Selasa, 29 April 2008

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kabar wafatnya Ulama asal Suriah Syekh Wahbah Az-Zuhaili, belum lama ini (8/8), menjadi kehilangan tersendiri bagi dunia keilmuan Islam, khususnya di bidang fiqih. Seperti yang telah banyak diketahui, Syekh Wahbah merupakan salah satu ulama terkemuka asal Suriah di abad ini, anggota Dewan Fiqh di Makkah, Jeddah, India, Amerika dan Sudan.

Ia juga dikenal sebagai seorang cerdik cendikia (alim allamah) yang menguasai berbagai disiplin ilmu (mutafannin). Seorang ulama fiqih kontemporer peringkat dunia, pemikiran fiqihnya menyebar ke seluruh dunia Islam melalui kitab-kitab fikihnya.

Terdapat sebuah kisah tersendiri berkaitan dengan salah satu kitab karyanya, Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh. Seperti yang diceritakan salah satu pengajar di Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, Kiai Abdul Aziz Ahmad.

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan “Kitab Putih” Syekh Wahbah Hingga Muktamar NU

Kitab tersebut termasuk “kitab putih” (al Kutubul Ashriyah) atau kitab-kitab karya ulama sekarang yang metode penulisannya mengikuti kaidah modern, yang memuat perbandingan madzhab dan pada beberapa permasalahan juga dipaparkan beberapa pendapat madzhab selain madzhab empat.

Kiai Aziz mengisahkan, persentuhan dengan kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh berawal dari alm. KH Baidlowi (pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Brabo) yang kala itu masih tinggal di Pesantren Al-Muayyad.

“Pak Baidlowi dengan semangat menunjukkan kitab yang terdiri dari delapan jilid besar itu dan menjelaskan keistimewaannya. Misalnya, kitab tersebut menggunakan redaksi yang mudah difahami, rangkaian kalimatnya sederhana dan sistematikanya sesuai dengan kaidah kontemporer. Isinya adalah tentang fiqih dari semua madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) yang disertai proses penyimpulan hukum (istinbathul ahkam) dari sumber-sumber Hukum Islam baik yang naqli maupun yang aqli,” ungkap Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Karena bagusnya kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh, Pak Baidlowi sangat menganjurkan para calon ulama atau para kiai mau membaca, mempelajari dan memilikinya. Atas anjuran tersebut, Kiai Aziz menjadi tertarik untuk membaca, mempelajari dan memilikinya. Akhirnya ia berhasil memiliki kitab tersebut seharga Rp 330.000.

Rujukan Bahtsul Masail

Setelah memiliki kitab karya Syekh Wahbah itu, ia menjadikannya untuk rujukan setiap ada kegiatan bahtsul masail di kalangan NU atau MUI. Termasuk, ketika PCNU Surakarta sedang giat-giatnya mengadakan bahtsul masail antara tahun ? 1997 hingga 2004.

“Mbah Kiai Abdurrochim, Mbah Kiai Daimul Ihsan, Mbah Kiai Abdul Wahab Shiddiq, Mbah Kiai Dasuki, Mbah Kiai Abdullah Asy’ari, dan para kiai sepuh lainnya, pada awalnya masih mempertanyakan apakah kitab ini mu’tabar dan bisa dijadikan rujukan atau tidak,” kata Kiai Aziz.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun setelah beberapa kali ia menunjukkan kepada beberapa kiai tersebut, khususnya Mbah Kiai Abdurrochim dan Mbah Kiai Daimul Ihsan, ternyata mereka sangat menyukai kitab ini. Bahkan beberapa kali mereka meminjam kitab tersebut untuk dipelajari (muthola’ah).

Pada waktu yang sama, ketika sering mengikuti forum bahtsul masail di tingkat PWNU Jawa Tengah, ia melihat belum ada kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan. Para kiai PWNU masih belum menunjukkan apresiasinya terhadap kitab fiqih dengan penulisan model baru ini, dan juga masih mempertanyakan mu’tabar atau tidak.

Dan ketika dirinya berkesempatan mengikuti bahtsul masail tingkat nasional - Pra Muktamar di Sukabumi 1990 - dalam komisi yang penulis menjadi anggota? tidak ada satupun kiai yang menggunakan kitab ini sebagai rujukan.

Ketika memberikan jawaban tentang hukum jual beli jangkrik dengan menggunakan kitab ini sebagai rujukan, dan kebetulan berbeda dengan jawaban Kiai Mas Subadar dari Pasuruan dan para kiai lainnya yang menggunakan ma’khodz kitab-kitab kuning, maka jawabannya dikesampingkan.

Waktu itu, Kiai Aziz mencoba menyampaikan jawaban: “wa yashihhu baiul hasyarot wal hawam kal hayyat wal aqorib idza kana yuntafa’u bih” (dalam Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh). Sedangkan para kiai menggunakan jawaban: “fala yashihhu bai’ul hasyarot” (dalam Fathul Wahab) dan “wa ammas shororotu faharomun ala ashohhil wajhaini kal khunfusa’i” (dalam Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab).

Namun demikian, pada sidang pleno akhirnya jawaban dengan rujukan Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh juga dipakai.

Ketika Muktamar NU ke-31 berlangsung di Donohudan Boyolali pada tahun 2004, PBNU meminjam kitab Al Fiqhul Islamy Wa Adillatuh miliknya. Kitab tersebut meskipun tergolong “kitab putih” telah diakui sebagai kitab yang mu’tabar oleh para ulama dan dapat dipakai sebagai rujukan dalam bahtsul masail tingkat nasional.

Karya-karya Syekh Wahbah juga kerap menjadi rujukan bagi berbagai komisi bahtsul masail, baik waqi’iyah (tentang peristiwa kasuistik), maudluiyah (tentang tema-tema tertentu), maupun qanuniyah (tentang perundang-undangan), termasuk pada Munas NU 2012 dan Muktamar Ke-33 NU belakangan ini. Karya master fiqih ini dirujuk lantaran dinilai menyediakan jawaban bagi persoalan kekinian yang jarang ditemukan di kitab-kitab klasik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

?

?

Sumber terkait : Pak Baidlowi, Pemrakarsa Pengenalan Kitab Putih di Kalangan Kiai NU (Majalah Serambi Al-Muayyad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Khutbah, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 27 April 2008

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Di tengah pembicaraan kami mengenai riwayat hidup dan pengabdiannya bersama NU, Syaibani (79 tahun) sedikit mengenang masa mudanya, kala ia pernah terlibat bersama kawan-kawannya dalam sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama “Missi Islam”.

“Missi Islam ini didirikan oleh Pak Idham (KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU tahun 1952-1984, red) sekitar tahun 1961,” kenang Syaibani, saat ditemui di rumahnya, di daerah Pucangan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, belum lama ini.

KH Idham Chalid, sebagai pendiri lembaga Missi Islam menjadi ketua, didampingi H Anshary Syams (Sekretaris I) dan Danial Tandjung (Sekretaris II).

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dakwah Kaum Muda NU di Daerah Terpencil (1)

Missi Islam ini, lanjut Syaibani merupakan sebuah lembaga yang pendiriannya bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader muda NU untuk dikirimkan berdakwah ke daerah-daerah transmigrasi atau daerah-daerah minus Islam.

“Ketika itu saya sebagai staf pribadi KH Fattah Yasin, ditunjuk untuk menjadi salah satu koordinator. Gemblengan banyak dilakukan di pusat (Jakarta),” kata dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tambahan data yang penulis peroleh dari sumber lain, angkatan pertama Missi Islam dikirim ke Irian Jaya, menjelang Pepera (1961), sebanyak 8 orang. Angkatan selanjutnya menyebar ke Sorong, Merauke, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Gorontalo, NTT, Nias, dan sebagainya, dengan jumlah yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

“Beberapa dari para kader bahkan ada yang sukses mendirikan pesantren dan menetap di tempat ia dikirimkan,” ungkap Syaibani.

Banyak jasa yang berhasil ditorehkan lembaga ini. Di antara tokoh-tokoh NU yang pernah aktif di Lembaga Missi Islam adalah KH Idham Chalid, KH Saifuddin Zuhri, Anshary Syams, H. Danial Tanjung, Mr Suparman, Djawahir, Hisyam Zaini, dr Fahmi D Saifuddin, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Nuril Huda, Slamet Effendy Yusuf, Abdullah Syarwani, dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Sumber: Wawancara H Ahmad Syaibani Ilham (2015)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Nahdlatul, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 27 Maret 2008

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

Pontianak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Produktivitas Nahdiyin Kalbar dalam penulisan buku tak perlu diragukan. Buktinya, Dr Ir H Gusti Hardiansyah M Sc GAM, Wakil Ketua PWNU Kalbar berhasil menerbitkan dua buku. Kedua buku itu berjudul REDD Peluang HPH Turunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK Kalbar.?

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Kalbar Terbitkan Dua Buku

"Terbitnya dua buku ini sebagai bukti kemampuan Nahdiyin dalam penulisan buku. Dua buku ini sangat bagus karena berkaitan dengan upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca," kata Ketua PWNU Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie MTM di kediamannya, belum lama ini.

Dijelaskan M Zeet, selama ini yang namanya NU tak lari dari urusan agama. Namun, kalangan Nahdiyin di Kalbar, tak hanya bicara agama juga konsen bicara masalah lingkungan. Apa yang diperlihatkan Gusti Hardiansyah memperlihatkan nahdiyin memiliki sumber daya manusia andal berbicara lingkungan.

Buku REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) Peluang HPH (Hak Penguasaan Hutan) Menurunkan Emisi dan Turunkan Emisi GRK (Gas Rumah Kaca) Kalbar tulisan Gusti Hardiansyah merupakan karya fenomenal. Sebab, jarang penulis ? menerbitkan buku di bidang emisi gas rumah kaca. Kalau buku bicara tentang agama memang banyak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sebagai Ketua NU, saya bangga atas karya buku yang dipersembahkan oleh Gusti Hardiansyah. Karya buku itu diharapkan bisa menjadi referensi bagi perusahaan pemilik HPH maupun seluruh Pemda di Indonesia dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca," harap M Zeet yang juga Sekda Kalbar.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Buku tersebut sejalan dengan Keputusan Presiden yang komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen tahun 2020. Gusti secara detail memberikan gambaran umum tentang cara bagi pemerintah daerah maupun masyarakat luas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.?

"Harapan saya, tak hanya Gusti yang berdedikasi tinggin untuk penyelamatan lingkungan hidup, melainkan juga Nahdliyin lainnya. Semakin banyak Nahdliyin memperlihatkan karya nyata, saat itulah kiprah NU semakin dirasakan oleh masyarakat," ujar M Zeet.

Di tempat sama, Gusti merasa senang bukunya disambut baik oleh M Zeet. Dua buku tersebut buah karya nya yang selama ini bergelut dengan kehutanan di Kalbar. Dia berharap, bukunya tersebut bisa memberikan pencerahan bagi pemilik HPH, Pemda, pemerhati lingkungan, dan masyarakat luas.

"Sebagai Nahdliyin, buku tersebut saya persembahkan untuk Indonesia. Semoga memberikan manfaat besar bagi Kalbar khususnya dan Indonesia umumnya," harap Gusti yang juga Dosen Fakultas Kehutanan Untan Pontianak ini.?

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Halaqoh, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 14 Maret 2008

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko

Rabat, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap daerah memiliki ciri khasnya dalam menyambut Ramadhan dan lailatul qadar. Praktek Ramadhan dalam kontek Maroko adalah pengalaman yang sangat menyenangkan di mana disana dapat ditemui tradisi khas, masakan lezat, dan semangat solidaritas yang tinggi.

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengamati Perburuan Lailatul Qadar di Maroko

Setiap bulan Ramadhan Maroko mempunyai tradisi unik yang tidak ditemukan di negara-negara lain, diantaranya adalah “pengajian raja” yang disebut dengan durus hasaniyyah hingga saat ini masih tetap eksis. Pengajian tersebut diadakan oleh Raja Maroko yang dilaksanakan seminggu sekali selama bulan Ramadhan. Kali ini ada dua perwakilan dari Indonesia yang menghadiri acara ini. Pertama Dr KH Hamdan Rasyid, MA (ketua MUI DKI Jakarta) dan Prof Dr Amsal Bakhtiar MA (Purek UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Adapun orang Indonesia yang pertama kali menghadiri undangan raja tersebut adalah Dr KH Said Aqil Siroj pada tahun 2010.

Tradisi unik lainnya yang melibatkan semua lapisan masyarakat Maroko adalah tatkala menyambut datangnnya malam lailatul qadar, jutaan orang Maroko mencurahkan sebagian besar waktu mereka untuk memperbanyak doa dan membaca Al-Quran selama lailatul qadar, acara ini diperingati setiap malam ke 27. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Umumnya, para orang tua menyuruh anak-anaknya yang masih berumur 5 sampai 10 tahun untuk memakai pakaian tradisional dan pergi ke negafa. Negafa adalah wanita yang mempersiapkan baju pengantin untuk pernikahan. Dia memiliki semua pakaian jenis tradisional, pakaian lokal dan internasional serta aksesoris untuk menghias pengantin wanita. Setelah didandani layaknya pasangan pengantin kemudian dilanjutkan dengan foto keluarga dan sanak famili.  Saat ini, banyak keluarga cenderung pergi ke studio foto yang sudah menyediakan pakaian tradisional dengan komplit agar tidak mengeluarkan banyak biaya. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan semacam ini untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan dilanjutkan mendatangi tempat kerumunan orang banyak dan tempat-tempat umum lainnya seperti taman-taman yang berada di samping jalan raya sehingga mengakibatkan jalanmya arus lalu lintas menjadi macet.

Acara ini berlangsung sampai adzan maghrib tiba, setelah buka bersama warga kembali berduyun-duyun mendatangi masjid untuk melaksanakan sholat isya dan taraweh berjamaah. Mulai shaf paling depan hingga kebelakang tak ada satupun yang kosong , banyaknya jamaah malam itu menjadikan pelataran masjid dipenuhi oleh jamaah tarawih, bahkan tidak sedikt yang menjadikan taman-taman di sekitar masjid di jadikan sebagai tempat untuk sholat. 

Setelah selesai sholat taraweh mereka tidak langsung pulang, hanya anak-anak kecil yang disuruh pulang ke rumah, sementara orang tuannya beri’tikaf di masjid sampai jam 02.00 malam. Inilah tradisi orang Maroko saat menyambut malam lailatul qodar.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El Ghezwa 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 12 Maret 2008

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang, Bogor melaksanakan kegiatan tadabur alam sekaligus evaluasi Maulid Nabi dan Harlah NU Ke-91 bertempat di Villa Cengkoang, Gunungsalak Endah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/2).?

Tadabur alam ini diikuti oleh puluhan anggota dan kader PMII Komisariat STAINU Jakarta. Kegiatan dibuka dengan membaca Manakib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Manakib Syekh Abdul Qodir Iringi Tadabbur Alam PMII STAINU Jakarta

Ketua PMII Komisariat STAINU Jakarta Kampus Kemang Imam Shodiqul Wadi mengatakan, banyaknya dinamika organisasi, baik konflik horizontal antar sesama kader maupun konflik-konflik lainya harus dimininalisir sedini mungkin.

"Dengan kegiatan tadabur alam ini kita jadikan ajang untuk mempererat rasa kekeluargaan antar sesama kader PMII seperti yang tertera dalam kalimat Mars PMII yang sangat mengajarkan kita sebuah rasa kebersamaan yaitu Satu Angkatan dan Satu Jiwa," ujar Imam.

Sementara, Ketua Pelaksana, Reyhan el-Jinan mengatakan, kegiatan tadabbur alam tersebut sekaligus rapat evaluasi peringatan Mailid Nabi dan Harlah ke-91 NU yang beberapa hari yang lalu dilakukan oleh pengurus komisariat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pada era saat ini terkadang mahasiswa lebih memilih hal-hal yang praktis dan tak mau berbelit-belit padahal evaluasi pasca acara sangatlah penting karena kita bisa mempelajari kesalahan dan menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya," kata Reyhan.

Oleh karenanya, kata Reyhan, mahasiswa khusunya kader PMII dituntut untuk menjadi pionir di masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian saat pulang ke rumah masing-masing.?

"Dengan demikian, dengan rapat evaluasi ini menunjukkan jika suatu kegiatan itu menunjukkan kualitasnya tersendiri," pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan yang dilakukan satu hari satu malam itu dimeriahkan dengan api unggun dan penampilan kreasi seni para kader-kader seperti stand up comedy, puisi dan kegiatan lainnya. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 15 Februari 2008

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka memperingati haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-4, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan “Sekolah Gus Dur: Mengenang Sang Jejer Pandita” di Padepokan LKiS, tanggal 18-19 Desember 2013.

Diskusi ini diikuti oleh ratusan kader PMII Rayon Ashram Bangsa dari berbagai angkatan dengan menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan warga NU. Narasumber yang hadir di antaranya, Hairus Salim, Jadul Maula, Mustafied, Nur Khalik Ridwan, Moch Shodiq dan Romel Masykuri.

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Rayon Ashram Bangsa Diskusi soal Gus Dur

"Kami menyelenggarakan sekolah Gus Dur ini tidak hanya sebatas untuk mengenang jasa dan perjuangan Gus Dur bagi bangsa ini, lebih dari itu kami menginginkan generasi muda NU, terutama kader PMII dapat melestarikan dan meneruskan perjuangan Gus Dur bagi negeri ini," ujar Virkly Pardosi, Ketua PMII Rayon Ashram Bangsa dalam sambutannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih jauh Virkly mengungkapkan bahwa generasi muda PMII saat ini sudah mulai enggan mengkaji Gus Dur, baik dalam pemikirannya, maupun perjuangannya. Padahal, Gus Dur adalah sosok teladan ideal untuk dijadikan panutan bagi generasi PMII.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atas dasar itulah, jelasnya, PMII Rayon Ashram Bangsa mengadakan forum kajian seputar Gus Dur. Diskusi ini berjalan dengan lancar hingga akhir acara, yang kemudian ditutup dengan penampilan hadrah oleh kader-kader PMII, dan menyaksikan film dokumenter tentang Gus Dur. (Prastia DJ/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Makam, Kajian Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Februari 2008

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Jeddah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka datang dari keluarga besar jamaah Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) dan Nahdliyin di Arab Saudi. Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi KH Muhammad Firdaus Abdul Manan wafat di Rumah Sakit Sulaiman Fakeh, Jeddah, Arab Saudi, disebabkan penyakit yang dideritanya.

Sebelumnya Kiai Firdaus menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit, hingga akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (20/8), pukul 7.30 pagi waktu Arab Saudi.

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PCINU Arab Saudi Wafat

Almarhum mengemban amanah sebagai rais syuriyah PCINU Arab Saudi setelah terpilih pada konferensi cabang istimewa II pada Juni 2014. Pria kelahiran kota Malang 26 Juni tahun 1962 ini sudah 15 tahun bermukim di Arab Saudi dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan di Masjid Indonesia Jeddah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia meninggalkan seorang istri dan 3 anak putri serta 2 anak putra. Keluarga bersepakat almarhum dikebumikan di Al Asad, pekuburan tertua di Jeddah setelah pekuburan Ummina Hawa di Bab Makkah District.

Ketua PCINU Arab Saudi Ahmad Fuad serta Acting Konsulat Jendral RI Jenddah Dicky Yunus, para sahabat, ikut mendampingi keluarga mengantarkan almarhum ke pemakaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semoga almarhum KH Firdaus Abdul Manan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya, diampuni segala kekhilafan di terima semua amal kebaikan dan khusnul Khotimah. Amin. (Thobibuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Berita, Sholawat Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah