Kamis, 09 November 2017

1001 Kisah Pohon Kurma

Pohon kurma tumbuh sejak zaman dahulu. Konon, pohon ini sudah tumbuh sebelum manusia diciptakan. Ada kisah yang mengatakan bahwa ketika Nabi Adam turun ke bumi ia mendapati bumi ini dihuni oleh barbagai macam tumbuhan. Salah satunya adalah pohon kurma.?

Kurma telah menjadi makanan pokok di Timur Tengah selama ribuan tahun. Pohon kurma diyakini berasal dari sekitar teluk Persia dan telah dibudidayakan sejak zaman kuno dari Mesopotamia ke prasejarah Mesir.

Bukti arkeologis pernah ditemukan dari mumi yang ditutupi oleh tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Selain itu ditemukan juga sebuah pohon kurma utuh di sebuah kuburan kuno di daerah Shakra dan kuburan itu sudah ada sejak 3200 tahun SM (Alvarez-Mon 2006).?

1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)
1001 Kisah Pohon Kurma (Sumber Gambar : Nu Online)

1001 Kisah Pohon Kurma

Penduduk jazirah Arab kuno telah memanfaatkan hampir keseluruhan pohon kurma, dari mulai batangnya yang digunakan sebagai tiang-tiang rumah. Pelepah kurma digunakan sebagai atap rumah dan bahan tikar, di samping khasiat buahnya yang banyak mengandung vitamin dan karbohidrat. Kurma adalah makanan yang bisa disimpan sepanjang tahun sebagai penunjang kebutuhan pokok.

Namun bagi umat Islam, kurma lebih dari sekedar buah. Menikmati kurma saat berbuka puasa adalah sunah. Bahkan dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan”.

Nah, dari sekian banyak cerita tentang kurma, terdapat kisah menggelitik antara Nabi Muhammad dengan menantunya, Ali bin Abi Thalib.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang kumpul bersama. Buah kurma tersaji di depan mereka. Setiap kali mereka makan kurma, biji-biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing.

Sahabat Ali yang duduk persis di samping Nabi tanpa sadar telah menghabiskan cukup banyak kurma. Jelas saja, biji-biji kurma yang ada di tempatnya menumpuk lebih banyak di bandingkan sahabat yang lain, termasuk milik Rasulullah.

Karena merasa malu atau keisengan sahabat Ali. Diam-diam dia memindahkan biji kurma miliknya ke tempat biji kurma milik Rasulullah. Saat semua biji kurma sudah berpindah tempat, Ali menggoda Nabi.

"Wahai Nabi tampaknya engkau begitu lapar. Sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurma di tempatmu menumpuk begitu banyak."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bukannya terkejut atau marah, sambil tersenyum Nabi membalas keisengan Ali. "Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sehingga engkau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tak ada biji tersisa di depanmu." Jawaban Nabi langsung mengundang tawa dari para sabahat lainnya.? (Zunus)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sunnah, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 08 November 2017

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Oleh Ahmad Suhendra

Era 1980-an perbukuan di Indonesia sangat “dibatasi”. Karena Orde Baru masih berkuasa. Reformasi menjadi titik awal menggeliatnya perbukuan di Indonesia. Tumbangnya Orde Baru menimbulkan beberapa kalangan haus dengan buku-buku kritis, seperti filsafat dan wacana kiri. Begitu juga dengan diskursus keislaman kritis yang ikut berkembang pesat. Akhirnya, sebelum tahun 2000-an banyak beredar buku-buku diskursus, yang melahirkan pemikiran-pemikiran segar bagi peta perpolitikan maupun wacana keagamaaan di Indonesia.

Namun, pasca tahun 2000-an geliat konsumsi buku-buku diskursus itu mengalami penurunan. Itu ditandai dengan adanya pergeseran perbukuan di Indonesia, dari buku-buku filsafat ke buku-buku populer, dan dari keislaman kritis ke buku-buku keislaman pragmatis. Sekarang orang cenderung malas membaca buku ‘serius’. Padahal itu yang dapat menggerakkan sebuah peradaban. ?

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku “Ramah” dan Peradaban Indonesia

Yang juga perlu disayangkan, maraknya buku-buku non-diskursus itu dibarengi dengan semakin populernya buku-buku berbahasa marah. Buku marah dimaknai sebagai buku yang berpandangan sempit dan tidak mau menerima perbedaan. Sebab itu buku semacam ini suka menghujat, mengafirkan dan membid’ahkan golongan lain. Tipe buku yang penuh amarah ini memang bukan sesuatu yang baru.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun pada abad ke-21 ini, buku penuh amarah bukan saja sekadar bacaan, melainkan sudah menjadi sikap sebagian masyarakat yang suka marah: suka menyalahkan, suka mengafirkan. Di balik buku penuh amarah itu menyimpan banyak misteri, mulai dari politik, ekonomi dan budaya.



Buku Marah Hilangkan Keseimbangan


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat muslim perkotaan (urban) menjadi sasaran utama buku marah. Mereka paling rentan terkena pengaruh dibanding masyarakat muslim pedesaan. Karena muslim perkotaan memegang peranan penting, baik di sektor pemerintahan maupun perkantoran. Selain itu mereka juga heterogen, baik dari tingkat pemahaman keagamaan maupun tingkat pendidikan. Muslim kota disibukkan dengan segala aktivitas dan kerja. Sehingga mereka kering dengan urusan-urusan yang sifatnya spiritual. Maka mereka mencari semacam penawar yang sifatnya religius-spiritual dan mudah dipahami serta instant.

Kehadiran buku-buku marah dalam konteks Indonesia sesungguhnya membawa problem. Pertama, problem kebangsaan. Indonesia terlahir sebagai bangsa yang plural. Plural dari sisi budaya, bahasa maupun agama. Dalam konteks itu dibutuhkan sikap saling menerima, menghormati dan kerja sama. Kedua, problem dari sisi keberagamaan. Sudah berabad-abad muslim di Indonesia saling berinteraksi dalam bingkai pluralitas kebangsaan. Tatanan yang harmonis itu tentu akan rusak jika sesama muslim saling menghujat.

Buku-buku yang berbahasa marah, terutama yang mengidentifikasi diri dari ajaran agama (Islam), ketika lahir dengan penuh amarah, terbukti tak mampu membangun peradaban yang saling menghargai. Ini jelas tak sesuai dengan tradisi Nusantara yang ramah dan santun. Buku dengan bahasa marah justru melahirkan tradisi dan peradaban yang jauh terbelakang. Buku itu telah menghilangkan keseimbangan dalam membangun peradaban Indonesia.

Sebab itu buku-buku berbahasa marah itu harus dilawan dengan menerbitkan buku-buku keislaman yang ramah dan toleran. Buku-buku keislaman yang ramah dan toleran itu mesti menyasar muslim perkotaan. Buku-buku itupun harus dikemas dengan bahasa ringan sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat.



Pesantren dan Rumah Bahasa Nusantara


Tidak mudah untuk membendung peredaran buku-buku marah itu. Ini tantangan bagi para penerbit yang mengedepankan Islam yang toleran. Pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga peredaran buku-buku toleran. Pesantren bisa menjadi kantong-kantong beredarnya buku-buku toleran. Proses transformasi keilmuan di pesantren mengkombinasikan budaya Arab dengan budaya lokal.

Untuk itu, perbukuan Indonesia masa depan harus kembali menata visinya yang jelas dan tegas. Bangsa ini harus kembali kepada “Visi Indonesia” yang sudah mempunyai “rumah” sendiri, yakni rumah bahasa yang khas Nusantara. Rumah bahasa yang khas Indonesia selalu emoh dengan bahasa yang marah, bahasa porno dan bahasa yang tidak mempunyai ikatan dengan jiwa Nusantara. Rumah bahasa yang khas Nusantara selalu mengedepankan kesantunan dan keramahan.

Rumah bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal buku-buku model tersebut. Sebab itu, buku-buku itu tidak akan mendapatkan tempat dalam rumah bahasa dan masyarakat di masa mendatang. Buku-buku amarah itu akan hilang dengan sendirinya. Dalam konteks ini, dunia perbukuan Indonesia harus menundukkan setiap hal-ihwal secara proporsional.

Hanya buku yang mempunyai ikatan batin dengan jiwa Indonesia yang bisa eksis dan terus langgeng. Buku yang suka marah, buku yang penuh porno, dan penuh tipu muslihat akhirnya secara teratur hilang dari peredaran. Dengan mendudukkan perbukuan Indonesia dalam konteks jiwa Nusantara ini, maka arah perbukuan bisa menjadi mercusuar peradaban dunia masa depan.

*) Penulis adalah Wartawan Majalah Bangkit dan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Warta, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Nuril Huda berpendapat bahwa perda ketertiban umum yang melarang memberi pada pengemis, menjadi pengamen, pedagang asongan atau pengelap mobil dilematis.

“Persoalannya memang dilematis, disatu sisi kalau kita memberi uang pada pengemis, mereka kadang tak mau berusaha, disisi lain, kalau tidak kita beri, mereka kelaparan,” katanya di PBNU, Jum’at (14/9).

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril Huda: Penertiban Pengemis Dilematis

Dalam aturan ketertiban umum yang merupakan revisi dari Perda 11/1988, mereka yang melanggar bisa dikenai pidana kurungan 20 hari sampai 90 hari atau denda Rp 500 ribu hingga maksimal Rp 30 juta.

Kiai Nuril lebih setuju jika dana yang diinfakkan diserahkan kepada lembaga amal, rumah yatim piatu, rumah jompo yang selanjutnya mereka akan mengelola dana tersebut buat yang berhak.

“Kita shodaqohkan atau infakkan harta kita kepada yayasan yatim piatu atau lembaga lainnya, biar mereka yang mengelola anak yatim, pengemis dan lainnya,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Tumbuhnya para pengemis, pedagang asongan dan lainnya di Jakarta diakibatkan oleh magnet yang menjadi daya tarik masyarakat dari daerah untuk datang ke ibukota dengan modal nekat. Karena tidak memiliki keahlian, akhirnya mereka berusaha bertahan hidup dengan segala cara.

“Idealnya, fakir miskin dan anak yatim memang dipelihara oleh negara seusai amanat UUD 1945. Namun departemen sosial yang bertugas mengelolanya memang belum maksimal karena yang miskin memang banyak sekali,” katanya.

Dijelaskannya bahwa sudah sunnatullah di sebuah negara ada orang kaya dan orang miskin. Disinilah peran zakat, infak dan shodaqah bisa membantu mereka yang kekurangan. “Shodaqoh terbaik adalah kepada para saudara yang masih memiliki hubungan darah yang masih kekurangan, ini akan sangat membantu mereka,” paparnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Pahlawan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Lajnah Falakiyah NU KH Ghozalie Masroeri berpendapat bahwa intervensi pemerintah sah dalam beberapa masalah keagamaan, termasuk dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri demi kemaslahatan ummat.

Demikian diungkapkannya dalam pembukaan Silaturrahmi Nasional Ahli Hisab dan Ahli Rukyah yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) di Ponpes Al Hikmah 2 Benda Bumiayu Brebes, Kamis malam (6/9).

Kiai Ghozalie memberi contoh adanya tiga metode dalam melakukan ibadah haji. Namun demikian, pemerintah memutuskan menggunakan metode haji tamattuk bagi jamaah haji dari Indonesia.

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ghozalie Masroeri: Intervensi Pemerintah Sah untuk Kemaslahatan

Dalam penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri 1428 H. pemerintah akan melakukan rukyah online pada 11 dan 12 September mendatang yang ditampilkan di TV dari lima lokasi yang mencakup Aceh, Semarang, Bandung, Makassar dan Gresik agar masyarakat bisa melihat secara langsung munculnya awal bulan.

Kiai Ghozalie menjelaskan bahwa pertemuan nasional ahli hisab dan rukyah ini dilakukan untuk menghasilkan rukyah yang berkualitas dilingkungan NU. Terdapat sekitar 100 ahli perwakilan LFNU dan pesantren yang datang dari seluruh Indonesia.

Untuk Ramadhan dan Lebaran mendatang, LFNU siap melakukan rukyah di 31 titik strategis diseluruh Indonesia. Mereka yang melakukan rukyah adalah para ahli rukyah yang sudah bersertifikat agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan rukyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hasil rukyah ini nantinya menjadi masukan dalam sidang istath di departemen agama dan menjadi keputusan PBNU yang diikhbarkan ke seluruh masyarakat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebelumnya PBNU telah mengadakan pelatihan bagi ahli hisab dan rukyah di Semarang Jawa Tengah. Kegiatan ini diinspirasi oleh perbedaan Idul Fitri antara PBNU dan PWNU Jawa Timur. (mkf)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Sejarah, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Jember,Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Manusia wajib menjalankan fungsinya yang mulia, yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Sebagai abdullah, manusia dituntut beribadah kepada Allah. Sebagai khlaifatullah, manusia dituntut  untuk memperlakukan bumi dan sisinya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban Islam.

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi Manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah

Demikian diungkapkan Wakil Ketua PCNU Jember, KH. Misbahussalam saat memberikan sambutan dalam pelantikan pengurus MWCNU Bangsalsari, Selasa (9/9).

Menurut H. Misbah, sapaan akrabnya, peran manusia sebagai abdulah dan khlafifatullah harus seimbang dan selaras.  "Itulah yang dimaksud dengan tawazun dalam prinsisp-prinsip NU. Dan itulah tujuan kita bergabung dengan NU; menjalankan fungsi kita sebagai abdullah dan khalifatullah," ucapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sedangkan tujuan yang kedua, tambahnya, adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan syariat Islam, sehingga selamat di dunia dan akhirat, berkumpul dengan para ulama di surga-Nya kelak. H. Misbah mengakui, point yang kedua ini terdengar klasik, tapi justru itulah yang sejatinya menjadi tujuan semua  manusia. "Kita  semua ingin sukses di dunia dan selamat di  akhirat," ucapnya.

H. Misbah menambahkan, warga nadhliyyin juga dituntut untuk membela dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dikatakannya, tegaknya NKRI tidak lepas dari usaha dan perjuagan para ulama NU. "Sehingga kita selaku warga NU, wajib menjaga keutuhan NKRI," jelasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara pelantikan itu sendiri digelar di lapangan Curahcabe, Desa Gambirono, Kecamatan Bangsalsari, persis di depan Gedung MWCNU Bangsalsari yang baru selesai dibangun.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PCNU Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin, anggota Muslimat NU, Fatayat, GP. Anshor dan para pengasuh Pondok Pesantren se-Kecamatan Bangsalsari. Prosesi pelantikan tersebut dipimpin oleh H. Misbah. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Bahtsul Masail, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 07 November 2017

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi”

Tasikmalaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Penyair Gusjur Mahessa tampil di acara Ngalogat Sastra Lesbumi NU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat di Halaman Kantor PCNU, Jalan dr. Soekardjo No 47, Ahad (29/5) malam. Melalui puisi-puisi yang bertemakan "Mending Gelo daripada Korupsi", Gusjur berhasil membawa imajinasi yang hadir untuk kembali mengingat bahwa banyak yang berteriak anti korupai, tapi nyatanya korupsi juga.

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyair Ini Angkat Tema “Mending Gelo daripada Korupsi”

"Maka, daripada korupsi mending gelo (gila)," kata Ketua Lesbumi, Aan Farhan yang hadir dalam pertunjukkan tersebut.

Penampilan penyair kelahiran 1 Agustus 1966 di suatu Kabupaten di Jawa Timur ini menyajikan puisi-puisi hasil refleksi pengalaman sendiri. Bertema dari pertanyaan tentang diri seperti yang berjudul "Aku Bukan Anak Kecil", Agama sampai ke Demokrasi menggunakan bahasa sangat jujur.

"Gus, kenapa kau selalu menyuruhku. Aku bukan anak kecil. Gus aku bukan anak kecil. Umurku udah 40 tahun lebih. Maaf aku. Gusti Yang Agung..mmuaaach," kata Gusjur sambil mengecup telapak tangannya saat membacakan syair.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam puisi berjudul Mending Gelo daripada Korupsi, Gusjur begitu eksentrik. Dengan memakai seragam Banser, Gusjur ekspresif sekali ketika bilang, "Hai kamu. Katanya kampanye anti korupsi. Ternyata kok malah dipenjara karena korupsi. Gubrak," kata Gusjur sambil menjatuhkan diri.

Penonton pun langsung tertawa karena ekspresi penyair yang kerap dipanggil Agus Jurig itu begitu mengena dan ekspresif dengan setiap kata yang dilantunkannya. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Masyarakat Baduy yang tinggal di kecamatan Kanekes kabupaten Lebak Provinsi Banten, sejak lama dikenal sebagai masyarakat adat yang tertutup dari jangkauan peradaban luar. Namun seiring bergulirnya waktu beberapa entitas dan komunitas masyarakat Baduy mulai berusaha membuka diri terhadap peradaban dan pengetahuan yang lebih luas.

Salah komunitas yang berusaha membuka diri terhadap pengetahuan yang lebih luas adalah Komunitas Saung Belajar yang terletak di Luwung Titipan, sekitaran kawasan pemukiman Baduy. Komunitas Saung Belajar ini mengajarkan anak-anak Baduy Dalam untuk belajar membaca dan menulis.

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Saung Belajar Baduy Kunjungi NU Online

Demikian dinyatakan oleh Mang Pulung saat berkunjung ke Kantor Redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Ahad (14/6). Menurut Mang Pulung, memang ada beberapa kendala terkait proses belajar di Saung yang dibangunnya ini antara lain letaknya yang di luar perkampungan dan adat yang mengikat masyarakat Baduy.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Dulu pernah ada seorang pengajar yang ditugaskan oleh pemerintah bernama Guru Asid dari Karang Balang, tetapi karena ia sudah pindah ke Gunung Talaga, maka kegiatan belajar jadi terhenti untuk sementara. Anak-anak tidak mau belajarnya pinda karena lokasinya yang jauh dari pemukiman Baduy," tutur Mang Pulung.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lebih lanjut Mang Pulung menjelaskan, kendala-kendala dalam proses belajar di saungnya antara lain adalah keterbatasan sarana belajar dan teguran dari kokolot (sesepuh) adat. Termasuk adanya aturan tidak boleh berseragam dan tidak boleh membawa perlengkapan belajar pulang ke rumah.

Lelaki berumur 45 tahun ini bahkan mengaku sempat putus asa dalam mengupayakan Komunitas Saung Belajarnya. "Tapi Alhamdulillah, ada banyak kawan dari luar yang turut membantu menyiapkan perlengkapan dan sara belajar di Saung ini," tandas ayah dari seorang putri berusia 12 tahun ini.

Masyarakat Baduy tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka.

Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut.

Akibatnya, mayoritas populasi yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 8.000 orang ini tetap tidak dapat membaca atau menulis hingga sekarang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah