Selasa, 25 Desember 2012

Kang Said Terima Titipan Kurban 9 Sapi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. KH Said Aqil Siroj menerima titipan kurban sebanyak 9 ekor sapi dari masyarakat yang dikirimkan ke rumahnya di jl Sadar Raya Ciganjur Jakarta Selatan. Empat ekor sapi telah didistribusikan ke masjid disekitar kediamannya, salah satunya Masjid Al Munawwarah yang berada di kompleks kediaman Gus Dur.

Kang Dayat, staff rumah tangga keluarga Kang Said mengaku tidak tahu siapa saja masyarakat yang menyerahkan hewan kurban tersebut karena langsung berkomunikasi dengan keluarga. Ia juga tidak tahu apa lima sapi yang tersisa akan dipotong di rumah atau dikirimkan ke masjid yang lain.

Kang Said Terima Titipan Kurban 9 Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Terima Titipan Kurban 9 Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Terima Titipan Kurban 9 Sapi

“Pagi ini belum ada yang dipotong karena masih menunggu kedatangan pak Kiai yang menyampaikan khotbah Idul Adha di Kalbar. Mungkin bisa dipotong malam nanti atau besok pagi,” katanya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meskipun demikian, sudah terdapat 800 kupon yang disebarkan, sebagian diberikan kepada PP Muslimat NU. 

Tahun lalu, Kang Said malah menerima 11 sapi kurban, tetapi hanya satu ekor yang dipotong di rumahnya dan dibagikan kepada masyarakat dan jamaah pengajian. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam lingkungan NU, sudah menjadi tradisi masyarakat menyerahkan hewan kurbannya kepada kiai yang dipercayainya untuk menyembelih dan membagi daging kurban tersebut. Ketika jumlahnya banyak, kemudian kurban tersebut didistribusikan kembali ke masyarakat untuk dipotong sendiri.

Untuk kurban Kang Said secara pribadi, salah satunya berupa seekor sapi diserahkan kepada PP Lazis NU, tetapi tidak dipotong di PBNU. Di gedung PBNU, hanya dipotong dua ekor sapi untuk masyarakat sekitar gedung NU berdiri.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, AlaNu, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 05 Desember 2012

Pesan Damai dalam Film Pendek Karya Santri Al-Muayyad

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Alkisah, Nisa, seorang santri putri di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Solo, Jawa Tengah, sering mengunjungi tempat-tempat yang menarik di daerahnya.

Suatu saat, dia menemukan dua tempat ibadah dari agama berbeda berdiri bersebelahan. Dengan kata lain, Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan itu memiliki alamat sama. Nisa kagum, karena meskipun berbeda, kedua umat tetap hidup rukun, damai, dan harmonis.

Pesan Damai dalam Film Pendek Karya Santri Al-Muayyad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Damai dalam Film Pendek Karya Santri Al-Muayyad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Damai dalam Film Pendek Karya Santri Al-Muayyad

Cerita di atas, tergambar dalam sebuah video berjudul ‘Satu Alamat’. Film pendek berdurasi 00.05.46 tersebut merupakan karya jurnalistik dari para santriwati Al-Muayyad Solo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah menyambangi Pesantren Al-Muayyad, Ahad (9/3), salah seorang santri yang ikut dalam pembuatan film, Ashfiya Nur Atqiya, menjelaskan perihal film ‘Satu Alamat’ itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Film ini dulu pernah masuk 10 besar dalam Festival Film Santri, setahun lalu,” ungkap cucu pengasuh Al-Muayyad, KH Abdul Rozaq Shofawi.

Waktu itu, Pesantren Al-Muayyad bersama 9 pesantren lain, mendapatkan kesempatan untuk membuat sebuah film bertemakan toleransi dan perdamaian. “Peserta yang ikut ada 20 tim, yakni 10 tim santri putra dan 10 tim santri putri,” terangnya.

Setelah hampir sebulan lebih proses pembuatan film, akhirnya dua tim dari Al-Muayyad mampu menghasilkan dua film pendek.

“Santri putra menyoroti masalah terorisme, sedangkan kami (santri putri) merekam suasana damai yang ada di Joyodiningratan,” imbuh gadis berkacamata itu.

Ashfiya dan kawan-kawanya, berharap dari video tersebut, dapat memberikan inspirasi kepada orang lain, tentang sebuah nilai perdamaian. “Kita juga ingin menunjukkan, bahwa santri dapat membawa misi perdamaian,” jelas Ashfiya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 20 November 2012

Uninus Seleksi Ratusan Guru NU Calon Penerima Beasiswa S2-S3

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Universitas Islam Nusantara (Uninus) menyelenggarakan seleksi tertulis untuk program Beasiswa S2/S3 bekerja sama dengan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat. Seleksi akan diselenggarakan pada Rabu (1/2) besok di Aula Pascarjana Uninus Bandung Jalan Soekarno-Hatta No 530 Kota Bandung, Jawa Barat.

Uninus Seleksi Ratusan Guru NU Calon Penerima Beasiswa S2-S3 (Sumber Gambar : Nu Online)
Uninus Seleksi Ratusan Guru NU Calon Penerima Beasiswa S2-S3 (Sumber Gambar : Nu Online)

Uninus Seleksi Ratusan Guru NU Calon Penerima Beasiswa S2-S3

Para peserta berjumlah 133 guru yang merupakan utusan dari 19 Pimpinan Cabang Pergunu di Jawa Barat. Seleksi tertulis ini meliputi tes potensi akademik, bahasa Arab, bahasa Inggris dan psikotes.

Menurut Rektor Uninus Suhendra Yusuf, program beasiswa yang ditawarkan menyediakan tiga? pilihan program studi, yaitu Prodi Magister Pendidikan Agama Islam (S2) dengan akriditasi B, Magister Manajemen Pendidikan (S2)dengan akriditasi A,? dan Prodi Doktoral Ilmu Pendidikan (S3) dengan akriditasi B.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh berharap semua peserta calon penerima beasiswa S2 dan S3 kerja sama Uninus dengan Pergunu Jawa Barat bisa mengikuti seleksi tersebut dengan sebaik-baiknya.

"Hakikatnya seleksi tersebut merupakan alat ukur kemampuan awal dari semua calon penerima beasiswa S2 dan S3," tutur Saepuloh

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih lanjut Saepuloh mengatakan utuk para peserta yang lulus seleksi beasiswa S2 dan S3, akan memulai kegiatan perkuluah matrikulasi pada minggu kedua bulan Februari. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Daerah, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 16 November 2012

LDNU Gelar Simposium Formulasi Dakwah dan Kebangsaan

Pasuruan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Lembaga Dakwah NU (LDNU) Jawa Timur segera menerbitkan buletin tentang Islam yang rahmatan lil alamin. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka membendung faham garis keras yang saat ini sedang mewarnai wajah Islam Nusantara ini sehingga mengesankan bahwa Islam itu, radikal dan suka berdarah-darah.

Rencana diatas merupakan hasil rekomendasi dari Simposium selama dua hari yang berlangsung di Hotel Tanjung, Jl. Wilis Tretes, Pasuruan, 2-5 Januari 2013 lalu.

LDNU Gelar Simposium Formulasi Dakwah dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Gelar Simposium Formulasi Dakwah dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Gelar Simposium Formulasi Dakwah dan Kebangsaan

Selain penerbitan buletin, acara yang bertemakan, Formulasi Dakwah Aswaja dan Simposium Kebangsaan, itu juga sepakat akan membuat website Aswaja Annahdliyah dan buku khutbah, yang berisi tentang hakekat jihad dan Islam yang rahmatan lil alamin.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ada tiga rekomendasi mendesak yang harus segera kita lakukan. Pertama pembuatan buletin Aswaja Annahdliyah. Web Aswaja dan Buku Khutbah tentang Islam rahmatan lilalamin,” ujar Ketua LDNU Jatim KH Ilhamulloh Sumarhan, tadi siang.

Agar kegiatan ini segera sampai ke tingkat akar rumput dan umat, lanjut Kiai Ilhamulloh, hendaknya kegiatan serupa juga dilaksanakan di tingkat cabang di Jawa Timur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kegiatan serupa juga akan digelar di masing-masing cabang, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini,” tandasnya.

Ikut memberikan pengarahan dalam acara itu, Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi, KH Ali Maschan Musa atas nama Komisi ? VIII DPR RI dan Prof Dr KH Abdul A’la, rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Kiai Hasyim, saat itu banyak mengupas masalah perkembangan teroris internasional. Menurutnya, munculnya teroris–teroris baru lantaran adanya ketidakadilan global. Sehingga muncul gerakan radikal.

Sementara itu, Kiai Ali Maschan, pada kesempatan banyak mengupas masalah kebijakan pemerintah, terkait dengan masalah teroris dan gerakan radikal. Sedangkan, Profesor Abdul A’la, menyampaikan masalah tafsir jihad ditinjau dari aspek hukum Islam.

Simposiaum ? ini diikuti ? 120 orang peserta. Mereka datang dari perwakilan Cabang LDNU se Jatim dan da’i penyuluh.Turut hadir pada acara itu, Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Miftachul Ahyar, Wakil Ketua PWNU yang membidangi da’wah Drs H Abdul Wachid Asa.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 10 November 2012

Hikayat Khittah NU 1926

NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Kalimat ini begitu populer hingga sekarang setelah KH Achmad Siddiq menggunakannya untuk mengartikan Khitthah NU. Munculnya kalimat itu sangat erat dengan konteks sejarah yang melingkupinya, terutama pada sekitar tahun 1983-1984. Bagaimana asbabul wurud-nya?

Potongan-potongan sejarah tentang perjalanan NU tersebar di berbagai sumber. Ada yang tersurat dalam buku-buku tentang NU, ada yang terlukis dalam surat kabar, ada yang tertuang dalam cacatan-catatan pribadi, ada pula yang lestari melalui tutur kata orang per orang, dan ada juga yang terkunci dalam memori para pelaku sejarahnya.

Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Khittah NU 1926

Secarik kisah berikut tentu tidak bisa mewakili aspek historis lahirnya Khitthah NU 1926 secara menyeluruh. Namun setidaknya inilah proses peristiwa yang berhasil direkam oleh Aula dari rujukan-rujukan utama tentang Khitthah NU 1926.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Khitthah adalah satu kata dari Bahasa Arab yang berarti garis. Dalam NU, kata Khitthah pertama kali diungkapkan oleh KH Achyat Chalimi (Mojokerto) pada tahun 1954, ketika berlangsung Muktamar NU ke-20 di Surabaya. Kiai Achyat saat itu mengusulkan, “NU harus kembali ke Khitthah, agar tidak awut-awutan begini,” katanya. Namun usulan itu tidak disertai dengan konsep yang utuh, sehingga tidak mendapat banyak perhatian.

Kata Khitthah NU kemudian kembali menjadi perhatian nahdliyin pada Muktamar NU ke-26 pada tahun 1979 di Semarang. Dalam muktamar yang dilaksanakan pada 5-11 Juni 1979 itu, Sekjen PBNU waktu itu, KH Moenasir Ali, memesan buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh KH Achmad Siddiq dalam jumlah besar. Buku kecil itu kemudian dibagi-bagikan kepada peserta muktamar tapi tidak menjadi pembahasan muktamar.

Proses penulisan buku itu juga memiliki kisah tersendiri. Almaghfurlah KH A Muchith Muzadi, yang berperan dalam penulisan buku itu, pernah menuturkan secuil kisahnya kepad penulis. Menurutnya, sewaktu Kiai Achmad akan berangkat haji pada tahun 1978, banyak kiai dan pengurus NU yang diundang, termasuk Kiai Muchit. Saat itu Kiai Achmad memohon didoakan oleh para kiai sekaligus berceramah tentang NU pada masa lalu. Secara spontan Kiai Achmad dan para kiai meminta Kiai Muchith menulis isi ceramah itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saat Kiai Achmad hendak berangkat dan transit di Surabaya, Kiai Muchith berkata: “Pak Achmad, ini catatan kemarin sudah jadi. Apakah mau ditinggal atau dibawa ke Makkah dan dikoreksi di sana?”. “Endi, tak gowo wae (Mana, aku bawa saja),” kata Kiai Achmad.

Setelah Kiai Achmad pulang ke tanah air, ternyata catatan itu sudah dikoreksi. Kemudian digarap lagi oleh Kiai Muchith, diserahkan, dikoreksi lagi dan begitu seterusnya. Sampai pada tahun 1979, setelah dianggap cukup, catatan itu kemudian diketik oleh Kiai Muchith dan diperbanyak hingga 10 eksemplar.

Draf itu memang rencananya dicetak menjadi buku. Namun sebelum Kiai Muchith mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama, ternyata ada pegawai percetakan dari Bangil yang datang membawa cetakan percobaan. Ia mengaku mendapat draf buku itu dari Amak Fadholi yang secara kebetulan diberi salinannya oleh Kiai Muchith.

Akhirnya buku itu dicetak dengan judul Khitthah Nahdliyah. Buku kecil itu juga diberi catatan pengantar oleh Wakil Rais Am waktu itu KH Masjkur dan Ketua Umum (Ketum) PBNU waktu itu KH Idham Chalid. Sejak saat itu, kata Khitthah banyak dibicarakan orang. Dan buku inilah yang menjadi  referensi utama untuk merumuskan Khitthah NU 1926 yang dibahas dan diputuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 tahun 1984.

Gejolak Organisasi

Khitthah NU 1926 sesungguhnya tidak hanya mengatur hubungan NU dengan partai politik. Tetapi secara historis, kelahiran Khitthah NU 1926 memang sangat dipengaruhi oleh realitas politik yang terjadi di Indonesia pada era awal 1980-an dan berdampak pada roda organisasi di tubuh NU.

Dalam konteks politik, NU pernah terjun ke dunia politik praktis dengan menjadi partai politik pada 1952. Setelah itu, Partai NU mengikuti dua kali Pemilu dan berhasil menjadi tiga partai politik terbesar di tanah air. Namun Partai NU dipaksa fusi pada tahun 1973 oleh pemerintah (Orde Baru) dengan dalih penyederhanaan partai. Sehingga hanya ada dua partai politik, yaitu PPP dan PDI serta Golkar (yang bukan partai politik tapi ikut Pemilu).

NU secara resmi menyatakan bergabung bersama umat Islam lainnya ke dalam PPP. Banyak pengurus NU yang merangkap sebagai pengurus PPP, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.  Bahkan Rais Am PBNU KH M Bisri Syansuri juga sekaligus menjabat Ketua Dewan Syura DPP PPP secara bersamaan. NU juga menempatkan beberapa tokohnya untuk menduduki kursi anggota legislatif, hasil Pemilu tahun 1977, baik di pusat maupun di tingkat daerah.

Pada muktamar ke-26 tahun 1979 di Semarang, suara untuk mengembalikan NU lepas dari partai politik sudah mulai terdengar. Salah satunya melalui buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh Kiai Achmad itu. Namun suaranya kurang menggema sehingga tidak bisa menjadi keputusan muktamar. Salah satu keputusan muktamar tersebut adalah memilih KH M Bisri Syansuri sebagai Rais Am yang menjabat sejak 1971 dan KH Idham Chalid sebagai Ketum PBNU yang memimpin sejak 1956.

Suasana berorganisasi kembali seperti semula. Said Budairy menceritakan dalam catatan pribadinya bahwa NU benar-benar mengalami krisis jati diri saat itu. “Sebagai organisasi politik sudah bukan, sedangkan merubah diri menjadi organisasi sosial keagamaan, baru berupa pernyataan. Prilaku masih tetap saja seperti masih sebagai partai politik. Kantor NU ramai dan sibuk hanya ketika menyongsong pemilihan umum. Ketika memasuki fase penyusunan calon untuk Pemilu, Ormas ini tiba-tiba saja persis seperti Parpol, repot banget menyusun daftar calon. Orang-orang berdatangan dari daerah. Khawatir susunan calon di daerahnya tidak sesuai dengan yang diinginkan”.

Keadaan ini diperparah dengan wafatnya Kiai Bisri pada tahun 1980. Kekosongan jabatan Rais Am PBNU berlangsung hingga satu setengah tahun kemudian. Baru pada bulan September 1981, posisi Rais Am PBNU dipercayakan kepada KH Ali Maksum melalui Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta.

Namun gejolak di dalam internal NU belum berakhir. Bahkan perpecahan antara syuriah dan tanfidziyah semakin menjadi-jadi. Puncaknya, pada tanggal 2 Mei 1982, dua hari sebelum dilangsungkannya Pemilu, empat orang kiai dari jajaran Syuriah PBNU berkumpul di Jakarta dan mengunjungi KH Idham Chalid di rumahnya di Cipete, Jakarta. Mereka adalah KH Ali Maksum, KH Machrus Aly, KH As’ad Syamsul Arifin dan KH Masjkur.

Mereka meminta Kiai Idham untuk lebih aktif mengurusi PBNU. Namun Kiai Idham tidak memenuhi permintaan mereka karena alasan kesehatan. Lalu Kiai As’ad mengusulkan, bagaimana jika Kiai Idham menyerahkan jabatan Ketum PBNU kepada Rais Am PBNU. Kiai Idham mengiyakan, dan pada hari itu pula Kiai Idham menandatangani surat pengunduran diri yang sebelumnya sudah disiapkan oleh empat kiai tersebut.

Tidak lama kemudian, Kiai Idham mencabut pengunduran diri itu karena para kiai dianggap menyalahi konsensus di antara mereka. Sebab berita pengunduran diri itu sudah tersebar luas dan sudah diketahui oleh pers sebelum perhitungan suara hasil Pemilu 1982 selesai.

Kiai Idham kemudian menyampaikan pengumuman bahwa jabatan Ketum PBNU masih ada di tangannya. Kiai Idham juga menentukan daftar pengurus yang berhak menandatangani surat keluar. Anehnya, nama Kiai Maksum sebagai Rais Am tidak ada dalam daftar itu. Seakan-akan Ketum PBNU itu telah memecat Rais Am. Padahal di pihak lain, Kiai Ali Maksum sudah merasa bahwa jabatan Ketum PBNU sudah diserahkan kepadanya, sehingga ia merangkap sebagai Rais Am sekaligus Ketum PBNU.

Peristiwa itu mengakibatkan kepemimpinan NU terpecah menjadi dua. Gerbong Idham Chalid dikenal dengan istilah kubu Cipete dan gerbong Kiai Ali Maksum dikenal dengan kubu Situbondo. Dualisme kepemimpinan ini berlangsung hingga setahun kemudian. Sampai akhirnya untuk menyelesaikan konflik itu kubu Cipete berencana mengadakan muktamar dan kubu Situbondo hendak menggelar Munas Alim Ulama.

Di tengah-tengah dualisme kepemimpinan itu, para aktivis muda NU mengambil inisiatif yang berbeda. Mereka kerap mengadakan diskusi untuk mencari solusi atas gejolak tersebut. Adalah dr Fahmi D Saifuddin yang menjadi motor penggeraknya. Dia merangkul tokoh-tokoh muda yang waktu itu peduli terhadap nasib NU dan sudah menjauh dari kepentingan politik manapun. Pertama-tama dr Fahmi bertamu ke rumah Said Budairy di rumahnya yang ada di Mampang, Jakarta Selatan, dan mengajaknya bergabung. Setelah itu, bergabung juga Mahbub Djunaidi, M Zamroni, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Danial Tandjung, Slamet Effendi Yusuf, M Ichwan Sam dan sebagainya. Diskusi dan rapat paling sering digelar di rumah Said Budairy yang kemudian dikenal dengan Kelompok G, karena rumah Said Budairy terletak di gang G.

Hasil diskusi-diskusi kecil itu semakin kongkret. Salah satunya adalah menggelar forum diskusi yang lebih besar dengan mengundang 24 tokoh NU dari berbagai daerah. Mereka adalah KH MA Sahal Mahfudz (tidak sempat hadir), KH Musthofa Bisri, KH M Moenasir Ali, KH A Muchith Muzadi, Gus Dur, KH Tholchah Hasan, Dr Asep Hadipranata, Mahbub Djunaidi, M Zamroni, dr Muhammad Thohir, dr Fahmi D Saifuddin, M Said Budairy, Abdullah Sjarwani, SH, M Saiful Mudjab, Umar Basalim, Drs H Cholil Musaddad, Gaffar Rahman, SH, Slamet Effendy Yusuf, M Ichwan Syam, Musa Abdillah, Musthofa Zuhad, M Danial Tanjung, Ahmad Bagdja dan Masdar F Mas’udi.

Diskusi yang membahas tentang NU masa depan itu kemudian dikenal dengan Majelis 24 karena pesertanya berjumlah 24 orang. Mereka berdiskusi pada 12 Mei 1983 di Hotel Hasta Jakarta. Pertemuan itu dilakukan dengan fasilitas yang sangat sederhana. Penyelenggara hanya menyewa ruangan dengan suguhan minuman dan kacang goreng. Malah waktu makan siang, semua peserta mencari makan di trotoar depan hotel. Pertemuan berlangsung sampai malam dan setelah pertemuan selesai, semua pulang ke tempat masing-masing.

Meskipun singkat dan penuh keterbatasan, tapi hasilnya sangat penting. Majelis 24 sepakat membentuk tim yang diberi nama Tim Tujuh Pemulihan Khitthah NU. Anggota tim ini diberi tugas untuk menyusun rumusan Khitthah NU 1926. Sedangkan acuan pokok tentang Khitthah NU adalah buku Khitthah Nahdliyah dan Fikrah Nahdliyah karya KH Ahmad Siddiq.

Kelompok ini disebut Tim Tujuh karena beranggota tujuh orang. Mereka terdiri dari Abdurrahman Wahid (ketua), M Zamroni (wakil ketua), M Said Budairy (sekretaris), Mahbub Djunaidi, dr Fahmi D Saifuddin, M Danial Tanjung dan Ahmad Bagdja (anggota).

Akhirnya Tim Tujuh berhasil menyusun rumusan Khitthah NU 1926 sebelum dilaksanakannya Munas Alim Ulama NU pada 18-21 Desember 1983. Rumusan tersebut kemudian menjadi pembahasan dan disahkan dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Setelah mengalami beberapa koreksi dari peserta Munas, Khitthah NU 1926 disahkan menjadi keputusan muktamar melalui Komisi Khitthah. (A. Afif Amrullah)

 

Penulis adalah Redaktur pelaksana Majalah Aula dan Dosen FAI Unsuri Surabaya

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 02 November 2012

Mendes: Pesantren Harus Proaktif Bangun Desa

Tuban, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren mempunyai peran penting dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa. Oleh karena itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengajak pondok pesantren bisa berperan aktif dalam membangun desa.

"Keberadaan lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren di tengah-tengah masyarakat sangatlah penting, khususnya di perdesaan. Lembaga pendidikan Islam selain menjalankan misi mencerdaskan masyarakat berdasarkan ajaran Islam serta membangun sikap dan perilaku akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari, juga dapat pula berperan strategis menjadi lokomotif perubahan masyarakat desa menuju arah dan kondisi yang lebih bermartabat, maju dan sejahtera," ujar Marwan Jafar saat menghadiri acara di Yayasan Sunnatunnur, Senori, Tuban, Ahad (26/7), sebagaiman siaran pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Mendes: Pesantren Harus Proaktif Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes: Pesantren Harus Proaktif Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes: Pesantren Harus Proaktif Bangun Desa

Oleh karena itu di era Pemerintahan Jokowi-JK sekarang ini, imbuh Menteri Marwan, lembaga pendidikan Islam khususnya Pesantren harus mampu berperan nyata dalam mengawal dan menyukseskan pelaksanaan Pembangunan Desa yang mengemban amanat UU Desa 6/2014.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sekaligus mewujudkan Nawa Cita ketiga ‘membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan’," tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Marwan juga menjelaskan tujuan dari pembangunan desa yakni untuk mewujudkan desa mandiri yang maju ekonomi secara ekonomi, memiliki pelayanan dasar yang baik, dan masyarakatnya berdaya dan sejahtera secara berkelanjutan.

Menurut Menteri Marwan, kewenangan Desa yang sangat besar sekarang ini dalam pelaksanaan Pembangunan Desa termasuk mengelola langsung Dana Desa harus menjadi barokah yang mampu mewujudkan tujuan Pembangunan Desa.

"Jangan sampai dana desa, justru menjadi musibah yang penuh dengan penyimpangan dan memicu konflik sosial di tengah masyarakat. Disinilah peran lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren sangat dibutuhkan, khususnya dalam ikut mengawasi dan mengawal penggunaan Dana Desa secara amanah, transparan, akuntabel," tandasnya.

Lembaga pendidikan islam menurut Menteri Marwan mempunyai tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar, mengingat keberadaan lembaga pendidikan Islam merupakan bagian integral dari desa itu sendiri.

"Para alumninya banyak yang berkiprah di desa sebagai kyai, ustadz, muballigh maupun tokoh masyarakat desa. Selain itu juga sebagian besar keluarga peserta didik lembaga pendidikan Islam banyak yang dari desa, dan secara sosial ekonomi relatif masih membutuhkan pemberdayaan," pungkasnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Quote, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Oktober 2012

Pemuji dan Pengkritik Gus Dur

Judul di atas sebenarnya ciplakan terhadap sebuah buku karya Yusuf al-Qaradhawi yang berjudul al-Imam al-Ghazali bain Madihihi wa Naqidih. Hanya saja buku tersebut menjadikan Imam al-Ghazali sebagai objek kajian, sementara dalam tulisan ini yang menjadi objek adalah seorang tokoh kontroversial yang bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sebagai santri yang hanya bisa membaca Gus Dur dari jauh (karena saya bukanlah dari kalangan NU tulen), saya melihat adanya beragam pendapat tentang beliau. Mulai dari orang yang memujinya habis-habisan, bahkan tidak tanggung-tanggung ada yang menganggapnya sebagai wali yang pantas diikuti petuah-petuahnya.

Pemuji dan Pengkritik Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuji dan Pengkritik Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuji dan Pengkritik Gus Dur

Sementara itu di sisi lain tidak sedikit pula orang-orang yang mengkritisinya dan bahkan menghujatnya dengan kata-kata yang sebenarnya tidak layak dikatakan, walau oleh seorang yang sinting sekalipun. Itu adalah wajar, karena hidup di dunia ini tidak akan terlepas dari dua hal tersebut, mendapat pujian ataupun menuai kritikan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mungkin tulisan ini terlihat sangat normatif, karena temanya cukup umum dan sudah banyak dikaji oleh para Gusdurian, tapi di sini saya hanya ingin mengungkapkan dua kisah unik yang menurut saya patut untuk diketahui bersama, yaitu tentang ke”mutakamilan” Gus Dur dalam mendidik “anak asuh”nya.

Gus Dur, “Wali” al-Kamil dan al-Mutakamil?

Kiai saya di Pesantren Darus-Sunnah Jakarta, K.H Ali Mustafa Yakub pernah bercerita, dulu sewaktu boyong dari tanah Arab pasca menuntut ilmu di sana, beliau berkeinginan untuk mengaplikasikan ilmunya di tanah Papua, beliau berencana untuk mendirikan pesantren dan mengajar di sana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum keinginan itu djrealisasikan, Kiai Ali sowan terlebih dahulu kepada guru yang pernah mengajar beliau selama beberapa tahun di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang dahulu, yaitu Gus Dur. Sesaat setelah menceritakan keinginannya, tiba-tiba saja Gus Dur melarangnya dan menyuruh agar Kiai Ali tetap tinggal di Jakarta.

Kiai Ali terheran-heran, apa gerangan yang membuat Gus Dur tidak mengizinkannya untuk melangsungkan niatnya tersebut. Namun sebagai santri yang manut kepada guru, maka Kiai Ali mematuhi perintah gurunya tersebut dan tetap tinggal di Jakarta, walau masih tidak mudeng dengan rahasia dibalik larangan tersebut.

Setelah beberapa tahun di Jakarta, karir Kiai Ali semakin menanjak, mulai dari kolumnis di berbagai surat kabar dan majalah sampai kepada guru dan dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Puncaknya beliau bisa mendirikan sebuah Pesantren Hadis (Darus-Sunnah) yang tetap eksis sampai sekarang, bahkan semakin maju.

Cerita kedua berasal dari hasil diskusi saya dengan seorang teman, yaitu tentang Kiai Said Aqil Siroj (ketua umum PBNU sekarang). Konon dahulu beliau berteman akrab dengan Kiai Husein Muhammad, seorang tokoh NU yang juga merupakan direktur pengembangan wacana di LSM “Rahima”.

Setelah keduanya lulus dari Pesantren Lirboyo pada tahun 1973, masing-masing memilih jalan yang berbeda. Kiai Said meneruskan pendidikannya di Jogjakarta dan Kiai Husein memutuskan untuk lanjut di Jakarta. Beberapa saat setelah itu mereka mengikuti tes ke luar negeri dan alhamdulillah keduanya sama-sama lulus.

Kiai Said berangkat ke Madinah dan Kiai Husein berangkat ke Mesir. Namun dalam perjalanan karir keduanya ada sedikit perbedaan. Setelah pulang ke Indonesia Kiai Said direkrut oleh Gus Dur dan disuruh tinggal di Jakarta, sementara itu Kiai Husein tidak terlalu “diperhatikan” Gus Dur.

Sejurus kemudian setelah mengikuti arahan-arahan Gus Dur untuk menetap di Jakarta, Kiai Said pun lama-kelamaan menjadi “anak kesayangan” Gus Dur. Gus Dur mengkadernya dengan sangat baik dan sampai akhirnya beliau menjadi orang nomor wahid di tubuh keorganisasian NU saat ini.

Kedua kisah tersebut, walau tidak bisa dikatakan banyak, namun sudah cukup dijadikan sebagai bukti bahwa Gus Dur bukanlah orang biasa. Dia merupakan seorang yang “al-kamil” dan juga ”al-mutakamil” walaupun banyak orang yang mengkritiknya dan tidak percaya dengan “kewaliannya”.

? ? ?

Sikap Saya terhadap Gus Dur

Menurut saya Gus Dur adalah seorang tokoh yang patut diteladani dan dijadikan pioner perubahan masa depan. Begitu banyak percikan pemikirannya yang belum sepenuhnya saya serap dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan terus membaca dan membaca karya-karyanya saya dan kita semua bisa menjadi pewaris pemikirannya yang sangat luar biasa itu.

Adapun mengenai beberapa pendapat beliau yang kontroversial itu, saya lebih memilih untuk bersikap seperti apa yang pernah dicontohkan oleh Kiai Ali Mustafa Yakub. Sebagai seorang yang pernah berguru kepada Gus Dur, beliau selalu menghormati Gus Dur meskipun “kami tidak selamanya sependapat dengan beliau”, kata Kiai Ali.

Dalam sebuah bukunya, Kiai Ali juga pernah bercerita. Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, beliau pernah diundang untuk mengisi ceramah nasional di Mesjid Istiqlal Jakarta. Dalam acara tersebut beliau mencium tangan Gus Dur sebanyak dua kali, yaitu ketika bertemu dan pada saat hendak pulang dari majlis tersebut.

Keesokan harinya Kiai Ali ditanya kenapa kok beliau begitu hormat kepada Gus Dur padahal dalam sebuah statement-nya Kiai Ali pernah mengatakan “di antara adab para ulama dan pengajar al-Qur’an adalah tidak boleh menghinakan diri dan ilmunya di hadapan pemimpin”. Namun kenyataan, beliau bukan saja bersalaman akan tetapi juga mencium tangan Gus Dur waktu itu.

Dengan santainya Kiai Ali menjawab “Khusus untuk Gus Dur, beliau itu ulama sebelum menjadi presiden. Apalagi khusus untuk kami, Gus Dur itu guru kami, kami menjadi murid beliau sejak tahun 1971. Kami belajar Bahasa Arab dan mengaji Qatr al-Nada dari beliau”. Itulah sepenggal cerita yang penulis goreskan dalam rangka memperingati haul Gus Dur yang keempat ini. Semoga bermanfaat.!

Darus-Sunnah, 24 Desember 2013

YUNAL ISRA adalah mahasantri Darus-Sunnah Jakarta, asal Padang, Sumatera Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 25 Oktober 2012

Upaya LAZISNU Jombang Maksimalisasi Pengelolaan Dana Zakat

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Segala upaya untuk maksimalkan khidmat kepada masyarakat dilakukan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang. Kali ini jajaran pengurus dan relawan Lazisnu di Kota Santri ini menggelar Workshop Accounting dan Fundraising LAZISNU? se-Jawa Timur, Sabtu (1/3/17).?

Kegiatan yang dipusatkan di gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Rausyon Fikr, Pulo Lor, Jombang dihadiri sekitar 30 Lazisnu se-Jawa Timur.?

Upaya LAZISNU Jombang Maksimalisasi Pengelolaan Dana Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya LAZISNU Jombang Maksimalisasi Pengelolaan Dana Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya LAZISNU Jombang Maksimalisasi Pengelolaan Dana Zakat

Ketua LAZISNU? Kabupaten Jombang, Didin Sholahudin, menegaskan putaran dana yang dikelola Lazisnu selama ini penting untuk terus dimaksimalkan dengan kekuatan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Tak kalah penting juga menggalakkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mendukung kualitas SDM Lazisnu, seperti halnya workshop kali ini.?

Pada tahun 2016, LAZISNU secara keseluruhan baru dapat mengumpulkan dana 59 miliar. Hal ini kalah jauh dari Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (Lazismu) yang sanggup mengumpulkan uang sebanyak 142 miliar pada tahun yang sama.

"Melihat dari massa angka nominal sedekah Lazisnu lebih besar dari lembaga lain, apabila dikelola dengan baik. Tentu kemadirian nahdliyin akan semakin mudah dicapai ketika dana miliaran itu diperoleh setiap bulan dan diberdayakan untuk kepentingan semua warga NU," tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun demikian, Gus Didin sapaan akrabnya tak mengelak dengan potensi besar yang dimiliki LAZISNU, misalnya ribuan pondok pesantren dan jutaan massa lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu sebuah potensi yang masih menjadi keuntungan sekaligus tantangan bagi LAZISNU.

"LAZISNU sudah masuk 16 lembaga lembaga resmi yang menyalurkan zakat. Seharusnya, minimal mendapat 50 milyar pertahun," katanya.

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang, KH Isrofil Amar mengapresiasi akan kegiatan yang diselenggarakan untuk menyongsong Konfercab pada 22-23 April 2017 ini. Menurutnya, demikian itu sebagai langkah konkret dalam mewujudkan PCNU Jombang mandiri dan tidak menggunakan proposal dalam setiap kegiatan, sehingga tidak diintervensi oleh partai politik dan siapapun.

"Poin penting yang perlu dijaga untuk masa depan NU adalah prinsip kemandirian. Salah satunya kita bebas intervensi pihak manapun," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Isrofil juga menjelaskan, LAZISNU? adalah bagian dari NU, keberhasilan Lazisnu dalam pendekatan dakwahnya juga bearti kesuksesan NU secara umum. Perlu keberanian semua elemen untuk mendukung suksesi gerakan Lazisnu. Salah satu caranya dengan melihat kembali sifat keberanian KH. Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri

"Kemandirian dan keberanian adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap kader Lazisnu untuk mencapai target yang sudah dicanangkan," jelasnya

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, perwakilan Lazisnu Jatim, Nur Shodiq Iskandar, Sekretaris PCNU Jombang, Muslimin Abdillah, pengurus Lazisnu Jombang serta sejumlah pengurus Lazisnu se-Jatim. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 September 2012

Pesantren Al-Fudhola Wisuda Muslimat NU Pakis

Pati, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pesantren Putri Al-Fudhola’ desa Pakis kecamatan Tayu kabupaten Pati, Jawa tengah, Selasa (14/1) menggelar acara wisuda khotmil qur’an dan dirangkai peringatan maulid nabi SAW. sedikitnya 15 santri dan 3 kader Muslimat NU setempat diwisuda sebagai pengkhatam Al-Quran.

Pesantren Al-Fudhola Wisuda Muslimat NU Pakis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Fudhola Wisuda Muslimat NU Pakis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Fudhola Wisuda Muslimat NU Pakis

Mereka terdiri dari 11 santri penghafal qur’an dan 4 santri yang lulus mengkhatamkan 30 juz secara bin nadzar (melihat mushaf). Mereka diwisuda selepas mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan pengasuh pesantren Al-Fudhola Hj Nyai Rina Afifah.

“Ada tiga anggota Muslimat NU yang diwisuda. Mereka itu Hanifah, Sri Ngatini dan Hj Nur Ismah,” kata Hj Rina.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat santri pengkhatam didaulat membacakan takhtimul qur’an sebagai bentuk prosesi wisuda. Wisuda berpusat di aula lantai 2 pesantren Al-Fudhola’.

Wisuda berjalan lancar dan sesuai perencanaan sebelumnya. “Berbagai persiapan telah kami agendakan, alhamdulillah semua berjalan sesuai harapan,” ujar panitia haflah khotmil qur’an, Nihayatul Maghfirah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

acara ini digelar setiap 12 Rabiul Awal yang kini telah berlangsung selama 17 tahun.

Wisuda ditutup dengan ceramah KH Chusnan Basuni. Ia menerangkan cara memompa kecintaan kepada Rasulullah lewat jalan istiqomah mengaji al-qur’an.

“Akhlak Rasul tertuang dalam Al-Qur’an. Jika kita istiqomah membaca Qur’an dan mengajinya, maka rasa cinta kita kepadanya sedikit demi sedikit akan menguat,” terangnya. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 23 September 2012

Politik Identitas Islam di Jawa Barat

Oleh Amin Mudzakkir



Lebih dari sekadar unit administrasi kepemerintahanan, Jawa Barat dibangun di atas elemen-elemen yang kompleks. Tidak hanya secara etnis, tetapi juga agama, kelas sosial, orientasi politik, dan pengalaman sejarah yang berbeda-beda. Relasi di antara kelompok dalam elemen-elemen tersebut selalu berubah mengikuti perubahan konfigurasi kekuasaan. Sekarang, dalam konteks Indonesia pasca Soeharto, konfigurasi kekuasaan itu semakin rumit dan selalu berubah dengan cepat.

Politik Identitas Islam di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Identitas Islam di Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Identitas Islam di Jawa Barat

Salah satu isu yang muncul di Indonesia pasca Soeharto adalah bangkitnya politik identitas dalam skala yang tidak terbayangkan sebelumnya, sehingga seringkali, dalam beberapa kasus, menimbulkan konflik yang membingungkan. Di Jawa Barat, isu mengenai politik identitas sebagian besar berangkat dari meluasnya sentimen agama. Di kalangan Muslim, muncul kelompok-kelompok yang hendak memperjuangkan aspirasinya lewat sejumlah kebijakan publik di tingkat lokal. Untuk beberapa kasus, aspirasi mereka tampaknya berhasil jika dinilai dari lahirnya sejumlah peraturan daerah yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ‘perda syari’ah’.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Akan tetapi, di luar jalur formal tersebut, lahir sejumlah kelompok massa berbasis agama, terutama Islam, yang gencar memperjuangkan aspirasi mereka dengan aksi-aksi jalanan yang sering berujung pada ketegangan. Kelompok-kelompok seperti FPI, MMI, dan FUI, misalnya, seringkali turun ke jalanan menyuarakan aspirasinya, bahkan mereka kadang tak segan untuk menyerang kelompok lain yang dianggap berseberangan dengannya. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, apa yang diperlihatkan oleh aksi-aksi kelompok seperti FPI dipandang kaum pendukung pluralisme sebagai ancaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berkaitan dengan fenomena tersebut, Jawa Barat sering menjadi sorotan. Secara historis, kelompok ‘Islam keras’ memang mempunyai jejak panjang di tengah dinamika masyarakat Jawa Barat. Bandung, ibukota Jawa Barat, telah sejak dulu terkenal sebagai kota yang melahirkan pemikir dan organisasi Islam keras. Salah satu yang paling terkemuka adalah A. Hasan dengan Persatuan Islam (Persis). Pada periode dekade-dekade awal abad ke-20, Persis dikenal sebagai organisasi Islam yang secara keras menyerang berbagai tradisi masyarakat Islam yang dianggapnya menyimpang dari Al-Qur’an dan al-Hadits. Bahkan jika dibandingkan dengan Muhammadiyyah, Persis jauh lebih keras dalam hal itu. Akan tetapi, alih-alah berakhir dengan konflik destruktif, kelahiran Persis pada masa itu di Bandung justru melahirkan kontroversi yang lebih konstruktif sifatnya. A. Hasan, misalnya, seringkali terlibat debat panjang dengan sejumlah kyai atau ajengan dari kalangan ‘Islam tradisi’.

Keberadaan ‘Islam tradisi’ di Jawa Barat agak berbeda sejarahnya jika dibandingkan dengan sejawat mereka di tempat lain, katakanlah di Tanah Jawa. Di Tanah Jawa, kalangan Islam tradisi sebagian besar tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU), sementara di Jawa Barat, kalangan Islam tradisi tersebar di beberapa organisasi. Selain NU, ada organisasi lain seperti Persatuan Umat Islam (PUI) yang didirikan KH Abdul Halim. Pengaruh NU di Jawa Barat terutama terkonsentrasi di Tasikmalaya dan Cirebon, paling tidak, jika dilihat dari capaian Partai NU pada Pemilu 1955. Akan tetapi, sekarang, fakta-fakta mengenai peta persebaran kelompok-kelompok Islam di Jawa Barat tentu saja harus dibaca ulang.

Khusus mengenai Bandung, kota ini menyimpan beberapa paradoks yang menarik. Kalau dikaitkan dengan isu pluralisme, terutama yang menyangkut keberadaan kelompok-kelompok ‘Islam keras’, Bandung memperlihatkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi, Bandung telah sejak lama terkenal sebagai kota pelesir; masyarakat Kota Bandung sangat gemar dengan apa yang dalam konteks mutakhir disebut ‘budaya pop’. Sementara itu, di sisi lain, Bandung menjadi tempat yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok ‘Islam keras’.

Sampai tingkat tertentu, paradoks di atas tampaknya hanya bekerja di permukaan, karena, berdasar beberapa pendapat yang berkembang di kalangan masyarakat Bandung, terdapat struktur lain yang sebenarnya mempunyai pengaruh penting terhadap pembentukan identitas kota Bandung. Struktur lain itu adalah keberadaan pusat-pusat dan barak-barak militer di hampir seluruh penjuru Kota Bandung. Kepentingan militer jelas berorientasi pada stabilitas. Latar belakang ideologi tidak menduduki tempat puncak dalam hierarki kepentingan militer. Ketika kota-kota lain dipusingkan oleh konflik-konflik komunal yang terjadi di sekitar kejatuhan Orde Baru, Bandung adalah kota yang relatif aman tanpa gejolak serius.

Sorotan terhadap Jawa Barat yang dianggap tempat persemaian kelompok-kelompok ‘Islam keras’ memang mempunyai preseden sejarah yang kuat. Salah satu momen historis yang dalam konteks pasca Orde Baru menjadi penting adalah peristiwa pemberontakan DI/TII pada 1950an. Oleh para pendukung apa yang disebut ‘perda syrai’ah’ peristiwa ini dipandang sebagai preseden yang menunjukan bahwa ide dan aspirasi mengenai ‘negara Islam’ mempunyai akar dalam sejarah masyarakat Jawa Barat. Pendukung ide dan praktik ‘perda syari’ah’ di Tasikmalaya, misalnya, sering menggunakan argumen ini untuk mendasari perjuangan politiknya.

Kalau hendak ditelusuri lagi, perjumpaan ‘Sunda’ dan ‘Islam’ adalah wacana historis yang menunjukan bahwa Islamisasi adalah sebuah gerakan yang nyaris berhasil di Jawa Barat. Paling tidak, selain tidak ditemukan preseden yang memperlihatkan konflik fisikal selama gerakan Islamisasi awal berlangsung, fakta sosiologis menunjukan bahwa apa yang dalam konteks masyarakat Jawa disebut ‘sinkretisme’ ternyata tidak menemukan bentuknya di Tanah Sunda. Argumen ini, sampai tingkat tertentu, memang bersifat esensialis, seolah-olah ‘Islam’ dan ‘Sunda’ adalah dua entitas yang tunggal. Dari sisi yang lain, fakta sosiologis mengenai absennya sinkretisme dalam tradisi Sunda bisa dibaca sebagai bentik ‘ketidakjelasan ideologis’ dalam wacana kesundaan. Dapat dikatakan, kemudian, Islam adalah faktor terpenting yang membentuk identitas kesundaan, sebelum akhirnya Sunda harus berhadapan dengan wacana lain, yaitu modernitas Barat.

Argumentasi di atas dapat digunakan untuk memahami kosmopolitanisme kehidupan sosial kota-kota di Jawa Barat, terutama Bandung. Penjelasan lain sebenarnya datang dari analisis ekonomi-politik. Sejak masa kolonial, kota-kota di Jawa Barat adalah tempat tumbuhnya industrialisasi. Apalagi ditambah dengan kedekatan geografis dengan pusat kekuasaan di Batavia, lalu Jakarta dalam konteks pasca kolonial, kehidupan kota-kota di Jawa Barat didominasi oleh citra kelas menengah urban yang amat dipengaruhi budaya modern. Dari sudut pandang ini, afiliasi orang Sunda terhadap Islam sebenarnya terkait dengan ‘struktur kesempatan’ yang disediakan jaringan Islam bagi pertumbuhan ekonomi kelas menengah.

Karakter kelas menengah yang kosmopolit pada satu sisi, tetapi tetap menyisakan ambiguitas pada sisi lain, bisa ditemukan dalam wacana kebudayaan yang mendominasi ruang publik kota Bandung. Oleh karena itu, terutama di kalangan kaum muda, eksistensi kelompok-kelompok Islam keras di Kota Bandung tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Bagi mereka, Bandung adalah kota yang terlalu kosmopolit untuk ditundukkan di bawah satu identitas, apalagi yang sifatnya inward looking. Mereka tampak tidak terlalu peduli dengan isu-isu yang menyangkut identitas primordial. Identitas mereka sebagian besar dibangun di atas landasan popular culture yang sifatnya hibrid.

Sementara itu, Cirebon adalah pusat kota Jawa Barat bagian utara yang sebenarnya tidak masuk dalam wilayah kebudayaan Sunda. Selain itu, pengalaman sejarah masyarakat Cirebon berjalan melalui garis yang agak berbeda dengan sebagian besart garis sejarah masyarakat Jawa Barat lainnya. Secara budaya, Cirebon jelas menjadi bagian dari wilayah kebudayaan Jawa versi Cirebon—Jawa Cirebonan. Jika dilihat dari pusat kebudayaan Jawa di Jogja dan Solo, Cirebon adalah pinggiran. Fakta kebudayaan ini, sampai tingkat tertentu, paralel dengan orentasi politik dan konfigurasi kelompok-kelompok agama di Cirebon.

Khusus untuk konteks masyarakat Islam, Cirebon adalah bagian dari peta kultural Islam Jawa yang didasarkan pada persebaran jaringan pesantren. Koneksi pesantren-pesantren di Cirebon dengan sejawat mereka di Tanah Jawa jelas jauh lebih intensif jika dibanding dengan pesantren-pesantren di Tanah Sunda. Oleh karena itu, orientasi kelompok-kelompok Islam di Cirebon sebagian besar dipengaruhi model kepemimpinan kyai-kyai pesantren. Akan tetapi, bagaimanapun juga, perubahan-perubahan yang terjadi pasca Orde Baru merupakan faktor yang seringkali mengejutkan, sehingga pemetaan-pemetaan lama seperti ditulis di atas menjadi tidak memadai lagi.

Dalam konteks isu pluralisme, Bandung dan Cirebon adalah dua entitas yang mempunyai karakter bebeda. Selain argumen-argumen berdimensi jangka panjang sebagaimana telah ditulis di atas, terdapat ‘faktor-faktor jangka pendek’—kalau meminjam istilah Gerry van Klinken—yang mempengaruhi wacana komunalisme di Indonesia pasca Orde Baru. Jika ancaman terhadap pluralisme diandaikan datang dari eskalasi politik identitas berbasis komunalisme (terutama, agama dan etnisitas), pemahaman terhadap apa saja yang termasuk faktor-faktor jangka pendek dan bagaimana mereka bekerja merupakan pertanyaan penting yang harus dijawab segera.

Penulis adalah peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Fragmen, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 13 September 2012

Hadiri Haul, Jokowi Ajak Teladani Gus Dur

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hadir dan memberikan sambutan di hadapan ribuan pengunjung haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek Al-Munawwaroh Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jakarta Selatan. Jumat (23/12) malam.

Dalam pengantarnya, Jokowi menyampaikan tentang peci yang pernah dikasih Istri Gus Dur Sinta Nuriyah Wahid.

Hadiri Haul, Jokowi Ajak Teladani Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Haul, Jokowi Ajak Teladani Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Haul, Jokowi Ajak Teladani Gus Dur

“Pemberian peci menjadi pengingat buat saya, buat kita semua untuk senantiasa meneladani Gus Dur. Meneladani kesederhanaan, meneladani kerelaan melayani masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Jokowi mengingatkan kepada para hadirin, bahwa negara Indonesia ini milik kita, bukan milik golongan tertentu, atau milik perorangan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dunia sosial media akhir-akhir ini semakin meresahkan, berisi ujaran kebencian, hasutan, fitnah. “Energi kita habis untuk hal-hal yang tidak perlu,” ujarnya.

Dalam menyikapi kelompok tertentu yang suka memaksakan kehendaknya atau tidak menghargai perbedaan. Jokowi mengaku dirinya ingat kepada Gus Dur, “Kalau Gus Dur masih ada, kita ini masih kayak anak TK. Pasti digitukan oleh Gus Dur,” sentilnya diikuti ketawa para hadirin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengingat pentingnya rasa persaudaraan sesama anak bangsa, dengan tanpa membedakan agama, suku, bahasa ibu dan latar belakang lainnya, Jokowi meminta agar kita tetap menjaga persaudaraan. “Kita saudara sebangsa dan setanah air, itu yang diajakarkan Gus Dur,” tegasnya.

Hadir pula jajaran kepala lembaga negara, para menteri, sejumlah ulama, dan seniman.(Husni Sahal/Mukafi Niam).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 09 September 2012

Gus Dur: Tak Usah Takut Burung Kita Flu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meminta masyarakat tidak panik oleh merebaknya isu serangan flu burung yang diklaim mematikan. Isu flu burung sengaja dimunculkan untuk mengganggu pasar dalam negeri.

Pernyataan itu disampaikan Gus Dur dalam Pengajian Ramadlan di Pesantren Ciganjur Jakarta, (7/9). Seperti diberitakan, isu flu burung sempat membuat shock pasar dalam negeri. Beberapa industri pariwisata ditutup. Jutaan unggas milik para petani dihanguskan. Menurut Gus Dur, dicuatkannya isu flu burung kali ini bukan hal baru. Isu serupa juga muncul beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya juga muncul adanya virus berbahaya bernama SARS.

"Beberapa negara seperti Malaysia apalagi Indonesia kebingungan munculnya isu flu burung. Itu kan biar ndak ada yang beli unggas kita, biar paha unggas dari Amerika bisa diimpor. Ini adalah cara yang busuk. Makanya kita tidak perlu takut burung kita kena flu," kata Gus Dur sambil bergurau.

Dalam kesempatan itu Gus Dur juga menyerukan pentingnya gerakan kebudayaan dalam memulihkan perekonomian negeri. "Budaya mempunyai andil besar dalam mengembangkan ekonomi. Kita tahu nogosari (makanan terbuat pisang bersarung tepung, red). Dari dulu kan cuma begitu itu, tidak ada yang mikirin budaya kita sendiri," kata Gus Dur.

Menurutnya, gerakan kebudayaan ini tidak sesederhana menumbuhkan semangat cinta produk negeri sendiri namun lebih rumit lagi yakni memerangi nalar konsumerisme yang semakin menggila.

"Coba sekarang siapa yang tidak kenal Kentucky, minimal Hoka Hoka Bento lah. Disinilah pentingnya budaya dalam memulihkan perekonomian kita," kata Gus Dur. Materi yang dibahas waktu itu seputar riba dan investasi.

Pengajian Ramadlan di pesantren Gus Dur tiap pagi itu memang beda. Kitab fikih "Bughyatul Musytarsyidin" yang tergolong "kitab besar" besar itu tidak di kaji secara keseluruhan. Bab-bab ubudiyah semisal masalah sholat, puasa, sampai pengurusan jenazah di kaji secara singkat untuk ngalap berkah (Tabarrukan). Pembahasan utama dikonsentrasikan pada beberapa hal yang saat ini dihadapi. "Agar fikih kita tidak kering," kata Gus Dur pada saat membuka pengajian awal Ramadlan lalu. (an)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Daerah, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Gus Dur: Tak Usah Takut Burung Kita Flu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Tak Usah Takut Burung Kita Flu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Tak Usah Takut Burung Kita Flu

Kamis, 06 September 2012

Teken Kerja Sama, KPK Memohon NU Bantu Perangi Korupsi

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat NU dapat mengambil peran pengawasan dan pelaporan tindak korupsi yang terjadi di masyarakat. Hal ini disampaikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Raharjo dalam sambutan yang dirangkai dengan penandatanganan kerja sama antara KPK dan PBNU di sela-sela pembukaan Rapat Pleno PBNU di Pesantren Khas Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (24/7) siang.

Teken Kerja Sama, KPK Memohon NU Bantu Perangi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Teken Kerja Sama, KPK Memohon NU Bantu Perangi Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Teken Kerja Sama, KPK Memohon NU Bantu Perangi Korupsi

Agus menyebut perjalanan KPK dalam 12 tahun ini dapat menangkap dan memenjarakan pelaku korupsi yang antara lain terdiri dari 19 gubernur dan 200 anggota DPR/DPRD. Agus berharap tindak korupsi dapat dicegah dengan banyaknya warga NU di Indonesia.

“KPK dengan jumlah tenaga 1.200 orang dan hanya 90 penyelidik memohon bagaimana NU berpartisipasi dalam upaya pencegahan tindak korupsi,” kata Agus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Agus prihatin, di Indonesia, dalam pengurus SIM dan surat tanah misalnya, warga harus mengeluarkan biaya yang mahal. Ia melihat peluang NU yang dapat membuat laporan secara tepat tentang kejadian di masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Agus mencontohkan di negara Singapura di mana pelaku penyuapan senilai 10 dolar Singapura (atau senilai sembilan puluh tujuh ribu rupiah) pun, dikenakan hukuman penjara selama tiga bulan. Itu terjadi karena di Singapura, apa pun bentuk pelanggaran akan dikenakan denda, dan sudah berjalan selama 50 tahun.

Agus mengatakan, tak perlu ada penyesalan atas keterlambatan Indonesia dari Singapura. Upaya pencegahan korupsi harus dilakukan saat ini agar ke depan, generasi muda dapat menjadi lebih baik dan kesalahan Indonesia tidak terulang lagi.

Warga NU, tutur Agus, dapat melakukan pengawasan dan pelaporan di masyarakat bila terjadi pelanggaran, mana yang termasuk kategori penyuapan, peggelapan dana, dan? penyamaran asal usul harta.

Terkait dengan banyaknya pesantren dan lembaga di NU, Agus mengungkapkan pekan depan akan diluncurkan program “Jaga sekolahku, jaga rumah sakitku, dan jaga perizinanku”. Program ini memungkinkan pesantren dan komunitas NU mengontrol penyaluran dana pendidikan. Tujuannya agar dana yang mengalir ke daerah dapat diawasi, juga sebagai peningkatan kualitas di bidang pendidikan.

“Kami sangat berharap kerja sama KPK dengan NU akan membawa kepada hal-hal yang lebih baik,” tegas Agus. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 04 September 2012

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap pekan sejumlah pelajar NU meninggalkan kampusnya di Surabaya untuk menuju Jombang. Mereka di akhir pekan mengajar baca-tulis warga di sekitar utara Brantas, Jombang. Mereka rela menempuh jarak yang tidak dekat itu untuk mengentaskan buta huruf yang diidap banyak warga setempat.

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Buta Aksara, Pelajar NU Bolak-Balik Surabaya-Jombang

Ketua IPNU Ngusikan Jombang Hendra Setiawan salah satu dari relawan itu. Sudah 3 bulan lebih Hendra yang tengah kuliah jurusan PLS Unesa Surabaya ini, menjalani aktivitas tersebut.. Hal itu dilakukan untuk mengajar ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok buta aksara di dusun Munggut desa Ngusikan, Jombang.

"Kalau ngajar ibu-ibu setiap Selasa malam dan Jumat malam. Tetapi saya senang meski harus tiap minggu pulang dua hari," ujar Hendra.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain Hendra, kader IPNU yang berstatus mahasiswa seperti Miftahul Ulum, Yusuf, dan Roziq juga tercatat sebagai tutor bagi 60 warga Cupak, Ngusikan, yang ikut pembelajaran Keaksaraan Fungsional (KF).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ada 6 kelompok di Cupak. 3 kelompok di dusun Munggut dan 3 kelompok di dusun Cupak. Setiap kelompok 10 orang. Mereka rata-rata berusia antara 40 hingga 60 tahun," imbuhnya.

Ia bersama kader-kader NU bertekad untuk membantu pemberantasan buta aksara. Untuk program KF, pembelajaran yang diajarkan mencakup pengenalan huruf, membaca, menulis hingga berhitung. Proses belajar dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

"Alhamdulillah selama tiga bulan ini KF sudah rampung. Kini menginjak Keaksaraan Usaha Mandiri, membuat kerajinan sandal dan tikar dari pandan dan membuat kue," ujar Dahril Kamal (Gus Ariel) yang pernah menjadi Katib Syuriyah MWCNU Ngusikan.

Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), kata Gus Ariel, memanfaatkan potensi alam daerah yang berada di tengah hutan Ngusikan. Karena, desa Cupak berada di tengah hutan yang ditempuh dengan jalan terjal dan berliku, sekitar 11 km dari kecamatan Ngusikan. Banyak pepohonan pandan di samping jati.

"Untuk bahan kerajinan, warga tidak beli. Mereka kini menunggu peran pemerintah untuk ikut memasarkan hasil kerajinan warga peserta KUM," imbuhnya.

Sementara salah satu peserta KF Genah (67) ini rela menempuh jarak 6 km dari rumahnya bersama belasan perempuan untuk belajar bersama. Nenek asal dusun Munggut yang telah memiliki 7 cucu ini menumpak kendaraan terbuka. Genah yang hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 1 sekolah dasar (dulu SR), masih bersemangat meski terlihat malu-malu.

"Dulu hanya sampai kelas 1, karena gurunya meninggal dunia, dan sekolahnya bubar," ujarnya dengan bahasa Jawa saat menjawab pertanyaan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab yang menjadi guru tamu dadakan. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 Agustus 2012

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu

Sukabumi, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Sukabumi menyantuni 99 anak yatim piatu di lapangan kantor Kelurahan Cisarua, Kamis malam (26/5). Santunan dilaksanakan pada tabligh akbar bertema “Meningkatkan Ukhuwah dalam Kebinekaan dengan Meraih Keberkahan Ramadhan”.

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kota Sukabumi Santuni 99 Yatim Piatu

Pada kesempatan itu, Ketua PCNU Kota Sukabumi KH Ahmad Nawawi Sadali mengatakan menyantuni yatim piatu merupakan ciri umat Islam.

“Jika masih banyak umat di bumi ini yang sudah mampu dalam dunianya, apalagi dia umat Islam, namun tidak memberi, maka identitas agama Islamnya perlu diragukan, karena memberi anak yatim piatu adalah perintah Allah SWT," jelasnya.?

KH Ahmad Nawawi Sadali mengajak semua pihak, terutama pemerintah, untuk memperhatikan anak yatim piatu dari mulai sekarang karena hal itu tanggung jawab bersama.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita mengadakan santunan ini bukan karena punya, namun inilah kita, keluarga NU, selalu ikut merasakan betapa sedihnya mereka menghadapi bulan yang mulia ini, tidak ditemani oleh bapak ibu mereka.”

Anak-anak yang memiliki orangtua, lanjutnya, selama bulan puasa bisa makan enak dan dibelikan baju lebaran. Sementara yatim piatu tidak mendapatkan hal itu. Maka mereka tanggung jawab bersama. ?

Santunan diberikan GP Ansor kepada yatim piatu diiringi tabuahan rampak beduk bertalu-talu. (Jahid Ghofiri/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nusantara Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 14 Agustus 2012

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Produktivitas Nahdiyin Kalbar dalam penulisan buku tak perlu diragukan. Buktinya, Dr Ir H Gusti Hardiansyah M Sc GAM, Wakil Ketua PWNU Kalbar berhasil menerbitkan dua buku. Kedua buku itu berjudul REDD Peluang HPH Turunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK Kalbar.?

"Terbitnya dua buku ini sebagai bukti kemampuan Nahdiyin dalam penulisan buku. Dua buku ini sangat bagus karena berkaitan dengan upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca," kata Ketua PWNU Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie MTM di kediamannya, belum lama ini.

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Dijelaskan M Zeet, selama ini yang namanya NU tak lari dari urusan agama. Namun, kalangan Nahdiyin di Kalbar, tak hanya bicara agama juga konsen bicara masalah lingkungan. Apa yang diperlihatkan Gusti Hardiansyah memperlihatkan nahdiyin memiliki sumber daya manusia andal berbicara lingkungan.

Buku REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) Peluang HPH (Hak Penguasaan Hutan) Menurunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK (Gas Rumah Kaca) Kalbar tulisan Gusti Hardiansyah merupakan karya fenomenal. Sebab, jarang penulis ? menerbitkan buku di bidang emisi gas rumah kaca. Kalau buku bicara tentang agama memang banyak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebagai Ketua NU, saya bangga atas karya buku yang dipersembahkan oleh Gusti Hardiansyah. Karya buku itu diharapkan bisa menjadi referensi bagi perusahaan pemilik HPH maupun seluruh Pemda di Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca," harap M Zeet yang juga Sekda Kalbar.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Buku tersebut sejalan dengan Keputusan Presiden yang komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen tahun 2020. Gusti secara detail memberikan gambaran umum tentang cara bagi pemerintah daerah maupun masyarakat luas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.?

"Harapan saya, tak hanya Gusti yang berdedikasi tinggin untuk penyelamatan lingkungan hidup, melainkan juga Nahdliyin lainnya. Semakin banyak Nahdliyin memperlihatkan karya nyata, saat itulah kiprah NU semakin dirasakan oleh masyarakat," ujar M Zeet.

Di tempat sama, Gusti merasa senang bukunya disambut baik oleh M Zeet. Dua buku tersebut buah karya nya yang selama ini bergelut dengan kehutanan di Kalbar. Dia berharap, bukunya tersebut bisa memberikan pencerahan bagi pemilik HPH, Pemda, pemerhati lingkungan, dan masyarakat luas.

"Sebagai Nahdliyin, buku tersebut saya persembahkan untuk Indonesia. Semoga memberikan manfaat besar bagi Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya," harap Gusti yang juga Dosen Fakultas Kehutanan Untan Pontianak ini.?

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 13 Agustus 2012

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Riau mengimbau agar perguruan tinggi konsisten mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masuknya ideologi HTI yang memproklamirkan khilafah dan antidemokrasi di kampus merupakan ancaman yang nyata bagi keberlangsungan NKRI di masa mendatang.

Hal ini disampaikan untuk menanggapi kegiatan Indonesia Congress of Muslim Student (ICMS) yang dihelat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jumat (17/10) ini di Kampus Universitas Islam Riau (UIR) dengan tema "We Need Khilafah Not Democracy),

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Riau Ingatkan Kampus Jaga NKRI dari HTI

"Kalau HTI menolak demokrasi dan mendukung khilafah, berarti sudah menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi acuan kita berbangsa dan bernegara. Yang semacam ini seharusnya tidak dibiarkan leluasa merekrut mahasiswa kita di kampus-kampus," kata Wakil Ketua GP Ansor Riau Purwaji dalam siaran pers kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, klaim HTI untuk mendeklarasikan bersama 5000 mahasiswa di UIR sudah jelas-jelas menginginkan NKRI bubar dan itu berarti mengingkari hasil perjuangan para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak masuk ke Indonesia tahun 1980-an HTI memang terus menggalang dukungan untuk mengganti sistem negara kita yang berdasar Pancasila menjadi negara dengan sistem yang mereka sebut khilafah Islamiyah.

Terkait hal itu, Purwaji meminta pihak kampus, Polri dan pemerintah daerah Riau mengantisipasi kemungkinan lahirnya pemikiran yang akan mengancam keberlangsungan NKRI di masa depan.

"Kampus harus hati-hati memantau gerakan seperti yang dilakukan HTI dan gerakan fundamentalis Islam lainnya. Dan Polri juga jangan seenaknya ngasih izin kegiatan mereka, sebab orang mengajak NKRI bubar kok dibiarkan dan dikasi izin," tandasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Makam, Daerah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kongres Gerakan Pemuda Ansor XV yang akan digelar pada 25-27 November 2015 di Pondok Pesantren Pandanaran Yogyakarta mendatang, diharapkan mampu mencetak kader yang militan, sehingga mampu menjalankan serta mengamalkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah.

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Harapan GP Ansor Sidoarjo pada Kongres XV

Demikian ungkapan Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Slamet Budiono saat dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Selasa (3/11). "Semoga dengan adanya kongres itu nanti mampu menjaga keutuhan NKRI melalui sistem pengaderan yang telah tertuang di PD/PRT dan PO," ungkap Slamet.

Slamet menyatakan bahwa ke depan para aktivis sekaligus warga Nahdliyin bisa memahami sistem pengaderan keorganisasian Ansor. Tanpa melalui pengaderan yang terstruktur, menurutnya, akan mengurangi militansi dalam berorganisasi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Slamet berharap, semua kegiatan atau program unggulan GP Ansor di semua tingkatan terutama jamiyah shalawat dan dzikir Rijalul Ansor yang sudah diatur pelaksanaannya, supaya ditambah dengan halaqoh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"PC GP Ansor Sidoarjo berharap dalam kongres nantinya, agar melibatkan keluarga pondok pesantren menjadi pengurus GP Ansor di semua tingkatan. Mari berjuang bersama dengan keluarga pondok pesantren untuk dakwah Islamiyah. Sehingga ponpes tidak terkesan eksklusif bagi masyarakat yang sulit berkomunikasi dengan pihak pesantren," harapnya.

Sekretaris GP Ansor Sidorjo, H Rizza Ali Faizin berharap pelaksanaan kongres tidak hanya menjadi ajang pemilihan ketua umum baru. Akan tetapi mampu memilih dan menjadikan pemimpin yang banyak menghasilkan perubahan.

"Semoga kongres nantinya berjalan lancar, kondusif dan sukses sehingga tidak sampai mengakibatkan kegaduhan. Saya juga berharap bagi Ketum yang terpilih nanti mampu memprioritaskan program kemandirian ekonomi, mampu mengawal paham Aswajah An-Nahdliyah serta eksistensi Ansor untuk bangsa dan negara," kata Rizza. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 Agustus 2012

Sekularisme Lokal

Suatu hari KH Masduqi Mahfudz (alm. Rais Syuriyah PBNU) diundang oleh kepala preman dan pencopet di Malang agar memberi pengajian di rumahnya.

Seusai pengajian, KH Masduqi Mahfudz bertanya kepada kepala preman itu.

Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekularisme Lokal

“Sampeyan itu kan preman dan pencopet, kok ngundang saya untuk memberi pengajian?”

Sang preman menjelaskan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Begini kiai, walaupun saya ini preman dan pencopet, saya tetap ingin beribadah. Ngaji itu ibadah kiai, lha nyopet itu kerja. Ngaji ya ngaji kyai, kerja ya kerja. Jangan dicampur-campur!”

Kiai Masduqi Mahfudz tertawa dengan keras ketika menceritakan peristiwa tersebut. Katanya, sang kepala preman dan pencopet itu telah menerapkan faham sekularisme meskipun tingkat lokal. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 Agustus 2012

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Oleh? Rijal Mumazziq Z

Gula menjadi salah satu basis industri andalan kolonial Belanda pasca (hampir) bangkrutnya mereka akibat Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh. Melalui sistem tanam paksa, penjajah menikmati kemakmuran di Hindia Belanda, apalagi dengan adanya sistem sewa tanah 70 tahun. Para bangsawan Jawa, misalnya, dengan ceroboh banyak yang menyewakan tanah-tanah leluhurnya untuk kepentingan industri gula, teh, kakao, dan kopi yang dikelola pengusaha Eropa. Mengenai kejamnya sistem kapitalis yang disokong feodalisme konyol ini bisa dibaca dalam novel "Max Havelaar"-nya Multatuli.

Dua dasawarsa sebelum pergantian abad 19 ? ke 20, pabrik gula didirikan di berbagai daerah. Semua menjadi mesin yang menggelembungkan kantong bangsawan Belanda dan mengeringkan keringat kaum pribumi. Mangkunegoro IV, tercatat sebagai salah satu raja Jawa terkaya, yang turut mendirikan beberapa pabrik gula untuk menopang ekonomi keraton, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu. Di eranya, industri ini menjadi salah satu pabrik gula pribumi yang bersaing dengan industri gula milik kaum kolonial. Prof Wasino menjelaskanan seluk beluk industri gula yang dikuasai bangsawan Jawa, Mangkunegoro IV (dan sedikit ulasan mengenai pabrik milik Hamengkubowono VII dengan kepemilikan 17 pabrik gula itu) dalam "Kapitalisme Bumiputra", sebuah buku menarik soal industri gula di pergantian abad.

Berdirinya pabrik gula di beberapa daerah juga diiringi dengan berdirinya permukiman di dekatnya. Adanya permukiman alias tangsi bagi buruh pabrik yang berasal dari luar daerah juga diiringi dengan tumbuhnya bisnis haram seperti perjudian, penjaja minuman keras, hingga prostitusi terselubung tak jauh dari lokasi pabrik. Jadi, lazim terjadi manakala setelah menerima upah, mereka akan menandaskannya di meja judi maupun memberi saweran kepada penari yang merangkap pekerja seks.

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Lalu, bagaimana ulama kita menyikapi fenomena ini? Alih-alih hanya mencaci maki, dengan cerdas dan bijak, para ulama menyalakan pelita di tempat gelap ini. Maka, berdirilah pesantren-pesantren legendaris tak jauh dari pabrik gula.

Pondok Tebuireng berhadapan menantang Pabrik Gula Tjoekir. Ponpes Denanyar tak jauh dari PG Djombang Baru. Ponpes Lirboyo tak jauh dari PG Pesantren Baru. Ponpes Zainul Hasan Genggong tak jauh dari PG Padjarakan. Ponpes Salafiyah Syafiiyah berdekatan dengan PG Asembagoes. PP Assuniyah Kencong Jember berdekatan dengan PG Gunungsari. Ponpes Annur Bululawang Malang juga tak jauh dari PG Krebet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam fakta lain, berdirinya pondok pesantren di dekat pabrik gula ini kelak juga menghambat pengaruh PKI di kalangan buruh pabrik. Kaum kiri memang mendominasi gerakan buruh pabrik dan jawatan kereta api. Aksi-aksi pemogokan buruh beberapa kali juga dimotori kaum kiri, khususnya era 1920-an dan 1930-an.

Dalam kasus pembantaian ulama di Madiun, 1948, PKI menggerakkan buruh PG Pagotan sebagai milisi yang menggorok Kiai Shiddiq dan beberapa ulama lain di desa Kresek. Bahkan KH Masyhudi, Mursyid Thariqah Syadziliyah, yang juga menantu Kiai Shiddiq, menjelaskan apabila sebelum dieksekusi, milisi PKI menggunakan salah satu bangunan di PG Pagotan sebagai ruang penyekapan.

Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, juga menjadi lokasi penyekapan para kiai, camat, pamong desa, lurah, mantri, dan ratusan orang lainnya pada September 1948 itu. Kemudian para tawanan ini dieksekusi dengan cara diberondong senapan mesin. Kiai Imam Shafwan dan putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, dikubur hidup-hidup setelah sebelumnya disiksa habis-habisan. Adapun Kiai Mursyid, pengasuh PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan, yang juga menjadi salah satu kawan diskusi KH Abdul Wahid Hasyim tatkala di BPUPKI, ikut dilenyapkan dan tidak diketahui makamnya. Para pelaku pembantaian ini, kabarnya adalah anggota serikat buruh pabrik gula Pagotan dan Rejosari yang didukung militer yang pro FDR.

Bisa dibilang, adanya pesantren di dekat pabrik gula menjadi penanda lanjutan Perang Jawa. Para cucu Laskar Diponegoro yang berdiaspora di pedalaman Jawa itu kemudian memilih melawan mesin kolonialisme Belanda bukan dengan cara yang frontal, melainkan dengan pencerdasan masyarakat yang terkonsentrasi di tangsi buruh maupun masyarakat sekitar pabrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Langkah-langkah yang dilakukan oleh para kiai di atas memberikan sebuah hipotesa awal bahwa siyasah alias politik yang dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas akan bertahan lama!

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Khutbah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 19 Juli 2012

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam

Oleh Moh Nasirul Haq



Setiap umat memiliki hari perayaan dan musim-musim tertentu sejak dahulu kala. Mereka berkumpul untuk menunjukkan syiar-syiar ibadah atau meluapkan kegembiraan dengan saling bertukar hadiah atau penghormatan.

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam

Perayaan merupakan hal yang penting bagi segenap kaum. Dan kaum yang tidak memiliki perayaan adalah kaum yang tidak memiliki sejarah. Suatu perayaan, selain mengandung tradisi sosial budaya juga menjadi sarana memperkokoh unsur toleransi kebersamaan.

Setiap umat tentunya memiliki keragaman dalam melakukan perayaan itu sendiri ada yang positif ada yang negatif. Berikut uraian perayaan yang pernah ada

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



1. Perayaan bangsa jahiliyah (pra-Islam)


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bangsa jahilyiah memiliki banyak jenis perayaan, biasanya berkaitan dengan penyembahan kepada berhala, kebangkitan suku, dan lain-lain. Ibnu Risiq dalam kitab al-Umdah menjelaskan, "Kabilah suku Arab memiliki tiga perayaan. Pertama, saat melahirkan anak laki-laki; kedua, saat kuda mereka melahirkan; ketiga, saat muncul penyair baru dan bentuk perayaannya mereka luapkan dengan pesta seks, berjoget, mabuk, dan judi."

Bangsa jahiliyah juga merayakan hari "Naairuz" dan hari "Mahrojan" yaitu dua perayaan ketika berlangsung perubahan iklim atau cuaca.

Sementara umat jahiliyah modern dalam kitab Haitsi karya Syekh Nasir asy-Syaibani mendeskripsikan, suatu perayaan dengan hal yang berbau hiburan, malahi (melengahkan), miras, dan pelacuran. Misalnya bangsa Yunani Kuno memiliki perayaan "Bakus". Dalam perayaan ini wanita dan pria disuruh melepaskan rasa malu untuk melampiaskan hasrat seksualnya dan siapa saja yang menolak akan dikubur hidup-hidup.



2. Perayaan ahli kitab (kaum Nabi Musa dan Nab
i Isa)

Mengenai perayaan kaum Nabi Musa Allah SWT berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ?

Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik". (QS Thaha: 59)

Yaumu Zinah merupakan perayaan bagi mereka untuk melakukan penampilan terbaiknya dan berhias diri pada setiap hari Asyura tepatnya hari Sabtu.

Sementara Allah berfirman mengenai kaum Nabi Isa:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Isa putra Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu maidah (hidangan) dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki". (QS Al Maidah: 114)

Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud "maidah" di sini adalah tujuh roti dan tujuh ikan hiu yang mereka makan hingga kenyang. Sementara dalam hadits disebutkan maidah itu adalah hidangan dari langit berupa roti dan daging yang mana mereka diperintahkan agar tidak berkhianat dan tidak menyimpannya untuk esok harinya. Namun mereka berkhianat dan menyimpannya hingga mereka dikutuk menjadi kera dan babi. Demikian sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Jalalain.



3. Perayaan dalam Islam


Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah RA:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Datang kaum Habasyah mereka berzafin pada hari ied di masjid lalu rosululloh memanggilku kemudian kepalaku diletakkan di sikutnya agar aku bisa melihat pada permainan mereka hingga aku yang berpaling dari melihat mereka"

Dan diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih dari sahabat Anas RA, ia berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ?

"Nabi datang kemadinah dan penduduk madinah memiliki dua hari perayaan untuk bermain main. Nabi berkata ; Allah telah mengganti dengan dua hari yang lebih baik darinya yaitu hari idul fitri dan idul adha."

Dari kedua hadits ini bisa kita ketahui bahwa Islam menjadikan hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha sebagai perayaan Islam. Sebagaimana yang telah kita lakukan dalam menyambut hari raya, biasanya kita mengumandangkan takbir, melaksanakan shalat id, membayar zakat, menyembelih kurban, bersilaturahim pada sanak famili. Tentu semua ini tidak lepas dari maqashid syariah atau tujuan syariat, di antaranya:

- Idul Fitri dirayakan setelah kita menyempurnakan ibadah agung pada bulan Ramadhan mulai dari puasa, shalat tarawih, tadarus, qiyamul lail, dan lain-lain. Sementara pada Idul Adha tidak dilakukan kecuali telah melakukan manasik haji.

- Perayaan Islam merupakan perayaan yang terkait aspek sosial kemasyarakatan, memperhatikan kaum yang lemah agar tidak merasa lapar pada hari yang berbahagia dengan program zakat dan sedekah atau juga THR bagi segenap karyawan.

- Momentum memperkuat ukhuwah islamiyah dengan silaturahim. Aristoteles berkata, manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk yang bermasyarakat dan bersosialisasi. Dalam bersosialisasi, manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Interaksi sosial adalah adalah hubungan yang dinamis yang menghubungkan masing-masing individu dan kelompok. Salah satunya bisa kita tempuh melalui bersilaturahim.

- Menurut Syekh Abdurrohman Habannaka, "Perayaan ini tidak hanya untuk mengenang sejarah atau meneruskan sejarah, akan tetapi untuk merealisasikan keluhuran yang selalu diperbaiki setiap tahunnya. Kemudian ditanamkan pada setiap Muslim atau paling tidak bagi mayoritas umat Islam. Sebagaimana shalat sebagai ibadah harian maka Allah menjadikan hari jumat sebagai hari raya dengan perasaan bahagia sebab sudah sukses melaksanakan ibadah selama seminggu penuh."

Sementara di sisi lain Al-Habib Abu Bakar Ahmad Al-Haddar mengatakan dalam kitab Madrasah Ramadlaniyah bahwa perayaan hari raya ini memiliki beberapa perspektif ditinjau dari beberapa bidang.

Menurut para arifin (orang shalih), Imam Ali radliyallahu ‘anh berkata, hari ini merupakan hari raya bagi orang yang diterima puasanya dan bagus rekam jejaknya serta mendapat ampunan dosanya. Hari ini bagi kita adalah hari raya, besok juga hari raya, dan setiap kita tidak bermaksiat kepada Allah adalah hari raya."

Menurut ahli gramatika, hari raya "id" yaitu setiap hari yang terdapat perkumpulan atau sejenisnya. Ibnu Arabi berkata, “Mengapa dikatakan id (kembali)? Karena perayaan itu kembali setiap tahunnya dengan beragam kebahagiaan yang baru." Oleh karena itulah di saat hari raya kita mengucapkan "Minal aidzin wal faizin kullu amm wa antum bi khairin" agar kita taun kembali di tahun berikutnya dengan kondisi yang bebahagia.

Menurut para penyair, hari raya id merupakan kesempatan yang digunakan para penyair untuk berbicara dan open house dengan para pimpinan, khalifah, pejabat pemerintah, ulama, atau siapa pun yang memiliki kedudukan penting meskipun tidak harus dalam kondisi senang saja, bisa jadi juga dalam kondisi gawat atau sedih namun bertujuan membangkitkan gairah dan semangat kebahagiaan.

Penulis adalah Santri Rubat Syafii Mukalla Yaman



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Berita, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 09 Juli 2012

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Pusat Lajnah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PP LPTNU) ? Prof Dr H Noor Ahmad mengatakan, mengembangkan sebuah ? perguruan tinggi (PT) dibutuhkan semangat konsistensi perjuangan yang kuat. Pengelola PT harus siap berkorban ? jiwa dan raganya untuk kemajuan lembaga pendidikan tersebut.

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan

“Mengelola lembaga pendidikan tidak boleh berhenti semangatnya dalam situasi apapun baik senang maupun susah. Terus infakkan apa yang kita punyai baik ilmu maupun badan yang dimiliki,”ujarnya dalam acara halal bi halal yang diadakan Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU (BPPMNU) Az-zahra Akbid Muslimat NU Kudus belum lama ini.

Di depan jajaran pengurus dan civitas akademika Akbid Muslimat, Noor Ahmad menekan pengembangan lembaga pendidikan NU perlu ditunjang aspek non fisik yang sehat. Pengelolaannya ? harus dengan tangan dingin, tepo seliro dan penuh kasih sayang.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam lembaga pendidikan atau perguruan tinggi ? sangat berhubungan dengan orang lain sehingga pengelolaanya perlu suasana komunikasi yang baik dan kondusif,” tegasnya lagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disamping itu, tandas Rektor Unwahas Semarang, ? mengembangkan pendidikan harus bersandar pada ? pilar-pilar pendidikan. Yakni tilawah artinya mengarahkan pemahaman terhadap sesuatu kepada anak didik, mengajarkan ilmu pengetahuan atau transfer of ? knowledge dengan memberikan orientasi ke depan dengan jelas.?

“Kemudian Transfer of ruler, menyampaikan sesuatau berdasarkan ketentuan atau dasar-dasar agama, akhlak dan terakhir tazkiyatun nufus atau menyucikan jiwa,”terang Noor Ahmad.

Ia menegaskan selama mempunyai orientasi yang jelas, mengelola pendidikan akan lebih mudah dan akan cepat berkembang pesat.

Noor Ahmad juga mengapreasiai semangat pengurus BPPMNU Az-Zahra yang membawahi Akbid Muslimat NU Kudus. Menurutnya, bangunan fisiknya sangat bagus dan mewah sehingga masa depan kampus ini akan bisa menjadi besar.

“Sekarang tinggal ditargetkan kapan Akbid ini cepat menjadi universits atau minimal menjadi sekolah tinggi,” tegasnya.

Disamping pengurus BPPMNU Az-zahra dan mahasiswa Akbid, hadir pula ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan pengurus NU lainnya. Kegiatan halal bi halal ini diakhiri dengan musafahah dan foto bersama.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 Juli 2012

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tim Kirab Resolusi Jihad NU di hari kedua tiba di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (14/10) malam. Tim diterima panitia lokal dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Kabupaten.

Begitu masuk ke halaman Pendopo, ribuan siswa dan mahasiswa, serta perwakilan banom dan lembaga di bawah PCNU Sidoarjo menyambut dengan wajah penuh suka cita. Lantunan solawat tak henti-hentinya mereka perdengarkan, hingga Tim akhirnya dibawa ke tempat atraksi pendekar Pagar Nusa Sidoarjo.

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tim pun terpukau saat anggota pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa meledakkan petasan dengan ledakan tinggi di atas tubuh mereka, namun para pendekar itu tidak cedera sedikit pun. Dalam waktu berdekatan, pendekar Pagar Nusa juga terbukti berhasil memutuskan rantai besi yang melilit tubuh mereka.

Selanjutnya, Tim segera masuk ke dalam pendopo untuk mengikuti upacara penyambutan. Ketua PBNU KH M. Salim Aljufri berkesempatan memberikan sambutan mewakili PBNU. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada jajaran Pemda Sidoarjo yang mendukung kegiatan kirab dengan mengizinkan Tim Kirab menyinggahi Sidoarjo, bahkan menjadikan Pendopo Kabupaten Sidoarjo sebagai tempat upacara penyanbutan.

Selanjutnya, ia mengatakan terkait dengan pelaksanaan kirab yang merupakan salah satu agenda dalam dalam peringatan Hari Santri Nasional. Santri bukan sekadar orang-orang yang turut berada di Indonesia, tapi juga sebagai penentu Kemerdekaan RI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Santri juga bukan sekadar pelajar, tetapi juga tulang punggung dan berada di ? garda terdepan dalam membentengi bangsa dari berbagai ? keruntuhan moral. Menurut Kiai Salim saat ini banyak terjadi kejahatan terorisme, penyalahgunaan narkoba, dan penyimpangan perilaku seksual. Semua keruntuhan moral itu harus dicegah dan dihadapi dengan iman. Dan santri harus berdiri paling depan dalam mengatasinya.

Kepada para peserta kirab, ia berpesan bahwa ajang kirab juga merupakan pendidikan politik. Peserta kirab dengan mengunjungi berbagai daerah, akan menemui masyarakat yang ternyata adalah warga NU. Artinya NU ikut menentukan jalannya bangsa ini.

Kiai Salim lalu mengingatkan bahwa peserta kirab yang merupakan generasi muda tak lain adalah pemimpin di masa mendatang, di mana tanggung jawab menjaga moral bangsa Indonesia berada di tangan mereka.

“Nahdlatul Ulama adalah pelopor dunia Islam. Saat ini kiblat dunia Islam adalah Indonesia, salah satunya karena kerukunan yang ditunjukkan warga Islam Indonesia. Jangan sampai dihancurkan apa yang sudah dijalin NU selama ini,” jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf juga memberikan sambutan. Menurutnya NU dan NKRI tak bisa dipisahkan. Dibuktikan dengan di setiap acara NU selalu dinyanyikan dua lagu yakni Indonesia Raya dan Syubbanol Wathon. Lagu Syubbanol Wathon yang diciptakan Abdul Wahab Chasbullah, adalah lagu tentang cinta tanah air. Lagu itu diciptakan tahun 1934, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kepada peserta kirab, KH Abdi Manaf menitipkan pesan untuk PBNU. Bahwa NKRI adalah harga mati, sehingga apabila ada kelompok gerakan yang ingin merongrong NKRI, agar disampaikan kepada pemerintah bahwa melompok itu adalah bagian dari musuh NU.

“Tentu adalah hal yang tidak diinginkan bahwa akan ada Resolusi Jihad jilid 2. Tetapi bila itu terjadi NU harus siap bergerak,” cetusnya.

Dari pihak Pemkab Sidoarjo, sambutan diberikan oleh Wakil Bupati Nur Ahmad Saifuddin. Ia pun menyampaikan rasa bangga karena tim kirab berkenan singgah di Sidoarjo.

Sidoarjo, tutur Wabup, tidak asing lagi dengan NU karena mayoritas warganya juga NU. Pendopo Kabupaten juga tidak asing lagi dengan kegiatan ke-NU-an, seperti dengan dan tahlilan. Ke depan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) sangat mungkin berpentas di Pendopo Kabupaten.

Dalam peringatan Hari Santri 2016, Kabupaten Sidoarjo juga melakukan sejumlah kegiatan. Diantaranya Pameran Produk Santri dan Pameran Pesantren, Lomba baca kitab, pembacaan satu milyar shalawat Nariyah, pentas ketoprak santri dengan Lakon Resolusi Jihad. Juga pihak Pemda sedang berkoordinasi dengan pihak terkait berkenaan dengan pelepasan ribuan balon udara.

Kegiatan lainnya adalah Festival Munajat Seribu Santri, pembacaan puisi dan jalan sehat santri yang bekerjasama dengan LP Maarif NU. Diperkirakan akan melibatkan 18 ribu peserta.

Pemkab Sidoarjo dalam kegiatan tersebut bersinergi dengan NU melalui banom-banom yang ada di bawahnya. Kepada Tim Kirab Wabup berharap Kirab Resolusi Jihad dan peringatan Hari Santri Nasional akan menjadi ajang penguatan cinta tanah air. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Nahdlatul, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah