Senin, 31 Juli 2017

Desa dan Munajat Pancasila

Oleh Syaiful Huda

?

Disadari atau tidak, perseteruan dalam gelaran politik elektoral Ibu Kota telah menyisakan warisan paradigmatik yang berseberangan satu sama lain. Bahkan pada titik tertentu, dua kutub yang berlawanan tersebut seolah tak lagi mau bertemu meski asas keduanya sebagai bangsa adalah satu, yaitu Pancasila.

Desa dan Munajat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Desa dan Munajat Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Desa dan Munajat Pancasila

Pertanyaan yang muncul kemudian, bila asas kedua kutub yang berseteru di atas adalah sama-sama Pancasila, mengapa tak bisa lagi menyisakan ruang untuk bertemu? Atau jangan-jangan Pancasila tak lagi dijadikan asas dalam berbangsa dan bernegara? Bila benar demikian, maka momentum peringatan hari lahirnya Pancasila tahun ini patut menjadi sajadah sebagai alas bersemedi untuk kembali menenun kebinekaan yang mulai terkoyak akhir-akhir ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Segala sumpah serapah yang terekam selama hajatan politik elektoral Ibu Kota, kini mulai terasa dimuntahkan ke segala penjuru negeri. Sentimen keagamaan dan politik identitas semakin diperuncing, situasi ekonomik dan politik dalam negeri yang tengah berproses membangun diri dihadapi dengan rasa frustasi. Jelas sudah, Indonesia sebagai bangsa yang berbeda-beda tapi satu kesatuan tengah menjadi taruhan. Tak terkecuali di desa, kita berharap desa menjadi ruang konsolidasi perekat pancasila.

Berpijak dari situasi di atas, Surat Edaran Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo Nomor: 1 Tahun 2017 tentang Peringatan Hari Lahir Pancasila, yang ditujukan kepada Kepala Desa Seluruh Indonesia, menjadi penanda betapa pentingnya kita kembali memperingati hari lahirnya Pancasila ditengah masyarakat desa-desa seluruh Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manifes Ibadah dalam ber-Pancasila



Tentu saja Surat Edaran Mendes PDTT di atas bila sekadar dijalankan sebatas seremonial, maka tak akan berdampak apa-apa bagi penguatan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lain hal, bila momentum peringatan Harlah Pancasila di desa tahun ini, dimaknai sebagai pengingat kembali terhadap pijakan bersama kita sebagai bangsa yang bernegara kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana kita mafhum bersama, peringatan Harlah Pancasila kali ini, bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bagi umat Islam ber aqil baligh diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dan bukan sesuatu yang kebetulan, jika kita nyatakan bahwa "suasana Ramadhan" hanya terasa nikmat dan indahnya bila kita menjalankanya di desa-desa.

Persis dalam konteks ini, kondisi kebangsaan serta kebinekaan yang tengah terancam oleh gerakan yang ingin mengganti ideologi negara, maka ikhitiar yang berorientasikan memperkokoh kembali landasan berbangsa dan bernegara melalui desa-desa menjadi sesuatu yang juga harus dilakukan.

Ingin ditegaskan, bahwa mempertahankan Pancasila sebagai dasar kita dalam berbangsa dan bernegara, sama "utamanya" seperti "utamanya" umat islam berpuasa di bulan Ramadhan. Pembeda keduanya hanyalah pada relasi yang terjalin. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang bersifat personal, sementara mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara adalah ibadah yang bersifat komunal karena menyangkut kelangsungan hidup kita sebagai bangsa Indonesia.

Penulis termasuk yang memiliki keyakinan bahwa tak ada yang perlu dipertentangkan antara Pancasila dan agama (baca: Islam). Bukankah dalam banyak hal, sabda-sabda Tuhan yang termaktub dalam al-Quran al-Karim telah memberikan justifikasinya terhadap Pancasila. Dengan kata lain, menegakkan Pancasila sama saja dengan menegakkan ayat-ayat suci di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Beberapa sabda Tuhan sudah sangat jelas memberikan justifikasi pada setiap butir-butir Pancasila. Seperti yang tersurat dalam sabda-Nya, "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa" (QS. Al-Ikhlas: 1) berkesesuaian dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. "Maka jangalah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil", (QS. An-Nisa: 135) memiliki korelasi dengan sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila ketiga yang berbunyi, "Persatuan Indonesia" berkorelasi dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang artinya, "Dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal". Sila keempat berbunyi, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan/Perwakilan, mendapatkan justifikasi dalam QS. Asy-Syuro ayat 38 yang artinya, "Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka". Sedangkan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, berkesinambungan dengan firman-Nya dalam QS. An-Nahl ayat 90 yang artinya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan".

Munajat Pancasila



Selain keutamaan kita berpuasa di bulan ramadhan, dalam momentum peringatan Harlah Pancasila ini, penulis juga berpandangan bahwa ketika kita merapalkan Pancasila tak ubahnya ibarat kita sedang bermunajat dengan sepenuh hati seperti kita sedang menjalankan ibadah shalat. Dengan kata yang lebih gamblang, Pancasila itu ibarat shalat beserta keseluruhan geraknya.

Betapa tidak, karena Pancasila bagi penulis, haruslah berdiri tegak, setegak takbiratul-Ihram, berteguh pada ketauhidan, sebagaimana sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila haruslah bergerak lurus, selurus gerak ruku dalam membangun horison keadilan dan solidaritas sosial, sebagaimana sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pancasila harus bergerak berdiri lurus dalam satu tarikan nafas, laiknya gerak itidal dalam menyatukan langkah dan gerak solidaritas politik yang mengedepankan kepentingan nasional, sebagaimana sila ketiga: Persatuan Indonesia.

Penulis juga meyakini bahwa Pancasila harus merunduk sujud menuju tempat terendah, bersimpuh dengan segala kerendahan hati dalam menata kebijaksanaan kerakyatan dan kehambaan sekaligus, sebagaimana sila keempat: Kerakayatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Pancasila juga harus tetap berpijak dan beralas tanah, semabri duduk luruh merapat dengan bumi, layaknya gerak tahiyyat yang bersabar untuk bisa tumbuh subur bersama rakyat karena tugas mulia seorang khalifah adalah menabur keadilan sosial, sebagaimana sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Demikianlah, karena ibadah shalat adalah keseluruhan gerak, maka ketika ada satu rangkaian gerak tidak terlaksana, hanya akan membatalkan shalat itu sendiri. Demikian pula kita dalam ber-Pancasila, bila ada sila yang terlewat, maka "batal" pula kita ber-Pancasila. Pada fase sejarah hari ini, sebagai generasi yang sedang dan akan terus menegakkan berdirinya Pancasila, sejatinya kita laksanakan seperti kita mendirikan salat dalam keseharian kita. Kita berharap dari desa-desa munajat pancasila terus menerus menggema. Merdesa!

Penulis adalah staf khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 30 Juli 2017

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Compreng Kabupaten Subang akan segera memiliki sekretariat permanen.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua MWC NU Compreng, Tata Casmita usai penyelenggaraan Halal Bihalal dan Shilaturahmi Ulama dan Umaro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Compreng bekerja sama dengan MWC NU Compreng di Pendopo Kecamatan, Sabtu (22/7).

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Compreng Segera Miliki Sekretariat Permanen

"Alhamdulillah, peletakan batu pertama sudah kita lakukan sekitar bulan Mei kemarin. Dalam momentum halal bihalal ini, kita harapkan progresnya semakin meningkat," ujar Tata yang merupakan Ketua Penyelenggara Halal Bihalal tersebut.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pihaknya berharap proses konstruksi pembangunan sekretariat tersebut bisa segera direalisasikan sehingga bisa selesai pada 2018 mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Alhamdulillah pembangunan sekretariat ini mendapatkan support dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Subang sehingga pengerjaannya bisa cepat selesai," jelasnya.

Camat Compreng, Deni Setiawan mendorong dan mendukung cita-cita MWC NU Kecamatan Compreng tersebut sebagai pusat kegiatan dakwah Islam di wilayahnya.

"Nantinya ini akan dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan menjadi benteng ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. Dengan keikutsertaan semua kepala desa, mudah-mudahan cita masyarakat Compreng sgera terlaksana," paparnya.

Sekretariat MWC NU Kecamatan Compreng tersebut rencananya akan dibangun di lahan seluas 28 X 19 persegi. Rencananya, sekretariat yang percis berada di depan Kantor Camat Compreng tersebut akan dibangun dua lantai. Selain itu, lokasinya juga berdampingan dengan Masjid Agung Kecamatan Compreng, As-Saad. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 29 Juli 2017

Nasionalisme Islam Nusantara

Oleh Muhammad Iqbal



Nasionalisme dalam konteks sejarah kontemporer Indonesia, tampaknya dimaknai sebagai kepercayaan dan tindakan politik untuk mengubah secara radikal status Indonesia sebagai bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Dalam kalimat lain, nasionalisme Indonesia bertujuan untuk meruntuhkan sistem kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk apa pun dan dari manapun asalnya. Alinea pertama UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 menegaskan rumusan kepercayaan dan tindakan itu sebagai berikut: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Nasionalisme Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Islam Nusantara

Kemudian Islam sebagai doktrin dan tindakan pembebasan yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia sudah sejak kedatangan kaum penjajah ke Nusantara, menunjukkan wataknya yang sangat anti-penjajahan demi kemerdekaan. Adapun penganut Islam Nusantara tidak berjaya menghalau penjajahan sampai dengan masa proklamasi 17 Agustus 1945, semata-mata karena persoalan sejarah sebagaimana akan saya uraikan dalam tulisan ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Soekarno, nasionalisme atau perasaan nasionalistis itu “menimbulkan rasa percaya akan diri sendiri, rasa yang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menempuh keadaan-keadaan yang mau mengalahkan kita.” Dikatakan juga bahwa “Nasionalisme itu ialah suatu iktikad; suatu keinsafan rakyat, bahwa rakyat itu adalah satu golongan, satu ‘bangsa’!”

Dalam perkembangannya, nasionalisme Indonesia tidak saja ditujukan untuk melawan kolonialisme Barat, tetapi untuk melawan semua tipe kolonialisme. Di sini Islam sebagai kekuatan pembebas tidak saja bergandengan dengan nasionalisme itu, tetapi sekaligus memberikan fondasi spiritual yang kukuh kepadanya. Watak ini selama Perang Dunia II tidak dipahami dengan baik oleh Jepang yang masih berpikir bahwa nasionalisme Indonesia hanyalah anti-Barat, tidak anti-Jepang. Kesalahpahaman ini telah menempatkan pasukan Jepang pada posisi ruwet dan rumit dalam berhubungan dengan tokoh-tokoh nasionalis yang sebagian besar menganut Islam. Islamlah selama berabad-abad yang mengobarkan semangat anti-penjajahan ini, baik dalam teori maupun dalam praktik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum diurai lebih jauh ihwal hubungan nasionalisme dengan Islam, kita perlu terlebih dahulu mempunyai pemafhuman yang memadai tentang Islam sebagai kekuatan pembebas berhadapan dengan kebijakan kolonial Belanda terhadap gerakan-gerakan Islam selama empat dekade pertama abad ke-20 M. Bahkan, sebenarnya apabila ditelusuri lebih mendalam perihal akar sejarah perlawanan Islam terhadap sistem penjajahan, kita dapat memulainya sejak munculnya VOC (Vereenigde Oost-Indische Companie, ‘Kompeni India Timur’) pada permulaan abad ke-17 M. VOC sebagai usaha dagang yang telah mengeksploitasi sumber-sumber pribumi “melalui cara perniagaan (a mercantile way)” bahkan telah sejak semula mendapat permusuhan dari umat Muslim di Indonesia. Permusuhan itu sudah bercorak laten yang sewaktu-waktu akan muncul ke permukaan. Secara doktrin, Islam dan sistem penjajahan adalah dua sisi yang sangat berlawanan.

VOC memulai debut perdagangannya di Nusantara pada 1602 M dan berakhir pada 1799 M. Selama hampir 200 tahun ini, aparatus kolonial Belanda tidak pernah merasa tenang apabila berurusan dengan komunitas-komunitas Muslim di Nusantara. Pada pelbagai kejadian, konsolidasi dari perluasan kekuasaan mereka terancam oleh ledakan-ledakan perlawanan yang diilhami Islam, baik yang dipimpin oleh penguasa-penguasa di Nusantara yang telah mengikuti iman Nabi Muhammad Saw atau, pada tingkat lokal, oleh para ulama yang fanatik.

Fanatisme di sini hendaklah ditafsirkan sebagai refleksi logis dari kecintaan mereka terhadap kemerdekaan, serta kebencian mereka terhadap kekuasaan dan dominasi asing. Asing dalam perspektif ini tidak saja asing dalam arti agama, tetapi juga asing dalam arti bangsa. Terlihat di sini semangat agama telah menyatu dengan semangat bangsa, sekalipun pengertian bangsa pada waktu itu sama maknanya dengan suku bangsa, seperti bangsa Jawa, bangsa Aceh, bangsa Minang, bangsa Banjar, bangsa Bugis, dan sebagainya.

Perlawanan terhadap sistem kolonial dalam skala besar terjadi pada abad ke-19. Perang Paderi (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1872-1912), Perang Banjar (1859-1906), dan banyak yang lain adalah di antara bentuk perlawanan yang berskala besar dengan korban yang sangat besar pula pada pihak-pihak yang bertarung.

Melihat tahun-tahun perlawanan di atas, dapatlah dimafhumi mengapa misalnya sejarawan (alm.) T. Ibrahim Alfian menolak mitos yang sering kita dengar bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun, karena tidak cukup alasan untuk menerimanya. Tokoh bangsa Mohammad Natsir (1908-1993) juga menolak angka siluman 350 tahun, sebab itu hanya berlaku bagi sebagian kecil wilayah Nusantara, khususnya pada daerah-daerah tertentu di pulau Jawa. Aceh sendiri seperti terlihat pada angka di atas, hanyalah sempat dijajah Belanda selama 30 tahun (1912-1942), daerah tersingkat yang pernah berada di bawah sistem penjajahan. Orang Aceh pantas punya kebanggaan sejarah untuk kenangan heroik yang luar biasa itu.

Pasca menyadari panasnya bumi permusuhan Muslim terhadap kolonialisme Belanda, C. Snouck Hurgronye sering mengungkapkan, “Sebuah pemerintahan Si kafir pada hakikatnya adalah ilegal di mata Islam.” Oleh karena itu, bagi seorang Muslim, berjuang melawan setiap tipe kolonialisme sama artinya dengan berjuang di jalan Allah, sebagaimana al-Qur’an memang mewajibkan untuk itu.

Strategi jangka panjang mereka adalah: kekuatan Belanda harus terusir dari Nusantara dan kemerdekaan penuh harus direbut kembali! Gagasan inilah yang tertanam dalam diri umat Islam, sekalipun mereka selalu gagal mewujudkannya hingga Agustus 1945. Kegagalan ini tidak sulit untuk dilacak sebab-sebabnya, yaitu terutama keunggulan penguasaan musuh dalam teknik perang dan persenjataan modern, sesuatu yang tak tertandingi oleh persenjataan yang dimiliki pejuang-pejuang Muslim dalam berbagai kontak senjata. Terlihat di sini bahwa doa panjang dengan persenjataan ala kadarnya saja sering benar dilumpuhkan musuh.

Ditambah lagi, pecahnya perlawanan-perlawanan yang diilhami Muslim itu hampir selalu bersifat lokal dan sporadis. Tidak pernah dalam bentuk kesatuan yang menyeluruh karena memang pada waktu itu kita belum lagi mengenal konsep kebangsaan, seperti yang dicanangkan oleh Sumpah Pemuda 1928. Itulah di antara sisi-sisi lemah dari perlawanan sporadis itu.

Belajar dari kegagalan demi kegagalan untuk mendapat kemerdekaan dari kekuasaan asing pada abad ke-19, dengan kedatangan abad ke-20, umat Muslim telah mengubah strategi perjuangannya dari bentuk perang fisik kepada bentuk gerakan sosiogama dan sosiopolitik. Dari pihak musuh, umat Muslim banyak juga mengambil pelajaran, seperti membentuk organisasi-organisasi modern dalam rangka menyiapkan umat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Asumsi dasarnya adalah bahwa tanpa sebuah umat yang cerdas, akan sulit sekali mereka memahami arah perubahan zaman. Melalui organisasi ini, umat dilatih untuk berjuang secara teratur, berencana dan menggunakan rasio sehat.

Terjadilah proses pencerdasan, pencerahan, dan pencairan berpikir. Dalam iklim kolonial, munculnya pergerakan Islam modern ini jelas merupakan sebuah terobosan sejarah. Umat ini sudah terlalu lama hidup dalam kebekuan berpikir. Jati dirinya telah remuk, lahir batin. Organisasi-organisasi ini dengan gaya dan caranya masing-masing pada dataran praksis sepenuhnya bersifat nasionalistik, sekalipun mereka tidak menganut filsafat nasionalisme dalam makna memberhalakan negara-bangsa, seperti yang diajarkan oleh Hegel dan Rousseau.

Di antara gerakan Islam modern yang muncul selama tiga dekade awal abad 20 ini adalah SI (Sarekat Islam), Muhammadiyah, NU (Nahdhatul Ulama), dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Selain itu, muncul pula beberapa organisasi Islam lokal di beberapa tempat dengan sifat khasnya masing-masing. Sekalipun berbeda, tujuannya satu, yaitu menyiapkan dan mencerdaskan umat untuk menghadapi masa depan yang bebas dari sistem penjajahan asing.

Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Makam, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Indonesia memiliki potensi alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Kendati memiliki keanekaragaman dari suku, agama, ras dan antargolongan, negeri ini tetap kondusif. Hal tersebut antara lain peran dari Nahdlatul Ulama.

"Tugas yang diemban para santri adalah mendorong kemajuan bangsa," kata Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Pandangan tersebut disampaikan menteri saat membuka final Festival Sastra Religi Musabaqoh Hafalan Nadzom tingkat Jawa Timur di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Jombang, Kamis (24/`11).

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri PDT: Sejak Dulu, NU Pemersatu Negeri

Baginya, sumbangsih santri dapat dilakukan dengan memperkaya muatan moral. "Kemajuan sebuah bangsa juga ditopang dengan moral. Karena tanpa itu, perkembangan dan pengetahuannya akan menyakiti," katanya di hadapan peserta dan undangan. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sumbangsih santri dan NU bagi perbaikan negeri ini telah diakui sejarah. "Apalagi negara ini sedang dicoba, demikian pula ketika persatuan bangsa tengah menghadapi cobaan, maka NU bisa membuktikan sekaligus mengayomi," terangnya. Karenanya, pemerintah dalam hal ini Presiden RI sangat mengapresiasi kiprah NU tersebut karena menjadi pemersatu negeri, lanjutnya.

Selanjutnya Bapak Eko mengajak para santri menyadari potensi yang dimilki bangsa ini. "Kita bangga karena sebagai bangsa dikaruniai banyak kelebihan," katanya. Lahan tropis yang dimiliki Indonesia adalah terbesar di dunia. Demikian pula luas pantai merupakan yang terpanjang kedua di dunia. Belum lagi jumlah penduduk yang menempati 4 terbesar.

"Negara kita juga sebagai penganut demokrasi terbesar ketiga dunia," katanya disambut tepuk tangan hadirin. Demikian pula Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dan Indonesia tercatat sebagai 16 kekuatan ekonomi terbesar dunia. "Dan diperkirakan tahun 2035 nanti akan jadi terbaik kelima di dunia," tegasnya. Hal tersebut diingatkan Menteri Eko lantaran para generasi muda santri nantinya yang akan menjadi penentu bagi kemajuan bangsa ini.? Yang tidak aklah membanggakan adalah NU sebagai organisasi keagamaan dengan massa terbesar di dunia.

Tugas berat saat ini adalah bagaimana kebesaran yang ada tidak justru menjadi beban. "Kalau bisa, memberi contoh yang baik agar menjadi kebanggaan," pesannya. Dengan kebesarannya, NU dan umat Islam mampu mengayomi serta memberikan contoh yang baik bagi Indonesia dan dunia.

Kepada para santri yang usianya masih belia tersebut, menteri Eko berharap mereka memiliki? ? cita-cita tinggi. "Cita-cita tinggi itu penting agar saat berbaur dengan masyarakat tidak menjadi alasan untuk tidak semangat, termasuk memajukan desa," katanya.

Sekadar membandingkan, negara Swiss bisa jadi negara kaya walaupun tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. "Dan desa kalau dikelola sumber dayanya dengan baik, maka akan jadi kekuatan yang sangat besar," pesannya. Dia mengusulkan bagaimana desa dapat memiliki varian khusus sehingga benar-benar dapat diandalkan sebagai sumber penghidupan masyarakat, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Quote, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 28 Juli 2017

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sakai Nobukazu (57) dan Suzuki Masayuki (59) resmi memeluk agama Islam usai mengucapkan dua kalimat Syahadat di hadapan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan ratusan santri Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta, Sabtu (10/6) malam.

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Kiai Said Bimbing Dua Warga Jepang Ucapkan Syahadat

Meski terbata-bata, namun keduanya nampak begitu khusuk dan menghayati saat membaca dua kalimat tersebut.

Kiai Said mengaku tidak mengajak mereka berdua untuk memeluk Islam, tetapi mereka masuk Islam atas kehendak sendiri. “Padahal saya nggak ngajak masuk Islam, tapi masuk Islam sendiri,” tuturnya.

Sejauh ini, ia menuturkan sudah ada enam belas warga Jepang yang menyatakan diri menjadi pengikut agama yang dibawa Nabi Muhammad itu. “Sudah empat belas, tambah dua orang (Sakai dan Suzuki) berarti enam belas,” ucapnya.

“(Setelah masuk Islam) Saya beri nama Ali Sakai Nobukazu dan Umar Suzuki Masayuki,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Lebih lanjut, Kiai asal Kempek Cirebon itu menjelaskan, Islam dan kemanusiaan itu sangat sesuai dan cocok. Karena cita-cita Islam adalah membangun keharmonisan dan kedamaian umat manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Antara Islam dan manusia sudah sangat cocok sekali,” ungkapnya.

Adapun kelompok teroris dan radikal yang mengatasnamakan Islam sebagai tameng, Kiai Said menilai bahwa mereka itu bukan Islam karena apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

“ISIS bertentangan dengan Islam itu sendiri, bertentangan dengan ajaran orisinil Nabi Muhammad yang mengajarkan kedamaian,” urainya.

Sementara itu, Ali Sakai bercerita bahwa orang tuanya adalah seorang bukio atau ulama Buddha. Namun kemudian, ia memeluk agama Islam karena Islam itu agama yang membawa kedamaian. Oleh karena itu, ia mengaku bahagia bisa menjadi bagian dari umat Islam.

“Saya banyak teman dari Malaysia dan Indonesia. Hanya Islam yang membawa kedamaian. Saya hari ini sangat bahagia karena sudah masuk Islam,” ungkapnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 Juli 2017

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mayoritas negara-negara Muslim di seluruh dunia menetapkan hari Rabu (10/7) sebagai hari awal bulan Ramadhan 1434 H dan hari dimulainya ibadah puasa. Beberapa lainnya menetapkan hari Selasa (9/7) sebagai awal mula Ramadhan.

Demikian dilansir kantor berita Kuwait KUNA (9/7). Dewan Kerajaan Saudi Arabia mengumumkan secara resmi jika hari Selasa ini merupakan hari terakhir yang menyempurnakan bulan Syaban, dan Rabu merupakan awal bulan Ramadhan.

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas Negara Muslim Mulai Puasa Rabu

Pengumuman serupa juga disampaikan oleh Dewan Fatwa Mesir setelah melakukan proses rukyah di beberapa titik di negara itu, namun tidak dilihatnya tanda-tanda kemunculan hilal atau anak bulan sabit sebagai pertanda awal bulan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dewan Wakaf Sunni dan Dewan Fikih Irak di Baghdad juga mengumumkan kebijakan serupa. Irak akan memulai puasa pada Rabu esok.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa negara Arab lainnya seperti Kuwait, Yaman, Qatar, Emirat, Oman, Palestina, Lebanon, Jordan, Aljazair, Tunis, Maroko dan Sudan juga memaklumkan pengumuman serupa. Negara-negara Muslim di luar Arab lainnya, seperti Pakistan, Malaysia, Brunei dan Indonesia juga menetapkan keputusan yang sama.

Berbeda dengan mayoritas negara-negara Muslim di atas, ada juga beberapa institusi dan dewan fatwa Islam di beberapa negara Eropa, Russia, Kazakstan dan China yang mengumumkan awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa ini.

Penulis: Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan, Sejarah, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

Banyumas, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Membludaknya jamaah shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin RW 07 Dusun Losari Desa Samudra Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah Ahad (25/6) pagi membuat warga memanfaatkan halaman masjid, bahkan ada yang sampai ke pekarangan warga.?

Ketua RW 07 Yuswo Hadi Yuwono memaparkan tahun ini shalat Idul Fitri di Mushala Al Mujahidin merupakan pelaksanaan tahun ketiga, di mana tahun-tahun sebelumnya warga melaksanakan shalat Idul Fitri di halaman SD 01 Samudra yang areanya lebih luas. Namun karena di sekolah tersebut sudah dibangun gedung baru, area halaman menjadi lebih sempit. Mushala Al Mujahidin sendiri hanya mampu menampung maksimal 100 jamaah.

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membludak, Jamaah Shalat Id di Banyumas Manfaatkan Pekarangan

“Alhamdulillah penyelenggaraan shalat idul Fitri merupakan salah satu agenda utama setiap tahunnya,” kata Yuswo seraya menambahkan tak kurang dari lima ratus warga turut mengikuti shalat Idul Fitri.

Selain sempitnya area shalat, dalam persiapan shalat Idul Fitri, panitia juga menghadapi satu persoalan, yakni karena akhir Ramadhan ini masih sering turun hujan, halaman dan pekarangan sekitar mushala menjadi basah dan becek. Bahkan pada sore dan malam hari sebelumnya, hujan turun cukup deras selama beberapa jam. Untuk mengantisipasinya, warga menaburkan arang di atas area halaman dan pekarangan sebelum dipasang alas dan sajadah?

Tokoh agama setempat, Ahmad Rido mengungkapkan dari tahun ke tahun selalu terjadi peningkatan kesadaran warga untuk mengikuti berbagai ibadah termasuk shalat Idul Fitri. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya warga yang ikut serta shalat Idul Fitri. Ia pun mengapresiasi hal tersebut. Menurutnya ada hal sangat penting untuk mengatasi masih lemahnya masyarakat dari menjalankan ritual agama Islam, yakni membuang rasa malas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemalasan ini faktor utama yang harus dihadapi setiap individu. Kalau mampu membuang kemalasan, tentu bisa giat dan selalu aktif melaksanakan ibadah,” kata pria asal Kabupaten Batang yang mengajar Pendidikan Agama Islam.

Ia mengaku rasa kasih sayang, empati dan perhatian menjadi kunci dalam menggerakkan masyarakat agar giat beribadah.

“Perhatian tanpa diminta oleh mereka harus kita berikan,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain peningkatan kesadara dalam beribadah, menurutnya masyarakat juga semakin kompak dalam kehidupan sehari-hari. Terbukti dalam persiapan shalat Idul Fitri ini mereka juga bahu membahu membersihkan halaman dan pekarangan sekitar mushala.

Salah satu jamaah, Sarwono, mengatakan dirinya selalu bersemangat dalam melaksanakan shalat Idul Fitri.

“Idul Fitri ini kan momen berharga. Saya sangat senang kalau bisa berkumpul dengan seluruh keluarga dan bisa shalat, bertemu dan bersilaturahim dengan semua warga di sini,” katanya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 26 Juli 2017

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. PWNU Kalimantan Barat berpandangan, organisasi besar seperti NU, harus dikelola secara sistematis. Untuk tujuan itu, digelar Workshop Knowledge Managament (WKM) di Gedung Upelkes Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara, pada Kamis-Jumat (9-10/5).

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Kalbar: NU Harus Dikelola Sistematis

Ketua Panitia WKM, Abdul Mukti Rouf mengatakan, NU Kalbar ingin mengajak seluruh pengurus untuk memahami bagaimana cara mengelola organisasi. Jangan hanya tahu organisasi, tapi tidak paham cara mengelolanya. “Dengan adanya WKM ini diharapkan para pengurus paham dan tahu manajemen organisasi. Mereka menjalankan organisasi secara sistematis, terprogram, dan tepat sasaran,” tambahnya.

Menurut Mukti, dengan WKM, pengurus NU diajak mengelola berbagai pengetahuan empirik menjadi informasi yang menginspirasi bagi? pengurus lain. Misalnya, Cabang NU “A” atau orang NU “A” berprestasi di bidang tertentu, “Tidak ada salahnya NU yang lain belajar atau berguru dengan NU yang berprestasi tersebut,” jelas Mukti yang juga Dosen STAIN Pontianak ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tujuan digelarnya WKM ini juga agar seluruh pengurus NU di Kalbar fokus pada prestasi yang dapat membanggakan baik bagi jamiyyah dan jamaah. Kita ingin menjawab apakah organisasi yang besar dapat dibarengi dengan prestasi besar pula, “Jangan terbalik, organisasi besar tapi prestasi kecil, bahkan tak ada sama sekali. Hal ini tentu tidak kita inginkan,” papar dosen pengampu mata kuliah Pemikiran Islam ini.

Lebih jauh, dikatakan Mukti, lewat WKM ini seluruh peserta dapat merumuskan berbagai program berbasis pada kebutuhan, keunikan, dan local wisdom yang bersifat bottom up (dari bawah). Setelah dirumuskan tentunya segera diimplementasikan, “Kita tidak menginginkan habis WKM, seolah tak terjadi apa-apa. Maksudnya, apa yang dihasilkan dari WKM justru tidak memberikan perubahan bagi perkembangan organisasi NU itu sendiri,” harapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

WKM ini akan dibuka Ketua PWNU, M Zeet Hamdy Assovie MTM. Ia yang juga Sekda Kalbar mengapresiasi WKM. Dengan program tersebut, semakin membesarkan dan menancapkan eksistensi NU di Bumi Khatulistiwa.

Menurut Zeet, NU besar, karena para pengurusnya berpikiran besar. Mereka bekerja sepenuhnya untuk umat, tanpa digaji, semua lilahi ta’ala. Sikap itulah yang membuat NU besar, “Saya berharap, setelah WKM, para pengurus semakin berkiprah membesarkan NU untuk masyarakat Kalbar,” katanya.

Peserta pelatihan WKM terdiri dari PWNU, Pengurus Cabang, dan Banom. Para peserta diajarkan dan disegarkan tentang pengetahuan keorganisasian NU.

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? ? : Rosadi Jamani

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Kyai, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 25 Juli 2017

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur membentuk Tim Reaksi Cepat "Benteng NU". Tim ini akan menemui pelaku penghinaan terhadap ulama atau kiai NU yang marak muncul di media sosial atau Medsos.

Ketua GP Ansor Jatim Rudi Tri Wachid menjelaskan, komposisi Tim Reaksi Cepat "Benteng NU" terdiri atas aktivis Ansor dan Barisan Serba Guna (Banser) yang memang memiliki keahlian di bidangnya. "Pertama, ada tim yang ahli di bidang IT atau cyber," kata Ketua PW GP Ansor Jatim tersebut, Selasa (28/11).

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatim Bentuk Tim Tangkal Penebar Kebencian di Medsos

Dalam praktiknya, tim ini melakukan pelacakan terhadap pemilik akun medsos yang mengunggah pesan dengan konten hinaan kepada kiai. "Dipelajari dulu konten yang diunggah, dilacak pemilik akunnya, siapa dan di mana alamat yang bersangkutan," ujarnya.

Usai pemilik akun terlacak, tim yang bergerak adalah ahli negosiasi. Tim ini akan mendatangi alamat dan menemui pemilik akun dengan melakukan klarifikasi pesan yang diunggah berikut tujuannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Setelah klarifikasi atau tabayun, kalau terbukti menghina, maka tim akan menyarankan untuk meminta maaf kepada kiai yang dihina. Kalau perlu diajak untuk sowan ke kiai yang bersangkutan," tegas Rudi.

Jika tabayun dan negosiasi gagal, maka Ansor akan menggandeng Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum NU untuk melaporkan pemilik akun ke aparat berwenang. "Karena tradisi di NU adalah memaafkan, sedangkan langkah hukum adalah opsi terakhir," jelasnya.

Rudi menjelaskan bahwa tim tersebut dibentuk untuk melestarikan budaya sopan anak muda kepada orang tua. "Makanya, nanti tim bergerak melakukan langkah untuk mengajari bagaimana akhlak anak muda kepada orang tua," ujarnya.

Melihat massifnya gerakan kebencian saat ini, memang tengah ada rekayasa pihak luar yang ingin Indonesia bertengkar dan hancur lebur. Dimulai dari politisasi ayat, hadits dipotong seenaknya untuk mengobarkan permusuhan, sampai pelecehan kepada para kiai sepuh. "Semua ini harus dihentikan," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Kyai, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Pondok Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah merupakan salah satu pesantren termasyhur dengan dakwah melalui seni rebana oleh para ulama dan kiainya. Perkembangan pesantren yang berdiri tahun 1994 ini cukup pesat, yaitu dengan berdirinya Madin (Madrasaha Diniyah) pada tahun 1999, serta lembaga pendidikan lain di berbagai jenjang dalam rentang pembangunan antara tahun 2006 hingga 2008.

Namun dibalik perkembangan pendidikan yang pesat serta di tunjang dengan fasilitas yang belajar yang lengkap tersebut, pesantren Walisongo ternyata memiliki ciri khas kesenian rebana yang mana dari awal berdirinya pesantren sampai saat ini. Grup rebana tersebut selalu memiliki jadwal dakwah yang padat, artinya seni rebana pesantren Walisongo selalu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi dengan senantiasa berpegang pada ajaran agama, sehingga masyarakat selalu merindukan kehadiran nasihat bijak melalui syair shalawat yang dibawakan rebana walisongo.

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Walisongo, Masyhur dengan Dakwah Lewat Seni Rebana

Secara individu KH Ma’ruf Islamuddin yang merupakan pengasuh pesantren sekaligus penggagas seni rebana Walisongo, memang senang dengan seni, terutama seni tarik suara. Kiai Ma’ruf memiliki moto ‘Dengan ilmu hidup lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup jadi terarah’, dan moto tersebut juga tertuliskan di studio rekaman Al Muntaha Record milik pesantren Walisongo.

Merujuk dari ciri khas para ulama yang menggunakan seni sebagai media dakwah, Kiai Ma’ruf Islamuddin pun juga menggunakan pedekatan seni. Seni dalam berdakwah merupakan sarana menyebarkan agama Islam yang telah dijelaskan di atas merupakan warisan dari para wali yang telah terbukti telah mengislamkan hampir semua wilayah di Jawa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Latar belakang dakwah dengan seni rebana

Sementara hal yang melatar belakangi dipilihnya rebana sebagai sarana dalam berdakwah, karena jamaah yang dihadapi sangat heterogen dilihat dari segi keimanan, maka Kiai Ma’ruf menggagas bagaimana caranya dakwah itu disampaikan melalui seni dan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Sehingga munculah ide itu berupa dakwah dengan kesenian musik rebana.

Seiring kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan dakwah di masyarakat, maka pesantren Walisongo melakukan upaya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi kesenian rebana ini dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu menjaring minat dan bakat santri serta siswa melalui kegiatan ektrakurikuler rabana, reorganisasi pemain rebana, mendirikan studio rekaman agar musik rebana bisa dinikmati orang setiap saat dengan kasetnya, dan mendirikan studio radio Walisongo Sragen agar masyarakat bisa mendengarkan ceramah Kiai Ma’ruf dan rebana tanpa melihat langsung.

Ternyata upaya mempertahankan eksistensi rebana tersebut secara tidak langsung juga bepengaruh terhadap meningkatnya jumlah santri. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap dakwahnya, baik secara langsung maupun dalam kaset VCD yang diperjual belikan, keberadaan pesantren Walisongo turut serta dipromosikan. Dalam setiap penerimaan santri baru, banyak yang mengaku mengetahui pesantren Walisongo dari kaset maupun dari nada dan dakwah yang ditampilkan rebana Walisongo.

Tidak hanya grup seni rebana yang beranggotakan santri dewasa yang disibukan dengan padatnya jadwal, namun grup seni rebana Madrasah Integral Walisongo pun tahun ini meraih juara tingkat kabupaten dan prestasi itu diraih selama empat kali berturut-turut. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Halaqoh, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Bahtsul masail atau pengkajian masalah-masalah Islam terus digiatkan PWNU Lampung. Hal ini dilakukan untuk mendinamisir pemikiran ulama dan intelektualisme warga NU. Demikian diungkapkan Ketua PWNU Lampung, KH.Khairudin Tahmid kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis (21/7) menanggapi peran ulama dan pesantren di tengah-tengah perkembangan zaman.

"Bahtsul masail baik yang dilakukan di pesantren maupun di lingkungan NU sangat penting dilakukan, untuk mendinamisir pemikiran ulama, karena dari situlah intelektualisme atau keulamaan NU berkembang," ungkapnya.

Dijelaskan Khairudin, antara NU dan tradisi pesantren dipertemukan dalam aktivitas Bahsul masail. Makanya, lanjut lulusan pesantren di Jombang ini, tidak aneh kalau dalam momentum perhelatan muktamar yang menjadi fokus perhatian adalah keputusan bahtsul masail NU. "Hingga kini tradisi itu tetap dipertahankan dalam setiap acara ke-NU-an, mulai dari lavel tertinggi yakni muktamar sampai istighasah di ranting-ranting NU, bahtsul masail selalu mendapat tempat," paparnya.

karena itulah, PWNU Lampung pasca muktamar ke-31 di Boyolali, terus menerus menggiatkan forum bahtsul masail sampai ke tingkat ranting NU. "Sekarang ini setiap minggu anak cabang dan ranting  menyelengarakan acara tersebut, yang kemudian diangkat ke bahtsul masail level wilayah yang diselenggarakaan tiga bulan sekali. Ini berarti ranting, anak cabang dan cabang juga menyelenggarakan hal serupa. Belum lagi kalangan pesantren sendiri secara rutin juga menyelenggarakan kegiatan ilmiah tersebut," kata lulusan IAIN Raden Intan Lampung ini.

Mengenai tema, dia mengatakan PWNU tidak menentukan tema, karena mencoba mengangkat persoalan yang terjadi di masyarakat paling bawah, yaitu ranting, sehingga yang diangkat adalah aspirasi mereka. "Walaupun kebanyakan dirumuskan oleh ulama dan pengurus tingkat desa, tetapi persoalan yang diangkat juga tidak kalah mendasar. Misalnya soal hukum mendapatkan hadiah Kuis SMS, perawatan jenazah dengan penguburan massal, soal tradisi kirim doa, termasuk isu kontemporer tentang munculnya kegiatan sembahyang jumat dengan imam wanita," paparnya menyudahi pembicaraan.(cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Hikmah, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Mendinamisir Peran Ulama

Senin, 24 Juli 2017

Aklamasi, Yusra Alhabsyi Ketua Baru GP Ansor Sulut

Manado, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Yusra Alhabsyi bakal memimpin Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara masa khidmah 2015-2019 setelah terpilih secara aklamasi dalam Sidang Pleno IV Konferensi Wilayah XI GP Ansor Sulut, Jumat (25/12), di Bunaken Room Aryaduta Hotel Manado, pukul 02.25 WITA.

Aklamasi, Yusra Alhabsyi Ketua Baru GP Ansor Sulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Aklamasi, Yusra Alhabsyi Ketua Baru GP Ansor Sulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Aklamasi, Yusra Alhabsyi Ketua Baru GP Ansor Sulut

Yusra Alhabsyi mengantongi 6 suara dari 9 suara sah yang diusulkan oleh Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor se-Sulut.

Saat diminta untuk memberikan sambutan, Yusra berjanji akan memperkuat GP Ansor sampai ke tingkat kabupaten/kota yang belum memiliki struktur kepengurusan Ansor. "Sahabat-sahabat di luar PKB, tak akan dimarjinalkan. Akan saling memberikan tempat dan ruang, untuk kader-kadernya berprestasi di bidang politik," tambah Yusra.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk susunan kabinet PW GP Ansor Sulut, Yusra mengatakan akan berusaha merekrut pengurus baru secara proporsional. Setiap cabang minimal terwakili hingga 75 persen, dengan 50 persennya berasal dari Manado. Ia juga berharap ketua demisioner, Benny Rhamdani, tidak meninggalkan GP Ansor Sulut dan tetap memberikan bimbingan dan serta nasihat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelum menutup secara resmi Konferwil XI GP Ansor Sulut, M.Aqil Irham meninggalkan pesan kepada ketua terpilih, agar tetap selalu menanamkan niat aktif di GP Ansor demi menolong agama Allah.

Penyusunan Kabinet PW GP Ansor Sulut sulut dipercayakan kepada 5 anggota tim Formatur yang terdiri dari ketua terpilih Yusra Alhabsyi, ketua demosioner Benny Rhamdani, serta perwakilan Bolmong Raya Candra Modeong, perwakilan Minahasa Raya Ivan Tutupo, dan perakilan Sangihe H. Ali Tungian. (Udi? Masloman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masdar: Problem Mendasar Impor Paha Ayam Adalah Soal Pemihakan

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Ketua PBNU Drs Masdar F Mas’udi, MA menegaskan, perspektif agama menyikapi problema-problema seperti impor paha ayam yang mengancam para peternak di Indonesia, sebenarnya yang lebih inti dari sekedar kehalalan adalah soal pemihakan.

"Berbicara pemihakan itu adalah soal sistem secara lebih makro dan apa yang kita diskusikan ini sebenarnya adalah soal pemihakan," katanya di Bogor, Kamis petang, di sela-sela diskusi terbuka nasional bertema "Flu Burung di Indonesia dan Ancaman Impor Paha Ayam" yang diadakan "Petani Center" Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB).

Diskusi nasional itu menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya mantan Cawapres pasangan Capres M Amien Rais, yakni Siswono Yudhohusudon, mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih dan wakil-wakil petani-peternak dengan moderator Dirut Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI, Parni Hadi.

Ia mengemukakan, dalam konteks itu, sebenarnya pemerintah, utamanya bertindak untuk siapa. "Kalau problem pemihakan, sesungguhnya pilihan ideologis yang paling absah dari sudut konstitusi dan ajaran-ajaran agama apapun, sebenarnya pemihakan mesti kepada masyarakat banyak dan terutama bagi yang lemah dan itu yang sebenarnya tidak tampak di dalam kebijakan pemerintah yang kita lihat sekarang ini," katanya.

Misalnya, kata dia, dalam soal problem krisis anggaran, sebenarnya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) memang salah satu opsi.

"Tapi, sebenarnya soal krisis anggaran kan menjadi lebih substansial kalau bisa dikatrol dari pemburuan uang-uang yang dikorup, yang kemudian ditaruh di luar negeri. Itu kan jauh lebih besar jumlahnya dan akan sangat signifikan," katanya.

Akan tetapi, menurut dia, terkait dengan kebijakan pemerintah, di satu pihak pemihakannya kurang, yang kedua ada langkah-langkah yang tampaknya lebih mempertimbangkan mana yang lebih gampang dilaksanakan.

"Jadi, cari gampangnya aja. Menaikkan harga kan sesuatu yang sangat gampang, bisa dalam waktu satu jam dan itulah yang terjadi," katanya.

Karena itu, kata dia, pertama krisis soal pemihakan kepada rakyat banyak, dan kedua tekad pemerintah untuk bekerja keras melakukan hal-hal yang memang tidak gampang. "Tapi itu memang sangat mendasar (untuk dilakukan) dan bukan hanya mencari gampangnya saja," tambahnya.

Menjawab pertanyaan apakah soal pemihakan, berarti tidak perlu impor komoditi semacam paha ayam, Masdar F Mas’udi mengatakan bahwa pertama tentu pemihakan  pemerintah harus kepada rakyatnya sendiri.

"Kalau kita punya jajaran petani dan peternak ayam atau peternak lain, sejauh kita bisa mencukupi kebutuhan sendiri, dan kita memang harus dipacu untuk memenuhi kebutuhan sendiri kenapa mesti impor?," katanya.

Ia menegaskan, kalau pilihannya impor, maka sebenarnya yang diuntungkan hanya segelintir orang saja. "Oleh sebab itu, yang paling penting dalam aspek pemihakan ini adalah bagaimana pemerintah sekuat mungkin mendorong kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya bisa dipenuhi oleh budidaya rakyatnya sendiri," katanya.

Menurut dia, upaya itu harus didorong dengan sepenuh kekuatan. "Harus ’all out’ di situ, jangan cari gampangnya lagi, kalau kita kurang ayam ya... tinggal impor," katanya.      "Kalau kurang impor, bagaimana kalau (peternak kita) lebih suplainya, pemerintah tidak mau menjawab, itu kan lagi-lagi menunjukkan bahwa pemerintah cari enaknya, ini persoalan pemihakan dan kerja keras, dan dua-duanya itu memang mengalami krisis yang serius," katanya.(ant/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Olahraga, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masdar: Problem Mendasar Impor Paha Ayam Adalah Soal Pemihakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Problem Mendasar Impor Paha Ayam Adalah Soal Pemihakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Problem Mendasar Impor Paha Ayam Adalah Soal Pemihakan

Minggu, 23 Juli 2017

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri

Tapanuli Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

PCNU Tapanuli Tengah menggelar agenda tahunan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang diikuti seluruh pengurus MWCNU. Kegiatan yang dibuka Kepala Kantor Kementerian Agama Tapteng H. Sarmadan Nur menghasilkan beberapa program kerja PCNU.

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri

Lima program kerja yang dihasilkan dalam Muskercab tersebut adalah, Pengurus NU harus berbenah menuju tahun 2017. Kedua, mendirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ketiga, mengaktifkan Madrasah Diniyah Awaliyah milik NU. Keempat, melaksanakan pengkaderan NU. Serta kelima, menambah aset NU.?

"Muskercab ini bertujuan untuk mengevaluasi program kerja dan mengkaji pekembangan organisasi serta peranan NU di tengah masyarakat dan juga melaksanakan hasil dari konferensi kemarin," ucap ketua panitia pelaksana Samrul Bahri Hutabarat pada Muskercab yang berlangsung di kantor PCNU Tapanuli Tengah ? Jalan Junjungan Lubis Pandan, Sabtu (3/12).

Muskercab tersebut, menurut Samrul, bukan hanya sebagai seremonial, melainkan sebuah rancangan kerja untuk membentuk jama’ah lebih mandiri.

“Harapannya, bukan hanya sekadar rukun wajib organisasi. Tetapi benar-benar bisa menjadi sebuah rencana kerja untuk penguatan kemandirian,” tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Ketua PCNU Tapteng H. Misran Tanjung menyampaikan, pemantapan sangatlah perlu untuk pengurus dalam mengemban fungsi edukatif yang senantiasa berupaya agar hak dan kewajibanya terhadap bangsa, negara dan sesama umat manusia guna menuju kekuatan jamiyah (organisasi). ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap kepada kader-kader ataupun pengurus-pengurus cabang agar tetap menjaga keamanan dalam menjelang Pilkada bulan Februari 2017.?

Muskercab dihadiri Kapolres Tapanuli Tengah ? AKBP Hari Setyo Budi, Rais Syuriyah PCNU Tapteng H. Kifli Mujahid Batubara, Sekretaris PCNU H. Alfan Surya Hutagalung dan beberapa ulama serta pengurus lembaga dan banom NU. (Bung Sb/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Aswaja, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir.

Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan.

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan.

Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo’a, “Allâhumma hawâlainâ wa lâ ’alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),” HR Bukhari.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadis riwayat lain al-Bukhari menyebutkan bahwa:

? ? - ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat hujan berdo’a: Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”

Hadits ini menunjukan bahwa ketika hujan turun, Nabi SAW senantiasa meminta agar hujan yang diturunkan Allah SWT menjadi hujan rahmat, hujan yang membawa berkah,? bukan hujan musibah. Do’a ini dibaca Nabi kisaran dua atau tiga kali berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Majah.

Di saat musim hujan seperti sekarang ini, do’a di atas penting untuk kita baca. Semoga hujan musim hujan kali ini membawa kemaslahatan bagi kita bersama. Wallâhu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 22 Juli 2017

Para Pengurus Konsul NU di Masa Jepang

Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan, pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, pemimpin saat itu, Saiko Shikikan? (panglima tertinggi), menetapkan Undang-Undang No. 27 tentang Aturan Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 28 tentang Aturan Pemerintahan? Syu? dan? Tokubetsu Syi.

Pemerintahan? Syu? (setingkat Karesidenan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda) dan Jawa dibagi menjadi 17 Syu terdiri Banten, Bogor, Priangan, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Banyumas, Pati, Kedu, Surabaya, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Malang, Besuki dan Madura. Kemudian, Solo dan Yogyakarta menjadi Kochi (Daerah Istimewa). Sedangkan Batavia? yang diubah namanya menjadi? Jakarta? menjadi? Tokobetu Syi? (Kota Praja Istimewa).

Pergantian tata pemerintahan ini, membuat struktur jam’iyyah Nahdlatoel ‘Oelama (baca: Nahdlatul Ulama) atau NU juga mesti menyesuaikan diri, untuk mempermudah jalinan komunikasi dan koordinasi antara Pengurus Besar (PB) dengan “Tjabang-tjabang” di bawahnya.

Para Pengurus Konsul NU di Masa Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pengurus Konsul NU di Masa Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pengurus Konsul NU di Masa Jepang

PBNU kemudian mengubah struktur Majelis Konsul, dari semula membawahi di atas tingkat karesidenan, menjadi setingkat karesidenan (Syu). Terkait hal tersebut, maka ditunjuklah beberapa orang untuk menduduki posisi konsul (pemimpin Majelis Konsul).

Berikut nama konsul NU di daerah Tokubetu Syi, Kochi, dan Syu seluruh Jawa-Madura (sebagian digabung), beserta alamatnya:

1. Daerah Surabaya Syu: KH Ghoefron (beralamat di Jl. Kampemen Soerabaja)

2. Daerah Bojonegoro Syu: KH Abdoelkarim (Kaoeman Bodjonegoro/sementara)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

3. Daerah Besuki Syu: KH Abdoelchalim Shiddiq (Jl. Telangsari No. 23 Djember)

4. Daerah Malang Syu: KH M. Masjkoer (Kaoeman Singosari)

5. Daerah Madiun Syu: H. Moehammad Asj’ari (Jl. Billiton 36 Madioen)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

6. Daerah Kediri Syu: K Moeksin (Ona bara doori Blitar)

7. Daerah Madura Syu: KH Ach. Moenif (Boernih Bangkalan)

8. Daerah Solo dan Jogja Kochi: K Djauhar (Laweyan Solo)

9. Daerah Semarang Syu: KH Chambali (Kaoeman 28 Semarang)

10. Daerah Pati Syu: KH Abdoeldjalil (Kadjeksan 21 Koedoes)

11. Daerah Pekalongan Syu: KH M. Iljas (Banjoe-Oerip Pekalongan/sementara)

12. Daerah Kedu Syu: M Saifoeddin Zoehri (Jl. Pemotongan 15 Poerworedjo)

13. Daerah Banyumas Syu: KHR M. Moechtar (Kebondalem II/10 Poerwokerto)

14. Daerah Cirebon Syu: M. Masna (Pamitran Kadjeksan Tjirebon)

15. Daerah Priangan Syu: Soetisna Sendjaja (Tasikmalaja)

16. Daerah Jakarta Tokubetu Syi, Banten dan Bogor Syu: Zainal Arifin (Boekit Doeri Tandjakan VII Djatinegara)

Setelah Jepang pergi dan Indonesia telah merdeka, struktur Majelis Konsul Syu ini kemudian berganti kembali seperti pada model sebelumnya, yakni membawahi beberapa cabang atau karesidenan.

Pada perkembangan selanjutnya, hingga sekarang, Majelis Konsul ini kemudian diubah namanya menjadi Pengurus Wilayah (PW), yang didirikan di tiap propinsi untuk membawahi tiap cabang.

(Ajie Najmuddin)

Sumber:?

- Surat Kabar Soeara Asia 24 Mei 1944

- Surwarno, P.J. 2003.? Tatanegara? Indonesia: dari Sriwijaya sampai? Indonesia? Modern.Yogyakarta: Unversitas Sanata Dharma.

?

Foto: (dari kiri) KH Abdoelchalim Shiddiq, KH M. Masjkoer, M Saifoeddin Zoehri

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 21 Juli 2017

Pesan Gus Dur: NKRI, Rumah Bersama Semua Elemen Bangsa

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Teladan Gus Dur yang harus diingat generasi muda adalah bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia rumah bersama bagi semua warga yang berlainan suku dan agamanya agar dapat hidup berdampingan dengan semangat toleransi dan gotong royong.

Demikian salah satu kesimpulan dari dialog dalam acara haul ke-6 Gus Dur sekaligus peluncuran acara perdana yang digagas para santri Pesantren Soko Tunggal bernama “Ngopi Bareng Gus Nuril” ? pada 11 Februari 2016 bertempat di pesantren Soko Tunggal Rawamangun, asuhan KH Nuril Arifin yang akrab disapa Gus Nuril.

Pesan Gus Dur: NKRI, Rumah Bersama Semua Elemen Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Gus Dur: NKRI, Rumah Bersama Semua Elemen Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Gus Dur: NKRI, Rumah Bersama Semua Elemen Bangsa

Hadir sebagai narasumber adalah Romo Magnis Suseno, KH Maman Imanulhaq, KH Wahid Maryanto dan KH Nuril Arifin sebagai tuan rumah.?

Dalam dialog tersebut para narasumber menyampaikan bahwa Indonesia dengan keanekaragaman suku, agama, dan budayanya sangat rentan untuk dipecah-belah dari ideologi radikal. Oleh karena itu sebagai bagian dari elemen masyarakat baik dari agama manapun, dari suku manapun ketika merasa adalah warga negara Indonesia, sudah menjadi kewajibannya untuk mempertahankan Pancasila dan keutuhan NKRI dari ideologi-ideologi radikal.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara “Ngopi Bareng Gus Nuril” adalah gabungan dari pengajian dan dialog kebangsaan. Dalam rangka haul Gus Dur ini membawa tema “Teladan Gus Dur untuk Generasi Penerus Bangsa” yang dihadiri lebih 500 orang, terdiri dari berbagai unsur Nahdliyin, seperti dari Pagar Nusa, IPPNU, PMII, Ansor, dan juga dari para pemuka tokoh agama dari Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Dalam penutupnya Gus Nuril memberikan pesan “Orang boleh saja berpakaian islami tapi sesungguhnya bisa tidak islami, orang bisa tidak berpakaian islami tapi perbuatannya islami. Maka titik puncak agama adalah kesalehan sosial, bukan hanya pintar atau kesalehan di masjid-masjid saja.” Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

LAZISNU Jombang Sukses Kumpulkan Dana Umat melalui Voucher

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jombang meluncurkan sistem voucher infaq dan sedekah untuk program Ramadhan. Setelah diluncurkan tiga hari, LAZISNU Jombang berhasil mengumpulkan dana sebesar sepuluh juta rupiah.

Demikian disampaikan Wakil Ketua LAZISNU Jombang M Makmun di tengah-tengah sosialisasi program LAZISNU Jombang dalam Rapat Koordinasi menjelang Ramadhan NU Jombang di Aula NU setempat, Ahad (29/5).

LAZISNU Jombang Sukses Kumpulkan Dana Umat melalui Voucher (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Jombang Sukses Kumpulkan Dana Umat melalui Voucher (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Jombang Sukses Kumpulkan Dana Umat melalui Voucher

Sistem pengumpulan dana infaq dan sedekah dengan menggunakan voucher merupakan cara baru bagi LAZISNU Jombang setelah berjalan sekitar 8 tahun, terhitung sejak 2009.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Makmun, voucher yang dikeluarkan oleh LAZISNU Jombang untuk sementara ini hanya untuk program bulan Ramadhan. "Nilai yang tercantum dalam setiap voucher sebesar Rp. 20.000. selama tiga hari setelah peluncuran, alhamdulillah kita sudah berhasil menjual 500 voucher dengan nilai 10 juta rupiah," katanya.

Sistem voucher ini akan terus dikembangkan tidak saja hanya untuk program Ramadhan. Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya, LAZISNU Jombang dalam bulan Ramadhan 1437 H ini mengadakan kegiatan-kegiatan antara lain berbagi takjil dengan empat pesantren lansia, wakaf Al-Quran, parsel lebaran untuk pengurus musholla, jariyah karpet (jaket) untuk musholla dan masjid, tebar mukena di musholla-musholla umum dan santunan anak yatim.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beberapa hari ini, sebelum masuk bulan Ramadhan Lazisnu Jombang sudah menyalurkan dana untuk perbaikan dua musholla di wilayah Kudu dan Peterongan Kabupaten Jombang.

"Ini juga bagian dari program Ramadhan", katanya. (Ma/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Lomba, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 19 Juli 2017

PCNU Lasem Imbau Warga Tetap Tenang atas Kabar Mistis Sekitar Gerhana

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua PCNU Lasem KH Shalahudin Fattawi mengeluarkan imbauan agar masyarakat Lasem dan Rembang pada umumnya untuk tetap tenang terkait isu mistis meresahkan jelang gerhana matahari yang beredar di masyarakat. Imbauan ini dimaksudkan untuk menghindari masyarakat dari hal-hal negatif.

Terkait gerhana, banyak pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi gerhana yang konon mengandung nilai mistis.

PCNU Lasem Imbau Warga Tetap Tenang atas Kabar Mistis Sekitar Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Lasem Imbau Warga Tetap Tenang atas Kabar Mistis Sekitar Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Lasem Imbau Warga Tetap Tenang atas Kabar Mistis Sekitar Gerhana

"Saya berharap masyarakat tetap tenang. Jangan mudah terprovokasi dengan isu yang tidak benar dan belum jelas sumbernya,” kata Kiai Shalah.

PCNU Lasem juga akan mengeluarkan maklumat yang berisi imbauan warga untuk menggelar shalat gerhana. Dengan menggunakan cokek atau pengeras suara yang terpasang di atas kendaraan roda empat, PCNU Lasem mengingatkan warga untuk melaksanakan shalat gerhana pada 9 Maret mendatang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekretaris PCNU Lasem Attabik kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah menjelaskan shalat gerhana dilakukan agar warga senantiasa memohon keselamatan kepada Allah, serta menghilangkan kesan mitos-mitos negatif yang sering menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kami akan menginstruksikan MWCNU dan Ranting NU untuk melaksanakan shalat gerhana. Tetapi pengurus juga berinisiatif untuk memberikan instruksi yang bersifat pengumuman dengan menggunakan toa secara keliling sampai ke penjuru pelosok desa.”

PCNU Lasem akan mengadakan shalat gerhana di Masjid Jami Lasem yang dimulai pada pukul setengah tujuh pagi. Sementara PCNU Rembang bersama Kementrian Agama dan ormas lain akan mengadakan shalat gerhana di Masjid Agung Rembang yang dimulai pada 06.00 wib. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 18 Juli 2017

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014

Semarang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hapsin Umar mengatakan, NU merupakan bagian dari masyarakat politik yang mempunyai struktur lengkap dari tingkat atas sampai bawah. Oleh karena itu sudah seharusnya warga NU harus berpartisipasi aktif dalam pemilu.

Ia menyampaikan hal ini saat membuka sarasehan “Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pemilu 2014” di Hotel Muria Semarang, Kamis (19/12). Kegiatan hasil kerjasama PWNU dengan KPU Jawa Tengah ini dihadiri? seratusan? peserta dari perwakilan lembaga-lembaga NU, seperti NU, IPNU, IPPNU, GP Ansor, LP Maarif NU, Muslimat NU, Fatayat NU, Banser, dan lembaga-lembaga lain.

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Pemimpin Amanah, NU Harus Aktif pada Pemilu 2014

Lebih lanjut Abu Hapsin menyampaikan bahwa tanggung jawab seorang muslim adalah mendirikan kepemimpinan yang amanah. Pemilu merupakan bagian dari kegiatan mendirikan kepemimpinan. Ia berharap setelah kegiatan ini peserta yang semuanya merupakan perwakilan di masing-masing lembaga NU ini menularkan virus-virus positif tentang keuntungan terlibat aktif dalam pemilu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wahyu Setiawan? dari KPU Jateng dalam paparan materinya menyatakan bahwa NU memiliki peran yang sangat strategis. Oleh karena itu KPU Jateng perlu menggandengnya agar partisipasi masyarakat dalam pemilu nanti meningkat.

“Partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi kemarin (Pilgub) hanya sekitar 54%. Pemilu 2014 merupakan momen yang sangat penting, karena agendanya adalah pergantian rezim. Karena itu peran masyarakat dalam pemilu nanti sangat menentukan nasib bangsa lima tahun mendatang,” ungkap Wahyu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain narasumber dari KPU, peserta sarasehan juga mendengarkan materi pendidikan politik? dari Dr Budi Setiyono, pakar politik Universitas Diponegoro yang juga Wakil Ketua PWNU Jateng.? Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Sodaqoh juga? melengkapi wawasan peserta sarasehan mengenai Pemilu dalam Perspektif Fiqih. (Muslihudin el Hasanudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 17 Juli 2017

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah

Pringsewu, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kehidupan manusia di dunia penuh dengan harapan atau keinginan yang terkadang ditempuh dengan berbagai macam cara. Harapan dan keinginan tersebut jika tidak diatur dengan baik akan membawa kita kehilangan kontrol. Alih-alih mendapatkan keinginan yang diharapkan, justru malah akan menemukan masalah.

"Urusan atau keinginan baik itu kecil maupun besar hendaknya tidak terlepas dari minta petunjuk kepada Allah," demikian pesan Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi saat memberi materi tafsir pada kegiatan rutin Ngaji Ahad (Jihad) Pagi di Gedung NU setempat, Ahad (17/4).

Hal tersebut merupakan penjelasan hubungan ayat ke 5 dan 6 dari surat Al Fatihah. Ayat 5 mengandung permintaan hamba kepada Allah SWT, sedangkan ayat 6 merupakan jawaban dari permintaan tersebut.

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Jadikan Shalat Istikhoroh untuk Memaksa Allah

Dalam meminta kepada sang khaliq, lanjutnya dia, manusia diberikan cara untuk mendapatkannya. "Allah telah memberikan solusi dengan shalat istikhoroh yaitu shalat meminta yang terbaik bagi kita," terangnya.

Namun ia mengingatkan, jangan sampai shalat istikhoroh diniatkan sebagai alat untuk memaksa Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita. "Jangan memaksa Allah SWT dengan shalat istikhoroh yang diawali dengan nafsu yang telah menguasai diri. Lakukan shalat istikhoroh dengan niat tulus serta memasrahkan diri kepada Allah," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Hasil serahkan kepada yang berhak memberi. Jangan mentargetkan semua keinginan kita akan dipilihkan yang terbaik dan dikabulkan semua," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Seolah berpacu dengan waktu, solusi penanganan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terus dicari seiring kian menguatnya rentetan penolakan masyarakat terhadap keberadaan ormas yang ingin mendirikan khilafah islamiyah itu. Itulah sebabnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jember menggelar rapat di ruang Bamus, ? gedung DPRD Jember, Selasa (10/5).?

Dalam kesempatan tersebut hadir Bupati Jember, Faida, Ketua DPRD Jember, Thoif Zamroni, Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi dan NNP Martini. Kapolres Jember, Sabilul Alif dan perwakilan Kodim 0824 juga hadir.

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Satu-satunya agenda yang dibahas dalam rapat tersebut adalah penyikapan terhadap keberadaan HTI Jember. Namun setelah agak lama berdiskusi, tak ada keputusan yang melegakan.?

Di ujung acara, Ayub Junaidi mengusulkan agar Pemkab Jember mengundang ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia ? dan sebagainya untuk “mencari” masukan seputar HTI.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau Ibu Bupati tidak berkenan, kami punya cara sendiri yang dibenarkan undang-undang, yaitu membentuk pansus (panitia khusus),” ungkap Ketua PC GP Ansor Jember itu.

Bak gayung bersambut, usulan itupun diamini oleh Bupati Faida. Menurutnya, usulan tersebut sangat baik dan perlu diakomodasi. Bupati wanita pertama Jember itu juga mengucapkan terima kasih atas peran Banser yang telah ikut menjaga keamanan ? Jember. Tidak hanya itu, Faida juga mempersilahkan pimpinan DPRD Jember untuk membentuk pansus. “Monggo. Silakan. Kita undang semuanya. Dan kalau DPRD masih mau membentuk pansus, ya tidak apa-apa,” jelasnya.

Sambutan hangat juga datang dari Kapolres Jember, Sabilul Alif. Menurutnya, itu adalah ide yang baik sekali. Tidak hanya untuk membicarakan HTI, tapi juga membahas keamanan Jember secara menyeluruh.?

“Konflik yang besar adalah akumulasi konflik kecil yang tak terselesaikan. Jadi ini sangat baik,” jelasnya (Aryudi A. Razaq/Mukafi Niam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 15 Juli 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Qur’an menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Qur’an diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Qur’an sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Qur’an berkata “Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa’: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtama’ul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

 

 

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang pemilu 2009 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar menggelar pelatihan bagi para calon legislatif (Caleg )yang berasal dari para kader NU. Acara ini digelar di aula kantor PCNU Kab. Blitar pada hari Ahad (25/1) dengan menunjuk Lakpesdam sebagi pelaksana pelatihan.



PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Blitar Gelar Pelatihan Caleg Kader NU

Materi yang diberikan meliputi peningkatan kapasitas caleg seperti konsep politik Islam (fiqih siyasah) yang disampaikan KH Farhan Ma’ruf selaku katib syuriyah NU Kab. Blitar, tugas pokok fraksi, legislatif drafting dan penganggaran yang disampaikan oleh Aminudin Fahruda dari SOMASI yang juga anggota Litbang NU Kab. Blitar.

Materi menejemen opini publik disampaikan Arif Afandi, mantan pemimpin redaksi harian Jawa Pos yang saat ini menjabat wakil walikota Surabaya. Sementara itu Tausiyah yang disampaikan oleh KH Nurhidayatulloh Dawami selaku ketua tanfidiyah NU Kab. Blitar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekitar 50 calon anggota DPRD II, DPRD I dan DPR RI dari PKB, PKNU, PPP, Partai Demokrat, partai Golkar, PDP, serta partai Buruh hadir dalam acara sebagai peserta. Mereka sangat antusias terhadap materi-materi yang disampaikan. Sampai acara selesai hingga menjelang maghrib, peserta tidak berkurang bahkan bertambah dan setelah acara selesai masih ada diskusi-diskusi kecil antar peserta dan beberapa pengurus NU yang menunggui.

Dalam kesempatan itu KH Agus Muadzin selaku rais syuriyah PCNU Kab. Blitar menegaskan pada pemilu 2009 NU kabupaten Blitar tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana, tidak berpihak kepada salah satu partai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia juga menganjurkan kepada nahdliyin untuk tidak golput. “Dengan golput berarti kita telah memotong salah satu pilar demokrasi kita artinya negara Indonesia telah memilih trias politika sebgai wujud demokrasi dan adanya legislatif merupakan salah satu bagian dari trias politika tersebut, jadi harus tetap memilih,” katanya.

Kepada calon legislatif PCNU, ia berharap jika nanti semua peserta ini menjadi anggota legislatif supaya membawa misi dan kepentingan Nahdlatul Ulama.

 

Ketidakberpihakan NU terhadap salah satu Parpol dikuatkan dengan pernyataan KH Nurhidayatulloh dalam tausiyahnya bahwa “Kader NU harus masuk dari berbagai pintu kalau hanya satu pintu sempit” dan posisi NU secara kelembagaan tidak “ke sana-sini” kalaupun ada yang memihak partai tertentu itu personal pengurus, tidak diperbolehkan membawa nama organisasi.

Kemudian Arif Afandi menyampaikan apresiasi positif terhadap acara ini, Ia menyatakan bahwa “NU Blitar psikologinya juragan” kalau psikologinya juragan, bisa mengayomi seluruh kadernya. tapi kalau psikologinya makelar, mana yang setor banyak yang didukung.

“Menurut saya mestinya tidak begitu, NU harus menjadi juragan jadi siapa saja dan dimana saja harus mendapat pengayoman yang sama. Kalau kader NU-nya banyak dimana-mana sementara sistem pemilunya sistem dapil kemudian kemenangannya ditentukan suara terbanyak menurut saya NU justru lebih punya peluang lebih banyak,” katanya.

Dalam hal membangun opini publik ia memaparkan pengalamannya ketika berproses menjadi wakil walikota Surabaya. Untuk mendapat simpati pemilih, ia menyarankan kalau menggunakan media tidak perlu baliho yang besar-besar cukup dengan kartu yang menyerupai kartu pemilihan, itu lebih efektif” tambahnya.

Aspek penting lainnya adalah supaya para caleg lebih aktif berinteraksi langsung dengan masyarakat. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 12 Juli 2017

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejak pertama lahir, pola pendidikan di pondok pesantren diakui mampu membentuk manusia seutuhnya. Artinya tidak hanya memahami ilmu agama Islam, tetapi lulusan pesantren mampu berkarya di segala bidang kehidupan secara mandiri. Inilah yang dikatakan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan paling komplit.

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub DKI: Pesantren adalah Sistem Pendidikan Paling Komplit

Djarot menyampaikan hal tersebut pada acara peluncuran legalitas Pendidikan Diniyah Formal (PDF) pada berbagai tingkatan seperti Ula, Wustho, dan Ulya oleh Kementerian Agama, Senin (1/8) di Pondok Pesantren Minhaajurrasyidin, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pada kesempatan ini, Kemenag memberikan SK izin operasional kepada 12 PDF pada tingkat Wustho dan Ulya di seluruh Indonesia.?

Djarot yang hadir bersama beberapa jajaran pejabat Provinsi DKI Jakarta dan Wali Kota Jakarta Timur menegaskan bahwa pesantren tidak hanya fokus mengkaji ilmu agama melalui kitab kuning, tetapi juga mendidik santri berwirausaha dan menghadapi hidup secara mandiri. Hal ini yang menjadikan lulusan pesantren mempunyai dasar dan prinsip yang kokoh ketika terjun di tengah masyarakat.

“Tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar hidup, belajar bertoleransi dengan sesama, belajar saling tolong-menolong satu sama lain, mandiri dan bekerja keras yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan akhlak mulia, iman dan taqwa kepada Allah,” jelas pria asal Blitar ini saat menyampaikan sambutan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pendidikan di pesantren, lanjut Djarot, memungkinkan anak memiliki jiwa spiritualitas kokoh karena hari demi hari diisi dengan kegiatan positif dan bermanfaat. Ruang ini tidak akan dimasuki oleh hal-hal dan perilaku negatif karena santri selalu mengisinya dengan kegiatan keagamaan dan pembelajaran hidup.

“Maka jangan heran ketika banyak anak sekarang mudah terjerumus pada perilaku buruk dan negatif karena terlalu banyak ruang kosong pada dirinya yang menyebabkan jiwanya juga kosong,” terang Djarot.

Dengan terus ditempa dengan pendidikan positif dan kerja keras, Djarot yakin lulusan pesantren tidak akan lapuk di makan zaman. Karena santri sudah terbiasa hidup dengan apapun. Menurutnya, tantangan Islam ramah dan toleran yang dibawa para lulusan pesantren kini mendapat tantangan besar ketika mudahnya akses teknologi informasi yang kerap berisi paham keagamaan yang keras dan cenderung kaku. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah