Jumat, 18 Desember 2009

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU 03 Larangan Brebes, Jawa Tengah kini mendirikan pondok pesantren Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Demikian disampaikan Kepala SMK Maarif NU 03 Larangan H Harus saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di ruang kerjanya, Rabu (18/1).?

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini





Harun menjelaskan, pihak yayasan dan sekolah sudah bersilaturahmi atau sowan perihal pemberian nama pondok Abdurrahman Wahid ke keluarga Gus Dur di Jombang. “Kami sudah sowan ke keluarga Gus Dur perihal pemberian nama pondok di area SMK ini,” terang Harun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah





Pondok Gus Dur, lanjutnya, baru kali dibuka pada tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah santri putra 12 anak dan santri putrid 10 anak. “Kami baru punya dua bilik pondok, jadi hanya bisa menampung maksimal 25 santri,” kata Harun.





Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengasuh pondok seluruh guru agama dan alumni pondok ternama seperti Lirboyo dan Darul Ulum Jombang dengan koordinator pengasuh KH Rifai. Di dalam pondok, antara lain menekuni kitab nahwu, sorof, hadits dengan kajian kitab Riyadus Sholihin, fikih dengan kajian Fathul Qorib dan lain lain.





Namun demikian, kalau bangunan lantai tiga sudah selesai dimungkinkan jumlah anak yang mondok akan terus bertambah. Karena para orang tua dan siswa sangat antusias untuk mengikuti kegiatan pondok pesantren.?





Lebih lanjut Harun menceritakan, SMK Maarif NU 03 kini memiliki siswa sebanyak 946 orang. Mereka terbagi dalam dalam bidang keahlian Tehnik Kendaraan Ringan (TKR), Tehnik Audio Video, Multi Media dan Akuntansi. Mereka di bimbing oleh 60 guru sarjana dan master.





Sekolah yang memiliki luar luas tanah 1,5 hektar tersebut kini memiliki bangunan Lantai 2 sebanyak 12 lokal, dan Lantai 3 sebanyak 18 lokal. Kini telah diselesaikan bangunan lantai tiga sebanyak 5 lokal. “Dari 35 lantai, yang digunakan pembelajaran 28 rombongan belajar dan selebihnya untuk bilik pondok, dan laboratorium,” ungkapnya.





Sekolah milik MWCNU Larangan ini juga menggelar berbagai kegiatan ekstrakurikuler antara lain pramuka, futsal, bulutangkis, rebana, marawis, pencak silat dan lain-lain. (Wasdiun/Abdullah Alawi).















Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 13 Desember 2009

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Sidoarjo Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagai proses pengkaderan sebelum terjun ke masyarakat, para santri di pesantren mengkaji referensi literatur kutubus salaf dalam forum Bahtsul Masail. Seperti halnya yang dilakukan oleh santri aliyah kompleks Dar Assaadah di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Mereka membahas persoalan 9 patung manusia di sebelah Timur alun-alun Sidoarjo yang diturunkan beberapa pekan lalu karena karena dianggap berhala oleh sejumlah ormas. “Kami sengaja mengaji secara selektif tentang patung tersebut, karena beberapa waktu lalu masyarakat Sidoarjo diramaikan dengan pro dan kontra terhadap patung Jayandaru yang diletakkan di Alun-alun Sidoarjo itu," ucap ketua panitia Rahmat Hidayat, Kamis (11/3).

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Ia menambahkan, dari hasil bahtsul masail ini, selanjutnya akan dikaji kembali secara objektif dan akan diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo dengan tujuan meminta agar MUI Sidoarjo mengeluarkan fatwa haram terhadap patung, khususnya yang berada di Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Forum itu semakin ramai dengan komentar para musyawirin yang pro dan kontra terhadap keputusan dewan Muharrir yang dalam hal ini dihadiri Ketua Islamadina Sidoarjo Agus Lukman Hakim, Ketua STIQ Al Khoziny Syu’aib Nur Ali, dan ustadz senior Ach Shodiq Firdaus, serta perwakilan dari ulama Sidoarjo yang menentang adanya patung itu, KH Moh Nurul Huda Nawawi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagian santri berpendapat, ketika patung itu mengandung unsur pembelajaran, maka tidak apa-apa dibangun. Ada pula santri yang berpandangan tentang penghargaan yang menjadi ikon kota. Sebagian lain menawarkan jawaban, apabila patung tersebut tanpa kepala, maka tidak apa-apa dengan alasan patung yang diharamkan itu ketika ada kepalanya.

“Apabila patung ini diarahkan terhadap sebuah Ikon kota, mengapa tidak membuat sebuah Ikon yang melambangkan Sidoarjo sebagi kota santri, seperti membuat miniatur yang berkhazanah islami," kata Agus Lukman Hakim mengomentari pendapat dari para musyawirin yang kontra terhadap keputusan sementara yang diambil.

Ach Shodiq Firdaus pun menambahkan, dari beberapa jawaban yang ada, yang menarik adalah ketika dalam pembentukan patung mengandung unsur littarbiyah (pembelajaran). Namun itu juga harus ada kajian lanjutan, apakah setiap patung ada unsur pembelajarannya?

Akhirnya, dari beberapa jawaban yang ada dikembalikan kepada dewan mushohih yang dalam hal ini dihadiri oleh KH Moh Nurul Huda Nawawi. Ia menegaskan, apapun alasannya, patung yang berada harus dihancurkan. Terlebih yang berada di Sidoarjo.

"Dari semua pendapat kebanyakan ulama mengatakan, haram menggambar sesuatu yang mempunyai ruh, seperti hewan dan manusia. Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo, serta Bupati Sidoarjo untuk segera memberantas patung yang berada di Sidoarjo," tegasnya.

Terkait permintaaan MUI Sidoarjo yang diminta mengeluarkan fatwa haram, Kiai Huda mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil dari keputusan musyawarah para ulama se-Sidoarjo. Dan tentunya akan segera mengeluarkan fatwa haram terhadap patung yang berada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Nasional, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 09 Desember 2009

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?

Jumat 17 Juli 2015 bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1436 H. Tentu ada dua shalat berjemaah besar atau kita sebut dua lebaran (iadan). Yaitu shalat Idul Fitri dan Shalat Jumat.

Islam menyebut Jumat juga Id (lebaran) sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha. Apakah kita wajib shalat raya dua kali dalam satu hari?

Semua ulama sepakat bahwa antara kedua shalat Id dan Zhuhur tidak saling menggugurkan. Namun bagi yang telah melakukan Shalat Idul Fitri tidak wajib shalat Jumat. Ia boleh memilih, apakah shalat Zhuhur atau shalat Jumat.

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?

Namun bagi Imam atau khatib Jumat sebaiknya tetap melaksanakan shalat Jumat untuk mengukur, siapa dan berapa orang yg akan hadir Jumatan. Jika ternyata yang hadir Jumat kurang dari 40 orang (menurut Imam Syafii) maka laksanakan saja shalat Zhuhur berjamaah.

Ulama melakukan analagi (qiyas), bahwa dengan shalat maka seruan utk melakukan pertemuan antar masyarakat sudah terlaksana tanpa diadakannya shalat Jumat.? Jika sudah terjadi salah satunya dari maksud yang sama di antara shalat Id dan Jumat maka sudah dianggap cukup, seperti mandi besar (junub) sudah dianggap cukup untuk berwudhu.

Hadits dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah saw bersabda: "Telah terjadi secara bersamaan dua lebaran (Id dan Jumat) dalam satu hari ini. Barang siapa yang telah melaksanakan shalat Id maka silahkan siapa yang hendak hadir Shalat Jumat dipersilahkan atau hendak shalat Zhuhur dipersilahkan (untuk memilih antara keduanya)".?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebenarnya masih ada ulama lain yg mewajibkan shalat meskipun sdh melaksanakan shalat Id, karena perintah shalat Jumat berdasarkan dalil. Ada juga Ulama yg berpendapat bahwa, Shalat Jumat tidak wajib karena telah melaksanakan shalat Id hanya bagi tokoh-tokoh agama yang Shalih sebagaimana? Sayyidina Utsman terapkan pada zamannya.

Kami memilih pendapat, bahwa orang yang telah melakukan shalat Id tidak wajib melakukan shalat Jumat,? namun yg lebih utama, besok ini adalah melakukan shalat Id juga melakukan shalat Jumat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

M. Cholil Nafis, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 06 Desember 2009

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Oleh Rosidi



Miris, menyimak berita ada seorang ibu yang sudah tua di Kota Tangerang, harus berurusan dengan masalah hukum karena digugat oleh anak kandungnya sendiri. Selain gugatan materiil yang cukup besar, yakni Rp 1 miliar, Fatimah, sang ibu, juga dituntut pergi dari lahan yang menjadi tempat tinggalnya.

Tak kalah miris, tersiarnya kabar pembunuhan terhadap satu keluarga Medan Deli. Korban terdiri atas Riyanto (40), Sri Ariyani (35), Sumarni (60), dan dua anaknya, Naya (13) dan Gilang (8). Hanya si bungsu, Kinara (4) yang selamat dalam tragedi itu. Hanya saja, Kirana kondisinya kritis.

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Itu hanya dua contoh kasus yang mengiris hati dan perasaan. Banyak lagi kasus-kasus yang tidak beradab, terjadi. Pertanyaannya, bagaimana ada anak yang tega menggugat ibu kandungnya, yang telah mengasuh dan membesarkannya? Bagaimana pula seseorang bisa demikian liar, hingga tega membunuh tanpa perikemanusiaan?

Banyak faktor yang menjadikan seseorang kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga bisa melakukan tindak atau perilaku tidak terpuji. Lalu, bagaimana lembaga pendidikan mesti mengambil sikap dan berperan agar tindak (perilaku) tidak terpuji seperti itu bisa diminimalisasi, syukur tidak terulang lagi? ?

Untuk itu, internalisasi (penanaman) nilai-nilai karakter harus dilakukan sedini mungkin. Dan lembaga pendidikan melalui para pendidiknya, juga mesti tidak kenal lelah menginternalisasikan nilai-nilai karakter (akhlak) setiap waktu, melalui beragam materi pembelajaran yang ada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu materi yang tidak bisa dilupakan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak, adalah materi sastra, juga seni budaya. Sastrawan Ahmad Tohari, dalam salah satu kesempatan menyampaikan orasi budaya di Kabupaten Kudus, mengatakan, internalisasi pendidikan karakter terhadap anak, tidak bisa dipisahkan dari pengajaran sastra di sekolah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun fakta yang terjadi, menurutnya, hingga berganti-ganti kurikulum, sistem pendidikan nasional di tanah air, belum lagi memberi porsi yang cukup bagi pengajaran sastra. Dengan kata lain, pengajaran sastra masih dipandang sebelah mata.

Ironis. Pengajaran sastra mestinya diberi porsi yang cukup. Sebab, pengajaran sastra akan berdampak positif pada anak. Dengan membaca sastra, anak-anak tidak sekadar menjadi cerdas, melainkan juga lebih peka terhadap situasi sosial yang berkembang. (Ahmad Tohari, 2015).

Demikian pentingnya pengajaran sastra, sampai Ki Hajar Dewantara saat berbicara dalam Kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag pada 1916, mengemukakan, bahwa pendidikan kesenian (termasuk di dalamnya sastra-budaya-pen) merupakan pendidikan estetis. (Darsiti Soeratman, 1986)

Pendidikan estetis ini untuk melengkapi pendidikan etis (moral), yang bermaksud menghaluskan hidup kebatinan anak. Sehingga anak bisa mengembangkan berbagai jenis perasaan, baik itu perasaan religius, sosial, individual, dan lain sebagainya.

Perlu Porsi Cukup

Belum adanya porsi yang cukup terhadap pengajaran sastra-seni-budaya di sekolah (lembaga pendidikan) dalam kurikulum di pendidikan nasional, kiranya perlu mendapatkan perhatian serius. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perlu melihat secara langsung realitas pengajaran sastra di sekolah-sekolah.

Pengajaran sastra sebagai upaya internalisasi nilai-nilai karakter ini penting, karena hakikat pendidikan itu tidak sekadar agar anak cerdas secara kognitif an-sich, tetapi sebagaimana dikemukakan Ki Hajar Dewantara, adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.

Di luar itu, pendidikan anak dalam keluarga juga perlu mendapatkan perhatian. Orang tua, tidak bisa mengalihkan pendidikan anaknya secara penuh di sekolah, tanpa mendapatkan perhatian yang cukup.

Artinya, kendati sudah menempuh (mendapatkan) pendidikan di sekolah, anak tetap harus mendapatkan pengawasan dan teladan yang baik dari orang tuanya. Pendidikan berbasis keteladanan ini juga tidak boleh terlupa.

Menilik dari sini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Pertama; pemahaman orang tua terhadap pembelajaran di tengah keluarga.

Tak bisa dimungkiri, banyak orang tua beranggapan, bahwa dengan menyekolahkan anaknya, tanggung jawabnya mendidik anak sudah lepas. Padahal, pendidikan di sekolah hanyalah bagian kecil dari pendidikan dalam rangka menyiapkan kader bangsa yang cerdas, bertanggungjawab, dan berkarakter.

Kedua; maksimalisasi pengajaran sastra. Sekolah-sekolah mestinya memaksimalkan pembelajaran sastra, paling tidak bisa diwadahi melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra ini menjadi penting, karena ? banyak memuat nilai-nilai yang bisa memperteguh karakter anak.

Ketiga, komunikasi yang efektif antara guru di sekolah dan orang tua. Komunikasi ini untuk memantau perkembangan anak, sehingga proses pendidikan dan pengawasan tidak terputus, melainkan ada sinergitas antara di sekolah dan di tengah keluarga.

Terkait komunikasi antara pendidik dan orang tua dalam rangka memantau perkembangan anak, ini bisa belajar kepada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komunikasi antara pendidik PAUD dan orang tua peserta didik sangat baik, sehingga perkembangan anak terpantau dari dua sisi.

Di luar tiga hal di atas, perlu juga pengawasan terhadap anak dari tsunami informasi, baik melalui televisi maupun media lain, termasuk media sosial. Jaga anak dari program yang tidak mendidik. Jangan sampai, program-program televisi dan media lain memutilasi pendidikan yang didapat oleh anak, baik di sekolah maupun di keluarga.?

?

Penulis adalah pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 05 Desember 2009

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Oleh Nasrulloh Afandi

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan.

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa; takwa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing “peserta”, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana.



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan?


Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya.

Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi."

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia.

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya.

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya.

Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu.

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan.

Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat” . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu.

Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa?

Melacak Kontrol Takwa

Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa.

Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An’am: 162)

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa.

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa.

Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun.

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan?

Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya)

Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu.

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan?

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi.

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa.

Jika Nabi saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri?

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri.



Penulis adalah Kandidat Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 18 November 2009

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi

Blora, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekolah Menengah Kejuruan NU Kunduran Blora Jawa Tengah, melakukan terobosan baru yaitu membuka jurusan Farmasi. Jurusan tersebut untuk menampung lulusan SMP/MTs yang ada di wilayah Kabupaten Blora bagian barat, Kabupaten Grobogan bagian timur dan sebagian wilayah Kabupaten Pati bagian selatan.

”Insya Allah, tahun ini SMK NU Kunduran bisa membuka jurusan Farmasi,” ujar Kepala SMK NU Kunduran, Drs Mohadi Said MpdI.

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi

Mohadi, yang juga alumni pascasarjana Universitas NU Surakarta itu menambahkan, sebagai langkah awal pendirian jurusan baru tersebut, pekan lalu, pihak Dinas Pendidikan Blora sudah melakukan visitasi ke lapangan. Diharapkan, dalam waktu yang tidak lama lagi, izin operasional sudah bisa dikeluarkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, jurusan baru di bidang farmasi itu sebagai upaya menambah kemampuan warga yang ingin mempelajari ilmu farmasi. Rintisan menambah jurusan baru tersebut sudah menjadi keinginan yayasan sejak lama. Namun, karena berbagai pertimbangan, keinginan itu baru mulai diwujudkan tahun ajaran baru ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, SMK NU Kunduran yang dipimpinnya itu, kini memiliki siswa hampir 700 orang. Sehingga dengan penambahan jurusan baru tersebut, pihaknya berharap minat masyarakat yang akan menyekolahkan putra-putrinya ke SMK NU Kunduran akan makin bertambah.

SMK NU Kunduran, sebelumnya sudah memiliki beberapa jurusan. Seperti jurusan Sekretaris atau Administrasi Perkantoran. Kemudian jurusan Teknik Otomotif Sepeda Motor dan Teknik Komputer Jaringan.

"Dengan penambahan jurusan Farmasi, mudah-mudahan minat masyarakat yang ingin bersekolah di SMK NU Kunduran makin meningkat." (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 November 2009

ASBIHU Gelar Sertifikasi Pembimbing Haji Awal Bulan Depan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Pengurus Pusat Asosiasi Bina Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU NU) akan menggelar Diklat Sertifikasi Pembimbing Haji/Umrah. Kegiatan berlangsung 1-10 Mei 2017 di Gedung Asrama Haji Donohudan Solo, Jawa Tengah.

ASBIHU Gelar Sertifikasi Pembimbing Haji Awal Bulan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
ASBIHU Gelar Sertifikasi Pembimbing Haji Awal Bulan Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

ASBIHU Gelar Sertifikasi Pembimbing Haji Awal Bulan Depan

Pada diklat itu, PP ASBIHU NU bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang sebagai salah satu lembaga yang telah ditetapkan Kementerian Agama dalam pemberian Sertifikasi Pembimbing Haji.?

Mengacu pada Keputusan Dirjen Haji dan Umrah No: D/223 tahun 2015, sertifikasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas, kreativitas, dan integritas pembimbing manasik agar mampu melakukan aktualisasi potensi diri dan tugasnya secara profesional guna mewujudkan jemaah haji mandiri dalam hal ibadahdan perjalanan; memberikan pengakuan dan perlindungan atas profesionalitas pembimbing manasik dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab, dan kewenangannya dalam memberikan bimbingan manasik sesuai ketentuan pemerintah.

Selain itu sertifikasi juga bertujuan untuk menstandarisasikan kompetensi pembimbing agar dapat memberikan jaminan kualitas pelayanan di bidang bimbingan manasik; dan menjadi mediasi bagi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dalam mewujudkan penjaminan mutu (quality assurance) bagi pembimbing manasik baik yang ada di pemerintah maupun masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk kegiatan tersebut, ASBIHU memberikan diskon 50 persen dari total kebutuhan biaya sebesar Rp.7 juta. Masyarakat yang berminat mengikuti kegiatan dapat menghubungi nomor kontak Sekretaris Jenderal ASBIHU, H Nashir Maqsudi di nomor 0812-1881-2972 untuk informasi dan pendaftaran. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 06 November 2009

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Bintan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, melaksanakan kegiatan rutin majelis dzikir dan shalawat, Sabtu (18/10), di Masjid Alhijrah yang merupakan kawasan lokalisasi terbesar di Kabupaten Bintan.

Ketua PC GP Ansor Bintan Zainal mengatakan, kegiatan bulanan ini merupakan upaya mensyiarkan dakwah Ahlussunah wal Jamaah dan membumikan shalawat.

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Tokoh masyarakat, Abdulloh berharap ada pembinaan lebih intens di kawasan ini. “Alhamdulillah dengan pembinaan seperti ini dapat mengurangi jumlah pekerja seks di lokalisasi ini,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam kesempatan ini, sekretaris PCNU Bintan, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bintan, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bintan, dan warga Nahdliyin setempat. Acara dzikir dipimpin oleh ustadz Abu Fazla dan tausiyah disampaikan oleh Kiai Syaroni. (Majid/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Bahtsul Masail, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 30 Oktober 2009

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf, yang akrab dipanggil Gus Ipul mengaku pasrah atas kembali mencuatnya isu perombakan kabinet (reshuffle) dan mengarah pada pergantian dirinya.

"Sekarang, saya serahkan ke pada Presiden. Biarkan Presiden yang menentukannya," kata Gus Ipul, seusai menghadiri acara peluncuran buku Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie berjudul "Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi", di Hotel Santika Jakarta, Selasa malam.

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Saifullah Yusuf: Saya Serahkan ke Presiden

Gus Ipul mengaku, selama ini dirinya telah bekerja dengan baik dan maksimal. Namun, karena alasan kementeriannya tidak terkenal seperti kementerian yang lain, maka dirinya menyadari hal tersebut.

Akibat belum familiarnya nama kementeriannya, menjadi salah satu faktor kinerja tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. "Tapi sampai sekarang, Presiden belum mengatakan soal reshuffle kepada saya," katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan sama, Komisi VI DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa Cecep Syarifuddin mengatakan, reshuffle harus dilakukan. Namun, hal itu, kembali kepada hak prerogatif Presiden. Cecep menegaskan, PKB tidak akan mengusung menteri untuk ikut masuk dalam kancah isu reshuffle.

Disinggung mengenai nasib Gus Ipul, Cecep hanya mengatakan, hal itu yang menentukan adalah Presiden. "Presiden yang mempunyai penilaian mengenai hal itu," demikian Cecep.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelumnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mencopot Saifullah Yusuf dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), karena Saifullah Yusuf yang diakrab disapa Gus Ipul tersebut, sudah resmi duduk dalam struktur kepengurusan PPP sebagai wakil ketua Majelis Pertimbangan Partai.

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar mengatakan, permintaan itu sudah menjadi sikap resmi PKB dan sudah disampaikan kepada Presiden. (ant/mad)



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Bahtsul Masail, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 28 Oktober 2009

Pelajar NU Kudus Ambil Sikap Netral

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Konferensi cabang IPNU dan IPPNU Kudus akan tetap aman dan terjaga dari kontaminasi kepentingan politik. Panitia konferensi akan mengarahkan forum untuk fokus pada agenda konferensi sesuai rencana.

Pelajar NU Kudus Ambil Sikap Netral (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kudus Ambil Sikap Netral (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kudus Ambil Sikap Netral

Demikian ditegaskan Ketua IPNU Kudus Dwi Saifullah menanggapi adanya masukan supaya Konfercab menghindari  muatan politik jelang pilpres.

“Dalam konferensi ini tidak ada kepentingan politik. Kami tidak akan mengarahkan dukungan kepada salah satu capres karena secara lembaga, IPNU dan IPPNU itu netral,” kata Dwi Saifullah kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di sela sela  persiapan konfercab di MANU Nahdlatul Muslimin Undaan, Kudus, Senin (16/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sikap netral ini, tambah Dwi, diambil untuk mendewasakan sikap berpolitik kader dan anggota IPNU-IPPNU. Organisasi memberikan kebebasan anggota untuk menentukan pilihan sesuai kehendak hati masing-masing.

Pada konferensi yang berlangsung hari ini, Selasa-Kamis (17-19/6), IPNU dan IPPNU berusaha menjaga idealisme pelajar dalam rangka pematangan belajar, berjuang dan bersikap terhadap kondisi masyarakat di sekitar lingkungannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Jadi konfercab hanya fokus pada pembahasan program, memilih pemimpin baru IPNU dan IPPNU menuju kemajuan organisasi,” ujar Dwi.

Terkait persiapan konferensi, pihaknya menyatakan hingga H-1 sudah terdapat ribuan peserta yang mendaftar. Mereka ialah utusan resmi dari 129 unsur anak cabang, ranting, dan komisariat.

“Kalau kemarin kita rilis hanya 95 peserta, sekarang ada tambahan peserta konferensi yang memenuhi persyaratan. Setiap anak cabang, ranting, dan komisariat mengirimkan tiga utusan peserta dan peninjau,” ujarnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 25 Oktober 2009

SMK Maarif NU 01 Wanasari Peringkat Ke-3 Kabupaten Brebes

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Meski baru berusia empat tahun, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU 01 Wanasari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berhasil masuk peringkat ke-3 se-Kabupaten Brebes dan peringkat 25 se-Provinsi Jawa Tengah di bidang Kompetensi Kejuruan. Sedangkan untuk mata pelajaran Ujian Nasional (UN) peringkat ke-8 besar se-Kabupaten Brebes.

Demikian disampaikan Kepala SMK Maarif NU Ali Faozan MH pada wisuda dan harlah ke-4 sekolah tersebut di gedung Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (25/5/14).

SMK Maarif NU 01 Wanasari Peringkat Ke-3 Kabupaten Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Maarif NU 01 Wanasari Peringkat Ke-3 Kabupaten Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Maarif NU 01 Wanasari Peringkat Ke-3 Kabupaten Brebes

Kata Faozan, keberhasilan itu tercapai berkat rahmat Allah SWT dan kerja sama yang sinergi dari orang tua, guru, siswa, komite sekolah dan pihak Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wanasari. “Alhamdulillah, siswa kelas XII sejumlah 59 orang dinyatakan lulus 100 persen,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak hanya itu, diusianya yang ke-4 tahun Sekolah yang terletak di Jalan Pemuda Sawojajar, Pesantunan KM 1 Wanasari itu telah meluluskan alumni 86 orang. Berdasarkan data yang dihimpun, ternyata 80 persen alumni tahun 2012/2013 lalu telah mengabdikan ilmunya di dunia industri dan instansi swasta lainnya.

Sedangkan 10 persen melanjutkan ke perguruan tinggi dan yang 10 persennya lagi belum memberikan laporan ke pihak sekolah.  “Dengan kualitas sekolah yang makin tinggi, out put siswa juga makin bagus,” kata Faozan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terbukti peringkatnya makin bagus, sarana dan prasarana sekolah juga bertambah dan kompetensi guru  kualifikasinya bisa dipertanggungjawabkan karena berpendidikan S1 dan S2 dan melalui sertifikasi guru.

Sebagai wisudawan terbaik Sugiarti dengan nilai 8,7 dari program studi Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dalam sambutan yang dibawakan Wakil Bupati Narjo turut gembira dengan keberhasilan siswa-siswi SMK Maarif NU 01 Wanasari. Keberhasilain tersebut, tidak hanya dari segi intelektual tetapi juga dari sisi moral. Apalah artinya kelulusan kalau tidak ada keseimbangan antara keduanya.

Dia berpesan agar para siswa jangan sombong meski pandai, jangan curang meski terampil, jangan tidak jujur meski pintar, dan jangan culas walau cerdas.

Wisuda dimeriahkan dengan berbagai penampilan kreativitas siswa, antara lain tari batik dengan dandangan busana muslim, pencak silat pagar nusa, band pelajar, hipnotis dan lain-lain.

Untuk merekatkan dan menuangkan ilmunya ke masyarakat, para wisudawan menyampaikan ikrar alumni.

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua PC NU Brebes Drs H Sodikin Rachman, Sekretaris PCNU Lakhmudin MAg, Sekretaris PC LP Maarif NU Syamsu MPd, MWC Wanasari KH Sobarudin, Komite Sekolah Drs KH Ahmad Khumaedi, Rois Syuriyah MWC NU Wanasari KH Abdul Rouf Mustofa dan orang tua wisudawan. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 10 Oktober 2009

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Rabu (16/11) petang, berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Ia menyampaikan keprihatinan terhadap aksi demo 4 November lalu yang semula damai namun berakhir ricuh pada malam harinya.

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Ia menjelaskan bagaimana sejumlah oknun pendemo menggunakan bambu runcing dan beberapa alat lainnya untuk melukai polisi. Polisi, katanya, menyadari bahwa ada pihak tertentu yang memang menginginkan aksi demo berujung rusuh. Karenanya, polisi saat itu berusaha hanya bertahan untuk menghindari ketegangan yang kian panas.

"Akhirnya banyak sekali anak buah kami yang menjadi korban," tuturnya di hadapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waktum PBNU H Maksum Mahfudz, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU Eman Suryaman, dan beberapa pengurus lainnya.

Ia secara khusus juga meminta PBNU untuk mendinginkan suasana menyusul belum tuntasnya polemik soal pernyataan gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang berujung demo hingga dua kali di Ibu Kota. Ia berharap tak ada demo susulan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyambut baik kunjungan Kapolda Mtro Jaya. NU, katanya, sejak awal berkomitmen untuk meredam situasi agar tak berakhir rusuh. "PBNU percayakan kepada proses hukum," tegasnya.

Ia menilai aksi demo susulan sudah di luar persoalan kasus penistaan agama apabila targetnya adalah memaksa polisi untuk menahan Ahok sebagaimana kabar yang ia dengar. Menurutnya, langkah tersebut adalah bentuk tidak menghargai proses hukum.

Sikap PBNU ini juga selaras dengan seruan Kapolda Metro Jaya agar masyarakat tenang dan tidak melakukan tekanan pada proses hukum. "Apalagi kalau terkait (desakan politik kepada, red) petinggi negara, aksi ini berarti sudah inkonstitusional," tambah Iriawan.

Iriawan saat itu didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya Brigjend Suntana, Direktur Intelkam PMJ Kombes Merdisyam, Kapolres Metro Jakpus Kombes Dwiyono, dan Korspripim PMJ AKBP Arsal. (Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 03 Oktober 2009

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Peraturan Daerah (Perda) yang melarang warung buka di siang hari selama Ramadhan di Serang yang menjadi perbincangan nasional. Berbagai komentar baik yang setuju dan menolak bertebaran di media sosial.

"Saya kira regulasi soal itu adalah kearifan lokal. Boleh-boleh saja. Asalkan peraturan tersebut tidak bertentangan dengan empat pilar kebangsaan, yakni NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Jika bertentangan dengan empat pilar itu, regulai tersebut perlu dievaluaisi atau dicabut," tukas Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch. Eksan menjawab Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di sela-sela sebuah acara di aula PSBB MAN 1 Jember, Ahad (19/6).

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Tak Larang Buka Warung di Bulan Puasa

Menurut Eksan, menutup warung di siang hari selama bulan Ramadhan, bukan perintah syariat Islam. Yang diatur dalam Islam adalah larangan makan bagi orang yang menjalankan ibadah puasa tanpa ada sebab yang membolehkannya berbuka seperti perempuan haid atau musafir.

Menghormati orang yang berpuasa, lanjut dia, tidak harus dengan menutup warung. Sebab, warung juga berguna bagi orang yang udzur, musafir dan sebagainya. "Bahwa kita harus menghormati orang yang berpuasa, itu kita sepakat. Tapi melarang warung buka di siang hari, apalagi dengan cara yang kuang baik, itu jua tidak bagus," tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mantan aktivis IPNU Jember itu mengimbau agar pemilik warung juga harus sadar dan menjaga perasaan orang yang berpuasa. Tidak harus menutup warung karena mencari nafkah harus tetap jalan. Namun orang yang berpuasa juga harus dihormati, minimal dengan tidak terlalu vulgar membuka warungnya. "Kesadarn seperti inilah yang sebenarnya harus dibangun," ucapnya. (Aryudi AR/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 29 Juli 2009

GP Ansor Riau Dorong Kaderisasi Gotong-Royong

Kampar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Riau mendorong kaderisasi yang terus menerus yang dilakukan dengan gotong-royong oleh jamaah NU. Model semacam ini diharapkan dapat menjamin keberlangsungan kaderisasi di tubuh Ansor dan Banser.

"Jika kaderisasi semacam Diklatsar atau PKD (Pelatihan Kepemimpinan Dasar) sudah dapat dilaksanakan dengan cara gotong-royong oleh jamaah NU dan kader Ansor atau Banser maka tidak akan ada kekhawatiran kaderisasi berhenti atau tidak dilaksanakan karena alasan ketiadaan dana," kata Ketua PW Ansor Riau, Purwaji, didampingi Dan Satkorwil Banser Riau, Ibadullah saat membuka Diklatsar Banser ke 3 Kabupaten Kampar di Desa Makmur Sejahtera, Kecamatan Gunung Sahilan, Kampar 25 Maret lalu.

GP Ansor Riau Dorong Kaderisasi Gotong-Royong (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Riau Dorong Kaderisasi Gotong-Royong (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Riau Dorong Kaderisasi Gotong-Royong

Purwaji memuji keberhasilan PAC Ansor Gunung Sahilan, yang dipimpin Abdul Rochmat yang telah mampu memberikan contoh model pelaksanaan Diklat dengan pembiayaan swadaya yakni melalui iuran jamaah dan kader Ansor/Banser. Menurutnya, model semacam ini harus dicontoh oleh PAC dan PC Ansor lainnya se Riau.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kaderisasi ini harga mati untuk dilakukan secara terus-menerus karenanya tidak boleh bergantung pada APBD atau bantuan pihak luar. Justeru kita semua harus mendorong semangat gotong-royong lewat iuran untuk membiayai Diklat. Jika semua sudah memiliki kecintaan pada NU, Ansor dan Banser semestinya ini tidak sulit dilaksanakan," tegasnya.

Pria yang akrab disapa Mas Pur ini menambahkan, dalam sejarahnya, keberhasilan para pendiri NU dalam menghidupi jam’iyah terbesar di dunia ini adalah berkat keikhlasan dalam berkorban bagi organisasi. Dengan militansi para kiai NU itulah sekarang NU bisa seperti sekarang bahkan sudah diakui dunia dengan keberadaan 25 PCINU? di seluruh dunia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC Ansor Kampar, Wahid Arbain mengharapkan bulan depan sudah ada PAC yang kembali melaksanakan Diklatsar atau PKD dengan model yang sama, yakni bermodal iuran jamaah dan kader.

Diklatsar Banser di Gunung Sahilan dilaksanakan selama tiga hari dua malam. Kegiatan diawali dengan istighosah, materi ke-NU-an, ke-Ansoran dan ke-Banseran, baris berbaris, bela diri, out bond, pengisian asma, dan pembaiatan. Pada penutupan, Ahad (27/3) lalu, tercatat ada 90 peserta yang dinyatakan lulus. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 12 Juni 2009

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser

Lampung Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Diprediksi sekitar seribuan lebih, kader Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) se Kabupaten Lampung Tengah akan memadati halaman kompleks gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lampung Tengah.

Insya Allah besok, Jumat (21/7) kami segenap keluarga besar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah akan bersilaturahmi di kompleks gedung NU Lampung Tengah dalam rangka akan mengadakan pelantikan pengurus baru sekaligus Apel Banser dan dilanjutkan Rapat Kerja Cabang (Rakercab),” kata Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono di sela-sela persiapan pelantikan dan apel Banser di kompleks gedung NU Lampung Tengah, Jalan Proklamator Raya Nomor 134 Seputih Jaya Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (20/7).

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lampung Tengah Gelar Apel Banser

Ketua panitia pelaksana Gus Sholihin menambahkan, agenda pelantikan dan apel Banser pada tahun 2017 ini mengusung tema Berkhidmat Membangun Lampung Tengah: Berkarya Untuk Kemandirian Ekonomi Pemuda, Berjuang Untuk Agama dan Negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam konteks kekinian, apel Banser se-Kabupaten Lampung Tengah bertujuan menjaga dan memperteguh kembali semangat (ghirah) soliditas dalam mengawal dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” imbuh alumni IAIN Jurai Siwo Kota Metro ini.

Insya Allah, agenda pelantikan dan apel Banser mengundang para kiai pengasuh pesantren, pengurus NU Kabupaten Lampung Tengah, Pimpinan Pusat GP Ansor, Pimpinan Wilayah GP Ansor Propinsi Lampung, para mantan ketua pimpinan cabang GP Ansor Kabupaten Lampung Tengah, badan otonom di lingkungan NU Kabupaten Lampung Tengah, Bupati Lampung Tengah, Kapolres Kabupaten Lampung Tengah, Dandim 0411 Lampung Tengah, dan para tokoh masyarakat dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Cerita, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 April 2009

Peringati Harkitnas, Ini Sejumlah Tuntutan PMII Pariaman kepada Pemerintah

Pariaman, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman gelar aksi demo ke Kantor Balaikota dan DPRD Kota Pariaman yang bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Jumat (20/5). Aksi demo yang berlangsung tertib, diterima Walikota Pariaman Mukhlis Rahman dan anggota DPRD Kota Pariaman Reza Saputra.

Ketua Umum PC PMII Kota Pariaman  Masrizal yang turun langsung memimpin aksi tersebut menyampaikan sejumlah tuntutannya. Antara lain, terkait dengan wajib belajar 12 tahun yang dilaksanakan Pemerintah Kota Pariaman. Di satu sisi kebijakan tersebut sangat berdampak positif terhadap kemajuan pendidikan di Kota Pariaman. Namun, disayangkan hanya berlaku bagi sekolah umum. Sedangkan, sekolah madrasah tetap dipungut biaya. Hendaknya, Pemko juga dapat membebaskan siswa yang sekolah di sekolah agama. 

Peringati Harkitnas, Ini Sejumlah Tuntutan PMII Pariaman kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harkitnas, Ini Sejumlah Tuntutan PMII Pariaman kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harkitnas, Ini Sejumlah Tuntutan PMII Pariaman kepada Pemerintah

Masrizal juga menyebutkan informasi yang menyebutkan adanya sekitar 400 tenaga honorer dilingkungan Pemko Pariaman. Ada diantaranya yang tidak menerima honor. Untuk itu, Pemko Pariaman dapat memperhatikannya. 

"Perparkiran sebagai salah satu bagian yang menunjang pengembangan pariwisata di Kota Pariaman harus dirapikan. Jangan ada lagi yang main pakuak (menetapkan harga yang melebihi standar). Selain itu, kuliner yang menjual berbagai makanan sudah seharusnya memiliki daftar tarif. Sehingga harga makanan yang dijual ke konsumen memiliki standar," kata Masrizal mantan Ketua PK PMII STIE Sumbar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, PMII mendukung pengembangan wisata Islami di Kota Pariaman. Namun jangan ada even-even yang digelar dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islami. "Seperti iven Triatlon yang mendatangkan peserta dari luar Pariaman dan luar negeri, tapi pakaiannya sungguh tidak islami," kata Masrizal yang sekaligus sebagai koordinator lapangan aksi demo.  

Terkait dengan pembangunan Kota Pariaman, perlu pemerataan di empat kecamatan yang ada di Kota Pariaman. Jangan hanya tertumpu pada Kecamatan Pariaman Tengah. Pemerataan pembangunan tersebut akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat Kota Pariaman secara keseluruhan, tambahnya.

Sebagai generasi muda, kata Masrizal, PMII menolak paham komunis muncul kembali dan berkembang di Kota Pariaman. Untuk itu, Pemko Pariaman diminta untuk terus mewaspadai kemungkinan munculnya paham komunis tersebut di tengah masyarakat.

Walikota Pariaman Mukhlis Rahman memberikan apresiasi terhadap aksi demo yang berlangsung damai dari PMII Kota Pariaman. "Kita akan tampung aspirasi dari adik-adik mahasiswa yang tergabung di PMII Kota Pariaman," kata Mukhlis Rahman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Mukhlis, aksi demo yang dilakukan ini murni dari hati nurani mahasiswa PMII. Tidak ada pihak tertentu yang memprovokasi atau membonceng dari aksi demo mahasiswa ini. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Pondok Pesantren, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 25 Februari 2009

Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kadangkala seseorang yang ingin meraih surga melakukan pengembaraan yang jauh. Padahal, pintu surga ada di sekitarnya, bahkan berada di dalam rumahnya sendiri. Kalaupun ada yang tahu, mereka tidak mempraktikannya.

Menurut Ustadz Ahmad Al Habsy kunci untuk meraih surga dari dalam rumah sendiri adalah dengan cara menghormati kedua orang tua, memuliakan kedua orang tua.

Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu

“Mengapa mengejar surga yang jauh sementara surga yang dekat ditinggalkan?” kata da’i ibu kota saat berceramah pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriyah di halaman Mapolres Brebes, Jawa Tebgah, Kamis (6/2) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kata Ahmad, demikian panggilan akrabnya, menyarankan agar membahagiakan dulu orang terdekat. Juga jangan pelit dengan kedua orang tua maupun saudara-saudara dekat kita. Kadang kita terlalu memberi kebahagiaan kepada orang-orang di luar dengan mengharapkan pujian, sementara orang tua kita dan saudara-saudara kita terlupakan. “Jangan sampai, kelihatan mulia di luar sementara di mata orang tua kita justru sangat hina,” ungkit ustadz Ahmad.

Dia mengingatkan, kalau doa orang tua untuk anaknya sama dasyatnya dengan doa Nabi kepada umatnya. Bahkan sumpah orang tua saja sangat kramat apalagi doanya. “Jadi, ketika Ibu-ibu menyumpahi anaknya, sumpahilah yang baik-baik. Jangan sampai keluar kata sumpah serapah yang menyesatkan. Karena sumpah Ibu sangat keramat,” ujar Ahmad mengingatkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kenapa orang tua kita sejak di kandungan mempertahankan antara hidup dan mati untuk kelahiran kita. Tetapi hanya sedikit sekali dari kita yang siap mati untuk kemuliaan orang tua kita. “Jihadmu, Ibu untuk melahirkanku. Tetapi aku lupa ketika dewasa bahkan cenderung durhaka,” kata Ahmad dalam pengakuan doa penutupnya.

Dalam kesempatan tersebut, artis sinetron Yulia Rachman menampilkan monolog ‘Kemuliaan Nabi’. Yulia tampil dengan mempesona memakai hijab merah muda yang membalut tubuhnya. Parasnya yang cantik membuat para remaja putra maupun putri terkesima dibuatnya. Yulia memberikan testimonial tentang keteguhannya memakai hijab hingga hidupnya terarah dan selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Kapolres Brebes AKBP Ferdy Sambo SH SIk MHum mengatakan, digelarnya kegiatan Maulud Nabi untuk memberikan sumbangsih peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Trutama? kepada para anggota Polri maupun masyarakat pada umumnya. Menurutnya, Brebes harus diciptakan kondisi yang aman agar masyarakatnya bisa khusuk beribadah.

Kapolres juga memberikan santunan kepada ratusan anak yatim piatu yang diserahkan secara simbolis kepada dua anak yatim piatu. Sementara Ustadz Ahmad Al Habsy membagi-bagikan buku kepada pengunjung yang dengan konsentrasi mengikuti ceramahnya. Sebanyak ratusan buku diberikan kepada pengunjung dan tamu undangan khusus.

Tampak hadir Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Wakil Bupati Brebes Narjo beserta pejabat terkait lainnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Nusantara, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 22 Februari 2009

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Oleh M. Haromain

Disadari atau tidak, kini perkembangan peradaban manusia telah berada di suatu masa yang nyaris semua hal diukur dengan materi. Terdapat kecendrungan orang makin mengukur legitimasi tindakannya berdasarkan harga. Dalam arus globalisai ini hampir semua urusan diukur dengan uang. Dalam istilah para politisi dan pengusaha dikenal pula prinsip "tak ada makan siang yang gratis".?

Sebagai konsekuensinya orang baru mau mengerahkan tenaga, keterampilan, keahlian dan pikirannya untuk orang lain jika ada ganti materi yang sebanding dengan kerja yang ia berikan. Seseorang bersedia memberikan suatu jasa kepada pihak lain bila ada harga yang sesuai. Akhirnya siapa yang kaya materi dapat memanjakan dan memuaskan pelbagai keinginannya seraya punya banyak alternatif ? gaya hidup yang dapat dipilihnya. ?

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Tetapi harap diketahui pula, bahwa di sisi lain masyarakat dengan segala hal for sale seperti di atas kondisinya akan kontras bagi mereka yang tak mampu. Artinya semakin banyak hal yang diukur dengan materi, semakin menghimpit orang miskin dari kehidupan. Maka di sini terjadilah kesenjangan sosial yang dapat pula disebut sebagai kemungkaran sosial-meminjam istilahnya almarhum Muslim Abdurrahman.

Tak dapat dipungkiri fenomena masyarakat pasar (market society) ini, meminjam istilahnya Michael J. Sandel, tak hanya terjadi di wilayah perkotaan, melainkan sudah merambah juga sampai di kehidupan desa-desa, yaitu daerah yang dahulu warganya dikenal memiliki rasa solidaritas dan sistem paguyuban yang tinggi.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu indikator degradasi atau kemerosotan tersebut ialah makin hilangnya tradisi sambatan yang dahulu melekat kuat dalam masyarakat pedesaan. Sambatan ialah kerja gotong royong seperti membantu dalam proses pembuatan atau perbaikan rumahnya tetangga atau bersama-sama ikut membantu mencangkul sawahnya kerabat atas dasar solidaritas sosial dan dalam hal ini tidak mendapatkan bayaran.

Apakah sudah sedemikian keraskah tatanan hubungan masyarakat hingga semua dinilai dengan materi. Tidak adakah amal perbuatan yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan, menolong dan membantu tanpa pamrih?

Disinilah urgensitas dari makna disunnahkannya ? memperbanyak sedekah serta kewajiban membayar zakat fitrah bagi tiap muslim pada bulan Ramadhan ini. Kita tahu orang yang membayar zakat dan memberi sedekah motifasinya adalah murni ibadah, mendekatkan diri kepada Allah serta mengharapkan ridho-Nya, selain tentunya menggugurkan dari tuntutan kewajiban. Tidak menuntut agar penerima zakat dan sedekah itu memberikan jasa balik entah berupa tenaga, ketrampilan maupun nilai manfaat lainnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kewajiban zakat dan anjuran memperbanyak sedekah pada bulan puasa ini selain sifatnya transendental, sejatinya juga mengirim sinyal kepada umat manusia bahwa sepatutnya jangan semua hal diukur dengan materi, namun manusia perlu insaf bagaimanapun tetap ada bidang-bidang kehidupan yang tak bisa bahkan tak boleh diukur dengan uang.

Tidak cuma itu, hikmah disyariatkannya zakat dan memperbanyak sedekah terutama pada bagian akhir bulan suci Ramadhan adalah agar mereka yaitu golongan yang tidak mampu dapat ikut bahagia dan bergembira pada hari kemenangan, hari raya Idul Fitri.?

Pada perayaan hari Idul Fitri semua orang tanpa kecuali harus bergembira, termasuk orang-orang yang digolongkan kurang mampu. Kegembiraan hari raya idul fitri bukan monopoli orang Islam yang berkecukupan saja, melainkan hak semua muslim.

Alhasil hikmah disyariatkannya kewajiban zakat fitrah serta anjuran berderma pada bulan ramadhan yang mulia ini menandakan betapa agama Islam di samping agama yang anti kemiskinan namun disisi lain juga sangat peduli kepada orang miskin. Mengajarkan supaya orang kaya menyantuni kaum papa, golongan orang lemah (mustadh’afin).***

Penulis adalah Pengajar di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 18 Februari 2009

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus NU di tingkat manapun perlu mendampingi warga dalam melakukan amaliyah ke-NUan seperti istighotsah, tahlilan, maulidan, dan lainnya. Kesempatan orang tua untuk mengenalkan tradisi ke-NUan, perlu diperkuat dengan menitipkan anak mereka di pesantren dan madrasah.

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Demikian disampaikan KH Dimyati Zaini di tengah belasan ribu jamaah dalam peringatan Harlah ke-91 NU di Bakung Barat kecamatan Undawanu, Blitar, Selasa (10/6).

“Yang lebih penting lagi, kita harus memerhatikan pendidikan putra-putri kita. Jangan sampai salah memasukkan sekolah. Sedapat mungkin kita masukkan anak-cucu ke pesantren dan pendidikan formal milik NU,” terang Kiai Dimyati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, warga tidak perlu menyangsikan kualitas pendidikan pesantren dan sekolah NU. “Lembaga pendidikan di lingkungan kita saat ini sudah baik, bahkan tidak kalah dengan milik orang lain. Sebagai contoh Mts dan Aliyah Ma’arif NU,’’ katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kaderisasi, menurut Kiai Dimyati, perlu diupayakan secara terpadu dengan menggerakkan amaliyah NU dan melibatkan unsur pendidikan di lingkungan sekolah NU. “Tujuannya mengamankan masa depan remaja NU.” (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah