Sabtu, 18 Desember 2010

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Demak, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar lima ribu jamaah putri menghadiri Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang digelar Jamiyyah Manaqib pesantren Futuhiyyah pimpinan Nyai Hj Saadah Muslih Abdurrahman, Ahad (1/2) siang. Jamaah yang hadir baik dari dalam dan luar kota berikut santriwati di sekitar pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak ini, larut dalam sholawat, tasbih, tahlil, dan doa.

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manaqib Kubro Syekh Abdul Qodir di Pesantren Futuhiyyah

Mereka dengan dominasi pakaian putih ini, memadati halaman pesantren Futuhiyyah Mranggen yang tak lagi mampu menampung luapan jamaah. Pada acara yang berlangsung rutin setahun sekali ini dibuka dengan lantunan ayat Al-Quran dan dimeriahkan oleh grup rebana Fatayat NU dari Kangkung, Mranggen.

Alhamdulillah, hampir semua santri dan alumni hadir di sini. Selain sebagai wujud cinta kita kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, acara Manaqib Kubro ini juga bertujuan sebagai media berdo’a secara massal dan sebagai wahana silaturahmi antaralumni yang mengaji kepada Nyai Hj Sa’adah Muslih,” kata ketua pelaksana Manaqib Kubro Hj Nadliroh Muhibbin.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Manaqiban menggunakan kitab Manaqib Nurul Burhani, sebuah kitab terjemah dan syarah manaqib yang disusun KH Muslih Abdurrahman Al-Maraqy. Pembacaan manaqib dipimpin langsung oleh Nyai Hj Sa’adah Muslih yang diikuti secara seksama oleh para jamaah sampai selesai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Adapun KH Muhammad Thobroni dalam taushiyahnya menegaskan banyaknya cara untuk meningkatkan keimanan. Salah satunya dengan berdzikir. Kiai Thobroni lalu menyebutkan faidah dari pembacaan tasbih, tahmid, dan tahlil.

“Karena itu, perbanyaklah berdzikir, karena ikan yang berada di lautan selalu berdzikir, mulutnya selalu menyebut asma Allah, insangnya selalu berzikir ‘hu-hu-hu’, ekornya mengisyaratkan dzikir ‘Laa ilaaha illallah’,” kata Kiai dari Wonosobo ini. (Afrida dan Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Sejarah, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah