Sabtu, 30 September 2017

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Terkait penemuan brosur iklan yang merendahkan TKI di Malaysia, Sarbumusi menganjurkan pemerintah Indonesia untuk menilai ulang bentuk kerjasama tenaga kerja dengan pemerintah Malaysia.

“Pemerintah (RI-red) harus merumuskan kembali bentuk kerjasama dengan pemerintah Malaysia terkait ketenagakerjaan,” kata Syaiful Bahri Ansori, ketum Sarbumusi, Sarikat Buruh Muslimin Indonesia kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah per telepon, Rabu (31/10) pagi.

Menurutnya, kehadiran brosur iklan tersebut patut disesalkan. Peredaran brosur iklan di Malaysia yang merendahkan tenaga kerja Indonesia, berkaitan dengan kurang adanya penegasan nyata hubungan kerjasama dua pemerintah yang bertetangga tersebut.

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi

Syaiful menambahkan, kerjsasama harus menegaskan tenaga kerja Indonesia bukan hanya dinilai sekadar tenaga upahan. Hubungan kerjasama dua pemerintah itu harus menyatakan bahwa nilai kemanusiaan tenaga kerja Indonesia juga harus mendapat penghargaan.

Syaiful atas nama Sarbumusi menyayangkan edaran iklan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa dua pemerintah tersebut masih abai dalam menilai keberadaan tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja umumnya.

Agar tragedi semacam ini tidak terjadi ke depan, pembenahan dari segala sisi harus dimulai. Setidaknya pengusutan secara hukum mesti berlangsung, imbuhnya. Pada saat yang sama, imbauan moral segera digaungkan untuk menanamkan nilai kemanusiaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aspek hukum, politik, moral, dan budaya mesti mewakili suara yang mengangkat nilai kemanusiaan. Dengan demikian, eksploitasi fisik dan perasaan buruh oleh semua pihak yang berkepentingan tidak terulang, tandasnya.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 29 September 2017

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan

Oleh Mushafi Miftah

Beberapa minggu ini publik kembali gaduh, baik di dunia nyata maupun di media sosial akibat aksi intoleran kelompok-kelompok Islam garis keras. Mulai dari aksi bom bunuh diri hingga sweeping atribut perayaan hari Natal. Aksi sweeping terhadap atribut perayaan hari Natal ini berawal dari fatwa MUI Nomor 56 Tahun 2016, tentang menggunakan atribut keagamaan non-Muslim. Dalam fatwa tersebut, MUI menegaskan bahwa hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram. Tentu saja yang dimaksud dengan atribut keagamaan di sini ialah segala sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan

Secara etimologis Natal berasal bahasa portugis yang berarti "kelahiran". Sedangakan secara terminologis, Natal berati hari raya umat Kristen yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Hari raya Natal ini dirayakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Atas dasar inilah perayaan Natal merupakan ekspresi kebahagiaan kaum Nasrani atas kelahiran Yesus. Sehingga, tidaklah berlebihan jika kita memberikan apresiasi terhadap kebahagiaan mereka. Memberikan apresiasi bukan berarti meyakini apa yang mereka yakini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam perspektif sosial, mengucapkan selamat hari Natal kepada orang non-Muslim (Kristen) bukanlah sebuah persoalan. Ucapan tersebut bukan berarti kita memberikan justifikasi terhadap keyakinan mereka yang mengatakan bahwa Nabi Isa adalah putra Tuhan. Tapi sebagai wujud kepedulian dan solidaritas kita sebagai umat Islam. Bukankah Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (qimah insaniyah). Dengan begitu, tidak ada yang salah jika kita saling mendoakan kepada teman, kerabat non-Muslim yang sedang merayakan kebahagiannya. Perbedaan adalah sebuah kenyataan yang harus disadari. Perbedaan adalah fitrah manusia sejak manusi itu diciptakan. Karena itu, kita semua harus menyadari bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sosial.



Beragama, Haruskah Saling Membenci?


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beragama berarti mengakui adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan (Allah). Pengakuan seringkali diekspresikan melalui ketundukan dengan cara menjalankan apa-apa yang menjadi ajarannya yang maha tinggi. Namun, dalam mengekspresikan keberagamaan ini, manusia tetap memerlukan adanya mediator yang bisa menuntun manusia pada ajaran yang Maha Tinggi tersebut. Mediator di sini tentu saja adalah apa yang kita kenal dengan sebutan Nabi dan Rasul. Sedangkan perasaan tunduk pada yang Maha Tinggi, yang disebut iman, atau itikad, tentu saja akan berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain-lain. Kesemuanya itu adalah unsur dasar al-din (agama).

Secara subtansial, al-din (agama) berarti aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Agama lahir di dunia ini dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub dalam kitab sucinya masing-masing. Baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu ilahi) maupun yang dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Fungsi-fungsi tersebut ialah; pertama, menunjukkan manusia pada kebenaran sejati. Kedua, menunjukkan manusia pada kebahagiaan hakiki dan mengatur manusia dalam kehidupan bersama.

Atas dasar itu semua, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, sejatinya telah memiliki strategi, metode dan teknik pelaksanannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya. Karenanya, umat manusia dalam menjalankan agamanya, sang pencipta agama telah berpesan dengan sangat, “Kiranya umat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu justru menciptakan motivikasi keagamaan.

Bertolak pada penjelasan di atas, semua agama memiliki tujuan yang sama. Namun, dalam menggapai tujuan tersebut, masing-masing agama memiliki cara yang berbeda-beda. Semua agama menghendaki kehidupan yang ideal, yaitu untuk menciptakan kehidupan manusia yang bermoral dan sejahtera dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks inilah sebuah sikap yang paradoks jika kita menjadikan agama sebagai pemicu terjadinya konflik horizontal. Akidah dan keyakinan kita memang berbeda, tapi setiap kaum beragama memiliki tujuan yang sama yakni menggapai apa itu yang disebut kebahagiaan hakiki.

Dalam beragama, tidaklah dibenarkan adanya aksi saling membenci dan mencaci pada penganut agama lain. Sebab, itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip beragama. Menjadikan agama sebagai alasan untuk membenci orang lain, hemat saya merupakan pemikiran yang tidak produktif. Jauh lebih penting energi kita digunakan untuk membangun kesejahteraan umat dan bangsa Indonesia. Egoisme agama harus kita kesampingkan untuk kepentingan yang lebih maslahat asalkan tidak menggadaikan akidah. Keyakinan biarlah menjadi hak pribadi-pribadi tapi soal kepentingan negara dan bangsa harus menjadi tanggung jawab bersama. Nilai-nilai agama harus menjadi spirit pembangunan sosial ekonomi bangsa ini. Karena hakikatnya agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapi juga tata cara hidup dan berinteraksi antar sesama manusia.

Dengan demikian, hanya dengan persatuan dan solidaritas kita bisa mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejahtera aman dan sentosa. Kaitanya dengan Natal, sudah sepatutnya kita saling mengahargai dan menghormati. Kita tidak perlu lagi mempersoalkan ucapan selamat Natal. Sebab ia tidak menyangkut akidah tapi hanya ikut merasakan kebahagiaan sesama manusia. Ucapan selamat Natal hakikatnya meruapakan wujud kepedulian dan solidaritas antarsesama manusia (ukhuwah bashariyah). Soal keyakinan biarlah menjadi otoritas Tuhan. Biarlah dia yang menilai kadar keyakinan atau keimanan kita. Kita tidak perlu mencampuri hak prerogatif Tuhan. Kita tidak perlu menghakimi kafir pada Muslim yang mengucapkan selamat Natal kepada temannya yang sedang merayakan Natal. Wallahu A’lam



Penulis adalah intelektual muda NU Jawa Timur dan dosen tetap IAI Nurul Jadid Paiton
Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan

Tegal, NU Onlie

Dalam rangka mengisi kegiatan Ramadhan 1438 Hijriyah dan upaya membentuk karakter siswa, SMK Nahdlatul Ulama 01 Slawi Tegal mengadakan kegiatan Pesantren Ramadhan. Kegiatan berlangsung mulai Senin (29/5) hingga dua minggu kedepan di Gedung PCNU Kabupaten Tegal.

Kepala SMK NU 01 Slawi, H Ali Saefudin mengatakan, pesantren ramadhan ini merupakan agenda rutin setiap tahun di bulan Ramadhan. Kegiatan pesantren diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI.

"Pesantren Ramadhan ? ini dilaksanakan dengan sistem bergilir, sehingga bagi siswa yang tidak ikut pesantren masih bisa mengikuti pelajaran reguler," katanya.

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan

Menurut Ali, kegiatan pesantren ini merupakan suatu kegiatan yang sangat positif untuk dilakukan dalam rangka membentuk karakter islami kepada anak didiknya.?

Selain itu juga untuk meningkatkan akhlakul karimah para siswa. "Pada prinsipnya kegiatan ini sebagai upaya kami untuk membentengi akhlak dan moral anak, agar tidak terpengaruh pada budaya global yang negatif," ujar Ali

Dalam kegiatan pesantren, imbuhnya, setiap harinya diawali dengan tahlil dan istighosah bersama siswa dan guru. Selanjutnya baru diisi dengan sejumlah materi seperti tadarus Al Quran, sejarah islam, khitobah dan fiqih puasa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Selain diisi oleh guru setempat, Pesantren Ramadhan juga menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya Bupati Tegal, Ki Enthus Susmono dan KH Lutful Hakim," pungkasnya.

Kegiatan Pesantren Ramadhan SMK NU 01 Slawi akan berlangsung hingga 10 Juni 2017 mendatang. (Hasan / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sunnah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jangan Lupakan Palestina

Berbagai isu besar menyangkut dunia muslim seperti manuver kelompok radikal ISIS, gesekan Sunni-Syiah dan belakangan propaganda LGBT jangan sampai melupakan persoalan besar yang sampai saat ini belum terselesaikan, yakni Palestina dan Al Quds. Kekerasan terhadap warga Palestina dan pembatasan akses beribadah yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Al-Quds Al-Syarif nyaris luput dari perhatian dunia.

Karena itu pelaksanaan KTT Luar Biasa Organisasi Konferensi Islam (OKI) 7 Maret 2016 di Jakarta mendatang diharapkan akan memperkuat dukungan OKI terhadap penyelesaian Palestina dan Al Quds Al Syarif sebagai isu prioritas dunia Islam. Atas permintaan Palestina, Pemerintah RI telah menyampaikan kesiapan untuk menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa OKI tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif.

Jangan Lupakan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Lupakan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Lupakan Palestina

?

Persoalan Al-Quds Al-Syarif merupakan salah satu isu utama yang menjadi perhatian khusus OKI. Komite Al-Quds OKI yang didirikan pada tahun 1975 diberikan mandat untuk mengimplementasikan seluruh resolusi berkenaan dengan konflik Arab-Israel, khususnya terkait dengan Al-Quds. Komite ini diketuai oleh Raja Maroko dan terdiri dari 16 negara anggota, termasuk Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KTT Luar Biasa OKI ke-5 ini merupakan KTT pertama yang mengangkat secara khusus isu Palestina dan Al-Quds Al-Syarif. KTT akan dihadiri oleh 55 negara anggota OKI dan 4 negara pengamat (observer) OKI. ?

Selain akan menghasilkan sebuah resolusi yang memuat pernyataan politik negara anggota OKI, KTT juga akan mencanangkan Jakarta Declaration yang memuat sejumlah rencana aksi penyelesaian isu Palestina dan Al-Quds Al-Syarif. Kedua dokumen penting tersebut disiapkan oleh Indonesia selaku negara tuan rumah dan Palestina.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemerintah RI telah secara konsisten berada pada garda terdepan dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.? Selain merupakan elemen penting dalam pelaksanaan politik luar negeri Indonesia, dukungan tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari amanat UUD 1945 yang menempatkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan agar Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Penyelenggaraan KTT Luar Biasa OKI tahun ini merupakan bukti komitmen Pemerintah RI untuk mewujudkan perdamaian dunia. Pelaksanaan KTT juga merupakan tindak lanjut dari momentum yang diciptakan oleh Pemerintah RI sepanjang tahun 2015 dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, yaitu Deklarasi Palestina yang dihasilkan pada Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, April 2015, dan penyelenggaraan Konferensi Internasional tentang Jerusalem Timur, Desember 2015.

Indonesia telah memberikan dukungan bagi berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Realisasi dari dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk dukungan diplomatik, yaitu pengakuan terhadap keputusan Dewan Nasional Palestina (Palestinian National Council) untuk memproklamasikan Negara Palestina pada tanggal 15 November 1988.

Dukungan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan hubungan diplomatik antara Pemerintah RI dan Palestina pada tanggal 19 Oktober 1989. Di samping itu, Indonesia adalah anggota Committee on Al-Quds (Yerusalem) yang dibentuk pada tahun 1975. Indonesia juga mendorong OKI untuk tetap mendukung penyelesaian politik konflik Palestina secara adil.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia harus memainkan peranan yang aktif dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi? dan keadilan sosial sesuai dengan amanat Konstitusi. Melalui KTT itu diharapkan menghasilkan dukungan OKI dan dunia internasional terhadap penyelesaian masalah Palestina. ?

Pada 9 Februari 2016 lalu, pertemuan segitiga Indonesia, Palestina dan Setjen OKI telah dilakukan. Pada 6 Maret 2016 akan diselenggarakan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM) yang dilanjutkan dengan pertemuan tingkat tinggi menteri luar negeri. Sedangkan konferensi dilaksanakan 7 Maret 2016.? Upaya itu merupakan bagian upaya mengingatkan kembali negoisasi mengenai Al Quds yang sudah terhenti sejak Mei 2015.

Pada mulanya KTT itu diselenggarakan di Maroko, namun Maroko menyatakan ketidaksiapan. Kemudian Indonesia diminta menjadi tuan rumah mengganti Maroko.? Kesiapan Indonesia menyelenggarakan KTT Luar Biasa OKI di satu sisi juga? menunjukkan Indonesia konsisten mendukung Palestina.

Indonesia telah sukses menyelenggarakan KTT Asia Afrika pada tahun 2015 lalu. Tentu penyelenggaraan KTT Luar Biasa OKI ini akan menjadi peluang untuk membuktikan peran Indonesia. Semua elemen pemerintah daerah terutama DKI Jakarta, jajaran pemerintah pusat, serta masyarakat dapat mendukung KTT OKI.

Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia harus memberikan pelayanan yang baik. Salah satu kontribusi yang dapat diberikan adalah ikut serta menjadi bagian dari upaya menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang aman, warganya ramah sehingga menarik untuk dikunjungi. Selamat sukses KTT Luar Biasa OKI 2016. (*)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Fragmen, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 September 2017

PCNU Bondowoso Tasyakuran untuk Gelar Pahlawan Kiai Asad

Bondowoso, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso mengadakan Tasyakuran dan Orasi Sejarah Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai Haji Raden (KHR) Asad Syamsul Arifin.

Kegiatan di Aula PCNU Bondowoso Jalan Agus Salim No 85 Belindungan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Jumat (18/11) siang tersebut diikuti pengurus NU, lembaga, banom dan MWCNU serta ranting se-Kabupaten Bondowoso.

PCNU Bondowoso Tasyakuran untuk Gelar Pahlawan Kiai Asad (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bondowoso Tasyakuran untuk Gelar Pahlawan Kiai Asad (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bondowoso Tasyakuran untuk Gelar Pahlawan Kiai Asad

Bupati Bondowoso H Amin Said Husni dalam sambutannya mengatakan Kiai Haji Raden (KHR) Asad Syamsul Arifin ini diberi gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan sekaligus mengisi kemerdekaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Penghargaan pahlawan inilah yang diberikan kepada Almarhum Kiai Asad atas dasar undang-undang Nomor 20 tahun 2009 tentang gelar tanda ke hormatan yang dijadikan sebagai landasan hukum," jelas Amin.

Lanjut amin, Jadi, ini bukan sebagai penghormatan secara adat, tapi ini merupakan anugerah kenegaraan. Presiden Jokowi ini memberikannya atas nama negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Negara secara resmi memberikan pengakuan dan sekaligus penghargaan dan penghormatan kepada Kiai Asad sebagai pahlawan," tegas bupati.

Sementara itu, PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam mengatakan almaghfurlah Kiai As’ad, adalah pejuang Nahdlatul Ulama sekaligus pejuang kemerdekaan sehingga berhak dan layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Ia menerangkan, gelar Buat kiai Asad, bukan karena ia menanta NU, tapi menata kebangsaan. Namun berkaitan. Jasa yang paling fenomenal adalah mengumpulkan para ulama yang kemudian disebut Munas Nahdlatul Ulama tahun 1983.

Ia menambahkan, Kiai As’ad dibantu dengan kiai lain, mampu membawa NU menjadi organisasi pertama menerima Pancasil pada saat ormas-ormas Islam tidak mau dengan falsafah tersebut.

KH Abdul Qodir berharap dengan tasyakuran tersebut warga NU bisa meneladani perjuangan Kiai As’ad dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara.

Acara tersebut diawali dengan tawasul untuk pendiri bangsa Indonesia dan dilanjutkan dengan tahlil bersama untuk pendiri NU.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Bondowoso H Salwa Arifin, Rais Syuriah KH Asyari? Phasa beserta jajarannya, serta pengurus lain, dan Kodim 0822 Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menkaer Hanif Dorong ASEAN Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Singapura, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia mendukung komitmen negara-negara ASEAN meningkatkan kerjasama dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) guna mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Menkaer Hanif Dorong ASEAN Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menkaer Hanif Dorong ASEAN Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menkaer Hanif Dorong ASEAN Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

"Setiap pekerja berhak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat. Indonesia mendorong dan setuju adanya peningkatan komitmen dan kerja sama antar negara ASEAN dalam peningkatan K3 demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Menteri Ketenagakerjaan RI, M. Hanif Dhakiri di Singapura, Ahad (3/9), saat menyampaikan sambutan Pertemuan Menteri-Menteri Tenaga Kerja pada Kongres Dunia ke-21 tentang K3. 

Pertemuan yang berlangsung 3-8 September 2017 tersebut juga menghasilkan kesepakatan bersama para Menteri Ketenagakerjaan negara-negara ASEAN dalam upaya peningkatan K3.

Komitmen para anggota ASEAN tak hanya pada peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja lokalnya saja, namuan juga untuk para pekerja migran. ASEAN harus berperan sebagai motivator untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, lebih produktif serta pekerjaan yang layak bagi semua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Komitmen tersebut, lanjut Menteri Hanif, harus menjadi landasan yang kuat dalam mendukung tujuan Masyarakat Sosio-Kultural ASEAN untuk  mengangkat kualitas hidup masyarakat dengan menempatkan kesejahteraan pekerja  sebagai prioritasnya. 

Komitmen tersebut sejalan dengan apa yang ditetapkan dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2030 dan sejalan dengan Visi Sosio-Kultural Masyarakat ASEAN pada 2025 tentang  masyarakat ASEAN yang inklusif, berkelanjutan, tangguh, dan dinamis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada kesempatan tersebut, Menteri Hanif juga menyampaikan apa yang telah dilakukan Indonesia dalam peningkatan K3. Salah satunya dengan mengevaluasi pelaksanaan K3 di perusahaan tiap tahun. Pemerintah juga memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berkomitmen K3 bagi pekerjanya. Termasuk pada sektor informal dan maritim. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam NU (Unisnu) tahun akademik 2015/2016 telah usai. Secara resmi pada Selasa (23/2) semua peserta ditarik oleh Rektor di pendopo kabupaten Jepara.?

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik (Sumber Gambar : Nu Online)
454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik (Sumber Gambar : Nu Online)

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik

Meski diguyur hujan deras, tak membuat surut niat mahasiswa peserta KKN angkatan III ini untuk hadir. Sebanyak 454 mahasiswa dari 4 fakultas yaitu Fakultas Dakwah dan Komunikasi; Fakultas Syariah dan Hukum; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan; dan Fakultas Sains dan Teknologi, didampingi ? 49 orang dosen pembimbing lapangan (DPL) akan kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa di kampus.

Enam kecamatan menjadi objek kegiatan KKN Unisnu selama ? 40 hari. Untuk daerah Jepara, lokasi KKN meliputi Kecamatan Batealit, Pakisaji dan Kedung. Sedangkan di Demak berlokasi di kecamatan Mijen, Kabupaten Kudus berlokasi di kecamatan Dawe dan Kabupaten Pati di kecamatan Juwana. Mereka disebar ke 49 desa. Mulai tahun ini Unisnu berencana akan terus menerjunkan peserta KKN ke luar daerah di Jepara.

Hadir dalam kesempatan Sekda Jepara Sholih, Wakil Rektor II Drs H Hendro Martojo, MM, ketua Yaptinu KH Ali Irfan Muhtar serta segenap jajaran Dekanat, Muspika terkait dan tamu undangan. Turut hadir juga beberapa anggota masyarakat yang berhak menerima piagam pelatihan yang telah digelar oleh mahasiswa KKN.

Wakil Rektor II Drs H Martojo dalam sambutannya mengaku bangga dengan hasil yang telah diwujudkan para mahasiswa KKN. Unisnu berkomitmen memberi bekal kepada mahasiswa bukan sekadar ilmu akademik, kecerdasan, dan keterampilan guna membentuk mahasiswa menjadi insan yang berpendidikan, melainkan juga program pengabdian masyarakat agar lebih peduli kepada masyarakat sekitarnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ini adalah salah satu bentuk implementasi MoU dengan para kepala daerah, bahkan beberapa kabupaten lainnya sudah meminta untuk di tempati KKN Unisnu,” ungkapnya.

Ide inovatif

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu Sekda Jepara Sholih dalam sambutannya mengharapkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat secara langsung, sehingga berbagai potensi diri mahasiswa bisa terus digali dan dikelola secara optimal.?

“Pak Bupati juga mengapresiasi serta titip pesan tadi, semoga tahun depan bisa bersinergi lagi dengan program pemerintah dalam program KKN berbasis pemberdayaan masyarakat,” terangnya.

Beberapa waktu yang lalu Bupati Jepara bersama Unisnu dan Yayasan Damandiri juga telah melakukan penandatanganan MoU berkaitan dengan program Posdaya yang dihadiri langsung oleh Subiyakto Tjakrawerdaya dari Yayasan Damandiri dan banyak menerangkan secara rinci tentang program-program Posdaya yang bisa dijalankan diwilayah Jepara dan sekitarnya.

“Program Pos Pemberdayaan Masyarakat sendiri telah dilaksanakan di beberapa daerah yang ditempati KKN. Kami mengawali di tahun 2016 ini,” terang ketua KKN Adi Sucipto dalam sambutannya.?

Lebih rinci, bahwa selama 40 hari mahasiswa mengabdikan diri di masyarakat, banyak respon positif yang didapat, contohnya di Kecamatan Juwana Pati warga masih membutuhkan peran mahasiswa untuk promosi secara online dan menggali potensi batik khas bakaran, atau di wilayah Mijen juga membantu warga melakukan penanaman pohon dalam menanggulangi tanggul sungai yang kritis. Bahkan mahasiswa selalu membimbing adik-adik PAUD/TK dalam belajar dan bermain.

Semua itu mahasiswa lakukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam bersosialisasi bersama tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat sesuai tema tahun ini ? yakni “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan”. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berupaya memperburuk citra Megawati Soekarnoputri pada Pemilu 2009 mendatang. Hal itu terlihat dari sejumlah bekas menteri pemerintahan Megawati yang jadi ‘bulan-bulanan’ Kejaksaan Agung atas dugaan korupsi.

"Ya, maksudnya untuk menjelekkan Mega, karena banyak yang sekarang diusut, bekas menteri di zamannya Mega. Kalau kita betul-betul demokrat, seharusnya ini tidak terjadi," tegas Gus Dur yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, di Kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalan Raya Kalibata, Jakarta, Kamis (12/4).

Menurut Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB itu, upaya pemerintah untuk memberantas korupsi sangat tampak ‘tebang pilih’. "Meski dibantah seseorang dari Partai Demokrat. Ini karena presiden terlalu penakut, bukan karena dendam apa-apa. Ini hanya untuk tahun (Pemilu, Red) 2009," ujarnya.

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: SBY Berupaya Memperburuk Citra Megawati

Padahal, lanjut Gus Dur, pemerintah saat ini juga korup. "Banyak banget, malah gede-gede (besar-besar). Contohnya saja Hamid Awaludin. Dia menyimpan uangnya Tommy (putra mantan Presiden Soeharto). Itu kan tidak bener. Tidak boleh orang swasta menyimpan duit di pemerintah. Jadi ini tidak lain untuk menjelekkan figur Megawati," tandasnya.

Parlemen Eropa

Di tempat yang sama, Gus Dur dan jajaran elit DPP PKB menerima kunjungan 12 Anggota delegasi Parlemen Eropa pimpinan Graham Watson yang tergabung dalam Alliance of Liberal and Democratics for Europe. Pertemuan itu digelar untuk membangun jaringan kesepahaman tentang nilai-nilai liberal dan demokrasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ini bagian dari bentuk dialog untuk membangun kesepahaman tentang nilai-nilai liberal, karena bagaimana pun liberal itu sangat penting untuk penegakan HAM dan demokrasi," kata anggota Dewan Syura DPP PKB Cecep Syarifuddin.

Untuk membangun jaringan liberal itu, katanya, tidak mungkin dilakukan oleh satu negara, tapi banyak negara. PKB, imbuhnya, adalah satu-satunya partai yang selain mengakui nilai-nilai universal, etika, moral dan liberal, juga merakyat. "Di sinilah pentingnya pertemuan dengan para delegasi tersebut," ujarnya.

Pertemuan juga membahas isu aktual di Indonesia, seperti masalah penegakan demokrasi, pemberantasan korupsi, perlindungan kaum minoritas, dan pertahanan dan keamanan Indonesia. (rif)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Ahlussunnah, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mahasiswa Universitas Udayana Deklarasikan KMNU di Bali

Denpasar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejumlah mahasiswa NU Universitas Udayana, Kamis (9/10) tadi malam, mendeklarasikan berdirinya Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Udayana, Bali.

Komunitas mahasiswa Jawa rantau di Bali di sana secara kultural telah sering melakukan tradisi yang dikembangkan NU, seperti yasinan, tahlilan, istighotsah dan pembacaan maulid dibaiah. Hanya saja? belum ada organisasi atau lembaga yang merangkul seluruh mahasiswa Islam yang mayoritas warga Nahdliyin ini.

Mahasiswa Universitas Udayana Deklarasikan KMNU di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Universitas Udayana Deklarasikan KMNU di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Universitas Udayana Deklarasikan KMNU di Bali

Acara yang dihadiri sekitar 30 mahasiswa Universitas Udayana ini berlangsung selama dua jam, dan dibuka dengan acara istighotasah dan doa besama, lalu berlanjut dengan rapat tentang organisasi baru ini. Yang unik, dalam struktur kepengurusan, KMNU Universitas Udayana memasukan unsur Dewan Penasehat (Mustasyar) dan Dewan Pengurus Harian (Tanfidziyah) layaknya organisasi Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Forum memberikan amanat sebagai Ketua Dewan Penasehat kepada Miftahus Sirojudin, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian yang mantan ketua LDK FPMI tahun 2013; dan sebagai Ketua Dewan Pengurus Harian kepada Mahmud Samdani, mahasiswa semester 3 Fakultas Kelautan dan Perikanan yang juga aktivis PMII cabang Denpasar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fajar Firmansyah, anggota Dewan Penasehat KMNU di Bali, mengaku prihatin dengan kondisi negeri ini yang kehilangan “orisinalitas” keislamannya karena terlalu bebas membiarkan berbagai kelompok. Dari tahun ke tahun, katanya, Indonesia ibarat sepetak tanah yang tak memiliki tuan tanah. Semua boleh menggunakan dan menanam segala jenis tumbuhan di tanah tersebut.

“Maknanya, negeri ini menjadi rebutan perkaderan banyak aliran-aliran Islam di dunia. Pemuda, khususnya mahasiswa, adalah calon kader yang berpotensi untuk diperebutkan. Doktrinisasi ajaran Islam di tingkat mahasiswa sangatlah keras yang biasanya dilakukan oleh organisasi-organisasi mahasiswa yang berbasis Islam," tuturnya.

Namun, Fajar bersyukur karena kader-kader NU yang sudah mengenyam pendidikan Aswaja telah menjauhi ajaran yang memang tidak sesuai dengan ajaran para kiai sepuh tersebut. “ Kehadiran Keluarga Mahasiswa NU di Bali ini akan menjadi wadah kader-kader NU yang seperti ini. Selain itu, KMNU di Bali juga terdukung oleh organisasi-organisasi ke-NU-an lainnya seperti IPNU, IPPNU, PMII, dan GP Anshor," Imbuhnya.

Kepala Departemen Internal LDK FPMI Universitas Udayana mengatakan, "Semoga dengan ini dapat mewujudkan cita-cita kader-kader NU di tingkat Mahasiswa untuk mengaplikasikan Islam moderat di lingkungan sekitarnya sekaligus menjaga keutuhan bangsa ini dari perpecahan." (G. Jaelani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 September 2017

NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam KTT Perubahan Iklim baru-baru ini di Cancun, Meksiko yang menghasilkan Cancun Agreement, secara jelas disebutkan bahwa kegiatan adaptasi harus mendapatkan prioritas yang sama dengan mitigasi.



NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan WWF Luncurkan Buku Tentang Perubahan Iklim

Bersamaan dengan komitmen mitigasi Indonesia yang disebutkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu menurunkan 26 % emisi Gas Rumah Kaca dari business as usual hingga 2020, Indonesia diharapkan dapat juga menghasilkan strategi Adaptasi Nasional Perubahan Iklim.

Mendukung kesepakatan dan komitmen pemerintah RI tersebut, WWF Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat menandatangani Memorandum of Understanding sekaligus meluncurkan buku “Jalan Terbaik Masyarakat dalam Menghadapi Perubahan Iklim: Perspektif Islam dalam Adaptasi Perubahan Iklim hari ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“MoU ini menggabungkan dua nilai kekuatan masing-masing organisasi, yaitu konservasi lingkungan hidup, dan pendekatan religius dan budaya dalam rangka menjaga kelestarian planet bumi yang kita huni,” ungkap Dr Efransjah, CEO WWF-Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Efransjah menambahkan, “Kami yakin jaringan pesantren, sekolah dan kelengkapan organisasi NU lainnya akan mampu menjadi komponen penting dalam usaha konsisten kami menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Tentunya kami juga berharap seluruhwarga NU akan merasakan manfaat dari kegiatan bersama yang nantinya akan dilakukan oleh WWF-Indonesia dan NU.”

“Peluncuran buku merupakan salah satu bentuk perhatian dan keseriusan NU terhadap masalah lingkungan, pelanggulangan bencana dan perubahan iklim, serta masalah kemanusiaan sebagai implikasi dari kerusakan lingkungan. NU telah membentuk lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklilm (LPBI-NU) sebagai pealaksana kebijakan dan program NU dalam bidang tersebut,” jelas KH Said Aqil Siradj.

Dalam proses disseminasinya, buku ini dapat menjadi referensi bagi para kiai, santri maupun ummat NU, khususnya dalam menghadapi dampak perubahan Iklim. Kang Said menekankan, “Selain memberikan gambaran tentang bagaimana Islam memandang isu-isu lingkungan dan perubahan iklim, serta sekelumit contoh aksi nyata adaptasi perubahan iklim.”

Tentang keterkaitan adaptasi perubahan iklim dan perspektif agama, Ir Avianto Muhtadi, ketua LPBI NU mengatakan, “Memang tidak selamanya ‘pintu agama’ mampu memainkan parannya, namun paling tidak apabila jalur-jalur ilmu pengetahuan dan kesepakatan bersama menghadapi hambatan, maka pendekatan agama dapat menjadi alat untuk mempengaruhi jiwa setiap individu agar tidak merusak lingkungan dan justru melestarikannya. Daya tahan ini lebih dibutuhkan masyarakat dan ekosistem untuk menghadapi variabilitas iklim yang tak menentu serta mengingkatknya kemungkinan kejadian iklim ekstrim.” (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 September 2017

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Probolinggo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo mempunyai pimpinan baru.

Hal ini menyusul dengan terpilihnya Wahyu Aminullah dan Evi Kumalasari dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU dan IPPNU Kecamatan Wonoasih di MTs Nusantara Kelurahan Sumber Taman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo, Sabtu (21/1) sore.

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu-Evi Pimpin IPNU-IPPNU Wonoasih

Dalam Konferancab yang mengambil tema “Bangkit Bersama Kader Muda” ini, Wahyu terpilih sebagai Ketua PAC IPNU Wonoasih dan Evi Kumalasari sebagai Ketua PAC IPPNU Wonoasih masa bhakti 2016-2019.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat pemilihan Ketua PAC IPPNU, muncul 2 (dua) kandidat yakni Qurrotu Ainy dengan memperoleh 7 suara dan Evi Kumalasari dengan 10 suara. Sementara 1 suara abstain. Sedangkan dalam pemilihan Ketua PAC IPNU, muncul dua kandidat Wahyu Aminullah dan Husni Mubarok. Hanya saja Wahyu Aminullah terpilih secara aklamasi dengan 16 suara.

Konferancab IPNU-IPPNU Wonoasih yang diikuti oleh komisariat dan ranting se-Kecamatan Wonoasih ini dihadiri oleh Wakil Ketua PC LP Ma’arif Kota Probolinggo yang juga Kepala MTs Nusantara M Holil, pengurus MWCNU Wonoasih, Pergunu Kota Probolinggo, jajaran alumni dan pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PAC IPNU Wonoasih Wahyu Aminullah mengungkapkan selain untuk memilih calon Ketua PAC IPNU IPPNU Kecamatan Wonoasiah masa bhakti 2017-2019, konferancab ini bertujuan mencetak kader-kader pemimpin NU di masa yang akan datang sehingga proses kaderisasi berjalan tidak stagnan.

“Terima kasih atas kepercayaan dan amanah yang telah diberikan. Semoga kami mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kegiatan ini merupakan sebuah bukti bagaimana kaderisasi IPNU tetap terjaga,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua PAC IPPNU Wonoasih Evi Kumalasari. “Konferancab ini adalah suatu bentuk keharusan yang sudah ada dalam peraturan agar kaderisasi dalam organisasi tetap berjalan terus menerus,” ungkapnya.

Setelah terpilih tugas ketua terpilih adalah dengan segera melengkapi susunan kepengurusan bersama tim formatur terpilih sesuai amanah konferancab. Dan selanjutnya segera melaksanakan pelantikan agar kepengurusannya segera disahkan.

Alumni sekaligus Pembina PC IPNU Kota Probolinggo Mashuri Nurzah mengharapkan kepada ketua terpilih agar amanah konferancab ini segera dijalankan agar organisasi berjalan sesuai dengan tupoksi. Yakni wadah kaderisasi calon generasi penerus NU ke depannya.

“Kedua, kader-kader IPNU IPPNU diharapkan mampu menjalankan program-programnya, sehingga IPNU IPPNU bisa selalu eksis mewarnai kegiatan kepemudaan di Kota Probolinggo,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 September 2017

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Perhelatan Pra-Muktamar Ke-33 NU yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4), diikuti sekitar 400 peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua.

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Muktamar di Makassar Diikuti Cabang NU Se-Indonesia Timur

Para utusan dari PCNU dan PWNU ini datang sejak Selasa kemarin dan akan aktif mendiskusikan tema “Islam Nusantara sebagai Islam Mutamaddin Menjadi Tipe Ideal Dunia Islam”. Topik tersebut akan dibagi dalam dua sesi, yakni tentang khazanah Islam Nusantara dan strategi internasionalisasinya.

Ketua SC Muktamar Ke-33 NU Slamet Effendy Yusuf mengatakan, tema tersebut diusung atas pertimbangan relevansinya dengan kondisi dunia Islam yang dirudung konflik di negara-negara muslim, khususnya di Timur Tengah. NU sebagai ormas besar terpanggil untuk turut mencarikan solusi bagi kemelut yang mempertaruhkan citra Islam ini di mata dunia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dunia Islam diwarnai konflik. Kedamaian, kenyamanan, Islam sebagai rahmatan lil alamin tidak tampak. Inilah yang mendorong Nahdlatul Ulama untuk merumuskan dan membuktikan bahwa Islam yang pro perdamaian adalah yang benar,” katanya saat sambutan di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pra-Muktamar dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Lukman beserta pejabat pemerintahan setempat, pengasuh Pesantren Tebuireng, serta segenap jajaran syuriah-tanfidziyah PBNU.

Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Dalam acara pembukaan, peserta juga disuguhi pertunjukkan seni dari Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Sulawesi Selatan. Acara Pra-Muktamar akan berlanjut di Medan, Sumatera Utara, pada Mei mendatang dengan pokok pembahasan seputar perekonomian. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KiaiĆ¢€“Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng

Solo,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nonton bioskop biasanya menjadi sebuah hal yang terlarang di pesantren. Tetapi tidak begitu pada Kamis (30/5) siang kemarin, para santri justru terlihat berkerumun di sebuah Gedung Bioskop di pusat Kota Solo.

Tidak hanya itu, bahkan kiai mereka, juga terdapat dalam rombongan itu. Rupanya rombongan tersebut adalah para santri dan pengajar dari Pesantren Al Muayyad Solo.

KiaiĆ¢ā‚¬ā€œSantri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
KiaiĆ¢€“Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

KiaiĆ¢€“Santri Al Muayyad Kompak Nonton Bareng

Pemandangan tak biasa itu terlihat saat penayangan perdana film Sang Kiai, sebuah film yang menceritakan tentang keteladanan seorang guru besar dari kalangan pesantren, KH Hasyim Asy’ari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Hasyim merupakan seorang pahlawan yang turut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Dahulu, dia merupakan pengasuh pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur.

Sebelum acara nonton dimulai, pengasuh pesantren Al Muayyad Solo, KH Rozaq Shofawi, memimpin doa bersama. Seorang santri Al Muayyad, Shofi Puji Astuti (22), mengatakan baru pertama kali ada acara seperti ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebelumnya tidak pernah. Biasanya kan santri tidak diperbolehkan nonton di bioskop,” kata Shofi sembari tersenyum.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Jam’iyah Hamalah Al-Quran membuka pendaftaran bagi peserta lomba tabuh rebana seprovinsi Jawa Tengah. Perlombaan rebana yang diadakan dalam rangka memperingati harlah Fakultas Ushuludin IAIN Wali Songo ini, jatuh pada 27 September 2014.

Koordinator perlombaan rebana Fitrotun Nisa mengatakan, “Kami akan meriahkan harlah Fakultas Ushuluddin dengan sejumlah even antara lain perlombaan rebana, bahasa, karya tulis ilmiah, olahraga, parade musik, dan seaman hafiz-hafizoh Al-Quran.”

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibuka Lomba Rebana Se-Jateng di IAIN Wali Songo

Semuanya. Fitroh manambahkan, akan ditempatkan di Fakultas Ushuluddin gedung 2 IAIN Wali Songo. Kita juga berencana menghadirkan KH Muammar ZA untuk melantunkan ayat-ayat Al-Quran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendaftaran lomba rebana dibuka mulai 25 Agustus sampai 17 September. Peserta bebas siapa saja dengan syarat 15 anggota dalam satu grup, melunasi biaya pendaftaran sebesar 100.000, membawa alat masing-masing, dan menampilkan dua lagu sholawat.

“Peserta lomba rebana menampilkan satu lagu pilihan dan satu lagu wajib, Yaa Dzal Ghina,” kata Fitroh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kouta peserta rebana dibatasi maksimal 20 grup. Panitia menyediakan beberapa bingkisan hadiah dan sejumlah uang pembinaan dengan total sebesar Rp 6 juta. Keterangan lebih lanjut bisa mengontak Fitroh di nomor 085727457294. (Ahmad Syaefudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pedantren akan menggelar peringatan Hari Santri 2017. Gelaran kali ketiga ini mengusung tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamarudin Amin menyampaikan, bahwa dengan tema tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekhasan inilah yang menjadi kekuatan untuk menopang keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

“Tema ini menunjukan bahwa pesantren itu darahnya merah putih. Santri religius yang nasionalis. Ini merupakan indentitas santri yang sangat mapan,” ujar Kamaruddin saat Jumpa Pers di Jakarta, Rabu (4/10).

Dikatakan Kamaruddin, Pesantren disamping membekali ilmu agama (tafaquh fiddin), megkader ulama yang nasionalis juga membekali santrinya menjadi warga negara yang baik, bagaimana hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain melalui pergaulan dari berbagai latar belakang budaya.

“Antara Identitas, agama dan kewarganegaraan, menyatu dalam intetas pondok pesantren. Jadi santri itu sangat sadar akan identitasnya sebagai seorang muslim dan identitasnya sebagai warga negara,” sambung Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren, lanjut Kamaruddin, memiliki berkontribusi besar terhadap munculnya semangat dan nasionalisme Keindonesiaan yang tidak terbantahkan dalam rentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya pesantren adalah Lembaga pendidikan khas Indonesia dan genuine otentik muncul dan lahir di Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Pesantren penjaga gawang keberagamaan umat. Indonesia memiliki potensi disentragif, tapi karena pesantren hadir dan berkontribusi secara fundamental merawat keberagaman ini,” imbuh Kamaruddin.

Beberapa rangkaian kegiatan meramaikan dalam rangka Hari Santri 2017, diantaranya; Lomba Komik dan Kartun Stip, Malam Pembacaan Puisi Santri “Ketika Kiai_Nyai-Santri Berpuisi: Pesantren tanpa Tanda Titik”, Santri Enterpereuner Competition, Shalawat Kebangsaan dan Konfigurasi MOP Santri untuk Negeri, Pemecahan Rekor Muri Komik Santri Terpanjang (300 M), Upacara Bendera dalam rangka hari Santri, Santri Writer Summit, Pesantren Expo dan Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) Nasional. (Kemenag/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 September 2017

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW

Umat Islam meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali. Setelah meninggal kelak, kita percaya akan ada kehidupan lain yang berbeda dengan kehidupan dunia. Karenanya, kita dianjurkan untuk mempersiapkan bekal dan modal sebanyak-banyaknya guna menghadapi kehidupan di akhirat.

Dalam beramal pun kita berharap agar amalan yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Meskipun tidak pernah bertemu langsung dengannya, nasehat dan perilaku beliau terdokumentasi rapi dalam kitab-kitab hadits.

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Amalan yang Paling Disukai Rasulullah SAW

Amalan memang menjadi modal utama di akhirat, tetapi Islam tidak pernah meminta pengikutnya beramal melebihi kemampuannya. Beramallah sesuai dengan kemampuan. Semasa hidupnya, Rasul pun sering mengingatkan sahabatnya yang beramal berlebihan. Mereka beramal sebanyak-banyaknya hingga melupakan hak tubuhnya, yaitu istirahat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam Mustakhraj Abi ‘Awanah karya Abu ‘Awanah An-Naisaburi, dikisahkan bahwa seorang perempuan pernah berkunjung ke rumah ‘Aisyah. Ia datang dalam keadaan lemah dan mengantuk. Rasulullah pun melihat dan bertanya kepada ‘Aisyah:

“Siapa wanita ini?"

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ini si fulanah, semalam dia tidak tidur,” Jawab ‘Aisyah.

“Lakukanlah amalan yang sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa bosan, melainkan kalian yang suka bosan,” ujar Nabi SAW menasehati.

Setelah mendengar nasehat Nabi ini, ‘Aisyah selalu menyampaikan petuah Nabi ini kepara para sahabat yang lainnya. Karenanya, ketika ada orang bertanya kepada ‘Aisyah, terkait amalan apa yang disukai Nabi, ia langsung menjawab:

? ? ? ? ?

“Amalan yang paling disukainya adalah amalan yang dilakukan terus-menerus,” (HR Ahmad).

Amalan yang disukai Nabi SAW ialah amalan yang istiqamah, sekalipun amalan itu sederhana dan kecil. Apapun amalan yang kita lakukan akan disukai Nabi SAW selama dilakukan terus-menerus dan istiqamah. Sebagaimana diketahui, istiqamah beramal tentu tidak semudah mengucapkannya. Butuh usaha keras untuk mewujudkannya. Sebab itu, ada ulama yang mengatakan, “Jadilah kalian pencari istiqamah dan jangan mencari karamah.”

Sahabat Bilal pernah ditanya Rasulullah SAW setelah shalat Shubuh, “Wahai Bilal, apakah amalan yang paling sering kamu lakukan? Karena aku mendengar suara langkah kakimu di surga.” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan amalan apapun melainkan aku membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’, baik siang ataupun malam,” (HR Al-Bukhari, Ishaq bin Rahaweh, dan lain-lain).

Kisah Bilal ini menunjukkan bahwa ia memperoleh surga karena keistiqamahannya dalam beramal. Meskipun amalan yang dilakukan Bilal terlihat sederhana, yaitu membiasakan shalat sunah setelah berwudhu’. Artinya, apapun amalan yang kita lakukan, akan mengantarkan kita pada keridhaan Allah SWT, selama dilakukan secara istiqamah. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Perguruan tinggi Islam di Indoensia masih menyimpan pertanyaan. Sumber dan arah pendidikan sering terasa jauh dari idealisme pendidikan tinggi Islam. Sebagian terlalu liar sehingga melunturkan nuansa keislamannya, sebagian yang lain terlalu kolot dan tidak ramah. Lalu bagaimana dengan Perguruan Tinggi NU? Adakah revitalisasi atau adaptasi pendidikan model pesantren yang lazim di NU? Apa yang harus dilakukan para kader potensial NU untuk mewujudkan semua ini? Berikut hasil perbincangan Mahbib Khoiron dari Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dengan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Drs HM Mujib Qulyubi, MH, Rabu (7/3), di kantor STAINU Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat.

Menurut Bapak kondisi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia sekarang seperti apa?.
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU, Berakar Nilai Pesantren, Membangun Kultur Ilmiah

Saya masih melihat pendidikan tinggi Islam kita di Indoensia mengalami keguncangan. Setelah dulu kita berkiblat ke Timur Tengah, sekarang Islamic studies kita sudah ke Amerika, Australia, dan lainya. Bersamaan dengan itu perguruan tinggi kita sudah banyak yang menjadi universitas. Sedikitnya sudah ada lima IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). Ini berakibat kiblat kita mengalami ketidakjelasan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berbarengan dengan itu pula, kita melihat sudah banyak Sekolah Tinggi Agama Islam, IAIN, atau bahkan UIN itu sudah berlomba-lomba untuk membuka fakultas umum untuk disiplin exact, sehingga ciri khas keislaman kita sebenarnya sedang mencari bentuk. Tidak jelas. Ya, secara umum kondisinya seperti itu.

Idealnya, upaya-upaya yang harus dilakukan?.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Harus ada pembongkaran kembali tentang disiplin ilmu. Harus ada pembicaraan lebih serius tentang disiplin ilmu menurut Islam. Sehingga nanti, misalnya, ekonomi Islam itu masuk ke mana. Kalau ekonominya masuk ke Dikbud, tapi begitu ada Islamnya masuk ke Departemen Agama. Ada potensi terjadinya rebutan kapling dan tarik menarik. Sehingga kalau ada mahasiswa yang menekuni ekonomi Islam atau ekonomi syari’ah ini kiblatnya ke Depag atau ke Dikbud. Apalagi sekarang ada uforia umat bersyari’ah yang tinggi. Meskipun juga harus digali kembali, maksudnya syari’ah di sini apa. Isinya syari’ahnya itu apa. Jadi sudah tegas, hal-hal yang berbau Islam punya daya tarik tersendiri bagi mahasiswa.

Keguncangan yang Bapak maksud apa terjadi juga di perguruan tinggi NU?. Perguruan tinggi NU tidak bisa dipisahkan dari mekanisme dari perundang-undangan sistem pendidikan nasional yang ada. Mau nggak mau akhirnya ikut terseret, dan ini yang kita sayangkan. Ini terjadi pula di Muhammadiyah, dan perguruan tinggi ormas yang lain. Selama mereka tidak memiliki perguruan tinggi yang representatif, selama belum jelas kita berkiblat ke Dikbud atau ke Menag, ya seperti ini. Ini kita sayangkan. Padahal di NU itu kan punya modal yang sangat bagus di tingkat SLTA yang tidak dimiliki ormas lain, yakni modal pesantren. Di pesantren keilmuan sangat dihargai dan dinamis, tetapi saat memasuki perguruan tinggi, mahasiswa mengulangi materi yang pernah diajarkan. Lulusan pesantren kan umumnya mengambil studi Islam baik di fakultas syari’ah, ushuluddin atau bahasa Arab. NU dirugikannya di sini karena secara keilmuan menjadi turun. Walaupun secara teoritis dan wawasan naik, tapi secara substansi turun. Makanya banyak anak lulusan pesantren di perguruan tinggi merasa santai. Untungnya sebagian dari mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk ekstrakurikuler.

Untuk STAINU sendiri, misi dan proyeksi ke depan kira-kira seperti apa?. STAINU ini sesungguhnya sasaran antara. Tentu kita semua sebagai warga Nahdliyyin harus jujur dan sadar bahwa dunia perguruan tinggi kita sangat tertinggal. Kita selama ini memang lebih banyak menggeluti pesantren atau madrasah. Berbeda dengan teman kita di Muhammadiyah yang banyak bergelut di sekolah dan perguruan tinggi. Sadar akan kondisi ini maka kita tidak boleh diam seribu bahasa. Saya yakin, kita nanti akan mempunyai universitas yang bagus.

Nah, STAINU ini ke depan kita proyeksikan menjadi UNU (Universitas Nahdlatul Ulama). Sudah menjadi prioritas bersama dari PBNU baik dari Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPT NU), Lembaga Pendidikan Maarif NU, bahkan STAINU sendiri dari dalam. Kami sudah berusaha betul dari berbagai segi untuk mewujudkan berdirinya UNU Jakarta. Dari tiga belas program Pak Said (Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, red) selama priode beliau antara lain yang diprioritaskan adalah STAINU Jakarta menjadi UNU Jakarta. Jadi UNU Jakarta cikal bakalnya ya dari STAINU Jakarta ini. STAINU yang selama ini masih menangani prodi-prodi agama, nanti akan menjadi fakultas agama.

Untuk mengantisipasi tergerusnya unsur keislaman di Universitas Nahdlatul Ulama sebagaimana yang Bapak khawatirkan tadi?. Kita akan memperkuat setiap fakultas itu dengan kebutuhan masyarakat. Tentu akan kita sesuaikan dengan kearifan lokal. Misalnya UNU Jakarta akan mengadakan fakultas pertanian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Itu untuk yang materi umum. Untuk yang agama, kita sudah punya basis yang cukup bagus di NU. Kita punya tradisi kuat di kitab kuning. Orang NU itu militansinya tinggi dalam hal agama, tapi argumentasinya kurang.

Nah, di UNU nanti itu khususnya untuk fakultas agama bisa memperkuat amaliyah Ahlussunnah waljama’ah secara aqliyah dan naqliyah, sehingga berimbang. Jadi ajaran NU bisa diterima seperti dulu lagi, ya militan tapi sekaligus dibekali dasar alasan yang kuat. Kita kalau menghadapi ideologi transnasional, Wahabi, kan seringnya marah-marah. Kita tidak bisa mengimbangi dengan apa yang mereka lakukan. Kalau mereka mempunyai sistem yang bagus, ya kita bikin sistem yang bagus; kalau mereka bikin buku, ya kita juga bikin buku; kalau mereka dakwah dengan radio, ya kita lewat radio juga. Artinya, kita tidak cukup memperkuat ahlussunnah wal jamaah dengan pidato-pidato, atau dengan teori-teori yang sudah tidak sesuai dengan keadaan zaman. Mengumandangkan Islam rahmatan lil’alamin, ya melalui perguruan tinggi. Itu yang pertama.

Yang kedua, NU ini kan sudah terkotak-kotak oleh politik. Karena longgarnya NU banyak kader-kader politik ini menyebar di mana-mana. Mereka tidak bisa ketemu dalam satu forum sebab mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Nah, yang mempertemukan mereka ini ya perguruan tinggi, karena di tempat ini mereka dijauhkan dari kepentingan politik. Yang ada adalah kepentingan ilmu. Kita berharap dari perguruan tinggi NU yang bagus ini menjadi poros persatuan umat Islam.

Sebagai tambahan, Kongres ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) beberapa waktu lalu ada yang luar biasa. Kita menemukan bukti riil bahwa intelektual dan sarjana kita ada di mana-mana. Latar belakangnya pun bermacam-macam, ada yang dari PKB, PPP, Golkar, PDI, dan lain-lain. Bagaimana mengaktualisasikan ilmu dari ISNU ini? Saya kira ya di perguruan tinggi ini.

Apakah ada upaya menjadikan ISNU sebagai pihak yang turut berkontribusi di perguruan tinggi NU?. Saya kira ini bukan sekadar upaya, tapi keharusan. Bahkan bukan hanya ISNU saja tapi juga LP Ma’arif, LPT NU, Fatayat, dan lainnya. Mereka semua harus kita rangkul. Kalau memang ada kecenderungan untuk menjadi dosen, dan sudah memenuhi kualifikasi, maka kita rekrut. Jaringan di dalam kita perkuat, jaringan di luar juga kita perkuat. Tanpa itu kita sulit menjadi besar. Saya melihat potensi NU yang sangat besar ini masih tercecer-cecer, belum bersinergi secara utuh.

Untuk jaringan keluar, kita harus cukup terbuka dengan siapapun yang sehaluan dengan kita, bahkan luar negeri sekalipun. Kemarin kita sudah memberikan contoh dengan membuka kerja sama dengan Universias Ibnu Thufail, Universias Sa’ad Ibnu Malik, bahkan beberapa waktu lalu melalui PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa NU)  Mesir sudah dijajaki untuk bisa bekerjasama dengan Al-Azhar University. Kalau di Aljazair kita sudah kontak Dubesnya, Pak Ni’am Saim, dan beliau sudah welcome. Ini yang akan kita rajut menjadi kukuatan perguruan tinggi NU. Tentu yang bebas dari kepentingan politik praktis.

Kalau semua sesuai harapan Insya Allah akan mengembalikan kebesaran tradisi keilmuan di NU, dan otomatis akan membesaran NU sendiri di mata umat. Saya optimis itu.

Tantangan terbesarnya kira-kira apa?. Pertama, SDM (sumber daya manusia) NU kurang terbiasa mengurus perguruan tinggi yang bagus. Betul kata orang, kita masih terbiasa mengurus madrasah atau pesantren. Sehingga mencari figur yang mendudukan lembaga perguruan tinggi yang tidak seperti pesantren itu susah. Seperti saya ini sering dipanggil dengan sebutan “kiai”, lama-lama menjadi pesantren STAINU ini. Akibatnya, dinamika dan demokratisasi berembug menjadi berkurang. Ini harus kita pisahkan, karena perguruan tinggi harus di-manage sebagaimana perguruan tinggi, bukan seperti pesantren.

Kedua, belum ada contoh yang sukses di NU tentang mekanisme dan cara yang bagus. Termasuk belum seimbang antara kuantitas masa dan jumlah perguruan tinggi yang ada. Kalaupun disebutkan Unisma (Universitas Islam Malang) atau Unwahas (Universitas Wahid Hasyim Jombang), itu kan baru satu-dua. Dibanding Muhammadiyah sangat kontras, jumlah perguruan tinggi mereka justru terlalu banyak. Itu sebetulnya juga bukan dosa orang sekarang karena dulu kita memahami sekolah itu seperti Belanda. Akhirnya menempuh pendidikan di pesantren, kemudian jadi kiai, bikin pesantren lagi, begitu seterusnya. Saya ingat tahun 1977 sarjana pertama NU itu Pak Asnawi Lathif. Itu sekitar tahun 60-70an. Dengan gelar “BA” sebagai ketua IPNU banyak dibanggakan oleh orang NU.

Nah sekarang ini tidak seperti ini lagi kita. Kader kita yang sarjana S2, S3, bahkan guru besar sudah sangat banyak, dan sudah merambah ke perguruan tinggi negeri, tidak hanya di perguruan tinggi Islam tapi juga di ITB (Institut Teknologi Bandung), IPB (Institut Pertanan Bogor), UI (Universitas Indonesia), dan lain-lain. Dan sebenarnya juga sedang mencari-cari bagaimana mereka bisa mengabdi untuk NU ini. Saya di STAINU sudah menerima banyak sekali lamaran-lamaran kader-kader NU yang sudah memenuhi kualifkasi S2 dan S3. Jadi kalau kelak menjadi UNU sudah memenuhi persyaratan administratif kualitatif.

Bagaimana mengatur porsi unsur pesantren dalam universitas tanpa harus menghilangkan idealisme universitas sebagai lembaga intelektual yang demokratis?. Saya kira itu sesuai dengan slogan Pak Said untuk kembai ke pesantren. Saya memaknai “kembali ke pesantren” itu bukan kita harus mondok lagi secara fisik, tapi kita kembali ke nilai-nilai pesantren, yaitu ketulusan, kesederhanaan, dan penghormatan tinggi terhadap keilmuan.

Soal penghormatan kepada kiai saya kira menjadi keharusan. Tapi harus kita pilah mana kiai yang punya kapasitas keilmuan dan spiritualitas yang mumpuni sehingga layak dihormati dan mana yang tidak. Dengan kecenderungan kiai politik yang cukup massif sekarang, hal ini menjadi sulit. Kiai dulu tidak banyak berkecimpung langsung di dunia politik, tapi pengabdiannya terhadap umat luar biasa. Nah, hari ini susah sekali menemukan yang seperti itu.

Jadi unsur-unsur pesantren harus tetap ada di perguruan tinggi. Tradisi pesantren harus ada. Tapi soal demokratisasi juga harus tetap ada. Bukan berarti pesantren tidak demokratis, tapi secara manajemen perguruan tinggi dan pesantren berbeda. Perguruan tinggi tidak harus dipimpin oleh figur sentris seperti pesantren. Manajemennya harus kolektif, demokratisasi intelektual harus tetap ada, budaya filsafat ilmu juga harus ada, dialog harus ada, budaya diskusi juga harus hidup. Jadi tidak boleh semua yang dari dosen dan rektor itu benar. Rektor bisa dikasih masukan dan harus menerima masukan. Model pendidikan pesantren cocok diterapkan dengan kultur pesantren, tapi perguruan tinggi punya kultur lain. []

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 22 September 2017

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh telah berwasiat kepada beberapa kiai Kajen agar dimakamkan di kompleks pemakaman Syeikh KH Ahmad Mutamakkin. Ia mengkaveling tanah makam di sana tiga tahun silam karena berharap bisa dekat dengan leluhurnya.

KH Muadz Thohir yang masih kerabat dekat Mbah Sahal menceritakan hal tersebut kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dan beberapa tamu usai tahlilan mitung dino atau peringatan tujuh hari wafatnya Rais Aam PBNU tiga periode tersebut di kompleks Pesantren Maslakul Huda Kajen-Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (28/1) malam.

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)
Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam (Sumber Gambar : Nu Online)

Wasiat Mbah Sahal Tiga Tahun Lalu soal Lokasi Makam

Menurut Pengasuh Pesantren Putri Roudloh At-Thahiriyyah Kajen ini, mula-mula dirinya diajak Pengasuh Pesantren Asrama Pelajar Islam Kauman (APIK) Kajen KH Junaidi Muhammadun untuk menghadap KH A Nafi’ Abdillah. Mereka berdua ingin mengklarifikasi kebenaran informasi ihwal wasiat Mbah Sahal kepada sepupu Ketua Umum MUI Pusat tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya masih ingat betul, awalnya Pak Jun ngajak saya untuk datang ke Kak Fe’ (Gus Nafi’). Saya tanya, ‘Ada apa?’ Jawab Pak Jun, ‘Sudahlah, nanti juga tau sendiri.’ ‘Jangan begitu, sebenarnya ada apa kok tumben ngajak ke sana?’ Saya masih penasaran,” terang Kiai Muadz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai tiga kali bertanya, lanjut Kiai Muadz, Kiai Junaidi tetap tidak mau bercerita. Lalu, sesampainya di kediaman Gus Nafi’, mereka berdua dikasih cerita oleh Gus Nafi’ tentang wasiat Mbah Sahal tersebut. Gus Nafi’ yang putra Almaghfurlah KH Abdullah Salam (Mbah Dulah) adalah orang yang diberi wasiat tentang makam oleh Mbah Sahal. Sontak, ketiganya tergugu menahan tangis lantaran belum siap ditinggal Mbah Sahal.

“Meski Kiai Sahal jarang mengajar di madrasah (Matholi’ul Falah-red), tapi ruhnya sangat terasa. Jadi, ketika beliau sudah bilang seperti itu rasanya tak lama lagi benar-benar akan meninggalkan kami semua,” ujar Kiai Muadz berkaca-kaca.

Ditanya seputar percepatan acara mitung dino Mbah Sahal, Musytasyar PCNU Pati itu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan wasiat kakeknya, KH Nawawi. Mbah Nawawi khawatir jika tradisi masa lalu itu dipahami layaknya syariat Islam. Oleh karenanya, beliau berpesan agar tidak terjadi hal demikian maka perlu dibuat beda.

“Mbah saya dari bapak mewasiatkan hal itu. Jadi, biar tidak sama persis dengan tradisi Hindu-Budha. Kita bikin netral dan luwes aja waktunya. Tidak harus tepat pada hari ketujuh to,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 September 2017

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Diakui atau tidak, pondok pesantren telah sejak lama mengajarkan serta membudayakan minat baca dan belajar. Tak hanya itu. Tradisi menulis pun seakan telah menjadi tradisi di lembaga pendidikan tradisional khas Indonesia itu.

Tak berlebihan jika Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan agar sistem pendidikan dan tradisi membaca serta menulis di pesantren patut dijadikan contoh. Karena, menurutnya, seminar-seminar bertema pengembangan minat membaca kerap diadakan, namun belum banyak menghasilkan minat belajar bagi para siswa.

"Kalau mau belajar soal bagaimana mengharuskan membaca, nggak perlu ke luar negeri, pergi saja ke pesantren," ujar Wapres Kalla saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Sosialisasi Pengembangan Budaya Minat Baca dan Pembinaan Perpustakaan Nasional” di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (12/7).

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tumbuhkan Minat Baca, ke Pesantren Saja

Di pesantren, tutur Wapres Kalla, para santri, tiap hari wajib membaca kitab-kitab kuning dengan penuh khusyuk, tentang materi-materi keagamaan ataupun sastra. Hal itulah yang merupakan dasar bagi pengembangan minat baca di pesantren.

"Bahkan sambil terkantuk-kantuk, santri tetap baca. Mereka nurut (patuh) pada ustad, ustad nurut pada kiai, kiai nurut pada kiai khos-nya. Pak Mendiknas (Menteri Pendidikan Nasional, red) harus jadi kiai khos-nya," ujar Wapres Kalla disambut tawa peserta seminar, termasuk Mendiknas Bambang Sudibyo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mengungkapkan, sebaiknya Mendiknas membuat aturan mengenai keharusan untuk membaca. Para siswa diwajibkan untuk membaca dan mengetahui pelajaran-pelajaran yang harus dia ketahui dari buku, bukan sekadar menumbuhkan minat membaca.

"Kalau minat saja, kalau anaknya tidak mau, bagaimana. Yang penting itu harus membaca, karena dari keharusan akan menjadi kebiasaan," tandasnya.

Karena itu, Wapres berharap, seminar yang diadakan Departemen Pendidikan Nasional itu tidak hanya membicarakan pentingnya membaca, tapi bagaimana membuat aturan soal keharusan membaca. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Musyarrofah berhasil menyabet juara II pada ajang lomba Game Matematika Bela Negara, Rabu (2/8). Kompetisi ini diadakan oleh Kodim 0826 Pamekasan di Desa Bukek Tlanakan.

Lembaga di bawah naungan LP Maarif NU ini berhasil menyisihkan beberapa sekolah negeri dan swasta yang ada di Kabupaten Pamekasan. Dalam penyerahan hadiah, Musyarrofah diapit oleh Pangdam V Brawijaya dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii.

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswi SMA Maarif 1 Pamekasan Juarai Game Matematika Bela Negara

Wakil Kepala SMA Maarif 1 Pamekasan Ainul Gurrih merasa bangga atas prestasi yang diraih Musyarrofah. Pihaknya mendoakan semoga prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi yang lain untuk semakin rajin belajar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dan semoga menjadi awal untuk bisa berpartisipasi di ajang perlombaan yang lain, baik lokal, regional, nasional, dan internasional. Dengan begitu, bisa membawa nama baik lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan LP Maarif NU Pamekasan," tukasnya.

Sementara itu, Musyarrofah menyatakan, dirinya merasa bangga dan bersyukur atas prestasi yang diperolehnya. Ia berjanji akan terus belajar guna meraih cita-cita yang diinginkannya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 20 September 2017

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alunan shalawat Nabi mengiringi peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan PBNU, Rabu (16/3) di lantai 8 Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Puluhan Habib Se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) turut hadir meramaikan kegiatan tersebut.?

Setelah pembacaan shalawat burdah, acara disusul dengan sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan perwakilan Habaib se-Jabodetabek Habib Husein bin Hamid Al-Attas.

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Agar Tak Salah Paham Islam Nusantara, Tabayun ke PBNU

Kiai Said mengatakan bahwa banyak orang yang salah paham terhadap konsep Islam Nusantara. “Banyak yang salah paham, tapi mereka tidak mau bertabayun (minta penjelasan atau konfirmasi, red) ke PBNU,” jelas Kang Said.

Kang Said menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan Islam dengan budaya, Islam yang bersatu dengan nasionalis, dan Islam yang bersatu dengan kebangsaan. Ia menerangkan bahwa Wali Songo-lah yang menjadi panutan dalam mengembangkan Islam Nusantara yang melebur dengan budaya, toleran, dan ramah.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun puncak konsep Islam Nusantara, imbuh Kang Said, adalah dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari dengan konsep penggabungan Islam dan kebangsaan. ? ?

“Islam Nusantara bukan mazhab, bukan aliran, tapi tipologi, mumayyizaat, khashais,” terangnya.

Demikian, Kang Said menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah Islam yang anti-Arab dan Islam yang benci Arab. “Islam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban. Inilah Islam Nusantara,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Setuju dengan Islam Nusantara silakan, tak setuju tidak apa-apa,” pungkasnya.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqofah tersebut mengaku kalau istilah dan konsep Islam Nusantara adalah gagasan PBNU. Ia membeberkan bahwa konsep ini dibahas di rapat gabungan Tanfidziyah dan Syuriyah PBNU sebelum akhirnya menjadi tema Muktamar Ke-33 NU di Jombang 2015 lalu.

Sejauh ini, banyak pihak yang tertarik dan ingin mengetahui lebih dalam tentang konsep Islam Nusantara, diantaranya adalah Laurent Booth (adik ipar Tony Blair), Dubes Perancis, Dubes Austria, Dubes Australia, Dubes Inggris, Mufti Ankara, dan Rektor Dar Al-Quran Sudan. ?

Acara tersebut dihadiri juga oleh Habib Abdurrahman Al-Attas, Habib Mahdi, Habib Muhsin Al-Habsyi, Sayyid Abu Bakar Al-Hamid, Habib Zein bin ? Hamid Al-Attas. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendaftaran mahasiswa baru (PMB) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) tahun ke-3 ini, menerapkan sistem PMB secara online. Strategi itu untuk menjangkau mahasiswa yang berada di luar Sidoarjo. Bagi calon mahasiswa dapat mengunjungi laman pmb.unusida.ac.id dan langsung melakukan registrasi.

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Unusida Terapkan Sistem Pendaftaran Mahasiswa Baru Secara Online

Kabag Promosi dan Humas (Promas) Unusida Achmad Wahyudi menjelaskan, waktu pendaftaran terbagi menjadi empat gelombang dengan batas penerimaan mahasiswa sampai tanggal 9 September 2016. Diantaranya jalur prestasi 4 Januari- 29 Februari, reguler I 1 Maret-29 April, reguler II 2 Mei-1 Juli, dan reguler III 4 Juli-9 September. Selama penerimaan tersebut juga diberikan potongan uang gedung sebesar 30 persen.

“Calon mahasiswa mulai sekarang seharusnya sudah aktif mencari informasi jurusan di perguruan tinggi. Sekaligus mereka harus tahu potensi dalam diri mereka masing-masing, agar tidak salah jurusan nantinya,” kata Achmad Wahyudi, Senin (11/1).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Wahyudi, di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya, jurusan yang ada di Unusida sangat prospect untuk membantu mencari kesempatan berkarir. Selain itu, empat fakultas yang terdiri dari 10 program studi yang ada bisa bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Wahyudi menambahkan, panjangnya masa pendaftaran diharapakan bisa dimanfaatkan calon mahasiswa untuk mencari informasi jurusan di Unusida. "Yang terpenting adalah prospect jurusan. Karena itu menentukan masa depan dan kualitas lulusan," tutup Wahyudi. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Ubudiyah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 19 September 2017

Syahdunya Maulid Nabi di Turki

"Ya Nabi salam alaika

Ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika

Shalawatullah alaika"

Syahdunya Maulid Nabi di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Syahdunya Maulid Nabi di Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

Syahdunya Maulid Nabi di Turki

Bunyi rebana menggaung disetiap sudut ruang. Mulut yang mengalunkan sholawat berpacu dengan hati yang khusyuk. Mereka yang hadir merapal puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ahad (26/1) menjadi hari istimewa bagi warga Nahdliyin di Turki. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melangsungkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang dilaksanakan di dalam gedung PASIAD, Istanbul, ini dihadiri Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul Abdullah Hariadi Kusumaningprang, perwakilan PASIAD Mucahit Bey, serta perwakilan organisasi kemitraan di Istanbul.

Dalam sambutannya, Abdullah Hariadi menyatakan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa Indonesia di Istanbul selama itu bernilai positif. Ke depan ia berjanji akan mengadakan perayaan-perayaan Islam lain. “Tolong diingatkan kalau saya lupa,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Datang pula memenuhi undangan “saudara jauh” dari PCINU Mesir. Dalam kesempatan ini, Ustadz Farid dari PCINU Mesir bersama Ustad Ulin Nuha dari PCINU Turki berkolaborasi membacakan barzanji. Kesyahduan bertambah ketika Ustadz Ulin membacakan arti lafal-lafal barzanji secara menggebu dari bait ke bait.

“Mereka yang anti dengan barzanji ini berarti belum memahami isi dari barzanji,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Ustad Ahmad Ginanjar Sya’ban, pengurus Syuriah PCINU Mesir, berkenan membagikan ilmunya tentang maulid. Menurut dia, momen maulid Nabi ini sungguh tepat dilaksanakan di bumi Turki, mengingat barzanji juga berasal dari Kurdi, salah satu etnis penyusun bangsa Turki.

Saat itu barzanji dibacakan untuk membakar semangat tentara Islam menghadapi pasukan salib. Barzanji yang berisikan sirah nabawi dan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW terbukti ampuh mengobarkan semangat jihad di dada tentara muslim. Setahun setelah pembacaan barzanji, tentara yang dipimpin oleh Salahuddin Al Ayyubi tersebut memenangi pertempuran.

Ustad Ginanjar juga menggambarkan keadaan di awal perkembangan Islam. Waktu itu bangsa arab dikenal sebagai bangsa tanpa peradaban. Bangsa yang jahil, amoral dan dipandang sebelah mata dibanding dengan dua kekuatan besar yang berkuasa, Romawi dan Persia. Kedatangan Nabi Muhammad benar-benar membalikkan keadaan. Hingga akhirnya dua negeri adi daya tersebut jatuh dalam kekuasaan islam.

Dia lalu mengibaratkan dengan keadaan sekarang. “Maaf, bukannya rasis. Misal saja di Papua terlahir seorang pembaharu.” Sontak hadirin tertawa. Pasalnya di sampingnya duduk wakil syuriah PCINU Turki yang lahir di Papua. “Kemudian Papua menjadi kuat hingga melahap kawasan-kawasan di sekitarnya. Australia, Filipina, hingga China menjadi propinsi di bawah Papua. Bahkan kemudian bahasa-bahasa mereka digantikan dengan bahasa Papua. Demikian lah keadaan Arab pada waktu itu.”

Acara maulid Nabi ini juga disiarkan melalui radio online PCINU Turki di www.pcinuturki.com/radio. (Ridho Ash-Shiddiqy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah