Rabu, 30 Agustus 2017

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks

Ujian dan cobaan bisa mimpa siapa saja bahkan ulama hebat sekalipun, bahkan Nabi sudah terbiasa dengan berbagai macam teror, ejekan, dan tuduhan-tuduhan hoaks. Nah, hoaks itu pun pernah dialami oleh ulama kelas top dunia, Imam Syafii rahimahullah. Hal naas tersebut hampir saja menghilangkan nyawa sang cucu Idris.

Imam Syafii atau Abu Abdillah Muhamad bin Idris (150 H / 767 M) merupakan sosok ulama yang baik budi pekertinya. Pun demikian, akhlak yang baik tidak selamannya memperoleh respon yang baik pula. Peristiwa tersebut dialami Imam Syafii saat berada di Yaman. Sudah jadi kebiasaan Imam Syafii, diamanpun selalu berusaha memberikan banyak wawasan keilmuan. Agenda perubahan tersebut terus memperoleh tanggapan positif dari banyak masyarakat dan akademisi, bahkan penguasa Yaman kala itu.

Terang saja, capaian dan prestasi selalu tidak melegakan dan membuat sebagian oknum tidak terima atas penghormatan yang diperoleh guru Imam Ahmad bin Hambal ini. Orang-orang yang tidak suka tersebut mengatur siasat dengan membuat laporan yang tidak benar kepada kholifah Harun ar-Rosyid. Mereka mengadukan, bahwa “murid Imam Malik ini sebagai pendukung Abdullah bin al-Mahdli al Mutsanna bin Husein putra Ali kw dan Fatimah ra, cucu rasulullah SAW (alawiyyin)”.

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks

Nah, berita hoaks tersebut berhasil mendorong Harun ar-Rosyid mengeluarkan surat perintah pengamanan dari segala sesuatu yang disinyalir sebagai gerakan separatis kepada pemimpin Yaman. Agar wali Yaman menyerahkan dan memboyoh kelopok alawiyin ke Bagdad. Karena di bawah kekuasaan kholifah, para sindikat separatis dan pemberontak tersebut ditangkap serta diborgol dan digiring ke istana Harun ar-Rasyid, termasuk murid dari murid Abu Hanifah ini pula alias Imam Syafii.

Setelah tiba di hadapan sang Kholifah, gerombolan yang yang didakwa pemberontak satu persatu dimasukkan di sebuah ruangan tertutup dan dipenggal kepalanya. Semua yang sudah terdata sebagai kelompok perongrong kekuasaan diekseskusi jagal istana. Melihat itu, Imam Syafii diselimuti rasa cemas dan khawatir atas nasib dirinya. Lantas Imam Syafii berdoa dengan membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? “ dan doa ini dibaca berulang-ulang sampai tiba giliran pelopor madzhab Syafiiyah ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan keadaan terbelenggu Imam Syafii diminta menghadap ke kholifah, lantas dengan tenang terjadi obrolan:

Imam Syafii: “Assalamu alaika Ya Amirol Mukminin ...wabarokatuh “ (tanpa warahmatullah).

Harun ar-Rasyid: “Wa alaikas salam warohmatullahi wa barokatuh ! kamu memulai sesuatu sunnah yang tidak ada perintahnya, sementara saya menjawab salam sebagaimana seharusnya. Dan heran, beraninya engkau mengatakan sesuatu tanpa perintah dariku?! (sergah Kholifah)”

Imam Syafii: “Sesungguhnya Allah telah berkata dalam kitabnya,?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? “ (An-Nur: 55).

Dan Dialah Dzat saat telah berjanji, pasti menepati, dan Dialah pula yang telah menempatkan (memberikan kedudukan) engkau di buminya, dan telah memberikan keamanan kepadaku saat aku khawatir, pada saat engaku menjawab salam ? dengan “wa alaika wa rohmatullah (dan atasmu keselamatan dan rohmat Allah)”, dan tentu Rahmat Allah telah menanungiku melalui anugerahmu (garansimu) wahai Amirul Mukminin ?”

Harun Ar-Rosyid: “Ok, Lantas apa alasanmu perihal telah nampak bahwa temanmu (Abdullah bin Hasan) telah sewenang-wenang (berontak) begitupun para pengikutnya, sementara engkau jadi pemimpinnya?!”

Imam Syafii: “Oh, begini! kalau maksud engkau hendak menginterogasi (mengkonfrmasi) saya, dan tentu saya akan bersikap adil dan jujur apa adanya,akan tetapi kalau keadaan saya terborgol dan terbelenggu begini, njjih susah untuk berbicara wahai Amirul Mukminin, pripun ? dan sampon khawatir kalau saja akan bersikap tidak fair dengan anda, So, saya akan bersikap tunduk dengan duduk sambil berlutut dihadapanmu!”

Mendengar permintaan tersebut Harun ar-Rasyid menoleh dan meminta putranya untuk melaksanakan permohonan yang diajukan oleh Imam Syafii. Dalam kondis berlutut, Imam Syafii berucap,?

“? ? ? ? ? ? ? “ (Al-Hujurat: 6)

Hanya Allah, bahwa apa yang telah orang tersebut (pendengki) telah memprovokasi anda dengan berita yang anda terima, ketahuliah bahwa kehormatanku ialah kehormatan islam dan keturunan (orang) biasa, cukup itu yang jadi perantara saya selama ini, sementara engkau lebih berhak mengambil adab-adab dalam kitab Allah. Karena anda adalah putra dari paman Rasulullah SAW yang pembela agama dan penjaga ajaran-ajaranya.

Pengakuan Imam Syafii membuat Harun ar-Rasyid bertepuk tangan seraya berkata : “agar supaya deritamu berkurang dan longgar jiwamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang akan merawat kerabatmu dengan hak-haknya begitupun ilmu yang kamu miliki. Sang Kholifah meminta Imam Syafii untuk duduk dengan nyaman. Lantas Harun ar-Rasyid bertanya:

Harun ar-Rasyid: Bagaimana Ilmumu (wawasanmu) wahai Syafii, terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, keduanya sesuatu hal yang pertama dan utama untuk dimengerti?”

Imam Syafii: “Kitab yang mana yang anda maksudkan wahai amirul mukminin, sementara banyak kitab yang telah diturunan oleh-Nya?” (timpal Syafii pede) (olahan penterjemah)

Harun ar-Rasyid: “Bagus! tentu saja, yang saya maksudkan adalah kitab yang telah diturunan kepada putra pamanku Muhammad SAW, wahai Syafii?” (jelas Harun)

Imam Syafii: “Ohh, begitu ya! Ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an sungguh banyak, apakah anda hendak tahu muhkam, mutasyabih, taqdim, ta’khir atau tentang nasikh, mansukh, dan lain-lain. ? Tanpa banyak basa-basi, Imam Syafii menerangkan dengan seksama wawasan tentang Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, hingga seluruh yang hadir takjub dan terpesona (heboh).

Kemudian, Harun ar-Rasyid merubah ke pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai disiplin ilmu: falak, kedokteran, dan ilmu psigonomi (firasat) dan semacamnya. Dan pertanyaan apapun yang ditujukan padanya berhasil dijawab dengan baik dan maksimal oleh Imam Syafii hingga membuat Harun ar Rasyid (Kholifah) gembira dan bahagia.

Lantas, kholifah meminta nasehat untuknya. Imam Syafii pun memberikan nasihat kepada Harun ar-Rasyid, hingga membuat hati kholifah gemetar dan menangis tersedu-sedu. Meskipun para sebagian punggawa istana masih kurang terima, namun Imam Syafii tetap melanjtkan permohonan nasehat oleh Kholifah. Dan akhirnya, Imam Syafii terbebas dari segala tuduhan hoax dan fitnah dari orang-orang yang tidak suka kepadanya dan selamatlah dari eksekusi. ( ? ? ? ). Al-fatihah.

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.

Kisah diambil dan diolah dari muqoddimah kitab “al-Umm” Cet. I, tashih oleh Muhammad Zuhri an-Najjar (Ulama Azhar), Kairo: Maktabah Kulliyat al-Azhariyah, 1961 M / 1381 H.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Berita, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahiwainnailahirajiun. Kabar duka datang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Salah seorang ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) H Akhsan Ustadzi meninggal dunia, Sabtu (11/3), pukul 03.00 WIB.

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor Ifan Haryanto membenarkan kabar ini. Menurutnya, kabar wafatnya mantan wasekjen PP Pergunu periode lalu itu cukup mendadak.

“Teman-teman (NU Bogor) juga sempat kaget. Beliau kecapekan,” katanya saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu pagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekretaris PP Pergunu Suhardi menjelaskan, karena kecapekan almarhum sempat pingsan ketika sampai di rumah, hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Prima Medika.

“Saya Bersaksi selaku Sekretaris Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, beliau orang baik,” tuturnya di akun Facebook.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ucapan duka bertebaran di dunia maya datang dari rekan, mahasiswa, aktivis NU, dan berbagai Pimpinan Cabang Pergunu. Mereka mengungkapkan kenangan manis bersama Akhsan yang dinilai sebagai sosok yang supel, pekerja keras, dan penuh inspirasi. Akhsan Ustadzi juga tercatat sebagai kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah untuk wilayah Bogor dan sekitarnya sebelama beberapa tahun sebelum aktif di PP Pergunu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Berita, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 Agustus 2017

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah

Beirut, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebanyak 17 orang asal Indonesia yang bergabung dengan kelompok ISIS di kota Raqqa, Suriah Utara diserahkan ke perwakilan otoritas Indonesia dan telah meninggalkan Suriah.

Informasi tersebut disampaikan seorang juru bicara dan pejabat Kurdi Suriah, Rabu, sebagaimana dilansir AP, Kamis (10/8).

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah

Ketujuh belas WNI yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak itu meminta kepada otoritas setempat untuk dipulangkan. Menurut pejabat Kurdi, Omar Alloush, mereka lantas diserahkan pada Selasa kemarin di persimpangan perbatasan Suriah-Irak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kabar tentang penyerahan tersebut juga telah dikonfirmasi oleh juru bicara Unit Perlindungan Wanita Kurdi, Nisreen Abdullah, meski hingga kini identitas belasan orang itu belum terpublikasi.

Terkait hal ini Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengaku telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak berkuasa di sana, termasuk otoritas Kurdi Suriah Utara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia bercerita, dalam diskusi awal pihaknya memperoleh informasi bahwa ke-17 orang itu bukan bagian dari pasukan ISIS. Sebagian menghabiskan waktunya di penjara ISIS atau kondisi terisolasi lainnya, dan telah melarikan diri dari Raqqa dengan bantuan pihak ketiga pada 10 Juni.

(Baca: Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah)



"Komunikasi kita dengan pihak-pihak itu lebih mengarah pada situasi kemanusiaan," kata Iqbal.

Ia mencatat, keluarga tersebut juga mencakup orang usia remaja dan tiga anak kecil. "Kondisi keamanan di daerah ini begitu rumit sehingga proses penanganannya tak mudah," katanya kepada AP.

Mereka adalah satu keluarga yang tiba di wilayah ISIS pada Agustus 2015. Sebelum nekat pergi bersama-sama, mereka yang waktu itu lebih dari 20 orang menjual rumah, mobil, dan perhiasan emas untuk bekal perjalanan ke Turki lalu ke Suriah. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Sholawat, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Kendal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ida Alimatun Hidayat akhirnya terpilih menjadi ketua Fatayat NU ranting Trimulyo, Kec. Sukorejo, Kendal, Jateng setelah dalam rapat anggota yang digelar di gedung TK Muslimat NU setempat  berhasil menperoleh dukungan mayoritas dari sahabat-sahabatnya, belum lama ini.



Ida Alimatun  Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Rapat Anggota yang juga dirangkai dengan Harlah Fatayat NU ke 58 itu  dihadiri oleh ketua Pengurus Ranting (PR) Muslimat NU Trimulyo Suwarti dan ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukorejo Fuadah.serta anggota Fatayat NU se-desa Trimulyo.

Dalam sambutannya ketua demisioner PR Fatayat NU, Romdlonah, S.Ag mengaku telah menyiapkan kader-kadernya untuk bisa meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh Fatayat Trimulyo. Romdhonah yang juga menjabat wakil sekretaris PAC Fatayat NU Kecamatan Sujorejo  juga berharap siapapun yang mendapat amanat dalam rapat anggaota diharapkan dapat menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan Fuadah dalam pengarahannya selaku ketua PAC Fatayat NU kecamatan Sukorejo berharap agar pengurus Fatayat NU bisa pandai membagi waktu antar tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pengurus Fatayat NU. Keduanya tidak boleh menelantarkan satu sama lainya.

Diakui oleh Fuadah,  usia-usia Fatayat adalah usia yang sangat rawan karena rata-rata anggota Fatayat masih memiliki Balita (bawah lima tahun) yang membutuhkan perhatian ektra. Oleh karenanya ia berharap jika mengikuti kegiatan Fatayat hendaknya semua pekerjaan rumah (PR ) sudah beres, sehingga baik anak maupun suami  akan ikhlas mengikuti kegiatan Fatayat, terang Fuadah yang juga bidan desa itu. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya ketua baru Fatayat NU Trimulyo Ida Alimatun Hidayat berjanji akan meneruskan program-program Fatayat terdahulu dan  dan merealisasikan progaram dulu yang  belum sempat terealisasi.

Munculnya sebagai ketua fatayat NU ranting Trimulyo ini merupakan penampilan perdananya setelah sekian lama tidak aktif di organisasi di lingkungan NU karena urusan keluarga. Sebelumnya Ida Alimatun pernah menjabat sebagai ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo. Kemudian sempat menenggelamkan diri karena untuk urusan pribadinya.(frj)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

GP Ansor Surabaya Adakan PKD di Empat Zona

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya akan mengadakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Zona I yang dilaksanakan Ahad (13/8) pagi di Aula Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Wakil Ketua Bidang Kaderisasi GP Ansor Kota Surabaya Supii mengatakan, pelaksanaan PKD dikemas dengan tema Revitalisasi Gerakan Menuju Optimalisasi Kader Militan. "Artinya ada target gerakan yang perlu di optimalkan kembali oleh Ansor Surabaya sebagai gerakan kaderisasi," katanya.

GP Ansor Surabaya Adakan PKD di Empat Zona (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Adakan PKD di Empat Zona (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Adakan PKD di Empat Zona

"Kami selaku tim kaderisasi kepada perserta, agar pasca PKD mampu menerapkan nilai-nilai Aswaja baik secara pribadi maupun di masyarakat. Serta alumni PKD mampu mengetahui jati dirinya sebagai bagian dari gerakan penerus para salafus sholeh," tegasnya.?

Adapun PKD kali ini dibagi menjadi empat zona, lanjut kader muda NU ini. "Zona I meliputi Kecamatan Bubutan, Bulak, Kenjeran, Tambak Sari, Semampir, Simokerto, Pabean Cantikan, Krembangan, Tegal Sari,Gubeng Dan Genteng," katanya.?

Sedangkan untuk Zona II meliputi, Kecamatan Wonokromo, Karangpilang, Jambangan, Sambikerep, Lakasantri, Wiyung, Dukuh Pakis, dan Gayungan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk Zona III meliputi, Kecamatan Wonocolo, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, Gunung Anyar, Sukolilo, dan Mulyorejo. Zona IV meliputi Kecamatan Tandes, Benowo, Pakal, Sukomanunggal, Sawahan, dan Asemrowo.?

"Untuk jadwal sudah disusun. Zona II digelar pada 10 September. Zona III dilaksanakan pada 15 Oktober. Zona IV dilangsungkan pada 12 November. Untuk tema PKD yakni Merevitalisasi Gerakan Menuju Optimalisasi Kader Militan," tegas Supii.?

Sementara itu, menurut Ketua Panitia PKD Zona I Moch Taufik mengatakan, pelatihan akan diikuti sekitar 100 calon kader baru.?

"Antusiasme para calon keder baru begitu tinggi untuk bergabung di GP Ansor Surabaya. Ini terlihat jumlah peserta yang mendaftarkan diri. Kita batasi 100 peserta untuk Zona I, agar pelatihan berjalan kondusif. Sedangkan selebihnya kita ikutkan di zona berikutnya," tandasnya.? (Red: Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dalam tahun pertama periode kepengurusannya 2014-2017 konsentrasi menangani perihal kemandirian NU. Hal itu diungkapkan Ketua PC ISNU Bojonegoro Yogi Prana Izza pada acara Musyawarah Kerja (Musker) ISNU Bojonegoro di aula MAN 1 Bojonegoro, Ahad (6/4).

"ISNU melihat, NU belum mempunyai kemandirian dalam semua aspek. Makanya dalam tahun pertama ini ISNU akan fokus dalam kemandirian NU, target tahun ini kemandirian ekonomi," ujar dosen STAI Sunan Giri Bojonegoro itu kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi

Kemandirian tersebut ditunjukkan ISNU dalam semua aspek, karena dalam melaksanakan kegiatan ISNU tidak pernah minta sumbangan kemana-mana. Rencananya, dalam waktu dekat ini PC ISNU Bojonegoro akan mendirikan badan usaha.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Yogi, dalam AD/ART, ISNU berperan membantu dan mendukung penuh NU, termasuk bersinergi dengan NU. ISNU bisa berkiprah dalam hal sumbangsih pemikiran. Pola kritikan ISNU disertai dengan tindakan, tidak hanya berbicara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dosen lulusan Mesir itu menuturkan, sebelum pelaksanaan Musker pihaknya menggelar dialog interaktif bertemakan “Potensi dan Tantangan Bojonegoro Menuju 2014” dengan narasumber tokoh intelektual NU yang juga anggota ISNU Bojonegoro, yakni Imroatul Azizah dan Mudzar Fahman. Serta dipandu moderator Alfi Mufidah.

"Diharapkan sebelum raker (Musker, red) dilaksanakan, para anggota ISNU dengan diadakan dialog interaktif ini mampu membuka wacana penyusunan program kerja masing-masing komisi," terangnya.

Ditambahkan, di ISNU ada lima komisi, yakni komisi yang menangani kesehatan dan sosial; komisi pendidikan, penelitian, organisasi, dan seni; komisi ekonomi, industri, pertanian, perikanan dan kehutanan; komisi organisasi SDM, hukum dan HAM; komisi dakwah, komunikasi, informasi dan pemberdayaan perempuan. (Muhammad Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 28 Agustus 2017

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Oleh Fathoni Ahmad

Ada anugerah melimpah ruah ketika bulan Dzulhijjah tiba. Umat muslim di seluruh dunia tidak hanya dihadapkan pada rukun Islam kelima yaitu menunaikan ibadah haji, tetapi juga dapat memetik ibadah penuh hikmah seperti puasa di bulan Dzulhijjah, puasa sunnah tarwiyah dan Arafah, serta memperingati hari besar kedua umat Islam, Idul Adha.?

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurbanmu, Kurbanku, Kurban Kita

Idul Adha juga familiar dengan sebutan Hari Raya Kurban, di mana umat Islam dalam momen tersebut ramai-ramai memberikan hewan kurban seperti kambing, kerbau, maupun sapi sebagaimana syariat Nabi Ibrahim as dan Ismail as. Ibrahim adalah orang yang sangat patuh kepada Allah. Contohnya ketika Allah menyuruh Ibrahim untuk menyembelih anaknya, tanpa ragu-ragu langsung dilaksanakan kemudian dipangggilnya Ismail untuk bermusyawarah.?

Dari musyawarah itu Ismail setuju dirinya dijadikan kurban oleh ayahnya (QS as-Shaffat: 107), ketika Ismail dieksekusi oleh ayahnya, Ismail sabar dan pasrah kepada Allah. Nabi Ibrahim yakin tidak akan ada sebuah perintah dari Allah tanpa jaminan dari Allah. Buktinya benar bahwa sembelihan Ibrahim diganti dengan sembelihan kambing yang sangat besar, inilah cikal bakal adanya syariat kurban. Oleh karena itu marilah kita berkurban semoga Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih besar.

Tuntunan kurban juga terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Kautsar ayat 2 yang menyatakan, Fashalli lirabbika wan har, “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)".

Makna kurban dalam ayat tersebut mempunyai beberapa dimensi karena muaranya adalah taqwa kepada Allah. Untuk mencapai derajat tersebut, manusia tidak mungkin hanya bermodal keshalehan vertikal kepada Tuhannya, melainkan mampu menumbuhkan keshalehan sosial kepada sesama manusia sebagai basis kekhalifahan di muka bumi. Dimensi yang dimkasud yaitu dimensi sosial dan spiritual.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aspek sosial dalam ibadah kurban jelas terlihat ketika seorang hamba berbagi kebahagiaan terutama dengan masyarakat kurang mampu untuk dapat menikmati daging kurban, baik berupa sapi maupun kambing. Dimensi ini akan menyadarkan individu bahwa kepedulian terhadap sesama manusia mempunyai peran yang sangat penting untuk menumbuhkan keshalehan sosial pada diri pribadi maupun orang lain. Jadi dampak ibadah kurban bukan satu arah, melainkan saling timbal balik memunculkan kebaikan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tentu sempit jika kepedulian kepada sesama manusia dimaknai melalui kurban. Ibadah kurban hanya salah satu amal shaleh yang dianjurkan oleh Allah untuk mengambil pelajaran berharga dari historisitas luar biasa Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar. Ketiga orang mulia ini bahkan menjadi penuntun umat muslim dalam menjalankan tahap-tahapan ibadah haji selama ini. Sebagaimana diketahui, rukun haji seperti Sa’i dan lempar jumroh berasal dari riwayat sejarah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Namun, hendaknya dipahami secara substantif meskipun terwujud dalam bentuk simbol-simbol dalam ibadah haji.

Dalam momen Idul Adha ini, Nabi Ibrahim dan keluarganya merupakan teladan penghambaan terbaik manusia kepada Tuhannya. Sebab itu, ibadah haji dan kurban tidak hanya sebatas ritual saja, tetapi bagaimana menjadikan peristiwa Nabi Ibrahim dan hal-hal yang melingkupinya dijadikan instrumen berharga untuk menghamba kepada Allah, bukan justru menghamba pada ritual-ritual tersebut. Sehingga tak jarang ditemui orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji, tetapi justru tetangga sekitarnya mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup.?

Begitu juga dengan kurban, ibadah yang seharusnya mampu menjadi sebuah kebaikan alam bawah sadar manusia agar kepedulian terhadap sesama terus dipupuk di hari-hari berikutnya, namun lewat begitu saja sebagai sebuah ritus tahunan. Di titik inilah kurban benar-benar harus dijadikan penghambaan kepada Allah sehingga kurbanmu mampu menjadikan kurbanku dan kurban kita semua sebagai sebuah energi pendorong masyarakat untuk menghamba kepada Tuhan. Artinya, penerima daging kurban juga harus memiliki semangat berkurban di tahun berikutnya agar selamanya tidak menjadi penerima, tetapi pemberi.

Kurban kontraproduktif

Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan beberapa ironi ibadah kurban secara demografi yang selama bertahun-tahun mengalami ketimpangan. Maksud ketimpangan di sini ialah, satu daerah sangat melimpah daging kurban sebagai akibat banyaknya hewan kurban dari orang-orang menengah ke atas yang memang jumlahnya tidak sedikit, misal di DKI Jakarta. Sebaliknya, di suatu desa di satu kabupaten banyak ditemukan masyarakat yang tidak dapat menikmati berkah Idul Adha dengan menerima daging kurban.?

Jika dibandingkan, satu RW di Jakarta dalam sebuah Mushollah dapat terkumpul hewan kurban melimpah ruah berupa belasan sapi dan kambing. Sebaliknya, satu RW di sebuah desa kerap hanya ditemukan satu ekor hewan kurban saja. Kondisi ini miris, karena ketika masyarakat desa juga membutuhkan keberkahan daging kurban, kuantitas daging kurban di kota justru melimpah sehingga yang terjadi banyak distribusi daging kurban yang tidak tepat sasaran.?

Terlihat utopis ketika daging kurban harus didistribusikan ke masyarakat desa dari kota. Namun, para pejabat dan pegawai pemerintah, orang terkenal/artis, serta orang kaya hendaknya dapat memberikan hewan kurbannya ke tempat kelahiran di daerahnya. Selama ini, yang kerap terjadi justru mereka ramai-ramai berkurban di kota bukan di tempat kelahirannya sehingga semangat kurban menjadi kontraproduktif dengan ruh kepedulian sosial sebab tidak menyentuh dan tepat sasaran.

Akhirnya, perlu diperhatikan bahwa ibadah kurban mempunyai beberapa pelajaran utama yang dapat dipetik. Pertama tentang penghambaan total Nabi Ibrahim dan keluarganya ketika harus mengorbankan anak tercintanya atas perintah Allah SWT. Sebab itu, ibadah haji dan kurban jangan hanya dimaknai sebagai ritual belaka, tetapi sebuah totalitas penghambaan kepada Allah.

Kedua, tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah pengorbanan Ismail oleh Nabi Ibrahim, di satu sisi manusia diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia--sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu--adalah hal yang diharamkan.

Ketiga, pelajaran yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. Hal ini sama seperti ibadah haji yang harus dimaknai sebagai sebuah totalitas pengahambaan manusia kepada Allah, tidak dijalankan sebagai ritual tanpa makna sehingga predikat haji mabrur dapat diperoleh, yaitu keshalehan sosial seseorang meningkat drastis ketika kembali ke tengah masyarakat. ***

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) DKI Jakarta menyelenggarakan pelatihan tasawuf, Sabtu (12/3) tingkat dasar angkatan ke-2. Pelatihan yang dihelat di TQN Center Masjid al-Mubarak Rawamangun, Jakarta Timur ini diikuti 80 peserta dari berbagai pengamal tarekat di Jakarta.

Dalam sambutannya, sekretaris pelaksana pelatihan tasawuf, KH Ningram Abdullah menegaskan, kegiatan ini adalah upaya JATMAN mendukung revolusi mental melalui metode tasawuf. Pelatihan ini diikuti komunitas dari tarekat Khalwatiyyah, Idrisiyyah, Naqsybandiyyah, Syadziliyyah, Ghazaliyyah dan Qadiriyyah Naqsyabandiyyah Suryalaya.?

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

JATMAN DKI Jakarta Wujudkan Revolusi Mental Lewat Pelatihan Tasawuf

“JATMAN sebagai asosiasi pengamal tarekat dibawah NU berupaya mensinergikan komunitas pengamal tarekat agar lebih sistematik mendakwahkan tasawuf kepada umat,” ujar Kiai Ningrum Abdullah.

Narasumber pertama, KH Wahfiudin Sakam dalam stadium general menyampaikan materi ‘Mengenal Diri Menggapai Ilahi’. Menurut Mudir Idarah Wustha JATMAN DKI Jakarta ini, dalam kehidupan sekarang banyak orang yang menganggap diri ini adalah tubuh fisik semata (materialistik) sehingga menganggap hidup hanya diartikan sebatas kehadiran tubuh di muka bumi (sekuler). Prinsip hidup hanya untuk mendapatkan semua yang diinginkan, sekarang juga, disini juga.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pengertian tentang bahagia pun hanya sebatas segala hal yang memberikan kenikmatan bagi tubuh (hedonistik),” ucap Kiai Wahfiudin.

Dalam paparannya, wakil sekretaris Diklat dan Pengkaderan LDNU ini mengajak peserta untuk memahami konsep diri dalam Islam. "Nafs adalah diri ruhani dengan qalbu sebagai pusatnya. Langkah awal untuk belajar tasawuf adalah menyadari jika hakikat diri adalah diri ruhani. Sehingga kita bisa menggeser paradigma materialistik menuju spiritualistik, sekuler menuju holistik dan hedonistik menuju asketik," terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah KH Wahfiudin Sakam, sesi selanjutnya dibawakan oleh Ust. Rizal Fauzi. Muballigh yang aktif di bidang dakwah tarekat Idrisiyyah ini menyampaikan materi tentang tasawuf dan thariqah. "Esensi ilmu tasawuf adalah bagaimana membersihkan qalbu. Maka adalah penting di awal kita memahami esensi diri kita," jelasnya.

Sebelumnya Muqadam Tijaniyyah, KH M Yunus A Hamid akan menyampaikan materi ‘Hakekat Martabat Kenabian dan Kewalian’. Ketua panitia pelatihan tasawuf tingkat dasar ini juga didaulat menutup acara. (Nugraha/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Lomba, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 26 Agustus 2017

Vacum 6 Tahun, Ini Gebrakan PCNU Tapanuli Selatan

Sipirok, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua PCNU Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara H. Ihwan Nasution mengatakan, pada tahun 2015 ini akan melakukan gebrakan baru setelah 6 tahun vakum. Di antaranya konsolidasi organisasi NU sampai ke tingkat ranting serta pembinaan wawasan ke-NU-an kepada warga nahdliyyin.

Hal itu disampaikannya di Sekretariat PCNU Tapanuli Selatan seusai menggelar Rapat Harian Pengurus Sabtu (10/01). Rapat yang dihadiri segenap pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah ini membahas rencana tersebut yang akan difinalisasi dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) bulan depan.

Vacum 6 Tahun, Ini Gebrakan PCNU Tapanuli Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Vacum 6 Tahun, Ini Gebrakan PCNU Tapanuli Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Vacum 6 Tahun, Ini Gebrakan PCNU Tapanuli Selatan

"NU yang vakum kegiatan selama 6 tahun belakangan ini harus kita bangkitkan lagi di Bumi Tapanuli Selatan ini " tegas Ketua PCNU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Langkah pertama yang akan kita lakukan adalah mengisi kepengurusan MWC sebanyak 14 kecamatan agar nantinya yang menjadi ujung tombak melakukan konsolidasi organisasi NU ke ranting-ranting. “Kita tergetkan akhir Januari 2015 MWC di 14 kecamatan ini sudah terbentuk kembali,” tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia menambahkan pembinaan wawasan ke-NU-an untuk warga nahdliyyin sangat perlu dilakukan untuk membangkitkan emosional sebagai warga NU.

Tak hanya itu, PCNU juga akan menginventarisir dan mengelola kembali aset-aset NU seperti madrasah sebagai tempat pendidikan awal ke-NU-an bagi generasi muda NU. Di samping itu kita akan lestarikan lailatul ijtima dan mengadakan pembinaan wawasan ke-NU-an yang berdasarkan Ahlussunnah Wal Jamaah kepada warga NU di Tapanuli Selatan.

Selain fokus pada dua aspek tersebut PCNU juga akan melakukan dan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan agar terbentuk jalinan kerja sama antara ulama dan umaro dalam membangun Tapanuli Selatan.

Dalam mendukung program-program tersebut PCNU Tapanuli Selatan akan segera mengaktifkan Lembaga dan Lajnah terkait dan mendorong Badan Otonom seperti Muslimat NU, GP Ansor dan Fatayat NU untuk turut serta mewujudkan tujuan PCNU tersebut.

Para pengurus yang hadir mengamini pernyataan Ketua PCNU tadi dan siap mendukung program kegiatan yang akan dilaksanakan sepanjang 2015 ini. Mereka pun yakin dengan kekompakan para pengurus dan niat yang tulus, tujuan untuk membangkitkan kembali NU di Tapanuli Selatan akan dapat terwujud.

NU di Tapanuli Selatan memang mengalami kevakuman kegiatan selama 6 tahun ini yang membawa dampak buruk bagi warga NU sendiri. Padahal lebih dari 60% penduduknya merupakan kaum nahdliyyin. Ciri khas NU yang selama ini melekat pada masyarakat Tapanuli Selatan menghilang sedikit demi sedikit. Padahal daerah tersebut merupakan tempat lahirnya banyak ulama-ulama NU Sumatera Utara bahkan nasional. (Riza Lubis/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, IMNU, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hukum Aborsi dalam Islam

Diantara materi Bahtsul Masail dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tanggal satu dan dua Nopember 2014 adalah tentang hukum aborsi yang mana beberapa bulan sebelumnya muncul polemik legalisasi aborsi.Hal ini terkait PP No. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang menuai reaksi beragam. Pasalnya, dalam PP tersebut disebutkan pula bahwa aborsi bisa dilakukan oleh perempuan dengan alasan darurat medis maupun alasan perkosaan.

Peraturan Pemerintah (PP) yang merupakan amanat dari UU No 36/2009 tentang Kesehatan sebenarnya mengatur bagaimana agar perempuan mendapat layanan kesehatan sehingga bisa hidup sehat, melahirkan generasi sehat dan bermutu, serta mengurangi angka kematian ibu. Ini dapat dilihat dari konstruksinya, PP ini terdiri dari 8 bab dan 52 pasal.

Pelayanan kesehatan yang dimaksud termasuk pelayanan kesehatan reproduksi sedini mungkin, yakni sejak remaja. Pelayanan itu diberikan lewat layanan kesehatan reproduksi remaja, kesehatan masa pra-kehamilan, selama kehamilan, persalinan, pasca melahirkan, layanan kontrasepsi, kesehatan seksual dan kesehatan sistem reproduksi. Sayangnya, dalam PP tersebut terdapat 9 pasal yang mengatur soal aborsi dengan indikasi kedaruratan medis atau aborsi pada korban pemerkosaan. Klausul tersebut terdapat pada Pasal 31 yang isinya menyatakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan indikasi kedaruratan medis atau kehamilan akibat pemerkosaan. Aborsi atas 2 alasan itu hanya bisa dilakukan pada usia kehamilan maksimal 40 hari dihitung sejak Hari Pertama Haid Terkahir (HPHT).

Penentuan aborsi dan pelaksanaannya kemudian diatur dalam Pasal 32-38. Misalnya, penentuan indikasi medis ditentukanm tim kelayakan aborsi, harus ada bukti indikasi pemerkosaan dari keterangan ahli, aborsi harus dengan persetjuan perempuan hamil, serta konseling sebelum dan sesudah aborsi.

Hukum Aborsi dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Aborsi dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Aborsi dalam Islam

PP ini berangkat dari semangat memberi hak kesehatan bagi perempuan. Sebab, perempuan korban pemerkosaan kerap menerima beban ganda, yakni sebagai korban kekerasan seksual dan harus menghidupi anak yang dilahirkan. Belum lagi cercaan masyarakat kepada korban pemerkosaan. Ia harus menanggu beban ekonomi dan psikologis. Selain itu, sebagian besar ibu yang hamil karena perkosaan itu membenci anak yang dikandungnya, karena kehamilannya itu tidak diinginkan. Padahal, anak yang dikandung itu harus dikandung dengan cinta dan tanggung jawab.

Meski demikian, beberapa kalangan mempersoalkan PP tersebut. Di antaranya beralasan bahwa PP tersebut dianggap telah melegalkan aborsi. Padahal, aborsi tidak boleh dilegalkan dengan alasan apapun. Selain itu, tidakan aborsi juga melanggar kode etik kedokteran. Sehingga bila ada dokter yang melakukan praktik aborsi bisa dikenakan sanksi profesi.

Dari sisi peraturan perundang-undangan, PP tersebut juga dianggap bertentangan dengan UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Karena di dalam UU tersebut disebutkan, anak yang masih dalam kandungan secara hukum juga harus dilindungi oleh negara. Pasal 1 UU Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak-anak adalah yang berusia di bawah 18 tahun, termasuk yang masih dalam kandungan. Artinya, aborsi tidak dibenarkan oleh UU ini. Selain tindak pidana, aborsi juga dianggap juga sebagai pelanggaran HAM. Dan PP ini juga berpeluang untuk dijadikan dasar oleh orang-orang yang berprilaku sek bebas untuk melakukan aborsi karena dianggap legal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pertanyaan yang muncul dalam komisi Bahtsul Masail adalah Apakah hukum melakukan aborsi dengan alasan kedaruratan medis dan aborsi kehamilan akibat perkosaan? Dan berapa batas waktu dibolehkan melakukan aborsi dan dari mana awal penghitungannya? Juga benarkah dokter yang melakukan aborsi telah melanggar sumpah jabatan dan/atau melanggar kode etik?

Pada dasarnya hukum melakukan aborsi adalah haram. Namun dalam keadaan darurat yang dapat mengancam ibu dan/atau janin, aborsi diperbolehkan berdasarkan pertimbangan medis dari tim dokter ahli.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hukum aborsi akibat perkosaan adalah haram. Namun sebagian ulama memperbolehkan aborsi sebelum usia janin berumur 40 hari terhitung sejak pembuahan. Menurut ilmu kedokteran hal itu dapat diketahui dari hari pertama haid terakhir. Wahbah Zuhaili dalam Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhuu, 4/196-198

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 120 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? (?)? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Begitu juga Imam Ghazali dalam Ihya` Ulumuddin 1/402:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tuhfatul Muhtaj, 29/169:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tuhfatul Muhtaj, 38/12

( ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

( ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Semua dokter harus mentaati sumpah jabatan dan kode etik profesi dokter. Melakukan aborsi tidak diperbolehkan kecuali terhadap aborsi yang sudah memenuhi syarat kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan berdasarkan ketentuan-ketentuan. (Ulil H. Sumber: Hasil Keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Musyawarah Nasional Alim Ulama NU 2014)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kenduri Cinta Pemilu Damai ala Warga Solo

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Istilah kenduri biasanya merujuk pada sebuah kegiatan perayaan sesuatu, yang biasanya dibarengi dengan selamatan; berdoa agar hajat dikabulkan dan dilancarkan oleh Allah SWT.

Ahad (6/4) lalu, menyambut datangnya pemilu serta mendukung pelaksanaan pemilu yang aman lancar, tertib dan damai, sejumlah warga Kota Solo menggelar acara Kenduri Cinta Pemilu Damai di Gelaran Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi Solo.

Kenduri Cinta Pemilu Damai ala Warga Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenduri Cinta Pemilu Damai ala Warga Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenduri Cinta Pemilu Damai ala Warga Solo

Dalam acara tersebut, delapan tumpeng nasi kuning dibagikan kepada para pengunjung CFD. Sebelum dibagikan puluhan warga mengerumuni tumpeng nasi kuning untuk didoakan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekda Kota Solo Budi Suharto, mengatakan doa ini juga ditujukan untuk kelancaran pemilu. “Harapan dari kota Solo, agar Pemilu betul-betul jujur dalam pelaksanaannya sehingga menghasilkan yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, tak jauh dari tempat tersebut, beberapa warga membentangkan spanduk bernada imbauan tentang pemilu. Di antaranya imbauan yang bertuliskan ‘Siap Menang, Siap Kalah’, ‘Tolak Serangan Fajar’, dan ‘Stop Money Politic’. (Ajie Najmuddin/Anam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Amalan, PonPes Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 25 Agustus 2017

Kitab Ini Berisi Catatan tentang 26 Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Mekkah

Kitab “Imta’ Ulin-Nazhar bi Ba’dhi A’yanil-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar (Tasynif al-Asma bi Syuyukh al-Ijazah was-Sama’, terdiri dari 2 jilid) ini terhitung penting, karena memuat biografi, silsilah-sanad (mata rantai keilmuan), sekaligus jaringan ulama di Mekkah pada abad ke-14 H (awal abad ke-20 M). Kitab ini disunting oleh Dr. Mahmud Sa’id Mamduh (Mesir) dan dicetak di Beirut (2012 M).

Lebih menarik lagi, di dalam kitab ini disebutkan banyak ulama Nusantara yang berkiprah dan berpengaruh besar di Mekkah pada masa itu. Terdapat 26 ulama Nusantara (bisa jadi lebih jika ada yang terlewat). Berikut urutan nama-nama ulama tersebut sesuai urutan aksara hijai Arab.

Kitab Ini Berisi Catatan tentang 26 Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Ini Berisi Catatan tentang 26 Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Ini Berisi Catatan tentang 26 Ulama Nusantara yang Berpengaruh di Mekkah

- Dalam juz I:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

1. Ibrahim ibn Dawud al-Fathani al-Makki (1320-1413 H), dari Patani, Thailand.

2. Ahmad Marzuki ibn Ahmad Mirshad al-Batawi (1293-1353 H), dari Batavia (Jakarta).

3. Baqir ibn Nur al-Jukjawi al-Makki (1306-1367 H), dari Jogja.

4. Bidhawi ibn Abdul Aziz al-Lasami (?-1390 H), dari Lasem, Jawa Tengah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

5. Jami’ ibn Abdul Rasyid al-Rifa’i al-Buqisi (1255-1361 H), dari Bugis.

6. Jamaluddin ibn Abdul Khaliq al-Fathani (1278-1355 H), dari Patani, Thailand.

7. Sulaiman ibn Muhammad Husain al-Falambani (1295-1376 H), dari Palembang.

8. Shalih ibn Muhammad ibn Abdillah al-Kalantani al-Makki (1315-1379 H), dari Kelantan, Malaysia.

9. Shalih ibn Mujian al-Batawi al-Tanqarani (1297-1353 H), dari Betawi-Tangerang.

10. Abdul Rasyid ibn Aslam al-Buqisi (?-1356 H), dari Bugis.

11. Abdul Karim ibn Ahmad al-Khatib al-Minankabawi al-Makki (1301-1357 H), dari Minang.

12. Abdullah ibn Azhuri al-Falambani al-Makki (1279-1357 H), dari Palembang.

13. Abdullah ibn Hasan Bella al-Andunisi al-Makki (1296-1357), dari ?.

14. Abdul Muhith ibn Ya’qub ibn Panji al-Surabawi (1311-1388 H), dari Surabaya, Jawa Timur.

15. Abdul Muhaimin al-Lasami (1313-1365 H), dari Lasem, Jawa Tengah.

- Dalam juz II:


16. Alawi ibn Thahir al-Haddad Mufti Johor (1301-1382 H).

17. Ali ibn Abdul Hamid Qudus al-Samarani (1310-1363 H), dari Semarang, Jawa Tengah.

18. Muhsin ibn Muhammad ibn Hasan al-Surabawi (1316-1366 H), dari Surabaya, Jawa Timur.

19. Muhsin ibn Muhammad ibn Abdillah al-Sairani al-Bantani (1277-1359 H), dari Serang, Banten.

20. Muhammad Ahid ibn Idris al-Buquri al-Makki (1302-1372 H), dari Bogor, Jawa Barat.

21. Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri al-Jawi (1287-1349 H), dari Bogor, Jawa Barat.

22. Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi (1290-1387 H), dari Batavia (Jakarta).

23. Ma’shum ibn Ahmad ibn Abdul Karim al-Lasami al-Jawi (1290-1392 H), dari Lasem, Jawa Tengah.

24. Manhsur ibn Mujahid Basyaiban al-Surabawi (1302-1360 H), dari Surabaya, Jawa Timur.

25. Hasyim Asy’ari al-Jaumbanji al-Jawi (1282-1366 H), dari Jombang, Jawa Timur.

26. Wahyuddin ibn Abdul Ghani al-Falambani (1288-1360 H), dari Palembang.

Para ulama di atas mayoritas memiliki karya tulis dalam pelbagai disiplin ilmu keislaman. Hanya saja, kitab di atas hanya mendata sekitar 7 ulama Nusantara saja yang tercatat memiliki beberapa karya, yaitu:

1. Ibrahim ibn Dawud al-Fathani, menulis (1) Nahj al-Burdah, (2) al-Futuhat ar-Ramadhaniyyah, Diwan Syi’r, (3) Tafsir al-‘Asyr al-Akhir minal-Qur’an al-Karim, (4) Manzhumat Isthilahat al-Minhaj [lin-Nawawi], (5) Syarh Riyadhus-Shalihin.

2. Baqir ibn Nur al-Jukjawi, menulis kitab biografi ulama Nusantara berjudul “Tarajim ‘Ulama Jawah”.

3. Shalih ibn Muhammad ibn Abdillah al-Kalantani, menulis (1) Nuzhum Tahdzib al-Manthiq, (2) Risalah fin-Nahw.



4. Shalih ibn Mujian al-Batawi, menulis (1) Adab al-‘Alim wal-Muta’allim, (2) Adab al-Qadhi, (3) Risalah fil-Ankihah, (4) Risalah fil-Falak.

5. Alawi ibn Thahir al-Haddad Mufti Johor, menulis (1) Iqamah ad-Dalil ‘ala Istijabah at-Taqbil, (2) as-Sirah an-Nabawiyyah as-Syarifah, (3) I’anah an-Nahidh fi ‘Ilm al-Faraidh, (4) Majmu’ fi ‘Ilm al-Falak, (5) Madkhal fi Tarikh al-Islam fis-Syarq al-Aqsha.

6. Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri, menulis (1) Hasyiah ‘ala ‘Umdah al-Abrar fi Manasik al-Hajj wal-I’timar, (2) Ta’liqat ‘ala Jami’ at-Tirmidzi, (3) Ta’liqat ‘ala Nuzhum al-Qawaid al-Fiqhiyyah.

7. Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi, menulis (1) Sullam al-Nairain, (2) Khullashah aJ-Jadwal, (3) Risalah fi Shalah al-KusyUf wal-Khusuf, (4) Mizan al-I’tidal, (5) Washilah at-Thullab, (6) Jadwal al-Faraidh, (7) al-Lu’lu’ al-ManzhUm fi Mabahits Sittah al-‘UlUm, (8) I’rab al-Ajurumiyyah lil-Mubtadi’

KH Hasyim Asy’ari tidak disebutkan karya-karyanya dalam kitab bibliografi di atas, padahal beliau termasuk sebagai ulama sentral yang prolifik. Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari disunting oleh cucu beliau, KH Isham Hadziq, antara lain (1) Adabul-‘Alim wal-Muta’allim, (2) Risalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, (3) al-Tibyan fi Nahy Muqatha’ah al-Arham, (4) an-Nurul-Mubin fi Mahabbati Sayyidil-Mursalin, (5) Ziyadah at-Ta’liqat, (6) at-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna’ al-Maulid bil-Munkarat.

Tentu, masih ada beberapa ulama Nusantara lainnya yang memiliki kiprah cemerlang di Mekkah pada masa itu namun tidak termasukkan dalam biografi, termasuk karya-karya mereka. Atau ada yang disebutkan namun karya-karya mereka tidak terlacak. Sangat besar kemungkinan manuskrip-karya-karya ulama Nusantara itu berserak dan tercecer di beberapa perpustakaan di Saudi Arabia saat ini, yang menunggu untuk digali dan diteliti lebih lanjut oleh para “santri-filolog” muda dari Nusantara. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Majalengka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Angkatan VII pada Jumat-Sabtu (13-14/1). Kegiatan kaderisasi jenjang awal ini dikonsentrasikan di Lereng Cakrabuana Girimukti, Malausma, Majalengka.

Ketua GP Ansor Kabupaten Majalengka Ahmad Cece Asyfiyadi menjelaskan, sebanyak 350 anggota Banser terlibat kegiatan itu. "Ini adalah tahap awal untuk menempa fisik dan mental sebagai Banser agar siap menjaga marwah NU dan keutuhan NKRI," ujar Cece.

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq yang turut mengisi acara tersebut meminta Banser menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI. Ia menegaskan, Banser harus siap membela para kiai dan ulama NU yang belakangan ini marak dilecehkan, dihujat, dan dihina.

"Apakah kalian siap menjaga NKRI? Apakah kalian siap membela para kiai dan ulama?" teriak Kiai Maman dalam orasinya di hadapan peserta Diklatsar Banser.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pertanyaan itu pun langsung dijawab serentak oleh seluruh anggota Banser yang hadir dengan jawaban “Siap!”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ansor yang digelar bersamaan Diklatsar Banser, Kiai Maman meminta GP Ansor Majalengka fokus melakukan kaderisasi untuk menguatkan ideologi Ahlussunah wal Jama’ah dan nasionalisme ke berbagai kalangan, termasuk pondok pesantren.

"Intensifkan berbagai kegiatan pengkaderan seperti Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) untuk Ansor maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) bagi Banser," ujar anggota DPR RI ini.

Merespon pesatnya perkembangan medsos dewasa ini, Kiai Maman berharap agar kader GP Ansor dan Banser memperkuat diri dengan kapasitas atau kemampuan di bidang teknologi informasi (IT).

"Ansor juga harus membangun jaringan komunikasi yang lebih luas dengan berbagai elemen lain dalam kerangka terlibat aktif memajukan pembangunan di Majalengka," pinta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi itu. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa

Sosok pemberi nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon. Lazim disebut Kiai Mas Alwi. Ia putra kiai besar, Abdul Aziz al-Zamadghon. Bersepupu dengan KH. Mas Mansyur dan termasuk keluarga besar Sunan Ampel, yang juga pendiri sekolah Nahdlatul Waton dan pernah belajar di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Dari pulau garam, ia melanjutkan sekolah di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, lalu memungkasi rihlah ilmiyah-nya di Makkah al-Mukarromah.

Setelah pulang dari keliling Eropa, ia membuka warung di Jalan Sasak Ampel, Surabaya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai Asad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asyari telah berencana membuat organisasi Jamiiyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, "kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jamiyah ulama saja? Sayid Alwi pun menjawab, "karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jamiyah."

Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa

Akhirnya para kiai menyepakati nama Nahdlatul Ulama yang diusulkan Kiai Mas Alwi. Seorang ulama berdarah Hadramaut, Yaman. Lantas siapakah sosok penting yang namanya jarang disebut dalam kancah pergerakan NU selama ini?

Penyelidik Isu Pembaharuan Islam

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asyari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan tertulis di bawah ini. Hasil olah data dari karangan Ma’ruf Khozin, Wakil Katib Syuriyah NU Kota Surabaya dan Anggota LBM PWNU Jatim. Riwayat ini berdasarkan kisah langsung dari Gus Sholahuddin Azmi, putra Kiai Mujib Ridlwan dan cucu Pendiri NU, Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU) .

Memang tidak ada data pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat semasa (Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Alwi), secara usia tidak terlalu jauh jaraknya. Pada masa awal NU berdiri (1926), usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahab 37 tahun, dan Kiai Mas Alwi 35 tahun. Maka, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar 1890-an.

Ketiga Kiai tersebut, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah menjalin persaudaraan sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi adalah dua kiai yang sudah terlihat hebat sejak masih nyantri di pondok, terutama dari sisi kecerdasan dan kecakapannya sebagai santri. Bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah, dan saudara sepupunya, Kiai Mas Mansur, Kiai Mas Alwi turut membidani pendirian Nahdlatul Wathon. Saat itu, Kiai Mas Mansur menjabat sebagai kepala sekolah, sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah.

Mendalami Renaisans Islam

Saat merebak isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana.

Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanyatanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis--dengan menggabungkan diri dalam pelayaran.

Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.

Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda. Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang.

“Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?”

Kiai Ridlwan malah balik bertanya.

“Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?”

“Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini...” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)

“Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan":

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. al-Maidah [5]: 3)

Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya.

"Dari mana sampean tahu?"

“Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda."

“Bagaimana caranya sampean bisa masuk?”

“Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya."

Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini."

“Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam."

“Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya."

Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:

“Kok sudah ada di sini?”

“Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini."

Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon.



Makam Kiai Mas Alwi


Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat--bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum.

KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya.

Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya.

Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah.

Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jamiyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain.

Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.

Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia--setelah Kiai Asad Syamsul Arifin--dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-Alamin. Al-Fatihah... (Ren Muhammad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampil di TV Lokal, Anwar Sosialisasikan Kiprah Ansor Surakarta

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Surakarta Muhammad Anwar menjadi narasumber dalam acara “Merah Putih” yang disiarkan langsung di salah satu stasiun TV lokal Kota Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (6/7) lalu.

Tampil di TV Lokal, Anwar Sosialisasikan Kiprah Ansor Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tampil di TV Lokal, Anwar Sosialisasikan Kiprah Ansor Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tampil di TV Lokal, Anwar Sosialisasikan Kiprah Ansor Surakarta

Dalam kesempatan tersebut, Anwar mengawali pembicaraan bersama host acara, dengan menerangkan sejarah kelahiran Ansor. “GP Ansor lahir pada tahun 1934, pada awal bernama ANO (Ansor Nahdlatoel Oelama),” kata dia.

Diterangkan lebih lanjut, saat ini GP Ansor Solo memiliki banyak kegiatan, mulai dari kegiatan pengamanan yang dilakukan Banser, hingga lini dakwah yang bernama Rijalul Ansor. Sedangkan anggota Ansor Soloraya kini mencapai ribuan kader.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Anggota Ansor Soloraya terakhir berkumpul pada acara parade hadrah lalu, hadir sekitar 5000 anggota,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai kegiatan Banser yang terkadang ikut mengamankan acara keagamaan umat lain, Anwar menjelaskan hal tersebut dilakukan dalam rangka tugas bela negara. Hal tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI/Polisi, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Meskipun ada pro-kontra, Banser kok menjaga gereja. Tapi, kita punya prinisip bahwa kita juga ikut menjaga keamanan Negara dan menjaga kebangsaan.” tegasnya.

Di tengah segmen, Anwar juga menjawab telepon interaktif dari para pemirsa, yang sebagian dari mereka juga memberikan masukan untuk kemajuan GP Ansor di wilayah Soloraya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Cerita, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Way Kanan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Tanggal 22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia (World Water Day). Bertempat di Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Way Kanan Lampung, GP Ansor mengajak sejumlah organisasi kepemudaan menyaksikan film dokumenter Samin vs Semen karya Dhandy Dwi Laksono dan Suparta AZ (Ucok Patra).

"Terima kasih kepada Ansor yang mengajak kita nonton film sambil bincang-bincang santai. Kita berharap dengan adanya pemutaran film ini, kita bisa mengajak orang-orang terdekat kita untuk tidak menyia-siakan air, bagaimana berwudhu dengan tidak boros air salah satunya. Perilaku kita menghargai air perlu terus dikampanyekan," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian (Kasi Wasdal) Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Way Kanan Arif Radigusman, di Blambangan Umpu, Selasa (22/3).

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Samin vs Semen Ajarkan Pentingnya Air bagi Kehidupan

Film Samin vs Semen produksi Watchdoc berdurasi 39 menit 25 detik. Film ini bercerita gerakan perlawanan kelompok masyarakat di kawasan bukit kapur Rembang dan Pati atas rencana pembangunan pabrik semen guna menjaga mata air yang harus dijaga untuk kehidupan mereka.

"Ada tujuh sungai besar di Way Kanan, dan kualitas airnya harus kita jaga bersama. Apalagi nama Way Kanan berasal dari nama satu sungai yang ada. Kalau sungai kotor, tercemar, jelas ada pengingkaran," ujar Arif lagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Pemuda Muhammadiyah Munawar melanjutkan, air saat kemarau di Way Kanan sangat dibutuhkan. "Survei kami harga air bersih 1.000 liter kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu. Kondisi semacam ini juga menjadi persoalan karena itu perlu ada solusi bersama. Apalagi sejumlah sungai kualitasnya sudah tidak memadai untuk kebutuhan rumah tangga seperti dipaparkan pihak KLH," tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Misat, warga Kelurahan Blambangan Umpu menyatakan, beberapa tahun terakhir ini masyarakat sudah tidak bisa mandi di sungai Way Umpu. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun 1980.

"Dulu saat kemarau, warga bisa mandi di sungai Way Umpu, sekarang tidak ada lagi yang mau. Air sungai Way Umpu yang tadinya bisa digunakan masyarakat melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sekarang tidak bisa lagi. Jika warga harus membeli 1.000 liter air sungai Way Umpu Rp10 ribu pun saat kemarau, tentu tidak akan mau," kata Misat lagi.

Sungai Way Umpu menurut KLH sudah tercemar, dari kualitas satu menjadi kualitas tiga, yang artinya dari layak konsumsi menjadi tidak lagi layak konsumsi akibat adanya pencemaran diakibatkan penambangan emas ilegal.

"Kita telah menyaksikan bersama film tadi, bagaimana masyarakat Samin berupaya mati-matian menjaga mata air yang bermanfaat bagi pertanian, bagi kehidupan, bagi masa depan. Pernyataan sahabat-sahabat tadi menegaskan jika kualitas air yang baik sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup hari ini dan esok. Siapa yang bertanggung jawab? Tentu bukan hanya Ansor, bukan KLH, bukan Pemuda Muhammadiyah, tapi tanggung jawab bersama untuk menjaganya," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto yang menjadi moderator diskusi santai tersebut. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 24 Agustus 2017

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 22 Agustus 2017

Haul Ibunda Gus Dur Dipringati dengan Khataman al-Quran

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Peringatan haul ke-19 wafatnya Ibunda KH Aburrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Hj Sholihah Munawaroh A Wahid Hasyim, digelar dengan pembacaan al-Qur’an lengkap 30 Juz di Jakarta, Ahad (29/7).

Selain Nyai Sholihah, peringatan haul ini juga dimaksudkan untuk mendoakan menantunya, KH Hamid Baidlawi, yang meninggal 2009 lalu. Hamid merupakan suami dari anak keduanya, Aisyah Wahid, yang juga salah seorang tokoh Muslimat NU.

Haul Ibunda Gus Dur Dipringati dengan Khataman al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ibunda Gus Dur Dipringati dengan Khataman al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ibunda Gus Dur Dipringati dengan Khataman al-Quran

Dalam acara yang digelar di kediaman Aisyah yang terletak di kompleks perumahan Bukit Pratama, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini, terlihat hadir segenap keluarga dan handai tolan, seperti dr Umar Wahid dan Hj Lily Wahid, sejumlah civitas akademika Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (IPTIQ) Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Prosesi khataman al-Qur’an dilaksanakan para santri Pesantren Ciganjur Jakarta. Tak hanya ceramah agama, peringatan haul juga diisi kirim doa kepada para sesepuh NU dan buka puasa bersama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Alhamdulillah, kita semua bisa hadir dalam rangka memperingati wafatnya ibu kami yang meninggal pada 9 Juli 1994, juga Pak Hamid Baidlawi yang meninggal pada tahun 2009,” kata Umar, putra ke-4 Nyai Sholihah saat menyampaikan kata sambutan.

Nyai Sholihah wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dan dikebumikan di pemakaman keluarga, Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Selain aktif menjadi ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU, putri KH Bisri Syansuri ini juga pernah menjadi anggota legislatif dan terlibat dalam beberapa pendirian lembaga sosial.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Oleh Ali Mahbub

--Pelajaran-pelajaran KH Muslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem (alm) yang disampaikan di sini saya kutip dari tulisan yang ada di kalender Yayasan Pondok Pesantren Al muttaqien Pancasila Sakti yang menurut saya sangat-sangat penting dan saya anggap sebuah pelajaran penting dari Mbah Liem.

Saya berharap dan berdo’a semoga saya dan saudara semua pun bisa meneladani pelajaran-pelajaran tersebut, selain dari kutipan tulisan di kalender saya juga menulis pelajaran-pelajaran Mbah Lim dari sumber lain.

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Pelajaran Berharga dari Mbah Liem

Mbah Liem dalam cerita para santri baik dari santri 5 atau yang disebut Mbah Lim sebagai Pendowo Limo maupun dari cerita santri senior yang lain seperti? KH Muhaimin Yogyakarta dan dari apa yang sedikit saya saksikan sejak tahun 2008 akhir hingga wafatnya beliau. Mbah Liem memang tidak pernah membacakan sebuah Kitab kepada para santrinya melainkan beliau langsung mengajarkan dengan ilmu hal atau memberi contoh langsung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ajaran-ajaran Mbah Liem tersebut yaitu:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

1. “Nguwongke Uwong, Gawe Legane Uwong.” Mbah Liem selalu menghargai dan menerima setiap orang dengan segala potensi dan niat baiknya. Kalau pun kita tidak membutuhkan, mungkin manfa’atnya bisa dirasakan keluarga, tetangga atau msyarakat kita. Contohnya setiap kali ada tamu, baik pejabat maupun tokoh yang lain, Mbah Liem selalu menyambut dengan hangat siapapun orangnya dan Mbah Lim tidak lupa memberikan ruang interaksi untuk mendekatkan pejabat/tokoh dengan masyarakat.

2. “3 T“: Titi – Tatak – Tutuk. Mbah Liem mengajarkan sa’at melaksanakan setiap tugas dalam hidup, haruslah Titi (cermat, teliti dan selektif), Tatak (legowo, sabar), sehingga Tutuk (sampai, selesai dengan hasil yang memuaskan)

3. “3 K “: Kuli – Kiai – Komando. Setiap santri haruslah mampu memerankan diri sebagai Kuli (siap bekerja keras), Kiai (siap mengamalkan ilmu dan berdo’a), Komando (siap menjadi pemimpin yang piwai mengambil keputusan, bijak serta berwibawa)

4. “Kita harus Tegak, Tegas dan Tegar selama benar “? setiap melaksanakan kebenaran kita harus Tegak ( penuh keyakinan, tidak goyah oleh pengaruh apapun), Tegar ( tak kenal kompromi terhadap pelanggaran aturan ), Tegar ( Ikhlas, Sabar )

5. “3 R “: Rampung bangunane – Rame jama’ahe – Rukun masyarakate “. Dalam mendirikan sarana apapun ada 3 hal yang harus diupayakan yakni “ Rampung bangunane “ (bisa terwujud ), Rame jama’ahe ( berfungsi dan dibutuhkan para pemangku kepentingan ), Rukun masyarakate ( menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan )

6. “Aja Mung Benteng Ulama, ning Nahnu Anshorullah, Masyriq-maghrib “ di samping peranya sebagai Benteng Ulama, Banser seharusnya mampu menjalankan peran yang lebih luas di seluruh permukaan bumi, dalam bingkai “ Nahnu Anshorulloh”.

No? 1 – 6 penulis kutip dari kalender.

7.? ? ? “ 3 S “:? Sholat – Sinau – Sungkem. Maksudnya? “ Sholat “ Seorang santri harus tekun beribadah, prihatin dan berdoa.? “ Sinau “ santri harus belajar terus menerus. “ Sungkem “santri harus mempunyai akhlak yang mulia, tau sopan santun, tawadhu’ pada Kyai/Guru.

8.? ? “ 2 B “ Berhasil – Berkah . dalam mencapai cita – cita/usaha? harus mempunyai komitmen yang kuat agar tercapai yang di inginkan,”? Berkah “setiap cita – cita/ usaha harus di mulai dengan niat ibadah(niat baik) agar mendapat keberkahan dari Allah SWT.

No 7 – 8 sumber dari Umi Hasanah Santri pertama MA Al Muttaqien Pancasila Sakti)

9. “ Dadi uwong ki ojo gur mangan terus tapi yo Ngising barang” (Jadi orang itu jangan hanya makan aja tapi ya buang air besar juga). Kita tidak boleh hanya melulu mencari harta terus tapi kita juga harus rajin bersedekah. (sumber dari Umi Hasanah dari Hj Siti Choiriyah putri pertama Mbah Liem.

Selanjutnya saya tulis juga tiga kebiasaan Mbah Liem.

1. Setiap bertemu dengan orang lain, di manapun selalu mendo’akan dengan uluk salam “Assalamu’alaikum!“

2. Dalam perjalanan setiap kali bertemu dengan Makam dan Sungai, beliau selalu membaca Fatehah kepada Ahli kubur dan Fatehah kepada Nabiyullah Khidzir AS.

3. Jika berpapasan dengan Pelajar/Mahasiswa, beliau selalu mendo’akn “Sholeh, Sholehah Penerus”

Selain itu saya mendengar pemaparan pak Haji Danun (santri/sopir mbah Lime) setiap mau berangkat perjalanan silaturrahmi ke manapun Mbah Liem selalu berkata “ niate silaturrahmi, ngubengi RI untuk mendo’akan NKRI Pancasila agar AMD Aman, Makmur, Damai. dan di dalam mobil Mbah Liem selalu mengajak Dzikir, Sholawat di sepanjang perjalanan. ?

Subhanallah semoga kita bisa meneladani ajaran beliau. Alfaatihah....

Ali Mahbub, mengajar bahasa Arab dan ke-NU-an di MA Al Muttaqien Pancasila Sakti

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, IMNU, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 20 Agustus 2017

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ranting GP Ansor Desa Pikatan Kecamatan Gending Kab Probolinggo menggelar sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk kebun gizi keluarga untuk masyarakat,? Senin (21/1)? ?

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Dalam sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah tersebut juga dikupas tentang kiat-kiat untuk memperoleh tambahan penghasilan seperti wirausaha individu maupun kelompok. Contohnya, pemenuhan kebutuhan lauk pauk yang diharapkan bisa diperoleh di lingkungan sekitar rumah sendiri.

Kegiatan yang dihadiri oleh segenap pengurus Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan Mahmud Yunus mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai kebun gizi keluarga.

Semoga melalui kegiatan ini masyarakat dapat termotivasi untuk bercocok tanam dengan cara membuat kebun gizi yang hasilnya dapat membantu meringankan beban kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’ mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah langkah yang dilakukan oleh GP Ansor untuk mendukung program pemerintah berupa pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan menanam berbagai macam sayur-sayuran organik yang dapat menciptakan pangan yang aman, memberikan nilai ekonomis yang tinggi dan meningkatkan status bergizi bagi gizi keluarga.

“Hal ini juga sebagai upaya untuk pemenuhan pangan rumah tangga dalam pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan aman serta peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Muslimin, kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda sosialisasi atas keberperanan GP Ansor pada masyarakat petani. Sehingga petani mampu memanfaatkan lahan pekarangan secara intensif dengan beraneka ragam komoditas untuk kebun gizi keluarga.

“Selama ini kami sudah menjalin komunikasi yang baik dengan petugas pertanian kecamatan. Namun kami tetap berharap semoga Dinas Pertanian dapat membantu kesuksesan program tersebut,” pungkasnya.

Kontributor: Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah