Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Nurul Arifin Dukung Fatwa PBNU Tentang Pengharaman Infotainment

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artis cantik Nurul Arifin mengaku bersyukur atas fatwa hukum haram menonton tayangan infotainmen yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menyambut baik dan mendukung keputusan yang dihasilkan dari forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya, akhir Juli lalu itu.

“Secara pribadi, sebagai artis, saya mensyukuri fatwa PBNU itu,” kata Nurul Arifin saat menjadi narasumber dalam acara dialog bertajuk “Kesehatan Reproduksi Remaja” yang digelar oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) di Hotel Mega, Jakarta, Minggu (13/8)

Nurul menilai, berita di infotainment selama ini memang lebih banyak membuka serta mengungkap kehidupan yang sangat pribadi dari seorang artis. Hal itulah yang ia jadikan dasar sehingga sampai pada kesimpulan untuk mendukung fatwa haram atas tayangan yang kebanyakan berisi gosip tersebut.

Nurul Arifin Dukung Fatwa PBNU Tentang Pengharaman Infotainment (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurul Arifin Dukung Fatwa PBNU Tentang Pengharaman Infotainment (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurul Arifin Dukung Fatwa PBNU Tentang Pengharaman Infotainment

Dukungannya terhadap keputusan para ulama NU se-Indonesia itu, katanya, juga didasari karena tidak berfungsinya lembaga sensor dari pemerintah serta kurang pro-aktifnya Komisi Penyiaran Indonesia.

Oleh karena itu, diakui Nurul, keluarnya fatwa yang cukup kontroversial tersebut seperti mendapat sebuah pencerahan. “Fatwa ini seperti menyirami, memberikan wacana damai bagi saya,” ungkapnya.

Seperti halnya pengalaman sejumlah artis yang lain, Nurul juga mengaku kesulitan menghadapi kejaran wartawan infotainment. Tak jarang, katanya, sejumlah wartawan infotainment harus menggelar tenda di depan rumah sang artis demi mendapat keterangan tentang gosip yang sedang berkembang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan Nurul, akibat buruk yang ditimbulkan dari tayangan gosip infotainment tersebut tak hanya dirasakan oleh para artis atau selebritis, melainkan lebih luas lagi kepada seluruh anggota keluarga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Misalkan kasus perceraian, pada dasarnya itu tidak hanya melibatkan dua orang (suami-istri, red), tapi juga anak, keluarga besar yang bersangkutan. Kalau itu yang ditonjolkan, sangat berbahaya bagi anak, keluarga besarnya juga,” kata perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 ini.

Kritisi Kebijakan Pemisahan Kelas Siswa-Siswi

Dalam kesempatan yang sama, mahasiswi Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Indonesia ini mengkritisi kebijakan Bupati Pandeglang Dimyati Natakusumah tentang pemisahan kelas siswa putera dan puteri di sekolah umum. Ia menilai, kebijakan tersebut tidak tepat jika bertujuan untuk meminimalisir kerusakan moral generasi muda. Kebijakan tersebut, imbuhnya, justru akan memasung interaksi sosial remaja.

”Kebijakan itu instan dan simbolik belaka. Saya khawatir jika siswa dipisah berdasarkan perbedaan jenis kelaminnya akan mengganggu interaksi sosial mereka,” tegas istri Mayong Suryalaksono ini.

Artis yang juga mantan calon legislatif dari Partai Golkar ini mengungkapkan, survei yang dilakukan Synovate Research di empat kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan) menunjukkan bahwa perilaku seksual remaja Indonesia saat ini memang cukup mengkhawatirkan. Ada sekitar 44 persen responden yang mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks di usia 16-18 tahun. Bahkan, 16 persen responden lainnya mengaku melakukan hal yang sama di usia 13-15 tahun.

Lebih lanjut dikatakannya, sebagian besar remaja (65 persen) mengetahui informasi seksual dari teman sebayanya dan 35 persen mengaku mendapatkan informasi tentang hal tersebut dari film porno. Ironisnya, hanya 5 persen responden yang menyatakan mendapatkan informasi seks dan kesehatan reproduksi dari orang tua.

”Data-data tersebut memang mengkhawatirkan. Tetapi tidak kalau mencari solusi dengan memisahkan ruang kelas mereka. Ini sama artinya, kita, orang tua, berpikirnya sudah jorok duluan. Kesannya yang orang tua itu terlalu mencurigai anak muda,” jelas Nurul.

Kalau kebijakan instan tersebut terus berlanjut, imbuh Nurul, tidak tertutup kemungkinan akan muncul kebijakan-kebijakan sejenis. ”Jangan-jangan nanti guru perempuan hanya boleh mengajar murid perempuan. Pasien wanita tidak boleh dirawat dokter pria. Dan saya cukup keberatan jika seperti ini diberlakukan,” ujarnya.

Justru yang lebih penting adalah bagaimana memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi remaja. Menurut Nurul, pengaruh terbesar terjadinya penyimpangan seksual remaja adalah informasi yang tidak baik dari luar, bukan karena mereka belajar dalam satu kelas. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 02 Maret 2018

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan seni budaya dan religi berupa Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sampai sekarang masih dilestarikan, karena ada yang peduli terhadap nilai tradisi dan syiar Islam yang diwariskan Sunan Kalijaga ini.

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Prof Dr Dahlan Taib ketika membuka PMPS tahun Ehe 1940 atau 2007 Masehi yang berlangsung di Alun-alun Utara Yogyakarta, Jumat (23/2) petang.

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

"Jika tidak ada kepedulian, mungkin tradisi budaya ini akan punah, seiring dengan berkembangnya masyarakat di era globalisasi," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PMPS merupakan kegiatan tahunan yang bermula dari syiar agama Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga melalui kegiatan seni budaya. Sekaten sendiri berasal dari kata "syahadatain" atau dua kalimat sahadat, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Walikota Yogyakarta Herry Zudianto dalam sambutannya mengatakan PMPS merupakan even budaya yang lahir sejak awal penyebaran agama Islam pada masa Kasultanan Demak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sekaten yang pada awalnya merupakan media syiar agama Islam, kini berkembang mejadi media pemberdayaan berbagai potensi daerah," kata dia.

Ia mengatakan, seiring perkembangan zaman, keinginan untuk terus memberi ruang dakwah sekaligus melestarikan sejarah dan nilai luhur budaya bangsa, diwujudkan dalam penyelenggaraan PMPS ini.

"Penyelenggaraan PMPS tahun ini dititikberatkan untuk pemberdayaan berbagai potensi daerah agar tetap mencerminkan nilai religi dan budaya lokal yang adiluhung. Maka, apa yang ditampilkan dalam PMPS diupayakan semaksimal mungkin dapat mencerminkan identitas dan keragaman masyarakat Yogyakarta," katanya.

Sejalan dengan itu, kata dia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diberi ruang yang lebih leluasa di arena PMPS, dengan harapan potensi lokal dapat terakomodasi dengan baik.

"Dengan kemampuan optimalisasi kekuatan dan keunggulan oleh pelaku ekonomi PMPS ini, dapat dijadikan sarana promosi untuk menggeliatkan roda ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, tradisi sekaten dapat menjadi lokomotif kerakyatan," kata Walikota Yogyakarta.

(sam/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, IMNU, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2018

Pelajar NU Kroya Siapkan Fasilitator untuk Proses Kaderisasi di Ranting

Cilacap, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Puluhan kader IPNU-IPPNU Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah menggelar Pelatihan Fasilitator (Latfas) di MI Ma’arif 04 Gentasari, Kroya, Sabtu-Ahad (29-30/10) lalu.

Indra Haris Muttaqien selaku Ketua PAC IPNU Kroya mengungkapkan, bahwa pihaknya kini sedang fokus menata basis. "Pasca pelatihan ini, mereka akan kita terjunkan ke ranting-ranting mengawal program kaderisasi di tingkat ranting," katanya.

Pelajar NU Kroya Siapkan Fasilitator untuk Proses Kaderisasi di Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kroya Siapkan Fasilitator untuk Proses Kaderisasi di Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kroya Siapkan Fasilitator untuk Proses Kaderisasi di Ranting

Hadir sebagai narasumber acara tersebut, Imam Musyafa anggota Fasilitator IPNU Jawa Tengah yang menyampaikan materi fasilitasi.

"Ilmu kefasilitatoran ini ilmu umum, dan dipakai hampir oleh semua organisasi. Jika rekan-rekan tahu ilmu ini, nantinya lebih enak dalam berkomunikasi dan mengelola forum," ungkapnya.

Acara tersebut juga dikawal beberapa senior-senior IPNU setempat. Salah satunya Marwan, yang meski sudah berkeluarga mau menunggui kader muda NU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Program kaderisasi ini hal yang paling penting di IPNU, jadi saya kawal, karena dari program itulah diharapkan nantinya muncul tokoh-tokoh NU di masa mendatang," ungkapnya. (Miftahul Khoerot/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, PonPes Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 16 Februari 2018

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Yayasan Rumah Pelajar di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, akan mengganti kememimpinan. Penggantian pemimpin itu segera dilakukan mengingat terpilihnya Farida Farichah sebagai Ketua Umum PP IPPNU dalam kongres ke-XVI IPPNU awal Desember 2012 lalu di Palembang.

Perihal ini diutarakan oleh Farida Farichah, Ketua Umum PP IPPNU kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di depan Kantor Sekretariat PP IPPNU, Gedung PBNU lantai enam, Jakarta Pusat, beberapa yang lalu. Farida menceritakan bahwa Rumah Pelajar bagian dari program PP IPPNU.

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Pelajar Siapkan Nakhoda Baru

“Dalam waktu dekat, kita akan mengadakan pergantian posisi direktur. Karena amanah kongres kemarin sebagai Ketua Umum PP IPPNU, saya tidak mungkin lagi bekerja efektif untuk memimpin Rumah Pelajar,” tegas Farida yang biasa berpenampilan sederhana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karenanya, pergantian pemimpin Rumah Pelajar akan mengalami percepatan. Kebutuhan itu cukup mendesak agar program-program pemberdayaan pelajar tetap berjalan lancar, tegas Farida. Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, dia menyatakan kesiapannya untuk membantu kelancaran acara pergantian dirinya.

Rumah Pelajar yang digawangi oleh PP IPPNU berlokasi di Jalan Ir. Juanda No. 102 C, Rt. 002/08 Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Bangunan dua lantai itu merupakan wadah pelajar untuk mengembangkan kemampuan praktis dan mengasah ketajaman intelektual lewat diskusi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Selain pengembangan sumber daya pelajar, Rumah Pelajar juga menanam nilai-nilai moral dan keagamaan. Kita juga kan punya divisi manajemen spiritual,” ujarnya.

Farida menceritakan bahwa Rumah Pelajar sangat strategis bagi IPPNU di kalangan pelajar. Rumah Pelajar menyediakan aneka pelatihan mulai dari menulis, kepemimpinan, mendaur ulang sampah, kerajinan tangan, dan bentuk lain kreativitas.

Rumah Pelajar menjadi salah satu bentuk kontribusi IPPNU bagi dunia pendidikan. Konsep Rumah Pelajar dirumuskan sedemikian rupa demi mengondisikan kenyamanan dan rasa bersahabat di hati pelajar, tandas Farida. 

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Fragmen, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

GP Ansor Probolinggo Bentuk Lembaga Pengawasan Dana Desa

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Probolinggo mengambil bagian dalam pengelolaan Dana Desa (DD) yang akan diterima desa tahun ini. Badan otonom (banom) NU ini membentuk lembaga independen untuk melakukan pengawasan terhadap dana tersebut.

Ketua GP Ansor Probolinggo Muchlis mengatakan, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan penataan kelembagaan terutama mengenai organisasi yang akan menjalankan lembaga itu. Namun pendirian Lembaga Pengawasan Dana Desa? (LPD2) ini tidak hanya berasal dari kalangan pemuda Ansor.

GP Ansor Probolinggo Bentuk Lembaga Pengawasan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Probolinggo Bentuk Lembaga Pengawasan Dana Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Probolinggo Bentuk Lembaga Pengawasan Dana Desa

“Nantinya kami juga akan mengakomodasi dari jajaran Fatayat dan Muslimat NU untuk bisa menjalankan lembaga ini. Struktur kepengurusan juga dilengkapi dari dua banom tersebut,” ungkapnya, Rabu (24/2).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Muchlis, dalam pembentukan lembaga yang akan dipimpin oleh kalangan-kalangan pemuda itu, nantinya bisa memberikan pencerahan kepada para pengguna anggaran terutamanya bagi para pemerintahan desa. “Sehingga pembangunan yang menggunakan dana tersebut dinilai bisa sesuai dengan peruntukannya,” jelasnya.

Muchlis mengaku, dana desa tersebut memang harus dilakukan pengawalan ketat. Hal ini penting dilakukan agar pengalokasian untuk melakukan pembangunan desa bisa terwujud sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Desa Nomor 06 tahun 2014? tentang Desa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“LPD2 ini nantinya akan bekerja tidak hanya menjadi pengawasan, tetapi juga bisa memberikan ruang publik untuk bisa memberikan sumber informasi serta sebagai lembaga pengaduan? masyarakat? seputar penggunaan dana desa,” teranganya.

Sesuai hasil pleno pengurus GP Ansor, Muslimat dan Fatayat NU, Ali Sujoko terpilih dan dipercayai untuk bisa menjadi Ketua LPD2.

Dihubungi terpisah Ali Sujoko mengaku dengan amanah yang diberikan sebagai Ketua LPD2 pihaknya dan pengurus lainnya akan melakukan upaya pengawasan dana desa secara maskimal.

“Tentu harapannya tidak ada pola permainan dalam pengelolaan dana tersebut. Sehingga dana desa benar-benar bisa bermanfaat untuk kepentingan masyarakat desa,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Santri, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 17 Januari 2018

Ansor Way Kanan Siapkan Parade Digdaya

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor sebagai pemuda Nahdlatul Ulama (NU) sangat layak untuk terus unjuk gigi melakukan kiprah positif, ujar Bendahara PC GP Ansor Way Kanan, Lampung, Abdullah Candra Kurniawan, di Bumi Baru, Senin (8/1).

Ansor Way Kanan Siapkan Parade Digdaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Siapkan Parade Digdaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Siapkan Parade Digdaya

"Kita akan terus menunjukkan itu, bukan yang sebaliknya," ujar Candra kepada sekitar 50 kader Ansor, Banser dan juga Fatser yang mempersiapkan Parade Digdaya (Mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat).

Pada musyawarah berlangsung kurang lebih dua jam itu, Candra yang juga Kepala Kampung (Kakam) Bumi Baru mendukung penuh kegiatan berisi donor darah, pembuatan jamban dan kloset untuk masyarakat, bersih masjid dan pesantren, sedekah oksigen dan sedekah sampah, kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) damai tanpa golput tanpa rusuh, hingga penyembuhan alternatif penyakit medis non medis Aji Tapak Sesontengan.

Kegiatan dihadiri Ketua Ansor Way Kanan Gatot Arifianto, Ketua Ansor Blambangan Umpu Zainal Abidin, Sekretaris PAC Susanto dan Kasatkoryon Supriyadi, Wakil Ketua Ansor Negeri Agung Beta Suryadi, hadir pula perwakilan Palang Merah Indonesia (PMI) Way Kanan Fitri Wulandari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Parade Digdaya akan digelar pada Selasa (16/1). Setiap sepuluh kader Banser disepakati akan bekerjasama dengan sepuluh warga untuk membangun sanitasi sehat, sisanya mencetak 25 kloset untuk dibagikan pada warga.

"Jumlah total keluarga yang perlu sanitasi sehat sekitar 200, kita ambil 12 persennya sebagai bukti bahwa Ansor selalu mendukung hal baik yang menjadi program pemerintah daerah," ujar Candra lagi.

Informasi mengenai Parade Digdaya tersebut akan disampaikan kepada masyarakat melalui undangan hingga majelis taklim. Tercatat 33 kader Ansor sudah menyatakan diri untuk siap berbagi darah bagi kemanusiaan. (Taj Naladhipa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Ubudiyah, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 01 Januari 2018

Indonesia Belum Berhasil Tangani Stunting

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta Hamam Hadi menilai Indonesia belum berhasil dalam menangani stunting. 

Menurut pria yang juga ahli gizi ini, karena Indonesia kurang punya kesungguhan dan masyarakatnya sedikit yang fokus dan sungguh-sungguh memerangi stunting.

Indonesia Belum Berhasil Tangani Stunting (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Belum Berhasil Tangani Stunting (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Belum Berhasil Tangani Stunting

Demikian dikatakan Hamam Hadi saat mengisi Halaqah Alim Ulama dan Daiyah NU yang diselenggarakan Fatayat NU dengan tema Jihad Cegah Stunting di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Senin (13/11).

Berbalik dengan Indonesia, ia menyebutkan negara yang sukses dalam menangani masalah stunting, yakni Brazil. 

Menurut pria berumur 55 tahun ini, Brazil termasuk negara yang berhasil di dunia dalam mengurangi angka stunting. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

30 tahun ke belakang, katanya, kondisi stunting di Brazil kurang lebih sama dengan Indonesia hari ini, tapi 30 tahun kemudian, Brazil berhasil menurunkan angka stunting sekitar 7-10 persen.

"Setiap tahun Brazil bisa menurunkan angka stunting pertahunnya itu adalah 1 persen," katanya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Indonesia pada 2007 stunting sekitar 36 persen, pada 2010 turun sekitar 0,4 persen tapi pada 2013 kembali naik menjadi 37,2 persen.

Ia pun menilai kalau saat ini Indonesia belum berhasil  menangani stunting. "Mudah-mudahan karena belum melibatkan Fatayat dan Nasyiatul Aisyiah," katanya diikuti tawa. 

Ia berharap kader-kader Fatayat dan Nasyiatul Aisyiyah berada digarda terdepan untuk menangani persoalan stunting di Indonesia. 

Hadir pada acara ini Ketua PBNU H Robikin Emhas, Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU (PP Fatayat NU) Anggia Ermarini, dan Sekretaris PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, IMNU, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 12 Desember 2017

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Oleh Hagie Wana



Beberapa waktu yang lalu, netizen ramai memperbincangkan pernikahan putra dai kondang Ustadz Arifin Ilham, Alvin, yang masih berusia 17 tahun. Hal tersebut ditanggapi beragam. Ada yang pro, namun tak sedikit pula yang kontra. Booming-nya pernikahan Alvin ini seakan menjadi “legitimasi” bagi pihak yang yang setuju akan gagasan nikah muda, terutama akun-akun yang berlabel dakwah/islami/muslim/muslimah bahwa pernikahan di usia muda adalah anjuran agama. Apalagi, Alvin adalah putra seorang ustadz kharismatik. Prosesi pernikahannya pun dihadiri dai-dai kenamaan. Oleh karena itu opini-opini mengenai nikah muda semakin ramai dikampanyekan melalui postingan di sosial media.

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Nikah Muda Anjuran Agama?

Rasulullah menganjurkan kepada pemuda agar menikah ketika “mampu”. Lalu kapankanh seseorang dikatakan mampu untuk menikah? Dalam kacamata agama, tidak ada petunjuk atau batasan khusus di usia berapa seseorang harus menikah. Jika merujuk pada makna hadits Nabi ini, adalah ketika mampu. Artinya agama memberikan kesempatan bagi seseorang untuk “menyesuaikan diri” (mampu dalam berbagai aspek) ketika hendak melangsungkan pernikahan guna kemashlahatan rumah tangganya kelak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada hal-hal menarik yang penulis amati pada postingan akun-akun berlabel islam/dakwah/syar’i dsb mengenai gagasan menikah muda.

Pertama, memberikan kesan seolah-olah menikah di usia semuda mungkin adalah dorongan agama, dengan dalih menghindari perzinaan/menyalurkan kebutuhan biologis secara sah. Padahal tidak semua yang menunda waktu pernikahan—meskipun sudah mampu—itu pasti akan terjerumus pada jurang perzinaan. Menunda waktu pernikahan tidak berarti melegalkan apalagi mendukung praktik pacaran. Apabila kita mempertimbangkan argumentasi ilmiah, secara biologis organ reproduksi wanita yang terlalu muda belum siap untuk mengandung janin. Yang dampaknya akan berbahaya bagi keselamatan sang ibu juga janin yang dikandungnya. Padahal, agama jelas-jelas melarang kita untuk menzalimi diri sendiri. Mungkin kita sering mendengar pada masa kakek nenek kita dahulu yaitu kebiasaan menikah di usia muda. Bahkan tradisi ini konon masih berlanjut di daerah-daerah pelosok. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang masih rendah ditambah sulitnya mengakses informasi mengenai permasalahan kesehatan terutama seputar organ reproduksi. Lantas, apakah kita yang hidup di zaman majunya ilmu pengetahuan akan kembali “mundur”?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, untuk menikah, jangan menunggu mapan, agar bisa mapan bersama-sama. Argumen tersebut hemat penulis patut dikritisi. Pada titik ini, kita harus pandai menentukan sikap. Pernikahan adalah ibadah yang mulia. Ibadah (nikah) yang didasari dengan ilmu akan berbeda kualitasnya dengan ibadah yang gegabah. Mungkinkah sepasang muda-mudi yang belum mapan membangun rumah tangga? Akankah kebutuhan rumah tangga juga ikut dibebankan kepada orang tua? Berapa banyak kasus perceraian, tindakan kriminal, bahkan kasus bunuh diri yang faktor utamanya adalah desakan ekonomi? Alih-alih ingin mendidik keluarga hidup mandiri, jika tidak dibarengi dengan iman dan ilmu yang memadai, menikah sebelum mapan bisa menjadi bumerang bagi rumah tangga kita sendiri. Maka memapankan diri adalah upaya kita menghindari mudarat-mudarat yang akan terjadi kemudian.

Ketiga, anggapan bahwa mencari ilmu dan maisyah akan lebih giat setelah menikah, agaknya opini tersebut bertolak belakang dengan konstruksi sosial budaya kita. Ada qaidah sebagian santri yang berbunyi quthi‘al ilmu bi fakhidzaihâ (terputusnya ilmu akibat paha yang dua) maknanya semangat mencari ilmu akan mengendur jika sudah memikirikan wanita (apalagi dibebani kebutuhan akan mencari penghidupan). Adapula pepatah yang mengatakan “didiklah anakmu 100 tahun sebelum lahir”. Maknanya mempersiapkan generasi yang unggul harus dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu. Karena terdapat perbedaan orientasi antara yang belum dengan sudah menikah, maka persiapan ilmu adalah hal penting untuk mewujudkan Al-ahli madrasatul ula (keluarga adalah lembaga pendidikan pertama)

Atau berbagai alasan lainnya yang cenderung imajinatif dengan bermodalkan testimoni pengalaman sebagian pihak yang sukses menikah di usia muda tapi menutup mata dari berbagai kosekuensi negatifnya. Mengapa akun-akun berlabel "islami" tersebut cenderung aktif mengajak anak muda menikah, dibanding memberikan pemahaman atau pembekalan yang konkret bagi para anak muda sebelum menikah?

Jika hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik, kampanye atau ajakan untuk menikah muda yang kerap disuarakan di media sosial bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan rumah tangga itu sendiri. Dalam perspektif komunikasi massa, secara teoritis media sosial (massa) memiliki fungsi sebagai saluran, informasi, hiburan, dan pendidikan. Namun fenomena saat ini menunjukkan media massa memiliki peran yang efektif di luar fungsinya itu. Efek media massa tidak saja memengaruhi sikap seseorang, tapi juga dapat memengaruhi perilaku. Bahkan pada tataran yang lebih jauh, efek media massa dapat memengaruhi sistem-sistem sosial maupun sistem budaya masyarakat.

Prosesi pernikahan Alvin kemarin, tidak bisa serta merta dijadikan tolok ukur untuk seseorang menikah di usia 17 tahun (apalagi kurang dari itu). Ada jutaan pemuda yang seusia dengan Alvin ketika memaksakan menikah justru akan menjadi madlarat. Pernikahan bukan ibadah coba-coba. Oleh karenanya, persiapan mewujudkan rumah tangga yang samawa tidak cukup hanya dengan meniru-niru atau terbawa postingan dari akun-akun bercorak islami. Agaknya, nderes kitab Uqudul Lujjain atau Qurratul ‘Uyun lebih syar’i dan lebih bermanfaat daripada sekadar melihat meme seputar ajakan menikah muda. Jika meminjam qaidah usul fiqh "dar-ul mafasid muqaddamun min jalbil mashalih (menghindari kerusakan lebih prioritas ketimbang menarik kemanfaatan)" maka mempersiapkan dengan matang apa yang akan menjadi bekal rumah tangganya kelak, lebih utama daripada beranda-andai akan bahagia ketika sudah berumah tangga. Karena, keberlangsungan dan masa depan rumah tangga kita, kita sendirilah yang akan menentukannya.

Kesimpulannya, betulkah menikah muda adalah dorongan agama? Atau hanya opini sebagian pihak yang dikontruksi melalui media sosial? Semoga kita semakin arif dan bijak dalam menyikapi dunia maya tanpa mengenyampingkan kehidupan nyata.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 04 Desember 2017

Aliansi Rakyat Sidoarjo Anti Korupsi Gelar Aksi Solidaritas untuk Novel Baswedan

Sidoarjo Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Puluhan mahasiswa dan penggiat antikorupsi Sidoarjo menggelar aksi solidaritas mendukung penuntasan kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Aksi solidaritas ini digelar di depan monumen patung Jayandaru alun-alun Sidoarjo, Rabu (12/4) malam.

Selain berorasi dalam aksinya, puluhan penggiat antikorupsi juga melakukan aksi teatrikal penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. Dengan menyalakan lilin dan membentangkan poster save KPK, mereka berorasi menuntut agar pemerintah harus menyelesaikan kasus-kasus korupsi yang melibatkan berbagai pihak, dan mengusut tuntas penyiraman air keras oleh orang tak dikenal kepada Novel Baswedan.

Aliansi Rakyat Sidoarjo Anti Korupsi Gelar Aksi Solidaritas untuk Novel Baswedan (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Rakyat Sidoarjo Anti Korupsi Gelar Aksi Solidaritas untuk Novel Baswedan (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Rakyat Sidoarjo Anti Korupsi Gelar Aksi Solidaritas untuk Novel Baswedan

Menurut koordinator aksi, Zein Haq, lilin ini sebagai simbol keprihatinan dan bentuk ungkapan masyarakat yang berkabung, atas kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan.

"Ini momen berduka bagi kami, bahwa aksi keprihatinan terkait penyiraman air keras yang menimpa Novel Baswedan. Mungkin itu, kami asumsikan ada intimidasi dari oknum-oknum tertentu yang terganggu terkait apa yang dilakukan oleh penyidik KPK tersebut," kata Zein.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aksi ini tidak hanya bersifat nasional, tetapi menentang berbagai praktik korupsi yang terjadi di berbagai daerah. Tidak hanya orasi, aksi juga diwarnai dengan aksi teatrikal yang menggambarkan masifnya praktik-praktik korupsi di tubuh institusi negara dan DPR yang sedang ditangani penyidik-penyidik KPK.

Para penggiat anti korupsi Sidoarjo berencana akan melakukan dorongan dan membuat petisi kepada pemerintah, agar proses-proses penyelesaian kasus korupsi tidak ditutupi dan dihilangkan. Dengan harapan bangsa Indonesia bisa bebas dari persoalan korupsi.

Perlu diketahui bahwa, aksi solidaritas ini diikuti oleh berbagai elemen yang tergabung dalam aliansi rakyat Sidoarjo antikorupsi di antaranya perwakilan Gusdurian Sidoarjo, PC PMII Sidoarjo, Lakpesdam NU Sidoarjo, Lesbumi NU Sidoarjo, IKA PMII Sidoarjo serta beberapa elemen lainnya.

Sementara itu, Ketua Komisariat PMII IAI Al-Khoziny, periode 2015-2016, Haris Aliq mengatakan, kasus yang menimpa Novel Baswedan ini bukan kali pertamanya. Novel Baswedan juga bukan orang pertama yang diciderai, dikriminalisasikan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika hal ini dibiarkan, akan menambah kekuatan korupsi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami berharap, agar kasus ini segera dituntaskan dan pelakunya segera diusut. Pasalnya, kasus seperti ini tidak yang pertama kalinya," harap Haris. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Desember 2017

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

Tangsel, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan agama tidak dipungkiri menjadi salah satu benteng penting dan ? bisa diandalkan dalam menyambut modernitas global. Karenanya, diperlukan langkah nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan agama, salah satunya dengan ? meningkatkan standar kompetensi ? lulusan peserta didik.?

Pesan ini disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin kepada ? para Kepala Seksi Kurikulum (Kasi) ? Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi dan para guru madrasah. Menurutnya, jajaran Ditjen Pendidikan Islam dari pusat sampai daerah harus benar-benar serius dalam memperhatikan peningkatan kualitas pendidikan agama sehingga ? di masa mendatang ? Indonesia tidak terjebak menjadi negara sekuler. Demikian dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)
Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler (Sumber Gambar : Nu Online)

Peningkatan Kualitas Madrasah Cegah Indonesia Jadi Negara Sekuler

“Karena ini akan sangat menentukan dan tercetaknya generasi Indonesia ke depan,” katanya di Hotel Grand Zuri BSD City, Rabu (07/10).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jadi Indonesia hari ini, lanjut Dirjen, sesungguhnya menaruh harapan besar dari madrasah. Sebab, jika Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) tidak mencetak pendidikan keagamaan Islam yang bermutu, maka Indonesia bisa menjadi negara sukuler.

Kamaruddin memandang madrasah ? sebagai salah satu ? benteng pertahanan pendidikan agama ? yang bisa diandalkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita tidak bisa berharap dari sekolah, hanya belajar agama selama dua jam satu minggu. Sementara 66 juta anak-anak itu disekolahkan di sana, mereka akan mampunyai pengalaman pendidikan agama yang sangat standar,” paparnya

Menurutnya, suka tidak suka, tren globalisasi akan terus menancapkan pengaruhnya dan bersamaan dengan itu, madrasah dan pesantren menjadi salah satu harapan.?

“Jika dua lembaga ini berhasil memberikan pendidakan bermutu dan berkualitas maka generasi Indonesia bisa bertahan,” terangnya.?

Di hadapan para Kasi dan guru yang hadir, Dirjen mengimbau agar mereka dapat melakukan evaluasi pelajaran agama yang salama ini dihadirkan kepada anak-anak madrasah. Ia berharap, jangan sampai apa yang selama ini diberikan hanya sekadar pemahaman yang bersifat koginitif saja.

“Tapi juga bagaimana (pelajaran) agama mampu membentuk karakter, sebagai instrumen transformatif, bisa merubah dan membentuk perilaku anak-anak kita. Memperkuat kesalehan di sisi lain, dan ? bisa menjadi instrumen perekat sosial, dalam artian bahwa ajaran tentang kerukunan toleransi dan menghargai perbedaaan itu juga harus diajarkan,” pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Empat kontingen bersaing untuk mendapatkan gelar juara umum pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencask Silat yang digelar Pagar Nusa di Padepokan Pencask Silat Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kontingen tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Sumatera Barat.

“Jawa Timur menjadi kandidat terkut juara umum. Satu emas lagi, dipastikan mereka menggondol juara umum,” kata Sayid Rdho, salah seorang panitia Kejurnas II yang digelar Pencak Silat NU pagara Nusa yang berlangsung dari Ahad (21/8) dan akan ditutup Kamis (25/8).

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Kontingen Kandidat Juara Umum Kejurnas Pagar Nusa

Jawa Timur, menurut dia, merupakan satu-satunya kontingen yang mengirimkan atlet dengan lengkap di antara 177 kontingen lain. Hanya Jawa Timur pula yang mengikuti pertandingan dan festival silat di seluruh partai, kelas, dan golongan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Siang ini di gelanggang Padepokan Pencak Silat Indonesia mempertandingkan final TGR (tunggal, ganda, regu) dewasa dan remaja. Pada tunggal putra telah keluar sebagai juara yaitu kesatu Gorontalo, kedua Jawa Timur, dan ketiga Bali. Sementara pada tunggal putri juara I diraih jatim, juara II Sumatera barat, dan juara III Gorontalo.

Malam ini akan berlangsung sesi festival pencak silat. Sesi tersebut tak hanya diikuti kontingen-kontingen Pagar Nusa, tapi turut berpartisipasi beberapa perguruan silat seperti Jokotole, Persinas Asad dan Persaudaraan Setia Hati (PSH).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada kejurnas II dan Festival tersebut diikuti sekitar 257 pesilat putra dan putri yang berlaga pada golongan remaja dan dewasa. Sementara jumlah official sekitar 82 sehingga yang hadir sekitar 339. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Ulama, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peran Banser Ansor Serbaguna (Banser) kian meningkat, hingga juga merambah dalam peran penting di dunia pendidikan. Seperti halnya sejumlah Banser Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur yang juga ikut andil dalam pengawasan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Unggulan Nahdlatul Ulama (NU) setempat.

Keikutsertaan dalam peran penting tersebut, ditandai dengan penyerahan MoU antarkedua belah pihak (Ketua PAC GP Ansor Mojoagung Zahidi dan Kepala Sekolah) yang disaksikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto pada pekan ini.

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Mojoagung-SMK NU Kerja Sama

Zahidi mengungkapkan bahwa Banser dan SMK NU sudah semestinya menjalin kerja sama yang baik dalam membesarkan NU di dunia pendidikan. Termasuk bimbingan atau pengawasan terhadap siswa dalam setiap tindak yang dinilai tidak baik, misalnya bolos saat jam sekolah berlangsung tanpa ada keterangan yang jelas.

Dengan MoU itu, dimana pun anggota Banser bekerja, jika melihat siswa SMK NU keluyuran saat jam sekolah, diminta untuk menanyai dan mencatat identitasnya kemudian melaporkan ke sekolah. "Banser dan siswa SMK NU ini sama-sama dalam naungan NU. Jadi pasti kita amankan," kata Zahidi. Rabu (27/7/2016).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

MoU ini sebagai rangsangan, bentuk kepedulian terhadap madrasah/ institusi pendidikan dan komitmen untuk bersama-sama membangun dan membina anak muda generasi bangsa ini menjadi generasi yang berintegritas baik dan berprestasi atas potensi yang dimiliki.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu secara terpisah, H Zulfikar mengimbau agar peran tersebut juga bisa diterapkan di luar jam pelajaran, mengingat saat ini banyak anak muda yang salah dalam pergaulan sehingga terjerumus pada pergaulan bebas (free sex) atau pengaruh miras dan narkoba.

"Saya pikir pengawasan kepada peserta didik atau siswa siswi ini tidak hanya di lingkungan sekolah saja, perkembangan di luar sekolah juga harus menjadi perhatian," ujarnya.

Namun demikian H Zulfikar sangat mengapresiasi terhadap pengambilan peran tersebut. Ia berharap bisa demikian itu dapat dicontoh Banser dan Ansor yang lain. Sinergi ini penuh kemanfaatan dan kemaslahatan bagi Ansor maupun SMK NU. Mudah-mudahan bisa ditiru yang lain, ucapnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, IMNU, Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 November 2017

Qudsiyyah Pamerkan Kitab Legendasis Ulama Nusantara Awal Agustus

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Dalam rangka meramaikan pagelaran 1 abad berdirinya Madrasah Qudsiyyah Kudus, pihak panitia pagelaran bekerja sama dengan Yayasan Turats Nusantara akan membuka Pameran Kitab Ulama Nusantara pada 1-3 Agustus 2016, di kompleks Madrasah Aliyyah setempat, kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Dari 200 kitab yang akan dipamerkan oleh pihak penyelenggara,ada beberapa kitab legendaris dari berbagai generasi ulama Nusantara. Seperti karya Syaikh Yasin al-Fadani,Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudh at-Tarmasi, KH Soleh Darat, KH Sahal Mahfudh, KH Maimoen Zubair dankarya-karya lain.

Qudsiyyah Pamerkan Kitab Legendasis Ulama Nusantara Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Qudsiyyah Pamerkan Kitab Legendasis Ulama Nusantara Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Qudsiyyah Pamerkan Kitab Legendasis Ulama Nusantara Awal Agustus

Menurut ketua penyelenggara Nanal Ainal Fauz, pihak dari Yayasan Turats Ulama Nusantara sebenarnya sudah mengumpulkan kurang lebih 400 kitab yang ditulis oleh ulama dari berbagai generasi dan daerah di kepulauan Nusantara.

“Melihat situasi dan kondisi kita hanya memamerkan 200an kitab saja,” kata Nanal kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Senin (25/7).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kitab legendaris ulama Nusantara yang diakan dipamerkan di antaranyamanuskrip kitab Kifayatul Mustafid li Maa Alaa min al-Asanid karya Syaikh Mahfudh at-Tarmasi Pacitan. Meskipun penyalinnya bukan Syaikh Mahfuzh Sendiri, namun manuskrip ini disalin sebelum tahun 1332 H, yang berarti berusia sekitar 95 tahun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kitab Sabilul Muhtadin karya Syaikh Arsyad al-Banjari yang merupakan kitab berbahasa melayu yang sangat populer di kalangan santri, khususnya di Kalimantan. Ada pula Sirojuth Tholibin karya Syaikh Ihsan Jampes, yakni kitab syarah Minhajul Abidin milik Imam Ghazali.

Lalu kitab yaitu al-Hasyiyah al-Martiyyah Ala al-Badri ath-Thali syarh Jamil Jawami. Kitab ushul fiqh monumental yang disusun oleh KH Miftah bin Mamun Marti Cianjur ini merupakan komentar panjang atas kitab Jamil Jawami karya Imam As-Subki.

Ada juga kitab Mandhumat Mujam Nahwi, nadhamat (syair) bidang ilmu Nahwu yang tersusun dari 8465 bait ber-baharRajaz. Ini adalah karya Syaikh KH Muhammad Muhibbi bin al-Hamzawi, Kajen, Pati.

Menariknya ada manuskrip risalah atau catatantentang diskusi terkait hasil keputusan Muktamar NU di Menes Banten yang disusun KH Raden Asnawi yang dipersembahkan kepada KH Hasyim Asyari yang ditemukan menyelip kitabSyarah Tajul Arusy di perpustakaan pribadi milik KH Hasyim Asya’ari sendiri.

Lain lagi manuskrip kitab al-Manhajul Qawim yang sudah berusia 200 tahun, disalin oleh salah satu ulama Nusantara. Uniknya, dalam manuskrip ini sudah dibubuhi makna pegon ala pesantren.

Nanal berharap dari pameran kitab ulama Nusantara ini bisa membaca keadaan zaman ini dengan kacamata ulama Nusantara tempo dulu. “Kita juga bisa membandingkan era kita dengan era ulama terdahulu dari kitab-kitab mereka,” pungkas santri asal Demak itu.(M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 27 Oktober 2017

Sambut Harlah, Ranting-ranting NU Serentak Gelar Istighotsah

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Lahir (Harlah) ke-90 Nahdlatul Ulama (NU), seluruh Ranting NU se Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo kompak menggelar istighotsah bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan aparat pemerintah di ranting masing-masing dan nantinya akan ditutup di tingkat MWCNU Kecamatan Lumbang pada puncak peringatan Harlah NU.

Sambut Harlah, Ranting-ranting NU Serentak Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah, Ranting-ranting NU Serentak Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah, Ranting-ranting NU Serentak Gelar Istighotsah

Demikian disampaikan Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Lumbang Suparman kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (21/5). Menurutnya, selain untuk mempererat ikatan tali silaturrahim diantara semasa pengurus NU dan warga Nahdliyin, istighotsah ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan pengurus NU untuk melestarikan tradisi-tradisi yang pernah dilakukan oleh ulama-ulama NU.

“Istighotsah ini merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kami, karena hingga saat ini organisasi NU yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari ini dapat terus berkembang dengan program-programnya yang dapat dirasakan langsung oleh segenap warga Nahdliyin,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan Suparman, melalui istighotsah yang dilakukan oleh seluruh ranting NU ini, paling tidak warga Nahdliyin tahu bahwa inilah salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh ulama-ulama NU. Bahkan tradisi ini bisa terus lestari hingga saat ini diusianya yang sudah menginjak 90 tahun menurut kalender qomariah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Istighotsah ini merupakan sarana untuk mengamalkan ajaran tradisi ulama NU Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan mendoakan masyarakat agar tidak terpengaruh oleh paham-paham lain di luar NU yang bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Menurut Suparman, dalam pelaksanaannya istighotsah sendiri diawali dengan sholat Isya’ dan dilanjutkan dengan sholat hajat berjamaah. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasiin dan sholawat bersama. Setelah itu baru digelar istighotsah dan diakhiri dengan doa bersama.

“Di sini kami berdoa bersama-sama dengan harapan senantiasa diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik kepada ranting dalam melaksanakan program kerja. Dengan kata lain, kita bersama-sama saling introspeksi diri atas perbuatan yang sudah dilakukan selama ini,” terangnya.

Menurut Suparman, kegiatan istighotsah tersebut akan semakin mempererat dan memperkokoh jalinan ikatan silaturahim diantara sesama pengurus NU dan warga Nahdliyin. “Melalui istighotsah ini kami berharap nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan untuk bersama-sama membesarkan NU. Dengan usianya yang sudah mencapai 90 tahun, kami ingin agar organisasi NU ini bisa terus menjadi organisasi yang besar, khususnya di Indonesia,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, IMNU, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 25 Oktober 2017

Permainan Tradisional Warnai Hari Santri di Rajapolah Tasik

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hari Santri Nasional 22 Oktober disambut seluruh Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai kegiatan dan caranya masing masing, tak mau ketinggalan Santri Kecamatan Rajapolahpun mencoba melestarikan dan memperkenalkan kembali permainan tradisional melalui momen ini.

Beretempat di Terminal Kecamatan Rajapolah Tasikmalaya, Jawa Barat santri yang berasal dari 80 Lembaga yang terdiri dari 20 Pesantren dan 60 Madrasah Diniyah ? se Rajapolah ini memenuhi lokasi kegiatan, mereka bersemangat dan berupaya meraih piala Hari Santri Nasional Kecamatan Rajapolah, Ahad (23/10)

Permainan Tradisional Warnai Hari Santri di Rajapolah Tasik (Sumber Gambar : Nu Online)
Permainan Tradisional Warnai Hari Santri di Rajapolah Tasik (Sumber Gambar : Nu Online)

Permainan Tradisional Warnai Hari Santri di Rajapolah Tasik

Pada peringatan Hari Santri Nasional panitia memperlombakan 7 Cabang Lomba Congklak, Bakiak, Jajangkungan (Engrang), Damdaman,sepakbola mini pake sarung, Menulis puisi dan Fashion Show.?

Menurut Ketua Pelaksana Peringatan Hari Santri Nasional Rajapolah, Edi Kardiman, permainan tradisional dipilih untuk bisa melestarikan dan mengingatkan kebiasaan zaman dahulu dimana saat ini kearifan lokal itu dihilangkan karena banyaknya orang yang main hanya dengan gadget, maka kita coba angkat kembali pada moment ini, dan Islam Nusantara itu sangat menghormati kearifan lokal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Rajapolah Asep Hersan mengatakan, panitia sengaja tak memilih kegaiatan lomba yang bernuansa agama seperti baca kitab kuning dan semacamnya ? karena itu sudah biasa, kami ingin pada hari yang membahagiakan untuk para santri ini mereka semua tersenyum.

"Selain itu, kegiatan ini juga dijadikan ajang silaturahim antar-pesantren dan madrasah diniyah se-Rajapolah," pungkasnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Grand Mufti Lebanon Sambut Baik Pertemuan Internasional PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara definitif bakal menghelat pertemuan atau konferensi para pemimpin moderat dunia Islam atau International Summit of The Moderate Islamic Leaders, pada 8-11 Mei 2016 di Hotel Borobudur, Jakarta.

Grand Mufti Lebanon Sambut Baik Pertemuan Internasional PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Mufti Lebanon Sambut Baik Pertemuan Internasional PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Mufti Lebanon Sambut Baik Pertemuan Internasional PBNU

Konferensi ini akan menghadirkan sekitar 300 peserta yang terdiri dari para pemimpin dunia Islam, para pemikir Islam, dan para pemimpin organisasi Islam dunia. Salah satu yang menjadi tamu undangan adalah Grand Mufti Lebanon Syeikh Dr. Abdul Latif Faiz Derian.

Sekretaris Duta Besar Ahmad Jalaludin lewat surat elektronik menyampaikan, Duta Besar RI untuk Lebanon Achmad Chozin Chumaidy telah berkunjung kepada Grand Mufti Lebanon Syeikh Dr Abdul Latif Faiz Derian, menyampaikan undangan dari PBNU untuk menghadiri International Summit of The Moderate Islamic Leaders” (Qimmah Ruasa al-Muslimin Al-Washathiyyin).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mufti Derian menyambut baik dan berterima kasih kepada PBNU atas undangan tersebut. Beliau berusaha untuk hadir, semoga tidak bentrok dengan acara yang telah teragendakan terlebih dahulu di Lebanon,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah,Selasa (29/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini dalam sebuah rapat perdana panitia International Summit of The Moderate Islamic Leaders mengatakan, PBNU menyelenggarakan penyelenggaraan akbar ini untuk menggalang soliditas para pemimpin muslim dari berbagi negara menyusul pergeseran politik dunia akibat gelombang globalisasi yang berdampak besar bagi dunia dan Islam.

Upaya tersebut juga untuk mewujudkan spirit Islam Nusantara ke dunia internasional. Hal ini sebagai tindak lanjut dari konflik dan ketegangan yang seolah tak ada habisnya antarnegara maupun kelompok-kelompok Islam di dunia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, IMNU, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 20 Oktober 2017

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Majelis Pembina Nasional (Mabinas) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) H Fahmi Matori meminta mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung di organisasi pergerakan untuk berorientasi kekinian.  

“Saya mohon dengan sangat, marilah kita melihat fenomen global. Jangan terkungkung dengan masa lalu,” katanya pada orientasi Pengurus Besar PMII di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (26/8).

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian

Menurut dia, sejarah adalah tempat berkaca. Tapi kemudian harus diteliti dan diambil pelajaran apakah itu cocok dengan kekinian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk itu, ia menyarankan PMII untuk membuat blue print kemana arah organisasi dan membuat lembaga-lembaga kajian supaya kadernya tidak gagap dalam menghadapi persaingan global. “Kompetensi macam apa yang akan berkembang di masa akan datang,” katanya

Lagi-lagi ia mengingatkan jangan terkungkung dengan heroiknya masa lalu. Dengan blue print dan lembaga kajian PMII bisa menentukan pemuda yang bagaimana mampu bisa bersaing dengan dunia global.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ke depan saya ingin diundang lagi pada diskusi keporfiesian. Saya yakin senior-senior PMII ada dai dunia kesehatan, perbankan, politisi,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, News, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 18 Oktober 2017

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Banyak cara yang dilakukan setiap umat Muslim untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, tak terkecuali Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) Tanggulangin Sidoarjo ini.

Dalam memuliahkan Hari Kelahiran Nabi akhir zaman ini, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin bersama ratusan warga se-Kecamatan Tanggulangin mengkhatamkan (khotmil) Al-Quran di masjid Al-Istiqomah desa Gempolsari Tanggulangin Sidoarjo, Ahad (13/12). Kemudian, malam harinya, dilanjutkan dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan membaca diba.

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, Pelajar NU Sidoarjo Bersama Nahdliyin Khatamkan Al-Quran

"PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin mengajak kepada warga se-Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo untuk turut serta meneladani dan memuliahkan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Agar kita semua senantiasa mendapatkan safaatnya kelak di akhirat," kata ketua PAC IPNU Tanggulangin, M Ilmi Abdillah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Abdillah berharap, momen seperti itu tidak hanya berhenti saat ini saja, akan tetapi bisa terlaksana setiap tahunnya. Menurutnya, dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad, PAC IPNU-IPPNU Tanggulangin Sidoarjo kembali mengingatkan dan mengajak warga NU agar bisa mengikuti jejak-jejak sang Reformasi iman dan Islam ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Semoga acara tersebut tidak sekadar menjadi peringatan semata. Namun, kita mampu mencontoh dan mengaplikasikan segala sifat terpuji Nabi Muhammad. Tidak hanya itu saja, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW juga untuk menjaga amaliyah NU yang telah diajarkan oleh para pendiri," tukas Abdillah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 September 2017

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pedantren akan menggelar peringatan Hari Santri 2017. Gelaran kali ketiga ini mengusung tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamarudin Amin menyampaikan, bahwa dengan tema tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekhasan inilah yang menjadi kekuatan untuk menopang keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

“Tema ini menunjukan bahwa pesantren itu darahnya merah putih. Santri religius yang nasionalis. Ini merupakan indentitas santri yang sangat mapan,” ujar Kamaruddin saat Jumpa Pers di Jakarta, Rabu (4/10).

Dikatakan Kamaruddin, Pesantren disamping membekali ilmu agama (tafaquh fiddin), megkader ulama yang nasionalis juga membekali santrinya menjadi warga negara yang baik, bagaimana hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain melalui pergaulan dari berbagai latar belakang budaya.

“Antara Identitas, agama dan kewarganegaraan, menyatu dalam intetas pondok pesantren. Jadi santri itu sangat sadar akan identitasnya sebagai seorang muslim dan identitasnya sebagai warga negara,” sambung Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren, lanjut Kamaruddin, memiliki berkontribusi besar terhadap munculnya semangat dan nasionalisme Keindonesiaan yang tidak terbantahkan dalam rentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya pesantren adalah Lembaga pendidikan khas Indonesia dan genuine otentik muncul dan lahir di Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Pesantren penjaga gawang keberagamaan umat. Indonesia memiliki potensi disentragif, tapi karena pesantren hadir dan berkontribusi secara fundamental merawat keberagaman ini,” imbuh Kamaruddin.

Beberapa rangkaian kegiatan meramaikan dalam rangka Hari Santri 2017, diantaranya; Lomba Komik dan Kartun Stip, Malam Pembacaan Puisi Santri “Ketika Kiai_Nyai-Santri Berpuisi: Pesantren tanpa Tanda Titik”, Santri Enterpereuner Competition, Shalawat Kebangsaan dan Konfigurasi MOP Santri untuk Negeri, Pemecahan Rekor Muri Komik Santri Terpanjang (300 M), Upacara Bendera dalam rangka hari Santri, Santri Writer Summit, Pesantren Expo dan Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) Nasional. (Kemenag/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 13 September 2017

Hindari Konflik, Ini Era Desa Membangun

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar menegaskan, agar seluruh masyarakat daerah atau khususnya yang di perdesaan untuk menghindari konflik. Karena saat ini adalah era desa untuk membangun. Tanpa solidaritas bersama, desa yang satu dengan desa lainnya akan terus terjadi ketimpangan.

"Konflik akan sangat merugikan. Selain akan menimbulkan rasa ketakutan masyarakat, juga akan menghambat kesejahteraan rakyat untuk membangun desanya. Padahal kehidupan antar desa juga sangat penting dan perlu rasa kebersamaan," ujar Marwan, Sabtu (18/7).

Hindari Konflik, Ini Era Desa Membangun (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Konflik, Ini Era Desa Membangun (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Konflik, Ini Era Desa Membangun

Hal tersebut dikemukakan terkait terjadinya insiden di Torikala, Papua beberapa hari lalu. Menurut Marwan, peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur desa dan kecamatan hingga daerah, sangat penting terjalin. "Tidak perlu lagi ada egoisme agama dan antar desa lagi. Komunikasi harus dikedepankan untuk menghindari konflik," ajaknya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ini saya sampaikan, tidak hanya untuk insiden di Papua, tapi untuk seluruh wilayah Indonesia bahwa ? kita harus sama-sama sadar dan tenangkan diri. Bangun solidaritas dan kebersamaan kehidupan beragama dan masyarakat. Ayo kita sama-sama membangun desa," jelasnya.

Dengan terbangunnya solidaritas dan terjalinnya harmonisasi antar beragama dan antar desa, Marwan mengatakan, keinginan bersama seluruh rakyat Indonesia untuk membangun wilayahnya secara adil dan merata akan sama-sama terbentuk. "Hindari hal sekecil apapun yang memicu konflik. Lebih baik mencegah, daripada sudah terlanjur terjadi," ujarnya. (Red: Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, IMNU, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah