Rabu, 31 Desember 2008

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan meluncurkan program baru untuk para santri yang sedang belajar di pondok pesantren.

Program baru dengan nama “Beasiswa Santri” diperuntukkan bagi anak-anak muda di lingkungan Nahdlyyyin yang punya minat besar untuk belajar di pondok, tetapi tidak memiliki biaya sama sekali.

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pekalongan Luncurkan Program Beasiswa Santri

"Ini program baru untuk para generasi muda NU yang ingin belajar di pesantren yang tidak memiliki biaya," ujar Lukman Kamil, Ketua PC Lazisnu Kota Pekalongan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakan, program beasiswa santri yang diluncurkan Sabtu (11/7) ini sekaligus mendukung program Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) berupa "Ayo Mondok" yang sudah diluncurkan beberapa waktu yang lalu. LAZISNU sebagai penghimpun dana dari muzakki (pemberi zakat) dan munfiq (pemberi infaq) berusaha menjembatani dalam hal biaya mondok.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Jadi ini sebuah sinergitas antar lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama, yang kebetulan mendapat dukungan penuh dari (pengurus) Syuriyah, sehingga anak-anak muda NU sebagai kader penerus perjuangan tetap berada di jalur ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)," kata Kamil.

Acara peluncuran program beasiswa santri dilaksanakan di sela sela kegiatan LAZISNU Kota Pekalongan memberikan santunan kepada 60 anak yatim di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pekalongan Utara.

Kegiatan yang berlangsung di Musholla Al Islah Ranting NU Pabean diakhiri dengan buka puasa bersama dihadiri oleh jajaran PCNU Kota Pekalongan, pengurus MWCNU Pekalongan Utara, dan Pengurus Ranting NU Pabean.

Lukman merasa optimis program beasiswa santri mendapat respon yang cukup positif, mengingat saat ini banyak anak-anak Nahdliyin sedang belajar di pondok pesantren baik di wilayah Jawa Tengah maupun di Jawa Timur.

Untuk anak-anak muda yang baru akan belajar di pesantren bisa menghubungi pengurus ranting NU setempat atau LAZISNU Cabang Kota Pekalongan di nomor telepon 0858 1010 1926, sedangkan untuk yang sedang belajar di pesantren akan diadakan pendataan terlebih dahulu, karena program ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 Juli 2008

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura

Pamekasan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Kabupaten Pamekasan sudah lama dikenal sebagai salah satu lumbung bandar narkoba di Jawa Timur. Kepolisian Resort (Polres) setempat bahkan menjadikan pantura sebagai daerah merah peredaran dan pemakaian narkoba. Atas dasar ini Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Pamekasan Ra Hasan Al-Mandury menyasar para pemuda pantura untuk tidak tergoda barang haram tersebut.

Ra Hasan digandeng aliansi PAC GP Ansor Pantura untuk melatih sekaligus berbagi pengalaman dan ilmu dengan para pemuda pantura di MTs Pesantren Al-Mardliyah, Waru, Pamekasan, Kamis (20/10).

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepala Baanar Pamekasan Sasar dan Gembleng Pemuda Pantura

Kegiatan ini mengetengahkan pembentukan Sahabat Baanar, sosialisasi Baanar beserta sosialisasi peran pemuda dalam menghadapi bahaya narkoba sehari.

"Usai kegiatan selama sehari, dilanjutkan dengan makan bersama dan malamnya diisi pelatihan Desain Grafis oleh Ra Hasan. Kebetulan di samping banyak makan garam soal organisasi, ia ahli dalam hal desain grafis," terang Ketua GP Ansor Waru Syafiuddin yang sekaligus Ketua Aliansi PAC GP Ansor Pantura (Batumarmar, Waru, Pasean).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Sahabat Baanar nanti berencana mengagendakan perampungan rangkaian kegiatan guna menghadapi persoalan narkoba, khususnya di daerah pantura.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara keterampilan grafis dipelajari guna memudahkan dan menghasilkan produk grafis yang menunjang keorganisasian GP Ansor di Kabupaten Pamekasan. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 17 Juni 2008

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang mengabdi di Desa Geneng Batealit bekerja sama dengan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Kabupaten Jepara mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk.

Pelatihan yang dilaksanakan di Balai Desa Geneng, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (9/2) itu diikuti 30 peserta yang merupakan pelaku usaha kecil se-Desa Geneng, di antaranya usaha batik tulis Jepara, sirup Jahe, kerajinan aksesori, meubel, catering, dan lainnya.

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Lukman Ihsanuddin, koordinator desa kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan pengembangan dan pemasaran produk merupakan progam KKN Unisnu Desa Geneng. Tujuannya untuk mengenalkan potensi daerah, seperti batik tulis Jepara, boga, dan kerajinan aksesori kepada masyarakat Jepara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kegiatan ini kami sesuaikan dengan tema KKN Unisnu 2016, yaitu ‘Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan’. Dan kami mengajak kerja sama dengan BPC Hipmi Jepara, karena organisasi tersebut memiliki jaringan bisnis yang luas," tambah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Umun BPC Hipmi Kabupaten Jepara Syamsul Anwar mengatakan, pihaknya memang merasa bertugas untuk menularkan semangat dan pengalaman dalam berwirausaha untuk mengembangkan dunia usaha di Kabupaten Jepara.

"Kami tidak hanya memikirkan pekerjaan dalam bisnis usaha yang kami jalani, tapi juga memikirkan bagaimana agar dunia usaha yang sudah ada bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami mendampingi pada pelaku usaha agar bisa mengakses pasar sehingga produk-produk lokal bisa ekspor," kata Syamsul.

Ia juga menambahkan, batik tulis Jepara perlu diperjuangkan seperti halnya kain tenun Troso yang awal-awal juga membutuhkaan perjuangan bersama, dan hasilnya sekarang tenun Troso menjadi andalan bagi Jepara, dan tidak menutup kemungkinan batik tulis Jepara juga akan seperti tenun Troso.

Dwi Bambang Hermawan, petinggi Desa Geneng menyampaikan terima kasih kepada Tim KKN Unisnu dan Hipmi Jepara yang telah mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk bagi warga Desa Geneng.

"Ini juga ikut membantu progam Pemerintah desa Geneng dalam meminimalisir pengangguran, sehingga menciptakan penghasilan bagi warga kami. Dan pengembangan dalam dunia usaha perlunya menekankan pada produk dengan selalu kreatif dan inovatif," tambah pria berumur 33 tahun ini.

Pelatihan yang dimoderatori Miswan Anshori, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, memberikan pengantar pentingnya strategi dalam mengembangkan dan memasarkan usaha dalam dunia bisnis, salah satunya yaitu dengan fokus pada usaha.

"Menjadi pengusaha jangan cepat menyerah, dan jadikan kegagalan sebagai cambuk untuk bangkit menjadi lebih baik," kata Muhammad Habli Mubarok, narasumber dalam pelatihan tersebut.

Ia memberikan strategi pada peserta pelatihan dalam pengembangan usaha, yaitu harus fokus dalam masa depan usaha, fokus kesempatan dengan 80 persen peluang, dan 20 persen problem. Sukses apa yang ada dan buatlah itu semua menjadi sebuah kejadian nyata.

Peserta tampak sangat antusias dalam mengikuti pelatihan tersebut, terlihat dari beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Ibu April, salah satu pembatik Desa Geneng, menanyakan bagaimana membangun mental dalam berwirausaha.

Lain halnya yang ditanyakan Faridatun, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Geneng yang memproduksi sirup jahe. Ia menanyakan tentang kiat bersaing dalam memasarkan produk. Adapun yang ditanyakan oleh Siti Rofiatun pengrajin aksesoris, sudah beberapa kali memasarkan produknya, tapi terkadang masih belum bisa memasarkan secara luas.

"Membangun mental wirausaha harus berani, karena dunia usaha kadang juga ada untung dan ruginya. Memasarkan produk agar bisa bersaing perlunya dibuat yang menarik kemasannya, bagaimana izin administrasinya dan tentunya label. Lakukan promosi terus menerus, sehingga produk tersebut menjadi dikenal banyak orang," jawab Mubarok.

"Hipmi merupakan mitra dari Pemerintah Kabupaten Jepara untuk membangun dan mencarikan solusi atas apa yang menjadi masalah bagi pelaku usaha," tambah Syamsul saat memberikan kesimpulan dalam pelatihan tersebut. (Muhammad Miqdad Syaroni/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 07 Juni 2008

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Siapa santri yang tak kenal dengan Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’i atau Imam Jalalain. Setiap santri pasti kenal ulama-ulama besar tadi. Pertanyaannya, darimana kita bisa kenal para ulama yang hidupnya terpaut beratus tahun dari kita. Satu jawabnya, kita kenal Beliau semua lewat karya-karyanya yang dikaji di pesantren.

Hal ini disampaikan, pimpinan umum website Pesantren Al-Hikmah 2, M. Jihad Fawwaz pada peserta pelatihan blog program santri menulis, Rabu (24/10). Tidak kurang sepuluh santri ambil bagian di pelatihan yang digulirkan tim website pesantren ini.

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2 (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2 (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Menulis di Pesantren Al-Hikmah 2

“Pelatihan program santri menulis berlangsung dua hari tiap minggunya yakni Selasa dan Rabu. Hari Selasa untuk materi pelatihan blog, sedangkan Rabunya untuk teknik kepenulisannya,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jihad berharap, lewat program ini nantinya bisa lahir santri-santri yang piawai di bidang penulisan. Selain juga bisa memanfaatkan teknologi dengan baik.

Kedepannya, pihaknya menuturkan juga akan meluncurkan lomba blog antar santri di Pesantren Al-Hikmah 2.

“InsyaAllah, bila sesuai rencana, setelah dua bulan pelatihan blog ini, akan ada lomba blog antar santri dengan tema penulisan yang berganti tiap bulannya,“ jelas Jihad

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Alfa Wanasabani

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Doa, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 29 April 2008

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kabar wafatnya Ulama asal Suriah Syekh Wahbah Az-Zuhaili, belum lama ini (8/8), menjadi kehilangan tersendiri bagi dunia keilmuan Islam, khususnya di bidang fiqih. Seperti yang telah banyak diketahui, Syekh Wahbah merupakan salah satu ulama terkemuka asal Suriah di abad ini, anggota Dewan Fiqh di Makkah, Jeddah, India, Amerika dan Sudan.

Ia juga dikenal sebagai seorang cerdik cendikia (alim allamah) yang menguasai berbagai disiplin ilmu (mutafannin). Seorang ulama fiqih kontemporer peringkat dunia, pemikiran fiqihnya menyebar ke seluruh dunia Islam melalui kitab-kitab fikihnya.

Terdapat sebuah kisah tersendiri berkaitan dengan salah satu kitab karyanya, Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh. Seperti yang diceritakan salah satu pengajar di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, Kiai Abdul Aziz Ahmad.

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kitab tersebut termasuk “kitab putih” (al Kutubul Ashriyah) atau kitab-kitab karya ulama sekarang yang metode penulisannya mengikuti kaidah modern, yang memuat perbandingan madzhab dan pada beberapa permasalahan juga dipaparkan beberapa pendapat madzhab selain madzhab empat.

Kiai Aziz mengisahkan, persentuhan dengan kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh berawal dari alm. KH Baidlowi (pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Brabo) yang kala itu masih tinggal di Pesantren Al-Muayyad.

“Pak Baidlowi dengan semangat menunjukkan kitab yang terdiri dari delapan jilid besar itu dan menjelaskan keistimewaannya. Misalnya, kitab tersebut menggunakan redaksi yang mudah difahami, rangkaian kalimatnya sederhana dan sistematikanya sesuai dengan kaidah kontemporer. Isinya adalah tentang fiqih dari semua madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) yang disertai proses penyimpulan hukum (istinbathul ahkam) dari sumber-sumber Hukum Islam baik yang naqli maupun yang aqli,” ungkap Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena bagusnya kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh, Pak Baidlowi sangat menganjurkan para calon ulama atau para kiai mau membaca, mempelajari dan memilikinya. Atas anjuran tersebut, Kiai Aziz menjadi tertarik untuk membaca, mempelajari dan memilikinya. Akhirnya ia berhasil memiliki kitab tersebut seharga Rp 330.000.

Rujukan Bahtsul Masail

Setelah memiliki kitab karya Syekh Wahbah itu, ia menjadikannya untuk rujukan setiap ada kegiatan bahtsul masail di kalangan NU atau MUI. Termasuk, ketika PCNU Surakarta sedang giat-giatnya mengadakan bahtsul masail antara tahun ? 1997 hingga 2004.

“Mbah Kiai Abdurrochim, Mbah Kiai Daimul Ihsan, Mbah Kiai Abdul Wahab Shiddiq, Mbah Kiai Dasuki, Mbah Kiai Abdullah Asy’ari, dan para kiai sepuh lainnya, pada awalnya masih mempertanyakan apakah kitab ini mu’tabar dan bisa dijadikan rujukan atau tidak,” kata Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun setelah beberapa kali ia menunjukkan kepada beberapa kiai tersebut, khususnya Mbah Kiai Abdurrochim dan Mbah Kiai Daimul Ihsan, ternyata mereka sangat menyukai kitab ini. Bahkan beberapa kali mereka meminjam kitab tersebut untuk dipelajari (muthola’ah).

Pada waktu yang sama, ketika sering mengikuti forum bahtsul masail di tingkat PWNU Jawa Tengah, ia melihat belum ada kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan. Para kiai PWNU masih belum menunjukkan apresiasinya terhadap kitab fiqih dengan penulisan model baru ini, dan juga masih mempertanyakan mu’tabar atau tidak.

Dan ketika dirinya berkesempatan mengikuti bahtsul masail tingkat nasional - Pra Muktamar di Sukabumi 1990 - dalam komisi yang penulis menjadi anggota? tidak ada satupun kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan.

Ketika memberikan jawaban tentang hukum jual beli jangkrik dengan menggunakan kitab ini sebagai rujukan, dan kebetulan berbeda dengan jawaban Kiai Mas Subadar dari Pasuruan dan para kiai lainnya yang menggunakan ma’khodz kitab-kitab kuning, maka jawabannya dikesampingkan.

Waktu itu, Kiai Aziz mencoba menyampaikan jawaban: “wa yashihhu baiul hasyarot wal hawam kal hayyat wal aqorib idza kana yuntafa’u bih” (dalam Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh). Sedangkan para kiai menggunakan jawaban: “fala yashihhu bai’ul hasyarot” (dalam Fathul Wahab) dan “wa ammas shororotu faharomun ala ashohhil wajhaini kal khunfusa’i” (dalam Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab).

Namun demikian, pada sidang pleno akhirnya jawaban dengan rujukan Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh juga dipakai.

Ketika Muktamar NU ke-31 berlangsung di Donohudan Boyolali pada tahun 2004, PBNU meminjam kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh miliknya. Kitab tersebut meskipun tergolong “kitab putih” telah diakui sebagai kitab yang mu’tabar oleh para ulama dan dapat dipakai sebagai rujukan dalam bahtsul masail tingkat nasional.

Karya-karya Syekh Wahbah juga kerap menjadi rujukan bagi berbagai komisi bahtsul masail, baik waqi’iyah (tentang peristiwa kasuistik), maudluiyah (tentang tema-tema tertentu), maupun qanuniyah (tentang perundang-undangan), termasuk pada Munas NU 2012 dan Muktamar Ke-33 NU belakangan ini. Karya master fiqih ini dirujuk lantaran dinilai menyediakan jawaban bagi persoalan kekinian yang jarang ditemukan di kitab-kitab klasik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

?

?

Sumber terkait : Pak Baidlowi, Pemrakarsa Pengenalan Kitab Putih di Kalangan Kiai NU (Majalah Serambi Al-Muayyad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Khutbah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 27 April 2008

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Nahdlatul, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 Maret 2008

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Produktivitas Nahdiyin Kalbar dalam penulisan buku tak perlu diragukan. Buktinya, Dr Ir H Gusti Hardiansyah M Sc GAM, Wakil Ketua PWNU Kalbar berhasil menerbitkan dua buku. Kedua buku itu berjudul REDD Peluang HPH Turunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK Kalbar.?

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

"Terbitnya dua buku ini sebagai bukti kemampuan Nahdiyin dalam penulisan buku. Dua buku ini sangat bagus karena berkaitan dengan upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca," kata Ketua PWNU Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie MTM di kediamannya, belum lama ini.

Dijelaskan M Zeet, selama ini yang namanya NU tak lari dari urusan agama. Namun, kalangan Nahdiyin di Kalbar, tak hanya bicara agama juga konsen bicara masalah lingkungan. Apa yang diperlihatkan Gusti Hardiansyah memperlihatkan nahdiyin memiliki sumber daya manusia andal berbicara lingkungan.

Buku REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) Peluang HPH (Hak Penguasaan Hutan) Menurunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK (Gas Rumah Kaca) Kalbar tulisan Gusti Hardiansyah merupakan karya fenomenal. Sebab, jarang penulis ? menerbitkan buku di bidang emisi gas rumah kaca. Kalau buku bicara tentang agama memang banyak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebagai Ketua NU, saya bangga atas karya buku yang dipersembahkan oleh Gusti Hardiansyah. Karya buku itu diharapkan bisa menjadi referensi bagi perusahaan pemilik HPH maupun seluruh Pemda di Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca," harap M Zeet yang juga Sekda Kalbar.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Buku tersebut sejalan dengan Keputusan Presiden yang komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen tahun 2020. Gusti secara detail memberikan gambaran umum tentang cara bagi pemerintah daerah maupun masyarakat luas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.?

"Harapan saya, tak hanya Gusti yang berdedikasi tinggin untuk penyelamatan lingkungan hidup, melainkan juga Nahdliyin lainnya. Semakin banyak Nahdliyin memperlihatkan karya nyata, saat itulah kiprah NU semakin dirasakan oleh masyarakat," ujar M Zeet.

Di tempat sama, Gusti merasa senang bukunya disambut baik oleh M Zeet. Dua buku tersebut buah karya nya yang selama ini bergelut dengan kehutanan di Kalbar. Dia berharap, bukunya tersebut bisa memberikan pencerahan bagi pemilik HPH, Pemda, pemerhati lingkungan, dan masyarakat luas.

"Sebagai Nahdliyin, buku tersebut saya persembahkan untuk Indonesia. Semoga memberikan manfaat besar bagi Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya," harap Gusti yang juga Dosen Fakultas Kehutanan Untan Pontianak ini.?

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Halaqoh, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 14 Maret 2008

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko

Rabat, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap daerah memiliki ciri khasnya dalam menyambut Ramadhan dan lailatul qadar. Praktek Ramadhan dalam kontek Maroko adalah pengalaman yang sangat menyenangkan di mana disana dapat ditemui tradisi khas, masakan lezat, dan semangat solidaritas yang tinggi.

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko

Setiap bulan Ramadhan Maroko mempunyai tradisi unik yang tidak ditemukan di negara-negara lain, diantaranya adalah “pengajian raja” yang disebut dengan durus hasaniyyah hingga saat ini masih tetap eksis. Pengajian tersebut diadakan oleh Raja Maroko yang dilaksanakan seminggu sekali selama bulan Ramadhan. Kali ini ada dua perwakilan dari Indonesia yang menghadiri acara ini. Pertama Dr KH Hamdan Rasyid, MA (ketua MUI DKI Jakarta) dan Prof Dr Amsal Bakhtiar MA (Purek UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Adapun orang Indonesia yang pertama kali menghadiri undangan raja tersebut adalah Dr KH Said Aqil Siroj pada tahun 2010.

Tradisi unik lainnya yang melibatkan semua lapisan masyarakat Maroko adalah tatkala menyambut datangnnya malam lailatul qadar, jutaan orang Maroko mencurahkan sebagian besar waktu mereka untuk memperbanyak doa dan membaca Al-Quran selama lailatul qadar, acara ini diperingati setiap malam ke 27. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Umumnya, para orang tua menyuruh anak-anaknya yang masih berumur 5 sampai 10 tahun untuk memakai pakaian tradisional dan pergi ke negafa. Negafa adalah wanita yang mempersiapkan baju pengantin untuk pernikahan. Dia memiliki semua pakaian jenis tradisional, pakaian lokal dan internasional serta aksesoris untuk menghias pengantin wanita. Setelah didandani layaknya pasangan pengantin kemudian dilanjutkan dengan foto keluarga dan sanak famili.  Saat ini, banyak keluarga cenderung pergi ke studio foto yang sudah menyediakan pakaian tradisional dengan komplit agar tidak mengeluarkan banyak biaya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan semacam ini untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan dilanjutkan mendatangi tempat kerumunan orang banyak dan tempat-tempat umum lainnya seperti taman-taman yang berada di samping jalan raya sehingga mengakibatkan jalanmya arus lalu lintas menjadi macet.

Acara ini berlangsung sampai adzan maghrib tiba, setelah buka bersama warga kembali berduyun-duyun mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat isya dan taraweh berjamaah. Mulai shaf paling depan hingga kebelakang tak ada satupun yang kosong , banyaknya jamaah malam itu menjadikan pelataran masjid dipenuhi oleh jamaah tarawih, bahkan tidak sedikt yang menjadikan taman-taman di sekitar masjid di jadikan sebagai tempat untuk sholat. 

Setelah selesai sholat taraweh mereka tidak langsung pulang, hanya anak-anak kecil yang disuruh pulang ke rumah, sementara orang tuannya beri’tikaf di masjid sampai jam 02.00 malam. Inilah tradisi orang Maroko saat menyambut malam lailatul qodar.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El Ghezwa 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 12 Maret 2008

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang, Bogor melaksanakan kegiatan tadabur alam sekaligus evaluasi Maulid Nabi dan Harlah NU Ke-91 bertempat di Villa Cengkoang, Gunungsalak Endah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/2).?

Tadabur alam ini diikuti oleh puluhan anggota dan kader PMII Komisariat STAINU Jakarta. Kegiatan dibuka dengan membaca Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Ketua PMII Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang Imam Shodiqul Wadi mengatakan, banyaknya dinamika organisasi, baik konflik horizontal antar sesama kader maupun konflik-konflik lainya harus dimininalisir sedini mungkin.

"Dengan kegiatan tadabur alam ini kita jadikan ajang untuk mempererat rasa kekeluargaan antar sesama kader PMII seperti yang tertera dalam kalimat Mars PMII yang sangat mengajarkan kita sebuah rasa kebersamaan yaitu Satu Angkatan dan Satu Jiwa," ujar Imam.

Sementara, Ketua Pelaksana, Reyhan el-Jinan mengatakan, kegiatan tadabbur alam tersebut sekaligus rapat evaluasi peringatan Mailid Nabi dan Harlah ke-91 NU yang beberapa hari yang lalu dilakukan oleh pengurus komisariat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pada era saat ini terkadang mahasiswa lebih memilih hal-hal yang praktis dan tak mau berbelit-belit padahal evaluasi pasca acara sangatlah penting karena kita bisa mempelajari kesalahan dan menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya," kata Reyhan.

Oleh karenanya, kata Reyhan, mahasiswa khusunya kader PMII dituntut untuk menjadi pionir di masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian saat pulang ke rumah masing-masing.?

"Dengan demikian, dengan rapat evaluasi ini menunjukkan jika suatu kegiatan itu menunjukkan kualitasnya tersendiri," pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan yang dilakukan satu hari satu malam itu dimeriahkan dengan api unggun dan penampilan kreasi seni para kader-kader seperti stand up comedy, puisi dan kegiatan lainnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 15 Februari 2008

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka memperingati haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-4, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan “Sekolah Gus Dur: Mengenang Sang Jejer Pandita” di Padepokan LKiS, tanggal 18-19 Desember 2013.

Diskusi ini diikuti oleh ratusan kader PMII Rayon Ashram Bangsa dari berbagai angkatan dengan menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan warga NU. Narasumber yang hadir di antaranya, Hairus Salim, Jadul Maula, Mustafied, Nur Khalik Ridwan, Moch Shodiq dan Romel Masykuri.

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur

"Kami menyelenggarakan sekolah Gus Dur ini tidak hanya sebatas untuk mengenang jasa dan perjuangan Gus Dur bagi bangsa ini, lebih dari itu kami menginginkan generasi muda NU, terutama kader PMII dapat melestarikan dan meneruskan perjuangan Gus Dur bagi negeri ini," ujar Virkly Pardosi, Ketua PMII Rayon Ashram Bangsa dalam sambutannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih jauh Virkly mengungkapkan bahwa generasi muda PMII saat ini sudah mulai enggan mengkaji Gus Dur, baik dalam pemikirannya, maupun perjuangannya. Padahal, Gus Dur adalah sosok teladan ideal untuk dijadikan panutan bagi generasi PMII.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas dasar itulah, jelasnya, PMII Rayon Ashram Bangsa mengadakan forum kajian seputar Gus Dur. Diskusi ini berjalan dengan lancar hingga akhir acara, yang kemudian ditutup dengan penampilan hadrah oleh kader-kader PMII, dan menyaksikan film dokumenter tentang Gus Dur. (Prastia DJ/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Makam, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Februari 2008

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Jeddah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka datang dari keluarga besar jamaah Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) dan Nahdliyin di Arab Saudi. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi KH Muhammad Firdaus Abdul Manan wafat di Rumah Sakit Sulaiman Fakeh, Jeddah, Arab Saudi, disebabkan penyakit yang dideritanya.

Sebelumnya Kiai Firdaus menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit, hingga akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (20/8), pukul 7.30 pagi waktu Arab Saudi.

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Almarhum mengemban amanah sebagai rais syuriyah PCINU Arab Saudi setelah terpilih pada konferensi cabang istimewa II pada Juni 2014. Pria kelahiran kota Malang 26 Juni tahun 1962 ini sudah 15 tahun bermukim di Arab Saudi dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan di Masjid Indonesia Jeddah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia meninggalkan seorang istri dan 3 anak putri serta 2 anak putra. Keluarga bersepakat almarhum dikebumikan di Al Asad, pekuburan tertua di Jeddah setelah pekuburan Ummina Hawa di Bab Makkah District.

Ketua PCINU Arab Saudi Ahmad Fuad serta Acting Konsulat Jendral RI Jenddah Dicky Yunus, para sahabat, ikut mendampingi keluarga mengantarkan almarhum ke pemakaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semoga almarhum KH Firdaus Abdul Manan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya, diampuni segala kekhilafan di terima semua amal kebaikan dan khusnul Khotimah. Amin. (Thobibuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Berita, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 Februari 2008

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, Rabu (27/4) malam memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-93 NU di Desa Gili Ketapang Kecamatan Sumberasih. Dimana desa ini merupakan satu-satunya desa yang ada di pulau kecil di Kabupaten Probolinggo.

Peringatan harlah di pulau ngambang ini diikuti oleh segenap jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah se-MWCNU Kecamatan Sumberasih. Tidak ketinggalan pula para Ketua Ranting NU se-Kecamatan Sumberasih.

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Harlah, Wasilah untuk Hargai Perjuangan Pendiri NU

Ketua MWCNU Sumberasih Hamim mengungkapkan bahwa peringatan harlah NU ditempatkan di tengah-tengah pulau kecil dengan harapan mampu menambah kekhusyu’an dalam mengikuti istighotsah dan pembacaan sholawat.

“Disini kita benar-benar akan merasa sangat kecil di hadapan Allah. Bagaimana tidak, berjalan sedikit ke utara, selatan, timur dan barat akan langsung bertemu dengan laut,” katanya.

Menurut Hamim, dengan mengadakan harlah ini diharapkan nantinya Nahdliyin bisa menjadi warga yang peduli dan menghargai perjungan para pendiri NU. Dengan demikian akan menambah semangat dan motivasi dalam mengabdi kepada organisasi dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dengan mengambil hikmah harlah, semoga kita mendapatkan barokah dari para pendiri NU. Harapannya warga NU menjadi warga yang peduli dan menghargai serta bisa bersyukur atas lahirnya NU sehingga dapat berbuat dan berjuang untuk melanjutkan perjungan pendiri NU,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 02 Januari 2008

Transformasi Pendidikan Madrasah

Oleh Ruchman Basori



Menghilangkan kesan bahwa madrasah bukan pendidikan kelas dua tidaklah perkara mudah. Walaupun kadang pembandingnya tidak seimbang. Satu sisi sekolah dikatakan lebih unggul dari madrasah, padahal negeri ini jelas-jelas hampir tidak pernah absen memperhatikan lembaga jenis ini di samping karena sifat dan karakter madrasah berbeda dengan sekolah. Sementara madrasah baru diperhatikan secara serius utamanya setelah dikeluarkannya UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, itupun belum merambah pada keseluruhan aspek yang dibutuhkan bagi keadilan perlakukan pendidikan di negeri ini.

Kesan kumuh, terbelakang dan marginal mungkin lebih pas disematkan kepada madrasah kala itu. Karena memang para pendiri madrasah mengorientasikan pendirian madrasah untuk kalangan masyarakat yang kurang mampu. Berada di kampung, sulit akses, dan berprinsip pada education for all, jauh sebelum PBB menjadikannya sebagai slogan memperbaiki hajat pendidikan untuk seluruh warga dunia.

Transformasi Pendidikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Transformasi Pendidikan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Transformasi Pendidikan Madrasah

Kini kondisi madrasah tidak lagi dipandang sebelah mata. Tidak sedikit orang tua merasa kecewa karena anaknya tidak diterima di bangku madrasah akibat persaingan yang cukup ketat. Banyak laporan yang dialamatkan kepada Direktorat Pendidikan Madrasah yang dipimpin Prof. Dr. Nur Kholis Setiawan bahwa madrasah mulai kewalahan menampung animo masyarakat. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan banyaknya pengajuan ruang kelas baru.

Transformasi dari madrasah pinggiran menjadi madrasah kelas menengah. Dari madrasah kumuh menjadi madrasah kukuh, dari madrasah kelas dua menjadi madrasah pilihan utama. Tidak heran jika Direktorat Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI membuat slogan “Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”.

Meski demikian, untuk di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) masih terdapat madrasah yang baru pada tahap pencarian jati diri, kemudahan akses dan belum pada berpikir tentang mutu. Biasanya masalah yang dihadapi mereka adalah banyaknya gedung yang perlu direnovasi, daya saing yang kurang tinggi sampai isu putus sekolah karena ketidakmampan pembiayaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tulian ini akan difokuskan pada ikhtiar Kementerian Agama RI membangun 20 Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN-IC) di Indonesia. Madrasah dengan berjibun prestasi, madrasah dengan pencetak kader hibrida (unggul) di tengah persaingan lembaga pendidikan. MAN IC merupakan Madrasah dengan sistem berasrama (boarding school) yang kini mampu menjadi pesaing sekolah-sekolah hebat di negeri ini. Madrasah dengan sumbu akademik dan riset yang mencoba disuguhkan di tengah keterbatasan pendanaan yang terus diperjuangkan.

Bonus Demografi

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tahun 2035 Indonesia akan mendapat berkah demografi? dari total seluruh penduduk Indonesia yang berada pada usia produktif (15-64 tahun). Berkah ini harus mendapat perhatian, khususnya dengan peningkatan layanan pendidikan yang memadai.

Di bidang ekonomi, berdasarkan survei the Mc Kinsey Global Institute, di tahun 2035 Indonesia diprediksi bakal menempati peringkat ke-7 ekonomi dunia, setelah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil, dan Rusia. Pada saat yang sama, perekonomian Indonesia akan ditopang oleh empat sektor utama: bidang jasa, pertanian, perikanan, serta energi. Bangsa Indonesia harus mulai mempersiapkan sejak sekarang karena kebutuhan tenaga terampil akan meningkat dari 50 juta menjadi 113 juta orang pada periode tersebut.

Bonus demografi penduduk Indonesia dan ramalan the McKinsey Global Institute di atas, akan mengantarkan kepada “Indonesia Emas”, piranti utamanya adalah bagaimana kita bisa berbenah diri meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas akses pada pendidikan bermutu, tak terkecuali pendidikan madrasah.

Sadar akan peluang dan tantangan tersebut, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, menyiapkan anak-bangsa yang unggul (hibrida) dengan mendisiminasikan keunggulan MAN Insan Cendekia yang telah ada yaitu MAN IC Serpong, MAN IC Gorontalo dan MAN IC Jambi dikembangkan dan diperluas di 20 Provinsi. Ini langkah berani dan brillian para pemimpin pada Kementerian Agama RI dalam hal meningkatkan mutu madrasah.

Adalah Bacharuddin Jusuf Habibi (BJ Habibi), mantan Presiden ke-3 RI melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi? (BPPT) menginisiasi pendirian sekolah yang memadukan antara sistem persekolahan dengan sistem pondok pesantren/berasrama (boarding school) sekitar dekade 1996-an. Lembaga pendidikan yang bertujuan menciptakan manusia Indonesia yang unggul tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tetapi juga iman dan takwa (IMTAK), selaras dengan semangat para cendekiawan muslim waktu itu. Lalu dipilihlah nama Sekolah Menengah Atas Insan Cendekia (SMA IC) yang kemudian didirikan di Serpong Tangerang Selatan dan Gorontalo.

Dalam perkembangannya untuk menjamin kesinambungan (sustanibility) dan eksistensi SMA IC dambaan tersebut, SMA IC Serpong dan Gorontalo pengelolaanya diserahkan kepada Kementerian Agama RI sekitar tahun 2000. Kementerian Agama mentransformasikan SMA IC menjadi Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) sesuai dengan tugas dan fungsi (Tusi) mengembangkan pendidikan madrasah dan faktor filosofis-idiologis untuk kepentingan umat. Sekitar tahun 2009 Kementerian Agama menambah satu lagi MAN IC yaitu di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi.

Dalam beberapa dokumen tertulis yang penulis baca, kehadiran MAN Insan Cendekia dilatar belakangi oleh beberapa hal, yaitu: Pertama, masih adanya kesenjangan antara madrasah yang diidealkan masyarakat dengan realitas sebagian besar madrasah yang belum memiliki keunggulan komparatif. Kehadiran madrasah yang mampu mempersiapkan manusia unggul dalam arti menguasai bidang sains dan teknologi, memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spiritual (IESQ), dan sosial secara terpadu, merupakan keniscayaan. Kedua, membuka akses yang lebih luas kepada masyarakat akan lembaga pendidikan Islam yang bermutu tinggi, yang dapat menampung dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal dan terpadu, berkeunggulan lokal, dan berdaya saing global dengan biaya yang terjangkau.

Ketiga, mengembangkan lembaga pendidikan Islam yang dapat dijadikan model dan contoh (uswah hasanah) bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya yang ada di daerah; Keempat, mewujudkan ‘teacher resources center’ yang berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pendidik dan kependidikan madrasah di provinsi lokasi MAN IC. Kelima, bentuk komitmen Kementerian Agama RI selaku institusi pendiri, pembina dan penanggung jawab lembaga pendidikan Islam untuk melaksanakan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Berkali-kali Kamarudin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam menyampaikan pentingnya pendidikan Islam di Indonesia sebagai kiblat pendidikan Islam dunia. Salah satu ikhtiarnya adalah menciptakan pendidikan Islam bermutu dan berdaya saing, MAN Insan Cendekia saya kira salah satu ikhtiar tangga mencapai misi tersebut. Dengan demikian berkah demografi penduduk mampu diberdayakan dalam konteks pendidikan Islam bukan malah menjadi petaka karena kita tidak mampu mengelola jumlah penduduk produktif di kelak kemudian hari.

?

Kader Hibrida

Transformasi madrasah menemukan momentumnya ketika para siswa MAN IC mampu menembus batas prestasi, tidak saja di lingkungan madrasah, namun melampaui sekolah-sekolah lain. Keberhasilan ini menghapus kesan bahwa madrasah yang digolongkan sebagai lembaga pendidikan kelas dua, miskin prestasi dan hanya mencetak siswa paham agama (tafaqquh fiddin) terbantahkan.

Prestasi demi prestasi telah diukir oleh MAN IC utamnya dua MAN IC di Serpong dan Gorontalo baik skala regional, nasional sampai ke kancah internasional. Bagi siawa MAN IC keiukutsertaan dalam ajang olimpiade sains seakan menjadi keharusan untuk menunjukan kepada dunia bahwa madrasah merupakan pendidikan lebih baik dari layanan pendidikan lainnya di negeri ini. Prestasi para siswa MAN IC telah membawa nama harum Indonesia di kancah Internasional, di Kanada, Taiwan Korea Selatan, Italia, Australia, Rusia, Polandia dan Denmark.

Muhammad Ahdillah Fadlila Dayajati, siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo terpilih menjadi salah satu duta Indonesia dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA). Ajang bergengsi tingkat dunia yang berlangsung di Magelang pada 26 Juli - 4 Agustus 2015. Sebelumnya dia berhasil meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional di Yogyakarta.

Nagita Gianty Annisa, siswa? MAN? IC Serpong bersama tiga teman lainnya dari sekolah berbeda berhasil meraih medali perunggu pada kompetisi ? International Biology Olympiad (IBO) di Aarthus, Denmark digelar 12-19 Juli 2015. Hanif Saifurrahman dari? MAN? Insan Cendikia Serpong berhasil memenangi lomba ? penulisan esai dengan tema “Masalah Lingkungan Hidup, Sosial dan Budaya” yang diselenggarakan Kedutaan Besar Amerika dan Yayasan Penerbit Lentera (2015) bersama empat siswa MAN? 4 Jakarta yang berhasil memenangi lomba yaitu Munawar Aidil (Mengatasi Kecemburuan Sosial antara Gojek dan Tukang Ojek Pengkolan), Putri Suryani (Rusaknya Hutan dan Permasalahan yang Menggunung), dan Kevina Florensia (Kota Bersih dengan Pemain Basket Amatir).

Sementara pada ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional (OSN)? oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam lima tahun terakhir mandrasah mampu merebut medali emas. Misalkan pada OSN XII? 2013 di Bandung tidak kurang dari 21 Siswa Madrasah meraih medali OSN. Empat medali emas diantaranya di raih oleh siswa MAN? IC Serpong dan? MAN? IC Gorontalo. Sudah tak terhitung lagi berapa siswa yang masuk final dalam ajang OSN bersaing dengan anak-anak bangsa lainnya.

Direktorat Pendidikan Madrasah mencatat, beberapa alumni MAN IC telah diterima di perguruan tinggi ternama di Luar Negeri seperti, di Malaysia, Singapura, Qatar, Mesir, Jepang, Taiwan, Australia, Belanda, Rusia, Jerman dan negara-negara lain. Sementara hampir 98% siswa/i MAN IC mampu bersaing memasuki PTN bergengsi di tanah air seperti UI, ITB, UGM, IPB, ITS, UNAIR dan sebagainya.

Raihan prestasi yang dicapai MAN IC ini dapat dikatakan sebagai bukti keberhasilan menciptakan “kader hibrida”. Kader unggul, kader multitalenta sebagai kebanggaan bersama. MAN Insan Cendekia dengan demikian merupakan tempat bersemainya kader-kader bangsa yang tidak saja cerdas intelektualnya tetapi, cerdas emosional dan spiritualnya.

Dengan sistem boarding school memungkinkan tergalinya pelbagai potensi yang dimiliki oleh para siswa. Pada saat yang sama kader hibrida harus mampu menjadi suri tauladan (model) dalam berfikir, bertindak dan berperilaku mengejawantahkan tugas-tugas sebagai hamba (‘abdun) dan pemimpin Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ard) sesuai namanya yaitu insan cendekia.

Kader Hibrida ala MAN Insan Cendekia juga harus mampu mengisi ruang kosong sebagai manusia Indonesia yang berkarakter dan berbudaya yang pada gilirannya sebagai pencipta peradaban. Sosok penjaga moral, creator, inventor dan innovator adalah juga cerminan dari kader hibrida yang dibutuhkan sebagai produk keunggulan pendidikan Islam.

Kisah sukses (best practice) ketiga MAN IC dengan berjibun prestasi dan keunggulan layanan tersebut didesiminasikan oleh Kementerian Agama dengan mendirikan 20 MAN IC dengan menggandeng Pemerintah Daerah untuk bersama-sama berkomitmen mempersiapkan generasi hibrida. Salah satu butir komitmen Pemda yang dituangkan dalam MoU dengan Kementerian Agama RI dalam pendrian MAN IC adalah menyediakan tanah sekurang-kurangnya 10 Ha, membangun infra struktur jalan, akses air bersih, listrik dan pagar keliling. Semantara ada beberapa Pemda yang menyediakan beasiswa bagi putra-putri MAN IC terutama yang berasal dari daerahnya.

Dari 20 MAN IC yang dibangun 6 diantaranya telah beroperasi melakukan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun pelajaran 2015 yaitu MAN IC Aceh Timur, Siak Riau, OKI Sumatera Selatan, Bangka Tengah Kep. Bangka Belitung, Paser Kalimantan Timur dan Kota Pekalongan Jawa Tengah.

Sambil memperkuat monitoring dan quality control atas 9 MAN IC yang telah eksis, baik dalam hal kurikulum dan evaluasi pembelajaran, kapasitas dan komitmen PTK, kegiatan pengembangan kepesantrenan serta kultur akademik, Kemenag mempersiapkan 8 MAN IC yang telah siap melakukan PPDB pada tahun pelajaran 2016 yaitu MAN IC Papua Barat, Kendari Sultera, Palu Sulteng, Sambas Kalbar, Tanah Laut Kalimantan Timur, Kota Batam Kepri, Padang Pariaman Sumbar, dan Bengkulu Tengah Bengkulu.

Saya optimis dengan munculnya MAN IC di berbagai provinsi sebagai sumbu intelektual-religius yang menjamin berkembangnya beragam kecerdasan (multiple intelligence) anak-anak bangsa ini terlayani dengan baik akan tersedianya madrasah bermutu. Dengan demikian ikhtiar menciptakan Kader Hibrida ala MAN Insan Cendekia dapat segera terwujud.



Sekretaris Jenderal PMU MAN Insan Cendekia Kementerian Agama RI dan kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kyai, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah