Minggu, 25 September 2016

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

Gaza, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pembentukan pemerintahan nasional bersatu di Palestina masih tersendat-sendat. Pertemuan antara Presiden Mahmud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyah untuk membahas susunan pemerintahan koalisi di Gaza, sejak Ahad (4/3) malam hingga dinihari, tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.

Kedua pemimpin Palestina itu menyelesaikan pertemuan mereka lewat tengah malam, tanpa memberikan komentar pada para wartawan yang sudah menunggu. Juru bicara kabinet Hamas, Ghazi Hamad hanya mengatakan, pembahasan belum selesai dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

"Mereka berharap sudah bisa mengumumkan pemerintahan koalisi di akhir tenggat waktu yang diberikan pada Haniyah, yang akan berakhir dua minggu lagi," kata Hamad.

Pertemuan antara Abbas dan Haniyah di Gaza berlangsung selama tiga jam. Sebelum pertemuan, juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh mengatakan, tugas untuk menentukan posisi-posisi dalam pemerintahan koalisi yang dibebankan pada Haniyah, harus selesai dalam satu minggu ini.

"Pemerintahan berjalan dengan baik. Tidak ada masalah serius dalam konsultasi itu," tukas Rudeineh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Abbas dan Haniyah rencananya akan melanjutkan pertemuan di Gaza sampai hari Selasa besok untuk membahas sejumlah persoalan yang masih belum disepakati oleh kedua belah pihak. Salah satunya adalah penentuan orang yang akan menjabat sebagai menteri dalam negeri. Hamas sudah mengajukan dua calon untuk posisi itu, tapi keduanya ditolak oleh Abbas. Posisi menteri dalam negeri adalah salah satu posisi strategis dalam kabinet, karena menteri dalam negerilah yang akan memegang kontrol seluruh aparat keamanan di Palestina.

Haniyah dan Abbas juga belum sepakat tentang siapa yang akan memegang jabatan deputi perdana menteri. Tapi tampaknya, posisi itu masih akan dipegang oleh Salam Fayyad karena dianggap cukup moderat dan diharapkan bisa membantu melonggarkan embargo finansial negara-negara Barat terhadap pemerintahan Hamas di Palestina.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penunjukkan Ziad Abu Amar sebagai Menteri Luar Negeri, juga masih menjadi perdebatan antara Hamas dan Fatah. Hamas menginginkan penunjukkan Amar adalah bagian penunjukkan menteri-menteri dari kalangan independen, sementara Fatah menginginkan sebaliknya. (era/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Tegal, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 September 2016

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

Oleh Nine Adien Maulana

Ramadhan sudah berlalu. Umat Islam merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. Selama masa hari raya ini ucapan selamat (tahniah) yang paling populer yang sering disampaikan oleh banyak orang adalah minal ‘aaidiin wal faaiziin dan mohon maaf lahir batin. Media massa baik cetak maupun elektronik pun berperan besar mengampanyekan ucapan selamat ini.

Saya penasaran fenomena itu, sehingga tertarik untuk melakukan survey sederhana. Setiap ada murid yang mengucapkan minal ‘aaidiin wal faaiziin kepada saya, saya pun bertanya, “Apa maksudnya?”. Mereka pun menjawab, ”Mohon maaf lahir batin, Pak!”. Saya pun menyimpulkan bahwa selama ini ungkapan minal ‘aaidiin wal faaiziin dikira bermakna mohon maaf lahir batin.

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

Bagi orang yang mengerti bahasa Arab, walaupun hanya sedikit, pasti akan mengatakan bahwa ini adalah tidak tepat. Dalam hal ini saya menganalogikannya seperti anak-anak SD yang baru saja belajar bahasa Inggris yang tahunya ada tulisan welcome di keset (alas yang difungsikan untuk membersihkan kotoran pada alas kaki), maka hal itu melekat dalam ingatan mereka bahwa bahasa Inggris keset adalah welcome. Karena kesalahan ini dilakukan secara massif, maka inilah yang dinamakan salah kaprah, salah tapi dilakukan banyak orang sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagaimana seharusnya yang ucapan tahni’ah yang tepat? Jika kita membaca literature, memang kita menemukan tradisi di kalangan para sahabat Nabi, yakni mengucapkan selamat (tahni’ah) kepada sesama umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan puasa Ramadlan. Bunyi bacaan selamatnya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, namun ada pula yang menambahnya “taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Ada pula yang masih menambahnya “wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair”.

Jika ucapan selamat itu dirangkai memang menjadi sangat panjang, “taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair” Artinya adalah “semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadlan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu senantia dalam kebaikan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari ucapan selamat yang panjang inilah, kita bisa lacak asal-usul ucapan minal “aaidiin wal faaiziin” yang artinya termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Dari sini pula kita sudah tahu kan bahwa ucapan tahniah ini tidak ada sangkut pautnya dengan mohon maaf lahir batin.

Sayangnya, ucapan tahniah yang panjang itu, yang juga bisa bermakna do’a itu, sampai pada kita mengalami penyusutan atau sengaja diringkas. Lebih parahnya meringkasnya juga kurang pas. Ibaratnya kita menyampaikan informasi tentang kuda, namun yang kita jelaskan adalah ekornya. Kita potong ekor kuda itu, lalu kita bawa potongan ekor itu kemudian kita sampaikan kepada semua orang bahwa ini adalah kuda. Kita merasa bahwa apa yang telah kita sampaikan adalah benar, sedangkan orang telah mengetahui kuda pasti akan tertawa dengan penjelasan kita tentang kuda itu.

Secara sederhana, kita tahu bahwa “aaidiin wal faaiziin” bukanlah kalimat yang sempurna (al-jumlatul mufiidah). Pasti mucul di benak kita lho kok tiba-tiba muncul “termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang (minal ‘aaidin wal faizin). Pasti ia tidak berdiri sendiri. Bacaan ini pasti terikat atau berhubungan dengan bacaan sebelumnya.

Dengan agak sedikit "memaksa" kita sebenarnya bisa berdalih bahwa bacaan itu bermakna do’a, sehingga boleh diucapkan dengan ungkapan singkat atau ada sesuatu yang disembunyikan (mahdzuf), namun untuk menterjemahkannya kita perlu memunculkan makna yang disembunyikan bacaannya itu, agar mudah dipahami. Dengan alasan ini kita bisa menterjemahkan “minal ‘aaidin wal faizin” dengan “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang.

Kalau kita mau meniru apa yang dilakukan sahabat Nabi, sebenarnya yang paling tepat kita ucapkan adalah bacaan selamat panjang itu. Kalaupun itu telalu panjang, kita bisa menyingkatnya dengan bacaan yang paling populer di kalangan mereka, yaitu “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, bukan mengucapkan minal ‘aaidin wal faizin."

Alasannya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum” adalah bacaan yang telah sempurna struktur? kalimatnya. Selain itu, bacaan ini adalah paling populer di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, dibadingkan bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Bahkan, saya menduga bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin” tidak populer, untuk tidak mengatakan tidak pernah ada, di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa kita lacak pada kitab Fathul Bari karya Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau mengatakan dalam kitabnya itu, “Telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum.” (Fathul Bari, juz II, halaman 446).

Bagaimana fakta di Indonesia? Ternyata yang populer adalah “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Inilah uniknya orang Islam di Indonesia. Mereka tidak menerima tradisi pengucapan tahniah ini apa adanya. Mereka malah mengkreasi tradisi baru ala Indonesia, walaupun kemudian menjadi salah kaprah.

Buktinya, “minal ‘aaidiin wal faaiziin” lebih populer dan dikira bermakna mohon maaf lahir batin. Selain itu mereka mengkreasi tradisi Halal Bi Halal yang tidak ada rujukannya secara khusus dari Islam atau dari tradisi Arab.

Inilah masalah budaya. Selama ia mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syari’at, marilah bersikap moderat. Sikap moderat ternyata juga ditampilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah saat ditanya tentang ucapan selamat di hari raya. Beliau menjawab, “Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan, taqabbalallaahu minnaa wa minkum dan a’aadahullaahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad, dan lain lain. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmuu’ Fatawa (XXIV/253)

Meskipun saya lebih sependapat ucapan tahni’ah dengan “taqabbalallahu minnaa wa minkum daripada “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, namun saya tidak bisa memaksakan kecenderungan saya ini kepada siapa pun, karena memang ini adalah masalah budaya. Dilakukan boleh tidak dilakukan pun juga boleh. Namun, jika anda lebih suka dengan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, kemudian mengartikannya dengan mohon maaf lahir batin, maka jelas saya tidak setuju. Ini jelas salah. Kalau tidak dibetulkan akan menjadi kaprah. Oleh karena itu, saya harus memaksa Anda untuk tidak mengartikan demikian agar tidak salah kaprah.

*) Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk, Megaluh, Kabupaten Jombang.Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Olahraga, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 September 2016

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mendikbud Anies Baswedan akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun untuk mengikuti setiap ajang lomba yang diselenggarakan oleh pihaknya. Selain madrasah dan sekolah kedinasan, Kemdikbud juga akan mengakomodir sekolah dari jalur pendidikan nonformal dan informal, seperti sekolah alam dan sekolah rumah.

“Kami mengapresiasi niatan tersebut, karena menurut kami, segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas peserta didik, tidak relevan lagi mempermasalahkan hal-hal teknis,” ujar Sekretaris PP LP Ma’arif NU, Zamzami, SAg, MSi saat dihubungi lewat telepon, Jum’at (13/3) di Jakarta.

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Seperti, tambah Zamzami, kasus ‘pembegalan’ madrasah baru-baru ini di ajang OSN, itukan teknis, karena selama ini ajang-ajang kompetitif saling terpisah sejak tahun 2009 antara Kemenag (KSM) dan Kemdikbud (OSN). Oleh karena itu, kata dia, kualitas peserta didik melalui lomba-lomba kompetitif jangan dipilah-pilah seperti itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sesungguhnya kami sangat menyayangkan langkah Kemenag untuk mengadakan ajang sendiri, karena kalau satu sama lain menyelenggarakan sendiri-sendiri, buat apa kami menyelenggarakan pendidikan nasional,” ucapnya.

Perlu diketahui, tambahnya, tahun 2002, kompetisi seperti OSN itu diikuti oleh seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun. “Kami protes kasus ‘pembegalan’ MI di Semarang itu atas dasar kepentingan peserta didik, meskipun kami tahu Kemenag dan Kemdikbud sebetulnya mempunyai ajang masing-masing,” terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti diinformasikan, tahun 2015 ini, Kemdikbud akan menyelenggarakan berbagai macam ajang kompetisi dan festival, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN), Kuis Kihajar (Kita Harus Belajar), Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari), Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional (LKJS), Lomba Cipta Puisi, Cipta Lagu, Melukis, Membatik, dan lain sebagainya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 18 September 2016

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengisi akhir Ramadhan 1436 H dengan membagikan takjil gratis di depan eks kantor Pemkab Probolinggo di Kecamatan Dringu, Probolinggo, Jawa Timur.

Bagi-bagi takjil gratis ini melibatkan para pengurus PC Muslimat NU, PC Fatayat NU, PC GP Ansor, PC IPNU, PC IPPNU Kabupaten Probolinggo serta pengurus Persit Kartika Candra Kirana Cabang XXXIV Kodim 0820 Probolinggo dan Bhayangkari Polres Probolinggo.

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Pembagian takjil gratis ini disambut dengan sangat antusias oleh para pengendara jalan sekaligus pemudik yang melintas di area Jalan Raya Dringu Kabupaten Probolinggo. Bahkan sebanyak 500 paket takjil ludes dalam waktu tidak sampai lima menit.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagi-bagi takjil berlangsung Ahad (3/6) sore, dimulai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 17.00. “Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengisi waktu diakhir bulan suci Ramadhan sebagai upaya berbagi kepada sesama yang sedang menjalankan ibadah puasa,” kata Tantri.

Tantri berpesan, agar masyarakat yang hendak merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah bisa menyambutnya dengan suka cita. Namun, tetap harus dengan cara sederhana. Misalnya, tidak konsumtif saat menyambut hari raya. Hendaknya uangnya dipakai untuk keperluan beribadah, bukan keperluan yang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tetap harus memprioritaskan kepentingan beribadah. Misalnya untuk beli sajadah atau rukuh senilai Rp500 ribu terasa berat sekali. Namun, untuk beli baju Lebaran, walaupun harganya Rp750 ribu tidak masalah untuk dibeli,” pungkasnya.

Selain di Kecamatan Dringu, pembagian takjil gratis juga dilakukan di depan Alun-alun Kota Kraksaan dengan melibat PC GP Ansor Kota Kraksaan. Disini disediakan sedikitnya 250 paket takjil gratis bagi pengendara jalan yang melintas di Jalan Raya Panglima Sudirman Kota Kraksaan. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 15 September 2016

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejarawan NU, KH Agus Sunyoto menegaskan, bahwa kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Dia juga menerangkan, istilah santri memang asli dari Indonesia, berbeda dengan istilah siswa yang berasal dari Belanda.

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto

Jika dirunut sejarahnya, kata Ketua PP Lesbumi NU ini, awalnya Indonesia dianggap negara boneka Jepang oleh Negara sekutu karena kemerdekaannya dinilai pemberian dari Nippon ini. Hal ini bisa dijelaskan, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta menyambangi Jepang untuk bertemu dengan Kaisar.

“Rapat besar di Lapangan Ikada juga dijaga ketat oleh tentara Jepang. Belum lagi naskah teks Proklamasi yang diketik oleh orang berkebangsaan Jepang, Laksamana Meida,” terang Agus saat berkunjung ke Redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (14/10) di Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah Jepang kalah perang dengan Tentara sekutu atau NICA, lanjutnya, mereka berusaha kembali menjajah Indonesia dalam agresi militer kedua. Agus menjelaskan, ternyata tentara NICA dikagetkan oleh perlawanan orang-orang pribumi dari kalangan santri.?

“Dari sinilah mereka berpikir, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan karena pemberian dari bangsa Jepang, melainkan betul-betul didukung oleh seluruh rakyat Indonesia,” jelas penulis buku Atlas Wali Songo ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu, menurut Agus, penetapan Hari Santri Nasional bukan hanya sebagai agenda kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang ketika itu digerakkan oleh Resolusi Jihad, yakni fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.

Dalam hal ini, Presiden Jokowi sendiri telah menyetujui untuk menetapkan tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional melalui Keppres yang akan diterbitkan. Bahkan menurut informasi yang telah diberitakan, Jokowi akan menggelar acara yang cukup besar di Jakarta untuk menyambut Hari Santri ini. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Humor Islam, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 13 September 2016

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU

Wonosobo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pagi-pagi sekali laki-laki berumur 54 tahun itu rutin mebuka jendela-jendela di kantor PCNU yang terletak di Kauman Selatan Wonosobo tersebut. Tiap waktu, saat melihat gedung berlantai dua itu kotor dan ada sampah, secara refleks ia akan segera menyapu dan membersihkan sampah yang mengotori ruangan. Dia pula yang senantiasa menyiapkan karpet beserta perlengkapan lainnya setiap kali di kantor NU tersebut hendak digelar suatu acara.? ?

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU

Orang-orang yang sudah mengenalnya kerap meyebutnya dengan nama Pak Slamet NU. Di samping sebagai penjaga atau penunggu gedung PCNU itu, bagi pria yang tampak bersahaja itu gedung PCNU tersebut seakan telah menjadi rumahnya. Setiap kali ada perhelatan acara NU, atau ada pengajian di pesantren NU, Pak Slamet selalu hadir di acara tersebut. Tak hanya itu memori di ponselnya pun dipenuhi lagu-lagu dan film khas NU.

Ketika Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah menanyakan punya daftar lagu dan film apa saja di HP yang dipegangnya, ia menunjukkan koleksi syiir-syiir Gus Dur yang paling sering ia putar di kala waktu senggang sendirian. Ada pula lagu-lagu solawat Habib Syekh meski tak sesering syiir Gus Dur dalam memutarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain syiir Tanpo Watonnya Gus Dur, HP Pak Slamet juga menyimpan film "Sang Kiai". Film biografi perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari itu pula yang sedang diputar ketika penulis menemuinya pagi itu, Rabu (17/2) di gedung kantor PCNU Wonosobo. Ia menyatakan tidak bosan-bosannya menikmati syiir Tanpo Waton Gus Dur dan film "Sang Kiai" walau? barangkali sudah ratusan kali didengar dan tonton.

Lelaki kelahiran Sirandu Wonosobo tersebut mengaku berkhidmah dikantor PCNU sejak masih sangat remaja, tepatnya mulai tahun 1971 dan masih istikomah sampai sekarang. Pada tahun itu (1971), menurutnya gedung kantor PCNU belum berdiri seperti sekarang, tapi masih di rumahnya Kiai Hakim Idris, saudaranya KH Habibullah Idris, tokoh kiai Wonosobo. Di rumah itulah, menurut pria yang penuh kesederhanaan tersebut,? kala itu yang menjadi markas dan pusat aktifitas ke NU an untuk daerah Wonosobo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengapa Pak Slamet bersedia mendedikasikan dirinya di gedung PCNU tersebut selama 45 tahun bahkan masih bertahan sampai kini. Ia mengakui sendiri karena kecintaan pada NU serta rasa memiliki NU yang telah tertanam sejak kecillah yang membuatnya rela dan ikhlas mengabdikan tenaga dan waktunya untuk NU sesuai kadar kapasitas dan kemampuannya, yang ia ejawantahkan dengan merawat, menjaga dan menunggui gedung kantor PCNU Wonososbo. (M. Haromain/Abdullah Alawi)? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Makam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 10 September 2016

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah

Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya. ?

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh? belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 07 September 2016

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Universitas Islam Makassar (UIM) kedatangan tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Jumat 20 Februari 2015 bertempat di Aula gedung C UIM, rombongan tim asesor di sambut oleh Rektor UIM Dr. Majdah Agus AN didampingi seluruh pejabat struktural dan beberapa mahasiswa UIM.

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT (Sumber Gambar : Nu Online)
Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT (Sumber Gambar : Nu Online)

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT

Tim Asesor terdiri dari Prof. Dr. Bambang Rusdiarso dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Sekartedjo dari Institut Teknologi Surabaya, Prof. Dr. Bernadette Robiani dari Universitas Sriwijaya Palembang, dan Dr. Ahmad Yani Anshori dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Anregurutta Dr. KH. Sanusi Baco sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar menuturkan dalam sambutannya "Dampak postif dari memperpanjang silaturrahim, sesuai hadis Nabi yakni memperpanjang umur dan mempermudah reski, setidaknya pertemuan ini dilandasi dengan kebaikan, semoga kita termasuk dari hadis Nabi ini."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disisi lain perkembangan lembaga pendidikan, tanpa diwarnai dengan nilai-nilai agama, maka akan mengakibatkan malapetaka kemanusiaan, sehingga dalam mengembangkan lembaga pendidikan, setidaknya nilai-nilai agama mesti dipelihara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rektor UIM Majdah Agus AN mempersentasekan capaian-capaian monumental Universitas Islam Makassar serta menjelaskan kerja sama yang telah dilakukan baik di dalam Negeri maupun di luar Negeri.

Disisi lain Majdah juga tak lupa menjelaskan visi misi UIM ke depan dan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dimana cita-cita UIM menjadi perguruan tinggi Islam, terkemuka, berkualitas, berbudaya, diminati dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan Negara berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah di Indonesia Timur. (andy m idris/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 06 September 2016

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengimbau kepada para pelajar untuk tetap mengikuti perkembangan informasi soal kondisi perpolitikan nasional pasca pilpres. Bagaimanapun, situasi politik masih tetap berlangsung dinamis dan membutuhkan partisipasi aktif publik untuk menentukan arah bangsa ke depan.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Khairul Anam Haritsah, akrobat politik di parlemen saat ini menunjukkan adanya persaingan kepentingan antar fraksi partai. Isu revisi Undang-undang tentang MD3 (MPR, DPRRI, DPD, DPRD) adalah di antara bukti dari gambaran kondisi tersebut.

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres

“Tarik-menarik Pilkada dilaksanakan secara langsung atau melalui DPRD dalam RUU Pilkada contoh kedinamisan politik pasca pilpres. Isu ini perlu adanya keterlibatan secara aktif karena menyangkut calon pemimpinnya,” ujarnya dalam diskusi publik bertema “Prospek Kualitas Demokrasi Pasca Pilpres 2014” di Jakarta, Jumat (12/9).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Anam mengatakan, Indonesia sedang mencari bentuk demokrasi yang sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa, termasuk dalam proses pemilihan kepala daerah setelah masa reformasi. Apapun bentuk itu, katanya, kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas, bukan semata kepentingan kelompok tertentu.

Hadir dalam diskusi tersebut salah satu pembina IPNU Marwan Ja’far, Hanta Yuda (pengamat politik yang juga Direktur Eks PolTracking), La ode Ida (Wakil Ketua DPD RI), dan Husni Tamrin dari Friedrich Naumann Stiftung (FNS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Marwan pada kesempatan tersebut menilai bahwa pengalaman pemilu legislatif dan pemilu presiden beberapa waktu lalu mencerminkan gairah baru dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Keterlibatan yang demikian massif, menurutnya, adalah tanda bahwa masyarakat kian melek politik.

“Namun demikian masih ada ego dari para elite politik kita pasca pilpres ini yang menyebabkan komunikasi menjadi kurang maksimal,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 05 September 2016

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Assalamu alaikum wr. wb. Yth Redaksi. Ssaya seringkali mengantuk ketika sedang shalat ataupun berzikir, padahal sebelumnya saya sama sekali tidak mengantuk. Apakah hal ini termasuk gangguan setan? Dan bagaimana cara mengobati "penyakit" tersebut? Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr.wb. (Ega Prasetya Noor)

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengantuk Ketika Shalat atau Dzikir

Saudara Ega Prasetya Noor yang terhormat.

Rasa kantuk mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Dengan adanya rasa kantuk yang berdampak pada tidur, seseorang akan dapat mengembalikan staminanya setelah sekian lama beraktifitas. Dengan tidur pula orang akan dapat berisitirahat dari keletihan dan kelelahan saat bekerja. Hal ini merupakan dampak positif dari adanya rasa kantuk yang menghinggapi mata manusia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penyebab ngantuk sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah akibat mulai letihnya syaraf mata dan otak yang bekerja, hingga akhirnya menjadikan pikiran kurang fokus. Selain itu anemia atau sering juga disebut kurang darah, diabetes, depresi, dehidrasi (kurang cairan) dan gangguan tidur yang lain juga dapat menjadikan rasa kantuk seseorang kian bertambah.

Namun mengingat pertanyaan yang anda sampaikan tidak mengarah kepada sebab-sebab yang telah kami kemukakan, dengan bukti bahwa rasa kantuk muncul pada saat shalat atau dzikir saja, kami lebih menilai bahwa hal itu terjadi karena kurangnya niat maupun tekad untuk lebih fokus pada aktifitas yang dilaksanakan (shalat atau dzikir). Bisa juga memang syetan sedang menjalankan aktifitasnya untuk mengganggu anda dalam menunaikan ibadah.

Ar-razi, Ibnu Katsir serta para mufassir lainnya ketika menafsirkan ayat 154 surat Ali ‘Imron banyak yang mengutip pendapat Abdullah bin Mas’ud yang menyatakan bahwa rasa kantuk yang menghinggapi manusia saat shalat berasal dari syetan. Dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Muhammad bin Umar atau yang sering dikenal dengan Fahruddin Ar-Razi mengatakan:

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: dari Ibnu Mas’ud: “Mengantuk ketika dalam kondisi perang dapat menjadikan rasa aman (bagi tentara yang berperang), sedangkan rasa kantuk dalam shalat adalah dari syetan. Hal itu dikarenakan rasa kantuk saat berperang hanya terjadi ketika ia (seorang tentara) telah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah secara total dan ia juga tidak peduli lagi dengan urusan duniawi. Sementara kantuk dalam shalat hanya terjadi apabila seseorang jauh (lupa) dengan Allah.”

Saudara penanya yang disayangi Allah. Dari uraian diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kantuk yang terjadi ketika sedang shalat atau dzikir:

Pertama, selalu memohon kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syetan (sering membaca ta’awwudz).

Kedua, kuatkan niat dan tekat untuk lebih fokus mengingat Allah ketika sedang shalat atau berdzikir.

Ketiga, lebih baik lagi apabila anda sering memperbarui wudhu (tajdid al-wudhu) menjelang shalat dan dzikir, agar siraman air yang mengguyur wajah serta sebagian anggota tubuh anda dapat menambah kesegaran dan kebugaran kondisi fisik saat beribadah kepada Allah swt.

Mudah-mudahan aktifitas ibadah yang akan kita lakukan semakin bertambah baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Amin. (Maftukhan)

Ilustrasi: Anggota DPR mengantuk saat sidang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 September 2016

Tukang Becak Ini Nabung Haji Selama 20 Tahun

Makkah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Haji diwajibkan bagi yang mampu. Namun kemampuan tidak selalu identik dengan kekayaan materi. Karena, berapa banyak orang yang mampu secara materi tidak kunjung berhaji. Sebaliknya, ada juga orang yang tidak mampu secara materi, mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji.

Salah satunya adalah Maksum Sapii Bunet bin Wahab. Secara materi, kakek 79 tahun asal Madura ini jauh dari kesan mampu. Maklum, profesinya adalah tukang becak dengan penghasilan harian yang tidak menentu. Ada kalanya sampai Rp50ribu, namun tidak jarang juga jauh dari angka itu.

Tukang Becak Ini Nabung Haji Selama 20 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Tukang Becak Ini Nabung Haji Selama 20 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Tukang Becak Ini Nabung Haji Selama 20 Tahun

Kondisi ini tidak menyurutkan niatnya untuk berhaji. Pelajaran rukun iman yang didapatnya sewaktu kecil, menjadi pondasi dasar akan keyakinannya untuk menunaikan rukun Islam kelima ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saya dulu ngaji arkanul iman (rukun iman). Satu, harus percaya kepada Allah, baik dan buruknya takdir Allah,” ujarnya saat ditemui di hotel 605 tempatnya menginap yang berada di wilayah Syisyah, Makkah, Rabu (23/08).

“Kedua, saya meyakini pesan ayat Surat Yasin, Innama amruhu idza arada syaian an yaquula lahu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi. Saya percaya itu,” sambungnya sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Jadi kuncinya percaya kepada Allah, lalu berusaha sambil meminta. Kalau Allah mentakdirkan, saya yakin. Kalau Allah menghendaki, saya akan berangkat,” katanya lagi.

Kepercayaan akan kekuasaan Allah adalah pondasi utama. Selanjutnya, Maksum berusaha untuk mewujdukan niatnya berhaji di Baitullah.

Dengan becak, Maksum mencari nafkah untuk dirinya yang kini sudah tidak lagi direpoti anak-anaknya. Enam dari empat belas keturunannya yang masih hidup sudah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Maka, jika masih ada sisa dari hasil menarik becak, Maksum mengumpulkannya sampai 20 tahun hingga dia bisa mendaftar haji pada 2010 lalu.

“Saya nabung sedikit demi sedikit. Sebab, pendapatannya tidak tentu, kadang dapat 50ribu, kadang kurang,” kenangnya.

“Saya narik becak di Pasar Atum Surabaya. Tiap hari. Tapi kalau nabungnya tidak tentu,” sambungnya.

Setelah menunggu selama tujuh tahun, Maksum bisa berangkat haji tahun ini. Tergabung dalam kloter 6 Embarkasi Surabaya (SUB 06), dia mengaku bahagia dan kaget bisa memenuhi panggilan Allah, sesuai yang dicitakannya sejak lama. “Alhamdulillah. Sampai disini juga. Saya merasa kagum dan kaget,” tuturnya dalam Bahasa Jawa.

Maksum mengaku sampai sekarang masih menarik becak, meski usianya sudah mulai senja. Sepulang haji, dia juga mengaku ingin terus menarik becak, karena profesi itu yang selama ini ia jalani.

“Setelah haji, tetap narik becak. Kalua masih kuat kerja, masih pengen terus agar tidak merepotkan anak,” katanya.

“Kita ke sini kehendak Allah. Kalau Allah tidak menghendaki ya tidak bisa,” tutupnya.

Selamat menunaikan ibadah haji. Semoga Mashum beroleh haji mabrur. Amiin. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah