Jumat, 20 Oktober 2017

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Majelis Pembina Nasional (Mabinas) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) H Fahmi Matori meminta mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung di organisasi pergerakan untuk berorientasi kekinian.  

“Saya mohon dengan sangat, marilah kita melihat fenomen global. Jangan terkungkung dengan masa lalu,” katanya pada orientasi Pengurus Besar PMII di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (26/8).

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabinas Sarankan PMII Bikin Blue Print dan Lembaga Kajian

Menurut dia, sejarah adalah tempat berkaca. Tapi kemudian harus diteliti dan diambil pelajaran apakah itu cocok dengan kekinian.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk itu, ia menyarankan PMII untuk membuat blue print kemana arah organisasi dan membuat lembaga-lembaga kajian supaya kadernya tidak gagap dalam menghadapi persaingan global. “Kompetensi macam apa yang akan berkembang di masa akan datang,” katanya

Lagi-lagi ia mengingatkan jangan terkungkung dengan heroiknya masa lalu. Dengan blue print dan lembaga kajian PMII bisa menentukan pemuda yang bagaimana mampu bisa bersaing dengan dunia global.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ke depan saya ingin diundang lagi pada diskusi keporfiesian. Saya yakin senior-senior PMII ada dai dunia kesehatan, perbankan, politisi,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, News, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya

Muhadditsin membagi hadits ke dalam tiga kategori: shahih, hasan, dan dhaif. Kategori ini dibagi berdasarkan kualitas hadits dengan ukuran kualitas perawi dan ketersambungan sanadnya. Kualitas hadits yang paling tinggi adalah shahih, kemudian hasan, dan terakhir dhaif. Menurut sebagian ulama, hadits dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hasan.

Hadits dhaif tidak sama dengan hadits maudhu’, atau palsu. Hadits dhaif memang dinisbahkan kepada Rasulullah, tetapi perawi haditsnya tidak kuat hafalan ataupun  kredibilitasnya, atau ada silsilah sanad yang terputus. Sementara hadits maudhu’ ialah informasi yang mengatasnamakan Rasulullah SAW, tetapi sebenarnya bukan perkataan Rasulullah SAW.

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menyampaikan Hadits Dhaif, Tanpa Menjelaskan Statusnya

Ulama sepakat bahwa mengamalkan hadits dhaif dibolehkan, selama tidak berkaitan dengan hukum halal dan haram, akidah, dan hanya sebatas fadha’il amal. Dengan demikian, menyampaikan hadits dhaif, seperti mengutip hadits dhaif dalam buku atau menyampaikannya dalam pengajian dan majelis taklim dibolehkan.

Hasan Muhammad Al-Masyath dalam Al-Taqriratus Saniyyah fi Syarahil Mandzumah Al-Bayquniyyah menjelaskan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Artinya, “Sebagian ulama membolehkan periwayatan hadits dhaif tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan beberapa syarat: hadits tersebut berisi kisah, nashat-nasihat, atau keutamaan amalan, dan tidak berkaitan dengan sifat Allah, akidah, halal-haram, hukum syariat, bukan hadits maudhu’, dan tidak terlalu dhaif.”

Merujuk pada pendapat ini, para dai dibolehkan untuk menyampaikan hadits yang berkaitan dengan kisah-kisah dan motivasi dalam ceramahnya meskipun tidak menjelaskan kualitas hadits yang disampaikan kepada jamaahnya. Hal ini dibolehkan dengan catatan hadits yang disampaikan tidak berkaitan dengan akidah, persoalan halal dan haram, bukan hadits palsu, dan haditsnya tidak terlalu dhaif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Sunnah, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Astanajapura menggelar diskusi publik bertema Gerak HTI Pasca-Perppu di Annidzomiyah, Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jumat (6/10).

Kegiatan ini diisi oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor H Nuruzzaman, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Lesbumi, dan Tenaga Ahli Kementerian Agama Muhammad Sofi Mubarok.

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Publik, GP Ansor Astanajapura Bahas HTI Pasca-Perppu Ormas

Penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah Muhammad Sofi Mubarok memaparkan kesalahan penggunaan dalil-dalil yang diklaim oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai dalil tegaknya khilafah.

Salah satunya tentang tafsiran ulil amri pada Al-Quran Surat An-Nisa ayat 59. HTI mengklaim mutlaknya tafsiran tersebut sebagai kewajiban menegakkan khilafah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mereka tidak peduli apakah ulil amri itu tafsirannya banyak atau tidak, yang mereka pahami secara literal adalah kepala negara,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hal ini kemudian diperkuat dengan propaganda yang diutarakan oleh Abu Bakar Baasyir, bahwa kita (Abu Bakar Baasyir dan kelompoknya) membaca Al-Quran dan mengamalkannya dan menuduh kelompok lain hanya membaca dan menafsirkannya saja.

Sementara itu, Komandan Densus 99 Nuruzzaman menyampaikan, bahwa bagi HTI Indonesia wajib diganti menjadi khilafah karena bentuk negara selama ini dinilai negara kafir.

“Bagi HTI Indonesia adalah negara kafir sehingga wajib diganti dengan sistem Islam yang bernama khilafah,” katanya.

Penyebaran ideologi HTI tetap akan terus berlangsung meski secara organisasi sudah dibubarkan melalui Perppu nomor 2 Tahun 2017. Mereka sedang melakukan lobi-lobi di beberapa lembaga negara. Ia mengingatkan para peserta untuk mengajak diskusi orang-orang HTI, tidak malah mempersekusinya.

“Meskipun HTI dibubarkan, tapi penyebaran ideologi tetap ada dan akan berlangsung. Tugas kita adalah mendatangi dan mengajak diskusi bukan mempersekusi mereka,” lanjutnya.

Abdullah Wong, alumnus Pondok Pesantren Lebaksiu, Tegal, itu menyampaikan, bahwa di tengah orang-orang ramai memikirkan bagaimana pemimpin, tapi Nahdlatul Ulama memikirkan bagaimana umat. Hal ini menurutnya selaras dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah sesaat sebelum wafatnya, yakni memikirkan bagaimana umatnya.

Penulis novel Mata Penakluk: Manaqib Abdurrahman Wahid itu mengatakan, bangsa Indonesia mesti bersyukur masih ada Nahdlatul Ulama.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sahabat Agung Firmansyah ini dihadiri oleh Ketua MWCNU Astanajapura KH Ahmad Zuhri Adnan, perwakilan Polsek dan Danramil Astanajapura, perwakilan Fatayat Astanajapura, dan IPNU Kabupaten Cirebon, serta beberapa tokoh masyarakat, pemuda, dan pelajar Astanajapura. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Halaqoh, Sunnah, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beramal Baiklah di Segala Medan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Beramal Baiklah di Segala Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Beramal Baiklah di Segala Medan

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh seorang dari suku Baduwi tentang hijrah. Maksudnya, si Baduwi hendak ikut berjuang bersama umat Islam lainnya dengan bermigrasi dari Makkah menuju Madinah. Nabi pun menjawab dengan nada agak keras:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Celakalah, sungguh itu sangat berat. Apakah kamu memiliki unta yang sudah sampai nishab yang dikeluarkan zakatnya?” Orang Baduwi itu menjawab “Ya.” Rasulullah pun membalas, “Beramalah dari balik perkampungan. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan amal baikmu sedikt pun.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Said al-Khudri. Dalam pertanyaan orang Baduwi itu tersimpan niat baik untuk berjihad di jalan Allah dengan cara turut serta hijrah ke daerah lain. Hijrah kala itu merupakan pekerjaan yang tidak sederhana.

Lebih dari sekadar menempuh perjalanan jauh, hijrah mengandaikan seseorang bersiap secara fisik dan mental menghadapi berbagai tantangan selama perjalanan, juga tantangan bertemu dengan kehidupan sosial yang baru di tanah orang. Hijrah juga merupakan momen berpisah dengan keluarga dalam waktu cukup lama dan karenanya memastikan bekal dan kesejahteraan bagi orang-orang yang ditinggal.

Mungkin sadar akan keterbatasan orang Baduwi itu untuk melaksanakan itu semua, Rasulullah memberikan alternatif lain tentang cara berjihad. Karena si Baduwi adalah orang yang berpunya, Nabi pun menyarankan dia berbuat baik melalui harta. Si Baduwi dianjurkan tetap berada di kampung halaman dengan memperbanyak sedekah.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Cerita tentang orang Baduwi tersebut mengungkapkan pesan bahwa medan amal ibadah memang sangat luas. Ketika orang-orang kala itu menganggap hijrah sebagai jalan amal yang primadona, Nabi menampiknya dengan menunjukkan jalan-jalan lain yang juga sama baiknya. Rasulullah sadar, kemampuan umatnya berbeda-beda, sebab itu cara berbuat baik pun tidak harus sama.

Petunjuk Nabi ini juga selaras dengan pesan Al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam Surat at-Taubah ayat 122:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Demikianlah lagi-lagi Nabi tak mengharuskan jihad perang atau hijrah sebagai satu-satunya pilihan. Rasulullah menilai pendalaman ilmu dan menjadi pembimbing masyarakat pun bagian dari jihad yang tak kalah penting. Dalam bahasa lain, pola semacam ini bisa kita sebut sebagai “distribusi tugas”. Orang-orang tidak dipaksa bekerja dalam satu bidang tertentu tetapi dibiarkan menduduki porsi masing-masing lalu berperan positif sesuai dengan fungsinya.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Lalu bagaimana bila kita tidak memiliki kekayaan yang cukup? Pertanyaan ini kadang kita temukan dari sejumlah orang yang menyesali dirinya tidak bisa berbuat baik banyak (misalnya) hanya karena ia seorang pegawai rendahan, gajinya sedikit, penghasilannya pas-pasan.

Mereka mungkin lupa bahwa sumber kebaikan tidak selalu ditentukan oleh harta. Bahkan, dalam banyak kasus banyaknya harta kerap malah menjerumuskan. Betapa banyak orang-orang yang berharap peningkatan nasib, namun ketika kenikamatan tersebut hadir orang itu justru menjadi kufur: lupa bersyukur, lupa berbagi kepada sesama.



(Baca: Penderita Lepra, Orang Botak, dan Si Buta dalam Cerita Rasulullah)


Banyak jalan menuju kebaikan. Selain harta, berbuat baik juga bisa disalurkan melalui tenaga dan pikiran. Menjenguk orang sakit, berbakti kepada orang tua, berpatisipasi dalam donor darah, mengajar, memperhatikan orang lemah di sekitar kita, andil dalam kerja bakti, dan lain-lain adalah sedikit contoh dari jalan beribadah atau beramal baik.

Terlebih lagi, amal perbuatan yang tampak biasa bisa berubah menjadi amalan “luar biasa” dengan cara memperbaiki niat. Hal ini dapat terjadi karena niat berpusat di hati, dan hati adalah sumber yang sangat menentukan dalam segenap aktivitas manusia. Tentang memperbaiki niat ini Syekh az-Zarnuji dalam kitab Ta’lîmul Muta‘allim mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Betapa banyak amal perbuatan yang bercirikan amal perbuatan duniawi, tetapi karena niat yang bagus menjadi amal perbuatan akhirat. Betapa banyak perbuatan yang bercirikan amal perbuatan akhirat, tetapi menjadi perbuatan dunia karena niat yang buruk”.

Bekerja, berolah raga, makan, minum, tidur, atau aktivitas sejenis lainnya hanya sekilas hanya rutinitas belaka. Dengan mengimbuhinya niat yang positif, misalnya untuk menunaikan tanggung jawab, untuk kesehatan fisik demi menghamba kepada Allah, rutinitas tersebut menjadi bernilai ibadah. Sebaliknya bila yang demikian diniatkan semata untuk memenuhu sifat tamak, akan menjadi rutinitas yang tidak bernilai baik apa-apa.

Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

Jangan pernah mengabaikan niat, jangan pula meremehkan posisi kita sekarang selamat tak menyalahi syariat. Karena semua orang mampu menata niatnya dan semua orang berpotensi berbuat yang terbaik sesuai dengan posisi dan porsinya masing-masing. Apalagi, kata orang bijak, manusia tidak dicela karena tidak mencapai kebaikan maksimal, melainkan karena tidak mau berikhtiar berbuat baik padahal ia memiliki kemampuan. Wallahu a’lam.

Khutbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Alif Budi Luhur)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Tegal, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 18 Oktober 2017

Permintaan Nikah Meningkat, Jumlah Penghulu Kurang

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Subang saat ini masih kekurangan banyak penghulu. Selain membuat kerepotan penghulu dalam menikahkan pasangan, kekurangan pengulu juga menyebabkan banyak warga yang harus antre untuk melangsungkan pernikahannya.

Permintaan Nikah Meningkat, Jumlah Penghulu Kurang (Sumber Gambar : Nu Online)
Permintaan Nikah Meningkat, Jumlah Penghulu Kurang (Sumber Gambar : Nu Online)

Permintaan Nikah Meningkat, Jumlah Penghulu Kurang

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Subang, Aldim mengungkapkan, kecuali di daerah perkotaan, saat ini sejumlah penghulu di sejumlah KUA di Subang hanya 1-2 orang. Padahal, semestinya jumlah penghulu di setiap KUA 3-4 orang.

“Apalagi jika banyak warga yang akan melangsungkan pernikahan pada momen-momen tertentu. Tentu tenaga penghulu sangat dibutuhkan,” ujarnya di sela-sela acara perhelatan Harlah ke-87 NU di Subang Kamis akhir bulan lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumlah penghulu di Kabupaten Subang itu sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah pernikahan setiap tahun. Staf Urusan Agama Islam (Urais) Kemenag Subang, Ingrid Karnasih mengungkapkan, jumlah pernikahan per bulan di Subang rata-rata mencapai 100 atau lebih dari 1.000 pernikahan per tahun.

Untuk jumlah pernikahan yang lebih dari 1.000 per tahun, idealnya KUA memiliki empat atau lebih penghulu. Itu dibutuhkan terutama untuk mengakomodasi membludaknya jumlah pasangan yang akan menikah pada momen-momen tertentu yang biasa dianggap sebagai hari baik, seperti bulan Zulhijah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pada bulan Dzulhijah, jumlah pernikahan biasanya meningkat 2-3 kali lipat dibandingkan dengan jumlah pernikahan pada bulan biasa,” ujarnya.

Data Kemenag Kabupaten Subang, pada Zulhijah tahun lalu ? jumlah pernikahan terbanyak berada di Kecamatan Ciasem dan Subang. Di Ciasem, pasangan yang menikah pada bulan itu mencapai 285 pasangan, sementara di Kecamatan Subang 274 pasangan.

Gayus Priyono, penghulu KUA Kecamatan Subang mengaku sering kerepotan ketika jumlah pernikahan membeludak pada momen-momen tertentu itu. Para penghulu kebanjiran order pada momen tersebut dan menikahkan sejumlah pasangan dari pagi hingga sore hari.“Ini cukup melelahkan juga. Namun, karena sudah menjadi tugas dan kewajiban, ya harus tetap dijalani,” ujarnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Zaenal Mutaqin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kiai, Habib, RMI NU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar

Jandab bin Janadah, populer dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sebagai orang yang paling baik, ramah, dan santun perangainya. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang dikutip Al-Mizi dalam Tahdzibul Kamal mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Setiap nabi diberikan tujuh orang (sahabat) mulia dan halus (sifat dan tabiatnya), sementara aku diberikan 14 orang yang baik lagi halus bawaannya.’” Di antara sahabat yang dimaksud Rasulullah SAW ialah Abu Dzar Al-Ghifari.

Menurut catatan sejarah, Abu Dzar pertama kali masuk Islam di Mekah, kemudian dia kembali ke kampung halamannya, dan pergi ke Madinah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana. Sahabat ini meninggal pada tahun 32 hijriah, tepatnya masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar

Semasa hidupnya, Rasulullah pernah berpesan tujuh hal kepada pemuda berkulit sawo matang ini. Wasiat ini terekam dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w 282 H). Isinya berikut ini:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Artinya, “Karibku? (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca la haula wa quwwata illa billah.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tujuh pesan yang disampaikan Nabi SAW ini tentu tidak terkhusus untuk Abu Dzar semata. Kendati wasiat ini disampaikan kepadanya, namun makna hadits ini tetap berlaku umum. Siapapun dianjurkan bahkan diwajibkan. Ini sejalan dengan kaidah, al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab (yang menjadi patokan keumuman redaksi hadits, bukan konteks spesifiknya).

Dilihat dari isi wasiatnya, sebagian besar nasihat Nabi SAW ini sangat layak dijadikan panduan menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kontennya tidak hanya berisi ibadah ritual, tapi juga berupa panduan etika, motivasi hidup, dan panduan bermasyarakat.

Misalnya, Nabi meminta untuk melihat orang yang di bawah kita dan jangan terlalu fokus pada orang yang di atas kita. Maksudnya, dalam menjalani kehidupan tentu ada yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sering kali kita iri terhadap orang yang diberikan kelebihan, akibatnya kita malah menjadi orang yang kurang bersyukur.

Dengan memperhatikan kondisi hidup orang di bawah kita baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, hal ini akan memupuk keprihatinan dan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Begitu pula dengan anjuran mencintai fakir miskin dan mendekati mereka. Kita dituntut memperhatikan mereka dan memberikan sebagian kelebihan yang kita miliki? untuk membantu kehidupan mereka. Memberikan bantuan terhadap fakir miskin tersebut membuat ikatan persaudaraan dan kemanusiaan kita semakin menguat. Semoga kita dapat mengamalkan isi wasiat ini. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Sejumlah masyarakat dari berbagai daerah mulai mendatangi beberapa pondok pesantren di wilayah Tambakberas Kabupaten Jombang untuk mengikuti kegiatan kajian kitab kuning di Ramadhan ini. Mereka hendak mengikuti pengajian kilatan.

Tampak hadir membuka ngaji kilatan di antaranya Rais Syuriyah PCNU Jombang KH Abdul Nashir Fattah, KH Sulthon Abdul Hadi, KH Hasib Wahab, dan Kiai Muhammad Djamaludin Ahmad.

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Ini, Beberapa Pesantren di Tambakberas Gelar Ngaji Kilatan

Salah satu jamaah ngaji Humaidi Nur Syarifudin warga Dusun Warugunung Love, Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, sudah berada di Jombang sejak sehari sebelum puasa Ramadhan 1438 H.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain mengikuti ngaji kilatan, kedatangannya juga untuk mencari berkah para kiai sepuh Tambakberas. "Pengen cari berkah doa dan ilmu dari kiai sepuh seperti Kiai Nasir, Kiai Jamal, Kiai Sulton dan Kiai Hasib," jelasnya, Sabtu (27/5).

Ia mengaku sering ke Jombang untuk mengikuti kegiatan Ramadhan di pesantren-pesantren tua dalam rangka mengisi waktu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia merasa senang dengan sistem yang diterapkan Pondok Tambakberas, sebab bisa memilih kitab yang diinginkan. Kelimuan para kiainya juga sangat mumpuni sesuai bidangnya masing-masing. Di samping itu setiap pondok juga menyediakan tempat khusus untuk menginap.

"Enaknya di sini itu bisa milih kelompok kajian yang kita inginkan. Ada kiai yang fokus pada tafsir, fikih, hadits, dan tasawuf tergantung keahlian beliau-beliau," tambahnya.

Selain itu, banyaknya teman dalam proses belajar ini juga membuat suasana tambah ramai dan menyenangkan. Terutama bila kajian keislamannya membahas terkait hubungan suami-istri seperti kitab Fathul Izar.

Di sekitar pesantren juga banyak pedagang yang menyiadakan berbagai jenis tajil dan beragam makanan untuk berbuka puasa dengan harga sangat terjangkau dari Rp. 2000-10.000.

"Banyak teman dari berbagai daerah yang menghabiskan Ramadhan di sini karena suasananya asyik dan makanannya juga murah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah PonPes, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah