Senin, 03 Agustus 2015

Kiai Maruf Amin: Tanpa Mazhab, Umat Tak Punya Pedoman

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menjelaskan, mereka yang tidak bermazhab itu sama seperti orang yang tidak memiliki patokan. Bahkan, mereka bisa terjerumus pada paham yang menggampangkan atau tasahhuli. Sebaliknya, tanpa bermazhab orang bisa terperangkap ke dalam paham yang membuat susah atau tasyaddudi.

“Yang tidak bermazahab itu tidak ada patokan,” kata Kiai Ma’ruf saat memberikan sambutan pembuka dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Dakwah PBNU dengan Himpunan Daiyah Muslimat NU (Hidmat NU) di Lantai 8 Gedung PBNU, Senin (29/5).

Kiai Maruf Amin: Tanpa Mazhab, Umat Tak Punya Pedoman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin: Tanpa Mazhab, Umat Tak Punya Pedoman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin: Tanpa Mazhab, Umat Tak Punya Pedoman

Menurut Kiai Maruf, NU bukanlah organisasi yang bersifat menggampangkan (tasahhuli) dan juga tidak terlalu memberatkan (tasyaddudi). NU berpegang pada empat mazhab yang memiliki karakteristik moderat (tawassuthi).

“Yaitu di dalam fikih, empat mazhab. Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali,” kata Kiai Maruf.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Empat mazhab ini dipilih sebagai anutan NU bukan tanpa sebab. Para ulama empat mazhab ini memiliki buku dan patokan yang jelas tentang bagaimana memahami sebuah teks keagamaan. Pembatasan pada empat mazhab tidak sempit karena uraian yang ada di dalam empat mazhab tersebut cukup untuk menjawab persoalan yang ada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena empat imam mazhab itu memiliki buku dan patokan-patokan di dalam memahami agama,” katanya.

Lebih jauh, ia menerangkan, tidak semua ulama besar yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah bisa dijadikan sebagai imam mazhab. “Auzai, Ibnu Uyainah, Sufyan Ats-Tsauri tidak boleh diikuti (sebagai imam mazhab) meski mereka Aswaja. Karena mereka tidak ada patokan dan bukunya,” jelas Kiai Maruf dengan mengutip pandangan Syekh Nawawi.

Keempat imam mazhab itu dikenal sebagai ulama yang juga produktif dalam menulis. Imam Abu Hanifah mengarang kitab Fiqhul Akbar, Imam Malik bin Anas dengan kitab Al-Muwattha’, Imam Syafi’i dengan Ar-Risalah dan Al-Umm, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Al-Musnad-nya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 29 Juli 2015

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren

Sukoharjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Max Ediger, warga Amerika yang berkeliling dunia untuk menyuarakan dialog lintas agama hadir bersama warga asal Moro, Filipina Selatan, Tirmizy Abdullah, dalam sarasehan yang digelar di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (15/2) pekan lalu.

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Amerika Bicara Dialog Lintas Agama di Pesantren

Pria berkacamata itu mulai bercerita tentang pengalamannya saat berada di desa terpencil di Myanmar. Pernah ia mendapatkan beberapa kesaksian dari para biksu yang pernah hidup pada masa perang etnis tahun 1947.

Dahulu, desa yang ditempati para biksu tersebut hidup damai antara Kristen dan Budha, sampai pada akhirnya datang bala tentara yang memaksa warga desa beragama Kristen untuk mengganti keyakinan mereka, beragama Budha. Segala cara ditempuh tentara untuk mencapai tujuannya, termasuk memanfaatkan para pemimpin agama.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Para biksu diberi dua galon berisi minyak untuk membakar rumah dan gereja,” ungkap koordinator Interfaith Cooperation Forum itu.

Tapi untungnya mereka menolak perintah tentara tersebut. Mereka berbuat demikian karena merasa tidak ada yang berbeda antara Umat Buddha dengan Kristen, “Hidup dan Tumbuh di tanah yang sama, minum dari sungai yang sama,” tutur Ediger menirukan ucapan biksu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ediger juga banyak bertutur tentang pentingnya dialog. Dialog berarti proses yang bergerak secara perlahan mencari kebenaran. Tujuan dari dialog adalah memahami bahwa perbedaan itu nyata, tidak untuk dipertentangkan, tetapi untuk disandingkan sehingga muncullah keindahan. “Kita belajar bahwa kita beda, tapi beda itu indah,” pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri, Aswaja, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 21 Juli 2015

Diperlukan Peta Dakwah Indonesia

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Untuk menunjang keberhasilan dalam berdakwah, diperlukan adanya pemetaan yang bisa menggambarkan seluruh kondisi masyarakat Indonesia sehingga dapat diketahui apa yang harus dilakukan.

Wakil Rais Aam PBNU KH. Tolchah hasan dalam acara workshop dakwah LDNU di Jakarta, Senin (12/2), menuturkan bahwa ketika ia melakukan kunjungan ke Jerman, negara yang memiliki komunitas muslim sekitar 6 juta, mereka menunjukkan peta dakwah dan strategi yang akan dilakukan dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun ke depan.

“Saat ini mereka sedang menggarap sentor industri dan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, ditargetkan sudah ada seorang direktur perusahaan industri yang beragama Islam,” demikian tuturnya memberi contoh.

Diperlukan Peta Dakwah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Diperlukan Peta Dakwah Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Diperlukan Peta Dakwah Indonesia

Perkembangan keilmuan Islam di sana, kata Kiai Tholchah juga dibidik. "Johan Meuleman, salah seorang intelektual muslim yang pernah tinggal di Indonesia bercerita, kini telah digagas adanya Universitas Islam Eropa," katanya.

Kondisi di Indonesia yang mayoritas negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia malah berbeda jauh. Sejauh ini belum ada peta dakwah yang bisa menggambarkan kebutuhan masing-masing komunitas atau golongan. Juga belum ada rencana strategis untuk jangka waktu 5-10 tahun ke depan.

Mantan menteri agama era Gus Dur tersebut menambahkan, pelayanan dakwah kepada masyarakat harus memperhatikan kebutuhan dan kondisi yang mereka hadapi dalam kehidupan. Bahkan diperlukan dai-dai yang melayani komunitas khusus seperti di rumah sakit atau dipenjara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di rumah sakit juga diperlukan orang yang berdakwah, orang yang menasehati kita agar bisa bersabar dalam menerima cobaan. Apalagi saat sakaratul maut merupakan saat penentuan iman seseorang.”

Kaiai Tolchah saat menjalani opname di sebuah rumah sakit pernah mengalami hal tersebut. Ada seorang dai yang mendoakan dan kemudian menasehatinya. Kebutuhan khusus untuk komunitas lainnya seperti di penjara juga diperlukan untuk memberi bimbingan ajaran agama pada para napi.

Dikatakannya bahwa setiap lingkungan juga memerlukan pendekatan berbeda dalam melakukan dakwah. “Masyarakat petani, pedagang, nelayan atau masyarakat industri memerlukan pendekatan yang berbeda dalam dakwah,” tandasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Munculnya teknologi baru juga harus dimanfaatkan dalam berdakwah. Jika pada masa lalu dakwah disampaikan secara oral, kini banyak tumbuh berbagai peralatan informasi seperti media cetak, media elektronik sampai dengan situs internet.

Saat ini nahdliyyin juga telah mengalami perubahan dalam tingkat pendidikan dan pola fikirnya. Pada tahun 1926 orang NU adalah mereka yang lulus dari berbagai pesantren. Namun sekarang ini, selain dari pesantren, nahdliyyin belajar di SMA dan sudah banyak yang menjadi sarjana. Kondisi ini mengharuskan para dai menyesuaikan materi dakwahnya sesuai kebutuhan dari jamaah. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 20 Juli 2015

Rahasia di Balik Beda Sikap Gus Dur kepada Orang Lain dan Keluarganya

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menurut Alissa Wahid, saat becanda, isi atau materi candaan Gus Dur tidak jauh berbeda dari joke-joke yang beredar secara luas di masyarakat. Gus Dur itu ‘what you see what you get.’ Dia mau ketemu santri atau Presiden Kuba, beliau akan bersikap sama. Cuma frame-nya yang berbeda. Sikap beliau sama, mungkin kalimat-kalimatnya saja yang berbeda.

Apabila Gus Dur bersikap sama terhadap semua orang termasuk keluarganya dalam hal becanda, sangat berbeda dalam hal memfasilitasi anak-anaknya. Sikap senang memberi dan membantu orang lain, Gus Dur tunjukkan kepada orang lain. Namun berbeda sekali kepada keluarganya.

Rahasia di Balik Beda Sikap Gus Dur kepada Orang Lain dan Keluarganya (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia di Balik Beda Sikap Gus Dur kepada Orang Lain dan Keluarganya (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia di Balik Beda Sikap Gus Dur kepada Orang Lain dan Keluarganya

“Gus Dur dari dulu mudah sekali membantu santri-santri yang akan sekolah S2. Tetapi sewaktu saya mau S2, justru harus bayar sendiri, ya dengan mencari beasiswa sendiri,” kata Alissa dalam acara bincang tentang Gus Dur di Radio NU Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

‘Keanehan’ juga terjadi lagi saat Alissa kuliah. Untuk memudahkan penelitiannya, Alissa meminta dibelikan sepeda motor. Tetapi Gus Dur tidak memberikannya.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Alasan Gus Dur, “Bapak nggak punya uang.”

Alissa, yang sudah tahu bahwa Gus Dur memiliki uang dan disimpan di dalam laci menimpali, “Ada kok di laci.”

Gus Dur menjawab lagi, “Itu uang titipan orang untuk rakyat, bukan untuk kita. Bapak nggak bisa pakai.”

Pengalaman Alissa itu membuatnya berpikir “Kok Bapak gitu?” Sekarang, setelah dewasa disadari oleh Alissa bahwa itu merupakan pelajaran berharga untuk membangun hidup sendiri, harus survive dengan diri sendiri, tidak hidup dari fasilitas orang tua.

Pengalaman Alissa dengan Gus Dur sesungguhnya menyimpan pelajaran juga bagi banyak orang, walaupun pengalaman itu merupakan kejadian pribadi Alissa atau dalam lingkup keluarga Gus Dur.

Dari kejadian gagalnya Alissa mendapatkan sepeda motor, misalanya, Gus Dur mengajarkan kepada kita jangan merasa memiliki apalagi ingin menguasai sesuatu yang bukan hak kita.?

Bagi kebanyakan orang, tindakan Gus Dur yang tidak mau memberikan sepeda motor untuk Alissa, bisa jadi dianggap ketidakpedulian terhadap anak. Tetapi di balik itu, Gus Dur justru sedang menempa jiwa anak-anaknya. Artinya tetap saja Gus Dur menyimpan perhatian yang mendalam bagi mas depan anak-anaknya.

Bukti dari perhatian itu tercermin dari lanjutan kejadian gagalnya Alisaa meminta sepeda motor. Beberapa waktu setelah gagal mendapatkan sepeda motor, Mbah Lim (KH Muslim Rifai Imampura), dari Klaten, mengirimkan sebuah sepeda motor untuk Alissa. Pada waktu mengirimkan sepeda motor itu, Mbah Lim mengatakan “Katanya Lisa sedang butuh sepeda motor?” (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 15 Juli 2015

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Tunisia, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia di Tunisia mengunjungi makam dua sahabat Rasulullah SAW. Sejumlah sepuluh dari mereka ialah mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang menempuh program bahasa di Universitas Zitouna. Ziarah ini digagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Ketua mahasiswa STAINU di Tunisia, Izzul Madid menyatakan pentingnya acara ziarah semacam ini.

“Selain mendapat pengalaman baru dan wawasan, kita juga dapat menemukan insiprasi atau keteladanan dari para sahabat. Perjuangan mereka yang mau datang jauh dari Hijaz ke Afrika Utara untuk penyebaran agama Islam, perlu kita teladani,” tutur Madid. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mereka mengunjungi makam sahabat Abu Zam’a al Balawi terletak di kota Kairouan sekitar 156 km dari Tunis, Sabtu-Ahad (15-16/3). Sementara makam Abu Lubabah al Anshari berlokasi di kota Gabes, 404 km dari Tunis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dua makam sahabat ini menjadi situs wisata ziarah terpenting di Tunisia saat ini. Makam Abu Zam’a al-Balawi sering menjadi pusat acara hari besar keagamaan. Sedangkan di makam Abu Lubabah al-Anshari, biasa diadakan festival seni kaum sufi internasional yang lazim digelar setiap bulan ramadhan.

Abu Zam’a al-Balawi seorang sahabat yang hadir dalam perjanjian Hudaibiyah serta mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah saw. Ia juga pernah menjadi tukang cukur rambut Rasulullah SAW. Ketika turut serta dalam penyebaran Islam ke Afrika Utara, ia membawa beberapa helai rambut Rasulullah.

Sedangkan  Abu Lubabah al-Anshari adalah sahabat asal Madinah. Ia masuk Islam sejak sebelum hijrah. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Abu Lubabah termasuk salah seorang warga Madinah yang turut menyambut kedatangan Rasulullah.

Selain berziarah ke dua makam sahabat, mereka juga berziarah ke makam mantan presiden Tunisia Habib Borguiba di kota Monastir, Masjid Uqbah bin Nafi di kota Kairouan, serta situs wisata sahara di kota Matmata, Tunisia Selatan. (Dede Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Budaya, Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 09 Juli 2015

1653 Calhaj Sidoarjo Diberangkatkan

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sekitar 1653 jamaah calon haji asal Sidoarjo diberangkatkan Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dari pendopo kabupaten. Tahun ini, jamaah calon haji terbagi menjadi empat kloter yakni 17, 18, 19, dan 20.

1653 Calhaj Sidoarjo Diberangkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
1653 Calhaj Sidoarjo Diberangkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

1653 Calhaj Sidoarjo Diberangkatkan

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo Achmad Rofii pada Jumat (28/8) siang mengungkapkan, calon jamaah haji pada kloter 17 ini terdapat 455 orang. Separuhnya atau 50 persen dari kloter 17 mempunyai resiko tinggi dalam hal kesehatan.

"Kloter 17 ini banyak calon jamaah haji yang menderita penyakit dalam kategori serius dan butuh pengawasan seperti penyakit dalam, penyakit bawah yang membutuhkan pemeriksaan intensif tim dokter, parkinson, dan patah kaki," ungkapnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

 

Disinggung terkait mereka yang sakit tapi tetap berangkat ke tanah suci, Achmad Rofii mengatakan bahwa calon jamaah haji yang menderita parkinson tersebut diakui sudah mendaftar sejak tahun 2009 dan baru bisa berangkat tahun 2015 ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kemenag tidak bisa mengambil sikap dalam hal ini, karena calon tersebut pada saat mendaftar sudah menderita sakit. Dia juga mempunyai keyakinan besar bahwa setelah menunaikan ibadah haji penyakitnya akan sembuh. Maka dari itu kami tidak bisa memaksanya untuk membatalkan pemberangkatannya," papar Achmad Rofii.

Dikatakan Achmad Rofii, calon jamaah haji asal Sidoarjo pada tahun 2015 sebenarnya tercatat 1655 calon Jamaah. Namun dua orang meninggal sebelum pemberangkatan lantaran sakit. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Humor Islam, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 02 Juli 2015

Konfercab PCNU Jombang Bantuk Tim Evaluasi, Ini Tugasnya

Jombang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Beberapa tim di luar kepanitiaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jombang yang sudah dibentuk sebelumnya diharapkan dapat mengoptimalkan tugasnya masing-masing. Terlebih tim evaluasi menjadi penting untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan PCNU di periode selanjutnya.

"Saat ini, apapun PCNU Jombang sudah punya kerangka kerja logis sebagai kerangka utama perencanaan program lima tahunan. Inilah yang dievaluasi, dengan pertanyaan utama apakah tujuan lima tahunan tercapai dengan melihat indikator-indikator yang sudah ada. Selanjutnya apa dampak yang terjadi," kata Sekretaris PCNU Jombang Muslimin Abdilla, Sabtu (21/1).

Konfercab PCNU Jombang Bantuk Tim Evaluasi, Ini Tugasnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab PCNU Jombang Bantuk Tim Evaluasi, Ini Tugasnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab PCNU Jombang Bantuk Tim Evaluasi, Ini Tugasnya

Disamping itu, pria yang juga Sekretaris Panitia Konfercab ini berharap, tim evaluasi dengan komposisi perorangan yang sudah punya pengalaman dalam menjalankan program dan melakukan evaluasi, bisa melihat, menganalisis, menarik kesimpulan dan memberikan rekomendasi untuk Program PCNU Jombang 5 tahun mendatang.

Namun demikian, lanjut Muslimin, tim itu tidak menjadikan ajang penghakiman dari setiap apa yang dievaluasi, Karena itu, evaluasi harus berdasarkan Perencanaan.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Evaluasi harus dimaknai sebagai salah satu proses pembelajaran untuk mengambil pelajaran (lesson learned), terutama dalam mengelola program mulai dari perencanaan, monitoring dan evaluasi agar PCNU mendatang lebih baik," tambah Muslimin.?

Untuk diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung selama dua hari, 22-23 April 2017 di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Pesantren, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah