Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengaku senang dengan peluncuran aplikasi iShalat 30 augmented reality. Menurutnya, ini menunjukkan kalau NU tidak gagap teknologi. NU mampu menjawab tantangan zaman.

"Apakah NU mampu atau tidak menggunakan teknologi. Kita jawab, kita mampu. Untuk dakwah, untuk agama, untuk ibadah, untuk pendidikan," kata Kiai Said saat memberikan sambutan pada acara peluncuran aplikasi iShalat 30 Augmented Reality di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat

Ia mengingatkan, teknologi merupakan sarana yang bisa mengandung dampak positif dan negatif.

"Mudah mudahan mari kita perbanyak kandungan positifnya. Sangat bermanfaat (aplikasi iShalat ini) Masyaallah," kata Kiai Said senang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, keberadaan aplikasi ini mempermudah dan efektif untuk orang-orang yang mau melakukan pelatihan shalat. "(Teknologi) ini sudah tingkat tinggi ini," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai kelahiran Kempek ini pun meminta nahdliyin agar tak ketinggalan teknologi. "Ini merupakan tantangan teknologi digital ini," kata Kiai Said.

Hadir pada acara peluncuran aplikasi iShalat 30 augmented reality ini, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman, Bendahara Umum H Ing Bina Suhendra, Ketua LTM PBNU KH Mansyur Syaerozi, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Nahdlatul Ulama, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Februari 2018

Lakpesdam NU Malang Adakan Penguatan Kapasitas Pengurus Baru

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Malang, Jawa Timur menggelar upgrading (peningkatan kapasitas) pengurus baru, Sabtu (19/2) bertajuk Reinforcement peran Lakpesdam bagi internal NU dan masyarakat Kabupaten Malang.

Lakpesdam NU Malang Adakan Penguatan Kapasitas Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Malang Adakan Penguatan Kapasitas Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Malang Adakan Penguatan Kapasitas Pengurus Baru

Dalam acara tersebut, Lakpesdam Kabupaten Malang melakukan berbagai pembacaan atas problematika kekinian yang tengah dihadapi oleh umat di Kabupaten Malang. Adapun tempat diselenggarakannya forum ilmiah ini di Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA Malang).

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut antara lain, Abdul Basith (Pengurus Pusat Lakpesdam PBNU), Ahmad Atho’ Lukman Hakim (Intelektual Muda NU Kabupaten Malang), dan Hasan Abadi (Rektor UNIRA Malang).

Dalam Sambutannya, Ketua Lakpesdam NU Kab. Malang, Taufiqi menyampaikan, Lakpesdam akan mensinergikan berbagai produk pemikiran dan hasil-hasil risetnya dengan berbagai lembaga NU. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Lakpesdam harus siap memberikan suport data dan hasil olah pikirnya demi pengembangan dan kepentingan Nahdlatul Ulama,” jelas Taufiqi.

Senada dengan Taufiqi, Ketua PCNU Kabupaten Malang, Umar Usman juga mengutarakan pentingnya suport pengetahuan, pemikiran, dan data base bagi pengembangan NU, dan itu merupakan tugas yang diemban oleh Lakpesdam. 

Berbagai pemikiran strategis muncul dalam forum ilmiah ini, misalnya narasumber dari Lakpesdam PBNU, Abdul Basith mengingatkan kepada pengurus di daerah agar cerdas dalam menyikapi beragam isu strategis (sosial, politik, ekonomi, advokasi kebijakan, hingga soal bagaimana pengembangan teknologi terbarukan). 

Menurut dia, Lakpesdam perlu terbuka dalam pemikiran serta responsif dengan problematika umat. Lakpesdam harus giat dalam menggelar FGD-FGD dan pengumpulan data base dari hasil-hasil kajian yang telah dilakukan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pengurus pusat sendiri, kini tengah menggodok konsepsi Fiqih Energi agar NU juga dapat hadir merespon persoalan-persoalan energi di tanah air,” ungkap Basith.

Narasumber berikutnya, Ahmad Atho’ Lukman Hakim dalam membaca problematika di kabupaten Malang, memberikan tawaran peran yang dapat diambil oleh lembaga ini, diantaranya, Peran kepemimpinan ide, Peran supporting data, Peran suporting kaderisasi, dan Advokasi kebijakan.

Menurut Gus Atho, Lakpesdam perlu mengkaji dan menyikapi berbagai kebijakan publik yang tidak pro rakyat seperti menjamurnya ijin pendirian ritel moderen serta tata kelola sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan. 

Terakhir, Hasan Abadi (Rektor Unira Malang) berpesan, kekayaan pemikiran yang dimiliki oleh Lakpesdam harus dapat didaratkan sedemikian rupa agar sisi kemanfaatannya benar-benar dapat dirasakan oleh umat. 

Lakpesdam harus mampu mengkritisi berbagai persoalan kemasyarakatan, tidak hanya soal keagamaan. Isu-isu lingkungan dan ekonomi kerakyatan juga harus memperoleh porsi yang lebih dalam kajian Lakpesdam.

Dalam acara tersebut, Rektor Unira Malang secara resmi memberikan beasiswa kepada PCNU Kabupaten Malang, berupa 99 beasiswa yang akan diberikan kepada para aktivis NU dengan beasiswa 50 persen dari besaran biaya pendidikan. (Muhamad Imron/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Nahdlatul Ulama, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementeria Agama akan memfasilitasi siswa Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Trate Putra Gresik Noval Ilham Arfiansyah untuk menjadi salah satu wakil Indonesia, di ajang Olimpiade Matematika tingkat internasional pada Juli 2016 di Singapura mendatang.

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Bantu Siswa MINU Ikut Olimpiade Matematika di Singapura

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan memastikan kalau Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag akan menanggung biaya untuk mengikutsertakan Noval pada ajang ilmiah bergengsi itu.

"Kemenag sudah menyiapkan anggaran untuk memfasilitasi para siswa berprestasi untuk mengikuti ajang olimpiade internasional," tegas M. Nur Kholis di Jakarta, Kamis (5/5) melalui rilis pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

"Bahkan siswa madrasah yang menjadi pemenang Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI juga akan difasilitasi keberangkatannya ke Arizona (Amerika)," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut M Nur Kholis, Kementerian Agama selama ini berkomitmen untuk terus memudahkan akses para siswa madrasah dalam meraih prestasi. Pada saat yang sama, Kemenag juga terus meningkatkan kualitas pendidikan madrasah untuk memastikan para siswanya mendapat pendidikan berciri khas Islam yang bermutu.

Karenanya, lanjut Nur Kholis, dalam beberapa tahun terakhir banyak prestasi yang diraih para siswa madrasah. Bahkan, tidak sedikit siswa madrasah yang diterima di beberapa perguruan tinggi ternama, baik di dalam negeri, Jepang, maupun Eropa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Diversifikasi madrasah dan pendirian Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di berbagai daerah menjadi bukti kehadiran Kemenag dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat," kata sosok yang juga tercatat sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sebelumnya, diinformasikan di salah satu media bahwa Noval Ilham Arfiansyah terancam batal ikut Olimpiade Matematika di Singapura. Pasalnya, pihak keluarga maupun jajaran pengurus dan pengajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Trate Putra Gresik, Jawa Timur, tidak punya dana untuk membiayai kepergiaan Noval mengikuti kejuaraan tingkat Internasional tersebut.

"Dana yang dibutuhkan itu mencapai sekitar Rp 15 juta, sementara pihak sekolah tidak mempunyai dana sebesar itu. Kalau nanti tidak ada pihak dari luar sekolah yang bersedia membiayai, terpaksa Noval tidak bisa ikut," kata Kepala Sekolah MINU Trate Putra Gresik Huda Arifin.

Selain Noval ada satu lagi siswa MINU Trate Putra Gresik yang berhasil menjadi wakil Indonesia di Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut. Ia adalah Tangguh Achmad Fairuzzabady. Namun berbeda dengan Noval, orangtua Tangguh telah menyatakan sanggup menyediakan dana pribadi bagi anaknya dalam mengikuti Olimpiade Matematika tingkat internasional di Singapura tersebut.

“Kalau Tangguh, kemungkinan besar akan bisa berangkat mengikutinya, karena orangtuanya memang cukup mampu dan berada, sementara Noval tidak,” ucap Huda.

Noval dan Tangguh berhak mewakili Indonesia di ajang tersebut setelah mencatat prestasi apik di Kompetisi Matematika Nalaria Realistik se-Indonesia (KMNR) ke-11 tingkat SD/MI yang digelar oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Gedung Widya Wisuda Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga Bogor, bulan lalu. Tangguh membukukan medali perak, sementara Noval menyabet perunggu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Membaca kata-kata Gus Mus, dalam Saleh Ritual dan Saleh Sosial, seperti menari; ada keluwesan dan kebernasan kalimat yang tak kita dapati dalam pada aspek “di luar kata-kata tulis Gus Mus”. Kebijaksanaan kiai sepuh dan ritmisitas kepenyairannya melebur menjadi satu dan membuat kita lena, bahkan sejak awal pengantar, bagaimana kesederhanaan, dengan anehnya, dapat berpadu dengan “kemewahan” sebuah nasehat.

Gus Mus, dalam pengantarnya berjudul Takdim, mengesankan beliau telah melampaui yangfana; tentang bagaimana beliau menegaskan bukan sekadar tidak sempat, tetapi tidak bisa membikin artikel yang panjang dan “serius”; maka kebanyakan tulisan di Saleh Ritual dan Saleh Sosial pun hanya berupa catatan-catatan pendek tentang perjalanan hidup. Beliau lebih berharap buku tersebut bisa menjadi amal ibadah. Sebuah espektasi yang tidak neko-neko.

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaleh Ritual dan Sosial Menurut Gus Mus

Tetapi, yang pendek-pendek itu tidak selalu pas diasosiasikan dengan tidak dalam, jelentreh, rigid. Justru, oleh Gus Mus, sesuatu yang pendek itu pas dan akan malah berasa berlebihan bila dipanjang-panjangkan. Seolah tak ada pretensi menasehati, menulis artikel untuk “mengejar sesuatu”—semisal pengakuan, honor, atau popularitas. Beliau menulis sekadar berbagi, laiknya nuturicucunya, tetapi semua seakan bermula dari keresahan yang dalam.

Kesederhanaan itulah yang kemudian rasanya akan lebih mudah diterima pembaca.Tidak ada berondongan dalil, yang kadang-kadang membuat pembaca-sambil-lalu jengah seakan “digurui”. Gus Mus bercerita, dengan kepiawaian seorang cerpenis, ihwal perumpamaan Al-Ghazali tentang posisi hati nurani, akal, anggota tubuh manusia, serta aturan agama dalam menjalankan fungsi hidup. Apakah kita sudah benar memposisikan semuanya.

Gus Mus juga lebih menggunakan tamsil-tamsil sederhana yang dilandasi atau dipungkasi satu-dua dalil, sehingga kita merasa ringan dan teredukasi (baca: terhibur) ketika membacanya. Seperti perumpamaan olahan tanah liat—dan keliatannya—sebagai representasi manusia dan api sebagai analogi setan. Juga, pada tulisan berjudul Pakaian, Gus Mus menunjukkan pengetahuannya tentang dunia mode, selaras dengan pakaian Gus Mus yang nyaris selalu modis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saleh Ritual dan Saleh Sosial,rasa-rasanya, pada beberapa tulisan juga begitu ensiklopedis. Contohnya tulisan berjudul Nabi yang Manusia. Gus Mus mampu menjelaskan sisi-kemanusiaan-nabi (humornya, jengkelnya, moderasinya) dengan begitu lancar, sebab boleh jadi pengetahuan yang kemudian diungkapkannya itu merupakan kristalisasi khazanah yang sudah mengendap lama di dalam pikir, sehingga sajiannya pun ringkas tetapi mantab.

Metode kritiknya pun menunjukkan kesepuhan dan barangkali sulit ditiru. Seperti dalam tulisan Kurban dan Korban. Ada kritik terselubung, yang membuat pembaca tidak berasa ditunjuk, tetapi kesadaran bahwa kita dikritik, uniknya, justru datang dari diri kita sendiri. Gus Mus menulis, Nabi Ibrahim rela mengorbankan apa yang menurut semua manusia bakal sulit dikorbankan: nyawa putranya. Berbeda dengan kita yang meski cuma mengurbankan kambing saja masih sering menyisakan pamrih.

Banguna kritik yang bertebaran di buku ini, seperti ketika Gus Mus membandingkan Rab’iah al-Adawiyah yang tidak takut neraka tetapi begitu takut bila tidak dicintai Allah dengan betapa kita takut pada kematian dalam tulisan berjudul Apabila Allah Mencintai Hambanya, membuat kita berpikir—alih-alih menentang;“itu-kan-nabi”, “itu-kan-sufi”—betapa kita, sebab kadar keimanan dan ketakwaan yang hari ini masih begini-begini saja, harus bisa mencontoh beliau-beliau itu.

Dalam kadar tertentu, beberapa tulisan bahkan terasa sangat instropektif, membuat kita merenung lama, bepikir, dan boleh jadi sampai menitikkan air mata. Seperti ketika membaca Dosa Besar, kita berpikir apakah selama ini kita adalah orang yang takabur—dengan keluasan makna sebagaimana disampaikan Gus Mus. “Orang yang berbuat dosa karena meremehkan dosa adalah orang yang takabur,” tulisnya di halaman 66. Sedang takabur adalah “dosa pertama” yang tak termaafkan.

Beberapa tulisan dalam buku ini juga menunjukkan semacam pemberontakan terhadap kemapanan, kritis konstruktif yang, “khas anak muda”. Paradigmanya masih sama: kemanusiaan. Atau, betapa Islam adalah agama yang mudah dan sangat manusiawi. Selain memotret sisi kemanusiaan Nabi Muhammad SAW dalam Nabi yang Manusia, Gus Mus juga membongkar anggapan puasa-lebih-utama dengan tanpa mengurangi pengakuan akan keagungan ibadah tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam tulisan Selamat Makan, Gus Mus mengatakan, “…di Al-Qur’an sendiri, ‘perintah’ makan lebih dari tiga puluh kali difirmankan Allah. Bandingkan dengan ‘perintah’ puasa yang tidak sampai lima kali (bahkan yang menggunakan bentuk amar cuma dua kali),” tulisnya di halaman 86.Paradoks. Pasalnya, di awal tulisan, Gus Mus membeberkan stigma yang terbangun yang terangkum dalam ujaran: kau ini, makan saja yang kau pikirkan—seolah makan identik dengan aib.

Pula di dua tulisanDalih dan Dalil dan Ghairah yang relevan dengan kondisi kekinian, di mana banyak orang yang melegitimasi (mendalihkan) perspektifnya atau lebih mencenderungi dalil yang “menguntungkan” diri dan “merugikan” liyan. Meski, kita tahu, tentu saja tidak ada yang salah dari sebuah dalil. Kemudian Gus Mus mengusulkan jalan tengah; bagaimana kalau dalil yang biasanya dijadikan legitimasi tersebut dibalik.

“Misalnya, dalil tentang keharusan taat kepada pimpinan, biar rakyat saja yang me-‘wirid’-kannya, para pemimpin dan penguasa biar me-‘wirid’-kan dalil tentang kewajiban pemimpin dan penguasa untuk jujur dan adil. Dalil kehebatan lelaki biar dipegangi kaum wanita saja; dalil keagungan wanita biar dipegang kaum lelaki,” tulis Gus Mus di halaman 103. Dengan begitu maka akan terwujud suasana saling memperbaiki diri, guyub, dan bukannya saling menuntut.

Dalam Ghairah, Gus Mus mengumpamakan agama adalah istri. Kepada agama, sebagaimana kepada istri, kita mempunyai ghairah yang kuat, sebab adanya cinta yang begitu dalam. Tetapi, ghairah tersebut bisa juga lebih dekat kepada nafsu dan menegasikan akal sehat manakala kita tidak bisa menguasainya. Fanatisme yang tidak dilandasi dengan logika-aqli, objektivitas, dan cenderung fobia terhadap “mereka” yang tidak sama dengan “kita” adalah biangnya.

Maka Gus Mus menutup tulisan tersebut dengan firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum” di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:8)

Data buku:

Judul buku : Saleh Ritual Saleh Sosial

Penulis : KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Penerbit : DIVA Press

Cetakan : 2016

Tebal : 204 halaman

Peresensi: Syamsul Badri Islamy, Ketua LTN NU Kota Bekasi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 Januari 2018

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia

Makkah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Imam dan Khatib Masjidil Haram yang juga Ketua Umum Pengurus Masjidil Haram Makkah dan Masjidin Nabawi Madinah Abdurrahman as-Sudais mengatakan, haji bukanlah ajang politik atau sektarianisme, melainkan wahana persatuan antarumat Islam.

Ia mengatakan hal tersebut dalam sebuah simposium haji di Makkah, seperti dilaporkan Arab News, Ahad (27/8). Simposium ini, katanya, digelar untuk mengampanyekan semangat perdamaian haji dan memposisikan Kabah dan Masjid Nabawi sebagai simbol perdamaian.

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Masjidil Haram: Haji Ajang Tebar Perdamaian ke Seluruh Dunia

Menurut as-Sudais, dunia sedang didera kekerasan terorisme, dan sektarianisme. Padahal, keadilan, keamanan dan perdamaian merupakan tujuan seluruh agama dan pesan ilahi.

"Perdamaian seharusnya menjadi dasar hubungan antara masyarakat, kelompok dan negara," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haji, imbuh as-Sudais, adalah momen tepat bagi dunia untuk menyaksikan umat Islam berkumpul, setara dalam hak dan kewajiban, dan diliputi suasana damai dan cinta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Al-Sudais mengajukan sejumlah rekomendasi, di antaranya soal publikasi ensiklopedia global tentang perdamaian menurut Islam dalam semua bahasa. Selain merekomendasikan musim haji kali ini sebagai momen menyebarkan semangat perdamaian di kalangan umat Islam, as-Sudais juga mengusulkan berdirinya pusat penelitian khusus di universitas yang peduli dengan perdamaian.

Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Mohammed Salih Bentin berharap simposium tersebut akan meningkatkan pesan moderasi, nilai-nilai positif Islam, persaudaraan, perdamaian, dan persatuan antara umat Islam dan kemanusiaan secara keseluruhan.

Ia mengatakan, jumlah jemaah haji sejauh ini mencapai 1,6 juta orang, dan diperkirakan akan menembus angka 2 juta pada hari Arafah. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih

Purwakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memiliki cara unik dan keluar dari pakem peraturan protokoler dalam acara Salat Tarawih Keliling, Selasa (7/6) malam di Kampung Pareang, Kiarapedes, Purwakarta. Dedi membawa gerobak mie ayam agar dapat dinikmati oleh seluruh jemaah masjid setempat sehabis menjalankan ibadah salat tarawih.

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Bupati Puwakarta dan Jamuan Gratis Selepas Shalat Tarawih

Dedi mengungkapkan, sejak menjadi bupati, ia tidak pernah membuat konsep formal untuk tarawih keliling. Bahkan dia mengaku sudah tidak bisa mengingat lagi berapa jenis makanan yang pernah dia bawa untuk Tarawih keliling kampung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Berkunjung ke desa itu lebih enak dadakan. Sambil ngabuburit menunggu buka puasa kami sudah ada di sana. Kemudian setelah salat Tarawih mereka semua bisa menikmati makanan yang kami sajikan di halaman masjid," kata Dedi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa malam Dedi membawa gerobak mie ayam dengan kapasitas 500 porsi ke Kampung Pareang, Kiarapedes. Tak butuh lama untuk mengosongkan gerobak tersebut karena setelah salat tarawih gerobak itu langsung diserbu warga dan anak?anak. "Syaratnya, tarawihnya harus sampai selesai, 23 rakaat dengan salat witir dan doa. Baru boleh dapat satu boks mie ayam," ujar Bupati yang akrab disapa Kang Dedi ini.

Dedi menilai cara ini sangat efektif untuk menjadikan masjid agar penuh oleh jemaah, terutama anak?anak. Melalui cara ini, kata dia, tidak perlu membebankan kepada pihak desa agar menyediakan konsumsi untuk dirinya karena dia membawa makanan sendiri bahkan satu gerobak. "Anak?anak jadi mau ke masjid. Karena target utamanya menanamkan pendidikan kepada anak maka mereka kan senangnya dikasih hadiah. Nak, oke, kita beri hadiah, tapi salat Tarawih dulu sampai selesai," kata Dedi. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Nahdlatul Ulama, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. MA Walisongo Pecangaan mewakili LP Maarif NU Jepara mengikuti Lomba Perpustakaan tingkat SMA/ MA se-Jepara yang diselenggarakan Perpustakaan Daerah kabupaten Jepara medio bulan ini. Lomba rencananya diikuti 6 sekolah, 3 SMA Negeri 3 lainnya sekolah swasta. 

Untuk menghadapi lomba persiapan sudah dilaksanakan. Hal itu terlihat dengan semakin giatnya pustakawan dalam melengkapi administrasi serta semakin banyaknya siswa yang mengunjungi tempat tersebut.

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakili Maarif NU, MA Walisongo Ikuti Lomba Perpustakaan

Perpustakaan yang dibangun diatas bangunan mushola MA Walisongo memang menarik selain dipenuhi dengan ribuan koleksi, baik buku pelajaran maupun yang lainnya, perpustakaan juga dilengkapi dengan sarana komputer dan internet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nur Sahid, salah satu pustakawan mengatakan bahwa perpustakaan MA Walisongo telah siap untuk menghadapi penilaian dari Perpusda Jepara. “Perpustakaan MA Walisongo Pecangaan tidak melakukan persiapan khusus namun hanya menata serta menginventarisir kembali buku-buku baru yang belum masuk dalam daftar inventaris perpustakaan,” katanya.

Sahid menjelaskan mulai tahun ini perpustakaan mulai menggunakan aplikasi perpustakaan elektronik meskipun programnya belum dijalankan secara penuh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mulai minggu kemarin komputer server yang ada di perpustakaan ini telah diberikan aplikasi perpustakaan elektronik yang fungsinya sebagai pusat data jumlah bahan bacaan yang ada namun aplikasinya perlu untuk disempurnakan lagi,” imbuhnya.

Kepala Madrasah Drs Rohmadi mengungkapkan lomba tersebut tidak dimaknai sebagai persaingan untuk merebutkan juara namun hanya semata-mata sebagai motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan di perpustakaan. “Kegitan tersebut merupakan motivasi untuk meningkatkan pelayanan serta fasilitas yang ada di perpustakaan,” pungkasnya. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Nahdlatul Ulama, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) berpandangan, kemajuan ilmu pengetahuan di bidang astronomi dan ilmu hisab diperoleh dari hasil kegiatan rukyat atau observasi benda-benda langit. Rukyat yang berkelanjutan terus mengawal proses peningkatan temuan mutakhir hingga nyaris sempurna. Untuk seterusnya, selain sebagai muasal, rukyat sekaligus menjadi sarana koreksi bagi metode hisab.

Menurut Pengurus Pusat LFNU KH A Ghazalie Masroeri, dalam penentuan awal bulan Qomariyah metode hisab digunakan NU sebagai pendukung. Posisi ini dilakukan untuk menghasilkan rukyat yang berkualitas. Ilmu hisab akan kian maju dan akurat ketika penyokong utamanya adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal atau rukyat.

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

“Rukyat dan hisab laksana dua sisi keping mata uang.  Dan temuan-temuan yang diperoleh melalui rukyat itu menjadi sarana koreksi terhadap hitungan hisab,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keputusan LFNU dalam banyak hal telah melibatkan metode hisab baik tentang ketentuan kalender Qamariyah maupun jadwal shalat. Bahkan, selain berjibaku dengan penghitungan rumit itu, LFNU menfungsikan sejumlah perangkat canggih untuk menyempurnakan tingkat akurasi kesimpulan yang diambil.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti diketahui, LFNU telah merancang, merakit, dan memproduksi sebuah instalasi observatorium keliling (al-marshadu al-falaki al-jauli) atau dikenal dengan sebutan NUMO (NU Mobile Observatory, sekaligus singkatan dari Nusantara Mobile Observatory).

NUMO dilengkapi alat-alat tradisional dan modern, dapat berpindah tempat, serta berfungsi untuk ruyat awal bulan, rukyat bulan tua, observasi manzilah bulan, dan observasi benda-benda langit lainnya, seperti matahari, merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, gugus bintang, bright nebula, dan meteor.

Redaktur    : Mukafi NIam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 06 Desember 2017

Satkornas Banser: Toleransi Beragama Jangan Tercederai

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menegaskan Indonesia adalah negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila yang mengakui adanya perbedaan agama sehingga tidak boleh tercederai sebagaimana insiden terjadi di Kaburaga, Kabupaten Tolikara, Papua.

Berkaitan dengan insiden dimaksud, Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni melalui rilis diterima Senin (20/7) mengeluarkan delapan pernyataan.

Satkornas Banser: Toleransi Beragama Jangan Tercederai (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkornas Banser: Toleransi Beragama Jangan Tercederai (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkornas Banser: Toleransi Beragama Jangan Tercederai

1. Satkornas Banser, mengutuk dengan keras dan sungguh perbuatan yang dapat diindikasikan melanggar HAM, terhadap pelarangan melaksanakan ibadah sholat idul fitri, apalagi sampai terjadi pembakaran masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

2. Terdapat indikasi indikasi memecah rasa persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama di tanah Papua, bahkan indikasi memecah belah rasa berbangsa dan bernegara.

3. Mendesak kepada pemerintah utamanya kepolisian untuk secepat-cepatnya mengusut secara tuntas kasus tersebut dengan sejujur-jujurnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

4. Meminta kepada para elit pemerintah dan elit negara untuk tidak menjadikan komoditas politik terhadap kasus tersebut, apalagi hanya dijadikan bahan kampanye dengan tujuan popularitas elit-elit tertentu.

5. Negara wajib meningkatkan kemampuan deteksi dini dan kewaspadaan dini agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi.

6. Meminta kepada tokoh dan pemangku kepentingan untuk tidak memasukkan agenda internasional yang terselubung di bumi Papua, guna memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok.

7. Mengharap kepada tokoh agama apapun, khususnya di Papua untuk betul-betul menjadikan toleransi dan keberagaman menjadi perilaku yang nyata di tengah tengah masyarakat, bukan hanya sebagai "jargon" saja.

8. Khusus bagi anggota Banser, rapatkan barisan, tingkatkan kemampuan deteksi dini dan kewaspadaan dini, guna langkah antisipasi kasus serupa di sekeliling kita. Selanjutnya, sebagai bahan evaluasi program bantuan keamanan kepada umat agama lain, agar toleransi dan keanekaragaman yang kita kembangkan tidak tercederai.

Terpisah, Ketua PC GP Ansor Waykanan Lampung Gatot Arifianto menambahkan, tidak ada pelangi jika hanya ada satu warna, hijau, biru, merah, atau kuning semata.

"Perbedaan warna memang sudah digariskan. Jika tidak, apakah pelangi diciptakan dengan terpaksa oleh-Nya? Hal tersebut tentu mustahil, dan jangan diingkari, demikian pula perbedaan keyakinan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gus Dur jauh-jauh hari sudah mengingatkan, mayoritas harus melindungi minoritas," ujar penggiat Gusdurian di Lampung itu pula.

Insiden di Tolikara menurut pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu harus dilihat dari kacamata hukum. "Dengan demikian, bolehkah ada pembiaran atas tindakan anarkis di Bumi Bhineka Tunggal Ika ini?" ujarnya. (Tedy Heriyanto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado

Manado, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama RI menggelar konferensi tahunan ilmiah internasional atau Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Manado. Kegiatan bertema “Harmoni in Diversity: Promoting Moderation and Preventing Conflicts in Socio-Religious Life” tersebut berlangsung dari Kamis (3/9) sampai Ahad (6/9).

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, AICIS di-set up untuk menjadi media saling belajar di kalangan ilmuwan. “Ini merupakan salah satu tujuan dari penyelenggaraan AICIS,” katanya.

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Kajian Islam Ke-15 Digelar di Manado

Lewat AICIS, lanjut dia, berbagai hasil penelitian dapat dibahas dan dibagi kepada ilmuwan lain. Para akademisi bisa bertukar gagasan, pikiran dan temuan-temuan terbarunya untuk didebat dan diuji oleh komunitas akademik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan begitu, lewat perhelatan ini, mereka dapat saling memperkaya gagasan, dan saling menyapa. Tidak seperti dulu-dulu, meneliti sendiri, membaca sendiri, dan menerbitkan sendiri,” ujarnya seraya menambahkan bahwa model penelitian di masa lalu harus ditinggalkan.

Dulu, ujarnya, hasil-hasil penelitian disimpan rapi dalam ruang-ruang pengap dan sunyi, tidak dibaca dan tidak dikritik, tidak pula didialogkan. Selanjutnya dia berharap, AICIS juga akan mampu memperkuat konsorsium ilmu terutama untuk penguatan dan pengembangan integrasi ilmu yang sangat penting dan merupakan amanah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

AICIS, menurut Kamaruddin, juga dimaksudkan untuk membangun jejaring intelektual bagi dosen, untuk penguatan lembaga maupun untuk peningkatan kapasitas intelektual. AICIS membuka kesempatan bagi para dosen dan peminat kajian Islam untuk melakukan joint research dengan para peneliti dalam dan luar negeri.

Dia berharap, semua paper yang dibahas dalam AICIS dapat dicetak, diterbitkan, serta disebarluaskan melalui media agar masyarakat dunia dapat ikut mengambil manfaat dari kegiatan internasional ini. “Dunia sekarang ini sedang belajar pada Indonesia yang berhasil menjalankan perikehidupan damai meski masyarakatnya plural dan majemuk. Kita berharap, hasil-hasil dari AICIS ke-15 ini sekaligus akan menjadi sumbangan bangsa Indonesia untuk dunia internasional,” kata Kamaruddin.

Sementara Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI Amsal Bakhtiar mengatakan, realitas keindonesiaan yang majemuk itu adalah sebuah keniscayaan. Bahkan menjadi rahmat dan seharusnya kita pandai-pandai mengelola Indonesia.

“Harmony in diversity. Hidup damai dalam perbedaan adalah dambaan kita semua. Hidup dengan penuh warna-warni juga sesuatu yang sangat indah,“ katanya.

Ia menambahkan, untuk penyelenggaraan AICIS tahun ini, Kementerian Agama memberikan kepercayaan kepada IAIN Manado sebagai tuan rumah. “Pemilihan Manado sebagai tempat penyelenggaraan AICIS tentulah didasari pada pemikiran bahwa Manado dalam aspek historis dan geografis memiliki keragaman budaya, agama, dan etnis,” ujarnya.

Kota Manado, lanjut dia, sejak lama dikenal sebagai kota multikultural dan multietnik namun masyarakatnya mampu menunjukkan semangat untuk selalu hidup berdampingan dalam damai.? “Bingkai kebhinnekaan terajut dengan apik di Negeri Nyiur Melambai. Torang Samua Basudara,” tambah Amsal.

Dalam pertemuan ilmiah ini, Dr. (HC) K.H. Hasyim Muzadi (anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan Prof. Dr. Barney Glover (Vice Chancellor di University of Western Sidney) akan tampil sebagai keynote speaker. Selain menyimak pandangan dari kedua tokoh ini, para peserta juga akan mengikuti 4 sesi pleno dan 8 sesi paralel yang masing-masing membahas topik menarik.

Pleno pertama bertajuk “Harmony in Diversity: Contemporary Thought on Inter-Religious Dialogue” dan akan menghadirkan lima orang pembicara, yakni Prof. Dr. Phillip Buckley (McGill University), Dr. Richard Siwu (Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon), Prof. Dr. Nadirsyah Hosen (Monash University), Kevin Fogg, Ph.D (Oxford University), dan Dr. Haidar Bagir, penggagas Gerakan Islam Cinta.

Pada pleno kedua yang bertajuk “Cross Cultural Comparisons of Peace Building”, ditampilkan Prof. Dr. Riaz Hasan (Direktur International Center for Muslim and and Non- Muslim, UNISA Australia), Prof. Dr.? Kevin Dunn (Dekan School Social Science and Psychology, University of Western Sydney), Sulaiman Mapiasse, Ph.D (IAIN Manado), dan Syamsul Maarif, Ph.D (CRCS UGM).

Lantas, pada pleno ketiga, yang bertajuk “Harmony in Diversity: Social and Political Dimension of Religion and Modernity”, akan tampil Prof. Dr. Robert W. Hefner (Boston University, USA), Prof. Dr. Nawal (Canberra University), Ali Munhanif, Ph. D (UIN Jakarta), dan Prof. Dr. Karel Steenbrink (Netherland).

Terakhir, pleno ke-4 yang mengangkat bahasan mengenai “Building Sustainable Future for Islamic Higher Education”, akan menghadirkan Prof. Dr.? Imam Suprayogo, MA (UIN Malang), Prof. Dr. Kadarsyah Suryadi (Rektor ITB), Prof. Dr. Jamhari, MA (UIN Jakarta), dan Madjid Fauzi Abu Gazali, Ph.D (Yordania) sebagai pembicara.

Konferensi juga akan membahas ratusan paper yang dibawa peserta yang berkaitan dengan tema pendidikan, kewarganegaraan, dan perdamaian. Turut dibahas pula aspek syariah dalam mewujudkan moderasi Islam, teologi dalam dinamika pluralisme religius, dimensi sosial dan politik dari agama dan modernitas, serta dimensi ekonomi dalam perdamaian dan keharmonisan. Tema berikutnya adalah aspek psikologis kehidupan beragama, peran ilmu pengetahuan dalam perdamaian, serta aktivitas komunikasi dan jangkauan informasi untuk perdamaian. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil Ketua PCNU Jepara, Hisyam Zamroni yang didaulat membuka kegiatan presentasi lomba menulis opini yang dihelat LTN PCNU Jepara, Rabu (23/3) lalu memantik 10 peserta terbaik tersebut.?

“Kalian adalah salah satu penerus budaya tulis-menulis. Karena saat ini penulis masih sangat kurang jumlahnya,” tegas Hisyam saat membuka presentasi lomba yang berlangsung di gedung NU Jepara ini.?

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri dan Pelajar Didorong Lestarikan Budaya Menulis

Ia meyakinkan peserta jika tiada penerus Bukhari dan Muslim niscaya kelak akan hilang. Orang yang pintar tegasnya wajib menulis. Dulu, papar Kepala KUA Keling Jepara manusia ditradisikan dengan budaya lisan. Pidato maupun khutbah adalah misal tradisi lisan.?

Sehingga ada istilah tutur tinular merupakan gambaran dari tradisi lisan. Tradisi lisan menurut alumnus Pascasarjana UIN Walisongo Semarang ini dapat bernilai kebenaran sebagaimana Nabi Muhammad memberikan sabda kepada sahabat-sahabatnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tradisi menghafal al-Qur’an juga bagian dari bahasa tutur. Untuk itu, saat ini sudah saatnya pelajar dan santri sebagai penerus budaya tulis.?

“Jadikan menulis hal yang nikmat. Kegiatan yang sangat enjoy,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut merupakan awal bukan akhir. Kepada peserta dirinya juga meyakinkan bahwa orang bisa hidup lantaran menulis.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Apa saja bisa ditulis. Tidak terkecuali potensi-potensi yang ada di kampung dengan versi masing-masing. “Ayo kita kembangkan budaya tulis kita,” ajaknya.?

Lomba menulis opini bertema “Rahmat Kemajemukan Itu Nyata” merupakan agenda perdana LTN PCNU Jepara masa khidmah 2015-2020. Naskah yang masuk ke panitia yang berjumlah puluhan kemudian dikerucutkan menjadi 10 besar.?

Pemenang lomba yang mencakup isi dan tulisan kata Muhammadun Sanomae, Ketua LTN PCNU Jepara akan diumumkan di web nujepara.or.id dalam waktu dekat ini.?

“Profil juara I akan dipublikasikan di Suara Merdeka,” pungkas Kepala Biro Suara Muria (Suara Merdeka) ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Sholawat, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Nurussalam – Universitas Semarang (Unnes ) membekali guru tentang model pembelajaran Quantum (QuantumTeaching in Action) berbasis TIK di Aula Madrasah desa Besito Gebog Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (24/8). 

Kegiatan pelatihan guru itu diikuti 60 peserta dari kalangan pendidik tingkat SMA dan MA se-Kabupaten Kudus beserta mahasiswa PPL S-1 STAIN Kudus. 

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum (Sumber Gambar : Nu Online)
MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum (Sumber Gambar : Nu Online)

MANU Nurussalam-Unnes Bekali Guru dengan Pembelajaran Quantum

Ketua Panitia Achmad Farchan menuturkan bahwa pelatihan ini diselenggarakan untuk mengoptimalkan metode dan model pembelajaran yang harus dijalankan guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga harus menyentuh pada ranah afektif dan psikomotorik serta guru bertindak sebagai fasilitator dan mendorong siswa untuk aktif dan berpikir kritis serta berkarakter. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Model pembelajaran Quantum Teaching ini, mendalami bagaimana mengajar dengan cara yang menyenangkan sehingga siswa ketagihan belajar dan mampu meraih prestasi dahsyat,” jelas Farhan yang juga mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes. 

Kegiatan yang mengusung tema mengusung tema “Mari antarkan anak didik dengan mendidik sepenuh hati, untuk meraih prestasi dahsyat” ini imbuh Farchan, merupakan kepeduliaan Unnes melalui melalui program pengabdian masyarakat oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Harapannya, mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang interaktif dalam aplikasi model dan metode pembelajaran pada kurikulum 2013 yang bisa diterapkan oleh guru-guru madrasah,” katanya. 

Wakil Kepala MANU Nurussalam Achmad Machasin saat membuka acara mengatakan, sebagai seorang guru harus manyadari bahwa dirinya merupakan makhluk pembelajar, maka dari itu haruslah membuka diri terhadap keran informasi untuk terus menempa diri akan ilmu pengetahuan. Hal ini karena ilmu pengetahuan senantiasa berkembang mengikuti kebutuhan dan tuntutan masyarakat. 

“Usai pelatihan, guru mampu memahami model pembelajaran Quantum Teaching. Guru mampu menyusun media pembelajaran yang interaktif serta mampu menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan prestasi siswa,” harapnya. 

Pelatihan berlangsung penuh semangat dan interaktif, didampingi trainer muda Hudi Hermawan. Sesi pertama, diawali bagaimana membangun hubungan yang akrab dengan siswa, memotivasi siswa lewat pikiran bawah sadar. Dilanjutkan bagaimana menciptakan orkestrasi dalam proses pembelajaran serta ditutup cara menstimulasi beragam kecerdasan. 

Di akhir materinya, Hudi menegaskan bahwa ketika sudah di dipanggil bapak atau ibu guru, tidak ada alasan lagi untuk mengajar tidak dengan hati. “You never forget a good teacher,” tandas pria kelahiran Kendal ini. 

Pelatihan yang berlangsung sehari itu berlangsung menarik. Menurut salah satu peserta pelatihan Risya Umami, pelatihan ini mampu memotivasi guru serta tertantang untuk menerapkannya, meskipun tidak semua metode bisa diterapkan, dengan mempertimbangkan karakteristik atau norma dan nilai yang berlaku disekolah serta sarana dan prasarana. 

Hal senada juga diungkapkan oleh Djoko Warsito, guru SMAN 2 Bae. Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat inspiratif, memotivasi guru untuk terus belajar menjadi lebih baik.

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Qomarul Adib 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 05 November 2017

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba

Indramayu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Jendral (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, dan Kapolri Jendral Badrodin Haiti mengunjungi kiai sepuh NU Jawa Barat, KH Afandi Abdul Muin Syafii, di Pondok Pesantren Asy-Syafiiyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jumat (24/6) sore.

Abah Afandi, demikian biasa disapa, sekarang ini berusia 78 tahun merupakan salah satu santri pesantren Tebuireng Jombang era KH Hasyim Asyari dan Pesantren Tambakberas Jombang era KH Wahab Hasbullah.

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Kiai Sepuh Indramayu, Menkopolhukam dan Kapolri Singgung Masalah Kekerasaan dan Narkoba

Dalam kesempatan itu, Kapolri meminta semua pihak untuk tidak melakukan kekerasan dengan dalih apapun, apalagi kekerasan atas nama agama. Menurutnya, kekerasan tidak dibenarkan karena bertentangan dengan agama maupun konstitusi negara.?

“Jika kekerasan dibiarkan, maka secara perlahan bisa memunculkan perang saudara di Indonesia, seperti yang marak terjadi di negara-negara bagian Arab," tuturnya.

Sementara itu, Menkopolhukam Luhut B Pandjaitan memuji peran pesantren dalam menjaga moralitas bangsa."Tanpa adanya pondok pesantren di berbagai belahan Indonesia, moralitas bangsa ini sudah hancur. Selama ini pondok pesantren sangat punya peran besar dalam menyelamatkan berbagai moralitas bangsa Indonesia, tak terkecuali dari ancaman bahaya penyalahgunaan Narkoba," kata Luhut.

Di Indonesia, lanjutnya, ? setiap hari hampir 30-40 orang mati sia- sia akibat penyalahgunaan Narkoba, maka peran aktif pesantren dalam melindungi generasi muda bangsa ini sangat signifikan dan tidak bisa dipungkiri.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Ahmad Najib Afandi, putra Abah Afandi mengapresiasi Itikad baik para pejabat yang ? mengajak para ulama untuk bekerja sama membangun bangsa Indonesia.

"Persatuan pejabat dan ulama adalah salah satu pilar kekuatan pokok untuk membangun bangsa", tutur pria yang akrab disapa Gus Najib itu.

Pesantren Asy-Syafiiyyah adalah salah satu pesantren tertua di Indramayu, berdiri pada tahun 1959 M. Meski terdapat di desa terpencil, namun sejumlah pejabat tinggi negara banyak yang berkunjung, termasuk Presiden RI ke-4 KH Abdurrhaman Wahid. (Abdul/Zunus)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Pertandingan, Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Serentak Khotmil Quran Bil Ghoib di 20 Masjid di Kota Kraksaan

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, Pimpinan Cabang (PC) Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jum’at (24/6) melaksanakan Khotmil Qur’an bil Ghoib di 20 masjid secara serentak.

Ketua PC JQH Kota Kraksaan KH Abdul Qodir Somad mengungkapkan bahwa Khotmil Qur’an bil Ghoib ini dilaksanakan setelah shalat Jum’at hingga menjelang adzan Maghrib tiba. “Kegiatan itu diikuti oleh ratusan mustamirin (pendengar) di masing-masing masjid,” ujarnya.

Serentak Khotmil Quran Bil Ghoib di 20 Masjid di Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serentak Khotmil Quran Bil Ghoib di 20 Masjid di Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serentak Khotmil Quran Bil Ghoib di 20 Masjid di Kota Kraksaan

Dalam Khotmil Qur’an bil Ghoib ini, para hafidz dan hafidzah (penghafal Al-Qur’an) ini membaca Al-Qur’an secara berkelompok. “Mereka membaca Al Qur’an tanpa harus memegang mushaf,” jelasnya.

Menurut Kiai Somad, pembagian kelompok tersebut dimaksudkan untuk mempermudah dalam pembagian juz yang harus dibaca oleh masing-masing kelompok. Selain untuk memperingati malam Nuzulul Qur’an, kegiatan tersebut dilakukan secara rutin oleh JQH Kota Kraksaan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya baca Al-Qur’an dikalangan umat muslim, khususnya masyarakat Kota Kraksaan dan sekitarnya. Kegiatan ini sudah berkembang menjadi sebuah tradisi,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disamping itu jelas Somad, kegiatan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan minat masyarakat untuk menghafal Al-Qur’an. Terutama bagi yang benar-benar berminat. “Banyak manfaat yang bisa didapat dengan menghafal Al-Qur’an,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 September 2017

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Sayyid Ibrohim mempunyai nama asli Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Baabu jika diurut ke atas, maka beliau adalah termasuk dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) yang bermarga Babud Kharbasan sebuah marga dalam keturunan Rasulullah SAW, atau orang sering menyebutnya dengan Sayyid atau Habib yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai kedudukan tersendiri di mata umat islam.

Beliau dilahirkan pada tahun 1864M dari ayah yang bernama Ali bin Hasyim dan ibunya adalah Syarifah Khotijah di Kauman Wonosobo. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau setelah masyarakat mengetahui kealiman dari beliau serta termasuk dalam jajaran ahlul bait.Dilahirkan sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara semenjak kecil telah mendapat pendidikan ilmu agama dari orang tuanya dengan belajar mengaji.

Sayyid Ibrohim semenjak kecil sudah mulai dikenalkan dengan Ilmu al Quran,Fiqh,Tauhid dan cabang ilmu yang lainnya, termasuk ilmu Tasawuf (thoriqoh). Pada saat itu belum banyak dikenal model pendidikan yang lazim dilaksanakan saat ini. Model pendidikan yang dilaksanakan menggunakan system individual dengan cara sorogan sebagaimana dikenal di lembaga pendidikan Pesantren. Disamping mendapatkan Ilmu agama dari orang tuanya sendiri dan juga Ulama di daerah Wonosobo, berdasarkan suatu riwayat beliau juga belajar kepada guru dan sekaligus sahabatnya yaitu Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan.

Hal ini diketahui bahwa setiap beliau pergi ke daerah Pekalongan senantiasa didereake oleh KH.Hasbullah Bumen dengan berjalan menaiki kuda sambil menuntun kambing atau sapi yang akan dihadiahkan kepada guru dan sekaligus sahabatnya Habib Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan juga sayid Hasyim Bin Yahya.

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Dengan berbekal ilmu yang telah didapatkan dari para guru gurunya, Sayyid Ibrohim kemudian mengajarkan agama islam dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktifitas beliau disamping sebagai Ulama juga sebagai saudagar yang sangat terkenal dan mempunyai banyak sawah dan tanah yang kemudian dijadikannya tempat untuk ,mendirikan Masjid atau bangunan lainnya sebagai tempat pendidikan. Kesempatan berdagang itu pula digunakannya untuk menyampaikan dakwah islamiyah dan mengenalkan NU melalu jalur Thoriqoh yang beliau dapatkan dari ayahnya. Beliau mendapatkan sanad thoriqoh dari orang tuannya berupa Thoriqoh Alawiyah yang dikenal dengan thoriqoh yang tidak menggunakan tata cara yang khusus sebagaimana Thoriqoh yang lainnya.

Pendiri NU Cabang Wonosobo

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semenjak awal berdirinya 31 Januari 1926, NU kemudian melalui para Ulama yang? berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah mendirikan berbagai cabang di daerah daerah sebagai perpanjangan dari HBNO (PBNU) yang berada di Surabaya. Melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda) yang dibentuk oleh HBNO, para Ulama yang tergabung di dalamnya mensosialisasikan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Hindia Belanda (baca Indonesia), diantaranya ke Jawa Tengah, Jawa Barat hingga daerah Menes Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga daerah Aceh.

Propaganda itu pada gilirannya sampai ke daerah Wonosobo. Karena ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh para Ulama masa dulu. Kehadiran NU di Wonosobo yang diprakarsai oleh para kyai diantaranya Sayid Ibrahim Kauman, KH.Hasbullah Bumen,KH.Abdullah Mawardi Wonosobo, Kyai Abu Jamroh, KH.Asyari Kalibeber, Sayyid Muhsin Kauman, dan beberapa tokoh yang lain seperti Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf dan yang lainnya disambut dengan mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama Cabang Wonosobo.

Hal itu ditandai dengan penbentukan kepengurusan NU Cabang Wonosobo dengan Rois Syuriah? Sayyid Ibrohim dengan dibantu Sayyid Muhsin bin Ibrohim sebagai Katibnya. sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diantaranya Pertama, menurut Mbah Muntaha (Allahu yarham) memberi keterangan bahwa NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon pada tanggal 29 Agustus 1931, keterangan ini didukung oleh H.Salim Mukhtar (almarhum) mantan ketua Tanfidziah NU. Kedua, terdapat arsip kartu tanda Anggota NU (Kartanu) yang diberi nama Rosyidul Udhwiyah atas nama Bapak Saidun Desa Kreo Kejajar, yang ditanda tangani oleh Sayyid Ibrohim dan Sayyid Muhsin sudah bernomer 1526 pada tahun 1353H, sebagai indikasi telah banyaknya warga yang mengikuti Jamiyah Nahdlatul Ulama. Ketiga, terdapat keterangan dari para sesepuh NU bahwa pada saat pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrohim dan dihadiri oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah sebagai HBNO, sedangkan sebagai pembaca al Quran pada acara itu adalah KH.Muntaha al Hafidz.

Kepiawaian dari para pendahulu NU Wonosobo terutama Sayyid Ibrohim yang tanpa lelah memperjuangkan NU ditengah tengah masyarakat pada gilirannya membuahkan hasil secara nyata hasil itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang dengan suka rela menjadi anggota jamiyah ini,serta gerakan gerakan lainya yang mendukung program Jamiyah.

Dalam proses sosialisasi NU dan dakwah islamiyah, beliau senantiasa ditemani salah seorang putra beliau yaitu Muhsin Bin Ibrohim yang kelak menjadi katib Syuriah. Ketika remaja beliau Sayyid Muhsin setelah mendapatkan ilmu agama dari Abahnya, kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk belajar agama islam di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, sekembalinya dari Tremas kemudian beliau melanjutkan studinya di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama kepada beberapa Ulama di Timur Tengah hingga berkeluarga.

Namun takdir berkata lain, ketika terjadi pengusiran besar-besaran di Arab Saudi terhadap golongan muslim sunny yang dianggap bertentangan dengan kaum Wahabi, atas pesan dari gurunya beliau agar kembali ke Indonesia untuk menyalamatkan agama dan ilmu beliau kembali ke tanah air. Dan akhirnya menetap di Wonosobo berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Sebagai katib Syuriah yang membantu tugas dari abahnya, pada saat awal dibentuknya NU beliau memprakarsai pembuatan gedung NU yang sekarang ditempati NU dan sekaligus dijadikan tempat untuk pembinaan generasi muda NU dengan mendirikan sekolah Arab. Hal ini dimaksudkan untuk ajang kaderiasi dan juga penanaman nilai nilai ahlussunanh wal jamaah semenjak dini. Sebagai salah seorang yang tertua ke delapan dari putra Sayyid Ibrohim dengan istri pertama, sayyid Muhsin menerima hirarki thoriqoh dari abahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sayyid Ibrohim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga orang istri. dari tiga orang istri tersebut bukan berarti beliau menganut poligami. Namun tetap dengan satu istri, yaitu ketika istri yang pertama meninggal dunia, kemudian beliau beristri lagi. Dari keturunan beliau ini kemudian telah berkembang di berbagai daerah bahkan luar negeri yang senantiasa menyebarkan agama islam juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu dari karomah yang dimiliki oleh sayyid Ibrohim yang hingga saat ini jelas kelihatan dan diketahai masyarakat adalah Jamiyah Nahdlatul Ulama. Organisasi yang telah mengalami berbagai masa, yaitu masa penjajahan Belanda dilanjutkan zaman fasis Jepang, Kemerdekaan dan kemerdekaan serta masa orde lama dan orde baru serta masa reformasi, tetap eksis dalam berkhidmah kepada umat bangsa dan negara. Hal itu tentunya telah diawali oleh Sayyid Ibrohim dan para Ulama lainnya sebagai muassis (peletak dasar pertama) Jamiyah NU. dengan ketulusan dan kesabaran dibarengi dengan keikhlasan mengeluarkan harta bendanya untuk mewujudkan cita cita NU, telah membuat catatan tersendiri di hati umat Islam di Wonosobo. Disamping itu banyak terdapat Masjid yang dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh sayyid Ibrohim yang tidak hanya di satu tempat, namun diberbagai daerah.

Apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibrohim adalah karena kecintaannya kepada para leluhur yang telah mengajarkan agama islam ke daerah Wonosobo (Mubaligh) serta menyelamatkan masyarakat yang jika dibiarkan akan terkena musibah yang lebih dahsyat.

NU dan Tarekat

Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah NU Wonosobo, Sayyid Ibrohim juga didaulat oleh gurunya untuk menjadi Kholifah (pemimpin) Thoriqoh Syathoriyah. Terdapat dua Thoriqoh yang ada pada diri beliau yaitu Alawiyah dan Shatoriyah. Jika Thoriqoh alawiyah merupakan Thoriqoh yang banyak dilakoni oleh kebanyakan para Habaib secara turun temurun. Maka Thoriqoh Shatoriyah yang dikembangkan beliau merupakan gabungan dari Thoriqoh yang sebelumnya dalam hal penerimaan.

Melalui jalur Thoriqoh inilah, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Wonosobo dan sekitarnya serta mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama dalam perjalanan pengembaraan dakwahnya. Pengembaraan itu pada saatnya telah memunculkan banyak masyarakat yang mengerti dan bergabung dengan NU. Murid beliau kini telah banyak yang meninggal, namun kebanyakan dari para murid itu, telah mempunyai Jamaah yang banyak pula. Para murid sayyid Ibrohim tersebar ? di seluruh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung seperti Sukorejo dan Ngadirejo Kabupaten Kendal, sebagian Wilayah Batang dan juga daerah Banjarnegara serta Purworejo

Sadar akan pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan, menjelang usia senja pada tahun 1940 beliau meletakkan jabatan Rois Syuriah Cabang Wonosobo melalui Musyawarah yang diadakan oleh pengurus Cabang saat itu. Kemudian ditunjuklah Kyai Abu Jamroh untuk dijadikan Rais Syuriah NU Wonosobo menggantikan Sayyid Ibrohim. Dalam kondisi fisik yang tidak seperti waktu muda sebelumnya. Sayyid Ibrohim tetap berjuang mengembangkan agama islam dan NU melalui jaman fasis Jepang. Sekalipun di bawah tekanan penjajah yang sangat kejam baik pada masa Jepang maupun masa kemerdekaan, eksistensi beliau sebagai pejuang tidak pernah surut. walaupun harus bergonta ganti tempat karena pengejaran dari Penjajah, semangat memperjuangkan islam dan memberi dorongan spiritual kepada para pejuang baik yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah dan kelaskaran yang lain tetap beliau berikan.

Ketika suasana Indonesia telah semakin mereda dengan kekalahan penjajah Belanda dari rakyat Indonesia. Sayyid Ibrohim kemudian kembali ke daerah Kauman Wonosobo dan menetap disana hingga wafatnya pada bulan Syaban tahun 1948. Beliau dimakamkan di makam keluarga Maron (belakang kampung Longkrang) Wonosobo. Khaul beliau dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Syaban dengan dihadiri oleh Jamaah dan keluarganya.

?

Ahmad Muzan

Direktur IHSF dan AP Fatanugraha Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 12 Agustus 2017

Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga?

Klaten, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah -

“Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna “berbeda-beda tapi tetap satu” menjadi semboyan bangsa Indonesia yang memiliki banyak ragam suku, ras, agama dan sebagainya, akan tetapi dapat dipersatukan dalam sebuah negara.

Dari literatur sejarah yang populer diajarkan di dunia pendidikan kita, kalimat ini merupakan kutipan yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup sekitar pada masa abad ke-14.

Namun, tidak demikian menurut sejarawan, Prof. Ahmad Manshur Surya Negara. Ia berpendapat filosofi “Bhinneka Tunggal Ika” ini, justru dicetuskan oleh Sunan Kalijaga sewaktu membangun masjid yang soko (tiang), dari potongan kertas dan kayu.

Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga? (Sumber Gambar : Nu Online)
Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga? (Sumber Gambar : Nu Online)

Filosofi Bhineka Tunggal Ika Dicetuskan Sunan Kalijaga?

“Hal tersebut bermakna bahwa meskipun beraneka ragam, kecil, dan banyak tetapi bila menjadi satu akan menjadi kuat dan kokoh, layaknya tiang ini,” terang guru besar sejarah Universitas Padjajaran tersebut, pada acara “Ceramah Ilmiah” yang diselenggarakan PCNU Klaten, di Kantor NU Klaten, Jawa Tengah, Jumat (18/11) malam.

Pada acara yang bertema “Peran Ulama Dalam Menghantarkan Indonesia Menuju Kemerdekaan” itu, Ahmad Manshur juga menyinggung soal simbol negara Indonesia, burung Garuda, yang di dalamnya terdapat simbol dan lambang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Simbol Garuda ini diciptakan oleh Sultan Hamid II Kesultanan Pontianak atas permohonan Bung Karno, yang beliau contoh dari Rajawalinya Sayyidina Ali,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, diungkapkan penulis buku "Api Sejarah" itu, bahwa teks Proklamasi yang ditulis oleh Bung Karno dan Bung Hatta, diproklamirkan setelah meminta restu dari Hadratussyaikh? KH Hasyim Asyari. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 Juli 2017

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Pondok Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah merupakan salah satu pesantren termasyhur dengan dakwah melalui seni rebana oleh para ulama dan kiainya. Perkembangan pesantren yang berdiri tahun 1994 ini cukup pesat, yaitu dengan berdirinya Madin (Madrasaha Diniyah) pada tahun 1999, serta lembaga pendidikan lain di berbagai jenjang dalam rentang pembangunan antara tahun 2006 hingga 2008.

Namun dibalik perkembangan pendidikan yang pesat serta di tunjang dengan fasilitas yang belajar yang lengkap tersebut, pesantren Walisongo ternyata memiliki ciri khas kesenian rebana yang mana dari awal berdirinya pesantren sampai saat ini. Grup rebana tersebut selalu memiliki jadwal dakwah yang padat, artinya seni rebana pesantren Walisongo selalu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi dengan senantiasa berpegang pada ajaran agama, sehingga masyarakat selalu merindukan kehadiran nasihat bijak melalui syair shalawat yang dibawakan rebana walisongo.

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Secara individu KH Ma’ruf Islamuddin yang merupakan pengasuh pesantren sekaligus penggagas seni rebana Walisongo, memang senang dengan seni, terutama seni tarik suara. Kiai Ma’ruf memiliki moto ‘Dengan ilmu hidup lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup jadi terarah’, dan moto tersebut juga tertuliskan di studio rekaman Al Muntaha Record milik pesantren Walisongo.

Merujuk dari ciri khas para ulama yang menggunakan seni sebagai media dakwah, Kiai Ma’ruf Islamuddin pun juga menggunakan pedekatan seni. Seni dalam berdakwah merupakan sarana menyebarkan agama Islam yang telah dijelaskan di atas merupakan warisan dari para wali yang telah terbukti telah mengislamkan hampir semua wilayah di Jawa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Latar belakang dakwah dengan seni rebana

Sementara hal yang melatar belakangi dipilihnya rebana sebagai sarana dalam berdakwah, karena jamaah yang dihadapi sangat heterogen dilihat dari segi keimanan, maka Kiai Ma’ruf menggagas bagaimana caranya dakwah itu disampaikan melalui seni dan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Sehingga munculah ide itu berupa dakwah dengan kesenian musik rebana.

Seiring kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan dakwah di masyarakat, maka pesantren Walisongo melakukan upaya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi kesenian rebana ini dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu menjaring minat dan bakat santri serta siswa melalui kegiatan ektrakurikuler rabana, reorganisasi pemain rebana, mendirikan studio rekaman agar musik rebana bisa dinikmati orang setiap saat dengan kasetnya, dan mendirikan studio radio Walisongo Sragen agar masyarakat bisa mendengarkan ceramah Kiai Ma’ruf dan rebana tanpa melihat langsung.

Ternyata upaya mempertahankan eksistensi rebana tersebut secara tidak langsung juga bepengaruh terhadap meningkatnya jumlah santri. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap dakwahnya, baik secara langsung maupun dalam kaset VCD yang diperjual belikan, keberadaan pesantren Walisongo turut serta dipromosikan. Dalam setiap penerimaan santri baru, banyak yang mengaku mengetahui pesantren Walisongo dari kaset maupun dari nada dan dakwah yang ditampilkan rebana Walisongo.

Tidak hanya grup seni rebana yang beranggotakan santri dewasa yang disibukan dengan padatnya jadwal, namun grup seni rebana Madrasah Integral Walisongo pun tahun ini meraih juara tingkat kabupaten dan prestasi itu diraih selama empat kali berturut-turut. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Halaqoh, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 27 Juni 2017

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot

Hasrat ingin segera minum air telaga begitu menggelora. Tenggorokan kering dialami seekor burung yang hidup pada zaman Nabi Sulaiman. Ia hanya berani bertengger di atas pepohonan hijau di sekitar danau. Burung itu tidak berani segera turun karena masih ada anak-anak kecil yang bermain-main di bawah sana, takut akan mendapat siksaan atau tertangkap oleh mereka.

Detik berganti detik. Waktu pun melaju kencang meninggalkan waktu sebelumnya hingga anak-anak meninggalkan tempat bermain mereka. Suasana menjadi terlihat sepi. Hanya ada orang tua berjenggot lebat yang tersisa.

Merasa kondisi tampak aman, burung ini pun mengepakkan kedua sayapnya. Ia ingin minum air untuk mengobati dahaga yang mendera. Tapi malang. Pria berjenggot mengincar, melempar batu tepat ke arah dirinya. Salah satu mata burung ini pun luka serius sehingga menjadikan ia buta.

Si Burung mengadu kepada Nabi Sulaiman. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Sulaiman adalah Nabi yang diberi mujizat oleh Allah Taala berupa kemampuan berbicara dengan hewan apa saja.

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot

Mendapat laporan demikian, Nabi Sulaiman bertanya, "Lantas, apa perlu aku hukum orang tua itu supaya satu matanya juga menjadi buta sebagaimana ia membutakan matamu?"

"Tidak, Wahai Baginda Nabi."

"Lalu apa maumu?"

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Aku ingin jenggotnya dikerok saja," pinta burung tersebut.

"Lho, kenapa permintaanmu aneh begitu?"

"Iya, semula aku takut turun ke danau untuk minum sebab ada anak-anak yang masih kecil. Aku merasa wajar jika anak-anak bertindak semaunya padaku. Maklum, mereka masih kecil. Sedangkan orang ini adalah orang yang sudah berjenggot panjang pertanda bahwa ia tua. Namun jenggotnya tidak menampakkan bahwa ia orang yang sudah cukup umurnya. Berarti ia dengan anak kecil levelnya masih sama saja. Jenggot bukan cerminan dari pribadinya. Oleh karena itu, saya minta dikerok saja jenggotnya."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Cerita ini disarikan dari ceramah Habib Abdul Qadir Al Jilani dari Hadramaut, Yaman di Majlis Talim Al Amin, Semarang, (21/8/2017).

Kisah ini memberi pesan bahwa hendaknya tampilan yang baik diiringi dengan karakter yang baik pula. Cerita burung tersebut juga menjadi kritik bagi para orang dewasa yang tak sanggup menunjukkan kedewasaannya.

Pesan lain adalah bahwa simbol-simbol luar tidak otomatis merepresentasikan akhlak seseorang. Bisa jadi tampilan yang terlihat sunnah tak menunjukkan karakter yang sesuai dengan sunnah. Begitu juga sebaliknya. Wallahu alam. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 20 Juni 2017

Nabi Muhammad Kaya, Tapi Hidup Sederhana

Cilegon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (PP LTMNU), H. Mansur Syaerozi mengatakan, ketika mempersunting Siti Khadijah, Nabi Muhammad memberikan mas kawin 100 ekor unta.

Jika diibaratkan sekarang, 100 ekor unta itu seharga 100 mobil sekarang, “Dengan demikian, Nabi Muhammad itu kaya, tapi bergaya hidup sederhana,” katanya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Pegantungan Jombang, Kota Cilegon, Sabtu, (20/4).

Nabi Muhammad Kaya, Tapi Hidup Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad Kaya, Tapi Hidup Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad Kaya, Tapi Hidup Sederhana

Menurut Mansur, sangat masuk akal Nabi Muhammad kaya karena dia berdagang sejak usia 13 tahun hingga umur 40. Berarti, ia melakukan itu selama 27 tahun. Lebih lama menjadi pedagang daripada menjadi rasul yang hanya 23 tahun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mansur menambahkan, tidak mungkin berdagang selama itu, Nabi Muhammad hidup miskin, “Itu satu, kedua, karena Nabi Muhammad dekat dengan Allah. Ia adalah kekasih Allah. Ibaratnya, seseorang yang disukai orang kaya, ia akan terbawa kaya.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemudian, Mansur menambahkan, kalau ditelisik dalam Al-Quran, kita akan menemukan peran harta dalam berjuang. Pertama, “Berjuanglah kamu di jalan Allah dengan hartamu dan dirimu. (At-Taubah: 41)”. Pada ayat lain disebutkan “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (QS. Al-Baqarah : 43)”

Ini artinya, umat Islam itu cetakannya kaya. Tapi harus hidup sederhana. Kekayaan harus lebih banyak digunakan berjuang untuk kemajuan Islam.

Rapimda bertema "Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat," tersebut diikuti 150 orang terdiri imam, khotib, dan DKM masjid NU. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama PC LTMNU Kota Cilegon dengan PP LTMNU dan PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, News, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Juni 2017

Haul Buntet Pesantren Dipadati Ribuan Jamaah

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedikitnya 5000 pengunjung memadati malam puncak peringatan haul al-marhumin pondok pesantren Buntet, Cirebon. Jamaah yang terdiri dari para alumni, wali santri, tamu undangan, dan masyarakat umum ini mulai tampak memadati komplek pesantren semenjak siang hari, Sabtu (6/4).

Haul Buntet Pesantren Dipadati Ribuan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Buntet Pesantren Dipadati Ribuan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Buntet Pesantren Dipadati Ribuan Jamaah

Malam puncak peringatan haul ini diawali dengan pembacaan tahlil akbar, dilanjutkan sambutan-sambutan, dan ditutup dengan pengajian umum yang disampaikan oleh Al-Habib Umar Muthohar dari Semarang. 

Selain itu dalam peringatan haul tahun ini berkesempatan hadir Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Helmy Faisal Zaeni, serta Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa, KH Ali Mushtofa Yaqub.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya, KH Nahduddin Royandi Abbas, sesepuh pesantren Buntet berpesan tentang pentingnya mempertahankan akhlakul karimah dan sikap tawadlu dalam kepribadian santri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya berpesan, agar para pelajar sebagai generasi penerus bangsa hendaknya tetap mengutamakan akhlakul karimah dan sikap tawadlu”.

Hal tersebut dikuatkan dalam sambutan atas nama PBNU yang diwakili oleh KH Ali Musthofa Yaqub. Ia juga menambahkan tentang pentingnya pesantren untuk tetap mempertahankan tradisi kitab kuning, karena melalui tradisi kurikulum kitab kuning, pesantren akan tetap menjadi basis regenerasi dan pengkaderan kiai serta sosok yang benar-benar dibutuhkan bangsa dan negara.

Sebelumnya, telah digelar serangkaian acara yang merupakan bagian dari agenda pelaksanaan haul pesantren Buntet tahun ini, antara lain; halaqah pengembangan ekonomi komunitas, nikah masal, donor darah, serta ziarah akbar ke komplek makam para pendiri pesantren Buntet, Cirebon.

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Ulama, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah