Sabtu, 25 November 2017

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

 Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

NU merupakan faktor penting tidak terjadinya kekerasan antarmasyarakat sipil di Kalimantan Selatan ketika pecah peristiwa politik pada tahun 1965. Pernyataan ini dikemukakan oleh Toga Tambunan, ketika bertindak sebagai salah seorang pembahas dalam diskusi buku “Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni” yang berlangsung di Galeri Nasional.

Di dalam buku yang membahas kehidupan perupa Misbach Tamrin, kelahiran tahun 1941 di Amuntai, Kalimantan Selatan, yang pernah mendekam selama 13 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan komunis, terungkap bahwa di Kalimantan Selatan relatif tidak terjadi kekerasan antar masyarakat sipil pada tahun peralihan politik tersebut.

Memang ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah. Di Kalsel tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya, dalam hal ini para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. “Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa seperti yang saya dengar belakangan,” demikian pengakuan Misbach seperti dikemukakan dalam buku.

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Penting NU Meredam Kekerasan 1965 di Kalsel

Acara yang berlangsung akhir pekan lalu (22/11) itu dihadiri Hairus Salim HS dan Hajriansyah yang merupakan penulis buku, dan E. Z. Halim, Sihar Ramses Simatupang, dan Sulistyono yang juga turut menjadi pembahas. 

Misbach sendiri beranggapan  bahwa relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu, yang menurutnya merupakan pengagum Sukarno. Namun anggapan itu diragukan oleh Toga Tambunan. Menurutnya, ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI.

Pertama, lanjutnya, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan. Tapi selain itu, tambah Toga, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang NU. Jadi NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Toga menceritakan bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang. Toga yakin mereka tahu siapa tahu siapa sebenarnya ia, tetapi mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya.      

Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini. Ketua Umum NU saat itu adalah KH. Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut. Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itulah yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI. “Saya sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia),” katanya. “Sebelum ke Banjarmasin, saya redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo,” tambahnya seusai diskusi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kesaksian Toga Tambunan yang dikemuakan dalam diskusi buku ini cukup menarik perhatian peserta diskusi. Diskusi buku ini sendiri sebenarnya merupakan bagian dari Pameran Tunggal Misbach Tamrin berjudul “Arus Balik” yang pembukaannya berlangsung pada 20 November dan dihelat hingga 30 November 2015 di Galeri Nasional. (Red: Mahbib)

 

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ormas Diminta Jaga Jamaahnya agar Tidak Lompat ke Kelompok Teroris

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli meminta semua organisasi kemasyarakatan (ormas) agar dapat merawat dan menjaga jamaahnya dari pengaruh radikalisme dan terorisme. Sebab, ormas juga rawan disusupi gerakan ISIS.

Permintaan ini disampaikan Hamli saat menjadi narasumber dalama acara Sosialisasi Ancaman Terorisme dan Pencegahannya di New Sari Utama, Jember, Kamis (5/7).

Ormas Diminta Jaga Jamaahnya agar Tidak Lompat ke Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas Diminta Jaga Jamaahnya agar Tidak Lompat ke Kelompok Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas Diminta Jaga Jamaahnya agar Tidak Lompat ke Kelompok Teroris

Menurutnya, menjaga dan memantau terus jamaah itu penting karena faktanya sejumlah pelaku teror adalah berlatar belakang anggota ormas tertentu.

"Jangan sampai lompat (jadi anggota ISIS). Yang membom di Cirebon, itu dulunya orang FPI. Dia tidak sabar. Katanya, demo terus, demo kurang enak nih, akhirnya pilih agak macho sedikit, bawa bom," kata Hamli.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia juga mengaku pernah menginterogasi pelaku bom yang berlatar belakang anggota HTI. Saat ditangkap, pelaku mengaku bosan berunjuk rasa. "Kalau cuma demo saja, ngomong doang, tidak pakai aksi," kata Hamli.

Karena itu, ia berharap agar pimpinan ormas bisa membentengi anggotanya supaya tidak terjerat dalam radikalisme dan terorisme. Pembentengan ini antara lain membimbing dan menyosialisasikan makna jihad yang benar. Sebab, salah satu faktor teroris meyakini tindakannya benar adalah karena pemahaman agama yang tidak benar, terutama terkait makna jihad.

Harapan serupa juga disampaikan Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo. "Jangan sampai kasus yang yang terjadi di Iraq dan Suriah juga terjadi di Indonesia, termasuk Jember," ucapnya.

Sebelum acara tersebut diakhiri, dilakukan penandatanganan kesepakatan menolak radikalisme dan terorisme oleh unsur Forpimda, MUI, NU, Muhammadiyah, dan GP Ansor (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pendidikan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 24 November 2017

689 Calhaj Probolinggo Tasyakuran Pemberangkatan ke Tanah Suci

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang keberangkatan ke tanah suci pada 9 September mendatang, sebanyak 689 calon haji (Calhaj) kabupaten Probolinggo 2015 mengikuti penutupan bimbingan manasik haji di Pendopo Kabupaten Probolinggo, Rabu (26/8). Kegiatan bimbingan diakhiri dengan tasyakuran pemberangkatan ke tanah suci yang digelar oleh Pemkab setempat.

Tasyakuran pemberangkatan calhaj ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kantor Kemenag Probolinggo H Bustami, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Cholili dan Rais Syuriyah PCNU Probolinggo KH Jamaluddin al-Hariri.

689 Calhaj Probolinggo Tasyakuran Pemberangkatan ke Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
689 Calhaj Probolinggo Tasyakuran Pemberangkatan ke Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

689 Calhaj Probolinggo Tasyakuran Pemberangkatan ke Tanah Suci

Hadir pula Kapolres Probolinggo AKBP Iwan Setyawan, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Sumaryono, sejumlah Kepala SKPD dan Camat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat sekabupaten Probolinggo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tahun ini, calon tamu Allah asal Probolinggo sebanyak 689 orang. Mereka tergabung dalam kloter 47 dan 48 yang akan diberangkatkan ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya dari Obyek Wisata Religius Miniatur Ka’bah desa Curahsawo kecamatan Gending, Probolinggo pada 9 September 2015 mendatang.

Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari mengatakan, penutupan bimbingan manasik haji dan selamatan pemberangkatan calon jamaah haji ini merupakan sebuah budaya yang tidak boleh berhenti karena menyangkut dengan tradisi masyarakat Probolinggo. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendoakan calon tamu Allah yang akan berangkat ke tanah suci.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Selamat kepada seluruh calon jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci sebagai tamu Allah. Tidak semua orang mendapatkan panggilan untuk datang ke rumah Allah. Sebagai tamu Allah, berangkat dan datang harus diselamati. Semoga ilmu yang didapat selama pelaksanaan bimbingan manasik haji manfaat dan barokah,” ujarnya.

Sementara H Hasan Aminuddin meminta para calon tamu Allah ini untuk selalu menjaga kesehatan sejak awal sampai akhir. Sebab dalam ibadah haji ini dibutuhkan tenaga dan fisik yang lebih.

“Perbanyaklah berbicara dengan Allah melalui berdzikir, istighfar serta sholawat. Sebab tempat itulah sebagai tempat pertobatan bagi manusia yang selalu banyak dosa,” ujarnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini menegaskan bahwa salah satu tugas Komisi VIII DPR RI adalah menangani masalah haji. Berkat perjuangan Komisi VIII, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun ini turun.

“Sisa kuota akhirnya dikembalikan dan disebar ke seluruh Indonesia, khususnya Probolinggo mendapat jatah yang diberikan kepada para orang yang sudah tua (lansia),” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Muslimat NU Rancang Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) tengah merancang buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ Al-Qur’an Muslimat NU. Sebab itu, para pengurus Muslimat menggelar workshop mematangkan penulisan buku tersebut , Kamis (20/10) di Hotel Bintang Jakarta Pusat.?

Ketua Periodik PP Muslimat NU, Hj Rosmani Soedibyo mengatakan bahwa Msulimat selalu mengikuti perkembangan dan perubahan sosial yang ada. Menurutnya, perlu model dakwah khusus berbasis panduan sehingga adanya buku ini bisa menjadi pegangan para daiyah ke majelis-majelis taklim, TPA, maupun TPQ.

Muslimat NU Rancang Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Rancang Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Rancang Buku Penguatan Materi Dakwah dan Kurikulum TPQ

“Harapannya, buku ini nantinya tidak hanya menjadi pegangan Muslimat tetapi juga Ormas perempuan lain. Berbagai problem terkini di buku ini dikemukakan secara detail agar dakwah terarah sesuai dengan perubahan zaman,” ujar Rosmani.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, H Muhammadiyah Amin menuturkan, buku nanti bisa disinergikan dengan program di Bimas. Dia mengapresiasi Muslimat yang terus konsisten dalam dakwah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Peran Muslimat NU banyak di bidang pemgembangan manusia dan dakwah. Perlu pengayaan materi sehingga perlu memperbarui model dakwah dalam pembangunan agama dan kemasyarakatan dan harus selalu ditingkatkan,” ujarnya.

Kemampuan Muslimat NU dalam hal ini harus terus diperbarui terhadap kondisi-kondisi masyarakat. Sebab menurutnya, dakwah sering disalahartikan. Juru dakwah seakan tak merasakan apa yang terjadi di tengah masyarakat. Dakwah juga diartikan sempit sehingga dakwah seolah hanya masalah agama saja.

“Masyarakat dari masyarakat fungsional, sosial, saintifik, maupun masyarakat tekonolgi. Saya harapkan kepada Muslimat agar terus meningkatkan model dakwah yang mampu mewujudkan masyarakat damai,” tandas Muhammadiyah Amin.

Sementara itu, Ketua Himpunan Daiyah Muslimat (HIDMAT) NU Hj Mahfudhoh Aly Ubaid mengatakan bahwa buku ini sangat perlu untuk menjadi pegangan dan panduan dakwah bagi dai dan daiyah Muslimat NU.?

Mahfudhoh menerangkan bahwa problem menurunnya moralitas di antara anak-anak Indonesia menjadi perhatian penting bagi para dai Muslimat dan dai-dai seluruh Indonesia.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Di rancangan buku ini juga memuat model dan pengembangan dakwah berdasarkan kontekstualisasi zaman,” ujar Mahfudhoh. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 23 November 2017

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid

Malang, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Masjid merupakan sebuah tempat strategis yang tak hanya berfungsi untuk menjalankan ibadah. Terdapat peran-peran strategis yang berlangsung dalam sejarah peradaban Islam yang melibatkan masjid.

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan Kenapa Penting Memakmurkan Masjid

Penting bagi warga NU untuk terus mengembangkan masjid sebagai sumber pengembangan Islam, berikut alasan-alasannya.

Pertama, sebelum dibangun pesantren, pasti dibangun masjidnya dahulu dan setiap desa hampir bisa dipastikan ada masjidnya, tetapi belum tentu ada pesantrennya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kedua, masjid letaknya teratur, tidak menumpuk di satu tempat sehingga sarana ibadah terdistribusi dengan baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketiga, Masjid merupakan potret paling otentik kondisi, shoheh tentang kondisi, sikap dan kualias umatnya. 

“Kalau masjidnya kotor tempat wudhunya, ya umatnya kurang lebih ya masih begitu. Kalau bersih, umatnya lebih berbudaya.”

Demikian juga kalau masjidnya bagus, ekonomi umat pendukungnya juga bagus. Kalau masjidnya reot, juga begitu.

Lalu kalau jamaahnya banyak, berarti semangat ibadah yang tinggal di kanan kirinya juga begitu. Kalau masjidnya kosong, berarti semangat ibadah umatnya pun begitu. 

“Kalau shofnya lurus, umatnya juga disiplin. Kalau jamaahnya sedikit, mencari-mencar, shofnya ngak lurus, ya masih morat-marit.”

Kalau takmirnya suka mengundar khotib yang galak, berarti umatnya juga begitu. Khotibnya adem ayem, kesadaran hidupnya juga begitu. 

“Potret warga NU seperti apa, bisa di lihat di masjid-masjidnya,” tandasnya.Ia menegaskan, masjid harus menjadi kaki NU ke depan. Pesantren sebagai sumber ilmu dan hikmahnya, masjid sebagai pusat pengamalan dan pembinaannya.

Sementara itu, Ketua LTMNU KH Abdul Manan al Ghani menegaskan lembaga yang dipimpinnya ini berusaha untuk menggerakkan struktur di lingkungan NU agar mampu memberdayakan masjid.

Ia merasa prihatin dengan sejumlah situasi seperti maraknya permintaan sumbangan pembangunan masjid di jalan-jalan atau pengelola masjid yang kurang memiliki kreatifitas dalam mengembangkan masjidnya.

“Tidak usah menunggu program dari PBNU. Saya senang, jika masjid atau LTMNU di daerah mampu membikin program sendiri.”

LTMNU memiliki sejumlah program usaha seperti Kelompok Usaha Jamaah Masjid, tower BTS berbasis menara masjid atau sejumlah bisnis lain yang halal dan dapat menunjang kegiatan kemasjidan.

Penulis:: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia

Lombok Tengah, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Persatuan Guru Nahdlatul berkeyakinan mampu mengubah orientasi pendidikan Indonesia yang saat ini berorientasi pekerjaan, menuju pendidikan yang kreatif dan berdaya saing. Bagi Pergunu pendidikan berorientasi pekerjaan hasilnya adalah pekerja-pekerja berkreasi menciptakan lapangan kerja.

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Yakin Ubah Orientasi Pendidikan Indonesia

“Pendidikan saat saat ini gagal, terjadi dekadensi moral pelajar, turunnya spirit pendidikan karena pengaruh narkoba. Sulit generasi muda yang menghormati lebih tua, belum lagi kekerasan,” kata Wakil Ketua Pimpinan Pusat Pergunu Rudolf Chrysoekamto di sela Rapat Kerja Nasional di Pondok Pesantren NU Al-Mansuriyah Ta’limushibyan Bonder, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada Sabtu (25/2). ?

Ia tidak memungkiri, secara prestasi, sistem dan orientasi pendidikan yang ada di Indonesia? bisa membuahkan peserta didik yang berprestasi di tingkat internasional. Namun, bagi manusia Indonesia, hal itu saja tidak cukup. Peserta didik harus dibenahi sisi moral dan spiritualnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Karena untuk membentuk manusia tidak hanya itu, prestasi, keterampilan, tanpa moral dan spiritual, bisa jadi mereka tersandung kasus hukum. Makanya pendidikan harus menyatukan semua aspek, ditambah akhlakul karimah, IQ dan ESQ-nya,” jelas pria kelahiran Jember Jawa Timur itu

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia yakin Pergunu periode kedua dengan Ketua Umum KH Asep Saifuddin Chalim mampu mewujudkan hal itu.

“Sebuah tujuan itu harus yakin di awal, kemudian dibangun sistem mengkonkretkannya. Konket menciptakan sistem yang bertumpu pada kecerdasan diimbangi mulianya moral,” lanjutnya. ?

Lebih lanjut ia mengatakan, pendidikan memang diatur negara, termasuk kurikulumnya. Namun, untuk mengubah orientasi pendidikan, Pergunu bisa bisa berimprovisasi dalam menerapkannya. Jadi, kuncinya guru yang keatif.

Untuk meningkatkan guru yang kreatif, Pergunu telah melakukan upaya langsung dengan menguliahkan ratusan guru lulsan sekolah menengah. Kemudian meningkatkan kualitas ratusan guru S1 ke jenjang S2, dan puluhan guru yang S2 ke S3.? ?

“Pendidikan itu memang tanggung jawa negara, tapi masyarakat juga bertanggung jawab. Sekolah itu satuan pendidikan. Sekolah bisa berinovasi dari kurikulum yang ada. Dan itu sah dan dimungkinkan,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya,setelah ada sistem pendidikan yang berhasil, seperti Pesantren Amanatul Ummah, bisa ditiru lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU di daerah-daerah. Dengan demikian mengubah orietasi pendidikan Indonesia bukan hal yang tidak mungkin. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Khutbah, Pertandingan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengaku Nabi, Warga Inggris Terancam Hukuman Mati

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebuah pengadilan di kota Rawalpindi di Pakistan menjatuhkan vonis mati terhadap seorang pria Inggris berusia 70 tahun dengan dakwaan penghinaan terhadap Islam.

Mengaku Nabi, Warga Inggris Terancam Hukuman Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengaku Nabi, Warga Inggris Terancam Hukuman Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengaku Nabi, Warga Inggris Terancam Hukuman Mati

Muhammad Asghar ditahan tahun 2010 setelah menulis sejumlah surat kepada beberapa orang dengan mengaku dirinya sebagai Nabi, tulis sejumlah laporan yang dikutip oleh BBC Indonesia.

Pengacaranya mengajukan pembelaan klien mereka kurang waras karena punya sejarah sakit mental namun pembelaan ini ditolak sebuah panel pakar kesehatan setempat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam hukum Pakistan, seorang terdakwa bisa dijatuhi hukuman mati jika dinyatakan bersalah menodai Islam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sudah ada beberapa kasus yang kemudian mengundang perhatian kalangan internasional terkait penerapan hukum ini.

Asghar, yang berasal dari Edinburgh, Skotlandia, diduga menulis surat kepada perwira polisi setempat dan mengaku sebagai Nabi. Warga Inggris ini diduga sudah menetap di Pakistan selama beberapa tahun.

"Asghar mengaku sebagai Nabi bahkan dalam persidangan. Dia mengaku di depan juri," kata Javed Gul, seorang jaksa penuntut kepada kantor berita AFP.

Namun menurut kuasa hukumnya kepada wartawan BBC Saba Eitizaz, sang klien disidangkan tanpa didampingi pengacara.

Eitizaz mengaku dilarang membela Asghar dan kelanjutan sidang dilakukan dalam ruang tertutup.

Pengacaranya mengatakan akan mengajukan banding atas putusan yang dijatuhkan pada Kamis (23/01) larut malam tersebut.

Sudah sering terjadi dalam pengadilan tingkat banding putusan kasus penodaan agama dibatalkan karena dianggap tak cukup bukti.

Asghar sempat didiagnosa menderita paranoid akibat schizophrenia dan menjalani perawatan di rumah Sakit Royal Victoria di Edinburgh. Namun bukti dari perawatan di RS Inggris itu tak diterima oleh pengadilan, lapor sejumlah media.

Akibatnya ia dikenai hukuman kurungan sejak ditahan tahun 2010 dimana menurut pengacaranya ia pernah berusaha bunuh diri satu kali.

Menurut analisi kalangan media setempat Asghar kemungkinan tak akan benar-benar dihukum mati akibat kasus ini karena Pakistan tengah menjalani moratorium tak resmi hukuman mati sejak 2008.

Ia juga telah dikenai perintah untuk membayar ganti rugi dalam jumlah besar oleh pengadilan.

Hukum penodaan agama berlaku di beberapa negara dengan paham agama yang kuat, termasuk di Indonesia. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Berita, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah