Siswa 8 tahun yang biasa dipanggil Ashfa ini, memperkenalkan nama-nama wayang purwo yang dijajar di ruang tamu rumahnya, Jumat (5/12). Ia menunjukkan rekaman video pada waktu mendalang di sebuah acara sedekah bumi di Balai desa Cendono Dawe.
| Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang (Sumber Gambar : Nu Online) |
Ashfa, Siswa Kelas 3 Madrasah NU Mahir Mendalang
Sabetannya sudah begitu lincah dan bisa membuat wayang salto langsung menancap kembali di gedebog pisang (tempat menancapkan wayang). "Sabetan salto ini sangat langka bagi dalang cilik. Biasanya hanya orang dewasa yang bisa seperti ini," kata Ahmad Fais mengomentari kemampuan anaknya yang begitu cepat mahir.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
Awal mulanya ia meyukai dunia wayang sejak usia lima tahun; saat masih belajar di bangku sekolah Taman kanak-kanak (TK) At-Tarbiyah, Jurang. Waktu itu, imbuhnya, ada pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Mastur di sebelah rumah simbahnya di desa Kawakan Dawe Kudus.Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah
"Saya jadi senang dan suka wayang. Lalu saya minta ayah membelikan wayang buat mainan. setiap ada pertunjukan wayang saya ajak ayah nonton," kata Ashfa bercerita.Pada awal 2013 ia mengkuti latihan setiap Ahad di markas Pepadi Kudus di SD Barongan bersama dalang Ki Heri Purnomo, tambah Fais yang juga Kepala MINU At-Tarbiyah, Jurang.
Ashfa sudah beberapa kali pentas satu paket dengan gurunya Ki Heri Purnomo (Getas Pejaten Kudus) di berbagai tempat di Kudus maupun di luar daerah. Ia juga sudah banyak memainkan cerita lakon wayang seperti Sesaji Raja Soya, Pandowo Mbangun Pasar, Karto Marmo-Setiyaki Rebutan Wahyu.
Bagi dalang cilik durasi waktunya hanya satu jam. Ia sudah hafal semua lakon itu tanpa baca teks. (Qomarul Adib/Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, Tokoh, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah