Kamis, 09 Agustus 2012

Sekularisme Lokal

Suatu hari KH Masduqi Mahfudz (alm. Rais Syuriyah PBNU) diundang oleh kepala preman dan pencopet di Malang agar memberi pengajian di rumahnya.

Seusai pengajian, KH Masduqi Mahfudz bertanya kepada kepala preman itu.

Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekularisme Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekularisme Lokal

“Sampeyan itu kan preman dan pencopet, kok ngundang saya untuk memberi pengajian?”

Sang preman menjelaskan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Begini kiai, walaupun saya ini preman dan pencopet, saya tetap ingin beribadah. Ngaji itu ibadah kiai, lha nyopet itu kerja. Ngaji ya ngaji kyai, kerja ya kerja. Jangan dicampur-campur!”

Kiai Masduqi Mahfudz tertawa dengan keras ketika menceritakan peristiwa tersebut. Katanya, sang kepala preman dan pencopet itu telah menerapkan faham sekularisme meskipun tingkat lokal. (Muhammad Nuh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 06 Agustus 2012

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Oleh? Rijal Mumazziq Z

Gula menjadi salah satu basis industri andalan kolonial Belanda pasca (hampir) bangkrutnya mereka akibat Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh. Melalui sistem tanam paksa, penjajah menikmati kemakmuran di Hindia Belanda, apalagi dengan adanya sistem sewa tanah 70 tahun. Para bangsawan Jawa, misalnya, dengan ceroboh banyak yang menyewakan tanah-tanah leluhurnya untuk kepentingan industri gula, teh, kakao, dan kopi yang dikelola pengusaha Eropa. Mengenai kejamnya sistem kapitalis yang disokong feodalisme konyol ini bisa dibaca dalam novel "Max Havelaar"-nya Multatuli.

Dua dasawarsa sebelum pergantian abad 19 ? ke 20, pabrik gula didirikan di berbagai daerah. Semua menjadi mesin yang menggelembungkan kantong bangsawan Belanda dan mengeringkan keringat kaum pribumi. Mangkunegoro IV, tercatat sebagai salah satu raja Jawa terkaya, yang turut mendirikan beberapa pabrik gula untuk menopang ekonomi keraton, seperti PG Colomadu dan PG Tasikmadu. Di eranya, industri ini menjadi salah satu pabrik gula pribumi yang bersaing dengan industri gula milik kaum kolonial. Prof Wasino menjelaskanan seluk beluk industri gula yang dikuasai bangsawan Jawa, Mangkunegoro IV (dan sedikit ulasan mengenai pabrik milik Hamengkubowono VII dengan kepemilikan 17 pabrik gula itu) dalam "Kapitalisme Bumiputra", sebuah buku menarik soal industri gula di pergantian abad.

Berdirinya pabrik gula di beberapa daerah juga diiringi dengan berdirinya permukiman di dekatnya. Adanya permukiman alias tangsi bagi buruh pabrik yang berasal dari luar daerah juga diiringi dengan tumbuhnya bisnis haram seperti perjudian, penjaja minuman keras, hingga prostitusi terselubung tak jauh dari lokasi pabrik. Jadi, lazim terjadi manakala setelah menerima upah, mereka akan menandaskannya di meja judi maupun memberi saweran kepada penari yang merangkap pekerja seks.

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Siasat Kiai NU Menghadapi Berdirinya Pabrik Gula Belanda

Lalu, bagaimana ulama kita menyikapi fenomena ini? Alih-alih hanya mencaci maki, dengan cerdas dan bijak, para ulama menyalakan pelita di tempat gelap ini. Maka, berdirilah pesantren-pesantren legendaris tak jauh dari pabrik gula.

Pondok Tebuireng berhadapan menantang Pabrik Gula Tjoekir. Ponpes Denanyar tak jauh dari PG Djombang Baru. Ponpes Lirboyo tak jauh dari PG Pesantren Baru. Ponpes Zainul Hasan Genggong tak jauh dari PG Padjarakan. Ponpes Salafiyah Syafiiyah berdekatan dengan PG Asembagoes. PP Assuniyah Kencong Jember berdekatan dengan PG Gunungsari. Ponpes Annur Bululawang Malang juga tak jauh dari PG Krebet.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam fakta lain, berdirinya pondok pesantren di dekat pabrik gula ini kelak juga menghambat pengaruh PKI di kalangan buruh pabrik. Kaum kiri memang mendominasi gerakan buruh pabrik dan jawatan kereta api. Aksi-aksi pemogokan buruh beberapa kali juga dimotori kaum kiri, khususnya era 1920-an dan 1930-an.

Dalam kasus pembantaian ulama di Madiun, 1948, PKI menggerakkan buruh PG Pagotan sebagai milisi yang menggorok Kiai Shiddiq dan beberapa ulama lain di desa Kresek. Bahkan KH Masyhudi, Mursyid Thariqah Syadziliyah, yang juga menantu Kiai Shiddiq, menjelaskan apabila sebelum dieksekusi, milisi PKI menggunakan salah satu bangunan di PG Pagotan sebagai ruang penyekapan.

Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, juga menjadi lokasi penyekapan para kiai, camat, pamong desa, lurah, mantri, dan ratusan orang lainnya pada September 1948 itu. Kemudian para tawanan ini dieksekusi dengan cara diberondong senapan mesin. Kiai Imam Shafwan dan putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, dikubur hidup-hidup setelah sebelumnya disiksa habis-habisan. Adapun Kiai Mursyid, pengasuh PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan, yang juga menjadi salah satu kawan diskusi KH Abdul Wahid Hasyim tatkala di BPUPKI, ikut dilenyapkan dan tidak diketahui makamnya. Para pelaku pembantaian ini, kabarnya adalah anggota serikat buruh pabrik gula Pagotan dan Rejosari yang didukung militer yang pro FDR.

Bisa dibilang, adanya pesantren di dekat pabrik gula menjadi penanda lanjutan Perang Jawa. Para cucu Laskar Diponegoro yang berdiaspora di pedalaman Jawa itu kemudian memilih melawan mesin kolonialisme Belanda bukan dengan cara yang frontal, melainkan dengan pencerdasan masyarakat yang terkonsentrasi di tangsi buruh maupun masyarakat sekitar pabrik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Langkah-langkah yang dilakukan oleh para kiai di atas memberikan sebuah hipotesa awal bahwa siyasah alias politik yang dilakukan dengan cara yang elegan dan cerdas akan bertahan lama!

Penulis adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Khutbah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 19 Juli 2012

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam

Oleh Moh Nasirul Haq



Setiap umat memiliki hari perayaan dan musim-musim tertentu sejak dahulu kala. Mereka berkumpul untuk menunjukkan syiar-syiar ibadah atau meluapkan kegembiraan dengan saling bertukar hadiah atau penghormatan.

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Hari Raya Jahiliyah, Ahli Kitab dan Umat Islam

Perayaan merupakan hal yang penting bagi segenap kaum. Dan kaum yang tidak memiliki perayaan adalah kaum yang tidak memiliki sejarah. Suatu perayaan, selain mengandung tradisi sosial budaya juga menjadi sarana memperkokoh unsur toleransi kebersamaan.

Setiap umat tentunya memiliki keragaman dalam melakukan perayaan itu sendiri ada yang positif ada yang negatif. Berikut uraian perayaan yang pernah ada

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



1. Perayaan bangsa jahiliyah (pra-Islam)


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bangsa jahilyiah memiliki banyak jenis perayaan, biasanya berkaitan dengan penyembahan kepada berhala, kebangkitan suku, dan lain-lain. Ibnu Risiq dalam kitab al-Umdah menjelaskan, "Kabilah suku Arab memiliki tiga perayaan. Pertama, saat melahirkan anak laki-laki; kedua, saat kuda mereka melahirkan; ketiga, saat muncul penyair baru dan bentuk perayaannya mereka luapkan dengan pesta seks, berjoget, mabuk, dan judi."

Bangsa jahiliyah juga merayakan hari "Naairuz" dan hari "Mahrojan" yaitu dua perayaan ketika berlangsung perubahan iklim atau cuaca.

Sementara umat jahiliyah modern dalam kitab Haitsi karya Syekh Nasir asy-Syaibani mendeskripsikan, suatu perayaan dengan hal yang berbau hiburan, malahi (melengahkan), miras, dan pelacuran. Misalnya bangsa Yunani Kuno memiliki perayaan "Bakus". Dalam perayaan ini wanita dan pria disuruh melepaskan rasa malu untuk melampiaskan hasrat seksualnya dan siapa saja yang menolak akan dikubur hidup-hidup.



2. Perayaan ahli kitab (kaum Nabi Musa dan Nab
i Isa)

Mengenai perayaan kaum Nabi Musa Allah SWT berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ?

Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik". (QS Thaha: 59)

Yaumu Zinah merupakan perayaan bagi mereka untuk melakukan penampilan terbaiknya dan berhias diri pada setiap hari Asyura tepatnya hari Sabtu.

Sementara Allah berfirman mengenai kaum Nabi Isa:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Isa putra Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu maidah (hidangan) dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki". (QS Al Maidah: 114)

Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud "maidah" di sini adalah tujuh roti dan tujuh ikan hiu yang mereka makan hingga kenyang. Sementara dalam hadits disebutkan maidah itu adalah hidangan dari langit berupa roti dan daging yang mana mereka diperintahkan agar tidak berkhianat dan tidak menyimpannya untuk esok harinya. Namun mereka berkhianat dan menyimpannya hingga mereka dikutuk menjadi kera dan babi. Demikian sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Jalalain.



3. Perayaan dalam Islam


Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah RA:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Datang kaum Habasyah mereka berzafin pada hari ied di masjid lalu rosululloh memanggilku kemudian kepalaku diletakkan di sikutnya agar aku bisa melihat pada permainan mereka hingga aku yang berpaling dari melihat mereka"

Dan diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih dari sahabat Anas RA, ia berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ?

"Nabi datang kemadinah dan penduduk madinah memiliki dua hari perayaan untuk bermain main. Nabi berkata ; Allah telah mengganti dengan dua hari yang lebih baik darinya yaitu hari idul fitri dan idul adha."

Dari kedua hadits ini bisa kita ketahui bahwa Islam menjadikan hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha sebagai perayaan Islam. Sebagaimana yang telah kita lakukan dalam menyambut hari raya, biasanya kita mengumandangkan takbir, melaksanakan shalat id, membayar zakat, menyembelih kurban, bersilaturahim pada sanak famili. Tentu semua ini tidak lepas dari maqashid syariah atau tujuan syariat, di antaranya:

- Idul Fitri dirayakan setelah kita menyempurnakan ibadah agung pada bulan Ramadhan mulai dari puasa, shalat tarawih, tadarus, qiyamul lail, dan lain-lain. Sementara pada Idul Adha tidak dilakukan kecuali telah melakukan manasik haji.

- Perayaan Islam merupakan perayaan yang terkait aspek sosial kemasyarakatan, memperhatikan kaum yang lemah agar tidak merasa lapar pada hari yang berbahagia dengan program zakat dan sedekah atau juga THR bagi segenap karyawan.

- Momentum memperkuat ukhuwah islamiyah dengan silaturahim. Aristoteles berkata, manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk yang bermasyarakat dan bersosialisasi. Dalam bersosialisasi, manusia akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Interaksi sosial adalah adalah hubungan yang dinamis yang menghubungkan masing-masing individu dan kelompok. Salah satunya bisa kita tempuh melalui bersilaturahim.

- Menurut Syekh Abdurrohman Habannaka, "Perayaan ini tidak hanya untuk mengenang sejarah atau meneruskan sejarah, akan tetapi untuk merealisasikan keluhuran yang selalu diperbaiki setiap tahunnya. Kemudian ditanamkan pada setiap Muslim atau paling tidak bagi mayoritas umat Islam. Sebagaimana shalat sebagai ibadah harian maka Allah menjadikan hari jumat sebagai hari raya dengan perasaan bahagia sebab sudah sukses melaksanakan ibadah selama seminggu penuh."

Sementara di sisi lain Al-Habib Abu Bakar Ahmad Al-Haddar mengatakan dalam kitab Madrasah Ramadlaniyah bahwa perayaan hari raya ini memiliki beberapa perspektif ditinjau dari beberapa bidang.

Menurut para arifin (orang shalih), Imam Ali radliyallahu ‘anh berkata, hari ini merupakan hari raya bagi orang yang diterima puasanya dan bagus rekam jejaknya serta mendapat ampunan dosanya. Hari ini bagi kita adalah hari raya, besok juga hari raya, dan setiap kita tidak bermaksiat kepada Allah adalah hari raya."

Menurut ahli gramatika, hari raya "id" yaitu setiap hari yang terdapat perkumpulan atau sejenisnya. Ibnu Arabi berkata, “Mengapa dikatakan id (kembali)? Karena perayaan itu kembali setiap tahunnya dengan beragam kebahagiaan yang baru." Oleh karena itulah di saat hari raya kita mengucapkan "Minal aidzin wal faizin kullu amm wa antum bi khairin" agar kita taun kembali di tahun berikutnya dengan kondisi yang bebahagia.

Menurut para penyair, hari raya id merupakan kesempatan yang digunakan para penyair untuk berbicara dan open house dengan para pimpinan, khalifah, pejabat pemerintah, ulama, atau siapa pun yang memiliki kedudukan penting meskipun tidak harus dalam kondisi senang saja, bisa jadi juga dalam kondisi gawat atau sedih namun bertujuan membangkitkan gairah dan semangat kebahagiaan.

Penulis adalah Santri Rubat Syafii Mukalla Yaman



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Berita, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 09 Juli 2012

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Pengurus Pusat Lajnah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PP LPTNU) ? Prof Dr H Noor Ahmad mengatakan, mengembangkan sebuah ? perguruan tinggi (PT) dibutuhkan semangat konsistensi perjuangan yang kuat. Pengelola PT harus siap berkorban ? jiwa dan raganya untuk kemajuan lembaga pendidikan tersebut.

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU: Kembangkan Perguruan Tinggi dengan Konsistensi Perjuangan

“Mengelola lembaga pendidikan tidak boleh berhenti semangatnya dalam situasi apapun baik senang maupun susah. Terus infakkan apa yang kita punyai baik ilmu maupun badan yang dimiliki,”ujarnya dalam acara halal bi halal yang diadakan Badan Pelaksana Pendidikan Ma’arif NU (BPPMNU) Az-zahra Akbid Muslimat NU Kudus belum lama ini.

Di depan jajaran pengurus dan civitas akademika Akbid Muslimat, Noor Ahmad menekan pengembangan lembaga pendidikan NU perlu ditunjang aspek non fisik yang sehat. Pengelolaannya ? harus dengan tangan dingin, tepo seliro dan penuh kasih sayang.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dalam lembaga pendidikan atau perguruan tinggi ? sangat berhubungan dengan orang lain sehingga pengelolaanya perlu suasana komunikasi yang baik dan kondusif,” tegasnya lagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disamping itu, tandas Rektor Unwahas Semarang, ? mengembangkan pendidikan harus bersandar pada ? pilar-pilar pendidikan. Yakni tilawah artinya mengarahkan pemahaman terhadap sesuatu kepada anak didik, mengajarkan ilmu pengetahuan atau transfer of ? knowledge dengan memberikan orientasi ke depan dengan jelas.?

“Kemudian Transfer of ruler, menyampaikan sesuatau berdasarkan ketentuan atau dasar-dasar agama, akhlak dan terakhir tazkiyatun nufus atau menyucikan jiwa,”terang Noor Ahmad.

Ia menegaskan selama mempunyai orientasi yang jelas, mengelola pendidikan akan lebih mudah dan akan cepat berkembang pesat.

Noor Ahmad juga mengapreasiai semangat pengurus BPPMNU Az-Zahra yang membawahi Akbid Muslimat NU Kudus. Menurutnya, bangunan fisiknya sangat bagus dan mewah sehingga masa depan kampus ini akan bisa menjadi besar.

“Sekarang tinggal ditargetkan kapan Akbid ini cepat menjadi universits atau minimal menjadi sekolah tinggi,” tegasnya.

Disamping pengurus BPPMNU Az-zahra dan mahasiswa Akbid, hadir pula ketua PCNU Kudus KH Chusnan dan pengurus NU lainnya. Kegiatan halal bi halal ini diakhiri dengan musafahah dan foto bersama.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 02 Juli 2012

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Tim Kirab Resolusi Jihad NU di hari kedua tiba di Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (14/10) malam. Tim diterima panitia lokal dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di Pendopo Kabupaten.

Begitu masuk ke halaman Pendopo, ribuan siswa dan mahasiswa, serta perwakilan banom dan lembaga di bawah PCNU Sidoarjo menyambut dengan wajah penuh suka cita. Lantunan solawat tak henti-hentinya mereka perdengarkan, hingga Tim akhirnya dibawa ke tempat atraksi pendekar Pagar Nusa Sidoarjo.

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Sidoarjo Unjuk Kebolehan Sambut Kirab Resolusi Jihad

Tim pun terpukau saat anggota pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa meledakkan petasan dengan ledakan tinggi di atas tubuh mereka, namun para pendekar itu tidak cedera sedikit pun. Dalam waktu berdekatan, pendekar Pagar Nusa juga terbukti berhasil memutuskan rantai besi yang melilit tubuh mereka.

Selanjutnya, Tim segera masuk ke dalam pendopo untuk mengikuti upacara penyambutan. Ketua PBNU KH M. Salim Aljufri berkesempatan memberikan sambutan mewakili PBNU. Ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada jajaran Pemda Sidoarjo yang mendukung kegiatan kirab dengan mengizinkan Tim Kirab menyinggahi Sidoarjo, bahkan menjadikan Pendopo Kabupaten Sidoarjo sebagai tempat upacara penyanbutan.

Selanjutnya, ia mengatakan terkait dengan pelaksanaan kirab yang merupakan salah satu agenda dalam dalam peringatan Hari Santri Nasional. Santri bukan sekadar orang-orang yang turut berada di Indonesia, tapi juga sebagai penentu Kemerdekaan RI.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Santri juga bukan sekadar pelajar, tetapi juga tulang punggung dan berada di ? garda terdepan dalam membentengi bangsa dari berbagai ? keruntuhan moral. Menurut Kiai Salim saat ini banyak terjadi kejahatan terorisme, penyalahgunaan narkoba, dan penyimpangan perilaku seksual. Semua keruntuhan moral itu harus dicegah dan dihadapi dengan iman. Dan santri harus berdiri paling depan dalam mengatasinya.

Kepada para peserta kirab, ia berpesan bahwa ajang kirab juga merupakan pendidikan politik. Peserta kirab dengan mengunjungi berbagai daerah, akan menemui masyarakat yang ternyata adalah warga NU. Artinya NU ikut menentukan jalannya bangsa ini.

Kiai Salim lalu mengingatkan bahwa peserta kirab yang merupakan generasi muda tak lain adalah pemimpin di masa mendatang, di mana tanggung jawab menjaga moral bangsa Indonesia berada di tangan mereka.

“Nahdlatul Ulama adalah pelopor dunia Islam. Saat ini kiblat dunia Islam adalah Indonesia, salah satunya karena kerukunan yang ditunjukkan warga Islam Indonesia. Jangan sampai dihancurkan apa yang sudah dijalin NU selama ini,” jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo KH Abdi Manaf juga memberikan sambutan. Menurutnya NU dan NKRI tak bisa dipisahkan. Dibuktikan dengan di setiap acara NU selalu dinyanyikan dua lagu yakni Indonesia Raya dan Syubbanol Wathon. Lagu Syubbanol Wathon yang diciptakan Abdul Wahab Chasbullah, adalah lagu tentang cinta tanah air. Lagu itu diciptakan tahun 1934, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kepada peserta kirab, KH Abdi Manaf menitipkan pesan untuk PBNU. Bahwa NKRI adalah harga mati, sehingga apabila ada kelompok gerakan yang ingin merongrong NKRI, agar disampaikan kepada pemerintah bahwa melompok itu adalah bagian dari musuh NU.

“Tentu adalah hal yang tidak diinginkan bahwa akan ada Resolusi Jihad jilid 2. Tetapi bila itu terjadi NU harus siap bergerak,” cetusnya.

Dari pihak Pemkab Sidoarjo, sambutan diberikan oleh Wakil Bupati Nur Ahmad Saifuddin. Ia pun menyampaikan rasa bangga karena tim kirab berkenan singgah di Sidoarjo.

Sidoarjo, tutur Wabup, tidak asing lagi dengan NU karena mayoritas warganya juga NU. Pendopo Kabupaten juga tidak asing lagi dengan kegiatan ke-NU-an, seperti dengan dan tahlilan. Ke depan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) sangat mungkin berpentas di Pendopo Kabupaten.

Dalam peringatan Hari Santri 2016, Kabupaten Sidoarjo juga melakukan sejumlah kegiatan. Diantaranya Pameran Produk Santri dan Pameran Pesantren, Lomba baca kitab, pembacaan satu milyar shalawat Nariyah, pentas ketoprak santri dengan Lakon Resolusi Jihad. Juga pihak Pemda sedang berkoordinasi dengan pihak terkait berkenaan dengan pelepasan ribuan balon udara.

Kegiatan lainnya adalah Festival Munajat Seribu Santri, pembacaan puisi dan jalan sehat santri yang bekerjasama dengan LP Maarif NU. Diperkirakan akan melibatkan 18 ribu peserta.

Pemkab Sidoarjo dalam kegiatan tersebut bersinergi dengan NU melalui banom-banom yang ada di bawahnya. Kepada Tim Kirab Wabup berharap Kirab Resolusi Jihad dan peringatan Hari Santri Nasional akan menjadi ajang penguatan cinta tanah air. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Nahdlatul, Warta Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 30 Juni 2012

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Atasi Perusakan Hutan, Menhut Minta Bantuan Muslimat NU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengaku kesulitan melakukan upaya konservasi lingkungan di samping menangani pembalakan liar di berbagai daerah. ? Zulkifli memohon ribuan peserta Rapat Kerja Nasional Muslimat NU untuk meningkatkan kesadaran warga dalam memantau pelestarian hutan lindung, hutan konservasi serta pemanfaatan hutan produksi.

Atasi Perusakan Hutan, Menhut Minta Bantuan Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Perusakan Hutan, Menhut Minta Bantuan Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Perusakan Hutan, Menhut Minta Bantuan Muslimat NU

“Kami berharap kerja sama yang pernah dijalin dengan Muslimat NU bisa dilanjutkan. Saat ini peran Muslimat sangat dibutuhkan dalam ? memberi penjelasan dan penyadaran kepada masyarakat terutama di luar Jawa,” harap Zulkifli dalam Rakernas Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (30/5).

Menurutnya, saat ini banyak hutan lindung dan lingkungan konservasi dirusak warga dan sejumlah elit melalui pertambangan dan pembalakan liar serta penggunaan lahan sawit yang tidak pada tempatnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Saya, kata Zulkifli, tiap hari dimarahi orang-orang dari seluruh dunia karena banyaknya gajah mati di Sumatera. Kepala-kepala negara asing juga bisa marah besar kepada kita karena di Kalimantan banyak pembakaran orang utan. Di sejumlah daerah, pemerintah menggusur kebun sawit karena merusak konservasi. Di Konelo Riau, hutan-hutan lindung dirusak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Perusakan hutan itu hanya menguntungkan beberapa orang, tapi merugikan ? ribuan penduduk karena asap dan banjir,” terang Zulkifli menjawab pertanyaan Ketua Muslimat NU Jayapura menunjuk pada pelestarian hutan lindung di pegunungan Siklop.

Kebijakan terkait pengelolaan lingkungan hidup, harus diubah. Pasalnya, saat ? ini masih banyak peraturan yang tidak berpihak kepada rakyat seperti akses hutan, tanah dan air. Kebijakan yang berlaku kini membatasi rakyat, tapi sangat terbuka bagi korporat dan perusahaan tertentu.

Saat ini akses pengelolaan lingkungan 99,9 persen untuk korporat. Untuk publik hanya 0,0 sekian persen. Maka kita kini mengupayakan adanya hutan tanaman rakyat, hutan kemasyarakatan dan hutan desa sebesar 500 ribu hektar per tahun. Saya mencanangkan, 2,5 juta hektar. Satu juta hektar sudah terrealisasi. Pemda ditunjuk sebagai pelaksana.

“Masalahnya, banyak permohonan atas nama masyarakat tapi di belakangnya korporat. Muslimat NU perlu mengawal ini bersama pemerintah,” tegasnya.

Zulkifli juga mengaku kewalahan menjawab pertanyaan Muslimat Bangka Belitung tentang maraknya tambang liar dan perebutan lahan antara penduduk lokal dan pendatang. Karena, warga pendatang sangat mudah memperoleh sertifikat pengelolaan lahan secara cuma-cuma, sementara penduduk lokal harus membeli lahan saat ingin membuka ladang.

Di Babel itu sulit sekali, Wapres pernah memimpin langsung rapat di sana agar menghentikan tambang-tambang liar yang menjadi pencaharian masyarakat. Kalau dilarang, kita melawan ribuan warga. Sementara setelah diaudit, pendapatan Pemda Babel tidak seberapa. Sedangkan kerugiannya, kerusakan lahan dan bencana. Kita sulit mengatasinya, sementara aparat diam.

“Waktu Gubernurnya Pak Eko, saya minta pemerintah menangkap para perambah liar. Tetapi jawabnya, saya ini sendirian di sini. Kalau saya tindak mereka, yang diprotes malah saya. Di sinilah dilematisnya,” keluh Zulkifli. (Abdul Malik/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri, Kajian, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah