Selasa, 03 Oktober 2017

Muslimat NU Banyuanyar Dilatih Buat Keripik Singkong

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sedikitnya 20 orang pengurus Muslimat NU di Kecamatan Banyuanyar mendapatkan pelatihan pembuatan keripik singkong melalui pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Probolinggo, Senin dan Selasa (26-27/10).

Kepala Disnakertrans Kabupaten Probolinggo Sigit Sumarsono mengatakan pelatihan pembuatan keripik singkong ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat, terutama dari kalangan Muslimat NU. Dimana tujuannya agar masyarakat yang belum memiliki keterampilan kerja bisa menciptakan lapangan kerja baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Muslimat NU Banyuanyar Dilatih Buat Keripik Singkong (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Banyuanyar Dilatih Buat Keripik Singkong (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Banyuanyar Dilatih Buat Keripik Singkong

“Pelatihan ini bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran. Sebab setelah mengikuti pelatihan ini setidaknya mereka bisa berusaha agar bisa mengembangkan keterampilan yang dimilikinya supaya mampu mendapatkan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sigit berharap supaya setelah dilatih mereka bisa berwirausaha mandiri untuk mengurangi angka pengangguran. “Pelatihan ini diberikan agar masyarakat bisa berdaya dan tidak menganggur. Sebab dengan keterampilan yang dimilikinya, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” tegasnya.

Sementara Ketua MWCNU Kecamatan Banyuanyar Toha menyambut baik pelatihan ketrampilan yang diberikan oleh Pemkab Probolinggo. Hal ini sangat bermanfaat agar para pengurus Muslimat NU bisa mendapatkan ketrampilan yang dapat dikembangkan sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah

Jasad Syekh Abu Bakr Asy-Syibli memang terkubur dalam tanah sejak tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir kepada generasi-generasi sesudahnya. Salah satunya lewat kisah dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam kitab Nashaihul Ibad? karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Dalam sebuah mimpi seeseorang, Imam Asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah, “Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?”

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah

“Amal shalihku.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bukan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ketulusanku dalam beribadah.”

“Bukan.”

“Hajiku, puasaku, shalatku.”

“Juga bukan.”

“Perjalananku kepada orang-orang shalih dan untuk menimba ilmu.”

“Bukan.”

Ya Ilahi, lantas apa?” tanya Imam Asy-Syibli.

Allah kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Imam Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan kota Baghdad. Kucing kecil itu loyo oleh ganasnya hawa dingin, menyudut ke suatu tempat, berharap kondisi bisa membaik.

Imam Asy-Syibli yang tergerak hatinya lantas memungut binatang malang itu, kemudian menghangatkannya di dalam jubah yang ia kenakan.

“Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu.”

Cerita hidup para sufi kerap menyibak hal-hal istimewa dari perkara-perkara yang tampak remeh. Sepele di mata manusia tak selalu rendah menurut Tuhan. Kisah di atas seolah mengajari kita tentang pentingnya sikap tawaduk atas segenap kesalehan ibadah betapapun hebatnya; juga keutamaan melembutkan hati dan mengulurkan bantuan, termasuk kepada binatang, apalagi manusia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Persiapan Munas dan Konbes NU 2014 Hampir Selesai

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU menggelar rapat bersama untuk melihat perkembangan terkini terkait persiapan Munas dan Konbes NU 2014. Dalam rapat gabungan itu, mereka meminta laporan dari masing-masing penanggung jawab pembahasan dalam Munas pada pertengahan Juni mendatang.

Persiapan Munas dan Konbes NU 2014 Hampir Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapan Munas dan Konbes NU 2014 Hampir Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapan Munas dan Konbes NU 2014 Hampir Selesai

“Persiapan teknis semua sudah beres,” kata Ketua harian panitia Munas H Arvin Hakim Thoha dalam rapat persiapan Munas-Konbes di gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (30/4) siang.

Sementara Ketua tim bahasan Tata Negara dan Ahlul Halli wal Aqdi H Abdul Mun’im DZ lebih menyoroti kode etik penyiaran agama dan penyelesaian konflik beragama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua tim bahasan organisasi H Imam Aziz melaporkan, draf sudah disusun. Sejumlah bagian masih ada yang perlu edit. Pertengahan Mei, menurut Imam, draf ini sudah bisa disebarkan ke pengurus wilayah NU di daerah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Isi draf organisasi lebih sesuai dengan harapan sesepuh NU dalam rapat pleno PBNU di Wonosobo. Misalnya terkait perubahan anggota NU di masa depan seperti apa dan restrukturisasi administrasi NU,” ujar Imam dalam rapat yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Perihal bahasan Rekomendasi kepada pemerintah, Masduki Baidhowi selaku penanggung jawab tim menyatakan akan mematangkan sejumlah poin penting drafnya dengan mengadakan seminar bersama para pakar.

“Kita terutama menyoroti kebijakan ekonomi makro pemerintah RI pada 10 tahun terakhir yang yang bergeser dari kiblat ekonomi yang digariskan konstitusi UUD 1945,” kata Masduki.

Semua draf bahasan dalam Munas dan Konbes NU 2014 akan disebarkan pada pertengahan Mei. Dengan demikian, pengurus wilayah di daerah dapat mempelajari semua poin itu sebelum Munas di pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.?

“Panitia harus siap-siap bekerja lebih keras lagi,” kata Kang Said sebelum rapat gabungan ditutup dengan doa oleh Pejabat Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Pondok Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 Oktober 2017

GP Ansor Subang Intensifkan Kaderisasi di Desa-Desa

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor Subang mengadakan rapat koordinasi bersama sejumlah Pimpinan Anak Cabang Ansor di Subang, Kamis (26/6). Kesempatan silaturahmi di pesantren Al-Ishlah, Jatireja, Compreng, Subang, ini digunakan untuk menampung masukan hadirin perihal kaderisasi GP Ansor di Subang.

Ratusan hadirin ini juga membahas agenda terdekat dalam rangka mengadakan kegiatan di bulan Ramadhan.

GP Ansor Subang Intensifkan Kaderisasi di Desa-Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Subang Intensifkan Kaderisasi di Desa-Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Subang Intensifkan Kaderisasi di Desa-Desa

"Minimal kita bicara konsep kaderisasi. Agar ke depan, penguatan internal di tiap kepengurusan GP Ansor bisa dilaksanakan dengan konsep tersebut," kata Ketua GP Ansor Subang Asep kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis (26/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam rakor ini Ketua GP Ansor Pagaden Edi Suryadi, Ketua GP Ansor Cipunagara Udin Saefudin, dan pengasuh pesantren Al-Ishlah KH Ushfuri Ansor, serta ratusan kader GP Ansor di tiga kecamatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Mudah-mudahan, beberapa hari ke depan, GP Ansor Subang turun ke kecamatan-kecamatan untuk memperkuat sistem kaderisasi di tiap-tiap pengurus ranting," tutup Asep. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Santri, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 01 Oktober 2017

Tiga Fokus Gerakan Kiai Sahal

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dinilai sebagai ulama yang tak hanya memiliki pemikiran cemerlang tentang masalah-masalah sosial tapi juga sekaligus menjadi penggerak atas solusi dari persoalan tersebut.

"Kiai Sahal memiliki konsen dalam bidang pemberdayaan masyarakat melalui pesantren. Pesantren menurut beliau merupakan lembaga sekaligus sistem yang harus selalu bergerak," papar Neng Tutik Nurul Jannah, menantu Kiai Sahal yang selama 10 terakhir hidup bersamanya.

Tiga Fokus Gerakan Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Fokus Gerakan Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Fokus Gerakan Kiai Sahal

Ia menyampaikan hal itu pada forum dialog dalam Pekan Kreativitas Santri Nasional 2016 dengan tema "Fikih Sosial dari Pesantren untuk Bangsa" yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah bersama Fikih Sosial Institut (FISI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) di Yogyakarta, Jumat (28/10).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut peneliti FISI Ipmafa ini, konsentrasi gerakan Kiai Sahal mengarah pada tiga bidang, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dengan hadirnya Pesantren Maslakul Huda, Rumah Sakit Islam Pati, dan Bank Perkreditan Rakyat Artha Huda Pati.

Diskusi yang berlangsung di panggung kecil di salah satu stan pameran ini juga menghadirkan pembicara lain, Jamal Mamur Asmani (Koordinator Departemen Pendidikan dan Kajian PW RMINU Jateng sekaligus peneliti FISI).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jamal menambahkan bahwa Kiai Sahal telah melakukan banyak lompatan-lompatan pemikiran pada zamannya. Kitab kuning tetap diposisikan sebagai hal yang relevan sepanjang masa dan tempat. Tidak hanya itu, kitab kuning di tangan Kiai Sahal mampu menjawab tantangan zaman.

Terdapat lima ciri-ciri fikih sosial yang harus terus kita pelajari dan kembangkan di masa yang akan datang. Selain itu, Kiai Sahal adalah orang yang tak mendikotomikan kehidupan dunia dan akhirat, keduanya saling menguatkan. (Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Jadwal Kajian, Olahraga, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 30 September 2017

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Terkait penemuan brosur iklan yang merendahkan TKI di Malaysia, Sarbumusi menganjurkan pemerintah Indonesia untuk menilai ulang bentuk kerjasama tenaga kerja dengan pemerintah Malaysia.

“Pemerintah (RI-red) harus merumuskan kembali bentuk kerjasama dengan pemerintah Malaysia terkait ketenagakerjaan,” kata Syaiful Bahri Ansori, ketum Sarbumusi, Sarikat Buruh Muslimin Indonesia kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah per telepon, Rabu (31/10) pagi.

Menurutnya, kehadiran brosur iklan tersebut patut disesalkan. Peredaran brosur iklan di Malaysia yang merendahkan tenaga kerja Indonesia, berkaitan dengan kurang adanya penegasan nyata hubungan kerjasama dua pemerintah yang bertetangga tersebut.

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Malaysia harus Dievaluasi

Syaiful menambahkan, kerjsasama harus menegaskan tenaga kerja Indonesia bukan hanya dinilai sekadar tenaga upahan. Hubungan kerjasama dua pemerintah itu harus menyatakan bahwa nilai kemanusiaan tenaga kerja Indonesia juga harus mendapat penghargaan.

Syaiful atas nama Sarbumusi menyayangkan edaran iklan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa dua pemerintah tersebut masih abai dalam menilai keberadaan tenaga kerja Indonesia dan tenaga kerja umumnya.

Agar tragedi semacam ini tidak terjadi ke depan, pembenahan dari segala sisi harus dimulai. Setidaknya pengusutan secara hukum mesti berlangsung, imbuhnya. Pada saat yang sama, imbauan moral segera digaungkan untuk menanamkan nilai kemanusiaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aspek hukum, politik, moral, dan budaya mesti mewakili suara yang mengangkat nilai kemanusiaan. Dengan demikian, eksploitasi fisik dan perasaan buruh oleh semua pihak yang berkepentingan tidak terulang, tandasnya.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 29 September 2017

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan

Oleh Mushafi Miftah

Beberapa minggu ini publik kembali gaduh, baik di dunia nyata maupun di media sosial akibat aksi intoleran kelompok-kelompok Islam garis keras. Mulai dari aksi bom bunuh diri hingga sweeping atribut perayaan hari Natal. Aksi sweeping terhadap atribut perayaan hari Natal ini berawal dari fatwa MUI Nomor 56 Tahun 2016, tentang menggunakan atribut keagamaan non-Muslim. Dalam fatwa tersebut, MUI menegaskan bahwa hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim adalah haram. Tentu saja yang dimaksud dengan atribut keagamaan di sini ialah segala sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghidupkan Toleransi, Membangun Kesejahteraan

Secara etimologis Natal berasal bahasa portugis yang berarti "kelahiran". Sedangakan secara terminologis, Natal berati hari raya umat Kristen yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Hari raya Natal ini dirayakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Atas dasar inilah perayaan Natal merupakan ekspresi kebahagiaan kaum Nasrani atas kelahiran Yesus. Sehingga, tidaklah berlebihan jika kita memberikan apresiasi terhadap kebahagiaan mereka. Memberikan apresiasi bukan berarti meyakini apa yang mereka yakini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam perspektif sosial, mengucapkan selamat hari Natal kepada orang non-Muslim (Kristen) bukanlah sebuah persoalan. Ucapan tersebut bukan berarti kita memberikan justifikasi terhadap keyakinan mereka yang mengatakan bahwa Nabi Isa adalah putra Tuhan. Tapi sebagai wujud kepedulian dan solidaritas kita sebagai umat Islam. Bukankah Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (qimah insaniyah). Dengan begitu, tidak ada yang salah jika kita saling mendoakan kepada teman, kerabat non-Muslim yang sedang merayakan kebahagiannya. Perbedaan adalah sebuah kenyataan yang harus disadari. Perbedaan adalah fitrah manusia sejak manusi itu diciptakan. Karena itu, kita semua harus menyadari bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sosial.



Beragama, Haruskah Saling Membenci?


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Beragama berarti mengakui adanya kekuatan Yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan (Allah). Pengakuan seringkali diekspresikan melalui ketundukan dengan cara menjalankan apa-apa yang menjadi ajarannya yang maha tinggi. Namun, dalam mengekspresikan keberagamaan ini, manusia tetap memerlukan adanya mediator yang bisa menuntun manusia pada ajaran yang Maha Tinggi tersebut. Mediator di sini tentu saja adalah apa yang kita kenal dengan sebutan Nabi dan Rasul. Sedangkan perasaan tunduk pada yang Maha Tinggi, yang disebut iman, atau itikad, tentu saja akan berdampak pada adanya rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), hormat (ta’dzim) dan lain-lain. Kesemuanya itu adalah unsur dasar al-din (agama).

Secara subtansial, al-din (agama) berarti aturan-aturan atau tata-cara hidup manusia yang dipercayainya bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Agama lahir di dunia ini dan membentuk suatu syariat (aturan) yang mengatur kehidupan manusia, yang termaktub dalam kitab sucinya masing-masing. Baik agama samawi (yang bersumber dari wahyu ilahi) maupun yang dalam agama ardli (budaya) yang bersumber dari pemikiran manusia. Semua agama-agama, baik samawi maupun ardli, memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Fungsi-fungsi tersebut ialah; pertama, menunjukkan manusia pada kebenaran sejati. Kedua, menunjukkan manusia pada kebahagiaan hakiki dan mengatur manusia dalam kehidupan bersama.

Atas dasar itu semua, maka pemeluk agama-agama yang ada di dunia ini, sejatinya telah memiliki strategi, metode dan teknik pelaksanannya masing-masing, yang sudah barang tentu dan sangat boleh jadi terdapat berbagai perbedaan antara satu dengan lainnya. Karenanya, umat manusia dalam menjalankan agamanya, sang pencipta agama telah berpesan dengan sangat, “Kiranya umat manusia tidak terjebak dalam perpecahan tatkala menjalankan agama masing-masing, apalagi perpecahan itu justru menciptakan motivikasi keagamaan.

Bertolak pada penjelasan di atas, semua agama memiliki tujuan yang sama. Namun, dalam menggapai tujuan tersebut, masing-masing agama memiliki cara yang berbeda-beda. Semua agama menghendaki kehidupan yang ideal, yaitu untuk menciptakan kehidupan manusia yang bermoral dan sejahtera dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks inilah sebuah sikap yang paradoks jika kita menjadikan agama sebagai pemicu terjadinya konflik horizontal. Akidah dan keyakinan kita memang berbeda, tapi setiap kaum beragama memiliki tujuan yang sama yakni menggapai apa itu yang disebut kebahagiaan hakiki.

Dalam beragama, tidaklah dibenarkan adanya aksi saling membenci dan mencaci pada penganut agama lain. Sebab, itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip beragama. Menjadikan agama sebagai alasan untuk membenci orang lain, hemat saya merupakan pemikiran yang tidak produktif. Jauh lebih penting energi kita digunakan untuk membangun kesejahteraan umat dan bangsa Indonesia. Egoisme agama harus kita kesampingkan untuk kepentingan yang lebih maslahat asalkan tidak menggadaikan akidah. Keyakinan biarlah menjadi hak pribadi-pribadi tapi soal kepentingan negara dan bangsa harus menjadi tanggung jawab bersama. Nilai-nilai agama harus menjadi spirit pembangunan sosial ekonomi bangsa ini. Karena hakikatnya agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapi juga tata cara hidup dan berinteraksi antar sesama manusia.

Dengan demikian, hanya dengan persatuan dan solidaritas kita bisa mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejahtera aman dan sentosa. Kaitanya dengan Natal, sudah sepatutnya kita saling mengahargai dan menghormati. Kita tidak perlu lagi mempersoalkan ucapan selamat Natal. Sebab ia tidak menyangkut akidah tapi hanya ikut merasakan kebahagiaan sesama manusia. Ucapan selamat Natal hakikatnya meruapakan wujud kepedulian dan solidaritas antarsesama manusia (ukhuwah bashariyah). Soal keyakinan biarlah menjadi otoritas Tuhan. Biarlah dia yang menilai kadar keyakinan atau keimanan kita. Kita tidak perlu mencampuri hak prerogatif Tuhan. Kita tidak perlu menghakimi kafir pada Muslim yang mengucapkan selamat Natal kepada temannya yang sedang merayakan Natal. Wallahu A’lam



Penulis adalah intelektual muda NU Jawa Timur dan dosen tetap IAI Nurul Jadid Paiton
Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah