Lebih tegasnya adalaha adalah, hablum minallah wahablum minan nas, yaitu mencintai Allah dan mencintai manusia. Menurut Chisaan, pandangan Lesbumi semacam itu, merupakan gejala baru di Indonesia di antara pandangan-pandangan kesenian lain yang muncul di tahun 50-60-an.
| Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi (Sumber Gambar : Nu Online) |
Inilah Pandangan Kebudayaan Lesbumi
Sementara itu, menurut Ketua PP Lesbumi Sastro Ngatawi, pandangan kebudayaan Lesbumi pada masa awal berdiri bisa dilihat dari pandangan para tokohnya pada saat itu, khususnya Usmar Ismail dalam sebuah pidato kebudayaan dan Asrul Sani dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
“Intinya, Lesbumi pada saat itu menentang liberalisme seni budaya, termasuk ungkapan seni untuk seni. Karena bagi Lesbumi, di balik seni ada etika, norma dan berbagai spirit religiusitas yang tidak bisa semata-mata diabdikan untuk seni,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, melaluis surat elektronik, Ahad (24/3).Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Kedua, Lesbumi pada saat itu juga menentang hegemoni kebudayaan asing terhadap budaya lokal. Hal ini dibuktikan dengan penentangan Lesbumi terhadap beredarnya film-film asing secara bebas dan berlebihan.Sastro menjelaskan, itu bukan sentimen terhadap film asing, melainkan sebagai upaya menumbuhkan dan meningkatkan kualitas film nasional. Upaya itu berhasil dilakukan dengan bukti impor film asing turun sampai mendekati angka 50% dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, sementara produksi film nasional naik hampir 100%.
Artinya, nasionalisme kebudayaan merupakan visi kebudayaan Lesbumi dan pandangan kebudayaan Lesbumi. “Pandangan dan visi seperti itu yang kami teruskan hingga saat ini,” katanya.
Penulis : Abdullah Alawi
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah