Minggu, 19 Desember 2010

PMII Jabar Kecam Penggusuran Desa Sukamulya

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat mengecam keras penggusuran Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka untuk pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). PMII Jabar mendukung sepenuhnya perjuangan warga Desa Sukamulya dalam mempertahankan hak-hak mereka atas tanahnya.

Berikut pernyataan sikap PKC PMII Jawa Barat terkait rencana penggusuran Desa Sukamulya sebagaimana yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah:

PMII Jabar Kecam Penggusuran Desa Sukamulya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jabar Kecam Penggusuran Desa Sukamulya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jabar Kecam Penggusuran Desa Sukamulya

Kamis (17/11/2016) untuk ketujuh kalinya semenjak 4 Agustus 2016, pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Majalengka kembali merencanakan pengukuran untuk penggusuran terhadap desa Sukamulya bagi pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hingga tadi malam (16/11/2016), hasil pantauan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) di lokasi, pihak pemerintah sudah mulai mengerahkan gabungan pasukan kepolisian mulai dari Polres Majalengka, polsek-polsek yang berada di wilayah Majalengka, hingga mengerahkan dukungan dari Polres Indramayu dan Sumedang. Bahkan 7 buah truk Dalmas, 2 buah truk Brimob, 20 mobil ranger, 1 buah mobil gegana, dan 1 buah water cannon sudah dipersiapkan di Kantor Polsek Kertajati untuk mengamankan proses penggusuran hari ini yang kabarnya langsung dipimpin oleh Kapolres Majalengka, AKBP. Mada Roostanto.

Pihak pemerintah juga telah mengerahkan 1.200 personel gabungan dari Polda Jabar, Polres Majalengka, TNI dan Satpol PP dari provinsi Jabar dan kabupaten Majalengka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tidak berhenti disitu, proses rencana pengukuran ini kerap diwarnai intimidasi, teror, hingga kriminalisasi yang dilakukan aparat kepolisian kepada warga. Tercacat pada, Selasa 6 September 2016 yang lalu dua orang warga desa Sukamulya, atas nama Agus dan Rahman dipanggil tanpa prosedur yang jelas oleh polres Majalengka dengan tuduhan penganiayaan.

Rencana ambisius dan arogan pemerintah ini terkesan tidak mengindahkan hak-hak rakyat yang akan terampas oleh rencana pembangunan tersebut. Tindakan ini justru kembali memperlihatkan wajah buruk Negara yang selalu memakai cara-cara represif melalui pelibatan aparat TNI dan Polri dalam berhadapan dengan rakyatnya.

Selain pelibatan aparat, pemerintah selama ini selalu mengabaikan proses dialog dengan warga dalam proses pembangunan bandara tersebut. Bahkan dalam klaimnya, Pemprov Jabar menyatakan bahwa proses penggusuran kali ini akan menggandeng Komnas HAM.

Tidak dijalankankanya proses-proses musyawarah antara dua pihak ini jelas telah melanggar prosedural dan tahapan yang tercantum dalam UU No.2/2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Pemerintah tidak mempertimbangkan pula dampak lebih luas secara sosial ekonomi bagi kehidupan warga jika penggusuran tetap dilanjutkan.

Tindakan sepihak pemerintah ini juga telah melanggar peraturan UN Basic Principles and Guidelines on Develpoment Based Evictions dan Displacement. Sebuah kebijakan yang menekankan pentingnya memelihara hak-hak warga yang digusur demi kepentingan pembangunan yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sejak SK Menteri Perhubungan No.34/2005 menetapkan 11 desa di Majalengka sebagai obyek pembangunan BIJB, 10 desa telah diratakan tanpa proses yang jelas. Desa Sukamulya seluas 735 ha adalah satu-satunya desa yang masih bertahan. Hingga saat ini, dari total 1.430 KK warga Desa Sukamulya, sejumlah 60 KK dengan lahan seluas 33 ha telah diserahkan kepada panitia melalui calo-calo pembebasan lahan, yang terus menerus mengintimidasi warga untuk menyerah dan melepaskan tanahnya.

Warga Desa Sukamulya, sebagaimana telah disampaikan ke Kementerian ATR/BPN, Komnas HAM dan Mabes Polri, selama ini konsisten menolak penggusuran dengan dasar sebagai berikut:

1. Belum disepakatinya bentuk ganti rugi;

2. Banyak terjadi kecurangan dan praktek calo yang diduga dilakukan oleh oknum pejabat yang berusaha meraup keuntungan dari hasil ganti rugi lahan milik warga;

3. Dari pengalaman desa lain yang sudah dibebaskan lahannya, justru kehidupan warganya lebih terlantar/sengsara;

4. Dalam proses pengadaan tanah proyek BIJB, pemerintah sama sekali tidak mengedepankan dialog bersama warga dengan mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, budaya yang lebih luas bagi warga desa, seperti keberlanjutan mata pencaharian warga yang utamanya bertani/berkebun, serta pendidikan anak-anak Desa Sukamulya.

PMII sebagai sebuah organisasi yang konsisten dalam memperjuangkan hak-hak rakyat atas tanahnya mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Sukamulya dan mengecam dengan keras rencana pengukuran yang akan menggusur desa Sukamulya untuk pembangunan proyek ambisius pembangunan bandara dengan tuntutan:

1. Menolak segala bentuk perampasan tanah rakyat atas dalih pembangunan

2. Menuntut pemerintah untuk menarik keterlibatan TNI dan Polri dalam proses pengukuran tanah untuk penggusuran tanah warga desa Sukamulya

3. Menuntut pemerintah untuk menunda proses pengukuran sebelum adanya dialog bersama seluruh masyarakat terdampak dengan melibatkan semuah pihak.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat untuk menjadi perhatian semua pihak sebagai sebuah dukungan terhadap perjuangan rakyat Sukamulya dalam mempertahankan desa mereka dari penggusuran.

Bandung, 17 November 2016

Hormat Kami,

Syamsudin

Ketua I PKC PMII Jabar

(Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Cerita, Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 18 Desember 2010

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar lima ribu jamaah putri menghadiri Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang digelar Jamiyyah Manaqib pesantren Futuhiyyah pimpinan Nyai Hj Saadah Muslih Abdurrahman, Ahad (1/2) siang. Jamaah yang hadir baik dari dalam dan luar kota berikut santriwati di sekitar pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak ini, larut dalam sholawat, tasbih, tahlil, dan doa.

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Mereka dengan dominasi pakaian putih ini, memadati halaman pesantren Futuhiyyah Mranggen yang tak lagi mampu menampung luapan jamaah. Pada acara yang berlangsung rutin setahun sekali ini dibuka dengan lantunan ayat Al-Quran dan dimeriahkan oleh grup rebana Fatayat NU dari Kangkung, Mranggen.

Alhamdulillah, hampir semua santri dan alumni hadir di sini. Selain sebagai wujud cinta kita kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, acara Manaqib Kubro ini juga bertujuan sebagai media berdo’a secara massal dan sebagai wahana silaturahmi antaralumni yang mengaji kepada Nyai Hj Sa’adah Muslih,” kata ketua pelaksana Manaqib Kubro Hj Nadliroh Muhibbin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manaqiban menggunakan kitab Manaqib Nurul Burhani, sebuah kitab terjemah dan syarah manaqib yang disusun KH Muslih Abdurrahman Al-Maraqy. Pembacaan manaqib dipimpin langsung oleh Nyai Hj Sa’adah Muslih yang diikuti secara seksama oleh para jamaah sampai selesai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun KH Muhammad Thobroni dalam taushiyahnya menegaskan banyaknya cara untuk meningkatkan keimanan. Salah satunya dengan berdzikir. Kiai Thobroni lalu menyebutkan faidah dari pembacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.

“Karena itu, perbanyaklah berdzikir, karena ikan yang berada di lautan selalu berdzikir, mulutnya selalu menyebut asma Allah, insangnya selalu berzikir ‘hu-hu-hu’, ekornya mengisyaratkan dzikir ‘Laa ilaaha illallah’,” kata Kiai dari Wonosobo ini. (Afrida dan Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Sejarah, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 17 Desember 2010

NU Subang Akan Dirikan STAINU

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Warga NU Subang yang menantikan kehadiran Perguruan Tinggi NU boleh berbahagia. Pasalnya, saat ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang tengah mengupayakan pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU).

NU Subang Akan Dirikan STAINU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Subang Akan Dirikan STAINU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Subang Akan Dirikan STAINU

Ketua Tim pendirian STAINU Subang, Amir Syarifudin mengatakan, bahwa STAINU Subang kemungkinan dapat terwujud pada tahun ajaran 2013/2014, sebab saat ini ada moratorium (penghentian sementara) pendirian Perguruan Tinggi.

“Kita bisa saja membuka tahun ini, tapi kalau memaksakan nanti akan terbentur sama peraturan moratorium itu, Insya Allah kalau moratoriumnya cepat dicabut, tahun depan STAINU Subang bisa berdiri,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di kediamannya, komplek Pesantren Ulumul Qur`an, Kunir, Cipunagara, Subang, Kamis (6/6).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekretaris PC LP Ma`arif NU Subang tersebut menambahkan, bahwa sambil menunggu dicabutnya moratorium pendirian perguruan tinggi, timnya terus berupaya dan mempersiapkan aneka kebutuhan administratif.

Supaya, sambung Kepala MTs Daarul Hikam Binong ini, ada saatnya nanti pendirian STAINU Subang dapat segera diproses.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun Progam Studi (prodi) yang akan dibuka di STAINU Subang adalah Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah. Tadinya kita mau PAI (Pendidikan Agama Islam), sudah overload, “Sambil menunggu kita terus berupaya,” pungkasnya



Redaktur       : Abdullah Alawi

Kontributor   : Aiz Luthfi

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 22 November 2010

Buka Pertemuan IDB, JK Dorong Pembentukan Bank Infrastruktur Islam

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengharapkan pembentukan Bank Infrastruktur Islam (Islamic Infrastructure Bank) dapat benar-benar terealisasi sehingga dapat membantu program-program strategis di negara-negara anggota IDB (Bank Pembangunan Islam).

Buka Pertemuan IDB, JK Dorong Pembentukan Bank Infrastruktur Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Pertemuan IDB, JK Dorong Pembentukan Bank Infrastruktur Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Pertemuan IDB, JK Dorong Pembentukan Bank Infrastruktur Islam

Menurut Jusuf Kalla, Indonesia sebagai negara yang penduduk beragama Islamnya sangat besar tentu akan mempunyai harapan yang besar terwujudnya lembaga tersebut.

"Dengan pengalaman yang ada dan kerja sama dengan negara Islam lainnya, tentu sangat berharap dapat terlaksana bank tersebut," ujar Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa.

Pembahasan pembentukan Bank Infrastruktur Islam yang diinisiasi Bank Pembangunan Islam (IDB), Indonesia dan Turki masih terus dibahas. Saat ini, tim khusus sudah dibentuk dan akan segera memulai pembicaraan.

Proses pembentukan bank tersebut memang butuh beberapa pembicaraan terkait bagaimana struktur bank, dewan gebernurnya, utilisasi fasilitas semua negara, operasional, termasuk soal kantor pusatnya yang ditengarai masih tarik menarik akan didirikan di Indonesia atau di Turki.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Indonesia merupakan salah satu negara pendiri IDB pada 1975 dan kini masih menjadi salah satu dari 56 negara anggota IDB. 

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla sendiri secara resmi baru saja membuka Sidang Tahunan Dewan Gubernur Islamic Development Bank (IDB) Ke-41 di Jakarta, Selasa.

Sejatinya, Sidang Tahunan IDB ke-41 tersebut sudah berlangsung sejak Ahad (15/5) lalu dan dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla pada Senin (16/5) namun ditunda menjadi Selasa malam ini. (Antara/Mukafi Niam)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 16 November 2010

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. 

“Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,” ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.  

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. “Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. “Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,” pungkas Hasyim.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. “Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,” ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Aswaja, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Pemerintahan Provinsi Perbatasan Thailand Selatan (SBPAC-Southern Border Provinces Administrative Center of The Kingdom of Thailand) berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (27/5) petang.

”Kami datang ke sini adalah dalam rangka silaturahim dan menjalin kerja sama di antara Indonesia, khususnya Nadlatul Ulama, dan Thailand Selatan,” kata Ketua Dewan Penasehat SBPAC Abdul Azis bin Hawan.

Azis datang bersama belasan pimpinan SBAC lainnya dan diterima KetuaUmum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Bina Suhendra, Ketua PBNU H Iqbal Sulam, dan sejumlah pengurus lainnya.

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Menurut Azis, secara kebudayaan Thailand memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. ”Kami berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi saham untuk kerja sama meningkatkan bidang pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan,” ujarnya.

Forum pertemuan berlangsung dialogis. Kang Said, sapaan KH Said Aqil Siroj, menjelaskan bahwa karakter Islam yang diusung NU adalah moderat, toleran, berwawasan kebangsaan, dan menjunjung tinggi asas kemanusiaan. Sebanyak 21 ribu pesantren NU mengembangkan ajaran ini dan mampu bersinergi dan menjadi perekat bagi keanekaragaman budaya di Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pihak SBPAC juga mengenalkan, Thailand Selatan memiliki 468 pesantren, dan dari jumlah tersebut 286 di antaranya telah menjadi sekolah agama. ”Mengenai ajaran, saya rasa hampir sama. Kami juga mengenal adanya Kitab Kuning,” kata Persatuan Alumni Indonesia di Thailand Selatan Abdul Hafiz Hiley yang ikut bersama rombongan.

Sementara itu, Iqbal menambahkan, NU pernah memberi masukan kepada pemerintahan Thailand pada periode kepengurusan lalu terkait krisis di negara ini. NU pada waktu itu berkunjung dan mengusulkan agar pemerintah tidak mengedepankan pendekatan militer dan menginternasionalisasi isu konflik.

Di hadapan forum, Kang Said tak lupa juga mengucapkan selamat hari Waisak kepada peserta rombongan yang beragama Budha. Mayoritas dari mereka adalah muslim yang memiliki perhatian terhadap proses perdamaian di negaranya.

”Semoga ini bukan pertemuan terakhir. Kami berharap ada pertemuan-pertemuan lanjutan. Kami mengundang NU dapat datang ke negara kami untuk memberi pengenalan Islam di sana,” kata Azis.

 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Berita, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 07 November 2010

Tarik Ulur Makam Sunan Bonang, Antara Rembang, Tuban, dan Bawean

Rembang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Maulana Makdum Ibrahim, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa di pesisir timur pantai utara yang biasa dikenal dengan nama Sunan Bonang. Disalah satu perbukitan di di tepi laut jalan pantura Rembang-Jawa Timur pernah menjadi sejarah pernah singgahnya seorang salah satu tokoh Walisongo atau sekarang dikenal dengan Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Menurut sejarah, Sunan Bonang dianggap mempunyai beberapa pusara atau makam, yaitu di Desa Bonang Rembang, Sunan Bonang di Tuban atau Pulau Bawean. Semua tempat yang menjadi pusara dan pernah disinggahi Sunan Bonang semua membawa berkah bagi masyarakat sekitar karena sering diziarahi dan menjadi wisata religi.

Tarik Ulur Makam Sunan Bonang, Antara Rembang, Tuban, dan Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarik Ulur Makam Sunan Bonang, Antara Rembang, Tuban, dan Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarik Ulur Makam Sunan Bonang, Antara Rembang, Tuban, dan Bawean

Di Desa Bonang sendiri menjadi pusat ziarah, dan juga mempunyai hari-hari penting tertentu yang menjadi hari besar untuk memperingati wafatnya Suanan Bonang, seperti pusara Sunan Bonang yang ada di Tuban dan Pulau Bawean.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berbagai macam peninggalan dan tempat petilasan Sunan pun masih dapat dilihat dan dijumpai di Desa Bonang ini, seperti Omah Gede (Rumah Besar) yang sekarang digunakan sebagai masjid karena sering digunakan untuk menjalankan shalat. Selain itu, ada bende becak atau disebut juga dengan bende Bonang yaitu sebuah gamelan milik Sunan Bonang yang digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Karena masih dijaga kelestariaannya.

Selain itu ada juga sebuah tempat yang menjadi petilasan yang biasa masyarakat sekitar menyebutnya dengan pasujudan. Konon menurut riwayat, tempat yang terletak di atas bukit di tepi jalan pantura itu menjadi tempat Sunan Bonang dalam bermunajat kepada Allah SWT, dalam menyebarkan agama Islam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Di pasujudan inilah banyak orang dari berbagai derah meniru jejak Sunan Bonang untuk bermunajat kepada sang pencipta agar dimudahkan dari berbagai masalah dan juga masih banyak yang lainnya.

Desa Bonang sering disinggahi para peziarah yang ingin bertafakur di petilasan Sunan Bonang karena mereka yakin pusara Sunan Bonang berada di Desa Bonang Rembang. Selain untuk tirakat mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak dzikir, membaca Al-Quran dan shalat tahajud. Banyak diantara mereka yang ingin beraktifitas hanya sekedar membersihkan area makam Sunan Bonang ? dalam beberapa hari, entah mereka ngalap berkah, atau membawa motif yang lain.

Ahmad Luthfi Haqim, selaku wakil juru kunci pesarean Sunan Bonang menjelaskan semua tamu yang ingin bertafakur mayoritas berasal dari luar daerah, bahkan terkadang dari luar Jawa. Ia juga menjelaskan bukan hanya masyarakat Bonang saja yang meyakini bahwa pusara makam Sunan Bonang terletak di desa Bonang, meski tidak terdapat nisan sebagai bukti sejarah.?

Di sebidang tanah rata, di atasnya banyak tanaman kembang melati ini diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Terlepas dari tarik ulur antara makam Sunan Bonang di Tuban atau Pulau Bawean, tiap kali berada di pesarean Bonang, hatinya sangat tenang. Hawanya juga sarat dengan nuansa kedamaian.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi bagi para peziarah yang ingin menginap bertafakkur di Makam Sunan Bonang, menyerahkan identitas KTP kepada pengurus yayasan Sunan Bonang, mereka juga harus menghindari kemusyrikan. Apalagi Sunan Bonang sama sekali tidak pernah mengajarkan, serta melarang hal itu. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah