Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Pelajar NU Harus Jadi Benteng Aswaja dan Keutuhan NKRI

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin menyampaikan sebagai penerus perjuangan, pelajar NU yang tergabung dalam IPNU dan IPPNU diharapkan untuk menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).?

Pelajar NU Harus Jadi Benteng Aswaja dan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Benteng Aswaja dan Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Benteng Aswaja dan Keutuhan NKRI

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin dalam pelantikan 80 orang pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo serta PC IPNU Kota Kraksaan di Pendopo Kabupaten Probolinggo, Ahad (15/1) pagi.

“Semua kader IPNU dan IPPNU harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan. Kalian harus betul-betul fokus belajar dan belajar agar dapat menjadi pemimpin di masa yang akan datang,” katanya.

Lebih lanjut Hasan Aminuddin mengajak para pelajar NU untuk selalu disiplin dalam segala hal. Disiplin itu penting untuk mencetak perilaku dan akhlak yang baik. Pelajar NU harus meneguhkan kembali sebagai agen akhlak dan perilaku yang berakhlakul karimah. Akhlak atau etika itu diatas dari segala-galanya dan keilmuan dimiliki butuh implementasi yang dibutuhkan orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sebagai generasi muda NU, janganlah menjadi anak muda yang pesimis. Anak muda NU haruslah optimis dan akan saya hantarkan jika para anak muda di Kabupaten Probolinggo yang mempunyai perilaku akhlak yang baik dapat menjadi agen-agen NU yang mampu membantu masyarakat,” katanya.

Hasan Aminuddin mengimbau agar para pelajar NU mengusulkan apapun dengan catatan tidak membahas opini. Organisasi NU ini jangan dijadikan sebagai alat untuk mencari uang atau nafkah. Oleh karena itu harus ikhlas tenaga, pemikiran, jiwa dan raganya berjuang untuk NU demi keutuhan NKRI.

“Untuk itu, sebagai generasi muda NU perbanyaklah berkumpul untuk memadukan frekuensi dan dilaksanakan dengan musyawarah mufakat serta menjalin komunikasi baik dan tunjukkan perilaku akhlak saat menjadi generasi NU untuk orang lain,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelantikan 3 (tiga) cabang organisasi pelajar NU ini dipimpin oleh pengurus Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Provinsi Jawa Timur Rekan Haikal Atiq Zamzami dan pengurus PW IPPNU Provinsi Jawa Timur Rekanita Nurul Hidayati .

Dalam pelantikan ini juga dilakukan dialog interaktif dengan tema “Pelajar Sehat Menuju Indonesia Cerdas dan Demokratis”. Narasumber dialog ini berasal dari Satreskoba Polres Probolinggo dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Syariah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 28 Februari 2018

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ajang Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas) akan segera dilaksanakan akhir bulan depan. Sejumlah persiapan telah dilakukan termasuk seleksi peserta yang akan diberangkatkan.

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas Jombang Dikukuhkan

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jombang sangat serius mempersiapkan kegiatan perkemahan tingkat nasional ini. Seleksi sejumlah peserta dilakukan secara ketat dan dengan disiplin tinggi. 

“Ini agar saat berbaur dengan kontingen lain dari berbagai daerah tidak mengecewakan,” kata Khojin kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah (28/4).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Seleksi ini sebenarnya untuk kali kedua, yang sehari sebelumnya telah dilakukan,” katanya. “Dari proses seleksi, telah dipilih seratus dua puluh peserta,” lanjutnya. Mereka adalah perwakilan dari sejumlah sekolah MA, SMA serta SMK yang berada di bawah naungan LP Ma’arif.

Pelaksanaan Perwimanas akan berlangsung 24-29/5 di perkemahan Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung. Tidak kurang empat ribu peserta akan berpartisipasi pada kegiatan ini dari seluruh tanah air.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena sebagai tuan rumah, maka berbagai persiapan telah kami persiapkan menyambut kegiatan ini,” kata Sekretaris PC LP Ma’arif NU Jombang ini. Apalagi pada kegiatan serupa untuk tingkat Jawa Timur, Jombang berhasil menjadi juara umum.

“Prestasi itu sudah seharusnya kami pertahankan untuk tingkat nasional,” katanya optimis. Dan perwakilan yang telah diseleksi dalam dua gelombang tersebut sebagai kontingen pilihan untuk ajang ini. 

“Kita juga berharap kegiatan berjalan sukses dan silaturahim antar aktifis Pramuka di kepengurusan Ma’arif NU juga akan terus terjalin,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Yang Tercatat dari Muktamar

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Jombang, Jawa Timur, baru saja usai 5 Agustus silam.? Setidaknya ada dua fenomena menarik yang muncul dari? muktamar itu: masih besarnya kesulitan yang dihadapi NU dalam mengonsolidasi kekuatan internal organisasi serta fenomena kebangkitan “NU kultural” dalam mengawal agenda-agenda besar kebangsaan.

Yang Tercatat dari Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Tercatat dari Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Tercatat dari Muktamar

Seperti mengulang drama Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada 1984, Muktamar ke-33 juga berada dalam bayang-bayang perpecahan akibat perbedaan pandangan mengenai penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam, jabatan tertinggi dalam kepemimpinan struktural NU. Dalam sistem AHWA, Rais Aam tidak dipilih secara langsung oleh peserta muktamar, melainkan oleh sebuah komite terbatas dari kalangan ulama sepuh yang memiliki integritas moral dan konsisten dalam berkhidmat di NU. Sistem pemilihan sepert itu dipandang mampu menyelamatkan NU dari riswah, oportunisme, dan muslihat pihak-pihak yang berkepentingan, serta menjaga NU tetap dikendalikan para ulama. Sementara itu, bagi para penolaknya, sistem AHWA dianggap tidak benar-benar tulus mengangkat marwah ulama, melainkan untuk agenda politik tertentu menghadang calon Rais Aam lain yang mendapat dukungan selama muktamar. Namun, pendukung ataupun penolak AHWA menuding satu-sama lain disetir oleh agenda politik jangka pendek, baik tingkat regional maupun nasional.

Tidak jelas siapa yang menunggangi dan siapa yang ditunggangi. Relasi kuasa yang terbangun antara umara(baca: politisi) dan ulama telah menjadi sangat rumit, kompleks, dan berlapis-lapis, sehingga tidak mudah dicandra oleh mata publik. Dalam suasana liberalisasi politik yang juga sedang menghantam NU sebagai organisasi Islam dengan massa terbesar di Indonesia, para politisi ikut berkepentingan dengan “kapal besar” NU untuk mengamankan atau memajukan kepentingan masing-masing. Perhelatan akbar, seperti muktamar itu, tak luput menjadi ajang “investasi politik” para sponsor yang memanfaatkan sentimen keulamaan untuk mengamankan posisi politik mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tentunya tidak tepat menyebut politisi sebagai aktor tunggal dalam Muktamar NU kali ini. Walaupun para ulama dapat digiring ke arah kondisi tertentu yang favorable bagi kepentingan jangka pendek, selalu ada hal yang tak terduga dari figur-figur panutan warga nahdliyin tersebut. Muktamar kali ini, lagi-lagi, mempertontonkan hal itu. Drama tetesan air mata Gus Mus membuka mata nahdliyin betapa muktamar tersebut tak melulu soal ajang berebut pucuk kuasa. Muktamar adalah soal moralitas dan integritas keulamaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Walaupun terlambat, dan belum tentu mampu menyelamatkan organisasi, jalan sunyi Gus Mus menyingkap sebuah permasalahan yang masih melilit ormas Islam terbesar itu, yakni sulit mengambil sikap independen lebih tegas terhadap kultur pragmatis dengan mengalihkan kekuatan modal kulturalnya untuk hajat umat yang lebih pokok dan substansial.

Dalam perjalanan sejarahnya, NU selalu bermain pada aras suprastruktural dengan mendayagunakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki untuk mengintervensi grand design kebangsaan yang dipandang lebih cocok dalam melindungi kemaslahatan umat secara ekonomis, politis, ideologis, kultural, dan keagamaan. Hal tersebut, misalnya, tercermin dari penerimaan NU terhadap Pancasila pada Muktamar 1984. Modal kultural bagi kekuatan ini adalah hubungan organik antara ulama dan umat, serta kepercayaan pada peran ulama dalam membawakan aspirasi-aspirasi keumatan. Pada kenyataannya, secara eksternal, para ulama dapat berfungsi cukup kuat sebagai kekuatan pengimbang terhadap pelbagai kekuatan yang selama ini menentukan hajat hidup orang banyak—negara, partai politik, modal asing, dan lain-lain. Itu tercermin dari peran ulama NU pada masa Orde Baru dan peran NU di zaman kolonial dalam upaya melindungi umat dari persaingan dengan para pemodal Belanda dan China. Kendati secara eksternal cukup disegani, secara internal para ulama tidak selamanya mampu menjadi faktor integratif bagi kepentingan organisasi, terlebih bagi pemenuhan hajat pokok umat. Sering terjadi perbedaan pendapat cukup tajam dan sering kali pula tidak terdamaikan akibat hadirnya beragam orientasi politik dan ekonomi.

Persoalan barangkali sudah semestinya tuntas sejak NU kembali ke Khittah pada 1984 dengan menarik diri dari politik kepartaian dan menegaskan diri sebagai organisasi sosial-keagamaan. Namun, secara “kultural”, NU belum benar-benar ber-Khittah, karena masih memanfaatkan modal kultural keulamaan untuk mendayagunakan kekuatan-kekuatan politik yang ada guna mencapai tujuan-tujuan organisasi. NU tetap berpolitik “dari pintu belakang” dengan melakukan hegemoni atas sumber daya politik yang ada, baik formal maupun informal serta di pemerintahan maupun nonpemerintahan, untuk mewujudkan apa yang menjadi idealisme dan cita-cita besarnya. ?

Di ruang abu-abu itu, pertarungan dan adu-kekuatan antara haybah (wibawa) keulamaan dan kepentingan instrumental-pragmatis sumber daya politik tersebut diuji. Jika para ulama dapat mendikte kepentingan instrumental-pragmatis, maka besar kemungkinan para ulama dapat menjadikan aktor-aktor pragmatis itu kendaraan untuk mewujudkan agenda-agenda besar keumatan. Sebaliknya, jika para aktor pragmatis berhasil mendikte para ulama, maka agenda-agenda keumatan akan tergadaikan dan menjadi bancakan para aktor pragmatis; NU akan terjerat dalam pusaran kepentingan jangka pendek.

Permainan tersebut terbukti sarat risiko. Para ulama bisa saja terbuai bujuk-rayu para aktor pragmatis yang memiliki seribu satu cara untuk meluluhkan hati mereka agar menerima proposal-proposal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kepentingan umat, bahkan justru merugikan umat. Dalam suasana neoliberalisasi seperti saat ini, para ulama dapat dengan mudah terkooptasi skema-skema yang didesain oleh para pemodal besar (dan bukan sekadar aktor pragmatis “biasa”), yang bermain dari balik layar dengan memanfaatkan ulama sebagai “bumper” bagi kepentingan bisnis mereka. Para pemodal tersebut dapat bekerja sama dengan politisi yang memiliki kedekatan atau hubungan? kekerabatan dengan para ulama. Dengan kata lain, para aktor pragmatis dapat dengan mudah memuluskan sekaligus menjalankan agenda yang dimiliki berkat dukungan kultural yang diperolehnya.

Pelajaran terpenting dari Muktamar kali ini barangkali adalah perlunya dirumuskan sebuah konsepsi “khittah” yang lebih aktual dengan konteks kekinian, yaitu konteks dunia neoliberal tempat kepentingan politik niscaya bersenyawa dengan kepentingan ekonomi. Konsekuensinya, berpolitik hari ini menjadi identik dengan memiliki dan menguasai sumber daya ekonomi. “Khittah 1984” mampu melepaskan NU dari jeratan politik formal kepartaian dan memungkinkan NU memiliki ruang bebas memerankan sepak terjang tanpa baju partai politik, sedangkankhittah di masa kini juga seharusnya mampu melepaskan NU dari jeratan “politik” dagang yang diakui maupun tidaktelah memfasilitasi proses politik dalam bentuk formal serta? informal.

Perlu dibuka diskursus di kalangan ulama mengenai dampak bila ulama merestui atau menyetujui, misalnya, seorang calon anggota parlemen maju sebagai kepala daerah. Konsesi-konsesi apa yang akan diberikan si calon kepada para pengusaha besar dan kebijakan-kebijakan apa yang potensial dilahirkan si calon terhadap perubahan tata ruang, alih fungsi sumber daya, alokasi anggaran publik, dan lain-lain. Perlu dibuka wacana di tengah-tengah ulama mengenai sumber-sumber dana yang diperoleh para politisi, pertanggungjawaban dana tersebut, serta sanksi moral yang keras terhadap perilaku korupsi. Dengan demikian, “politik kebangsaan” NU mendapatkan wujud konkret dalam bentuk pengawasan publik terhadap segala aspek yang perlahan tapi pasti membawa dampak merugikan (mafsadah) bagi umat dan bangsa secara keseluruhan.

Merasuknya politik pragmatis di jaringan struktural NU merupakan akibat dari “politik akomodasi” yang dijalankan NU terhadap aktor-aktor negara dan pasar. NU pernah menjalani orientasi politik seperti itu sejak 1957 sampai 1961 dengan mengakomodasi? “Demokrasi Terpimpin”, yang kemudian melahirkan lapisan elite NU yang memiliki akses dan kedekatan dengan pengusaha, militer, serta pejabat tinggi negara. Meski kedekatan dengan rezim itu menguntungkan NU dengan kemampuannya mempertahankan dukungan kuat massa, di tengah konstelasi ideologi-ideologi besar saat itu (Nasakom), secara internal kedekatan itu juga menyeruakkan dan mempertajam friksi di kalangan NU, dari progresif hingga konservatif, yang menghendaki lebih kuatnya independensi NU terhadap rezim dan persatuan internal yang lebih kondusif bagi perwujudan cita-cita luhur organisasi (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama, LKiS, 2003, hal. 307).

Perlunya evaluasi serta otokritik terhadap strategi politik suprastruktural yang diperankan NU saat ini, dengan akomodasi lunaknya terhadap rezim serta akomodasi organisasi massa Islam ini atas pelbagai fasilitas yang dimungkinkan oleh iklim politik yang mengalami liberalisasi sedemikian cair, barangkali mendorong perlunya memikirkan sebuah kemungkinan pendekatan politik yang lebih dekat dengan cita-cita pemberdayaan NU untuk warga nahdliyin; pendekatan politik partisipatif-kewargaan,lintas-golongan, berjejaring, dan memiliki akar keprihatinan pada kondisi riil di tingkat basis. Pendekatan politik tersebut? berorientasi pembebasan dan pemberdayaan warga nahdliyin di tingkat akar rumput yang sekian puluh tahun nyaris tidak mengalami perubahan hidup yang berarti dan cenderung semakin rentan terjatuh pada pemelaratan, pemiskinan, dan deprivasi sosio-ekonomi.

Fenomena menarik lain di sekitar arena Muktamar NU kemarin adalah banyaknya “muktamar” sampingan (side-events) yang melibatkan kaum muda NU dari berbagai latar belakang. Mereka mendiskusikan persoalan-persoalan bangsa tidak lagi dari perspektif perebutan kuasa, melainkan dari perspektif pemberdayaan—melalui isu-isu perburuhan, sumber daya alam dan agraria, bonus demografi, anti-korupsi, demokrasi versus neoliberalisme, HAM, resolusi konflik, new media, seni tradisi, dan masyarakat adat. Berbagai pemetaan yang dilakukan atas persoalan riil keumatan, yang jauh dari jargon-jargon besar, seperti menandai suatu gelombang kesadaran baru di kalangan generasi muda nahdliyin akan perlunya sebuah pendekatan politik baru yang belum tertampung dalam strategi “tradisional” politik suprastruktural yang diperankan tokoh-tokoh NU. Bagaimana kaum muda NU mampu mengambil peran lebih hegemonik terhadap isu-isu kebangsaan di tubuh NU, dan mendorong lahirnya perubahan yang signifikan terhadap orientasi politik NU, merupakan sebuah pertanyaan yang menarik untuk dilihat jawabannya pada tahun-tahun mendatang.***



Muhammad Al-Fayyadl, Peninjau pada Muktamar NU ke-33, Peserta Musyawarah Besar (Mubes) Kaum Muda NU Jombang. Ia Alumnus Master "Philosophie et critiques contemporaines de la culture", Université Paris VIII, Prancis.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Rakercab, IPNU-IPPNU Probolinggo Gagas Program Unggulan

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo masa khidmah 2016-2018 mengadakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab), Sabtu (28/1).

Rakercab yang digelar di aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces ini diikuti oleh seluruh pengurus cabang dan anak cabang se-PC IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo.

Rakercab, IPNU-IPPNU Probolinggo Gagas Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab, IPNU-IPPNU Probolinggo Gagas Program Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab, IPNU-IPPNU Probolinggo Gagas Program Unggulan

Dalam Rakercab ini, IPNU-IPPNU membagi menjadi beberapa komisi. Selanjutnya dari masing-masing komisi menghasilkan program yang lebih fokus pada peningkatan kuantitas dan kapasitas kader Nahdlatul Ulama (NU) yang militan.

Melalui Rakercab IPNU dan IPPNU Kabupaten Probolinggo tersebut, akhirnya digagas beberapa program unggulan disamping program wajib. “Rakercab ini bertujuan untuk menentukan arah program organisasi satu tahun kedepan,” kata Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Babus Salam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Program unggulan tersebut diantaranya pelatihan Gen-MEA (Generasi Masyarakat Ekonomi Asia), pelatihan desain grafis dan bloger dan kemah pelajar hijau. Sementara program wajibnya berupa pelatihan berjenjang meliputi Makesta/Diklatama (Masa Kesetiaan Anggota/Pendidikan dan Pelatihan Pertama), Latihan Kader Muda (Lakmud) serta Latihan Kader Utama (Lakut).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan program yang mengarah pada kuantitas dan kapasitas kader diharap semua lembaga pendidikan mengenal terhadap organisasi Nahdlatul Ulama yang berperan di kalangan pelajar, baik siswa maupun santri atau mahasiswa,” harapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati. Menurutnya, program ini disusun agar mampu memberikan manfaat bagi segenap pelajar yang ada di Kabupaten Probolinggo.

“IPNU-IPPNU merupakan wadah bagi pelajar NU untuk menyampaikan aspirasinya. Sebagai pengurus kami wajib menindaklanjuti keinginan para pelajar melalui program sesuai dengan kemampuan,” katanya. (Syamsul Akbar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Pesantren, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Jelang Natal, GP Ansor NTT Datangi Kapolda

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor dan sejumlah pengurus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sowan ke Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (11/12/13). Kedatangan mereka adalah dalam rangka konsolidasi partisipasi damai Natal di walayah NTT.

Jelang Natal, GP Ansor NTT Datangi Kapolda (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Natal, GP Ansor NTT Datangi Kapolda (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Natal, GP Ansor NTT Datangi Kapolda

Silaturahmi dilakukan di Markas Polda NTT Kota Kupang, NTT. Rombongan pengurus PW GP GP Ansor dan Banser diterima Kapolda NTT Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana dan jajarannya. Yoga mengaku menyambut baik inisiasi para pemuda yang ingin menjalin persatuan dan kesatuan di lintas agama.

"Secara pribadi saya senang respon GP ansor mempunyai niat sama-sama menjaga situasi Natal dan tahun baru di wilayah NTT," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dijelaskan Untung, perbedaan merupakan anugerah Tuhan. Membenci perbedaan berarti tidak mengenali Tuhannya.? Kehadiran manusia didunia karena adanya perbedaan. Dia yakin GP Ansor NTT mampu menghayati ini dengan baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Yoga, terkait perayaan Natal dan tahun baru 2013, kepolisian daerah? NTT berusaha keras menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di seluruh pelosok selama aktivitas berlangsung. "Kita saling koordinasi, di mana ada polisi harus ada (pula) perwakilan Banser di setiap gareja di Kota Kupang," ujarnya.

Yoga berharap, GP Ansor dan Banser terlibat bukan saja di pengamanan gareja tetapi juga mengamankan situasi lalulintas dan berpatroli bersama Polisi. Dia mengingatkan, generasi muda perlu waspada dengan berbagai provokasi berbau adu domba melalui jaringan teknologi sekarang ini, seperti baik SMS, BBM, dan Twiter.

Karo OPS Polda NTT Kombes Pol Marffin Efendi saat dialog mendampingi Kapolda mengatakan, selama pengamanan berlangsung di lapangan patut bagi seluruh yang terlibat dalam kegiatan pengamanan untuk selalu? koordinasi.

Ketua PW GP Ansor NTT Abdul Muis Aps mengungkapkan terima kasih kepada Polda NTT yang bersedia kerja sama dengan pihaknya untuk bergotong-royong mengamankan secara damai perayaan Natal.

“Sinergi tetap kita bangun di NTT, demi menyatukan keberagaman guna membangun NTT ke depan. GP Ansor tetap semangat dan menyapakati akan menjadi garda terdepan kerukunan umat beragama. Ini bagian dari lokomotif bersama membangun NTT tercinta,” katanya. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Pendidikan, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 18 Januari 2018

Lembaga Pangan Dunia Sinergi dengan PBNU Lakukan Ketahanan Pangan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Pangan Dunia bentukan PBB, World Food Programme (WPF) melakukan sinergi dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan, khususnya di Indonesia. Diskusi yang sekaligus penekenan nota kesepahaman (MoU) tersebut berlangsung di Gedung PBNU Jakarta, Senin (21/18).?

Lembaga Pangan Dunia Sinergi dengan PBNU Lakukan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pangan Dunia Sinergi dengan PBNU Lakukan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pangan Dunia Sinergi dengan PBNU Lakukan Ketahanan Pangan

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Kepala Perwakilan dan Direktur WPF Anthea Webb menjelaskan bahwa NU bukan hanya organisasi Islam terbesar di dunia, tetapi juga organisasi yang bergerak di segala bidang.

Kang Said juga menjelaskan, di Indonesia masih masyarakat yang berada dalam garis ketidakmampuan secara ekonomi, baik dalam persoalan pangan, pemenuhan kebutuhan gizi, dan lain-lain.

“Sinergi ini penting, karena masih banyak persoalan yang harus diselesaikan oleh NU sebagai organisasi sosial kegamaan,” ujar Kang Said.

Tak persoalan sosial, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini, NU juga terus berupaya menebarkan Islam moderat, ramah, dan damai ke seluruh dunia. Sehingga menurutnya, bencana kemanusiaan yang ditimbulkan, baik oleh persoalan sosial dan terorisme global dapat teratasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Anthea Webb menerangkan bahwa pihaknya membutuhkan NU yang jelas perannya dan nyata mempunyai warga di akar rumput sehingga program ketahanan pangan bisa berjalan maksimal.

“WPF telah berdiri sejak 1963 dan pertama kali bekerja untuk Indonesia tahun 1964 dalam bencana Gunung Agung di Bali telah melakukan gerakan pencegahan kelaparan di banyak negara seperti Suriah, Irak, yaman, Palestina, dan Nigeria,” ujar Anthea Webb.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lembaga yang berbasis di Kota Roma, Italia itu juga bergerak dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak di seluruh dunia. Dia pun meminta kepada NU untuk bekerja sama dalam pencegahan bencana alam yang selama ini nyata-nyata berdampak pada munculnya bencana kemanusiaan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 14 Januari 2018

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Tim Operasi Bersih Rarahan Adri Nusantara LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama) mengibarkan bendera merah putih di atas puncak Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur.

Sekitar 20 orang pendaki yang tiba di Kota Malang pada 17 Oktober 2016 disambut H. Syaiful Efendi Ketua PCNU Malang di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. “Karena momentum hari santri sangat tepat gaungnya apabila ada dari tim ekspidisi yang mengibarkan bendera di puncak Gunung Semeru,” ujarnya.

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera Indonesia dan NU Berkibar di Puncak Semeru

Proses pendakian dimulai Selasa (18/10) pukul 10.00 WIB dari Desa Ranupane, menuju camp Kalimati. Tim tiba di puncak pada Kamis (20/10) pukul 22.00 WIB dan langsung melaksanakan pengibaran bendera merah putih, bendera NU, dan bendera LPBINU.

Sabtu (22/10) Tim Ekspedisi Islam Nusantara tiba di Jakarta dan bergabung bersama puluhan ribu santri di acara apel Hari Santri Nasional di Monumen Nasional.

Ketua Tim Operasi Bersih Rarahan Adri Nusantara LPBINU Yuslianto menyampaikan, pendakian tersebut membawa beberapa misi tentang sosialisasi pengelolaan lingkungan. “Yang pertama operasi sampah, terutama sampah plastik yang kemudian akan diolah menjadi ecobriks, berikutnya adalah pengenalan aplikasi NUbricks,” katanya. (Anty Husnawati/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaNu, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Umat Islam di Indonesia sebagaimana umat Islam di tempat lain memiliki karakternya tersendiri. Bahkan muslim di Tanah Air memiliki keistimewaan sebab menjadi terbesar meski disebarkan tak sezaman dengan Rasulullah ataupun para sahabatnya.

“Kita harus bersyukur menjadi orang Islam dan orang Indonesia karena berdasarkan hadits Nabi,” kata KH Zainul Arifin, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kepanjen, Malang, Jawa Timur, pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad, Rabu (23/12).

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia

Kiai Zainul melanjutkan, Nabi pernah bersabda bahwa orang yang paling baik adalah orang yang tidak pernah hidup sezaman dengan dirinya tetapi tetap beriman. Begitulah kondisi umat Islam di Indonesia. “Islam Indonesia tidak disebarkan oleh Nabi atau sahabat, melainkan Wali Songo, tapi kita adalah umat Islam terbanyak,” paparnya di hadapan para jamaah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Oleh karena itu, sebagai wujud syukur tersebut Kiai Zainul berharap agar agama Islam ini menjadi jiwa bagi pada setiap diri individu. Menurutnya, Islam harus menjadi mental umat Islam Indonesia. Karena pada masa sekarang kekuatan mental itu sangat dibutuhkan.

“Kalau Islam tidak bisa menjadi mental umatnya, akhirnya kita ini sebagai umat Islam masih saja mau menukar agama dengan uang,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan ini diselenggarakan oleh MWCNU Kecamatan Kepanjen bekerja sama dengan Takmir Masjid Baiturrohman di kecamatan setempat. Acara ini dimulai dengan pembacaan Istighotsah, Asma Badar dan Asma’ Uhud serta Maulid Diba’. Kiai Zainul memimpin langsung pembacaan Maulid Diba’ dengan diiring lantunan rebana oleh Jam’iyyah Shalawat Remas Masjid Baiturrohman. Turut hadir dalam acara ini para ulama setempat dan Kiai Muzani, sesepuh NU Kabupaten Malang. (Ahmad Nur Kholis/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 04 Januari 2018

Syekh Ramadhan al-Buthi Sejalan dengan Dakwah NU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan bela sungkawa mendalam atas wafatnya Syekh Said Ramadhan al-Buthi, ulama besar Suriah dalam sebuah serangan bom bunuh diri di masjid. Peristiwa tersebut dinilai sebagai babak baru dalam konflik di Suriah yang harus diwaspadai oleh kalangan Muslim dunia.

Syekh Ramadhan al-Buthi Sejalan dengan Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Ramadhan al-Buthi Sejalan dengan Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Ramadhan al-Buthi Sejalan dengan Dakwah NU

Ketua PBNU urusan luar negeri H Iqbal Sullam mengatakan, NU dan Syekh Said Ramadhan al-Buthi memiliki kesamaan dalam metode dakwah, di antaranya mengedepankan kesantunan dan moderat dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah. 

"Umat Islam dunia pasti merasa sangat kehilangan, termasuk kami dari kalangan Nahdliyin yang ada di Indonesia," ungkap Iqbal di Jakarta, Jumat (22/3). 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Iqbal menambahkan, selama ini PBNU memiliki hubungan yang sangat baik dengan ulama-ulama besar di dunia, termasuk dari Suriah. Selain Syekh Said Ramadhan al-Buthi, terdapat nama lain seperti cendikiawan Syekh Wahbah Zuhaili, Mufti Suriah Syekh Badreddin Hassoun, dan Syekh Rajab Dieb selaku pimpinan kelompok thariqah. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tahun 2007 silam Iqbal berkesempatan berkunjung ke Suriah dan bertemu langsung dengan Syekh Said Ramadhan al buthi. Selain santun, ulama dari kelompok Sunni itu juga disebutnya memiliki kedalaman ilmu agama yang menjadikannya sangat disegani. "Beliau sangat low profile. Peranannya sangat besar dalam mengembangkan toleransi dalam kehidupan masyarakat Suriah," ujarnya. 

Terkait peristiwa bom bunuh diri di masjid yang menewaskan Syekh Said Ramadhan al buthi, Iqbal menyebut sebagai babak baru dalam konflik politik di Suriah. Kondisi tersebut harus mendapatkan perhatian serius kalangan Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. 

"Ini menjadi bukti, kepentingan politik sudah menutup mata pelaku bom bunuh diri itu. Demi memenangkan kepentingannya, kelompok tertentu di Suriah sudah tidak melihat bagaimana Syekh Said Ramadhan al buthi seharusnya dihormati karena kesepuhan dan keilmuannya," urai Iqbal.

Syekh Said Ramadhan al-Buthi, ulama besar Suriah dengan sejumlah karya ilmiah yang terkenal, tewas dalam serangan bom bunuh diri di sebuah masjid di Kota Damaskus. Bom meledak saat Said Ramadhan tengah memberikan ceramah agama kepada sejumlah pelajar. Peristiwa tersebut juga menewaskan 15 orang lain, yang di saat bersamaan berada di lokasi sama. 

Atas peristiwa tersebut, jamaah salat Jumat di Masjid An Nahdloh, gedung PBNU, siang tadi sudah melaksanakan salah ghaib. PBNU juga mengeluarkan imbauan untuk seluruh Nahdliyin agar mendirikan salat ghaib sebagai bentuk penghormatan. 

Redaktur  : A. Khoirul Anam

Penulis     : Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Pesantren, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah . Tanggal 5 Oktober merupakan hari bersejarah bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dibentuk dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atas instruksi Presiden Sukarno yang oleh ulama Nahdlatul Ulama (NU) diberi gelar Waliyul Amri Dhoruri Bisyaukah. Namun hal jarang diketahui publik, kebersamaan TNI dan ulama bersama mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bhineka ini. 

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

TNI dan Ulama Mengawal Kedaulatan dan Kebhinekaan NKRI

"Panglima Besar Jenderal Sudirman ialah sosok relijius luar biasa. Diangkat sebagai jenderal saat usia 29 tahun dan dengan kondisi beliau sakit parah, harus bergerilya untuk memimpin pasukan, demi kedaulatan negara Indonesia. Beliau dikabarkan sangat dekat dengan rakyat, tidak pernah mengeluh, dan tetap berusaha untuk istiqomah dalam perjuangannya," ujar Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama, di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (6/10).

Peran serta Jenderal Sudirman dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 sungguh luar biasa besarnya. Mengkondisikan serangan serentak dari seluruh wilayah bantuan Belanda sehingga menghambat laju tentara Belanda dan berhasil membuka mata dunia, bahwa Indonesia masih ada. Peristiwa ini menimbulkan kecaman dunia internasional, dan berakhir dengan manis, yakni pengakuan kedaulatan Indonesia. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Tapi belum sempat menikmati masa damai, beliau harus berpulang, menyongsong haribaan Ilahi," ujar dia lagi.

Ia menambahkan ulama yang mempunyai peran dalam kedaulatan negara adalah Simbah Kiai Haji Machrus Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sosok yang luar biasa berkharisma ini tentu lebih dikenal sebagai begawan ilmu agama yang jarang ada tandingannya. Beliau begitu dicintai oleh seluruh santri dan masyarakat karena terbukti berkhidmah tanpa syarat," tuturnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa Yang Mulia Simbah Kiai Haji Machrus Aly salah satu pengawal NKRI sejati. 

"Beliau turut berperan menginstruksikan pelucutan tentara Jepang di Surabaya dan mengomando 97 santri Lirboyo untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November. Beliau berprinsip untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai hingga titik darah penghabisan," ujar dia lagi.

Hal tersebut, imbuh Shuniyya, yang di kemudian hari menjadi embrio Kodam Brawijaya, penjaga keutuhan NKRI di Jawa Timur. 

"Sehingga tidak heran jika beliau begitu dihormati oleh kalangan militer. Istiqomah beliau sungguh luar biasa. Beliau mengambil jalan tetap berada di pesantren untuk mengawal keilmuan agama. Tidak terbersit untuk menggayuh kekuasaan," paparnya.

Ulama lain penjaga NKRI yakni Singa Karawang alias Yang Mulia Simbah Kiai Haji Nur Ali. "Tokoh kharismatik tersebut tidak diragukan lagi pengabdiannya untuk NKRI. Pada saat perang kemerdekaan, beliau berangkat ke Yogyakarta dan ditemui oleh Jenderal Urip Sumoharjo sebab Jenderal Sudirman sedang tidak ada di tempat. Keadaan negara dalam kondisi genting.”

"Beliau diminta untuk membentuk pasukan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia namun tidak di wadah TKR. Beliau akhirnya membentuk Tentara Hizbullah-Sabilillah dan berkali-kali berhasil memporak-porandakan pasukan Belanda melalui taktik perang gerilya. Beliau pulalah yang melindungi kelompok orang-orang Kristen yang hendak dibantai oleh pasukan Belanda. Beliau pulalah yang berinsiatif mengibarkan ribuan bendera merah-putih sehingga membuat Belanda marah besar. Atas perjuangan beliau yang luar biasa, beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006," demikian Shuniyya Ruhama. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

 

Keterangan Foto: Wahono (Pangdam V Brawijaya) disambut KH Machrus Aly saat berkunjung ke Pesantren Lirboyo, Kediri. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Lomba, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 11 Desember 2017

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak cara yang dilakukan masyarakat dalam memperingati hari sejuta pohon sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Januari. Di Sidoarjo, Jawa Timur, puluhan siswa dan guru sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sunan Kalijogo, Ketimang, Wonoayu, mencabuti paku yang berada di pohon. Aksi ini sebagai upaya melestarikan lingkungan agar pohon tetap tumbuh sehat dan tidak mati.

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Siswa dan Guru MI Sunan Kalijogo Cabuti Paku di Pohon

Puluhan siswa dan guru MI Sunan Kalijogo ini langsung menyerbu beberapa pohon yang berada di depan sekolahan. Dengan menggunakan alat seadanya seperti catut, tang dan palu catut, siswa dan guru ini langsung mencabuti paku yang berada di pohon. Paku-paku ini bekas atribrut atau iklan yang dipasang di pohon oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Dengan antusias, siswa dan guru ini mencabuti paku. Paku-paku ini diduga sudah beberapa bulan berada di pohon sehingga siswa dan guru ini harus mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk bisa mencabut pakut tersebut. Pasalnya, paku tersebut sudah berkarat dan sudah lama berada di pohon.

Salah satu siswi MI Sunan Kalijogo, Riska Nur Amalia mengaku kesulitan saat mencabut paku yang berada di pohon. Karena paku tersebut sudah berkarat. Meski begitu, Riska dan teman-temannya tetap semangat mencabuti paku-paku tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Paku ini sudah berkarat sehingga kami sulit mencabutnya. Tapi alhamdulilah, paku tersebut bisa kami cabut," aku Riska kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (10/1).

Selain mencabut paku yang berada di pohon, puluhan siswa dan guru ini juga melakukan aksi tanam pohon. Sejumlah pohon ini ditanam di sekitar halaman sekolah sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kepala sekolah MI Sunan Kalijogo, Achmad Syamsudin mengatakan, bahwa selain makanan dan minuman sebagai kebutuhan hidup manusia, pohon juga merupakan kebutuhan manusia. Pasalnya, manusia bernafas atau menghirup udara yang dikeluarkan oleh pohon.

Oleh sebab itu, pihaknya mengajak kepada para siswa dan guru agar turut berpartisipasi melestarikan lingkungan agar pohon-pohon ini tetap tumbuh sehat dan tidak mati.

"Kami mengajak para guru dan anak didik kami, agar mensosialisasikan kepada masyarakat sekitarnya, bahwa dengan mencabut paku dan menanam pohon ini merupakan wujud sosial terhadap alam, supaya pohon-pohon ini tetap tumbuh sehat," ujar Syamsudin.

Syamsudin mengimbau kepada masyarakat agar tidak memasang iklan di pohon dengan cara memaku atribut iklan tersebut. Agar pohon tidak mati dan manusia bisa menghirup udara yang dihasilkan oleh pohon tersebut. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 10 Desember 2017

Tema Dakwah itu Luas

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menyesuaikan antara tema dan latar belakang pendidikan audiens merupakan hal pokok dalam strategi penyampaian dakwah. Sebab, tanpa mensinkronkan keduanya, pesan-pesan dakwah sulit diterima oleh hadirin. 

Demikian dikemukakan Siti Habibah dalam seminar memperingati Harlah ke-63 Fatayat NU dan Hari Kartini yang ke-13 di aula MWCNU Ambulu, Ahad (21/4). 

Tema Dakwah itu Luas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tema Dakwah itu Luas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tema Dakwah itu Luas

Menurut Habibah, selain mensinkronkan antara tema dan latar belakang audiens, perlu juga dipilih tema-tema aktual sebagai bumbu dakwah. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bumbu-bumbu dakwah itu penting agar audiens bersemangat dan materi dakwah tidak monoton,” tukasnya.

Ketua Anak Cabang Fatayat NU Ambulu itu menambahkan, konteks dakwah itu sangat luas. Dakwah  tidak selalu identik dengan ajakan shalat, bayar zakat dan sebagainya. Namun demikian, yang namanya dakwah intinya adalah mengajak kepada kebaikan. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ya intinya amar ma’ruf nahi mungkar walaupun bisa jadi temanya soal politk misalnya,” urai Habibah.

Selain Habibah, hadir juga koordiantor Da’i Fatayat NU Ambulu, Nyai Siti Aisyah Masdib. Ia membahas soal perlunya membangun keluarga sakinah. Meski tidak ada hubungannya dengan dakwah namun peserta cukup  khidmat menyimak pemaparan Siti Aisyah. 

“Untuk menjadi da’i yang baik, perlu dukungan keluarga sakinah,“ kata Siti Aisyah.

Seminar dengan tema “Esensi dan Strategi Dakwah Fatayat NU di era Global” itu sendiri dihadiri oleh 100 orang lebih. Mereka berasal dari utusan 15 anak ranting Fatayat NU Ambulu. Ketua MWCNU Ambulu, Sutikno dan sejumlah kiai, juga mengisi kursi deretan depan. 

Menurut ketua panitia, Uzainatul Latifah, bahwa peserta seminar kali ini diprioritaskan untuk calon-calon da’i dari Fatayat.  

“Jadi ini semacam pembekalan untuk terjun di masyarakat,” ucapnya.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 29 November 2017

Gebyar Hijriyah Ciptakan Gelora Belajar Siswa Brebes

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Semangat Hijriyah harus terus digelorakan dalam setiap dada pelajar agar kehidupan selalu ? berjalan pada rel kebaikan. Semangat untuk terus berbuat kebajikan dalam upaya menata diri dalam meraih cita-cita tidak boleh berhenti. Antara lain dengan belajar, belajar, dan belajar.

Demikian disampaikan KH Ahmad Riyadi dari Brebes saat sambutan Pengajian Gebyar Muharram di MTs Negeri Bangbayang kecamatan Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (25/11).

Gebyar Hijriyah Ciptakan Gelora Belajar Siswa Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Gebyar Hijriyah Ciptakan Gelora Belajar Siswa Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Gebyar Hijriyah Ciptakan Gelora Belajar Siswa Brebes

Sekolah, baginya, menjadi ladang persemaian untuk menata kehidupan pelajar agar lebih baik. Momentum Hijriyah saatnya untuk berbuat baik secara positif kepada diri sendiri, orang tua, guru, dan juga masyarakat. “Lewat Gebyar Muharram, kita siapkan generasi andal bagi hidup dan kehidupannya di masa kini dan mendatang.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Kiai Ahmad Riyadi, kita perlu prihatin karena tidak sedikit pelajar yang disibukkan dengan glamournya kehidupan kota. Senang dengan kehidupan malam, dekat dengan narkoba, tawuran dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan terus menggelorakan semangat hijriyah, maka kita akan terus berbuat baik. Berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabikhul Khoerot, tegasnya.

Sementara Kepala MTs Negeri Bangbayang Muhammad Suaedi menjelaskan, Gebyar Muharram digelar dengan maksud meneladani jasa perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam perjuangan menegakan Islam di muka bumi. ? “Gebyar Muharam, selain untuk syiar Islam juga bisa menggiring siswa menjadi pelajar yang santun, penuh dedikasi, cakap, dan rajin ibadah.”

Kegiatan ini digelar sejak Kamis-Sabtu (21-23/11) dalam bentuk perlombaan. Varian kegiatan itu antara lain pawai taaruf, lomba kaligrafi, lomba pidato, lomba karaoke qosidah, lomba busana muslim, lomba kebersihan dan keindahan kelas, lomba MTQ, dan pengajian umum. Kegiatan diikuti seluruh siswa yang berjumlah 520 orang.

Dengan gebyar Muharam, sambung Suaedi, minimal siswa yang mengikuti kegiatan itu bisa menjadi generasi yang kompetitif, terampil, dan mandiri yang memiliki landasan spiritual dan keilmuan yang luas. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Pertandingan, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 28 November 2017

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya

Dalam kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi al-Bantani menerangkan hari-hari tertentu yang disunnahkan berpuasa. Pertama puasa hari arafah, yaitu puasa pada tanggal sembialn Dzulhijjah bagi yang tidak berhaji.

Kedua puasa tanggal sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari asyuro. Ketiga puasa tanggal Sembilan Muharram atau disebut dengan hari tasua. Keempat puasa enam hari di bulan Syawwal. Kelima puasa tanggal tiga belas pada tiap bulannya. Keenam puasa hari senin dan kamis.

Demikian diterangkan dengan kalimat

Ù? سÙ? صوم عرفة وعاشوراء وتاسوعاء وستة Ù…Ù? شوال وأÙ? ام البÙ? ض والاثÙ? Ù? Ù? والخمÙ? س ?

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Hari Asyuro dan Amalan Lainnya

Tanggal sepuluh Muharram yang dalam bahasa arab disebut asyuro? adalah hari istimewa. Nabi pernah ditanya mengenai keistimewaan tanggal tersebut. Beliau menjawab bahwa puasa tanggal 10 Muharram yakaffirus sannah al-madhiyyah .

Artinya puasa tanggal 10 Muharram dapat menebus dosa satu tahun yang lalu. Sedangkan puasa hari ‘Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dapat menebus dosa dua tahun yang lalu. Hal ini dikarenakan hari ‘Arafah adalah hari khususnya manusia termulia di maya pada ini, yaitu Rasulullah saw. Sedangkan 10 Muharram adalah harinya para Nabi lainnya.

Selanjutnya diterangkan pula bahwa 10 Muharram adalah hari yang penuh dengan kesejarahan. Tercatat beberapa kejadian penting yang berlangsung pada hari 10 Muharram, tentunya dengan tahun yang berbeda-beda. Pertama, 10 Muharram adalah hari diciptakannya Nabi Adam as. di dalam surga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, hari dimana Nabi Nuh berhenti berlayar dalam banjir bandangnya. Ketiga, Allah menjadikan lautan bagaikan daratan sebagai ruang pelarian Nabi Musa sekaligus kuburan bagi Fir’aun. Keempat,? hari keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan Hut.

Kelima, hari dilahirkannya Khalilullah Nabi Ibrahim as dan juga hari diselamatkannya Nabi Ibrahim as dari kobaran api.? Keenam, hari kelahiran Nabi Isa as dan hari dimana Allah swt. menyelamtkan Nabi Isa as dari kejaran umatnya dengan mengangkatnya ke atas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan puasa tanggal Sembilan Muharram disunnahkan berdasarkan pada hadits rasulullah saw:

لئÙ? عشت الى قابل لأصوم Ù…Ù? التاسع والعاشر. Andaikan aku ada umur panjang, aku akan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram”

Dalam kesempatan lain Imam? Ajhuri mengatakan bahwa barang siapa mengucapkan hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir? tujuh puluh kali di malam 10 Muharram, insyaallah Allah akan mencukupi kehidupannya tahun pada tahun tersebut.

?

Sumber: Syaikh Nawawi al-Bantani, Nihayatuz Zain

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 21 November 2017

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. H. Helmy Faisal Zaini menyatakan mundur dari Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa setelah terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PBNU. Hal itu dinyatakannya pada konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Sabtu sore (22/8).

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini Mundur dari PKB

“Yang pertama, mulai hari, saya mengundurkan diri dari fraksi. Total jadi petugas ulama,” katanya saat mendampingi Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Efffendi Yusuf mengumumkan susunan pengurus PBNU 2015-2020.

Sementara sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari PKB, lanjut dia, akan tetap diteruskan. Hal itu karena, menurut dia, akan menjadi nilai plus untuk bersinergi dengan wakil-wakil NU di parlemen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Jelas, mulai hari ini berakhirnya di partai. Mulai membangun loyalitas NU,” tegasnya. ?

Menurutnya, ia memilih mundur karena karena tidak mungkin bisa membagi kesibukan antara menjadi Ketua Fraksi dan Sekjen NU. Pilihannya ini akan diserahkan kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. “Saya akan lebih banyak waktu di NU. Saya akan menyatakan nonaktif di PKB.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Said Aqil Siroj menjelaskan, tidak ada larangan seorang politisi menjadi pengurus PBNU. Beberapa pengurus PBNU sebelumnya juga mengakomodir politisi. Tapi karena politisi NU beragam partai, maka yang diakomodir pun beberapa partai.

“Pak Slamet (Wakil Ketua Umum PBNU) juga bukan PKB, Pak Nusron Wahid (Kepala BNP2TKI) juga bukan PKB. Jadi, apa yang telah dihasilkan formatur, sudah melalui kajian renungan yang benar dan tepat,” jelasnya.? ?

Awak media kemudian menanyakan bagaimana menjaga jarak antara kepentingan seorang pengurus NU yang menjadi politis. Kiai Said yakin, jajarannya akan bisa menjaga jarak karena NU bukan politik praktis, melainkan menjalankan asiyasatul ulya, politik kebangsaan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 19 November 2017

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas

Cilegon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Arsitektur masjid biasanya terdiri dua ruang, bagian dalam dan serambi. Itu artinya, masjid ada dua bidang ajaran utama, yaitu hablu minallah dan hablu minannas.

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi arsitektur masjid seperti itu adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan dua cara. Di bagian dalam untuk shalat, i’tikaf, dan wirid, sementara serambi untuk melayani umat.

Kemudian, kiai kelahiran Puwokerto tersebut mencontohkan, Nabi Muhammad tidak memiliki kantor tersendiri seperti kantor kabupaten sekarang. “Nabi, kantornya di serambi masjid. Kantor itu selalu terbuka dan selalu bisa dimasuki umat.”

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas (Sumber Gambar : Nu Online)
Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas (Sumber Gambar : Nu Online)

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas

Hal itu dikatakannya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”, di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Pegantungan Jombang, Kota Cilegon, Banten, Sabtu, (20/4).

Di serambi itu, dijadikan tempat pelayanan umat mulai dari pelayanan kesehatan, ekonomi, dan pengetahuan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan, tidak ada bangunan umum yang sebanyak masjid, tapi sayangnya, pemanfaatannya tidak terperhatikan. Banyak masjid yang bagus, tapi pemakmurannya kurang.

Padahal, sambung kiai Masdar, umat Islam diberi tugas untuk dua kemakmuran, yaitu memakmurkan masjid, dan pada saat yang sama untuk memakmurkan bumi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pencanangan memakmurkan masjid ini dalam rangka menyongsong seabad NU. 13 tahun lagi. Mudah-mudahan NU masih hidup dan bahkan lebih berjaya. Berjaya dengan bertolak dari masjid, untuk memakmurkan bumi,” ucapnya.

Rapimda tersebut digelar Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kota Cilegon bekerja sama dengan PP LTMNU, dan PT Sinde Budi Sentosa.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Bahtsul Masail, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 November 2017

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan PT Gensei Indonesia berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kewirausahaan.? Dalam rangka membangun keterampilan berwirausaha, kedua pihak ini menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan sejak pagi hingga petang di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (19/5).

“Acara ini dapat terselenggara atas kerja sama dengan Koperasi Muslimat NU Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan), HLN, serta bidang ekonomi,” kata penanggung jawab pendidikan Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menyampaikan sambutannya.

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Jiwa Mandiri, Muslimat NU Gelar Pendidikan Keterampilan Wirausaha

Kami, lanjut Hj Nurhayati, atas nama tim penyelenggara acara ini menyampaikan terima kasih kepada PT Gensei Indonesia, seluruh pengurus PP Muslimat, NU dan semua hadirin. “Semoga pendidikan ini dapat membangun jiwa wirausaha mandiri pada diri kita semua.”

Sementara Direktur PT Gensei Indonesia Dato‘ Ahmad Amin Esa mengucapkan terima kasih kepada Muslimat NU atas kerja sama kedua pihak khususnya Hj Mimin dan Hj Nurhayati yang memediasi keduanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita akan mengadakan pendidikan ini sebanyak dua kali. Dengan dua pendidikan yang memuat materi pemasaran dan pengenalan produk di dalamnya, kami berharap produk Susu Kambing Kurma Madu Indonesia (SKKMI) yang akan diluncurkan bulan depan terserap dengan baik di pasar,” kata Dato’ Amin.

Pendidikan ini diikuti oleh sedikitnya 70 peserta yang terdiri atas pengurus PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, dan PC Muslimat se-Jabodetabek. Pada pertemuan ini, PT Gensei menurunkan H Torman bin Rosnan dan Toni Indra Haribawa sebagai pemateri motivasi kewirausahaan dan pengenalan produk SKKMI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendidikan ini ditutup dengan pengarahan dari Ketum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 12 November 2017

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Timur (NTT) menjalin kerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT di Naibonat Kabupaten Kupang.

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat-BPTP NTT Kerja Sama Program 10.000 Bibit Cabai

BPTP akan menyalurkan bibit cabai kepada sejumlah Pimpinan Cabang Muslimat NU, antara lain Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Pimpinan Cabang Muslimat Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Malaka.

Pimpinan Wilayah Muslimat NTT dan beberpa pengurus masjid di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang juga bakal menerima penyaluran bibit tersebut.

Ketua PW Muslimat NU NTT Hj Nurni H Amirudin mengatakan, bantuan bibit cabai kepada PC Muslimat dan pengurus masjid merupakan upaya pengembangan ekonomi organisasi dan pemberdayaan ekonomi umat di bidang pertanian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Program 10.000 anakan cabai untuk pemberdayaan ekonomi," katanya di Oelamasi, Kupang.

Penandatanganan nota kesepahaman berlangsung Selasa (23/5). Penandatanganan ini diharapkan berlanjut dengan pengawasaan serta pembinaan tentang teknik budi daya cabai kepada para penerimanya. (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 10 November 2017

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lagu pupujian "Anak Adam" bakal menjadi sound track film "Santri "Kelana" garapan Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pupujian ini sering dikumandangkan menjelang shalat berjamaah dan cukup familiar di kalangan umat Islam di Jawa Barat.

Mengenai pupujian Anak Adam itu, tim pembuatan film "Santri Kelana" dari PCNU Subang sudah melakukan rekaman yang dikombinasikan dengan instrumen musik.

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana

"Pertama, isi syair dan nilai yang diusung dalam pupujian Anak Adam ini penuh dengan makna. Kedua, dalam bait awal syair ada kata ngumbara (berkelana), begini: Anak Adam anjeun di dunya ngumbara (anak adam kamu hidup di dunia berkelana). Jadi saya kira ada relevansinya dengan judul film," kata Tito Taqiyudin (40), Sutradara Film Santri Kelana, di Pesantren Al-Mukhtariyyah, Subang, Kamis (9/5) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketiga, tambah Tito, pencipta pupujian ini anonim, tidak ada nama penciptanya. Ada yang bilang, inilah karakter Nusantara yang sebenarnya, kalau menciptakan sesuatu tidak mengharapkan imbalan materil yang diikat dengan hak cipta, yang diharapkan adalah justru imbalan moril berupa amal jariyah.

"Saya punya kitab pupujian Anak Adam, terbitan Toko Kairo Tasikmalaya, memang di sana tidak disebutkan penulisnya," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan Tito, pupujian anak adam ini terhitung cukup tua, karena pada masa kakeknya Tito masih hidup, pupujian itu sudah sering dikumandangkan di mushala yang ada di depan rumahnya.

Seperti diketahui, saat ini PCNU Kabupaten Subang sedang menggarap pembuatan film pendek yang berjudul "Santri Kelana". Pembuatan film ini direncanakan akan rampung sebelum bulan Ramadlan 1436 H tiba. Bagi masyarakat yang akan memberikan dukungan bisa bergabung di grup jejaring sosial facebook dengan nama grup Santri Kelana Subang. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 November 2017

IPNU-IPPNU Blimbingrejo Terbitkan Buletin An-Nariyah

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Bilmbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menerbitkan buletin bernama An-Nariyah baru-baru ini.

IPNU-IPPNU Blimbingrejo Terbitkan Buletin An-Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Blimbingrejo Terbitkan Buletin An-Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Blimbingrejo Terbitkan Buletin An-Nariyah

Buletin kebanggaan pelajar Blimbingrejo ini hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi para pelajar maupun masyarakat secara umum, utamanya terkait dengan hukum Islam, seperti soal hukum dan dampak nikah di usia muda.

"Untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi pelajar NU di sekitar Desa Blimbingrejo yang selama ini kurang begitu faham betul mengenai hukum Islam" ujar Pemimpin Redaksi Buletin An-Nariyah Muhamad Ridho Maulana, Ahad (16/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ridho menjelaskan, media tersebut juga menyajikan beberapa materi pembahasan, seperti fiqih, ushul fiqih, dan tasawuf. “Lebih spesifik problem-problem yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Dikaji dari pandangan fiqih dan metode usul fiqih," kata santri lulusan Pesantren Salafiyyah Safiiyyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, ini juga merupakan langkah responsif terhadap isu-isu yang berkembang saat ini tentang berbagai persoalan hukum Islam. Ridho berharap kehadiran buletin ini membuat para pelajar NU semakin cinta terhadap ilmu agama dan bersemangat dalam berorganisasi IPNU-IPPNU. (Yusrul Wafa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah