuat Sektor Pertanian

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Selama ini kaum tani sebagai penyedia pangan justru kekurangan pangan. Artinya, banyak petani Indonesia yang masih jauh dari kata sejahtera.

Demikian ditegaskan oleh Gubernur DKI Jakarta kepada rombongan Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) di Pendopo Balai Kota Jakarta Jl Medan Merdeka Selatan, Rabu (19/3) dalam kegiatan audiensi menjelang pelaksanaan Rakernas Muslimat NU yang akan digelar di Jakarta tepatnya di Asrama Haji Pondok Gede pada tanggal 28 Mei hingga 1 Juni 2014.

Jokowi Ingatkan NU Agar Perkuat Sektor Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Ingatkan NU Agar Perkuat Sektor Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Ingatkan NU Agar Perkuat Sektor Pertanian

“Yang saya tahu itu, orang NU banyak yang di desa dan menjadi petani, perkuat itu sebagai basis perekonomian NU dan bangsa,” kata Jokowi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya dikit-dikit baca platform perencanaan perekonomian NU,” ujarnya sambil membaca draft rakernas Muslimat NU dari Khofifah Indar Parawansa. ?

Dia menuturkan, jangan sampai kita hanya pandai merencanakan namun minim pelaksanaan. “Sebagai contoh, di Bappeda DKI itu penuh dengan ribuan perencanaan, tak kurang sedikitpun, tapi ya itu gak ada yang dilaksanakan,” ungkap Jokowi dihadapan rombongan Muslimat NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rombongan audiensi dipimpin oleh Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan jajaran ketua diantarnya Hj Mahfudhoh Aly Ubaid, Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, dan Hj Sri Mulyati. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Lomba, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 11 Januari 2018

Pimpinan Gerakan Tani Internasional Diserahkan ke Afrika

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. La Via Campesina (LVC), organisasi gerakan petani dunia akan mengakhiri kongres ke-6 yang diselenggarakan sejak 9 Juni kemarin di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini di Jakarta. LVC telah membuat keputusan penting mengenai strategi ke depan, anggota baru, koordinator baru dan masalah internal penting lainnya.

Koordinator global LVC yang juga ketua umum Serikat Petani Indonesia (SPI) mengatakan, sekretariat operasional internasional yang telah berada di Asia selama 8 tahun terakhir, saat ini akan pindah ke Afrika, tepatnya Zimbabwe. 

Pimpinan Gerakan Tani Internasional Diserahkan ke Afrika (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan Gerakan Tani Internasional Diserahkan ke Afrika (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan Gerakan Tani Internasional Diserahkan ke Afrika

"Kami akan menyerahkan  tongkat estafet ke Afrika tahun ini. Afrika adalah benua yang sangat penting karena perusahaan transnasional menaruh perhatian disana,” kata Hendri Saragih dalam konferensi pers di arena kongres, Rabu (12/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka merampas tanah di sana dan memaksakan model revolusi hijau dengan GMO. Kami di Asia telah mengetahui  kegagalan revolusi hijau di sini. Kami memperluas dan memperbesar solidaritas dan persatuan dengan gerakan tani Afrika untuk menghentikan rekolonialisasi ini dan memilih jalur pembangunan yang benar-benar akan menguntungkan bagi masyarakat dan petani, " kata Henry.

Kongres LVC merupakan agenda rutin 4 tahunan yang dihadiri organisasi-organisasi petani dari 76 negara. Pada kongres di Jakarta kali ini LVC mengesahkan 33 anggota baru yang berarti terhitung sebanyak 183 negara telah bergabung bersama dengan anggota negara baru lainnya seperti Palestina dan Taiwan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu Elizabeth Mpofu, dari organisasi petani Zimbabwe yang akan mulai menjadi tuan rumah Sekretariat internasional LVC tahun depan menyatakan, pada tahun-tahun mendatang pihaknya akan terus meningkatkan diskusi mendalam dan komitmen kembali yang lebih intensif berkenaan dengan semua masalah kunci yang telah diputuskan selama konferensi global yang terakhir di Maputo, Mozambik. 

Rencana aksi utama akan dipublikasikan pada tanggal 13 Juni, namun Mpofu mengisyaratkan bahwa akan ada penekanan pada penguatan kampanye untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, memberikan lebih banyak ruang untuk para pemuda, dan juga mempromosikan agenda yang positif melalui kampanye benih global.

Dikatakannya, pada Deklarasi Maputo, LVC telah mencantumkan isu-isu penting seperti membangun gerakan kedaulatan pangan global dengan para aliansi, mendorong Deklarasi PBB mengenai Hak Asasi Petani, menentang perdagangan bebas dan perusahaan-perusahaan transnasional, mempromosikan reforma agraria dan mengatasi dampak perubahan iklim antara satu sama lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Sejarah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tiga perempuan santri bercerita tentang studinya di Eropa langsung dari Student Housing, Amsterdam, Belanda, Ahad (3/9) pagi waktu Belanda, sore waktu Indonesia. Para alumni perguruan tinggi Islam negeri itu berkisah tentang kegagalannya sampai bagaimana menjalani studi di jurusan pilihannya masing-masing.

Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Eva Nur Latifah semangatnya untuk studi ke luar negeri pernah turun karena gagal lulus dari program beasiswa LPDP. Tetapi perempuan yang kini sedang menempuh studi strata duanya di bidang Information Technology University of Twente itu tak patah arang.

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

?

Diterima sebagai penerima beasiswa kursus bahasa asing dari Kementerian Agama pada tahun 2015 lalu, ia kemudian bertemu rekan-rekan di sampingnya sehingga bangkit kembali gairahnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berpikir positif itu sih yang penting,” kata lulusan UIN Sunan Gunung Jati Bandung itu.

Sementara itu, Wakil Sekretaris PCINU Belanda Nur Inda Jazilah harus mengubur mimpi awalnya untuk studi ke Inggris guna mendalami Forensik Linguistik.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Vrije University Amsterdam dipilih dari lima kampus di dunia yang menawarkan jurusan yang sama mengingat keholistikannya karena studinya menempuh waktu dua tahun.

“Dia lebih holistik mempelajari forensik linguistiknya karena dua tahun,” ujar alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

Berbeda dengan keduanya yang studi di Belanda, Ianatul Avifah baru saja submit tesisnya di bidang TESOL di University of Manchester. 180 SKS dalam waktu satu tahun cukup menguras waktu dan pikirannya. Meski begitu, ia mengingatkan tiga hal penting dalam menempuh studinya, “Manajemen waktu dan presistens dan balance juga sih.”

At least kayak nonton YouTube sebentar,” lanjut alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Motivasi dan inspirasi

Berada di lingkungan positif yang saling mendukung menjadi hal terpenting dalam membangun motivasi untuk terus memupuk semangat studi Jazil, panggilan akrab Nur Inda Jazilah. “Yang penting berada di lingkungan semua orang-orang positif,” kata mahasiswa yang baru tiba di Belanda dua minggu lalu itu.

Lain halnya dengan Avifah. Ia selalu daftar setiap kali ada kesempatan short course ataupun student exchange ke berbagai negara. Tapi setiap kali ia daftar, setiap itu juga ia gagal. Lantas ia bertekad, untuk studi S2, ia tidak boleh gagal. “Besok kalau beasiswa S2 harus diterima,” kata perempuan yang pernah gagal mendapat beasiswa di Amerika Serikat itu.

Selain itu, motivasi terbesar baginya dalam menempuh studi di luar negeri adalah orang tuanya. “Orang tua itu yang benar-benar bikin motivasi terbesar,” lanjutnya.

Senada dengan Avifah, Eva juga mengungkapkan hal yang sama, yakni membuat orang tua bahagia. “Membahagiakan orang tua,” jawab Eva saat ia menerima giliran pertanyaan tentang motivasi dan inspirasi studi beasiswa ke luar negeri.

Sejak SMA sampai kuliah merasa sering merepotkan orang tua membuatnya termotivasi untuk bagaimana membuat orang tuanya bahagia. Studi S2 di luar negeri dengan beasiswa dirasa menjadi satu hal yang membuat kedua orang tuanya bangga.

Tantangan terbesar Muslimah studi di Eropa

Mengenai shalat, pelajar muslim tak perlu khawatir. Jazil mengatakan, “Di kampus ada mushallanya.” Selain itu, diskriminasi terhadap Muslim juga tidak ia temukan. “Sejauh ini tidak menemukan ada diskriminasi,” kata pemilik akun Instagram @jazilaaah. Hal terpenting baginya bagaimana menjaga perilaku saja. Mereka pun akan bersikap sama seperti apa yang kita lakukan.

Bahasa menjadi salah satu tantangan tersendiri. Belanda yang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian tidak menjadi masalah dalam studi. “Language barrier gak begitu berarti,” katanya. Dapat menyampaikan ide dengan baik itu hal terpenting menurut santri Pondok Pesantren Sirotul Fuqoha, Malang, tersebut.

Seperti di Amsterdam, University of Manchester juga menyediakan tempat ibadah bagi muslim. “Alhamdulillah lumayan banyak warga muslim di Manchester. Kampus pun menyediakan masjid meskipun sedikit jauh,” kata Afifah.

Masyarakat Inggris juga sangat terbuka dengan keberadaan muslimah. Hal tersebut dibuktikan dengan senyuman orang-orang sana meskipun mereka tidak saling mengenal. “Orang Britishnya welcome, mereka senyum meskipun gak kenal,” lanjut pemilik akun Instagram @ianatulavifah itu.

Pengetahuan tentang budaya negara tempat studi menjadi satu keharusan. “Setidaknya tahu 20-30 % culture negara yang kita kunjungi untuk membantu komunikasi,” kata santri Pondok Pesantren Annuriyah Surabaya itu. Hal itu menurutnya dapat diatasi dengan menonton film.

Eva menambahkan, bahwa pengetahuan budaya itu bisa juga didapat dengan mengikuti kelas akulturasi yang disediakan kampus. “Mungkin bisa masuk kelas akulturasi,” katanya.

Santri Pondok Pesantren Arrisalah Ciamis itu juga mengungkapkan, bahwa kampusnya sangat menerima keberadaan pelajar muslim. “Kampusku sangat welcome sama muslim,” ujarnya.

Selain terdapat masjid, di kampus tempatnya belajar juga terdapat organisasi muslim. Bahkan pemilik akun Instagram @eva_gram itu mengatakan “Kita dapat founding juga.” Di kampusnya tersebut, Eva dan rekanannya pernah mengadakan hijab workshop. Hal tersebut menjadi salah satu media dakwah baginya untuk mengenalkan Islam.

Sebelum mereka menjawab pertanyaan tentang tantangan studi di Eropa, tiga santri yang mendapat beasiswa Kementerian Agama itu masing-masing memberikan pernyataan tentang kebanggaannya menjadi santri, alumni UIN, dan deklarasi kembali ke Indonesia guna mengabdikan diri.

Obrolan para santri perempuan yang sedang studi di Eropa ini dipandu oleh Dito Alif Kurniawan. Pria alumni UIN Walisongo Semarang itu baru saja menyelesaikan studi magisternya di Vrije Universteit, Amsterdam, Belanda.

Diskusi ini disiarkan langsung melalui Instagram @Galerisantri dan @Kajiannusantara atas kerja sama Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Penasihat AIS Nusantara, Romzi Ahmad. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Ahlussunnah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Soal Puasa Ramadhan, Baiknya Ikuti Ketetapan Pemerintah

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengasuh Pesantren Al-Wustho Pringsewu KH Ahmad Nasihin mengajak segenap warga Pringsewu untuk mengikuti ketetapan pemerintah terkait awal pelaksanaan puasa Ramadhan. Menurutnya, mengikuti ketetapan pemerintah adalah sebuah kewajiban.

"Lebih wajib dan hak mengikuti Ketetapan Pemerintah dalam mengawali puasa Ramadhan," kata Kiai Nasihin, Ahad (29/5).

Soal Puasa Ramadhan, Baiknya Ikuti Ketetapan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Puasa Ramadhan, Baiknya Ikuti Ketetapan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Puasa Ramadhan, Baiknya Ikuti Ketetapan Pemerintah

Keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama RI dalam mengawali Ramadhan tidak dilakukan secara asal-asalan. Semua proses pengambilan keputusan yang dilakukan melalui sidang itsbat didasarkan pada perhitungan yang komprehensif dengan menggunakan teknologi dan kaidah-kaidah yang disyariatkan agama.

"Kita sebagai rakyat gampang. Tinggal mengikuti saja," kata Wakil Rais Syuriyah MWCNU Pringsewu ini di depan Jamaah Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU Pringsewu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait dengan sebagian masyarakat yang masih mengedepankan hisab ataupun hitungan lain semisal pasang surut air laut, Kiai Nasihin mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan hukum dan patokan tetap.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Rasulullah jelas memerintahkan untuk melakukan rukyah karena ketetapan menggunakan hisab sering terjadi meleset," tambahnya.

Kiai Nasihin menceritakan bahwa dalam berpusa Rasulullah selalu melakukan rukyah. "Hasilnya selama 11 tahun berpuasa Ramadhan, Rasulullah melakukan 7 kali puasa dengan hitungan 29 hari dan 4 kali puasa dengan hitungan 30 hari. Tidak ada puasa Ramadhan sebanyak 28 atau 31 hari," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut juga Ia menjelaskan berbagai macam hukum terkait Fiqh Puasa sebagai modal ilmu dalam melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Apa itu puasa, apa saja yang membatalkannya, siapa yang wajib melakukannya, kapan dimulainya dijelaskan dengan rinci dengan referensi berbagai macam kitab oleh alumni Pesantren Leler Banyumas ini.

"Setiap orang beramal tidak didasari oleh ilmu, maka amalnya tidak akan diterima oleh Allah SWT," pungkasnya mengutip sebuah maqolah ulama.

Ia memotivasi para jamaah untuk terus memperdalam ilmu dalam melakukan segala bentuk amal ibadah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Mata Air-NU Nganjuk Fasilitasi Siswa Kuliah di Kampus Ternama

Nganjuk, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yayasan Mata Air Nganjuk, Jawa Timur, bersama Pimpinan? Cabang Fatayat NU, Muslimat NU, dan Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) setempat sejak bulan Februari lalu telah membuka pendaftaran program Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 untuk para siswa. Peserta program ini biasa diistilahkan dengan "santri kilat" (sanlat) sukses masuk perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.

"Beberapa perguruan tinggi negeri tersebut di antaranya Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Indonesia (UI) Depok, Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan perguruan tinggi negeri lainnya yang sudah menjadi target penyelenggara,” kata Atourrohman Syahroni selaku manajer kegiatan.

Mata Air-NU Nganjuk Fasilitasi Siswa Kuliah di Kampus Ternama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata Air-NU Nganjuk Fasilitasi Siswa Kuliah di Kampus Ternama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata Air-NU Nganjuk Fasilitasi Siswa Kuliah di Kampus Ternama

Tidak sedikit pelajar melalui program rutin ini terjaring di berbagai perguruan tinggi negeri ternama. Para calon peserta dapat mendaftar melalui dua cara, yakni online dan offline.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan mengakses www.bpunmataairnganjuk.com, para pendaftar bisa mengisi formulir yang tersedia. Pada menu pendaftaran klik? via online, isi formulir yang tersedia secara online, lalu cetak email balasan sebagai bukti pendaftaran dan disetor di kantor lama PCNU Nganjuk, Jalan Supriyadi yang terletak di selatan Alun-alun Nganjuk. Menurut laporan panitia penyelenggara, saat ini beberapa siswa dari berbagai kecamatan di wilayah Nganjuk sudah mulai mendaftarkan diri.

Sementara alur pendaftaran via offline, siswa bersangkutan bisa dating langsung dan mendaftarkan diri di kantor PCNU Nganjuk atau kantor PC Fatayat NU Nganjuk setempat .

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atourrohman menjelaskan, peserta akan melalui tahap seleksi dan hanya akan diambil 100 siswa dengan rincian 50 dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan 50? peserta dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). "Seleksi peserta pada tanggal 20 Maret, untuk tempat pelaksanaan? di kantor baru PCNU Nganjuk Desa Bungur, Kecamatan Sukomoro.

Gus Anto, demikian ia disapa, menambahkan, pelaksanaan BPUN akan dimulai dari tanggal l sampai 30 Mei 2016 mendatang. Peserta akan mendapatkan fasilitas dan layanan antara lain di antaranya uji coba (try out) SBMPTN 2016, modul terpadu, waktu pembelajaran 5 hari, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, pelatihan motivasi, pengembangan kapasitas, dan uotbond.

“Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung menghubungi Facebook Sanlat Bpun Nganjuk; Tweter : @SanlatN; WA 081-136-820-18; call center 085604444831 (M Khoirul Anwar, S.Pdi), 085236906444 (Samsul Hakim, M.MA), 082230059559 (Tutik Malikhah,S.Pdi),” tuturnya. (Anwar Muhammad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Keputusan untuk berkiprah dalam organisasi tanpa melalaikan kewajiban sebagai Ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Namun, hal itulah yang dilakukan Nyai Solichah Saifuddin Zuhri. Mertua KH Salahuddin Wahid ini berprinsip aktif dalam sebuah organisasi tak harus meninggalkan peran utama dalam keluarga.

Karena itu pula, dia selalu mengajak anak-anaknya dalam kegiatan organisasi yang dia lakukan. Seperti saat kampanye Pemilu 1955, saat itu Nyai Solichah diberi tanggung jawab sebagai Juru Kampanye (Jurkam) NU (ketika masih menjadi partai politik) keluar daerah. Bertepatan kala itu dia punya momongan yang masih kecil, yakni seorang putri berusia 10 tahun bernama Farida dan adiknya yang masih bayi bernama Baihaqi.

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Solichah Saifuddin Zuhri: Ibu Sejati yang Tangguh Berorganisasi

Meski berada di panggung kampanye, Nyai Solichah tetap membawa kedua anaknya menghadiri undangan rapat kampanye. Alhasil, Nyai Solichah berpidato sementara si kecil Baihaqi digendong sang kakak tanpa bantuan baby sitter. Hal itu sebagai bukti kemandirian sosok Nyai Solichah Saifuddin Zuhri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang, selama hidupnya Nyai Solichah berpandangan bahwa kaum perempuan harus bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Selain itu, seorang perempuan harus menguatkan kehidupan keluarganya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berkarir atau pun berorganisasi. Karena tanggung jawab sebagai Ibu Rumah Tangga menjadi tanggung jawab utama. Karena prinsip-prinsip yang dia pegang itu lah tak ayal dia tetap membawa Sang Anak kala beraktivitas dalam organisasi.

Keterlibatan Nyai Sholihab dalam Muslimat NU dimulai dari bawah ketika menjadi Ketua Muslimat NU wilayah Jawa Tengah tahun 1950-1955. Baru sekitar 1956-1989, dia dipercaya sebagai salah satu ketua di PP Muslimat NU. Bahkan hingga Nyai Solichah wafat 6 Maret 1990, beliau masih berstatus sebagai pengurus PP Muslimat NU.

Kiprahnya dalam Muslimat NU tampak di bidang kesehatan. Dia pernah menjabat sebagai Direktris Rumah Bersalin Muslimat NU di Hang Tuah, Jakarta Selatan. Rumah bersalin itu dibangun di atas tanah wakaf suaminya KH Saifuddin Zuhri. Meski menjadi bagian dari Direktris, dia tetap menjalankan hobinya dalam hal menjahit dan berkebun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari perkawinannya dengan KH Saifuddin Zuhri, Nyai Solichah dikaruniai 10 anak yakni Fahmi D Saifudin, Farida Salahuddin Wahid, Annisa S Hadi, Aisyah Wisnu, Andang Fatati, Ahmad Baehaqi Saifudin, Yulia Nur Soraya, Annie Lutfia, Adib Daruqutni, dan Lukman Hakim Saifudin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI. (Mahbib)

Diolah dari buku "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah . Tanggal 5 Oktober merupakan hari bersejarah bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atas instruksi Presiden Sukarno yang oleh ulama Nahdlatul Ulama (NU) diberi gelar Waliyul Amri Dhoruri Bisyaukah. Namun hal jarang diketahui publik, kebersamaan TNI dan ulama bersama mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bhineka ini. 

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

"Panglima Besar Jenderal Sudirman ialah sosok relijius luar biasa. Diangkat sebagai jenderal saat usia 29 tahun dan dengan kondisi beliau sakit parah, harus bergerilya untuk memimpin pasukan, demi kedaulatan negara Indonesia. Beliau dikabarkan sangat dekat dengan rakyat, tidak pernah mengeluh, dan tetap berusaha untuk istiqomah dalam perjuangannya," ujar Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama, di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (6/10).

Peran serta Jenderal Sudirman dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sungguh luar biasa besarnya. Mengkondisikan serangan serentak dari seluruh wilayah bantuan Belanda sehingga menghambat laju tentara Belanda dan berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih ada. Peristiwa ini menimbulkan kecaman dunia internasional, dan berakhir dengan manis, yakni pengakuan kedaulatan Indonesia. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tapi belum sempat menikmati masa damai, beliau harus berpulang, menyongsong haribaan Ilahi," ujar dia lagi.

Ia menambahkan ulama yang mempunyai peran dalam kedaulatan negara adalah Simbah Kiai Haji Machrus Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sosok yang luar biasa berkharisma ini tentu lebih dikenal sebagai begawan ilmu agama yang jarang ada tandingannya. Beliau begitu dicintai oleh seluruh santri dan masyarakat karena terbukti berkhidmah tanpa syarat," tuturnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa Yang Mulia Simbah Kiai Haji Machrus Aly salah satu pengawal NKRI sejati. 

"Beliau turut berperan menginstruksikan pelucutan tentara Jepang di Surabaya dan mengomando 97 santri Lirboyo untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November. Beliau berprinsip untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai hingga titik darah penghabisan," ujar dia lagi.

Hal tersebut, imbuh Shuniyya, yang di kemudian hari menjadi embrio Kodam Brawijaya, penjaga keutuhan NKRI di Jawa Timur. 

"Sehingga tidak heran jika beliau begitu dihormati oleh kalangan militer. Istiqomah beliau sungguh luar biasa. Beliau mengambil jalan tetap berada di pesantren untuk mengawal keilmuan agama. Tidak terbersit untuk menggayuh kekuasaan," paparnya.

Ulama lain penjaga NKRI yakni Singa Karawang alias Yang Mulia Simbah Kiai Haji Nur Ali. "Tokoh kharismatik tersebut tidak diragukan lagi pengabdiannya untuk NKRI. Pada saat perang kemerdekaan, beliau berangkat ke Yogyakarta dan ditemui oleh Jenderal Urip Sumoharjo sebab Jenderal Sudirman sedang tidak ada di tempat. Keadaan negara dalam kondisi genting.”

"Beliau diminta untuk membentuk pasukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak di wadah TKR. Beliau akhirnya membentuk Tentara Hizbullah-Sabilillah dan berkali-kali berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda melalui taktik perang gerilya. Beliau pulalah yang melindungi kelompok orang-orang Kristen yang hendak dibantai oleh pasukan Belanda. Beliau pulalah yang berinsiatif mengibarkan ribuan bendera merah-putih sehingga membuat Belanda marah besar. Atas perjuangan beliau yang luar biasa, beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006," demikian Shuniyya Ruhama. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

 

Keterangan Foto: Wahono (Pangdam V Brawijaya) disambut KH Machrus Aly saat berkunjung ke Pesantren Lirboyo, Kediri. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Lomba, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Asisten 1 bidang Pemerintahan dan Sosial H Athoillah Syatori mengajak kepada jamaah Calhaj Brebes untuk mematuhi segala petunjuk yang diberikan oleh para instruktur. Pasalnya, para pemberi materi telah berpengalaman dalam menjalani ritual ibadah haji. Termasuk petunjuk dokter dan tenaga medis, agar terjaga kesehatannya saat menjalani peribadatan.

“Ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik dan psikis, untuk itu kesiapan lahir batin harus dimiliki para calhaj,” kata Athoillah saat membuka bimbingan manasik jamaah calon haji (calhaj) Kabupaten Brebes di Islamic center, jalan Yos Sudarso Brebes, Selasa (11/7).

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Haji Butuh Kekuatan Fisik dan Psikis

Para petugas haji, kata Athoillah, biasanya dipaido atau dirasani saat menjalani tugas. Hal ini karena para calhaj mengganggap para petugas haji sudah menguasai seluruh materi ibadah haji dan mampu melayani jamaah dengan sepenuh hati.

Athoillah berpesan, meskipun ada yang sudah menunaikan ibadah haji berkali-kali, namun perkembangan di tanah sangat pesat sehingga perlu mencari hal-hal baru. Alangkah bijaksananya bila seluruh jamaah calhaj mengikuti kegiatan manasik dengan penuh antusias. Bekal ilmu yang disampaikan para pembimbing, akan sangat berguna selama perjalanan ibadah haji.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes menjelaskan, tahun haji 1438/2017 sebanyak 1.169 Jamaah Calon Haji (Calhaj) Kabupaten Brebes bakal diberangkatkan. Saat ini tengah menjalani bimbingan manasik haji massal tahap I berupa teori, di Aula Islamic Center Brebes sedangkan tahap II akan digelar pada 15 Juli mendatang berupa praktek.?

Jumlah tersebut, termasuk para tim petugas haji daerah (TPHD) yang mendampingi para calhaj dari daerah asal, di tanah suci dan hingga kembali ke daerah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, pada tahun 2015, jumlah kuota haji Brebes ?sebanyak 983 orang dan meningkat di tahun 2016 menjadi 1.248 orang. “Jumlah quota Brebes turun untuk tahun 2017 meskipun quota 20 persen dari Arab Saudi sudah dikembalikan yakni sebanyak 1.169 calhaj,” tandasnya.

Kepala Seksi Haji dan Umrah Kemenag Brebes Syauqi Wijaya menambahkan, Calhaj Brebes tergabung dalam empat kelompok terbang (kloter) yakni kloter 8, 51, 52, dan 53. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengajak Ansor dan Banser Kabupaten Brebes untuk memegang teguh empat karakter. Karakter ini harus dilaksanakan oleh seluruh anggota Banser dan Ansor dari lini organisasi tanpa terkecuali demi tercapainya tujuan organisasi.

“Sebagai kader Ansor-Banser, harus memegang teguh empat karakter Banser,” demikian ditegaskan Yaqut Cholil Qoumas saat memimpin Apel Banser se Kabupaten Brebes di Alun-alun Brebes, Sabtu (20/1).

Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser

Gus Yaqut menjelaskan keempat karakter tersebut yakni pertama, karakter kepemudaan. Sebagai kader Banser dan Ansor harus memiliki jiwa muda meskipun potonganya tua. Meskipun rambutnya tidak lagi hitam tapi bila semangatnya masih muda layak menjadi Banser dan Ansor.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karakter kedua, yakni karakter kerakyatan. Banser-Ansor harus bermanfaat bagi rakyat sekitar. Untuk itu, ia harus bekerja sama dengan pemerintah, bantu program-program pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Bila menemui orang yang susah, Banser dan Ansor harus menjadi orang yang pertama kali turun untuk menolong mereka.

Ketiga, lanjutnya, karakter keislaman. Kader Banser dan Ansor harus mengawal para kiai, ulama, selain mengawal NKRI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengawal ulama, dengan cara turut mendakwahkan agama Islam yang menebarkan kedamaian bukan Islam yang mengajak permusuhan. Di luar negeri, contoh Suriah dan Irak menjadi kacau balau karena mereka salah memahami nilai keislaman.

“Harus kita ikuti para ulama dan kiai yang membawa nilai Islam yang sejuk, yang damai, yang rahmatan lil alamin,” ajaknya penuh semangat.

Keempat, karakter kebangsaan. Kader Ansor dan Banser tidak boleh mundur sejengkal pun bila ada ancaman ada di hadapannya yang mau menghancurkan NKRI. Harta, jiwa dan raga, kita pertaruhkan untuk NKRI.

“Jangan mundur sejengkalpun, jangankan hanya jiwa, raga, nyawapun harus kita korbankan untuk NKRI. Harga diri kita sudah diinjak-injak oleh mereka yang mau mendirikan agama Islam di Indonesia, maka apapun harus kita pertaruhkan untuk NKRI,” tegasnya.

Usaha mempertahankan NKRI, lanjutnya, bukan hanya tugas TNI dan Polri tapi tugas kita semua sebagai kader Banser dan Ansor. Karena NKRI didirikan atas andil juga para ulama Nahdlatul Ulama seperti mbah Hasyim Asyari, Mbah Bisyri Samsuri, dan ulama lain serta para santri. “Maka apabila ada kelompok-kelompok yang ingin mengubah ideologi Pancasila, harus kita lawan.” tegas Gus Yaqut.

Ketua GP Ansor Brebes Ahmad Munsip menjelaskan, Apel kesetian NKRI Banser-GP Ansor di alun-alun Kabupaten Brebes diikuti lebih dari 5000 peserta. Apel kesetian yang mengusung tema Pemuda Kini Jaga NKRI digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan GP Ansor untuk melawan kelompok-kelompok yang ingin mengganggu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apel diwarnai pula dengan berbagai atraksi kanuragan, marching band, baris berbaris serta kesenian tradisional.

Tampak hadir, Ketua GP Ansor Jawa Tengah Sholahudin, Rais Syuriyah PCNU Brebes KH Aminudin Mashudi, Ketua PCNU Brebes KH Athoillah Syatori, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Wakil Bupati Brebes, Dandim 0713/Brebes Letkol Inf Ahmad Hadi Hariono, Wakapolres Brebes Kompol Wahyudi, para anggota DPRD dan undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Desember 2017

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Empat kontingen bersaing untuk mendapatkan gelar juara umum pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencask Silat yang digelar Pagar Nusa di Padepokan Pencask Silat Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kontingen tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Sumatera Barat.

“Jawa Timur menjadi kandidat terkut juara umum. Satu emas lagi, dipastikan mereka menggondol juara umum,” kata Sayid Rdho, salah seorang panitia Kejurnas II yang digelar Pencak Silat NU pagara Nusa yang berlangsung dari Ahad (21/8) dan akan ditutup Kamis (25/8).

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jawa Timur, menurut dia, merupakan satu-satunya kontingen yang mengirimkan atlet dengan lengkap di antara 177 kontingen lain. Hanya Jawa Timur pula yang mengikuti pertandingan dan festival silat di seluruh partai, kelas, dan golongan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siang ini di gelanggang Padepokan Pencak Silat Indonesia mempertandingkan final TGR (tunggal, ganda, regu) dewasa dan remaja. Pada tunggal putra telah keluar sebagai juara yaitu kesatu Gorontalo, kedua Jawa Timur, dan ketiga Bali. Sementara pada tunggal putri juara I diraih jatim, juara II Sumatera barat, dan juara III Gorontalo.

Malam ini akan berlangsung sesi festival pencak silat. Sesi tersebut tak hanya diikuti kontingen-kontingen Pagar Nusa, tapi turut berpartisipasi beberapa perguruan silat seperti Jokotole, Persinas Asad dan Persaudaraan Setia Hati (PSH).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada kejurnas II dan Festival tersebut diikuti sekitar 257 pesilat putra dan putri yang berlaga pada golongan remaja dan dewasa. Sementara jumlah official sekitar 82 sehingga yang hadir sekitar 339. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Ulama, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Resolusi Jihad untuk Melawan Penjajah, Bukan Orang Kafir

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menegaskan, perjuangan Nahdlatul? Ulama sangat besar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahun 1945, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari menggelorakan jihad fi sabilillah guna melawan penjajah.

Resolusi Jihad untuk Melawan Penjajah, Bukan Orang Kafir (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad untuk Melawan Penjajah, Bukan Orang Kafir (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad untuk Melawan Penjajah, Bukan Orang Kafir

“Resolusi? jihad itu untuk melawan penjajah bukan melawan orang kafir. Semangat jihad sangat luar biasa untuk meraih kemerdekaan bangsa ini," ujarnya saat memberikan tausiyah tasyakuran harlah ke-91 NU di aula MANU Banat Kudus, Kamis (15/5).

Pada waktu jihad, kata Mbah Sya’roni, tidak hanya kiai NU saja melainkan ada pejuang dari kelompok lain seperti Muhammadiyah, Katolik, Kristen, dan lainnya . “Makanya bukan Negara Islam Indonesia (NII) tetapi NKRI. Ini sudah betul. Kalau pakai NII berarti Indonesia hanya milik orang Islam saja , ini salah,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam acara yang diselenggarakan PCNU Kudus itu, KH Sya’roni lebih banyak mengisahkan perjuangan kiai-kiai NU pada zaman penjajah. Dalam berjuang, tuturnya,? para kiai NU mendirikan organisasi Sabilillah yang dipimpin K. Masykur dan Laskar Hizbullah di bawah komando KH Zaenal Arifin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pada masa itu, banyak para kiai NU yang harus rela dipenjara seperti yang pernah dialami KH Hasyim Asy’ari,” ujar ulama kharismatik ini.

Mbah Sya’roni juga menuturkan tokoh dan kiai NU Kudus juga banyak ikut berjuang dengan bergabung menjadi Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Di antara kiai Kudus itu adalah H. Ahmad Thoha, dan Hizbullah seperti KHR Asnawi, KH Arwani dan KH Turaikhan serta KH Sya’roni sendiri . Mereka ini juga pernah merasakan tahanan pada zaman penjajah.

“Kalau ada yang bilang kiai-kiai NU Kudus tidak pernah berjuang itu tidak benar, berarti ia belum lahir,” kata Mbah Sya’roni berseloroh.

Tasyakuran harlah ke-91 NU ini dihadiri seluruh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus. Acaranya dikemas secara sederhana,? yakni pembacaan tahlil untuk para pendiri NU dan pembacaan manaqib Syech Abdul Qodir Jaelani, serta mauidlah KH Sya’roni.

Jumat malam (16/5), peringatan harlah dilanjutkan dengan haflah dzikir dan maulidur rasul yang dikemas dengan peringatan haul KH Hasyim Asy’ari dan 100 hari wafatnya KH Sahal Mahal Mahfudz. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Agung Kudus yang dimulai pada pukul 19.00 WIB. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Remaja Jadi Sasaran Situs Islam Radikal

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penutupan situs radikalisme Islam memiliki alasan yang jelas. Situs-situs bermuatan provokasi dan hasutan di tengah masyarakat ini, kerap kali memakan korban dari kalangan remaja. Kalau negara tidak melakukan upaya-upaya pencegahan, tidak heran ke depan kasus kejahatan terorisme akan meningkat.?

Remaja Jadi Sasaran Situs Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Remaja Jadi Sasaran Situs Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Remaja Jadi Sasaran Situs Islam Radikal

Demikian disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Saud Usman Nasution saat diskusi bertajuk “Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal” di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (10/4) siang.

“Setelah kami pelajari dari kasus ke kasus, ternyata sasaran paham radikalisme ialah remaja terutama mereka yang awam sekali dalam beragama. Anak setingkat SMP dan SMA ini memang serba ingin tahu. Inilah alasan kami mengusulkan pemblokiran situs-situs bermasalah kepada Kemenkominfo,” kata Saud.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saud menyebut 8 dari 12 orang yang dikembalikan dari luar negeri ke Indonesia beberapa waktu lalu itu masih berusia remaja. Mereka berangkat memang tidak langsung ke Istanbul, tetapi transit dulu ke Malaysia, Bangkok, atau Rusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau setiap orang memiliki hak mengakses internet, bukan tidak mungkin mereka yang masih awam juga mengakses situs bermasalah itu. Setiap orang dengan mudah mengakses internet dengan hape. Di sini letak problemnya,” kata Saud.

Menurutnya, pekerjaan BNPT lebih bersifat pencegahan. Sedapat mungkin mencegah. Langkah preventif ini yang ditekankan sekali oleh Presiden Jokowi untuk BNPT.

“Mereka yang sudah mapan beragama, tak masalah mengakses situs bermasalah itu. Kalau dia sekolah di madrasah, masih lebih baik sedikit. Artinya, ia mempunyai modal untuk menyaring informasi yang bersifat keagamaan,” pungkas Saud.

Sementara Pimred Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syafi Ali’elha yang duduk sebagai narasumber pada diskusi siang itu menyatakan sepakat atas penutupan situs bermasalah. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman perihal jurnalistik dan nalar keagamaan secara kritis.

“Alhamdulillah, anak-anak muda NU tetap membaca kitab kuning. Dengan bacaan itu, mereka dapat menyeleksi mana perintah dan larangan Islam yang sebenarnya. Sehingga puluhan juta anak muda NU itu tidak terprovokasi oleh macam-macam hasutan,” tutup Syafi’. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor

Purworejo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banjir dan tanah longsor yang beberapa hari lalu melanda beberapa titik di Kabupaten Purworejo menggerakkan para kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) untuk turut membantu.

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor

Mereka yang tergabung dalam Corp Brigade Pembangunan (CBP), badan semiotonom IPNU, bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat focus menangani evakuasi. Sementara sebagian anggota IPNU-IPPNU lainnya melakukan pengumpulan dana bantuan dari masyarakat yang kini mencapai lebih dari 25 juta rupiah.

Di tiga hari pertama, hasil penggalagan dana telah disalurkan hingga ke 15 titik lokasi bencana, yakni di Donorati, Caok, Jelok, Sudimoro, Pacekelan, Sibatur, Ngesong, Jenar Wetan, Krandegan, Tangkisan, Gintungan, Berjan, Sucen, Tologrejo dan Sidomulyo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Relawan IPNU-IPPNU juga berkonsentrasi menyisir sungai untuk mendata rumah roboh dan madarasah-madarasah yang kehilangan kitab. "Alhamdulillah hari ini telah berhasil distribusikan bantuan alat-alat ngaji ke dua madasah di Sucen dan Gintungan," ungkap Muhammad Hidayatullah, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Purworejo sekaligus koordinator relawan, dalam siaran pers, Sabtu (25/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk selanjutnya, lanjut Hidayat, IPNU-IPPNU akan melakukan tindakan pascalongsor dan banjir yang terkonsentrasi ke anak-anak dengan anggaran bantuan sebesar 10 juta rupiah. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Lomba, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Usia harapan hidup bagi mereka yang lanjut usia atau lansia kian meningkat. Dengan memberikan perhatian, diharapkan mereka menjadi lansia yang sehat, tetap aktif dan berdaya guna.

PC Muslimat NU Jombang ikut serta melakukan monitoring terhadap Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Santun Lansia dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia yang ada di kota santri tersebut.?

Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Ikut Program Monitoring Puskesmas dan Posyandu Lansia

"Puskesmas santun lansia merupakan bentuk keseriusan pemerinah dalam memberikan peningkatan pelayanan kesehatan pada mereka yang belum berusia lansia maupun para lansia ke atas," kata Titik Ulfah, Selasa (9/8).

Programer lansia Dinas Kesehatan Jombang tersebut menjelaskan bahwa perhatikan harus diberikan kepada mereka yang masuk usia pra lansia yakni 45 tahun hingga 59 tahun, dan lansia yakni berumur 60 tahun ke atas. "Itu agar mereka mendapat pelayanan yang optimal di poli khusus lansia yakni Puskesmas Santun Lansia," terangnya saat berada di Desa Mentaos, Blimbing Gudo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keberadaan Puskesmas Santun Lansia menjadi penting lantaran usia harapan hidup kian meningkat menjadi 72 tahun. "Diharapkan mereka nanti menjadi lansia yang sehat, tetap aktif dan berdaya guna," ungkapnya.

Di samping Puskesmas Santun Lansia, di Jombang juga ada Posyandu lansia. Kegiatan di Pos Pelayanan Terpadu itu adalah senam lansia, rekreasi, karawitan, kerajinan tangan, membuat makanan, minuman, pengajian, ziarah wali, dan kegiatan penyuluhan yaitu nenek asuh.

"Peran Muslimat NU dalam Posyandu lansia dan juga Puskesmas santun lansia adalah ikut menggerakkan masyarakat agar aktif datang ke layanan kesehatan tersebut," kata Ny Hj Aisyah Muhammad. Dengan demikian,?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muslimat NU ikut memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kesehatan, sekaligus turut memantau, serta melakukan monitoring terhadap pelaksanaannya di masyarakat, lanjutnya.

Kini di Kabupaten Jombang baru ada 7 Puskesmas santun lansia. Diharapkan seluruhnya yakni 34 puskesmas yang ada sudah memiliki layanan serupa. "Inilah pentingnya kegiatan monitoring Puskesmas santun lansia dengan lintas sektor dan lintas program, yang salah satunya melibatkan kami," kata Wakil Ketua PC Muslimat NU Jombang ini.(Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Syariah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalin kerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT di Naibonat Kabupaten Kupang.

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

BPTP akan menyalurkan bibit cabai kepada sejumlah Pimpinan Cabang Muslimat NU, antara lain Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Pimpinan Cabang Muslimat Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Malaka.

Pimpinan Wilayah Muslimat NTT dan beberpa pengurus masjid di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang juga bakal menerima penyaluran bibit tersebut.

Ketua PW Muslimat NU NTT Hj Nurni H Amirudin mengatakan, bantuan bibit cabai kepada PC Muslimat dan pengurus masjid merupakan upaya pengembangan ekonomi organisasi dan pemberdayaan ekonomi umat di bidang pertanian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Program 10.000 anakan cabai untuk pemberdayaan ekonomi," katanya di Oelamasi, Kupang.

Penandatanganan nota kesepahaman berlangsung Selasa (23/5). Penandatanganan ini diharapkan berlanjut dengan pengawasaan serta pembinaan tentang teknik budi daya cabai kepada para penerimanya. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 November 2017

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Catatan Kenangan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Humor Islam, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah