Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Oleh Muhammad Ishom

Kata “al-ummi” sangat populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157. Secara etimologis kata “al-ummi” berasal dari kata bahasa Arab “al-umm” yang artinya “ibu” dalam bahasa Indonesia. Kata “al-ummi” sebetulnya memiliki makna atau arti yang beragam, salah satunya adalah seseorang yang diasuh sendiri oleh ibunya di rumah.

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekontekstualisasi Makna ‘al-Ummi’ pada Diri Nabi

Sewaktu saya masih kecil dan duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, salah seorang guru saya mengartikan “al-ummi” dengan “mbok-mboken” yang maksudnya adalah serorang anak yang tidak mau lepas dari ibunya (sehingga tidak pernah sekolah). Akibatnya sang anak menjadi buta huruf. Jadi jika kata “al-ummi” langsung diartikan “buta huruf” itu sebetulnya ada satu proses logis yang dilompati. Dalam kaitan dengan kata “al-ummi” yang dilekatkan kepada Nabi Muhammad SAW, tentu ada hubungannya dengan keberadaan ibu beliau,

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam hal ini cinta sang ibu – Siti Aminah - kepada beliau begitu dalam. Allah SWT juga sangat mencintai beliau sehingga tak seorang pun manusia diberi-Nya kesempatan menyentuh pikiran beliau dengan mengajarkan sesuatu melalui baca tulis. Oleh karena itu, banyak orang mengartikan kata “al-ummi” dengan “orang yang buta huruf” seperti dinyatakan WJS Poerwadarminta dalam “Kamus Umum Bahasa Indonesia”, terbitan PN Balai Pustaka Jakarta, tahun 1983, halaman 1124.

Pertanyaannya adalah, apakah Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawabnya, sulit untuk menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar buta huruf, dalam arti tidak bisa membaca dan menulis sama sekali sepanjang hidupnya sebab setelah turunnya Al-Qur’an beliau pernah merevisi rancangan Perjanjian Hudaibiyah yang draftnya ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW menghapus sendiri kata-kata “Rasulullah” dan menggantinya dengan “Ibnu Abdillah” setelah Ali bin Abi Thalib menolak untuk melakukannya. Ali bin Abi Thalib hanya bersedia menunjukkan tempat kata-kata “Rasulullah” saja.

Orang-orang Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr merasa keberatan dimasukkannya kata-kata “Rasulullah” ke dalam teks perjanjian tersebut dan menuntut supaya diganti dengan “Ibnu Abdillah” karena mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad. Tuntutan ini dipenuhi Nabi Muhammad SAW dengan menghapus dan mengganti sendiri kata-kata itu dengan kata-kata “Ibnu Abdillah”.



(Baca: Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata)


Selain itu Nabi Muhammad SAW juga pernah mengatakan bahwa ada tulisan ? (kafir) di antara kedua mata Dajjal sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam riwayat Muslim, Nabi bahkan mengeja kata ? (kafir) itu dengan ? ? ? (k f r). Artinya ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membaca karena mengeja itu bagian dari membaca.

Namun demikian, merupakan kesalahan besar untuk mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis karena tidak ada bukti empiris tentang hal ini. Dalam Al-Qur’an surah Al’Ankabut ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48 berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Tetapi setelah Al-Qur’an turun Nabi Muhammad SAW pernah suatu ketika menulis kata-kata sebagaimna tertuang dalam teks Perjajian Hudaibiyah di atas. Selain menulis, Nabi Muhammad SAW juga pernah membaca atau mengeja kata sebagaimana diriwayatakan oleh Bukhari dan Muslim di atas.

Hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT dan bukan karya beliau. Semua pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad adalah intuisi (wahyu) dari Allah yang tidak menuntut kemampuan membaca dan menulis. Malaikat Jibril paling sering menyampiakan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode pendengaran dengan mentransfer ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung ke dalam memori Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran dan hati beliau tanpa melibatkan kegiatan visual seperti membaca dan menulis.

Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, beberapa cendekia kontemporer kurang setuju jika hingga sekarang kata “al-ummi” yang melekat pada Nabi Muhammad SAW masih diartikan”buta huruf’. Sebagai gantinya mereka mengusulkan arti atau makna yang lebih sesuai dengan konteks sekarang, yakni “tidak bisa baca tulis” karena memang tidak pernah diajar guru manusia dengan metode baca tulis. Arti baru ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, karangan Ahmad Warson Munawwir, terbitan Pustaka Progresif Yogyakarta, tahun 1997, halaman 40, dimana kata “al-ummi” diartikan “Yang tak dapat membaca dan menulis” dan bukan “buta huruf”.

Rekontekstualisasi makna “al-ummi” di atas, menurut penulis, lebih baik sebab di zaman sekarang “buta huruf” sudah identik dengan “bodoh” dan “terbelakang”. Apalagi ada program pemerintah dan PBB untuk memberantas buta huruf di seluruh negeri dan penjuru dunia. Oleh karena itu rekontekstualisasi makna tersebut menjadi sangat penting untuk menjaga kebesaran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang memang secara faktual memenuhi sifat-sifat wajib rasul yang meliputi: fathonah (cerdas dan tidak pelupa), shiddiq (berkomitmen tinggi terhadap kebenaran), tabligh (mau dan mampu menyampakan wahyu), dan amanah (sangat kredibel).

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Nasional, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

200 Imam Masjid Cirebon Konsolidasi, Tangkal Radikalisme

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid NU (LTMNU) Kabupaten Cirebon menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) di Pesantren Muallimin-Muallimat Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (5/1). Semangatnya antara lain, usaha keras memerangi radikalisme.

200 Imam Masjid Cirebon Konsolidasi, Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Imam Masjid Cirebon Konsolidasi, Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Imam Masjid Cirebon Konsolidasi, Tangkal Radikalisme

Rapat koordinasi dan konsolidasi ini dihadiri oleh sedikitnya 200 pengurus tamir dan imam masjid dari 40 kecamatan se-Kabupaten Cirebon. Dalam kesempatan ini, peserta juga dibekali sejumlah materi seputar pemberdayaan masjid.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU Provinsi Jawa Barat Fuad Ali mengaku prihatin dengan aksi bom bunuh diri dalam sebuah masjid yang pernah terjadi di Kota Cirebon. Rapimda ini dinilai penting untuk menumpas akar radikalisme dari tingkat masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Selama ini masjid belum mempunyai manajemen yang kuat untuk mengoptimalkan perannya," ujarnya saat memberi sambutan.

Secara resmi, acara dibuka oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi. Turut hadir pula, Katib Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj, Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, dan segenap jajaran pengurus cabang NU Cirebon.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rapimda LTMNU yang mendapat dukungan dari PT Sinde Budi Sentosa ini adalah tindak lanjut amanat Rapat Pimpinan LTMNU se-Jawa Barat yang diselenggarakan di Bandung, Maret 2012 lalu. Menurut jadwal, Rapimda gabungan Kabupaten Majalengka-Kota Cirebon dimulai besok.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Syariah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 08 Januari 2018

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah menerbitkan ikhbar bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1437 H jatuh pada Sabtu, 3 September 2016.

Keputusan tersebut diumumkan setelah tim rukyat Lembaga Falakiyah PBNU melakukan rukyat hilal bil fi’li pada Kamis (1/9) petang. Selama observasi langit secara langsung itu, tim rukyat tak berhasil melihat bulan sabit tanda awal bulan. Dengan demikian, bulan Dzulqadah disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari.

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Ikhbarkan Idul Adha 1437 H Jatuh pada 12 September

Berdasarkan hasil rukyat ini, Lembaga Falakiyah mengumumkan bahwa hari raya kurban atau Idul Adha 1437 H yang jatuh pada 10 Dzulhijjah bertepatan pada hari Senin, 12 September 2016.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengucapkan terima kasih kepada nahdliyin atas kontribusi dan partisipasi dalam prosesi rukyat hilal ini. “Selamat Idul Adha. Kita sambut dengan ibadah mengagungkan asma Allah, berkurban, mempererat silaturrahim dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Dalam hadits dijelaskan bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah termasuk hari-hari yang spesial. Namun di antara kesepuluh hari itu ada tiga hari teristimewa, yaitu 8 Dzulhijjah yang disebut dengan yaumu tarwiyah, tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut yaumul ‘arafah dan tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut yaumun nahr. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Internasional, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

GP Ansor Sidoarjo Dapat Bantuan Mobil Patroli

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi Jawa Timur berupa mobil operasional (patroli). Mobil tersebut diberikan oleh pemprov Jatim kepada Ansor Sidoarjo sekitar akhir Desember 2014 lalu.

Mobil ini rencananya akan digunakan untuk bersilaturahmi ke pengurus Ansor yang berada ditingkat Kecamatan se-Sidoarjo. Selain itu akan digunakan PC GP Ansor beserta Banser untuk membantu Kepolisian dan Satpol PP Sidoarjo dalam berpatroli memberantas tindak kriminal yang ada di Sidoarjo.

GP Ansor Sidoarjo Dapat Bantuan Mobil Patroli (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sidoarjo Dapat Bantuan Mobil Patroli (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sidoarjo Dapat Bantuan Mobil Patroli

"Dengan adanya bantuan mobil ini, kami ingin menggunakannya untuk operasional kegiatan NU ke bawah. Selain itu untuk berpatroli membantu aparat dalam memerangi tindak kriminal terutama begal yang sedang marak saat ini. Ansor, Banser dan bantuan dari masyarakat Sidoarjo siap membantu aparat demi terciptanya Sidoarjo yang aman dan kondusif," kata PC GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono, Sabtu (7/3).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono juga mengaku sangat senang dan berterima kasih kepada pemprov Jatim yang telah memberikan bantuan mobil. Dengan adanya bantuan mobil tersebut, Slamet berharap supaya Pengurus Cabang Gerakan Ansor Sidoarjo bisa pro aktif ke bawah. Selain itu, Banser lebih peka lagi terhadap keamanan di Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam melakukan patroli, PC GP Ansor Sidoarjo akan berkordinasi dengan jajaran Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor ditingkat kecamatan. Tidak hanya itu saja, Ansor bersama Banser juga akan menjalin koordinasi dengan aparat Kepolisian Sidoarjo jika ada tindak kriminal atau sesuatu yang mencurigakan supaya cepat dapat dicegah. (Moh Kholidun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Pertandingan, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Pesan Terakhir Kiai Harsono untuk Liga Santri dan Keluarga

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Liga Santri Nusantara LSN) berduka atas meniggalnya pengasuh KH Harsono T. Misaalah, pengasuh Pesantren Khaerat Bintauna, Sulawesi Utara. Ia meninggal saat mendampingi timnya bertanding di stadion Brigif, Cimahi, Selasa (24/10).   

Ini Pesan Terakhir Kiai Harsono untuk Liga Santri dan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Terakhir Kiai Harsono untuk Liga Santri dan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Terakhir Kiai Harsono untuk Liga Santri dan Keluarga

Pada malam hari sebelum meninggal, menurut penjelasan panitia LSN, Irham Ali, almarhum sempat mengobrol dengan panitia dan sempat pula mengontak keluarga. Ia seolah-olah memiliki firasat bahwa waktunya meninggal sudah dekat.

Menurut Irham, almarhum berpesan kepada Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama yang menjadi panitia penyelenggara Liga Santri bekerja sama dengan Kemenpora, agar liga sepak bola antarpesantren itu tetap terus dilanjutkan untuk tahun-tahun berikutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Beliau merasa sangat bangga mendampingi santrinya di event nasional di Bandung. Setelah timnya menang di tingkat regional, mereka punya mimpi besar di tingkat nasional,” kata Irham.

Lig Santri menurut almarhum, merajut dua hal, yang tadinya anak tidak tertarik ke pesantren di daerahnya menjadi tertarik. Kedua, Liga Santri merajut komunikasi antarpesantren baik di daerahnya, antarprovinsi, dan nasional.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Seumur-umur beliau pernah mendapatkannya, pertemuan untuk ukuran santri hingga tingkat nasional. Kalau kiai sudah sering. Liga santri event yang bisa dimanfaatkan,” lanut Irham.

Kiai Harsono juga sempat menelepon keluarganya. Berdasarkan info panitia yang didapat dari keluarga, almarhum mengatakan kepada ke istrinya agar mengikhaskan dirinya jika meninggal tidak di pesantren.

Almarhum, semasa hidup adalah Mustasyar PCNU Bolaang Mangondouw Utara, Sulawesi Utara. Ia adalah mantan Ketua MUI kabupaten itu, dan menjabat Ketua BAZNAS hingga ia meninggal.

Kiai Harsono lahir di Bohabak 14 Mei 1958. Jenazahnya dipulangkan sekitar pukul 02.00 dini hari dari bandara Soekarno Hatta. Kemudian diterbangkan ke Gorontalo. Rute penerbangan memilih jalur itu karena lebih dekat ke kediaman almarhum dibanding melalui Manado.

Sebelum diberangkatkan dari Bandung, sore kemarin, para panitia Liga Santri terlebih dahul melakukan shalat jenazah untuk almarhum. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 02 Januari 2018

Hukum Baca Al-Qur`an via HP ketika Shalat (1)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan video seorang imam shalat yang sedang memainkan hp ketika menjadi imam. Video yang durasinya tidak lebih dari satu menit itu memperlihatkan imam setelah membaca surat Al-Fatihah mengambil HP dari kantong bajunya seolah ingin membaca sms. Namun setelah saya telusuri lagi video fullnya di youtube ternyata berdurasi lebih dari satu jam.

Dalam video tersebut seseorang sedang mengimami shalat Isya dan tarawih. Ternyata imam tersebut mengeluarkan hp dengan maksud membaca surat-surat setiap kali setelah membaca surat Al-Fatihah. Kemungkinan besar karena di masjid tersebut menerapkan satu malam harus mengkhatamkam satu juz. Tetapi si imam bukan seorang hafidz, jadi ia membuka aplikasi Al-Quran di hp-nya.

Hukum Baca Al-Qur`an via HP ketika Shalat (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Baca Al-Qur`an via HP ketika Shalat (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Baca Al-Qur`an via HP ketika Shalat (1)

Pertanyaan saya adalah, apakah tindakan yang dilakukan imam itu diperbolehkan dan dibenarkan? Bukankah itu malah terlihat shalatnya tidak khusyuk? Lalu mana yang lebih baik membaca surat pendek yang dihafal atau menghatamkan 30 juz namun dilakukan dengan cara seperti imam itu? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (M Alfan/Jepara)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jawaban

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penananya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada kami. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan yang terkait dengan boleh-tidaknya seseorang yang menjadi imam ketika membaca ayat Al-Quran melalui HP. Karena keterbatasan ruang-waktu, pertanyaan selanjutnya insya Allah akan kami jawab pada kesempatan lain.

Jelas dalam khazanah fikih klasik, kita tidak akan menemukan jawaban secara langsung atas persoalan ini. Karena ini merupakan persoalan yang tergolong baru. Untuk itu kita mesti mencari cantolannya dalam khazanah fikih klasik.

Sepanjang yang kami ketahui dalam khazanah fikih klasik terdapat penjelasan mengenai orang shalat yang membaca Al-Qur`an melalui mushaf. Hal ini bisa jadi karena ia tidak hafal surah dalam Al-Qur`an sehingga memerlukan bantuan mushaf, atau bisa jadi ia hafal surah yang pendek tetapi tidak hafal surah yang panjang sehingga ketika ingin membaca surah yang sedikit panjang ia menggunakan bantuan mushaf.

Lantas bagaimana pandangan para ulama dalam hal ini? Menurut ulama dari kalangan madzhab Syafi’I, jika seseorang yang shalat membaca Al-Qur`an melalui mushaf baik ia hafal atau tidak maka shalatnya tidak batal, bahkan wajib jika ia tidak hafal surah Al-Fatihah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seandainya ia (orang yang shalat) membaca Al-Qur`an melalui mushaf, shalatnya tidak batal, baik ia hafal atau tidak. Bahkan wajib atasnya membaca lewat mushaf jika tidak hafal surah Al-Fatihah sebagaimana yang telah dijelaskan. Seandainya ia sesekali membuka beberapa halaman mushaf dalam shalatnya, tidak batal. Begitu juga tidak batal shalatnya ketika ia melihat selain Al-Qur`an dalam apa yang termaktub kemudian ia mengulang-ulang dalam hatinya meskipun itu dilakukan dalam rentang waktu lama, akan tetapi hal itu makruh. Demikian pendapat Imam Syafi’i sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Imla`dan telah disepakati para pengikutnya,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 1431 H/2010 M, juz V, halaman 134).

Bahkan seandainya ia sesekali membuka mushaf tetap saja shalatnya tidak batal sebagaimana dikemukakan di atas. Alasannya yang dapat dikemukakan di sini bahwa hal itu merupakan gerakan yang sedikit (yasir). Sedangkan sedikit gerakan dianggap tidak membatalkan shalat sepanjang ada kebutuhan tetapi hanya makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bahwa gerakan yang sedikit—di mana gerakan yang banyak dapat membatalkan shalat—ketika dilakukan dengan sengaja tanpa ada kebutuhan adalah makruh,” (Lihat Muhammad Khathib Asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut-Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 199).

Berangkat dari sini, kami cenderung untuk mengikuti pendapat yang membolehkan membaca Al-Qur`an dalam shalat melalui HP karena di-ilhaq-kan dengan kebolehan membaca Al-Qur`an melalui mushaf dalam shalat. Sekalipun HP yang di dalamnya terdapat aplikasi Al-Qur`an itu bukanlah mushaf, tetapi keduanya baik mushaf maupun HP adalah sama-sama wasilah untuk beribadah. Sedangkan wasilah itu bukanlah ibadah itu sendiri.

Bagi orang yang sudah hafal surah-surah pendek dan ada waktu, kami sarankan untuk menghafal surah-surah yang panjang dalam Al-Qur`an.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 November 2017

1001 Kisah Pohon Kurma

Pohon kurma tumbuh sejak zaman dahulu. Konon, pohon ini sudah tumbuh sebelum manusia diciptakan. Ada kisah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam turun ke bumi ia mendapati bumi ini dihuni oleh barbagai macam tumbuhan. Salah satunya adalah pohon kurma.?

Kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun. Pohon kurma diyakini berasal dari sekitar teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir.

Bukti arkeologis pernah ditemukan dari mumi yang ditutupi oleh tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Selain itu ditemukan juga sebuah pohon kurma utuh di sebuah kuburan kuno di daerah Shakra dan kuburan itu sudah ada sejak 3200 tahun SM (Alvarez-Mon 2006).?

1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)
1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)

1001 Kisah Pohon Kurma

Penduduk jazirah Arab kuno telah memanfaatkan hampir keseluruhan pohon kurma, dari mulai batangnya yang digunakan sebagai tiang-tiang rumah. Pelepah kurma digunakan sebagai atap rumah dan bahan tikar, di samping khasiat buahnya yang banyak mengandung vitamin dan karbohidrat. Kurma adalah makanan yang bisa disimpan sepanjang tahun sebagai penunjang kebutuhan pokok.

Namun bagi umat Islam, kurma lebih dari sekedar buah. Menikmati kurma saat berbuka puasa adalah sunah. Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan”.

Nah, dari sekian banyak cerita tentang kurma, terdapat kisah menggelitik antara Nabi Muhammad dengan menantunya, Ali bin Abi Thalib.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang kumpul bersama. Buah kurma tersaji di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Sahabat Ali yang duduk persis di samping Nabi tanpa sadar telah menghabiskan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain, termasuk milik Rasulullah.

Karena merasa malu atau keisengan sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasulullah. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Nabi.

"Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu." Jawaban Nabi langsung mengundang tawa dari para sabahat lainnya.? (Zunus)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 04 November 2017

Meski Bahas Politik, Munas Bukan untuk Jatuhkan Presiden

Kempek, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj berjanji bahwa Munas dan Konbes Alim Ulama NU di Pesantren Kempek, Palilaman, Cirebon pada 14-17 September 2012 ini meski membahas berbagai pesoalan politik, pajak, kedaulatan pangan, ekonomi kerakyatan, dan sebagainya bukan berarti untuk menjatuhkan Presiden RI. Bahwa NU akan mengkritisi kebijakan pemirintah yang tidak berpihak pada rakyat dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar.

?

“Jadi, NU akan selalu bersama dengan pemerintah selama pemerintah bersama rakyat. Sebaliknya, kalau pemerintah meninggalkan rakyat maka NU akan memberikan masukan sebagai kritik, dan kalau pemerintah melanggar konstitusi, maka akan menyerahkan pada MPR dan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga yang berwenang untuk menyelesaikan masalah itu,” tandas Said Aqil Siradj pada wartawan di arena Munas NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jumat (14/9) malam.

Meski Bahas Politik, Munas Bukan untuk Jatuhkan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Bahas Politik, Munas Bukan untuk Jatuhkan Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Bahas Politik, Munas Bukan untuk Jatuhkan Presiden

Hadir dalam acara ramah tamah dengan peserta Munas NU dan wartawan tersebut antara lain Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, Wakil Ketua Umum H Asa’d Said Ali, Sekjen H Marsudi Suhud,? Bendahara Bina Suhendra, Wasekjen Abdul Mun’in DZ dan shohibut bait KH Ja’far Shodiq Aqil Siroj.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada soal bayar pajak. Di mana dalam Islam yang wajib itu membayar zakat, sedangkan pajak juga wajib dalam kerangka taat pada pemerintah (ulil amri), tapi ketika pajak rakyat itu ternyata dikorupsi, maka lanjut Said Aqil mempertenyakan, apakah masih wajib membayar pajak tersebut? “Padahal pajak itu wajib diperuntukkan-tasharrufkan untuk kesejahteraan rakyat,” tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu ada shodaqoh politik. Menurut Said Aqil, biasanya shodaqoh politik tersebut dilakukan pejabat dan tokoh politik dengan memberikan uang atau barang kepada pesantren dan kiai. “Tapi, bagaimana kalau shodaqoh politik itu bertujuan mendapatkan dukungan politik, apakah itu haram atau bagaimana? Kiai dan ulama NU dalam Munas inilah nanti yang akan menjawab,” tegas Said lagi.

Juga ada masalah qonuniyah atau perundang-undangan. Baik UU perbankan, ketahanan pangan, air, Migas dan sebagainya. UU yang tidak pro rakyat kata Said Aqil, maka Munas NU ini akan memberikan masukan pada pemerintah agar dirubah menjadi pro rakyat. “Misalnya NU akan memperjuangkan petani dengan subsidi yang memadai untuk? mempertahankan ketahanan pangan. Karena kalau pemerintah mamapu memberikan subsidi BBM sebesar Rp 200 triliun lebih, kenapa tidak untuk petani?”? ungkapnya mempertanyakan.

Munas juga akan membahas Pemilukada dalam perspektif Islam, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya dalam semangat Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD NRI 1945, dan NKRI. Karena itu tema besar Munas ini adalah ‘Kembali ke Khittah Indonesia 1945. ?

“Bangsa ini harus melupakan SARA, singkirkan diskriminasi agama, etnis, suku dan golongan, melainkan harus menumbuhkan kembali semangat nasionalisme yang sedang luntur. Karena hanya dengan nasionalisme, bersatu inilah bangsa ini menang melawan penjajahan dan merdeka. Jadi, tak ada lagi aku, kamu, tapi yang ada adalah kita bersama sebagai bangsa,” tutur Said.

Itu antara lain agenda yang akan dibahas dalam komisi-komisi Munas NU. Sementara sebagai pembicara akan hadir antara lain Menko Polhukkam Djoko Suyanto, Mahkamah Konstitusi, Mendikbud M Nuh, Menkokesra Agung Laksono, Menakertrans A Muhaimin Iskandar, Menteri PDT Hilmy A Faisal Zaini, Menpera Djan Faridz, dan para ahli di bidangnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis? : Munif Arpas

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 20 Oktober 2017

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya

Muhadditsin membagi hadits ke dalam tiga kategori: shahih, hasan, dan dhaif. Kategori ini dibagi berdasarkan kualitas hadits dengan ukuran kualitas perawi dan ketersambungan sanadnya. Kualitas hadits yang paling tinggi adalah shahih, kemudian hasan, dan terakhir dhaif. Menurut sebagian ulama, hadits dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hasan.

Hadits dhaif tidak sama dengan hadits maudhu’, atau palsu. Hadits dhaif memang dinisbahkan kepada Rasulullah, tetapi perawi haditsnya tidak kuat hafalan ataupun  kredibilitasnya, atau ada silsilah sanad yang terputus. Sementara hadits maudhu’ ialah informasi yang mengatasnamakan Rasulullah SAW, tetapi sebenarnya bukan perkataan Rasulullah SAW.

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya

Ulama sepakat bahwa mengamalkan hadits dhaif dibolehkan, selama tidak berkaitan dengan hukum halal dan haram, akidah, dan hanya sebatas fadha’il amal. Dengan demikian, menyampaikan hadits dhaif, seperti mengutip hadits dhaif dalam buku atau menyampaikannya dalam pengajian dan majelis taklim dibolehkan.

Hasan Muhammad Al-Masyath dalam Al-Taqriratus Saniyyah fi Syarahil Mandzumah Al-Bayquniyyah menjelaskan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Sebagian ulama membolehkan periwayatan hadits dhaif tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan beberapa syarat: hadits tersebut berisi kisah, nashat-nasihat, atau keutamaan amalan, dan tidak berkaitan dengan sifat Allah, akidah, halal-haram, hukum syariat, bukan hadits maudhu’, dan tidak terlalu dhaif.”

Merujuk pada pendapat ini, para dai dibolehkan untuk menyampaikan hadits yang berkaitan dengan kisah-kisah dan motivasi dalam ceramahnya meskipun tidak menjelaskan kualitas hadits yang disampaikan kepada jamaahnya. Hal ini dibolehkan dengan catatan hadits yang disampaikan tidak berkaitan dengan akidah, persoalan halal dan haram, bukan hadits palsu, dan haditsnya tidak terlalu dhaif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Sunnah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Astanajapura menggelar diskusi publik bertema Gerak HTI Pasca-Perppu di Annidzomiyah, Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jumat (6/10).

Kegiatan ini diisi oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor H Nuruzzaman, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Lesbumi, dan Tenaga Ahli Kementerian Agama Muhammad Sofi Mubarok.

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah Muhammad Sofi Mubarok memaparkan kesalahan penggunaan dalil-dalil yang diklaim oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai dalil tegaknya khilafah.

Salah satunya tentang tafsiran ulil amri pada Al-Quran Surat An-Nisa ayat 59. HTI mengklaim mutlaknya tafsiran tersebut sebagai kewajiban menegakkan khilafah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka tidak peduli apakah ulil amri itu tafsirannya banyak atau tidak, yang mereka pahami secara literal adalah kepala negara,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal ini kemudian diperkuat dengan propaganda yang diutarakan oleh Abu Bakar Baasyir, bahwa kita (Abu Bakar Baasyir dan kelompoknya) membaca Al-Quran dan mengamalkannya dan menuduh kelompok lain hanya membaca dan menafsirkannya saja.

Sementara itu, Komandan Densus 99 Nuruzzaman menyampaikan, bahwa bagi HTI Indonesia wajib diganti menjadi khilafah karena bentuk negara selama ini dinilai negara kafir.

“Bagi HTI Indonesia adalah negara kafir sehingga wajib diganti dengan sistem Islam yang bernama khilafah,” katanya.

Penyebaran ideologi HTI tetap akan terus berlangsung meski secara organisasi sudah dibubarkan melalui Perppu nomor 2 Tahun 2017. Mereka sedang melakukan lobi-lobi di beberapa lembaga negara. Ia mengingatkan para peserta untuk mengajak diskusi orang-orang HTI, tidak malah mempersekusinya.

“Meskipun HTI dibubarkan, tapi penyebaran ideologi tetap ada dan akan berlangsung. Tugas kita adalah mendatangi dan mengajak diskusi bukan mempersekusi mereka,” lanjutnya.

Abdullah Wong, alumnus Pondok Pesantren Lebaksiu, Tegal, itu menyampaikan, bahwa di tengah orang-orang ramai memikirkan bagaimana pemimpin, tapi Nahdlatul Ulama memikirkan bagaimana umat. Hal ini menurutnya selaras dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah sesaat sebelum wafatnya, yakni memikirkan bagaimana umatnya.

Penulis novel Mata Penakluk: Manaqib Abdurrahman Wahid itu mengatakan, bangsa Indonesia mesti bersyukur masih ada Nahdlatul Ulama.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sahabat Agung Firmansyah ini dihadiri oleh Ketua MWCNU Astanajapura KH Ahmad Zuhri Adnan, perwakilan Polsek dan Danramil Astanajapura, perwakilan Fatayat Astanajapura, dan IPNU Kabupaten Cirebon, serta beberapa tokoh masyarakat, pemuda, dan pelajar Astanajapura. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Sunnah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 29 September 2017

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan

Tegal, NU Onlie

Dalam rangka mengisi kegiatan Ramadhan 1438 Hijriyah dan upaya membentuk karakter siswa, SMK Nahdlatul Ulama 01 Slawi Tegal mengadakan kegiatan Pesantren Ramadhan. Kegiatan berlangsung mulai Senin (29/5) hingga dua minggu kedepan di Gedung PCNU Kabupaten Tegal.

Kepala SMK NU 01 Slawi, H Ali Saefudin mengatakan, pesantren ramadhan ini merupakan agenda rutin setiap tahun di bulan Ramadhan. Kegiatan pesantren diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI.

"Pesantren Ramadhan ? ini dilaksanakan dengan sistem bergilir, sehingga bagi siswa yang tidak ikut pesantren masih bisa mengikuti pelajaran reguler," katanya.

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentuk Karakter, SMK NU 1 Slawi Adakan Pesantren Ramadhan

Menurut Ali, kegiatan pesantren ini merupakan suatu kegiatan yang sangat positif untuk dilakukan dalam rangka membentuk karakter islami kepada anak didiknya.?

Selain itu juga untuk meningkatkan akhlakul karimah para siswa. "Pada prinsipnya kegiatan ini sebagai upaya kami untuk membentengi akhlak dan moral anak, agar tidak terpengaruh pada budaya global yang negatif," ujar Ali

Dalam kegiatan pesantren, imbuhnya, setiap harinya diawali dengan tahlil dan istighosah bersama siswa dan guru. Selanjutnya baru diisi dengan sejumlah materi seperti tadarus Al Quran, sejarah islam, khitobah dan fiqih puasa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Selain diisi oleh guru setempat, Pesantren Ramadhan juga menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya Bupati Tegal, Ki Enthus Susmono dan KH Lutful Hakim," pungkasnya.

Kegiatan Pesantren Ramadhan SMK NU 01 Slawi akan berlangsung hingga 10 Juni 2017 mendatang. (Hasan / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sunnah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 25 September 2017

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pedantren akan menggelar peringatan Hari Santri 2017. Gelaran kali ketiga ini mengusung tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamarudin Amin menyampaikan, bahwa dengan tema tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak bisa dipisahkan dari fenomena Keislaman, Keindonesiaan, dan Kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekhasan inilah yang menjadi kekuatan untuk menopang keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri 2017, Kemenag Angkat Tema Wajah Pesantren, Wajah Indonesia

“Tema ini menunjukan bahwa pesantren itu darahnya merah putih. Santri religius yang nasionalis. Ini merupakan indentitas santri yang sangat mapan,” ujar Kamaruddin saat Jumpa Pers di Jakarta, Rabu (4/10).

Dikatakan Kamaruddin, Pesantren disamping membekali ilmu agama (tafaquh fiddin), megkader ulama yang nasionalis juga membekali santrinya menjadi warga negara yang baik, bagaimana hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain melalui pergaulan dari berbagai latar belakang budaya.

“Antara Identitas, agama dan kewarganegaraan, menyatu dalam intetas pondok pesantren. Jadi santri itu sangat sadar akan identitasnya sebagai seorang muslim dan identitasnya sebagai warga negara,” sambung Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren, lanjut Kamaruddin, memiliki berkontribusi besar terhadap munculnya semangat dan nasionalisme Keindonesiaan yang tidak terbantahkan dalam rentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya pesantren adalah Lembaga pendidikan khas Indonesia dan genuine otentik muncul dan lahir di Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain.

“Pesantren penjaga gawang keberagamaan umat. Indonesia memiliki potensi disentragif, tapi karena pesantren hadir dan berkontribusi secara fundamental merawat keberagaman ini,” imbuh Kamaruddin.

Beberapa rangkaian kegiatan meramaikan dalam rangka Hari Santri 2017, diantaranya; Lomba Komik dan Kartun Stip, Malam Pembacaan Puisi Santri “Ketika Kiai_Nyai-Santri Berpuisi: Pesantren tanpa Tanda Titik”, Santri Enterpereuner Competition, Shalawat Kebangsaan dan Konfigurasi MOP Santri untuk Negeri, Pemecahan Rekor Muri Komik Santri Terpanjang (300 M), Upacara Bendera dalam rangka hari Santri, Santri Writer Summit, Pesantren Expo dan Musabaqoh Qiroatul Kutub (MQK) Nasional. (Kemenag/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 September 2017

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Interfaith dialoque atau dialog antaragama kini sangat sering dilakukan di mana-mana, dari level lokal sampai dengan level internasional. Tetapi persoalannya, dengan intensitas yang begitu tinggi, kenapa kurang berpengaruh terhadap perdamaian dunia?

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa “Interfaith Dialogue” Kurang Berpangaruh?

?

Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Machfoedz menjelaskan, selama ini dialog antaragama dilakukan untuk menjelaskan karakter masing-masing agama, termasuk upaya untuk menghilangkan islamophobia. Sekalipun dialog antaragama sudah dilakukan di mana-mana islamophobia tidak pernah sembuh.?

“Ini karena kita (umat Islam) sering membuat satu kecelakaan-kecelakaan dengan adanya tindak radikalisme yang sebetulnya tidak perlu,” tuturnya.?

Ia berkesimpulan, sebelum melangkah dalam melakukan dialog antaragama, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah dialog antar pemeluk Islam.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami menyadari bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan sebelum interfaith dialogue. Kami membahasakannya intrafaith atau dialog antara sesama pemeluk Islam,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Dari latar belakang itulah, PBNU akan menggelar International Summit of Moderat Islamic Leaders (Isomil) yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 9-11 Mei 2016.

?

Maksum Machfoedz yang juga guru besar UGM ini juga menyatakan, dalam pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa bangsa Indonesia akan turut serta mencapai perdamaian dunia. “Nah, Kalau persoalan intrafaith tidak selesai, ikut menyelesaikana persoalan dunia dari mana kalau negara yang mayoritas Islam itu tidak bisa menyelesaikan persoalan dalam umat Islam,” katanya disela-sela kesibukannya mempersiapkan penyelenggaraan konferensi internasional ini.

Dalam forum tersebut, akan diperkenalkan tentang Islam ahlusunnah wal jamaah an Nahdliyah atau sekarang ini akrab disebut dengan nama Islam Nusantara.

?

“Islam ala NU bisa menjadi perekat pergaulan umat untuk membangun peradaban dunia. Untuk menjadi inspirasi terciptanya tata pergaulan dunia baru,” tegasnya.?

Maksum menjelaskan, sebelumnya pemerintah sudah menyelenggarakan konferensi internasional yang digelar atas nama Organisasi Konferensi Islam (OKI). Bedanya, konferensi oleh OKI sifatnya government to government (G to G) sedangkan Isomil sifatnya people to people (P to P).?

“Ini pertemuan antara ulama moderat atau yang agak moderat. Ini pertemuan antar kia,” paparnya.?

Ia menjelaskan, sebelumnya, PBNU sudah pernah menyelenggarakan konferensi yang hampir sama. Dalam kesempatan tersebut diundang para ulama dari Afganistan yang dalam banyak hal memiliki kesamaan, tetapi bermusuhan. Mereka dipertemukan dalam serangkaian acara sebagai upaya agar lebih saling mengenal satu sama lain. ?

“Terakhir, saya menemani rombongan Afganistan di UGM. Mereka belajar Pancasila. Pulang, mereka punya NU di Afganistan. Mereka mengakui Pancasila, toleransi, pentingnya nasionalisme dan sebagainya,” katanya.?

Dengan pengalaman seperti itu, kalau orang Afganistan saja bisa, yang lain insyaallah juga bisa. “Antar masyarakat Islam ini harus membangun upaya berfikir bersama, memahami bersama, maka bisa tasamuh, sudah bisa toleran.”?

Meskipun acaranya bersifat people to people, tapi yang membuka adalah Presiden RI sedangkan yang menutup acara oleh Wakil Presiden RI. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 08 September 2017

Liga Santri 2017 Diikuti 1.024 Tim dari 34 Provinsi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Liga Santri NUsantara (LSN) 2017 yang akan digelar Agustus hingga Oktober diikuti 1024 tim atau pesantren yang berasal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Dengan jumlah tim seperti itu, babak penyisihan dibagi ke dalam 32 zona. Sementara pertandingan dari awal hingga akhir diperkiran 990 pertandingan.?

Menurut Ketua LSN 2017 KH Abdul Ghofarrozin, LSN menerapkan peraturan dan mekanisme pengawasan sesuai dengan persyaratan yang berlaku secara nasional dan internasional.?

Liga Santri 2017 Diikuti 1.024 Tim dari 34 Provinsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri 2017 Diikuti 1.024 Tim dari 34 Provinsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri 2017 Diikuti 1.024 Tim dari 34 Provinsi

"Untuk menjaga profesionalitas pertandingan, LSN dilaksanakan bekerja sama dengan Asosiasi Wasit Perangkat Perlandingan Profesional Indonesia (AWAPPI)," katanya pada peluncuran LSN 2017 di gedung PBNU, Jakarta, Kamis malam (27/7).?

Lebih lanjut ia mengatakan, sepak bola sebagai olahraga yang digemari dan mudah diserap menjadi bagian dari rajutan kehidupan sosial budaya Indonesia karena kesederhanannya. Sepak bola terbukti mampu menjadi sebuah kegiatan yang inklusif dan menembus sekat-sekat perbedaan suku, etnis, bahasa, keyakinan, serta simbol-simbol primordial lainnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di pesantren, eratnya sepak bola dengan kehidupan santri menjadikan olahraga ini sebagai kegiatan unggulan” pungkas Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Sunnah, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 10 Agustus 2017

Para Pendukung Chaves Gabung di PSUV

Caracas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hampir 60 persen rakyat Venezuela yang memilih Presiden Hugo Chaves pada pemilu Desember silam telah mendaftarkan diri di Partai Sosialis Bersatu (PSUV). Demikian diungkapkan pengamat politik Albertio Muller, Selasa (11/6).

Dalam pernyataanya pada program En Vivo di sebuah stasiun televisi Venezolana de Television, Jenderal Muller yang juga anggota Komisi Tetap PSUV menegaskan adanya fakta yang menunjukkan, 5.4 juta rakyat Venezuela telah mendaftarkan diri untuk bergabung dengan PSUV.

Para Pendukung Chaves Gabung di PSUV (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pendukung Chaves Gabung di PSUV (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pendukung Chaves Gabung di PSUV

Muller menyatakan bahwa proses registrasi, seperti disimpulkan pada Minggu lalu, mencapai lebih dari 50 persen suara yang akan mendukung Chaves untuk kembali memimpin negara kaya itu pada pemilu berikutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muller juga menambahkan adanya fakta yang menunjukkan begitu banyak rakyat yang mendaftar untuk bergabung dengan sebuah partai yang akan menopang perkembangan sosialisme di Venezuela.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Oposisi tidak dapat memobilisasi lebih dari 10 persen suara untuk mendukung agendanya," kata Muller seperti dilansir sumber Prenza Latina. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 30 Juli 2017

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Compreng Kabupaten Subang akan segera memiliki sekretariat permanen.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua MWC NU Compreng, Tata Casmita usai penyelenggaraan Halal Bihalal dan Shilaturahmi Ulama dan Umaro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Compreng bekerja sama dengan MWC NU Compreng di Pendopo Kecamatan, Sabtu (22/7).

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

"Alhamdulillah, peletakan batu pertama sudah kita lakukan sekitar bulan Mei kemarin. Dalam momentum halal bihalal ini, kita harapkan progresnya semakin meningkat," ujar Tata yang merupakan Ketua Penyelenggara Halal Bihalal tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pihaknya berharap proses konstruksi pembangunan sekretariat tersebut bisa segera direalisasikan sehingga bisa selesai pada 2018 mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Alhamdulillah pembangunan sekretariat ini mendapatkan support dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Subang sehingga pengerjaannya bisa cepat selesai," jelasnya.

Camat Compreng, Deni Setiawan mendorong dan mendukung cita-cita MWC NU Kecamatan Compreng tersebut sebagai pusat kegiatan dakwah Islam di wilayahnya.

"Nantinya ini akan dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadi benteng ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dengan keikutsertaan semua kepala desa, mudah-mudahan cita masyarakat Compreng sgera terlaksana," paparnya.

Sekretariat MWC NU Kecamatan Compreng tersebut rencananya akan dibangun di lahan seluas 28 X 19 persegi. Rencananya, sekretariat yang percis berada di depan Kantor Camat Compreng tersebut akan dibangun dua lantai. Selain itu, lokasinya juga berdampingan dengan Masjid Agung Kecamatan Compreng, As-Saad. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 25 Juni 2017

NU Sulsel Layani Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Makassar

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dan Pimpinan Wiyalayah Muslimat NU menggelar pemeriksaan kesehatan gratis untuk masyarakat umum di Aula Rusunawa UMI? Kelurahan Pampang Kecamatan Panakukang Kota Makassar, Ahad (10/4).

Bakti sosial sosial ini terselenggara atas kerja sama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sulsel dan Tim Bantuan Medis (TBM) 110 UMI.

NU Sulsel Layani Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel Layani Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel Layani Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Makassar

Menurut Ketua PW LKNU Sulsel Prof dr HM. Syafar, program ini membawa dampak positif bagi masyarakat di sekitar kampus UMI. Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi agenda rutin setiap tahun yang dilaksanakan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam aksi kemanusiaan ini,? panitia menyediakan pemeriksaan tes glukosa untuk masyarakat yang menderita diabetes mellitus. Selain itu melayani konsultasi kesehatan dan pemeriksaan gigi dengan dokter yang kompeten di bidangnya.

Ketua Muslimat NU Sulsel Hj A Majdah M Zain mengungkapkan, menjaga kesehaatan adalah kewajiban setiap orang. Kegiatan ini bertujuan untuk melayani masyarakat kurang mampu yang selama ini sulit untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan dengan gratis. “Pemeriksaan kesehatan gratis ini diikuti 100 warga kelurahan Pampang,”? katanya.

Ketua Bidang Kesehatan UMI Arman menyampaikan, kegiatan ini merupakan salah satu? implementasi? dari tri darma perguruan tinggi, yakni pengabdian pada masyarakat. Menurutnya, masih banyak warga yang belum mampu mengakses pelayanan kesehatan gratis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena itu mudah-mudahan kegiatan ini membantu masyarakat untuk mendpatkan layanan kesehatan secara gratis. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan dalam rangka menyambut milad UMI yang tahun ini berumur 62 tahun."

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, pengurus Ikatan Apoteker Indonesia Sulsel Ambo intang, Aulia dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, Direktur Program Pascasarjana UIM Dr. Hj. Nurul Fuadi, Ketua Fatayat NU Sulsel Nurul Ulfah. (Sudirman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 16 Juni 2017

Muslim dan Biksu Myanmar Kunjungi PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Satu rombongan yang terdiri dari muslim dan biksu dari Myanmar melakukan kunjungan ke PBNU. Mereka meminta dukungan dalam mengatasi bencana Nargis yang baru melanda negeri tersebut dan upaya demokratisasi di negeri yang kini dipimpin oleh militer.

Anggota rombongan diantaranya Muhammad Taher, muslim dari Rangoon University yang sudah meninggalkan negera tersebut sejak tahun 1982 dengan alasan agama dan saat ini menjabat direktur eksekutif Kaladan News Agency di Bangladesh.

Muslim dan Biksu Myanmar Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim dan Biksu Myanmar Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim dan Biksu Myanmar Kunjungi PBNU

Selain itu adalah Soe Aung, juru bicara The National Council of the Union of Burma (NCUB) yang merupakan organisasi paying terbesar untuk kaum pro-demokrasi dan Roshan Johan, direktur eksekutif Asean Inter-Parliamentary Mymar Caucus (AIPMC)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muhammad Taher menjelaskan muslim di Myamar yang jumlahnya sekitar 4 persen atau 800 ribu jiwa dari total penduduk ini mengalami banyak hambatan dalam menjalani kehidupan dan beribadah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa hambatan yang dialami pemeluk agama minoritas adalah pelarangan membangun masjid untuk tempat ibadah, pelarangan pendirian ormas agama sehingga tidak memungkinkan membeli asset bagi organisasi, pelarangan peringatan hari besar Islam, termasuk Idul Adha, pembatasan Qur’an, pembatasan haji dan hal lainnya yang mengurangi kebebasan untuk menjalankan ibadah.

Mengenai badai Nargis yang melanda negeri itu tiga pekan lalu, anggota rombongan memperkirakan sekitar 200 ribu jiwa tewas dan 2 juta lainnya merana. Saat ini para pengungsi mengalami kekurangan makan, air bersih, obat-obatan dan tempat yang layak. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Burma masih membatasi bantuan yang datang dari luar negeri sehingga para korban semakin menderita.

Atas berbagai persoalan tersebut, KH Hasyim Muzadi menyatakan siap memberikan bantuan yang diperlukan. Dalam hal ini, PBNU akan memberikan dukungan, salah satunya dengan menyampaikan pada Sekjen Asean Surin Pitsuwan yang akan berkunjung ke PBNU dalam waktu dekat.

Ia menuturkan, perjuangan untuk mencapai kebebasan memerlukan waktu dan tahapan yang panjang. “Indonesia sendiri membutuhkan waktu lebih dari 60 tahun untuk menjadi negera yang demokratis,” katanya.

Selain, itu beberapa ulama Mymar akan diundang untuk mengikuti International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ke-3 yang akan diselenggarakan pada akhir Juli mendatang. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Quote, Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Juni 2017

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Pernah suatu kali jamaah shalat Jum’at dikagetkan dengan tindakan Nabi Muhammad SAW di sela-sela khotbahnya. Rasulullah mendadak turun dari mimbar lantaran kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husain, menangis.

Nabi segera menghampiri Hasan dan Husain yang saat itu sedang ikut di masjid dan berusaha menenangkan keduanya. Melalui bahasa isyarat dan kelembutan hatinya, tangisan mereka mereda, dan beliau pun melanjutkan khotbahnya hingga selesai. Tak pernah Nabi membaca khotbah lebih panjang dari shalatnya.

Peristiwa lain tentang ”tingkah usil” kedua cucu mungilnya ini juga terjadi saat Rasulullah sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu selayak menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.

Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia mulia ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyangnya.

Rasulullah mencontohkan betapa kasih sayang terhadap keluarga dan anak kecil adalah sikap yang harus diutamakan. Sikap Nabi ini juga mencerminkan kepekaannya tentang menghargai keterbatasan seseorang, baik dalam hal kondisi fisik, daya tangkap, ataupun tingkat pengetahuan. Keluhuran akhlak Nabi terpancar justru saat segenap keputusannya tersebut menjadi prioritas, melebihi ritus keberagamaan. (Mahbib Khoiron)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 07 Mei 2017

Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum PP Fatayat NU Maria Ulfa Anshor meminta agar kader-kader Fatayat di seluruh Indonesia bisa mengimbangi tantangan globalisasi yang saat ini pengaruhnya masuk sampai ke pelosok-pelosok Indonesia.

Hal tersebut dikatakannya dalam pembukaan Rekernas Fatayat NU yang diselenggarakan di Puncak Kamis malam (4/5). Hadir dalam acara tersebut pengurus Fatayat NU dari 25 propinsi dan para pengurus cabang dari DKI Jakarta.

Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Harus Mampu Hadapi Tantangan Globalisasi

Maria menuturkan bahwa ia sempat ditanya oleh ketua Fatayat NU Sulawesi Tenggara di Kendari yang mempertanyakan bagaimana hukumnya yasinan dan tahlilan, padahal ini merupakan tradisi yang sudah dijalankan oleh nahdliyyin sejak lama.

Pertanyaan tersebut muncul karena MUI di daerah Bau Bau memfatwakan bahwa kegiatan tersebut haram hukumnya sehingga warga nahdliyyin menjadi resah. “Kita tahu bahwa Bau Bau terletak di Pulau Buton yang masih harus ditempuh beberapa jam dari Kendari. Ini artinya ideologi transnasional sudah masuk ke pelosok Indonesia,” tuturnya dengan nada prihatin.

Ditegaskannya bahwa gerakan-gerakan sistematis tersebut harus diwaspadai karena yang menjadi korban akhirnya warga nahdliyyin yang saat ini merupakan mayoritas di Indonesia.

Berkaitan dengan liberalisasi ekonomi, Maria Ulfa yang baru saja menjabat sebagai anggota DPR RI melalui mekanisme pergantian antar waktu, menjelaskan bahwa pemerintah tak berdaya dalam melindungi rakyat kecil dengan usaha mikronya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dicontohkannya ekspansi konsep pertokoan modern seperti Alfamart dan Indomart sampai ke pelosok pedesaan telah mematikan usaha mikro dan usaha kecil yang dimiliki masyarakat.?

Dalam mensikapi semua hal tersebut, Maria Ulfa meminta agar Fatayat NU di daerah melakukan konsolidasi internal dengan penguatan pengurus dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bisa memberdayakan masyarakat dan mengimbangi gerakan transnasional.

“Pendirian Fatayat NU di tingkat kecamatan dan di tingkat desa atau pengurus ranting yang menjangkau masyarakat secara langsung harus digalakkan,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terdapat empat tema yang program utama Fatayat NU yang dibahas dalam rakernas ini dalam memberdayakan perempuan. Program tersebut meliputi peningkatan pendidikan, peningkatan kesehatan, kemandirian ekonomi dan peningkatan partisipasi politik. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Sunnah, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah