Minggu, 14 Februari 2016

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Sampang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Hari ulang tahun kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia yang jatuh pada Ahad (17/8) menjadi spesial bagi Nahdlatun Nisak Center (NNC) Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembagan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Sampang, Jawa Timur.

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Pasalnya, organisasi perempuan di bawah naungan PC Lakpesdam NU Sampang ini mengadakan aksi simpatik melalui pembacaan puisi kemerdekaan serta aksi bagi-bagi bunga kepada para pengguna jalan di depan Monumen Trunojoyo Sampang.

Aksi para kader muda perempuan NU tersebut mendapat perhatian dari masyarakat dan para pengguna jalan. Aminatur Rizqiyah, Ketua NNC PC Lakpesdam NU Sampang, saat membacakan puisi menggugah semangat nasionalisme masyarakat, khususnya para pemudi Sampang, agar selalu mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa dan tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ditemui wartawan di tengah aksi bagi-bagi bunga, Aminatur Rizqiyah mengatakan, bagi-bagi bunga kepada pengguna jalan bertujuan untuk membangkitkan rasa cinta masyarakat kepada Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Semangat nasionalisme para pemudi sekarang sudah mulai luntur, kecintaan mereka terhadap bangsa ini sudah berkurang. Karena itu, kami gugah semangat nasionalismenya dengan membagikan bunga sebagai lambang kecintaan kita kepada tanah air. Bunga melambangkan cinta. Hari ini 17 Agustus 2014, kami membagikan bunga agar masyarakat cinta kepada tanah air Indonesia,” ucapnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 11 Februari 2016

Maulid dan Hari Kemerdekaan Tak Kenal Batas Waktu

Jepara, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Maulid Nabi atau peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dilaksanakan setiap saat. Maulid tidak mengenal batas waktu. Demikian diuraikan Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya saat memberikan taushiyah dalam Peringatan Maulid Nabi, Haul Syekh Abu Bakar, Habaib, Auliya, Sesepuh, Kiai Se-Kabupaten Jepara dan Gebyar Merah Putih di Pendopo Kabupaten Jepara, Sabtu (14/4) kemarin.

Maulid dan Hari Kemerdekaan Tak Kenal Batas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid dan Hari Kemerdekaan Tak Kenal Batas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid dan Hari Kemerdekaan Tak Kenal Batas Waktu

Menurut Rais Aam Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah kepada ribuan jamaah yang hadir ia mengungkapkan tidak adanya batas waktu untuk maulidurrasul dikarenakan agar tidak menunggu setahun sekali. Sehingga dipaparkannya boleh dilaksanakan setiap Senin, Kamis dan momentum-momentum yang lain.

Hal itu, tegas Habib sejalan dengan peringatan HUT RI. Dalam memperingati Peringatan 17-an tidak hanya setiap tujuhbelasan saja melainkan pada upacara bendera sejatinya tertuang makna kemerdekaan. “Semisal pada saat pengibaran sang saka merah putih adalah wujud nasionalisme kita terhadap pejuang yang telah mendahului,” tegasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia prihatin jika peringatan Maulid dan 17an hanya dilaksanakan setahun sekali sebab semangat nasionalisme akan semakin luntur. Apalagi cucu-cucu ditahun-tahun yang datang sudah tidak lagi mengenal Nabi Muhammad SAW, Soekarno, M Hatta, Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro dan masih banyak lagi. “Hal itu merupakan cerminan untuk menghargai tarikh, sejarah,” tambahnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya atas nama kepala daerah menuturkan dengan kegiatan tersebut merupakan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Cinta kepada tanah air lanjutnya perlu ditanamkan sedalam-dalamnya pada masing-masing individu. Selain itu untuk memperkokoh NKRI perlu ditopang dengan persatuan dan kesatuan.     

Kapolres, Dandim Jepara juga memberikan kata sambutan. Rebana Kanzus Salawat dari Pekalongan mengiringi pembacaan maulid simtuth duror yang dipimpin Habaib. Menyanyikan lagu Indonesia Raya juga dilantunkan sebagai bentuk cinta kepada tanah air. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 01 Februari 2016

Pedagang Pasar Kutoarjo Ajak Warga Tahlilan

Purworejo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah -

Paguyuban Pedagang Pasar (PAPPAS) Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah mengadakan Tasyakuran Suran dengan mengajak warga sekitar membaca Yaasin dan Tahlil, di Kutoarjo, Kamis (27/10).

"Kami mohon maaf pada segenap warga pasar Kutoarjo, mengingat banyaknya agenda yang telah dilaksanakan pada bulan-bulan sebelumnya sehingga PAPPAS untuk tahun ini menggelar acara tasyakuran suran tidak bisa seperti biasanya,” ujar Ketua PAPPAS Kutoarjo H Muhamad Choirul Anwar.

Pedagang Pasar Kutoarjo Ajak Warga Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Pasar Kutoarjo Ajak Warga Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Pasar Kutoarjo Ajak Warga Tahlilan

Muharom 1438 H sebagai awal bulan dalam kalender Islam sudah hampir lewat. Namun PAPPAS Kutoarjo tidak ingin kehilangan keistimewaan bulan mulia tersebut. Sebagai rangkaian dari acara Tasyakuran Suran (peringatan bulan Muharram) mereka menyembelih kambing.

Pembacaan tahlil dipimpin tokoh agama Islam setempat, KH Mustofa dan kultum disampaikan oleh Ketua MWC NU Bayan, Purworejo, Kiai Achmad Mustawin, dihadiri oleh pengurus PAPPAS, pejabat pasar, dan beberapa dari perwakilan pedagang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada kesempatan yang sama, Lurah Pasar Kutoarjo, Suseno mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya pada seluruh warga pasar Kutoarjo.

Suseno juga berharap agar pedagang melalui PAPPAS bisa memberikan kritik konstruktif kepada pejabat pasar sehingga tercipta kondisi pasar yang aman dan juga nyaman, bebas dari hal-hal berbau negatif.

“Sungguh, kami selaku pejabat pasar menerima dengan senang hati segala kritik saran dari pedagang demi terwujudnya kondisi pasar yang aman dan juga nyaman. Dengan bersama-sama semoga kita bisa menciptakan pasar yang semakin lebih baik” kata Suseno.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pasar Kutoarjo merupakan salah satu pasar induk di Kabupaten Purworejo. Bulan Muharom biasa diperingati dengan menggelar acara pembacaan Yaasin dan Tahlil yang tidak hanya melibatkan warga pasar saja namun juga warga di sekitar pasar. (Muhammad Ghufron/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita, Budaya, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 31 Januari 2016

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Subang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Karakter dan jenis musik Indonesia masih dikendalikan oleh media. Tidak salah jika dikatakan seni musik di Indonesia ditentukan oleh media. Media membopong seni musik tersebut.

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh, Hentakan yang Tak Diperhatikan

Demikian disampaikan pentolan grup hadrah pesantren Yafata Deden Muhammad Fauzi Ridwan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah saat di temui di Pesantren Yafata yang beralamat di Desa Marengmang, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (12/3) malam.

“Memang masih banyak musisi yang tetap bergerak tanpa dukungan media, bahkan memang mereka tak peduli media. Seperti pejuang-pejuang musik daerah. Namun akhirnya tidak populer, termasuk hadroh, hentakannya tak dipedulikan. Wal hasil masyarakat menganggap tak ada," keluh Fauzi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Musik kita, kata Fauzi, itu ditentukan TV. "Dulu waktu ramainya band Ska bermunculan di mana-mana, tapi kini hilang entah ke mana. Kemudian dulu juga ramenya grup band, sama seperti itu juga banyak yang muncul tapi redup lagi, sekarang yang sedang trend kan musik K-Pop, boyband dan Girlband menjamur, tapi sebentar lagi sepertinya akan redup juga,” jelas Fauzi yang juga ketua PAC IPNU Kalijati tersebut.

Melihat fenomena tersebut, santri Pesantren Yafata ini berinisiatif untuk membuat grup musik hadrah. Santri-santri kemudian mengajukan permohonan kepada pengasuh Pesantren Yafata, yang juga Rais PCNU Subang, KH. Moh. Musa Muttaqin, pada tahun 2010 permohonan tersebut dikabulkan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita tidak ingin mengikuti musik di TV yang menurut saya araraneh, karena nanti kita pasti akan gonta-ganti musik, karena mereka kan melihatnya penontonnya. Kalau banyak yang nonton ya lanjut, kalau tidak ya ganti, kan kalau seperti itu kita tidak istiqomah. Jadi kita milih hadrah saja, Insya Allah kalau hadrah kita bisa istiqomah ditambah lagi kan kita ini di pesantren, hadrah kan identiknya,” paparnya.

Saat ini, personil Grup hadrah tersebut berjumlah 10 orang yang digawangi oleh Deden MFR, Uswanto, Deden MZ, Rijal, Abdul Fatah, Afif, Iqbal, Ilham, Opik dan Cecep, disepakati jadwal latihannya adalah setiap hari Jumat dan atau hari Ahad.

Perlahan tapi pasti, hadrah pesantren Yafata ini mulai dikenal di berbagai daerah dan jam terbang “manggung” mereka sudah lumayan banyak. Tidak sedikit masyarakat yang meminta hadrah Yafata untuk tampil dalam acara walimah, maulidan, rajaban, dan lain sebagainya, bahkan pada bulan Rabi`ul Awal kemarin mendapat juara harapan 1 dalam lomba seni musik yang diadakan oleh Ikatan Remaja masjid Nurul Huda Kecamatan Binong, Subang.

"Alhamdulillah, meski media tidak memperhatikan, masyarakat masih suka mendengarkan. Semoga NU, juga PBNU, selera musiknya tidak ikut media. Artinya apa? Ya minta dukungan, Ishari itu didukung." ujara Fauzi, dengan tegas.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 26 Januari 2016

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama

Surabaya, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Memasuki usia 55 tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Pengurus Besar PMII menggelar beragam kegiatan mulai dari seminar nasional, donor darah, bantuan sosial, ragam perlombaan, panggung seni budaya, istigotsah dan doa bersama untuk bangsa.

Menurut Ketua Panitia Harlah PMII ke-55 Mukafi Makki, tema harlah ini adalah “Pembela bangsa, Penegak agama.” Sebuah kalimat yang tertera dalam mars PMII.

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Usung Pembela Bangsa, Penegak Agama

“Tema ini mengambil intisari dari mars PMII yang diciptakan H Mahbub Djunaidi,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di Surabaya, Kamis (16/4).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pembela bangsa, menurut dia, adalah komitmen PMII untuk membela identitas kebangsaan seperti setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undan-Undang Dasar 1945.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara penegak agama, menurut dia, maksudnya adalah penegak Islam Ahlussunah wal-Jamaah (Aswaja) yang bisa toleran kepada pihak yang lain dan menghargai para kiai.

Sebagai penegak Islam Aswaja, maka kata dia, pada malam puncak Harlah Jumat 17 April 2015 akan berlangsung istigotsah dan doa bersama yang dihadiri para kiai. (Abdullah Alawi)

Mars PMII

Pencipta: H Mahbub Djunaidi

Inilah kami wahai Indonesia

Satu barisan dan satu cita

Pembela bangsa, penegak agama

Tangan terkepal dan maju ke muka

Habislah sudah masa yang suram

Selesai sudah derita yang lama

Bangsa yang jaya

Islam yang benar

Bangun tersentak dari bumiku subur

Denganmu PMII

Pergerakanku

Ilmu dan bakti, ku berikan

Adil dan makmur kuperjuangkan

Untukmu satu tanah airku

Untukmu satu keyakinanku

Inilah kami wahai Indonesia

Satu angkatan dan satu jiwa

Putera bangsa bebas meerdeka

Tangan terkepal dan maju kemuka

Denganmu PMII

Pergerakanku

Ilmu dan bakti, ku berikan

Adil dan makmur kuperjuangkan

Untukmu satu tanah airku

Untukmu satu keyakinanku

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Pertandingan, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 15 Januari 2016

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!

Bantul, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masyarakat mesti membentengi diri dari ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Namun demikian, mereka tak perlu mengucilkan para mantan anggotanya. Eks Gafatar adalah korban dari dangkalnya pemahaman agama yang tidak boleh diperlakukan diskriminatif.

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Kucilkan dan Diskriminasi Eks Gafatar!

Demikian pandangan KH Hendri Sutopo, penasehat Yayasan Kodama, dalam acara Mujahadah Rutin Malam Selasa Kliwon di Masjid Kodama Bantul, DI Yogyakarta.

“Eks Gafatar jangan dikucilkan. Karena bisa jadi mereka korban. Pemahaman sepenggal atas Al-Qur’an bisa membuat seseorang salah paham terhadap agama. Lebih parahnya, bisa berbuat radikal dan takfir (gemar memvonis kafir). Ini tugas pesantren untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat,” jelasnya, Senin (25/1) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai yang pernah dibimbing Alhamrhum KH Ali Maksum Krapyak tersebut menilai, kebanyakan orang-orang yang ikut Gafatar itu disebabkan punya problem ekonomi dan keluarga. Masalahnya, imbuh Hendri, mereka tidak mau berkonsultasi kepada para kiai terkait masalahnya itu.

“Mereka tidak mau diskusi bareng-bareng. Sehingga saat ada yang mendoktrin untuk melakukan sesuatu, mereka langsung ikut,” tuturnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurutnya, Yayasan Kodama yang juga bergerak di bidang sosial harus memiliki konsep deradikalisasi yang jelas. Para kiai harus menerangkan deradikalisasi dalam setiap pengajian di desa maupun kota.

Sebelum pengajian, acara Mujahadah dipimpin KHR Chaidar Muhaimin Afandi, Pengasuh Pondok Pesantren Padang Jagat Al-Munawwir Krapyak. Tampak hadir dalam forum tersebut H Suharto Djuwaini, Wakil Ketua PWNU DIY. (Suhendra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 14 Januari 2016

Bagi-bagi HP

Suatu ketika Gus Dur membagi-bagikan handphone kepada sejumlah kiai NU. Beberapa kiai agak kikuk dengan teknologi telepon genggam itu.

Karena merasa sejumlah kiai koleganya sudah mendapatkan handphone, Gus Dur pun dengan mudah menghubungi mereka lewat telepon genggam tersebut.

Pada satu kesempatan, Gus Dur meminta kepada asistennya untuk mengirimkan SMS ke salah seorang kiai. Namun, lama ditunggu, jawaban dari sang kiai tak kunjung didapat. Alhasil Gus Dur pun menelepon sang kiai.

Bagi-bagi HP (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi-bagi HP (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi-bagi HP

“Pak kiai, kalau ada SMS dari umat mbok ya dijawab,” kata Gus Dur.

Lantas sang kiai menjawab, “Waduh Gus, saya nggak nulis di handphone ini, soalnya tulisan saya jelek.” (Ahmad Syaefudin-Staf Majalah Bangkit PWNU DIY)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Doa, Habib, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah