Senin, 05 Desember 2016

Pilih Nahkoda Baru, GP Ansor Kupang Gelar Konfercab Ke-3

Kupang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Konferensi Cabang Ke-3 GP Ansor Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlangsung di Aula Gedung Islamic Centre NTT di Jalan Ir Soeharto Kelurahan Fontein Kecamatan Kota Lama Kota Kupang, Ahad (30/8) dihadiri seluruh PAC se-kecamatan Kota Kupang.

Pimpinan Cabang NU Kota Kupang, Ir H Syahrul Nurawi dalam sambutan pembukaan Konfercab ini menegaskan, nanti ketua terpilih periode 2015-2020 harus memiliki jiwa yang benar-benar rela berkorban terhadap organisasi. Jangan hanya besar nama sebagai ketua Cabang tetapi tidak mau berkorban terhadap organisasi.?

Pilih Nahkoda Baru, GP Ansor Kupang Gelar Konfercab Ke-3 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilih Nahkoda Baru, GP Ansor Kupang Gelar Konfercab Ke-3 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilih Nahkoda Baru, GP Ansor Kupang Gelar Konfercab Ke-3

Dikatakan Nurawi, selain mampu menjalankan organisasi, Ketua juga harus rela jiwa dan raga ? demi organisasi dan mengoptimalkan seluruh kekuatan untuk membangun GP Ansor Kota Kupang ke depan yang lebih baik.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Wakil Ketua PW GP Ansor NTT Taufik Arman Pua Upa, dalam sambutan memawakili Ketua PW Ansor NTT mengharapkan pelaksanaan konfercab PC Ansor kota Kupang sesuai dengan PO Organisasi.?

Sesuai kesepakatan rapat pengurus harian wilayah PW GP Ansor NTT telah menatapkan Konfercab melalui Karateker dibagi tiga Zona I meliputi PC ? Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kab TTS, Kab TTU dan Kabupaten Belu Wilayah Perbatasan dengan Negara Tetangga Timor Leste. Zona II Flores se-Daratan Flores dan Zona III Pulau Sumba, Rote Sabu dan Alor.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Taufik berharap, ketua Terpilih benar-benar latar belakang keluarga NU mulai dari nenek Moyang, Orang dan dia hari ini benar memahami aswaja agar ke depan di tubuh Ansor tidak ada paham-paham lain.

Karateker Kota Kupang, Abdul Syukur menjelaskan Konfercab Ansor Kota Kupang dihadiri PAC Kec Kelapa Lima, PAC Kec Kota Lama, PAC Kec Oebobo, PAC Kecamatan Alak, PAC Kecamatan Maulafa dan PAC Kecamatan Kota Raja. Semua PAC hadir sesuai undangan Konfercab. (Ajhar Jowe/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Sholawat, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 04 Desember 2016

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Bangunannya terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, jalur lalu lintas Padang Bukittinggi. Persisnya di Korong Batang Tapakih, Nagari Sintuak Tobohgadang Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat. Sekolah ini terkenal dengan nama Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lubuk Alung, kecamatan tetangga dari Sintuak Tobohgadang. Sebelumnya, Kecamatan Sintuak Tobohgadang merupakan bagian dari Kecamatan Lubuk Alung. Di bagian atap sekolah ini pun tertulis huruf besar MAN LUBUK ALUNG.

Seperti sekolah MAN lainnya, sekolah ini juga menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan pramuka yang wajib diikuti siswa kelas X yang dibina oleh Ade Erwin, S.Pd. Setiap Selasa Hafiz Al-Quran melalui pondok Hafiz yang diasuh guru Abdul Malik S.Pd.I, Qirat dibimbing Drs. Bukari Masnur, dan tajwid setiap hari.

"Beberapa kegiatan lomba yang diikuti, sempat meraih juara. Seperti juara I Pramuka Lomba PBB antara SMA/SMK/MA yang diikuti 34 sekolah di Padangpariaman tahun 2014. Juara I Lomba Fisika se-Kabupaten Padangpariaman yang diselenggarkaan STIKIP YDB Lubuk Alung tahun 2015. Juara II Lomba Biologi yang diselenggarakan STIKIP PGRI tahun 2015 di Padang. Tahun 2015 ini, sebanyak 6 orang siswa MAN Lubuk Alung lolos jadi pasukan Paskibraka di Kabupaten Padangpariaman. Sedangkan di tingkat Propinsi Sumatera Barat, lolos satu siswa, yakni Abdi Wijasaksana kelas XI," tutur Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Ali Nurdin, S.Ag, MM kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di ruang kerjanya, Senin (21/9/2015).

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Padangpariaman ini Bangun Rumah Siswa yang Tak Layak Huni

Kepala Sekolah MAN Lubuk Alung Drs. H.Akhri Meinhardi, MM ternyata tidak hanya menumbuhkan prestasi siswa secara akademik dan bidang perlombaan. Justru yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kepedulian antar siswa yang mengalami kesulitan ekonomi di tengah keluarganya, namun memiliki semangat? belajar. Contoh konkrit, ada dua siswa yang mengalami kesulitan datang dan pulang dari sekolahnya. Seperti yang dialami Raki Paraski siswa kelas XI, dimana pergi ke sekolah jalan kaki sepanjang kurang lebih 5 kilometer. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami Ilma Rita siswi kelas X. Keduanya, masing-masing diberikan bantuan sepeda federal untuk Raki Paraski dan sepeda mini sanki untuk siswi Ilma Rita. Dengan sepeda tersebut, keduanya tidak perlu jalan kaki.

Suatu hari, seorang siswa MAN yang bertempat tinggal di Nagari Pungguangkasiak meninggal dunia. Tentu saja pimpinan, guru dan teman-teman siswa yang meninggal datang melayat. Seluruh proses penyelenggaraan jenazah siswa itu dilaksanakan oleh siswa MAN. Mulai dari memandikan, mengapani, menshalatkan hingga ke pemakaman. Di sela-sela proses penyelenggaraan jenazah tersebut, Kepsek MAN Akhri menugaskan Ketua OSIS MAN Lubuk Alung Agung Irawan mendatangi rumah Muhammad Iqbal Abdilah. Rumahnya memang tidak jauh dari lokasi pemakaman. Selama ini Akhri mendapatkan informasi kondisi memprihatinkan keluarga Iqbal, siswa MAN kelas XI-PK.

Agung pun mengajak sekretarisnya Septia Intan Nurjanah mendatangi rumah Iqbal. Sampai di depan rumah Iqbal, keduanya sangat kaget dan penuh haru menyaksikan kondisi rumah teman sesama sekolahnya. Rumah itu tidak bisa dikatakan rumah, tapi layaknya kandang ternak peliharaan. Luasnya sekitar 4 x 6 meter persegi. Beratap rumbia, dindingnya terbuat dari bambu, tidak memiliki kamar, berlantaikan tanah. Saat hujan, mereka pun terpaksa bergantian tidur karena air masuk ke dalam. Rumah itu dihuni tujuh orang. Ayah, ibu dan lima anak. Masing-masing M.Iqbal, Hisam Ababil (siswa MTsN Sintuak), Fauziah Fisabillah Azmi (Siswa MTs Muhammadiyah Lubuk Alung), Ibrahim Arsyad (kelas 3 SD) dan Arsil Arsy (kelas 1 SD). Sedangkan dua kakak Iqbal, Risma Nizar Zamiati sudah berkeluarga dan M. Fahrizal Syamsuri merantau di Bogor.

"Saya sempat meneteskan air mata saat mengetahui kondisinya. Saya dari keluarga yang miskin, ayah pengangguran, ibu petani, ternyata masih ada lagi teman yang hidupnya jauh lebih melarat dibanding saya," tutur Intan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah? Senin (21/9/2015) di sekolahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pulang dari pemakaman, besoknya Kepsek Akhri mengumpulkan majelis guru dan karyawan MAN membicarakan apa yang harus dilakukan dengan kondisi rumah siswanya, Iqbal. Hasil rapat sepakat membedah rumah yang sangat tak layak huni itu.

Kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Iqbal bercerita ayahnya Zamzami bekerja sebagai pedagang barang mudo (buah-buah) yang dikumpulkan dari petani sekitar kampung. Sedangkan ibunya Siti Rusminah menerima upah cucian pakaian.

Meski hidup dengan prihatin, Iqbal bisa hafal 1 juz ayat-ayat Al-Quran. Dari kemampuan hafalan itu, sejak setahun lalu mengajar mengaji di sekitar tempat tinggalnya. Saat kelas III di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sintuak, Iqbal meraih juara III. Namun kondisi rumah yang tidak nyaman, prestasi belajarnya anjlok di MAN. Bahkan tinggal di kelas 1. "Bayangkan, saat mau sekolah, saya harus melangkahi ayah yang tengah tidur. Seringkali ayah marah-marah dilangkahi. Bagaimana tidak melangkahi, semua peralatan sekolah, pakaian dan tidur hanya menempati satu ruangan," kenang Iqbal kelahiran Bogor, 31 Mei 1996.

Sejak itulah Iqbal mengaku selalu berdoa, "Ya Allah, keluarkan keluargaku dari kondisi yang memprihatinkan ini. Berilah tempat yang layak untuk keluargaku ini ya Allah," begitulah rintihan doanya pada Sang Khalik. Walaupun ada satu dua orang yang datang ke rumahnya ingin membantu, diambil fotonya, katanya bisa membantu mencari bantuan ke pusat (Jakarta) kepada orang penting. Tapi hasilnya tak pernah jadi kenyataan. Hanya mimpi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Doa Iqbal yang bercita-cita jadi dosen ini akhir mulai melihat titik terang. Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman MM langsung melakukan? peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal pada 3 September 2015 lalu. Bangunan berpondasi batu beton berukuran 6 x 10 meter, tiga kamar, wc dan dapur. Spontan pula Salman memberikan bantuan tunai Rp 2 juta kepada ibu Iqbal. "Hingga kini sudah terkumpul uang sebesar Rp 38 juta yang berasal dari keluarga besar MAN Rp 25 juta, alumni MAN Rp 3 juta, Baznas Kabupaten Padangpariaman Rp 10 juta. Dana yang dibutuhkan hingga selesai bisa dihuni mencapai Rp 100 juta. Untuk itu kami mengajak donatur bisa menyalurkan bantuannya melalui rekening bank Mandiri Lubuk Alung nomor 111-000-754091-3 a.n. Ali Nurdin/Nelhasrati dengan nomor kontak 081267261575," kata Ali Nurdin.

Menurut Ali Nurdin, sumbangan dari MAN berasal dari guru melalui badoncek (menyumbang) dari Rp 300.000 hingga 1 juta. Sedangkan siswa per kelas dengan membelikan bahan bangunan yang dibutuhkan. Misal ada kelas yang menyumbang pasir, semen, triplek, seng dan batu air. Sesuai dengan kesepakatan kelas. Pada peletakan batu pertama, siswa MAN bergotongroyong bersama. Saat pengerasan lantai, nanti juga akan digoro dengan siswa. Penanggungjawab pembangunan rumah tersebut langsung kepala sekolah bersama Ketua Komite Tuanku Syamsuar S.Pd.I.

Ali Nurdin mengakui, Iqbal sering kelihatan termenung dan mengalami kesulitan konsentrasi saat belajar, seperti mengalami depresi. Sehingga seringkali pula bila kondisinya tidak mengizinkan belajar, dibiarkan pulang. Boleh jadi apa yang belum pantas dilihatnya di tengah rumah malam hari menjadi pemikiran berat sehingga mengganggu konsentrasi belajar.

Ketua OSIS Agung Irawan pulang dari menyaksikan rumah Iqbal langsung mengadakan rapat pengurus OSIS. Pemikiran untuk turut membantu beban Iqbal dapat dukungan semua pengurus. Makanya seluruh pengurus OSIS bekerja saat peletakan batu pertama. Setidaknya 90 persen siswa MAN Lubuk Alung sudah mengunjungi rumah Iqbal sebagai bentuk solidaritas.

Berbeda dengan Sekretaris OSIS Intan, saat peletakan batu pertama dalam dirinya terucap ternyata keluarga itu tidak hanya keluarga kandung, di rumah. Masih ada keluarga lagi, yakni rasa keluarga yang ditumbuhkan sekolah. Hari itu, keluarga kami yang tidak punya rumah yang layak, dibuatkan rumah oleh keluarganya bersama-sama. "Inilah bentuk syukur saya sekolah di madrasah ini. Belum tentu di sekolah lain akan saya temui bagaimana menumbuhkan rasa "keluarga" sesama siswa ini. Terutama jika sekolah SMA. Di madrasah ini nilai-nilai Islam yang memiliki rasa sosial, bersyukur dan selalu berbuat kebaikan sesama selalu ditumbuhkan. Antar guru pun terlihat ada kepedulian sehingga kami juga termotivasi," tambah Intan alumni SMPN 2 X 11 Enam Lingkung ini. (Armaidi Tanjung)

Foto: Foto bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat Drs. Salman, MM usai peletakan batu pertama pembangunan rumah Iqbal, 3 September 2015

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hikmah, IMNU, Anti Hoax Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Belajar Adil kepada Gus Dur

Oleh ? Muhammad Faishol



Gus Dur adalah salah satu tokoh pencetus perubahan di Indonesia. Selain dikenal sebagai mantan Presiden ke-4 RI, suami Sinta Nuriya Dewi ini juga sering disebut sebagai bapak pluralisme. Konsistensinya berjuang demi kemanusiaan seringkali membuat banyak orang ‘geleng-geleng’ kepala. Pasalnya, banyak sekali sepak terjangnya di anggap sebagai sesuatu yang kontroversial.?

Namun, tahukan Anda jika dibalik sikap tersebut Gus Dur ? memiliki prinsip yang dipegang betul olehnya, Ya, prinsip tersebut adalah Jangan sampai ketidaksukaanmu terhadap seseorang membuat dirimu berlaku tidak adil terhadapnya. Tentu, ‘adil’ ini sangat mudah untuk di ucapkan, digembor-gemborkan, bahkan sebagai salah satu tema dakwah sebagaimana sekarang banyak ‘dai-dai online’ mensyiarkan adil di berbagai media sosial. Seperti, instagram, facebook, twitter dan masih banyak lainnya. Dengan dibumbui kata-kata sastra yang manis lengkap dengan ‘micin’ penggurih sehingga kata adil ‘laku’ keras sebagai salah satu ‘jualannya’. Namun pertanyaannya, mampu kah kita konsisten terhadap apa yang sering kita ucapkan? Atau kata adil hanya sekedar abang-abang lambe?

Belajar Adil kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Adil kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Adil kepada Gus Dur

Gus Dur benar-benar memberikan keteladanan ‘adil’ pada kita dengan perbuatan. Seperti kasus PKI misalnya. Semua orang tahu bahwa menjadi korban tentu menjadi sesuatu yang pahit, warga Nahdlatul Ulama yang saat itu menjadi korban atau bahkan menurut perspektif lain bisa jadi pelaku. Tetapi terlepas perdebatan NU jadi pelaku atau korban, harus diakui memang NU juga pernah ‘membalas’ semua perlakuan tidak berkemanusiaan tersebut.?

Tetapi terhadap sesuatu yang dianggap ‘musuh’ apakah kita masih bisa berbuat adil. Dalam acara Secangkir Kopi Bersama Gus Dur yang disiarkan langsung oleh TVRI, Selasa 15 Maret 2000 silam, Gus Dur secara terbuka meminta maaf dan mengusulkan pencabutan TAP MPRS XXV/1966. Ditemani Franz Magnis Suseno, Noorca, dan Effendy Choirie, Gus Dur menjelaskan latar belakang kenapa Peristiwa 65 perlu dibuka.

Menurut Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Aan Anshori saat menjadi pemateri di forum gubuktulis bertajuk Peristiwa 65, Belajar dari Gus Dur, pihaknya mengungkapkan setelah secara terbuka Gus Dur meminta maaf dan usulannya untuk mencabut TAP MPRS XXV/1966 di TVRI, atmosfir politik memanas. Penolakan datang dari berbagai elemen masyarakat. MUI bereaksi keras mengecam. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, tidak sepakat dengan ide Gus Dur. Kecaman juga datang dari hampir seluruh kekuatan politik di Senayan. Pramoedya, kawannya yang juga Korban 65 pun tak kalah sinis atas pemaafan itu. Dia mengritik pedas Gus Dur.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun, apa yang dilakukan Gus Dur? Seperti biasa, Gus Dur malah ‘cuek bebek’. Bahkan, cucu dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari ini malah menepati janjinya, mengunjungi rumah Pram di kawasan Utan Kayu. Gus Dur yang ditemani Inayah putri bungsunya, ditemui Pram dan Maemunah, istrinya. Sikap ksatria dari pesantren, tidak antikritik, membalas orang yang mencibirnya dengan silaturrahim. Ingat loh ya, tahun 2000 itu Gus Dur masih jadi presiden. Jadi pada saat itu, seorang presiden datang ke rumah masyarakat yang sudah mencibirnya habis-habisan. Tentu tidak ada ‘deal-deal’ tertentu, sebagaimana seseorang bertandang ke rumahnya pemimpin partai politik.

Itu lah kenapa penulis bahkan banyak orang meyakini bahwa Gus Dur tidak pernah mengurangi sikap konsistennya dalam keadaan apapun, dia tidak hanya pandai dalam beretorika, tetapi mampu menyelaraskan antara laku dan pikiran. Motivasi Gus Dur sangat jelas; keadilan dan kemanusiaan. Hal ini tentu sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap nasib korban, yang sampai sekarang masih mengalami tekanan-tekanan dan kehilangan segala-galanya. Selain juga ada tujuan lain misalnya, mendinginkan suasana, yang implikasinya agar anak-anak muda NU dan PKI di masa-masa selanjutnya, merasa tidak punya dendam sehingga tidak ada lagi konflik yang berkepanjangan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Cerita lain adalah, karena sikap kritisnya dan sering berlawanan kepada rezim Orde Baru, tidak bisa dipungkiri Gus Dur adalah salah satu ‘target’ Soeharto pada saat itu.

Muktamar ke-29 NU yang digelar pada 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat bisa dibilang muktamar paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah NU. Mengapa? Pada saat itu, NU dan sosok Gus Dur dengan segala keberaniannya ‘melawan’ pemerintah, dipandang oleh Soeharto sebagai ancaman yang paling membahayakan. Tak pelak, hal ini membuat Soeharto dengan kekuasaannya, ingin memutus kewenangan Gus Dur di PBNU yang sejak tahun 1984 dipimpinnya. Salah satu cara yang ditempuh Soeharto adalah menumbangkan Gus Dur di Muktamar Cipasung. Presiden Soeharto melakukan berbagai intervensi dengan mendukung secara penuh salah satu calon Ketua Umum PBNU untuk melawan Gus Dur sebagai incumbent. Apa skenario yang dijalankan pada saat itu?

Ya, Soeharto memunculkan penantang dari internal NU sendiri yang pastinya anti-Gus Dur yakni Abu Hasan. Bahkan sang paman Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, juga ikut terbawa menentang keponakannya itu. Oposisi Gus Dur inilah yang melakukan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asal Jangan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur ‘berseberangan’ dengan pemerintah dianggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri. Itulah berbagai isu yang mereka buat untuk mengambil hati muktamirin.

Gelaran muktamar itu juga terkungkung penjagaan militer, terlebih Presiden Soeharto sendiri, Panglima TNI Jenderal Faisal Tandjung, serta para menteri rezim Orde Baru turut hadir di forum tersebut. Tidak hanya personel militer dan sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung. Meskipun intervensi begitu kuat, namun Gus Dur akhirnya tetap memenangkan ‘pertarungan’. Beberapa tahun setelahnya ternyata apa yang dilakukan Gus Dur? Dia tiap lebaran Idul Fitri selalu berkunjung ke rumah Soeharto. Dengan segala kebijaksanaan dan kerendahan hatinya, Gus Dur selalu menemui dulu orang yang sudah berusaha ‘membunuhnya’ itu. Lebih-lebih tatkala tampil di salah satu acara televisi nasional, Gus Dur ditanya presenter, kenapa kok Gus Dur masih saja mau berkunjung kepada orang yang sudah berniat tidak baik kepada Anda? “Lah wong itu bukan keinginan Pak Soeharto sendiri kok, hanya urusan politik, sudah itu saja,” jawab Gus Dur sambil tertawa.

Terakhir, contoh yang bisa saya berikan, seperti yang kita ketahui, Gus Dur sering berseberangan sikap dengan Ketua FPI ‘Kang’ Rizieq Syihab. Tetapi tatkala Mas Rizieq ini ditangkap oleh polisi karena beberapa kasus beberapa tahun silam, Gus Dur malah dengan meyakinkan bahwa tindakan Habib Rizieq memprotes polisi atas penangkapannya secara tidak langsung menunjukan ketundukannya ? pada UUD 1945. Dengan demikian, ia menjaga dirinya dari tindakan apapun yang tidak sesuai dengan hukum. Boleh jadi Habib melanggar hukum, tetapi justru hukum itulah yang melindunginya dari tindakan apapun oleh negara atas dirinya, begitulah kira-kira pembelaan Gus Dur terhadap Rizieq Syihab. Meskipun sering berseberangan pendapat, tetapi Gus Dur tidak segan untuk membelanya jika sesuai dengan hukum, demi prinsip keadilan dan kemanusiaan yang dia anut.

Gus Dur selalu menghormati siapapun dengan tulus, walaupun berbeda pandangan. Sekalipun itu kiai kampung, Gus Dur tetap tawadhu. Guru Bangsa itu juga rela dicaci-maki, yang penting umat dan bangsa selamat.

Menurut seorang ulama tasawuf KH Lukman Hakim, Gus Dur memandang bangsa ini sebagai keluarga besar. Apa artinya membangun keluarga bangsa jika saling melukai dan berdarah?

Gus Dur mampu memilah dengan mudah mana yang besar dan mana yang kecil, mana yang umum mana yang khusus, mana yang Allah dan mana yang makhluk.

Penulis adalah pecinta Gus Dur dari Gasek Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits, Internasional, Tegal Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 01 Desember 2016

Ramadhan dan Tantangan Globalisasi

Oleh Zulfikar Damam Ikhwanto

Bertemu dengan Ramadhan adalah kebahagiaan yang agung. Betapa kemuliaan dan keberkahan di bulan suci ini demikian melimpah ruah. Tidaklah mengherankan bila umat Islam di seluruh penjuru dunia bergegas dan beramai-ramai menyambut penuh suka cita dan mengisinya dengan amaliyah ramadhan yang tidak biasa dilakukan pada bulan yang lain. Semarak kajian keislaman, kajian dan tadarus Al-Qur’an, i’tikaf, sholat tarawih berjamaah, safari ramadhan atau taraweh keliling, sahur atau buka puasa bersama, santunan fakir miskin dan yatim piatu, pengelolaan zakat fitrah dan amaliyah kebajikan lainnya. Inilah semangat yang terjadi saat ramadhan yang diberkahi tiba.?

Keistimewaan, kemuliaan dan keberkahannya tidak terhitung jumlahnya dan tidak diketahui oleh manusia secara pasti, namun mampu menjadi inspirasi untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan tidak mensia-siakan kesempatan di bulan suci ramadhan ini, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Ghifari: “Kalau hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadhan”. (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).?

Ramadhan dan Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan dan Tantangan Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan dan Tantangan Globalisasi

Semangat ini sesungguhnya bukanlah tanpa tantangan yang dihadapi oleh umat Islam masa kini. Ternyata beribadah di era kekinian memang tidak bisa dilepaskan dengan pengaruh fenomena globalisasi yang dapat diilustrasikan bagai sebuah lokomotif tentang perubahan tata dunia dimana akan menarik gerbong-gerbongnya yang berisi budaya, pemikiran maupun materi. Globalisasi dimaknai sebagai adanya arus orang-orang, barang-barang dan jasa, informasi dan gagasan yang melewati batas-batas negara, bangsa, dan kebudayaan lokal, nasional, atau regional.?

Terdapat beberapa dampak negatif globalisasi yang digulirkan oleh dunia Barat dan sangat rawan mempengaruhi kehidupan seorang muslim, dan sekaligus menjadi tantangan dalam menjalankan ibadah di era globalisasi ini, yaitu: Pertama, adalah kecenderungan maddiyyah (materialisme) yang selalu kuat pada zaman sekarang ini. Kedua, adanya proses atomisasi, individualistis. Kehidupan kolektif, kebersamaan, gotong royong, telah diganti dengan semangat individualisme yang kuat. Ketiga, sekulerisme yang senantiasa memisahkan kehidupan agama dengan urusan masyarakat, karena agama dinilai hanya persoalan privat antar individu semata. Dan keempat, munculnya relativitas norma-norma etika, moral, dan akhlak. Sehingga dalam suatu konteks masyarakat yang dianggap tabu bisa saja dalam konteks masyarakat yang lain dianggap boleh.?

Dengan tantangan-tantangan itersebut memang dibutuhkan pemecahan yang efektif agar kehidupan keberagamaan seorang muslim dapat benar-benar baik dan optimal, terutama pada upaya peribadatannya. Ibadah Puasa Ramadhan jika direnungkan lebih dalam, tidak hanya memiliki esensi ketuhanan saja, akan tetapi juga esensi kemanusiaan. Implementasi dua esensi ini untuk menyeimbangkan kehidupan manusia yang memiliki 2 (dua) dimensi hubungan, yakni pertama dimensi hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablun minallah), kedua dimensi hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (hablun minannas).?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Berpuasa dapat menuntun seorang muslim menemukan kebaikan-kebaikan baik secara pribadi maupun sosial. Menurut M. Quraish Shihab dalam puasa setidaknya ada tiga hal yang terkandung sebagai hakikat puasa, yaitu upaya mengendalikan diri dari nafsu yang membelenggu atau sabar, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan siksa, sehingga memperoleh derajat muttaqin, dan berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifat-Nya. Puasa sebagai upaya memperoleh kesabaran karena pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri dari keinginan-keinginan syahwat yang dapat mengganggu ketentraman jiwanya.?

Mengendalikan mata dari melihat hal-hal yang terlarang, menahan telinga dari sesuatu yang merusak (terlarang), menahan lidah dari mengucapkan hal-hal keji yang dilarang oleh Allah, menahan perut memelihara kehormatannya, memelihara tangan dari pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan dosa, memelihara kaki untuk tidak melangkah ke tempat-tempat yang dimurkai oleh Allah. Mengendalikan inilah yang disamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa. Tidak dapat disangkal bahwa puasa merupakan suatu kewajiban yang memerlukan kesabaran. Bagi mereka yang berpuasa akan diberikan imbalan karena kemurahan Allah SWT, akan selalu dekat dengan-Nya dan terkabullah apa yang menjadi permohonan dan harapan.?

Sebagai pribadi, ada 3 (tiga) unsur yang melengkapi hidup dan kehidupan manusia, yakni otak (akal), hati dan jasmani. Otak mampu membuat konsep atau keinginan untuk mencapai sesuatu, sekalipun sesuatu itu baru sama sekali, misalnya alat elektronik canggih, komputer, internet, telepon selular dan produk kreativitas otak manusia lainnya. Hati bertugas menyaring apa yang patut dan tidak patut dikerjakan, hati yang baik akan memberikan arah apa seyogyanya diciptakan oleh otak, sebaliknya hati yang buruk akan membimbing otak untuk menciptakan semaunya, baik atau buruk, menyelamatkan atau membinasakan, tidak menjadi soal yang penting keinginan tercapai. Sedangkan jasmani berperan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh otak dan hati. Tanpa jasmani yang berdaya, gagasan atau konsep yang ideal tentu tidak akan mampu direalisasikan. Dengan berpuasa, maka ketiga unsur tersebut akan mendapatkan bimbingan dan pembentukan menuju pribadi yang baik.?

Hati dibersihkan melalui peningkatan kauntitas dan kualitas ibadah, seperti sholat, tadarus dan mengkaji Al-Qur’an, i’tikaf, mengikuti kajian keislaman, sholat tarawih, menahan diri dari perbuatan tercela, seperti bohong, ghibah atau membicarakan kejelekan orang lain dan pemarah, sebaliknya akan senantiasa berlatih dan belajar untuk bersabar, menahan diri dari keinginan syahwat yang mengganggu ketentraman jiwa. Ketika kebersihan hati sudah diraih, maka akan berpengaruh pada kejernihan dalam berpikir. Gaya berpikirnya selalu berpola demi kemaslahatan atau kepentingan banyak orang, bernilai manfaat dan norma etika, moral, akhlak pun tidak ditinggalkan. Tindakan dan jasmaninya pun mendapatkan perlakuan yang selayaknya, bekerja dengan penuh semangat, sanggup mencegah dari perbuatan maksiat, seperti korupsi, tidak jujur, kolusi atau bertindak di luar prosedur. Selalu menghadirkan eksistensi dan sifat-sifat Tuhan dalam berpikir dan bertindak, dilihat atau tanpa dilihat oleh orang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sehingga, pengaruh negatif dari luar, seperti pornografi-pornoaksi, taktik-strategi kejahatan, komsumerisme, hedonisme, liberalisme, sekulerisme dan sebagainya, yang dengan leluasa masuk pada rumah tangga, dan mempengaruhi sendi kehidupan masing-masing keluarga. Kemudian, kehidupan manusia yang semakin didorong semangat individualisme, sangat menonjolkan hak individunya, kehidupan keberagamaan hanya diambil ritualnya saja, dan agama hanya dipahami hanya untuk aspek kepentingan individual belaka. Ancaman-ancaman tersebut, dengan momentum ramadhan ini, yakni berpuasa dengan segala peningkatan ibadah di dalamnya, akan mampu menjadi madrasah membangun benteng pertahanan, membendung dan menjadi perisai bagi derasnya arus globalisasi yang dapat mengancam kehidupan bagi keluarga, masyarakat dan kemudian negara, apabila seorang muslim lengah, tidak waspada, dan kurang siap untuk menghadapinya.?

Belum lagi dengan persoalan secara langsung maupun tidak langsung, menurut Azyumardi Azra, globalisasi memberikan stigmatisasi dalam budaya Islam, sehingga menimbulkan stereotipe dalam Islam dan kini dikenal adanya Islam Modern dan Islam Tradisional lalu Islam Moderat dan Islam Fundamental. Konsekuensinya adalah timbulah perpecahan dalam tubuh umat Islam dalam menghadapi era globalisasi ini, hingga memunculkan dua kutub yaitu, pro-globalisasi dan anti-globalisasi. Namun demikian, umat Islam seharusnya tidak terpecah karena globalisasi merupakan proses yang pasti harus dihadapi oleh umat Islam. Tentu harus terus selalu diwaspadai dengan harapan ramadhan mampu memberikan formula penyadaran kepada umat Islam tentang arti penting ukhuwah (persaudaraan), baik sesama muslim, sesama manusia sebangsa dan setanah air. Ramadhan semestinya menjadi wahana penyemai kasih sayang, kepedulian dan kerukunan.?

Ibadah puasa Ramadhan dapat menjadi institusi pendidikan dan pelatihan mengenai kepekaan dan kepedulian umat Islam terhadap sesama. Selama sebulan penuh umat Islam dianjurkan untuk lebih banyak perenungan dan menahan diri, yaitu mengendalikan segala macam bentuk godaan nafsu syahwat dan duniawi. Rasa lapar dan haus yang kita alami sejak terbit fajar hingga terbenam matahari setidaknya menggugah hati dan jiwa, betapa banyak saudara kita yang kurang beruntung telah terlebih dahulu merasakan lapar dan haus.?

Ketika rasa lapar dan haus mendera, orang kaya maupun orang-orang miskin pun merasakan keadaan yang sama. Dengan kata lain, puasa mengajarkan sikap toleran dan empati sebagai bagian dari totalitas ketakwaan terhadap Allah SWT. Kehidupan sosial akan mampu mencapai kesempurnaannya apabila setiap manusia dalam kehidupan sosialnya mampu menumbuhkan sikap sensitif terhadap rasa sakit dan derita yang dialami sesamanya. Puasa sesungguhnya juga merupakan upaya sadar untuk mengimplementasikan sikap kasih sayang terhadap sesamanya melalui proses penumbuhan dan penyuburan nurani kemanusiaan. Proses semacam ini akan mampu menciptakan nilai-nilai kesalehan sosial dalam ranah kehidupan sejati meski berada di tengah situasi peradaban yang tengah tertekan oleh hantaman keras globalisasi.?

Dengan demikian, momentum ibadah puasa ramadhan, sesungguhnya sekaligus mengingatkan kepada umat Islam tentang pentingnya menghayati puasa sebagai instrumen mewujudkan solidaritas dan kepedulian sosial. Sejumlah ayat Al-Qur’an mengecam betapa bahayanya sikap ketidakpedulian sosial. Sebaliknya, menyanjung betapa indahnya sikap kesalehan sosial dan kepedulian sosial. Seperti dalam surat al-Ma’un, al-Humazah, al-Takasur, dan al-Balad. sengaja diturunkan untuk mengapresiasi sikap kepedulian sosial.?

Pada prinsipnya, mengecam manusia yang kikir dan enggan membantu sesamanya, serta mengutuk manusia yang asyik menumpuk harta, berlomba dalam kemewahan dan kekayaan sebagaimana kharakter masyarakat karena dampak negatif globalisasi. Semoga ramadhan kali ini benar-benar dapat kita manfaatkan untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualiatas ibadah, senantiasa mampu membangun kesalehan pribadi dan sosial, menjauhkan diri dari pengaruh buruk globalisasi seperti sekularsime, hedonisme, materialisme, dan individualisme serta mampu mengasah kasih sayang, empati, sikap toleran, menjaga kerukunan, sabar dan peduli terhadap sesama. Amiin.***

Penulis adalah Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Anti Hoax, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 30 November 2016

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Universitas Islam Negeri Surabaya (PKPT IPNU-IPPNU UINSA) turut serta menjaga NKRI dari paham radikal dan anti Pancasila, dengan mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Villa Pondok Jowo Gondang, Padusan, Pacet, Mojokerto, Jumat-Ahad, 27-29 Oktober 2017.

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial

“Makesta merupakan tahap awal pengkaderan IPNU IPPNU dalam meneruskan perjuangan para ulama dalam mensyiarkan faham Ahlusunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dan turut serta membentengi  faham radikal yang mulai memasuki dunia pelajar dan kampu,” terang Kartika Nur Umami, Ketua PKPT IPPNU UINSA.

Makesta diikuti seluruh fakultas yang ada di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya diantaranya Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syariah. Pengkaderan Makesta diikuti oleh 207 peserta yang didominasi oleh peserta perempuan. 

Mengawal kader NU dalam lingkungan kampus menjadi suatu tantangan tersendiri bagi PKPT IPNU IPPNU UINSA karena mengingat pemikiran-pemikiran para mahasiswa baru yang kadang masih menjadi  beradaptasi sesuai perasaan dan logikanya. Sehingga PKPT IPNU IPPNU UINSA  juga mengupayakan pemberdayaan kader di dalam kampus.

Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini saya bisa menambah wawasan tentang kebangsaan dan ke-NU-an, yang jarang sekali kami dapat dibangku sekolah maupun kuliah,” kata salah satu peserta, Muhammad Fajar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Fajar menambahkan setelah kegiatan dirinya akan berusaha sebaik-baik mungkin untuk mengabdi dan menjadikan IPNU-IPPNU UINSA lebih baik. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sulistia Prabawati, alumni Ketua PKPT IPPNU UINSA tahun priode 2014-2015 dan Ketua PC IPPNU Kota Surabaya tahun 2017-2019 sangat mengapresiasi kegiatan Pengkaderan Makesta tersebut.

“Mengikuti makesta merupakan gerbang awal untuk ikut menjadi bagian dari IPNU-IPPNU dan pemberdayaan kader pun sangat dibutuhkan bagi para kader agar kader tersebut tetap selalu berdaya di IPNU-IPPNU maupun NU pada khususnya,” katanya. (Sumriyah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Syariah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 27 November 2016

19 Januari Puncak Haul Habib Pengarang "Maulid Simtuddurar" di Solo

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Bulan Rabiul Awwal telah berlalu, berganti Rabiul Akhir. Ini artinya, tak lama lagi bakal diselenggarakan? acara peringatan Haul penulis kitab Maulid Simtuddurar, Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi di Masjid Riyadh Solo, Jawa Tengah.

Kegiatan tahunan ini menjadi salah satu peringatan haul di Indonesia yang dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai negara.

Menurut salah satu keturunan Habib Ali, Habib Muhammad bin Husein bin Anis, rangkaian acara haul Habib Ali ke-105 di Masjid Riyadh akan digelar selama 3 hari, Rabu-Jumat (18-20/1).

19 Januari Puncak Haul Habib Pengarang Maulid Simtuddurar di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
19 Januari Puncak Haul Habib Pengarang Maulid Simtuddurar di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

19 Januari Puncak Haul Habib Pengarang "Maulid Simtuddurar" di Solo

“Rangkaian peringatan haul akan dilaksanakan mulai Rabu (18/1) bakda ashar, dengan kegiatan Rauhah pengajian bersama habaib. Kemudian bakda isya acara ramah-tamah,” terangnya, saat dihubungi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, belum lama ini.

Sedangkan puncak pelaksanaan haul pada tanggal 19 Januari, pukul 09.00 dan keesokan harinya, bakda subuh pembacaan kitab Maulid Simtuddurar.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, menurut KH Ahmad Baidlowi, sejumlah kegiatan lainnya juga akan diadakan untuk memeriahkan acara haul ini.

“Selama 3 malam berturut-turut, akan ada penampilan hijir marawis dan tarian zafin,” ungkap kiai yang pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, PonPes, Cerita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau warga NU, dan umat Islam secara umum, untuk bertakziah ke rumah duka Rais Syuriyah PBNU KH Masduqi Mahfudz yang wafat Sabtu (1/3) petang di Malang, Jawa Timur.

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Bagi yang tidak memungkinkan takziah secara langsung diminta menunaikan shalat ghaib. “Ini bentuk penghormatan terakhir kepada guru kita, Kiai Masduqi. Insya Allah seluruh amal perbuatannya diterima,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta.

Kang Said, demikian ia akrab disapa, mengaku sangat kehilangan kiai yang meninggal dunia di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur itu. “Belum lama kita ditinggal Kiai Sahal Mahfudh (Rais Aam PBNU), seorang kiai kharismatik lainnya sekarang meninggalkan kita. Innalilahi wainna Ilaihi Rojiun," tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengikuti Kebutuhan Zaman

Di mata Kang Said, Kiai Masduqi adalah guru dan teladan yang sangat alim. Kiai yang lahir di Pati, Jawa Tengah, tersebut dinilai sebagai sosok yang sangat dalam menguasai ilmu fiqih di kitab-kitab klasik, namun mampu mengaktualisasikanya sesuai dengan kebutuhan zaman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Saat kita belum banyak mengenal komputer, tahun 1996 dalam Munas NU di Lombok, Kiai Masduqi sudah bisa mengoperasikan laptop,” kenang Kiai Said.

Kiai Masduqi yang tercatat sebagai murid dari Kiai Kholil, Rembang, Jawa Tengah, lanjut Kang Said, juga dikenal sebagai sosok yang zahid, tulus, dan ikhlas. Pendiriannya dalam mempertahankan prinsip keagamaan sangat keras, hingga menjadikannya sebagi kiai yang kharismatik dan sangat disegani.

“Kiai Masduqi tidak segan berdebat dengan anak-anak muda seperti saya, Pak Masdar (Farid Mas’udi), dan lain sebagainya. Secara keilmuan kami sering tidak sependapat, tapi secara umum kami sangat takdim, sangat menghormati beliau,” urai Kang Said. (Samsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Lomba, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah