Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Pemberontak Rohingya Sebut 10 Mayat di Kuburan Myanmar Bukan Anggotanya

Yangon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pemberontak Muslim Rohingya mengatakan, 10 orang Rohingya yang ditemukan di kuburan massal di Rakhine State pada akhir bulan lalu bukan lah bagian dari anggota kelompok mereka, namun warga sipil yang tak berdosa seperti dikutip Reuters, Sabtu (13/1).

"Kami (ARSA) dengan ini menyatakan bahwa 10 warga sipil Rohingya yang tidak berdosa yang ditemukan di kuburan massal di Tragedi Desa Inn Din bukanlah ARSA maupun asosiasi dengan ARSA," kata kelompok tersebut.

Awal pekan ini, militer Myanmar mengatakan bahwa tentaranya telah membunuh 10 Muslim teroris yang tertangkap selama serangan gerilya pada awal September lalu, setelah penduduk desa Buddha memaksa orang-orang yang ditangkap tersebut masuk ke dalam kuburan yang mereka gali. 

Pemberontak Rohingya Sebut 10 Mayat di Kuburan Myanmar Bukan Anggotanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberontak Rohingya Sebut 10 Mayat di Kuburan Myanmar Bukan Anggotanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberontak Rohingya Sebut 10 Mayat di Kuburan Myanmar Bukan Anggotanya

Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) atau kelompok pemberontak Muslim Rohingya menyerang pos keamanan tentara Myanmar mulai Agustus tahun lalu, lalu militer Myanmar melakukan operasi dan serangan besar-besaran terhadap mayoritas Muslim di bagian utara Rakhine. Menyambut itu, ARSA melawan kejahatan perang yang dilakukan tentara teroris Myanmar.

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Pemerintah Myanmar Zaw Htay membela diri dan yakin bahwa yang dibunuh tentara Myanmar adalah teroris Muslim Rohingya. Ia mengatakan, kadang kala teroris dan penduduk desa bersekutu dalam melakukan serangan terhadap militer Myanmar. Bahkan, ia berdalih kesulitan dalam membedakan mana yang teroris dan mana penduduk desa yang tidak bersalah.  

"Kami telah mengatakan bahwa sangat sulit untuk memisahkan siapa teroris dan penduduk desa yang tidak bersalah. Akan ada proses investigasi yang sedang berlangsung apakah mereka anggota ARSA atau tidak," katanya. (Red: Muchlishon Rochmat)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Humor Islam, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 16 Februari 2018

Panitia Daerah Konsolidasikan PCNU Se-Jatim

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Panitia Daerah Muktamar Ke-33 NU menggelar konsolidasi bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur. Panitia dalam kesempatan ini menjelaskan teknis muktamar yang bakal dihelat Agustus mendatang di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Muktamar kali ini merupakan muktamar terumit karena ditempatkan di empat pesantren,” kata Drs H Syaifullah Yusuf di hadapan para rais dan ketua PCNU se-Jatim, Sabtu (14/03), di Gedung PWNU Jawa Timur, Jalan Masjid Al-Akbar Timur Nomor 9, Surabaya. Konsolidasi dilakukan sebelum Grand Launching Muktamar Ke-33 NU.

Panitia Daerah Konsolidasikan PCNU Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Daerah Konsolidasikan PCNU Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Daerah Konsolidasikan PCNU Se-Jatim

Dalam pertemuan itu, Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jatim H Mutawakkil Alallah memberikan arahan kepada panitia daerah bahwa muktamar di Jombang ini sangatlah strategis. Di forum musyawarah tertinggi di NU ini akan ditegaskan dan dirumuskan kembali konsep Islam Nusantara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” diusung dalam muktamar kali ini lantaran melihat kebutuhan akan perdamaian dunia Islam saat ini. Konsep NU inilah yang akan menjadi jawaban bagi dunia internasional. “Maka dari itu, muktamar nantinya akan membahas itu sebagai konsep Islam rahmatal lil alamin,” lanjut Kiai Mutawakkil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mutawakkil juga mengingatkan, kesuksesan muktamar NU menjadi taruhan bagi NU. PWNU Jatim berpesan kepada pengurus cabang untuk mendukung dan menyosialisakan di daerah masing-masing untuk menyambut muktamar NU.

Panda juga menjelaskan asal usul dari dana muktamar. Setiap pesantren mendapatkan dana sebesar 1 miliar. “Dana itu untuk menyiapkan segala perlengkapan muktamar, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dan infastruktur lainnya,” jelas Gus Ipul.

Dana sebesar itu diambilkan dari dana APBD Jawa Timur atas persetujuan Gubenur Jatim dan Ketua DPRD Jatim. Dana muktamar akan dikelola secara profesional dan prosedural. “Penggunaan APBD harus hati-hati, kalau dana konsumsi maka untuk konsumsi, dana transformasi maka harus untuk transformasi, tidak boleh disalahgunakan,” jelas Gus Ipul.

Pra acara muktamar akan dilakukan di setiap daerah di Jatim. Mulai dari Sidoarjo, Pamekasan, Pasuruan, hingga Banyuwangi.

Sementara itu, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, tema Islam Nusantara sudah tepat diusung di muktamar kali ini. Islam Nusantara, kata dia, menyinergikan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal. Dengan pola seperti itu, Islam tidak akan pernah luntur dari muka bumi. “Selama teologi Islam sinergi dengan budaya lokal, Islam tidak akan luntur,” ucapnya.

Guru Besar bidang ilmu tasawuf itu menambahkan, dengan Islam Nusantara, NU mencoba untuk membelokkan kiblat peradaban Islam dari Timur Tengah ke Indonesia. Ia yakin itu bisa tercapai karena model Islam seperti itu lebih membawa kedamaian dari pada wajah Islam di Timur Tengah yang diwarnai perpecahan dan perang. “Mari kita alihkan kiblat peradaban Islam, bukan dari Timur Tengah, tapi dari Indonesia, wa bil-khusus NU,” tandas Said Aqil. (Rofi’i Boenawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 14 Februari 2018

Korupsi di Atas Rp100 Miliar, Hukum Kita Jadi ‘Bego’

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, pemerintah tidak serius dalam penegakan hukum. Menurutnya, hal itu tercermin dalam upaya pemberantasan korupsi yang masih terkesan tebang pilih, terutama pada kasus-kasus korupsi "kecil", sementara koruptor besar nyaris tak tersentuh sama sekali.

"Hukum kita kekuatannya hanya sampai Rp100 miliar saja. Lebih dari itu, hukum kita jadi pelo (gagap) dan bego," kata Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (18/1). Hal itu dikatakannya usai bertemu mantan anggota DPRD Bontang Hamsyah MD yang mengaku menyesal telah mengkorupsi dana APBD Bontang, Kalimantan Timur.

Korupsi di Atas Rp100 Miliar, Hukum Kita Jadi ‘Bego’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Korupsi di Atas Rp100 Miliar, Hukum Kita Jadi ‘Bego’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Korupsi di Atas Rp100 Miliar, Hukum Kita Jadi ‘Bego’

Lebih dari itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur itu mengingatkan pemerintah agar tidak bermain-main dengan pemberantasan penyakit bangsa tersebut. "Saya ketuk hati pemerintah agar jangan bermain-main dalam pemberantasan korupsi. Kalau ditindak, ditindak semua. Kalau tidak, ya, dibina semua," tegasnya.

Selain itu, Hasyim menambahkan, gerakan pemberantasan korupsi juga jangan sampai salah sasaran. Lebih fatal lagi jika pihak yang melaporkan kasus korupsi yang ditangkap, sementara yang melakukan korupsi justru melenggang. Jangan sampai sebuah penegakan hukum menjadi kezaliman yang berbungkus keadilan.

Minta Nasihat

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Hamsyah MD yang didampingi beberapa aktivis Bontang Corruption Watch menemui Hasyim dalam rangka meminta nasihat atas perbuatan yang ia lakukan. Ia mengaku insyaf dan berjanji akan mengembalikan semua uang hasil korupsi, kemudian bertobat kepada Allah dan akan menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib.

Di depan Hasyim, Hamsyah mengaku telah melakukan korupsi sewaktu menjadi anggota DPRD. Korupsi dilakukan tahun 2002, yakni korupsi uang asuransi Bumi Putera yang diambil dari pos keuangan pemda senilai Rp 74.900. Total uang yang dikorupsi 25 anggota DPRD dari jatah asuransi sebesar Rp 2 miliar. Uang tersebut diambil dari pos anggaran peningkatan kesejahteraan karyawan Pemerintah Kota Bontang.

Selain itu, Hamsyah mengaku mendapat dana ‘terima kasih’ Rp50 juta pada 2004. Hamsyah mengaku gelisah sejak melaksanakan ibadah haji pada 2003 lalu. Dia menuturkan, saat melakukan wukuf di Mina, kegelisahan mulai muncul dan terasa sampai saat ini. Ia merasa uang yang telah dimakan bersama keluarga adalah uang haram dan sudah mendarah daging.

Sikapnya kemudian berubah dan memutuskan menemui Hasyim Muzadi dan meminta nasehat mengenai apa yang harus dilakukan. "Saya meski orang PDIP, tetapi jiwa saya NU," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hamsyah tiba di PBNU dengan membawa poster besar bertuliskan "Koruptor Insyaf!!! Saya pelaku korupsi APBD Bontang Rp44,6 miliar. Kenapa KPK tidak tangkap saya? Kenapa KPK mandul? Silakan tangkap saya. Hamsyah MD, mantan anggota PPRD Bontang. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, News, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Selain Kampus, Pesantren dan Masjid Tunggu Kiprah PMII

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bendahara PB PMII Ahmad Ridwan Hasibuan meminta kader-kadernya untuk juga memasuki pesantren, masjid, dan mushola sebagai lapangan pergerakan. Di hadapan pengurus baru PMII Kudus, Ridwan menyatakan bahwa sekarang sudah saatnya PMII kembali ke pesantren, masjid dan kampus.

Selain Kampus, Pesantren dan Masjid Tunggu Kiprah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Kampus, Pesantren dan Masjid Tunggu Kiprah PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Kampus, Pesantren dan Masjid Tunggu Kiprah PMII

Demikian disampaikan Ridwan pada pelantikan PMII Kudus di aula kampus Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Cendekia Utama Kudus, Rabu (11/2) siang.

Menurut Ridwan, kembalinya mahasiswa PMII menuju tiga tempat di atas sangat menolong PMII dan NU mendatang. “Kembalinya kita kepada tiga tempat di atas adalah sebagai bentuk penyelamatan PMII dan penyelamatan NU ke depannya,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menilai, selama ini kader PMII jarang masuk dalam jajaran kepengurusan PBNU. Salah satu sebebanya karena kader PMII tidak memenuhi kriteria sebagai ulama NU. Selain itu, juga keengganan kader PMII secara pribadi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aktivis PMII perlu kembali mendalami intelektualitas keagamaan, di antaranya dengan kembali mengaji di pesantren. Pesantren mahasiswa juga layak diriuhkan kembali. Sementara itu, penguasaan terhadap masjid-masjid pun penting bagi para kader. Jangan sampai kader terlena hingga masjid banyak dikuasai oleh orang dari luar NU.

Ridwan juga berpesan agar PMII harus kembali ke meja perkuliahan dengan penuh kesungguhan. Beragamnya latar belakang konsentrasi keilmuan para kader menjadi peluang besar pula untuk organisasi.

“Jangan sampai semua anggota terlalu konsen membicarakan dunia politik. Kalau semua arahnya ke politik, maka hanya akan pandai di lapangan. Profesionalitas mahasiswa sesuai dengan bidang jurusan juga penting,” paparnya.

Ia pun menyayangkan para mahasiswa yang justru lebih memilih diskusi PMII ketimbang masuk kelas kuliah. Menurutnya, hal ini sama saja dengan menghambat kreatifitas proses keilmuan para kader.

Pelantikan PMII Kudus ini ditutup dengan pertunjukan seni tari Kretek oleh tim teater Gerak 11. Pelantikan yang dihadiri juga oleh perwakilan pelajar di Kudus ini dirangkai dengan seminar regional bertajuk “Indonesia; Menyongsong ASEAN Community 2015 dengan menghadirkan akademisi STAIN Kudus dan praktisi usaha. (Istahiyyah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:

Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial

Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : 2016

Tebal : 204 halaman

Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan.

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sosialisasi empat pilar kebangsaan penting untuk menanamkan paham kebangsaan bagi pelajar sebagai penerus bangsa. Kali ini acara diselenggarakan oleh PP IPNU di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Pusat, Sabtu (29/4).?

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan. (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan. (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Pilar Tanamkan Paham Kebangsaan.

Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid mengatakan PP IPNU berfokus melakukan kaderisasi, dengan melakukan penguatan kader dan penataan kembali organisasi. Sebelumnya, pada rapat pleno PP IPNU menghasilkan beberapa kebijakan, yang segera direalisasikan secepatnya sampai ke seluruh daerah.?

?"Kita ingin pemahaman faham kebangsaan bagi pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, dengan paham empat pilar yang kuat," katanya.

Dia menambahkan, para pelajar harus kuat dalam pemahaman kebhinekaan, di tengah ?dinamika berbangsa dan bernegara. Para pelajar ditekankan memperkuat toleransi sehingga tidak terpengaruh dengan yang ingin memecah belah bangsa.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Paham toleransi dan kebangsaan harus ditumbuhkan sejak pelajar, sehingga tidak terpengaruh dengan ideologi yang radikal," pungkasnya.?

Sementara Anggota DPR RI H. Zainut Tauhid Saadi mengatakan, kader IPNU sebagai generasi penerus bangsa harus memahami empat pular kebangsaan. Pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, harus memiliki jiwa kepemimpinan dan paham kebangsaan yang kuat.?

"Para pelajar sebagai penerus pemimpin bangsa, harus memahami dengan penanaman paham kebangsaan," terangnya.?

Dia menambahkan, Pancasila sebagai dasar negara, UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan. ? ?Pandangan diri kebangsaan bangsa Indonesia penting disosialisasikan terus menerus, terutama menangkal pelajar dari pemahaman radikal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kita akan mensosialisasikan empat pilar terus menerus, ? agar pelajar memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Tangerang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Komandan Kodim 0506 Tangerang Letkol Inf Irhamni Zainal menyampaikan bahwa Banser harus paham tentang proxy war. Ia menjelaskan bahwa proxy war merupakan perang masa kini dimana salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau komponen lainnya untuk berperang melalui aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial dan aspek lainnya.

Hal tersebut pada pembekalan Diklatsar Banser Kabupaten Tangerang di Markas Kodim 0506 Tangerang pada Senin (01/06).

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim: Banser Harus Paham Proxy War (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim: Banser Harus Paham Proxy War

Menurutnya seiring perkembangan teknologi, karakteristik perang mengalami pergeseran. Perang tidak lagi banyak dilakukan secara fisik. Salah satu bentuk perang yang sedang dan masih akan terus berlangsung adalah perang proxy.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Letaknya pada garis khatulistiwa menjadikan Indonesia memiliki iklim yang baik untuk bercocok tanam sepanjang tahun. Indonesia juga kaya akan sumur-sumur minyak, gas, dan simpanan batubara.?

"Indonesia merupakan sumber energi, sumber pangan, dan sumber air bersih yang akan menjadi incaran kepentingan nasional negara-negara asing di masa depan," ucapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk itu ia mengingatkan Banser tentang pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gerakan dan ideologi yang berkembang di masyarakat.

”Kelompok-kelompok tersebut seringkali muncul dan bermetaforfosis dalam berbagai bentuk organisasi masyarakat yang mengusung misi-misi tertentu yang cenderung mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa,” tambahnya.

Sementara Khoirun Huda selaku Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang menyampaikan bahwa kegiatan Diklatsar Banser ini dilakukan secara rutin dalam rangka menyiapkan kader-kader muda NU untuk menjadi benteng ulama dan bangsa. Selain itu kegiatan ini juga momentum memperingati hari lahirnya Pancasila.?

Huda menyampaikan bahwa Pancasila sebagai falsafah dan ideologi dasar negara adalah warisan para pendiri bangsa yang harus dijaga dari gempuran ideologi-ideologi baru.?

“Saat ini banyak kelompok yang mencoba menggugat dan merongrong Pancasila lantas berupaya menggantikanya dengan ideologi yang berbeda, Banser dan Ansor sebagai bagian anak bangsa mempunyai tugas untuk terus mempertahankanya,” tuturnya.

Ketua GP Ansor Banten H Ahmad Imron yang juga hadir pada acara tersebut menambahkan bahwa baginya menjaga NKRI itu sama pentingnya menjaga Islam. Bahkan pada satu titik menjaga NKRI itu bisa jadi lebih penting karena menurutnya kemanan negara itu menjadi prasyarat untuk keamanan beragama.?

Ia mencontohkan betapa orang akan kesulitan menjalankan ibadah ketika negara dalam keadaan kacau atau bahkan perang.?

Kegiatan Diklatsar Banser yang digelar selama 4 hari ? tersebut setidaknya diikuti oleh seratus kader Banser dan rencananya ditutup pada hari Selasa (02/06). Adapun acara penutupan dilaksanakan di Pesantren Darul Archam, Rajeg. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Humor Islam, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO

Menyikapi pelaksanaan Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (KTM WTO) ke-9 di Bali, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berkewajiban mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan Gita Wiryawan untuk tidak menelorkan kesepakatan yang merugikan petani, dalam hal ini terkait agenda pencabutan subsidi pertanian.

PBNU meminta pemerintah untuk mendukung sikap India yang tidak ingin menegoisasikan masalah cadangan pangan demi membela kepentingan nasional, melindungi rakyat untuk mendapatkan harga pangan yang murah.

Bagi rakyat Indonesia, lebih bermanfaat kalau KTM WTO Bali tidak menghasilkan kesepakatan. Gita Wiryawan jangan berbuat naïf untuk mengikuti keinginan negara Barat, padahal mereka bertahun-tahun mempertahankan subsidi untuk petani mereka. Jangan mengorbankan kepentingan rakyat untuk mendapatkan pujian karena mempertahankan kesepakatan internasional.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan 250 juta yang sebagian besar masih mengandalkan sektor pertanian. Persaingan dengan produk pangan impor akan berakibat pada matinya petani Indonesia yang memiliki daya saing lebih rendah. Indonesia bahkan harus tampil sebagai pemimpin yang memperjuangka kepentingan Negara berkembang.

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Pemerintah RI Pertimbangkan Keluar dari Keanggotaan WTO

Terkait keanggotaan Indonesiadi WTO, selama ini WTO lebih menguntungkan negara-negara dengan suprastruktur pertanian, teknologi dan jaringan yang kuat, dan merugikan negara berkembang seperti Indonesia. Karena itu sudah seharusnya pemerintah RI mempertimbangkan keluar dari keanggotaan WTO.

PBNU memandang bahwa dari aspek kepentingan masyarakat, keanggotaan Indonesia di WTO lebih banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Indonesia lebih baik menggunakan pendekatan hubungan bilateral dalam hal perdagangan tanpa harus bergantung dan terikat dengan WTO.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jakarta, 6 Desember 2013

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu kegagalan banyak pihak memahami diskursus Islam NUsantara adalah dengan nyinyir seolah-olah warga NU itu anti segala hal berbau Arab. Maka mereka nyinyir kalau melihat tulisan saya mengutip sejumlah kitab Tafsir berbahasa Arab. "Anti-Arab kok mengutip kitab berbahasa Arab!" kata mereka.

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab

Di pesantren dan madrasah, warga NU biasa belajar bahasa Arab sejak kecil. Tidak mungkin kemudian kami anti dengan bahasa Arab. Banyak santri yang sangat ngelotok memahami grammatika bahasa Arab, bagaimana mungkin kemudian kami dituduh anti-Arab?

Mereka yang menuduh juga menyindir kalau warga NU selesai sholat tidak baca assalamu alaikum ke kanan-kiri karena diganti dengan selamat sore- selamat malam. Atau mereka menyindir kalau warga NU wafat akan dikafankan dengan kain batik, bukan kain kafan putih. Ini tentu tuduhan ngawur yang merefleksikan ketidakpahaman mereka mengenai gagasan Islam NUsantara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Warga NU tahu ilmunya sehingga dalam soal budaya Nusantara mereka mengakomodasinya secara proporsional. Islam NUsantara bukan menabrak Syariat tapi mengisi aplikasi penerapan Syariat dengan mengkomodasi budaya. Dalam bahasa Ushul al-Fiqh ini disebut dengan: al-Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Begitu juga dengan kaidah: al-Maruf urfan ka al-Masyrut Syartan (hal baik yg sudah dikenal secara kebiasaan diterima seperti halnya syarat) atau al-Tsabit bi al-dalalah al-urf ka al-tsabit bi al-dalalah al-nash (yang ditetapkan dengan indikasi dari adat sama statusnya dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash). Dan juga kaidah lainnya: Ma raahu al-muslimun hasanan fa huwa indallah hasan (apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka di sisi Allah pun dianggap baik).

Semua kaidah ini sudah dipelajari bagaimana penerapannya di masyarakat Indonesia oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU). Itu sebabnya NU itu lentur, fleksibel tapi juga lurus. Dalam bahasa lain, NU itu tawazun, tasamuh, tawasuth dan itidal. Kalau cuma lurus saja, belum komplet NU-nya. Kalau cuma lentur saja, juga belum komplet ke-NU-annya.

Mau pakai baju batik atau blankon, sorban dan gamis, atau peci hitam - peci putih, shalat anda sama-sama sah. Islam NUsantara tidak akan menganggap hanya yang pakai batik dan peci hitam serta sarung yang sah shalatnya. Kami juga tidak akan menganggap hanya mereka yang pakai sorban dan gamis saja yang sah shalatnya. Selama shalatnya menutup aurat dan suci dari najis, maka pakaian apapun yang dianggap baik menurut adat setempat bisa dipakai untuk shalat.

Begitu juga ungkapan akhi-ukhti, bagi kami itu sederajat dengan panggilan mas atau mbak. Mau panggil istri anda dengan ummi atau mamah atau ibu atau panggilan mesranya lainnya, silakan saja. Tidak perlu anti-Arab, tapi juga tidak perlu memaksakan orang lain untuk seperti orang Arab. Jangan sampai semua istilah lokal dan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia mau diganti dengan bahasa Arab biar terkesan lebih islami dan kemudian memaksa orang lain untuk mengikuti anda. Ini yang tidak bijak dan kurang proporsional.

Mau makan nasi kabuli silakan. Mau makan jengkol dan pete ya silakan. Islam NUsantara mengakomodasi semuanya. Kami warga NU belajar ilmu keislaman klasik dalam kitab berbahasa Arab tidak berarti kami harus lebih arab dari orang arab. Kami tetap warga Indonesia; bukan orang Arab. Islam di Jawa sama sah dan validnya dengan Islam di Madinah. Jangan kemudian ini dipelintir bahwa tidak perlu kita naik haji ke Arab. Bukan begitu. Zaman sekarang sayangnya banyak pelintiran model Jo**u.

Entahlah, kenapa masalah yang terang benderang seperti ini saja masih banyak pihak yang gagal paham (atau memang sengaja tidak mau paham) dan terus membenturkan Islam NUsantara dengan model penafsiran dan aplikasi Islam lainnya. Atau memang ada pihak yang akan bertepuk tangan melihat kita terus gontok-gontokkan? Naudzubillah min dzalik.

Islam Arab yes.

Islam NUsantara yes.

dan Islam Australia juga yes.

* Penulis adalah khadim warga NU di Australia - New Zealand



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Pendidikan, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM

Ponorogo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ruang tamu Radio Aswaja FM Rabu ? (23/1) ? malam kemarin dipenuhi dengan “Bolo Nyuluh”, sebutan bagi para pengurus Ansor dan anggota Banser Ponorogo. Biasanya mereka sekedar kongkow meramaikan acara “Nyuluh Bareng Ansor”, namun kali ini secara dadakan diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)
“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM

Biasanya pihak radio cukup menyediakan kopi beberapa cangkir saja untuk mereka yang diminum ramai-ramai ala pesantren. Tapi malam itu suasananya lain. Sejak pukul 20.00 WIB beberapa pengurus PC GP Ansor di luar Bidang Infotek dan Kajian Strategis yang mengasuh acara “Nyuluh Bareng Ansor” satu persatu datang dengan menenteng bungkusan plastik berisi “pelangan”, istilah orang Ponorogo untuk menyebut nasi bungkus. Terlihat mereka kikuk dengan suasana radio. Maklum mereka jarang-jarang ikut nimbrung acara di Aswaja FM.

Jamal Mustofa selaku host acara Nyuluh bareng Ansor tetap saja mengawal dialog interaktif yang dikemas dengan bentuk obrolan ala warung kopi dan mengangkat tema sosial budaya khas Ponorogo. Dua ? narasumber tetap, Ahmad Subkhi (Kalibek, Kasatkorcab Banser) dan Muhsin Alwi (salah satu fungsionaris Satkorcab Banser) dengan penuh semangat melayani atensi pendengar setia Radio Aswaja FM. ? Demikian pula beberapa pengurus PC GP Ansor yang ikut nimbrung di dalam studio. Sementara itu, beberapa personil Banser sibuk memindahkan mebeulair ke ruang lain. Setelah itu beberapa lembar tikar digelar memenuhi ruang tamu radio milik resmi PCNU Ponorogo itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekitar pukul 20.30 tiba-tiba ? Idam Mustofa, Pjs Ketua PC GP Ansor mengucapkan salam layaknya mulai menyampaikan sambutan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Terimakasih saya sampaikan kepada para sahabat Pengurus Cabang yang telah datang membawa pelangan. Mohon maaf kepada para bolo nyuluh karena tidak saya kasih tahu jika ? sekarang ini sengaja kita mau kenduri dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semoga kita bisa memanfaatkan momentum ini untuk kembali meneladani semua sifat dan sikap beliau di kehidupan sehari-hari.” Demikian inti sambutan Idam Mustofa.

Syaiful Islam, Koordinator ? Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor kemudian memimpin tahlil. Saat mahalul qiyam, tiba-tiba terdengar kencrengan (nama lain hadrah menurut orang Ponorogo) menyeruak suasana. Banyak yang terhenyak dan kaget, siapa yang menyiapkan kencrengan tadi. Keadaan itu tidak berlangsung lama karena masing-masing kemudian larut dalam alunan shalawat Nabi, Syi’ir Suluk Gus Dur dan lain-lain.

Kehadiran kencrengan ini pun ternyata tanpa sepengetahuan Idam Mustofa. Bukannya menyalahkan, malah pria berkacamata minus ini mendaulat para sahabat yang memainkan kencrengan untuk tergabung dalam group shalawat PC GP Ansor Ponorogo yang memang belum pernah terbentuk sebelumnya.

Alhamdulillah, mungkin beginilah barokahnya maulid Nabi. Kita lama merindukan hadirnya group shalawat PC GP Ansor, koq ini para sahabat tidak diminta malah memproklamirkan diri. Baik, untuk itu saya nyatakan kencrengan ini resmi menjadi group shalawat dengan nama Rijalul Ansor. Allahumma sholli`ala Muhammad…” ucapan Idam Mustofa langsung disambut dengan alunan shalawat dengan berbagai versinya.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Bahtsul Masail, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Maula Abdus Salam Masyisy Al Alami adalah seorang sufi yang hidup pada masa pemerintahan dinasti Muwahiddin. Ia lahir di Kampung Jbel Lalam wilayah Arouss Maroko dekat Tanger pada tahun 1140-1227 Masehi atau setara dengan 559-626 Hijriyah.

Pada ? abad kedua belas sampai abad ketiga belas, ia berhijrah ke Jbel Lalam , sebelah selatan kota Tangier Ibu kota perekonomian Maroko saat ini, di mana ia di makamkan disana sampai sekarang.

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Masyisy adalah bahasa berber yang ? berarti kucing kecil,panggilan ini diberikan oleh ayahnya waktu Ia masih kecil. Ia termasuk seorang Syarif keturunan dari Maula Idris pendiri kerajaan Idrisiyah ? di Fes yang bersambung nasabnya ke Sayyidina Hasan.

Saat masih kecil ,Ia pernah nyantri kepada Guru guru Quran di Kampungnya ,belau telah hafal Alquran pada usia 12 tahun dengan qira’ah sab’ahnya.Lalu belajar fiqih mazhab Maliki di Taza, kapada Sidi Salem dari kabilah Bani Yusuf dan Sidi Ahmed al-Hajj Aqatran Asalani dari kabilah ? Bani Abraj. Dan kemudian ? berguru thoriqot kepada Abu Madyan(Sidi Abu Madyan Shuayb al-Ghawt (w 594/1179), selah seorang guru besar Tarekat Sufi di ? Maroko.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah Nyantri kebeberapa guru ,ia pindah ke Sebta untuk bergabung kebarisan mujahidin untuk berperang ,sembari mengajar Alquran anak anak kecil ? di masjid masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai pada Akhirnya, ia mengabdikan dua puluh tahun terakhir dari hidupnya untuk ibadah dan bertafakur dipuncak ? Jabal al-Alam (Bukit Bendera),dan disinlah Syeh Abul Hassan Shadhili (w. 656/1241) mengaji kepadanya. Syekh Abu Hasan Syadhili ? adalah murid semata wayang dari Syeh Ibnu Masyisy.

Ia memiliki karya berbentuk tulisan yang berupa buku kumpulan refleksi tentang kehidupan beragama dan politik pada masanya ,serta pidato terkenal Nabi Muhammad (Kitab tasilya) yang ditulis ulang dan dikomentari oleh Syeh Ahmad ibn Ajiba (1747-1809),seorang ulama besar Maroko Abad 18. Selain itu, Ia adalah penulis dari sholawat indah dan keramat ? yang sangat terkenal, yaitu Sholawat Masyisyiyah yang sering diwiridkan dipesantren pesantren Nusantara.

Di Maroko ,sholawat ini masih lestari dan sering dibacakan secara berjama’ah di masjid masjid, zawiyah sufiyah sampai seringkali ? terdengar di radio radio kerajaan. Dan ini adalah upaya baik Kerajaan Maroko dalam melestarikan karya ulama’ agar tidak tergerus masa ,sekaligus upaya pengingat masyarakat untuk selalu bersholawat ,dan salam kepada Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wasallam.

Berikut redaksinya:

أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى Ù…ÙŽÙ? Ù’ مِÙ? ْهُ اÙ? ْشَقَّتِ اْلاَسْرَارُ.وَاÙ? ْفَلَقَتِ اْلاَÙ? ْوَارُ. وَفِÙ? ْهِ ارْتَقَتِ الْحَقَائِقُ. وَتَÙ? َزَّلَتْ عُلُوْمُ أدَمَ فَأَعْجَزَ الْخَلاَئِقَ.وَلَهُ تَضَاءَلَتِ الْفُهُوْمُ فَلَمْ Ù? ُدْرِكْهُ مِÙ? َّا سَابِقٌ وَلاَ لاَحِقٌ. فَرِÙ? َاضُ الْمَلَكُوْتِ بِزَهْرِ جَمَالِهِ مُوْÙ? ِقَةٌ. وَحِÙ? َاضُ الْجَبَرُوْتِ بِفَÙ? ْضِ Ø£ÙŽÙ? ْوَارِهِ مُتَدَفِّقَةٌ. وَلاَ Ø´ÙŽÙ? ْئَ إِلاَّ وَهُوَ بِهِ Ù…ÙŽÙ? ُوْطٌ. إِذْ لَوْ لاَ الْوَاسِطَةُ لَذَهَبَ كَمَا قِÙ? ْلَ الْمَوْسُوْطُ. صَلاَةً تَلِÙ? ْقُ بِكَ مِÙ? ْكَ إِلَÙ? ْهِ كَمَا هُوَ أَهْلُهُ. أللَّهُمَّ إِÙ? َّهُ سِرُّكَ الْجَامِعُ الدَّالُّ عَلَÙ? ْكَ. وَحِجَابُكَ اْلاَعْظَمُ الْقَائِمُ بَÙ? Ù’Ù? ÙŽ Ù? َدَÙ? ْكَ. أللَّهُمَّ أَلْحِقْÙ? ِى بِÙ? َسَبِهِ. وَحَقِّقْÙ? ِى بِحَسَبِهِ. وَعَرِّفْÙ? ِى إِÙ? َّاهُ مَعْرِفَةً أَسْلَمُ بِهَا ? مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ الْجَهْلِ. وَأَكْرَعُ بِهَا مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ الْفَضْلِ. وَاحْمِلْÙ? ِى عَلَى سَبِÙ? ْلِهِ إِلَى حَضْرَتِكَ. حَمْلاً مَحْفُوْفًا بِÙ? ُصْرَتِكَ. وَاقْذِفْ بِى عَلَى الْبَاطِلِ فَأَدْمَغَهُ. وَزُجَّ بِى فِÙ? بِحَارِ اْلأَحَدِÙ? َّةِ. وَاÙ? ْشُلْÙ? ِى مِÙ? Ù’ أَوْحَالِ التَّوْحِÙ? ْدِ.وَأَغْرِقْÙ? ِى فِÙ? عَÙ? Ù’Ù? ِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ. حَتَّى لاَ أَرَى وَلاَ أَسْمَعَ وَلاَ أَجِدَ وَلاَ أُحِسَّ إِلاَّ بِهَا. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ الْحِجَابَ اْلاَعْظَمَ Ø­ÙŽÙ? َاةَ رُوْحِÙ? Ù’ وَرُوْحَهُ سِرَّ حَقِÙ? ْقَتِى وَحَقِÙ? ْقَتَهُ جَامِعَ عَوَالِمِى بِتَحْقِÙ? ْقِ الْحَقِّ اْلأَوَّلِ.Ù? َاأَوَّلُ Ù? َاآَخِرُ Ù? َاظَاهِرُ Ù? َابَاطِÙ? ُ,إِسْمَعْ Ù? ِدَائِى بِمَا سَمِعْتَ بِهِ Ù? ِدَاءً عَبْدِكَ زَكَرِÙ? َّا .وَاÙ? ْصُرْÙ? ِى بِكَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ.ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ? ِّدْÙ? ِى بِكَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ. وَاجْمَعْ بَÙ? Ù’Ù? ِى وَبَÙ? Ù’Ù? ÙŽÙƒÙŽ. وَحُلْ بَÙ? Ù’Ù? ِى وَبَÙ? Ù’Ù? ÙŽ غَÙ? ْرِكَ. الله,الله, الله.إِÙ? ÙŽÙ‘ الَّذِÙ? فَرَضَ عَلَÙ? ْكَ الْقُرْءَاÙ? ÙŽ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? َا مِÙ? Ù’ لَدُÙ? ْكَ رَحْمَةً ÙˆÙŽÙ‡ÙŽÙ? ِّءْ Ù„ÙŽÙ? َا مِÙ? Ù’ أَمْرِÙ? َا رَشَدًا.رَبَّÙ? َا آتِÙ? َا فِÙ? الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِÙ? اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. إِÙ? ÙŽÙ‘ الله وَمَلاَئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلَى الÙ? َّبِÙ? ِّ.? Ù? َآأَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا.. Foto: Makam Syekh Abdus Salam Masyisy

Muhammad Nurul Alim

Mahasiswa universitas Imam Nafie ,Tanger Maroko, Bendahara PCINU Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Halaqoh, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Tarim, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Habib Umar bin Hafidz menegaskan, sikap moderat (wasathiyah) adalah karakter inti ajaran Islam yang merepresentasikan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hal ini ia sampaikan dalam acara bedah buku karyanya, al-Wasathiyyah fil Islam (Moderat dalam Perspektif Islam).

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar bin Hafidz: Moderat Karakter Inti Ajaran Islam

Diskusi bedah buku diselenggarakan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman cabang Hadhramaut di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universtitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhramaut, Yaman, Jumat (27/12).

Habib Umar mengutip surat al-Baqarah (143), “Dan demikianlah Kami (Tuhan) jadikan kalian umat yang ‘wasath’ (adil, tengah-tengah, terbaik) agar kalian menjadi saksi (syuhada’) bagi semua manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) juga atas kalian.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam ayat tersebut umat Islam dipuji Tuhan sebagai golongan yang ‘wasath’ karena mereka tak terjerembab dalam dua titik ekstrem. Yang pertama, ekstremitas umat Kristen yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak keras dimensi jasad dalam kehidupan manusia serta pengkultusan terhadap utusan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang kedua adalah ekstremitas umat Yahudi yang melakukan distorsi atas Kitab Suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi. Habib Umar mengajak setiap Muslim untuk tidak berlaku tatharruf (ekstrem) dalam menjalankan ajaran agama.

“Ekstrimisme yang terjadi akhir-akhir ini terjadi karena konsep wasathiyah mulai terkikis,” terang pengasuh perguruan Darul Mushtafa ini di hadapan 500 pelajar.

Karenanya, tutur Habib Umar, sikap moderat harus menjelma di setiap dimensi kehidupan seorang muslim, baik dalam ranah akidah, pemikiran, etika, maupun  interaksi dengan orang lain.

Habib Umar menyebut Wali Songo sebagai contoh ideal yang berhasil menerapkan prinsip moderat dalam kegiatan dakwah menyebarkan Islam di Nusantara. “Dengan sikap moderat yang ditunjukkan Walisongo, Islam dapat diterima dengan baik di Indonesia,” ujar Habib Umar.

Boleh Ucapkan Selamat Natal

Dalam kesempatan itu, Habib Umar bin Hafidz juga menerima pertanyaan dari peserta diskusi soal hukum mengucapkan selamat (tahni’ah) Natal kepada umat Kristiani. Ia menjawab bahwa ucapan tersebut boleh selama tak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam, seperti klaim Isa anak Tuhan dan keikutsertaan dalam kemaksiatan.

Kebolehan ini, tutur Habib Umar, karena memuliakan para utusan Allah, termasuk Nabi Isa, adalah di antara hal yang pasti diakui dalam Islam (min dharuriyyati hadza ad-din).

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Ahgaff Dr Muhammad Abdul Qadir al-Aydrus mengatakan, di tengah radikalisme yang marak dalam kehidupan beragama, makna moderasi perlu diulas kembali.

“Setiap orang mengaku dirinya menempuh jalan yang moderat, sehingga pengertian dari terma wasathiyah sendiri harus diperjelas,” ujar dosen jebolan Universitas Badhdad tersebut saat memberi sambutan.

Usai bedah buku, acara Departemen Pendidikan dan Dakwah PPI Hadhramaut ini juga meluncurkan buku berjudul “Janganlah Berbantah-bantahan yang Menyebabkan Kamu Menjadi Gentar dan Hilang Kekuatanmu”, sebuah terjemah atas karya Habib Umar berjudul “Wa La Tanaza’u Fatafsyalu wa Tadzhaba Riihukum”. (Abdul Muhith/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Humor Islam, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

RSI Siti Hajar Sidoarjo Bekali Orang Tua Deteksi Tumbuh Kembang Anak

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 

Sekitar 102 orang terdiri dari remaja hingga orang tua di Kabupaten Sidoarjo mendapatkan edukasi seputar deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak. Mereka mendapatkan edukasi dari dokter spesialis anak dr. Moersintowarti dan dokter spesialis THT dr. Prijanti, di ruang Darun Naim lantai 3 Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Ahad (20/8).

 

RSI Siti Hajar Sidoarjo Bekali Orang Tua Deteksi Tumbuh Kembang Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Bekali Orang Tua Deteksi Tumbuh Kembang Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Bekali Orang Tua Deteksi Tumbuh Kembang Anak

Sebelum mendapatkan materi seputar deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak, para peserta diajak senam bersama dan diberikan contoh tata cara mencuci tangan yang baik. Dengan antusias, para peserta mengikuti dan menirukan gerakan tersebut.

 

Kepala marketing RSI Siti Hajar Sidoarjo, Riza Ahmadi Tohir mengatakan, seminar kesehatan yang bertajuk deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak ini untuk memberikan pemahaman kepada orang tua bagaimana merawat dan menjaga anaknya. Mengingat, selama ini masih ada orang tua yang belum mengetahui cara melakukan pendampingan kepada anaknya yang masih berusia balita hingga anak memasuki usia sekolah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Menurutnya, narasumber yang dihadirkan sangat profesional dan berkualitas di bidangnya. Disinggung terkait tumbuh kembang anak dan THT, Riza menjelaskan bahwa antara satu dan lainnya saling berkaitan. Karena tumbuh kembang juga berpengaruh dengan THT.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semua dokter yang menjadi narasumber dari RSI Siti Hajar Sidoarjo. Sedangkan pesertanya masyarakat Sidoarjo dan sebagian sudah menjadi pasien dari dokter spesialis. Dengan adanya kegiatan ini kami berharap bisa mengedukasi masyarakat luas sekaligus mempromosikan Rumah Sakit Islam Siti Hajar bahwa saat ini sudah berkembang mulai dari segi pelayanan maupun segi spesialis," kata Riza.

 

Dokter spesialis anak, dr. Moersintowarti, menuturkan, tumbuh kembang anak yakni seorang anak yang ukuran dan kemampuannya bertambah. Untuk mengetahui tumbuh kembang anak yang optimal bisa dilihat dari fisis biologis seperti makanan, imunisasi. Imunisasi merupakan ikhtiar untuk mencegah penyakit. Anak juga perlu bermain dengan baik.

 

"Hal-hal penting dalam deteksi tumbuh kembang anak diantaranya memasang timbangan, mengukur tinggi badan dan lingkar kepala, menghitung umur anak dan lain sebagainya. Menciptakan rasa aman, nyaman, dilindungi, diperhatikan minatnya, keinginan, pendapat dan stimulasi juga sangat penting," ujar dr. Moersintowarti.

Salah satu peserta seminar kesehatan, Vivi Wahyuni (32) warga Kwadengan Sidoarjo mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Pihaknya mengakui bahwa sebelum mengikuti seminar banyak kebiasan yang salah dilakukan kepada anaknya. Seperti melarang anak untuk ini dan itu. Padahal menurut dokter, anak yang melakukan sesuatu hal itu merupakan reaksi dari proses pertumbuhannya dan tidak boleh dilarang, melainkan harus didampingi.

"Sekarang saya sudah tahu bagaimana melakukan pendampingan kepada anak. Ke depan akan saya rubah kebiasaan yang salah. Beberapa waktu lalu saya pernah melarang anak untuk main di luar rumah, karena saya khawatir terjadi apa-apa. Namun setelah mengikuti seminar ini, saya bertambah mengerti," aku ibu tiga anak itu. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Hanya Kentut yang Batalkan Wudhu

Ada empat macam angin yang keluar dari tubuh manusia. Pertama, kentut, angin yang keluar dari jalan belakang (dubur/anus). Kedua, angin yang keluar dari jalan depan (qubul) biasanya berbarengan dengan kencing. Ketiga sendawa, yaitu angin yang berhasil keluar dari mulut karena lepas dari tahanan bawah perut. Dan keempat bersin, yaitu angin ditahan di bagian otak lalu keluar melalui rongga hidung.

Dari keempat macam angin yang keluar dari badan manusia, hanya satu yang dianggap membatalkan wudhu yaitu kentut. Angin kentut yang keluar melalui ruang kotoran dalam perut manusia ini yang menghasilkan bau tidak sedap. Berbeda dengan angin yang keluar dari jalan depan (qubul) meskipun seringkali angin ini berbarengan dengan kencing tetapi angin ini tidak mengandung bau yang menyengat. Bahkan seringkali angin ini keluar begitu saja tanpa seperasaan orangnya.

Adapun angin sendawa yang mengalir melalui jalur lebih bersih terutama tenggorokan tidak terlalu mengandung bau yang menyengat. Begitu juga dengan angin bersin yang hanya bersikulasi dalam ruang yang bersih antara otak dan rongga hidung. Demikianlah syariah hanya menganggap kentut yang membatalkan wudhu, padahal selain angin kentut masih ada tiga angin lagi yang keluar dari badan manusia. Sungguh Maha Suci Allah atas peraturan yang ditetapkan-Nya. Andaikan semua angin yang keluar dari badan membatalkan wudhu pastilah manusia akan terus disibukkan dengan wudhu itu sendiri. Itulah keterangan dalam? Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatihi karangan Ahmad al-Jurjawi al-Hambali (Red. Ulil H)

Hanya Kentut yang Batalkan Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Kentut yang Batalkan Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Kentut yang Batalkan Wudhu

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Tegal, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Menjadi Pengajak yang Bijak

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Pengajak yang Bijak

? ? ? :? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang dua orang bersaudara dari kalangan? Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras: yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran? pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa taala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Cerita tersebut mengungkapkan fakta yang menarik dan beberapa pelajaran bagi kita semua. Ahli ibadah yang sering kita asosiasikan sebagai ahli surga ternyata kasus dalam hadits itu justru sebaliknya. Sementara hamba lain yang terlihat sering melakukan dosa justru mendapat kenikmatan surga.

Mengapa bisa demikian? Karena nasib kehidupan akhirat sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Manusia tak memiliki kewenangan sama sekali untuk memvonis orang atau kelompok lain sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, dilaknat atau dirahmati. Tak ada alat ukur apa pun yang sanggup mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti.

Jika diamati, ahli ibadah dalam kisah hadits di atas terjerumus ke jurang neraka lantaran melakukan sejumlah kesalahan. Pertama, ia lancang mengambil hak Allah dengan menghakimi bahwa saudaranya “tak mendapat ampunan Allah dan tidak akan masuk surga”. Mungkin ia berangkat dari niat baik, yakni hasrat memperbaiki perilaku saudaranya yang sering berbuat dosa. Namun ia ceroboh dengan bersikap selayak Tuhan: menuding orang lain salah sembari memastikan balasan negatif yang bakal diterimanya.

Dalam konteks etika dakwah, si ahli ibadah sedang melakukan perbuatan di luar batas wewenangnya sebagai pengajak. Ia tak hanya menjadi dâ‘i (tukang ajak) tapi sekaligus hâkim (tukang vonis).? Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik, dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (An-Nahl [16]: 125)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Al-Kahfi [18]: 29)

?

Ayat ini tak hanya berpesan tentang keharusan seseorang untuk berdakwah secara arif dan santun melainkan menegaskan pula bahwa tugas seseorang hamba kepada hamba lainnya adalah sebatas mengajak atau menyampaikan. Mengajak tak sama dengan mendesak, mengajak juga bukan melarang atau menyuruh. Mengajak adalah meminta orang lain mengikuti kebaikan atau kebenaran yang kita yakini, dengan cara memotivasi, mempersuasi, sembari menunjukkan alasan-alasan yang meyakinkan. Urusan apakah ajakan itu diikuti atau tidak, kita serahkan kepada Allah subhânahu wa ta‘âlâ (tawakal).

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Kesalahan kedua yang dilakukan ahli ibadah dalam kisah tersebut adalah ia terlena terhadap prestasi ibadah yang ia raih. Hal itu dibuktikan dengan kesibukannya untuk mengawasi dan menilai perilaku orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, sikap macam ini dapat membawa seseorang pada salah satu akhlak tercela bernama tajassus, yakni gemar mencari-cari keburukan orang lain. Apalagi, bila orang yang menjadi sasaran belum tentu benar-benar berbuat salah. Seringkali lataran kesalahmahaman dan perkara teknis, sebuah perbuatan secara sekilas pandang tampak salah padahal tidak. Di sinilah pentingnya tabayun (klarifikasi) dalam ajaran Islam.

Tentu saja memperbanyak ibadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi ujub (bangga diri). Ujub merupakan penyakit hati yang cukup kronis. Ia bersembunyi di balik kelebihan-kelebihan diri kemudian pelan-pelan mengotorinya. Bisa saja seseorang selamat dari perbuatan dosa tapi ia kemudian terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam, yakni ujub. Mesti diingat, menghindari perbuatan dosa memang hal yang amat penting, tapi yang lebih penting lagi bagi seseorang yang terbebas dari dosa adalah menghindari sifat bangga diri. Sebuah maqalah bijak berujar, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Watak buruk dari kelanjutan sifat ujub biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Dakwah berasal dari lafadh da‘â-yad‘û yang secara bahasa semakna dengan an-nidâ’ dan ath-thalab. An-nidâ’ berarti memanggil, menyeru, mengajak; sementara ath-thalab dapat diterjemahkan dengan meminta atau mencari. Istilah dakwah bisa didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru kepada iman kepada Allah dan segenap syariat yang dibawa Rasulullah serta nilai-nilai positif lainnya.

Dakwah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi (‘anil) munkar. Umat Islam diperintah untuk menyebarkan pesan kebaikan (ma’ruf) dan tak boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran.? Hanya saja, dalam praktiknya semua dijalankan dalam koridor yang bijaksana, sehingga usaha amar ma’ruf terealisasi dengan baik dan pencegahan kemungkaran pun tak menimbulkan kemungkaran baru lantaran tidak dijalankan dengan cara-cara yang mungkar.

Karena itu, kita mengenal dalam proses dakwah dua hal, yaitu isi dakwah dan cara dakwah. Terkait isi, dakwah memiliki lingkup yang sangat luas, dari persoalan akidah, ibadah hingga akhlak keseharian seperti ajakan untuk tidak menggunjing dan membuang sampah sembarangan. Dakwah memang bukan monopoli tugas seorang dai, siapa pun bisa menjadi pengajak, namun dakwah menekankan pelakunya memiliki bekal ilmu yang cukup tentang hal-hal yang ingin ia serukan. Hal ini penting agar dakwah tak hanya meyakinkan tapi juga tidak sepotong-sepotong.

Yang tak kalah penting adalah cara. Betapa banyak hal-hal positif di dunia ini gagal menular karena disebarluaskan dengan cara-cara yang keliru. Begitu pula dengan dakwah. Dalam hal ini kita bisa berkaca kepada Rasulullah. Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun beliau sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan? Kunci dari kesuksesan revolusi peradaban itu adalah da‘wah bil hikmah, seruan yang digaungkan dengan cara-cara bijaksana. Akhlak Nabi lebih menonjol ketimbang ceramah-ceramahnya. Beliau tak hanya memerintah tapi juga meneladankan. Rasulullah juga pribadi yang egaliter, memahami psikologi orang lain, menghargai proses, membela orang-orang terzalimi, dan tentu saja berperangai ramah dan welas asih.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah,

Khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian bahwa ada rambu-rambu dakwah yang perlu diingat, yakni jangan membenci dan merendahkan orang lain, apalagi mencaci maki dan memojokkannya. Karena jika hal itu kita lakukan maka keluarlah kita dari motivasi dakwah sesungguhnya. Dakwah berangkat dari niat baik, untuk tujuan yang baik, dan semestinya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Itulah makna sejati dakwah. Bila ada pendakwah gemar menjelek-jelekan orang atau golongan lain, mungkin perlu diingatkan lagi tentang bahasa Arab dasar bahwa dawah artinya mengajak bukan mengejek. Sehingga, dakwah mestinya ramah bukan marah, merangkul bukan memukul.

Yang paling mengerikan tentu saja adalah dakwah dikuasai amarah dan hawa nafsu sehingga menimbulkan pemaksaan dan aksi-aksi kekerasan, hanya kerena menganggap orang lain sebagai musyrik, musuh Allah, dan karenanya harus diperangi. Jika sudah sampai pada level ini, pendakwah tak hanya sudah melenceng jauh dari esensi dakwah, tapi juga pantas menjadi sasaran dakwah itu sendiri. Al-Quran sudah sangat benderang menegaskan bahwa tak ada paksaan dalam agama, dan oleh sebab itu menggunakan pendekatan kekerasan sama dengan mencampakkan pesan ayat suci.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " . ? : ? ? ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : " ? ? "

Dari Hudzaifah radliyallâhu ‘anh, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an sampai terlihat kegembiraannya dan menjadi benteng bagi Islam, kemudian ia mencampakkannya dan membuangnya ke belakang punggung, membawa pedang kepada tetangganya dan menuduhnya syirik.” Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi, siapakah yang lebih pantas disifati syirik, yang menuduh atau yang dituduh?” Rasulullah menjawab: “Yang menuduh.” (HR Ibnu Hibban)

Na’ûdzubillâhi mindzâlik. Semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan buruk baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Tekun dalam beribadah kemudian mengajak sesamanya untuk melakukan hal yang serupa merupakan sesuatu yang dipuji dalam agama. Hanya saja, dakwah atau mengajak memiliki batasan-batasan. Setidaknya ada dua tips yang bisa dipegang agar seseorang tak melampaui batasan tugas sebagai seorang pengajak. Pertama, muhâsabah (introspeksi). Meneliti aib orang yang paling bagus adalah dimulai dari diri sendiri. Muhasabah akan mengantarkan kita pada prioritas perbaikan kualitas diri sendiri, yang secara otomatis akan membawa pengaruh pada perbaikan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ashlih nafsaka yashluh lakan nâs. Perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu.”

Kedua, tawâdlu‘ (rendah hati). Sikap ini tidak sulit tapi memang sangat berat. Rendah hati berbeda dari rendah diri. Tawaduk adalah kemenangan jiwa dari keinginan ego yang senantiasa merasa unggul: merasa paling benar, paling pintar, paling saleh, dan seterusnya—yang ujungnya meremehkan orang lain. Tawaduk membuahkan sikap menghargai orang lain, sabar, dan menghormati proses. Dalam perjalanan dakwah, tawaduk terbukti lebih menyedot banyak simpati dan menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah seruan kebaikan. Fakta ini bisa kita lihat secara jelas dalam perjuangan Nabi dan pendakwah generasi terdahulu yang tercatat sejarah hingga kini. Wallâhu a‘lam bish-shwâb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Mahbib Khoiron

*) Teks khutbah ini pernah diikutsertakan pada Sayembara Khutbah Damai yang digelar PeaceGeneration Indonesia, Gerakan Islam Cinta, Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Bandung, Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia (FSUII), Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), Penerbit Salam Books, dan MasterPeace Writing Labs

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Humor Islam, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 16 Desember 2017

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang (PC) Badan Pengelola I’anah Syahriyah Nahdlatul Ulama (BPSNU) Kraksaan memberikan santunan kepada 52 anak yatim se Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan. Santunan yang diberikan berupa tas dan alat-alat tulis sekolah serta uang sebesar Rp. 50 ribu untuk masing-masing anak yatim.

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

BPSNU Kraksaan Santuni Anak Yatim

BPSNU Cabang Kraksaan terbentuk pada awal tahun 2012 yang lalu. Dalam perjalanan selama setahun, BPSNU telah mampu mengumpulkan dana i’anah syahriyah sebesar Rp 65 juta dari pengurus dan anggota NU Kraksaan. Selama ini, dana tersebut belum pernah dikeluarkan untuk kegiatan apapun.

“BPSNU dibentuk untuk menghimpun dana dari pengurus dan anggota NU yang mempunyai kelebihan harta setiap bulannya. Jumlah dana yang diberikan oleh tiap-tiap pengurus dan anggota NU bervariasi sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing,” ungkap Ketua PC BPSNU Kraksaan Tasrifin kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Senin (4/2).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Tasrifin, santunan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian dari pengurus dan anggota NU untuk berbagi dengan anak yatim agar nantinya bisa termotivasi dalam belajar dan menuntut ilmu di sekolah.

“Mudah-mudahan santunan ini mampu memberikan motivasi dan semangat kepada anak yatim untuk belajar dan sekolah. Paling tidak, kami sebagai pengurus dan anggota NU bisa berbagi kebahagiaan dengan para anak yatim. Ke depan BPSNU juga berencana akan memberikan beasiswa kepada anak NU yang berprestasi,” pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Desember 2017

Anggota Banser Jember Wafat saat Atraksi Obor Sambut Pelantikan

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Shalihun, ? pengurus NU Ranting Sidodadi sekaligus PAC GP Ansor Tempurejo, Jember, wafat saat melakukan ? atraksi obor di alun-alun Ambulu, Senin (30/7) malam. Menurut Wakil Ketua PCNU Jember, HM. Misbahus Salam, yang juga hadir di acara tersebut, Shalihun tiba-tiba muntah-muntah dan ? kemudian jatuh terkulai.?

“Ia langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tak tertolong juga,” ujar Misbahus Salam.

Anggota Banser Jember Wafat saat Atraksi Obor Sambut Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Banser Jember Wafat saat Atraksi Obor Sambut Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Banser Jember Wafat saat Atraksi Obor Sambut Pelantikan

Atraksi obor itu sendiri adalah rangkaian dari pra acara pelantikan MWCNU dan PAC GP Ansor Ambulu. Namun sebelum pelantikan itu dimulai, salah satu pengisi acaranya ? wafat. Berita wafatnya Shalihun pun segera menyebar ke telinga pengurus NU dan viral.?

"Semoga husnul khotimah dan ? kelak berkumpul dengan pendiri NU," tulis Katib Syuriyah PCNU Jember, MN. Harisudin dalam keterangan singkatnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain atraksi obor, praacara lainnya adalah parade drumband dan gandrung shalawatan, yakni pembacaan shalawat nabi yang diiringi ? dengan musik hadrah dipadu dengan bunyi-bunyi musik tradisional gandrung.

Pelantikan itu sendiri tetap berlangsung khidmat. HM. Misbahus Salam yang mewakili PCNU Jember berharap agar pengurus MWCNU dan PAC GP Ansor dapat memaksimalkan perannya dalam pelayanan, pendampingan dan pemberdayaan umat.?

Apapun bentuknya, katanya, NU harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, tentu saja menyebarkan Islam ala Ahlissunnah wal Jamaah. Sekarang gerakan radikal sudah marak, dampingi masyarakat, beri penjelasan apa dan bagaimana ? radikalisme itu.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Supaya masyarakat tidak mudah terjebak propaganda mereka," urainya saat memberikan sambutan sebelum melakukan pelantikan. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Nahdlatul, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 07 Desember 2017

GP Ansor Diminta Bijak Hadapi Pihak yang Musuhi NU

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua GP Ansor Banyumas Akhmad Thonthowi mengajak segenap kader GP Ansor untuk mengerahkan segala tenaga dan pikiran dalam menangkal paham-paham radikal yang dapat menyesatkan umat. Namun dalam mengupayakannya, pemuda NU tetap harus menggunakan cara-cara yang santun dan konstitusional.

“Saya minta GP Ansor dalam menjalankan tugasnya harus sesuai dengan aturan yang ada. Setiap tindakan yang dilakukan harus terdokumentasi dengan baik dan benar serta serta harus bijak dalam menghadapi orang atau kelompok yang memusuhi NU," kata Akhmad pada pelantikan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Cilongok di pendapa Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Ahad (1/5).

GP Ansor Diminta Bijak Hadapi Pihak yang Musuhi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Diminta Bijak Hadapi Pihak yang Musuhi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Diminta Bijak Hadapi Pihak yang Musuhi NU

Pelantikan dibarengi dengan peringatan Hari Lahir Ke-93 NU. Hadir pada peringatan ini

Muspika Kecamatan Cilongok, pengurus harian MWCNU, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, tokoh agama, tokoh masyarakat, kiai sepuh dan ribuan warga NU Cilongok yang memadati kawasan pendapa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Akhmad Thonthowi juga berpesan bahwa GP Ansor mempunyai tanggung jawab merevitalisasi amaliah dan tradisi NU, kemudian harus bermanfaat untuk masyarakat umum dan harus mampu memperkuat ekonomi kerakyatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pengurus Ansor harus mampu menjalankan visi GP Ansor, yakni revitalisasi nilai dan tradisi, penguatan sistem kaderisasi, pemberdayaan potensi kader, dan kemandirian organisasi," katanya.

Sementara Ketua GP Ansor Cilongok Mustangin melaporkan bahwa saat ini di Kecamatan Cilongok terdapat 16 Pimpinan Ranting GP Ansor NU yang aktif. Semuanya dalam keadaan baik serta dapat menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan AD/ART yang ada.

"Secepatnya kami akan melakukan konsolidasi dengan ranting-ranting, dan juga berkoordinasi dengan GP Ansor Banyumas. Semoga amanah yang diberikan kepada kami dapat terlaksana dengan baik dan benar," katanya.

Mustangin bertekad, pihaknya akan menghidupkan lagi ranting-ranting yang tidak aktif, agar dapat berjuang kembali mensyiarkan Aswaja di Wilayah Cilongok dan sekitarnya.

"Saat ini ada 5 ranting yang masa khidmatnya sudah berakhir dan tidak aktif lagi, dalam waktu dekat akan kami bentuk lagi, sehingga harapan kami akan ada 21 ranting yang aktif," katanya. (Sudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Humor Islam, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 November 2017

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Catatan Kenangan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Humor Islam, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah