Minggu, 12 November 2017

Syahadat dalam Shalat, Bentengi Diri dari Kekufuran

Assalamualaikum. Ustadz saya mau bertanya beberapa hal. 1. Disetiap shalat kita selalu mengucapkan syahadat, apakah dengan begitu kita terjaga dari kufur karena selalu memperbaruinya sehari 5x?

2. Jika mandi junub air kita siram kemungkinan ada bagian yg tidak terkena air siraman tersebut, sedangkan kita harus meratakan air keseluruh tubuh, apakah setelah kita siram lalu kita basuh atau gosok2an dengan tangan kita agar bagian lain terkena air siraman tdi (seperti ketiak dll) itu sudah termasuk dengan meratakan keseluruh tubuh ?

3. Jika untuk bersuci air yg digunakan harus suci lagi mensucikan, bagaimana jika bak yg digunakan tidak sampai dua kulah tapi air dari keran tetap dibuka terus agar air mengalir, apakah jika air itu dipakai untuk mandi junub lalu ada air yg telah kita siram kebadan masuk kedalam bak, apakah airnya tetap menjadi air suci lagi mensucikan (air keran tetap terbuka agar air mengalir)? mohon jawabannya

Terimakasih. Wassalamualaikum. (Ahmad, Depok)

Syahadat dalam Shalat, Bentengi Diri dari Kekufuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Syahadat dalam Shalat, Bentengi Diri dari Kekufuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Syahadat dalam Shalat, Bentengi Diri dari Kekufuran

 

Jawaban

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wa’alaikum Saam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ada tiga pertanyaan yang diajukan kepada kami. Yang pertama tekait dengan soal syahadat. Pertanyaan pertama sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan persoalan fikih, tetapi lebih pada persoalan teologis.

Sedang yang kedua dan ketiga menyangkut soal air, dan terkait dengan persoalan fikih. Karena keterbatasan ruang waktu, maka kami tidak mungkin menjawab semua. Namun pertanyaan yang belum sempat kami jawab insya Allah akan dijawab pada kesempatan lain.

Kami akan memulai dengan menjawab pertanyaan yang pertama. Dalam konteks ini pertama-tama hal yang harus diketahui adalah tentang makna kufr atau kekufuran dan pada batas mana seseorang kemudian dianggap kufur. Dalam bahasa Arab arti kata kufr adalah tutup (as-satr wa at-taghthiyyah). Sedangkan kafir adalah isim fail dari kufr. Karenanya, malam dinamai kafir sebab ia menutupi sesuatu dengan kegelapannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Asal kata kufr secara bahasa maknanya adalah tutup. Dari makna ini maka malam disebut kafir (yang menutipi) karena menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya. Seorang penyair berkata, ‘di suatu malam yang kegelapannya menutupi bintang-gemintang”. (Al-Khazin, Tafsir al-Khazin, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1425 H.2004 M, juz, I, h. 26)

Sedangkan dalam istilah syara` kufr adalah mengingkari apa yang sudah pasti datang atau dibawa oleh Rasulullah saw.

  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan menurut syara` kufr adalah mengingkari apa yang sudah dipasti diketahui datang dari Rasulullah saw” (Nashiruddin al-Baidlawi, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta`wil, Dar Ihya` at-Turats al-Arabi, cet ke-1, 1418 H, juz I, h. 24)

Konsekwensi pengingkaran terhadap apa yang sudah diketahui secara pasti dibawa oleh Rasulullah saw berakibat kepada pengingkaran apa yang telah ditetapkan Allah swt. Sedang pelakunya disebut kafir.

Intinya orang dikatakan melakukan kufr (kekufuran) adalah ketika ia mengingkari Allah swt, atau mengingkari ke-esa-an-Nya atau mengingkari sesuatu yang sudah pasti diturunkan kepada Rasulullah saw, mengingkari kenabian beliau atau mengingkari salah satu utusan-Nya. Hal ini sebagaimana dikemukan oleh al-Baidlawi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

“Dan kesimpulannya bahwa orang mengingkari Allah atau keesaan-Nya, mengingkari sesuatu yang Allah swt turunkan kepada Rasulullah saw atau mengingkari kenabian-nya atau salah satu utusan-Nya maka ia adalah orang kafir” (Al-Khazin, Tafsir al-Khazin, juz, I, h. 26)

Dengan demikian pada dasarnya ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat yaitu asyhadu an la ilaha illallah, wa anna muhammad rasulullah (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya) maka hal itu bisa menyelamatkannya dari kekufuran. Sebab apa yang dimaksudkan dengan kedua syahadat tersebut adalah menafikan ketuhan selain Allah, dan hanya Dia yang berhak untuk disembah, dan pengakuan terhadap risalah kenabian Muhammad saw.     

Disamping itu jika ada seseorang yang diketahui kekufurannya, kemudian orang-orang melihat dia menjalankan shalat pada waktunya sampai ia menjalankan banyak shalat, tetapi mereka tidak mengetahui ia mengikrarkan syahadat dengan lisannya, maka ia dihukumi sebagai orang mukmin. Pandangan ini merupakan kesepakatan para ulama sebagaimana dikemukakan oleh Ishaq bin Rahawaih.      

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ishaq bin Rahawaih berkata, para ulama telah sepakat tentang sesuatu mengenai shalat yang tidak mereka sepakatinya dalam bentuk ibadah-ibadah lainnya. Kesepakatan mereka (dapat dipahami) karena mereka semua menyatakan bahwa orang yang diketahui kufur kemudian orang-orang melihat ia melakukan shalat pada waktunya sehingga ia melakukan banyak shalat, sedangkan mereka tidak mengetahui ia mengikrarkan dua kalimat syahadat dari lisannya, maka ia dihukumi sebagai mukmin” (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Dar ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 7, h. 207)

Pertanyaannya kenapa dengan menjalankan shalat seseorang yang yang sudah diketahui kufur bisa dihukumi mukmin? Jawaban paling sederhana untuk menjelaskan hal ini karena dalam shalat ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Jadi, dua kalimat syahadat yang selalu diucapkan dalam shalat bisa melindungi kita dari kekufuran. Dan dalam sehari minimal lima kali kita diwajibkan untuk membentengi diri kita dari kekufuran. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga apa yang kami kemukan dapat bermanfaat.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum wr. wb. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Tim Anjangsana Islama Pascasarjana STAINU Jakarta tiba di kediaman ulama kharismatik asal Pekalongan KH Taufiq, Selasa (24/1) siang di Pondok Pesantren At-Taufiqy Rowokembu, Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah.

Rombongan Anjangsana tiba tepat ketika Kiai Taufiq mengadakan pengajian rutin hari Selasa untuk para ibu atau perempuan. Rombongan menelusuri jalan menuju Pesantren At-Taufiqy yang dipenuhi oleh ribuan ibu-ibu dalam posisi ndeprok membaca sholawat.

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan

Setiap mengadakan pengajian, jamaah Kiai Taufiq memang selalu meluber hingga ke ujung jalan raya. Mereka menggelar berbagai jenis alas mulai dari koran, plastik, dan tikar mengisi halaman-halaman rumah penduduk.

Setelah pengajian selesai, rombongan Anjangsana menuju ruang penerimaan tamu di depan asrama putra Pesantren At-Taufiqy. Usai berbincang-bincang sejenak dengan pengurus pesantren, rombongan ditemui langsung oleh Kiai Taufiq.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Usai mencium tangan Kiai Taufiq, rombongan memulai diskusi dan menyimak dengan khusyu ujaran-ujaran kiai yang dinilai mempunyai banyak karomah oleh masyarakat ini.

Guru Kiai Taufiq

Kiai Taufiq berguru ke Syekh Masduqi Lasem. Syekh Masduqi sendiri murid dari Syekh Umar Hamdan Al-Mahrasi al-Makki, Syekh Abbas al-Maliki al-Makki, Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki, dan Syekh Al-Baqir.

Kiai Taufiq memberikan penjelasan Bahwa dahulu Gus Dur pernah menulis di Majalah Tempo sekiar tahun 1980-an tentang karomah dan keilmuan Islam Nusantara Syekh Yasin Al-Fadany dan Syekh Maduqie, baik pemikiran, karya manuskrip, hingga pengabdian tak terhingga untuk umat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Syekh Masduqi mendapat gelar Asy-Syekh dikarenakan termasuk salah satu Ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Waktu itu sebutan Syekh dimiliki oleh 3 orang Ulama, yaitu Syekh Masduqi Al-Lasimy, Syekh Mahfudz Termas (kakak kandung Syekh Dimyati) dan Syekh Yasin Al-Fadany.

Di antara murid-murid Syekh Masduqi yaitu KH Ishomuddin (Pati), KH Salim (Madura), KH Mahrus Ali (Liriboyo, Kediri), KH Zayadi (Probolinggo), KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Miftahul Akhyar (Surabaya), KH Jazim Nur (Pasuruan), KH Nur Rohmat (Pati), KH Zuhdi Hariri (Pekalongan), KH Taufiq (Pekalongan), KH Abdul Ghoni (Cirebon), KH Nur Rohmat (Pati), KH Abdul Mu’thi (Magelang) KH Abdulloh Schal (Bangkalan, Madura), KH Mashduqi (Cirebon) KH Makhtum (Cirebon), dan KH Syaerozi (Cirebon).

Mursyid Thariqah

Kiai Taufiq pernah mondok ke Krapyak. Sempat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Walau berhasil lulus, Kiai Taufiq tidak pernah mengambil ijazahnya. Dia membantu Mbah Ali Maksum di pondok.?

Saat ini, Kiai Taufiq dikenal sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Syekh Nadzim Al-Haqqoni dan Syekh Hisyam Kabbani selalu mengarahkan ke Kiai Taufiq atas siapa saja yang meminta ijazah thariqah.

Terkait pendidikan di Pesantren At-Taufiqy, Kiai Taufiq konsisten dengan pendidikan salaf. Dia juga mendorong agar santri menguasai berbagai bidang keterampilan, selain selalu menjaga kebersihan dan kedisiplinan.

Saat tiba kesempatan rombongan Anjangsana menilik pesantren, Kiai Taufiq menerangkan bahwa arsitektur bangunan pondok dikreasi dan dibangun sendiri oleh santri. Mereka memanfaatkan material tradisional yangikonstruksi secara menarik, unik, dan bersih. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Warta, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 11 November 2017

Gus Ubaid: Kiai dan NU Mesti Saling Dukung

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menekankan perlunya kerja sama yang baik antara para kiai dan NU. Kekurangan para kiai sekarang ini, menurut Kiai Ubaidillah yang biasa dipanggil Gus Ubaid, bisa ditunjang dengan struktur NU.

Demikian disampaikan Gus Ubaid pada acara Doa Bersama dan Peringatan 100 hari wafatnya KH Ahmad Kholil di aula gedung NU lantai dua jalan Pemuda nomor 51 Jepara, Jum’at (12/12) sore.

Gus Ubaid: Kiai dan NU Mesti Saling Dukung (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ubaid: Kiai dan NU Mesti Saling Dukung (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ubaid: Kiai dan NU Mesti Saling Dukung

Kharisma kiai kini  perlu ditopang oleh eksistensi NU. “Karena spiritual ulama saat ini sudah semakin pudar maka keulamaan perlu ditunjuang dengan jamiyyah yang kuat,” tegasnya pada warga NU yang hadir.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengasuh pesantren Al-Itqon Semarang itu menyebutkan NU yang belum memiliki banyak lembaga semisal pertanian semasa Mbah Hasyim. Padahal waktu itu banyak kiai memiliki sawah. Saat itu meskipun belum membentuk lembaga keamanan, tetapi mereka jaduk dan ampuh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tidak punya lembaga kesehatan padahal kiai-kiai kita ali suwuk,” tambahnya.

Kiai Ubaid menambahkan saat ini banyak negara-negara di dunia misalnya Filipina dan Rusia yang gandrung dengan NU Islam Aswaja. “Hal itu harapnya perlu direspon dengan manajemen organisasi NU yang semakin mumpuni.”

Hadir dalam kegiatan Rais Syuriyah PCNU Jepara KH Kamil Ahmad, Ketua PCNU Jepara KH Asyhari Samsuri, Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi, Kepala Kemenag Jepara H Muhdi, pengurus Banom, Lajnah dan MWCNU se-Jepara. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Warga Tolak Penambangan Semen di Gembong Selatan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Warga di sekitar Kawasan Karst Gombong Selatan, Kebumen, Jawa Tengah, menolak eksploitasi atas batuan karst di Gombong Selatan oleh PT Semen Gembong karena dinilai menusak lingkungan.

Warga Tolak Penambangan Semen di Gembong Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Tolak Penambangan Semen di Gembong Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Tolak Penambangan Semen di Gembong Selatan

Ketua Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag) Simtilar mengatakan, menghidupkan investasi daerah tak harus dengan semata-mata mengeksploitasi sumber daya alam, yang pada gilirannya mengorbankan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Setelah perubahan regulasi yang mengatur Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan (Kepmen ESDM), peluang untuk mengubah kawasan lindung eco-karst menjadi kawasan budidaya tambang kian terbuka.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kami melihat adanya indikasi manipulasi dalam penetapan KBAK yang baru. Terlebih dalam perubahan ini tak dilampiri detail peta batas-batas dan koordinat yang menjelaskan mana kawasan lindung dan mana kawasan budidaya,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (10/2).

Menurutnya, modus mengubah regulasi perlindungan KBAK yang tak partisipatif dan cenderung tertutup dari kajian kritis masyarakat luas, juga tak bisa diletakkan di atas isu otonomi daerah ataupun pertumbuhan iklim investasi daerah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Simtilar menambahkan, serbuan kapital di sektor pertambangan semen yang mengincar berbagai daerah seperti Ajibarang, Wonogiri, Blora, Rembang, Pati, Gombong, semua bukan kepentingan masyarakat luas.

“Tapi lebih merupakan kepentingan pemodal yang hanya mengenal hukum akumulasi dan laba profit semata. Sedangkan kepentingan masyarakat luas akan bumi, air, udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya malah dikesampingkan,” ujanya.

Akan tetapi, imbuhnya, Pemkab Kebumen melalui Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu telah mengumumkan permohonan izin lingkungan PT Semen Gombong melalui surat No. 503/03/P-IL/II/2016; dan membantu proses terbitnya izin operasionalisasi kegiatan tambang semen.

“Pemkab Kebumen tak perlu “pasang badan” membela tambang semen ataupun terbitkan izin lingkungan tambang semen di Gombong Selatan,” katanya.

Aksi Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag) digelar di desa-desa seputar Kawasan Bentang Alam Karst Gombong Selatan, Rabu (10/2), antara lain di Desa Sikayu, Karangsari, Ragadana, Banyumudal, Nagaraji. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Daerah, Halaqoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Liga Santri Nusantara (LSN) Region Sulawesi I menggelar laga final, Rabu (31/8) ini, pukul 15.00 WITA, di Lapanham PP DDI Kaballangan, Pinrang, Sulawesi Selatan. Region Sulawesi I meliputi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat.

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Di hari yang sama, final LSN Region Jatim II juga digelar di Stadion Brawijaya Kediri. LSN Region Jatim II yang bakal berlangsung pada pukul 15.30 WIB meliputi Kabupaten Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung.

Menurut Koordinator LSN Region Sulawesi I Alimuddin Budung, laga final tersebut akan mempertemukan Pondok Pesantren DDI Kaballangang Pinrang versus Pondok Pesantren Al-Ihsan Kanang, Sulbar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Alhamdulillah kita sudah memasuki babak final. Saya mengundang kepada seluruh masyarakat untuk menyaksikan laga final ini. Ini merupakan tontonan yang menarik," tandasnya.

Sementara itu, laga final LSN Jatim II mempertemukan antara Pondok Pesantren An Nur 2 Malang versus Pondok Pesantren Darut Taibin Tulungagung. Sedangkan, pertandingan untuk merebut juara ketiga mempertemukan antara Pesantren Queen Al Falah Ploso Kediri versus Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang pada pukul 13.30 WIB.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk sementara, LSN di Jatim yang baru memastikan tiket ke babak 32 besar seri nasional adalah Pesantren Darul Huda Mayak. Darul Huda merupakan wakil dari LSN Region Jatim I. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 10 November 2017

Kiai Tolhah Hasan: IPNU Harus Mampu Jawab Tantangan Saat Ini

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menteri Agama era Presiden Abdurahman Wahid, KH Muhammad Tolhah Hasan berpesan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) harus mampu menjawab segala macam tantangan yang berkembang saat ini. Salah satu caranya adalah dengan mendesain dan melaksanakan program kerja yang menekankan pada kreativitas, inovasi, karya dan memiliki karakter yang kuat.

Kiai Tolhah Hasan: IPNU Harus Mampu Jawab Tantangan Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tolhah Hasan: IPNU Harus Mampu Jawab Tantangan Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tolhah Hasan: IPNU Harus Mampu Jawab Tantangan Saat Ini

“Program kerja jangka panjang tidak boleh luput. Sumber daya manusia yang berkualitas sudah sangat banyak, termasuk alumni yang tersebar di berbagai bidang. Ini harus benar-benar dimanfaatkan secara cerdas,” jelasnya saat membuka Rakerwil IPNU Jatim di Aula Pondok Pesantren Teknologi Ma’arif Singosari, Malang, Jawa Timur, Sabtu (30/1).

Salah satu pendiri Universitas Islam Malang (Unisma) ini juga berpesan pada pengurus IPNU, masa depan NU ditentukan oleh komitmen dan militansi dalam berproses di IPNU. Ia kemudian mencontohkan, salah satu kader sukses IPNU yang cukup membanggakan yakni Abdullah Azwar Anas. Menurutnya, mantan Ketua umum Pimpinan Pusat IPNU tersebut telah berhasil membuktikan bahwa menempa diri dengan sebaik-baiknya merupakan sebuah keharusan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dia (Azwar Anas, red) menjadi bupati terpilih dua periode bahkan baru-baru ini mendapatkan penghargaan dunia karena berhasil mengembangkan potensi wisata di Banyuwangi. Ke depan kita optimis ada yang seperti itu. Meski mengabdi pada umat bisa dengan apa saja tidak harus terjun di politik,” tegas penulis buku “Islam dalam Perspektif Sosio Kultural” ini.

Rakerwil kali ini mengangkat tema “Meningkatkan Sinergitas Menuju Tata Kelola Organisasi Berintegritas”. Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan, IPNU tengah menghadapi tantangan yang cukup berat, yakni problem radikalisasi dan narkoba yang menimpa generasi muda. Apalagi dewasa ini? kedua masalah tersebut telah banyak menyasar pelajar, santri dan mahasiswa. Maka, menurutnya, gerakan yang sinergis, inovatif, dan mampu cepat berdaptasi dengan perubahan adalah hal yang tak bisa ditawar. (Lukman Hakim El Baqeer/Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Internasional, Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Lagu pupujian "Anak Adam" bakal menjadi sound track film "Santri "Kelana" garapan Pengurus Cabang Nadlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pupujian ini sering dikumandangkan menjelang shalat berjamaah dan cukup familiar di kalangan umat Islam di Jawa Barat.

Mengenai pupujian Anak Adam itu, tim pembuatan film "Santri Kelana" dari PCNU Subang sudah melakukan rekaman yang dikombinasikan dengan instrumen musik.

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupujian Anak Adam Jadi Sound Track Film Santri Kelana

"Pertama, isi syair dan nilai yang diusung dalam pupujian Anak Adam ini penuh dengan makna. Kedua, dalam bait awal syair ada kata ngumbara (berkelana), begini: Anak Adam anjeun di dunya ngumbara (anak adam kamu hidup di dunia berkelana). Jadi saya kira ada relevansinya dengan judul film," kata Tito Taqiyudin (40), Sutradara Film Santri Kelana, di Pesantren Al-Mukhtariyyah, Subang, Kamis (9/5) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketiga, tambah Tito, pencipta pupujian ini anonim, tidak ada nama penciptanya. Ada yang bilang, inilah karakter Nusantara yang sebenarnya, kalau menciptakan sesuatu tidak mengharapkan imbalan materil yang diikat dengan hak cipta, yang diharapkan adalah justru imbalan moril berupa amal jariyah.

"Saya punya kitab pupujian Anak Adam, terbitan Toko Kairo Tasikmalaya, memang di sana tidak disebutkan penulisnya," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditambahkan Tito, pupujian anak adam ini terhitung cukup tua, karena pada masa kakeknya Tito masih hidup, pupujian itu sudah sering dikumandangkan di mushala yang ada di depan rumahnya.

Seperti diketahui, saat ini PCNU Kabupaten Subang sedang menggarap pembuatan film pendek yang berjudul "Santri Kelana". Pembuatan film ini direncanakan akan rampung sebelum bulan Ramadlan 1436 H tiba. Bagi masyarakat yang akan memberikan dukungan bisa bergabung di grup jejaring sosial facebook dengan nama grup Santri Kelana Subang. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah