Minggu, 14 Januari 2018

SNMPTN Jalur Undangan 2013 Rawan Diselewengkan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU menyambut baik aturan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur undangan 2013 yang dikeluarkan pemerintah. Meskipun demikian, LP Maarif NU menilai, pelaksanaan kebijakan itu masih rawan diselewengkan.

Wakil Ketua Pengurus Pusat LP Ma’arif NU Masduki Badilawi menyatakan, akumulasi nilai dari 40% rapor sekolah dan 60% ujian nasional (UN) merupakan syarat seleksi yang cukup adil, baik untuk sekolah swasta maupun negeri.

SNMPTN Jalur Undangan 2013 Rawan Diselewengkan (Sumber Gambar : Nu Online)
SNMPTN Jalur Undangan 2013 Rawan Diselewengkan (Sumber Gambar : Nu Online)

SNMPTN Jalur Undangan 2013 Rawan Diselewengkan

“Sebenarnya itu cukup fair asalkah dalam praktiknya tidak didiskriminasi dengan sekolah-sekolah unggulan, dan seterusnya itu,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Masduki, dengan mental umum penyelenggara pendidikan di Indonesia yang terliberalisasi, potensi penyeleksian calon mahasiswa berdasarkan kelas ekonomi sangat tinggi. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“PTN dalam penyelekesiannya diarahkan tidak semata-mata seleksi akademik, tetapi lebih diarahkan kepada siapa yang kuat bayar,” tuturnya di Jakarta, Selasa (6/11). 

Mantan Wasekjen PBNU ini menambhakan, jika ini terjadi, madrasah-madarasah NU akan menjadi korban paling besar, mengingat mayoritas peserta didik berasal dari ekonomi menengah ke bawah.

Ia mengingatkan, SNMPTN jalur undangan ini juga dapat mempengaruhi tingkat manipulasi di sejumlah sekolah bermutu rendah. Rekayasa bisa dilakukan, misalnya, dengan penambahan nilai anak didik demi kemudahan masuk ke perguruan tinggi.

“Praktik dilapangan kadang tidak seperti yang diharapkan. Sering ada permainan-permainan, dan ini yang harus diwaspadai,” tandasnya. 

 

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Maula Abdus Salam Masyisy Al Alami adalah seorang sufi yang hidup pada masa pemerintahan dinasti Muwahiddin. Ia lahir di Kampung Jbel Lalam wilayah Arouss Maroko dekat Tanger pada tahun 1140-1227 Masehi atau setara dengan 559-626 Hijriyah.

Pada ? abad kedua belas sampai abad ketiga belas, ia berhijrah ke Jbel Lalam , sebelah selatan kota Tangier Ibu kota perekonomian Maroko saat ini, di mana ia di makamkan disana sampai sekarang.

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Masyisy adalah bahasa berber yang ? berarti kucing kecil,panggilan ini diberikan oleh ayahnya waktu Ia masih kecil. Ia termasuk seorang Syarif keturunan dari Maula Idris pendiri kerajaan Idrisiyah ? di Fes yang bersambung nasabnya ke Sayyidina Hasan.

Saat masih kecil ,Ia pernah nyantri kepada Guru guru Quran di Kampungnya ,belau telah hafal Alquran pada usia 12 tahun dengan qira’ah sab’ahnya.Lalu belajar fiqih mazhab Maliki di Taza, kapada Sidi Salem dari kabilah Bani Yusuf dan Sidi Ahmed al-Hajj Aqatran Asalani dari kabilah ? Bani Abraj. Dan kemudian ? berguru thoriqot kepada Abu Madyan(Sidi Abu Madyan Shuayb al-Ghawt (w 594/1179), selah seorang guru besar Tarekat Sufi di ? Maroko.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah Nyantri kebeberapa guru ,ia pindah ke Sebta untuk bergabung kebarisan mujahidin untuk berperang ,sembari mengajar Alquran anak anak kecil ? di masjid masjid.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai pada Akhirnya, ia mengabdikan dua puluh tahun terakhir dari hidupnya untuk ibadah dan bertafakur dipuncak ? Jabal al-Alam (Bukit Bendera),dan disinlah Syeh Abul Hassan Shadhili (w. 656/1241) mengaji kepadanya. Syekh Abu Hasan Syadhili ? adalah murid semata wayang dari Syeh Ibnu Masyisy.

Ia memiliki karya berbentuk tulisan yang berupa buku kumpulan refleksi tentang kehidupan beragama dan politik pada masanya ,serta pidato terkenal Nabi Muhammad (Kitab tasilya) yang ditulis ulang dan dikomentari oleh Syeh Ahmad ibn Ajiba (1747-1809),seorang ulama besar Maroko Abad 18. Selain itu, Ia adalah penulis dari sholawat indah dan keramat ? yang sangat terkenal, yaitu Sholawat Masyisyiyah yang sering diwiridkan dipesantren pesantren Nusantara.

Di Maroko ,sholawat ini masih lestari dan sering dibacakan secara berjama’ah di masjid masjid, zawiyah sufiyah sampai seringkali ? terdengar di radio radio kerajaan. Dan ini adalah upaya baik Kerajaan Maroko dalam melestarikan karya ulama’ agar tidak tergerus masa ,sekaligus upaya pengingat masyarakat untuk selalu bersholawat ,dan salam kepada Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wasallam.

Berikut redaksinya:

أللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى Ù…ÙŽÙ? Ù’ مِÙ? ْهُ اÙ? ْشَقَّتِ اْلاَسْرَارُ.وَاÙ? ْفَلَقَتِ اْلاَÙ? ْوَارُ. وَفِÙ? ْهِ ارْتَقَتِ الْحَقَائِقُ. وَتَÙ? َزَّلَتْ عُلُوْمُ أدَمَ فَأَعْجَزَ الْخَلاَئِقَ.وَلَهُ تَضَاءَلَتِ الْفُهُوْمُ فَلَمْ Ù? ُدْرِكْهُ مِÙ? َّا سَابِقٌ وَلاَ لاَحِقٌ. فَرِÙ? َاضُ الْمَلَكُوْتِ بِزَهْرِ جَمَالِهِ مُوْÙ? ِقَةٌ. وَحِÙ? َاضُ الْجَبَرُوْتِ بِفَÙ? ْضِ Ø£ÙŽÙ? ْوَارِهِ مُتَدَفِّقَةٌ. وَلاَ Ø´ÙŽÙ? ْئَ إِلاَّ وَهُوَ بِهِ Ù…ÙŽÙ? ُوْطٌ. إِذْ لَوْ لاَ الْوَاسِطَةُ لَذَهَبَ كَمَا قِÙ? ْلَ الْمَوْسُوْطُ. صَلاَةً تَلِÙ? ْقُ بِكَ مِÙ? ْكَ إِلَÙ? ْهِ كَمَا هُوَ أَهْلُهُ. أللَّهُمَّ إِÙ? َّهُ سِرُّكَ الْجَامِعُ الدَّالُّ عَلَÙ? ْكَ. وَحِجَابُكَ اْلاَعْظَمُ الْقَائِمُ بَÙ? Ù’Ù? ÙŽ Ù? َدَÙ? ْكَ. أللَّهُمَّ أَلْحِقْÙ? ِى بِÙ? َسَبِهِ. وَحَقِّقْÙ? ِى بِحَسَبِهِ. وَعَرِّفْÙ? ِى إِÙ? َّاهُ مَعْرِفَةً أَسْلَمُ بِهَا ? مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ الْجَهْلِ. وَأَكْرَعُ بِهَا مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ الْفَضْلِ. وَاحْمِلْÙ? ِى عَلَى سَبِÙ? ْلِهِ إِلَى حَضْرَتِكَ. حَمْلاً مَحْفُوْفًا بِÙ? ُصْرَتِكَ. وَاقْذِفْ بِى عَلَى الْبَاطِلِ فَأَدْمَغَهُ. وَزُجَّ بِى فِÙ? بِحَارِ اْلأَحَدِÙ? َّةِ. وَاÙ? ْشُلْÙ? ِى مِÙ? Ù’ أَوْحَالِ التَّوْحِÙ? ْدِ.وَأَغْرِقْÙ? ِى فِÙ? عَÙ? Ù’Ù? ِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ. حَتَّى لاَ أَرَى وَلاَ أَسْمَعَ وَلاَ أَجِدَ وَلاَ أُحِسَّ إِلاَّ بِهَا. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ الْحِجَابَ اْلاَعْظَمَ Ø­ÙŽÙ? َاةَ رُوْحِÙ? Ù’ وَرُوْحَهُ سِرَّ حَقِÙ? ْقَتِى وَحَقِÙ? ْقَتَهُ جَامِعَ عَوَالِمِى بِتَحْقِÙ? ْقِ الْحَقِّ اْلأَوَّلِ.Ù? َاأَوَّلُ Ù? َاآَخِرُ Ù? َاظَاهِرُ Ù? َابَاطِÙ? ُ,إِسْمَعْ Ù? ِدَائِى بِمَا سَمِعْتَ بِهِ Ù? ِدَاءً عَبْدِكَ زَكَرِÙ? َّا .وَاÙ? ْصُرْÙ? ِى بِكَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ.ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ? ِّدْÙ? ِى بِكَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ. وَاجْمَعْ بَÙ? Ù’Ù? ِى وَبَÙ? Ù’Ù? ÙŽÙƒÙŽ. وَحُلْ بَÙ? Ù’Ù? ِى وَبَÙ? Ù’Ù? ÙŽ غَÙ? ْرِكَ. الله,الله, الله.إِÙ? ÙŽÙ‘ الَّذِÙ? فَرَضَ عَلَÙ? ْكَ الْقُرْءَاÙ? ÙŽ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? َا مِÙ? Ù’ لَدُÙ? ْكَ رَحْمَةً ÙˆÙŽÙ‡ÙŽÙ? ِّءْ Ù„ÙŽÙ? َا مِÙ? Ù’ أَمْرِÙ? َا رَشَدًا.رَبَّÙ? َا آتِÙ? َا فِÙ? الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِÙ? اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. إِÙ? ÙŽÙ‘ الله وَمَلاَئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلَى الÙ? َّبِÙ? ِّ.? Ù? َآأَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا.. Foto: Makam Syekh Abdus Salam Masyisy

Muhammad Nurul Alim

Mahasiswa universitas Imam Nafie ,Tanger Maroko, Bendahara PCINU Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Halaqoh, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Panen Raya, Saatnya Kumpulkan Zakat

Tegal, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah 

Warga NU desa Slaranglor Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, sedang menghadapi panen raya padi. Bagi para petani, ini adalah musim berkah untuk petani tersendiri, karenanya mereka pun siap mengeluarkan zakat maal yang telah disyariatkan dalam Islam.

Panen Raya, Saatnya Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Panen Raya, Saatnya Kumpulkan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Panen Raya, Saatnya Kumpulkan Zakat

Di desa tersebut merupakan desa yang paling komplet pengurus NU-nya sampai ke badan otonom dan semua badan otonom berjalan sesuai dengan roda organisasi masing-masing. Jika kondisi itu dibandingkan dengan desa-desa di Kecamatan Dukuhwaru, sehingga pada musim panen ini Pengurus ranting (PR) NU desa Slaranglor sengaja menjalankan programnya mengumpulkan zakat mal hasil pertanian.

Ketua Panitia Zakat maal H Syamsudin menjelaskan, pembayaran zakat bisa dilakukan secara langsung dari muzakki kepada mustahik, akan tetapi lebih afdhol atau memiliki nilai tambah jika dibayarkan melalui Lembaga Amil Zakat atau panitia pengumpul zakat. Dengan membayar zakat melalui lembaga, maka pengelolaan uang akan lebih baik, dari aspek pengumpulan sampai dengan pendistribusiannya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pengelolaan zakat melalui lembaga mempertimbangkan aspek akuntabilitas, transparansi dan profesionalitas serta bisa dilihat sejauh mana pertanggung jawabannya,” kata H Syamsudin ketika ditemui dikediamanya, Kamis  (7/3).

Bagi Slaranglor ini bukan pertama kalinya karena tahun-tahun sebelumnya sudah ada pembentukan panitia dan berjalan hasilnya, alhamdulillah para foqoro dan masakin , bisa mendapatkan haknya dari orang-orang yang semestinya bisa mengeluarkanya.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berdasarkan pengalamannya, pengelolaan zakat secara tradisional kurang memberi manfaat jangka panjang untuk mengentaskan mustahik menjadi muzakki. Pola yang umum adalah pembentukan panitia zakat ad hoc saat bulan Ramadhan yang mengumpulkan zakat fitrah maupun zakat maal. Zakat tersebut langsung dibagi habis dan setelah Idul Fitri, panitia dibubarkan. Pola yang sama berulang dari tahun ke tahun.

Dana yang diterima masyarakat akhirnya digunakan untuk kepentingan yang sifatnya konsumtif selama lebaran sehingga habis dalam waktu sekejap dan tidak bisa memberdayakan.

“Nah ke depan Dengan adanya lembaga yang lebih bagus , maka dimungkinkan adanya perencanaan dan pendistribusian zakat secara lebih beragam, ada yang dibagikan langsung untuk kepentingan mendesak, tetapi ada juga yang berorientasi jangka panjang seperti beasiswa atau modal kerja,” harapnya 

Di tempat terpisah Ketua Tanfidziyah PRNU Desa Slaranglor Abdul Kholil mengharap agar panitia yang sudah terbentuk bisa bekerja dengan maksimal. “Walaupun kami tahu persis bagaimana menyadarkan warga begitu sulit, ini bisa terbukti dari sekian banyak muzzaki yang tercatat oleh panitia yang baru sadar betul dan memberikan zakat belum sepenuhnya. “ jelasnya 

Untuk itu besar harapan, masyarakat harus percaya dan ikhlas, bahwa ada hak orang lain dalam harta yang dimiliki . “Yakin dan percayalah Insya Allah tidak akan habis harta anda , malah semakain bertambah. “ imbaunya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz T.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, PonPes Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lakpesdam PBNU Gelar Pelatihan Media Kreatif Inklusi Sosial

Bogor, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU menggelar Pelatihan dan Lokakarya Media Kreatif bagi para kader NU dari 13 daerah rawan konflik.

Lakpesdam PBNU Gelar Pelatihan Media Kreatif Inklusi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Gelar Pelatihan Media Kreatif Inklusi Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Gelar Pelatihan Media Kreatif Inklusi Sosial

Kegiatan yang berlangsung 13-16 Agustus 2017 ini dimaksudkan untuk mendukung gerakan Lakpesdam PBNU di bidang inklusi sosial di sejumlah daerah dengan penduduk minoritas yang rentan terdiskriminasi.

Peserta lokakarya tersebut antara lain datang dari Aceh, Cimahi, Indramayu, Kuningan, Cilacap, Sampit, Tasikmalaya, Jepara, Sampang, Jember, Bulukumba, Mataram, dan Bima.

Selama lokakarya berlangsung, para utusan cabang Lakpesdam NU itu mendapatkan materi seputar tantangan media digital, teknik fotografi publikasi, pengelolaan media sosial, dan pengembangan pusat pembelajaran berbasis komunitas.

Wakil Ketua Lakpesdam PBNU Ahmad Suaedi menjelaskan, pihaknya berkomitmen pada lebih dari sekadar gerakan karitatif.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Kita inginnya Lakpesdam bergerakan transformatif, memiliki agenda perubahan yang jelas baik di tingkat layanan, rekognisi sosial, dan kebijakan," katanya.

Lokakarya yang digelar selama empat hari ini berlangsung di Jambuluwuk Puncak Resort & Convention Hall Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara Lakpesdam PBNU dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Hadits, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 12 Januari 2018

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Umat Islam di Indonesia sebagaimana umat Islam di tempat lain memiliki karakternya tersendiri. Bahkan muslim di Tanah Air memiliki keistimewaan sebab menjadi terbesar meski disebarkan tak sezaman dengan Rasulullah ataupun para sahabatnya.

“Kita harus bersyukur menjadi orang Islam dan orang Indonesia karena berdasarkan hadits Nabi,” kata KH Zainul Arifin, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kepanjen, Malang, Jawa Timur, pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad, Rabu (23/12).

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kita Harus Bersyukur Menjadi Orang Islam dan Orang Indonesia

Kiai Zainul melanjutkan, Nabi pernah bersabda bahwa orang yang paling baik adalah orang yang tidak pernah hidup sezaman dengan dirinya tetapi tetap beriman. Begitulah kondisi umat Islam di Indonesia. “Islam Indonesia tidak disebarkan oleh Nabi atau sahabat, melainkan Wali Songo, tapi kita adalah umat Islam terbanyak,” paparnya di hadapan para jamaah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Oleh karena itu, sebagai wujud syukur tersebut Kiai Zainul berharap agar agama Islam ini menjadi jiwa bagi pada setiap diri individu. Menurutnya, Islam harus menjadi mental umat Islam Indonesia. Karena pada masa sekarang kekuatan mental itu sangat dibutuhkan.

“Kalau Islam tidak bisa menjadi mental umatnya, akhirnya kita ini sebagai umat Islam masih saja mau menukar agama dengan uang,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan ini diselenggarakan oleh MWCNU Kecamatan Kepanjen bekerja sama dengan Takmir Masjid Baiturrohman di kecamatan setempat. Acara ini dimulai dengan pembacaan Istighotsah, Asma Badar dan Asma’ Uhud serta Maulid Diba’. Kiai Zainul memimpin langsung pembacaan Maulid Diba’ dengan diiring lantunan rebana oleh Jam’iyyah Shalawat Remas Masjid Baiturrohman. Turut hadir dalam acara ini para ulama setempat dan Kiai Muzani, sesepuh NU Kabupaten Malang. (Ahmad Nur Kholis/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang

Bisa dihitung jari anak muda yang menggemari seni budaya, khususnya wayang. Satu di antaranya adalah Dandy Asghor Dawudi, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng. Selain berselera melahap buku-buku pewayangan, Dandy –sapaan akrabnya, juga memiliki keahlian membuat wayang.

Ketertarikan Dandy terhadap wayang sejak tahun 2014 lalu ketika dia masih duduk di bangku STM (Sekolah Teknik Menengah). Dan jauh sebelum itu, pemuda kelahiran 24 Juni 1998 itu pernah menjadi anggota seni rakyat jaranan Raden Anom Dusun Bumiarjo Desa Gudo Jombang selama dua tahun.?

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Filosofi Agama hingga Politik lewat Wayang

Dandy mulai gemar membaca referensi buku-buku budaya Jawa dan sejenisnya hingga ia menemukan ketertarikan pada pewayangan. Wayang, menurut Dandy merupakan simbol-simbol budaya yang sastrawi dan sarat dengan nilai-nilai filosofis.

Wayang sendiri, ungkapnya, adalah ajaran. “Mulai dari agama, politik semua ada di wayang. Tata negara sampai tasawuf itu ada di wayang. Wayang itu cermin kehidupan, kehidupan kompleks ada di wayang.”

Dandy melanjutkan, dalam wayang semua itu menyatu. Sekarang ini ketika bicara tentang politik dipisahkan dengan nilai ketuhanan atau tanpa menyentuh Tuhan. Kalau dalam pewayangan ada Satrio pinandito sinisian wahyu. Maksudnya, seseorang berjuang (berpolitik) tidak karena kepentingan tertentu, tapi menjalankan tugas sebagai kholifah. Setiap langkahnya ada pertimbangan dengan Dewa (Tuhan). Ada keseimbangan spiritual dunia dan akhirat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau sekarang ini urusan politik ya untuk macul (demi kepentingan atau keuntungan, red) saja. Demi kekuasaan dan kepentingan belaka. Urusan dunia dan akhirat dipisahkan,” selorohnya.

Wayang juga, lanjut laki-laki bermata sipit ini, menjadi refleksi dalam kehidupan. Wayang sebenarnya simbol-simbol. Misalnya Arjuna itu simbol asmara. Arjuna kalau membunuh musuhnya, tidak pernah menusuk musuhnya. Butho melawan Arjuna pasti butho mati tertusuk kerisnya sendiri. Arjuna melawan angkara murka itu dengan cinta. “Sayangnya, sekarang wayang dianggap sekadar cerita, remeh dan tidak relevan dengan kehidupan sekarang ini,” tuturnya.

Wayang juga membawa Dandy memahami kearifan Wali Songo dalam membawa ajaran Islam di tanah Jawa, “Kata orang Jawa, Islam masuk ke Jawa itu artinya orang Jawa pulang pada dirinya sendiri. Orang Jawa sebelum masuknya Hindu dan Budha, sudah menemukan Tuhannya sendiri, bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan, dan mereka memeluk kepercayaan Kapitayan. Wali Songo masuknya lewat aliran kepercayaan tersebut. Jadi, istilahnya bukan shalat, tapi sembahyang, itu adalah sembah hyang atau menyembah Tuhan. Tempat ibadah orang Jawa namanya sanggar pamujan, menjadi langgar, langgar yang kuno pasti ada bulatan kosong. Itu warisan dari Kapitayan,“ papar Dandy.

Sayangnya, sesal Dandy, saat ini budaya, termasuk wayang, fungsinya lebih banyak untuk kepentingan komersial. “Kalau di Jawa itu, ada keris, ada pedang, ada pacul. Keris itu integritas, inti ajaran, inti, watak, karakter. Kalau pedang itu kekuasaan dan politik. Kalau pacul itu alat mencari uang. Akan tetapi, saat ini keris juga difungsikan sebagai pacul, segala sesuatu dikomersilkan,” ungkapnya.

Selain mendalami pewayangan, Dandy juga memiliki keahlian membuat wayang. Keahliannya itu bermula ketika dia melihat salah satu tayangan di TV di mana ada salah seorang perajin wayang yang memanfaatkan kertas duplek untuk membuat wayang. Kertas duplek itu pengganti kulit yang tentu saja mahal harganya. Dandy yang tertarik wayang mulai mengikuti jejak dengan mulai menggambar atau membuat sketsanya. Tidak mudah membuat sketsa wayang, “Ngepaskan pas ndingkluknya (nunduknya, red) agak susah. Dan ketika membuat biasanya butuh ketenangan batin. Awalnya memang tidak bisa, mblendot-mblendot, lama-kelamaan menjadi bagus,” akunya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk bahan membuat wayang, Dandy membutuhkan kertas duplek, lem, tatak untuk nyungging yang terbuat dari paku dudur yang direnda. “Selama ini yang paling susah nyeketsanya,” katanya. Proses awalnya, kertas duplek disket dulu, lalu disatukan, trus disungging, dicari gapit, tangan dikasih sendi-sendi, kemudian jadi. “Kadang prosesnya butuh dua jam selesai, kadang bisa berhari-hari kalau lagi tidak tenang,” selorohnya sambil tertawa.

Dandy selama ini membuat wayang secara otodidak karena tidak ada komunitas yang bisa diikuti di Gudo. Sampai sekarang Dandy sudah membuat sekitar 20 wayang plus 3 gunungan. Dengan tokoh yang berbeda-beda, seperti Semar, Arjuna, Bratasena, Dewa Amral, Gatutkaca,dan lain sebagainya. (Robiah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya, Nusantara, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pemerintah Mirip Khomer

Saya pernah sowan kepada seorang kiai sepuh, di pesantrennya yang dihuni puluhan santri. Ia terkenal sebagai kiai yang rajin ngaji ke mana-mana, ke pelosok kampung dengan sepeda motor tuanya. Pengajiannya selalu ramai, karena ia suka melempar guyon-guyon segar. 

“Kiai, mengapa kiai tidak bikin proposal untuk membangun pesantren?” saya memberanikan diri bertanya.

Pemerintah Mirip Khomer (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Mirip Khomer (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Mirip Khomer

“Proposal ke mana?” respon kiai dengan pertanyaan.

"Yaa..mungkin ke pemerintah,” kata saya hati-hati.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Terima kasih atas sarannya, Kang. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada pemerintah, sampai hari ini, saya dan pengurus pesantren, berusaha tidak nyari bantuan ke pemerintah,” jelas kiai dengan kalem.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kenapa, Kiai?” tanya saya.

“Bagi saya, pemerintah itu kaya khomer, nyandu dan madorotnya lebih banyak daripada faedahnya. Tapi silakan saja teman-teman yang bilang pemerintah kaya teh manis, bikin hangat dan enak. Tapi ojo kakean gulone, ndak kencing manis (tapi jangan kebanyakan gulanya, nanti kena kencing manis).” (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Kajian Sunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah