Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sedikitnya 50 anggota komisariat IPPNU Madrasah Aliyah Sultan Agung mendaki gunung Kendeng di desa Sukolilo kecamatan Sukolilo. Mereka mencoba menindalanjuti laporan masyarakat terkait kerusakan tanaman di gunung Kendeng, Rabu (19/2).

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)
PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan (Sumber Gambar : Nu Online)

PK IPPNU MA Sultan Agung Sosialisasi Penghijauan

Sampai di puncak, mereka kaget. Karena, pegunungan Kendeng yang tampak hijau dipandang dari jauh ternyata hampir semua area puncaknya gundul. Minimnya penyerapan air pada gunung terutama Kendeng menjadi penyebab utama banjir.

Masyarakat menengarai lahan-lahan di atas gunung yang dahulunya tumbuh subur dengan berbagai varian pohon mulai dari randu, mahoni, sampai jati telah berubah menjadi tanaman jagung. Mereka lalu bertemu dan berdiskusi langsung dengan para petani yang sedang membersihkan lahan pascapanen Jagung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami tanami jagung karena lebih menghasilkan daripada ditanami pohon jati atau mahoni,” ungkap Sudirjo, salah satu petani yang diajak diskusi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pemerintah kesulitan untuk mengarahkan warga agar mengganti tanaman mereka. Pasalnya lahan yang ditanami merupakan milik mereka sendiri,” kata Mandor Hutan Sukolilo Abdul Rohman.

Dulu pernah diberi bantuan bibit pohon jati dan mahoni, tetapi warga tidak mau menanamnya. Karena lahannya hanya ditanami tanaman yang menghasilkan secara langsung agar bisa mengisi periuk-periuk mereka. Alhasil bibit-bibit bantuan itu pun sia-sia.

Dengan menjelajah pegunungan Kendeng pelajar IPPNU Komisariat MA Sultan Agung dapat melihat secara langsung kondisi pegunungannya dan dapat permasalahan yang dialami warga.

“saya sangat antusias melakukan pendakian ini karena bisa melihat secara langsung dan berdiskusi dengan warga mengapa mereka menanami lahannya dengan tanaman jagung,” kata Mega Sabrina selaku anggota IPPNU Komisariat MA Sultan Agung. (Masula/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Bagaimana Ketentuan tentang Diyat?

Masyarakat Indonesia digegerkan dengan berita adanya ancaman hukuman mati yang diterima oleh salah seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dia diharuskan membayar tebusan atau diyat sebesar Rp 21 miliar (lalu diturunkan menjadi Rp 15 miliar). Yang ingin saya tanyakan, dalam konsep hukum Islam, sebenarnya berapa sih jumlah diyat yang harus dibayarkan? Untuk ukuran TKW mana mungkin tebusan segitu besar bisa dia bayarkan?

Anggie, tinggal di Tangerang

?

Bagaimana Ketentuan tentang Diyat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Ketentuan tentang Diyat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Ketentuan tentang Diyat?

Jawaban

Dalam pembahasan fiqih, para ulama sepakat bahwa hukuman qishash wajib dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan berencana (qatlul ‘amd). Namun jika pihak keluarga korban memberikan maaf dan meminta diyat (tebusan) maka pelaku pembunuhan tersebut bisa terhindar dari hukuman qishash, dan ia wajib memberikan diyat. Sedangkan jumlah diyat-nya adalah 100 unta. Hal ini apabila yang menjadi korbannya adalah seorang laki-laki merdeka-muslim.

? Para ulama berselisih soal umur unta tersebut. Dalam konteks ini, misalnya menurut Madzhab Syafii—sebagaimana dikemukakan Imam an-Nawawi—,diyat dalam kasus pembunuhan berencana adalah 30 hiqqah (unta berumur tiga tahun masuk umur empat tahun), 30 jadza’ah (unta berumur empat tahun masuk umur lima tahun), dan 40 khalifah (unta yang sedang bunting).

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ?. 136)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam hal pembunuhan berencana terhadap seorang laki-laki merdeka yang muslim diyat-nya adalah seratus unta yang dibagi menjadi tiga, yaitu 30 hiqqah, 30 jadza`ah, dan 40 khalifah”. (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, Minhajuth Thalibin? wa ‘Umdatul Muftin, Bairut-Darul Ma’rifah, tt, h. 136).

Sedangkan menurut Imam Syafii jika yang menjadi korban pembunuhan berencana adalah seorang perempuan merdeka-muslimah maka ­diyat-nya adalah separo dari diyat laki-laki, yaitu 15 hiqqah, 15 jadza`ah, dan 20 khalifah. Pendapat ini menurut Imam Syafii telah disepakati oleh para ulama (ijma`). Hal ini sebagaimana dikemukan dalam kitab al-Umm:

?

( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?-? ? ? 6? ?. 106). “Imam Syafi’i ra berkata: Saya tidak mengetahui adanya perbedaan di kalangan ulama baik dulu maupun sekarang (pada masa Imam Syafii) bahwa diyat perempuan adalah separo dari diyat laki-laki, yaitu lima puluh unta. Karenanya ketika sudah diputuskan diyat-nya perempuan maka diyat-nya adalah lima puluh unta. Dan apabila ia terbunuh karena pembunuhan berencana kemudian keluarganya memilih diyat, maka diyat-nya adalah lima puluh unta, umur untanya sama seperti umur unta dalam diyat pembunuhan berencana, baik yang membunuhnya adalah laki-laki atau sekelompok orang atau seorang perempuan, diyat-nya tidak lebih dari lima puluh unta”. (Muhammad Idris asy-Syafii, al-Umm, Bairut-Darul-Ma’rifah, tt, juz, VI, h. 106).

Jadi, katakan diyat-nya seorang TKW di atas adalah 50 ekor unta dikalikan Rp. 25 juta (harga rata-rata ini sudah cukup mahal) itu sama dengan Rp 1,25 miliar. Lantas bagaimana jika pihak keluarga korban pembunuhan berencana meminta diyat melebihi dari ketentuan? Angka satu seperempat miliar itu tentu sangat-sangat jauh dari angka Rp 21 miliar atau Rp 15 miliar yang harus dibayarkan oleh TKW?

Ibnul Qayyim al-Jauzi dalam kitab al-Hadyu an-Nabawi mengatakan: Sesungguhnya yang wajib adalah salah satu di antara keduanya yaitu bisa qishash atau diyat. Sedangkan dalam hal ini pihak wali korban boleh memilih antara empat hal yaitu bisa memberikan ampunan secara cuma-cuma kepada pihak pembunuh, memberikan ampunan dengan diyat atau memilih qishash. Ketiga pilihan ini tidak ada perbedaan di kalangan ulama. Sedang pilihan yang keempat adalah melakukan perdamaian antara wali korban dengan pihak pembunuh, dengan diyat yang lebih besar dari ketentuan yang sudah ada atau lebih rendah.

Ibnu Qayyim mengatakan, ada dua pendapat ulama mengenai boleh tidaknya memberatkan harga diyat melebihi ketentuan umum. Pendapat pertama yang hanya masyhur di kalangan Madzhab Hanbali adalah diperbolehkan. Sedangkan pendapat Madzhab Syafii tidak diperbolehkan. Bahkan lebih lanjut, menurut hasil penyelidikan Ibnul Qayyim al-Jauzi, pendapat yang kedua dianggap yang paling rajih atau paling kuat. (Muhammad bin Ismail al-Amir al-Kahlani ash-Shan`ani, Subulus Salam, Mesir-Musthafal Babil Halabi, 1379 H/1960 M, juz, III, h. 244)

Argumentasi memberatkan diyat adalah untuk memberikan efek jera bagi pelaku, dan itu mestinya hanya bisa diberlakukan jika memang pelakunya adalah orang yang mapan. Namun melihat kondisi seperti ditanyakan di atas, dimana pelakunya adalah dari kalangan kelas bawah rasanya tak ditambah pun sudah terasa sangat berat, dan tidak akan mungkin bisa dibayar, kecuali disanggah atau dibantu oleh banyak orang. Dalam hal ini kita memilih pendapat yang kedua. Mengutip Ibnul Qayyim al-Jauzi di atas, larangan memperberat diyat dari yang sudah ditentukan itu lebih rajih. Jadi ketentuan membayar diyat 50 ekor unta untuk seorang TKW itu sudah sangat-sangat berat dan jangan diperberat lagi.

Sebenarnya, seberapa pun besaran diyat toh tidak akan bisa menyamai harga sebuah nyawa. Yang dianjurkan adalah memberikan maaf dan ampunan karena itu lebih dekat dengan ketakwaan.

?

Mahbub Ma’afi Ramdlan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Internasional, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi berharap Hari Raya Idul Fitri dapat diperingati bersama oleh umat Islam. Karena itu, ia berharap sidang isbat (penatapan) 1 syawal yang diselenggarakan Deperteman Agama 22 Oktober menghasilkan keputusan yang sama.

 

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Umat Islam Saling Menghargai

“Kami berharap sidang itsbat menghasilkan keputusan sama atau tidak ada berbedaan diantara umat Islam,” kata KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Al-Hikam Malang, Kamis (19/10).Jika terjadi perbedaan, Cak Hasyim, demikian ia akrab disapa,  menyerukan kepada umat Islam untuk saling menghargai satu sama lain. Ia tidak menghendaki terjadi gesekan antara kelompok umat Islam gara-gara penetapan bulan syawal yang berbeda.”Andai tidak mencapai kesepakatan bersama, diharapkan semuanya saling menghargai,” katanya.

 

Lebih lanjut, mantan Ketua PWNU Jawa Timur itu menambahkan, perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam dalam menetapkan awal bulan selama ini sebenarnya hanya persoalan metodologi. NU selama ini menggunakan cara rukyah atau melihat bulan secara langsung, selain cara hisab atau perhitungan astronomi. Sementara ormas lainnya menggunakan cara hisab saja.”Perbedaan itu hanya karena perbedaan metodologi. Karena itu, harus ada saling menghargai satu sama lain,” tegasnya.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menanggapi adanya kalangan yang menginginkan agar pemerintah tidak campur tangan dalam menetapkan awal bulan syawal, ia mengatakan, bahwa pemerintah dalam hal ini Departemen Agama harus tetap berparan dalam penetapan awal syawal.”Harus ada yang jadi hakim, yaitu pemerintah,” katanya.(mil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Ahlussunnah, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU AGH M. Sanusi Baco memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (20/12) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tampak � hadir dalam penganugerahan itu antara lain Dr H M. Jusuf Kalla, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Dalam sambutan Promotor dan Co Promotor Prof Dr H. Minjahuddin MA dan Prof Dr H. Achmad Abubakar M.Ag. mengatakan, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Beliau telah berupaya pengembangan Ilmu Perbandingan Mazhab, selaku dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin mengajarkan Ilmu Ushul Fikih dan Ilmu Fikih Perbandingan Mazhab. Ternyata ketiak Promovendus menjadi Ketua Jurusan Perbandinagan Mazhab Fakultas Syariah antara tahun 1977-1983," jelas Minhajudin.

"Beliau telah berupaya mengembangkan Ilmu Fiqih Perbandingan Mazhab dengan mewajibkan bagi mahasiswa yang akan ujian akhir jurusan agar membaca salah satu buku referensi dalam Mata Kuliah, diantaranya, Kitabul Fiqh ‘ala Habbul Arba’ah (Mazhab Syafi’i), Bidayatul Mujtahid (Mazhab Maliki), Fiqh Hanbali, dan Fiqh Al Islamiyah Wa Adillatuhu (MAzhab Hanafi),” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Metode perbandingan Mazhab juga diajarkan Promovendus kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Penyelenggaraan PKU tersebut dipusatkan di Masjid Raya Makassar dan Asrama PHI dan hingga kini sudah terlaksana sampai angkatan ke-15. Lulusan PKU tersebut ada yang melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2-S3) UIN Alauddin Makassar, ada yang menjadi PNS, Pengusaha dan ada yang menjadi imam dan membina pesantren di daerahnya. Jelas Promotor beliau

AGH M. Sanusi Baco, Lc dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai Rois Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua MUI Sulsel, serta pada Muktamar NU 2009 di Makassar beliapun masuk dalam jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Redaktur Â? Â? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Doa, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Kampoeng Coklat ini akan Menjadi Lokasi Halal Bihalal Warga NU

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lokasi wisata  Educasi Kampung Coklat pada 1 September 2015 nanti akan ditempati acara halal bihalal NU Kabupaten Blitar. Tidak banyak yang tahu kalau lokasi wisata ini adalah milik warga Nahdliyin.

Kampoeng Coklat ini akan Menjadi Lokasi Halal Bihalal Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kampoeng Coklat ini akan Menjadi Lokasi Halal Bihalal Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kampoeng Coklat ini akan Menjadi Lokasi Halal Bihalal Warga NU

Tempat ini adalah milik H Cholid Musthofa  seorang tokoh NU asal Kademangan Kabupaten Blitar. Tepatnya  berlokasi di Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan Kab. Blitar.

Jika Anda masuk dari Kota Blitar, lokasi dapat ditempuh melalui jalan kota yang menuju ke arah kademangan, sampai ketemu jembatan Kademangan belok kiri, lurus sampai ketemu pasar kademangan, masih lurus sampai ketemu perempatan menuju kearah lodoyo (Gunung Betet) kemudian belok kiri. Ikuti jalan lurus kurang lebih 3 km. lokasi ada di utara jalan atau sisi kiri jalan, dekat dengan perbatasan Desa Plosorejo dengan Desa Darungan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sini kita bisa melihat proses pengolahan kakao, mulai dari pembibitan, panen, penjemuran, penggilingan, grinding, memasak, menghias, dan mengemas, tergantung dari paket wisata yang kita ambil. Tarifn ya mulai Rp. 15.000  sampai dengan  Rp. 50000. Tapi kalau kita hanya bertujuan untuk berbelanja, bisa masuk dan gratis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari lokasi parkir kita akan disambut oleh biji kakao yang sedang dijemur. Biji kakao yang dijemur ini memiliki aroma yang khas. Setelah melewati bagian ini, kita akan disambut dengan kebun kakao yang rindang dan sejuk.

Pengunjung dapat bersantai sembari menikmati makanan, karena disini juga menjual  berbagai olahan makanan, seperti bakso, rujak ulek, pepes ikan, pepes jamur, nasi putih, nasi tiwul, nasi ampok, dan tentunya minuman coklat. Kita bisa menikmati makanan yang telah kita pesan dibawah kebun coklat yang rindang.

“Coklat merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh subur di daerah beriklim tropis, seperti Indonesia misalnya. Kendati demikian cokelat amat disukai oleh semua kalangan tanpa ada perbedaan usia, dari anak-anak hingga orang dewasa sangat menggemarinya,’’ ujar H Kholid Musthofa pemilik Kampoeng Coklat kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah pada suatu kesempatan.

Digemarinya cokelat dari berbagai kalangan tersebut, lanjut Kholid, tidak terlepas dari rasa jenis panganan ini yang dapat dinikmati dalam kondisi apapun. Selain itu juga dapat di olah dengan berbagai varian menu sesuai dengan kesukaan kita. “Lebih dari itu cokelat yang berasal dari tumbuhan Kakao ini mengandung zat yang dapat memberikan efek tenang bagi yang mengkonsumsinya,’’ kata Kholid yang juga anggota Banser  Blitar itu.

Ia menjelaskan bahwa kandungan cokelat terdapat banyak zat yang bermanfaat untuk tubuh. Diantaranya: kalori, karbohidrat, transvet, vitamin A, Vitamin E dan zat trieobromin.

“Zat Trieobromin itulah yang dapat memberikan pengaruh efek tenang bagi siapapun yang mengkonsumsi cokelat, karena itu tidak heran kalo cokelat digemari semua usia,” katanya.

Ia katakan, selain memberikan efek tenang jenis panganan yang satu ini juga dapat memberikan efek kenyang bagi yang mengkonsumsinya. Hal ini dikarenakan terdapatnya unsur karbohidrat yang kandungannya cukup banyak.

“Pesatnya pertumbuhan bisnis cokelat dewasa ini membuka pintu untuk jalur ekspor yang dapat menjadi peluang bagi pelaku UMKM. Fenomena seperti ini hampir terjadi seluruh pelosok negeri ini, dimana banyak tumbuh enterpreneur – enterpreneur rumahan dengan berbagai bentuk dan inovasi,” tandasnya.

Menghadapi pasar bebas, Ia tetap yakin produk Kampoeng Coklat Blitar  siap bersaing. Kendati demikian, kualitas produk dan komposisi bahan harus tetap dijaga guna menarik minat konsumen, selain itu juga tentang legalitas harus ditingkatkan.

“Secara kualitas kami siap bersaing dalam pasar bebas,  Namun itu semua juga tergantung dari kapasitas produksinya,” jelasnya.

Ia jelaskan, Kampung Cokelat, merupakan salah satu wahana edukasi baru di Kab. Blitar. Meski baru berusia setahun lebih sejak di lounching bulan April 2014 lalu, wahana wisata ini mendapatkan respon luar biasa. Terbukti banyak pengunjung dari luar kota datang, meski hanya sekedar untuk belajar tehnik budidaya tumbuhan kakao dan bisnis cokelat. Terlabih pada saat weekend atau liburan, lahan yang luasnya 1,5 hektar tersebut di sesaki 7000 pengunjung.

“Setiap pengunjung yang datang di wahana wisata tersebut bakal merasa dimanjakan oleh pihak pengelola. Pasalnya, hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 5 000,00 perak setiap orang dapat langsung menikmati seluruh fasilitas yang ada di dalamnya.

“Tiap pengunjung yang datang ke Kampung Cokelat ini tidak hanya sekedar menikmati minuman cokelat saja. Melainkan juga dapat belajar budidaya tumbuhan kakao, praktek mengolah mencetak dan menghias cokelat, serta r bisnis cokelat,” jelasnya.

Yang menarik lagi masing-masing pengunjung akan mendapatkan piagam dari pihak manajemen Kampung Cokelat dan dapat pula membeli bibit tumbuhan Kakao yang harganya relatif sangat murah. “Pengunjung dapat pula membeli bibit Kakao yang dapat di tanam di halaman rumah, hanya Rp.2000,00 per biji,” tambahnya. (Imam Kusnin Ahmad/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Berita, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tiga perempuan santri bercerita tentang studinya di Eropa langsung dari Student Housing, Amsterdam, Belanda, Ahad (3/9) pagi waktu Belanda, sore waktu Indonesia. Para alumni perguruan tinggi Islam negeri itu berkisah tentang kegagalannya sampai bagaimana menjalani studi di jurusan pilihannya masing-masing.

Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Eva Nur Latifah semangatnya untuk studi ke luar negeri pernah turun karena gagal lulus dari program beasiswa LPDP. Tetapi perempuan yang kini sedang menempuh studi strata duanya di bidang Information Technology University of Twente itu tak patah arang.

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Tiga Santri Perempuan Menempuh Studi di Eropa

?

Diterima sebagai penerima beasiswa kursus bahasa asing dari Kementerian Agama pada tahun 2015 lalu, ia kemudian bertemu rekan-rekan di sampingnya sehingga bangkit kembali gairahnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berpikir positif itu sih yang penting,” kata lulusan UIN Sunan Gunung Jati Bandung itu.

Sementara itu, Wakil Sekretaris PCINU Belanda Nur Inda Jazilah harus mengubur mimpi awalnya untuk studi ke Inggris guna mendalami Forensik Linguistik.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Vrije University Amsterdam dipilih dari lima kampus di dunia yang menawarkan jurusan yang sama mengingat keholistikannya karena studinya menempuh waktu dua tahun.

“Dia lebih holistik mempelajari forensik linguistiknya karena dua tahun,” ujar alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut.

Berbeda dengan keduanya yang studi di Belanda, Ianatul Avifah baru saja submit tesisnya di bidang TESOL di University of Manchester. 180 SKS dalam waktu satu tahun cukup menguras waktu dan pikirannya. Meski begitu, ia mengingatkan tiga hal penting dalam menempuh studinya, “Manajemen waktu dan presistens dan balance juga sih.”

At least kayak nonton YouTube sebentar,” lanjut alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Motivasi dan inspirasi

Berada di lingkungan positif yang saling mendukung menjadi hal terpenting dalam membangun motivasi untuk terus memupuk semangat studi Jazil, panggilan akrab Nur Inda Jazilah. “Yang penting berada di lingkungan semua orang-orang positif,” kata mahasiswa yang baru tiba di Belanda dua minggu lalu itu.

Lain halnya dengan Avifah. Ia selalu daftar setiap kali ada kesempatan short course ataupun student exchange ke berbagai negara. Tapi setiap kali ia daftar, setiap itu juga ia gagal. Lantas ia bertekad, untuk studi S2, ia tidak boleh gagal. “Besok kalau beasiswa S2 harus diterima,” kata perempuan yang pernah gagal mendapat beasiswa di Amerika Serikat itu.

Selain itu, motivasi terbesar baginya dalam menempuh studi di luar negeri adalah orang tuanya. “Orang tua itu yang benar-benar bikin motivasi terbesar,” lanjutnya.

Senada dengan Avifah, Eva juga mengungkapkan hal yang sama, yakni membuat orang tua bahagia. “Membahagiakan orang tua,” jawab Eva saat ia menerima giliran pertanyaan tentang motivasi dan inspirasi studi beasiswa ke luar negeri.

Sejak SMA sampai kuliah merasa sering merepotkan orang tua membuatnya termotivasi untuk bagaimana membuat orang tuanya bahagia. Studi S2 di luar negeri dengan beasiswa dirasa menjadi satu hal yang membuat kedua orang tuanya bangga.

Tantangan terbesar Muslimah studi di Eropa

Mengenai shalat, pelajar muslim tak perlu khawatir. Jazil mengatakan, “Di kampus ada mushallanya.” Selain itu, diskriminasi terhadap Muslim juga tidak ia temukan. “Sejauh ini tidak menemukan ada diskriminasi,” kata pemilik akun Instagram @jazilaaah. Hal terpenting baginya bagaimana menjaga perilaku saja. Mereka pun akan bersikap sama seperti apa yang kita lakukan.

Bahasa menjadi salah satu tantangan tersendiri. Belanda yang tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian tidak menjadi masalah dalam studi. “Language barrier gak begitu berarti,” katanya. Dapat menyampaikan ide dengan baik itu hal terpenting menurut santri Pondok Pesantren Sirotul Fuqoha, Malang, tersebut.

Seperti di Amsterdam, University of Manchester juga menyediakan tempat ibadah bagi muslim. “Alhamdulillah lumayan banyak warga muslim di Manchester. Kampus pun menyediakan masjid meskipun sedikit jauh,” kata Afifah.

Masyarakat Inggris juga sangat terbuka dengan keberadaan muslimah. Hal tersebut dibuktikan dengan senyuman orang-orang sana meskipun mereka tidak saling mengenal. “Orang Britishnya welcome, mereka senyum meskipun gak kenal,” lanjut pemilik akun Instagram @ianatulavifah itu.

Pengetahuan tentang budaya negara tempat studi menjadi satu keharusan. “Setidaknya tahu 20-30 % culture negara yang kita kunjungi untuk membantu komunikasi,” kata santri Pondok Pesantren Annuriyah Surabaya itu. Hal itu menurutnya dapat diatasi dengan menonton film.

Eva menambahkan, bahwa pengetahuan budaya itu bisa juga didapat dengan mengikuti kelas akulturasi yang disediakan kampus. “Mungkin bisa masuk kelas akulturasi,” katanya.

Santri Pondok Pesantren Arrisalah Ciamis itu juga mengungkapkan, bahwa kampusnya sangat menerima keberadaan pelajar muslim. “Kampusku sangat welcome sama muslim,” ujarnya.

Selain terdapat masjid, di kampus tempatnya belajar juga terdapat organisasi muslim. Bahkan pemilik akun Instagram @eva_gram itu mengatakan “Kita dapat founding juga.” Di kampusnya tersebut, Eva dan rekanannya pernah mengadakan hijab workshop. Hal tersebut menjadi salah satu media dakwah baginya untuk mengenalkan Islam.

Sebelum mereka menjawab pertanyaan tentang tantangan studi di Eropa, tiga santri yang mendapat beasiswa Kementerian Agama itu masing-masing memberikan pernyataan tentang kebanggaannya menjadi santri, alumni UIN, dan deklarasi kembali ke Indonesia guna mengabdikan diri.

Obrolan para santri perempuan yang sedang studi di Eropa ini dipandu oleh Dito Alif Kurniawan. Pria alumni UIN Walisongo Semarang itu baru saja menyelesaikan studi magisternya di Vrije Universteit, Amsterdam, Belanda.

Diskusi ini disiarkan langsung melalui Instagram @Galerisantri dan @Kajiannusantara atas kerja sama Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Penasihat AIS Nusantara, Romzi Ahmad. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Ahlussunnah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Situbondo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Indonesia mengalami dinamika yang demikian pesat di berbagai aspek kehidupan. Perubahan tersebut harus juga diimbangi dengan langkah strategis agar bisa bertahan, dan memberi kontribusi termasuk Nahdlatul Ulama.

"Hingga saat ini tantangan NU adalah bagaimana memahami khittah secara komprehensif," kata Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Rabu (11/1) malam.

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Kian Berat, Saatnya Kembalikan Khittah NU

Karena dalam pandangan penulis buku Piagam Perjuangan Kebangsaan? tersebut, khittah tidak semata dimaknai pandangan dan sikap dalam berpolitik.?

Yang tidak kalah penting dan ini kerap dilupakan adalah bahwa Khittah NU sebagai fikrah, amaliyah serta harakah (gerakan) Nahdliyah. Akibat dari kesalahan pandangan tersebut mengakibatkan banyak gerakan di NU yang kian ditinggalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Termasuk dalam pemikiran atau fikrah Nahdliyah kita akan bisa menyelamatkan dari mereka yang cenderung memiliki pandangan fundamentalis," jelasnya. Demikian pula, fikrah Nahdliyah akan menyelamatkan dari mereka yang beraliran kiri atau liberal, lanjutnya.

Dalam catatan Munim, prestasi yang layak dibanggakan dari konsisitensi NU memegang khittah adalah mau menyatukan berbagai friksi yang terjadi. "NU juga mampu menemukan jati diri sebagai organisasi sosial keagamaan," ungkapnya. Dengan keberhasilan tersebut, NU sangat leluasa melakukan gerakan setelah dianggap tidak berpolitik praktis, lanjutnya.

Lewat ketokohan KH Asad Syamsul Arifin, KH Ali Maksum, KH Ahmad Shiddiq, juga KH Abdurrahman Wahid, NU mengalami masa keemasan. "Bahkan NU menjadi kekuatan alternatif ? yang sangat menentukan arah politik nasional," jelasnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Akan tetapi dalam perjalanannya, NU mengalami krisis sehingga terjadi disorientasi. Sebagai langkah strategis, Munim memberikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan NU agar mampu kembali ke jati dirinya.?

"Pertama adalah konsolidasi struktur," katanya. Selanjutnya melakukan reorientasi gerakan NU, juga restrukturisasi politik.

Dan upaya perbaikan di internal NU dapat dilakukan dengan memantapkan khittah. "Karena khittah adalah urat nadi dalam berorganisasi," tegasnya.

Munim tampil sebagai pembicara bersama Abu Yazid pada seminar nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan merupakan kerjasama TV9 NUsantara, PW LTN NU Jatim serta forum alumni Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Banyuputih Situbondo. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Tegal, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Direktur Rehabilitasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO) Kemensos RI Dr. Sonny W. Manalu menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun, Kementerian Sosial RI nutupan 115 lokalisasi dari 168 yang ada di Indonesia. Dia berharap pada 2019 nanti, Indonesia bisa bebas dari prostitusi

"Kementerian Sosial mencatat, penutupan lokalisasi di Tegal ini merupakan yang ke 115 dari 168 lokalisasi yang ada di seluruh Indonesia,” ujarnya saat mewakili Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa pada penutupan lokalisasi dan penyerahan bantuan bagi eks penghuni lokalisasi di Kabupaten Tegal, Jumat (19/5).?

Kementerian Sosial juga akan mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia yang akan menutup tempat pelacuran. Targetnya, Indonesia bebas Prostitusi pada tahun 2019 mendatang.

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Sonny mengapresiasi langkah Pemkab Tegal dalam merehabilitasi lokalisasi prostitusi. Menurutnya penutupan lokalisasi di Kabupaten Tegal berjalan sukses, aman, dan tertib. Kemensos meminta setelah penutupan harus dilakukan evaluasi dan pemantauan.?

"Saya saat melakukan penutupan lokalisasi di Jambi, diculik oleh paguyuban germo dan mucikari selama dua hari. Penutupan di Kabupaten Tegal ini paling teduh dan damai," ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Wakil Bupati Tegal Hj. Umi Azizah menuturkan, penghentian permanen lokalisasi prostitusi pada hari ini bukan saja karena adanya momentum bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk mendukung terbebasnya Kabupaten Tegal dari lokalisasi prostitusi sebagai bagian dari program nasional yang mentargetkan seluruh wilayah di tanah air terbebas dari lokalisasi prostitusi Tahun 2019.

"Saya berharap, pasca penghentian lokalisasi prostitusi ini, masyarakat setempat tetap dapat membuka usaha ekonomi produktifnya, menjalankan bisnis dan usahanya tanpa melanggar Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Ketertiban Umum. Untuk itu, dukungan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar proses menuju kemandirian tersebut cepat terbangun," imbuh Ketua PC Muslimat NU Tegal ini. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Menjalankan Organisasi Perlu Kreativitas dan Inovasi

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Bendahara PCNU Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung dr Yusuf J Mustofa, di Blambangan Umpu, Sabtu, (25/6) menegaskan, organisasi perlu ditangani dengan kreativitas dan inovasi untuk bisa melangkah lebih maju.

"Banyak ide-ide cemerlang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, seperti gerakan "Sedekah Oksigen" untuk kemandirian pesantren, lalu kewirausahaan sosial "Halal" atau Hijamah/Bekam Sambil Beramal untuk menyebut beberapa contoh," kata dia.

Menjalankan Organisasi Perlu Kreativitas dan Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjalankan Organisasi Perlu Kreativitas dan Inovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjalankan Organisasi Perlu Kreativitas dan Inovasi

Kreativitas dan inovasi yang belum dilakukan di periode-periode sebelumnya tersebut, imbuh pemilik Klinik Bulan Medical Center (BMC) Pakuan Ratu itu, memiliki manfaat tidak hanya bagi organisasi, namun juga pihak di luar organisasi. Tapi hal-hal tersebut tentu memiliki tantangan tersendiri dan butuh keberanian untuk mewujudkannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Banyak kader yang semula meremehkan rencana kewirausahaan sosial bekam. Namun setelah berjalan dan mengetahui manfaatnya, sekarang apresiasi justru bermunculan. Dan terus terang saja, jika kegiatan tersebut tidak kreatif dan tidak memiliki manfaat, Klinik BMC tentu tidak akan mau menjalin kerjasama dengan Ansor," kata dia lagi.

Melalui "Halal" yang dikelola kader PAC Ansor Pakuan Ratu Beni Irawan, Kitab Kuning dan Al-Qur’an bisa dibeli dan disalurkan untuk Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif, Pesantren Nurudz Dzikri Al-Amin asuhan Kiai Maulana Ismail dan Pesantren Riyadlotul Mubtadiin asuhan Ustadz Ahmad Sholihin sebagai tambahan media belajar santriwan-santriwati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Apresiasi untuk gerakan ekonomi dilakukan Ansor Way Kanan juga diberikan oleh aktivis Gusdurian Malang, Anas Ahimsa. "Gerakan ekonomi yang kurang merupakan kelemahan Nahdlatul Ulama, dan Ansor Way Kanan mencoba menjawab hal tersebut dengan sejumlah langkah riil, salah satu dengan menjual madu," ujar Anas lagi.

Penyelenggaraan Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 tidak terlampau terkendala dengan masalah keuangan, salah satunya karena terbantu dengan penjualan madu sehingga tidak mengajukan permohonan bantuan dana kepada Pemerintah Kabupaten Way Kanan.

"BPUN bagi saya merupakan program luar biasa, selain mendapat pelajaran akademik, saya juga bisa mendalami Islam dengan karantina satu bulan intensif di Pesantren Assiddiqiyah 11 Gunung Labuhan yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan. Selain itu, dengan mengikuti BPUN Ansor Way Kanan, mental saya juga mengalami perubahan, dari pribadi tidak percaya diri menjadi individu percaya diri," ungkap Uswatun Hasanah, alumni BPUN 2016 dari SMK Persada Kesehatan Nusantara Way Tuba.

Hal tersebut menurut dia, sejalan dengan Fikrah Nahdliyyah ketiga, yakni Fikrah Islahiyyah yang menempatkan NU untuk selalu mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah). (Riky Ryan Saputra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 Desember 2017

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Sukoharjo. Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar tujuh ribu jamaah tumplek blek di Balai Desa Mulur Kecamatan Bendosari Sukoharjo, hadiri pengajian bertajuk “Jamaah bertanya Kiai menjawab” yang digagas Pengurus Wakil Cabang (MWC NU) Bendosari bekerjasama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Sukoharjo, Rabu malam.

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab” (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Gagas Pengajian “Jamaah Bertanya Kiai Menjawab”

Kiai Muhammad Adib Zein dan Kiai Ahmad Baidlowi selaku narasumber mengupas sekitar thaharah. Sedikitnya ada tujuh jamaah bertanya secara langsung dan sembilan bertanya melalui SMS. Walau membicarakan tema thaharah, tapi jamaah ada yang bertanya tentang berbagai hal diantaranya soal, hukum makan bekicot, hukum makan daging anjing, yang di duga kelompok lain menghalalkan daging anjing, tata cara menyembelih hewan, dan kedudukan perempuan datang bulan yang mengikuti pengajian di masjid, dan lain sebagainya.

Pantauan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, acara pengajian Jamaah Bertanya Kiai Menjawab identik dan menjadi “tandingan” pengajian kelompok lain di Solo Raya yang juga memakai metode sama, cuma bedanya yang ditanyakan selalu seputar hukum ziarah kubur, tahlilan bid’ah, dan kalau ada pertanyaan lain sang ustadz selalu berupaya mengarahkan dan menyinggung tata cara amaliah NU yang dianggap keluar dari tuntunan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Ketua PCNU Sukoharjo Muhammad Nagib Sutarno, model pengajian ala NU mengupas kitab kuning, lalu santri (jamaah) bertanya, harus digalakkan lagi di kalangan NU secara massif agar jamaah mengetahui secara mendalam berbagai persoalan baik ubudiyah maupun lainnya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sisi lain, jamaah terjaga dari pemahaman dari luar yang “menyerang” amaliyah NU. “Pengajian ini rutin dilakukan oleh NU Sukoharjo, untuk membangun soliditas jamaah,” kata Sutarno.

Sementara itu Ketua MWC NU Bendosari Agus Purwanggono menjelaskan, suksesnya pengajian ini tak lepas dari partisipasi semua pihak. Tampak hadir diantaranya Kepala Desa Mulur, Muspika Kecamatan Bendosari, pengurus GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, Jatman dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh    

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Peristiwa tragis yang menimpa Yuyun (14), pelajar SMP di Bengkulu mengundang simpati dan keprihatinan banyak pihak, termasuk para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Puluhan pelajar Pimpinan Cabang IPNU Banyuwangi melaksanakan shalat ghaib dan doa bersama untuk almarhumah Yuyun. Selain itu, juga memanjatkan doa untuk seluruh pelajar Indonesia agar kasus sejenis tak muncul kembali.

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

“Sebagai bentuk solidaritas dan komitmen kita di dunia pendidikan, kita mendoakan almarhumah Yuyun agar diterima di sisi-Nya dan ke depannya tak ada lagi kasus-kasus demikian menimpa pelajar di Indonesia,” tutur Yahya Muzakki, Ketua PC IPNU Banyuwangi usai doa bersama di Masjid Al-Mujahirin, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi, Selasa malam (3/5).

Kasus Yuyun, menurut Yahya, bukan sekadar kasus kriminal biasa. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap dunia pendidikan Indonesia. Apalagi mengingat para pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun terhitung masih berusia pelajar, yakni 16 sampai 20 tahun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ini pukulan telak bagi dunia pendidikan Indonesia. Peserta didik tidak hanya menjadi korban, tapi kini mulai merambah menjadi pelaku,” ujar Yahya.

Oleh karena itu, terang Yahya, aktivis IPNU bersama IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) terus menyuarakan toleransi, anti-kekerasan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di kalangan pelajar Banyuwangi. “Kita terus mendampingi pelajar Banyuwangi,” imbuh Yahya.

Sementara itu, angka kekerasan seksual yang menimpa anak-anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 kemarin ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 59,3 persen di antaranya merupakan kasus kejahatan seksual. Angka ini naik dari 2.726 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2014, yang 56 persen di antaranya pelecehan seksual. Ironisnya, hanya 179 kasus yang dilaporkan.

Ragam kekerasan anak berupa kekerasan fisik, penelantaran, penganiayaan, perkosaan, adopsi ilegal, penculikan, perdagangan anak untuk eksploitasi seksual. KPAI mencatat bahwa pelaku kekerasan anak adalah anggota keluarga, tetangga, teman, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Dari kasus itu tindak kekerasan terjadi di ruang privat sebesar 62 persen dan ruang publik seperti rumah, sekolah, panti asuhan, lembaga keagamaan sebanyak 38 persen. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Fragmen, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 13 Desember 2017

Hijrah, Momentum Persatuan dan Spirit Peradaban

Oleh: M. Imaduddin 



Dominasi kaum Yahudi yang menyingkirkan bangsa Arab secara politik dan ekonomi di Yastrib menimbulkan pertikaian di sana. Klan Aus dan Khazraj, sebagai penduduk pribumi Yatsrib mencari sosok pemimpin Arab yang mampu mengangkat martabat dan membebaskan mereka dari belenggu penindasan Yahudi.

Hijrah, Momentum Persatuan dan Spirit Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hijrah, Momentum Persatuan dan Spirit Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hijrah, Momentum Persatuan dan Spirit Peradaban

Memang sudah lama ada desas-desus di kalangan Yahudi, berdasarkan informasi dalam Kitab Taurat, bahwa akan datang seorang mesias dan nabi akhir zaman yang akan memimpin dan menyelamatkan umat manusia dengan ciri-ciri yang juga disebutkan dalam Taurat. Namun, kalangan Yahudi kecewa, karena sosok tersebut adalah seorang Arab, bukan Yahudi dan tinggal di Makkah. Informasi ini kemudian di simpan rapat-rapat oleh kalangan Yahudi. 

Tapi Informasi tersebut bocor juga kepada kaum Arab Yatsrib. Mereka mendengar di Mekkah ada sosok yang ciri-cirinya persis yang digambarkan oleh Taurat. Sosok itu bernama Muhammad putera Abdullah dari klan Hasyim. 

Berangkatlah perwakilan Aus dan Khazraj ke Mekkah. Sesampainya di Mekkah, mereka memohon kepada Muhammad SAW agar berkenan menjadi pemimpin mereka, serta bersumpah setia untuk mematuhi dan membelanya. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqabah I. Setelah itu datanglah lagi gelombang kedua dari Yatsrib dengan jumlah yang lebih besar. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqabah II. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muhammad SAW kemudian hijrah menuju Yatsrib bersama pengikut-pengikutnya. Beliau berangkat paling akhir bersama Abu Bakar pada malam hari. Kedatangan Muhammad SAW disambut gegap gempita oleh penduduk Yatsrib. 

Langkah pertama yang dilakukan Muhammad SAW adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin yang datang dari Mekkah dan kaum Ansor penduduk asli Yatsrib. Kedua, mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah Al Munawwarah yang bermakna kota yang terang benderang. Ketiga membentuk konstitusi Madinah dengan kesepakatan seluruh suku-suku di Madinah, yakni Suku Quraisy, Aus, Khazraj, dan empat suku Yahudi: Bani Nadhir, Musthaliq, Quraizhah, dan Qainuqa. Perjanjian ini dikenal dengan Piagam Madinah. Sebuah konstitusi pertama yang terbentuk dari masyarakat yang plural. 



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di antara isi Piagam Madinah adalah:

1. Kaum Yahudi bersama kaum muslimin wajib turut serta dalam peperangan.

2. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama kaum muslimin.

3. Kaum Yahudi tetap dengan Agama Yahudi mereka, dan demikian pula dengan kaum muslimin.

4. Semua kaum Yahudi dari semua suku dan kabilah di Madinah diberlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.

5. Kaum Yahudi dan muslimin harus saling tolong menolong dalam memerangi atau menhadapi musuh.

6.Kaum Yahudi dan muslimin harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kedhaliman.

7. Kota Madinah dipertahankan bersama dari serangan pihak luar.

8. Semua penduduk Madinah dijamin keselamatanya kecuali bagi yang berbuat jahat.

Dari perjanjian ini tampak bahwa Rasulullah SAW tidaklah mendirikan negara Islam, melainkan sebuah negara yang berdasarkan kesepakatan unsur-unsur yang menghuni negara Madinah. Dari sinilah kemudian lahir istilah masyarakat madani. Masyarakat yang berperadaban. 

***

Di Jakarta,1300 tahun tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, panitia 9 yang terdiri dari: Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, A. A. Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. Ahmad Subarjo, Mr. Muhammad Yamin menyepakati dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara serta menetapkan UUD 1945. 

Memang, sempat ada ketegangan perihal sila pertama dalam Piagam Jakarta. Pihak Indonesia Timur yang diwakili oleh A. A. Maramis menuntut penghapusan 7 kata pada sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya" hanya menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" saja. Jika tidak dihapus maka Indonesia Timur akan memisahkan diri dari republik yang baru saja kemerdekaannya diproklamasikan itu. Namun pada akhirnya pihak Islam, demi persatuan, lapang dada untuk menerima penghapusan 7 kata tersebut. 

Toh secara dalam pandangan para ulama, walaupun tidak dituliskan 7 kata tersebut, kenyataannya umat Islam tetap wajib menjalankan syariat Islam. Meski dalam beberapa hukum tertentu seperti hudud dan jinayat tidak bisa diterapkan oleh negara, namun hal ini mengikuti kaidah fiqh yang berbunyi "menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kebaikan". Implementasinya, persatuan lebih diutamakan daripada perpecahan. Selain itu, pada saat itu bangsa yang baru saja merdeka ini, masih terancam oleh keinginan Belanda untuk menguasai Indonesia kembali. 

Apakah hari ini kaidah itu masih berlaku? Menurut saya jelas masih berlaku. Karena hingga kini, bayang-bayang perpecahan bangsa masih menghantui. Ingat, sepanjang sejarah bangsa ini masih banyak terjadi konflik yang berlatarbekalang agama. Apalagi akhir-akhir ini jurang perpecahan semakin menganga akibat perbedaan pandangan politik dan pemahaman ekstrem dan radikal. 

Pancasila adalah konsensus nasional para pendiri bangsa ini, yang setengahnya adalah para ulama. Lalu ketika ada kelompok yang ingin mengganti dasar negara ini dengan ideologi lain, maka hal itu merupakan pengkhianatan terhadap bapak-bapak bangsa kita. Pengkhiatan kepada para ulama dan santri serta para pejuang yang telah memerdekakan bangsa ini. 

***

Walhasil, hijrah merupakan momentum persatuan, sebagaimana Rasulullah SAW mempersatukan masyarakat Madinah yang berbeda etnik dan agama dalam sebuah konsensus yang disebut Piagam Madinah. Rasul SAW berhasil membangun masyarakat Madinah yang berbeda-beda dalam sebuah negara untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam bahasa kita kini: Bhineka Tunggal Ika. 

Semangat hijrah juga merupakan semangat membangun peradaban. Peradaban dalam bahasa Arab diungkapkan dengan "tamaddun", "madaniyah". Istilah ini berasal dari kata madinah. Ketika Rasulullah SAW mengganti nama Yatsrib dengan Madinah, tentu beliau memiliki maksud, yakni bahwa Rasulullah SAW ingin membangun sebuah peradaban.

Dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dan Rasulullah SAW telah memulai itu. Di Madinah beliau SAW meletakkan dasar-dasar pemerintahan, sistem ekonomi, dan ilmu pengetahuan melalui ajaran Islam yang dibawa beliau SAW. Dari sinilah Islam kemudian menyebar ke Afrika, Asia, dan Eropa. 

Islam adalah agama peradaban. Artinya agama yang membangun peradaban. Islam berkembang dan tersebar luas bukan oleh ekspedisi militer, bukan juga oleh gerakan politik. Islam maju dan berkembang karena Islam membangun peradaban. Karena itulah hijrah dijadikan sebagai awal dari kalender Islam. 

Perdaban Barat yang maju hingga menemukan bentuknya seperti saat ini karena bersentuhan dengan peradaban Islam dalam perang salib. Jika tak ada perang salib, mustahil barat mampu mencapai kemajuan seperti saat ini. 

Selamat tahun baru Hijriah 1439 H, mari jadikan hijrah sebagai momentum persatuan dan spirit membangun peradaban.





Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Ahlussunnah, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban

A. Pengertian Kurban

Kata kurban menurut etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul istilah Idul Adha.

Dari uraian tersebut, dapat dipahami yang dimaksud dari kata qurban atau udhhiyah dalam pengertian syara, ialah menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada Hari Raya Haji atau Idul Adha dan tiga Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.?

Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum, Makna, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban





B. Hukum Kurban

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan safar (bepergian), hukumnya adalah wajib. (Ibnu Rusyd al-Hafid: tth: 1/314).

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

C. Keutamaan Kurban

Menyembelih kurban adalah suatu sunnah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Hal ini didasarkan atas informasi dari beberapa haditst Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, antara lain:?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)

Menurut Zain al-Arab, ibadah yang paling utama pada hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan untuk kurban karena Allah. Sebab pada hari kiamat nanti, hewan itu akan mendatangi orang yang menyembelihnya dalam keadaan utuh seperti di dunia, setiap anggotanya tidak ada yang kurang sedikit pun dan semuanya akan menjadi nilai pahala baginya. Kemudian hewan itu digambarkan secara metaphoris akan menjadi kendaraanya untuk berjalan melewati shirath. Demikian ini merupakan balasan dan bukti keridhaan Allah kepada orang yang melakukan ibadah kurban tersebut. (Abul Ala al-Mubarakfuri: tt: V/62)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Masih banyak lagi sabda Nabi yang lain, menjelaskan tentang keutamaan berkurban. Bahkan pada haditst terakhir, disebutkan bahwa orang yang sudah mampu berkorban, tetapi tidak mau melaksanakanya, maka ia dilarang mendekati tempat shalat Rasulullah atau tempat (majelis) kebaikan lainya.

Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya. ?





D. Hakikat Kurban

Kurban dalam dimensi vertikal adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam dimensi sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada Hari Raya Adha, sebagaimana pada Hari Raya Fitri mereka digembirakan dengan zakat fitrah. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin.

Allah berfirman:

? ? ? ? ?

“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj, 22:28)

Dengan demikian kurban merupakan salah satu ibadah yang dapat menjalin hubungan vertikal dan horizontal.?





E. Kriteria Hewan Kurban

Para ulama sepakat bahwa semua hewan ternak boleh dijadikan untuk kurban. Hanya saja ada perbedaan pendapat mengenai mana yang lebih utama dari jenis-jenis hewan tersebut. Imam Malik berpendapat bahwa yang paling utama adalah kambing atau domba, kemudian sapi, lalu unta. Sedangkan Imam al-Syafi’i berpendapat sebaliknya, yaitu yang paling utama adalah unta, disusul kemudian sapi, lalu kambing (Ibn Rusyd: tt: I:315).

Agar ibadah kurbannya sah menurut syariat, seorang yang hendak berkurban harus memperhatikan kriteria-kriteria dari hewan yang akan disembelihnya. Kriteria-kriteria tersebut diklasifisikasikan sesuai dengan usia dan jenis hewan kurban, yaitu:

a. Domba (dha’n) harus mencapai minimal usia satu tahun lebih, atau sudah berganti giginya (al-jadza’). Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sembelilhlah domba yang jadza’, karena itu diperbolehkan.” (Hadits Shahih, riwayat Ibn Majah: 3130 Ahmad: 25826)

b. Kambing kacang (ma’z) harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.

c. Sapi dan kerbau harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.

d. Unta harus mencapai usia lima tahun atau lebih.

(Musthafa Dib al-Bigha: 1978:241).

Selain kriteria di atas, hewan-hewan tersebut harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallâhu ‘anh:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, “(1) yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), (2) yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, (3) yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan (4) yang (badannya) kurus lagi tak berlemak.” (Hadits Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420)

Akan tetapi, ada beberapa cacat hewan yang tidak menghalangi sahnya ibadah kurban, yaitu; Hewan yang dikebiri dan hewan yang pecah tanduknya. Adapun cacat hewan yang putus telinga atau ekornya, tetap tidak sah untuk dijadikan kurban. (Dr. Musthafa, Dib al-Bigha: 1978:243). Hal ini dikarenakan cacat yang pertama tidak mengakibatkan dagingnya berkurang (cacat bathin), sedangkan cacat yang kedua mengakibatkan dagingnya berkurang (cacat fisik).





F. Ketentuan Kurban

Berkurban dengan seekor kambing atau domba diperuntukkan untuk satu orang, sedangkan unta, sapi dan kerbau diperuntukkan untuk berkurban tujuh orang. Ketentuan ini dapat disimpulkan dari hadits berikut:?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, “Kami telah menyembelih kurban bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi juga untuk tujuh orang.” (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 2322, Abu Dawud: 2426, al-Tirmidzi: 1422 dan Ibn Majah: 3123).?

Hadits selanjutnya menjelaskan tentang berkurban dengan seekor domba yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Dari Aisyah radliyallâhu ‘anhâ, menginformasikan sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk mendatangkan satu ekor domba (kibas) yang bertanduk . Kemudian domba itu didatangkan kepadanya untuk melaksanakan kurban. Beliau berkata kepada Aisyah: Wahai Aisyah, ambilkan untukku pisau (golok). Nabi selanjutnya memerintahkan Aisyah: Asahlah golok itu pada batu (asah). Aisyah kemudian melakukan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kemudian Nabi mengambil golok itu dan mengambil domba (kibasy), kemudian membaringkannya, dan menyembelihnya sambil berdoa: Dengan nama Allah, wahai Allah terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan umat Muhammad, beliau berkurban dengan domba itu”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 1967).

Doa Nabi dalam hadits di atas, ketika beliau melaksanakan kurban: “Wahai Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan umat Muhammad” tidak bisa dipahami bahwa kurban dengan satu domba cukup untuk keluarga dan untuk semua umat Nabi. Penyebutan itu hanya dalam rangka menyertakan dalam memperoleh pahala dari kurban tersebut. Apabila dipahami bahwa berkurban dengan satu kambing cukup untuk satu keluarga dan seluruh umat Nabi Muhammad, maka tidak ada lagi orang yang berkurban. Dengan demikian, pemahaman bahwa satu domba bisa untuk berkurban satu keluarga dan seluruh umat, harus diluruskan dan dibetulkan sesuai dengan ketentuan satu domba untuk satu orang, sedangkan onta, sapi, dan kerbau untuk tujuh orang sebagaimana dijelaskan hadits di atas.?





G. Waktu Pelaksanaan Kurban

Waktu menyembelih kurban dimulai setelah matahari setinggi tombak atau seusai shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Sedangkan distribusi (pembagian) daging kurban dibagi menjadi tiga bagian dan tidak mesti harus sama rata. Ketiga bagian itu, (1) untuk fakir miskin, (2) untuk dihadiahkan, dan (3) untuk dirinya sendiri dan keluarga secukupnya. Dengan catatan, porsi untuk dihadiahkan dan untuk dikonsumsi sendiri tidak lebih dari sepertiga daging kurban. Meskipun demikian memperbanyak pemberian kepada fakir miskin lebih utama. (Dhib al-Bigha:1978:245).?

Demikian tulisan ini disampaikan, semoga bermanfaat. Mohon maaf apabila ada kekeliruan dan kesalahan. Wallahu a’lam bish shawâb.

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Usai mengadakan kegiatan rutin olahraga pagi setiap Minggu, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, mendapat kunjungan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (Stikes Icsada) Bojonegoro, Ahad (27/9).

Mereka menggelar diskusi tentang pemanasan global (global warming) di Balai Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, yang dihadiri sekitar 65 lebih anggota Fatayat NU, perwakilan masing-masing ranting se-Kanor.

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

"Kegiatan seperti ini baru, sebab biasanya hanya senam Minggu pagi saja," kata Ketua Ranting Fatayat NU Desa Sarangan, Masfiah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Masfiah, setiap kegiatan senam pagi ada sekitar 50 sampai 100 anggota yang ikut. Namun sekarang ini ada 65 lebih yang turut serta. Kegiatan bertambah menarik dan bermanfaat, karena ada tambahan diskusi dari Kampus Ungu, sebutan Stikes Icsada Bojonegoro.

Tamu yanga hadir saat itu adalah perwakilan dari Prodi D III Kebidanan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Kampus Ungu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu pemateri dari Prodi D III Kebidanan Kampus Ungu, Istitoah menjelaskan, semakin sedikitnya tanaman dan penghijauan di desa turut serta mempercepat pemanasan global. Olah karena itu, dibutuhkan tanaman baru, termasuk yang terkecil seperti bunga maupun sayuran.

"Pola hidup harus juga diubah, seperti membuang sampah sembarang, menggunakan makanan organik dan lain sebagainya," terang Isti, panggilan akrab Istitoah.

Menurutnya, membuang sampah secara sembarangan cukup berbahaya bagi lingkungan. Padahal, seharusnya bisa dipisah dan dimanfaatkan ulang. Untuk yang basah dipakai pupuk organik atau kompos, sedangkan yang kering juga diolah untuk kegiatan kreatif.

"Bisa menambah pemasukan untuk belanja juga saat kreatif, seperi membuat bros, bunga, tas, dan lain-lain dari daur ulang sampah. LP2M Kampus Ungu juga tengah berkampanye daur ulang sampah," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus

Tapanuli Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penggalian dan penelitian tentang khazanah Islam Nusantara masih perlu ditingkatkan. Penggalian dan penelitian ini meliputi penelusuran terhadap jejak-jejak Islam serta artefak kebudayaan yang ada di bumi Nusantara.

Pentingnya penggalian dan penelitian khazanah Islam Nusantara itu disampaikan Wakil Rais ‘Aam PBNU, KH Miftakhul Akhyar saat memimpin rombongan ekspedisi Islam Nusantara ke Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam perjalanan ekspedisi tersebut Kiai Miftah beserta rombongan berziarah ke makam Syaikh Mahmud Papan Tinggi.

 

Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus

Dari berbagai literatur ditemukan bahwa Syaikh Mahmud adalah orang pertama kali yang membawa ajaran Islam ke daerah Barus.

Menurut penuturan penduduk setempat ditemukan dua kemungkinan. Pertama, Syeikh Mahmud adalah orang Yaman yang hendak melakukan pelayaran ke Samudera Pasai (Aceh), namun di tengah pelayaran, kapal yang ia tumpangi salah arah dan terdampar di Barus. Sampai di Barus Syaikh Mahmud tidak hanya berdakwah tetapi juga menjadi pedagang dan berbisnis komoditas kapur yang sangat terkenal sejak puluhan abad lalu, bahkan ada yang mengatakan jika kapur Barus ini sudah dikenal pada masa Firaun.

Sementara itu, kemungkinan kedua meyebutkan bahwa Syeikh Mahmud merupakan orang asli Nusantara yang belajar ke sahabat Rasulullah Saw. Setelah ia menimba ilmu di Arab Saudi ia kembali ke Nusantara, lebih tepatnya ke Barus, dan menyebarkan ajaran Islam di sana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Syaikh Mahmud ini kemungkinan besar merupakan orang Barus yang belajar Islam semasa para sahabat. Kemudian ia kembali lagi ke Nusantara,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Tapanuli Selatan, Muhammad Batubara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih jauh saat dikonfirmasi soal sejarah Syaikh Mahmud ini, Bupati Tapanuli Selatan, Syukron Jazilan mengatakan bahwa sekitar enam bulan yang lalu pihaknya kedatangan 26 duta besar negara sahabat, termasuk diantaranya Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa Ibrahim Almubarok. Dalam kunjungan tersebut para Dubes menyempatkan diri berziarah ke makam Syaikh Mahmud yang letaknya di atas bukit, dan harus dicapai dengan menapaki 765 anak tangga.

 

Musthafa yang kala itu didampingi beberapa Dubes menyempatkan membaca enkripsi yang ada di nisan Syaikh Mahmud. Dari nisan tersebut, kata Musathafa, terpahat jelas bahwa nisan itu dibuat pada abad ke-7 Masehi. Artinya Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi.

Setelah berziarah ke Syaikh Mahmud Papan Tinggi, rombongan ekspedisi Islam Nusantara wilayah Barus singgah dan berziarah ke makam Syaikh Rukunuddin yang terletak cukup jauh dari makam Syaikh Mahmud Papan Tinggi.

Ekspedisi ke wilayah Barus Tapanuli Selatan ini merupakan bagian rangkaian dari ekspedisi Islam Nusantara PBNU yang serentak digelar mulai tanggal 31 Maret sampai 9 Juni 2016. Ekepedisi ini dijadwalkan akan dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia guna menggali khazanah Islam Nusantara. (Fariz Alniezar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Ahlussunnah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

Merekonstruksi Peran Politik NU

Jika dihitung berdasarkan kalender Masehi, pada 31 Januari 2014 kemarin, NU sudah berusia  88 tahun. Kalau diibaratkan manusia, usia tersebut sudah mencapai kematangan yang cukup. Bahkan tergolong sepuh. Prilakunya biasanya cukup arif. Jarang bicara, namun sekali “ngomong” cukup bertuah. Tindakannya tidak gegabah, jarang membuat kesalahan karena belajar dari pengalaman.

Demikian juga NU. Di usianya yang sudah berkepala delapan ini, idealnya NU sudah cukup matang dalam bertindak dan menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Untuk urusan ubudiyah dan “perlawanan” terhadap faham-faham kontra Aswaja, NU cukup  oke. Tapi untuk soal-soal “horizontal” yang terkait langsung dengan pelayanan umat seperti pendidikan, dakwah maupun kesehatan masih perlu terus ditingkatkan. Terus terang, sejauh ini  hanya bidang dakwah yang mempunyai progress  cukup  menggembirakan karena rata-rata kiai NU memang muballigh. Sedangkan bidang yang lain biasa-biasa saja.  

Salah satu yang kerap menjadi sorotan masyarakat adalah “pelayanan” NU di bidang politik. Syahwat politik NU yang cukup posesif dan fluktuatif, membuat ormas ini selalu mengundang perhatian. Dikatakan  tidak berpolitik, tapi faktanya kerap telibat dalam permainan politik. Dikatakan berpolitik, NU katanya selalu berpegang kepada khittah.

Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Merekonstruksi Peran Politik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Merekonstruksi Peran Politik NU

Memang, NU mempunyai koridor politik yang jelas. Khittah NU menggariskan bahwa secara kelembagaan NU tidak boleh berpolitik. Meminjam istilah KH. Muchith  Muzadi, NU tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Dengan kata lain, orang NU bahkan pengurus NU, secara perorangan tidak haram bergabung dengan partai politik tertentu, tapi dilarang keras membawa-bawa nama NU. Kalimat ini cukup gamblang tapi aplikasinya sangat absurd. Pantas saja langkah politik yang ditempuh NU dalam berbagai event politik, selalu menimbulkan pro-kontra. Sebab, bagaimana mungkin memisahkan antara figur seorang ketua NU dan jabatan yang disandangnya dalam ranah permainan politik. KH. Abdullah Syamsul Arifin yang menjadi Cawabub Jember, Guntur Ariyadi, Ali Maschan Moesa yang menjadi Cawagub Jatim, Soenaryo dan bahkan KH. Hasyim Muzadi yang menjadi Cawapres Megawati Soekarno Putri.

Demikian juga tokoh kunci/Ketua NU lain, yang maju dalam perhelatan politik,  mereka semua itu tetap tak bisa dilepaskan dari posisinya selaku pengurus NU kendati sudah non aktif. Di manapun mereka berkampanye, mesti dikait-kaitkan dengan NU. Akhirnya, mau tidak mau institusi NU juga terseret di keriuhan politik praktis.

Kalau menang, nama NU berkibar. Jika kalah, nama NU juga tercoreng. Ironisnya, banyak calon yang diusung NU, kalah telak. Cibiran pun kerap menyeruak; NU sudah tak laku, NU keropos dan sebagainya.

Mereka (tokoh-tokoh NU yang berpolitik praktis) tidak salah. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah ikhtiar politik untuk ikut terlibat aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat, khususnya warga NU. Mereka adalah tokoh yang loyalitas dan pembelaannya terhadap NU begitu mumpuni, sehingga jika menang, NU juga yang akan memetik buahnya. Cuma persoalannya, hampir dipastikan pengurus NU tidak satu suara dalam menyikapi figur NU yang maju dalam bursa pemilihan kepala daerah, atau apalagi dalam perhelatan politik semacam Pileg. Aklibatnya suara warga NU juga pecah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Memang tidak ada yang mengingkari bahwa massa NU cukup bejibun. Kader NU juga bertebaran di hampir semua lini. Mereka kompak di bawah satu komando (NU) ketika harus dihadapkan kepada persoalan yang terkait dengan keumatan. Namun ketika yang dibahas soal politik dan kekuasaan, tunggu dulu. Alih-alih bersatu, mereka malah silang sengkurat. Sebab, mereka mempunyai agenda politik masing-masing yang boleh jadi berseberangan satu sama lain.

Kendati demikian, sampai detik ini NU masih merupakan komoditas politik yang cukup diminati. NU masih dianggap sebagai magnet sekaligus alat progpaganda untuk menarik simpati massa. Lihat saja, menjelang Pileg ini betapa banyak Caleg yang membawa-bawa nama NU dalam baliho atau spanduk kampanyenya, mulai dari yang sekedar menempelkan logo NU hingga yang mengklaim sebagai putra asli NU. Ini menunjukkan bahwa NU dinilai masih mempunyai potensi politik yang cukup besar.  

Terlepas dari itu semua, NU memang harus mengkonstruksi ulang posisi sekaligus peran politiknya di masa-masa yang akan datang. Tidak mungkin  NU lepas dari “bermain” politik praktis, baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Massa NU yang besar jumlahnya adalah modal politik yang cukup signifikan. Lebih baik modal politik itu dikelola dan dimanfaatkan sendiri untuk kepentingan NU, dari pada dimanfaatkan orang lain yang mengatasnamakan NU, tapi ujung-ujungya tidak jelas pembelaannya terhadap NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena itu, NU harus jeli membaca peluang sekaligus memetakan kekuatan sumberdaya politik yang ada. Kegagalan demi kegagalan di masa lalu harus menjadi pelajaran berharga untuk melangkah ke depan dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada umat, baik bidang politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Jangan sampai NU jatuh dua kali di lobang yang sama.

NU, kau ditunggu umat di pagi yang cerah. Bukan dinanti kelak di senja yang merah. Selamat merenung, dan selamat harlah.

 

Aryudi A. Razaq, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jember.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelindungan Keprofesian Bagi Guru Dikmen (SMA/SMK) Zona Bali yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Guru Dikmen Dirjen GTK Kemendikbud RI, 6-8 Desember 2016.

Dua orang guru yang mewakili Pimpinan Pusat Pergunu yang ikut adalah Lewa Karma dan Moh. Sahlan. Selama kegiatan mereka mendapatkan sejumlah materi, antara lain tentang kebijakan Direktorat PG Dikmen, batasan dan bentuk kekerasan, pelanggaran HAM, hukum dan etika; batasan, bentuk dan prosedur pelayanan pelindungan; pelindungan keprofesian guru, dan displin positif untuk siswa.

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Ikuti Bimtek Pelindungan Keprofesian Guru Zona Bali

Dalam siaran pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Bimtek yang menghadirkan narasumber dari pejabat Ditjen GTK, LPTK, KPAI, Komnas HAM, LKBH Jakarta, dosen UI (psikolog) ini merupakan rangkaian kegiatan 3 zona yang diselenggarakan di Batam, Jakarta dan Bali. Bimtek zona ini menghadirkan guru pendidikan menengah (Dikmen) wilayah Indonesia Timur (Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku dan Papua).

Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok profesi, termasuk di dalamnya Pergunu, dan kelompok K3. Kelompok K3 sejumlah 100-an orang mendapatkan materi yang berhubungan dengan keselamatan kerja guru yang berhubungan dengan praktik dan layanan pendidikan di sekolah. Kelompok Profesi sejumlah 94 orang mendapatkan materi yang berhubungan kesejahteraan, pengharhgaan dan perlindungan (kesharlindung) yang berkenaan dengan penaganan siswa dan penguatan profesi guru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hasil dari Bimtek ini diharapkan bisa menambah khazanah, wawasan dan kepekaan guru dalam persoalan kesharlindung guru sekaligus sebagai penguatan pelindung profesi guru. Materi berjalan lancar dan dilengkapi dengan bedah kasus masalah siswa dan guru. Oleh sebab itu, anggota Pergunu perlu tahu dan ikut? serta dalam kegiatan ini untuk diimbaskan kepada anggota Pergunu lainnya, karena berkenaan dengan semangat kolektivitas organisasi profesi. (Red: Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Ahlussunnah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Rais Syuriyah PCNU Kraksaan Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Nurul Istiqlal

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan KH Munir Kholili didampingi Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Zuhri Zaini melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nurul Istiqlal di Desa Sumbercenteng Kecamatan Kotaanyar Kabupaten Probolinggo, Kamis (19/1).

Kegiatan ini dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Istiqlal H Imam Syafi’i, Wakil Ketua MWCNU Kotaanyar H Misbahul Munir, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Probolinggo H Ahmad Muzammil serta Forkopimka Kotaanyar.

Rais Syuriyah PCNU Kraksaan Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Nurul Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCNU Kraksaan Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Nurul Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCNU Kraksaan Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Nurul Istiqlal

Masjid Nurul Istiqlal berukuran 16x20 meter. Masjid ini berada di lingkungan kawasan Pesantren Istiqlal. Nantinya masjid ini akan digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan bagi para santri dan masyarakat sekitar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

H Imam Syafi’i mengharapkan dukungan dari semua tokoh agama dan tokoh masyarakat agar pembangunan masjid ini bisa berjalan dengan lancar dan selesai sesuai dengan harapan bersama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mudah-mudahan masjid ini bisa cepat selesai dan dimanfaatkan kegiatan keagamaan baik santri maupun masyarakat. Karena itu kami mengharapkan partisipasi dari masyarakat agar nantinya bisa bersama-sama memakmurkan masjid ini dengan beragam kegiatan keagamaan,” harapnya.

Sementara Kiai Munir Kholili mengajak masyarakat Desa Sumbercenteng bersyukur karena nantinya akan berdiri megah Masjid Nurul Istiqlal di tengah-tengah masyarakat sehingga tidak perlu mendatangi masjid yang lebih jauh.

“Harapan saya masyarakat bisa memberikan bantuan dalam penyelesaian pembangunan masjid ini karena sebagai amal jariah dan juga nama masjid sama dengan masjid istiqlal Jakarta. Untuk di Probolinggo inilah satu-satunya nama Masjid Istiqlal,” katanya.

Ke depan Kiai Munir meminta supaya masyarakat agar berperan aktif dalam memakmurkan Masjid Nurul Istiqlal ini melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Dengan demikian keberadaan masjid ini tidak hanya megah berdiri tapi juga dipenuhi dengan sejumlah kegiatan keagamaan. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 17 November 2017

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Harapan baru mulai muncul setelah sebelumnya ancaman perang menghadang didepan mata rakyat Aceh. Pemerintah RI dan GAM akhirnya bersedia duduk satu meja dalam Tokyo Meeting yang akan digelar pada tanggal 17 besok di Tokyo.
?
Kabar baik ini merupakan inisiatif dari beberapa negara donor pemulihan Aceh seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. HDC (Henry Dunant Center) -yang selama ini menjadi fasilitator perdamaian- menyambut baik rencana tersebut.

Namun demikian, sampai saat ini GAM dan RI bersedia datang dengan visi dan misi berbeda. Presiden Megawati menegaskan, pemerintah Indonesia tetap membawa proposal bahwa GAM harus mengakui NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), harus meletakkan senjata, serta harus menerima otonomi khusus.

GAM akan membawa proposal mengenai kelanjutan CoHA (Cessation of Hostilities Agreement/Kesepakatan Penghentian Permusuhan) yang ditandatangani 9 Desember lalu). "Jadi, pembahasannya bukan persoalan NKRI atau peletakan senjata," katanya saat ditemui Arnaz Farouq, wartawan, di markas GAM wilayah Lhokseumawe tadi malam.

Di mata para petinggi GAM, yang harus diagendakan dalam perundingan nanti adalah membahas sekaligus menyelesaikan pelanggaran yang terjadi selama CoHA. Sebab, selama ini, GAM menganggap belum ada mekanisme untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi setelah penandatanganan perjanjian tidak saling memusuhi dari kedua belah pihak.

Ada tiga alasan mengapa GAM akhirnya menerima itu. Pertama, Jepang negara netral. Kedua, HDC menghendaki itu. Dan, ketiga, hal itu akan menjadi sejarah baru bagi pertemuan dialog RI-GAM.

GAM berharap agar pertemuan tersebut dapat diikuti oleh kalangan sipil di Aceh. Tujuannya, mereka mengetahui secara persis bagaimana proses perdamaian itu berlangsung (jp/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Warta, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Baru dalam Tokyo Meeting (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting