Sabtu, 01 April 2017

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketika Bung Karno pada tahun 1945 meneken naskah proklamasi bersama Bung Hatta, mereka mengatasnamakan bangsa "Indonesia". Saat itu, tidak banyak yang mengerti apa atau siapa itu bangsa Indonesia. Mereka hanya tahu bahwa dengan adanya proklamasi tersebut berarti bangsa ini telah merdeka dari penjajahan.

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Demikian dijelaskan sejarawan NU Agus Sunyoto ketika mengampu Mata Kuliah Arkeologi Islam Indonesia di Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, Sabtu (27/9) di Jakarta.

“Jadi nama Indonesia awalnya hanyalah asumsi Bung Karno yang kemudian disepakati oleh seluruh orang Nusantara saat itu,” terang Penulis Buku Atlas Wali Songo ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Apa artinya semua ini, lanjut Agus, pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi yang disepakati. Kita lihat daerah Jakarta, lanjutnya, kita hanya akan menemukan gedung-gedung bertingkat, jalan-jalan besar, kemacetan, dan lain sebagainya, jika orang-orang ditanya mana Jakarta. Kita hanya akan menemukan semua hal tersebut.

“Artinya, pengetahuan tempat mengenai Jakarta hanyalah asumsi yang disepakati, Jakarta sendiri, tidak ada,” tegas Wakil Ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Lanjut Agus Sunyoto yang juga Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang ini, asumsi yang dibangun manusia, membentuk struktur ideologis maupun sosial-material dalam kehidupan manusia selanjutnya.

“Oleh sebab itu, Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa agama Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, karena pikiran-pikiran manusia itu penuh dengan asumsi,” paparnya. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kyai, Anti Hoax, Tokoh Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 30 Maret 2017

Sambut 2015, Ma’arif NU Sulsel Benahi Tata Kelola Kelembagaan Pendidikan

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus LP Maarif NU Sulawesi Selatan menyelenggarakan rapat kerja di Gedung NU Sulsel, Rabu (17/12). Mereka bertemu untuk mengevaluasi dan membuat langkah kerja ke depan dalam rangka mewujudkan pendidikan di lingkungan NU yang kian diminati masyarakat.

Ketua LP Maarif NU Sulsel Abdur Rahim Sanjata mengatakan, keberadaan Maarif Sulsel sebagai lembaga yang mengurusi pendidikan di Sulawesi Selatan sangat dibutuhkan dan ke depan sekolah atau madrasah NU mesti dikelola secara profesional tanpa meninggalkan rutinitas nilai-nilai Aswaja.

Sambut 2015, Ma’arif NU Sulsel Benahi Tata Kelola Kelembagaan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut 2015, Ma’arif NU Sulsel Benahi Tata Kelola Kelembagaan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut 2015, Ma’arif NU Sulsel Benahi Tata Kelola Kelembagaan Pendidikan

Sementara Sekretaris PWNU Sulsel Arfin Hamid melihat posisi strategis LP Maarif NU di Sulsel sebagai jantung aktifitas dakwah NU khususnya di bidang pendidikan. Arifin berharap, ke depannya pengurus Maarif, sekolah/madrasah di bawah naungan LP Maarif untuk senantiasa memperbaiki manajemen dan standardisasi untuk perbaikan tata kelola yang bermutu dan berkualitas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dewasa ini pendidikan di Indonesia menjadi tolok ukur proses maju tidaknya bangsa Indonesia. Sehingga perbaikan kualitas pendidikan ke depan menjadi pra syarat menuju bangsa yang berkualitas,” kata Ketua PP LP Ma’arif NU H Zainal Arifin Junaidi di hadapan ratusan peserta rapat kerja.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dirjen Pendis Kemenag RI Kamaruddin Amin mengapresiasi pertemuan rapat kerja LP Maarif Sulsel ini. “Kami berharap Maarif mampu menjadi sarana bagi peningkatan kualitas madrasah dan pesantren khususnya di lingkungan NU di Sulawesi Selatan.”

Kamaruddin juga mnyorot aspek SDM sebagai modal peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan Maarif NU. (Andy M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Sholawat, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 26 Maret 2017

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta para demonstran memahami prosedur hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masih sedang berjalan.

"Tentu proses hukum kan tidak bisa seperti membalik telapak tangan ya, perlu ada tahapan yang harus dilampaui, ada pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan, sampai lalu dibawa ke pengadilan," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Gerbang Wisma Negara Jakarta, Jumat.

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

Ia juga menegaskan bahwa bukan berarti pemerintah tidak menghormati dan menempuh jalur hukum.

"Proses hukum ini sudah berlangsung, bahkan Polri kemarin sudah mengatakan sudah dilayangkan undangan kepada yang bersangkutan, Senin mendatang," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Menag, beberapa saksi sudah dipanggil dan dimintai keterangan.

"Pemerintah sadar menengahi sengketa apakah yang bersangkutan sudah menodai agama atau tidak, itu hukum yang jawab. Kita harus komitmen tunduk dan patuhi hasil hukum. Apapun keputusan hakim melalui pengadilan, kita harus tunduk dan menghormatinya," katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia juga mengatakan, unjuk rasa besar yang digelar 4 November 2016 tidak akan mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan.

Menag berharap para hakim tetap memiliki kearifan dan indenpendensi selain juga integritas yang ada dalam diri untuk mengatasi dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

"Tentu, hakim haruslah merdeka sehingga betul-betul nanti saat mengambil putusan, adalah putusan berdasarkan fakta-fakta, berdasarkan fakta hukum dan juga, sejumlah keterangan para saksi, baik saksi yang ikut menyaksikan peristiwa itu, maupun saksi ahli sehingga kemudian betul-betul objektif untuk memenuhi rasa keadilan kita semua," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Fragmen, Cerita, Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 25 Maret 2017

Shalawat Bisa Bangkitkan Nasionalisme

Blitar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kegiatan Rutinan PCNU Blitar Raya pada Ahad (7/8) pagi kemarin tidak seperti biasanya. Hadirin tak hanya didominasi jamaah orang-orang tua tapi santri-santri muda. Masjid Agung Kota Blitar yang menjadi lokasi acara saban Ahad Wage pagi ini pun penuh sesak sampai meluber ke alun-alun Blitar.

KH Mohammad Sunhaji Nawal Karim Zubaidi Abdul Ghofur, salah satu pengasuh Pesantren Mambaul Hikam dan pendiri Majelis Ta’lim Mugitsu Al-Mughits, Mantenan Udanawu Blitar, bertindak sebagai pemberi taushiyah.

Shalawat Bisa Bangkitkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Bisa Bangkitkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Bisa Bangkitkan Nasionalisme

Gus Shon, sapaan akrabnya, pada kesempatan tersebut banyak mengupas masalah faedah membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, banyak bershalawat pada nabi, selain mendapat nilai ibadah, juga sekaligus bisa membangkitkan patriotisme umat Islam kepada bangsa dan negara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kalau kita bershalawat pada Nabi Muhammad SAW, selain mendapat syafaat Nabi. Juga bisa menambah kecintaan kita pada agama, bangsa dan negera. Sehingga menambah rasa nasionalisme kita terhadap nusa dan bangsa,” katanya.

Acara berlangsung mulai pukul 08. 00 WIB. Selain Gus Shon, tampak hadir pula Rais Suriyah PCNU Kabupaten Blitar KH Imam Suhrowardi dan KH Abdul Karim Muhaimin, Rais Terpilih PCNU Kota Blitar, serta para pengurus NU di Blitar Raya lainnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Acara rutinan NU Ahad Wage itu sudah berlangsung sejak tahun 1980-an dan ketika itu yang hadir selalu membludak hingga ke alun-alun kota Blitar. Mereka datang dari berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten dan Kota Blitar. Beberapa kiai dan dai pernah dihadirkan dalam acara yang bertempat di Masjid Agung Kota Blitar tersebut.

“Kami ingin kegiatan rutin NU Blitar ini bisa seperti pada awal-awal pelaksanaan dulu sekitar tahun 1980-an. Yang hadir minimal l5-10 ribu. Apalagi kalau yang hadir KH Yasin Yusuf, dai kondang asal Kademangan Blitar, jamaah yang hadir mbludak, sampati timur Alun-alun, ” katanya.

Dengan perkembangan waktu dan banyaknya media informasi dan kegiatan dakwah lainnya, jamaah Ahad Wage tampaknya terus merosot. Untuk itu PCNU Blitar Raya berikhtiar agar geliat jamaahnya seperti sebelumnya. “Meski sulit kami akan terus berusaha,” tambah Masduki. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Warta, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 23 Maret 2017

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nabila Ashfa Ibrohim sudah mahir mendalang wayang kulit. Siswa kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) At-Tarbiyah Jurang, Gebog, Kudus ini tercatat sebagai anggota Persatuan? Pedalangan Indonesia (Pepadi) dengan nomor keanggotaan 1301.

Siswa 8 tahun yang biasa dipanggil Ashfa ini, memperkenalkan nama-nama wayang purwo yang dijajar di ruang tamu rumahnya, Jumat (5/12). Ia menunjukkan rekaman video pada waktu mendalang di sebuah acara sedekah bumi di Balai desa Cendono Dawe.

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang

Sabetannya sudah begitu lincah dan bisa membuat wayang salto langsung menancap kembali di gedebog pisang (tempat menancapkan wayang). "Sabetan salto ini sangat langka bagi dalang cilik. Biasanya hanya orang dewasa yang bisa seperti ini," kata Ahmad Fais mengomentari kemampuan anaknya yang begitu cepat mahir.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Awal mulanya ia meyukai dunia wayang sejak usia lima tahun; saat masih belajar di bangku sekolah Taman kanak-kanak (TK) At-Tarbiyah, Jurang. Waktu itu, imbuhnya, ada pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Mastur di sebelah rumah simbahnya di desa Kawakan Dawe Kudus.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Saya jadi senang dan suka wayang. Lalu saya minta ayah membelikan wayang buat mainan. setiap ada pertunjukan wayang saya ajak ayah nonton," kata Ashfa bercerita.

Pada awal 2013 ia mengkuti latihan setiap Ahad di markas Pepadi Kudus di SD Barongan bersama dalang Ki Heri Purnomo, tambah Fais yang juga Kepala MINU At-Tarbiyah, Jurang.

Ashfa sudah beberapa kali pentas satu paket dengan gurunya Ki Heri Purnomo (Getas Pejaten Kudus) di berbagai tempat di Kudus maupun di luar daerah. Ia juga sudah banyak memainkan cerita lakon wayang seperti Sesaji Raja Soya, Pandowo Mbangun Pasar, Karto Marmo-Setiyaki Rebutan Wahyu.

Bagi dalang cilik durasi waktunya hanya satu jam. Ia sudah hafal semua lakon itu tanpa baca teks. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Tokoh, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Perguruan Tinggi NU Tak Hanya Banyak, Tapi Harus Bermutu

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama saat ini sedang getol-getolnya membangun perguruan tinggi. Ditargetkan sampai akhir kepengurusan periode ini, terdapat 32 perguruan tinggi baru. Meskipun demikian, jumlah yang banyak saja tidak cukup, perguruan tinggi NU harus bermutu.

Demikian diungkapkan oleh wakil sekjen PBNU H Hanief Saha Ghafur dalam workshop dan lokakarya perguruan tinggi NU, yang diselenggarakan di gedung PBNU, Rabu (29/1).

Perguruan Tinggi NU Tak Hanya Banyak, Tapi Harus Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi NU Tak Hanya Banyak, Tapi Harus Bermutu (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi NU Tak Hanya Banyak, Tapi Harus Bermutu

Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah perguruan tinggi NU seperti Unisma Malang, Unwahas Semarang, UIM Makassar dan lainnya, serta sejumlah pengurus wilayah NU yang saat ini sedang dalam proses pembentukan perguruan tinggi baru.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk peningkatan mutu ini, PBNU akan membantu bimbingan teknis manajemen mutu dan akreditasi.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menekankan, NU perlu mendorong kemandirian dan menciptakan kelas menengah. Melalui perguruan tinggi inilah, akselerasi penciptaan kelas menengah baru ini bisa cepat dilakukan.?

Kelas menengah NU tersebut diharapkan bukan hanya mapan secara ekonomi, tetapi juga memiliki nalar rasional, tetapi juga spiritual. “Untuk mencapai tujuan tersebut, perguruan tinggi NU harus dikelola secara profesional,” tegasnya. (mukafi niam)

Ilustrasi: Gedung Unwahas Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Cerita, Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 22 Maret 2017

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Selama tiga minggu, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur meneliti pengelolaan keuangan di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT Jombang. Mereka yang berjumlah lima orang ini ingin mempraktikkan sejumlah pengetahuan yang telah diraih selama berada di kampus.

"Kami dari Fakultas Syariah Program Studi Ekonomi Syariah," kata Krisna Winata Putra, pimpinan kelompok tersebut saat dikonfirmasi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (11/2).

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Para mahasiswa sejak tanggal 9 hingga 28 Februari mendatang akan meneliti lebih dekat bagaimana LSPT mendapatkan dana sosial dari para donatur, pengadministrasian, penyaluran dana untuk kegiatan sosial, hingga pelaporan kepada khalayak.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Para peserta juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan LSPT, khususnya saat memberikan santunan kepada sejumlah kalangan," kata Krisna, sapaan akrabnya.

Seperti pada kegiatan penyaluran bantuan. Bersama salah seorang pengurus, mereka diikutkan kegiatan penyaluran paket susu formula kepada masyarakat. "Kami menyaksikan, bantuan ini tidak semata diberikan kepada kalangan muslim, juga masyarakat yang beragama lain," tandas mahasiswa kelahiran Kediri ini. Bagi para mahasiswa, apa yang dilakukan LSPT adalah cerminan rasa solidaritas membantu masyarakat kurang mampu dengan tanpa membedakan agama dan keyakinan, lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keterlibatan dengan kegiatan LSPT juga mereka rasakan saat pemberian santunan kepada para 200 fakir miskin dan kaum dluafa di Masjid Ulul Albab yang berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Selama acara berlangsung, para mahasiswa ikut dalam kegiatan shalat dhuha berjamaah, mendengarkan mauidhah hasanah, pemberian santunan dan layanan kesehatan secara gratis.

Bagi mahasiswa semester 6 ini, pengalaman mengikuti sejumlah kegiatan LSPT merupakan hal menarik dan berharga. "Hal ini juga menjadi pembanding dengan ilmu yang selama ini kami peroleh di kampus," ungkapnya.

Meskipun belum genap semingu terlibat dalam kegiatan LSPT, para mahasiswa merasa bahwa secara umum pengelolaan keuangan di lembaga sosial ini lumayan baik. "Apalagi kami dibantu dengan keterbukaan informasi yang disampaikan pengurus," katanya. Keberadaan majalah dan website juga menjadi sarana dalam menyampaikan informasi keadaan keuangan yang masuk serta digunakan sejumlah kegiatan, lanjutnya.

Waktu 3 minggu akan benar-benar dioptimalkan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran pengelolaan administrasi dan keuangan LSPT. "Kami juga akan memberikan saran serta masukan kepada lembaga ini sesuai dengan ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah," pungkas Krisna. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah