Pentingnya penggalian dan penelitian khazanah Islam Nusantara itu disampaikan Wakil Rais ‘Aam PBNU, KH Miftakhul Akhyar saat memimpin rombongan ekspedisi Islam Nusantara ke Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam perjalanan ekspedisi tersebut Kiai Miftah beserta rombongan berziarah ke makam Syaikh Mahmud Papan Tinggi.
| Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus (Sumber Gambar : Nu Online) |
Syeikh Mahmud dan Kemasyhuran Kapur Barus
Dari berbagai literatur ditemukan bahwa Syaikh Mahmud adalah orang pertama kali yang membawa ajaran Islam ke daerah Barus.Menurut penuturan penduduk setempat ditemukan dua kemungkinan. Pertama, Syeikh Mahmud adalah orang Yaman yang hendak melakukan pelayaran ke Samudera Pasai (Aceh), namun di tengah pelayaran, kapal yang ia tumpangi salah arah dan terdampar di Barus. Sampai di Barus Syaikh Mahmud tidak hanya berdakwah tetapi juga menjadi pedagang dan berbisnis komoditas kapur yang sangat terkenal sejak puluhan abad lalu, bahkan ada yang mengatakan jika kapur Barus ini sudah dikenal pada masa Firaun.
Sementara itu, kemungkinan kedua meyebutkan bahwa Syeikh Mahmud merupakan orang asli Nusantara yang belajar ke sahabat Rasulullah Saw. Setelah ia menimba ilmu di Arab Saudi ia kembali ke Nusantara, lebih tepatnya ke Barus, dan menyebarkan ajaran Islam di sana.
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Syaikh Mahmud ini kemungkinan besar merupakan orang Barus yang belajar Islam semasa para sahabat. Kemudian ia kembali lagi ke Nusantara,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Tapanuli Selatan, Muhammad Batubara.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Lebih jauh saat dikonfirmasi soal sejarah Syaikh Mahmud ini, Bupati Tapanuli Selatan, Syukron Jazilan mengatakan bahwa sekitar enam bulan yang lalu pihaknya kedatangan 26 duta besar negara sahabat, termasuk diantaranya Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa Ibrahim Almubarok. Dalam kunjungan tersebut para Dubes menyempatkan diri berziarah ke makam Syaikh Mahmud yang letaknya di atas bukit, dan harus dicapai dengan menapaki 765 anak tangga.Musthafa yang kala itu didampingi beberapa Dubes menyempatkan membaca enkripsi yang ada di nisan Syaikh Mahmud. Dari nisan tersebut, kata Musathafa, terpahat jelas bahwa nisan itu dibuat pada abad ke-7 Masehi. Artinya Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi.
Setelah berziarah ke Syaikh Mahmud Papan Tinggi, rombongan ekspedisi Islam Nusantara wilayah Barus singgah dan berziarah ke makam Syaikh Rukunuddin yang terletak cukup jauh dari makam Syaikh Mahmud Papan Tinggi.
Ekspedisi ke wilayah Barus Tapanuli Selatan ini merupakan bagian rangkaian dari ekspedisi Islam Nusantara PBNU yang serentak digelar mulai tanggal 31 Maret sampai 9 Juni 2016. Ekepedisi ini dijadwalkan akan dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia guna menggali khazanah Islam Nusantara. (Fariz Alniezar/Zunus)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Ahlussunnah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah