Senin, 29 Desember 2014

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Riyadh, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Warga Negara Indonesia atau TKI yang berdomisili di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menghadiri istighotsah bersama dengan tema “Tarhib Ramadhan, untuk menjadikan hidup lebih baik bersama bulan suci Ramadhan 1436 H” pada 13 Juni 2015 lalu.

Warga Negara Indonesia yang dari berbagai daerah serta dari berbagai macam profesi baik laki maupun perempuan telah memenuhi tempat yang telah disediakan tim pelaksana berkapasitas kurang lebih 250 orang.

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramdhan, WNI Riyadh Istighotsahan

Sembari menunggu istighosah dimulai, para jamaah mendengarkan taushiyah yang disampaikan Rais Suriah PCINU Riyadh Ust. Abdul Malik An-Namiri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ustadz yang Ketua Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia berpesan untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt serta selalu menjaga martabat bangsa indonesia dengan mematuhi peraturan peraturan yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi.

Seusai taushiyah jamaah serentak membaca dzikir dan sholawat yang dipimpin Ust Ahmad Syafawi serta Ust Matruji Abdu Siyam sehingga acara selesai yang ditutup dengan doa bersama yang kemudian diwarnai dengan marawisan Aswaja Banjari Group. (Red: Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Cerita, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 28 Desember 2014

Dubes Denmark Ajak NU Kerja Sama Kampanye Perdamaian

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Rabu (20/1) siang ini, menerima kunjungan dari Kedutaan Besar Denmark. Rombongan yang diterma pengurus harian PBNU membincang isu terorisme dan penjajakan kerja sama antara kedua belah pihak.

Dubes Denmark Casper Klynge yang datang bersama tiga stafnya menyampaikan bela sungkawa atas tragedi teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia berkeyakinan bahwa terorisme bukan wajah asli Indonesia.

Dubes Denmark Ajak NU Kerja Sama Kampanye Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Denmark Ajak NU Kerja Sama Kampanye Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Denmark Ajak NU Kerja Sama Kampanye Perdamaian

“Kami tetap akan bersatu bersama Indonesia dalam hal perang terhadap terorisme,” ujarnya di hadapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, dan Bendahara Umum H Bina Suhendra di kantor PBNU, Lantai 3, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Casper Klynge mengapresiasi NU juga ormas-ormas Islam moderat di Indonesia yang konsisten berjuang membina dan mendorong masyarakat tentang pentingnya toleransi dan perdamaian. Ia menawarkan, suatu saat warga muslim dari NU berkunjung ke Denmark untuk mengenalkan gagasan Islam Nusantara yang dinilai menjunjung tinggi perdamaian.

Marsudi menjelaskan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ini melalui media nasional dan internasional. Bahkan, katanya, akhir pekan lalu PBNU telah menghimpun para pimpinan 12 ormas Islam dan lintas agama untuk bersama-sama menyerukan perang terhadap terorisme dan radikalisme dalam sebuah apel bela negara.

Ia juga mengusulkan Kedubes Denmark bisa menerjemahkan buku-buku yang dikarang para penulis NU ke dalam bahasa yang mudah dicerna warga Denmark. Marsudi yakin, ajaran moderat yang terkandung di dalamnya dapat menjadi jalan keluar bagi gejala ekstremisme di sana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketum PBNU merespon positif ajakan kerja sama tersebut. Ia menjelaskan, Islam Nusantara sejatinya hanya penegasan kembali tentang Islam yang menghargai jati diri kebangsaannya. Hal ini yang menurutnya tak ada di Timur Tengah.

“Di Timur Tengah, jika ada seorang ulama maka ia bukan nasionalis. Bila ada seorang nasionalis maka ia bukan ulama. Tapi di Indonesia, keduanya bisa kita temukan,” ujarnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Santri MA Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan menorehkan prestasi membanggakan pada perhelatan Kompetisi MIPA dan Sosial (KOMIPAS) ke-16 tingkat SMA se-Banten dan Jabodetabek yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 2 Kota Tangerang. Tim MA Al-Tsaqafah yang diwakili oleh Rifqoh Rofiqotul Munawaroh, Muhammad Hazwan Iftiqar, dan Abdul Muhyi berhasil meraih juara pertama pada kategori "Science Fair".

Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Al-Tsaqafah Raih Juara I Science Fair Se-Banten dan Jabodetabek

Pada ajang yang berlangsung Sabtu (23/4) lalu itu, mereka mendemonstrasikan hasta karyanya yang diberi nama Lampu Alarm Santri. Menurut Muhyi, siswa Kelas X asal Indramayu, kreasi ini terilhami oleh aktivitas para ustadz yang membangunkan santri-santri setiap pagi untuk menunaikan salat subuh berjamaah. Alat kreasinya terbilang sangat sederhana. Hanya terdiri dari lampu, dinamo, kabel, stop kontak, kenop lampu, bekas botol air mineral, tirisan minyak, dan paku.

"Cara kerjanya juga sama, sangat sederhana. Setelah materi tadi dirangkai dan teraliri setrum listrik, secara otomatis alarm yang terbuat dari rangkaian paku tadi akan menimbulkan bunyi bising sekaligus membuat lampu alarm menyala," terang Rifqoh, siswi kelas X asal Indramayu.

Keberhasilan ini disambut gembira oleh Kepala Sekolah MA sekaligus Kepala Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, H Idris Soleh. "Raihan prestasi ini merupakan bukti bahwa MA Al-Tsaqafah mampu memadukan kurikulum nasional dan kurikulum pondok pesantren dengan baik sehingga dapat saling melengkapi," ujarnya seraya menyampaikan rasa terima kasih secara khuaus kepada para pembimbing ajang tersebut serta para guru secara umum.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami sangat bangga dengan hasil yang kami raih ini. Meskipun kami selalu berkutat dengan kitab kuning, namun itu bukan hambatan untuk mengembangkan diri dalam dunia sains dan teknologi. Semoga karya kami bermanfaat. Dan tak lupa kami akan terus berusaha mengharumkan pesantren dan sekolah pada kesempatan yang lain," tutup Hazwan siswa kelas X asal Riau yang sekaligus menjadi ketua tim sains MA Al-Tsaqafah. (Shofwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Olahraga, Daerah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 Desember 2014

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Majalengka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ada yang ingin menghilangkan peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beragam cara mereka lakukan, salah satunya dengan melakukan penghinaan terhadap para Ulama NU dan Kiai Pesantren. Padahal sejarah mencatat dengan tinta emas perjuangan Para Ulama NU dalam kemerdekaan Indonesia dan mengisinya dengan peningkataan kualitas pendidikan dan kehidupan sosial.

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Terus Lakukan Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Kehidupan Sosial

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq di hadapan ratusan kiai dan ribuan jamaah Haul KH Buchori di Pondok Pesantren Al-Buchorie Garawangi Sumberjaya Majalengka, Ahad (8/1) lalu.

Maman yang juga Anggota DPR RI itu mengingatkan kaum Nahdhiyin tentang sejarah berdirinya NU. Dimana menurutnya NU berdiri berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu. Di antaranya adalah pada tahun 1924, Syarif Husein Raja Hijaz (Makah) yang berpaham Sunni (Ahlussunah wal Jamaah) ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi.

Wahabi kemudian melarang semua bentuk amaliah keagamaan kaum Sunni, yang sudah berjalan di Tanah Arab dan dunia Islam seperti sistem bermadzhab, tawasul, maulid Nabi, ziarah kubur. Semua ? dilarang dan digantikan ajaran wahabi yang a-historis, anti budaya lokal, anti perbedaan dan tidak mau ada dialog.?

"NU lahir sebagai pembela paham Ahlussunah wal Jamaah yang diamalkan para Ulama dan umat Islam di Indonesia sejak lama,” papar Maman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai muda yang juga pengasuh Ponpes Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka ini mengajak jamaah untuk mendakwahkan Islam ramah, toleran, damai serta progresif melalui media sosial untuk menangkal kelompok radikal, intoleran, dan teroris.

Tampak hadir pad kesempatan Haul KH Buchori tersebut Ketua PCNU Majalengka, KH Harun Bajuri, Anggota DPRD FPKB Jawa Barat, H Nasir, Anggota DPRD FPKB Kab. Majalengka M. Jubaedi dan Suheri, Ketua GP Ansor Majalengka, Ahmad Cece Asyfiyadi, Komandan Banser Majalengka, Wahyudin serta tokoh-tokoh ulama dan kiai lainnya. (Ade Duryawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 22 Desember 2014

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Bantul, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengatakan, jika ingin hidup menjadi mudah, maka jangan sampai mempunyai musuh. Orang yang memiliki musuh, hidupnya akan berat dan susah.

Hal tersebut disampaikannya di sela-sela senandung shalawat bersama para Jamaah, Selasa (08/10), dalam acara Habib Syech Bershalawat, yang diadakan oleh Akademi Kebidanan Yogyakarta, di lapangan Akbid Yogyakarta, Jl. Paris km.6, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta.

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Ingin Hidup Mudah, Jangan Punya Musuh

Habib Syech melanjutkan dengan menyitir salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi Quu anfusakum wa ahliikum naara, yang artinya jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Hal tersebut dimaksudkan Habib Syech untuk menanggapi permasalahan Negeri yang dipenuhi dengan korupsi oleh para wakil rakyat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Habib Syech, jika ada pejabat yang melakukan korupsi, yang paling menderita dan menjadi korban adalah keluarga; anak dan istri. Oleh karenanya, Habib Syech menghimbau para Jamaah agar senantiasa menjaga diri sendiri dan keluarga dari jeratan api neraka.

“Jika ingin menjadi orang yang baik, kita juga harus berusaha, dan selain menjadi orang yang baik, kita juga harus menjadi bangsa yang baik,” imbuhnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Allah, lanjutnya, tidak menyuruh untuk berkorban sesuatu yang berat pada diri kita, melainkan yang sedikit saja yang ada pada diri kita. Terlebih berkorban untuk bangsa. “Secara sederhana, yakni dengan cara bersyukur, baik gaji sedikit maupun gaji banyak,” tandas Habib Syech.

Didepan sekitar lima ribuan jamaah yang memadati lapangan, malam itu Habib Syech menutup dengan memberikan pesan, “Ada siang, ada malam, ada orang yang korupsi, juga ada orang baik, itu semua agar kita tau mana yang baik, dan mana yang tidak baik,” pungkasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 20 Desember 2014

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi mengimbau warga NU untuk tetap setia dengan prinsip tasammuh (toleransi) dengan tidak mudah menisbatkan kata ”sesat” pada pihak lain.

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyesatkan Orang Lain, Kemusyrikan Paling Besar

”Menyesatkan orang lain sama saja dengan memosisikan dirinya sebagai hakim keyakinan yang seharusnya hanya dimiliki Allah,” katanya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Daerah Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) Kota Cirebon, Rabu (13/2), di Masjid Hijau Pegambiran, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Masdar merujuk surat an-Nahl ayat (93) yang menyebutkan bahwa keanegaragaman umat merupakan kehendak Allah, melalui otoritas penuh untuk menyesatkan dan memberi petunjuk mereka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan demikian, sambungnya, orang yang menyesatkan pada dasarnya telah musyrik, karena telah mengambil otoritas Tuhan untuk dirinya. ”Dan tidak ada dosa yang lebih besar dibanding memusyirkan dirinya dengan Allah,” kata Kiai Masdar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di hadapan hadirin, alumni Pesantren Krapyak ini juga mengajak untuk tidak menjadikan masjid sebagai ruang eksklusif yang menanamkan intoleransi. Sebab, dengan konsep pembagian ruang dalam dan ruang serambi, masjid sesungguhnya merupakan bangunan yang terbuka.

Ruang serambi, demikian Kiai Masdar, harus dimaksimalkan perannya sebagai tempat berdiskusi dan memecahkan berbagai persoalan umat, termasuk menghidarkan dari paham yang terlalu dogmatis. ”Dogma bisa dicairkan jika serambi itu diperdayakan,” tegasnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 17 Desember 2014

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Dhaka, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kekerasan pemerintah Myanmar atas Rohingya tak hanya memaksa hampir 400.000 ribu etnis minoritas tersebut melakukan eksodus ke negara tetangga, tetapi juga membuat Bangladesh sebagai negeri tujuan pengungsi tertimpa beban. Bangladesh beberapa kali mengecam Myanmar terkait krisis kemanusiaan ini.

Belakangan hubungan keduanya kian panas ketika Bangladesh menuduh Myanmar berulang kali melanggar perbatasan kawasan udara. Bangladesh menilainya sebagai provokasi dan mengancam tentang konsekuensi tertentu bila tindakan itu terulang lagi.

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak mereka lari dari serbuan tentara Myanmar yang berdalih telah melakukan perburuan "teroris Bengali". Jumlahnya terus meningkat sejak 25 Agustus lalu. PBB menyebut krisis ini sebagai langkah "pembersihan etnis" oleh Myanmar.

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Bangladesh, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa pesawat tempur dan helikopter Myanmar melanggar kawasan udara sebanyak tiga kali, yakni pada 10, 12 dan 14 September,  dan telah meminta pejabat kedutaan besar Myanmar di Dhaka untuk melakukan komplain.

"Bangladesh menyampaikan keprihatinan mendalam atas pengulangan tindakan provokasi semacam itu dan menuntut agar Myanmar segera melakukan tindakan untuk memastikan bahwa pelanggaran kedaulatan semacam itu tidak terjadi lagi," kata kementerian di Myanmar dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama, Khutbah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 10 Desember 2014

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Oleh: Faiqotun Ni’mah

Sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia, Jawa memberikan tak sedikit sumbang sih budaya terhadap Indonesia sehingga ia bisa disebut negara kaya budaya. Banyak budaya berasal dari Jawa yang terepresentasikan dalam bentuk tradisi-tradisi, baik tradisi yang berupa hiburan, bersifat spiritual, berbau mistik, maupun kolaborasi dari ketiganya. Contoh tradisi berupa hiburan, misalnya wayang, tari-tarian, dan ketoprak. Tradisi bersifat spiritual, misalnya  tradisi keraton. Tradisi berbau mistis, misalnya mantera-mantera, azimat, dan ramalan. Sedangkan wayang adalah salah satu dari sekian banyak varian budaya Jawa yang mengandung ketiganya.

Tradisi Wayang

Sebut saja, para mistikus kejawen, mereka menjelaskan bahwa pertunjukan wayang bisa dipahami sebagai gambaran dunia. Allah diibaratkan sebagai dalang dan makhluk ciptaan-Nya (manusia) tak ubahnya seperti wayang yang bisa pentas di pertunjukan karena ada dalang. Ini adalah aura spiritual dari dunia wayang.

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Harmonisasi Budaya Jawa dalam Islam

Dalam pewayangan pun terdapat kisah-kisah maupun tokoh-tokoh yang sering diharmonisasikan dengan Islam. Sebagai contoh, tokoh pewayangan Yudhistira; salah satu dari lima Pandawa dalam kisah Mahabaratha.

Yudistiralah satu-satunya tokoh pewayangan yang diyakini konversi ke Islam. Dalam mitos konversi ini, Sunan Kalijaga memainkan peran yang penting. Mitos ini menyebutkan Yudistira tidak mau berperang sebab kebebasan dan kemurniannya yang sempurna dari nafsu amarah. Untuk melindunginya, Batara Guru memberinya sebuah azimat yang bernama Serat Kalimasada. Azimat ini bisa menjauhkan musuh, memelihara stabilitas kerajaan Pandawa, dan bahkan bisa menghidupkanorang yang sudah mati. Serat kalimasada itu adalah sebuah teks yang tertulis dalam bahasa yang asing yang tak terbaca. Karena ia memilki azimat itu ia bisa hidup beberapa tahun setelah para pandawa lain meninggal, dan ia mengembara sendirian dalam hutan. Setelah waktu yang begitu lama, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang datang untuk menyebarkan ajaran Islam. Sunan Kalijaga bisa membaca teks tersebut, karena merupakan teks bahasa Arab. Teks tersebut berbunyi: ”Ashadu alla ilaha illa Allah wa’asyhadu anna muhammadar-rasul Allah”.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan membaca berulang-ulang kalimat tersebut dan menerima kebenarannya, Yudistira meninggal sebagai seorang Islam, yang memang telah ditakdirkan oleh Allah.

Orang Jawa mengakui, istilah Jawa Kalimasada berasal dari kata kalimat dan syahada (bersaksi/bersumpah). Syahada bisa digunakan sebagai suatu istilah yang  umum dipakai untuk menyebut pengakuan iman. Mengakui kebenaran pernyataan ini merupakan persyaratan minimal untuk menentukan seseorang beragama Islam atau tidak. Sebab, syahadat merupakan rukun Islam yang pertama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain itu, bau mistis bercampur spiritual wayang dapat dilihat dari beberapa penjelasan mistikus Jawa kontemporer yang menyatakan bahwa daftar nabi yang tercatat dalam Al-Qur’an hanyalah nama-nama yang dikenal oleh orang Arab dan Budha, Wisnu dan Krisna adalah nabi-nabi Jawa pra-Islam.

Membahas mitologi wayang, tentu tak lepas dari pengaruh budaya pra-Islam yaitu Hindu maupun Budha. Dan sudah tentu terpengaruh dari budaya India, sebab Hindu-Budha datang di Jawa berasal dari India. Maka tak heran jika kisah-kisah dalam pewayangan Jawa hampir mirip bahkan dikatakan sama dengan cerita-cerita yang ada di India, semisal cerita tentang dewa Krisna, sebenarnya sama dengan cerita pewayangan Jawa mengenai Prabu Kresna yang terangkum dalam kisah Mahabarata. Hanya beda sebutan nama saja yaitu di India disebut Krisna tiba di Jawa mengikuti lidah orang Jawa menjadi Prabu Kresna.

Sebenarnya ada banyak hal positif yang dapat diambil dari pertunjukan wayang. Sehingga dapat menepis anggapan negatif yang ditujukan terhadapnya seperti yang dilakukan para kaum reformis yang menganggap menontot wayang itu adalah perbuatan maksiat.

Sebagai produk budaya, sesungguhnya wayang diakui keunikannya tidak hanya di kalangan masyarakat Jawa saja, namun juga di kalangan masyarakat belahan Asia lainnya. Von Grunebaum melaporkan bahwa “wayang Cina” adalah bentuk hiburan paling umum di kalangan masyarakat Muslim Timur Tengah pada abda ke-13. Ini berarti wayang pun diakui oleh kaum Muslim tidak hanya subyektif oleh para mistikus kejawen.

Namun, banyak perdebatan mengenai anggapan terhadap pertunjukan wayang maupun tradisi budaya Jawa lainnya. Bagi masyarakat yang sepakat dengan pelestarian budaya dengan tegas menyatakan kita sebagai generasi penerus harus melestarikannya, dalam istilah Jawa ”nguri-uri”. Namun bagi masyarakat lain yang lebih “sufi” ber-Islamnya akan menolak dengan tegas tradisi Jawa yang diakui kebanyakan bersifat mistis karena  dikhawatirkan menimbulkan kesyirikan.

Kasus selain wayang yang lebih banyak di perdebatkan di kalangan ulama’ Islam Jawa adalah mengenai mantera-mantera atau do’a-do’a yang pada puncaknya dianggap sebagai ilmu perdukunan atau pun sihir.

Dalam bukunya yang berjudul Islam Jawa Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Mark R. Woodward menjelaskan bahwa pandangan Jawa kontemporer mengenai hubungan antara kesaktian dan kesalehan Muslim sangat serupa, dan ada perbedaan antara bentuk sihir yang legal dan ilegal. Legenda-legenda Sulaiman dan legenda-legenda dari buku Arabian Nights (Seribu Satu Malam) memberikan preseden yang jelas terhadap pemakaian sihir oleh kalanagan Muslim yang saleh. Kekuatan-kekuatan magis Sulaiman digambarkan dengana panjang lebar dalam Al-Qur’an (34: 12). Ia dipercayai menguasai kerajaan dunia dan mempunyai kemampuan untuk memerintahkan para jin, burung, binatang, dan angin. Kekuatannya berasal dari suatu cincin bertanda yang terpahat rahasia nama Allah yang Agung. Tetapi ia juga dikatakn mempelajari seni-seni sihir itu di Mesir dan menjadi guru ahli matematika Yunani, Phytagoras. Sulaiman memberikan suatu paradigma bagi pemakaian sihir secara legal sebab ia seorang nabi sekaligus ahli sihir terbesar dalam sejarah.

Akhirnya, berbagai tradisi yang sudah berlaku dapat senantiasa dihargai dan dilestarikan. Harmonisasi antara agama dan budaya pasti akan tercipta. Wallu a’lam bi al-shawab.

 

Faiqotun Ni’mah, mahasiswa Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang dan Penerima Beasiswa Unggulan Monash Institute Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Berita, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 05 Desember 2014

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Komunitas ilmu falak Pondok Pesantren Al-Wafa’ Kabupaten Bandung mengadakan rihlah ilmiah ke Planetarium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Kunjungan ke planetarium terbesar se-Asia Tenggara itu diikuti 60 santri.

Salim Mahfudh, ketua panitia rihlah ilmiah mengatakan, acara bertajuk “Aktualisasi dan Implementasi Ilmu Falak di Era Modern”, Jumat (6/2), ini dimaksudkan untuk mengenalkan ilmu falak terapan dalam bentuk alat-alat berbasis teknologi, seperti teleskop, rubu’ mujayyab, mizwala, dan lain-lain.

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Ilmu Falak Pesantren Al-Wafa’ Kunjungi Planetarium Bosscha

“Mengembangkan penalaran dan keilmuan, penelusuran minat dan bakat santri Al-Wafa’ terhadap ilmu falak. Selain itu, juga sebagai sarana menyatukan dan mempererat tali silaturahim antarsantri di pondok pesantrenAl-Wafa’,” tambah mahasiswa fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, pihak Planetarium Bosscha memberikan materi kepada para santri tentang sejarah dan peran Bosscha terhadap perkembangan astronomi di Indonesia.? Lebih dari itu, santri-santri yang juga mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati tersebut mendapatkan pengetahuan seputar planet-planet, bintang-bintang di galaksi, serta cara kerja ala-alat astronomi yang ada di Bosscha.

Selain berkunjung ke Planetarium Bosscha, para santri sebelumnya berkunjung ke Observatorium Imah No’ong yang letaknya tidak jauh dari Planetarium Bosscha. Di situ terdapat pula alat-alat astronomi seperti teleskop, jam matahari, alat penentuan arah kiblat, dan lain-lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Arjun Abdullah, salah satu peserta mengaku senang lantaran bisa langsung praktik ilmu falak dengan menggunakan alat-alat modern maupun klasik. “Manfaat yang didapat saat kunjungan ke planetarium salah satunya adalah kita dapat mengetahui bagaimana cara menentukan arah kiblat,” terang santri Ternate ini. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 04 Desember 2014

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pendidikan Agama di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa disamping menumbuhkan keterampilan ilmu pengetahuan. Itulah yang membedakan fungsi dan tujuan pendidikan agama di Indonesia dengan negara-negara lain di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Tujuan Pendidikan Agama di Indonesia dengan Negara Lain

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, Senin (10/8) di Kantor Kemenag RI Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat saat jumpa pers mengenai perhelatan Pentas PAI Nasional VII 2015.

Kamaruddin menjelaskan, bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika, pendidikan agama hanya sebagai instrumen menciptakan kohesi sosial. Sedangkan di negara-negara Timur Tengah, pendidikan agama untuk membentuk manusia yang shaleh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di Indonesia, pendidikan agama mempunyai tujuan kedua-duanya. Selain untuk menciptakan manusia-manusia berilmu pengetahuan dan menumbuhkan kohesi sosial, artinya mewujudkan keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, pendidikan agama di Indonesia juga untuk membentuk manusia yang shaleh,” terangnya didampingi Direktur Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Dr H Amin Haedari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manusia yang shaleh pun, lanjutnya, bukan hanya shaleh secara spiritual, tetapi pendidikan agama di Indonesia juga berupaya menciptakan manusia yang shaleh secara sosial dan moral.

“Sehingga dengan demikian, pemahaman pendidikan agama tersebut, akan membentuk generasi bangsa  yang bisa menghargai perbedaan, tradisi, dan budaya, bersikap moderat, demokratis, inklusif (open minded, red), dan damai,” paparnya.

Dengan mencanangkan pengajaran Islam damai di sekolah, Kamaruddin berharap melalui gelaran Pentas PAI Nasional ketujuh ini, pendidikan dan pengajaran PAI di sekolah agar lebih menarik lagi sehingga memotivasi siswa belajar agama. “Pemahaman Islam damai harus kita wujudkan, karena potensi radikalisme di sekolah-sekolah tetap ada,” tegasnya.

Tahun 2015 ini, Kemenag RI melalui Ditjen Pendis menyelenggarakan Pentas PAI VII bertajuk ‘Sportif Berkompetisi, Raih Prestasi, Bumikan PAI’. Kegiatan ini berlangsung pada 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi Jawa Barat.

Kegiatan ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi. Adapun jenis kreativitas lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kudus mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat) Kewirausahaan di Kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Selasa (9/4). 

Kegiatan yang diikuti 60 peserta utusan LTMNU kecamtan se–Kudus ini menghadirkan narasumber dari  Pimpinan Pusat (PP) LTMNU.

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Kudus Adakan Diklat Kewirausahaan

Ketua LTMNU Kudus Moh. Said mengatakan kegiatan dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran mengembangkan usaha dan mewujudkan kemandiran bagi warga NU terutama pengurus masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kegiatan ini sebagai ikhtiar untuk membangun perekonomian warga NU sehingga mampu menopang semangat mengembangkan perjuangan NU dan ummatnya,”ujarnya.

Dijelaskan, Diklat ini merupakan tindak lanjut dari rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) LTMNU Kudus dalam upaya menggali potensi ekonomi warga NU.

“LTMNU tidak hanya memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah saja melainkan juga turut andil membangun usaha warga NU. Ke depan nantinya Nahdliyin tidak hanya menjadi obyek tapi pelaku usaha,” tandas Said.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PCNU Kudus KH Chusnan MS menyatakan NU selalu mendorong upaya pemberdayaan ekonomi melalui berbagai harakah dikalangan nahdliyyin. Harapannya tercipta kemandirian ekonomi pada diri warga NU maupun organisasi.

“Selama ini, para penggerak (aktifis) yang memiliki ketekunan berjihad di NU juga perlu dipompa dari sisi ekonomi,” tandasnya saat membuka acara.

Ia mengharapkan kepada PP LTMNU atau PBNU selalu memberikan dorongan dan petunjuk praktis penguatan maupun pemberdayaan ekonomi Nahdliyin di daerah.

“Adanya kegiatan ini semoga menjadikan NU dan masjid kita lebih makmur,” harapnya.

Pada kesempatan itu, PP LTMNU yang diwakili KH Mansur menjadi narasumber tunggal. Ia memberikan motivasi seraya mendorong peserta melakukan aktifitas ekonomi.

Disamping itu, peserta diajak langsung melaksanakan praktek usaha menjadi distributor sebuah air kesehatan Sohat.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 29 November 2014

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penasihat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Achmad Sujudi mengatakan, dasar perjuangan pemberantasan Tuberculosis (TB) adalah semangat atau passion. Semangat tersebut dapat bisa dibangunkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui inspirasi dari karya seni.?

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Karya Seni Ini Bisa Semangati Penderita Tuberculosis

Sujudi menyampaikan hal itu dalam diskusi bertema “Praktik Terbaik Program Kemitraan Stop Tuberculosis dengan LSM/CSO” di Griya Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12) siang.

“Karya seni dari poster, sajak dan lagu dapat menjadi semangat. Dari puisi Chairil Anwar berjudul Aku terdapat kata-kata ’tak perlu sedu sedan itu/aku ini binatang jalang/dari kumpulannya terbuang/biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih perih/dan aku akan lebih tidak perduli/aku mau hidup seribu tahun lagi,” demikian Sujudi mengutip puisi karangan Chairil Anwar.

Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004) ini menjelasakan penderita TB ibaratnya seperti binatang jalang dari kumpulan sampah yang terbuang.?

“Tapi mereka tidak menyerah, justru ingin hidup (sampai) seribu tahun lagi. Itu bisa menjadi slogan dan semangat para penderita TB,” tegas Sujudi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bentuk seni berikutnya adalah poster yang bisa diambil dari karya pelukis Sudjojono berjudul “Bung, Ayo Bung!”

“Poster itu mengajak semua orang untuk berjuang. Semangat perjuangannya bisa ,” kata Sujudi dalam diskusi yang dihadiri para pemerhati penanganan TB.

Berikutnya dalam lagu karangan Ismail Marzuki berjudul “Indonesia Pusaka”. Menurut Sujudi, ? lagu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjaga Indonesia, termasuk melalui perbaikan kesehatan. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 November 2014

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?



Meski Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa pelaksanaan Five Day School (FDS) harus ditunda, menunggu Perpres yang sedang disusun, tapi informasi di lapangan, kebijakan itu tetap berlangsung. Bahkan, Dinas Pendidikan di beberapa daerah memaksakan pelaksanaan ini. Argumentasi mereka, karena Permendikbud No. 23 Tahun 2017 sebagai dasar hukum FDS belum dicabut, sehigga tetap harus diterapkan.

“NU dan hampir semua pesantren sampai sekarang tidak setuju dan protes atas penerapan FDS. ? Jadi, Permendikbud ini sebetulnya untuk siapa, apa targetnya, siapa yang diuntungkan dari kebijakan ini? Pertanyaan ini layak diajukan karena pemaksaan FDS yang gencar dilakukan oleh Mendikbud,” ungkap Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid ketika dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah dari Jakarta, Rabu (9/8).?

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi dan Muhadjir Akan Dicatat Sejarah sebagai Pembunuh Madrasah Diniyah?

Menurut Marzuki, patut dicurigai bahwa Mendikbud memiliki agenda sendiri yang berbeda dengan agenda Presiden. Perpres, yang sedang disusun sekarang ini, jangan-jangan hanya soal cashing saja, sementara isinya tidak jauh berbeda dengan Permendikbud ini.?

Jika kecurigaan ini betul, lanjutnya, maka Perpres bukan solusi untuk menyelesaikan masalah FDS, terutama bagi pihak yang tidak setuju dengan kebijakan FDS. Akan tetapi, Perpres hanyalah cara mengalihkan atau menggeser konflik dari Mendikbud dengan NU dan pesantren kepada konflik Presiden dengan NU dan Pesantren di masa mendatang.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jika begini cara Mendikbud, maka bukan tidak mungkin di masa mendatang, sejarah akan mencatat bahwa madrasah diniyah telah dibunuh dengan kekerasan simbolik oleh Mendikbud pada masa Presiden Jokowi, melalui Permendikbud No 23 Tahun 2017.?

“Jika kalimat ini muncul dlm buku sejarah pendidikan Indonesia tentu sangat menyakitkan. Umat NU dan pesantren akan mengecam sepanjang masa,” tegasnya.?

Jika Presiden Jokowi nanti menyetujui dan menandatangi Perpres, pertanyaan lanjutannya adalah apakah Presiden Jokowi siap dicatat sebagai bagian dari pembunuh Madrasah Diniyah?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya berharap Presiden Jokowi kritis dengan upaya Mendikbud, dan tidak menandatangani Perpres yang tidak lain Permendikbud, jika memang tidak mau dicatat sejarah sebagai pembunuh madrasah diniyah. Membunuh madrasah diniyah berarti membunuh regenerasi Islam moderat ala Indonesia. FDS dengan demikian adalah alat pembunuh benih-benih Islam moderat rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 04 November 2014

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan konferensi, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2013-2018, secara resmi dilantik di kantor MWC NU setempat, Jumat (31/1).

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Selain pelantikan, rangkaian acara juga meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara pelantikan dilanjutkan dengan musyawarah kerja (Musker) MWC NU Balen.

Panitia pelantikan, Mulazim, menjelaskan, sebelum pelantikan Jumat siang ini, tahtimul Quran lebih dulu digelar Kamis (30/1) malam di kantor MWC NU Balen.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua PC NU Bojonegoro, Cholid Ubed berpesan kepada seluruh pengurus hinga tingkat ranting, termasuk jajaran badan otonom NU, baik IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor, untuk tetap memegang sikap kejujuran.

"Kuncinya jujur, karena kejujuran merupakan pondasi yang tidak akan pernah terkalahkan. Serta orang yang mau mengurusi, baik meengurusi NU maupun organisasi dan masyarakat," sambung dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan, kebersamaan, kejujuran dan kepedulian perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat bisa bersatu dan tidak terjadi konflik sosial.

Rais Syuriyah MWC NU Balen Abdullah Hilmi Al-Jumadi mengajak para undangan dalam acara pelantikan, untuk meneladani sosok Gus Dur. Pasalnya presiden keempat RI itu tidak pernah diskriminatif di tengah keragaman budaya dan agama di Tanah Air.

"Kita orang Indonesia yang beragama islam, bukan islam yang hidup di makkah," ujar Kepala KUA Kecamatan Malo, Bojonegoro ini. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 02 November 2014

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Rahmat El-Basqy

66 Tahun yang lalu, 4 Agustus adalah hari lahir KH Abdurrahman Wahid. Bagi kalangan anggota Nahdlatul Ulama khususnya dan aktifis kemanusiaan dunia, tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari besar bagi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dan pluralisme. Meski ada 2 tanggal lahirnya hari lahir, sebagian besar memilih tanggal 4 Agustus sebagai hari lahir. Menurut Greg Barton (2003), Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 4 September. Meski demikian, sebagain besar orang tidak ingin berpolemik soal kapan Gus Dur dilahirkan. Mereka lebih senang mendapatkan cerita-cerita tentang Gus Dur dan cara mengisi kehidupannya.

Sebagai anak pesantren, lahir dan besar di pesantren sekaligus cucu pendiri NU, Gus Dur memiliki kelebihan yang berbeda dengan yang lain. Meski demikian, sebagaimana tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, setiap ulama yang telah wafat, orang-orang biasa biasa merayakan hari wafatnya dengan haul dibandingkan merayakan hari lahirnya.

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Peneguhan Islam Nusantara

Greg Barton (2003: 25) dalam buku Biografi Abdurrahman Wahid menggambarkan, “Namun dia tidak selalu membaca hal-hal yang bersifat agama atau melakukan kegiatan budayayang berkaitan dengan agama. Ketika berdiam di Yogyakarta lah ia mulai menyukai film secara serius. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskan dengan menonton film”.

Gambaran tersebut membuat kita yang paham menjadi sangat lumrah kala Gus Dur memiliki referensi-referensi yang kaya tentang semua jenis keilmuan. Pengetahuannya yang luas karena buku dan pengalamannya yang banyak tergambar dari wacana-wacana pemikirannya yang dinamis dan kontemporer. Dia mampu mengekspor banyak pemikiran tentang Islam dan kenegaraan pada kancah dunia tanpa sedikitpun meninggalkan akar budaya lokal; Hidup di Pesantren dan aktif di Nahdlatul Ulama yang disebut kaum tradisional, mencintai negaranya melebihi apapun yang dimilikinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada prinsipnya, Gus Dur pada masa hidupnya telah selesai semua urusan lahir maupun bathin. Meski lahir dari keluarga besar dan tokoh nasional, Gus Dur memilih berjuang demi nilai-nilai kemanusiaan dan pluralitas yang diyakininya. Nilai-nilai keagamaan, kenegaraaan, Humanisme dan lain sebagainya. Beberapa orang memprotes pemikirannya tapi sebagian besar mengiyakan semua yang dilakukan Gus Dur, bahkan tak sedikit yang merapat dan berbaris dibelakang Gus Dur tanpa memandang latar belakang agama, profesi atau kebudayaannya.

Gus Dur dengan segala dialektikanya telah masuk ke dalam semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Apapun wacana pemikiran orang-orang baik dalam negeri bahkan luar negeri sudah menjadi pemikiran Gus Dur. Kumpulan tulisan beliau misal Tuhan Tidak Perlu di Bela, Islam Kosmopolitan,Pribumisasi Islam, Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999), Pergulatan Agama, Negara dan Kebudayaan (2001) dan lain-lainnya adalah gambaran bagaiman beliau memiliki wacana yang sangat dinamis dan luar biasa. Dari sekian banyak tulisan beliau, tak pernah lepas dari tentang nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, kebudayaan, HAM dan isu-isu humanisme.

Hingga sekarang, Islam Nusantara menjadi gagasan menarik bahkan kontoversial bagi kritikus pemikiran keagamaan maupun pemerhati keagamaan di Indonesia. Istilah yang mulai ramai saat digelarnya Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 lalu ini sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari pemikiran-pemikiran Gus Dur. Jika kemudian beberapa orang mengganggap Islam Nusantara sebagai paham keagamaan baru sesungguhnya tidak benar dan justru menodai semangat lahirnya Islam Nusantara. Islam Nusantaralahir untuk melestarikan kebudayaan lokal yang dalam koridor nilai-nilai Islam.

Menteri Lukman Hakim Syaifudin dalam sambutan buku Zainul Milal (2016: 3) menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendapat tersebut tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kebudayaan yang perjuangkan Gus Dur. Gus Dur sesungguhnya spirit Islam Nusantara karena beliau mampu menjelaskan secara detail dan logis mengapa Islam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-berbeda tapi bisa terjalin harmonisasi. Dari sekian banyak budaya yang terpengaruh ajaran-ajaran Islam, tak satupun yang bertentangan dengan Islam.

Syaiful Arif (2013: 96) menjelaskan pendapat Gus Dur terkait persebaran Islam di Nusantara. “Pertama Pola Aceh yang menghadirkan Islam secara kultural da dengan kultural Islam yang kuat, didirikanlah kerajaan berbasis syariat. Kedua pola Minangkabau, yang mana sebelum datangnya Islam sudah ada hukum adat, hingga akhirnya terjadi perang Padri. Ketika pola Goa (Baca Sulawesi Selatan), yang mana meskipun sebelum Islam telah ada hukum adat, Islam bisa seiring sejalan dengan adat. Dan pola keempat, pola jawa. Di masyarakat Jawa telah ada aliran Kejawen sebelum kehadiran Islam. Maka kerajaan Mataram Islam mengakomodasi Kejawen dengan memberikan ruan bebas secara kultural.”

Pendapat tersebut sebagai contoh dari sekian banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang menjadi referensi utama Islam Nusantara dalam isu-isu lokalitas dan kemanusiaan. Pemikiran-pemikiran Gus Dur tersebut akan selalu dilestarikan penggerak Islam Nusantara tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan atau memisahkan keduanya. Artinya, Islam Nusantara adalah cara berpikir tanpa harus membedakan antara Islam dan kebangsaan Indonesia apalagi mempertentangkan keduanya.***

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung, Ketua PC IPNU Lampung Tengah 2009-2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 22 Oktober 2014

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo

Boyolali, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah


Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, menyerahkan sejumlah bantuan untuk korban banjir di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Penyerahan bantuan tersebut langsung dilakukan secara simbolis oleh Ketua PC GP Ansor dan Kasatkorcab Banser Boyolali, kepada perwakilan Ansor-Banser setempat yang ikut menjadi relawan.

Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Ketua PC GP Ansor Boyolali, Choiruddin Ahmad, mengatakan pemberian bantuan terwujud dari upaya bersama dari para kader Ansor dan Banser di Boyolali. “Semoga dapat meringankan beban mereka yang tertimpa musibah," ujar Choiruddin, Sabtu (24/12).

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Bantu Warga Korban Banjir di Sukoharjo

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat ini merupakan partisipasi dan bantuan, dari seluruh sahabat Ansor, termasuk dari Anak Cabang. “Sebagian dari mereka bahkan ada yang mengadakan aksi sosial untuk penggalangan dana bagi para korban banjir ini,” kata dia.

Choiruddin menambahkan, dana yang terkumpul kemudian dibelikan sembako untuk diserahkan kepada korban banjir.

"Kami harap masyarakat tak melihat jumlah bantuan yang kami berikan, tapi ketulusan dan kepedulian kami," tuturnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 19 Oktober 2014

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara!

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Syair kitab Barzanji selalu didendangkan di pesantren-pesantren NU tiap malam Jumat. Sebagian santri menghafalnya sebagaimana mereka ingin menguasai kitab Alfiyah Ibnu Malik dan kitab-kitab lain. Di masyarakat, terutama pedesaan, syair riwayat Nabi Muhammad itu dijadikan iringan dalam selamatan kelahiran bayi.

Menurut pegiat teater Syahid, Abdullah Wong, para santri dan masyarakat yang sedang membacakan Barzanji, tanpa disadari sedang menjalani “momen teatrikal”. Dari prolog sampai epilog Barzanji, ketika dibacakan orang-orang pesantren menjadi “peristiwa tetrikal” dan “peristiwa sastra”.

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Barzanji itu Peristiwa Teatrikal, Saudara!

Penulis novel Mada ini mengatakan, seorang Rendra terpukau kepada “peristiwa” Barzanji. “Kita tahu bahwa dia tidak mengerti bahasa Arab. Dia hanya melihat bagaimana performen Barzanji dibacakan pada proses abtadiul imla sampai mahalul qiyam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Itu sebagai peristiwa teatrikal bagi Rendra. Selain sebagai peristiwa teatrikal, itu sebagai peristiwaa sastra,” jelasnya setelah menonton Permata Kalung Barzanji yang dipentaskan 50 santri dari 9 pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat malam (7/2).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di sini, lanjutnya, Rendra bukan lebih dulu terpukau kepada Nabi Muhammad, tapi pada “peristiwa Barzanji”. Nah, peristiwanya saja sudah memukau Rendra, “Wallahu a’lam, itu mungkin hidayah. Rendra kemudian yang meminta diterjemahkan, untuk menyelami siapa Nabi Muhammad itu,” katanya.

Ia menambahkan, peristiwa teater sudah berlangsung dalam tradisi kita, dalam pesantren-pesantren NU. “Dalam peristiwa teatrikal Barzanji misalnya, bagaimana kita duduk bersama, kemudian semuanya berdiri, ketika pas bacaan tertentu. Tubuhnya pun diartikulasikan. Itu teater,” jelasnya.

Pada saatt berdiri itu, kata dia, mereka sedang mengapresiasi kehadiran Nabi Muhammad. Nabi Muhammad bagi mereka bukan imajinasi.

“Bahkan bagi kalangan mistikus, pada peristiwa itu, Rasulullah itu hadir. Maka dhomir (kata ganti orang dalam bahasa Arab)nya itu selalu ya nabi salam alaika. Dhomir yang menunjukkan kata ganti orang kedua. Bukan ya nabi salam alaihi, (kepadanya). Langsung dhomir mukhotob (kata ganti orang kedua). itu peristiwa teatrikal, Saudara!” kata santri asal Brebes ini.

Lebih jauh, Abdullah Wong juga menilai, kesaharian santri bersikap kepada guru, ketika dia lewat, membalikkan sandal guru, itu juga peristiwa-peristiwa teater. “Pesantren sebagai subkultur Indonesia, telah lama mengalami peristiwa teater, terutama dalam persoalan berekspresi.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 16 Oktober 2014

Aswaja Pedoman Warga NU

Judul:Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU

Penulis : KH Abdurrahman Navis Dkk,

Pengantar: KH Miftahul Akhyar 

Editor: Achmad Ma’ruf Asrori

Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Pedoman Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Pedoman Warga NU

Penerbit: Kahlista, Surabaya

Cetakan: I, Juni 2012

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tebal: 346 hlm.

Peresensi: Ach. Tirmidzi Munahwan, SH. I

Dengan didirikannya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja). Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah sebuah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. KH Bisri Musthofa mendefinisikan Aswaja yaitu aliran yang menganut madzhab fiqh yang empat, Imam Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Beliau juga menyebutkan, Aswaja merupakan paham yang mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi  dalam bidang akidah, sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid al-Bagdadi dan Imam Ghazali.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Paham Aswaja ini banyak diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya diikuti oleh warga NU, yang di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasut, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran.

Buku Risalah Ahlusunnah Wal-Jama’ah ini, disusun oleh Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur yang salah satu tim penulisnya adalah, KH Abdurrahman Navis, Muhammad Idrus Ramli, dan Faris Khairul Anam. Dari ketiga tim tersebut, adalah pakar yang tidak diragukan lagi kealiman ilmunya, seperti Ustad Idrus Ramli yang sudah banyak melahirkan banyak karya tentang Aswaja. Salah satu tujuan disusunnya buku ini, yaitu sebagai modul bahan bacaan, dan pegangan warga NU agar supaya paham apa itu makna Aswaja, apa yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana cara mengaplikasikannya dengan baik dan sempurna. 

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, adalah  sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang besar di Indonesia. Salah satunya, seperti aliran Salafi Wahabi, Hizbut Tahrir, Majlis Tafsir al-Qur’an (MTA), Syi’ah, yang ajaran ideologinya telah bertentangan dengan Aswaja. Misi mereka adalah mengadu domba umat Islam, menuduh bahwa perbuatan yang dilakukan oleh warga NU bid’ah, syirik, dan tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadits. Tuduhan-tuduhan yang sudah meresahkan masyarakat tersebut sudah bebas di akses dimana-mana, baik melalui media cetak, elektro, buku, bahkan mereka mulai berani berdakwah di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan di komplek-komplek perumahan.

Adapun amaliah dan tradisi islami warga NU, yang diklaim bid’ah dan termasuk perbuatan syirik oleh mereka adalah, tradisi ngapati, mitoni, tingkepan, mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil, talqin saat pemakaman jenazah, ziarah kubur, selamatan dalam 7 hari kematian, memberikan jamuan makan kepada para pentakziah, membaca al-Qur’an di kuburan, istghosah, tahlilan, yasinan, dan diba’an. Sementara di dalam buku yang sederhana ini, dijelaskan bahwa tradisi tersebut tidak termasuk perbuatan bi’ah dan bukan perbuatan yang diharamkan. Dalil-dalilnya shahih, seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an, hadist, dan kitab-kitab klasik yang telah muktabar dikalangan para ulama.  

Menariknya di dalam buku ini, menjelaskan beberapa aliran yang telah berkembang degan pesat di negara kita ini, seperti Syi’ah, Wahabi Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir (HTI), Jama’ah Tabligh, Jama’ah Islamiyah, Ahmadiyah, Jama’ah Ansharut Tauhid, Fron Pembela Islam (FPI), mulai dari pengertian, sejarah berdirinya, hingga ajaran dan penyimpangannya yang telah bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dan tak kalah menariknya juga dijelaskan tentang “Fikrah Nahdliyah” (metode berfikir ke NU-an). Sesuai keputusan Musyawarah Nasional Ulama di Surabaya “Fikrah Nadliyah”, didefinisikan sebagai kerangka berfikir yang didasarkan pada ajaran Ahlussunnah Waljama’ah yang dijadikan landasan berfikir Nahdlatul Ulama (Khittah Nadliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka ishlah al-ummah (perbaikan umat) hal. 167.

Buku ini penting dibaca oleh siapa saja lebih-lebih dibaca oleh kader-kader muda NU yang masih mempunyai keyakinan bahwa amaliah dan tradisi yang selama ini kita yakini bukanlah perbuatan bid’ah seperti yang dituduhkan oleh kelompok Salafi Wahabi. Amaliah dan tradisi yang kita lakukan selama ini adalah perbuatan disunnahkan, yang tentunya dapat pahala bagi yang melakukannya. Wallahu a’lam

* Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Warta, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 Oktober 2014

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila

Pekanbaru, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Provinsi Riau menggelar Apel Setia NKRI dan Pancasila di Lapangan Angkasa Pura, Pekanbaru, akhir pekan (29/5). Sedikitnya ada 1500 anggota organisasi semiotonom Gerakan Pemuda Ansor ini berpartisiasi dalam apel kali ini.

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

1500 Anggota Banser Riau Apel Setia NKRI dan Pancasila

Apel kesetiaan NKRI itu menjadi wujud kesiapan Banser dalam menangkal paham radikal dan aksi makar dari NKRI. Komandan Satkornas Banser, Alfa Isnaeni yang bertindak sebagai inspektur upacara mengatakan, selama ini berkembang kelompok kelompok yang radikal berbasis agama. Kelompok ini suka menganggap orang Islam yang berbeda dengan mereka sebagai kafir dan ingin mendirikan negara Islam.

"Posisi BANSER sangat jelas, yakni berada di setiap jengkal negara dan kita siap memberikan yang terbaik untuk tanah air termasuk darah dan nyawa," tegas Alfa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua GP Ansor Provinsi Riau, Purwaji menegaskan bahwa dalam sejarahnya Ansor dan Banser sudah terbukti paling depan dalam menangkal penjajah saat sebelum Indonesia merdeka dan menangkis PKI yang ingin mengubah dasar negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dalam lintasan sejarah, sikap NU, Ansor dan Banser sangat jelas dalam menangkis paham radikal dan upaya makar kepada negara. Jangan ragukan komitmen kami sebagai anak bangsa,? jika memang negara membutuhkan kami siap berada di garis depan membela negara," ujarnya.

Purwaji menandaskan, GP Ansor Riau siap mencetak kader militan yang memiliki pemahaman bahwa cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Kader Ansor dan Banser juga memiliki sikap yang moderat, plural yang siap bekerja sama dengan semua anak bangsa dalam satu kepentingn yakni mempertahankan NKRI.

Apel kesetiaan NKRI itu diisi dengan atraksi bela diri pendekar Pagar Nusa dan bela diri Banser. Sebagai penutup, Ansor memberikan penghargaan kepada Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) Riau dan Anggota DPR Lukman Edy atas partisipasinya pada Apel Banser Riau. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 01 Oktober 2014

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu, Lampung, KH Fuad Abdillah mengatakan, bahwa jika ukuran ibadah haji adalah kekayaan maka seluruh orang kaya sudah melaksanakan rukun Islam ke lima ini. Demikian saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam Walimatissafar Lil Haj Pengasuh Pondok Pesantren Al Wusto Pringsewu, Ustadz Nasihin, Sabtu (5/9) lalu.

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Kiai Fuad menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan oleh orang yang mampu. Kriteria mampu ini mencakup bukan hanya mampu dalam hal fisik dan materi, namun juga mampu dalam hal mental termasuk niatan yang kuat untuk melaksanakannya.

Keteguhan niat ini perlu dimiliki oleh seluruh orang yang akan menjalankan ibadah haji karena menurut Kiai Fuad, haji adalah ibadah yang merupakan latihan meninggal dunia. "Ketika melaksanakan ibadah haji, para jamaah tidak memikirkan hal-hal duniawi terlebih lebih harta. Ini karena mereka hanya memikirkan ibadah kepada Allah SWT sesempurna mungkin," terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam ibadah haji, tambah Kiai Fuad, banyak sekali ibadah-ibadah kepada Allah SWT yang terkesan unik. Namun dibalik keunikan ini mengandung hikmah yang sangat luarbiasa. Contohnya menurut kiai berkacamata ini, seperti rangkaian tawaf yang hanya lari berputar putar, sai y? ng berupa lari bolak balik sofa marwa dan mecari batu untuk lempar jumrah. "Walaupun kelihatannya seperti mainan, namun ibadah ibadah tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT," Jelasnya.

Oleh karena itu, Kiai Fuad yang juga Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini mengajak kepada seluruh jamaah untuk niat mantap melaksanakan ibadah haji tanpa ragu. "Ibadah haji itu sulit teorinya saja namun prakteknya gampang. Apalagi sekarang banyak KBIH yang siap membantu teori manasik sekaligus membantu secara teknis proses haji yang akan dilalui," Jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada acara walimatus Safar lil haj ini dihadiri oleh Ketua MUI Kabupaten Pringsewu H Hambali, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memberi sambutan Perwakilan tamu undangan dan beberapa Tokoh Masyarakat Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 30 September 2014

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan Dubes Australia untuk Indonesia Paul Grigson di Jakarta, Jumat (11/9) sore. Kedua pihak ini membahas kelanjutan kerja sama yang sudah terbangun khususnya di bidang pendidikan dan pencegahan hingga penanggulangan gerakan ekstrem.

Pada pertemuan ini Paul menyatakan apresiasinya atas sikap moderat NU dan kampanye intensif deradikalisasi agama satu dekade terakhir. Ia menilai upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme agama tidak boleh berhenti.

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Australia Lanjutkan Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Deradikalisasi

“Kita membincang upaya mengatasi radikalisme agama,” kata Ketua PBNU H Marsudi Syuhud di Jakarta, Jumat (11/9) sore.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Paul melaporkan bahwa gejala radikalisme mulai muncul di Australia belakangan justru didominasi dari kalangan warga biasa. Radikalisme di Australia, digerakkan oleh keluarga biasa yang tidak memakai atribut Muslim dalam kesehariannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka meminta bantuan NU untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok radikal,” lanjut Marsudi.

Sementara di bidang pendidikan, kedua pihak akan terus melakukan pertukaran mahasiswa dan penyediaan beasiswa.

Paul Grigson merupakan Dubes Australia untuk Indonesia yang baru dilantik dua bulan lalu. Segera setalah pelantikan dahulu, Paul pernah mengadakan kunjungan ke PBNU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 16 September 2014

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh Matroni Musèrang

--Kebudayaan selalu ada dalam kehidupan manusia, ia seperti angin yang keluar masuk dalam tubuh manusia. Dimana pun ada kehidupan, disitulah kebudayaan ada. Begitupun dengan puasa. Puasa merupakan bagian dari kebudayaan umat manusia. Ketika kita melakukan puasa, jangan menganggap agama kita paling benar. Sebab puasa bukan milik pribadi, akan tetapi puasa milik umat manusia, untuk itulah puasa menjadi sarana untuk lebih memanusiakan manusia, inilah yang saya sebut sebagai mi’raj sosial.

Mi’raj sosial artinya seseorang mampu melakukan perintah agama lalu mengaplikasikannya ke ruang publik, contoh, kita tidak lagi membeda-bedakan agama, ras, suku dan budaya, oleh karena itulah dalam mi’raj sosial, sesama manusia kita sama di hadapan kemanusiaan.

Puasa saya maknai sebagai perjalanan rohani untuk mi’raj yaitu mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas (spiritual), dari hati yang keras menuju perkampungan hijau yang bernama kesejukan dan kedamaian. Dua kampung ini kini telah di bakar oleh egoisme pragmatis-kapitalis, untuk itu saya ingin menjadi tuhan untuk “menghidupkan kembali” kampung kesejukan dan kedamaian. Dengan puasa sebagai ibu yang melahirkan kesejukan dan kedamaian. Mengapa puasa? Puasa dilakukan seseorang ketika ingin mendamaikan hati dan pikirannya dan puasa dilakukan oleh semua agama di dunia.   

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa: Sebuah Mi’raj Sosial dan Mi’raj Religiusitas

Oleh sebab itu, Mi’raj sosial penting kita lakukan untuk mencapai derajat yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan. Sebab Tuhan menciptakan makhluk dengan tujuan untuk saling mengenal. Saling mengenal artinya kita diperintah Tuhan untuk selalu membaca, agar kita mengenal. Bagaimana mungkin kita akan kenal jika kita tidak melihat dan membaca?

Mi’raj sosial ini benar-benar penting di tengah maraknya masyarakat yang tidak lagi menghargai kemanusiaan. Maraknya masyarakat yang suka tawuran, suka membunuh, egois, suka saling sikat-sikut, suka mencela sesama manusia. Maka berlomba-lomba dalam ber-mi’raj sosial sangat penting untuk menjaga dan menghormati kemanusiaan. Apalagi lagi gencar-gencarnya tuduh-menuduh di antara para relawan kandidat presiden Indonesia, ada yang memfitnah, ada yang akan menghancurkan agama, PKI, Yahudi, Kristen, dan lain sebagainya.

Maka betapa sangat pentingnya kita menyadari bahwa mi’raj sosial sangat mendesak untuk kita lakukan sebagai terapi bagi manusia yang kurang menghargai manusia dan agama. Apakah dalam sebuah kompetisi kita harus memfitnah dan meracuni pikiran-hati kemanusiaan dan agama dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus bersih-bersih di taman mi’raj (mi’raj sosial dan religiusitas), agar apa yang menjadi tanggungjawab kita benar-benar berjalan sesuai dengan hati nurani kemanusiaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kemanusiaan lebih dulu diwahyukan oleh Tuhan sebelum wahyu-wahyu lain diturunkan, ini artinya betapa sangat dan amat pentingnya sisi kemanusiaan daripada agama. Agama lahir karena adanya manusia, maka untuk mengetahui makna agama, harus terlebih dahulu mengetahui makna kemanusiaan. Agama seluruh dunia menegaskan sebagaimana dikatakan Karen Armstrong bahwa spiritualitas yang sejati harus diespresikan secara konsisten dalam tindakan berbagai kasih, kemampuan untuk merasakan bersama orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Iqra’ yang pertama kali turun sebelum syarat rukun agama merupakan bukti nyata bahwa Tuhan lebih mementingkan kemanusiaan (makhluk) daripada agama. Agama diturunkan jaman jahiliyyah untuk mengatur sisi kemanusiaan yang tidak menghargai manusia yang lain, maka jika hari ini ada manusia/tokoh/ulama/pemimpin yang tidak menghargai manusia, berarti sosok itu adalah manusia jahiliyyah. Sosok manusia yang memiliki akal yang tidak digunakan untuk berpikir, memiliki hati yang tidak digunakan untuk refleksi, memiliki indera yang tidak digunakan untuk melihat umat manusia.

Mi’raj religiusitas menjadi penting untuk dijadikan tempat bagi manusia untuk memanusiaan manusia, moment puasa merupakan cara untuk masuk ke perkampungan religiusitas. Religiusitas dalam ini adalah bersadarnya manusia dalam memperjuangkan masyarakat untuk lebih cerdas dan memiliki cakrawala yang luas dalam menjalani tugas sosial dan tugas agama.

Tugas agama memang berat dan keras. Perkampungan agama tidak tumbuh dengan sendirinya kata Karen, akan tetapi agama harus di bina dalam cara yang sama seperti halnya apresiasi seni, musik, dan puisi yang harus ditumbuhkan. Tugas agama kata Karen lagi sangat mirip dengan seni, yakni membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan.

Perjalanan sosial dan agama harus saling bergandeng tangan dalam menciptakan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas. Cita-cita inilah yang sebenarnya yang ingin kita capai dengan melakukan puasa. Cita-cita kemanusiaan yang damai, inklusif dan memberi rahmat alam semesta. Hanya di tangan manusia yang mi’raj kedamaian alam semesta ada. Puasa sebagai jembatan untuk sampai pada perkampungan mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas.     

Masyarakat Reflektif

Dengan demikian, untuk menjaga mi’raj sosial dan mi’raj religiusitas dibutuhkan refleksi yang baik dari kita sendiri. Refleksi ini lahir pembacaan dan nalar yang baik. Refleksi ini lahir juga dari masyarakat yang sadar, menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sebatas saling fitnah, saling sikat-sikut, tapi ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu bagaimana menciptakan masyarakat yang cerdas untuk mencapai masyarakat yang damai, makmur dan masyarakat tanpa kelas.

Masyarakat reflektif adalah masyarakat yang memiliki cita-cita untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas (mi’raj sosial), masyarakat yang selalu ingin belajar, membaca dan berpikir tentang semesta dan masyarakat yang memiliki mental komitmen yang baik (mi’raj religiusitas). Masyarakat reflektif inilah yang diidealkan hari ini. Masyarakat yang akan menghargai usaha orang lain, menghargai karya orang lain, menghargai pemikiran orang lain, menghargai keberagaman dan menghargai keberagamaan.

Ketika masyarakat reflektif terealisasikan, kita akan melihat masyarakat yang saling hidup damai, berdampingan, saling tolong-menolong, dan secara otomatis bangsa dan negara akan makmur.

 

Matroni Musèrang, alumnus pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan peneliti sosial, agama dan kebudayaan Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 09 September 2014

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Beberapa hari terakhir ini, pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Pamekasan mengunjungi para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mereka melakukan silaturahmi guna pemantapan semangat berorganisasi.

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Ketua PC IPNU Pamekasan Faisol Ansori, Sabtu (8/1), menegaskan, silaturahmi ke MWCNU tersebut dirasa penting karena bagaimanapun IPNU merupakan bagian dari organisasi NU. Di samping, hal itu juga sebagai wujud penghormatan kepada para senior dan sesepuh NU.

"Kami mendapat sambutan positif dari para pengurus dan kiai yang aktif di MWCNU. Kami diberi wejangan bagaimana berorganisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah," terang mantan Ketua PAC IPNU Kadur, Pamekasan tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengurus MWCNU yang didatangi meliputi mereka yang aktif di Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pagantenan, Kecamatan Proppo, dan lain sebagainya. Pasalnya, selain tujuan di atas, upaya tersebut dilakukan guna menyolidkan spirit mengabdi para pengurus PC IPNU Pamekasan.

"Alhamdulillah, silaturrahmi tersebut berlangsung lancar. Selanjutnya, nanti kami akan merapatkan barisan kembali berbekal ragam tausiyah dari para pengurus MWCNU yang tersebar di Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 03 September 2014

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M

Buku berjudul Travels in Arabia karangan John Ludwig Burckhardt terbit di London tahun 1829. Buku ini merekam catatan yang kaya akan data dan informasi terkait komunitas orang-orang Nusantara di tanah suci Mekkah-Madinah pada masa awal abad ke-19 M.

Burckhardt (1784—1817) adalah seorang orientalis Inggris asal Swiss yang berhasil menyusup masuk ke tanah suci Mekkah-Madinah (Haramayn) setelah terlebih dahulu melakukan penyamaran yang sukses; mengganti nama menjadi Haji Ibrahim ibn Abdullah, beridentitas seorang Muslim dari Albania, mengenakan pakaian khas Timur Tengah dengan jubah, surban, dan janggut yang menjuntai, dan utamanya kecakapan dalam menguasai bahasa Arab yang nyaris sempurna.

Sebelum mengembarai Hijaz (Haramayn), Burckhardt telah lebih dahulu menjelajahi negeri-negeri Timur Tengah lainnya yang pada masa itu berada di bawah kontrol kekuasaan Turki-Ottoman, seperti Aleppo, Suriah, Jerusalem, Petra (Burckhardt-lah yang dicatat oleh sejarah sebagai sosok yang menemukan kembali kota puba di tengah gugusan tebing sahara ini), Sinai, Mesir, Nubia, dan Sudan. Ia pun menuliskan pengalaman pengembaraannya itu dalam buku catatan perjalanan yang luar biasa; Travels in Syria and the Holy Land, kemudian Travels in Nubia, dan Arabic Proverbs, or the Manners and Customs of the Modern Egyptians.

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)
John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M (Sumber Gambar : Nu Online)

John L Burckhardt dan Kisah Orang Nusantara di Mekkah Awal Abad Ke-19 M





Burckhardt berada di Haramayn pada tahun 1814 M. Ia pun merekam beberapa peristiwa penting yang terjadi di Haramayn pada waktu itu, seperti peristiwa pemberontakan golongan Wahabi yang membangkang terhadap pemerintahan Turki-Ottoman, penumpasan atas gerakan tersebut yang dilakukan oleh Ibrahim Pasha dan pasukannya, putera Muhammad Ali Pasha yang merupakan seorang veli (gubernur) Turki-Ottoman untuk elayet (wilayah) Mesir. Atas peristiwa ini, Burckhardt menulis Notes on the Bedouins and Wahabys.

Setelah selesai melaksanakan “faraidh” ibadah haji, Burckhardt pun ikut serta bersama arak-arakan besar kafilah lainnya menuju Madinah guna menziarahi pesarean dan masjid Nabi Muhammad. Nah, saat itulah Burckhardt bergabung bersama rombongan kecil jemaah haji asal Melayu-Nusantara di dalam arak-arakan kafilah besar itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jarak yang jauh antara Mekkah dan Madinah (sekitar 490 KM) ditempuh dengan berjalan kaki dan naik unta. Tak ada yang berjalan sendiri atau dalam rombongan kecil. Semua Jemaah berangkat secara serentak bersama arak-arakan besar kafilah perjalanan yang jumlahnya bisa ratusan orang. Hal ini untuk meringankan beban perjalanan yang penuh resiko dan bahaya, utamanya ancaman para penyamun dan perompak bengis orang-orang Beduin yang datang kapan saja.

Burckhardt menulis:

“Hari ini aku telah menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab dengan teman-teman seperjalananku. Dalam sebuah kafilah perjalanan yang kecil, setiap orang dipaksa untuk dapat berjalan beriringan bersama rombongannya, tidak terpisah darinya. Para rombongan itu adalah orang-orang Melayu, atau sebagaimana disebut di Arab sini dengan sebutan Jawi”.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain mereka yang berasal dari pesisir Semenanjung (Malaka), mereka juga ada yang berasal dari Sumatra, Jawa, dan pesisir Malabar. Semuanya adalah (jajahan) Inggris. Orang-orang Melayu pergi rutin berhaji dengan ditemani istri mereka. Sebagian besar mereka ada yang memilih tinggal di Mekkah Mukarramah dalam tempo beberapa tahun lamanya untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syari’at.

Orang-orang Jawi ini di Haramayn terkenal sebagai orang-orang yang taat beragama, disiplin dalam menuntut ilmu, atau minimal disiplin dalam menjalankan ritual agama Islam mereka. Sedikit dari mereka yang mampu berbicara bahasa Arab dengan sempurna, namun semua dari mereka membaca Al-Qur’an, dan sangat bersemangat untuk mempelajarinya meskipun dalam perjalanan.

Mereka menutupi biaya perjalanan dengan menjual kayu (al-Alûh Haits?) yang berkualitas tinggi dan dibawa dari negeri mereka, kerap juga disebut (Mâwardî). Harga satu pound timbangannya adalah tiga sampai empat dolar di negeri asal mereka, dan dijual di Mekkah dengan harga dua puluh sampai dua puluh lima dolar.

Baju mereka yang longgar, rahang mereka yang menonjol, perawakan mereka yang pendek dan kekar, dan gigi mereka yang bertumpuk menjadi ciri khas tersendiri bagi pengidentitasan tipikal orang-orang Jawi. Para perempuan Melayu memakai baju kurung, namun tidak semuannya memakai khimar, juga selendang dari kain sutera yang tersulam, buatan Cina.

Tampaknya mereka adalah bangsa yang memiliki adat yang kukuh, berimbang, berkarakter tenang, namun terkadang juga pelit.? Sepanjang perjalanan mereka makan nasi dan ikan asin. Mereka menanak nasi dengan air tanpa diberi tambahan zibdah (minyak samin). Zibdah adalah bahan pakan yang sangat mahal harganya di Haramayn namun mereka sangat menyukainya. Sebagian orang Jawi ada yang datang ke pelayanku meminta zibdah untuk ditambahkan ke periuk nasi mereka. Meskipun mereka memiliki cukup uang, namun pola makan mereka biasa saja (yaitu nasi dan ikan asin).

Namun, mereka pernah terkena laknat para gerombolan pencuri padang pasir. Para pencuri itu menjarah peralatan masak orang-orang Jawi itu; periuk nasi yang sedang dimasak oleh air, nampan mereka berbahan tembaga buatan Cina, dan teko air mereka tidak seperti yang kerap digunakan orang-orang Timur lainnya (biasa untuk mencuci dan wudhu), tetapi orang-orang Jawi ini membawa teko teh Cina yang mahal.

Di sela-sela kebersamaanku dengan orang-orang Melayu itu, aku menjadi memiliki kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang pendapat mereka akan pemerintahan kolonial Inggris di negeri mereka. Yang mengejutkan, ternyata mereka menyatakan kebencian dan permusuhan mereka terhadap pihak Inggris. Mereka juga mensumpah serapahi perilaku orang-orang Inggris dan melaknatnya sampai habis. Hal terburuk yang paling tidak disukai mereka (orang-orang Jawi) dari orang-orang Inggris adalah kebiasaan mabuk-mabukan. Lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Meski demikian, orang-orang Melayu ini jarang yang mengkritik masalah keadilan pemerintahan kolonial Inggris. Pihak Inggris justru lebih baik jika dibanding dengan kesewenang-wenangan penguasa lokal orang-orang Melayu (bupati, dll). Jadi, meskipun orang-orang Melayu ini menyerapahi pihak Inggris dengan berbagai sumpah serapah dan laknat durjana, namun mereka juga memberikan pujian kepadanya dengan mengatakan “tapi pemerintahan mereka bagus”. Burckhardt menyebut semua kawasan Nusantara pada masa itu berada di bawah kontrol pemerintahan Inggris, bertepatan dengan masa pemerintahan Gubernur Letnan Sir Thomas Raffles (memerintah 1811—1816).

Di masa yang bersamaan, yaitu perempat pertama abad ke-19 M, saat itu terdapat beberapa ulama Nusantara yang berkiprah di Mekkah, seperti Mahmud ibn Arsyad al-Banjari (putera Syaikh Arsyad Banjar), Fathimah binti Abd al-Shamad al-Palimbani (puteri Syaikh ‘Abd al-Shamad Palembang), Shalih Rawah, Ismail al-Mankabawi al-Khalidi (Minangkabau), ‘Abd al-Ghani al-Bimawi (Bima, Sumbawa), dan lain-lain.

Kairo, Ramadhan 1437 H





A. Ginanjar Sya’ban

Redaktur Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah tinggal di Kairo Mesir

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Kyai, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 27 Agustus 2014

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kenakalan remaja belakangan ini semakin merebak. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kejahatan seksual ? dan sebagainya menjadi ? indikasi nyata bahwa kenakalan remaja sudah berada di titik yang mengkhawatirkan. Itulah sebabnya, para orang tua dihimbau agar melakukan pengawasan yang maksimal terhadap tindak-tanduk dan perilaku anak-anaknya.?

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Kenakalan Remaja, Pendidikan Pesantren dan Peran Keluarga Harus Diperkuat

Himbauan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Jember, Moch, Eksan saat berceramah dalam acara pengajian umum di Desa Daruangan, Kec. Tanggul, Jember, Jawa Timur, Senin (23/5). Menurut Ustadz Eksan, selain pengawaasan, orang tua juga wajib memberikan pendidikan yang optimal bagi sang anak.?

“Tangung jawab pendidikan anak itu ada di pundak orang tua. Bagaimanapun caranya, si anak harus mendapatkan pendidikan yang baik dan maksimal,” tukasnya di hadapan ratusan hadirin.

Mantan aktivis IPNU Jember tersebut menambahkan, dewasa ini tugas mendidik anak semakin berat. Sebab, lingkungan pergaulan dan sosial kian penuh dengan tantangan yang anehnya jusrru menjadi tren kecenderungan perilaku remaja. Misalnya pergaulan bebas, narkoba, kejahatan seksual dan sebagainya. Oleh karena itu, fungsi keluarga harus dikuatkan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam hal ini, orang tua harus mampu mewujudkan rumah tangga yang teduh, menjadi tempat bernaung anak-anak dari berbagai persoalan yang melanda. Jadi orang tua jangan hanya sibuk mencari nafkah, tapi juga wajib memperhatikan masa depan anak-anaknya. Rumah tangga adalah benteng terakhir dari pertahanan anak-anak,” ucapnya.

Di bagian lain, ustadz Eksan mengaku miris dengan ? kejadian-kajadian yang melibatkan remaja, bahkan anak-anak sebagai pelakunya. Menurutnya, arus global yang membawa perubahan ? budaya, mempunyai kontribusi yang besar ? dalam membentuk dan menciptakan pergaulan yang amburadul.?

“Karena itu, supaya gak repot-repot, lebih aman memilih pesantren sebagai tempat menitipkan anak sekaligus mencari ilmu,” jelasnya (Aryudi AR/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah