Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Hadis Nabi Muhammad yang berbunyi “Ballighu ‘aani walau ayat”. Artinya, sampaikanlah dariku (Nabi Muhammad) walau hanya satu ayat saja, menjadi pedoman bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba dalam berdakwah. Menyeru dan mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam. Tentu mereka menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang mereka kuasai.

Medan dakwah mereka juga berbeda-beda. Ada yang berdakwah di musholla, masjid, majelis taklim, bahkan hingga ada yang berdakwah di televisi, radio ataupun media sosial seperti youtube. Hingga kemudian disematkanlah gelar ustadz atau ustadzah di bahunya. 

Naasnya, tidak sedikit dari mereka yang tidak memiliki latar belakang pengatahuan keislaman yang mendalam. Karena biasanya ada juga selebriti yang banting setir menjadi ustadz atau ustadzah meski baru ‘sedikit’ belajar tentang Islam dan segala disiplin keilmuannya. Ada juga gelar ustadz atau ustadzah tersebut disematkan oleh televisi tertentu –meski tidak terlalu menguasai ilmu-ilmu keislaman tetapi menghibur- untuk mengejar rating. 

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Meski demikian, ada juga yang dakwah di televisi atau media sosial tersebut adalah orang yang benar-benar mendalami dan menekuni Islam karena mereka memang belajar tentang Islam dan disiplin ilmu-ilmu keislaman selama berpuluh-puluh tahun.

Kehadiran ustadz atau ustadzah di televisi atau media sosial tersebut tidak jarang membuat masyarakat heboh karena materi-materi yang mereka sampaikan begitu kontroversial. Seperti kenikmatan surga adalah pesta seks, anjuran untuk tidak menjadi dokter hewan bagi seorang muslim, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia akan bekerja sama dengan Kemenag, Universitas Islam Negeri, Ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya untuk melakukan standarisasi dai. Hal itu dilakukan agar materi dakwah yang disampaikan para dai, ustadz, dan ustadzah tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan kredibel. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah standari dai tersebut itu seperti apa? Apakah semua dai akan distandarisasi? Bagaimana pola dan mekanismenya? Apakah standarisasi sama seperti sertifikasi? Apakah khatib juga akan distandarisasi? dan Kapan standarisasi akan efektif dilaksanakan? 

Jurnalis Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, A Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Ketua Komisi Dakwa KH Cholil Nafis untuk memperjelas hal-hal yang berkaitan dengan ‘standarisasi dai’ ini. Berikut hasil wawancaranya:

Belakang ini, banyak ustadz –baik yang ada di televisi ataupun media sosial- yang mengebohkan masyarakat karena pernyataan yang mereka seperti pesta seks adalah nikmat surga, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lainnya. Bagaimana menanggapi itu?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keberadaan para ustadz yang ada di televisi, radio, ataupun frekuensi-frekuensi publik lainnya seharusnya menjadi perhatian yang serius. Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, standarisasi para ustadz. Baginya, ini harus dilaksanakan agar para ustadz tersebut memiliki kualifikasi yang memadahi karena mereka berbicara di depan ratusan ribu bahkan jutaan penonton.

Kedua, ustadz-ustadz juga perlu koreksi diri atau muhasabah. Mana dalil-dalil yang masih parsial. Mana yang harus dilengkapi dengan dalil yang lain. Sehingga hukum atau ceramah yang disampaikan tidak membuat resah masyarakat. 





Apakah yang dimaksud dengan standarisasi? Apakah standarisasi sama dengan sertifikasi?

Sebenarnya standarisasi berbeda dengan sertifikasi. Kalau sertifikasi, orang baru boleh ceramah kalau mendapatkan sertifikat. Tetapi kalau standarisasi itu lebih kepada kualifikasi seperti orang yang bergelar S1, S2, dan S3. Soal  dipakai atau tidak itu terserah kepada ‘pasar’, orang yang ‘memakainya.’ Pemakainya itu sudah bisa mengukur. Ini membutuhkan dai yang standarnya A. Ini membutuhkan dai yang standarnya B. Kita bisa mengkualifikasikan itu. 

Kita ingin memperbaiki kualitasnya dari pada mengekang siapa yang berhak untuk ceramah dan siapa yang tidak berhak untuk ceramah. Selama ini kita masih bertumpu kepada kekuatan masyarakat. Artinya, masyarakat yang mengundang, masyarakat yang membayar, dan masyarakat yang punya acara. Itu berbeda dengan negara tetangga kita seperti Malaysia atau Brunei. Orang yang menjadi dai itu adalah atas biaya negara.   





Yang distandarisasi apa saja nantinya?

Pertama, kita akan melakukan standar dasar seorang dai yaitu kemampuan orang di bidang agama. Apakah dia sudah layak menyampaikan ilmu itu di publik. Ada standar yang memang untuk hanya mengajar seperti mengajar Iqra, mengajar tajwid, mengajar tafsir. Kita ada standar dasar bahwa orang yang berbicara di publik itu minimal bacaan Al-Qur’annya bagus, mengerti agama dengan baik.

Kalau dia ceramah di televisi, pertama dia harus mengetahui tentang paham-paham keagamaan di Indonesia. Jadi dia tidak nabrak-nabrak ke yang lain. Kedua, mengetahui perbedaan-perbedaan ulama. Jika para ustadz tersebut menguasai sesuatu yang khilafiyah maka mereka bisa memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada umat. 

Ketiga, dia paham hubungan antara agama dan negara termasuk pilihan Pancasila ini sebagai dasar negara sehingga dia tidak menyoroti kesepakatan yang sudah disepakati. Bahwa NKRI adalah sebuah kesepakatan dan kita berkomitmen untuk hidup di dalam bingkai NKRI. Terakhir, dia memahami konteks pembicaraan dan wawasan tentang lingkungan dan masyarakat sehingga apa yang disampaikan bisa menjadi inspirasi.





Berarti semua akan distandarisasi atau hanya yang di media saja?

Kita sedang berkoordinasi dengan pihak terkait. Ke depan, orang yang bicara di televisi atau publik itu harus mendapatkan rekomendasi dari lembaga yang kredibel seperti Kemenag, UIN, MUI, NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Biasanya dengan adanya rekomendasi itu ada pertanggungjawaban terhadap sebuah lembaga. 

Sekarang banyak terjadi kesalahpahaman dan sensasi itu biasanya dari dai yang tidak jelas afiliasi paham keagamannya. Ketika dia tidak afiliasi, dia tidak paham agama, tidak paham pemikiran di Indonesia. Sehingga menyinggung yang lain. Sesuatu yang tidak qath’i (pasti) dibikin qath’i. Sesuatu yang tidak muttafaq alaih (semua ulama menyepakati) dibikin muttafaq alaih. Dan menganggap kebenaran tunggal dan meyalahkan yang lain. Padahal itu adalah wilayahnya khilafiyah (perbedaan pada cabang). 





Kalau yang aktif berdakwah di media sosial seperti Youtube bagaimana?

Saya pikir Youtube itu adalah regulasi yang lain. Saya pikir masyarakat bisa menontonnya ketika itu dianggapnya benar. Kalau orang yang melakukan yang macam-macam dan mengarah kepada kriminal, dia akan diproses secara hukum. 

Menurut saya, karena Youtube itu bebas dan semua bisa mengakses dan meng-upload-nya maka hanya orang yang aktif saja yang menggunakannya. Kita mencermati saja, kalau itu melanggar maka kita kasih perlakuan. Di pedoman dakwah itu ada pedoman dai. Kalau ada dai yang membuat kontroversi dan masalah, maka kita akan kasih pembinaan kepada yang bersangkutan.





Ada anggapan bahwa standarisasi itu adalah sebuah pengekangan karena mau berdakwah saja masa harus diatur. Bagaimana itu?

Sekarang adalah zaman kualifikasi dan standarisasi. Jadi bukan melarang, tetapi kalau anda kompeten ya silahkan. Yang dilarang adalah orang yang tidak kompeten tetapi membuka praktik. Dokter saja tidak boleh membuka praktik kalau dia tidak memiliki sertifikat kompetensi. Untuk menjadi konsultan dan manajer saja harus memiliki sertifikat kompetensi. 

Kita menghindari praktik orang yang tidak kompeten. Sebenarnya kita melindungi masyarakat dan umat. Jangan sampai mereka yang berdakwah itu menyampaikan sesuatu yang sesat sehingga nanti malah menyesatkan. Sebenarnya apapun memang harus diatur di dunia kualifikasi seperti sekarang ini. Sekarang harus dipilah. 

Selain kompetensi, kita juga akan menilai konsistensinya. Jangan sampau kita tahu, tetapi perilakunya tidak mencerminkan pengetahuan kita tersebut. Di dalam berdakwah agama juga ada perilaku yang harus dinilai. Perilaku tersebut bisa dilihat dari track record nya. Meskipun dia ustadz dan lulusan S3, tetapi dia sudah pernah melakukan tindak pidana kriminal maka ia harus diberi sanksi untuk menyampaikan kebenaran di depan umum.  

Sebenarnya ini sama dengan pofesional lainnya. Kita arahnya ke sana. Siapa yang profesional nanti kita serahkan kepada ‘pasar’. Nanti mereka akan memilih yang seperti apa. 

Artinya orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi tersebut sudah terjamin kredibilitasnya dalam menyampaikan dakwah di publik?

Orang-orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi itu adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi. Contoh misalnya saya di MUI banyak mendapatkan pertanyaan dari luar negeri terkait dengan ustadz yang akan dikirim ke sana. “Pak, ustadz ini baik atau tidak? Pak, ustadz ini bermasalah apa tidak?” 

Kalau kita tidak memfasilitasi itu, berarti kita tidak melayani umat. Sekarang hanya ustadz yang tidak ada kualifikasinya. Ada artis yang tiba-tiba menjadi ustadz. Yang penting bonek aja ngomong di publik. Dia sudah dipanggil ustadz.





Sampai saat ini proses standarisasi ini sudah sejauh mana?

Secara regulasi dan kebijakan, kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kemenag, KPI, dan Menkominfo untuk membahas tentang regulasi dan ini sedang berlangsung. Bulan depan, kita melakukan konsinyering untuk finalisasi.

Selain itu, kita juga sudah memiliki peta dakwah dan pedoman dakwah. Pedoman dakwah ini yang nantinya akan kita godok sehingga menjadi akademi dakwah. Jadi, nanti kita ada proses pelatihan. Ini bisa dilakukan oleh kita ataupun lembaga tertentu tetapi kita akan mengadakan proses tes terkait tentang standar. Ini masih basic, ini intermediate, ini sudah advance. 

Kalau di tingkatan-tingkatan; ini tingkat lokal, ini tingkat provinsi, ini tingkat nasional, dan ini tingkat internasional. Itu ada kualifikasinya masing-masih. Masa ada yang tidak menguasai bahasa asing sama sekali mau diletakkan di tingkat internasional. Ini kan tidak mungkin. Minimal yang di tingkat internasional harus menguasai satu bahasa, Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Paham pemikiran secara internasional. 





Kapan standarisasi dai ini akan efektif dilaksanakan?

Kalau pelatihannya tahun depan. Tetapi kebijakannya kita sedang buat sejak tahun ini. Minimal awal itu kan ada rekomendasi dulu (dari pihak-pihak terkait seperti Kemenag, MUI, UIN, NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya) bahwa orang ini memiliki kualifikasi sebagai dai. Kita wawancara, kita tes kemampuannya.

Ke depan, kita akan standarisasi seperti uji kemampuan atau kompetensi. Kompetensinya sudah sampai dimana. 

Bagaimana dengan khotib salat Jum’at? Apakah akan distandarisasi juga?

Kalau khotib kan bagian yang sangat spesifik. Kalau itu sudah kita bahas berkali-kali dengan Kementerian Agama untuk dilakukan standarisasi juga. Bahkan kalau bisa mereka bisa diangkat sebagai penyuluh agama. Jadi, penyuluh agama itu berbasis masjid. Sementara ini penyuluh agama yang jumlahnya 60 ribu itu kadang-kadang mereka tidak memiliki binaan khusus. 

Bagaimana kalau itu dimaksimalkan melalui masjid. Jadi orang yang diangkat sebagai penyuluh agama berbasis masjid tersebut adalah orang yang ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah. Termasuk honornya dan pembinaan ummat. Baru setelah itu dilakukan standarisasi. Misalnya bacaan Al-Qur’annya bagus. Kalau berceramah dia harus mengerti tentang tafsir-tafsir Al-Qur’an. Mengerti tentang fikih khilafiyah salat. Fikih-fikih sosial tentang tradisi kemasyarakatan. 

Dengan demikian, aktivitas masjid juga akan ‘dipantau’?

Selama ini, kalau ada masjid yang menggelar pengajian itu bertumpu kepada takmirnya. Siapa yang diundang oleh takmir. Maka dari situ, orang yang diundang harus berdasarkan kualifikasi tadi. Misalnya ustadz ini memiliki kualifikasi untuk mengajar kitab, ustadz ini berceramah. 

Jadi, kalau kita sudah ada kualifikasinya, kita akan mudah memberikan rekomendasi. Bukan hanya kemampuan, tetapi juga konsistensi terhadap ilmu dan imannya. Kalau hanya kualifikasi keilmuan, banyak sekali yang memiliki kualifikasi tersebut. Tetapi sekarang ada kompetensi. Itu didapat dari uji kompetensi dan konsistensi dengan keilmuannya. Seperi dokter. Dia mengerti ilmu kedokteran, tetapi kalau dia tidak konsisten dengan keilmuannya maka akan banyak terjadi mal-praktik.  

Di saat mal-praktik, di saat dia paham tafsir tetapi yang dibawa aliran sesat maka akan membuat kekacauan. Ilmunya banyak, ilmu tafsirnya bagus, tetapi dia membawa ajaran sesat itu akan repot.





Apakah standarisasi ini akan dilakukan berkala untuk mengecek konsistensi para dai? Atau bagaimana?

Iya, kalau kita menjadi asesor itu kan ada uji berkala. Umpamanya, dia melaporkan hasil dakwahnya. Dimana dan apa saja yang disampaikan. Kita bisa cek dari situ. Apakah ada resistensi atau tidak. Kalau dia dikasih standarisasi, tetapi dia tidak pernah dakwah maka bisa jadi ilmu dakwahnya bisa hilang. Misalnya dia setahun tidak pernah khutbah, itu bisa kaku lagi untuk berkhutbah. Itu baru khutbah. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 19 Januari 2018

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi

Khutbah I

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Menyambut Peringatan Maulid Nabi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?}? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ?

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang sering disebut Maulid Nabi. Peringatan Maulid Nabi memang tidak diperintahkan secara khusus, baik oleh Al-Qur’an maupun Hadits. Peringatan ini baru diadakan untuk pertama kali ratusan tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yakni pada abad ke-7 hijriah di wilayah Irak sekarang atas perintah Raja Irbil bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri. 

Meski tidak ada perintah yang tegas, peringatan maulid Nabi juga tidak ada larangan yang jelas. Sesuatu yang tidak ada perintah sekaligus tidak ada larangan boleh dilakukan. Hal ini dalam hukum Islam disebut mubah. Sesuatu yang mubah akan mendapatkan pahala apabila ada niat dan tujuan yang baik (ibadah), dilakukan dengan cara yang baik dan terbukti mengasilkan sesuatu yang baik.  

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nabi Muhammad SAW lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Dari usia dini beliau sudah yatim piatu. Ayah beliau wafat ketika Nabi masih dalam kandungan. Usia enam tahun, inbundanya wafat. Lalu disusul kakek beliau juga wafat. Dan akhirnya beliau diasuh Paman Abu Thalib. Abu Thalib sendiri bukan orang kaya, padahal putranya banyak. Keadaan inilah yang menjadikan beliau harus bekerja keras sejak kecil untuk mencari nafkah. Beliau pernah menjadi penggembala kambing. Juga beliau pernah membantu pamannya berjualan di Syam. Yang terakhir ketika sudah dewasa beliau bekerja sebagai buruh atau karyawan pada seorang janda bernama Khadijah. Pekerjaan beliau adalah menjalankan perdagangan di perusahaan janda tersebut. Dari buhungan seperti itulah kemudian beliau menikah dengan Khadijah yang tak lain adalah majikannya sendiri. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kehidupan Nabi Muhammad sebagaimana uraian tersebut, dapat kita temukan rekamannya dalam Surat Adh-Dhuha. Dalam ayat ke-3, Allah SWT berfirman:

? ? ? ? ?

Artinya: “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”

Allah sekali-kali tidak bermaksud meninggalkan Nabi Muhammad di waktu kecilnya. Tidak pula Allah bermaksud menelantarkan hidup beliau sehingga beliau harus bekerja keras mencari nafkah meskipun masih kanak-kanak. Juga, Allah SWT tidak bermaksud membenci beliau sehingga ketika masih dalam kandungan saja, ayah beliau Abdullah sudah dipanggil menghadap-Nya. Ketika usianya baru enam tahun dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, Aminah pun wafat. Belum hilang kesedihan beliau karena ditinggal ibunya, kakeknya pun menyusul wafat dua tahun kemudian. Sempurnalah sudah kesedihan dan penderitaan beliau sebagai seorang yatim piatu dengan meninggalnya ayah, ibu dan kakek untuk berpisah selama-lamanya.

Dari semua penderitaan itu, tidak ada maksud Allah SWT menelantarkan beliau, tetapi justru Allah SWT sedang mempersiapkan beliau menjadi seorang pemimpin besar kelak di kemudian hari. Seorang pemimpin harus peka terhadap kesulitan-kesulitan yang dipimpinnya dan dapat memberikan solusi dari kesulitan-kesulitan itu. Kepekaan seperti itu sulit dimiliki oleh para pemimpin yang tidak pernah mengalaminya sendiri kesulitan-kesulitan seperti itu. Dengan kata lain, Allah sesesungguhnya menggembleng jiwa dan sikap mental beliau untuk menghadapi berbagai macam kesulitan dan tantangan berkaitan tugas beliau kelak menjadi seorang nabi. Apalagi beliau disiapkan dan ditetapkan oleh Allah SWT menjadi nabi terakhir hingga akhir jaman. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dalam ayat berikutnya, yakni ayat ke-4, Allah berfirman:

? ? ? ? ?

Artinya: “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”

Dalam hidup ini yang terpenting adalah apa yang terjadi di akhir dan bukan di permulaan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad hidup dalam kesulitan di masa kecilnya karena semua kesulitan itu bermanfaat membentuk karakter beliau menjadi seorang yang tangguh lahir dan batin – jiwa dan raga. Ketangguhan seperti itu memang sangat diperlukan kelak ketika Nabi Muhammmad berdakwah menyampaikan wahyu dan kebenaran dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kita semua tahu bahwa dalam berdakwah Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak hambatan, gangguan dan bahkan ancaman pembunuhan dari berbagai pihak, terutama dari kelompok yang dipimpin Abu Jahal dan kawan-kawan. Tetapi semua hambatan, gangguan dan ancaman itu dapat dilalui dengan baik karena Nabi Muhammad SAW sudah terlatih menghadapi kesulitan-kesulitan sejak kecil. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Buah dari penderitaan, kesulitan, dan perjuangan beliau yang tanpa kenal menyerah memang luar biasa, yakni dalam waktu singkat yang hanya memakan waktu 23 tahun saja, Nabi Muhammad telah berhasil memiliki pengikut yang cukup banyak. Beliau berhasil merubah masyarakat yang semula penyembah berhala menjadi beriman tauhid, yakni hanya menyembah kepada Allah SWT semata. Masyarakat telah berubah dari masyarakat yang semula menerapkan hukum rimba dimana yang dominan dan kuat akan selalu menjadi pemenang, menjadi masyarakat yang berdasarkan keadilan tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial. Di dalam Islam memang semua manusia pada dasarnya sama karena mereka semua berasal dari asal usul yang sama, yakni Nabi Adam AS. Satu-satunya yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ayat kelima dari Surat Adh-Dhuha berbunyi:

? ? ? ?

Artinya: “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Allah SWT telah berjanji bahwa semua penderitaan, kesulitan dan susah payah Nabi Muhammad SAW dari waktu kecil hingga belaiu diangkat menjadi seorang nabi akan dibalas oleh Allah dengan keberhasilan yang cemerlang sebagaimana telah diuraikan. Atas keberhasilan itu Nabi Muhammad SAW bersyukur kepada Allah SWT. Beliau bersyukur tidak hanya atas keberhasilan dakwah-dakwah beliau, tetapi juga atas perlindungan Allah SWT sehingga beliau meskipun seorang yatim piatu beliau dapat meraih pertolongan untuk mendukung keberhasilan dakwah-dakwah tersebut. Perlindungan ini sebagaimana dimaksud dalam ayat keenam sebagai berikut:

? ? ? ?

Artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”

Jamaah Jumat rahimakumullah

Selanjutnya, ayat ketujuh dari Surat Adh-Dhuha berbunyi:

? ? ?

Artinya: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”

Sudah banyak diceritakan bagaimana kebingunan Nabi Muhammad ketika akan memasuki masa kenabiannya sehingga beliau menyepi di Gua Hira’ untuk mencari jawaban dari apa yang sebenarnya sedang terjadi pada beliau pada waktu itu. Di Gua Hira’ itulah Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama kali yang diterimanya melalui malaikat Jibril AS. 

Ayat ketujuh itu diikuti dengan ayat kedelapan yang berbunyi:

? ? ?

Artinya: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”

Pada akhirnya keadaan ekonomi Nabi Muhammad mengalami perubahan dari kekurangan menjadi kecukupan. Abu Muhammad al-Husayn bin Masud al-Baghawi dalam kitab tafsirnya berjudul Tafsir Al-Baghawi, halaman 456, jilid 8, menjelaskan bahwa Allah mengayakan Nabi Muhammad SAW salah satunya dengan harta Khadijah. Artinya keadaan ekonomi Nabi Muhammad membaik setelah beliau bekerja di perusahaan Khadijah dan kemudian Khadijah meminta beliau menjadi suaminya. 

Dengan harta kekayaan Khadijah itulah Nabi Muhammad SAW dapat membiyai dakwah-dakwahnya karena Khadijah memang menyediakan dan merelakan harta kekayaanya digunakan suaminya untuk berjuang di jalan Allah. Khadijah adalah orang kedua setelah Nabi yang memeluk Islam sekaligus merupakan perempuan pertama yang masuk Islam. Maka bisa dimengerti Nabi Muhammad SAW sangat mecintai dan menghargai Khadijah yang telah berjasa besar dalam mendampingi dan mengembangkan dakwah-dakwah beliau. Dengan kata lain, keberhasilan dakwah Islam tidak lepas dari peran penting seorang perempuan kaya raya. Perempuan itu bernama Khadijah RA, istri beliau yang pertama dan utama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?





Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana. Pelatihan yang berlangsung di di BBPBAP Jepara, Senin-Jumat (20-24/2) ini merupakan rangkaian program penguatan kapasitas pemerintah dan masyarakat lokal dalam kesiapsiagaan untuk respon bencana yang cepat dan efektif.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan mengaplikasikan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) yang merupakan sumber terbuka (open sources) sebagai salah satu tools dalam penanggulangan bencana alam.

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBI NU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Jepara dan Kudus, Jawa Tengah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pelatihan dibuka oleh Kepala BPBD Kabupaten Jepara Lulus. Dalam sambutannya Lulus menyampaikan apresiasi program yang dilakukan oleh LPBI NU, karena Jepara terpilih menjadi pilot dari program LPBI NU. Kedua, Jepara juga sangat rawan bencana sehingga pelatihan kajian risiko bencana dapat menjawab kebutuhan yang? selama ini kami harapkan di Jepara.

Ketua LPBI NU PBNU M Ali Yusuf menyatakan, untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah atau kawasan.

Menurutnya, di sini letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada. Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” kata Ali. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang

Bisa dihitung jari anak muda yang menggemari seni budaya, khususnya wayang. Satu di antaranya adalah Dandy Asghor Dawudi, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng. Selain berselera melahap buku-buku pewayangan, Dandy –sapaan akrabnya, juga memiliki keahlian membuat wayang.

Ketertarikan Dandy terhadap wayang sejak tahun 2014 lalu ketika dia masih duduk di bangku STM (Sekolah Teknik Menengah). Dan jauh sebelum itu, pemuda kelahiran 24 Juni 1998 itu pernah menjadi anggota seni rakyat jaranan Raden Anom Dusun Bumiarjo Desa Gudo Jombang selama dua tahun.?

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang

Dandy mulai gemar membaca referensi buku-buku budaya Jawa dan sejenisnya hingga ia menemukan ketertarikan pada pewayangan. Wayang, menurut Dandy merupakan simbol-simbol budaya yang sastrawi dan sarat dengan nilai-nilai filosofis.

Wayang sendiri, ungkapnya, adalah ajaran. “Mulai dari agama, politik semua ada di wayang. Tata negara sampai tasawuf itu ada di wayang. Wayang itu cermin kehidupan, kehidupan kompleks ada di wayang.”

Dandy melanjutkan, dalam wayang semua itu menyatu. Sekarang ini ketika bicara tentang politik dipisahkan dengan nilai ketuhanan atau tanpa menyentuh Tuhan. Kalau dalam pewayangan ada Satrio pinandito sinisian wahyu. Maksudnya, seseorang berjuang (berpolitik) tidak karena kepentingan tertentu, tapi menjalankan tugas sebagai kholifah. Setiap langkahnya ada pertimbangan dengan Dewa (Tuhan). Ada keseimbangan spiritual dunia dan akhirat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau sekarang ini urusan politik ya untuk macul (demi kepentingan atau keuntungan, red) saja. Demi kekuasaan dan kepentingan belaka. Urusan dunia dan akhirat dipisahkan,” selorohnya.

Wayang juga, lanjut laki-laki bermata sipit ini, menjadi refleksi dalam kehidupan. Wayang sebenarnya simbol-simbol. Misalnya Arjuna itu simbol asmara. Arjuna kalau membunuh musuhnya, tidak pernah menusuk musuhnya. Butho melawan Arjuna pasti butho mati tertusuk kerisnya sendiri. Arjuna melawan angkara murka itu dengan cinta. “Sayangnya, sekarang wayang dianggap sekadar cerita, remeh dan tidak relevan dengan kehidupan sekarang ini,” tuturnya.

Wayang juga membawa Dandy memahami kearifan Wali Songo dalam membawa ajaran Islam di tanah Jawa, “Kata orang Jawa, Islam masuk ke Jawa itu artinya orang Jawa pulang pada dirinya sendiri. Orang Jawa sebelum masuknya Hindu dan Budha, sudah menemukan Tuhannya sendiri, bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan, dan mereka memeluk kepercayaan Kapitayan. Wali Songo masuknya lewat aliran kepercayaan tersebut. Jadi, istilahnya bukan shalat, tapi sembahyang, itu adalah sembah hyang atau menyembah Tuhan. Tempat ibadah orang Jawa namanya sanggar pamujan, menjadi langgar, langgar yang kuno pasti ada bulatan kosong. Itu warisan dari Kapitayan,“ papar Dandy.

Sayangnya, sesal Dandy, saat ini budaya, termasuk wayang, fungsinya lebih banyak untuk kepentingan komersial. “Kalau di Jawa itu, ada keris, ada pedang, ada pacul. Keris itu integritas, inti ajaran, inti, watak, karakter. Kalau pedang itu kekuasaan dan politik. Kalau pacul itu alat mencari uang. Akan tetapi, saat ini keris juga difungsikan sebagai pacul, segala sesuatu dikomersilkan,” ungkapnya.

Selain mendalami pewayangan, Dandy juga memiliki keahlian membuat wayang. Keahliannya itu bermula ketika dia melihat salah satu tayangan di TV di mana ada salah seorang perajin wayang yang memanfaatkan kertas duplek untuk membuat wayang. Kertas duplek itu pengganti kulit yang tentu saja mahal harganya. Dandy yang tertarik wayang mulai mengikuti jejak dengan mulai menggambar atau membuat sketsanya. Tidak mudah membuat sketsa wayang, “Ngepaskan pas ndingkluknya (nunduknya, red) agak susah. Dan ketika membuat biasanya butuh ketenangan batin. Awalnya memang tidak bisa, mblendot-mblendot, lama-kelamaan menjadi bagus,” akunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk bahan membuat wayang, Dandy membutuhkan kertas duplek, lem, tatak untuk nyungging yang terbuat dari paku dudur yang direnda. “Selama ini yang paling susah nyeketsanya,” katanya. Proses awalnya, kertas duplek disket dulu, lalu disatukan, trus disungging, dicari gapit, tangan dikasih sendi-sendi, kemudian jadi. “Kadang prosesnya butuh dua jam selesai, kadang bisa berhari-hari kalau lagi tidak tenang,” selorohnya sambil tertawa.

Dandy selama ini membuat wayang secara otodidak karena tidak ada komunitas yang bisa diikuti di Gudo. Sampai sekarang Dandy sudah membuat sekitar 20 wayang plus 3 gunungan. Dengan tokoh yang berbeda-beda, seperti Semar, Arjuna, Bratasena, Dewa Amral, Gatutkaca,dan lain sebagainya. (Robiah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Nusantara, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Pesantren Sempat Dikucilkan Pemerintah

Pariaman, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pesantren sebagai lembaga pendidikan sempat dikucilkan oleh pemerintah. Ijazahnya hanya diakui setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), sederajat lebih rendah dari Sekolah Teknik Menengah (STM). Padahal, pendidikan di pesantren ditempuh selama 7 tahun, lalu lalu dilanjutkan lagi dengan mengajar atau mengabdi di pesantren tersebut selama beberapa tahun.

Demikian disampaikan pimpinan Pondok Pesantren Gaya Baru Paingan Amiruddin Tuanku Mudo Tan Putiah pada acara "Sosialisasi Pondok Pesantren Salafiyah Kabupaten Padangpariaman Tingkat Ulya (tinggi)" di Pondok Pesantren Gaya Baru Paingan Kecamatan Sungailimau Kabupaten Padangpariaman Sumatera Barat, Rabu (8/7).

Senin, 01 Januari 2018

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Direktur Rehabilitasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO) Kemensos RI Dr. Sonny W. Manalu menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun, Kementerian Sosial RI nutupan 115 lokalisasi dari 168 yang ada di Indonesia. Dia berharap pada 2019 nanti, Indonesia bisa bebas dari prostitusi

"Kementerian Sosial mencatat, penutupan lokalisasi di Tegal ini merupakan yang ke 115 dari 168 lokalisasi yang ada di seluruh Indonesia,” ujarnya saat mewakili Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa pada penutupan lokalisasi dan penyerahan bantuan bagi eks penghuni lokalisasi di Kabupaten Tegal, Jumat (19/5).?

Kementerian Sosial juga akan mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia yang akan menutup tempat pelacuran. Targetnya, Indonesia bebas Prostitusi pada tahun 2019 mendatang.

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Sonny mengapresiasi langkah Pemkab Tegal dalam merehabilitasi lokalisasi prostitusi. Menurutnya penutupan lokalisasi di Kabupaten Tegal berjalan sukses, aman, dan tertib. Kemensos meminta setelah penutupan harus dilakukan evaluasi dan pemantauan.?

"Saya saat melakukan penutupan lokalisasi di Jambi, diculik oleh paguyuban germo dan mucikari selama dua hari. Penutupan di Kabupaten Tegal ini paling teduh dan damai," ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Wakil Bupati Tegal Hj. Umi Azizah menuturkan, penghentian permanen lokalisasi prostitusi pada hari ini bukan saja karena adanya momentum bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk mendukung terbebasnya Kabupaten Tegal dari lokalisasi prostitusi sebagai bagian dari program nasional yang mentargetkan seluruh wilayah di tanah air terbebas dari lokalisasi prostitusi Tahun 2019.

"Saya berharap, pasca penghentian lokalisasi prostitusi ini, masyarakat setempat tetap dapat membuka usaha ekonomi produktifnya, menjalankan bisnis dan usahanya tanpa melanggar Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Ketertiban Umum. Untuk itu, dukungan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar proses menuju kemandirian tersebut cepat terbangun," imbuh Ketua PC Muslimat NU Tegal ini. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua PBNU H Slamet Effendy Yusuf menginstruksikan seluruh jajaran NU di tingkat Ranting, MWC, Cabang, dan Wilayah seluruh Indonesia untuk segera melakukan langkah-langkah yang kongkrit, terencana dan berkoordinasi dengan aparatur keamanan guna mewaspadai berkembangnya paham-paham yang dapat mengakibatkan terganggunya integritas nasional, misalnya berkembangnya paham ISIS, paham yang menolak Pancasila.

Instruksi ini dikeluarkan sehubungan dengan rekrutmen yang intensif yang dilakukan oleh ISIS, terbukti yang dilakukan pemuda-pemuda Indonesia, maupun warga Indonesia yang melibatkan diri di dalam kegiatan ISIS dengan pergi ke kawasan Suriah dan Irak.?

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Seluruh Jajaran untuk Waspadai ISIS

“Maka PBNU meminta seluruh warga NU dan pengurus NU, khususnya kepada gerakan pemuda Ansor untuk secara cermat membantu aparatus keamanan dengan memberikan informasi apabila terdapat kegiatan yang mencurigakan, termasuk kegiatan yang memakai cover ibadah, yaitu pergi umroh, yang kemudian diteruskan untuk perjalanan ke Suriah atau Irak,” tandasnya di gedung PBNU, Selasa (10/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam waktu yang bersamaan PBNU juga mengharapkan lembaga dakwah, lembaga pendidikan dan seluruh lembaga di lingkungan NU, untuk memberikan keterangan yang benar, menginformasikan, dan mensosialisasikan bahwa ISIS serta paham yang menolak NKRI bertentangan dengan prinsip NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita mengharapkan ada intensifikasi pemahaman yang benar tentang Islam, khususnya Islam Nusantara, yang diharapkan memberi topangan kuat bagi kelestarian NKRI,” tegasnya.

“Warga NU dan Muslim lainnya jangan sampai termakan mimpi-mimpi ISIS, yang seolah-olah menghidupkan kembali kekhalifahan Islam, tetapi sesungguhnya merobek-robek dunia Islam dengan mempertentangkan konsep Islam seperti jihad dan sebagainya dengan nilai universal yang penuh kebajikan dan perdamaian,” imbuhnya.

Mengenai mantan pengikut ISIS yang kembali lagi ke Indonesia, ia berharap agar mereka tidak dikucilkan, tetapi diajak dalam proses pemahaman yang benar dari sudut agama maupun dari sudut kepentingan negara dan bangsa.?

“Temani mereka dalam masalah kebangsaan dan global secara benar, bagaimana menjadi umat Islam yang tasamuh, tawazun, yang mendahulukan kemaslahatan daripada kekerasan.” ?

Disamping itu juga penting untuk memberi pemahaman agar umat Islam tidak terjebak pada upaya pihak lain yang memberi PR sehingga umat Islam tidak sempat membina diri, melalui pendidikan, pengembangan ekonomi dan sosial, karena disibukkan dengan isu yang temanya kekerasan.

Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, apa yang terjadi di ISIS, Boko Haram, Al Qaeda dan kelompok garis keras lainnya memperlihatkan Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan NU menjadi relevan. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Sholawat, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Gusdurian Lampung? dan GP Ansor Pakuan Ratu serta Negara Batin Kabupaten Way Kanan menyelenggarakan bakti sosial pengobatan alternatif dan pengolahan sampah plastik? untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2016.

"Lingkungan hidup adalah masa depan bersama. Banyak yang masih tidak peduli dengan hal tersebut. Itu yang menjadi dasar kami memperingati Hari Pahlawan dengan harakah (gerakan) tersebut," ujar Ketua GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Ghozali di Blambangan Umpu, Rabu (9/11).

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Didampingi Ketua GP Ansor Negara Batin Hozin Munir, Bakti menjelaskan, pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di Pesantren Al-Falakhussdah asuhan Kiai Zainal Maarif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tema kegiatan ini ialah "Berdamai Dengan Lingkungan Hidup. Berdamai Dengan Masa Depan yang Hidup". Para santri akan diajak untuk mengolah sampah plastik menjadi bantal, boneka, dan ecobricks sebagai bentuk pengamalan Surah Ar-Rum [30]: 41.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengurangi pencemaran tanah hingga polusi udara dihasilkan dari pembakaran plastik yang memacu timbulnya efek rumah kaca dan juga merusak lapisan bumi (ozon) serta dapat memicu sel kanker.

"Serta menuju masyarakat sehat tanpa polusi udara dari pembakaran sampah plastik yang dapat melepaskan zat berbahaya di udara seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil maupun partikel berbahaya lainnya yang berefek buruk bagi kesehatan," kata Bakti.

Adapun bakti sosial digelar ialah berupa penyembuhan alternatif nonmedis untuk lemah syahwat, migrain, darah tinggi, asma, jantung dan lain-lain.

"Medianya dengan tangan dan air. Masyarakat yang mengikuti penyembuhan tersebut berinfaq sukarela. Hasilnya akan didonasikan untuk sedekah oksigen," kata dia lagi.

Selain itu, juga penyembuhan bekam untuk masyarakat setempat juga akan dilakukan sehubungan adanya program Halal atau Hijamah Sambil Beramal untuk kemandirian organisasi Ansor.

"Ansor dan Gusdurian berharap bisa terlibat aktif mengajak masyarakat mengurangi penistaan agama dan Al-Quran melalui perilaku yang selama ini acap luput, dibiarkan dari pengamatan, yakni membuang atau membakar sampah plastik sembarangan," kata Bakti lagi.

Selain itu, juga mengajak santri dan masyarakat menjadi pahlawan melalui bidang lingkungan hidup, salah satu mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam sedekah oksigen yang bertumbuh alias sedekah pohon. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Budaya, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 20 Desember 2017

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum

Bantul, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Di mata KH. A Mustofa Bisri, KH. Ali Maksum adalah seorang kiai yang tidak hanya memiliki keilmuan tinggi tetapi juga dermawan terhadap para santri.

Pejabat Rais Aam PBNU yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut dalam acara Haul KH. Ali Maksum Ke-25 di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (10/3).

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum

“Hanya di pesantren Krapyak sini, santri kehabisan uang malah pinjam kiainya. Dulu itu, di setiap sudut pesantren dipasangi speaker timbal balik. Ketika Pak Ali ngendikan (bicara), bisa didengar santri dan begitu pun sebaliknya. Jadi Pak Ali itu tahu semua tingkah polah santri-santri. Jika ada santri yang malu-malu pinjam sama Pak Ali, santri itu bicara ? di dekat speaker. Bilang kalau enggak punya uang. Masyaallah, Pak Ali yang mendengar keluhan santri tersebut langsung meminjaminya. Kalau tidak Pak Ali tidak mungkin ada,” kenang Gus Mus.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya itu saja, kedermawanan KH. Ali Maksum juga tampak ketika Rais Aam PBNU 1980-1984 ini mengikhlaskan semua barang-barangnya yang diambil oleh santri. “Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan,” tutur Gus Mus menirukan ucapan KH. Ali Maksum yang disambut gelak tawa para jamaah.

Selain dermawan, Gus Mus juga mengatakan bahwa KH. Ali Maksum merupakan seorang kiai yang hafal seluruh nama santri-santrinya.?

“Kiai Ali itu hafal semua nama santri. Kalau ada haulnya Kiai Munawwir atau acara mantenan, semua santri itu dikasih undangan dan ditandatangani langsung oleh Kiai Ali. Jadinya nggak enak kalau tidak datang,” ujar Gus Mus.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya itu saja, Gus Mus juga mengatakan bahwa Kiai Ali adalah satu-satunya kiai yang dipanggil bapak oleh semua santri. Saking sayangnya terhadap para santri-santrinya. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Menteri Desa Pembangunan Daerah Tetinggal dan Transmigraasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan program unggulan desa di bawah kementerian yang dipimpinnya bersinergi dan bertujuan untuk mempercepat pembangunan dan kapasitas ekonomi perdesaan hingga bisa berkontribusi bagi pembangunan secara nasional.

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Eko: Jangan Lupakan Pertanian

“Pertanian tak bisa dipisahkan dari pembangunan desa. Hanya saja kita butuh modernisasi dan fokus pada komoditas unggulan di kawasan perdesaan supaya petani menjadi kuat.” Papar Menteri Eko di Kantornya, Jakarta (17/4).

?

Lebih jauh Eko menjelaskan dengan adanya fokus paska panen diharapkan petani memiliki posisi tawar yang baik, kehadiran negara dalam hal ini BUMN juga diharapkan bukannya mengintervensi model ekonomi yang khas petani malainkan membantu membuat lompatan dan mengisi lubang kosong yang ditinggalkan oleh pertanian di desa selama ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Masalah produktifitas panen dan posisi tawar paska panen jadi kendala selama ini. Embung sebagai salah satu proyeksi program unggulan tahun ini kita harapkan bisa meningkatkan produktifitas akrena petani jadi bisa panen dua sampai tiga kali.” Harap Eko.

Menteri yang datang dengan latar belakang pengusaha sarat pengalaman ini juga mengandaikan skema produk unggulan desa dan holding Badan Usaha Milik (BUM) Desa antar kawasan perdesaan nantinya diharapkan bisa mempersolid kapasitas ekonomi masyarakat desa terutama para petani terkait paska panen.

Terkait Program prioritas berupa program pengembangan Produk Unggulan Desa (Prudes) dan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) untuk mendukung pertanian, nantinya pengembangan produk-produk tersebut dikembangkan dengan berbasis teknologi dan inovasi.

Eko Putro Sandjojo mencontohkan beberapa daerah yang sudah bisa fokus untuk mengembangkan produk unggulannya antara lain di Gorontalo dengan produksi jagungnya atau Dompu yang bisa lepas dari status daerah tertinggal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Desa yang belum fokus akan kita kasih insentif, kita kasih bibit, pupuk, dan sarana pertanian gratis,” ujarnya.

Menurutnya selain menetapkan produk unggulan, desa juga didorong untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). ? Menurutnya, dana desa melalui BUMDes dapat menjadi stimulus pembangunan di daerah.

?

“BUMDes itu dibikin supaya dana desa suatu saat bukan menjadi sumber utama pembangunan desa. Sumber utamanya yakni desa mempunyai sarana ekonomi sendiri yang bisa membuat desa itu mandiri secara finansial dan membuka lapangan kerja,” ? tambahnya.?

Sementara itu dalam kunjungan kerjanya ke Halmahera Barat (15/4), selain meresmikan pembangunan Embung yang direncakanan akan dibangun sebanyak 100 embung, Mendes PDTT dalam kesempatan yang sama juga mengajak BRI, BNI, BULOG, pengusaha pascapanen, dan para pemangku kepentingan lain untuk turut berperan mendukung usaha masyarakat melalui bidangnya masing-masing.?

Sebab, menurutnya kehadiran para pemangku kepentingan itu merupakan bentuk sinergi untuk mendorong pembangunan desa agar terintegrasi secara vertikal. Dengan demikian, pendapatan masyarakat pun dapat meningkat signifikan.

"Kita perlu membuat klaster. Jika skala produksinya besar, investasi untuk pascapanen bisa masuk di Halmahera Barat ini. Bulog misalnya, mereka bisa membangun sentra pengeringan beras dan penyediaan gudang," harapnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Budaya, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 17 Desember 2017

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) Ansor Ke-83, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Temayang Kabupaten Bojonegoro menziarahi pejuang NU yang ada di Jombang, Ahad (7/5).

Ketua GP Ansor Temayang Subeki mengatakan, ziarah diawali dari makam KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Setelah itu mereka bergeser ke makam KH Romli, pendiri Pesantren Darul Ulum dan makam KH Bisri Syansuri.

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, GP Ansor Temayang Ziarah di Makam Para Pendiri NU

"Ziarah napak tilas ini ditutup ziarah ke makam KH Wahab Hasbullah," jelasnya.

Ziarah yang mengusung tema Napak Tilas Perjuangan dan Impian Kiai yang dilakukan kader NU Kecamatan Temayang ini bertujuan untuk menguatkan para penerus muda NU. Selain menjadi silaturahmi pengurus GP Ansor Temayang ziarah ini juga bertujuan untuk menyolidkan kepengurusan ke depan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Serta mengingat perjuangan para pendiri NU. Melalui ziarah ini diharapkan pengurus Ansor semakin berkhidmat pada NU ke depannya," pungkasnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Internasional, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 13 Desember 2017

Betri Murdiana Pimpin Fatayat NU Sumatera Barat

Padang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah melalui beberapa tahapan persidangan, akhirnya forum Konferensi Wilayah Luar Biasa? Fatayat NU Sumatera Barat menetapkan Betri Murdiana sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat? Nahdlatul Ulama Sumatera Barat masa khidmah 2015-2020.

Betri Murdiana Pimpin Fatayat NU Sumatera Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Betri Murdiana Pimpin Fatayat NU Sumatera Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Betri Murdiana Pimpin Fatayat NU Sumatera Barat

Betri Murdiana yang merupakan komisioner Panwaslu Kabupaten Padang Pariaman terpilih setelah suaranya mengungguli calon lainnya Desri Nora, dosen Universitas Negeri Padang. Siti Masrifah dari Pimpinan Pusat Fatayat NU yang memimpin sidang menetapkan Betri Murdiana sekaligus sebagai ketua formatur untuk membentuk kepengurusan dalam waktu sesegera mungkin.

Pembentukan kepengurusan secepatnya dibutuhkan karena Fatayat NU akan menggelar Kongres Nasional di Surabaya. “Sehingga PW Fatayat NU Sumbar dapat menjadi peserta kongres ke depannya,” kata Siti Masrifah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Anggota DPR RI ini berharap Fatayat NU Sumatera Barat mampu kembali aktif dan melihatkan eksistensinya di Sumatera Barat karena dulu banyak tokoh perempuan minang yang lahir dari Sumatera Barat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam Konferwil Fatayat yang digelar di Aula PWNU Sumbar Sabtu (22/08) tersebut Betri Murdiana mendapatkan 8 suara, sementara Desri Nora memperoleh 3 suara, dari 11 suara cabang yang hadir.

Dalam pidatonya setelah pemilihan, Batri mengharapkan dukungan semua pihak baik Cabang Fatayat se-Sumatera Barat maupun Pimpinan Pusat Fatayat sebagai pimpinan tertinggi. Ke depan dia menginginkan Fatayat NU Sumbar dapat melakukan kaderisasi perempuan muda di Sumatera Barat dan berharap ada upaya membangkitkan mutu perempuan muda minang.

Di samping Siti Masrifah juga hadir pengurus Pimpin Pusat Fatayat yang juga Sekretaris Tim carataker Efri Wahidbah Nasution, Ketua PW ISNU Masrul yang juga calon Rektor Unand, Sekretaris KNPI Sumbar Deri Rizal, serta dari Pengurus Wilayah NU, PKC PMII Sumbar, PW IPPNU, dan lembaga lainnya di lingkungan NU. (Afriendi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Desember 2017

Usai Dilantik, PCNU Subang Susul Muskercab I

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah resmi dilantik akhir Januari lalu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Subang Jawa Barat siap bekerja dan mengabdi kepada masyarakat. Konsep pengabdian itu akan dirumuskan dalam agenda Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I PCNU Subang pada Senin (31/3).

Usai Dilantik, PCNU Subang Susul Muskercab I (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Dilantik, PCNU Subang Susul Muskercab I (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Dilantik, PCNU Subang Susul Muskercab I

Demikian disampaikan Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah di sela rapat koordinasi panitia muskercab di Kantor PCNU Subang, Rabu (26/3).

"Nanti akan dibagi tiga komisi, komisi A Program kerja, Komisi B keorganisasian, , terakhir Komisi C Rekomendasi," ungkap Kiai Musyfiq. Sebelum sidang komisi, lanjut pengasuh pesantren At-Tawazun ini, kita menggelar seminar yang menghadirkan Bupati Subang dan Wasekjen PBNU sebagai narasumber.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Nanti Bupati akan orasi tentang konstruksi Gapura (Gerakan Pembangunan untuk Rakyat) dalam bingkai aswaja ala NU agar program pemkab beririsan dengan program PCNU. Sementara Wasekjen PBNU Abdul Munim DZ akan menyampaikan Konsepsi NU terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat kini," tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejumlah kekurangan-kekurangan terkait program periode lalu, kata Kiai Musyfiq, akan disempurnakan pada muskercab kali ini. Pada muskercab ini, program kerja bidikan PCNU Subang menyangkut sembilan bidang.

Bidang-bidang itu meliputi Bidang Pendidikan dan Pesantren, Pengayoman dan Pemberdayaan MWCNU, Pemberdayaan Lembaga dan Lajnah, Ekonomi, Sosial dan Budaya, Kesejahteraan dan Kesehatan, SDM dan Kaderisasi, Pemberdayaan Dai dan Masjid, Hukum dan Humas, juga Pertanian dan Penanganan Bencana.

"Undangan sekitar 300 peserta, kita prediksi akan hadir dalam muskercab nanti setengahnya," tukasnya.

Muskercab I PCNU Subang ini berlokasi di pesantren At-Tawazun Kalijati, Subang (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Pahlawan, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 30 November 2017

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan

Sumedang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Talif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Sumedang Ayi Abdul Kohar mengatakan, kegiatan NU di Sumedang dari tingkat ranting sampai tingkat cabang, akhir-akhir ini sangat banyak. Hal itu belum terhitung  kegiatan lembaga dan banom NU yang sering berbarengan.

“Semua panitia kegiatan tersebut suka minta kepada pengurus LTNNU Sumedang untuk diliput dan dibuatkan berita kegiatannya supaya masuk website PCNU Sumedang dan media-media lokal,” katanya pada pembukaan Pelatihan Jurnalistik di aula PCNU pada Kamis (11/5) yang diikuti 20 anak muda NU.  

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Sumedang Cetak Wartawan untuk Penuhi Undangan Liputan

LTNNU Sumedang, kata dia, mempunyai tugas mengelola website PCNU, sering kerepotan memenuhi undangan liputan tersebut. Karena wartawannya masih sedikit.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mengingat hal tersebut, LTNNU Sumedang merasa sangat perlu mencetak kader yang bisa menulis berita,” lanjutnya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas dasar pertimbangan itulah, lanjut Ayi, LTNNU Sumedang melaksanakan pelaatihan jurnalistik selama dua hari Kamis-Jumat (11-12/5) dengan menghadirkan salah seorang Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, untuk berlatih bersama anak muda NU.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Sumedang Cucu Suhayat berharap pelatihan itu bisa  menghasilkan output yang luarbisa dalam peningkatan kapasitas SDM para jurnalis di PCNU Sumedang.

“Ke depannya tidak hanya berita kegiatan NU saja yang ditulis, tapi pemikiran-pemikiran ulama NU Sumedang bisa ditulis juga,” pintanya.  (Red: Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Asep Irfan Mujahid menyampaikan ucapan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin, (2/2). Ia berharap ke depan pendidikan di Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik.di hari pendidikan ini Pimpinan Pusat IPNU mengeluarkan empat maklumat.

"Pertama, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para guru yang selama ini konsisten mengawal tahapan proses pendidikan tanpa pamrih dan penuh keikhlasan," katanya.

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Kedua, Hardiknas diharapkan bukan hanya sekedar peringatan seremoni di lingkungan pemerintahan, tapi harus sepenuhnya dijadikan momentum untuk merefleksi keberhasilan target capaian pendidikan itu sendiri yang hakikatnya adalah untuk memanusiakan manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ketiga, pemerintah diharapkan segera menerapkan konsep pendidikan muaadalah yang mengakui eksistensi pesantren sebagai bagian subkultur kependidikan yang selama ini berkontribusi besar dalam pembangunan manusia Indonesia dan menjadikannya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang terakhir, imbuh Asep, PP IPNU meminta pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih luas terhadap eksistensi organisasi ekstra sekolah yang berbasis pelajar di sekolah-sekolah tingkat menengah, serta mengeluarkan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Pramuka dari instrumen penilaian akreditasi atau perangkat aturan lain yang selama ini diterapkan sehingga organisasi kepelajaran dan kepanduan pelajar di sekolah tidak hanya dimonopoli oleh kedua organisasi tersebut.

Hari Pendidikan Nasional diperingati dan ditetapkan sesuai dengan Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 316 tahun 1959. Adapun tanggal peringatan tersebut disematkan pada hari lahir salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Suwardi Suryaningrat. (Muchlison Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Nasional, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masjid merupakan sebuah tempat strategis yang tak hanya berfungsi untuk menjalankan ibadah. Terdapat peran-peran strategis yang berlangsung dalam sejarah peradaban Islam yang melibatkan masjid.

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid

Penting bagi warga NU untuk terus mengembangkan masjid sebagai sumber pengembangan Islam, berikut alasan-alasannya.

Pertama, sebelum dibangun pesantren, pasti dibangun masjidnya dahulu dan setiap desa hampir bisa dipastikan ada masjidnya, tetapi belum tentu ada pesantrennya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, masjid letaknya teratur, tidak menumpuk di satu tempat sehingga sarana ibadah terdistribusi dengan baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketiga, Masjid merupakan potret paling otentik kondisi, shoheh tentang kondisi, sikap dan kualias umatnya. 

“Kalau masjidnya kotor tempat wudhunya, ya umatnya kurang lebih ya masih begitu. Kalau bersih, umatnya lebih berbudaya.”

Demikian juga kalau masjidnya bagus, ekonomi umat pendukungnya juga bagus. Kalau masjidnya reot, juga begitu.

Lalu kalau jamaahnya banyak, berarti semangat ibadah yang tinggal di kanan kirinya juga begitu. Kalau masjidnya kosong, berarti semangat ibadah umatnya pun begitu. 

“Kalau shofnya lurus, umatnya juga disiplin. Kalau jamaahnya sedikit, mencari-mencar, shofnya ngak lurus, ya masih morat-marit.”

Kalau takmirnya suka mengundar khotib yang galak, berarti umatnya juga begitu. Khotibnya adem ayem, kesadaran hidupnya juga begitu. 

“Potret warga NU seperti apa, bisa di lihat di masjid-masjidnya,” tandasnya.Ia menegaskan, masjid harus menjadi kaki NU ke depan. Pesantren sebagai sumber ilmu dan hikmahnya, masjid sebagai pusat pengamalan dan pembinaannya.

Sementara itu, Ketua LTMNU KH Abdul Manan al Ghani menegaskan lembaga yang dipimpinnya ini berusaha untuk menggerakkan struktur di lingkungan NU agar mampu memberdayakan masjid.

Ia merasa prihatin dengan sejumlah situasi seperti maraknya permintaan sumbangan pembangunan masjid di jalan-jalan atau pengelola masjid yang kurang memiliki kreatifitas dalam mengembangkan masjidnya.

“Tidak usah menunggu program dari PBNU. Saya senang, jika masjid atau LTMNU di daerah mampu membikin program sendiri.”

LTMNU memiliki sejumlah program usaha seperti Kelompok Usaha Jamaah Masjid, tower BTS berbasis menara masjid atau sejumlah bisnis lain yang halal dan dapat menunjang kegiatan kemasjidan.

Penulis:: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPNU OKU Timur Persembahkan Gerakan Cinta Masjid

OKU Timur, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten OKU Timur menggelar bakti sosial dalam rangkaian Gerakan Cinta Masjid (GCM) di Yayasan Pondok Pesantren Mafaihul Huda Comal Desa Yosowinangun Kecamatan Belitang Madang Raya, Ahad (1/10).

“Selain membersihkan masjid dan memasang listrik 1 KWH berdaya 900 volt ampere, juga dilakukan pembagian seratus buku gambar dan pensil warna bagi anak-anak TK di wilayah itu,” kata Ketua IPNU OKU Timur Muhammad Muhklis.

Ia berharap pembagian fasilitas menggambar bisa mengurangi penggunaan gadget yang belakangan ini banyak digunakan anak-anak.

IPNU OKU Timur Persembahkan Gerakan Cinta Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU OKU Timur Persembahkan Gerakan Cinta Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU OKU Timur Persembahkan Gerakan Cinta Masjid

"Tingkat penggunaan gadget oleh anak-anak sudah bahaya. Jangan sampai mereka dicekoki dengan fasilitas yang membuat mereka tidak kreatif,"ucap Muhklis.

Di tempat yang sama Pelaksana Tugas Kepala Satuan Unit Khusus Banser Husada Lampung Gatot Arifianto melakukan penyembuhan Aji Tapak Sesontengan (ATS) yang diikuti lebih dari 50 orang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Untuk penyembuhan ini, 99 persen peserta merasa puas dengan hasil yang didapatkan,” kata Khojin, warga Siliwangi Kecamatan Semendawau Suku III yang turut mengikuti pengobatan. Khojin menderita asam urat sejak empat bulan, tangan yang susah digerakkan.

"Ini semalam susah untuk berdzikir dengan patokan antar ruas jari, setelah diterapi alhamdulillah ada perbaikan," ungkap Khojin.

Ketua GCM Imam Efendi berharap gerakan yang mereka lakukan dapat bermanfaat untuk masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami sadar harakah kami masih perlu banyak bimbingan dari segala pihak," ujar Efendi. (RA/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 20 November 2017

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Fragmen, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Pecalang Ikut Jaga Rapimnas LTMNU

Denpasar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dari 8 region yang melaksanakan Rapimnas Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU), ada yang berbeda dengan Region VIII PWNU Bali. Di sepanjang arah menuju lokasi acara, Jalan Pura Demak II/31, Denpasar, Bali, berjajar enam Pecalang mengamankan suksesnya Rapimnas yang dihadiri ratusan pengurus LTMNU se-wilayah Bali.

Prosesi pengamanan dilakukan selama Rapimnas berlangsung, 9-10 Juli 2012. Pecalang adalah satuan petugas keamanan tradisional di Bali yang biasanya bertugas membantu dan mengamankan berbagai acara ritual umat Hindu di Bali.

Pecalang Ikut Jaga Rapimnas LTMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pecalang Ikut Jaga Rapimnas LTMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pecalang Ikut Jaga Rapimnas LTMNU

Kartha, salah satu Pecalang yang berjaga, menyatakan, tugas pengamanan kegiatan NU ini ia dan rekan-rekannya laksanakan secara suka rela. Ia mengaku, peran ini bukan lah yang pertama kalinya.

“Dulu pernah, kami berjaga juga bersama Banser. Itu waktu zaman Gus Dur datang ke sini,” ujarnya dengan logat khas Bali.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada momen ini, 6 Pecalang menunaikan tugas bersama 6 anggota dari Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa. Selain 12 pertugas ini, dua orang penganut Hindu juga diutus menjaga dan melancarkan lalu lintas parkir kendaraan peserta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau ada perayaan Islam, para Pecalang juga sering dilibatkan,” ujar Kartha yang mengaku tak mengharap pamrih dari tugasnya ini.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 November 2017

Belajar ke Timur Tengah, Kiai Said: Pulang Bawa Ilmu, Bukan Budayanya

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Islam Nusantara ialah Islam yang menghormati budaya, lebih dari itu, budaya dijadikan infrastruktur agama.

Demikian disampaikan Kiai Said pada acara Haul dan Khotmil Qur’an di Pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) di lapangan Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (20/10).

Belajar ke Timur Tengah, Kiai Said: Pulang Bawa Ilmu, Bukan Budayanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar ke Timur Tengah, Kiai Said: Pulang Bawa Ilmu, Bukan Budayanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar ke Timur Tengah, Kiai Said: Pulang Bawa Ilmu, Bukan Budayanya

Kiai kelahiran Kempek, Cirebon ini melanjutkan, para ulama Indonesia seperti Quraish Shihah, KH Abdurrahman Wahid, KH Ahmad Mustofa Bisri, dan dirinya yang pernah mengenyam bangku kuliah di Timur Tengah, tapi saat pulang membawa ilmu agama dan tidak membawa budayanya.

“Kami bangga dengan budaya nusantara. Agama kita dari arab memang, Al-Qur’an dari arab, Nabi Muhammad dari arab,” tegasnya. 

Ia pun mengungkapkan keheranannya, di saat masyarakat Timur Tengah sedang menghormati dan ingin mengenal Islam Nusantara dan Pancasila tapi sebagian masyarakat malah berkiblat ke Islam Timur Tengah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada acara yang bertemakan Merawat Tradisi untuk Memperkokoh NKRI ini dihadiri Presiden Republik Indonesia (RI) H Joko Widodo, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan, Pengasuh Pesantren KHAS Kempek, Cirebon KH Mustofa Aqil Siroj, dan sejumlah tokoh lainnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah