Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Oleh Muhammad Ishom

Kata “al-ummi” sangat populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157. Secara etimologis kata “al-ummi” berasal dari kata bahasa Arab “al-umm” yang artinya “ibu” dalam bahasa Indonesia. Kata “al-ummi” sebetulnya memiliki makna atau arti yang beragam, salah satunya adalah seseorang yang diasuh sendiri oleh ibunya di rumah.

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Sewaktu saya masih kecil dan duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, salah seorang guru saya mengartikan “al-ummi” dengan “mbok-mboken” yang maksudnya adalah serorang anak yang tidak mau lepas dari ibunya (sehingga tidak pernah sekolah). Akibatnya sang anak menjadi buta huruf. Jadi jika kata “al-ummi” langsung diartikan “buta huruf” itu sebetulnya ada satu proses logis yang dilompati. Dalam kaitan dengan kata “al-ummi” yang dilekatkan kepada Nabi Muhammad SAW, tentu ada hubungannya dengan keberadaan ibu beliau,

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam hal ini cinta sang ibu – Siti Aminah - kepada beliau begitu dalam. Allah SWT juga sangat mencintai beliau sehingga tak seorang pun manusia diberi-Nya kesempatan menyentuh pikiran beliau dengan mengajarkan sesuatu melalui baca tulis. Oleh karena itu, banyak orang mengartikan kata “al-ummi” dengan “orang yang buta huruf” seperti dinyatakan WJS Poerwadarminta dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, terbitan PN Balai Pustaka Jakarta, tahun 1983, halaman 1124.

Pertanyaannya adalah, apakah Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawabnya, sulit untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf, dalam arti tidak bisa membaca dan menulis sama sekali sepanjang hidupnya sebab setelah turunnya Al-Qur’an beliau pernah merevisi rancangan Perjanjian Hudaibiyah yang draftnya ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW menghapus sendiri kata-kata “Rasulullah” dan menggantinya dengan “Ibnu Abdillah” setelah Ali bin Abi Thalib menolak untuk melakukannya. Ali bin Abi Thalib hanya bersedia menunjukkan tempat kata-kata “Rasulullah” saja.

Orang-orang Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr merasa keberatan dimasukkannya kata-kata “Rasulullah” ke dalam teks perjanjian tersebut dan menuntut supaya diganti dengan “Ibnu Abdillah” karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad. Tuntutan ini dipenuhi Nabi Muhammad SAW dengan menghapus dan mengganti sendiri kata-kata itu dengan kata-kata “Ibnu Abdillah”.



(Baca: Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata)


Selain itu Nabi Muhammad SAW juga pernah mengatakan bahwa ada tulisan ? (kafir) di antara kedua mata Dajjal sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam riwayat Muslim, Nabi bahkan mengeja kata ? (kafir) itu dengan ? ? ? (k f r). Artinya ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membaca karena mengeja itu bagian dari membaca.

Namun demikian, merupakan kesalahan besar untuk mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis karena tidak ada bukti empiris tentang hal ini. Dalam Al-Qur’an surah Al’Ankabut ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48 berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Tetapi setelah Al-Qur’an turun Nabi Muhammad SAW pernah suatu ketika menulis kata-kata sebagaimna tertuang dalam teks Perjajian Hudaibiyah di atas. Selain menulis, Nabi Muhammad SAW juga pernah membaca atau mengeja kata sebagaimana diriwayatakan oleh Bukhari dan Muslim di atas.

Hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT dan bukan karya beliau. Semua pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad adalah intuisi (wahyu) dari Allah yang tidak menuntut kemampuan membaca dan menulis. Malaikat Jibril paling sering menyampiakan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode pendengaran dengan mentransfer ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung ke dalam memori Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran dan hati beliau tanpa melibatkan kegiatan visual seperti membaca dan menulis.

Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, beberapa cendekia kontemporer kurang setuju jika hingga sekarang kata “al-ummi” yang melekat pada Nabi Muhammad SAW masih diartikan”buta huruf’. Sebagai gantinya mereka mengusulkan arti atau makna yang lebih sesuai dengan konteks sekarang, yakni “tidak bisa baca tulis” karena memang tidak pernah diajar guru manusia dengan metode baca tulis. Arti baru ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, karangan Ahmad Warson Munawwir, terbitan Pustaka Progresif Yogyakarta, tahun 1997, halaman 40, dimana kata “al-ummi” diartikan “Yang tak dapat membaca dan menulis” dan bukan “buta huruf”.

Rekontekstualisasi makna “al-ummi” di atas, menurut penulis, lebih baik sebab di zaman sekarang “buta huruf” sudah identik dengan “bodoh” dan “terbelakang”. Apalagi ada program pemerintah dan PBB untuk memberantas buta huruf di seluruh negeri dan penjuru dunia. Oleh karena itu rekontekstualisasi makna tersebut menjadi sangat penting untuk menjaga kebesaran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang memang secara faktual memenuhi sifat-sifat wajib rasul yang meliputi: fathonah (cerdas dan tidak pelupa), shiddiq (berkomitmen tinggi terhadap kebenaran), tabligh (mau dan mampu menyampakan wahyu), dan amanah (sangat kredibel).

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Nasional, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus radio swasta maupun komunitas yang selama ini sudah eksis menyapa pendengar di wilayah Jawa Tengah, berkumpul di Radio Fast FM Magelang Ahad (30/11). Mereka membahas berbagai hal termasuk menjajaki kemungkinan untuk membentuk wadah sebagai ajang komunikasi dan silaturahmi.

Pertemuan yang diprakarsai PWNU Jawa Tengah disambut sangat antusias oleh media radio maupun televisi yang selama ini telah eksis bersiaran secara santun beraqidah aswaja. Sedikitnya 34 pimpinan radio dari 37 undangan, hadir dalam pertemuan ini.

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Sekretaris PWNU Jawa Tengah H Arja Imroni menyambut gembira atas kerelaan insan media radio dan televisi yang selama ini membantu NU menyiarkan ajaran aswaja. Karena, hingga kini PWNU Jawa Tengah belum mampu mendirikan media siaran radio maupun televisi seperti di NU Jawa Timur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Mewakili jajaran PWNU Jawa Tengah, saya menyambut gembira dan ucapan terima kasih kepada insan radio yang dengan secara tulus membantu menyiarkan ajaran aswaja," ucap Arja yang juga pengajar UIN Walisongo Semarang.

Mantan Anggota Komisioner KPID Jawa Tengah H Najahan Musyafa yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah mencatat, hingga hari ini tidak kurang dari 37 radio yang terdiri dari 27 radio swasta dan 10 radio komunitas aktif bersiaran menyapa masyarakat Jawa Tengah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Potensi besar ini, menurut Najahan, sudah seharusnya berhimpun dalam satu wadah untuk saling bersinergi baik dalam program, iklan, dan Sumber Daya Manusia (SDM).?

Pertemuan ini kemudian menyepakati sejumlah poin antara lain menyetujui pembentukan wadah jaringan radio aswaja, menugaskan tim formatur untuk menyusun pengurus dan membuat program. Mereka juga akan mengadakan pertemuan rutin di tempat masing-masing secara bergantian untuk saling mengenal radio anggota.

Hadir dalam pertemuan perdana Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah H Dian Nafi yang juga pemilik Radio Gesma FM Solo, pendiri radio Soutunna FM Purworejo KH Khalwani Nawawi, pemilik radio Fastabiq (Fast FM) Magelang KH Yusuf Chudlori dan anggota komisioner KPID Jawa Tengah Tazkiyatul Mutmainnah. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, PonPes, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Beragama secara Substantif

Agama merupakan jalan hidup (the way of life) setiap manusia yang menginginkan koneksi dengan Tuhan. Koneksi di sini bukan konotasi pragmatis, melainkan sadar bahwa Tuhan dengan segala “Maha”-Nya turun melalui ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah-Nya. Di sinilah manusia harus memahami bahwa ayat-ayat Tuhan diperuntukan bagi kebaikan segenap manusia di jagat raya, bukan semata-mata untuk kebaikan Tuhan sendiri.

Paradigma agama untuk kebaikan manusia inilah yang sering disalahartikan manusia dari berbagai golongan sehingga membuat diri dan kelompoknya merasa berhak mewakili Tuhan. Akhirnya mereka memahami agama hanya sebagai simbol, bahkan untuk melegitimasi setiap gerakannya yang tak jarang merugikan manusia secara materi maupun imateri melalui perilaku-perilaku anarkis.

Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Beragama secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)

Beragama secara Substantif

Mereka terjebak dengan pemahaman simbolik yang berdampak pada pengerdilan ajaran agama yang mulia dan adiluhung. Buku gubahan Fariz Alniezar, anak muda NU berjudul Jangan Membonsai Ajaran Islam ini merupakan potret gamblang yang memberikan argumentasi lugas terkait pemahaman agama yang kontraproduktif di atas.

Penulis buku ini berupaya memberikan pemahaman agama dari sisi lain yang ditulis secara apik dengan tidak lari dari kompleksitas kehidupan beragama yang selama berjalan, baik di lingkungan sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Di titik ini, buku setebal 156 yang terdiri dari 35 artikel renyah namun substansial ini menemukan public interest-nya. Artinya, setiap pembaca langsung mencapai rasa karena kemungkinan besar terjadi di dalam pikiran dan laku setiap harinya. Atau minimal melihat dan menyaksikan kejadian nyata yang diulas secara lugas dalam buku tersebut.

Penulis buku ini juga jernih dalam membaca kontekstualitas dengan tetap berangkat dari dinamisasi tradisi, budaya, dan pemahaman agama yang berkembang di tengah masyarakat. Substansi dalam buku ini banyak memotret sekaligus mengkritisi laku yang berkembang dari umat beragama dengan menawarkan solusi yang dibalut dengan argumen kuat.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam salah satu artikelnya berjudul ‘Berislam tanpa Menjadi Teroris’ (halaman 137), penulis buku mengawali coretan panjangnya dengan menukil Bernard Lewis yang berbunyi: Most Muslims are not fundamentalist, and most fundamentalist are not terrorist, but most present-day terrorist are muslims and proudly identify themselves as such. Dari kutipan Berbard Lewis tersebut, penulis buku ingin menunjukkan bahwa berislam tidak harus menjadi teroris. Bahkan sangat tidak manusiawi membawa panji-panji Islam sebagai legitimasi menyakiti dan membunuh orang lain.

Dari Bernard Lewis itu juga sesungguhnya menjadi pukulan telak bagi umat muslim karena kenyataannya tindakan teroris banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya beragama Islam, namun tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam berislam yang merupakan bagian integral dalam beragama. Narasi besar yang tersirat dalam kutipan tersebut adalah fundamentalisme sebagai akar dari tindakan terorisme, tetapi fundamentalis sendiri belum tentu teroris. Artinya, akar dari segala akar terorisme adalah paham fundamentalisme yang menumbuhkan radikalisme sehingga kristalisasinya adalah terorisme.

Di titik inilah penulis buku menemukan konteksnya dalam menggubah argumentasi sehingga pembaca dapat langsung memahami kondisi yang sedang berkembang dan terjadi di tengah masyarakat. Tetapi betapa sangat memilukannya karena agama Islam sendiri terstigma teroris sehingga gerakan kultural yang dilakukan oleh sebagian besar warga Nahdlatul Ulama (NU) patut didukung oleh seluruh masyarakat dalam menangkal akar-akar tindakan terorisme.

Penulis buku juga dengan apik menjelaskan istilah jihad secara filosofis yang selama ini memang banyak disalahpahami oleh sebagian kelompok agama. Penulis buku seperti yang telah ditulis dalam artikelnya (halaman 146) mengajak kepada masyarakat untuk merumuskan kembali makna jihad yang lebih tajam dan aktual untuk konteks masa dan juga konteks masyarakat plural di Indonesia.

Jika ditelaah lebih jauh, tulisnya, kata jihad merupakan satu rumpun (derivasi) dari kata jahada yang berarti berusaha (fisik). Dekat juga artinya dengan kata ijtihad, segala upaya yang lebih mengandalkan kerja otak dan intelegensia serta mujahadah, yakni usaha yang lebih menekankan pada dimansi intuitif (bathiniyah). Artinya, di titik ini bisa ditarik benang merah bahwa ideal seorang muslim (bahkan mansuai secara umum) yaitu orang yang mendayagunakan keseluruhan dimensi-dimensi spiritual tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendayagunaan dimensi-dimensi tersebut secara anakronis (separuh-separuh, setengah-setengah, sepenggal-sepenggal), berdampak pada pemahaman Islam yang juga setengah-setengah. Perilaku ini tentu akan berdampak pada tereduksinya kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan sehingga seorang tersebut menjelma menjadi manusia yang anti-budaya, anti-tradisi bahkan sampai pada titik anti-perbedaan. Dalam hal ini, muncul diktum Birds born in a cage think flying is an illness, burung yang lahir di sangkar akan berpikir bahwa terbang adalah sebuah kejahatan. Untuk itulah keterbukaan akses pemikiran dalam beragama tidak hanya teks, tetapi juga konteks yang melingkupi sehingga beragama tidak melulu simbol namun bagaimana melihat substansi nilai.

Dalam semua artikelnya, penulis buku juga berusaha ingin menyampaikan revitaliasi spiritualitas dengan tetap berpegang pada tradisi yang berkembang di masyarakat. Antara lain memaknai tradisi mudik yang dikorelasikan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian nilai kesabaran dalam berpuasa secara substantif di mana selama ini ritus-ritus tersebut hanya dipahami secara retoris bahkan munafik, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan ‘kriuk’ lainnya yang dapat memberi pemahaman kepada pembaca terkait ajaran Islam yang substantif dan inspiratif, bukan aspiratif yang hanya menggembar-gemborkan Islam secara simbolik untuk kepentingan diri dan kelompoknya.***

Identitas buku:

Judul: Jangan Membonsai Ajaran Islam

Penulis: Fariz Alniezar

Penerbit: Quanta PT Elex Media Komputindo

Tebal: x + 156 halaman

Cetakan: I, Maret 2015

Peresensi: Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Fragmen, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Desember 2017

Anjuran Bergembira di Hari Raya

Tidaklah berlebihan jika istilah Hari Raya digunakan kata ganti untuk idul fitri meskipun secara bahasa jauh berbeda, karena idul fitri bermakna kembali suci. Sedangkan hari raya adalah kata yang berhubungan dengan perasaan gembira. Meskipun keduanya dapat saling berhubungan, sebab di idul fitrilah orang-orang muslim bergembira.

Kegembiraan dalam menyambut idul fitri bukanlah sebuah kesalahan. Sebab demikianlah runutan sejarahnya sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah saw:

? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Imam Abu dawud menerangkan dari hadits sahabat Anas berkata:  pada suatu waktu Nabi datang di Madinah, di sana penduduk Madinah sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu nabi bertanya “hari apakah ini (mengapa penduduk Madinah bersuka ria?)” mereka menjawab ”dulu semasa zaman jahiliyah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria”. Kemudian Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah swt telah mengganti dalam Islam dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (idul adhha) dan hari raya fitri (idul fitri).

Anjuran Bergembira di Hari Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Bergembira di Hari Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Bergembira di Hari Raya

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah tidak melarang kegembiraan dan bersuka ria dalam kehidupan ini selama tidak berlebihan. Sebagaimana Rasulullah saw tidak memerintahkan untuk mengisi dua hari raya tersebut dengan bersuka ria. Artinya merasa senang dengan kehadiran hari raya bukanlah sesuatu yang terlarang dalam Islam, bahkan dianjurkan asalakan kegembiraan itu berlandaskan pada rasa syukur atas segala nikmat Allah swt.

Oleh karena itulah hari raya idul fitri merupakan perayaan rasa syukur umat Islam karena telah kembali berbuka setelah menyelesaikan tugas berat selama bulan Ramadhan yaitu berpuasa menahan segala nafsu dan juga hal-hal yang membataslkan puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Aisyah:

?  ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari fitri adalah hari orang-orang muslim berbuka, sedangkan hari adha adalah hari mereka menyembelih kurban.

(red. Ulil H)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2017

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) menilai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat kuat dalam integritas kebudayaan. Dia menyampaikan hal itu pada diskusi bulanan Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gusdurian, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat Jumat (04/03) di Griya Gus Dur, dengan “Gus Dur dan Kearifan Lokal”.

Nia berpendapat, kuatnya integritas Gus Dur dipengaruhi pendidikan keluarga yang berada dalam lingkup Nahdlatul Ulama (NU). Keluarga Gus Dur menghargai kearifan lokal dan tradisi Nusantara yang dalam kajian-kajian dewasa ini dikenal dengan Islam Nusantara.

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Gus Dur, masih menurut Nia, tidak hanya mendewa-dewakan ilmu pengetahuan agama Islam yang dimilikinya. Sebagai orang Jawa yang merupakan bagian dari Nusantara, menyebabkan karakter Gus Dur semakin lengkap.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karakter kebudayaan Gus Dur semacam itulah yang memengaruhi sikap, pandangan, dan tindakan politik Gus Dur sebelum, ketika, dan saat menjadi Presiden. “Saya menyaksikan proses dialog antara Gus Dur dengan teman-teman dari Papua di Istana Negara,” kenang Nia.

Gus Dur dengan pendekatan persuasif menggunakan identiatas kebudayaan. Gus Dur memperbolehkan nama Papua (sebagai nama untuk wilayah yang sebelumnya Irian Jaya).

Saat warga Papua meminta diakui lagu daerahnya, Gus Dur menyilakan mereka. Gus Dur menganggap semua suku mempunyai lagu kedaerahan, demikian juga warga Papua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Itu sebabnya sampai sekarang pun bagi warga Papua, Presiden Indonesia adalah Gus Dur. Di rumah-rumah di Jayapura, foto Gus Dur masih dipasang.

Pada bagian lain, Nia menceritakan pendapat Gus Dur terhadap Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Gus Dur melihat UU tersebut berbahaya. Soal pornoaksi dan pornografi, sudah jelas Gus Dur dan siapa pun tidak setuju dan menolak kalau ditunjukkan di depan umum.

Namun, yang Gus Dur tidak sukai adalah apabila UU tersebut akan menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pemberangusan budaya dengan penyeragaman. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Region Jatim III memasuki babak final. Laga final yang bakal dilaksanakan pada serangkaian Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Stadion? Kodam V Brawijaya,? Sabtu (10/9), mempertemukan Pesantren Bahauddin Ngelom Sidoarjo dengan Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahauddin FC vs Al-Muhajirin FC Bertemu di Final LSN Jatim III

Pertandingan laga final ini merupakan hasil pemenang dari laga semifinal yang terselenggara pada Kamis (8/9) di Lapangan Karang Pilang Surabaya, Jawa Timur, antara Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo versus Pesantren Al Muhajirin Mojokerto mendapatkan hasil 1-1. Gol dicetak oleh Ikhwan dari Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo pada menit ke-27, dan berhasil dibalas oleh Pesantren Al Muhajirin pada menit ke-44 oleh Sokep, kemudian dilanjutkan tendangan penalti dengan skor akhir 2-5 untuk Pesantren Al Muhajirin Mojokerto.

Sedangkan pertandingan semifinal yang lain, antara Pesantren Bahaudin Sidoarjo versus Pesantren Ibrohimi Gresik hingga peluit dibunyikan mendapatkan hasil akhir 2-1 untuk Pesantren Bahauddin Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gol pertama tercipta oleh santri Pesantren Bahauddin pada menit ke-11 yang bernama M. Arif, dan gol kedua tercipta pada menit ke-41 oleh Dimas, untuk itu Pesantren Al Muhajirin Mojokerto akan menantang Pesantren Bahaudin Sidoarjo di laga final.

Menurut ketua panitia H. Arifin Hamid, "Siapa pun yang akan menjadi juara pertama hasil final nanti berhak mengikuti Kompetisi LSN Tingkat Nasional yang akan digelar di Yogyakarta," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu juara pertama, kedua dan ketiga berhak mengikuti event Piala Gubernur Jatim, tambahnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

HIPSI Minta Santri Mandiri, Tak Tergantung Proposal

Pacitan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Santri Indonesia atau HIPSI menggelar pendidikan dan latihan (Diklat) Wirausaha Pesantren di Aula Rusunawa Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Jawa Timur pada Senin (12/1) siang.

HIPSI Minta Santri Mandiri, Tak Tergantung Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Minta Santri Mandiri, Tak Tergantung Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Minta Santri Mandiri, Tak Tergantung Proposal

KH Luqman Harist Dimyati dalam sambutanya merasa bangga dengan adanya diklat untuk pertama kalinya ini. Ia berharap kegiatan tersebut dapat membawa angin segar bagi kebangkitan ekonomi pesantren.

"Pondok pesantren harus kaya, harus mandiri, agar tidak mengharapkan bantuan dari luar atau mengajukan proposal kepada pemerintah," ungkap kyai muda yang tercatat sebagai wakil ketua PWNU Jawa Timur ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap setelah adanya Diklat wirausaha ini akan muncul ide baru dan kegiatan lain yang mendorong pesantren untuk aktif mengembangkan program ekonomi yang berbasis pesantren.

Sementara itu Ketua Umum HIPSI KH Muhammad Ghozali memaparkan visi dan misi organisasi yang dipimpinya. HIPSI, menurut dia, adalah wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri dan alumni  yang mandiri, mensinergikan kekuatan ekonomi santri Indonesia, menjadi katalisator peningkatan kesejahteraan umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Target kita mencetak 1 juta santri pengusaha pada tahun 2022,” kata Kiai Ghozali. Melalui HIPSI, kata dia, para santri akan dididik dan dilatih beberapa keahlian diantaranya usaha agro, IT, internet marketing, kuliner, dll.

Diklat diisi beberapa pemateri diantaranya Sulaiman, pengusaha kertas bekas dari Jombang. Mahrus Sokihin, tokoh lingkungan peraih penghargaan Kalpataru dari Pasuruan. Eko, pengusaha singkong dari Temanggung. Dan Arifin pengusaha muda dari Surabaya.

Diklat digelar atas kerja sama Robithah Maahid Islamiyah (RMI-NU) Pacitan dan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Pacitan tersebut diikuti 80 Peserta. Mereka terdiri dari para kiai, santri perwakilan pondok pesantren sekabupaten dan beberapa badan otonom NU seperti GP Ansor, Fatayat,IPNU, IPPNU serta PMII. Hadir pula pimpinan bank Mandiri,bank BNI, Dinas Koperasi dan Kementerian Agama Pacitan. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 26 November 2017

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dakwah yang bijak dan santun seperti praktik Wali Songo dan para kiai di Indonesia, diangkat dari ajaran otentik Islam yang diterapkan Nabi Muhammad SAW. Karenanya, dakwah Islam itu berbeda dengan amar makruf dan nahi munkar.

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Beda dengan Amar Makruf-Nahi Munkar

Demikian dinyatakan Wakil Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus ini dalam sarasehan Festival Wali-Wali Jawi 2014 di pendopo kabupaten Demak, Sabtu (22/2).

“Dakwah Islamiyah, tidak sama dengan amar makruf nahi munkar. Para wali dengan teliti memasukkan ajaran Islam melalui budaya yang ada,” terang Gus Mus sebagai pembicara kunci dalam sarasehan bertema “Menapak Jejak Auliya, Meneladani Kearifan Mengajak”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Mus dalam forum itu menjelaskan, cara dakwah Nabi Muhammad SAW yang diteruskan Wali Songo pada abad 14 di Pulau Jawa khususnya selalu mengedepankan kebersamaan, menggunakan pendekatan kebudayaan, dan kesenian yang berlaku.

Model dakwah ini bahkan menghindari konflik atau tersinggungnya warga setempat sehingga tujuan dakwah berhasil tanpa mengorbankan aqidah dan syari’ah. “Mereka tidak mengubah budaya lokal, tetapi mengisinya dengan ajaran Islam,” jelas Gus Mus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Festival yang berlangsung di pendopo kabupaten ini diikuti kerajaan dan pemangku makam para wali se-Jawa. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Meme Islam, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado

Manado, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama RI menggelar konferensi tahunan ilmiah internasional atau Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Manado. Kegiatan bertema “Harmoni in Diversity: Promoting Moderation and Preventing Conflicts in Socio-Religious Life” tersebut berlangsung dari Kamis (3/9) sampai Ahad (6/9).

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, AICIS di-set up untuk menjadi media saling belajar di kalangan ilmuwan. “Ini merupakan salah satu tujuan dari penyelenggaraan AICIS,” katanya.

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado

Lewat AICIS, lanjut dia, berbagai hasil penelitian dapat dibahas dan dibagi kepada ilmuwan lain. Para akademisi bisa bertukar gagasan, pikiran dan temuan-temuan terbarunya untuk didebat dan diuji oleh komunitas akademik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan begitu, lewat perhelatan ini, mereka dapat saling memperkaya gagasan, dan saling menyapa. Tidak seperti dulu-dulu, meneliti sendiri, membaca sendiri, dan menerbitkan sendiri,” ujarnya seraya menambahkan bahwa model penelitian di masa lalu harus ditinggalkan.

Dulu, ujarnya, hasil-hasil penelitian disimpan rapi dalam ruang-ruang pengap dan sunyi, tidak dibaca dan tidak dikritik, tidak pula didialogkan. Selanjutnya dia berharap, AICIS juga akan mampu memperkuat konsorsium ilmu terutama untuk penguatan dan pengembangan integrasi ilmu yang sangat penting dan merupakan amanah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

AICIS, menurut Kamaruddin, juga dimaksudkan untuk membangun jejaring intelektual bagi dosen, untuk penguatan lembaga maupun untuk peningkatan kapasitas intelektual. AICIS membuka kesempatan bagi para dosen dan peminat kajian Islam untuk melakukan joint research dengan para peneliti dalam dan luar negeri.

Dia berharap, semua paper yang dibahas dalam AICIS dapat dicetak, diterbitkan, serta disebarluaskan melalui media agar masyarakat dunia dapat ikut mengambil manfaat dari kegiatan internasional ini. “Dunia sekarang ini sedang belajar pada Indonesia yang berhasil menjalankan perikehidupan damai meski masyarakatnya plural dan majemuk. Kita berharap, hasil-hasil dari AICIS ke-15 ini sekaligus akan menjadi sumbangan bangsa Indonesia untuk dunia internasional,” kata Kamaruddin.

Sementara Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI Amsal Bakhtiar mengatakan, realitas keindonesiaan yang majemuk itu adalah sebuah keniscayaan. Bahkan menjadi rahmat dan seharusnya kita pandai-pandai mengelola Indonesia.

“Harmony in diversity. Hidup damai dalam perbedaan adalah dambaan kita semua. Hidup dengan penuh warna-warni juga sesuatu yang sangat indah,“ katanya.

Ia menambahkan, untuk penyelenggaraan AICIS tahun ini, Kementerian Agama memberikan kepercayaan kepada IAIN Manado sebagai tuan rumah. “Pemilihan Manado sebagai tempat penyelenggaraan AICIS tentulah didasari pada pemikiran bahwa Manado dalam aspek historis dan geografis memiliki keragaman budaya, agama, dan etnis,” ujarnya.

Kota Manado, lanjut dia, sejak lama dikenal sebagai kota multikultural dan multietnik namun masyarakatnya mampu menunjukkan semangat untuk selalu hidup berdampingan dalam damai.? “Bingkai kebhinnekaan terajut dengan apik di Negeri Nyiur Melambai. Torang Samua Basudara,” tambah Amsal.

Dalam pertemuan ilmiah ini, Dr. (HC) K.H. Hasyim Muzadi (anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Prof. Dr. Barney Glover (Vice Chancellor di University of Western Sidney) akan tampil sebagai keynote speaker. Selain menyimak pandangan dari kedua tokoh ini, para peserta juga akan mengikuti 4 sesi pleno dan 8 sesi paralel yang masing-masing membahas topik menarik.

Pleno pertama bertajuk “Harmony in Diversity: Contemporary Thought on Inter-Religious Dialogue” dan akan menghadirkan lima orang pembicara, yakni Prof. Dr. Phillip Buckley (McGill University), Dr. Richard Siwu (Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon), Prof. Dr. Nadirsyah Hosen (Monash University), Kevin Fogg, Ph.D (Oxford University), dan Dr. Haidar Bagir, penggagas Gerakan Islam Cinta.

Pada pleno kedua yang bertajuk “Cross Cultural Comparisons of Peace Building”, ditampilkan Prof. Dr. Riaz Hasan (Direktur International Center for Muslim and and Non- Muslim, UNISA Australia), Prof. Dr.? Kevin Dunn (Dekan School Social Science and Psychology, University of Western Sydney), Sulaiman Mapiasse, Ph.D (IAIN Manado), dan Syamsul Maarif, Ph.D (CRCS UGM).

Lantas, pada pleno ketiga, yang bertajuk “Harmony in Diversity: Social and Political Dimension of Religion and Modernity”, akan tampil Prof. Dr. Robert W. Hefner (Boston University, USA), Prof. Dr. Nawal (Canberra University), Ali Munhanif, Ph. D (UIN Jakarta), dan Prof. Dr. Karel Steenbrink (Netherland).

Terakhir, pleno ke-4 yang mengangkat bahasan mengenai “Building Sustainable Future for Islamic Higher Education”, akan menghadirkan Prof. Dr.? Imam Suprayogo, MA (UIN Malang), Prof. Dr. Kadarsyah Suryadi (Rektor ITB), Prof. Dr. Jamhari, MA (UIN Jakarta), dan Madjid Fauzi Abu Gazali, Ph.D (Yordania) sebagai pembicara.

Konferensi juga akan membahas ratusan paper yang dibawa peserta yang berkaitan dengan tema pendidikan, kewarganegaraan, dan perdamaian. Turut dibahas pula aspek syariah dalam mewujudkan moderasi Islam, teologi dalam dinamika pluralisme religius, dimensi sosial dan politik dari agama dan modernitas, serta dimensi ekonomi dalam perdamaian dan keharmonisan. Tema berikutnya adalah aspek psikologis kehidupan beragama, peran ilmu pengetahuan dalam perdamaian, serta aktivitas komunikasi dan jangkauan informasi untuk perdamaian. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

Jokowi Dukung Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi mendukung pengajian rutin ? Muslimat NU DKI Jakarta. Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi menyatakan apresiasinya terhadap gerakan sosial-keaagamaan Muslimat NU DKI Jakarta.

Dukungan itu disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta dalam sambutan peringatan maulid Nabi Muhamad SAW di muka masjid Al-Jihad kantor PWNU Jakarta Pusat, Sabtu (9/2) siang.

Jokowi Dukung Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Dukung Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Dukung Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta

Demikian dikatakan oleh Sekretaris PW Muslimat NU DKI Jakarta Maghfiroh, Sabtu (9/2) sore. Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta rutin diadakan satu kali dalam sebulan di halaman kantor PWNU Jakarta, jalan Talang nomor 3, Jakarta Pusat.

“Pengajian Muslimat NU DKI Jakarta diharapkan turut serta dengan Pemda DKI Jakarta dalam menciptakan pemberdayaan dan ketenteraman masyarakat khususnya di DKI Jakarta,” kata Jokowi yang dikutip oleh Maghfiroh.

Seperti dikutip Maghfiroh, Jokowi menambahkan bahwa Muslimat NU DKI Jakarta selama ini telah menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan sosial DKI Jakarta. Muslimat NU Jakarta belakangan melibatkan diri secara konkret dalam penanganan bencana banjir pada sebagian titik di Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Jokowi sempat menjanjikan 3 buah sepeda bagi jamaah Muslimat NU DKI Jakarta yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Gubernur, tutup Maghfiroh.

?

Foto: Jokowi ketika bersilaturrahim ke kantor PBNU

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Bahtsul Masail, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Jember,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Manusia wajib menjalankan fungsinya yang mulia, yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Sebagai abdullah, manusia dituntut beribadah kepada Allah. Sebagai khlaifatullah, manusia dituntut  untuk memperlakukan bumi dan sisinya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban Islam.

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Demikian diungkapkan Wakil Ketua PCNU Jember, KH. Misbahussalam saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus MWCNU Bangsalsari, Selasa (9/9).

Menurut H. Misbah, sapaan akrabnya, peran manusia sebagai abdulah dan khlafifatullah harus seimbang dan selaras.  "Itulah yang dimaksud dengan tawazun dalam prinsisp-prinsip NU. Dan itulah tujuan kita bergabung dengan NU; menjalankan fungsi kita sebagai abdullah dan khalifatullah," ucapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan tujuan yang kedua, tambahnya, adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan syariat Islam, sehingga selamat di dunia dan akhirat, berkumpul dengan para ulama di surga-Nya kelak. H. Misbah mengakui, point yang kedua ini terdengar klasik, tapi justru itulah yang sejatinya menjadi tujuan semua  manusia. "Kita  semua ingin sukses di dunia dan selamat di  akhirat," ucapnya.

H. Misbah menambahkan, warga nadhliyyin juga dituntut untuk membela dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dikatakannya, tegaknya NKRI tidak lepas dari usaha dan perjuagan para ulama NU. "Sehingga kita selaku warga NU, wajib menjaga keutuhan NKRI," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara pelantikan itu sendiri digelar di lapangan Curahcabe, Desa Gambirono, Kecamatan Bangsalsari, persis di depan Gedung MWCNU Bangsalsari yang baru selesai dibangun.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PCNU Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin, anggota Muslimat NU, Fatayat, GP. Anshor dan para pengasuh Pondok Pesantren se-Kecamatan Bangsalsari. Prosesi pelantikan tersebut dipimpin oleh H. Misbah. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Bahtsul Masail, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 05 November 2017

Khofifah Sebut Ada Rp63 Triliun Per Tahun untuk Narkoba

Mojokerto, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa mengingatkan bahaya narkoba kepada kelompok Muslimat NU di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, karena saat ini sehari tercatat 40-50 orang meninggal akibat narkoba.

Khofifah Sebut Ada Rp63 Triliun Per Tahun untuk Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Sebut Ada Rp63 Triliun Per Tahun untuk Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Sebut Ada Rp63 Triliun Per Tahun untuk Narkoba

"Ada Rp63 triliun uang rakyat pada tahun 2015 digunakan membeli narkoba," katanya saat menghadiri acara peringatan Isra Miraj dan peringatan Harlah Muslimat Nadhatul Ulama (NU) serta penandatanganan deklarasi Laskar Antinarkoba (LAN) di Pendopo Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Ahad.

Ia mengemukakan, saat ini bahaya narkoba yang ada di Indonesia sudah cukup meresahkan dan dengan adanya deklarasi Laskar Anti-Narkoba ini diharapkan bisa mengingatkan masyarakat tentang bahaya narkoba.

"Laskar ini nantinya akan bekerja untuk terus menyosialisasikan tentang bahaya narkoba hingga ke tingkat ranting atau yang ada di desa-desa," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menteri Sosial ini juga mengatakan mulai tingkat ranting atau desa maupun kelurahan disiapkan 3-5 anggota laskar untuk menyampaikan pesan ke masyarakat.?

"Jangan sampai terpengaruh narkoba sehingga tugas Laskar ini ya ceramah. Sebenarnya, gongnya sudah dilakukan pada 26 Maret 2016 di Stadion Gajahyana Malang yang dihadiri Presiden RI, Jokowi lalu. Kemudian, deklarasi tersebut diikuti seluruh pimpinan wilayah cabang se-Indonesia," katanya.

Pada tahap selanjutnya di Jombang akan dilaksanakan pelantikan laskar antinarkoba ini dan diharapkan akan bisa membantu pencerahan kepada warga masyarakat terhadap bahaya narkoba.

"Karena tujuan pembentukan LAN tersebut yakni sebagai bentuk kewaspadaan dan antisipasi perluasan penyalahgunaan narkoba," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 02 November 2017

PMII Jawa Timur Tagih Janji Gubernur Soekarwo

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Saat menghadiri resepsi pelantikan pengurus Pimpinan Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur (Jatim) di Balai Pemuda Suabaya, Sabtu (3/9), Gubernur Soekarwo ditagih janjinya saat kampanye pada pemilukada lalu. Acara yang juga dikemas dengan halaqoh akbar IKA PMII se-Jatim tersebut dihadiri Menpora Imam Nahrawi.

PMII Jawa Timur Tagih Janji Gubernur Soekarwo (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jawa Timur Tagih Janji Gubernur Soekarwo (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jawa Timur Tagih Janji Gubernur Soekarwo

Dalam sambutannya, Ketua PKC PMII Jatim Zainudin, berpesan kepada Gubernur Soekarwo bahwa SDM kader PMII di Jatim memiliki potensi yang bisa diandalkan. Apalagi daerah pelosok seperti di Madura. Karenanya, kader PMII siap mengawal dan memback-up bersama dari jajaran rayon hingga cabang berkenaan dengan program Pemprov Jatim.

"Saya berkata seperti ini, sebab saya masih teringat terhadap visi dan misi Pak Karwo waktu kempanye. Bahwa, Pak Karwo akan meningkatkan SDM Jawa Timur, sehingga kader PMII siap mengawal dan mendukung peningkatan SDM dalam memaksimalkan pemanfaatan SDA di Jatim," tukasnya.

Gubernur Soekarwo sendiri mengaku tidak pernah melupakan janji politiknya yang kini tertuang dalam visi dan misi pemerintahannya. Dia berjanji akan merangkul semua pihak dalam peningkatan SDM di Jawa Timur. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Pendidikan, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 30 Oktober 2017

KH Suharbillah: Senam Santri atau Santri Senam?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Di sejumlah pesantren belakangan ini mulai dikenal istilah “senam santri” yang sering dirujukkan pada olahraga senam kebugaran para santri di pagi atau sore hari. Namun, Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa mempertanyakan keabsahan pemakaian sebutan itu pada kebanyakan pesantren.

“Banyak yang menyebut senam santri, senam santri. Padahal itu senam santri tapi santri (sedang) senam?” katanya salah satu anggota dewan penasehat PSNU Pagar Nusa KH Suharbillah pada silaturahmi nasional Majelis Pendekar Pagar Nusa di Jakarta, Rabu (29/1) malam.

KH Suharbillah: Senam Santri atau Santri Senam? (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Suharbillah: Senam Santri atau Santri Senam? (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Suharbillah: Senam Santri atau Santri Senam?

Menurut sesepuh pendekar Pagar Nusa ini, apabila ingin memperagakan senam santri maka senam Pagar Nusa adalah materi gerakannya. Gerakan yang tersedia dalam Pagar Nusa tak melulu jurus silat untuk laga pertarungan melainkan juga gerakan senam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saharbillah yakin, teknik pengajaran senam Pagar Nusa tidak sesulit yang dibayangkan. Dia mengatakan, senam oleh ribuan santri di Jombang beberapa waktu lalu adalah bukti senam Pagar Nusa mudah dipraktikkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Guru-gurunya waktu itu diajarkan Cuma sebentar saja sudah bisa. Jadi bisa kita nanti adakan senam massal Pagar Nusa 100.000 santri. Kalau perlu masuk rekor Muri,” ujarnya.

Salah seorang ketua Pimpinan Pusat PSNU Pagar, Nusa Suwadi D Pranoto, menjelaskan, Pagar Nusa bisa dibedakan ke dalam tiga kategori, yakni sebagai kesenian, bela diri, dan olahraga. Gerakan-gerakan yang kini tengah disebarluaskan Pagar Nusa ke sekolah-sekolah merupakan kategori olahraga, baik untuk kompetisi atau senam.

Malam itu, para anggota Majelis Pendekar Pagar Nusa merumuskan kurikulum pelajaran pencak silat Pagar Nusa di jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 27 Oktober 2017

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Molornya penutupan Muktamar Ke-33 NU membawa berkah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya. Selain muktamirin punya waktu lebih lama bersilaturahim, pedagang punya waktu lebih lama berjualan sehingga bisa untung lebih banyak.

Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Daerah (Panda) Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), Senin (3/8/2015) malam di media center Muktamar ke-33 NU yang berada di komplek SMA 1 Jombang. Dalam konferensi pers yang dihadiri belasan wartawan dari lokal, nasional dan asing, Gus Ipul tampak ceria dan melemparkan guyonannya.

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Perputaran Uang di Jombang Selama Muktamar Rata-rata Rp 15 M Per Hari

Menurutnya, jumlah peserta dan panitia Muktamar saja  5.000 orang. Sedangkan pengunjung muktamar selain peserta dan panitia, setiap hari rata-rata berjumlah 10.000 orang. Mereka ini datang bukan karena diundang oleh panitia, melainkan “diundang” oleh NU. Mereka merasa memiliki NU, sehingga tanpa diundang oleh panitia pun mereka pasti datang. Yang penting semuanya bisa menikmati suasana kemeriahan muktamar ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jika rata-rata setiap orang berbelanja Rp 100.000 dari 15.000 orang tersebut, maka setiap harinya terjadi perputaran uang rata-rata Rp 15 miliar. Jika dipatok Muktamar berlangsung lima hari saja, ya bisa kalikan sendiri berapa jumlahnya. Ini berkah bagi pedagang dan masyarakat Jombang. Kalaupun sempat molor penutupan Muktamar dari jadwal yang sudah ditetapkan, sebenarnya ada juga untung bagi masyarakat," tutur Syaifullah.

"Panitia selain menyelenggarakan rapat-rapat, sidang-sidang agenda muktamar, juga menyediakan arena berbagai kegiatan. Seperti di GOR ada pameran, bazar, pertunjukan musik yang menampilkan Ahmad Dhani, Rhoma Irama, shalawatan dan sebagainya. Sedangkan di sejumlah pondok pesantren juga berlangsung, bazar,  diskusi dan bedah buku dari berbagai tokoh/intelektual NU," tambah Gus Ipul.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari pantauan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, berbagai kelompok/organisasi di lingkungan struktural maupun kultural NU menggelar pula banyak kegiatan. Mulai dari sebelum dibukanya Muktamar Ke-33 NU oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, hingga Senin (3/8/2015) malam. (Armaidi Tanjung/Mahbib)     

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 September 2017

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Probolinggo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo mempunyai pimpinan baru.

Hal ini menyusul dengan terpilihnya Wahyu Aminullah dan Evi Kumalasari dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU dan IPPNU Kecamatan Wonoasih di MTs Nusantara Kelurahan Sumber Taman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, Sabtu (21/1) sore.

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Dalam Konferancab yang mengambil tema “Bangkit Bersama Kader Muda” ini, Wahyu terpilih sebagai Ketua PAC IPNU Wonoasih dan Evi Kumalasari sebagai Ketua PAC IPPNU Wonoasih masa bhakti 2016-2019.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat pemilihan Ketua PAC IPPNU, muncul 2 (dua) kandidat yakni Qurrotu Ainy dengan memperoleh 7 suara dan Evi Kumalasari dengan 10 suara. Sementara 1 suara abstain. Sedangkan dalam pemilihan Ketua PAC IPNU, muncul dua kandidat Wahyu Aminullah dan Husni Mubarok. Hanya saja Wahyu Aminullah terpilih secara aklamasi dengan 16 suara.

Konferancab IPNU-IPPNU Wonoasih yang diikuti oleh komisariat dan ranting se-Kecamatan Wonoasih ini dihadiri oleh Wakil Ketua PC LP Ma’arif Kota Probolinggo yang juga Kepala MTs Nusantara M Holil, pengurus MWCNU Wonoasih, Pergunu Kota Probolinggo, jajaran alumni dan pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PAC IPNU Wonoasih Wahyu Aminullah mengungkapkan selain untuk memilih calon Ketua PAC IPNU IPPNU Kecamatan Wonoasiah masa bhakti 2017-2019, konferancab ini bertujuan mencetak kader-kader pemimpin NU di masa yang akan datang sehingga proses kaderisasi berjalan tidak stagnan.

“Terima kasih atas kepercayaan dan amanah yang telah diberikan. Semoga kami mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kegiatan ini merupakan sebuah bukti bagaimana kaderisasi IPNU tetap terjaga,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua PAC IPPNU Wonoasih Evi Kumalasari. “Konferancab ini adalah suatu bentuk keharusan yang sudah ada dalam peraturan agar kaderisasi dalam organisasi tetap berjalan terus menerus,” ungkapnya.

Setelah terpilih tugas ketua terpilih adalah dengan segera melengkapi susunan kepengurusan bersama tim formatur terpilih sesuai amanah konferancab. Dan selanjutnya segera melaksanakan pelantikan agar kepengurusannya segera disahkan.

Alumni sekaligus Pembina PC IPNU Kota Probolinggo Mashuri Nurzah mengharapkan kepada ketua terpilih agar amanah konferancab ini segera dijalankan agar organisasi berjalan sesuai dengan tupoksi. Yakni wadah kaderisasi calon generasi penerus NU ke depannya.

“Kedua, kader-kader IPNU IPPNU diharapkan mampu menjalankan program-programnya, sehingga IPNU IPPNU bisa selalu eksis mewarnai kegiatan kepemudaan di Kota Probolinggo,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 16 September 2017

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kelompok pemuda yang tergabung dari Kaligawe Online, Sciena Madani, Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) dan Kelompok Sastra dan Budaya Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, mengelar Nongkrong Kebudayaan. Kegiatan bertajuk, “kidung diserat, Puisi dibaca” ini berlangsung di halaman kampus Unissula, Semarang, Jumat (14/11).

Menurut pimpinan Kaligawe Online Dimas BP, Nonkrong Kaligawe merupakan program tahunan yang bertujuan memperkenalkan kota Semarang dan membaur kepada masyarakat.

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Nongkrong Budaya, Kelompok Pemuda Baca Kidung Puisi

Selain itu, kegiatan nongkrong budaya dimaksudkan untuk memberikan wawasan kebudayaan Nusantara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Lukni Maulana dari Sciena Madani, dunia kebudayaan khususnya sastra puisi seakan mengalami kegelapan sehingga perlu dikemas untuk diperkenalkan baik kepada masyarakat maupun kampus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nongkrong Budaya yang dikemas dengan pembacaan puisi ini dihadiri puluhan penyair, Artvelo Sugiarto (Demak), Fransiska Ambar Kristiyani (Semarang), Lukas Jono (Salatiga), Arafat Ahc (Demak), Ahmad Fauzi (Semarang) dan dimeriakan nyanyian puisi dari Sahabat Tenggang Semarang, Ruli (Sastra Undip Semarang), Puji (LKM – SA), Kang Memed (Pegiat Teater Semarang) dan Musikalisasi KSB–eSA.

“Kegiatan nongkrong budaya yang dikemas ngaji sastra rencananya akan diadakan rutin setiap bulan,” tambah Lukni. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 September 2017

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Silang sengkarut sejarah 1965, NU-PKI selalu menjadi perbincangan panas di Indonesia. Jika selama ini publik hanya mengkonsumsi Informasi dari media massa, dan beberapa wacana kiri saja, kini hadir buku putih “Benturan NU-PKI” yang menjadi jawaban dari kesekian pertanyaan penting terkait sejarah perjalanan bangsa.

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Buku putih itu menjadi topik seminar di Malang, Kamis (1/5). Punulisnya Abdul Mun’im DZ hadir. Menurutnya, masyarakat yang melek sejarah akan mengetahui dengan sendirinya jika PKI bukan satu-satunya Korban. Meski gencar diberitakan NU sebagai pelaku pembantaian, sejatinya NU sendiri adalah korban tragedi 1965.

Beberapa data sengaja disajikan dalam perbincangan hangat tersebut. Pasalnya, kesimpang-siuran informasi selama ini sengaja dilakukan untuk mendeskriditkan NU. Salah satunya penggelembungan data korban. Data yang ada lebih banyak media membesar-besarkan jumlah yang tidak rasional. “Buku ini sengaja saya tulis, sebagai rekonsiliasi yang berpijak pada kebenaran,” kata Abdul Mun’im.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu bahkan menjelaskan, pasca tragedi geger 1965, PKI-NU sebagai korban dirampas hak-haknya sebagai warga negara. NU tidak lagi boleh berpolitik, NU disingkirkan dan beberapa akses ditutup.

“Jadi yang paling berperan untuk menciptakan opini salah dan benar adalah media yang sudah disetting secara global,” paparnya di home-theater Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penulis berharap buku ini tidak hanya jawaban atas tudingan-tudingan miring pada NU, namun juga sebagai pijakan sejarah untuk anak bangsa. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah

Beirut, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebanyak 17 orang asal Indonesia yang bergabung dengan kelompok ISIS di kota Raqqa, Suriah Utara diserahkan ke perwakilan otoritas Indonesia dan telah meninggalkan Suriah.

Informasi tersebut disampaikan seorang juru bicara dan pejabat Kurdi Suriah, Rabu, sebagaimana dilansir AP, Kamis (10/8).

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah

Ketujuh belas WNI yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak itu meminta kepada otoritas setempat untuk dipulangkan. Menurut pejabat Kurdi, Omar Alloush, mereka lantas diserahkan pada Selasa kemarin di persimpangan perbatasan Suriah-Irak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kabar tentang penyerahan tersebut juga telah dikonfirmasi oleh juru bicara Unit Perlindungan Wanita Kurdi, Nisreen Abdullah, meski hingga kini identitas belasan orang itu belum terpublikasi.

Terkait hal ini Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengaku telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak berkuasa di sana, termasuk otoritas Kurdi Suriah Utara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia bercerita, dalam diskusi awal pihaknya memperoleh informasi bahwa ke-17 orang itu bukan bagian dari pasukan ISIS. Sebagian menghabiskan waktunya di penjara ISIS atau kondisi terisolasi lainnya, dan telah melarikan diri dari Raqqa dengan bantuan pihak ketiga pada 10 Juni.

(Baca: Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah)



"Komunikasi kita dengan pihak-pihak itu lebih mengarah pada situasi kemanusiaan," kata Iqbal.

Ia mencatat, keluarga tersebut juga mencakup orang usia remaja dan tiga anak kecil. "Kondisi keamanan di daerah ini begitu rumit sehingga proses penanganannya tak mudah," katanya kepada AP.

Mereka adalah satu keluarga yang tiba di wilayah ISIS pada Agustus 2015. Sebelum nekat pergi bersama-sama, mereka yang waktu itu lebih dari 20 orang menjual rumah, mobil, dan perhiasan emas untuk bekal perjalanan ke Turki lalu ke Suriah. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Sholawat, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ida Alimatun Hidayat akhirnya terpilih menjadi ketua Fatayat NU ranting Trimulyo, Kec. Sukorejo, Kendal, Jateng setelah dalam rapat anggota yang digelar di gedung TK Muslimat NU setempat  berhasil menperoleh dukungan mayoritas dari sahabat-sahabatnya, belum lama ini.



Ida Alimatun  Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Rapat Anggota yang juga dirangkai dengan Harlah Fatayat NU ke 58 itu  dihadiri oleh ketua Pengurus Ranting (PR) Muslimat NU Trimulyo Suwarti dan ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukorejo Fuadah.serta anggota Fatayat NU se-desa Trimulyo.

Dalam sambutannya ketua demisioner PR Fatayat NU, Romdlonah, S.Ag mengaku telah menyiapkan kader-kadernya untuk bisa meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh Fatayat Trimulyo. Romdhonah yang juga menjabat wakil sekretaris PAC Fatayat NU Kecamatan Sujorejo  juga berharap siapapun yang mendapat amanat dalam rapat anggaota diharapkan dapat menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan Fuadah dalam pengarahannya selaku ketua PAC Fatayat NU kecamatan Sukorejo berharap agar pengurus Fatayat NU bisa pandai membagi waktu antar tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pengurus Fatayat NU. Keduanya tidak boleh menelantarkan satu sama lainya.

Diakui oleh Fuadah,  usia-usia Fatayat adalah usia yang sangat rawan karena rata-rata anggota Fatayat masih memiliki Balita (bawah lima tahun) yang membutuhkan perhatian ektra. Oleh karenanya ia berharap jika mengikuti kegiatan Fatayat hendaknya semua pekerjaan rumah (PR ) sudah beres, sehingga baik anak maupun suami  akan ikhlas mengikuti kegiatan Fatayat, terang Fuadah yang juga bidan desa itu. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya ketua baru Fatayat NU Trimulyo Ida Alimatun Hidayat berjanji akan meneruskan program-program Fatayat terdahulu dan  dan merealisasikan progaram dulu yang  belum sempat terealisasi.

Munculnya sebagai ketua fatayat NU ranting Trimulyo ini merupakan penampilan perdananya setelah sekian lama tidak aktif di organisasi di lingkungan NU karena urusan keluarga. Sebelumnya Ida Alimatun pernah menjabat sebagai ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo. Kemudian sempat menenggelamkan diri karena untuk urusan pribadinya.(frj)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah