Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Episode Baru PCINU Pakistan

Oleh Firman Arifandi

Sudah merupakan tradisi yang sejak lama bergulir, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sarat dengan pendekatan-pendekatan intelektual dan sosial kemasyarakatan guna mensyiarkan Islam yang tasamuh rahmatan li-alamin. Hal ini juga menjadi pedoman kami, Pengurus Cabang Istimewa  Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan dalam menjalankan program kerja di negeri Ali Jinnah ini.

PCINU Pakistan merupakan wadah organisasi NU di Pakistan yang berdiri pada tanggal 28 Mei 2005 dan diresmikan oleh Rais Syuriah DR. KH. M. Mashuri Naim, MA. Peresmian yang juga diisi dengan sumpah pengurus tersebut disaksikan oleh Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Hasyim Muzadi dan Duta Besar RI untuk Pakistan H. Anwar Santoso serta para pejabat KBRI dan masyarakat Indonesia di Islamabad.

Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Episode Baru PCINU Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Episode Baru PCINU Pakistan

PCINU Pakistan yang diresmikan adalah Muhammad Niam, LLM selaku Musytasyar, Reza Muhammad, Lc selaku Rais Syuriah dan M. Sodiq Ahmad, Lc selaku Ketua Tanfidziah untuk masa jabatan 2005-2006.

Salah satu tujuan penting diresmikannya PCINU Pakistan adalah untuk mensinergikan program yang bertujuan memberdayakan kader muda NU. PCI-NU Pakistan yang semula hanya berbentuk paguyuban komunitas NU merubah diri menjadi PCI-NU untuk lebih memperkuat hubungan struktural dengan PBNU di Jakarta. Masyarakat NU di Pakistan menyebar tidak hanya di Islamabad, namun juga di kota-kota lain seperti Lahore, Karachi dan Rawalpindi terdiri dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di Pakistan dan beberapa pekerja Indonesia di lembaga asing di Pakistan.

Sepanjang perjalanannya sejak diresmikan, tak sedikit agenda yang dihelat dan tak lepas dari nuansa keilmuwan, kekeluargaan, dan semangat kenusantaraan. Karena mayoritas warga NU di Pakistan adalah mahasiswa yang notabene menempuh jurusan agama seperti ushuluddin dan fakultas syariah, maka tak jarang mereka menggelar acara diskusi keilmuwan, bahtsul masail, dan lain sebagainya yang memang sengaja dikemas untuk seluruh warga Indonesia di Pakistan dan tidak bersifat eksklusif. Selain itu, acara-acara yang bertujuan mempererat tali persaudaraan antar WNI dan bersifat santai juga kerap digelar seperti tabadul hadayah, Jalan santai berhadiah, perlombaan anak-anak, NU Cup, dan lain-lain sehingga NU di mata WNI dirasa sangat dekat dan bersahabat tidak hanya antar sesama muslim tapi juga semua.

Namun perjalanan yang maksimal ini sempat  mengalami masa kevakuman beberapa waktu dikarenakan beberapa hal. Yakni pada pertengahan tahun 2010 pasca kejadian pemboman di kampus International Islamic University yang menelan belasan korban, dan kemudian berdampak pada kebijakan pemerintah untuk memperketat regulasi di bidang imigrasi. Sehingga terasa sekali susahnya mendapat visa study ke Pakistan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara para pelajar dan mahasiswa yang kerap mewarnai pergerakan NU di Pakistan juga sedikit demi sedikit kembali ke tanah air karena masa studynya telah usai. Masa kevakuman ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun dengan kuantitas SDM yang sangat minim sekali, namun NU masih ada dan eksis dengan segala kegiatannya yang sederhana di internal.

Pada akhir tahun 2012 intensitas kehadiran mahasiswa baru mulai kembali dirasakan dan mahasiswa berlatarbelakang NU juga mulai nampak terlihat antusiasnya untuk membentuk aktivitas pada interes yang sama. Mulailah sejak enam bulan setelahnya, yakni tepatnya pada Agustus 2013 kumpulan mahasiswa ini sepakat untuk menggelar yasinan dan kajian rutin setiap malam jum’at bergilir di setiap asrama. Ide terus bergulir hingga akhirnya komunitas NU kembali bisa merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan menggelar pengajian mingguan ke rumah-rumah.

Atas inisiasi bersama, akhirnya mahasiswa berlatarbelakang NU yang berjumlah 25 orang setelah berkonsultasi dengan senior yang ada dan masyarakat yang telah lama tinggal di Pakistan, semuanya sepakat untuk melanjutkan roda organisasi PCI-NU Pakistan yang sempat mengalami masa surut.

Untuk memaksimalkan kerja usaha membangun komunikasi, rencana dan strategi maka PCI NU Pakistan penting  untuk dilanjutkan. Lembar episode baru kini mulai ditoreh kembali setelah para warga Nahdliyin di Pakistan yang terdiri dari segala elemen WNI, mereka kembali menggelar Konfercab NU pada bulan februari 2014 yang saat itu berhasil membentuk formatur dewan Suriah dan pengurus Tanfiziyah yang baru untuk masa Bhakti 2014-2015.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berawal dari pengajian dan tahlilan rutin setiap malam Jum’at di hostel kampus IIUI sejak pertengahan tahun 2013 lalu, dipupuk rasa kebersamaan antar mahasiswa, hingga saat ini PCI-NU Pakistan dan warganya kembali merangkul masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan bergilir menggelar yasinan, tahlil dan dilanjutkan dengan kajian kegamaan dari rumah ke rumah. Hal ini dibentuk demi menghidupkan dua aspek penting yaitu menyambung silaturahim dan atmosphere keagamaan.

Beberapa waktu lalu, pada tanggal 2 Maret 2014 Lakpesdam yang dikomandoi oleh saudara Hasanuddin Tosimpak, S.Pd.I menggelar acara nonton bareng alias nobar film Sang KIai mengundang segenap mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Islamabad. Nobar ini dimaksudkan untuk merefleksikan kembali perjalanan kalangan santri dan ulama yang mewarnai proses menuju kemerdekaan Indonesia. Hadir dalam acara tersebut, ketua PIP-PKS Pakistan, saudara Irfan Abdul Aziz, ketua Pengurus Muhammadiyah cabang Pakistan saudara Hatta Fahamsyah, dan perwakilan PERSIS cabang Pakistan saudara Emha Hasan Saifullah. Bedah film dipresentasikan oleh rais Syuriah NU Pakistan saudara Ahmad Badruddin, Lc.

Tak kalah pentingnya, badan otonom Fatayat NU yang merupakan wadah untuk mengoptimalkan gerakan muslimat pada khususnya, juga menggelar kegiatan yang berkaliber unggul. Hingga saat ini program yang rutin mereka gelar adalah kajian mingguan dan satu program yang melibatkan masyarakat Indonesia di Pakistan bernamakan DKI (Daily Khotmil-Qur’an Islamabad), yakni merupakan program mengaji harian untuk membiasakan setiap orang bisa mengkhatamkan satu juz dalam sehari, targetnya agar setiap individu tak lepas kesehariannya dari Qur’an sebagai pedoman dan kemudian mentadaburinya. Program DKI ini dikoordinir oleh saudari Fina Fandini, S.Pd.I dan saudari Ummi Salamah S.Pd.I

Dalam bidang pengembangan  sumber daya masyarakat yang dipegang oleh Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Masyarakat) PCI-NU Pakistan akan berkonsentrasi menggelar kajian-kajian bertemakan Islam dan nusantara, menggelar bahtsul masail terhadap fenomena-fenomena kontemporer. Selain itu, Lakpesdam juga berkonsentrasi memfasilitasi  paham ke NU-an untuk warganya dalam program orientasi NU yang akan digelar dalam waktu dekat ini. Pada tanggal 2 Maret 2014 lalu, Lakpesdam juga telah menggelar pelatihan penggunaan almaktabah as-syamilah dan metodologi penelitian berbasis teknologi digital yang digelar untuk umum dan pada mahasiswa khususnya.

Demikianlah progress seputar PCINU Pakistan pasca konfercab pada Februari kemarin, lembaran baru telah dimulai harapannya ke depan kita mampu bersinergi bersama seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh instansi Indonesia di Pakistan dalam menerapkan program bersama demi membangun solidaritas dan menumbuhkan kecintaan pada tanah air dan agama.

 

Firman Arifandi, Ketua PCINU Pakistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP

Manado, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Musyawaran nasional dan Konferensi Besar (Munas dan Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung di Lombok pada 23-25 November mendatang akan membahas Rancangan UU KUHP dan sejumlah RUU lainnya yang menjadi perhatian publik. 

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP

Ketua Panitia Munas Robikin Emhas menjelaskan, UU yang sudah berlaku sejak zaman Belanda ini hingga kini belum direvisi, sementara situasi yang ada saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan dengan saat UU tersebut dibuat. 

Sebenarnya, sejak 1968, dalam setiap periode DPR, UU tersebut selalu dibahas, tetapi tidak pernah selesai. Ia berseloroh, RUU ini selalu tidak jadi karena termasuk UU yang “kering” sehingga tidak ada yang ngurus. Hal ini berbeda dengan RUU terkait dengan politik yang setiap lima tahun berganti karena ada kepentingan dari partai politik dalam perebutan kekuasaan. 

Terdapat tema keagamaan dan kebangsaan yang dibahas dalam Munas dan Konbes. Sebelum dibawa ke forum tersebut, tema-tema serius tersebut dibahas dalam pra-Munas dan Konbes yang berlangsung di berbagai daerah, yaitu di Palangkaraya, Lampung, Manado, dan Purwakarta.

Beberapa masalah lain yang dibahas adalah adalah penyalahgunaan frekuensi publik yang dijadikan alat kampanye golongan tertentu dan soal investasi dana haji agar produktif. “Status dan hak anak di luar nikah juga dibahas setelah ada keputusan MK bahwa orang tua biologisnya memiliki tanggung jawab. NU membahas dalam perspektif keagamaan,” kata Robikin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Robikin juga menjelaskan adanya pembahasan soal fikih disabilitas, yaitu bagaimana negara memperlakukan warga negara yang selama ini memiliki ketidaksempurnaan anggota tubuh. Fasilitas ibadah di masjid, geraja dan lainnnya ternyata belum ramah bagi mereka. 

Persoalan ujaran kebencian untuk berdakwah juga akan dibahas mengingat saat ini begitu marak ketika mimbar-mimbar keagamaan digunakan untuk menebarkan kebencian edan fitnah kepada orang lain atau untuk menggalang dukungan politik. “NU akan membahas hukum, bagaimana menggunakan mimbar yang mulia untuk ujaran kebencian,” ujarnya.

Tak kalah penting adalahsoal redistribusi lahan. PBNU akan membahas masalah ini karena berharap sebelum diselesaikan, konsepnya dahulu harus matang, baru dilakukan redistribusi lahan karena hal ini bukan hanya soal soal sertifikasi tanah atau bagi-bagi tanah, tetapi harus untuk menjadi syarana pencapaian kesejahteraan masyarakat. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

Ribuan Kader Muslimat NU Blora Ikuti Jalan Santai

Blora, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ribuan kader Muslimat NU Blora, Jawa Tengah, Ahad (31 Maret 2013) mengikuti jalan santai.? Acara jalan santai dipusatkan di alun-alun atau di depan gedung PCNU Blora. Acara tersebut bertujuan ? untuk memeriahkan Harlah ke-67 Muslimat NU. Jalan santai tersebut diikuti sekitar lima ribu peserta.

Acara yang dibuka istri Bupati Blora, Hj Umi Kultsum itu berlangsung cukup meraih. Sejak pagi hari, ribuan kader Muslimat berdatangan dari berbagai penjuru daerah. Mereka berasal dari pengurus cabang, anak cabang hingga tingkat ranting.

Ribuan Kader Muslimat NU Blora Ikuti Jalan Santai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Kader Muslimat NU Blora Ikuti Jalan Santai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Kader Muslimat NU Blora Ikuti Jalan Santai

Ketua PC Muslimat NU Blora Fauzi Mubarokah mengatakan, jalan santai kali ini merupakan kegiatan tahunan. Untuk tahun ini, peserta jalan santai mendapatkan hadiah utama seekor sapi. Kemudian untuk hadiah hiburan antara lain 10 sepeda gunung, TV, dan ratusan hadiah lainnya.? ”Jalan santai ini merupakan puncak acara Harlah Muslimat ke-67,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain acara jalan santai, lanjutnya, untuk menyambut harlah Muslimat, pihaknya juga menggelar sejumlah kegiatan. Diantaranya bhakti sosial dan donor darah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk jalan santai kali ini, mengambil rute sejumlah jalan protokol di daerah itu. Setelah dilepas istri Bupati dari alun-alun, peserta menyusuri Jalan Pemuda, Jalan Ahmad Yani, GOR Mustika Blora, Jalan Gunung Wilis, Jalan RA Kartini dan kembali ke alun-alun. ?

“Jalan santai kali ini juga bermaksud untuk membantu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Hj Umi Kultsum yang juga pembina Muslimat NU Blora saat membuka acara tersebut mengucapkan selamat bagi Muslimat yang sedang merayakan harlahnya. Dengan harapan Muslimat bisa turut berperan serta dalam memajukan kaum ibu, khususnya kaum ibu di Kabupaten Blora.

“Dengan membaca bismillahirrahmanirrohim, acara jalan santai dalam rangka Harlah Muslimat NU ke-67 saya nyatakan dibuka,” ucapnya.

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Rafli Alumni Liga Santri Loloskan Timnas ke Semifinal Piala AFF U-18

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Alumni Liga Santri Nusantara (LSN) Muhammad Rafli Nursalim menjadi pahlawan dalam pertandingan penting timnas sepakbola di ajang piala AFF U-18 melawan Brunei Darussalam di Stadion Thuwunna, Yangon, Myanmar, Rabu (13/9). Rafli yang diplot menjadi striker tunggal memborong tiga gol.

Membutuhkan kemenangan besar, Timnas asuhan pelatih Indra Sjafri ini sejak awal langsung mencoba untuk menekan pertahanan lawan. Hasilnya pertandingan baru berjalan 40 detik, Garuda Nusantara membuka keunggulan lewat sontekan kaki Rafli.

Rafli Alumni Liga Santri Loloskan Timnas ke Semifinal Piala AFF U-18 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rafli Alumni Liga Santri Loloskan Timnas ke Semifinal Piala AFF U-18 (Sumber Gambar : Nu Online)

Rafli Alumni Liga Santri Loloskan Timnas ke Semifinal Piala AFF U-18

Sempat terjatuh, Rafli bangkit untuk kemudian menendang bola ke sisi kanan gawang lawan. Bola meluncur datar, tanpa mampu dihalau 4 pemain Brunei. 

Keunggulan tersebut kemudian digandakan oleh Egy Maulana Vikri di menit ke-18 dan 22. Di menit 41 tendangan Witan dari luar kotak penalti kembali menambah keunggulan timnas menjadi 4-0.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rafli mencetak gol keduanya di menit 42 dengan memanfaatkan umpan dari sisi kanan. Tanpa ampun pemain bernomor punggung 9 itu menceploskan bola melalui kepalanya. 

Puncaknya, jelang berakhirnya babak pertama, santri Al-Asyariyah Tangerang ini mencetak hattrick atau gol ketiga pada pertandingan ini. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menerima umpan dari Asnawi dari tengah, Rafli sempat mengecoh bek lawan, dan tendangan kaki kanannya melewati kiper lawan. Gol! 6-0 untuk Indonesia!

Di babak kedua, timnas tak mengendorkan serangan mereka. Pundi-pundi Gol pun terus bertambah, masing-masing dari Saghara dan Witan. Skor akhir 8-0 untuk Garuda Nusantara. Hasil kemenangan besar yang diperoleh timnas ini, membawa Indonesia lolos ke semifinal. (Ajie Najmuddin/Syaifullah Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Berita, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Desember 2017

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini

Tangerang Selatan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Direkur Eksekutif Islam Nusantara Center (INC) Ahmad Ginanjar Sya’ban menerangkan dua tujuan penganugerahan Santri of The Year. Pertama, agenda ini diadakan untuk menemukan dan menampilkan tokoh atau figur santri yang telah memberikan sumbangsih berupa gagasan inovatif dan kerja serta karya dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

“Kedua, mampu membangkitkan motivasi dan dapat memberikan keteladanan generasi bagi generasi muda serta masyarakat umum untuk lebih giat membangun bangsa dan negaranya,” kata Ginanjar saat acara peluncuran penganugerahan Santri of The Year di Kantor INC Ciputat Tangerang Selatan, Sabtu (19/8).

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Penganugerahan Santri of The Year Digelar Tahun Ini

Menurutnya, hingga hari ini santri masuk dan mengisi ruang-ruang dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan sosial, keagamaan, pers, media, militer, politik bahkan hingga ke parlemen dan pemerintah. Tidak sedikit dari mereka yang mengharumkan nama santri.

Oleh karena itu, lanjut Ginanjar, dalam rangka hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2017, maka INC mengadakan agenda Santri of The Year.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, salah satu inisiator INC Zainul Milal Bizawie menegaskan, mereka yang mendapatkan Santri of The Year bukanlah orang yang paling hebat di antara lainnya, tetapi mereka adalah yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap, ke depan agenda ini akan menjadi sebuah penghargaan yang bergengsi dan kredibel sehingga ini bisa menjadi sebuah indikator bahwa santri memiki banyak kemampuan dan keterampilan di luar bidang keagamaan.

“Sehingga yang lain tahu bahwa santri tidak hanya sarungan saja,” ucapnya.

Ada dua belas kategori nominasi yang dipilih untuk mendapatkan penghargaan, yaitu Santri Inspirasi Bidang Seni dan Budaya, Santri Inspirasi Bidang Pendampingan Umat (Dakwah), Santri Inspirasi Bidang Pendidikan, Santri Inspirasi Bidang Wirausaha, Santri Inspirasi Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintah, Pesantren Salaf Inspiratif, Pesantren Modern Inspiratif, Pesantren Enterpreneur Inspiratif, Santri Berprestasi Tingkat Internasional, Pahlawan Santri, Santri Mengabdi Sepanjang Hayat, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Polling akan dilakukan di di akun resmi Twitter Islam Nusantara Center @IslamNusantaraC. Selain itu, panitia juga akan terjun ke lapangan untuk menyebarkan angket atau keusioner ke pesantren-pesantren yang belum aktif menggunakan medsos agar mereka bisa mengusulkan nama-nama yang sesuai dengan kategori nominasi.

Masyarakat bisa menyetorkan nama-nama tokoh santri yang layak mendapatkan penghargaan tersebut berserta sesuai dengan kategori dan alasannya ke akun media sosial Islam Nusantara Center @islamnusantaracenter (IG) @IslamNusantaraC (Twitter), 081384478968 (WhatsApps). (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 Desember 2017

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru

Bandar Lampung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Untuk mengajak dan mengenalkan kepada mahasiswa baru (maba), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unveritas Lampung (Unila) mendirikan stan pendaftaran di depan gedung serba guna Universitas Lapung (Unila), Selasa (30/08).

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU dan PMII Unila Dirikan Stan Sambut Mahasiswa Baru

“KMNU dan PMII Unila sengaja membuka stan pendaftaran pada tahun ajaran ini dengan harapan kolaborasi organisasi bernapaskan Nahdlatul Ulama (NU) bisa membangkitkan gerakan mahaiswa, baik di bidang kajian keagamaan ataupun dibidang kajian-kajian sosial,” ujar Sandi Setia Makruf, Seketaris PMII Unila.

Selain membuka stan, KMNU dan PMII Unila juga menyebarkan brosur pendaftaran calon anggota. Di tengah kegiatan tersebut mereka juga berdiskusi, memabahas berbagai hal yang menjadi agenda-agenda untuk mahasiswa baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bidang Kaderisasi KMNU Unila, Hafid mengatakan, pembukaan stan ini akan berlangsung sampai 31 Agustus 2016. “Rencananya pembukaan stan akan berahir sampai tanggal tangal 31 karena izin dari DPM (Dewan Perakilan Mahasiswa) hanya berlaku sampai besok. Semoga saja dengan adanya kegitan kami ini, bisa menjadi daya tarik mahasiswa baru untuk gabung di KMNU ataupun di PMII,” katanya. (Imam Mahmud/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 15 Desember 2017

Kunjungi PBNU Kapolri Diskusikan HTI, FPI, sampai MTA

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Kapolri Tito Karnavian bersama jajarannya melakukan kunjungan ke PBNU pada Kamis (18/8). Ia diterima oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Kunjungi PBNU Kapolri Diskusikan HTI, FPI, sampai MTA (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU Kapolri Diskusikan HTI, FPI, sampai MTA (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU Kapolri Diskusikan HTI, FPI, sampai MTA

Dalam pertemuan yang berlangsung di lt 3 gedung PBNU ini, baik Tito maupun Kiai Said membicarakan berbagai persoalan kebangsaan, seperti terorisme dan radikalisme, narkotika, dan lain sebagainya.

Kiai Said menyampaikan persoalan adanya gerakan antinasionalisme Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sampai sekarang masih bergerak dengan bebas. Gerakan tersebut saat ini masih kecil dan lemah, tetapi jika tidak diantisipasi lebih dini bisa mengancam keutuhan bangsa.

Mengenai Front Pembela Islam (FPI), Kiai Said menyampaikan bahwa gerakan ini bukan gerakan Wahabi atau ingin mendirikan negara Islam, tetapi misinya ingin menegakkan amar makruf nahi mungkar. Sayangnya apa yang dilakukan tidak terkoordinasi dengan aparat keamanan.



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jadinya malah merusak citra Islam yang damai," paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut Tito meminta pandangan PBNU tentang Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang baru-baru ini bertemu dengannya. Ia meminta penjelasan tentang kasus antara Banser dan MTA baru-baru ini di Boyolali.

Kiai Said menjelaskan, ajaran MTA banyak yang membidah-bidahkan amaliah NU, salah satunya mengharamkan tahlil. "Berbeda itu biasa, tetapi kalau sampai menyalah-nyalahkan amaliah orang lain, itu yang tidak benar," paparnya.

Robikin MH, salah satu ketua PBNU memberikan penjelasan tambahan mengenai kasus di Boyolali. Kelompok MTA sebelumnya sudah diingatkan untuk tidak membikin provokasi di lingkungan warga NU, tetapi mereka tetap memaksa. Yang dilakukan Banser hanya upaya penghadangan saja, sampai akhirnya terjadi bentrokan kecil.?

Kiai Said menekankan, NU dari dulu sudah terlibat dalam banyak program pembangunan pemerintah. Tanpa diminta, para kiai NU sudah membimbing masyarakat. Ia mencontohkan kesuksesan program KB salah satunya berkat dukungan para kiai NU yang menjelaskan bahwa mengatur kelahiran tidak haram dalam Islam.

Kepada Tito, Kiai Said juga siap membantu program pemerintah seperti pentingnya membangun kesadaran hukum dengan melibatkan Ansor, Banser, dan Pagar Nusa. NU saat ini juga sedang membikin buku Fikih Bela Negara. MoU kerjasama tersebut akan dibuat dalam waktu dekat seusai pertemuan ini. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 13 Desember 2017

RAPBN 2013 Berisi Daftar Belanja Pejabat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rasionalisasi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013 perlu dilakukan. Pasalnya RAPBN yang ada memberikan porsi yang terlalu tinggi untuk belanja para pejabat pemerintahan.

“Rancangan anggaran tahun 2013 ini masih memberikan alokasi pada tingginya belanja pegawai,” kata KH Masdar Farid Mas‘udi, Rais Syuriyah PBNU dalam diskusi terbatas, ‘Review UU APBN 2013: Apakah Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat atau Sebesar-besarnya Kemakmuran Pejabat?’, di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (13/11) siang.

RAPBN 2013 Berisi Daftar Belanja Pejabat (Sumber Gambar : Nu Online)
RAPBN 2013 Berisi Daftar Belanja Pejabat (Sumber Gambar : Nu Online)

RAPBN 2013 Berisi Daftar Belanja Pejabat

Menurut Masdar, Badan Anggaran DPR mestinya melakukan sebuah terobosan yang revolusioner. Terobosan itu bisa diwujudkan dalam bentuk rasionalisasi yang sangat tajam terkait pemangkasan belanja pegawai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Komisi Anggaran Independen, KAI, ia menegaskan, pemangkasan anggaran belanja pegawai yang dimaksud sejalan dengan rasionalisasi yang tajam.

Masdar yang juga komisaris KAI menyorot tingginya belanja pegawai yang mencapai angka Rp. 241,1 triliun. Sementara belanja barang sendiri hanya mencapai Rp. 167 triliun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, “Kalau pemerintah serius merasionalisasi anggaran belanja pegawai, maka efisiensi anggaran belanja negara dapat dialihkan kepada jaminan-jaminan sosial.”

DPR dan pemerintah juga harus mempertimbangkan jumlah penerimaan pegawai negeri. Selain anggaran, pemerintah harus merasionalisasi jumlah mereka. Dan, kualitas pegawai juga harus diseleksi secara ketat dalam proses penerimaan, bukan sekadar mengandalkan unsur kedekatan dan suap, tutupnya.

Redaktur ? : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 07 Desember 2017

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah

Jenewa, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pemimpin Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Rabu (11/9), menyerukan upaya gabungan dari masyarakat internasional untuk memastikan bantuan yang diberikan menjangkau orang-orang yang memerlukan di Suriah.

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah

Peter Maurer, Presiden ICRC mengatakan di markas organisasi tersebut di Jenewa bahwa perang yang berkecamuk di Suriah dan dampak tak terkendali dari konflik bersenjata itu atas rakyat sipil Suriah menjadi keprihatinan besar.

Ia menyerukan perhatian mendesak pada situasi menyedihkan rakyat Suriah yang tak mendapatkan di antaranya makanan yang diperlukan, barang kebutuhan rumah tangga, air, fasilitas kebersihan, dan bahkan fasilitas serta perawatan medis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Apa yang kita lihat ialah peningkatan penderitaan rakyat Suriah dari dampak perang ini," kata Maurer.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan konflik itu telah mengakibatkan banyak kematian dan pengungsian, dan membuat banyak orang jadi pengungsi di dalam negeri mereka.

Maurer kembali menyeru para pelaku utama yang memiliki pengaruh pada semua pihak atau kelompok dalam konflik Suriah agar menggunakan pengaruh politik dan diplomatik mereka serta saluran komunikasi, sehingga "para aktor kemanusiaan di lapangan dapat melakukan pekerjaan yang mesti mereka lakukan". (antara/mukafi niam)

Foto: AP

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak sekali berbagai amalan yang dapat dilakukan saat ibadah puasa. Mulai dari membaca Al-Qur’an, mengaji, berbakti kepada orang tua, atau bahkan membagi-bagikan takjil di pinggir jalan. Seperti agenda kegiatan puasa di hari ketiga yang dilakukan oleh PAC IPNU-IPPNU Rogojampi bersama MWC NU Kecamatan Rogojampi di kawasan Jalan Pangeran Diponegoro, No.211, depan kantor Kecamatan Banyuwangi. (29/05) menjelang waktu buka puasa.

Gelaran bakti sosial ini selain dihadiri pengurus IPNU IPPNU dan MWC NU Kecamatan Rogojampi, nampak hadir pula banom-banom NU.

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Ketua PAC IPNU Rogojampi Khoerul Insani mengatakan, gelaran kegiatan ini penting dilakukan guna memunculkan kepekaan sosial dalam masyarakat.

"Puluhan kader-kader saya libatkan di rentetan aksi bakti sosial ini sebagai upaya pengaktifan nilai-nilai sosial di dalam diri mereka. Meski mereka masih kader-kader baru, antusias mereka dengan kegiatan ini sangat luar biasa," jelas Insani.

Insani menilai kegiatan ini sangat luar bisa menginspirasi sekali bagi teman-teman yang belum tergabung dengan organisasi NU. "Selain bakti sosial ini adalah dakwah, sekaligus memberikan tauladan bahwa masih banyak di negeri ini pemuda-pemuda NU yang memberikan inspirasi perubahan bagi negerinya," tutup Insani.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Sekretaris MWC NU Kecamatan Rogojampi Heri Dwi Setiawan menyampaikan, ini adalah kegiatan bakti sosial yang mengandung arti memberikan nilai-nilai pendidikan kader di organisasi Nahdlatul Ulama untuk para generasinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya harap nantinya mereka ketika benar-benar terjun di sosial masyarakat mereka mampu mewarnai kehidupan masyarakat ditengah-tengah ketimpangan sosial," harap Heri.

Acara tersebut juga menampilkan aksi live music yang diisi oleh NSC. Grop music yang mewadahi minat dan bakat kader PAC IPNU Rogojampi. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 November 2017

Hari Ini, LSN Region Jawa Tengah III Dibuka

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Sebanyak 30 tim pesantren bakal bersaing dalam perhelatan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 Jawa Tengah Regional III di Tegal.

"Opening Ceremony LSN Region Jateng III akan dimulai Rabu sore (6/9) hari ini di GOR Trisanja Slawi, Kabupaten Tegal," kata Ketua Panitia Pelaksana LSN Regional Jawa Tengah III Mustholah melalui Sekretaris Panpel Mubin saat dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (5/9).

Hari Ini, LSN Region Jawa Tengah III Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, LSN Region Jawa Tengah III Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, LSN Region Jawa Tengah III Dibuka

Ia menjelaskan, LSN 2017 Jateng Region 3 berasal dari eks Karesidenan Pekalongan dan Banyumas terdiri atas Tegal, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Batang, Banyumas, dan Kebumen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Untuk tahun ini (2017), ada 30 peserta Liga Santri Nusantara," terangnya.

Menurutnya, opening ceremony rencananya akan dihadiri oleh Ketua RMI pusat Gus Rozin Sahal selaku Panitia Nasional LSN, Koordinator Regional Jateng III, Bupati Tegal, Ketua PCNU Tegal, Ketua RMI Tegal dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Acara akan dimeriahkan dengan penampilan seni kuntulan, atraksi pencak silat pagar Nusa, dan seni barongsai," imbuhnya.

Sementara itu, pada kick off perdana akan bertanding Bustan FC dari Pesantren Bustanul Ulum Ketanggungan, Brebes melawan Mahadut Tholabah FC dari Pesantren Mahadut Tholabah Lebaksiu Tegal. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 November 2017

Tim Luar Jawa Habisi "Maung Bandung" di Pakistan

Islamabad, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah berlangsung berbagai kegiatan mulai dari Seminar, Orientasi ke-NU-an dan Bahtsul Masail, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Pakistan menutup rangkaian harlah ke-90 NU dengan menyelenggarakan kejuaraan sepak bola dan bazar kuliner nusantara di lapangan olah raga F-11 Islamabad, Ahad, (6/3).?

Panitia mengundang seluruh mahasiswa, para staf KBRI dan warga Indonesia yang tinggal di Islamabad. Acara yang dikemas meriah ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahim sekaligus hiburan menarik setelah pekan sebelumnya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bersifat keilmuan.

Tim Luar Jawa Habisi Maung Bandung di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Luar Jawa Habisi Maung Bandung di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Luar Jawa Habisi "Maung Bandung" di Pakistan

Dalam kejuaraan sepak bola non profesional ini, sebanyak empat tim terbagi menurut daerah asal pemain, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Luar Jawa.

Seluruh tim saling bertemu dalam format liga. Kondisi lapangan yang diguyur hujan memaksa setiap tim beradu strategi guna meraih poin.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah





Setelah menyingkirkan lawan-lawanya, Tim Jawa Barat dan Luar Jawa bertemu di final. Di ? babak ini, pasukan “Maung Bandung” sempat unggul 1-0, namun skuat Luar Jawa mampu menyamakan kedudukan saat injury time. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang. Pertandingan pun dilanjutkan lewat adu penalti. Tim Luar Jawa akhirnya keluar sebagai juara setelah menang 4-3 dan berhak atas Piala NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum pertandingan dimulai,? Mustasyar PCI-NU Pakistan Firman Arifandi? mengatakan, pembagian tim berdasarkan asal daerah tidak serta merta ingin mengangkat unsur primodial, melainkan untuk mempersatukan, “justru dengan sistem pembagian seperti ini akan menyadarkan kita akan asal berbagai macam daerah yang harus bersatu padu untuk kemajuan bangsa Indonsia,” ujar Firman Arifandi saat memberi sambutan.

Sementara itu, di samping lapangan para peserta bazar kuliner nusantara sibuk melayani para pengunjung, berbagai makanan khas Indonesia dijajakan seperti siomay, sayur lontong, nasi uduk, mie goreng, mie ayam, molen pisang, bakwan, es cendol, es susu kedelai, dan lain-lain. Dengan aneka ragam makanan yang tersedia, tak pelak acara tersebut berhasil memanjakan lidah para pengunjung yang memamang dihinggapi kerinduan akan masakan khas Indonesia.

Penutupan acara diisi dengan penyerahan tropi juara dan hadiah kepada pemenang oleh Kolonel Sumartono (Fungsi Politik KBRI Islamabad) dan Mustasyar PCI-NU Pakistan.?

Ketua Tanfidziyah PCI-NU Pakistan, Zulfikri Hasibuan menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Indonesia yang sudah ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. “Semoga acara ini bisa menjadi washilah pengerat tali ukhuwah antarwarga Indonesia di Pakistan” harapnya yang kemudian diakhiri dengan foto bersama. (Ikmal Toha Kamaluzzaman/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri

Oleh Ferial Farkhan Ibnu Akhmad

Tanggal 22 Oktober adalah tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah). Tanggal tersebut menjadi sebuah alasan yang mendorong terjadinya peristiwa pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa yang menyimpan makna sejarah yang tak terlupakan bagi negara yang sudah merdeka 70 tahun ini. Sehingga setiap tanggal 10 November kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dan terbebas dari kolonialisme selama lebih dari tiga setengah abad, bangsa ini kembali harus berhadapan dengan pasukan Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mengatasnamakan blok sekutu dengan misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda.?

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Kekuatan Bangsa Melalui Hari Santri

Sehingga peristiwa tersebut menuntut warga negara Indonesia untuk kembali mengangkat senjata melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan jiwa dan raga. Runtutan peristiwa itulah yang menginisiasi lahirnya fatwa Resolusi Jihad dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Fatwa tersebut yang berhasil membakar semangat para ulama, santri, arek-arek Surabaya, seluruh rakyat Indonesia untuk berjihad membela bangsa dan negara.

Saat ini Presiden RI Joko Widodo telah menandatangani Keppres Hari Santri Nasional pada 15 Oktober 2015. Penetapan ini sebagai realisasi janji Presiden Joko Widodo pada saat masa kampanye 1 tahun yang lalu. Proses menentukan hari besar nasional tersebut sempat terjadi dinamika didalamnya. Semula akan ditentukan setiap tanggal 1 Muharram, kemudian diganti tanggal 22 Oktober atas dasar masukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan ormas Islam lainnya. Sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam memberikan kontribusi kepada bangsa ini menjadi alasan utama PBNU memberikan saran tanggal tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Santri Nasional bukan hanya sebatas menggugurkan janji Presiden Jokowi saja. Banyak hal yang perlu masyarakat refleksikan dari ditetapkannya hari besar tersebut. Ini sebagai upaya membuka pemikiran seluruh warga negara Indonesia bahwa para ulama dan santri mempunyai saham besar atas berdirinya negara ini. Peran dan perjuangan kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia mulai dari sebelum kemerdekaan hingga sekarang tidak bisa dikesampingkan apalagi dihapuskan. Saat ini banyak masyarakat yang menilai bahwa ulama dan santri yang dikenal dengan kaum sarungan hanya mengurusi masalah keagamaan saja. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi pemerintah pada zaman Orde Baru yang sengaja menghapuskan peran ulama dan santri dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Perlakuan tidak adil ini teraplikasikan dari minimnya catatan sejarah resmi yang menjelaskan bahwa ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam tegaknya Republik Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dinamika Perjuangan Kalangan Pesantren

Pada zaman sebelum kemerdekaan para ulama berupaya untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah. Menurut Manfred Ziemek dalam buku hasil penelitiannya Pesantren Dalam Perubahan dituliskan bahwa “Para pejuang kemerdekaan melawan kaum penjajah adalah para kiai dan santri yang terpanggil memprakarsai dan memimpin perlawanan”.?

Rasa cinta para ulama dan santri terhadap negara sangatlah besar. Jika kita melihat poin penting ? dari isi fatwa Resolusi Jihad antara lain yaitu. Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dangan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia. Keempat, umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang. ?

Memahami isi dari fatwa dari pendiri NU ini, tentu ini bukan hanya sebatas ajakan biasa untuk berjuang. Tapi fatwa tersebut adalah buah dari ijtihad para ulama sebagai modal para santri dan arek-arek Surabaya untuk berjihad. kita bisa merasakan betapa besarnya keinginan para ulama mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Hasilnya pun bisa kita rasakan sampai sekarang. Tapi sekali lagi sangat disayangkan, tidak banyak generasi saat ini yang mengetahui peristiwa bersejarah tersebut.

Kontribusi yang diberikan oleh para ulama dan santri tidak sebatas pada saat pra kemerdekaan saja. Sesudah merdeka pun ulama dan santri tidak hanya berdiam diri dalam menjaga kedaulatan Republik ini. Salah satunya dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara. Ketika Pancasila dipertentangkan oleh sebagian kelompok intoleran, para ulama NU-lah yang menuntaskan penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan bernegara. Bahkan salah satu ulama NU KH As’ad Syamsul Arifin menegaskan bahwa sebagian kiai dan umat Islam Indonesia berpendapat bahwa menerima Pancasila hukumnya wajib (Lihat Prof Dr Maksoem Machfoedz dalam bukunya Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama). Diperkuat lagi dengan keputusan Muktamar NU tentang pengukuhan dan pengesahan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Poin ke lima dari Deklarasi tentang hubungan Pancasila dan Islam dijelaskan “Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konseksuen?

oleh semua pihak.”

Tanggal 22 Oktober 2015 pertama kalinya pemerintah meresmikan “Hari Santri Nasional” sudah sepatutnya para kalangan pesantren menyambut momen ini dengan suka cita. Sudah saatnya para santri menjadi agen perubahan masa depan bangsa ini. Ada beberapa upaya yang menurut penulis bisa dilakukan para santri untuk hal tersebut, yaitu pertama, sudah saatnya santri bersikap lebih progresif dalam menuntut ilmu. Tidak hanya mendalami ilmu agama saja, akan tetapi juga mempelajari semua ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Selama ini para jebolan pesantren apalagi yang pesantren salaf berjubel di jurusan Tarbiyah saja sehingga kebanyakan hanya menjadi tenaga pendidik. Perlu adanya upaya menyebarkan santri di segala disiplin ilmu. Baik ilmu sosial maupun teknologi. Sehingga diharapkan akan terlahir para ilmuan dan teknorat yang berjiwa santri.

Kedua, perlu adanya metode pembelajaran baru yang diselenggakan di pesantren. Kesan suasana pesantren yang tradisional dan klasik seakan menjadi penghambat minat para anak-anak untuk mau belajar di pesantren. Modifikasi cara belajar perlu dilakukan tanpa harus menghilangkan substansi keilmuan yang akan disampaikan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih seharusnya dimanfaatkan untuk sarana transfer of knowladge para santri saat ini. Sehingga istilah Gaptek (gagap teknologi) tidak dialami lagi oleh para santri. Perlu diingat, bahwa sebagian besar generasi muda saat ini ketika bertanya perihal agama cenderung lebih memilih bertanya melalui internet daripada langsung bertanya kepada ustad atau kyai. Disinilah peran santri sangat diperlukan untuk selalu membagi ilmunya melalui udara.

Ketiga, perlu adanya penyeimbangan antara ditetapkannya hari santri nasional dengan perhatian pemerintah terhadap pesantren. Artinya supaya pemerintah tidak terkesan hanya menetapkan hari tersebut tanpa adanya visi masa depan. Tetapi benar-benar pemerintah bisa membantu menjadikan pesantren sebagai produsen yang menciptakan insan-insan masa depan bermutu yang bisa diandalkan untuk kemajuan bangsa ini. Saat ini perhatian pemerintah lebih besar tertuju kepada lembaga pendidikan formal saja. Mulai dari sarana dan prasarana pesantren hingga kesejahteraan pendidik haruslah ditingkatkan. Sehingga paradigma masyarakat terhadap pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata dan percaya untuk menitipkan putra-putrinya untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan milik para kyai tersebut. Bukankah beberapa Founding Father bangsa ini juga berasal dari kalangan pesantren yaitu Wahid Hasyim, A Kahar Mudzakir, Agus Salim, dan lain-lain.

Beberapa upaya di atas bisa terwujud dengan adanya kerjasama berbagai pihak. Gerakan “Ayo Mondok” yang dicetuskan oleh Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), lembaga yang merupakan asosiasi pesantren seluruh Indonesia adalah upaya nyata untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yang adil dan beradab untuk seluruh rakyatnya. Semoga.

Ferial Farkhan Ibnu Akhmad, Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

?

Foto ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur ketika melaksanakan Upacara HUT Kemerdekaan Ke-69 RI, 17 Agustus 2014 lalu.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Rais Syuriyah PCINU Jerman Kupas ISIS di Turki

Istanbul,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bertempat di Turkiye Yazarlar Birligi, PCINU Turki bersilaturahim dengan Rais Syuriyah PCINU Jerman Dr Syafiq Hasyim yang baru saja menyelesaikan program doktoralnya dari Universitas Freie Berlin untuk kajian Islam kontemporer.

Rais Syuriyah PCINU Jerman Kupas ISIS di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCINU Jerman Kupas ISIS di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCINU Jerman Kupas ISIS di Turki

Selain dihadiri anggota PCINU, silaturahmi pada Jumat (8/8) diskusi ini diikuti mahasiwa Indonesia di Istanbul, Ruhum. Masyarakat Turki yang mempunyai minat yang sama tentang perkembangan di negara-negara Timur Tengah saat ini juga ada yang ikut.

Syafiq menjelaskan, fenomena ISIS tidak bisa hanya dilihat melalui kacamata kultural atau agama saja karena ada kepentingan ekonomi-politik di belakang organisasi multietnik ini. “Dikarenakan fenomena ISIS termasuk baru, belum ada informasi yang valid atau pun pengetahuan mendalam seperti artikel ilmiah di jurnal,” kata Syafiq

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Syafiq, ISIS bisa dibilang membawa paham radikalisme yang jika tidak diantisipasi masyarakat Indonesia akan berdampak langsung kepada keamanan dan perdamaian yang dijunjung tinggi para pendiri negara kita.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Syafiq juga menyingung soal media massa yang yang menulis gerakan radikal tersebut. Menurutnya, sekarang kebebasan dalam berbicara sudah dalam fase tahap lanjut. Siapa saja di Indonesia bebas mengemukakan pendapat pribadi masing-masing. Didukung dengan akses internet yang semakin hari kian cepat dan bisa dijangkau secara mudah, termasuk telepon seluler,arus informasi mengalir tanpa saringan.

Kini, kata dia, setiap orang dengan mudah memproduksi “wartanya” sendiri, berdasarkan analisis sendiri, lalu dipublikasikan sendiri. “Kaidah jurnalistik sayangnya diabaikan,” tambahnya.

Di satu sisi, lanjutnya, hal itu merupakan tanda kebebasan berpendapat yang menggembirakan. Akan tetapi, di sisi lain, itu menyebabkan bergesernya tren bacaan masyarakat.

Dulu, kata dia, mereka merujuk pada artikel ilmiah, jurnal, makalah maupun sejenisnya, kini berganti menjadi bacaan artikel populer yang sangat instan. “Orang tidak lagi menilik sesuatu berdasarkan sumber yang otoritatif, tetapi melihat dari popularitas seorang tokoh yang tidak mumpuni,” jelasnya.

Ia mencontohkan, belakangan banyak orang yang mencibir kepakaran Prof Quraish Shihab dan menyanjung “fatwa instan” dari seseorang yang tidak dikenal sebagai ilmuwan dan penulis yang berintegritas.

Kembali kepada ISIS, Syafiq berpendapat diperlukan penelitian yang mendalam supaya tidak menyebabkan adanya kesalahan informasi yang dapat  meracuni pikiran publik. “Kita harus beralih dari memproduksi pengetahuan berbasis konspirasi menuju pengetahuan berbasis riset,” tegasnya.

Ia menyesalkan, apa yang terjadi sekarang, masyarakat umum lebih menyukai bacaan populer daripada analisis ilmiah sehingga terkadang tulisan intelektual beberapa akademisi dianggap sebagai perpanjangan tangan dari budaya Amerika yang liberal.

Dalam menyikapi ISIS, pesan Syafiq, kita harus tahu bahwa ideologi ini tidak cocok untuk diaplikasikan di negara Indonesia bahkan tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, sehingga berbahaya bagi kelangsungan ideologi bangsa Indonesia.

Selain menggali nilai-nilai NU yang moderat, ia menegaskan pentingnya memahami nation and character building seperti yang dulu ditegaskan pendiri bangsa Republik Indonesia. “Lihat Jerman, Amerika, juga Turki misalnya, mereka memiliki nilai-nilai budaya bangsanya sendiri yang sulit dipengaruhi seketika.”

Indonesia, kata pakar hukum Islam ini, membutuhkan itu. Apa yang disebut sebagai “manusia Indonesia,” sekarang tidak jelas dan malas untuk diperdebatkan dalam ruang publik. Maka, upaya untuk deradikalisasi juga searah dengan kehendak untuk mengenali kembali nation and character building itu. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Kajian, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 27 Oktober 2017

Kiai Maruf: Belajar Agama Jangan Hanya Melalui Internet

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Rais Aam PBNU KH Maruf Amin berpesan agar masyarakat tidak menerima begitu saja pelajaran agama yang bertebaran di media sosial atau via internet. Pasalnya, pelajaran agama akan rawan sekali penyimpangan bila disampaikan tanpa guru.

Demikian disampaikan Kiai Maruf Amin di hadapan ribuan jamaah NU Taiwan dalam istighotsah dan tabligh akbar di pusat Kota Taiwan, Taipei Main Station, Ahad (15/10).

Kiai Maruf: Belajar Agama Jangan Hanya Melalui Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf: Belajar Agama Jangan Hanya Melalui Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf: Belajar Agama Jangan Hanya Melalui Internet

Hadir dalam acara ini Katib Syuriyah PBNU Asrorun Niam Sholeh, Wakil Kepala Dagang dan Ekonomi Indonesia Siswadi, Sinchung Halal for Taiwan, dan juga Ketua Taiwan Muslim Association Mr Yasin.

"Beragama itu harus melalui guru. NU sudah memberikan panduan keagamaan yang perlu dipegangi. Belajar agama jangan hanya melalui internet. Bisa bahaya. Di sinilah pentingnya berjamaah dan berjamiyyah. Belajar agama itu dari ulama," jelas Kiai Maruf.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara ini disponsori oleh Sinchung Halal for Taiwan, lembaga sertifikasi halal yang menjadi mitra MUI dalam sertifikasi halal di Taiwan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 20 Oktober 2017

Beramal Baiklah di Segala Medan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beramal Baiklah di Segala Medan

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang dari suku Baduwi tentang hijrah. Maksudnya, si Baduwi hendak ikut berjuang bersama umat Islam lainnya dengan bermigrasi dari Makkah menuju Madinah. Nabi pun menjawab dengan nada agak keras:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Celakalah, sungguh itu sangat berat. Apakah kamu memiliki unta yang sudah sampai nishab yang dikeluarkan zakatnya?” Orang Baduwi itu menjawab “Ya.” Rasulullah pun membalas, “Beramalah dari balik perkampungan. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amal baikmu sedikt pun.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Said al-Khudri. Dalam pertanyaan orang Baduwi itu tersimpan niat baik untuk berjihad di jalan Allah dengan cara turut serta hijrah ke daerah lain. Hijrah kala itu merupakan pekerjaan yang tidak sederhana.

Lebih dari sekadar menempuh perjalanan jauh, hijrah mengandaikan seseorang bersiap secara fisik dan mental menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan, juga tantangan bertemu dengan kehidupan sosial yang baru di tanah orang. Hijrah juga merupakan momen berpisah dengan keluarga dalam waktu cukup lama dan karenanya memastikan bekal dan kesejahteraan bagi orang-orang yang ditinggal.

Mungkin sadar akan keterbatasan orang Baduwi itu untuk melaksanakan itu semua, Rasulullah memberikan alternatif lain tentang cara berjihad. Karena si Baduwi adalah orang yang berpunya, Nabi pun menyarankan dia berbuat baik melalui harta. Si Baduwi dianjurkan tetap berada di kampung halaman dengan memperbanyak sedekah.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Cerita tentang orang Baduwi tersebut mengungkapkan pesan bahwa medan amal ibadah memang sangat luas. Ketika orang-orang kala itu menganggap hijrah sebagai jalan amal yang primadona, Nabi menampiknya dengan menunjukkan jalan-jalan lain yang juga sama baiknya. Rasulullah sadar, kemampuan umatnya berbeda-beda, sebab itu cara berbuat baik pun tidak harus sama.

Petunjuk Nabi ini juga selaras dengan pesan Al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam Surat at-Taubah ayat 122:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Demikianlah lagi-lagi Nabi tak mengharuskan jihad perang atau hijrah sebagai satu-satunya pilihan. Rasulullah menilai pendalaman ilmu dan menjadi pembimbing masyarakat pun bagian dari jihad yang tak kalah penting. Dalam bahasa lain, pola semacam ini bisa kita sebut sebagai “distribusi tugas”. Orang-orang tidak dipaksa bekerja dalam satu bidang tertentu tetapi dibiarkan menduduki porsi masing-masing lalu berperan positif sesuai dengan fungsinya.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Lalu bagaimana bila kita tidak memiliki kekayaan yang cukup? Pertanyaan ini kadang kita temukan dari sejumlah orang yang menyesali dirinya tidak bisa berbuat baik banyak (misalnya) hanya karena ia seorang pegawai rendahan, gajinya sedikit, penghasilannya pas-pasan.

Mereka mungkin lupa bahwa sumber kebaikan tidak selalu ditentukan oleh harta. Bahkan, dalam banyak kasus banyaknya harta kerap malah menjerumuskan. Betapa banyak orang-orang yang berharap peningkatan nasib, namun ketika kenikamatan tersebut hadir orang itu justru menjadi kufur: lupa bersyukur, lupa berbagi kepada sesama.



(Baca: Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah)


Banyak jalan menuju kebaikan. Selain harta, berbuat baik juga bisa disalurkan melalui tenaga dan pikiran. Menjenguk orang sakit, berbakti kepada orang tua, berpatisipasi dalam donor darah, mengajar, memperhatikan orang lemah di sekitar kita, andil dalam kerja bakti, dan lain-lain adalah sedikit contoh dari jalan beribadah atau beramal baik.

Terlebih lagi, amal perbuatan yang tampak biasa bisa berubah menjadi amalan “luar biasa” dengan cara memperbaiki niat. Hal ini dapat terjadi karena niat berpusat di hati, dan hati adalah sumber yang sangat menentukan dalam segenap aktivitas manusia. Tentang memperbaiki niat ini Syekh az-Zarnuji dalam kitab Ta’lîmul Muta‘allim mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Betapa banyak amal perbuatan yang bercirikan amal perbuatan duniawi, tetapi karena niat yang bagus menjadi amal perbuatan akhirat. Betapa banyak perbuatan yang bercirikan amal perbuatan akhirat, tetapi menjadi perbuatan dunia karena niat yang buruk”.

Bekerja, berolah raga, makan, minum, tidur, atau aktivitas sejenis lainnya hanya sekilas hanya rutinitas belaka. Dengan mengimbuhinya niat yang positif, misalnya untuk menunaikan tanggung jawab, untuk kesehatan fisik demi menghamba kepada Allah, rutinitas tersebut menjadi bernilai ibadah. Sebaliknya bila yang demikian diniatkan semata untuk memenuhu sifat tamak, akan menjadi rutinitas yang tidak bernilai baik apa-apa.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Jangan pernah mengabaikan niat, jangan pula meremehkan posisi kita sekarang selamat tak menyalahi syariat. Karena semua orang mampu menata niatnya dan semua orang berpotensi berbuat yang terbaik sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing. Apalagi, kata orang bijak, manusia tidak dicela karena tidak mencapai kebaikan maksimal, melainkan karena tidak mau berikhtiar berbuat baik padahal ia memiliki kemampuan. Wallahu a’lam.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Alif Budi Luhur)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Tegal, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 September 2017

Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika sikap DPRD soal pro-kontra rencana pembangunan PLTN Muria kemungkinan akan ditentukan pada pertengahan September, Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya akan lebih cepat. Diperkirakan awal September sudah ada taushiyah dari Pengurus Cabang NU setempat untuk merespon dinamika masyarakat terkait pro-kontra PLTN yang rencananya dibangun di Desa Balong, Kecamatan Kembang.



Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi PLTN Muria, NU Tunggu Taushiyah

Ketua PCNU Jepara H Nuruddin Amin mengemukakan, pada 1 September mendatang, NU akan menggelar bahtsul masail (pembahasan masalah) tingkat cabang yang khusus membahas soal rencana megaproyek tersebut. Kegiatan itu akan dan mengkaji suara masyarakat sekaligus menggali dalil-dalil dari perspektif fikih.

“Insyaallah, bahtsul masail itu nantinya akan dihadiri para kiai dan kami berharap ada taushiyah dari sisi fikih tentang rencana pembangunan PLTN,” ungkap Nuruddin Amin, Rabu (8/8) kemarin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam rangkaian itu, PCNU akan mengundang pihak-pihak yang berkompeten untuk menjadi narasumber. Menristek Kusmayanto Kadiman serta Kepala Batan Hudi Hastowo masuk dalam rencana sebagai calon. Sebelumnya, Ketua DPRD Masnukhin menyatakan sikap lembaganya akan dibahas dalam pandangan akhir fraksi pada 13 September mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia menyatakan hal itu saat menerima perwakilan masyarakat yang menolak PLTN Muria, Selasa (7/8), bersamaan dengan kedatangan puluhan masyarakat pemilik lahan di kawasan pantai dari Desa Ujungwatu, Kecamatan Keling yang menyatakan bisa menerima PLTN. Namun sikap yang pro-PLTN itu, Rabu (8/8) mendapat respons dari Sali Siswoyo, tokoh masyarakat desa setempat.

“Mereka datang atas nama pribadi. Secara resmi, masyarakat desa kami belum menentukan sikap. Yang kami cermati, banyak sekali yang menolak dan ada juga yang masih diam. Namun sikap resmi desa akan segera dibahas di tingkat desa dalam waktu dekat,” ucapnya.

Setelah Pemuda Pancasila (PP) Cabang Jepara, suara kelompok yang menerima PLTN Muria kembali muncul. Itu disampaikan Jamaah Thoriqah Attijani yang sekretariatnya di Desa Kedungcino, Kecamatan Jepara.

Melalui koordinatornya Moh Farazi, jamaah tersebut menyatakan bisa menerima PLTN untuk mengatasi defisit energi listrik. Sebab, dianggap sebagai teknologi temuan yang bisa dikelola dengan baik jika sesuai dengan prosedur dan peruntukannya. Jamaah tersebut telah merilis sikapnya dan disampaikan ke Bupati Jepara Hendro Martojo serta pimpinan DPRD. (gpa/man)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 05 September 2017

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus GP Ansor kabupaten Cirebon mengerahkan 145 anggota Banser yang bertugas di enam titik lintasan arus mudik lebaran baik jalur utara maupun jalur selatan. Mereka menempatkan enam posko mudik sepanjang perbatasan Indramayu-Cirebon hingga perbatasan Cirebon-Jateng.

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)
145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Ksatkorcab Banser Cirebon Fikriyan mengatakan, pos pertama ditempatkan di Arjawinangun dengan Korlap Apung. Sementara Asep menjadi koordinator lapangan untuk pos kedua di Plumbon. Sedangkan pada pos ketiga GP Ansor Cirebon mengamanahkan anggota Banser Cirebon Aris sebagai korlap.

“Kita menugaskan Sunanta untuk membawahi anggota Banser pada pos keempat di Dukupuntang. Pos kelima di kecamatan Mundu dengan Umar sebagai komandannya. Terakhir kita menugaskan Omang untuk pos keenam di Karangsembung,” kata Fikriyan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (30/7) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hingga kini, semua alhamdulillah berjalan aman, tertib dan lancar terkendali. Semua, lanjut Fikriyan, kami lakukan atas dasar sukarela dengan titik tugas misi organisasi dan misi kemanusiaan.

Pendirian posko dan pengerahan anggota menjadi tanggung jawab Ketua GP Ansor Cirebon Fariz, Kasatkorcab Banser Cirebon Fikriyan, dan sejumlah jajaran pengurus Banser. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 28 Agustus 2017

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Oleh Fathoni Ahmad

Ada anugerah melimpah ruah ketika bulan Dzulhijjah tiba. Umat muslim di seluruh dunia tidak hanya dihadapkan pada rukun Islam kelima yaitu menunaikan ibadah haji, tetapi juga dapat memetik ibadah penuh hikmah seperti puasa di bulan Dzulhijjah, puasa sunnah tarwiyah dan Arafah, serta memperingati hari besar kedua umat Islam, Idul Adha.?

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Idul Adha juga familiar dengan sebutan Hari Raya Kurban, di mana umat Islam dalam momen tersebut ramai-ramai memberikan hewan kurban seperti kambing, kerbau, maupun sapi sebagaimana syariat Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Ibrahim adalah orang yang sangat patuh kepada Allah. Contohnya ketika Allah menyuruh Ibrahim untuk menyembelih anaknya, tanpa ragu-ragu langsung dilaksanakan kemudian dipangggilnya Ismail untuk bermusyawarah.?

Dari musyawarah itu Ismail setuju dirinya dijadikan kurban oleh ayahnya (QS as-Shaffat: 107), ketika Ismail dieksekusi oleh ayahnya, Ismail sabar dan pasrah kepada Allah. Nabi Ibrahim yakin tidak akan ada sebuah perintah dari Allah tanpa jaminan dari Allah. Buktinya benar bahwa sembelihan Ibrahim diganti dengan sembelihan kambing yang sangat besar, inilah cikal bakal adanya syariat kurban. Oleh karena itu marilah kita berkurban semoga Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih besar.

Tuntunan kurban juga terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang menyatakan, Fashalli lirabbika wan har, “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)".

Makna kurban dalam ayat tersebut mempunyai beberapa dimensi karena muaranya adalah taqwa kepada Allah. Untuk mencapai derajat tersebut, manusia tidak mungkin hanya bermodal keshalehan vertikal kepada Tuhannya, melainkan mampu menumbuhkan keshalehan sosial kepada sesama manusia sebagai basis kekhalifahan di muka bumi. Dimensi yang dimkasud yaitu dimensi sosial dan spiritual.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aspek sosial dalam ibadah kurban jelas terlihat ketika seorang hamba berbagi kebahagiaan terutama dengan masyarakat kurang mampu untuk dapat menikmati daging kurban, baik berupa sapi maupun kambing. Dimensi ini akan menyadarkan individu bahwa kepedulian terhadap sesama manusia mempunyai peran yang sangat penting untuk menumbuhkan keshalehan sosial pada diri pribadi maupun orang lain. Jadi dampak ibadah kurban bukan satu arah, melainkan saling timbal balik memunculkan kebaikan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tentu sempit jika kepedulian kepada sesama manusia dimaknai melalui kurban. Ibadah kurban hanya salah satu amal shaleh yang dianjurkan oleh Allah untuk mengambil pelajaran berharga dari historisitas luar biasa Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Ketiga orang mulia ini bahkan menjadi penuntun umat muslim dalam menjalankan tahap-tahapan ibadah haji selama ini. Sebagaimana diketahui, rukun haji seperti Sa’i dan lempar jumroh berasal dari riwayat sejarah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Namun, hendaknya dipahami secara substantif meskipun terwujud dalam bentuk simbol-simbol dalam ibadah haji.

Dalam momen Idul Adha ini, Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan teladan penghambaan terbaik manusia kepada Tuhannya. Sebab itu, ibadah haji dan kurban tidak hanya sebatas ritual saja, tetapi bagaimana menjadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan hal-hal yang melingkupinya dijadikan instrumen berharga untuk menghamba kepada Allah, bukan justru menghamba pada ritual-ritual tersebut. Sehingga tak jarang ditemui orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, tetapi justru tetangga sekitarnya mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup.?

Begitu juga dengan kurban, ibadah yang seharusnya mampu menjadi sebuah kebaikan alam bawah sadar manusia agar kepedulian terhadap sesama terus dipupuk di hari-hari berikutnya, namun lewat begitu saja sebagai sebuah ritus tahunan. Di titik inilah kurban benar-benar harus dijadikan penghambaan kepada Allah sehingga kurbanmu mampu menjadikan kurbanku dan kurban kita semua sebagai sebuah energi pendorong masyarakat untuk menghamba kepada Tuhan. Artinya, penerima daging kurban juga harus memiliki semangat berkurban di tahun berikutnya agar selamanya tidak menjadi penerima, tetapi pemberi.

Kurban kontraproduktif

Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan beberapa ironi ibadah kurban secara demografi yang selama bertahun-tahun mengalami ketimpangan. Maksud ketimpangan di sini ialah, satu daerah sangat melimpah daging kurban sebagai akibat banyaknya hewan kurban dari orang-orang menengah ke atas yang memang jumlahnya tidak sedikit, misal di DKI Jakarta. Sebaliknya, di suatu desa di satu kabupaten banyak ditemukan masyarakat yang tidak dapat menikmati berkah Idul Adha dengan menerima daging kurban.?

Jika dibandingkan, satu RW di Jakarta dalam sebuah Mushollah dapat terkumpul hewan kurban melimpah ruah berupa belasan sapi dan kambing. Sebaliknya, satu RW di sebuah desa kerap hanya ditemukan satu ekor hewan kurban saja. Kondisi ini miris, karena ketika masyarakat desa juga membutuhkan keberkahan daging kurban, kuantitas daging kurban di kota justru melimpah sehingga yang terjadi banyak distribusi daging kurban yang tidak tepat sasaran.?

Terlihat utopis ketika daging kurban harus didistribusikan ke masyarakat desa dari kota. Namun, para pejabat dan pegawai pemerintah, orang terkenal/artis, serta orang kaya hendaknya dapat memberikan hewan kurbannya ke tempat kelahiran di daerahnya. Selama ini, yang kerap terjadi justru mereka ramai-ramai berkurban di kota bukan di tempat kelahirannya sehingga semangat kurban menjadi kontraproduktif dengan ruh kepedulian sosial sebab tidak menyentuh dan tepat sasaran.

Akhirnya, perlu diperhatikan bahwa ibadah kurban mempunyai beberapa pelajaran utama yang dapat dipetik. Pertama tentang penghambaan total Nabi Ibrahim dan keluarganya ketika harus mengorbankan anak tercintanya atas perintah Allah SWT. Sebab itu, ibadah haji dan kurban jangan hanya dimaknai sebagai ritual belaka, tetapi sebuah totalitas penghambaan kepada Allah.

Kedua, tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah pengorbanan Ismail oleh Nabi Ibrahim, di satu sisi manusia diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia--sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu--adalah hal yang diharamkan.

Ketiga, pelajaran yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. Hal ini sama seperti ibadah haji yang harus dimaknai sebagai sebuah totalitas pengahambaan manusia kepada Allah, tidak dijalankan sebagai ritual tanpa makna sehingga predikat haji mabrur dapat diperoleh, yaitu keshalehan sosial seseorang meningkat drastis ketika kembali ke tengah masyarakat. ***

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) DKI Jakarta menyelenggarakan pelatihan tasawuf, Sabtu (12/3) tingkat dasar angkatan ke-2. Pelatihan yang dihelat di TQN Center Masjid al-Mubarak Rawamangun, Jakarta Timur ini diikuti 80 peserta dari berbagai pengamal tarekat di Jakarta.

Dalam sambutannya, sekretaris pelaksana pelatihan tasawuf, KH Ningram Abdullah menegaskan, kegiatan ini adalah upaya JATMAN mendukung revolusi mental melalui metode tasawuf. Pelatihan ini diikuti komunitas dari tarekat Khalwatiyyah, Idrisiyyah, Naqsybandiyyah, Syadziliyyah, Ghazaliyyah dan Qadiriyyah Naqsyabandiyyah Suryalaya.?

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf

“JATMAN sebagai asosiasi pengamal tarekat dibawah NU berupaya mensinergikan komunitas pengamal tarekat agar lebih sistematik mendakwahkan tasawuf kepada umat,” ujar Kiai Ningrum Abdullah.

Narasumber pertama, KH Wahfiudin Sakam dalam stadium general menyampaikan materi ‘Mengenal Diri Menggapai Ilahi’. Menurut Mudir Idarah Wustha JATMAN DKI Jakarta ini, dalam kehidupan sekarang banyak orang yang menganggap diri ini adalah tubuh fisik semata (materialistik) sehingga menganggap hidup hanya diartikan sebatas kehadiran tubuh di muka bumi (sekuler). Prinsip hidup hanya untuk mendapatkan semua yang diinginkan, sekarang juga, disini juga.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pengertian tentang bahagia pun hanya sebatas segala hal yang memberikan kenikmatan bagi tubuh (hedonistik),” ucap Kiai Wahfiudin.

Dalam paparannya, wakil sekretaris Diklat dan Pengkaderan LDNU ini mengajak peserta untuk memahami konsep diri dalam Islam. "Nafs adalah diri ruhani dengan qalbu sebagai pusatnya. Langkah awal untuk belajar tasawuf adalah menyadari jika hakikat diri adalah diri ruhani. Sehingga kita bisa menggeser paradigma materialistik menuju spiritualistik, sekuler menuju holistik dan hedonistik menuju asketik," terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah KH Wahfiudin Sakam, sesi selanjutnya dibawakan oleh Ust. Rizal Fauzi. Muballigh yang aktif di bidang dakwah tarekat Idrisiyyah ini menyampaikan materi tentang tasawuf dan thariqah. "Esensi ilmu tasawuf adalah bagaimana membersihkan qalbu. Maka adalah penting di awal kita memahami esensi diri kita," jelasnya.

Sebelumnya Muqadam Tijaniyyah, KH M Yunus A Hamid akan menyampaikan materi ‘Hakekat Martabat Kenabian dan Kewalian’. Ketua panitia pelatihan tasawuf tingkat dasar ini juga didaulat menutup acara. (Nugraha/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Lomba, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah