Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah

Doha, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Qatar mempelopori upaya mendekatkan berbagai madzhab atau aliran dalam Islam sehingga dapat mencegah terjadinya fitnah antaraliran.

Ibukota Qatar, Dhoha, akan menjadi tuan rumah Muktamar Internasional antar-berbarbagai madzhab Islam, dengan melibatkan 216 tokoh pemikir, ulama, pengamat dan menteri dari 44 negara dunia.

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah

Muktamar itu akan digelar pada 20-22 Januari mendatang dengan tajuk “Mengambil Peran Mendekatkan Kesatuan Ilmiyah”. Muktamar ini diselenggarakan oleh Fakultas Syariah di Universitas Qatar bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar Mesir dan Forum Internasional Pendekatan Madzhab yang berpusat di Teheran, Iran.

Rencananya, Wakil PM Qatar Abdullah bin Hamad Athiya akan membuka konferensi internasional yang akan dilaksanakan di Hotel Sheraton, Dhoha.

Dalam konferensi yang melibatkan para wakil madzhab atau aliran Islam besar, utamanya Sunni dan Syiah (Itsna Asyariyah dan Zaidiyah) dan Ibadhiyah, akan didiskusikan sarana paling penting untuk mempersempit perbedaan fikih dan mengecilkan kemungkinan konflik antara pendukung madzhab yang saat ini ada di berbagai belahan bumi Islam.

Akan berbicara dalam konferensi itu antara lain DR. Yusuf Al-Qaradhawi mewakili Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, Dr. Kamaluddin Ihsan Oglo mewakili Sekjen OKI, Syaikh Ayatollah Muhammad Ali Taskheri Sekjen Forum Internasional untuk Pendekatan Madzhab Islam, Dr. Abdul Aziz Taujiri Sekjen Organisasi Pendidikan, Ilmu dan Peradaban Islam, Dr. Mahmud Hamadi Zaqzuq Menteri Wakaf Mesir dan Dr. Ahmad Badrudin Hasun Mufti Suriah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Dr Aisyah Manai, Dekan Fakultas Syariah Universitas Qatar yang sekaligus Ketua Panitia Konferensi ini, “Jurang perbedaan antara Sunni dan Syiah sekarang telah semakin lebar. Maka mendekatkan antara keduanya menjadi masalah yang menjadi latar belakang muktamar ini. Ini dilakukan untuk menghindari munculnya konflik antar aliran Islam.”

Ia menambahkan, bahwa konferensi ini tidak bertujuan merubah keyakinan yang dimiliki Sunni ataupun Syiah, tapi lebih fokus pada upaya membuka jaringan komunikasi dan dialog antara pemeluk berbagai aliran dalam Islam. (era)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 Februari 2018

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah menempuh perjalanan udara pada Jumat (31/07/15), Delegasi PCNU Pringsewu pada Muktamar NU ke 33 tiba di Kabupaten Jombang yang menjadi tuan rumah hajat Akbar 5 tahunan Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini. Delegasi yang terdiri dari 6 orang tersebut langsung melakukan registrasi peserta yang dipusatkan di Gedung Olah Raga Merdeka Jombang.?

"Alhamdulillah proses registrasi berjalan dengan lancar karena PCNU Pringsewu sudah melaksanakan registrasi online sebelumnya. Kami cuma butuh kurang lebih 10 menit untuk menyelesaikan registrasi ," jelasnya.

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima (Sumber Gambar : Nu Online)
Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima (Sumber Gambar : Nu Online)

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima

Ke-6 peserta langsung diantarkan menggunakan kendaraan yang khusus digunakan untuk mengantarkan peserta ke masing masing pemondokan. Delegasi PCNU Pringsewu ditempatkan di Komplek MTs Negeri Jombang yang menyatu dengan Komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami disambut dengan pelayanan prima dari Panitia. Kami menilai panitia sudah sangat siap menggelar hajat Muktamar yang baru kali ini digelar di tempat kelahiran NU pada 1926," kata Adi Ben Slamet salah satu delegasi dari Pringsewu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adi memberikan apresiasi kepada panitia dengan kesigapan dan kesiapan mereka menyiapkan akomodasi bagi para peserta muktamar. "Begitu sampai di Pemondokan, kami diharuskan melakukan rekam finger print -sidik jari- untuk memastikan hanya peserta saja yang dapat memasuki komplek pemondokan," jelasnya.

Adi mengatakan bahwa mengawali aktifitas pertama, delegasi yang terdiri dari KH Ridwan Syuaib, Munawwir, H Taufiqurrahim, KH Hambali, dan Adi Ben Slamet akan melakukan ziarah ke makam para muassis dan tokoh NU seperti Makam Mbah Hasyim, Kyai Wahab, Mbah Wahab, Gus Dur dan lain-lainnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, PonPes Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah mengadakan pelatihan metode membaca kitab secara cepat dengan metode Al-Ikhtishor dan Al-Lubab di aula Kemenag Demak, Selasa (7/10). Sebanyak 100 perwakilan dari pengurus pesantren dan madrasah diniyah takmiliyah sekabupaten Demak mengikuti pelatihan metode yang dikembangkan alumni pesantren Mathaliul Falah dan Al-Anwar Sarang ini.

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Sarang dan Kajen Kembangkan Metode Baca Cepat Kitab Kuning

"Metode cepat membaca kitab kuning banyak. Sudah ada empat metode yang kita (Kemenag Kanwil Provinsi Jawa Tengah-red) fasilitasi. Ada metode Amtsilati, Ibtidai, Al-Lubab, dan Al-Ikhtisor. Ini merupakan solusi yang efektif bagi orang tua yang tidak punya banyak waktu untuk mendidik dan mengajari baca kitab anaknya," kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kemenag Jawa Tengah Mukhtasit, Selasa (7/10).

Sejalan dengan itu, belakangan ini muncul banyak metode cepat agar bisa memahami kitab kuning. "Kalau dulu perlu belajar sampai 10 tahun di pesantren, kini satu bulan cukup untuk bisa membaca kitab kuning," ujar Fakhrudin, pencetus metode Al-Lubab. Ini merupakan solusi atas minimnya waktu untuk mempelajari kitab kuning dengan panduan satu kitab Al-Lubab.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk Al-Ikhtishor sudah ada memiliki manajemen untuk mengembangkan metode ini. Di bawah naungan KH Nur Kholis, metode Al-Ikhtishor sudah berjalan selama empat tahun. Hanya dengan waktu dua bulan dalam waktu lima puluh jam sudah bisa membaca kitab gundul. Dengan pengajaran satu jam tiap harinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kunci yang harus dipegang adalah tidak hanya hafal tapi teliti dan mau berpikir," ungkap kiai Amin Fauzan Badri selaku penulis kitab Al-Ikhtishor.

Kitab ini merupakan teori yang dilanjutkan praktik. Seseorang yang ingin menguasai kitab kuning harus praktik 3-6 bulan untuk kitab yang berkategori mudah seperti Fathul Qorib, kitab fikih Tahrir untuk menengah dan sulit untuk kitab gundul secara umum.

Metode Al-Ikhtishor, ibarat pisau, semakin sering digunakan semakin tajam. Tinggal bagaimana kita menggunakan pisau ini untuk kebutuhan kita dalam memahami kitab sebagai sumber ilmu pengetahuan. Selain itu, Semua kalangan bisa menggunakan metode ini dengan syarat bisa baca tulis latin (bahasa Indonesia) dan Arab.

Kegiatan ini merupakan respon atas keprihatinan pendidikan diniyah yang tak banyak mendapatkan perhatian dari para orang tua. Terlebih setelah dikeluarkannya Surat Edaran (SE) No. 420/006752/2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jateng untuk melaksanakan lima hari sekolah tingkat SMA/SMK.

Ini merupakan kekhawatiaran tersendiri bagi eksistensi pendidikan diniyah di provinsi Jawa Tengah. Pasalnya, selama ini pendidikan diniyah banyak dilakukan siang/sore hari. Maka ilmu-ilmu keagamaan akan banyak dilupakan. Itulah hal yang yang dikhawatirkan Sholihin, Kabid PD Pontren Kemenag ? Jateng. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara, Berita, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda melihat keberadaan organisasi masyarakat (ormas) radikal yang sering melakukan kekerasaan dan anti-Pancasila telah menjadi perhatian publik. Kritik banyak ditujukan kepada? pemerintah dan penegak hukum yang lamban dan tidak tegas untuk membubarkan ormas radikal dan anti-Pancasila, meski? perangkat hukum yang ada selama ini dinilai cukup memadai.

Berdasarkan kajian bidang hukum PCINU Belanda, permasalahan ini telah berlangsung sejak Reformasi bergulir karena adanya keterbukaan dan kebebasan untuk membentuk organisasi, namun tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ormas terus dibiarkan oleh pemerintah terdahulu sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Belanda: Pembubaran Ormas Anti-Pancasila Harus Sesuai Konstitusi

Namun pemerintah memandang ada hambatan regulasi untuk menindak ormas radikal yang Anti-Pancasila. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, Pemerintah berusaha menjawab beberapa hal yang dianggap kurang tegas dalam prosedur pembubaran ormas.

Permasalahan krusial dari Perppu ini diantaranya perluasan spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, penghapusan prosedur pembubaran ormas melalui peradilan, dan menambahkan ancaman pemidanaan bagi ormas dan anggota ormas, seperti rilis PCINU Belanda kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan memperluas spektrum pengertian ormas anti-Pancasila, Perppu ini memberikan penguatan legitimasi kepada pemerintah untuk melakukan pembubaran ormas yang tidak sejalan dengan ideologi negara. Namun sangat disayangkan penghilangan 17 (tujuh belas) pasal tentang prosedur pembubaran melalui proses peradilan menjadikan hak konstitusional warga negara untuk melakukan pengawasan terhadap potensi tindakan sewenang-wenang pemerintah menjadi hilang. Ini berimplikasi pada kemungkinan terlanggarnya hak berserikat dan berkumpul sebagai hak konstitusional.

Yang lebih mengkhawatirkan, kriminalisasi Ormas dengan mencantumkan pasal-pasal pemidanaan pada Perppu yang cenderung abstrak dan multitafsir berpotensi menyasar ormas apapun yang dinilai rezim penguasa bertentangan dengan? Pancasila. Selain itu perumusan unsur pertanggungjawaban pidana yang? abstrak menjadikan siapapun pengurus ormas dapat dipidana karena pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota suatu ormas tanpa sepengetahuan pengurusnya. Perumusan pemidanaan dalam Perppu dengan mengaburkan tindakan perorangan (oknum) dan tindakan ormas sebagai lembaga dapat melanggar hak kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh UU Hak Asasi Manusia dan UUD 1945.

Menyadari beberapa fakta di atas PCINU Belanda berpandangan bahwa Peppu ini secara konstitusional sangat rentan untuk dibatalkan karena bertentangan dengan UUD 1945. PCINU Belanda berpendapat bahwa sejatinya Pemerintah tetap dapat menindak ormas radikal yang melakukan kekerasan dan bertentangan Pancasila melalui perangkat hukum yang telah ada baik melalui prosedur administratif maupun pidana.

Bahkan yang harus jadi perhatian serius dari pemerintah adalah menjamin bahwa aparat penegak hukum serta aparatur negara baik sipil maupun militer bersikap tegas dan tidak akomodatif terhadap kehadiran ormas yang mengganggu ketertiban umum, kata pengurus harian PCINU Belanda yang berkantor di Heeswijkplein 170, 2531 HK Den Haag, Belanda.

Rilis ini ditandatangani oleh Ketua PCINU Belanda Ibnu Fikri dan Sekretaris PCINU Belanda Fahrizal Yusuf Affandi. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Kiai, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lemahnya jiwa wirausaha ditengarai menjadi salah satu penyebab maraknya korupsi di Indonesia. Saat ini Indonesia berada pada rangking ke 124 dengan nilai produktifitas kurang dari 5 %.

Demikian salah satu poin kesimpulan dalam workshop kewirausahaan yang digelar dalam rangkaian kegiatan Pasar Rakyat Indonesia di Malang, Sabtu (22/12) lalu.

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Korupsi Muncul karena Lemahnya Jiwa Wirausaha

Nur Shodiq Ask, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi salah satu pembicara dalam acara workshop kewirausahaan yang digelar di kaki gunung semeru, tepatnya  di Aula SMK NU Sunan Ampel desar Wonomulyo Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam paparannya, Nur Sodiq mengambil asal muasal keterpurukan Indonesia. Posisi peringkat korupsi Indonesia jauh di dibawah Singapura (peringkat 5), Brunei Darussalam (46), Malaysia (54) dan Thailand (88). Sedang Indonesia saat ini berada pada posisi 118, dan hanya lebih baik bila dibandingkan  Laos (160) dan Myanmar (172).  

Menurutnya, keterpurukan dan rendahnya moralitas itu salah satunya karena kurangnya bangsa Indonesia yang menjadi wirausaha.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Maka perlu dibangun kebanggaan menjadi wirausaha dan pasti akan banyak memberikan nilai tambah yang bisa diciptakan dan akan berpengaruh langsung terhadap tingkat kesejahteraan rakyat,” katanya.

Yang perlu dibangun diantaranya, mengembangkan potensi lokal menjadi produk unggulan, sehingga kecintaan akan produk dalam negeri semakin meningkat. Dalam hal ini NU, dalam membangun dan mengembangkan wirausaha harus berbasis pada potensi anggota, agar pengembangannya dapat berpengaruh pada perkembangan organisasi, pengelola dan masyarakat.

Ditambahkan, jaringan organisasi NU yang sudah mengakar sampai di pelosok desa adalah potensi yang sangat besar jika dikelola dengan baik. Jaringan ini dapat dipergunakan sebagai jalur distribusi yang sangat cepat dan efektif dalam mendistribusikan produk dan jasa ke pelanggan.

Ketua Panitia Wokrshop dan Pasar Rakyat H Abdul Mujib Syadzili di sela berlangsungnya kegiatan menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk munculkan energi positif para peserta yang umumnya berasal dari kalangan muda NU agar terbentuk mental pengusaha sejati yang pantang menyerah.

“Diharapkan pertumbuhan dan perkembangan wirausahawan-wirausahawan NU kian hari akan semakin meningkat sehingga lebih membawa manfaat bagi jam’iyah,” tandasnya.

Workshop kewirausahaan ini diikuti oleh sekitar 120 peserta yang terdiri dari pengurus MWCNU se Kabupaten Malang dan Ranting NU se Kecamatan Poncokusumo. Juga tampak memadati ruangan, para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Malang.  

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : Sekretariat NU Kab. Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTT gelar diskusi terbatas pemuda lintas agama di Sekretariat PWNU NTT Jalan W. H. M Oematan Kelurahan Kelapa Lima Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Jumat (23/12). Mereka mendeklarasikan NTT Damai yang memuat sembilan butir pernyataan.

Dalam pertemuan itu seluruh perwakilan pemuda menyatakan mendukung deklarasi cinta damai untuk pemuda dari NTT untuk Indonesia dan melahirkan beberapa poin rekomendasi masing-masing OKP.

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis menegaskan, diskusi terbatas GP Ansor bersama pemuda lainnya adalah bentuk nyata pemuda harus duduk bersama untuk membicarakan berbagai dinamika dari daerah. Pemuda adalah pemimpinan masa depan bangsa.

"Pemuda duduk bersama untuk membicarakan kemajuan bangsa," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam pertemuan ini Kasat Binmas Polres Kupang Kota, Pimpinan Laskar Merah Putih NTT, Ketua Budha NTT, Ketua Pemuda Hindu NTT, Ketua GMKI Kupang, HMI Kupang, PMII Kupang, Kahmi Kota Kupang, GP Ansor Kota Kupang, Fatayat serta Muslimat NU NTT, dan perwakilan media cetak serta beberapa undangan lain dari OKP lokal. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Beragama secara Substantif

Agama merupakan jalan hidup (the way of life) setiap manusia yang menginginkan koneksi dengan Tuhan. Koneksi di sini bukan konotasi pragmatis, melainkan sadar bahwa Tuhan dengan segala “Maha”-Nya turun melalui ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah-Nya. Di sinilah manusia harus memahami bahwa ayat-ayat Tuhan diperuntukan bagi kebaikan segenap manusia di jagat raya, bukan semata-mata untuk kebaikan Tuhan sendiri.

Paradigma agama untuk kebaikan manusia inilah yang sering disalahartikan manusia dari berbagai golongan sehingga membuat diri dan kelompoknya merasa berhak mewakili Tuhan. Akhirnya mereka memahami agama hanya sebagai simbol, bahkan untuk melegitimasi setiap gerakannya yang tak jarang merugikan manusia secara materi maupun imateri melalui perilaku-perilaku anarkis.

Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama secara Substantif

Mereka terjebak dengan pemahaman simbolik yang berdampak pada pengerdilan ajaran agama yang mulia dan adiluhung. Buku gubahan Fariz Alniezar, anak muda NU berjudul Jangan Membonsai Ajaran Islam ini merupakan potret gamblang yang memberikan argumentasi lugas terkait pemahaman agama yang kontraproduktif di atas.

Penulis buku ini berupaya memberikan pemahaman agama dari sisi lain yang ditulis secara apik dengan tidak lari dari kompleksitas kehidupan beragama yang selama berjalan, baik di lingkungan sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Di titik ini, buku setebal 156 yang terdiri dari 35 artikel renyah namun substansial ini menemukan public interest-nya. Artinya, setiap pembaca langsung mencapai rasa karena kemungkinan besar terjadi di dalam pikiran dan laku setiap harinya. Atau minimal melihat dan menyaksikan kejadian nyata yang diulas secara lugas dalam buku tersebut.

Penulis buku ini juga jernih dalam membaca kontekstualitas dengan tetap berangkat dari dinamisasi tradisi, budaya, dan pemahaman agama yang berkembang di tengah masyarakat. Substansi dalam buku ini banyak memotret sekaligus mengkritisi laku yang berkembang dari umat beragama dengan menawarkan solusi yang dibalut dengan argumen kuat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam salah satu artikelnya berjudul ‘Berislam tanpa Menjadi Teroris’ (halaman 137), penulis buku mengawali coretan panjangnya dengan menukil Bernard Lewis yang berbunyi: Most Muslims are not fundamentalist, and most fundamentalist are not terrorist, but most present-day terrorist are muslims and proudly identify themselves as such. Dari kutipan Berbard Lewis tersebut, penulis buku ingin menunjukkan bahwa berislam tidak harus menjadi teroris. Bahkan sangat tidak manusiawi membawa panji-panji Islam sebagai legitimasi menyakiti dan membunuh orang lain.

Dari Bernard Lewis itu juga sesungguhnya menjadi pukulan telak bagi umat muslim karena kenyataannya tindakan teroris banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya beragama Islam, namun tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam berislam yang merupakan bagian integral dalam beragama. Narasi besar yang tersirat dalam kutipan tersebut adalah fundamentalisme sebagai akar dari tindakan terorisme, tetapi fundamentalis sendiri belum tentu teroris. Artinya, akar dari segala akar terorisme adalah paham fundamentalisme yang menumbuhkan radikalisme sehingga kristalisasinya adalah terorisme.

Di titik inilah penulis buku menemukan konteksnya dalam menggubah argumentasi sehingga pembaca dapat langsung memahami kondisi yang sedang berkembang dan terjadi di tengah masyarakat. Tetapi betapa sangat memilukannya karena agama Islam sendiri terstigma teroris sehingga gerakan kultural yang dilakukan oleh sebagian besar warga Nahdlatul Ulama (NU) patut didukung oleh seluruh masyarakat dalam menangkal akar-akar tindakan terorisme.

Penulis buku juga dengan apik menjelaskan istilah jihad secara filosofis yang selama ini memang banyak disalahpahami oleh sebagian kelompok agama. Penulis buku seperti yang telah ditulis dalam artikelnya (halaman 146) mengajak kepada masyarakat untuk merumuskan kembali makna jihad yang lebih tajam dan aktual untuk konteks masa dan juga konteks masyarakat plural di Indonesia.

Jika ditelaah lebih jauh, tulisnya, kata jihad merupakan satu rumpun (derivasi) dari kata jahada yang berarti berusaha (fisik). Dekat juga artinya dengan kata ijtihad, segala upaya yang lebih mengandalkan kerja otak dan intelegensia serta mujahadah, yakni usaha yang lebih menekankan pada dimansi intuitif (bathiniyah). Artinya, di titik ini bisa ditarik benang merah bahwa ideal seorang muslim (bahkan mansuai secara umum) yaitu orang yang mendayagunakan keseluruhan dimensi-dimensi spiritual tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendayagunaan dimensi-dimensi tersebut secara anakronis (separuh-separuh, setengah-setengah, sepenggal-sepenggal), berdampak pada pemahaman Islam yang juga setengah-setengah. Perilaku ini tentu akan berdampak pada tereduksinya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan sehingga seorang tersebut menjelma menjadi manusia yang anti-budaya, anti-tradisi bahkan sampai pada titik anti-perbedaan. Dalam hal ini, muncul diktum Birds born in a cage think flying is an illness, burung yang lahir di sangkar akan berpikir bahwa terbang adalah sebuah kejahatan. Untuk itulah keterbukaan akses pemikiran dalam beragama tidak hanya teks, tetapi juga konteks yang melingkupi sehingga beragama tidak melulu simbol namun bagaimana melihat substansi nilai.

Dalam semua artikelnya, penulis buku juga berusaha ingin menyampaikan revitaliasi spiritualitas dengan tetap berpegang pada tradisi yang berkembang di masyarakat. Antara lain memaknai tradisi mudik yang dikorelasikan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian nilai kesabaran dalam berpuasa secara substantif di mana selama ini ritus-ritus tersebut hanya dipahami secara retoris bahkan munafik, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan ‘kriuk’ lainnya yang dapat memberi pemahaman kepada pembaca terkait ajaran Islam yang substantif dan inspiratif, bukan aspiratif yang hanya menggembar-gemborkan Islam secara simbolik untuk kepentingan diri dan kelompoknya.***

Identitas buku:

Judul: Jangan Membonsai Ajaran Islam

Penulis: Fariz Alniezar

Penerbit: Quanta PT Elex Media Komputindo

Tebal: x + 156 halaman

Cetakan: I, Maret 2015

Peresensi: Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Fragmen, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 07 Januari 2018

Saran MUI Agar Kesalahan Dai TV Tidak Terulang Lagi

Gorontalo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, untuk menjadi ustadz atau ustadzah seseorang harus mengetahui kapasitas dirinya sendiri. Insan pertelevisian dan masyarakat juga harus selektif dan pandai dalam memilih ustadz atau ustadzah untuk mengisi ceramah di televisi.

Kiai Cholil menyarankan, meski sang dai televisi yang berbuat kesalahan tersebut sudah minta maaf, namun harus ada tindak lanjut agar kesalahan-kesalahan dalam berceramah tidak terus terulang kembali. 

Saran MUI Agar Kesalahan Dai TV Tidak Terulang Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saran MUI Agar Kesalahan Dai TV Tidak Terulang Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saran MUI Agar Kesalahan Dai TV Tidak Terulang Lagi

“Pertama, bagi kita yang hendak menyampaikan ajaran Islam di publik harus menyiapkan materi sebaik-baiknya agar apa yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Kiai Cholil kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (5/12).

Kedua, para dai seharusnya hanya menyampaikan sesuatu pengetahuan yang telah diketahui dan diyakini pasti kebenarannya menurut dalil syar’i. Seorang dai jangan menyampaikan materi ceramah yang tidak diketahui dan menjawab semua pertanyaan hanya berdasarkan sangkaan saja. 

Ketiga, jika belum mampu menjadi guru hendaklah menjadi santri atau pelajar. Seorang dai harus lah seseorang yang benar-benar menguasai ilmu agama agar tidak terjadi penyesatan ajaran Islam. Mereka tidak cukup hanya belajar agama dari internet atau terjemahan teks-teks keagamaan saja lalu kemudian berceramah yang disaksikan khalayak umum.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang penceramah di salah satu stasiun televisi swasta yang melakukan kesalahan fatal dalam penulisan Al-Qur’an, Surat Al-Ankabut ayat 45. Saat sang dai tersebut berceramah, ayat tersebut muncul pada layar yang terletak di belakangnya. Ayat tersebut tampak seperti ditulis menggunakan tangan. Namun, tulisan ayat yang ada di layar tersebut berbeda dengan tulisan ayat asli yang ada di dalam Al-Qur’an. Dengan cepat, kesalahan ini menjadi viral di dunia maya. Banyak pihak yang menyayangkan kesalahan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya melihatnya tidak semata-mata soal kesalahan media papan tulisnya saja, tetapi juga karena minimnya kompetensi yang bersangkutan,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren, Berita, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 03 Januari 2018

Kiai Ini Menata Sandal Milik Putra Gurunya

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Di pesantren, setiap santri dilengkapi dengan ajaran adab serta tradisi tawadlunya. Mulai dahulu hingga sekarang kebiasaan menghormati siapa saja menjadi ciri khas santri Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah. Hal penting ini diajarkan hingga melekat menjadi karakter mereka sampai terbawa saat mereka pulang. Kelekatan karakter ini juga bisa dibuktikan pada? pemandangan yang tampak pada perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Madrasah Taswiquth Thullab (TBS), Kudus yang digelar pada Sabtu (23/07).

Pada acara itu, Kiai Ahmad Arwan, seorang guru sepuh TBS sudah naik ke panggung terlebih dahulu. Ia diminta panitia untuk membuka acara. Di atas panggung, tampak beberapa kiai lain yang turut mendampingi, di antaranya KH Arifin Fanani, KH Munfaat Abdul Jalil, KH Hasan Fauzi Maschan dan beberapa kiai lain. Di tengah kegiatan berlangsung, KH Ulil Albab Arwani datang. Semua hadirin beranjak berdiri dari tempat duduknya hingga pengasuh Pesantren Yanbuul Quran ini duduk di atas panggung.

Kiai Ini Menata Sandal Milik Putra Gurunya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ini Menata Sandal Milik Putra Gurunya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ini Menata Sandal Milik Putra Gurunya

Karena panggung beralaskan karpet permadani, putra Kiai Arwani Amin ini tak berkenan memakai sandal hingga ke atas panggung. Ia lepas di bawah. Mendapati demikian, Kiai Arwan yang notabene sebagai santri Kiai Arwani langsung sigap mendekat menuju tempat sandal Kiai Albab dilepas kemudian sandal diputarkan (diwalik=jawa) menghadap sesuai posisi saat nanti akan dipakai pemiliknya sebagaimana lazim dalam dunia pesantren.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadirin terhenyak, mereka mendapat pelajaran berharga bahwa hormat kepada siapa saja terlebih kepada guru dan keluarganya memang tak memandang usia. Usia Kiai Albab lebih muda dari pada Kiai Arwan. Namun Kiai Arwan tetap menaruh hormat setinggi-tingginya atas jasa gurunya tersebut dengan menghormatinya beserta kelularga besarnya. Hal ini diakui oleh salah satu peserta, Hasan Busri.

"Kami sebagai alumni merasa mendapat pelajaran penting tentang arti hormat guru atas apa yang dicontohkan Mbah Kiai Arwan tadi," tutur alumnus asal Demak ini usai acara. Selain sebagai ajang ngaji bareng masyayikh, dalam pagelaran Silatnas ini juga diluncurkan website yang akan berisi konten-konten keislaman ala ahlis sunnah wal jamaah dengan alamat santrimenara.com. (Mundzir/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Internasional, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Pemimpin Non-Muslim dalam Islam

Assalamu’alaikum wr wb

Redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah yang terhormat. Hampir setiap kali menjelang pemilihan, kerap beredar isu-isu miring yang melekat pada para calon pemimpin terutama isu-isu sensitif seperti liberal dari segi ekonomi, antek partai terlarang, rasial, atau keyakinan agama. Sedangkan sementara ini ada benar-benar orang non muslim yang menjadi pemimpin. Yang saya tanyakan, apakah kita sebagai seorang muslim boleh memilih pemimpin non muslim? Terima kasih atas keterangannya. (Abdurrahman/Jakarta)

Pemimpin Non-Muslim dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Non-Muslim dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Non-Muslim dalam Islam

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Penanya yang budiman. Semoga Allah merahmati kita semua. Pemimpin menempati posisi penting dalam Islam. Karena pemimpin memegang kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak mulai dari kesehatan, transportasi, tata kelola sumber daya alam, kesejahteraan, dan pelbagai kebijakan publik lainnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penanya yang budiman, ulama berbeda pendapat perihal memilih pemimpin dari kalangan non muslim. Misalnya Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i yang wafat di abad 8 H. Ia menyatakan dengan jelas keharaman memilih pemimpin dan juga aparat dari kalangan kafir dzimmi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: {? ? ? ? ? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak boleh mengangkat dzimmi untuk jabatan apapun yang mengatur umat Islam kecuali untuk memungut upeti penduduk kalangan dzimmi atau untuk memungut pajak transaksi jual-beli penduduk dari kalangan musyrikin. Sedangkan untuk memungut upeti, pajak seper sepuluh, atau retribusi lainnya dari penduduk muslim, tidak boleh mengangkat kalangan dzimmi sebagai aparat pemungut retribusi ini. Dan juga tidak boleh mengangkat mereka untuk jabatan apapun yang menangani kepentingan umum umat Islam.

Allah berfirman, “Allah takkan pernah menjadikan jalan bagi orang kafir untuk mengatasi orang-orang beriman.” Siapa yang mengangkat dzimmi sebagai pejabat yang menangani hajat muslim, maka sungguh ia telah memberikan jalan bagi dzimmi untuk menguasai muslim. (Lihat Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i, Tahrirul Ahkam fi Tadbiri Ahlil Islam, Daruts Tsaqafah, Qatar, 1988).

Sementara ulama lain yang membolehkan pengangkatan non muslim untuk jabatan publik tertentu antara lain Al-Mawardi yang juga bermadzhab Syafi’i. Ulama yang wafat pada pertengahan abad 5 H ini memberikan tafshil, rincian terhadap jabatan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Posisi pejabat ini (tanfidz/eksekutif) boleh diisi oleh dzimmi (non muslim yang siap hidup bersama muslim). Namun untuk posisi pejabat tafwidh (pejabat dengan otoritas regulasi, legislasi, yudikasi, dan otoritas lainnya), tidak boleh diisi oleh kalangan mereka. (Lihat Al-Mawardi, Al-Ahkamus Sulthoniyah wal Wilayatud Diniyah, Darul Fikr, Beirut, Cetakan 1, 1960, halaman 27).

Al-Mawardi dalam Al-Ahkamus Sulthoniyah menguraikan lebih rinci. Menurutnya, kekuasaan dibagi setidaknya menjadi dua, tafwidh dan tanfidz. Kuasa tafwidh memiliki cakupan kerja penanganan hukum dan analisa pelbagai kezaliman, menggerakkan tentara dan mengatur strategi perang, mengatur anggaran, regulasi, dan legislasi. Untuk pejabat tafwidh, Al-Mawardi mensyaratkan Islam, pemahaman akan hukum agama, merdeka.

Sementara kuasa tanfidz (eksekutif) mencakup pelaksanaan dari peraturan yang telah dibuat dan dikonsep oleh pejabat tafwidh. Tidak ada syarat Islam, alim dalam urusan agama, dan merdeka.

Menurut hemat kami, memilih pajabat eksekutif seperti gubernur, walikota, bupati, camat, lurah, atau ketua RW dan RT dari kalangan non muslim dalam konteks Indonesia dimungkinkan. Pasalnya, pejabat tanfidz itu hanya bersifat pelaksana dari UUD 1945 dan UU turunannya. Dalam konteks Indonesia pemimpin non muslim tidak bisa membuat kebijakan semaunya, dalam arti mendukung kekufurannya. Karena ia harus tunduk pada UUD dan UU turunan lainnya. Pemimpin non muslim, juga tidak memiliki kuasa penuh. Kekuasaan di Indonesia sudah dibagi pada legislatif dan yudikatif di luar eksekutif. Sehingga kinerja pemimpin tetap terpantau dan tetap berada di jalur konstitusi yang sudah disepakati wakil rakyat. Mereka seolah hanya sebagai jembatan antara rakyat dan konstitusi.

Kecuali itu, sebelum menjadi pemimpin, mereka telah melewati mekanisme pemilihan calon, penyaringan ketat dan verifikasi KPU. Mereka juga sebelum dilantik diambil sumpah jabatan. Jadi dalam hal ini kami lebih cenderung sepakat dengan pendapat Al-Mawardi yang membolehkan non muslim menduduki posisi eksekutif. Di sinilah letak kearifan hukum Islam.

Sedangkan ayat pengharaman memilih pemimpin non muslim sering beredar menjelang pemilihan. Sebut saja ayat berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hai orang-orang beriman, janganlah jadikan orang-orang yang membuat agamamu sebagai olok-olok dan mainan baik dari kalangan ahli kitab sebelum kamu maupun orang kafir sebagai wali. Bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang yang beriman.”

Apakah kata “wali” yang dimaksud itu pemimpin? Penerjemahan “wali” inilah, menentukan jawaban dari yang saudara Abdurrahman pertanyakan. Imam Ala’uddin Al-Khazin menyebutkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?

Maknanya, “Janganlah kamu jadikan orang-orang yang tidak seagama denganmu sebagai wali dan kawan karib.” Allah sendiri menjelaskan alasan larangan untuk bergaul lebih dengan sehingga saling terbuka rahasia dengan mereka dengan ayat “Mereka tidak berhenti menjerumuskanmu dalam mafsadat”. (Lihat Al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut).

Pengertian “wali” di atas ialah teman dekat. Sehingga saking dekatnya, tidak ada lagi rahasia antara keduanya. Ayat ini turun dalam konteks perang. Sehingga sangat berisiko bergaul terlalu dekat dengan ahli kitab dan orang-orang musyrik dalam suasana perang karena ia dapat mengetahui segala taktik perang, pos penjagaan, dapur umum, dan segala strategi dan rencana perang yang dapat membahayakan pertahanan umat Islam. Sementara komunitas-komunitas sosial saat itu berbasis agama.

Karenanya, mencermati ketarangan ulama di atas kita akan menemukan tidak sambung dan tidak tepat kalau ayat ini dijadikan dalil sebagai pengharaman atas pengangkatan calon pemimpin dari kalangan non muslim. Menurut hemat kami, kitab-kitab terjemah Al-Quran yang mengartikan “wali” sebagai pemimpin ada baiknya menelaah kembali tafsir-tafsir Al-Quran.

Saran kami berhati-hatilah memilih pemimpin baik muslim maupun non muslim. Karena mereka ke depan akan mengatur hajat hidup orang banyak. Kita perlu melihat integritas calon dan track record mereka. Kami juga berharap kepada warga untuk tidak mudah terporovokasi oleh isu-isu SARA menjelang pemilihan.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bisa penjelasan kami ditangkap dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia

Lombok Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Persatuan Guru Nahdlatul berkeyakinan mampu mengubah orientasi pendidikan Indonesia yang saat ini berorientasi pekerjaan, menuju pendidikan yang kreatif dan berdaya saing. Bagi Pergunu pendidikan berorientasi pekerjaan hasilnya adalah pekerja-pekerja berkreasi menciptakan lapangan kerja.

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia

“Pendidikan saat saat ini gagal, terjadi dekadensi moral pelajar, turunnya spirit pendidikan karena pengaruh narkoba. Sulit generasi muda yang menghormati lebih tua, belum lagi kekerasan,” kata Wakil Ketua Pimpinan Pusat Pergunu Rudolf Chrysoekamto di sela Rapat Kerja Nasional di Pondok Pesantren NU Al-Mansuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada Sabtu (25/2). ?

Ia tidak memungkiri, secara prestasi, sistem dan orientasi pendidikan yang ada di Indonesia? bisa membuahkan peserta didik yang berprestasi di tingkat internasional. Namun, bagi manusia Indonesia, hal itu saja tidak cukup. Peserta didik harus dibenahi sisi moral dan spiritualnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena untuk membentuk manusia tidak hanya itu, prestasi, keterampilan, tanpa moral dan spiritual, bisa jadi mereka tersandung kasus hukum. Makanya pendidikan harus menyatukan semua aspek, ditambah akhlakul karimah, IQ dan ESQ-nya,” jelas pria kelahiran Jember Jawa Timur itu

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia yakin Pergunu periode kedua dengan Ketua Umum KH Asep Saifuddin Chalim mampu mewujudkan hal itu.

“Sebuah tujuan itu harus yakin di awal, kemudian dibangun sistem mengkonkretkannya. Konket menciptakan sistem yang bertumpu pada kecerdasan diimbangi mulianya moral,” lanjutnya. ?

Lebih lanjut ia mengatakan, pendidikan memang diatur negara, termasuk kurikulumnya. Namun, untuk mengubah orientasi pendidikan, Pergunu bisa bisa berimprovisasi dalam menerapkannya. Jadi, kuncinya guru yang keatif.

Untuk meningkatkan guru yang kreatif, Pergunu telah melakukan upaya langsung dengan menguliahkan ratusan guru lulsan sekolah menengah. Kemudian meningkatkan kualitas ratusan guru S1 ke jenjang S2, dan puluhan guru yang S2 ke S3.? ?

“Pendidikan itu memang tanggung jawa negara, tapi masyarakat juga bertanggung jawab. Sekolah itu satuan pendidikan. Sekolah bisa berinovasi dari kurikulum yang ada. Dan itu sah dan dimungkinkan,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya,setelah ada sistem pendidikan yang berhasil, seperti Pesantren Amanatul Ummah, bisa ditiru lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU di daerah-daerah. Dengan demikian mengubah orietasi pendidikan Indonesia bukan hal yang tidak mungkin. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Khutbah, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 22 November 2017

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak warga NU untuk menengok dan mengingat kembali sejarah awal dibentuknya NU sesuai yang tertera dalam Anggaran Dasar Aggaran Rumah Tangga AD/ART NU.

Menurutnya, NU satu kesatun dengan bangsa Indonesia, dan tak terpisahkan. “NU didirikan itu salah satu tujuannya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin demi terwujudnya bangsa Indonesia. Mari kita lihat AD/RT NU, maka dari itu, NU tidak bisa pisah dari bangsa Indonesia,” katanya di hadapan ribuan Muslimat NU di alun-alun Masjid Agung Demak pada Ahad (2 /4) pada puncak Harlah NU ke 91, Harlah Muslimat NU ke 71 dan Hari Jadi Demak ke 514.

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib ‘Aam: NU Tidak Bisa Pisah dari Indonesia

Gus Yahya begitu dia akrab dipanggil, menegaskan, selaku salah satu elemen pendiri bangsa Indonesia, NU secara otomatis ? mempunyai ? kewajiban menjaga bangsanya dari orang maupun kelompok pengacau, pengganggu, merongrong kewibawaan bangsa serta mengganggu keutuhan Negara Kesatua Republilk Indonesia.

“Setiap pengacau yang mengganggu Indonesia, maka akan berhadapan dengan NU. Bagi NU, NKRI harga mati yang tak hisadi tawar lagi,” tegasnya.

Ketua Muslimat NU Demak Hj Utami Musadad mengatakan,kegiatan tersebut dimuli dengan bacaan Al-Qur’an bil ghoib (hafalan) sebanyak 500 kali, membaca Al-Qur’an bi nadhor sbanyak 500 kali, manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 400 kali, istighotsah, maulidurrasul serta pengajian,

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan khidmat, khataman Al-Qur’an baik bil ghoib maupun bi nadhor, manaqib semua khatam,” tutur Hj Utami Sadad.

Puncak acara harlah, selain dihadiri warga Muslimat, juga dihadiri Bupati Demak H M Natsir, Waub Joko Sutanto, ketua DPRD H Nurul Muttaqin, Kapolres, Dandim, Kajari, Kepala Pengadilan Negeri Demak Wakil ketua PW Muslimat Jateng yang ? juga anggota FKB DPRD Jateng Hj Ida Nurs Sa’adah, Katib ‘Aam Jatman KH Zaini Mawardi, pengurus NU dari Cabang sampai Ranting. (A.Shiddiq Sugirto/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Amalan, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 13 November 2017

15 MI Ma’arif NU Ikuti Porsema Cilongok

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebanyak 15 Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Kecamatan Cilongok ikuti Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan di komplek MI Ma’arif NU 1 Pageraji Kecamatan Cilongok, Sabtu, (18/2).

15 MI Ma’arif NU Ikuti Porsema Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)
15 MI Ma’arif NU Ikuti Porsema Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)

15 MI Ma’arif NU Ikuti Porsema Cilongok

Kegiatan ini di buka oleh ketua Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Cilongok, Arif Mufti. Dalam sambutannya dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak penyelenggara, baik panitia maupun tuan rumah, MI Ma’arif NU 1 Pageraji.

“Apresiasi luar biasa terhadap semua pihak yang telah mensukseskan acara ini, yang kami harapkan adalah setiap peserta mempunyai jiwa yang sportif dan menghargai setiap lawan,” kata dia.

Dia juga berpesan kepada setiap guru olahraga di madrasah masing-masing agarmembimbing anak didiknya agar bermain dengan baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Panitian, Mustolih dalam sambutannya menyampaikan maksud dari kegiatan tersebut. Yaitu sebagai wadah penyalur minat dan bakat, pengetahuan dan keterampilan siswa dalam membentuk kegiatan yang menyenangkan. Selain itu kegiatan ini bersifat mandiri, menjadi ajang silaturrahmi, dan menunjang sportivitas serta memberi nilai manfaat bagi siswa maupun lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU.

Mustolih juga menyampaikan tentang tujuan dari kegiatan tersebut. “Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT, memantapkan semangat persatuan dan jalinan ukhuwah diantara siswa dan lembaga pendidikan, serta menguatkan motivasi siswa untuk berprestasi,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia juga menyampaikan target dari kegiatan ini yaitu menjaring potensi pelajar yang berbakat dan berprestasi, mendorong terbentuknya generasi yang unggul dan kompetitif, dan tersiapkannya delegasi yang tangguh dalam ajang Porsema dijenjang selanjutnya.

“Adapun jenis-jenis lomba yang diperebutkan antara lain kaligrafi, puisi religi putra dan putri, dan tenis meja beregu,” pungkasnya mengahiri sambutan pembukaan kegiatan.

Keluar sebagai juara tenis meja beregu putra adalah ? MI Ma’arif NU 1 Cilongok, MI Ma’arif NU 1 Sokawera sebagai juara 2, MI Ma’arif NU 1 Sudimara juara 3, dan MI Ma’arif NU 1 Langgongsari sebagai juara harapan 1. Adapun kategori tenis meja putri adalahMI Ma’arif NU 1 Langgongsari sebagai juara 1, disusul MI Ma’arif NU 1 Cilongok sebagai juara 2, MI Ma’arif NU 1 Panusupan sebagai juara 3, dan MI Ma’arif NU 1 Sudimara sebagai harapan 1.

Untuk lomba kaligrafi yaitu MI Ma’arif NU 1 Pageraji sebagai juara 1, MI Ma’arif NU 1 Cilongok sebagai juara 2, dan MI Ma’arif NU 1 Cipete sebagai juara 3 serta MI Ma’arif NU 1 Sudimara.?

Adapun kejuaraan puisi religi putra, MI Ma’arif NU 1 Pageraji sebagai juara 1, juara 2 adalah MI Ma’arif NU 1 Cilongok, MI Ma’arif NU 1 Cipete sebagai juara 3, dan MI Ma’arif NU Batuanten sebagai juara harapan 1. Sedangkan kategori putri dimenangkan oleh MI Ma’arif NU 1 Cilongok, ? MI Ma’arif NU 1 Pageraji diperingkat kedua, MI Ma’arif NU 1 Langgongsari diurutan ke 3, serta MI Ma’arif NU 1 Panusupan berada diurutan ke 4.?

Masing-masing pemenang berhak mewakili Kecamatan Cilongok pada ajang yang sama ditingkat Kabupaten Banyumas pada tanggal 23 Februari 2017 di Kecamatan Purwojati. (Fajar Pujianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalin kerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT di Naibonat Kabupaten Kupang.

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

BPTP akan menyalurkan bibit cabai kepada sejumlah Pimpinan Cabang Muslimat NU, antara lain Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Pimpinan Cabang Muslimat Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Malaka.

Pimpinan Wilayah Muslimat NTT dan beberpa pengurus masjid di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang juga bakal menerima penyaluran bibit tersebut.

Ketua PW Muslimat NU NTT Hj Nurni H Amirudin mengatakan, bantuan bibit cabai kepada PC Muslimat dan pengurus masjid merupakan upaya pengembangan ekonomi organisasi dan pemberdayaan ekonomi umat di bidang pertanian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Program 10.000 anakan cabai untuk pemberdayaan ekonomi," katanya di Oelamasi, Kupang.

Penandatanganan nota kesepahaman berlangsung Selasa (23/5). Penandatanganan ini diharapkan berlanjut dengan pengawasaan serta pembinaan tentang teknik budi daya cabai kepada para penerimanya. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Laila Zahrotul Awaliya, salah satu kader Fatayat NU Kecamatan Ajibarang meraih Juara pertama dalam lomba pemilihan putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas? tahun 2017. Lomba ini diadakan untuk memperingati harlah (Hari Lahir) Ke-67 Fatayat NU, Senin (24/4).

Laila Zahrotul Awaliya yang akrab disapa Awal mengaku sangat senang dan bahagia bisa menjadi juara pertama dalam lomba tersebut. "Ini adalah kado terindah yang saya berikan buat Fatayat NU Ajibarang," katanya ketika diwawancarai.

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Fatayat NU Ajibarang Raih Juara 1 Putri Fatayat NU Banyumas

Ia mengatakan, juara ini bukan untuk dirinya melainkan dia persembahkan untuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Ajibarang dan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Desa Lesmana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tentunya saya tidak berjuang sendirian, di situ banyak sahabat-Fatayat yang selalu mendukung saya sehingga bisa menjadi juara," jelasnya.

Sebagai juara pertama Awal mendapatkan piala dan uang tunai sebesar Rp 750.000,00 serta berhak memakai mahkota putri Fatayat NU Kabupaten Banyumas 2017. "Uang tersebut nantinya akan saya berikan untuk kas Fatayat," lanjut Awal.

Ahmad Soim, Suami Laila Zahrotul Awaliya mengaku sangat bangga dengan kiprah gerakan istrinya di Fatayat sertra prestasi yang diraih istrinya tersebut. (Kifayatul Ahyar/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 02 November 2017

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Tengah H Sulatin mengatakan para pesilat yang tergabung dalam Pagar Nusa  selalu siap menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

Prinsipnya, kata dia pada saat membuka Kejuaraan Daerah III Pagar Nusa se-Jateng dan DIY, di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng Semarang, Rabu, (1/1/2015) sore, membela negara adalah kewajiban dan merupakan bagian dari iman. Bagi Pagar Nusa, NKRI adalah harga mati. Dan Pancasila harus selalu jaya.

 

Sulatin menyatakan, mencintai tanah air adalah ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Terlebih NU adalah pendiri negara Indonesia, tentu akan selalu menjaga agar negeri ini selamat dunia akhirat. Tidak akan dibiarkan ada pihak manapun merongrong republik yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh para syuhada yang terdiri para ulama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jiwa NU adalah jiwa Indonesia. Pagar Nusa adalah Pagarnya NU dan Bangsa," tutur Sulatin menjelaskan singkatan nama perguruan pencak silat yang dipimpinnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam pembukaan tersebut Sekretaris PWNU Jateng Dr  M Arja Imroni, Anggota DPD RI Sulistyo, sejumla pejabat tingkat Jateng, dan para pendekar dan pengurus Pagar Nusa se-Jateng dan DIY.

 

450 Peserta

Ketua Panitia Kejurda III Pagar Nusa Jateng M Ghufron menyampaikan, kejuaraan yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah PSNU Pagar Nusa ke-29 ini berlangsung selama empat hari, sejak Kamis hingga Ahad (1-4/1).

Sebanyak 450 peserta dari 25 kabupaten/kota se-Jateng dan DIY beserta officialnya, bertanding memperebutkan piala umum dan piala per kategori kelas. Dari jumlah itu, 265 diantaranya adalah atlit laga.

Dijelaskan Ghufron, pertandingan terdiri atas laga per orangan putra dan putri, penampilan wirasangga,  serta peragaan jurus wiraloka beregu.  Laga perorangan dibagi dalam kategori pra remaja (usia 12-14 tahun), remaja (usia 14-17), dan dewasa (usia 17-35).

            

Ratusan penonton dari santri ponpes Azzuhri dan warga masyarakat sekitar Ketileng tumpah ruang menonton acara pembukaannya yang meriah.  Aneka atraksi seni Pencak Silat yang diiringi musik menghibur para penonton di ajang tersebut.  [Mohammad Ichwan/Abdullah Alawi]

            

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Hadits, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 09 September 2017

Jelang Pilkada, IKA-PMII Doakan Keselamatan Brebes

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah turut mendoakan keamanan dan keselamatan masyarakat melalui dzikir Asmaul Husna di Pondok Pesantren Assalafiyah II Saditan Brebes, Sabtu malam (30/4).?

Meski memilih netral dalam Pilkada Brebes mendatang, namun mereka berharap pesta demokrasi itu berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa? kebaikan bagi masyarakat.

Jelang Pilkada, IKA-PMII Doakan Keselamatan Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilkada, IKA-PMII Doakan Keselamatan Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilkada, IKA-PMII Doakan Keselamatan Brebes

Dzikir Mujahadah ini dipimpin langsung kreator Nadhaman Asmaul Husna, KH Amjad Al-Hafidz dari Semarang. Sebelumnya, Amjad mengupas kemuliaan nama dan sifat Tuhan dalam Asmaul Husna itu. Di dalamnya juga mengandung banyak fadilah dan khasiat sebagai bentuk hadiah dari Allah SWT. Di antaranya, keselamatan, pembangunan, hingga kenikmatan surga.

Ketua IKA-PMII Kabupaten Brebes, Nasirul Umam ST mengatakan, disamping untuk menjalin silaturrahim khususnya para alumni PMII di Kabupaten Brebes, kegiatan tersebut sebagai ikhtiar untuk melesatarikan tradisi dzikir kepada masyarakat. Dzikir akan tetap relevan untuk menyeimbangkan agar tidak terjadi disharmonisasi kemanusiaan kita.?

"Silaturrahmi dengan sahabat-sahabat alumni meski tidak semuanya bisa hadir karena berbagai keperluan yang ada, hasil pendataan kami sudah lakukan di seluruh kecamatan jumlah IKA PMII Kabupaten Brebes lebih dari seribuan orang, " ucap Wakil Ketua DPRD Brebes ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait dengan Pilkada Brebes 2017, pihaknya menyatakan secara lembaga, IKA-PMII netral untuk berpolitik praktis, dan tidak memihak atau mendukung kepada siapapun. Namun, pihaknya juga berharap agar pesta demokrasi itu tetap mampu menghasilkan apa yang diharapkan masyarakat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Mujahadah Asmaul Husna ini merupakan salah satu ikhtiar kami agar bisa bermanfaat besar, termasuk Pilkada bisa berjalan baik, damai dan menghasilkan apa yang menjadi harapan masyarakat. Kami netral namun siap berkontribusi demi konsep kerakyatan dan? kesejahteraan masyarakat. (wasdiun/abdullah alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 07 September 2017

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu

Indramayu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 



Akademisi sufi internasional dari Fakultas Syariah Universitas Al-Qurawiyin Maroko, tiga minggu melakukan safari dakwah di sejumlah pondok pesantren dan universitas di Indonesia. Puncak safari tersebut menggelar "Diskusi Kebangsaan" di Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat, Jumat (18/7).

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Jelaskan Akibat Memahami Islam dengan Nafsu

Pada kesempatan itu, Presiden Akademi Sufi Internasional Syekh Dr Aziz al-Kubaity mengatakan, ilmu pengetahuan tanpa dibarengi dengan pemahaman tasswuf yang benar, akan bisa melahirkan radikalisme atau terorisme atas nama Islam.`

Maraknya perseteruan atas nama agama, lanjut Syekh Aziz, akibat memamahi agama Islam dengan hawa nafsu, tanpa disertai dengan tazkiyah atau penjernihan hati sebagai salah satu inti ajaran tasawuf. Akibatnya sering menyalahkan sesama Muslim dan mengklaim diri dan golongannya yang paling benar.

Dalam sejarah-sejarah Islam di dunia mencatat, para sufi dengan ajaran tasawufnya, mengedepankan etika bukan hanya dalam beragama, tapi juga dalam berbangsa dan bernegara, bahkan sejak ratusan abad silam, di negara mana pun. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Setiap ada konflik, para ulama tasawuflah yang berperan menggagas perdamaian konflik atas nama agama, karena ajaran tasawuf adalam mengedepankan kedamaian semesta, dengan mencampakkan kekerasan baik personal maupun golongan," ujar pria yang meraih dua doktor dari Universitas Oxford dan Universitas di Maroko itu.

 

Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh masyarakat, kiai, dan pejabat. Serta para santri yang mengaunkan salawat saat menyambut kedatangan rombongan ulama Maroko tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Syeikh Aziz al-Kubaety sendiri, setiap tiga tahun sekali, menggelar Konferensi Sufi Internasional dengan peserta delegasi dari puluhan negara Islam. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Khutbah, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 September 2017

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap tahun, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama menggelar sidang itsbat dalam menentukan 1 Syawal. Namun demikian, dalam satu tahun belakangan, pemerintah melakukan sidang itsbat secara tertutup setelah 11 tahun digelar secara terbuka. Hal ini sangat disayangkan oleh PBNU karena sidang itsbat terbuka mempunyai manfaat besar bagi umat.

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

“Kita menyayangkan sekali dalam satu tahun ini sidang itsbat diadakan secara tertutup. Padahal manfaat sidang itsbat yang disiarkan langsung secara terbuka manfaatnya besar sekali, kami mengimbau kembali dilakukan secara terbuka,” ujar Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghozali Masroeri dalam konferensi pers penentuan 1 Syawal 1436 H, Kamis (2/7) di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.?

Kiai Ghozali Masroeri menerangkan, paling tidak ada lima manfaat sidang itsbat terbuka, yaitu pertama, manfaat syiar di tengah hiruk-pikuknya informasi negatif di tengah masyarakat. Kedua, lanjutnya, silaturrhim antar ormas, baik secara siaran langsung melalui televisi atau saat sidang itsbat itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ketiga, dengan sidang itsbat terbuka merupakan media pencerdasan umat. Jadi tak hanya pencerdasan di bidang Iptek tetapi juga pencerdasan di bidang pemgetahuan dalam menentukan awal bulan kepada umat. Keempat, mudah diakses oleh umat, cepat dan murah dengan catatan tidak bertele-tele,” paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kelima, lanjut Kiai Ghozali, mendorong adanya sikap percaya masyarakat terhadap metode-metode yang digunakan pemerintah. Artinya, imbuh Kiai sepuh ini, dengan manfaat sidang itsbat terbuka, umat lebih memilih mengikuti pemerintah setelah 11 tahun lalu umat selalu mendasarkan diri pada organisasinya masing-masing.

“Pemerintah jangan terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa perayaan Idul Fitri akan bersamaan. Karena kenyataannya jalan menuju penyatuan masih terlalu jauh,” jelas Kiai Ghozali. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 13 Agustus 2017

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sudah menjadi kebiasaan mayoritas muslim di Indonesia pada momentum Lebaran tidak ketinggalan mengadakan tradisi yang dinamakan Halal bihalal. Acara yang rutin digelar oleh masyarakat di bulan Syawal sejak puluhan tahun silam ini diyakini sebagai tradisi yang selaras dengan ajaran Islam.

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Masyarakat dari generasi ke generasi berupaya melestarikan tradisi Halal bihalal bukan tanpa sebab. Misal yang dijalani oleh keluarga besar keturunan Mbah Mastam dan Mbah Zonah. Pasangan yang wafat puluhan tahun silam itu pernah tinggal di desa Papringan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai 7 anak, kemudian hingga kini beranak pinak sampai melahirkan anak, cucu dan cicit yang jumlahnya sudah ratusan.

Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.

Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.

Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kalau berkumpul seperti ini rasanya senang bukan? Rasanya kita ingin berlama-lama sebab setahun ada yang tidak bertemu," tutur kiai Masykuri di hadapan ratusan anggota keluarga Bani Mastam-Zonah, Jumat (8/7) siang, di salah satu kediaman keluarga di desa Daren, Jepara, Jawa Tengah.

Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.

Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.

"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Khutbah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah