Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Pramuka Penggalang se-Surabaya Selenggarakan Jelajah Santri

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penggalang Gugus Depan (Gudep) 779-800 Satuan Komunitas Maarif (Sakoma) Nahdlatul Ulama SMK Bahrul Ulum Surabaya akan menyelenggarakan kegiatan jelajah santri. Disamping sebagai ajang mengasah kemampuan dalam kepanduan, kegiatan yang akan mempertemukan para aktifis pramuka se-Surabaya dan sekitarnya ini menjadi media bagi pengenalan keberadaan Sakoma kepada khalayak.

Pramuka Penggalang se-Surabaya Selenggarakan Jelajah Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Penggalang se-Surabaya Selenggarakan Jelajah Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Penggalang se-Surabaya Selenggarakan Jelajah Santri

Ketua panitia, Umar Faruq menandaskan "Masa depan yang dihadapi peserta didik semakin sulit dan kompleks. Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Nabi Muhammad, yang mengharuskan untuk mengajari anak-anak dengan pengetahuan karena mereka akan hidup pada masa yang tidak sama dengan jaman saat kita hidup," katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah (23/10). Membekali peserta didik dengan life skill adalah salah satu sarana agar mereka tetap bisa bertahan dalam menghadapi segala cuaca dan kondisi maupun perubahan sosial, lanjutnya.

"Dan untuk mereka yang seusia penggalang, maka yang diperlukan adalah kegiatan yang memberikan life skill sebagai manusia unggul dan tangguh dalam menghadapi segala tantangan kehidupan di masa yang akan datang," tandas HM Muchith Syarief MM yang juga penanggungjawab kegiatan ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

H Khoirul Anam, S.Ag yang juga sebagai panitia mengharapkan dengan kegiatan ini dapat mengenalkan Gudep Sakoma kepada masyarakat sekitar.  "Kegiatan juga dapat menambah silaturahim antara anggota pramuka," katanya. Demikian juga kegiatan akan dapat mengembangkan potensi yang terdapat pada anggota Pramuka  Penggalang. Termasuk juga menambah wawasan, pengetahuan, peningkatan kualitas, juga memberikan wadah kegiatan yang positif bagi para Pramuka level penggalang. "Yang tidak kalah penting adalah memberikan award atau penghargaan kepada Pramuka Penggalang yang telah berprestasi selama kegiatan berlangsung," katanya.

Kegiatan yang akan diikuti seratus regu atau delapan ratus penggalang Kota Surabaya dan sekitarnya ini diharapkan juga menambah wawasan kepramukaan secara luas bagi segenap orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di dalamnya. "Selain silaturahim bagi angota Pramuka Penggalang di lingkungan Sakoma, juga sebagai ajang adu prestasi dan evauasi sejauh mana keberhasilan latihan dan kegiatan di Gudep masing-masing," tandasnya.  Pada saat yang sama, masyarakat dapat memperoleh hiburan selama kegiatan berlangsung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan dilangsungkan 26 Oktober.  "Dari kegiatan ini akan dievaluasi pimpinan Sakoma dan Gudep sebagai tolok ukur untuk pembinaan lebih lanjut," kata Anam, sapaan akrabnya.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan mendapatkan materi dan pendalaman seperti praktik ibadah, keaswajaan dan ke NU an, Pancasila, pioneering, semaphore, morse, sandi, P3K, pakaian atau seragam, serta halang rintang yakni meniti, merayap, dan jaring laba-laba. Keseluruhan materi disampaikan dalam model upacara,  penjelajahan serta perlombaan.

"Kegiatan penjelajahan penggalang pernah dilaksanakan di gugus depan kami dengan kapasitas lebih kecil. Dengan bantuan simulasi dari kwartir daerah, kami berharap kegiatan semacam ini lebih berkualitas dan berdampak positif bagi perkembangan gugus depan," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 07 Maret 2018

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Hadis Nabi Muhammad yang berbunyi “Ballighu ‘aani walau ayat”. Artinya, sampaikanlah dariku (Nabi Muhammad) walau hanya satu ayat saja, menjadi pedoman bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba dalam berdakwah. Menyeru dan mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam. Tentu mereka menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang mereka kuasai.

Medan dakwah mereka juga berbeda-beda. Ada yang berdakwah di musholla, masjid, majelis taklim, bahkan hingga ada yang berdakwah di televisi, radio ataupun media sosial seperti youtube. Hingga kemudian disematkanlah gelar ustadz atau ustadzah di bahunya. 

Naasnya, tidak sedikit dari mereka yang tidak memiliki latar belakang pengatahuan keislaman yang mendalam. Karena biasanya ada juga selebriti yang banting setir menjadi ustadz atau ustadzah meski baru ‘sedikit’ belajar tentang Islam dan segala disiplin keilmuannya. Ada juga gelar ustadz atau ustadzah tersebut disematkan oleh televisi tertentu –meski tidak terlalu menguasai ilmu-ilmu keislaman tetapi menghibur- untuk mengejar rating. 

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Meski demikian, ada juga yang dakwah di televisi atau media sosial tersebut adalah orang yang benar-benar mendalami dan menekuni Islam karena mereka memang belajar tentang Islam dan disiplin ilmu-ilmu keislaman selama berpuluh-puluh tahun.

Kehadiran ustadz atau ustadzah di televisi atau media sosial tersebut tidak jarang membuat masyarakat heboh karena materi-materi yang mereka sampaikan begitu kontroversial. Seperti kenikmatan surga adalah pesta seks, anjuran untuk tidak menjadi dokter hewan bagi seorang muslim, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia akan bekerja sama dengan Kemenag, Universitas Islam Negeri, Ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya untuk melakukan standarisasi dai. Hal itu dilakukan agar materi dakwah yang disampaikan para dai, ustadz, dan ustadzah tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan kredibel. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah standari dai tersebut itu seperti apa? Apakah semua dai akan distandarisasi? Bagaimana pola dan mekanismenya? Apakah standarisasi sama seperti sertifikasi? Apakah khatib juga akan distandarisasi? dan Kapan standarisasi akan efektif dilaksanakan? 

Jurnalis Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, A Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Ketua Komisi Dakwa KH Cholil Nafis untuk memperjelas hal-hal yang berkaitan dengan ‘standarisasi dai’ ini. Berikut hasil wawancaranya:

Belakang ini, banyak ustadz –baik yang ada di televisi ataupun media sosial- yang mengebohkan masyarakat karena pernyataan yang mereka seperti pesta seks adalah nikmat surga, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lainnya. Bagaimana menanggapi itu?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keberadaan para ustadz yang ada di televisi, radio, ataupun frekuensi-frekuensi publik lainnya seharusnya menjadi perhatian yang serius. Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, standarisasi para ustadz. Baginya, ini harus dilaksanakan agar para ustadz tersebut memiliki kualifikasi yang memadahi karena mereka berbicara di depan ratusan ribu bahkan jutaan penonton.

Kedua, ustadz-ustadz juga perlu koreksi diri atau muhasabah. Mana dalil-dalil yang masih parsial. Mana yang harus dilengkapi dengan dalil yang lain. Sehingga hukum atau ceramah yang disampaikan tidak membuat resah masyarakat. 





Apakah yang dimaksud dengan standarisasi? Apakah standarisasi sama dengan sertifikasi?

Sebenarnya standarisasi berbeda dengan sertifikasi. Kalau sertifikasi, orang baru boleh ceramah kalau mendapatkan sertifikat. Tetapi kalau standarisasi itu lebih kepada kualifikasi seperti orang yang bergelar S1, S2, dan S3. Soal  dipakai atau tidak itu terserah kepada ‘pasar’, orang yang ‘memakainya.’ Pemakainya itu sudah bisa mengukur. Ini membutuhkan dai yang standarnya A. Ini membutuhkan dai yang standarnya B. Kita bisa mengkualifikasikan itu. 

Kita ingin memperbaiki kualitasnya dari pada mengekang siapa yang berhak untuk ceramah dan siapa yang tidak berhak untuk ceramah. Selama ini kita masih bertumpu kepada kekuatan masyarakat. Artinya, masyarakat yang mengundang, masyarakat yang membayar, dan masyarakat yang punya acara. Itu berbeda dengan negara tetangga kita seperti Malaysia atau Brunei. Orang yang menjadi dai itu adalah atas biaya negara.   





Yang distandarisasi apa saja nantinya?

Pertama, kita akan melakukan standar dasar seorang dai yaitu kemampuan orang di bidang agama. Apakah dia sudah layak menyampaikan ilmu itu di publik. Ada standar yang memang untuk hanya mengajar seperti mengajar Iqra, mengajar tajwid, mengajar tafsir. Kita ada standar dasar bahwa orang yang berbicara di publik itu minimal bacaan Al-Qur’annya bagus, mengerti agama dengan baik.

Kalau dia ceramah di televisi, pertama dia harus mengetahui tentang paham-paham keagamaan di Indonesia. Jadi dia tidak nabrak-nabrak ke yang lain. Kedua, mengetahui perbedaan-perbedaan ulama. Jika para ustadz tersebut menguasai sesuatu yang khilafiyah maka mereka bisa memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada umat. 

Ketiga, dia paham hubungan antara agama dan negara termasuk pilihan Pancasila ini sebagai dasar negara sehingga dia tidak menyoroti kesepakatan yang sudah disepakati. Bahwa NKRI adalah sebuah kesepakatan dan kita berkomitmen untuk hidup di dalam bingkai NKRI. Terakhir, dia memahami konteks pembicaraan dan wawasan tentang lingkungan dan masyarakat sehingga apa yang disampaikan bisa menjadi inspirasi.





Berarti semua akan distandarisasi atau hanya yang di media saja?

Kita sedang berkoordinasi dengan pihak terkait. Ke depan, orang yang bicara di televisi atau publik itu harus mendapatkan rekomendasi dari lembaga yang kredibel seperti Kemenag, UIN, MUI, NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Biasanya dengan adanya rekomendasi itu ada pertanggungjawaban terhadap sebuah lembaga. 

Sekarang banyak terjadi kesalahpahaman dan sensasi itu biasanya dari dai yang tidak jelas afiliasi paham keagamannya. Ketika dia tidak afiliasi, dia tidak paham agama, tidak paham pemikiran di Indonesia. Sehingga menyinggung yang lain. Sesuatu yang tidak qath’i (pasti) dibikin qath’i. Sesuatu yang tidak muttafaq alaih (semua ulama menyepakati) dibikin muttafaq alaih. Dan menganggap kebenaran tunggal dan meyalahkan yang lain. Padahal itu adalah wilayahnya khilafiyah (perbedaan pada cabang). 





Kalau yang aktif berdakwah di media sosial seperti Youtube bagaimana?

Saya pikir Youtube itu adalah regulasi yang lain. Saya pikir masyarakat bisa menontonnya ketika itu dianggapnya benar. Kalau orang yang melakukan yang macam-macam dan mengarah kepada kriminal, dia akan diproses secara hukum. 

Menurut saya, karena Youtube itu bebas dan semua bisa mengakses dan meng-upload-nya maka hanya orang yang aktif saja yang menggunakannya. Kita mencermati saja, kalau itu melanggar maka kita kasih perlakuan. Di pedoman dakwah itu ada pedoman dai. Kalau ada dai yang membuat kontroversi dan masalah, maka kita akan kasih pembinaan kepada yang bersangkutan.





Ada anggapan bahwa standarisasi itu adalah sebuah pengekangan karena mau berdakwah saja masa harus diatur. Bagaimana itu?

Sekarang adalah zaman kualifikasi dan standarisasi. Jadi bukan melarang, tetapi kalau anda kompeten ya silahkan. Yang dilarang adalah orang yang tidak kompeten tetapi membuka praktik. Dokter saja tidak boleh membuka praktik kalau dia tidak memiliki sertifikat kompetensi. Untuk menjadi konsultan dan manajer saja harus memiliki sertifikat kompetensi. 

Kita menghindari praktik orang yang tidak kompeten. Sebenarnya kita melindungi masyarakat dan umat. Jangan sampai mereka yang berdakwah itu menyampaikan sesuatu yang sesat sehingga nanti malah menyesatkan. Sebenarnya apapun memang harus diatur di dunia kualifikasi seperti sekarang ini. Sekarang harus dipilah. 

Selain kompetensi, kita juga akan menilai konsistensinya. Jangan sampau kita tahu, tetapi perilakunya tidak mencerminkan pengetahuan kita tersebut. Di dalam berdakwah agama juga ada perilaku yang harus dinilai. Perilaku tersebut bisa dilihat dari track record nya. Meskipun dia ustadz dan lulusan S3, tetapi dia sudah pernah melakukan tindak pidana kriminal maka ia harus diberi sanksi untuk menyampaikan kebenaran di depan umum.  

Sebenarnya ini sama dengan pofesional lainnya. Kita arahnya ke sana. Siapa yang profesional nanti kita serahkan kepada ‘pasar’. Nanti mereka akan memilih yang seperti apa. 

Artinya orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi tersebut sudah terjamin kredibilitasnya dalam menyampaikan dakwah di publik?

Orang-orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi itu adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi. Contoh misalnya saya di MUI banyak mendapatkan pertanyaan dari luar negeri terkait dengan ustadz yang akan dikirim ke sana. “Pak, ustadz ini baik atau tidak? Pak, ustadz ini bermasalah apa tidak?” 

Kalau kita tidak memfasilitasi itu, berarti kita tidak melayani umat. Sekarang hanya ustadz yang tidak ada kualifikasinya. Ada artis yang tiba-tiba menjadi ustadz. Yang penting bonek aja ngomong di publik. Dia sudah dipanggil ustadz.





Sampai saat ini proses standarisasi ini sudah sejauh mana?

Secara regulasi dan kebijakan, kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kemenag, KPI, dan Menkominfo untuk membahas tentang regulasi dan ini sedang berlangsung. Bulan depan, kita melakukan konsinyering untuk finalisasi.

Selain itu, kita juga sudah memiliki peta dakwah dan pedoman dakwah. Pedoman dakwah ini yang nantinya akan kita godok sehingga menjadi akademi dakwah. Jadi, nanti kita ada proses pelatihan. Ini bisa dilakukan oleh kita ataupun lembaga tertentu tetapi kita akan mengadakan proses tes terkait tentang standar. Ini masih basic, ini intermediate, ini sudah advance. 

Kalau di tingkatan-tingkatan; ini tingkat lokal, ini tingkat provinsi, ini tingkat nasional, dan ini tingkat internasional. Itu ada kualifikasinya masing-masih. Masa ada yang tidak menguasai bahasa asing sama sekali mau diletakkan di tingkat internasional. Ini kan tidak mungkin. Minimal yang di tingkat internasional harus menguasai satu bahasa, Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Paham pemikiran secara internasional. 





Kapan standarisasi dai ini akan efektif dilaksanakan?

Kalau pelatihannya tahun depan. Tetapi kebijakannya kita sedang buat sejak tahun ini. Minimal awal itu kan ada rekomendasi dulu (dari pihak-pihak terkait seperti Kemenag, MUI, UIN, NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya) bahwa orang ini memiliki kualifikasi sebagai dai. Kita wawancara, kita tes kemampuannya.

Ke depan, kita akan standarisasi seperti uji kemampuan atau kompetensi. Kompetensinya sudah sampai dimana. 

Bagaimana dengan khotib salat Jum’at? Apakah akan distandarisasi juga?

Kalau khotib kan bagian yang sangat spesifik. Kalau itu sudah kita bahas berkali-kali dengan Kementerian Agama untuk dilakukan standarisasi juga. Bahkan kalau bisa mereka bisa diangkat sebagai penyuluh agama. Jadi, penyuluh agama itu berbasis masjid. Sementara ini penyuluh agama yang jumlahnya 60 ribu itu kadang-kadang mereka tidak memiliki binaan khusus. 

Bagaimana kalau itu dimaksimalkan melalui masjid. Jadi orang yang diangkat sebagai penyuluh agama berbasis masjid tersebut adalah orang yang ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah. Termasuk honornya dan pembinaan ummat. Baru setelah itu dilakukan standarisasi. Misalnya bacaan Al-Qur’annya bagus. Kalau berceramah dia harus mengerti tentang tafsir-tafsir Al-Qur’an. Mengerti tentang fikih khilafiyah salat. Fikih-fikih sosial tentang tradisi kemasyarakatan. 

Dengan demikian, aktivitas masjid juga akan ‘dipantau’?

Selama ini, kalau ada masjid yang menggelar pengajian itu bertumpu kepada takmirnya. Siapa yang diundang oleh takmir. Maka dari situ, orang yang diundang harus berdasarkan kualifikasi tadi. Misalnya ustadz ini memiliki kualifikasi untuk mengajar kitab, ustadz ini berceramah. 

Jadi, kalau kita sudah ada kualifikasinya, kita akan mudah memberikan rekomendasi. Bukan hanya kemampuan, tetapi juga konsistensi terhadap ilmu dan imannya. Kalau hanya kualifikasi keilmuan, banyak sekali yang memiliki kualifikasi tersebut. Tetapi sekarang ada kompetensi. Itu didapat dari uji kompetensi dan konsistensi dengan keilmuannya. Seperi dokter. Dia mengerti ilmu kedokteran, tetapi kalau dia tidak konsisten dengan keilmuannya maka akan banyak terjadi mal-praktik.  

Di saat mal-praktik, di saat dia paham tafsir tetapi yang dibawa aliran sesat maka akan membuat kekacauan. Ilmunya banyak, ilmu tafsirnya bagus, tetapi dia membawa ajaran sesat itu akan repot.





Apakah standarisasi ini akan dilakukan berkala untuk mengecek konsistensi para dai? Atau bagaimana?

Iya, kalau kita menjadi asesor itu kan ada uji berkala. Umpamanya, dia melaporkan hasil dakwahnya. Dimana dan apa saja yang disampaikan. Kita bisa cek dari situ. Apakah ada resistensi atau tidak. Kalau dia dikasih standarisasi, tetapi dia tidak pernah dakwah maka bisa jadi ilmu dakwahnya bisa hilang. Misalnya dia setahun tidak pernah khutbah, itu bisa kaku lagi untuk berkhutbah. Itu baru khutbah. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 05 Maret 2018

Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Masud

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ribuan peziarah dari berbagai kota di Jawa Timur baik dari Sidoarjo, Madura, Nganjuk maupun dari daerah luar Sidoarjo saling berdatangan silih berganti memenuhi makam KH Ali Masud atau yang biasa dikenal Mbah Ud di Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (12/11) malam.

Warga Sidoarjo dan sekitarnya meyakini Mbah Ud sebagai salah satu ulama kharismatik, bahkan waliyullah, yang berjasa dalam pengembangan dakwah Islam di daerah setempat. Mbah Ud juga masih memiliki garis keturunan sampai ke Rasulullah.

Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Masud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Masud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Jatim Ziarahi Makam KH Ali Masud

Siti Zakiyah Zamani, salah satu peziarah asal Desa Kalidawir RT 7 RW 2, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo menuturkan, dia bersama suaminya kerap berziarah ke makam Mbah Ud untuk bermunajat kepada Allah SWT. Bahkan, dia juga ikhlas berziarah meski harus membawa anaknya yang masih balita berusia sekitar 5,5 bulan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di makam, Zakiyah bersama suaminya membacakan surat Yasin, shalawat nariyah, tahlil dan amalaliyah lainnya untuk mengharap ridho dari Allah SWT. "Kami ke sini untuk mencari barokah agar hidup atau rumah tangga menjadi tentram, sehingga ketika menghadapi problem rumah tangga tetap diberikan Allah kesabaran," tutur Zakiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Zakiyah mengaku bahwa setiap hari Kamis malam Jumat terutama malam Jumat legi, dirinya bersama suami dan anaknya tidak pernah lepas berziarah ke makam Waliyullah ini. Bahkan, semenjak dirinya mengandung hingga lahir putra pertamanya itu tidak pernah lepas berziarah ke makam para waliyullah.

"Kami tidak hanya sekadar berziarah, melainkan bisa bersilaturahmi sesama sahabat, keluarga dan kerabat yang kebetulan juga berziarah ke makam Mbah Ud untuk menjalin tali ukhuwah Islamiyah. Semoga anak saya ini dijadikan Allah menjadi anak sholeh, dijauhkan dari perbuatan maksiat," doanya penuh harap.

Lebih jauh Zakiyah menjelaskan, nenek suami Zakiyah merupakan teman Mbah Ud. Pada masa hidupnya, mbah Us sering silaturahmi di desa Ketapang, Tanggulangin Sidoarjo.

Sementara itu Ika Hariyati asal Desa Bandung, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk mengatakan, dirinya sengaja datang ke makam Mbah Ud untuk berziarah memohon barokah para wali dan mengharap Ridho dari Allah. Menurutnya, makam Waliyullah di Sidoarjo yang dekat dengan akses jalan raya yaitu di makam Mbah Ud Pagerwojo Buduran Sidoarjo.

"Melalui barokah doa yang saya panjatkan di sini, semoga saya dijadikan Allah manusia baik, mampu meniru tauladan Rasulullah dan para wali, dipertemukan jodoh yang baik, sholeh dan punya kepribadian seperti akhlaknya Rasulullah," harap Ika. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 28 Februari 2018

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ajang Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) akan segera dilaksanakan akhir bulan depan. Sejumlah persiapan telah dilakukan termasuk seleksi peserta yang akan diberangkatkan.

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang sangat serius mempersiapkan kegiatan perkemahan tingkat nasional ini. Seleksi sejumlah peserta dilakukan secara ketat dan dengan disiplin tinggi. 

“Ini agar saat berbaur dengan kontingen lain dari berbagai daerah tidak mengecewakan,” kata Khojin kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah (28/4).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Seleksi ini sebenarnya untuk kali kedua, yang sehari sebelumnya telah dilakukan,” katanya. “Dari proses seleksi, telah dipilih seratus dua puluh peserta,” lanjutnya. Mereka adalah perwakilan dari sejumlah sekolah MA, SMA serta SMK yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Pelaksanaan Perwimanas akan berlangsung 24-29/5 di perkemahan Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung. Tidak kurang empat ribu peserta akan berpartisipasi pada kegiatan ini dari seluruh tanah air.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena sebagai tuan rumah, maka berbagai persiapan telah kami persiapkan menyambut kegiatan ini,” kata Sekretaris PC LP Ma’arif NU Jombang ini. Apalagi pada kegiatan serupa untuk tingkat Jawa Timur, Jombang berhasil menjadi juara umum.

“Prestasi itu sudah seharusnya kami pertahankan untuk tingkat nasional,” katanya optimis. Dan perwakilan yang telah diseleksi dalam dua gelombang tersebut sebagai kontingen pilihan untuk ajang ini. 

“Kita juga berharap kegiatan berjalan sukses dan silaturahim antar aktifis Pramuka di kepengurusan Ma’arif NU juga akan terus terjalin,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 15 Februari 2018

PP Lakpesdam Buka Lowongan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (PP Lakpesdam) NU membuka lowongan untuk menempati beberapa posisi tim pelaksana, yakni (1) Direktur, (2) Manager PSDM, (3) Chapter Desk Officer PNPM Peduli, dan (4) Staff Accounting.

Menurut Sekretaris Tim Seleksi Pelaksana PP Lakpesdam Eko Agus Priyono, surat lamaran dan dokumen lainnya dikirimkan paling lambat 21 Desember 2012, ditujukan kepada Tim Seleksi PP Lakpesdam NU melalui email timseleksi.lakpesdam@yahoo.com.

PP Lakpesdam Buka Lowongan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Lakpesdam Buka Lowongan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Lakpesdam Buka Lowongan

“Bagi para pendaftar yang lolos seleksi administratif akan diundang melalui email atau telp untuk wawancara pada tanggal 27 Desember 2012 di Kantor PP Lakpesdam NU, Jl. Haji Ramli No. 20A, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan,” demikian dalam surat elektronik yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Jum’at (14/12).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Surat lamaran dikirim dengan melampirkan copy ijazah dan transkrip nilai, beserta dokumen pendukunglainnya yang dianggap perlu. Para calon pelamar harus mengisi form CV/Biodata dan membuat surat pernyataan tidak sedang menjadi pengurus partai politik.

Informasi mengenai form CV/Biodata dan berbagai persyaratan khusus dapat berhubungan langsung dengan PP Lakpesdam di nomor (021) 8298855 /8281641/83796120.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

GP Ansor Pati Salurkan Air Bersih di Empat Desa

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus GP Ansor Pati mendatangi sejumlah titik terparah bencana kekeringan di kabupaten Pati, Rabu (28/10). Mereka mendatangkan pasokan air bersih untuk menutupi kekeringan yang melanda sumur-sumur warga. Gerakan sosial yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBINU) Jateng dan Pati ini merupakan bentuk nyata peringatan 87 tahun Sumpah Pemuda.

GP Ansor Pati Salurkan Air Bersih di Empat Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pati Salurkan Air Bersih di Empat Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pati Salurkan Air Bersih di Empat Desa

Kemarau panjang berimbas pada menurunnya pasokan air bersih warga air. Atas dasar Inilah, GP Ansor Pati menginisiasi kegiatan bakti sosial.

“Hari ini, pengiriman bantuan kita fokuskan ke wilayah-wilayah yang paling parah terdampak bencana kekeringan,” kata Ketua GP Ansor Pati Imam Rifa’i saat diwawancari via telpon.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebanyak 10 tangki air bersih didistribusikan di 4 titik lokasi yang mencakup desa Wirun dan Sari Mulyo kecamatan Winong, desa Penanggungan dan Tanjunganom kecamatan Gabus. Di empat desa ini, tak jarang masyarakat harus mengantre di kecamatan untuk sekadar mendapatkan air bersih. Sepuluh tangki air bersih akan dibagi rata dalam penampungan desa yang kemudian dibagi rata kepada warga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebab itu kegiatan semacam ini sangat dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat di tengah bencana kemarau ini,” imbuh Rifai.

Ia mengajak donatur, lembaga pemerintah, ataupun swasta serta perusahaan manapun untuk terlibat bersama GP Ansor ? Pati melakukan bakti sosial. Pasalnya, kebutuhan air bukan hanya sehari.

Rifai menyebutkan kegiatan sosial pemasokan air bersih gelombang kedua akan dilaksanakan pada 5 November nanti dengan jumlah kuantitas bantuan yang lebih banyak. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Kajian Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang

Karawang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejumlah elemen masyarakat di Karawang, Jawa Barat, yang terdiri Gerakan Pemuda Ansor, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI),? dan Kemenag setempat, menggelar deklarasi bersama penolakan ideologi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Kabupaten Karawang, Jumat (8/8) pagi, di Mapolres Karawang.

Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karawang dan diikuti dengan penandatanganan deklarasi oleh perwakilan ormas.

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Sejumlah Ormas, NU Deklarasi Tolak ISIS di Karawang

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Karawang Ade Permana SH menuturkan, ISIS adalah produk luar negeri, warga Indonesia terutama Karawang tak perlu terpengaruh oleh organisasi tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Paham radikalisme ini berbahaya bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Kita tidak perlu ikut-ikutan bergabung dengan ISIS. Kita punya ideologi sendiri yaitu Pancasila, sudah tidak bisa ditawar lagi," tegasnya usai deklarasi.

Dalam menjalankan nilai-nilai keislaman, lanjutnya, Islam rahmatan lil alamin, yang membawa rahmat bagi seluruh alam harus tetap diutamakan. Dia meminta kepada seluruh PAC dan Ranting GP Ansor di seluruh Kabupaten Karawang, untuk mensosialisasikan bahaya ISIS kepada masyarakat. Menurut Ade, jika ditemukan ISIS di tengah masyarakat, mereka pun mesti segera dibina dengan cara yang baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Cegah keburukan dengan cara yang baik jangan dengan cara yang buruk. Islam mengedepankan cara-cara yang santun dan damai dalam menyebarkan ajarannya. Ini yang harus kita pertahankan," ucapnya.

ISIS Sudah Ada di Bekasi

Selain ormas dan organisasi kepemudaan ini, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dandim 0604 Kabupaten Karawang, Wakil Bupati Karawang dan Ketua DPRD Kabupaten Karawang.

"Kami sengaja mengundang bapak-bapak semua, untuk menyamakan persepsi tentang ISIS. Karena ideologi ISIS ini bisa mengancam kesatuan bangsa," kata Kapolres Karawang AKBP Dady Hartadi.

Saat ini, lanjut Dady, ISIS sudah sampai Bekasi. Jika melihat teritorial, maka jarak Bekasi dengan Karawang sudah dekat. Oleh karena itu, dia meminta dukungan dari semua pihak, untuk bersama-sama mencegah ideologi ini masuk ke Karawang. Berbagai upaya akan dilakukannya untuk mencegah ISIS masuk ke Karawang, bahkan dia tak segan-segan bertindak represif jika ada ISIS di Karawang, karena negara sudah melarang keberadaannya.

"Kita akan lakukan langkah preventif, bahkan refresif. Langkah pertama, kita akan lakukan pendeteksian dini, jangan sampai ideologi ini masuk di Karawang. Oleh karena itu, kami perlu dukungan semua pihak,” tuturnya.

“Kalau ada yang mencurigakan, segera laporkan. Penolakan ini jangan hanya dilakukan secara seremonial saja, tapi harus ada langkah nyata sesuai dengan tugasnya masing-masing," paparnya, sambil menegaskan bahwa dalam waktu dekat ini dia memerintahkan seluruh Polsek untuk mengadakan deklarasi penolakan ISIS di wilayahnya masing-masing. (Ahmad Syahid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 29 Januari 2018

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peringatan tahun ketiga wafatnya Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, ulama terkemuka Suriah, berlangsung meriah di Auditorium Universitas Damaskus, Damaskus, Suriah. Para ulama dan petinggi negara setempat hadir memberi hormat Imam Masjid Besar Umayyah Damaskus yang syahid akibat serangan bom bunuh diri ini.

Bagian Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud) KBRI Damaskus kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah melaporkan, acara yang digelar Senin (28/3) tersebut dihadiri sekitar dua ratus orang, termasuk tokoh Suriah seperti Menteri Kebudayaan Suriah Dr Essam Khalil, Dubes RI Damaskus Djoko Harjanto, Dubes Iran, serta para akademisi, ulama, mahasiswa, masyarakat dan para undangan lainnya.

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama dan Pejabat Suriah Peringati Haul Ke-3 Said Ramadhan al-Buthi

Para pembicara dalam acara tersebut adalah Dr Badie Lahham atas nama murid almarhum; Dr Taufik Ramadhan al-Buthi, putra tertua almarhum sekaligus Ketua Persatuan Ulama Syam, mewakili keluarga almarhum; Rektor Universitas Damaskus Dr Muhammad Hasan Kurdi, Menteri Wakaf Suriah Dr Muhammad Abdul Sattar al-Sayyed, dan Menteri Pendidikan Tinggi Suriah Dr M Amer Mardini.

Dalam testimoni mereka memuji Syekh Said Ramadhan al-Buthi sebagai tokoh dengan jasa yang luar biasa kepada masyarakat Suriah. Terbunuhnya al-Buthi oleh kelompok garis keras pada 21 Maret 2013 dinilai tak bisa membungkam semangat juang dan ilmu-ilmunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peringatan haul kali ini juga menjadi momen peluncuran dalil “warisan” Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buti yang berisi pelajaran, khutbah, rekaman acara televisi, video, audio dan buku-bukunya yang dapat diakses melalui media sosial: naseemalsham.com/app, facebook.com/sh.albouti, facebook.com/albouti.e (untuk bahasa Inggris)? dan youtube.com.naseemalshami.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Imam Syahid Muhammad Said Ramadan Al-Bouti yang lahir pada tahun 1929 dikenal sebagai ulama moderat berjuluk “Guru dari Tanah Syam” atau “Syaikh of the Levant.” Ia juga dikenal sebagai pakar dalam berbagai disiplin ilmu agama dan menulis lebih dari 60 buah buku keilmuan Islam dalam bidang syariah, akidah, tasawuf, sejarah, dakwah dan pengajian Islam. Buku-bukunya banyak diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Tragedi Losarang

Tragedi politik menjelang Pemilu 1971. Losarang adalah sebuah daerah basis Partai NU di wilayah Kabupaten Indramayu, yang mengalami kekerasan sadis, diteror dan diintimidasi. 

Penduduknya mengungsi untuk menyelamatkan diri, sebagian mereka tinggal di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Tragedi Losarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Losarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Losarang

Peristiwa ini terungkap dan diangkat di harian Sinar Harapan. Koran ini mengirim seorang wartawannya, Panda Nababan, untuk meliput Losarang. Nababan datang ke Losarang ditemani KH Yusuf Hasyim dan Zamroni. 

Mereka menyaksikan masjid dibakar atau rumah-rumah dihancurkan. Nababan mengatakan warga NU Losarang meninggalkan tiba-tiba rumahnya, karena dirinya menyaksikan di atas meja makan masih ada piring-piring  dan cangkir beserta makanan yang membusuk.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah tiba di Jakarta, Nababan melaporkan liputannya dengan judul “Empatpuluh Lima Djam Bersama Orang Kuat NU”. Tulisan tersebut dimuat di halaman pertama lengkap dengan foto yang menunjukkan kondisi Losarang, dan berencana dimuat berseri. 

Tapi tulisan kedua tidak sempat muncul, karena dihentikan tentara. Nababan sendiri dibawa ke Markas Intelijen Pertahanan dan Keamanan. Interogasi ini merupakan yang kedua setelah diciduk oleh Kodim Indramayu dan disuruh pergi dari Indramayu. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Sholawat, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Pesantren Tahfidzil Qur’an Wonosobo Luncurkan Web Pesantren

Wonosobo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengelola Perpustakaan Pondok Pesantren Tahfidzil Quran (PPTQ ) Al-Asyariah Kalibeber Wonosobo, Jawa Tengah saat ini tidak hanya menangani soal peminjaman, perawatan dan usaha penambahan koleksi buku manual saja. Sejak sekitar satu tahun yang lalu, pengurus perpustakaan juga telah meluncurkan website, Facebook, dan twitter yang konten utamanya ? berisi seputar aktivitas ? kegiatan para santri PPTQ Al-Asyariah Kalibeber serta menyosialisasikan pengumuman-pengumuman penting.

Pesantren Tahfidzil Qur’an Wonosobo Luncurkan Web Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tahfidzil Qur’an Wonosobo Luncurkan Web Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tahfidzil Qur’an Wonosobo Luncurkan Web Pesantren

"Awalnya karena banyak alumni-alumni yang jauh khususnya alumni di luar Jawa yang sering merasa kangen dengan suasana pondok almameternya; ? sebab itu pula maka pengurus perpustakaan juga mulai meng-upload ke Yautube beberapa rekaman pengajian yang diadakan di pondok, agar dapat sedikit mengobati rasa rindu para alumni tadi," kata Harnanto, kepala perpustakaan PPTQ Al-Asyariah kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (19/1).

Pengurus perpustakaan pondok asal Salatiga itu menambahkan bahwa dengan dimilikinya web pondok tersebut selain sebagai media publikasi dan sosialisasi kegiatan dan aktivitas santri, juga dimaksudkan menjadi media penyalur santri PPTQ Al-Asyariah dalam bidang kreativitas tulis menulis serta berlatih jurnalistik.

Koleksi perpustakaan dari PPTQ Al-Asyariah yang kini diasuh oleh KH Ahmad Faqih Muntaha ini, ? selain berupa literatur keagamaan Islam berbahasa Arab ? danIndonesia, juga menyediakan literatur buku-buku umum non-agama baik jenis populer maupun ilmiah. Ketika kami mengamati koleksi bacaan yang ? ada, menemukan beberapa buku yang merupakan hasil karya beberapa kiai, pengajar dan santri PPTQ Al-Asyariah dan diterbitkan sendiri oleh Yayasan Al-Asyariah.?

Di antara karya yang tampak menonjol yang diterbitkan Yayasan Al-Asyariah adalah ‘Al-Quran dan Terjemahnya’, terbit 2014. Kitab tersebut sekaligus dilengkapi metode tahfidz, terjemah per kata, asbabun nuzul, hukum tajwid, dan indeks ayat. Dicetak oleh lembaga percetakaan Al-Quran Kemenag RI. (M Haromain/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Sunnah, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi

Khutbah I

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?}? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ?

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang sering disebut Maulid Nabi. Peringatan Maulid Nabi memang tidak diperintahkan secara khusus, baik oleh Al-Qur’an maupun Hadits. Peringatan ini baru diadakan untuk pertama kali ratusan tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yakni pada abad ke-7 hijriah di wilayah Irak sekarang atas perintah Raja Irbil bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri. 

Meski tidak ada perintah yang tegas, peringatan maulid Nabi juga tidak ada larangan yang jelas. Sesuatu yang tidak ada perintah sekaligus tidak ada larangan boleh dilakukan. Hal ini dalam hukum Islam disebut mubah. Sesuatu yang mubah akan mendapatkan pahala apabila ada niat dan tujuan yang baik (ibadah), dilakukan dengan cara yang baik dan terbukti mengasilkan sesuatu yang baik.  

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nabi Muhammad SAW lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Dari usia dini beliau sudah yatim piatu. Ayah beliau wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Usia enam tahun, inbundanya wafat. Lalu disusul kakek beliau juga wafat. Dan akhirnya beliau diasuh Paman Abu Thalib. Abu Thalib sendiri bukan orang kaya, padahal putranya banyak. Keadaan inilah yang menjadikan beliau harus bekerja keras sejak kecil untuk mencari nafkah. Beliau pernah menjadi penggembala kambing. Juga beliau pernah membantu pamannya berjualan di Syam. Yang terakhir ketika sudah dewasa beliau bekerja sebagai buruh atau karyawan pada seorang janda bernama Khadijah. Pekerjaan beliau adalah menjalankan perdagangan di perusahaan janda tersebut. Dari buhungan seperti itulah kemudian beliau menikah dengan Khadijah yang tak lain adalah majikannya sendiri. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kehidupan Nabi Muhammad sebagaimana uraian tersebut, dapat kita temukan rekamannya dalam Surat Adh-Dhuha. Dalam ayat ke-3, Allah SWT berfirman:

? ? ? ? ?

Artinya: “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”

Allah sekali-kali tidak bermaksud meninggalkan Nabi Muhammad di waktu kecilnya. Tidak pula Allah bermaksud menelantarkan hidup beliau sehingga beliau harus bekerja keras mencari nafkah meskipun masih kanak-kanak. Juga, Allah SWT tidak bermaksud membenci beliau sehingga ketika masih dalam kandungan saja, ayah beliau Abdullah sudah dipanggil menghadap-Nya. Ketika usianya baru enam tahun dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, Aminah pun wafat. Belum hilang kesedihan beliau karena ditinggal ibunya, kakeknya pun menyusul wafat dua tahun kemudian. Sempurnalah sudah kesedihan dan penderitaan beliau sebagai seorang yatim piatu dengan meninggalnya ayah, ibu dan kakek untuk berpisah selama-lamanya.

Dari semua penderitaan itu, tidak ada maksud Allah SWT menelantarkan beliau, tetapi justru Allah SWT sedang mempersiapkan beliau menjadi seorang pemimpin besar kelak di kemudian hari. Seorang pemimpin harus peka terhadap kesulitan-kesulitan yang dipimpinnya dan dapat memberikan solusi dari kesulitan-kesulitan itu. Kepekaan seperti itu sulit dimiliki oleh para pemimpin yang tidak pernah mengalaminya sendiri kesulitan-kesulitan seperti itu. Dengan kata lain, Allah sesesungguhnya menggembleng jiwa dan sikap mental beliau untuk menghadapi berbagai macam kesulitan dan tantangan berkaitan tugas beliau kelak menjadi seorang nabi. Apalagi beliau disiapkan dan ditetapkan oleh Allah SWT menjadi nabi terakhir hingga akhir jaman. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dalam ayat berikutnya, yakni ayat ke-4, Allah berfirman:

? ? ? ? ?

Artinya: “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”

Dalam hidup ini yang terpenting adalah apa yang terjadi di akhir dan bukan di permulaan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad hidup dalam kesulitan di masa kecilnya karena semua kesulitan itu bermanfaat membentuk karakter beliau menjadi seorang yang tangguh lahir dan batin – jiwa dan raga. Ketangguhan seperti itu memang sangat diperlukan kelak ketika Nabi Muhammmad berdakwah menyampaikan wahyu dan kebenaran dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kita semua tahu bahwa dalam berdakwah Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak hambatan, gangguan dan bahkan ancaman pembunuhan dari berbagai pihak, terutama dari kelompok yang dipimpin Abu Jahal dan kawan-kawan. Tetapi semua hambatan, gangguan dan ancaman itu dapat dilalui dengan baik karena Nabi Muhammad SAW sudah terlatih menghadapi kesulitan-kesulitan sejak kecil. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Buah dari penderitaan, kesulitan, dan perjuangan beliau yang tanpa kenal menyerah memang luar biasa, yakni dalam waktu singkat yang hanya memakan waktu 23 tahun saja, Nabi Muhammad telah berhasil memiliki pengikut yang cukup banyak. Beliau berhasil merubah masyarakat yang semula penyembah berhala menjadi beriman tauhid, yakni hanya menyembah kepada Allah SWT semata. Masyarakat telah berubah dari masyarakat yang semula menerapkan hukum rimba dimana yang dominan dan kuat akan selalu menjadi pemenang, menjadi masyarakat yang berdasarkan keadilan tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial. Di dalam Islam memang semua manusia pada dasarnya sama karena mereka semua berasal dari asal usul yang sama, yakni Nabi Adam AS. Satu-satunya yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ayat kelima dari Surat Adh-Dhuha berbunyi:

? ? ? ?

Artinya: “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Allah SWT telah berjanji bahwa semua penderitaan, kesulitan dan susah payah Nabi Muhammad SAW dari waktu kecil hingga belaiu diangkat menjadi seorang nabi akan dibalas oleh Allah dengan keberhasilan yang cemerlang sebagaimana telah diuraikan. Atas keberhasilan itu Nabi Muhammad SAW bersyukur kepada Allah SWT. Beliau bersyukur tidak hanya atas keberhasilan dakwah-dakwah beliau, tetapi juga atas perlindungan Allah SWT sehingga beliau meskipun seorang yatim piatu beliau dapat meraih pertolongan untuk mendukung keberhasilan dakwah-dakwah tersebut. Perlindungan ini sebagaimana dimaksud dalam ayat keenam sebagai berikut:

? ? ? ?

Artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”

Jamaah Jumat rahimakumullah

Selanjutnya, ayat ketujuh dari Surat Adh-Dhuha berbunyi:

? ? ?

Artinya: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”

Sudah banyak diceritakan bagaimana kebingunan Nabi Muhammad ketika akan memasuki masa kenabiannya sehingga beliau menyepi di Gua Hira’ untuk mencari jawaban dari apa yang sebenarnya sedang terjadi pada beliau pada waktu itu. Di Gua Hira’ itulah Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama kali yang diterimanya melalui malaikat Jibril AS. 

Ayat ketujuh itu diikuti dengan ayat kedelapan yang berbunyi:

? ? ?

Artinya: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”

Pada akhirnya keadaan ekonomi Nabi Muhammad mengalami perubahan dari kekurangan menjadi kecukupan. Abu Muhammad al-Husayn bin Masud al-Baghawi dalam kitab tafsirnya berjudul Tafsir Al-Baghawi, halaman 456, jilid 8, menjelaskan bahwa Allah mengayakan Nabi Muhammad SAW salah satunya dengan harta Khadijah. Artinya keadaan ekonomi Nabi Muhammad membaik setelah beliau bekerja di perusahaan Khadijah dan kemudian Khadijah meminta beliau menjadi suaminya. 

Dengan harta kekayaan Khadijah itulah Nabi Muhammad SAW dapat membiyai dakwah-dakwahnya karena Khadijah memang menyediakan dan merelakan harta kekayaanya digunakan suaminya untuk berjuang di jalan Allah. Khadijah adalah orang kedua setelah Nabi yang memeluk Islam sekaligus merupakan perempuan pertama yang masuk Islam. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad SAW sangat mecintai dan menghargai Khadijah yang telah berjasa besar dalam mendampingi dan mengembangkan dakwah-dakwah beliau. Dengan kata lain, keberhasilan dakwah Islam tidak lepas dari peran penting seorang perempuan kaya raya. Perempuan itu bernama Khadijah RA, istri beliau yang pertama dan utama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?





Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini

Tangerang Selatan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Direkur Eksekutif Islam Nusantara Center (INC) Ahmad Ginanjar Sya’ban menerangkan dua tujuan penganugerahan Santri of The Year. Pertama, agenda ini diadakan untuk menemukan dan menampilkan tokoh atau figur santri yang telah memberikan sumbangsih berupa gagasan inovatif dan kerja serta karya dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

“Kedua, mampu membangkitkan motivasi dan dapat memberikan keteladanan generasi bagi generasi muda serta masyarakat umum untuk lebih giat membangun bangsa dan negaranya,” kata Ginanjar saat acara peluncuran penganugerahan Santri of The Year di Kantor INC Ciputat Tangerang Selatan, Sabtu (19/8).

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini

Menurutnya, hingga hari ini santri masuk dan mengisi ruang-ruang dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan sosial, keagamaan, pers, media, militer, politik bahkan hingga ke parlemen dan pemerintah. Tidak sedikit dari mereka yang mengharumkan nama santri.

Oleh karena itu, lanjut Ginanjar, dalam rangka hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017, maka INC mengadakan agenda Santri of The Year.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, salah satu inisiator INC Zainul Milal Bizawie menegaskan, mereka yang mendapatkan Santri of The Year bukanlah orang yang paling hebat di antara lainnya, tetapi mereka adalah yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap, ke depan agenda ini akan menjadi sebuah penghargaan yang bergengsi dan kredibel sehingga ini bisa menjadi sebuah indikator bahwa santri memiki banyak kemampuan dan keterampilan di luar bidang keagamaan.

“Sehingga yang lain tahu bahwa santri tidak hanya sarungan saja,” ucapnya.

Ada dua belas kategori nominasi yang dipilih untuk mendapatkan penghargaan, yaitu Santri Inspirasi Bidang Seni dan Budaya, Santri Inspirasi Bidang Pendampingan Umat (Dakwah), Santri Inspirasi Bidang Pendidikan, Santri Inspirasi Bidang Wirausaha, Santri Inspirasi Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintah, Pesantren Salaf Inspiratif, Pesantren Modern Inspiratif, Pesantren Enterpreneur Inspiratif, Santri Berprestasi Tingkat Internasional, Pahlawan Santri, Santri Mengabdi Sepanjang Hayat, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Polling akan dilakukan di di akun resmi Twitter Islam Nusantara Center @IslamNusantaraC. Selain itu, panitia juga akan terjun ke lapangan untuk menyebarkan angket atau keusioner ke pesantren-pesantren yang belum aktif menggunakan medsos agar mereka bisa mengusulkan nama-nama yang sesuai dengan kategori nominasi.

Masyarakat bisa menyetorkan nama-nama tokoh santri yang layak mendapatkan penghargaan tersebut berserta sesuai dengan kategori dan alasannya ke akun media sosial Islam Nusantara Center @islamnusantaracenter (IG) @IslamNusantaraC (Twitter), 081384478968 (WhatsApps). (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rendahnya kualitas hidup kaum perempuan di Indonesia salah satunya adalah akibat kebijakan pembangunan yang bias gender. Pola pembangunan semacam ini berdampak serius dalam marginalisasi kepentingan perempuan di semua sektor kehidupan, dari mulai masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan lain-lain.



Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Di sektor pendidikan misalnya, kebanyakan warga negara yang buta huruf dan berpendidikan rendah adalah kaum perempuan. Sehingga mereka kerap menjadi korban tindak kekerasan maupun sasaran eksploitasi.

“Karena itu Fatayat NU kini memiliki program yang lebih terarah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi kaum perempuan, khususnya warga nahdliyin,” ungkap Ketua Pengurus Pusar Fatayat Fatayat Nahdlatul Ulama, Hj Maria Ulfa saat memberikan sambutan pada acara Pelantikan Pengurus Cabang Fatayat NU Kab Tegal masa khidmat 2007-2011, Ahad (20/5).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang bertempat di aula SMK Negeri 1 Slawi itu sekaligus juga Pengesahan Pusat Informasi Konsultasi Kesehatan dan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) PC Fatayat NU Kab Tegal. Turut hadir pada kegiatan tersebut, Rois Syuriah NU Kab Tegal, KH Chambali Utsman, Katib Syuriah KH M Abror Jamhari, Ketua DPRD H Ahmad Husein, Kepala Dinas PMKB & Kesos Pemkab Tegal Haron Bagas Prakosa, dan seluruh pengurus Cabang dan Anak Cabang Fatayat NU se-Kabupaten Tegal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan Maria Ulfa, isu kesehatan yang menimpa kaum hawa juga telah lama menjadi “pekerjaan rumah” bagi kader-kader Fatayat dari tingkat pusat hingga cabang. Kasus banyaknya kematian ibu karena proses melahirkan, kematian balita, penyakit animea dan lain sebagainya adalah menjadi bagian dari garapan program kerja Fatayat NU saat ini. “Sehingga kemudian kita bekerjasama dengan Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk membentuk PIK-KRR sampai ke setiap Pengurus Anak Cabang Fatayat NU,” ujarnya.

Selain itu, rendahnya kualitas hidup kaum perempuan juga akibat kesenjangan ekonomi. Banyak kaum ibu yang tertindas secara ekonomi tidak mendapatkan perlindungan ataupun keberpihakan yang lebih nyata. “Fatayat NU telah bermitra dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan suatu program terkait masalah ini. Fatayat juga akan memberikan advokasi terhadap kaum perempuan yang menjadi korban kesenjangan ekonomi dan kebijakan pembangunan daerah,” katanya.

Sementara itu, Ketua PC Fatayat NU Kab Tegal Hj Nur Khasanah menegaskan, pihaknya siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk merealisasikan program-program yang bersifat kemanusiaan. “Selama ini, kami juga telah bekerjasama dengan LSM luar negeri seperti FHI, UNICEF dan UNDP. Terutama program pencegahan HIV/Aids, Flu Burung, Deman berdarah dan lain-lain,” katanya.(fei)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua PBNU H Slamet Effendy Yusuf menginstruksikan seluruh jajaran NU di tingkat Ranting, MWC, Cabang, dan Wilayah seluruh Indonesia untuk segera melakukan langkah-langkah yang kongkrit, terencana dan berkoordinasi dengan aparatur keamanan guna mewaspadai berkembangnya paham-paham yang dapat mengakibatkan terganggunya integritas nasional, misalnya berkembangnya paham ISIS, paham yang menolak Pancasila.

Instruksi ini dikeluarkan sehubungan dengan rekrutmen yang intensif yang dilakukan oleh ISIS, terbukti yang dilakukan pemuda-pemuda Indonesia, maupun warga Indonesia yang melibatkan diri di dalam kegiatan ISIS dengan pergi ke kawasan Suriah dan Irak.?

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS

“Maka PBNU meminta seluruh warga NU dan pengurus NU, khususnya kepada gerakan pemuda Ansor untuk secara cermat membantu aparatus keamanan dengan memberikan informasi apabila terdapat kegiatan yang mencurigakan, termasuk kegiatan yang memakai cover ibadah, yaitu pergi umroh, yang kemudian diteruskan untuk perjalanan ke Suriah atau Irak,” tandasnya di gedung PBNU, Selasa (10/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam waktu yang bersamaan PBNU juga mengharapkan lembaga dakwah, lembaga pendidikan dan seluruh lembaga di lingkungan NU, untuk memberikan keterangan yang benar, menginformasikan, dan mensosialisasikan bahwa ISIS serta paham yang menolak NKRI bertentangan dengan prinsip NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita mengharapkan ada intensifikasi pemahaman yang benar tentang Islam, khususnya Islam Nusantara, yang diharapkan memberi topangan kuat bagi kelestarian NKRI,” tegasnya.

“Warga NU dan Muslim lainnya jangan sampai termakan mimpi-mimpi ISIS, yang seolah-olah menghidupkan kembali kekhalifahan Islam, tetapi sesungguhnya merobek-robek dunia Islam dengan mempertentangkan konsep Islam seperti jihad dan sebagainya dengan nilai universal yang penuh kebajikan dan perdamaian,” imbuhnya.

Mengenai mantan pengikut ISIS yang kembali lagi ke Indonesia, ia berharap agar mereka tidak dikucilkan, tetapi diajak dalam proses pemahaman yang benar dari sudut agama maupun dari sudut kepentingan negara dan bangsa.?

“Temani mereka dalam masalah kebangsaan dan global secara benar, bagaimana menjadi umat Islam yang tasamuh, tawazun, yang mendahulukan kemaslahatan daripada kekerasan.” ?

Disamping itu juga penting untuk memberi pemahaman agar umat Islam tidak terjebak pada upaya pihak lain yang memberi PR sehingga umat Islam tidak sempat membina diri, melalui pendidikan, pengembangan ekonomi dan sosial, karena disibukkan dengan isu yang temanya kekerasan.

Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, apa yang terjadi di ISIS, Boko Haram, Al Qaeda dan kelompok garis keras lainnya memperlihatkan Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan NU menjadi relevan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Sholawat, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia

Awalnya sebuah langgar. Lalu pesantren. Dan tumbuh dalam puluhan lembaga pendidikan formal. Bak kupu-kupu. Begitulah metomorfosis Pondok Pesantren al-Ihya Ulumaddin yang terletak di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin lahir dari semangat sang pendiri, KH Badawi Hanafi, untuk mengembangkan ilmu di tengah situasi pendidikan yang terpuruk akibat penjajahan Belanda. Bermodal langgar duwur (mushala panggung) warisan ayahandanya, Kiai Badawi membangun pesantren sederhana yang terdiri dari beberapa kamar saja, termasuk kamar Kiai Badawi.

Pesantren baru disahkan pemerintah yang berpusat di Banyumas pada 24 November 1925, atau sekitar dua bulan sebelum organisasi Nahdlatul Ulama lahir. Mula-mula, masyarakat mengenalnya sebagai ”Pesantren Kesugihan” hingga berubah nama menjadi ”Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam” (PPAI) pada 1961.

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Bermula di Zaman Belanda, Mendidik Semua Usia

Nama ”Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin” diberikan pengasuh berikutnya, KH Mustolih Badawi, putra Kiai Badawi, pada 1983. Kini, Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin melahirkan Yayasan Badan Amal Kesejahteraan Ittihadul Islamiyah (Yabakii) yang menaungi tak kurang dari 47 lembaga pendidikan formal dari jenjang kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

”Yayasan tetap berada di bawah pesantren. Karena yang melahirkan memang pesantren,” kata KH Chasbulloh Badawi, pemimpin pesantren sekarang.

Seperti pesantren pada umumnya, Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin mendidik para santrinya dengan berbagai disiplin keislaman, seperti gramatika Arab, fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits, akidah, tasawuf, tarekat, dan lain-lain. Dari sekitar 600 santri yang diasramakan (santri mukim), beberapa santri di antaranya secara khusus juga mengikuti program halafalan al-Qur’an (tahfidzul qur’an).

Hampir setiap santri mukim merupakan peserta didik madrasah atau sekolah di bawah pengelolaan Yabakii. Namun tidak semua dari mereka menjadi santri mukim. Yabakii merupakan wadah bagi jaringan lembaga pendidikan Pensantren al-Ihya’ Ulumaddin yang meliputi beragam jenis, antara lain, 6 Taman Kanak-kanak, 16 Madrasah Ibtidaiyah, 5 SMP, 6 MTs, 2 SMA, 4 MA, 1 SMK, 4 cabang perguruan tinggi bernama ”Institut Agama Islam Imam Ghozali” (IAIIG).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Kiai Chasbullah, meski pesantrennya telah merambah ke pendidikan formal, unsur nilai pesantren tak boleh terlewatkan. Komitmen ini berlaku pula untuk IAIIG yang tengah dirintis akan menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Imam Ghozali.

”Bagaimanapun Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin dan perguruan tinggi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selain mahir di berbagai bidang pengetahuan, mahasiswa juga mengenal pendidikan dan nilai pesantren,” terangnya.

Pesantren terbesar di Cilacap ini juga mengembangkan dua ajaran tarekat, yakni syadzilyah dan naqsabandiyah. Jamaah tarekat dari bermacam latar belakang menggelar kegiatan rutin setiap malam Jumat Kliwon di lingkungan pesantren. Selain itu, pemimpin pesantren aktif mengasuh pengajian Kliwonan setiap Kliwon menurut perhitungan kalender Jawa. Peserta kegiatan rutin sejak berdirinya pesantren ini berasal dari masyarakat umum, khususnya yang tinggal di Cilacap.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penulis: Mahbib Khoiron

 

Foto: pintu gerbang Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Masyarakat Indonesia sudah bersiap-siap menanti hadirnya momen spesial pada Rabu Pon, 9 Maret 2016, yaitu gerhana matahari total. Tentunya sebagai umat Islam, hadirnya gerhana itu menjadi tanda kebesaran Allah dan bagi kalangan ahli falak dan astronomi, ini menjadi titik riset yang sangat menarik.

Salah satu hal penting di luar hingar-bingar menanti hadirnya gerhana matahari total ini adalah kembali menilik karya ulama Nusantara asal Jepara dan besar di Semarang dalam menyambut gerhana.

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Gerhana Menurut KH Sholeh Darat Assamarani

Ialah KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal dengan KH Sholeh Darat) yang turut memberikan penjelasan amalan shalat gerhana. Bab khusus mengenai shalat gerhana ditulis dalam Kitab Majmuatu al Syariah al Kafiyati lil Awam halaman 84-85 Fashlun fi al Kusufaini.

KH Sholeh Darat menegaskan bahwa shalat dua gerhana (bulan dan matahari) hukumnya sunnah muakkad.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun yang diperintahkan untuk mengikuti shalat gerhana adalah laki-laki dan wanita, boleh munfarid (sendiri) atau berjamaah. Dan KH Sholeh Darat menyampaikan bahwa shalat gerhana lebih utama dilakukan dengan berjamaah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bacaan dalam shalat gerhana bulan dilakukan dengan jahr (keras) dan jika gerhana matahari dengan pelan-pelan. Jumlah rakaat shalat gerhana paling sedikit dua rakaat salam sebagaimana shalat rawatib.

Adapun tata cara shalat gerhana berbeda dengan shalat pada umumnya. Pada rakaat pertama dibuka dengan niat, doa iftitah, al Fatihah, surat, ruku, berdiri itidal, tidak langsung sujud tapi membaca al-Fatihah, surat, ruku, itidal dan dilanjutkan sujud dua kali.

Pada rakaat kedua juga sama dengan rakaat pertama dengan dua kali al Fatihah, surat, ruku dan itidal disambung sujud dua kali serta tahiyyat akhir dengan ditutup salam.

Dan untuk kesempurnaan shalat gerhana, maka bacaan surat, menurut KH Sholeh Darat memakai yang panjang. Setelah itu juga rukunya dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 200 ayat.

Bacaan berdiri itidal dijelaskan oleh KH? Sholeh Darat dengan mengucapkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Perbedaan waktu ruku pada rakaat pertama dan rakaat kedua oleh KH Sholeh Darat dibuat berbeda. Pada rakaat pertama dua kali ruku diharapkan sama dengan membaca 200 ayat (pertama) dan 150 ayat (kedua).

Adapun ruku yang rakaat kedua bacaan ruku dibuat panjang sekira sama dengan bacaan 100 ayat (pertama) dan 50 ayat (kedua).

Dalam menjalankan sujud selama shalat gerhana juga diharapkan dengan sujud yang panjang/lama.

Ketika shalat dilaksanakan secara berjamaah, maka dilaksanakan khutbah dua kali setelah shalat gerhana. Adapun materi khutbah yang disarankan KH Sholeh Darat kepada khatib adalah dengan menyampaikan taubat dan shadaqah.

Demikian sepintas mengenai isi kitab karya KH? Sholeh Darat yang membahas mengenai shalat gerhana. Wallahu alam.



(M Rikza Chamami,? dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, pernah aktif di organisasi pelajar NU sampi ke tingkat pusat, yaitu menjadi Pjs Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Sholawat, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Banyumas: Hanya NU Sanggup Tentramkan Situasi

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Bupati Banyumas Ahmad Husain menghadiri acara pelantikan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor ? Kabupaten Banyumas di Pondok Pesantren Darussalam Dukuwaluh Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Periode 2016-2020 pada Rabu malam (7/3).?

Dalam sambutannya, ia mengapresiasi warga NU di Kabupaten Banyumas. "Di Banyumas ada banyak ormas, tapi yang sanggup membuat situasi tentram dan kondusif hanya NU," katanya.?

Bupati Banyumas: Hanya NU Sanggup Tentramkan Situasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Banyumas: Hanya NU Sanggup Tentramkan Situasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Banyumas: Hanya NU Sanggup Tentramkan Situasi

Ia berharap semoga NU di Banyumas terus berkembang menjadi organisasi yang besar. "NU Banyumas semoga semakin tumbuh besar karena semakim besar NU di Banyumas, semakin tentram pula Banyumas," lanjutnya disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara kepda pemuda Ansor, ia menekankan supaya di Kabupaten Banyumas untuk tetap menjaga integritas, baik integritas pribadi, organisasi dan integritas Banyumas. "Ansor harus berilmu, Ansor harus kuat dan Ansor harus tertata dengan baik," pintanya.?

Ribuan anggota dan pengurus GP Ansor ? dan Banser se-eks Kerisidenan Banyumas memadati halaman Pondok Pesantren Darussalam. Hadir pada kesempatan itu, Rais Syuriah PCNU Banyumas KH Khariri Shofa sekaligus sebagi pengasuh pondok pesantren Dasrusalam, ? Ketua PCNU Banyumas KH Maulana Ahmad Hasan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua terpilih GP Ansor Kabupaten Banyumas Khasis Munandar meminta semua pihak untuk ikut mendukung program kerja Ansor guna mewujudkan cita-cita organisasi. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Juara NU Award Jatim, PCNU Blitar Semangat Berbenah

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Keberhasilan Pengurus Cabang NU Kabupaten Blitar terpilih sebegai juara NU AWARD PWNU Jawa Timur? (Jatim) 2016 menjadikan pemicu dan semangat para pengurus NU di Bumi Bung Karno itu berbenah di berbagai bidang. Mereka berbenah mulai dari pendidikan, kesehatan, dakwah, kesenian, kepemudaan dan lainnya.

“Keberhasilan ini memicu dan semangat kami para pengurus dalam berkhidmah di NU,’’ ujar KH Imam Sugrowardi Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Rabu malam (13/7).

Juara NU Award Jatim, PCNU Blitar Semangat Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara NU Award Jatim, PCNU Blitar Semangat Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara NU Award Jatim, PCNU Blitar Semangat Berbenah

Semua lini, khususnya lembaga dan dan badan otonomi NU, lanjut Kiai Imam harus berbenah. Semua hal yang dirasa kurang harus ditingkatkan. Mulai dari pendidikan, pesantren, kesehatan, dakwah, kesenian semua harus ditingkatkan guna melayani keperluan umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Keberhasilan ini menjadi cambuk untuk bekerja lebih keras lagi dalam melayani umat di berbagai bidang. Justru jangan ogah-ogahan.Kalau sampai begitu malu kita nanti, baik kepada Allah SWT maupun kepada umat,’’ kata Gus Imam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketika ditanya mengapa malu, ia menjawab karena biasanya kalau sudah dianggap juara, NU blitar akan jadi rujukan pertanyaan.”Kalau ternyata kita memble setelah juara, kan malu kita karena tidak bertahan dalam berjuang berkhidmah di NU,” jelasnya.

Sementara itu Ketua PCNU Blitar KH Masdain Rifai Ahyat menyampaikan, adanya penghargaan NU Award PWNU ini akan ditindaklanjuti dengan mengadakan kegiatan yang sama sampai ke pengurus Majelis Wakil Cabang dan Ranting NU. ”Kegiatan ini tahun ini akan kami laksanakan sampai ke tingkat MWC dan ranting-ranting NU. Kami sudah membentuk tim pelaksana,’’ kata Gus Dain, panggilan akrabnya.

Diharapkan dengan kegiatan serupa, semua lini bangkit di semua bidang. Sehingga kepentingan umat bisa tercover dengan baik seperti yang diharapkan oleh para muasis NU. “Dengan pola ini diharapkan semua lini NU akan bangkit dan bergerak sehingga kepentingan umat terpenuhi dengan baik,’’ tambah anggota FKUB Kabupaten Blitar ini.

Seperti diketahui, PCNU Blitar berhasil meraih juara setelah dalam final yang berlangsung di Aula Kertoraharjo PWNU Jatim pada 28 Juni lalu mampu meyakinkan belasan juri.

Dalam sesi final NU Blitar berhasil mengungguli tiga nominator lain, PCNU Magetan, PCNU Banyuwangi, dan PCNU Lumajang.Atas keberhasilannya tersebut, masing-masing pemenang mendapatkan tropi, sertifikat, buku/kitab, serta uang pembinaan dari Gubernur Jatim.

Penyerahan tropi juara disampaikan langsung oleh Gubernur Jatim? H Soekarwo (Pakde Karwo) didampingi Wakilnya H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Ketua PWNU Jatim KH Moh. Mutawakil Alallah. (Imam Kusnin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

Radikalisme Islam di Indonesia

Judul Buku: Geneologi Islam Radikal di Indonesia   

Penulis: M. Zaki Mubarak

Penerbit: LP3ES, Jakarta

Radikalisme Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Islam di Indonesia

Cetakan: 2008

Tebal: xxxvii + 384 halaman

Peresensi: Muhamad Ismaiel

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Mohammed Arkoun (1999) melihat fundamentalisme Islam sebagai dua tarikan berseberangan, yakni, masalah ideologisasi dan politis. Dan, Islam selalu akan berada di tengahnya. Manusia tidak selalu paham sungguh akan perkara itu. Bahwa fundamentalisme secara serampangan dipahami bagian substansi ajaran Islam. Sementara fenomena politik dan ideologi terabaikan. Memahami Islam merupakan aktivitas kesadaran yang meliputi konteks sejarah, sosial dan politik.

Demikian juga dengan memahami perkembangan fundamentalisme Islam. Tarikan politik dan sosial telah menciptakan bangunan ideologis dalam pikiran manusia. Nyata, Islam tidak pernah menawarkan kekerasan atau radikalisme. Persoalan radikalisme selama ini hanyalah permaianan kekuasaan yang mengental dalam fanatisme akut. Dalam sejarahnya, radikalisme lahir dari persilangan sosial dan politik. Radikalisme Islam Indonesia merupakan realitas tarikan berseberangan itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tepat di sinilah, buku Geneologi Islam Radikal di Indonesia mengungkap realitas politisasi dan radikalisasi Islam. Zaki membuat batasan antara Islam sebagai ajaran penuh damai dan Islam setelah terkooptasi politik ke-Indonesia-an. Baginya, radikalisme merupakan persoalan kompleksitas yang tidak berdiri sendiri. Hampir seluruhnya memiliki pendasaran sangat politis dan ideologis. Layknya sebuah ideologi yang terus mengikat, radikalisme menempuh jalur agama untuk dapat membenarkan segala tindakan anarki. Maka, Islam tak sama dengan radikalisme.

Meski demikian, keberkaitan dengan kultur dan cara berpikir, membuat Islam dan radikalisme tak mengenal ruang. Seakan melebur dalam keberagamaan. Berawal dari memproduksi fanatisme, radikalisme masuk ke dalam ajaran Islam hingga dianggap bagian dari Islam. Lalu, membentuk pemahaman baru, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Padahal, setiap agama memiliki sejarah kelam tentang paham fundamental, radikal atau kekerasan. Islam adalah satu di antara banyak agama dunia yang dituding penganjur paham fundamental.

Adalah keberimanan statis membuat radikalisme tak lekang oleh zaman. Ber-Islam dengan iman statis kerapkali menampilkan justifikasi hitam-putih hingga berlanjut pada pembelaan berlebihan terhadap keyakinannya. Saat itu, paham radikal sedang menjadi ideologi mengikat bagi kaumnya. Seperti dikemukakan Eric Hoffer tentang dogmatisme yang mencipta ketundukan mutlak. Tak hanya berhenti pada cara berpikir, dogmatisme demikian liarnya mencipta sikap pasrah.

Namun, Zaki tak mau berhenti di titik itu. Menghadirkan fakta sejarah dari pascakemerdekaan sampai kini merupakan kekuatan untuk mengungkap geneologi redikalisme Islam Indonesia. Buku ini mengungkap tapal perjalanan kaum radikal; Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Laskar Jihad sepanjang medio 2002, 2003 dan 2005 terutama setelah reformasi.



Sejarah dan Kuasa


Sejarah radikalisme Islam Indonesia sudah ada sejak dulu. Sejak Kartosuwirjo memimpin operasi 1950-an di bawah bendera Darul Islam (DI). Setelah DI, Komando Jihad (Komji) pada 1976 meledakkan tempat ibadah. Pada 1977, Front Pembebasan Muslim Indonesia melakukan hal sama. Dan tindakan teror oleh Pola Perjuangan Revolusioner Islam, 1978.

Teror perlahan memilihkan namanya sendiri untuk Islam radikal, sekalipun belum ada istilah tepat untuk menyebut realitas macam itu. Radikalisme merupakan sebentuk penguasaan tafsir atas Islam secara tekstual. Juga, peradaban teks dengan memperjuangkan formalisasi syariat. Militansi pun berlangsung dan memperkuat gerak Islam radikal di Indonesia.

Radikalisme Islam Indonesia lahir dari hasil persilangan Mesir dan Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi terbukti memengaruhi. Pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala garis keras. Setiap Islam disuarakan, nama mereka semakin melekat dalam ingatan. Bahkan, sampai tahun 1970-1980-an ikut menyemangati perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam. Juga, FPI dan HTI.

Istilah radikalisme Islam kian menguat tak hanya pada matra tekstualitas agama. Persentuhan dengan dunia kini, menuntut adanya perluasan gerakan. Mulai dari sosio ekonomi, pendidikan hingga ranah politik.

Mungkin, di sinilah letak kekuatan radikalisme Islam Indonesia. Semakin melekat dalam setiap segmentasi sosial, semakin susah dibendung. Ia pandai membaca ruang sosial yang tak cepat lekang. Karena memahami setiap ruang akan mengantarkan radikalisme mencipta mentalitas kultural.

Dari sini, ideologi radikal tampak begitu dekat dengan permainan kuasa. Menempuh jalur politik diyakini dapat mengantarkan Islam pada kondisi lebih tinggi, yaitu, mimpi formalisasi syariat dan terbentuknya negara Tuhan.

Sampai kini, kaum radikal terus berjuang untuk dua hal itu, baik melalui lobi-lobi politik maupun fundamental-ideologis. Ironisnya, Islam hanya dijadikan pendasaran politik kepentingan. Padahal, dalam praktiknya, teror, anarki dan kekerasan secara bergantian dilakukannya. Tidak ada batas baik-buruk, moral-amoral. Semuanya berjalan di tataran politik yang menjauh dari Islam. Akhirnya, radikalisme kadang keliru dalam memahami Islam.

Antara fundamental-ideologis atau kuasa politik, tak bisa menolak realitas pengeremangan Islam. Pemurnian Islam yang dibayangkannya terjebak pada penistaan. Egoisme politik telah mengaburkan cara beragama mereka. Dan, mimpi formalisasi syariat dengan tindak kekerasan hanya menyudutkan Islam. Bahwa Islam sebentuk agama penganjur kedamaian sekaligus keretakan sosial.

Memang, kaum radikal terus mengulang sejarah politisasi agama yang berujung pada sebuah penistaan. Buku ini mencontohkan, bagaimana aksi teror Komando Jihad tahun 1976 hanya menyisakan keresahan sosial. Orang tak lagi nyaman dalam beragama, sebab dihantui kecurigaan antarsesama.

Hingga penelitian ini selesai pada akhir 2005, dogmatisme-ideologis dan permainan kuasa politik masih diminati oleh kelompok Islam radikal Indonesia. Sama seperti meminati kekerasan di jalan Allah.



Peresensi adalah Peraih Paramadina Fellowship 2008
Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 November 2017

Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam

Satu lagi peristiwa mencengangkan ditunjukkan Rasulullah pada saat penaklukan kota Makkah. Kota Suci dikuasai umat Islam. Lawan perang benar-benar tak berkutik. Tapi, Nabi Muhammad memang punya cara-cara tersendiri dalam menghadapi mantan musuh-musuhnya.

Tak ada darah menetes di dalam ataupun sekitar Masjidil Haram. Penghancuran patung berhala di sekeliling Ka’bah pun dilakukan atas permintaan penduduk Makkah. Sejak awal, Nabi mewanti-wanti berbagai bentuk kekerasan dan perusakan karena musuh tidak lagi menyerang.

Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam

Sikap anti-pemaksaan justru mengantarakan peristiwa Fathul Makkah pada kemenangan yang kian gemilang. Musyrikin Quraisy berbondong-bondong memeluk Islam, terutama setelah pemimpin tertinggi mereka, Abu Sofyan berikut keluarganya secara suka rela mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hanya saja, kesadaran tauhid tidak selalu berlangsung segera. Seorang panglima Quraisy bernama Shofwan bin Umayyah sempat berketetapan masuk Islam tapi urung. Dia membutuhkan beberapa waktu untuk membulatkan niatnya itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Berilah saya waktu seminggu untuk berpikir, apakah saya harus masuk Islam atau tidak,” kata Shofwan kepada Nabi.

“Jangan seminggu,” sergah Nabi.

Shofwan kaget dan bertanya, “Apakah itu terlalu lama?”

“Tidak,” Rasulullah menyahut, “Terlalu singkat. Kuberi kau waktu selama dua bulan. Apakah akan mengucapkan syahadat atau tidak. Pikirkanlah masak-masak sebab Islam adalah agama bagi orang-orang berakal dan menggunakan akalnya untuk berpikir. Tiada agama bagi orang yang tak memiliki akal.” (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah