Selasa, 17 Juni 2014

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Mojokerto, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengajak seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Mojokerto untuk melakukan penanaman 1000 pohon di titik PAC yang tersebar di Mojokerto, Jumat (23/6). Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan alam.?

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mojokerto Ajak Para Kader Tanam Pohon

Bibit pohon tersebut merupakan hibah dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) berupa 1500 bibit pohon sengon, sirsak, dan jambu merah. Selain disebar di seluruh PAC, PC IPNU-IPPNU Mojokerto juga menggandeng Kampung Main Majapahit (Kamajo).?

Kamajo merupakan pusat penelitian implementasi permainan Majapahit dan pengembangan budidaya tanaman langka. Terdapat lahan seluas 2,1 hektar dengan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. PC.IPNU-IPPNU Mojokerto turut menyumbang bibit pohon dengan harapan nantinya Kamajo bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang memiliki beragam jenis pohon.?

"Kegiatan penanaman ini sangat tepat dilakukan di Kamajo, karena Kamajo mencoba untuk terus berupaya dalam mengembangkan budidaya aneka jenis tanaman langka," ujar Muhsinin selaku pengelola.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk melakukan kegiatan yang memiliki dampak positif kepada masyarakat luas. Salah satunya yaitu dengan mengikuti gerakan menanam 1000 pohon. Ramadhan bukan lagi menjadi alasan untuk bermalas-malasan, karena dengan apa yang kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi orang banyak maka pahala akan dilipatgandakan oleh-Nya," ujar Sofiyuddin Ketua PC.IPNU Mojokerto. Oleh karena itu program ini dirasa sangat mendukung tumbuhnya lingkungan yang asri di kawasan Mojokerto. (Nuruddin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 12 Juni 2014

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam

Saadnayel, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam menghadapi musim dingin yang keras, pengungsi Suriah hanya dapat berlindung di tenda-tenda plastik di wilayah Saadnayel Lebanon Selatan.

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengungsi Suriah Hadapi Musim Dingin yang Kejam

"Saya lebih baik mati sejuta kali daripada hidup dalam kondisi dihinakan seperti ini,” kata Faisal, (48) kepada Agence France Presse (AFP) Kamis, (12/12).

Faisal adalah satu dari 500 pengungsi yang tidak terlindungi dalam menghadapi badai musim dingin yang sangat keras yang terjadi beberapa hari lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti ratusan ribu pengungsi lainnya, ayah dari empat anak ini terpaksa mengungsi dari rumahnya di Suriah utara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam tenda pengungsian, tidak terdapat pemanasan yang memadai untuk mengatasi badai yang sangat menusuk tulang.

"Ketika terjadi hujan salju, air yang mencair masuk meruntuhkan tenda karena bertanya salju,” kata Sakr (13).

? Anak-anak lainnya, beberapa diantaranya tidak menggunakan topi sama sekali, bersin-bersin dan menggosok tangan mereka yang membeku bersama-sama. Sepatu mereka dipenuhi lumpur.

"Berikan kami sesuatu untuk membuat kami hangat,” kata mereka pada sekelompok wartawan.

Di tenda lain, laki-laki dan perempuan memeluk dan membelai bayi-bayi mereka untuk mentransfer kehangatan tubuh mereka pada bayi.

Beberapa pengungsi harus menggunakan apa saja untuk mengatasi dinginnya udara.

"Kami harus membakar sepatu untuk menjaga kehangatan karena tidak ada yang lain yang bisa digunakan,” kata Najla (40).?

PBB mengkonfirmasi kondisi ini sangat memerlukan perhatian agar para pengungsi dapat mengatasi musim yang mengerikan ini.

"Kami khawatir karena udara benar-benar dingin di wilayah Bekaa, dan kami sangat khawatir kondisi pemukiman pengungsian karena banyak diantaranya dibawah standar,” kata juru bicara The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) Lisa Abou Khaled.

UNHCR dan tentara Lebanon telah membagi-bagikan selimut hangat dan uang untuk membeli bahan bakar penghangat.

Paling tidak 125,835 meninggal sejak konflik Suriah, menurut Syrian Observatory for Human Rights yang diumumkan minggu lalu.

Konflik tersebut menyebabkan lebih dari dua juta rakyat Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga, selain dua juta lainnya yang terpaksa pindah ke tempat lain di dalam negeri. (onislam/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Khutbah, Lomba, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 05 Juni 2014

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

Oleh Suwendi



PAI (Pendidikan agama Islam) pada PTU (Perguruan Tinggi Umum) memiliki peran yang sangat strategis, baik pada pemenuhan kompetesi mahasiswa yang beragama Islam untuk menjalankan fungsinya sebagai seorang Muslim, maupun dalam konteks kaderisasi pembangunan bangsa. Sebagai seorang Muslim, mahasiswa perlu diberikan layanan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan PAI yang memadai guna menjalankan segala kewajiban dan peranan dirinya sebagai Muslim. Demikian juga, wawasan dan komitmen kebangsaan bagi mahasiswa juga perlu diberikan secara cukup sehingga pada gilirannya lulusan PTU mampu berkiprah dalam membangun bangsa dan memiliki integritas nasionalisme yang tinggi.

Dengan demikian, kompetensi keagamaan Islam dan semangat nasionalisme menjadi barometer atas keberhasilan layanan PAI pada PTU dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen PAI pada PTU. Untuk itu, institusi PTU dan utamanya dosen PAI pada PTU dituntut untuk dapat memberikan fasilitasi dan proses pembelajaran PAI secara maksimal sehingga para lulusannya yang beragama Islam memiliki dua kompetensi sekaligus itu, yakni keislaman dan kebangsaan.

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalan Dosen PAI pada Perguruan Tinggi Umum

PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan mengamanatkan bahwa Kementerian Agama menjadi leading sector atas pelayanan pendidikan agama dan pendidikan keagamaan itu, tak terkecuali pendidikan agama Islam pada PTU. Oleh karenanya, kita patut memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah melahirkan PMA (Peraturan Menteri Agama) Nomor 42 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja (Ortaker) Kementerian Agama dan membuat salah satu unit kerja baru di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yakni lahirnya Sub Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (Subdit PAI pada PTU) pada Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit. PAI).

Selain Subdit PAI pada PTU, dalam ortaker tersebut tetap mempertahankan Subdit PAI untuk mulai jenjang usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, yakni Subdit PAI pada PAUD, Subdit PAI pada SD, Subdit PAI pada SMP, dan Subdit PAI pada SMA. Hanya saja, Subdit PAI pada SMK yang sebelumnya tersendiri kini melebur dengan Subdit PAI pada SMA. Kelahiran subdit-subdit ini mencerminkan bahwa pelayanan Pendidikan Agama Islam (PAI) mulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah hingga jenjang pendidikan tinggi diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Tentu saja, capaian yang diharapkan atas sejumlah subdit itu adalah secara struktural dapat memfasilitasi atas ketercapaian pembelajaran PAI yang berorientasi pada dua kompetensi di atas, yakni keislaman dan kebangsaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sungguhpun demikian, Kemenristek Dikti telah melakukan upaya dan kebijakan yang cukup baik dalam melakukan pelayanan PAI pada PTU, meski perlu diakui tidak sebesar sebagaimana kebijakan atas pelayanan mata kuliah umum. Sejauh ini, penyelenggaraan PAI pada PTU didasarkan atas Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas Nomor: 43/DIKTI/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Dalam keputusan itu, mata kuliah PAI ada PTU menjadi salah satu dari komponen MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian) dengan bobot 2 SKS. Dapat dimaklumi, porsi 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini bisa jadi linier dengan bobot mata pelajaran PAI pada sekolah yang mendapatkan alokasi 2 atau 3 jam pelajaran saja.?

Sebagaimana dimaklumi, bobot 2 SKS untuk mata kuliah PAI ini menjadi tantangan serius bagi dosen PAI pada PTU. Dosen PAI pada PTU dituntut untuk mampu melakukan serangkaian pendekatan dan proses pembelajaran agar dengan bobot 2 SKS itu dapat menghadirkan kompetensi mahasiswa yang mampu menjalankan kewajiban dan peran dirinya sebagai Muslim, di samping berintegritas kebangsaan yang baik.

Berdasarkan data PPDIKTI (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) Kemenristek-Dikti tahun 2017, jumlah perguruan tinggi umum secara total berjumlah 4.490 lembaga, yang terdiri atas Akademi sejumlah 1.101 lembaga, Politeknik sebanyak 250 lembaga, Sekolah tinggi berjumlah 2.433 lembaga, Institut sebanyak 148 lembaga, dan Universitas sejumlah 558 lembaga. Pada PTU itu, ada sebagian kecil yang memiliki Fakultas Agama Islam, yang pengelolaan dosennya diakomodasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama. Sementara dosen PAI pada PTU masih mengalami bias yang luar biasa. Untuk jumlah dosen PAI pada PTU, data yang diterima dari ADPISI (Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia) menunjukkan bahwa dosen PAI pada PTU yang sudah terdata baru sekitar 446 dosen dari seluruh perguruan tinggi. Tentu jumlah ini menunjukkan masih banyaknya dosen PAI pada PTU yang belum terdata, sebab 446 dosen itu tidak memungkinkan untuk dapat mengajar pada 4.490 PTU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sejumlah amatan, pengangkatan dosen PAI pada PTU setidaknya terdapat 4 (empat) pola, yakni [1] PNS yang diangkat oleh Kementerian Agama sebagai dosen Dpk (diperbantukan); [2] PNS yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti; [3] Diangkat oleh Pemerintah Daerah; dan [4] Diangkat sebagai dosen kontrak oleh PTU yang bersangkutan. Empat pihak yang mengangkat ini kemudian berimplikasi pada problemnya pembinaan karir dan profesi. Secara mayoritas dosen-dosen PAI pada PTU ini menghadapi problem karir dan profesi yang cukup serius.

Bagi dosen yang diangkat oleh Kemeterian Agama, ke mana mereka memproses karir dan profesinya itu? Sebab, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam atau Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta) di beberapa PTKIN tidak memfasilitasi pembinaan karir dan profesinya itu. Demikian juga, dosen yang diangkat oleh Kemenristek-Dikti,tidak serta merta dapat diproses melalui Direktorat Jenderal Pembinaan SDM atau Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) dengan maksimal. Belum lagi dosen PAI yang diangkat oleh Pemerintah Daerah atau PTU yang bersangkutan, di lapangan menghadapi problematikanya yang lebih dahsyat.?

Persoalan home base bagi dosen PAI pada PTU mengalami kendala yang tidak sederhana. Pasalnya, home base dosen itu didasarkan pada Program Studi. Pada fakultas-fakultas umum di PTU tentu tidak memiliki program studi pendidikan agama Islam. Demikian juga, tidak semua PTU itu memiliki Fakultas Agama Islam. Akibanya tidak adanya home base ini berimplikasi pada tidak adanya layanan pengembangan akademik bagi dosen PAI. Akhirnya, tidak sedikit dosen PAI pada PTU yang menempel dan bahkan diambil dari dosen-dosen yang berasal dari program studi umum, semisal MIPA atau lainnya. Tentu praktik-praktik demikian sangat tidak menguntungkan bagi masa depan PAI pada PTU.

Terkait dengan penambahan jam untuk memenuhi tuntutan BKD (Beban Kerja Dosen) dan sertifkasi dosen, tampaknya belum dilakukan penataan yang ideal. Beban 2 SKS untuk mata kuliah PAI pada PTU berimplikasi pada keharusan dosen PAI pada PTU untuk “ngamen” dan inisiasi kegiatan lainnya sehingga dapat memenuhi tuntutan itu. Dalam banyak kasus, dosen-dosen PAI pada PTU berkiprah pada sejumlah kegiatan baik di masjid kampus atau LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau lainnya.?

Atas sejumlah problematika di atas, sejumlah penelitian menunjukkan keprihatinan yang luar biasa. Hasil penelitian Balitbang Kementerian Agama RI berjudul “Penelitian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum” tahun 2015 menunjukkan sebagai berikut.?

Pertama,pembelajaran PAI di PTU masih menjemukan. Meski pembelajaran PAI disampaikan dengan cara yang cukup variatif, tetapi yang kerap digunakan adalah metode ceramah atau kuliah mimbar, tanya jawab, dan diskusi. Hanya sedikit dosen PAI yang menggunakan metode brainstorming,small group discussion, role play, dan concept maps. Hal itu disebabkan karena rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa di PTU sangat tidak ideal. Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak membuat perkuliahan diformat semacam kuliah umum dan hasilnya pembelajaran berpusat pada dosen (lecturer centered) yang cenderung menjemukan.

Kedua, peran dan fungsi PAI di Perguruan Tinggi Umum lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibandingkan dengan peran dosen PAI. Dikesankan fungsi dan tanggung jawab dosen PAI di PTU “telah diambil alih oleh organisasi kemahasiswaan maupun oleh organisasi kemasyarakatan yang ada di lingkungan kampus”, melalui berbagai tawaran kegiatan keagamaan yang dikoordinasikan oleh mahasiswa maupun ormas. Namun diakui, kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan yang diikutinya lebih banyak mengembangkan ide-ide pemikiran radikal dan transnasional.

Temuan Balitbang tahun 2015 itu kemudian mendapatkan justifikasi oleh hasil temuan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang dilakukan oleh Anas Saidi dan Endang Turmudzi yang berkesimpulan bahwa radikalisme tumbuh subur di kampus Perguruan Tinggi Umum.Sebanyak 86 persen mahasiswa dari lima perguruan tinggi di Pulau Jawa menolak ideologi Pancasila dan menginginkan penegakan syariat Islam. Bahkan, menurut survei The Pew Research Center pada 2015 disebutkan 4 persen orang Indonesia mendukung IS.

Masih menurut hasil penelitian LIPI, pola radikalisme melalui organisasi eksternal kampus telah dimulai pasca-reformasi. Organisasi-organisasi mainstream di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terpinggirkan. Hampir seluruh kader kelompok dengan ideologi Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) atau salafi, seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan KAMMI, menjadi pimpinan badan eksekutif mahasiswa di PTU ternama di Indonesia.Kelompok seperti Ikhwanul Muslimin memiliki pandangan keyakinan dan sikap fundamentalisme puritan kaku. Mereka selalu merasa paling benar dan menganggap kelompok lain salah.Tujuan mereka membangun negara Islam, bahkan untuk mewujudkannya dibolehkan menggunakan cara-cara kekerasan.

Problematika dan implikasi destruktif yang demikian dahsyat, menurut hemat penulis, tidak dapat ditunda-tunda. Kementerian Agama, Kemenristek-Dikti dan sejumlah Kementerian/Lembaga lainnya segera untuk turut serta dalam menangani problematika pada dosen PAI pada PTU dan problematika lainnya di PTU, tentu dengan batas kewenangannya. Demikian juga sejumlah organisasi ekstra kampus yang berbasis keindonesiaan dan Islam moderat, seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpinan Mahasiswa Indonesia), dan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) segera untuk merapatkan barisan guna penanaman pendidikan agama Islam yang berkarakter keindonesiaan.?

Penulis adalah Parktisi Pendidikan Islam; Doktor Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 Juni 2014

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Para karyawan dan staf kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, mulai dari satpam sampai cleaning service, juga tak mau ketinggalan ? menonton film ‘Sang Kiai’. Karena itu, Sabtu (2/6) di Bioskop 21 TIM.

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Karyawan dan PKL di PBNU Juga Nonton Bareng

Mereka mengikuti acara nonton bareng film yang menceritakan sejarah kebesaran dan nasionalisme pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Koordinator acara Kholili Muhammad menjelaskan, acara dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para karyawan PBNU untuk menonton film ‘Sang Kiai’ secara lengkap.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemarin pada saat acara Harlah NU kan baru potongan-potongan film yang dipertunjukkan,” ungkapnya.

Menurutnya, para karyawan PBNU merupakan bagian dari keluarga besar NU dan warga Nahdliyyin yang sepatutnya turut meneladani KH Hasyim Asy’ari atau paling tidak dapat mengetahui bagaimana sosok utama pendiri organisasi Islam terbesar tempat para karyawan itu sekarang mengabdi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Hasyim Asy’ari merupakan tokoh bangsa yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya, yakni melalui Resolusi Jihad 10 November 1949.?

“Apa yang dilakukan Hadratusysyaikh itu merupakan penggalan pengorbanan NU sebagai pengejawantahan semangat kebangsaan yang tidak bisa diragukan lagi komitmennya,” ungkap Idy Muzayyad, yang menginisiasi dan menfasilitasi acara nonton bareng tersebut.

Idy yang pernah menjadi ketua umum IPNU periode 2006-2009 menambahkan, tanpa Resolusi Jihad bisa saja perjalanan bangsa ini akan berbeda. ?

“Sangat mungkin kalau Mbah Hasyim tidak mencetuskan Resolusi Jihad, maka kondisi bangsa akan kembali ke alam penjajahan, atau setidaknya bangsa Indonesia akan lebih lama lagi berada dalam alam penindasan,” katanya.

Karenanya, orang NU harus bangga terhadap sejarah Resolusi Jihad dan keunggulan politik kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari. Harapannya, generasi NU sekarang tidak sekedar berhenti di kebanggaan terhadap tokoh pendahulu, tiba berikhtiar dengan kuat dan benar untuk meneruskan serta mengaktualisasikan keluhuran politik tokoh pendiri NU.

Acara nonton bareng yang diikuti 100-an orang itu juga mengajak para pedagang kaki lima di sekitar PBNU dan sebagian pengurus Banom dan Lajnah, antara lain IPNU, IPPNU, Ansor, Warga NU DKI dan lainnya.

Redaktur: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaNu, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 Mei 2014

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Acara Seminar Nasional, Ceramah dan Dialog Ilmiah bersama Prof. Al Habib Abdullah Muhammad Baharun (Rektor Universitas al Ahgaff, Hadramaut-Yaman), yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Malang bekerja sama dengan Aswaja Center Malang dan Gerakan Aswaja Malang (Gamal) pada Sabtu (1/4), berlangsung khidmah.

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Malang Gelar Dialog dengan Rektor Universitas al Ahgaff

?

Acara yang ikuti ratusan jamaah dan pengurus NU dari berbagai tingkatannya ini, dilaksanakan di Pondok Darut Talim Wad Dawah, daerah Bumiayu Malang. Acara dimulai sekitar pukul 15.00 WIB sampai selesai, dengan mengusung tema Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah Menghadapi Berbagai Tantangan.

Sayyid Abdullah Baharun menuturkan, umat dewasa ini memperoleh pemahaman agama harusnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist, tapi perlu juga disempurnakan dengan sumber lain yaitu ijma dan qiyas, yang mana hal tersebut dapat diperoleh dari para ulama. Inti Ahlussunnah sebagaimana disepakati ulama adalah dalam bidang aqidah mengikuti Imam Asyari dan Maturidi, dalam bidang fiqih mengikuti salah satu dari empat madzhab, yaitu Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hambali, serta dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Junaid Al Baghdadi atau Imam Ghazali. Setelah berilmu, yang paling penting juga adalah adalah beramal, bukan hanya memiliki ilmu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakannya, dewasa ini banyak aliran yang mengaku Ahlussunnah tapi menjelakkan ulama tasawuf, seperti imam Ghazali. Padahal intisari tasawuf adalah ihsan, dan setingkat lebih tinggi menjadi muhsin, yang bisa memberikan kemaslahatan untuk ummat. "Tasawuf sendiri akan menuntun agar memiliki jiwa bersih, mengosongkan dari hal-hal kotor atau dosa-dosa," tuturnya.

Acara di pandu oleh tersebut KH Atoillah Wijayanto, Rais Syuriyah PCNU Kota Malang. Turut mendapingi pula Ustadz Faris Khoirul Anam, Alumni Universitas al Ahgaff Yaman, yang juga anggota dewan pakar Aswaja Center PWNU Jawa Timur.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah acara seminar selesai, Habib Abdullah Baharun melanjutkan dengan acara peresmian Pesantren Darul Faqih Malang. Lalu acara ramah tamah dan silaturahmi ke Walikota Malang HM Anton, yang juga Bendahara PCNU Kota Malang. (Achmad Diny Hidayatullah/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Nasional, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 17 Mei 2014

Mahasiswa Muslim Rusia Bantu Bencana

London, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Berbagai benncana yang menimpan Indonesia baik di Gunung Merapi, Wasior, maupun tsunami Mentawai menjadikan empati mahasiswa muslim berbagai negara di Rusia dan membantunya melalui "Gerakan 100 Rubel". Selain sholat ghaib di kampus Patric Lumumba (RUDN), Moskow, Rusia, mereka juga mengumpulkan uang.

"Bagi kami, bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana kita semua umat Islam di dunia. Untuk itu, kami berdoa bersama untuk saudara-saudara kita itu,"tutur mahasiswa kedokteran asal Komo Astrov, Afrika, Usman dan Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA), Khoirul Rosyadi, Senin (15/11).

Mahasiswa Muslim Rusia Bantu Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Muslim Rusia Bantu Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Muslim Rusia Bantu Bencana

Dalam sholat ghoib yang difasilitasi itu diikuti tidak kurang dari 20 mahasiswa asing yang ada di Rusia serta mahasiswa Indonesia yang ada di Rusia. "Sholat Ghaib ini adalah bentuk empati kami, bahwa Indonesia adalah saudara kami,”ujar mahasiswa S3 jurusan sejarah Patric Lumumba, asal Yaman, Muhammad Siyagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Khoirul Rosyadi, Sholat Ghoib oleh mahasiswa asing yang ada di Rusia tersebut, merupakan salah satu acara rangkaian yang dikoordinir oleh PERMIRA untuk bencana yang terjadi di Indonesia.

Selain sholat ghaib juga mengadakan acara penggalangan dana untuk korban bencana. Dalam acara Gerakan 100 Rubel untuk Indonesia itu, PERMIRA menggelar acara pentas amal seni oleh mahasiswa dan warga negara Indonesia yang ada di Rusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekretaris PERMIRA, Adniel Roemza, mengatakan, dalam acara gerakan 100 Rubel untuk Indonesia, dipentaskan, puisi, lagu, monolog, dan tari-tarian Indonesia oleh mahasiwa dan pelajar Indonesia yang ada di Rusia. Acara itu digelar di Kedubes RI.

Sementara itu, ketua Fungsi Pensosbud, KBRI Moskow, M Aji Surya, mengatakan, apa yang dilakukan PERMIRA merupakan bentuk dari kepedulian mahasiswa Indonesia yang ada di Rusia. "Semoga niat baik ini juga menghasilkan hal yang baik pula," katanya.

Sedangkan, Asep Indra Maulana, ketua pelaksana acara tersebut menjelaskan, acara Gerakan 100 Rubel untuk Indonesia ini, tidak saja diikuti oleh warga Indonesia yang ada di Rusia tetapi juga dari berbagai negara. Gerakan 100 Rubel untuk Indonesia ini dihadiri oleh masyarakat Indonesia yang ada di Rusia dan juga warga Rusia yang peduli bencana Indonesia.

Gerakan 100 Rubel untuk Indonesia itu akan berlangsung selama satu minggu.  Di hari pertama, Gerakan 100 rubel untuk Indonesia tersebut, terkumpul uang sebesar 30.350 rubel dan 155 Dolar Amerika. "Jumlah yang terkumpul itu, hanya di kota Moskow, Kota-kota yang lain belum terhitung,"demikian Adniel Roemza, sekretaris PERMIRA.(amf/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Ulama, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 15 Mei 2014

NU Tolak Keras Rencana Eksploitasi Tambang di Jember

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember berkomitmen tidak akan memberikan peluang pada upaya eksploitasi tambang di bumi Jember. Pasalnya, eksploitasi tambang dinilai lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya.

NU Tolak Keras Rencana Eksploitasi Tambang di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tolak Keras Rencana Eksploitasi Tambang di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tolak Keras Rencana Eksploitasi Tambang di Jember

Pernyataan tersebut dikemukakan Wakil Ketua PCNU Jember, Abdul Qadim Monembodjo di sela-sela sarasehan “Deklarasi Bersama Tolak Pertambangan” di aula kantor NU Jember, Rabu (17/12).

Menurut Qodim, kebanyakan eksploitasi tambang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, sementara masyarakat di sekitar area penambangan, justru menderita. Lingkungan rusak dan tercemar. Budaya dan moralnya juga tercemar karena biasanya karyawan dan pengelola  tambang juga membawa perilaku buruk di tengah masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Buktinya juga banyak. Bukan hanya lingkunganya yang tercemar, tapi moral masyarakat juga tak karuan. Pelacuran di sekitar tambang juga tumbuh subur,” ucapnya.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember itu menambahkan, sejak dulu NU Jember tak pernah berubah haluan soal isu penambangan di Jember, terutama  galian B.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dikatakannya, pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten  Jember sudah mulai bergulir sejak tahun 2013, namun tidak mulus karena adanya dua kubu yang menolak dan menyetujui eksploitasi tambang. Eksekutif menyetujui eksploitasi tambang, sedangkan sebagian besar anggota legislatif menolak tambang. “Kami dukung yang menolak tambang,” lanjutnya.

Sarasehan penolakan tambang itu diikuti oleh PCNU Jember (selaku penggagas), PCNU Kencong, PMII Cabang Jember, Ranting NU Paseban, SD Impres, KAPPALA Indonesia. Semuanya tegas dan kompak menolak eksplotisi tambang.

Sekadar diketahui,  saat ini pembahasan RTRW Kabupaten Jember sudah rampung dibahas oleh Pansus DPRD Jember. Hasilnya, mayoritas anggota pansus menolak eksploitasi tambang. Namun eksekutif (bupati) enggan mengesahkan Raperda RTRW tersebut karena RTRW itu tidak memasukkan ekslploitasi tambang. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Kajian, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah