Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Yayasan Rumah Pelajar di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, akan mengganti kememimpinan. Penggantian pemimpin itu segera dilakukan mengingat terpilihnya Farida Farichah sebagai Ketua Umum PP IPPNU dalam kongres ke-XVI IPPNU awal Desember 2012 lalu di Palembang.

Perihal ini diutarakan oleh Farida Farichah, Ketua Umum PP IPPNU kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di depan Kantor Sekretariat PP IPPNU, Gedung PBNU lantai enam, Jakarta Pusat, beberapa yang lalu. Farida menceritakan bahwa Rumah Pelajar bagian dari program PP IPPNU.

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru

“Dalam waktu dekat, kita akan mengadakan pergantian posisi direktur. Karena amanah kongres kemarin sebagai Ketua Umum PP IPPNU, saya tidak mungkin lagi bekerja efektif untuk memimpin Rumah Pelajar,” tegas Farida yang biasa berpenampilan sederhana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karenanya, pergantian pemimpin Rumah Pelajar akan mengalami percepatan. Kebutuhan itu cukup mendesak agar program-program pemberdayaan pelajar tetap berjalan lancar, tegas Farida. Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, dia menyatakan kesiapannya untuk membantu kelancaran acara pergantian dirinya.

Rumah Pelajar yang digawangi oleh PP IPPNU berlokasi di Jalan Ir. Juanda No. 102 C, Rt. 002/08 Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Bangunan dua lantai itu merupakan wadah pelajar untuk mengembangkan kemampuan praktis dan mengasah ketajaman intelektual lewat diskusi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Selain pengembangan sumber daya pelajar, Rumah Pelajar juga menanam nilai-nilai moral dan keagamaan. Kita juga kan punya divisi manajemen spiritual,” ujarnya.

Farida menceritakan bahwa Rumah Pelajar sangat strategis bagi IPPNU di kalangan pelajar. Rumah Pelajar menyediakan aneka pelatihan mulai dari menulis, kepemimpinan, mendaur ulang sampah, kerajinan tangan, dan bentuk lain kreativitas.

Rumah Pelajar menjadi salah satu bentuk kontribusi IPPNU bagi dunia pendidikan. Konsep Rumah Pelajar dirumuskan sedemikian rupa demi mengondisikan kenyamanan dan rasa bersahabat di hati pelajar, tandas Farida. 

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Fragmen, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

NU Care PBNU Sambangi Warga Terdampak Bencana Longsor Lebak

Lebak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui NU Care Lazisnu melakukan silaturahmi dengan warga terdampak tanah longsor di Desa Gunungsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (21/2). Sebanyak 72 rumah warga di desa tersebut mengalami kerusakan akibat bencana tanah longsor, Rabu 18 Januari 2017.

Wakil Ketua PCNU Lebak Saepudin As-Syadzily mengatakan, silaturahmi ini diharapkan dapat menyemangati warga terdampak bencana.

NU Care PBNU Sambangi Warga Terdampak Bencana Longsor Lebak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care PBNU Sambangi Warga Terdampak Bencana Longsor Lebak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care PBNU Sambangi Warga Terdampak Bencana Longsor Lebak

“Mudah-mudahan? silaturahmi ini dapat diterima oleh bapak dan ibu sehingga bapak dan ibu merasa ada keluarga, kita semua bersaudara dan saling peduli,” kata Ustadz Aep, sapaan akrabnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengutip Syekh Abdul Qadir Al-Jailany, ia berpesan, bila bencana yang datang sebagai ujian dari Allah, kita harus mengucapkan “alhamdulillah”, karena itu membuktikan bahwa Allah SWT masih menyayangi kita. Semua nabi dan rasul juga diuji oleh Allah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tetapi kalau memang bencana ini sebagai teguran, maka itu adalah kritik dari Allah, karena kita bisa introspeksi, bahwa ada kekurangan di diri kita sehingga datang teguran dengan musibah,” lanjut Ustad Aep.

Lebih penting lagi, di balik ujian kita harus tetap bersyukur, karena banyak saudara yang peduli. Akan tetapi, kepedulian tersebut bukan berarti memanfaatkan adanya musibah yang terjadi.

“Bersyukur di balik musibah akan mendapat kemuliaan dari Allah. Sebab Allah SWT mengangkat derajat manusia dengan musibah,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penyerahan 85 paket bantuan. Bantuan berisi beras, mie instan, peralatan mandi, pakaian, dan mukena. Direktur NU Care Slamet Tuhari mengatakan, bantuan kebencanaan menjadi salah satu wujud kepedulian NU Care Lazisnu.

Bantuan kepada warga di Gunungsari menjadi titik pertama dari pembagian 200 paket bantuan kepada warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lebak. Selain Desa Gunungsari, bantuan juga diserahkan kepada warga terdampak banjir di Lebakkeusik, Damar, dan Muara. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kasus yang menimpa Nurmayani, guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mencubit anak polisi kemudian berakhir di sel penjara jadi perhatian publik, termasuk Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.?

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Dedi menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menekankan pada aspek transformasi ilmu pengetahuan, dan justru mengabaikan etika serta karakter peserta didik. Seharusnya, lanjut Dedi, sistem pendidikan nasional mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang terbukti sukses menanamkan budi pekerti kepada para santri dengan cara menerapkan metode aplikatif pembelajaran karakter, bukan sekadar transformasi ilmu pengetahuan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sering kan, kita menyalahkan peserta didik yang tidak bisa diatur. Problemnya berarti mentalitas dan karakter. Maka pola pendidikan yang diterapkan harus berbasis karakter budi pekerti, tidak lagi melulu transformasi ilmu. Zaman dahulu kalau keras kepada anak didik tidak akan menjadi masalah. Lah, hari ini urusannya bisa penjara," kata Dedi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/5).

Menurut Dedi, saat karakter menjadi acuan pembelajaran, semua mata pelajaran di sekolah harus mengacu pada variabel budi pekerti. Peserta didik yang memiliki budi pekerti yang buruk, kata dia, sudah seharusnya tidak naik kelas. Hukuman tidak naik kelas ini pun harus dilakukan secara sistematis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Misalnya setiap mata pelajaran nilai peserta didik dikurangi 2. Taruhlah dia dapat nilai Matematika 7. Nah, karena budi pekertinya jelek, di rapor harus ditulis 5," ujar Bupati yang dikenal sering menulis lagu bertema spiritual ini.

Dedi menekankan pola penilaian baru ini harus dilaksanakan secara konsisten di semua sekolah di Kabupaten Purwakarta. Tidak dibenarkan suatu saat ada protes dari orang tua siswa yang tidak terima nilai anaknya dikurangi.

"Kalau masuk pesantren, kan, biasanya ditanya dulu kesanggupan mengikuti peraturan atau tidak. Maka saat masuk sekolah di Purwakarta semua pihak harus ditanya kesanggupan menerima pola baru ini," kata Dedi. (Anif/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Ciputat, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kematian tragis salah seorang petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, mengetuk hati masyarakat Indonesia untuk menyampaian solidaritas, tak terkecuali mahasiswa.

Atas peristiwa tersebut, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat menggelar aksi solidaritas di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas membentangkan poster dan juga bendera PMII.

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ciputat Ajak Civitas UIN Simpatik atas Kasus Salim Kancil

Aksi yang berlangsung Kamis (1/10) ini dimulai dari depan Fakultas Tarbiyah yang kemudian berjalan menuju taman Fakultas Sains Teknologi dan Fakultas Ekonomi Bisnis. Lalu, massa bergerak menuju taman Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Setelah itu berhenti di Fakultas Adab dan Humaniora dan Fakultas Syariah dan Hukum. Hingga berakhir di depan pintu masuk UIN Jakarta. Setiap taman Fakultas yang disinggahi, mereka berorasi dan mengajak kepada seluruh civitas akademika UIN Jakarta untuk turut bersimpati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami mengangkat tema ‘Ciputat Berduka Cita Atas Meninggalnya Salim Kancil’, dengan maksud membuka setiap mata para civitas akademika UIN Jakarta bahwa ada pelanggaran HAM dalam peristiwa yang menimpa saudara kita di Lumajang,” ujar Abdurrahman Wahid selaku koordinator lapangan aksi.

Dalam aksi tersebut, mahasiwa menuntut pemerintahan Lumajang agar segera menyelesaikan kasus tersebut, dan menghukum seberat-beratnya pelaku yang telah menganiaya korban penganiayaan, Tosan; serta korban pembunuhan sadis, Salim Kancil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya berorasi, mereka juga membawa kotak donasi untuk Tosan yang masih dirawat. Aksi solidaritas tersebut juga diwarnai dengan puisi untuk Salim dan drama teatrikal. Aksi yaang sempat membuat macet jalan raya depan kampus UIN Jakarta ini berlangsung lancar dan damai. (Dany Setiyawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanulhaq mengungkapkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 oleh Jokowi harus disertai perhatian negara untuk pesantren.

Hal itu dikemukakan oleh Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, Jawa Barat ini saat memberikan materi dalam Focus Group Discussion (FGD) RUU Madrasah dan Pondok Pesantren, Rabu (19/10) di Hotel Lumire Jakarta Pusat.

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Keppres Hari Santri Harus Disertai Perhatian Negara untuk Pesantren

Dalam FGD yang digelar LP Ma’arif NU, FPKB DPR RI, dan Kementerian Agama tersebut, kiai yang akrab disapa Kang Maman ini menuturkan bahwa menurutnya, selama ini seolah hari santri hanya sebatas arak-arakan, kirab, dan seremonial.

“Oleh negara, kita seolah sudah cukup bergembira dikasih hari santri. Pengakuan negara terhadap santri mestinya disertai perhatian mereka bahwa pesantren selama ini memberikan kontribusi luar biasa terhadap pembangunan bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” papar Anggota DPR RI FPKB ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu menurutnya, momen penting Hari Santri harus dimanfaatkan oleh NU untuk mem-breakdown gagasan-gagasan demi kepentingan pesantren dari sudut pandang alokasi anggaran tetap APBN untuk pesantren dan madrasah.

Karena menurut penulis buku Fatwa dan Canda Gus Dur ini, tidak terpungkiri bahwa selama ini pesantren dan madrasah terutama swasta masih mengalami diskriminasi alokasi anggaran negara. Tidak seperti pendidikan umum yang terbiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekaligus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka dari itu, pengguliran RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini semoga bisa memperkuat payung hukum yang ada selama ini sehingga eksistensi penting madrasah dan pesantren tidak terabaikan secara regulatif,” terangnya.

Senada dengan Kang Maman, Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag RI M. Nur Kholis Setiawan juga menerangkan bahwa warga NU jangan hanya gegap gempita dengan Hari Santri. Tetapi juga harus mendorong pemerintah atau negara agar melakukan rekognisi (pengakuan) sehingga pesantren terperhatikan dalam alokasi anggaran negara.

“Kita sekarang masih gegap gempita dengan Hari Santri, tetapi bagi saya, ekstrim saya katakan, percuma ada Hari Santri kalau pesantren masih hanya dianggap sebagai pemadam kebakaran. Negara belum hadir di sana,” ujar Nur Kholis.

Karena menurutnya, kita tidak mungkin berargumentasi bahwa guru-guru dan ustadz-ustadz pesantren harus mendapatkan penghargaan negara. “Sama sekali belum bisa. Sebab selama ini, pesantren hanya masuk nomenklatur pendidikan non-formal,” tutur Nur Kholis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO

Menyikapi pelaksanaan Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (KTM WTO) ke-9 di Bali, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkewajiban mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan Gita Wiryawan untuk tidak menelorkan kesepakatan yang merugikan petani, dalam hal ini terkait agenda pencabutan subsidi pertanian.

PBNU meminta pemerintah untuk mendukung sikap India yang tidak ingin menegoisasikan masalah cadangan pangan demi membela kepentingan nasional, melindungi rakyat untuk mendapatkan harga pangan yang murah.

Bagi rakyat Indonesia, lebih bermanfaat kalau KTM WTO Bali tidak menghasilkan kesepakatan. Gita Wiryawan jangan berbuat naïf untuk mengikuti keinginan negara Barat, padahal mereka bertahun-tahun mempertahankan subsidi untuk petani mereka. Jangan mengorbankan kepentingan rakyat untuk mendapatkan pujian karena mempertahankan kesepakatan internasional.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan 250 juta yang sebagian besar masih mengandalkan sektor pertanian. Persaingan dengan produk pangan impor akan berakibat pada matinya petani Indonesia yang memiliki daya saing lebih rendah. Indonesia bahkan harus tampil sebagai pemimpin yang memperjuangka kepentingan Negara berkembang.

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO

Terkait keanggotaan Indonesiadi WTO, selama ini WTO lebih menguntungkan negara-negara dengan suprastruktur pertanian, teknologi dan jaringan yang kuat, dan merugikan negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu sudah seharusnya pemerintah RI mempertimbangkan keluar dari keanggotaan WTO.

PBNU memandang bahwa dari aspek kepentingan masyarakat, keanggotaan Indonesia di WTO lebih banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Indonesia lebih baik menggunakan pendekatan hubungan bilateral dalam hal perdagangan tanpa harus bergantung dan terikat dengan WTO.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jakarta, 6 Desember 2013

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama memiliki banyak badan otonom yang menjadi lahan bagi pengkaderan. Tingkatan paling dasar pengkaderan berada ditangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).



Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Terdapat empat penjenjangan dalam pengkaderan di IPNU atau IPPNU untuk menghasilkan seorang kader yang militan. Satu hal penting adalah pentingnya manajemen perawatan kader, yaitu merawat kader setelah melewati tahapan-tahapan pelatihan agar tidak ‘lari’ dan dapat terus berkembang.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah dalam diskusi Kamisan yang diselenggarakan di kantor redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis, 25 November.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat penjenjangan pengkaderan yang harus dilalui adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut) dan Latihan kader Pelatih (Lakpel).

“Yang tidak kalah penting adalah manajemen perawatan kader, mereka mau diapakan setelah Makesta, karena itu saja tak cukup, mereka perlu dirawat dengan skill dan materi ke IPPNU-an atau ke-NU-an. Para seniornya perlu mengalokasikan waktu dan fokus untuk itu,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Margareth menuturkan, situasi pengkadern di tiap daerah tidak seragam, terutama antara di Jawa dan di luar Jawa, ada daerah yang hanya bisa menyelenggarakan pelatihan sampai Makesta saja, tetapi ada yang bisa sampai tidak Lakpel. Beberapa daerah yang sudah cukup bagus dalam pengkaderan diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi kendala ini, IPPNU sekarang membentuk zona-zona, khususnya untuk pelatihan Lakpel yang dipusatkan di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Ia menuturkan, kondisi Pengurus Wilayah IPPNU-nya dalam satu pulau besar diasumsikan tak jauh berbeda, untuk Sumatra, Propinsi Lampung sebagai wilayah yang sudah berkembang bisa membantu dan mendukung wilayah lain yang ada disekitarnya. Di Sulawesi, Sulawesi Selatan juga dapat memback up Sulawesi Utara atau Gorontalo

“Kita tak bisa menyamakan Jawa dengan Sumatra dan menggabungkannya menjadi satu karena situasinya berbeda, makanya kita bagi per zona agar hasilnya lebih maksimal,” paparnya.

Dalam waktu dekat ini, yang Pelatihan Kader Pelatih akan diselenggarakan di pulau Kalimantan dan berpusat di Kalimatan Barat, selanjutnya akan diteruskan ke Sulawesi.

Pada setiap zona, nantinya akan ada koordinator wilayah yang akan bertanggung jawab atas proses kaderisasi selanjutnya.

Ia berharap dalam setiap tahapan pengkaderan, para pengurus mampu secara kreatif membuat pengkaderan menarik bagi remaja putri sehingga banyak yang ikut IPPNU tetapi tetap dalam koridor panduan yang sudah dibuat dalam buku Panduan. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Beragama secara Substantif

Agama merupakan jalan hidup (the way of life) setiap manusia yang menginginkan koneksi dengan Tuhan. Koneksi di sini bukan konotasi pragmatis, melainkan sadar bahwa Tuhan dengan segala “Maha”-Nya turun melalui ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah-Nya. Di sinilah manusia harus memahami bahwa ayat-ayat Tuhan diperuntukan bagi kebaikan segenap manusia di jagat raya, bukan semata-mata untuk kebaikan Tuhan sendiri.

Paradigma agama untuk kebaikan manusia inilah yang sering disalahartikan manusia dari berbagai golongan sehingga membuat diri dan kelompoknya merasa berhak mewakili Tuhan. Akhirnya mereka memahami agama hanya sebagai simbol, bahkan untuk melegitimasi setiap gerakannya yang tak jarang merugikan manusia secara materi maupun imateri melalui perilaku-perilaku anarkis.

Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama secara Substantif

Mereka terjebak dengan pemahaman simbolik yang berdampak pada pengerdilan ajaran agama yang mulia dan adiluhung. Buku gubahan Fariz Alniezar, anak muda NU berjudul Jangan Membonsai Ajaran Islam ini merupakan potret gamblang yang memberikan argumentasi lugas terkait pemahaman agama yang kontraproduktif di atas.

Penulis buku ini berupaya memberikan pemahaman agama dari sisi lain yang ditulis secara apik dengan tidak lari dari kompleksitas kehidupan beragama yang selama berjalan, baik di lingkungan sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Di titik ini, buku setebal 156 yang terdiri dari 35 artikel renyah namun substansial ini menemukan public interest-nya. Artinya, setiap pembaca langsung mencapai rasa karena kemungkinan besar terjadi di dalam pikiran dan laku setiap harinya. Atau minimal melihat dan menyaksikan kejadian nyata yang diulas secara lugas dalam buku tersebut.

Penulis buku ini juga jernih dalam membaca kontekstualitas dengan tetap berangkat dari dinamisasi tradisi, budaya, dan pemahaman agama yang berkembang di tengah masyarakat. Substansi dalam buku ini banyak memotret sekaligus mengkritisi laku yang berkembang dari umat beragama dengan menawarkan solusi yang dibalut dengan argumen kuat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam salah satu artikelnya berjudul ‘Berislam tanpa Menjadi Teroris’ (halaman 137), penulis buku mengawali coretan panjangnya dengan menukil Bernard Lewis yang berbunyi: Most Muslims are not fundamentalist, and most fundamentalist are not terrorist, but most present-day terrorist are muslims and proudly identify themselves as such. Dari kutipan Berbard Lewis tersebut, penulis buku ingin menunjukkan bahwa berislam tidak harus menjadi teroris. Bahkan sangat tidak manusiawi membawa panji-panji Islam sebagai legitimasi menyakiti dan membunuh orang lain.

Dari Bernard Lewis itu juga sesungguhnya menjadi pukulan telak bagi umat muslim karena kenyataannya tindakan teroris banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya beragama Islam, namun tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam berislam yang merupakan bagian integral dalam beragama. Narasi besar yang tersirat dalam kutipan tersebut adalah fundamentalisme sebagai akar dari tindakan terorisme, tetapi fundamentalis sendiri belum tentu teroris. Artinya, akar dari segala akar terorisme adalah paham fundamentalisme yang menumbuhkan radikalisme sehingga kristalisasinya adalah terorisme.

Di titik inilah penulis buku menemukan konteksnya dalam menggubah argumentasi sehingga pembaca dapat langsung memahami kondisi yang sedang berkembang dan terjadi di tengah masyarakat. Tetapi betapa sangat memilukannya karena agama Islam sendiri terstigma teroris sehingga gerakan kultural yang dilakukan oleh sebagian besar warga Nahdlatul Ulama (NU) patut didukung oleh seluruh masyarakat dalam menangkal akar-akar tindakan terorisme.

Penulis buku juga dengan apik menjelaskan istilah jihad secara filosofis yang selama ini memang banyak disalahpahami oleh sebagian kelompok agama. Penulis buku seperti yang telah ditulis dalam artikelnya (halaman 146) mengajak kepada masyarakat untuk merumuskan kembali makna jihad yang lebih tajam dan aktual untuk konteks masa dan juga konteks masyarakat plural di Indonesia.

Jika ditelaah lebih jauh, tulisnya, kata jihad merupakan satu rumpun (derivasi) dari kata jahada yang berarti berusaha (fisik). Dekat juga artinya dengan kata ijtihad, segala upaya yang lebih mengandalkan kerja otak dan intelegensia serta mujahadah, yakni usaha yang lebih menekankan pada dimansi intuitif (bathiniyah). Artinya, di titik ini bisa ditarik benang merah bahwa ideal seorang muslim (bahkan mansuai secara umum) yaitu orang yang mendayagunakan keseluruhan dimensi-dimensi spiritual tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendayagunaan dimensi-dimensi tersebut secara anakronis (separuh-separuh, setengah-setengah, sepenggal-sepenggal), berdampak pada pemahaman Islam yang juga setengah-setengah. Perilaku ini tentu akan berdampak pada tereduksinya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan sehingga seorang tersebut menjelma menjadi manusia yang anti-budaya, anti-tradisi bahkan sampai pada titik anti-perbedaan. Dalam hal ini, muncul diktum Birds born in a cage think flying is an illness, burung yang lahir di sangkar akan berpikir bahwa terbang adalah sebuah kejahatan. Untuk itulah keterbukaan akses pemikiran dalam beragama tidak hanya teks, tetapi juga konteks yang melingkupi sehingga beragama tidak melulu simbol namun bagaimana melihat substansi nilai.

Dalam semua artikelnya, penulis buku juga berusaha ingin menyampaikan revitaliasi spiritualitas dengan tetap berpegang pada tradisi yang berkembang di masyarakat. Antara lain memaknai tradisi mudik yang dikorelasikan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian nilai kesabaran dalam berpuasa secara substantif di mana selama ini ritus-ritus tersebut hanya dipahami secara retoris bahkan munafik, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan ‘kriuk’ lainnya yang dapat memberi pemahaman kepada pembaca terkait ajaran Islam yang substantif dan inspiratif, bukan aspiratif yang hanya menggembar-gemborkan Islam secara simbolik untuk kepentingan diri dan kelompoknya.***

Identitas buku:

Judul: Jangan Membonsai Ajaran Islam

Penulis: Fariz Alniezar

Penerbit: Quanta PT Elex Media Komputindo

Tebal: x + 156 halaman

Cetakan: I, Maret 2015

Peresensi: Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Fragmen, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memiliki cara unik dan keluar dari pakem peraturan protokoler dalam acara Salat Tarawih Keliling, Selasa (7/6) malam di Kampung Pareang, Kiarapedes, Purwakarta. Dedi membawa gerobak mie ayam agar dapat dinikmati oleh seluruh jemaah masjid setempat sehabis menjalankan ibadah salat tarawih.

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih

Dedi mengungkapkan, sejak menjadi bupati, ia tidak pernah membuat konsep formal untuk tarawih keliling. Bahkan dia mengaku sudah tidak bisa mengingat lagi berapa jenis makanan yang pernah dia bawa untuk Tarawih keliling kampung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Berkunjung ke desa itu lebih enak dadakan. Sambil ngabuburit menunggu buka puasa kami sudah ada di sana. Kemudian setelah salat Tarawih mereka semua bisa menikmati makanan yang kami sajikan di halaman masjid," kata Dedi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa malam Dedi membawa gerobak mie ayam dengan kapasitas 500 porsi ke Kampung Pareang, Kiarapedes. Tak butuh lama untuk mengosongkan gerobak tersebut karena setelah salat tarawih gerobak itu langsung diserbu warga dan anak?anak. "Syaratnya, tarawihnya harus sampai selesai, 23 rakaat dengan salat witir dan doa. Baru boleh dapat satu boks mie ayam," ujar Bupati yang akrab disapa Kang Dedi ini.

Dedi menilai cara ini sangat efektif untuk menjadikan masjid agar penuh oleh jemaah, terutama anak?anak. Melalui cara ini, kata dia, tidak perlu membebankan kepada pihak desa agar menyediakan konsumsi untuk dirinya karena dia membawa makanan sendiri bahkan satu gerobak. "Anak?anak jadi mau ke masjid. Karena target utamanya menanamkan pendidikan kepada anak maka mereka kan senangnya dikasih hadiah. Nak, oke, kita beri hadiah, tapi salat Tarawih dulu sampai selesai," kata Dedi. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Nahdlatul Ulama, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Peristiwa tragis yang menimpa Yuyun (14), pelajar SMP di Bengkulu mengundang simpati dan keprihatinan banyak pihak, termasuk para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

Puluhan pelajar Pimpinan Cabang IPNU Banyuwangi melaksanakan shalat ghaib dan doa bersama untuk almarhumah Yuyun. Selain itu, juga memanjatkan doa untuk seluruh pelajar Indonesia agar kasus sejenis tak muncul kembali.

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Yuyun, Pelajar NU Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama

“Sebagai bentuk solidaritas dan komitmen kita di dunia pendidikan, kita mendoakan almarhumah Yuyun agar diterima di sisi-Nya dan ke depannya tak ada lagi kasus-kasus demikian menimpa pelajar di Indonesia,” tutur Yahya Muzakki, Ketua PC IPNU Banyuwangi usai doa bersama di Masjid Al-Mujahirin, Kelurahan Kebalenan, Banyuwangi, Selasa malam (3/5).

Kasus Yuyun, menurut Yahya, bukan sekadar kasus kriminal biasa. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap dunia pendidikan Indonesia. Apalagi mengingat para pelaku pemerkosa dan pembunuh Yuyun terhitung masih berusia pelajar, yakni 16 sampai 20 tahun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ini pukulan telak bagi dunia pendidikan Indonesia. Peserta didik tidak hanya menjadi korban, tapi kini mulai merambah menjadi pelaku,” ujar Yahya.

Oleh karena itu, terang Yahya, aktivis IPNU bersama IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) terus menyuarakan toleransi, anti-kekerasan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di kalangan pelajar Banyuwangi. “Kita terus mendampingi pelajar Banyuwangi,” imbuh Yahya.

Sementara itu, angka kekerasan seksual yang menimpa anak-anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 kemarin ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 59,3 persen di antaranya merupakan kasus kejahatan seksual. Angka ini naik dari 2.726 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2014, yang 56 persen di antaranya pelecehan seksual. Ironisnya, hanya 179 kasus yang dilaporkan.

Ragam kekerasan anak berupa kekerasan fisik, penelantaran, penganiayaan, perkosaan, adopsi ilegal, penculikan, perdagangan anak untuk eksploitasi seksual. KPAI mencatat bahwa pelaku kekerasan anak adalah anggota keluarga, tetangga, teman, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain. Dari kasus itu tindak kekerasan terjadi di ruang privat sebesar 62 persen dan ruang publik seperti rumah, sekolah, panti asuhan, lembaga keagamaan sebanyak 38 persen. (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Fragmen, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 13 Desember 2017

GP Ansor Jatim Siapkan Pasukan Khusus Antihoax

Surabaya,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur tengah membentuk tim khsusus, yakni Ansor Banser Cyber serta Satgas Antihoax. Tim ini secara khusus bertugas meminimalisir informasi bohong atau berita hoax yang beredar di media sosial.

"Tim ini memiliki scope (cakupan, red.) yang luas. Jejaringnya secara nasional, dan memproteksi kegiatan-kegiatan komunitas NU dan NKRI, terutama di Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya, dari cyber attack," kata Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim Bidang IT Media dan Infokom M Nur Arifin, di Surabaya, Senin (16/1).

GP Ansor Jatim Siapkan Pasukan Khusus Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatim Siapkan Pasukan Khusus Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatim Siapkan Pasukan Khusus Antihoax

Menurut Arifin, Satgas Antihoax berfungsi untuk meminimalisir dampak negatif, fitnah dan ujaran kebencian di jagad maya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat ini, lanjut dia, proses rekrutmen Ansor Banser Cyber (ABC) sedang berjalan. Usai dilakukan seleksi, mereka akan diberikan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat Satgas Antihoax tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saat ini (seleksi) sudah mulai berjalan. Kami ingin memperkuat kapasitas kelembagaan khusus ini," kata pria yang juga Wakil Bupati Trenggalek ini.

Sementara Kasatkorwil Banser Jatim H Abid Umar menambahkan, proses seleksi anggota Ansor Banser Cyber dan Satgas Antihoax diambil dari anggota berbagai satuan Banser di berbagai daerah di Jatim. "Mereka adalah kader-kader terbaik Ansor dan berbagai satuan Banser di Jawa Timur," ujar Abid.

Usai seleksi, para calon anggota tersebut akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus sebelum mereka diterjunkan untuk menjalankan tugas sebagai Ansor Banser Cyber dan Satgas Antihoax.

Abid juga menyebut, pembentukan tim khusus ini dipicu oleh mulai masifnya penyebaran berita atau informasi hoax. Sebab, penyebaran berita hoax rentan merusak harmoni kehidupan sosial masyarakat, merusak kerukunan antarumat beragama dan acaman terhadap keutuhan NKRI.

"Kami tidak ingin berita yang tidak benar ini bergulir dan menjadi bola liar. Kasihan masyarakat yang tidak tahu kebenarannya menyerap (informasi hoax) dan menyakininya, padahal tidak benar, " tegasnya.

Selain itu, lanjut Abid, Ansor Jatim akan terus mengkampanyekan literasi media sosial yang sehat dan santun. "Juga kami akan terus melakukan tindaka preventif dan represif," pungkasnya. (Abdul Hady JM/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Fragmen, RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Pemerintah Umumkan Pencabutan Badan Hukum HTI Hari Ini

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia akan mengumumkan pencabutan status hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang langsung diumumkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly hari ini, Rabu (19/72017).

Pemerintah Umumkan Pencabutan Badan Hukum HTI Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Umumkan Pencabutan Badan Hukum HTI Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Umumkan Pencabutan Badan Hukum HTI Hari Ini

Menurut agenda Kemenkumham, pengumuman pencabutan status badan hukum HTI itu akan dilakukan di Gedung Kementerian Hukum dam HAM, Kuningan, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB.

Sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Perppu tersebut mengatur tentang pembubaran Ormas yang terindikasi bertentangan dengan Pancasila dalam ideologi dan gerakan. (Antara/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Diklat Muharrik Masjid NU Digelar di NTB

Mataram, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah menggelar Pendidikan dan Latihan (diklat) Muharrik atau Kader Penggerak Masjid untuk wilayah Jawa Barat dan Banten, Jawa Tengah, kini Pengurus Pusat Lembaga Ta`mir Masjid NU (LTMNU) kembali menggelar kegiatan serupa untuk kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diklat Muharrik Masjid NU Digelar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklat Muharrik Masjid NU Digelar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklat Muharrik Masjid NU Digelar di NTB

Diklat dalam rangka pemakmuran masjid dan jamaah tersebut? dibuka Ketua Umum LTM PBNU KH Abdul Manan A. Ghani di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Mataram, Kamis malam (27/6). Kegiatan tersebut akan berlangsung sampai Sabtu (29/6).

Dalam sambutannya Kiai Manan mengatakan, ada sekitar sejuta masjid di Indonesia. Menurut para peniliti, 80 persen masjid itu dibangun warga NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumlah sedemikian banyak itu, kata Kiai Manan, adalah potensi besar untuk perjuangan memakmurkan umat di sekitar masjid itu, “Dengan demikian, kita harus menjadikan masjid bukan hanya sekadar tempat shalat, tapi pemberdayaan umat,” tambahnya.

Karena masjid di Indonesia itu paling banyak di dunia, sehingga LTMNU harus bekerja keras untuk mengingatkan warga NU supaya menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk tujuan itu, PP LTMNU telah menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di 17 wilayah, menggelar Rapat Pimpinan Daerah di 50 kabupaten dan kota, “Kemudian menggelar diklat muharrik (penggerak masjid) NU.

Kiai Manan kemudian menegaskan program tujuh aksi masjid, yaitu salamatan fiddin. LTMNU harus memperkuat akidah ahlu sunah, syariah, dan akhlak jamaah.

Wafiyatan fil jasad, menjadikan masjid sebagai pusat kesehatan. Masjid harus bersih dan sehat. Wjiyadatan fil-ilmi, masjid sebagai pusat kegiatan keilmuan, misalnya dengan mendirikan TPA, pengajian akhlak, tafsir, atau bidang-bidang lain sesuai dengan keinginan jamaah.

Wabarokatan fi rizky, masjid harus menjadi pemberdayaan umat, “Penguatannya melalui zakat, maka harus diaktifkan LAZISNU untuk membangun kewirausahaan umatnya,” katanya.

Wataubatan qobla maut, menjadika masjid sebagai pusat dakwah. Warohmatan qoblal maut, masjid sebagai kegiatan sosial, menolong orang sakit, atau terkena bencana.

Wa maghfirotan ba’dal maut, di masjid juga tempat untuk mendoakan orang, yaitu dengan tahlilan, istighasah, Yasinan, ratiban, berzanjinan, atau laillatul ijtima’.? ?

Penulis: Abdullah Alawi? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 05 Desember 2017

Perhimpunan Grup Hadrah Se-Wonosobo Tetap Eksis di Usia Ke-16

Wonosobo,, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamiyyah Hadrah Hubbun Nabi Wonosobo, Ahad (27/3) menggelar acara pentas seni Hadrah di halaman Masjid Pondok Pesantren Al-Mansur Kauman Wonosobo, Jawa Tengah. Pagelaran yang kali ini bertajuk "Menggapai Syafaat dengan Shalawat" tersebut diikuti lebih dari 17 peserta grup rebana dari pelbagai delegasi. Di antara Mereka merupakan perwakilan dari pesantren, desa, juga sekolahan.

Perhimpunan Grup Hadrah Se-Wonosobo Tetap Eksis di Usia Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)
Perhimpunan Grup Hadrah Se-Wonosobo Tetap Eksis di Usia Ke-16 (Sumber Gambar : Nu Online)

Perhimpunan Grup Hadrah Se-Wonosobo Tetap Eksis di Usia Ke-16

Menurut Arif Budiyanto, ketua Jamiyyah Hadrah Hubbun Nabi Wonosobo, perkumpulan yang menghimpun berbagai grup rebana se-Kabupaten Wonosobo ini sampai sekarang tetap dapat eksis dan kini sudah memasuki usia yang ke-16 tahun. Masyarakat Wonosobo umumnya sangat antusis dan mengapresiasi adanya jamiyyah rebana ini.

Hal itu, menurutnya, terbukti dengan selalu bertambahnya jumlah peserta yang ikut tampil pada tiap acara ini dihelat secara bergilir. Para peserta itu tak cuma grup lama tapi juga sering bermunculan peserta baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kegiatan yang rutin digelar ini bertujuan untuk dapat menjalin dan mempererat tali silaturahmi antar grup-grup rebana se-Wonosobo," ujar Arif Budiyanto.

"Selain juga untuk lebih menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw,? acara semacam ini dimaksudkan pula untuk mengimbangi atau memainkan peran di bidang kesenian, agar semuanya tidak hanya bergerak dalam ranah akademik. Memang perlu ada yang mengisi bidang akademik, penting juga ada yang berperan di sisi kesenian", imbuhnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah ditemui di sela-sela acara, Ahad (27/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berdasarkan pengamatan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, meski pentas seni hadrah siang itu bukan suatu perlombaan yang memperebutkan juara, tapi masing-masing grup menunjukkan kemampuan terbaiknya. Hal itu terlihat dari seringnya mereka unjuk kebolehan dan berimprovisasi baik pada alunan vokal lagu maupun dinamisasi tabuhan terbang yang tidak monoton terikat pada model nomer lagu yang dicontohnya. Tidak jarang pula terdengar penonton memberi tepuk tangan misalnya saat peserta grup di tengah pentasnya membuat variasi lagu baru yang mengejutkan. (M Haromain/Mahbib)? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Fragmen, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Desember 2017

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

Tangsel, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan agama tidak dipungkiri menjadi salah satu benteng penting dan ? bisa diandalkan dalam menyambut modernitas global. Karenanya, diperlukan langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan agama, salah satunya dengan ? meningkatkan standar kompetensi ? lulusan peserta didik.?

Pesan ini disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin kepada ? para Kepala Seksi Kurikulum (Kasi) ? Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi dan para guru madrasah. Menurutnya, jajaran Ditjen Pendidikan Islam dari pusat sampai daerah harus benar-benar serius dalam memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan agama sehingga ? di masa mendatang ? Indonesia tidak terjebak menjadi negara sekuler. Demikian dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

“Karena ini akan sangat menentukan dan tercetaknya generasi Indonesia ke depan,” katanya di Hotel Grand Zuri BSD City, Rabu (07/10).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jadi Indonesia hari ini, lanjut Dirjen, sesungguhnya menaruh harapan besar dari madrasah. Sebab, jika Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) tidak mencetak pendidikan keagamaan Islam yang bermutu, maka Indonesia bisa menjadi negara sukuler.

Kamaruddin memandang madrasah ? sebagai salah satu ? benteng pertahanan pendidikan agama ? yang bisa diandalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita tidak bisa berharap dari sekolah, hanya belajar agama selama dua jam satu minggu. Sementara 66 juta anak-anak itu disekolahkan di sana, mereka akan mampunyai pengalaman pendidikan agama yang sangat standar,” paparnya

Menurutnya, suka tidak suka, tren globalisasi akan terus menancapkan pengaruhnya dan bersamaan dengan itu, madrasah dan pesantren menjadi salah satu harapan.?

“Jika dua lembaga ini berhasil memberikan pendidakan bermutu dan berkualitas maka generasi Indonesia bisa bertahan,” terangnya.?

Di hadapan para Kasi dan guru yang hadir, Dirjen mengimbau agar mereka dapat melakukan evaluasi pelajaran agama yang salama ini dihadirkan kepada anak-anak madrasah. Ia berharap, jangan sampai apa yang selama ini diberikan hanya sekadar pemahaman yang bersifat koginitif saja.

“Tapi juga bagaimana (pelajaran) agama mampu membentuk karakter, sebagai instrumen transformatif, bisa merubah dan membentuk perilaku anak-anak kita. Memperkuat kesalehan di sisi lain, dan ? bisa menjadi instrumen perekat sosial, dalam artian bahwa ajaran tentang kerukunan toleransi dan menghargai perbedaaan itu juga harus diajarkan,” pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak ibu-ibu Muslimat untuk mengubah peta dakwah mengingat adanya perubahan kondisi sosial kemasyarakatan sebagaimana data angka kemaksiatan se-Indonesia yang ditunjukkan oleh Khofifah.

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Muslimat Harus Ubah Peta Dakwah

"Tidak zamannya kita berdakwah kepada orang-orang yang sudah rajin shalat dan mengaji," kata Khofifah di hadapan peserta Halaqah Nasional Muslimat NU di Hotel Suites Surabaya, Jalan Pemuda Surabaya (17/12).

Khofifah yang juga menteri sosial ini menjelaskan ada tiga daerah di Indonesia yang berpotensi besar terhadap kekerasan anak dan pelecehan seksual. Padahal ketiga daerah itu juga kuat agamanya. Banyak berdiri pesantren dan pendidikan tinggi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ketiga daerah itu adalah, Aceh, Jabar dan Jatim," ungkap khofifah yang disambut kalimat haru para peserta Halaqah.

"Maka dari itu, mari kita ubah cara berdakwah kita, kita harus turun ke lapangan. Yang istighotsah dan manakipan silahkan," pungkasnya. (Rof Maulana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Ulama, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Fragmen, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Laila Zahrotul Awaliya, salah satu kader Fatayat NU Kecamatan Ajibarang meraih Juara pertama dalam lomba pemilihan putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas? tahun 2017. Lomba ini diadakan untuk memperingati harlah (Hari Lahir) Ke-67 Fatayat NU, Senin (24/4).

Laila Zahrotul Awaliya yang akrab disapa Awal mengaku sangat senang dan bahagia bisa menjadi juara pertama dalam lomba tersebut. "Ini adalah kado terindah yang saya berikan buat Fatayat NU Ajibarang," katanya ketika diwawancarai.

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Ia mengatakan, juara ini bukan untuk dirinya melainkan dia persembahkan untuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Ajibarang dan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Desa Lesmana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tentunya saya tidak berjuang sendirian, di situ banyak sahabat-Fatayat yang selalu mendukung saya sehingga bisa menjadi juara," jelasnya.

Sebagai juara pertama Awal mendapatkan piala dan uang tunai sebesar Rp 750.000,00 serta berhak memakai mahkota putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas 2017. "Uang tersebut nantinya akan saya berikan untuk kas Fatayat," lanjut Awal.

Ahmad Soim, Suami Laila Zahrotul Awaliya mengaku sangat bangga dengan kiprah gerakan istrinya di Fatayat sertra prestasi yang diraih istrinya tersebut. (Kifayatul Ahyar/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Denpasar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 

Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Denpasar, Bali menerima anggota baru melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA). Kegiatan tersebut berlangsung di desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan 29 September-1 Oktober lalu.

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Kader Religus-Nasionalis, PMII STAI Denpasar Gelar Mapaba

Pada Mapaba yang diikuti belasan mahasiswa dan mahasiswi itu, panitia pelaksana mengambil tema "Membangkitkan Jiwa Nasionalis serta Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Keadilan". 

Menurut Ketua Panitia Mapaba Agus Irawan, kegiatan itu diadakan untuk mencetak kader PMII yang religius dan nasionalis sebagai pelanjut pergerakan organisasi itu di Denpasar. 

PMII, kata dia, melihat jiwa nasionalis pada mahasiswa dan mahasiswi di Denpasar semakin menurun. Hal itu disebabkan oleh apatisnya terhadap permasalahan yang ada di Indonesia dan adanya sekelompok orang yang ingin menggantikan Pancasila.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan Ketua Komisariat PMII STAI Denpasar Teguh Irwansyah berharap anggota PMII baru itu menjadi kader yang berwawasan kebangsaan dengan pijakan Islam yang rahmatan lil alamin.

“Selain itu dapat memberikan sikap loyalitas terhadap organisasinya," tegasnya.

Ketua PC PMII Denpasar Moh. Nur Wakhid Al-Hadi pada acara penutupan Mapaba mengajak untuk bersama-sama menanamkan rasa haus akan ilmu. 

“Ini adalah modal utama bagi kita untuk menjadi agen of change yang akan mengemban tongkat estafet untuk generasi penerus Bangsa ke depan,” katanya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Oleh Ahmad Suhendra

Era 1980-an perbukuan di Indonesia sangat “dibatasi”. Karena Orde Baru masih berkuasa. Reformasi menjadi titik awal menggeliatnya perbukuan di Indonesia. Tumbangnya Orde Baru menimbulkan beberapa kalangan haus dengan buku-buku kritis, seperti filsafat dan wacana kiri. Begitu juga dengan diskursus keislaman kritis yang ikut berkembang pesat. Akhirnya, sebelum tahun 2000-an banyak beredar buku-buku diskursus, yang melahirkan pemikiran-pemikiran segar bagi peta perpolitikan maupun wacana keagamaaan di Indonesia.

Namun, pasca tahun 2000-an geliat konsumsi buku-buku diskursus itu mengalami penurunan. Itu ditandai dengan adanya pergeseran perbukuan di Indonesia, dari buku-buku filsafat ke buku-buku populer, dan dari keislaman kritis ke buku-buku keislaman pragmatis. Sekarang orang cenderung malas membaca buku ‘serius’. Padahal itu yang dapat menggerakkan sebuah peradaban. ?

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Yang juga perlu disayangkan, maraknya buku-buku non-diskursus itu dibarengi dengan semakin populernya buku-buku berbahasa marah. Buku marah dimaknai sebagai buku yang berpandangan sempit dan tidak mau menerima perbedaan. Sebab itu buku semacam ini suka menghujat, mengafirkan dan membid’ahkan golongan lain. Tipe buku yang penuh amarah ini memang bukan sesuatu yang baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun pada abad ke-21 ini, buku penuh amarah bukan saja sekadar bacaan, melainkan sudah menjadi sikap sebagian masyarakat yang suka marah: suka menyalahkan, suka mengafirkan. Di balik buku penuh amarah itu menyimpan banyak misteri, mulai dari politik, ekonomi dan budaya.



Buku Marah Hilangkan Keseimbangan


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat muslim perkotaan (urban) menjadi sasaran utama buku marah. Mereka paling rentan terkena pengaruh dibanding masyarakat muslim pedesaan. Karena muslim perkotaan memegang peranan penting, baik di sektor pemerintahan maupun perkantoran. Selain itu mereka juga heterogen, baik dari tingkat pemahaman keagamaan maupun tingkat pendidikan. Muslim kota disibukkan dengan segala aktivitas dan kerja. Sehingga mereka kering dengan urusan-urusan yang sifatnya spiritual. Maka mereka mencari semacam penawar yang sifatnya religius-spiritual dan mudah dipahami serta instant.

Kehadiran buku-buku marah dalam konteks Indonesia sesungguhnya membawa problem. Pertama, problem kebangsaan. Indonesia terlahir sebagai bangsa yang plural. Plural dari sisi budaya, bahasa maupun agama. Dalam konteks itu dibutuhkan sikap saling menerima, menghormati dan kerja sama. Kedua, problem dari sisi keberagamaan. Sudah berabad-abad muslim di Indonesia saling berinteraksi dalam bingkai pluralitas kebangsaan. Tatanan yang harmonis itu tentu akan rusak jika sesama muslim saling menghujat.

Buku-buku yang berbahasa marah, terutama yang mengidentifikasi diri dari ajaran agama (Islam), ketika lahir dengan penuh amarah, terbukti tak mampu membangun peradaban yang saling menghargai. Ini jelas tak sesuai dengan tradisi Nusantara yang ramah dan santun. Buku dengan bahasa marah justru melahirkan tradisi dan peradaban yang jauh terbelakang. Buku itu telah menghilangkan keseimbangan dalam membangun peradaban Indonesia.

Sebab itu buku-buku berbahasa marah itu harus dilawan dengan menerbitkan buku-buku keislaman yang ramah dan toleran. Buku-buku keislaman yang ramah dan toleran itu mesti menyasar muslim perkotaan. Buku-buku itupun harus dikemas dengan bahasa ringan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat.



Pesantren dan Rumah Bahasa Nusantara


Tidak mudah untuk membendung peredaran buku-buku marah itu. Ini tantangan bagi para penerbit yang mengedepankan Islam yang toleran. Pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga peredaran buku-buku toleran. Pesantren bisa menjadi kantong-kantong beredarnya buku-buku toleran. Proses transformasi keilmuan di pesantren mengkombinasikan budaya Arab dengan budaya lokal.

Untuk itu, perbukuan Indonesia masa depan harus kembali menata visinya yang jelas dan tegas. Bangsa ini harus kembali kepada “Visi Indonesia” yang sudah mempunyai “rumah” sendiri, yakni rumah bahasa yang khas Nusantara. Rumah bahasa yang khas Indonesia selalu emoh dengan bahasa yang marah, bahasa porno dan bahasa yang tidak mempunyai ikatan dengan jiwa Nusantara. Rumah bahasa yang khas Nusantara selalu mengedepankan kesantunan dan keramahan.

Rumah bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal buku-buku model tersebut. Sebab itu, buku-buku itu tidak akan mendapatkan tempat dalam rumah bahasa dan masyarakat di masa mendatang. Buku-buku amarah itu akan hilang dengan sendirinya. Dalam konteks ini, dunia perbukuan Indonesia harus menundukkan setiap hal-ihwal secara proporsional.

Hanya buku yang mempunyai ikatan batin dengan jiwa Indonesia yang bisa eksis dan terus langgeng. Buku yang suka marah, buku yang penuh porno, dan penuh tipu muslihat akhirnya secara teratur hilang dari peredaran. Dengan mendudukkan perbukuan Indonesia dalam konteks jiwa Nusantara ini, maka arah perbukuan bisa menjadi mercusuar peradaban dunia masa depan.

*) Penulis adalah Wartawan Majalah Bangkit dan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Warta, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah