Rabu, 06 September 2017

Sholawat Iringi Pelantikan IPNU Pesantren Zainul Hasan Genggong

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Pengurus Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Rabu (8/2) malam dilantik.

Usai dilantik, para pengurus IPNU Hafshawaty Pesantren Zaha Genggong diminta agar bijak dalam memilih informasi. Pasalnya saat ini banyak informasi yang diragukan kebenarannya.

Sholawat Iringi Pelantikan IPNU Pesantren Zainul Hasan Genggong (Sumber Gambar : Nu Online)
Sholawat Iringi Pelantikan IPNU Pesantren Zainul Hasan Genggong (Sumber Gambar : Nu Online)

Sholawat Iringi Pelantikan IPNU Pesantren Zainul Hasan Genggong

Pelantikan yang dipimpin oleh Ketua IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam ini dihadiri jajaran pengasuh Pesantren Zaha Genggong seperti KH Moh Hasan Nouval, KH Ahsan Qomaruzzaman, KH Hassan Ahsan Malik, dan KH Hasan Maulana.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan ini disemarakkan dengan lantunan sholawat hingga larut malam. Ribuan santri bersholawat bersama-sama yang dipimpin oleh KH Hassan Ahsan Malik (Non Alek).

Khairul Imam mengatakan, sebagai generasi muda IPNU harus berbenah di era globalisasi zaman saat ini. Terutama semakin banyaknya berita hoax di media sosial (medsos). “Anak IPNU harus bisa memilah dan memilih mana informasi yang benar dan tidak,” katanya.

Khairul juga menyampaikan ucapan selamat bertugas, belajar, dan berjuang dengan amanah yang baru diterimanya. “Harapannya nanti bisa memberikan yang terbaik kepada semua pengurus PK IPNU Hafsyawati putra. Bisa menjadi penggerak dan harapan kaderisasi terbaik harapan NU,” pungkasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara Ketua IPNU Hafshawaty Moh Dandi Al-Muhdhor menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas amanah dan kepercayaan yang diberikan kepadanya selama satu tahun.

“Semoga saya bisa memegang amanah ini dengan baik. Meskipun demikian saya perlu masukan dan bimbingan sekaligus pembinaan dari beberapa senior IPNU. Harapannya ke depan bisa mengoptimalkan kajian Aswaja, ke-NUan, kebangsaan, dan tantangan di era IT,” ungkapnya.

Sedangkan Kiai Moh Hasan Maulana lebih banyak menceritakan agar segenap santri untuk selalu bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mencari ilmu. “Gunakan waktu semaksimal mungkin untuk mendapatkan ilmu yang manfaat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Kiai Moh Hasan Nouval. Ia meminta para pengurus IPNU menjadi karakter jatidiri seorang santri dengan keterampilan dan kemampuan masing-masing.

“Tegakkan terus kalimatul haq di manapun kalian berada. Cintai guru-guru kalian semua ashabul bait Pesantren Zainul Hasan Genggong. Supaya barokah manfaat mengalir kepada kalian semua,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 05 September 2017

Rais Aam Resmi Lantik Pengurus PBNU 2015-2020

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin resmi melantik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2015-2020, Sabtu (5/9) di Masjid Istiqlal Jakarta. Pengukuhan yang dirangkai dengan kegiatan sholawat dan istighotsah ini diikuti oleh lebih dari 10.000 warga NU se-Jabodetabek Jawa Barat dan sekitarnya.

Saat mengukuhkan, Kiai Ma’ruf mengatakan, bahwa segenap pengurus dalam bekerja memajukan organisasi harus dilandasi dengan keikhlasan.

Rais Aam Resmi Lantik Pengurus PBNU 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam Resmi Lantik Pengurus PBNU 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam Resmi Lantik Pengurus PBNU 2015-2020

Kiai asal Banten ini juga menuturkan, kepengurusan sekarang harus bekerja lebih baik lagi dibanding periode yang lalu. “Karena peran NU sangat dibutuhkan oleh negara sehingga NU wajib menjaga negara ini menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Ma’ruf juga menekankan kepada pengurus baru akan pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dari gerakan-gerakan radikalisme dan ekstrimisme.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hadir dalam acara pengukuhan dan istighotsah ini diantaranya, KH Maimoen Zubair, KH Makhtum Hannan, Wapres RI, H M Jusuf Kalla, Ketua MPR RI, H Zulkifli Hasan, Menag RI, Lukman Hakim Saifuddin, dan para Menteri Kabinet Kerja lain. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Pendidikan, Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus GP Ansor kabupaten Cirebon mengerahkan 145 anggota Banser yang bertugas di enam titik lintasan arus mudik lebaran baik jalur utara maupun jalur selatan. Mereka menempatkan enam posko mudik sepanjang perbatasan Indramayu-Cirebon hingga perbatasan Cirebon-Jateng.

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)
145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Ksatkorcab Banser Cirebon Fikriyan mengatakan, pos pertama ditempatkan di Arjawinangun dengan Korlap Apung. Sementara Asep menjadi koordinator lapangan untuk pos kedua di Plumbon. Sedangkan pada pos ketiga GP Ansor Cirebon mengamanahkan anggota Banser Cirebon Aris sebagai korlap.

“Kita menugaskan Sunanta untuk membawahi anggota Banser pada pos keempat di Dukupuntang. Pos kelima di kecamatan Mundu dengan Umar sebagai komandannya. Terakhir kita menugaskan Omang untuk pos keenam di Karangsembung,” kata Fikriyan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (30/7) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hingga kini, semua alhamdulillah berjalan aman, tertib dan lancar terkendali. Semua, lanjut Fikriyan, kami lakukan atas dasar sukarela dengan titik tugas misi organisasi dan misi kemanusiaan.

Pendirian posko dan pengerahan anggota menjadi tanggung jawab Ketua GP Ansor Cirebon Fariz, Kasatkorcab Banser Cirebon Fikriyan, dan sejumlah jajaran pengurus Banser. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 04 September 2017

Grebek Agung Pajang Digelar

Sukoharjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Paguyuban Patilasan Kasultanan Pajang dan Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta Hadiningrat (Pakuso) menggelar Grebek Agung Pajang, Ahad (3/2).

Grebek Agung Pajang Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebek Agung Pajang Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebek Agung Pajang Digelar

Acara tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya dan dalam rangka memperingati Maulid Nabi saw. “Grebek ini merupakan acara pertama kami dan kami berencana menjadikannya sebagai agenda tahunan yang dilaksanakan berdekatan dengan Maulid Nabi,” kata Ketua Paguyuban Patilasan Kasultanan Pajang, Suhadi Mulyono.

“Selain itu, kami juga ingin mengenalkan kembali Kasultanan Pajang sebagai cikal bakal Keraton Surakarta Hadiningrat,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut salah satu panitia penyelenggara acara tersebut, R Dimas Sukoco, dua gunungan dikirab dalam acara tersebut. “Satu gunungan berbentuk kerucut melambangkan laki-laki dan satu gunungan kerucut terbalik melambangkan perempuan. Keduanya terbuat dari ketela,” jelas Dimas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketela Pajang yang akan dibuat gunungan diklaim pernah terkenal hingga mancanegara pada masa silam.

Pada acara tersebut, dilakukan kirab dengan rute dari pasanggrahan induk patilasan Kasultanan Pajang menuju timur (Jalan Joko Tingkir) kemudian menuju ke utara (Jl Slamet Riyadi, Kartasura) dan berakhir di bekas Kasultanan Pajang.

Selain melakukan grebek, Suhadi mengungkapkan, juga dilakukan berbagai macam acara lain seperti wilujengan gantos langse agung pajang Kiai Beluk dan wayangan untuk memperingati kelahiran Joko Tingkir.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 September 2017

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Ketanggungan, Brebes menyiapkan 900 paket zakat fitrah atau sekitar 2,25 ton yang bakal dibagikan kepada masyarakat sekitar sekolah. ? Zakat fitrah tersebut dikumpulkan dari siswa dan guru MTs Negeri Ketanggungan selama bulan Ramadhan.akan dibagikan pada malam hari raya idhul fitri 1438 Hijriyah.?

“Sekitar 80 persen zakat dari siswa dan guru berhasil terkumpul,” tutur Kepala MTs Negeri Ketanggungan Maspau, di sela buka puasa bersama dan khotmil quran Pengurus OSIS di madrasah setempat, Ahad (18/6).

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Maspau menjelaskan, zakat dihimpun dari 1.082 siswa, namun yang masuk hanya sekitar 80 persen lebih dikarenakan siswa kelas 9 sudah lulus. Para siswa ada yang memberikan dalam bentuk beras 2,5 kilogram namun ada juga yang berbentuk uang.?

“Sudah menjadi tradisi, kalau malam hari raya madrasah kami membagi zakat kepada masyarakat hasil dari himpunan keluarga besar MTs N Ketanggungan,” ungkapnya.

Terkait kegiatan Pesantren Ramadhan pihaknya telah menggelar selama seminggu dengan bimbingan 10 guru pembimbing, Dalam pesantren tersebut para santri antara lain diberikan materi dasar dasar beribadah, ? tayamum, ? wudlu, ? doa harian, ? doa sholat wajib, tadarus, ? sholat duha. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Juga dilakukan kajian kitab kuning yakni kitab safinatunnajah dan ? ahlakul banin,” paparnya.

Tadarus telah mengkhatamkan 30 juz dan para siswa yang berhasil khatam, diajak buka puasa bersama sekaligus Khotmil Quran.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah peraih penghargaan The Most Favorite Islamic School Of The Year (Sekolah Islam Favorit) dari Lembaga Indonesian Achievment Centre ini menjadi sekolah rujukan di wilayah Brebes bagian tengah. Berbagai prestasi telah baik itu di tingkat nasional maupun regional sehingga menjadi inspirasi dan informasi yang berkualitas bagi sekolah imbas di sekitarnya.

Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi siswa agar menjadi siswa yang cerdas, terampil, inovatif juga berakhlak. Madrasah ini juga memiliki kelas unggulan untuk mencetak siswa mampu bersaing di tingkat lanjutan dan masuk SMA unggulan.

“Kelas unggulan menggunakan ruang ber AC, karena proses belajarnya sampai sore.” pungkasnya.? (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 September 2017

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap tahun, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama menggelar sidang itsbat dalam menentukan 1 Syawal. Namun demikian, dalam satu tahun belakangan, pemerintah melakukan sidang itsbat secara tertutup setelah 11 tahun digelar secara terbuka. Hal ini sangat disayangkan oleh PBNU karena sidang itsbat terbuka mempunyai manfaat besar bagi umat.

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

“Kita menyayangkan sekali dalam satu tahun ini sidang itsbat diadakan secara tertutup. Padahal manfaat sidang itsbat yang disiarkan langsung secara terbuka manfaatnya besar sekali, kami mengimbau kembali dilakukan secara terbuka,” ujar Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghozali Masroeri dalam konferensi pers penentuan 1 Syawal 1436 H, Kamis (2/7) di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.?

Kiai Ghozali Masroeri menerangkan, paling tidak ada lima manfaat sidang itsbat terbuka, yaitu pertama, manfaat syiar di tengah hiruk-pikuknya informasi negatif di tengah masyarakat. Kedua, lanjutnya, silaturrhim antar ormas, baik secara siaran langsung melalui televisi atau saat sidang itsbat itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ketiga, dengan sidang itsbat terbuka merupakan media pencerdasan umat. Jadi tak hanya pencerdasan di bidang Iptek tetapi juga pencerdasan di bidang pemgetahuan dalam menentukan awal bulan kepada umat. Keempat, mudah diakses oleh umat, cepat dan murah dengan catatan tidak bertele-tele,” paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kelima, lanjut Kiai Ghozali, mendorong adanya sikap percaya masyarakat terhadap metode-metode yang digunakan pemerintah. Artinya, imbuh Kiai sepuh ini, dengan manfaat sidang itsbat terbuka, umat lebih memilih mengikuti pemerintah setelah 11 tahun lalu umat selalu mendasarkan diri pada organisasinya masing-masing.

“Pemerintah jangan terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa perayaan Idul Fitri akan bersamaan. Karena kenyataannya jalan menuju penyatuan masih terlalu jauh,” jelas Kiai Ghozali. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Sayyid Ibrohim mempunyai nama asli Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Baabu jika diurut ke atas, maka beliau adalah termasuk dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) yang bermarga Babud Kharbasan sebuah marga dalam keturunan Rasulullah SAW, atau orang sering menyebutnya dengan Sayyid atau Habib yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai kedudukan tersendiri di mata umat islam.

Beliau dilahirkan pada tahun 1864M dari ayah yang bernama Ali bin Hasyim dan ibunya adalah Syarifah Khotijah di Kauman Wonosobo. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau setelah masyarakat mengetahui kealiman dari beliau serta termasuk dalam jajaran ahlul bait.Dilahirkan sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara semenjak kecil telah mendapat pendidikan ilmu agama dari orang tuanya dengan belajar mengaji.

Sayyid Ibrohim semenjak kecil sudah mulai dikenalkan dengan Ilmu al Quran,Fiqh,Tauhid dan cabang ilmu yang lainnya, termasuk ilmu Tasawuf (thoriqoh). Pada saat itu belum banyak dikenal model pendidikan yang lazim dilaksanakan saat ini. Model pendidikan yang dilaksanakan menggunakan system individual dengan cara sorogan sebagaimana dikenal di lembaga pendidikan Pesantren. Disamping mendapatkan Ilmu agama dari orang tuanya sendiri dan juga Ulama di daerah Wonosobo, berdasarkan suatu riwayat beliau juga belajar kepada guru dan sekaligus sahabatnya yaitu Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan.

Hal ini diketahui bahwa setiap beliau pergi ke daerah Pekalongan senantiasa didereake oleh KH.Hasbullah Bumen dengan berjalan menaiki kuda sambil menuntun kambing atau sapi yang akan dihadiahkan kepada guru dan sekaligus sahabatnya Habib Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan juga sayid Hasyim Bin Yahya.

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Dengan berbekal ilmu yang telah didapatkan dari para guru gurunya, Sayyid Ibrohim kemudian mengajarkan agama islam dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktifitas beliau disamping sebagai Ulama juga sebagai saudagar yang sangat terkenal dan mempunyai banyak sawah dan tanah yang kemudian dijadikannya tempat untuk ,mendirikan Masjid atau bangunan lainnya sebagai tempat pendidikan. Kesempatan berdagang itu pula digunakannya untuk menyampaikan dakwah islamiyah dan mengenalkan NU melalu jalur Thoriqoh yang beliau dapatkan dari ayahnya. Beliau mendapatkan sanad thoriqoh dari orang tuannya berupa Thoriqoh Alawiyah yang dikenal dengan thoriqoh yang tidak menggunakan tata cara yang khusus sebagaimana Thoriqoh yang lainnya.

Pendiri NU Cabang Wonosobo

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semenjak awal berdirinya 31 Januari 1926, NU kemudian melalui para Ulama yang? berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah mendirikan berbagai cabang di daerah daerah sebagai perpanjangan dari HBNO (PBNU) yang berada di Surabaya. Melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda) yang dibentuk oleh HBNO, para Ulama yang tergabung di dalamnya mensosialisasikan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Hindia Belanda (baca Indonesia), diantaranya ke Jawa Tengah, Jawa Barat hingga daerah Menes Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga daerah Aceh.

Propaganda itu pada gilirannya sampai ke daerah Wonosobo. Karena ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh para Ulama masa dulu. Kehadiran NU di Wonosobo yang diprakarsai oleh para kyai diantaranya Sayid Ibrahim Kauman, KH.Hasbullah Bumen,KH.Abdullah Mawardi Wonosobo, Kyai Abu Jamroh, KH.Asyari Kalibeber, Sayyid Muhsin Kauman, dan beberapa tokoh yang lain seperti Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf dan yang lainnya disambut dengan mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama Cabang Wonosobo.

Hal itu ditandai dengan penbentukan kepengurusan NU Cabang Wonosobo dengan Rois Syuriah? Sayyid Ibrohim dengan dibantu Sayyid Muhsin bin Ibrohim sebagai Katibnya. sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diantaranya Pertama, menurut Mbah Muntaha (Allahu yarham) memberi keterangan bahwa NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon pada tanggal 29 Agustus 1931, keterangan ini didukung oleh H.Salim Mukhtar (almarhum) mantan ketua Tanfidziah NU. Kedua, terdapat arsip kartu tanda Anggota NU (Kartanu) yang diberi nama Rosyidul Udhwiyah atas nama Bapak Saidun Desa Kreo Kejajar, yang ditanda tangani oleh Sayyid Ibrohim dan Sayyid Muhsin sudah bernomer 1526 pada tahun 1353H, sebagai indikasi telah banyaknya warga yang mengikuti Jamiyah Nahdlatul Ulama. Ketiga, terdapat keterangan dari para sesepuh NU bahwa pada saat pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrohim dan dihadiri oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah sebagai HBNO, sedangkan sebagai pembaca al Quran pada acara itu adalah KH.Muntaha al Hafidz.

Kepiawaian dari para pendahulu NU Wonosobo terutama Sayyid Ibrohim yang tanpa lelah memperjuangkan NU ditengah tengah masyarakat pada gilirannya membuahkan hasil secara nyata hasil itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang dengan suka rela menjadi anggota jamiyah ini,serta gerakan gerakan lainya yang mendukung program Jamiyah.

Dalam proses sosialisasi NU dan dakwah islamiyah, beliau senantiasa ditemani salah seorang putra beliau yaitu Muhsin Bin Ibrohim yang kelak menjadi katib Syuriah. Ketika remaja beliau Sayyid Muhsin setelah mendapatkan ilmu agama dari Abahnya, kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk belajar agama islam di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, sekembalinya dari Tremas kemudian beliau melanjutkan studinya di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama kepada beberapa Ulama di Timur Tengah hingga berkeluarga.

Namun takdir berkata lain, ketika terjadi pengusiran besar-besaran di Arab Saudi terhadap golongan muslim sunny yang dianggap bertentangan dengan kaum Wahabi, atas pesan dari gurunya beliau agar kembali ke Indonesia untuk menyalamatkan agama dan ilmu beliau kembali ke tanah air. Dan akhirnya menetap di Wonosobo berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Sebagai katib Syuriah yang membantu tugas dari abahnya, pada saat awal dibentuknya NU beliau memprakarsai pembuatan gedung NU yang sekarang ditempati NU dan sekaligus dijadikan tempat untuk pembinaan generasi muda NU dengan mendirikan sekolah Arab. Hal ini dimaksudkan untuk ajang kaderiasi dan juga penanaman nilai nilai ahlussunanh wal jamaah semenjak dini. Sebagai salah seorang yang tertua ke delapan dari putra Sayyid Ibrohim dengan istri pertama, sayyid Muhsin menerima hirarki thoriqoh dari abahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sayyid Ibrohim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga orang istri. dari tiga orang istri tersebut bukan berarti beliau menganut poligami. Namun tetap dengan satu istri, yaitu ketika istri yang pertama meninggal dunia, kemudian beliau beristri lagi. Dari keturunan beliau ini kemudian telah berkembang di berbagai daerah bahkan luar negeri yang senantiasa menyebarkan agama islam juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu dari karomah yang dimiliki oleh sayyid Ibrohim yang hingga saat ini jelas kelihatan dan diketahai masyarakat adalah Jamiyah Nahdlatul Ulama. Organisasi yang telah mengalami berbagai masa, yaitu masa penjajahan Belanda dilanjutkan zaman fasis Jepang, Kemerdekaan dan kemerdekaan serta masa orde lama dan orde baru serta masa reformasi, tetap eksis dalam berkhidmah kepada umat bangsa dan negara. Hal itu tentunya telah diawali oleh Sayyid Ibrohim dan para Ulama lainnya sebagai muassis (peletak dasar pertama) Jamiyah NU. dengan ketulusan dan kesabaran dibarengi dengan keikhlasan mengeluarkan harta bendanya untuk mewujudkan cita cita NU, telah membuat catatan tersendiri di hati umat Islam di Wonosobo. Disamping itu banyak terdapat Masjid yang dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh sayyid Ibrohim yang tidak hanya di satu tempat, namun diberbagai daerah.

Apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibrohim adalah karena kecintaannya kepada para leluhur yang telah mengajarkan agama islam ke daerah Wonosobo (Mubaligh) serta menyelamatkan masyarakat yang jika dibiarkan akan terkena musibah yang lebih dahsyat.

NU dan Tarekat

Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah NU Wonosobo, Sayyid Ibrohim juga didaulat oleh gurunya untuk menjadi Kholifah (pemimpin) Thoriqoh Syathoriyah. Terdapat dua Thoriqoh yang ada pada diri beliau yaitu Alawiyah dan Shatoriyah. Jika Thoriqoh alawiyah merupakan Thoriqoh yang banyak dilakoni oleh kebanyakan para Habaib secara turun temurun. Maka Thoriqoh Shatoriyah yang dikembangkan beliau merupakan gabungan dari Thoriqoh yang sebelumnya dalam hal penerimaan.

Melalui jalur Thoriqoh inilah, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Wonosobo dan sekitarnya serta mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama dalam perjalanan pengembaraan dakwahnya. Pengembaraan itu pada saatnya telah memunculkan banyak masyarakat yang mengerti dan bergabung dengan NU. Murid beliau kini telah banyak yang meninggal, namun kebanyakan dari para murid itu, telah mempunyai Jamaah yang banyak pula. Para murid sayyid Ibrohim tersebar ? di seluruh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung seperti Sukorejo dan Ngadirejo Kabupaten Kendal, sebagian Wilayah Batang dan juga daerah Banjarnegara serta Purworejo

Sadar akan pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan, menjelang usia senja pada tahun 1940 beliau meletakkan jabatan Rois Syuriah Cabang Wonosobo melalui Musyawarah yang diadakan oleh pengurus Cabang saat itu. Kemudian ditunjuklah Kyai Abu Jamroh untuk dijadikan Rais Syuriah NU Wonosobo menggantikan Sayyid Ibrohim. Dalam kondisi fisik yang tidak seperti waktu muda sebelumnya. Sayyid Ibrohim tetap berjuang mengembangkan agama islam dan NU melalui jaman fasis Jepang. Sekalipun di bawah tekanan penjajah yang sangat kejam baik pada masa Jepang maupun masa kemerdekaan, eksistensi beliau sebagai pejuang tidak pernah surut. walaupun harus bergonta ganti tempat karena pengejaran dari Penjajah, semangat memperjuangkan islam dan memberi dorongan spiritual kepada para pejuang baik yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah dan kelaskaran yang lain tetap beliau berikan.

Ketika suasana Indonesia telah semakin mereda dengan kekalahan penjajah Belanda dari rakyat Indonesia. Sayyid Ibrohim kemudian kembali ke daerah Kauman Wonosobo dan menetap disana hingga wafatnya pada bulan Syaban tahun 1948. Beliau dimakamkan di makam keluarga Maron (belakang kampung Longkrang) Wonosobo. Khaul beliau dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Syaban dengan dihadiri oleh Jamaah dan keluarganya.

?

Ahmad Muzan

Direktur IHSF dan AP Fatanugraha Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah