Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU

Majalengka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Muslimat NU dan Fatayat NU Majalengka sebulan sekali turun mengunjungi kadernya di tingkat kecamatan. Mengambil lokasi di pesantren Raudlatul Mubtadiin Cisambeng, Palasah, Majalengka, Sabtu (6/9) pagi, mereka berupaya melibatkan lebih banyak perempuan di Majalengka untuk aktif dalam gerakan Muslimat, Fatayat, dan IPPNU.

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Majalengka Diminta Partisipasi dalam Gerakan Perempuan NU

Ketua Fatayat NU Majalengka Hj Atun Minatul Maula menuturkan tujuan kegiatan rutin di awal ini untuk mengonsolidasi kader dan pengurus Fatayat dan Muslimat di tingkat kecamatan.

“Kegiatan dari pesantren ke pesantren ini diharapkan mendorong lebih besar partisipasi perempuan pesantren dalam gerakan perempuan NU. Selain mengaji dan aktivitas rutin harian, peran perempuan pesantren sangat dibutuhkan Muslimat NU dan Fatayat NU,” harap Hj Atun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hj Atun juga mengimbau Fatayat NU dan Muslimat NU Majalengka untuk berjejaring dengan banom-banom lainnya seperti IPPNU. Dari situ, kaderisasi perempuan di lingkungan NU Majalengka berjalan lancar. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PMII Serahkan Bantuan kepada Korban Banjir di Sukoharjo

Sukoharjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Sukoharjo, Kamis (1/12), memberikan bantuan untuk korban banjir di Desa Pranan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

PMII Serahkan Bantuan kepada Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Serahkan Bantuan kepada Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Serahkan Bantuan kepada Korban Banjir di Sukoharjo

Penyerahan bantuan tersebut langsung dilakukan secara simbolis oleh Ketua PC PMII Sukoharjo bersama Ketua Komisariat Raden Mas Said.

Ketua PMII Cabang Sukoharjo, Hilmy Zulfikar, mengatakan pemberian bantuan ini selain untuk meringankan beban mereka juga suatu bentuk kepedulian.? "Tak ada upaya yang bisa kami lakukan selain ini. tapi mudah-mudahan bermanfaat," ujar Helmy kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat ini merupakan partisipasi dan bantuan dari masyarakat pengguna jalan raya di jalan utama Solo-Semarang, tepatnya di perempatan Kartasura. “Kita adakan aksi sosial untuk penggalangan dana bagi para korban banjir,” kata Hilmy.

Hilmy menambahkan, sebelum melakukan penggalangan dana, mereka terlebih dahulu dengan para pengurus Ansor dan Banser stempat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami harap masyarakat tak melihat jumlah bantuan yang kami berikan, tapi ketulusan dan kepedulian kami," katanya.

Adapun dana yang terkumpul kemudian dibelikan sembako untuk diserahkan kepada korban banjir. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 11 Februari 2018

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmawansyah sangat mengharapkan kerja sama dengan PBNU dalam menyosialisasikan Gerakan Revolusi Mental ini bisa terwujud.

Demikian disampaikan Aris Darmansyah pada acara Workshop Finalisasi Penyusunan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/10).

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental

Pada Gerakan Revolusi Mental sendiri terdapat lima poin, yakni Gerakan Indonesia bersih, Gerakan Indonesia melayani, Gerakan Indonesia tertib, Gerakan Indonesia mandiri, dan Gerakan Indonesia bersatu.

Di antara kelima gerakan revolusi tersebut, setidaknya ia berharap PBNU bisa bekerja sama untuk menitikberatkan pada gerakan Indonesia mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Gerakan Indonesia Mandiri dalam bentuk pemberdayaan umat, baik dari segi potensi maupun dari segi ekonomi. Sementara Gerakan Indonesia bersatu ialah terkait radikalisme.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Melalui kerja sama ini, diharapkan anatara Keminko PMK dengan PBNU bisa bersama-sama menangkal radikalisme.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kita bisa mengurangi gerakan radikalisme yang Akhir-akhir ini sepertinya semakin banyak, " kata Aris.

 

Ia berharap, buku modul yang akan disusun tersebut tidak hanya dicetak dan disosialisakin, tapi juga harus diterapkan.

Tampak hadir pada acara tersebut Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman, Wasekjen PBNU H. Masduki Baedowi,  Wasekjen Sultonul Huda, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Habib, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dibesarkan dalam tradisi surau di Sumatera Barat, Asrul Sani memperjuangkan aspirasi para kiai. Iklim politik era Sukarno, memosisikan prinsip-prinsip estetika di dalam lingkaran aspirasi yang harus diperjuangkan di tengah masyarakat. 

Perihal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Abdul Mun‘im DZ kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (25/3) petang.

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Asrul Sani Bawa Aspirasi Estetika Para Kiai

“Di era Orde Lama, kesenian merupakan sebuah sarana terdepan bagi perjuangan antarpartai,” tambah Abdul Mun‘im DZ.

Pada waktu itu, lanjut Abdul Mun‘im, Asrul Sani menilai pentingnya kehadiran sayap kesenian dari para kiai tergabung dalam Partai Nahdlatul Ulama. Karena argumentasi yang bagus, Asrul Sani sanggup meyakinkan partai NU untuk membentuk lembaga kesenian yang kemudian disebut Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Argumentasi keagamaan yang dikedepankan Asrul Sani di hadapan para kiai mencerminkan kematangan Asrul Sani sebagai seniman yang dibesarkan surau.

Kepercayaan para kiai NU membuat Asrul Sani bergerak leluasa dalam memperjuangkan aspirasi Partai NU dalam bidang kesenian. Selain itu, ia menjembatani para kiai NU dan seniman yang akan bergabung di Lesbumi.

Asrul menjaring para sineas antara lain Misbach Yusa Biran, Sukarno M Noor, Usmar Ismail, dan lain-lain dalam gerbong LESBUMI. Mereka aktif menulis dan membuat film sesuai dengan prinsip estetika di kepala kiai NU, tandas Abdul Mun‘im.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Pondok Pesantren, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP

Manado, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Musyawaran nasional dan Konferensi Besar (Munas dan Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung di Lombok pada 23-25 November mendatang akan membahas Rancangan UU KUHP dan sejumlah RUU lainnya yang menjadi perhatian publik. 

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas dan Konbes NU Bahas RUU KUHP

Ketua Panitia Munas Robikin Emhas menjelaskan, UU yang sudah berlaku sejak zaman Belanda ini hingga kini belum direvisi, sementara situasi yang ada saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan dengan saat UU tersebut dibuat. 

Sebenarnya, sejak 1968, dalam setiap periode DPR, UU tersebut selalu dibahas, tetapi tidak pernah selesai. Ia berseloroh, RUU ini selalu tidak jadi karena termasuk UU yang “kering” sehingga tidak ada yang ngurus. Hal ini berbeda dengan RUU terkait dengan politik yang setiap lima tahun berganti karena ada kepentingan dari partai politik dalam perebutan kekuasaan. 

Terdapat tema keagamaan dan kebangsaan yang dibahas dalam Munas dan Konbes. Sebelum dibawa ke forum tersebut, tema-tema serius tersebut dibahas dalam pra-Munas dan Konbes yang berlangsung di berbagai daerah, yaitu di Palangkaraya, Lampung, Manado, dan Purwakarta.

Beberapa masalah lain yang dibahas adalah adalah penyalahgunaan frekuensi publik yang dijadikan alat kampanye golongan tertentu dan soal investasi dana haji agar produktif. “Status dan hak anak di luar nikah juga dibahas setelah ada keputusan MK bahwa orang tua biologisnya memiliki tanggung jawab. NU membahas dalam perspektif keagamaan,” kata Robikin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Robikin juga menjelaskan adanya pembahasan soal fikih disabilitas, yaitu bagaimana negara memperlakukan warga negara yang selama ini memiliki ketidaksempurnaan anggota tubuh. Fasilitas ibadah di masjid, geraja dan lainnnya ternyata belum ramah bagi mereka. 

Persoalan ujaran kebencian untuk berdakwah juga akan dibahas mengingat saat ini begitu marak ketika mimbar-mimbar keagamaan digunakan untuk menebarkan kebencian edan fitnah kepada orang lain atau untuk menggalang dukungan politik. “NU akan membahas hukum, bagaimana menggunakan mimbar yang mulia untuk ujaran kebencian,” ujarnya.

Tak kalah penting adalahsoal redistribusi lahan. PBNU akan membahas masalah ini karena berharap sebelum diselesaikan, konsepnya dahulu harus matang, baru dilakukan redistribusi lahan karena hal ini bukan hanya soal soal sertifikasi tanah atau bagi-bagi tanah, tetapi harus untuk menjadi syarana pencapaian kesejahteraan masyarakat. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor NTT gelar diskusi terbatas pemuda lintas agama di Sekretariat PWNU NTT Jalan W. H. M Oematan Kelurahan Kelapa Lima Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Jumat (23/12). Mereka mendeklarasikan NTT Damai yang memuat sembilan butir pernyataan.

Dalam pertemuan itu seluruh perwakilan pemuda menyatakan mendukung deklarasi cinta damai untuk pemuda dari NTT untuk Indonesia dan melahirkan beberapa poin rekomendasi masing-masing OKP.

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Natal GP Ansor NTT dan Pemuda Lintas Agama Duduk Bersama

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis menegaskan, diskusi terbatas GP Ansor bersama pemuda lainnya adalah bentuk nyata pemuda harus duduk bersama untuk membicarakan berbagai dinamika dari daerah. Pemuda adalah pemimpinan masa depan bangsa.

"Pemuda duduk bersama untuk membicarakan kemajuan bangsa," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam pertemuan ini Kasat Binmas Polres Kupang Kota, Pimpinan Laskar Merah Putih NTT, Ketua Budha NTT, Ketua Pemuda Hindu NTT, Ketua GMKI Kupang, HMI Kupang, PMII Kupang, Kahmi Kota Kupang, GP Ansor Kota Kupang, Fatayat serta Muslimat NU NTT, dan perwakilan media cetak serta beberapa undangan lain dari OKP lokal. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 23 Januari 2018

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017

Mataram, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama tahun 2017 dihelat di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 23-25 November. Serangkaian acara telah digelar di berbagai kota untuk mengawali forum yang mengusung tema tema “Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga” ini.

Acara pra-munas dilaksanakan sedikitnya di empat kota sejak Oktober lalu dalam bentuk forum diskusi, antara lain di Kota Manado, Sulawesi Utara, dengan subtema “NU dan Kebinekaan”; Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (“Kesenjangan Sosial dan Penguatan Ekonomi Warga”); Kota Bandar Lampung, Lampung (“Penguatan Organisasi menuju Satu Abad NU dan Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga”);? Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dengan mengaji sejumlah isu pokok yang bakal digodok di forum bahtsul masail Munas.

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Rincian Isu Pembahasan Munas Alim Ulama NU 2017

(Baca juga: Apa Perbedaan Munas dan Konbes NU?)

Pada pelaksanaan Munas, musyawirin (sebutan untuk peserta forum ini) akan dibagi ke dalam tiga komisi, yakni (1) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan aktual), (2) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan tematik), dan (3) Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Qonuniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan berkaitan dengan perundang-undangan).

Berikut rincian pembahasan yang bakal dikaji pada masing-masing komisi tersebut:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

A. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Waqi’iyyah

? ? ? ? 1. Frekuensi Publik

? ? ? ? 2. Investasi Dana Haji

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? 3. Izin Usaha Bepotensi Mafsadah

? ? ? ? 4. Melontar Jumrah Aiyamut Tasyriq Qablal Fajri

? ? ? ? 5. Status Anak dan Hak Anak Lahir di Luar Perkawinan.

B. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Maudlu’iyyah

? ? ? ? 1. Fiqih Disabilitas

? ? ? ? 2. Konsep Taqrir Jama’i

? ? ? ? 3. Konsep Ilhaqul Masail Binazhairiha

? ? ? ? 4. Ujaran Kebencian (Hate Speech)

? ? ? ? 5. Konsep Amil Dalam Negara Modern Menurut Pandangan Fiqih

? ? ? ? 6. Konsep Distribusi Lahan/Aset.

C. Bahtsul Masail ad-Diniyyah al-Qonuniyyah

? ? ? ? 1. Ruu Lembaga Pendidikan Keagamaan dan Pesantren

? ? ? ? 2. RUU Anti Terorisme

? ? ? ? 3. Tata Regulasi Penggunaan Frekuensi

? ? ? ? 4. RUU Komunikasi Publik

? ? ? ? 5. RUU KUHP

? ? ? ? 6. RUU Etika Berbangsa dan Bernegara

? ? ? ? 7. Regulasi Tentang Penguasaan Lahan.

Munas-Konbes NU 2017 rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, Kamis (23/11) siang, di Islamic Center NTB, Kota Mataram. Panitia pusat dan panitia lokal sejak beberapa hari lalu tampak sibuk merampungkan sejumlah persiapan untuk menyambut ribuan orang yang bakal datang dari berbagai daerah. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Sebelum 7 Tahun Anak Mesti Mengerti Shalat

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ada salah satu hadist Nabi Muhammad saw yang menerangkan para orang tua agar memerintahkan shalat kepada anak-anaknya setelah usia 7 tahun. Namun, terkadang masih banyak orang yang keliru dalam memahami hadist tersebut.

“Banyak yang salah paham, anak usia 7 tahun baru diajari shalat,” kata Habib Noval bin Muhammad Alaidrus, dalam acara wisuda Tahfidz al-Qur’an Ta’mirul Islam, di Gentan Sukoharjo, belum lama ini (21/12).

Sebelum 7 Tahun Anak Mesti Mengerti Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum 7 Tahun Anak Mesti Mengerti Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum 7 Tahun Anak Mesti Mengerti Shalat

Pengasuh Majelis Zikir dan Ilmu Ar-Raudhah Solo tersebut menjelaskan, semestinya sebelum usia 7 tahun itu, anak diajarkan dan bahkan sudah dapat melakukan gerakan shalat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Termasuk mengetahui syarat, rukun, dan sunahnya. Juga hal lain yang berkaitan dengan shalat seperti masalah wudlu, najis dan juga haid,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mencontohkan laku para ulama salaf, semisal Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, yang ketika usia 4 tahun sudah memiliki wirid harian shalat sunah 200 rakaat. “Ada lagi, putra Habib Ali Al-Habsyi, muallif Simtuddurar, ketika usia 4 tahun dia sudah bisa menerangkan masalah haidh,” tuturnya.

Menurut Habib Noval, permasalahan ini sebetulnya disebabkan karena orang tua masih menganggap anaknya masih kecil, sehingga masih belum dikenakan kewajiban. Oleh karena itu, ia berharap agar para orang tua dapat mendidik anaknya untuk shalat sedari dini. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, AlaSantri, Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 15 Januari 2018

Muslimat NU Malaysia Resmikan Ranting Sungai Cincin

Kuala Lumpur,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia meresmikan ranting baru, yaitu Sungai Chinchin. Peresmian dilakukan Ketua Muslimat NU Cabang Malaysia Mimin Mintarsih yang didampingi 7 Pengurus Pusat Bidang Dakwah Muslimat NU.

“Alhamdulillah, ranting kami sudah bertambah satu lagi. Total ada 2, yaitu Changkat dan Sungai Cincin,” kata Mimin Mintarsih selepas pelantikan pada Sabtu (10/10) malam.

Muslimat NU Malaysia Resmikan Ranting Sungai Cincin (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malaysia Resmikan Ranting Sungai Cincin (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Malaysia Resmikan Ranting Sungai Cincin

Pelantikan tersebut dibarengi santunan kepada 30 anak-anak yatim piatu. “Penerima santunan termuda adalah seorang bayi yang baru berumur 5 bulan. Dia ditinggal mati ibunya 2 minggu yang lalu. Semoga ayahnya sabar dalam merawat anak ini,” kata Mimin berkaca-kaca sambil menggendong si bayi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setiap anak disantuni satu parsel dan uang tunai RM 35. “Dimanfaatkan baik-baik ya pemberian ini. Ini untuk keperluan sekolah, jangan dibuat jajan,” pesan Mimin kepada anak-anak. Secara insidental, PP Muslimat NU Bidang Dakwah juga menyerahkan bantuan senilai 5 juta rupiah.

Pelantikan diakhiri dengan tabligh akbar dengan penceramah Dra. Nurhayati Said Aqil. “Meski baru 1 tahun dilantik, tapi (Muslimat NU Malaysia) sudah banyak melakukan kegiatan,” katanya mengapresiasi Muslimat NU Malaysia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua IV PP Muslimat Koordinator Bidang Dakwah ini juga menegaskan betapa penting peran ibu terhadap keluarga. Ibu-ibu, terangnya, harus memperhatikan pergaulan anak-anak, termasuk di dalamnya mengurangi kekerasan terhadap mereka. Serta meningkatkan keharmonisan keluarga.

Ia juga mengajak Muslimat untuk peduli terhadap bencana akhir-akhir ini. Misalnya dengan membagikan masker gratis kepada anak-anak dan orang tua yang terkena asap tersebut.

Turut hadir juga perwakilan KBRI, Tri Gustono. Selain mendorong peningkatan ikatan persaudaraan Indonesia–Malaysia, ia juga mengimbau kepada rakyat Indonesia, sah-sah saja datang ke Malaysia, tapi harus dengan prosedur yang benar.

Adapun pendanaan acara tersebut ditanggung oleh Pengurus Muslimat, Aura JPS Cargo, dan PT Telekomunikasi Indonesia International (TELIN) Malaysia. “Alhamdulillah, kalau kita berusaha dengan keras dan ikhlas, ada saja jalan yang Allah berikan,” aku Mimin menasehati. (aa/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Januari 2018

Pengobatan Gratis di Lima Pesantren

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tak kurang dari seribu orang memadati posko pengobatan gratis yang digelar di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Kamis, (13/9).  Pengobatan gratis ini merupakan hasil kerjasama antara LKNU (Lembaga Kesehatan NU), dan beberapa organisasi yang tergabung dalam Komunitas Tionghoa Ciayumajakuning Indonesia (KTCI).  

Panitia Ahmad Nahdi mengatakan bahwa acara pengobatan gratis merupakan bagian dari rangkaian Munas Alim Ulama Konbes NU yang akan dibuka besok. “Dan ini sekaligus sebagai sumbangsih NU dan berbagai komunitas yang merasa peduli terhadap kesehatan masyarakat,”  ujar Nahdi.

Pengobatan Gratis di Lima Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis di Lima Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis di Lima Pesantren

Sebelumnya, acara yang sama juga digelar di empat pondok pesantren di wilayah III Cirebon, di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Pondok Pesantren Jatibarang Indramayu, Pondok Pesantren Buntet Cirebon, serta pondok pesantren Jagasatru Kota Cirebon.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Jika dikalkulasikan selama rangkaian pengobatan gratis ini digelar, pengobatan gratis yang digelar dalam rangka menyambut munas alim ulama dan konbes NU ini melibatkan sekitar tiga ribu peserta. Pembagiannya sesuai dengan pendaftaran yang diperoleh masing-masing titik tempat pelaksanannya,” jelas dr. Sutara, Ketua Panitia Lokal Bidang Kesehatan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam proses pelaksanaannya, pengobatan gratis ini juga melakukan jejaring dengan berbagai rumah sakit rujukan, seperti RS. Sumber Waras Ciwaringin Cirebon dan RSUD Arjawinangun Cirebon untuk menghadapi kemungkinan terdapatnya peserta yang memiliki penanganan kesehatan yang lebih serius.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Sobih Adnan



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, AlaNu, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 28 Desember 2017

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rendahnya kualitas hidup kaum perempuan di Indonesia salah satunya adalah akibat kebijakan pembangunan yang bias gender. Pola pembangunan semacam ini berdampak serius dalam marginalisasi kepentingan perempuan di semua sektor kehidupan, dari mulai masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan lain-lain.



Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Maria Ulfa: Fatayat Berjuang untuk Martabat Perempuan

Di sektor pendidikan misalnya, kebanyakan warga negara yang buta huruf dan berpendidikan rendah adalah kaum perempuan. Sehingga mereka kerap menjadi korban tindak kekerasan maupun sasaran eksploitasi.

“Karena itu Fatayat NU kini memiliki program yang lebih terarah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi kaum perempuan, khususnya warga nahdliyin,” ungkap Ketua Pengurus Pusar Fatayat Fatayat Nahdlatul Ulama, Hj Maria Ulfa saat memberikan sambutan pada acara Pelantikan Pengurus Cabang Fatayat NU Kab Tegal masa khidmat 2007-2011, Ahad (20/5).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara yang bertempat di aula SMK Negeri 1 Slawi itu sekaligus juga Pengesahan Pusat Informasi Konsultasi Kesehatan dan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) PC Fatayat NU Kab Tegal. Turut hadir pada kegiatan tersebut, Rois Syuriah NU Kab Tegal, KH Chambali Utsman, Katib Syuriah KH M Abror Jamhari, Ketua DPRD H Ahmad Husein, Kepala Dinas PMKB & Kesos Pemkab Tegal Haron Bagas Prakosa, dan seluruh pengurus Cabang dan Anak Cabang Fatayat NU se-Kabupaten Tegal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan Maria Ulfa, isu kesehatan yang menimpa kaum hawa juga telah lama menjadi “pekerjaan rumah” bagi kader-kader Fatayat dari tingkat pusat hingga cabang. Kasus banyaknya kematian ibu karena proses melahirkan, kematian balita, penyakit animea dan lain sebagainya adalah menjadi bagian dari garapan program kerja Fatayat NU saat ini. “Sehingga kemudian kita bekerjasama dengan Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk membentuk PIK-KRR sampai ke setiap Pengurus Anak Cabang Fatayat NU,” ujarnya.

Selain itu, rendahnya kualitas hidup kaum perempuan juga akibat kesenjangan ekonomi. Banyak kaum ibu yang tertindas secara ekonomi tidak mendapatkan perlindungan ataupun keberpihakan yang lebih nyata. “Fatayat NU telah bermitra dengan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan suatu program terkait masalah ini. Fatayat juga akan memberikan advokasi terhadap kaum perempuan yang menjadi korban kesenjangan ekonomi dan kebijakan pembangunan daerah,” katanya.

Sementara itu, Ketua PC Fatayat NU Kab Tegal Hj Nur Khasanah menegaskan, pihaknya siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk merealisasikan program-program yang bersifat kemanusiaan. “Selama ini, kami juga telah bekerjasama dengan LSM luar negeri seperti FHI, UNICEF dan UNDP. Terutama program pencegahan HIV/Aids, Flu Burung, Deman berdarah dan lain-lain,” katanya.(fei)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 Desember 2017

Anggi Berharap Daiyah Fatayat Jadi Tempat Bertanya Masyarakat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Anggia Ermarini berharap kepada peserta peningkatan kapasitas Mental Spiritual bagi Daiyah di Daerah Transmigrasi agar aktif berkeliling di daerah transmigrasi untuk memberikan informasi kepada masyarakat, baik soal agama atau yang lain.

Menurut Anggi, para daiyah adalah tempat bertanya bagi masyarakat tentang agama, urusan rumah tangga atau persoalan kehidupan keseharian lainnya.

Anggi Berharap Daiyah Fatayat Jadi Tempat Bertanya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggi Berharap Daiyah Fatayat Jadi Tempat Bertanya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggi Berharap Daiyah Fatayat Jadi Tempat Bertanya Masyarakat

“Ibu-ibu (daiyah) sekalian ini sangat penting perannya di masyarakat, sangat penting perannya di komuniats masing-masing,” kata Anggi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM), Jakarta Timur, Selasa (17/10).

Untuk mempunyai peran tersebut, ia meminta kepada para daiyah untuk memanfaatkan waktu selama 4 hari ini supaya mendapat peningkatkan kapasitas keagamaan, bahkan kesehatan, perdagangan dan yang lainnya.

“Silakan nanti waktu yang lumayan panjang ini bisa dimaksimalkan sehingga bisa mengambil banyak ilmu dari pelatihan selama empat hari ini,” kata perempuan yang juga dosen Universitas Indonesia ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan peningkatan kapasitas ini sendiri dilaksanakan selama empat hari (16-20/10) dan diikuti 3 0 peserta terdiri atas Daiyah Fatayat NU se-Sumatera dan Indonesia Timur, Organisasi Masyarakat (Ormas), dan undangan.

Hadir pada kegiatan ini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Bidang Dakwah PP Fatayat NU Hj Anisa Rahmawati, dan Dirjen Pembangunan Kawasan Transmigrasi (PKTrans) HM. Nurdin. (Husni Sahal/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Halaqoh, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 21 Desember 2017

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejumlah penjual atribut ke-NUan berjajar menghadapi meja di area Munas-Konbes NU 2014 di halaman Gedung PBNU, Sabtu (1/11) siang. Sejumlah produk tertata rapi di atas meja yang antara lain menampung kaos bergambar wajah kiai NU, batik, poster, stiker, buku, hingga gantungan kunci yang menunjukkan arah kiblat sembahyang. Di jajaran trotoar Gedung PBNU, penjual batu akik hadir di salah satu barisan pedagang.

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Batu Akik Buka Lapak di Area Munas-Konbes NU 2014

Andri, pria berkaos hitam itu mencoba peruntungan penjualannya di tengah hilir-mudik peserta Munas-Konbes NU dan warga yang ingin melihat jalannya sidang. 

“Saya berkeliling dari kota ke kota untuk menjual akik. Kemarin dari Bengkulu. Sebelumnya dari Medan,” kata Andri menghadapi bentangan papan yang bertaburan batu-batu indah di atasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pria asal Padang ini menggelar lapaknya persis mulut gerbang PBNU. Andri berdua dengan sahabatnya mencoba mengadu nasib lewat berjualan akik yang kini digandrungi banyak warga mulai dari remaja hingga setengah tua.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia mengaku baru setahun berjualan akik melihat belakangan ini tingginya permintaan warga Indonesia terhadap akik. Selain kaos, batik, dan gantungan kunci, cincin akik merupakan salah satu ciri khas kiai NU dan Nahdliyin. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kajian Islam, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Desember 2017

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Pengembangan Perekonomian Nahdlatul Ulama Lampung Selatan mengambil pembudidayaan lebah madu sebagai program unggulannya ke depan. Kesepakatan ini diambil dalam musyawarah pengurus LPPNU Lampung Selatan, Sabtu (6/12).

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Lampung Selatan Unggulkan Budidaya Lebah Madu

Ketua LPPNU Lampung Selatan Slamet Novianto mengatakan, LPPNU Lampung Selatan ke depan fokus pada pembudidayaan lebah madu sebagai salah satu potensi lokal.

“Tentu kita juga berharap untuk bisa menjaga, melanjutkan, dan membangun hasil-hasil pertanian masyarakat Lampung Selatan yang warganya mayoritas Nahdhiyyin, di samping hasil bumi pertanian dan peternakan,” ujar Slamet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pembudidayaan lebah madu sudah diawali sebelumnya oleh salah satu pengurus LPPNU Ustadz Khoiruddin. Ia merupakan Koordinator Divisi Kehutanan dan Tata Ruang di LPPNU.

Ketua PCNU Lampung Selatan H Nur Mahfud yang hadir pada rapat pengurus ini mengajak pengurus LPPNU Lampung Selatan agar bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau diamati Lampung Selatan sangat luas dan mayoritas petani baik itu perkebunan, sawah, peternakan dan lainnya. Banyak potensi yang harus dikembangkan. Dengan wadah LPPNU ini masyarakat bisa terbantu baik dalam pengolahan, pemasaran yang benar-benar bisa bermafaat,” kata H Mahfud. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Ulama, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 November 2017

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita

Banyuwangi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Banyuwangi menggelar diskusi kajian tentang fiqih perempuan bersama puluhan kader pelajar NU di Aula Kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (30/05) malam.

Gelaran diskusi kajian fiqih perempuan ini dihadiri langsung oleh wakil ketua 3 PAC IPNU Banyuwangi bidang Departemen Dakwah Ahmad Surur dan sekaligus pemantik diskusi kajian ini.

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Fikih Perempuan, Penting tak Hanya bagi Wanita

Diawal Surur mengatakan, mempelajari fiqih dan dalil-dalil hukum di dalam agama Islam merupakan perkara yang penting baik untuk kalangan Muslim laki-laki dan perempuan.

"Kita sebagai manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Untuk itu, kita membutuhkan fiqih dalam melaksanakan aktifitas ibadah. Misal, shalat, ? puasa, haji, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya," ungkap ? Surur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tak hanya itu lebih spesifik, Surur menilai pentingnya belajar fiqih masalah haid, nifas, wiladah, dan istihadlah mutlak diperlukan, baik di kalangan perempuan maupun laki-laki.

"Karena posisi laki-laki suatu saat akan menjadi kepala keluarga dan secara otomatis memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi tentang darah wanita kepada istri dan keturunannya kelak," jelas Surur.

Selain itu, pasalnya kalangan wanita sendiri mengenai darah haidl dengan istihadlah ? masih bingung membedakannya. Mana itu darah haid atau sebaliknya, terang Surur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Terkadang seorang wanita telah mengeluarkan darah haidl lebih dari 15 hari masih dianggapnya haidl, padahal itu tidak. Kadang pula masih belum dapat membedakan antara kriteria darah qowi (kuat) dan tidak," tutur Surur.

Apa lagi, kebanyakan dari mereka ? wanita yang masih awam dan baru merasakan haid.

"Makanya kita bidik para kader-kader NU khususnya kaum hawa untuk mengikuti kajian ini. Karena sadar, ini adalah syariat utama untuk menjalankan segala ibadah. Bukankah kebersihan sebagian dari iman," tutup Surur. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

 Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU merupakan faktor penting tidak terjadinya kekerasan antarmasyarakat sipil di Kalimantan Selatan ketika pecah peristiwa politik pada tahun 1965. Pernyataan ini dikemukakan oleh Toga Tambunan, ketika bertindak sebagai salah seorang pembahas dalam diskusi buku “Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni” yang berlangsung di Galeri Nasional.

Di dalam buku yang membahas kehidupan perupa Misbach Tamrin, kelahiran tahun 1941 di Amuntai, Kalimantan Selatan, yang pernah mendekam selama 13 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan komunis, terungkap bahwa di Kalimantan Selatan relatif tidak terjadi kekerasan antar masyarakat sipil pada tahun peralihan politik tersebut.

Memang ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah. Di Kalsel tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya, dalam hal ini para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. “Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa seperti yang saya dengar belakangan,” demikian pengakuan Misbach seperti dikemukakan dalam buku.

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu (22/11) itu dihadiri Hairus Salim HS dan Hajriansyah yang merupakan penulis buku, dan E. Z. Halim, Sihar Ramses Simatupang, dan Sulistyono yang juga turut menjadi pembahas. 

Misbach sendiri beranggapan  bahwa relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu, yang menurutnya merupakan pengagum Sukarno. Namun anggapan itu diragukan oleh Toga Tambunan. Menurutnya, ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI.

Pertama, lanjutnya, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan. Tapi selain itu, tambah Toga, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang NU. Jadi NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Toga menceritakan bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang. Toga yakin mereka tahu siapa tahu siapa sebenarnya ia, tetapi mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya.      

Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini. Ketua Umum NU saat itu adalah KH. Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut. Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itulah yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI. “Saya sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia),” katanya. “Sebelum ke Banjarmasin, saya redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo,” tambahnya seusai diskusi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kesaksian Toga Tambunan yang dikemuakan dalam diskusi buku ini cukup menarik perhatian peserta diskusi. Diskusi buku ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Pameran Tunggal Misbach Tamrin berjudul “Arus Balik” yang pembukaannya berlangsung pada 20 November dan dihelat hingga 30 November 2015 di Galeri Nasional. (Red: Mahbib)

 

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 31 Oktober 2017

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

Gresik, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penyerasian Almanak Tingkat Nasional dibuka oleh Dirjend Bimas Islam Kementerian Agama RI H Abdul Djamil di Pendopo Kabupaten Gresik, Kamis (9/5) malam. Kegiatan ini digelar oleh Lajnah Falakiyah PBNU dan dihadiri pakar hisab-rukyat NU dari berbagai daerah.

Abdul Djamil mengatakan, penyerasian hisab merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan hari raya.

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

“Berbagai upaya tetap kita lakukan meskipun sampai saat ini belum ada titik temu. Kita tidak akan berputus asa,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah usai acara pembukaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara pembukaan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional juga dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum, Bupati Gresik H Sambari Halim dan Wakil Bupati Muhammad Qosim, dan Dirjen Biman Islam Kemenag RI H Abdul Jamil, dan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat H. Ahmad Izzuddin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum mewakili panitia daerah mengatakan, hisab penentuan awal bulan menjadi bagian tugas yang harus dilakukan oleh umat Islam karena berkaitan dengan persoalan ibadah.

“Hukum melakukan hisab adalah fardu kifayah. Semoga para ahli falak mendapatkan pahala yang besar karena berkat mereka ini orang Islam lepas dari dosa,” katanya.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri mengatakan, sedikitnya ada 20 metode hisab yang berkembang di Indonesia, dan diantaranya memiliki tingkat perbedaan yang cukup signifikan. Maka perlu ada upaya yang disebut oleh NU sebagai “penyerasian hisab”.

“Perbedaan hisab bisa menjadi persoalan. Maka kita lakukan penyerasian hisab atau hisab jama’i yang nantinya akan dipublikasikan dalam bentuk almanak,” kata Kiai Ghazali.

Kegiatan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional ini akan berlangsung sampai Sabtu (12/5) besok. Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU H Nahari Muslih mengatakan, kegiatan ini diikuti sedikitnya 60 ahli falak dari berbagai daerah. Sidang akan dibagi ke dalam empat komisi. Dua komini membahas persoalan hisab, dan dua komisi lainnya membahas soal program dan pengembangan Lajnah Falakiyah.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Nahdlatul, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 30 Oktober 2017

Kemenag Harap Indeks Kepuasan Haji Tahun Ini Naik

Batam, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) yang juga Sekjen Kemenag Nur Syam berharap indeks kepuasan jemaah haji tahun ini naik dua persen sehingga masuk dalam kategori sangat memuaskan.

Harapan ini disampaikan Nur Syam saat membuka Sosialisasi Peningkatan Pelayanan Jemaah Haji di Arab Saudi tahun 1438H/2017M yang digelar Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri di Batam, Selasa (6/6). Sosialisasi ini diikuti para Kabid PHU 13 Provinsi, yaitu: Provinsi Aceh, Sumater Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan DKI Jakarta. Selain itu, sosialiasi juga diikuti tim Badan Pusat Statistik dan Pusat Kesehatan Haji.

Kemenag Harap Indeks Kepuasan Haji Tahun Ini Naik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Harap Indeks Kepuasan Haji Tahun Ini Naik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Harap Indeks Kepuasan Haji Tahun Ini Naik

Hasil survei BPS tentang indeks kepuasan jemaah haji tahun 2015 berada pada posisi 82,67%. Hasil survei ini naik 1.16% pada tahun 2016 menjadi 83.83%. Dua hasil survei ini berada pada kategori memuaskan.

"Kalau bisa naik 2%, kita sudah bisa memasuki kategori sangat memuaskan yaitu 85%. Kalau bisa naik 2%, ini luar biasa karena layanan haji kita sudah sangat memuaskan," ujarnya sebagaimana disampaikan kemenag.go.id.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Nur Syam mengapresiasi upaya Direktorat Layanan Haji Luar Negeri dalam melakukan persiapan pelayanan jemaah haji di Arab Saudi. Proses sosialisasi terkait layanan juga perlu dilakukan agar jemaah haji bisa memahami lebih dini hal-hal yang akan mereka dapatkan selama di Saudi.

Namun demikian, Nur Syam menggarisbawahi pentingnya perbaikan dan reaksi cepat terhadap sektor-sektor layanan yang masih dalam persiapan, utamanya terkait dengan pengurusan dokumen jemaah dan paspor. Menurutnya, ada sejumlah provinsi yang proses penyelesaian paspornya masih di bawah 50% dan karenanya harus dilakukan akselerasi mengingat pemberangkatan kloter pertama sekitar 50 hari ke depan.

Selain itu, Nur Syam juga mengingatkan pentingnya peta masalah dan prediksi problem. Belajar dari tahun 2015, pada saat semua terkonsentrasi pada peningkatan layanan, justru muncul masalah visa. Hal semacam ini, menurut Nur Syam, perlu diantisipasi sehingga tidak terulang kembali.

Selain soal layanan, Nur Syam juga menyoroti masalah perlindungan jemaah. "Kalau pelayanan sudah baik, maka perlindungan terhadap jemaah menjadi perhatian. Tahun 2016 misalnya, isunya sudah mulai bergeser ke arah perlindungan," terang Nur Syam.

Terkait hal ini, mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran jemaah terkait regulasi di Saudi. Menurutnya, jemaah perlu diberi kesadaran bahwa mengejar keselamatan dalam beribadah itu jauh lebih penting dari mengejar keutamaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Lakukan koordinasi dengan KBIH dan penyelenggara bimbingan manasik di daerah, agar jemaah makin mentaati terhadap regulasi, baik yang disiapkan pemerintah maupun Saudi," terangnya.

Nur Syam mencontohkan masalah kepatuhan jemaah terhadap jadwal lempar jumrah yang sudah dibuat Saudi.

"Kedepankan keselamatan beribadah dibanding mengejar waktu utama. Ini tema kita. Saya rasa tanggung jawab para Kabid untuk menyebarkan hal ini untuk mengingatkan jemaah terkait regulasi," sambungnya.

Sebelumnya, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis mengatakan 50 hari jelang keberangkatan kloter pertama ke Arab Saudi, penyediaan layanan di Arab Saudi sudah selesai semua. Untuk itu, Kemenag melangkah pada tahap selanjutnya untuk melakukan proses diseminasi informasi kepada para stakeholder haji.

"Melalui sosialisasi ini, diharapkan informasi layanan di Saudi akan tersampaikan ke seluruh jemaah sehingga mereka mengetahui layanan yang akan diberikan sebelum berangkat haji," terang Sri Ilham Lubis.

Selain Sri Ilham Lubis, sejumlah narasumber dijadwalkan hadir dalam dua hari ke depan. Mereka antara lain Komisi VIII DPR RI Iskan Qolba Lubis, mantan Dirjen PHU Abdul Djamil, serta para ketua tim penyediaan layanan di Arab Saudi, baik katering, transportasi, maupun akomodasi. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi

Salatiga, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Sekitar enam ribu warga di Wilayah Kabupaten Semarang ikut dalam aksi penolakan kebijakan Full Day School (FDS) yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017. Warga tumpah ruah memenuhi halaman Kantor Bupati Semarang di Ungaran, Jumat (18/8).

Mereka kemudian ditemui langsung oleh Bupati Semarang H Mundjirin beserta Wakil Bupati Ngesti Nugraha.

Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kearifan Lokal Ikut Tereduksi Bila Madrasah Sepi

Menurut Koordinator Aksi KH Zaenal Muttaqin mengatakan, madrasah diniyah dan pondok pesantren sebagai budaya pendidikan Nusantara akan hilang seiring pemberlakuan FDS.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Hilangnya madin dan pesantren, kemudian dapat mengakibatkan munculnya budaya-budaya yang akan mereduksi kearifan dan keragaman pendidikan lokal,” tegas Zaenal.

Ia mencontohkan, kasus yang sudah terjadi di daerahnya di mana sejak diberlakukan FDS, banyak TPQ dan madin yang mulai ditinggalkan muridnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Korbannya madrasah diniyah banyak yang sudah gulung tikar, TPQ di Ungaran saja sudah banyak yang tutup. Di lingkungan saya juga ada pondok yang santrinya sebagian dari SMA, SMP dan SD negeri yang dulunya pagi sekolah sore atau malamnya di madin atau ponpes sekarang tidak mondok lagi," kata Zaenal yang juga Ketua RMI Kabupaten Semarang itu.

Turut hadir dalam acara tersebut Rais Syuriyah (Plt) PCNU Kabupaten Semarang KH Fatkhurrahman Thohir, Ketua PCNU Semarang (Plt) KH Abdul Gofar. Dalam aksi tersebut warga juga mengadakan istighotsah untuk mendoakan keselamatan bangsa ini. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 24 Oktober 2017

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

NU tak dipisahkan dengan pesantren. Ketika regenerasi di pesantren mandek, maka akan mandek juga di NU. Sehingga butuh pengkaderan yang khusus untuk putra-putri kiai agar pesantren tetap jalan. Ketika itu berhasil, akan membantu untuk mendinamisasi NU yang pada gilirannya untuk bangsa Indonesia.?

Jadi, dengan demikian, kaderisasi dan regenerasi di pesantren tiada lain adalah untuk bangsa ini.?

Lalu bagaimana resep agar putra-putri kiai bisa menjalankan cita-cita NU dan bangsa ini? Pengasuh Pondok Pesantran Al-Huda Doglo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, KH Habib Ihsanuddin bercerita pengalaman dan resepnya kepada Abdullah Alawi dari Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Berikut petikannya.?

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

Bagaimana caranya mempertahankan pesantren?

Pertama kiai itu harus ikhlas. Ikhlas itu adalah nilai tertinggi. Dia mendirikan pondok pesantren itu betul-betul dari lubuk hati untuk bisa bagaimana umat islam bisa paham terhadap agama. pertama kiai itu harus ikhlas. Kedua, kiai itu harus istiqomah di dalam mengajar karena tidak istiqomah ibaratnya seperti ayam mengerami. Kalau ayam itu dikerami, tapi tidak istiqomah, sering ditinggal pergi, ya tidak akan jadi, tidak akan menghasilkan kutuk yang sangat baik, bahasa jawanya kemelekeren atau gagal. Podok juga sama.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Yang kedua kalinya, pondok itu harus ditangani dinomorsatukan dari yang lain, tidak boleh dinomorduakan. Kalau dinomorduakan banyak sekali, seorang kiai punya pondok pesantren merangkap menjadi anggota DPR, ini akhirnya pondoknya yang akan kalah, jika dinomorduakan.?

Jadi istilah orang punya istri, harus dijadikan istri nomor satu. Jadi saya ini saya udah 53 tahun membina anak-anak dari nol. Saya mempelajari setiap pergerakan itu. Sering saya pergi begitu saja, anak-anak itu sudah bimbang tidak karu-karuan. Jadi harus istiqomah, ikhlas, tabah, tiga itulah yang menjadi sayarat untuk mempertahankan pesantren.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jadi, terutama sekarang ini. Sekarang ini NU dalah kekuatan Indonesia. Kekuatan NU itu di pondok pesantren. Contohnya yang memimpin NU kan kiai-kiai. Semua kiai keluaran dari pondok pesantren. Tidak ada kiai keluaran bukan pondok pesantren. Kiai mesti keluaran pesantren. Kita harus betul-betul memperhatikan permasalahan pondok pesantren ini karena ini adalah dasarnya NU, mempertahankan pondok pesantren berarti mempertahankan NU.?

Oleh karena itu, kalau sampai terjadi rencana pelajaran hanya lima hari dan 8 jam, ini yang akan akan kena akibatnya adalah pondok pesantren. Karena pondok pesantren itu rata-rata sekarang sudah diadakan pendidikan formal. Kalau 8 jam sampai jam empat, diniyah itu biasanya waktu sore, anak sudah payah, habis pikirannya, sehingga diniyahnya hilang, padahal diniyah itu bagian dari pondok pesantren. Oleh karena itu, NU melalui Rais ‘Aam menolak gagasan itu, saya dari pondok pesantren sangat-sangat setuju.?

Bagaimana supaya putra dan putri pesantren bisa melanjutkan perjuangan orang tuanya, salah satunya melanjutkan pesantren?

Selain mempelajari pelajaran agama secara paripurna, artinya tidak sepotong-sepotong, kalau tafsir Al-Qur’an ya 30 juz, kalau hadits ya namanya Muslim 4 jilid, Bukhori 4 jilid, dan dimulai dari bawah nahwunya, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah sehingga dalam mempelajari agama itu betul-betul bisa paripurna, tidak sepotong-sepotong. Kemudian juga anak-anak itu di pondok itu harus diadakan sekolahan formal. Kalau tidak disertai dengan formal, sehingga katakanlah, dia bisa membaca kitab, tapi tidak bisa membaca tanda-tanda zaman. Oleh karena itu kedua-duanya harus ada. Dia nyantri, juga sekolah.?

Kemudian setelah ngaji, sekolah selesai, kemudian masuk organisasi, pendidikan yang sangat luar biasa organisasi itu karena banyak sekali kiai-kiai yang yang tidak berorganisasi itu enggak tahu keadaan sekarang seperti di Jakarta enggak tahu apa-apa, tapi masuk organisasi dari IPNU, Ansor, naik di NU, insyaallah akan tahu. Dia akan bisa. Selian itu juga harus sering membaca ya, bacaan-bacaan tujuan dia, membaca bukunya Pak Said Aqil, Gus Dur, Mbah Hasyim Asy’ari, sehingga kita akan bisa tahu para sesepuh dulu bagaimana perjuangannya. Juga para pimpinan sekarang. Kita kombinasikan. Insyaallah itu akan tahu tanda-tanda zaman.

Putra-putri kiai sebagai kader Ahlussunah wal-Jama’ah, bagaimana resep atau kunci mereka mengabdi di masyarakat?

Begini, yang pertama mengetahui bahwa ajaran Ahlussunah itu benar. Yakin. Kalau orang sudah yakin tidak mudah digoyah. Saya tiap bulan didatangi (dia menyebut nama sebuah organisasi), dari Solo, Yogya, dari pusat, mereka memberi penjelasan… Karena saya sudah yakin kepada kebenaran ajaran NU, ya tidak tergoyahkan. Perjuangan itu harus yakin dulu tentang apa yang diperjuangkan. Kalau tidak yakin, ya seperti orang-orang itu, pelacur politik, di sana tidak posisi pindah sini, di sini tak ada posisi pindah sana. Lha kalau kita didahului dengan yakin, kita tidak akan pindah. Kalau anda tidak bisa menyampaikan argumentasi yang bisa mengalahkan keyakinan saya, jangan harap saya ikut keyakinan saudara.?

Saya zaman Orba, didatangi tokoh-tokoh waktu itu, diberikan cek kosong untuk membangun pesantren, tidak bisa. Saya kalau tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam, Islam tidak ada sangkut pautnya dengan Ahlussunah wal-Jama’ah, tidak. Yakin itu sudah ada. Kita sudah mempelajari tuntunan konsep-konsep Ahlussunah wal-Jama’ah dengan sungguh-sungguh sejak zaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sampai Pak Idham Chalid, sampai sekarang, kita akan akan tahu programnya NU. Saya di hadapan orang-orang jenggotan, saya ini orang NU, didikan pesantren.?

Jadi, jika saudara mendengar dalil-dalil, argumen dari saya dalam debat nanti, itulah bahwa di Indonesia ada orang seperti saya, yang pendapatnya seperti saya, dahulu debat. Karena saya sudah yakin kebenaran jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Kemudian kita juga mengikuti perkembangan sekarang bagaimana berita, baik surat kabar, tv, buku-buku yang lain tentang doktrin Ahlussunah wal-Jama’ah. Itulah harapan kami.

Saya pernah didawuhi Pak Idham Chalid. Kalau ingin menjadi pemimpin itu, satu, jangan hasud. Jangan jadi orang dengki, iri hati. Itu harus dihilangkan dan jangan takut dihasudi. Jangan hasud dan jangan takut dihasudi.?

Saya tadi membaca orang yang menghasud Kiai Said Aqil. Tidak apa-apa, itu kan pendapat Saudara. Said Aqil tetap jalan terus, jangan berhenti. Menjalankan NU itu adalah menjalankan haq, menjalankan yang benar, jangan hasud, jangan dihasud. Orang yang hasud itu tidak akan menjadi pemimpin.?

Panjenengan semua itu harus bertanggung jawab, bahwa sespuh NU itu akan meninggal. Siapa lagi yang harus mengganti, ya kamu-kamu sekalian. Anak-anak muda itu harus mempersiapkan diri konsep-konsep NU, tujuan NU apa yang sekarang diperjuangkan NU, ini harus dipelajari di organisasi, mendapatkan gembelengan untuk memimpin. Pokoknya panjenegan harus bismillah siap untuk memikul tanggung jawab NU di masa yang akan datang. Benar, NU itu adalah haq, benar. Coba NU itu sudah berapa lama mau dihancurkan, sampai sekarang, tapi alhamdulillah wa qul jaal haqqu wazhaqal bathil innal bathila kana zahuqa.?

NU itu punya keistimewaan yang tidak dipunyai orang lain. Ya itu, masih banyak kiai yang ikhlas, masih banyak kiai yang memiliki karomah dan di dalam perjuangan itu tidak hanya pinter yang diajukan tapi syariat dengan haqiqat. Sebab syariat saja tanpa haqiqat itu, syariat hanya pintar saja, tidak disertai doa dan pendekatan kepada Allah, maka kosong, ibarat pohon tidak ada buahnya. Haqigar tanpa syariat, sampeyan berdoa saja, tanpa berjuang ngalor ngidul, ngetan ngulon, tidak mendirikan Pagar Nusa, tanpa Ansor, berdoa saja, klenik jadinya. Jadi kita harus syariat dan haqiqat besama-sama, insyaallah. Kepandaian dan wiridan yang ajeg, pondok pesantren itu tidak hanya dibangun semen dan beton dengna pasir, tapi panjang lagi harus dipndasi dengna prihatin, riyadlah supaya kekuatannya lahir batin.?

NU juga begitu. Saya akan selalu prihatin selain untuk pondok saya, saya juga insyaalah karena Idham Chalid mengatakan pesantren itu adalah ibarat ranjang dan kolong. Adanya NU adalah karena adanya pondok. Pondok itu karena yang mendukung orang NU. Syaiani mutalamijaini. Dua yang keberadaannya harus ada. Ada pondok ada NU. Ada pondok ada NU.?





Seandainya pondok itu berkurang atau bahkan tidak ada, bagaimana NU?

Saya rasa akan hancur. Karena NU itu dipimpin ulama. Ulama itu mesti lulusan pondok pesantren. Sampai detik ini belum ada ulama tidak tamatan pondok pesantren. Kalau ada ya ustadz. Jadi oleh karena itu, antara NU dan pondok pesantren harus ada. Ini menurut pendapat saya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Humor Islam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah