Selasa, 05 September 2017

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Cirebon, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus GP Ansor kabupaten Cirebon mengerahkan 145 anggota Banser yang bertugas di enam titik lintasan arus mudik lebaran baik jalur utara maupun jalur selatan. Mereka menempatkan enam posko mudik sepanjang perbatasan Indramayu-Cirebon hingga perbatasan Cirebon-Jateng.

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)
145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung (Sumber Gambar : Nu Online)

145 Banser Cirebon Turun Tangan dari Pangkal ke Ujung

Ksatkorcab Banser Cirebon Fikriyan mengatakan, pos pertama ditempatkan di Arjawinangun dengan Korlap Apung. Sementara Asep menjadi koordinator lapangan untuk pos kedua di Plumbon. Sedangkan pada pos ketiga GP Ansor Cirebon mengamanahkan anggota Banser Cirebon Aris sebagai korlap.

“Kita menugaskan Sunanta untuk membawahi anggota Banser pada pos keempat di Dukupuntang. Pos kelima di kecamatan Mundu dengan Umar sebagai komandannya. Terakhir kita menugaskan Omang untuk pos keenam di Karangsembung,” kata Fikriyan kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (30/7) malam.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Hingga kini, semua alhamdulillah berjalan aman, tertib dan lancar terkendali. Semua, lanjut Fikriyan, kami lakukan atas dasar sukarela dengan titik tugas misi organisasi dan misi kemanusiaan.

Pendirian posko dan pengerahan anggota menjadi tanggung jawab Ketua GP Ansor Cirebon Fariz, Kasatkorcab Banser Cirebon Fikriyan, dan sejumlah jajaran pengurus Banser. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 04 September 2017

Grebek Agung Pajang Digelar

Sukoharjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Paguyuban Patilasan Kasultanan Pajang dan Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta Hadiningrat (Pakuso) menggelar Grebek Agung Pajang, Ahad (3/2).

Grebek Agung Pajang Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebek Agung Pajang Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebek Agung Pajang Digelar

Acara tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya dan dalam rangka memperingati Maulid Nabi saw. “Grebek ini merupakan acara pertama kami dan kami berencana menjadikannya sebagai agenda tahunan yang dilaksanakan berdekatan dengan Maulid Nabi,” kata Ketua Paguyuban Patilasan Kasultanan Pajang, Suhadi Mulyono.

“Selain itu, kami juga ingin mengenalkan kembali Kasultanan Pajang sebagai cikal bakal Keraton Surakarta Hadiningrat,” lanjutnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut salah satu panitia penyelenggara acara tersebut, R Dimas Sukoco, dua gunungan dikirab dalam acara tersebut. “Satu gunungan berbentuk kerucut melambangkan laki-laki dan satu gunungan kerucut terbalik melambangkan perempuan. Keduanya terbuat dari ketela,” jelas Dimas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketela Pajang yang akan dibuat gunungan diklaim pernah terkenal hingga mancanegara pada masa silam.

Pada acara tersebut, dilakukan kirab dengan rute dari pasanggrahan induk patilasan Kasultanan Pajang menuju timur (Jalan Joko Tingkir) kemudian menuju ke utara (Jl Slamet Riyadi, Kartasura) dan berakhir di bekas Kasultanan Pajang.

Selain melakukan grebek, Suhadi mengungkapkan, juga dilakukan berbagai macam acara lain seperti wilujengan gantos langse agung pajang Kiai Beluk dan wayangan untuk memperingati kelahiran Joko Tingkir.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 September 2017

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah?

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Ketanggungan, Brebes menyiapkan 900 paket zakat fitrah atau sekitar 2,25 ton yang bakal dibagikan kepada masyarakat sekitar sekolah. ? Zakat fitrah tersebut dikumpulkan dari siswa dan guru MTs Negeri Ketanggungan selama bulan Ramadhan.akan dibagikan pada malam hari raya idhul fitri 1438 Hijriyah.?

“Sekitar 80 persen zakat dari siswa dan guru berhasil terkumpul,” tutur Kepala MTs Negeri Ketanggungan Maspau, di sela buka puasa bersama dan khotmil quran Pengurus OSIS di madrasah setempat, Ahad (18/6).

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Negeri Ketanggungan Siap Bagikan 900 Paket Zakat

Maspau menjelaskan, zakat dihimpun dari 1.082 siswa, namun yang masuk hanya sekitar 80 persen lebih dikarenakan siswa kelas 9 sudah lulus. Para siswa ada yang memberikan dalam bentuk beras 2,5 kilogram namun ada juga yang berbentuk uang.?

“Sudah menjadi tradisi, kalau malam hari raya madrasah kami membagi zakat kepada masyarakat hasil dari himpunan keluarga besar MTs N Ketanggungan,” ungkapnya.

Terkait kegiatan Pesantren Ramadhan pihaknya telah menggelar selama seminggu dengan bimbingan 10 guru pembimbing, Dalam pesantren tersebut para santri antara lain diberikan materi dasar dasar beribadah, ? tayamum, ? wudlu, ? doa harian, ? doa sholat wajib, tadarus, ? sholat duha. ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Juga dilakukan kajian kitab kuning yakni kitab safinatunnajah dan ? ahlakul banin,” paparnya.

Tadarus telah mengkhatamkan 30 juz dan para siswa yang berhasil khatam, diajak buka puasa bersama sekaligus Khotmil Quran.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Madrasah peraih penghargaan The Most Favorite Islamic School Of The Year (Sekolah Islam Favorit) dari Lembaga Indonesian Achievment Centre ini menjadi sekolah rujukan di wilayah Brebes bagian tengah. Berbagai prestasi telah baik itu di tingkat nasional maupun regional sehingga menjadi inspirasi dan informasi yang berkualitas bagi sekolah imbas di sekitarnya.

Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi siswa agar menjadi siswa yang cerdas, terampil, inovatif juga berakhlak. Madrasah ini juga memiliki kelas unggulan untuk mencetak siswa mampu bersaing di tingkat lanjutan dan masuk SMA unggulan.

“Kelas unggulan menggunakan ruang ber AC, karena proses belajarnya sampai sore.” pungkasnya.? (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 September 2017

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Setiap tahun, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama menggelar sidang itsbat dalam menentukan 1 Syawal. Namun demikian, dalam satu tahun belakangan, pemerintah melakukan sidang itsbat secara tertutup setelah 11 tahun digelar secara terbuka. Hal ini sangat disayangkan oleh PBNU karena sidang itsbat terbuka mempunyai manfaat besar bagi umat.

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Sidang Itsbat Kembali Digelar secara Terbuka

“Kita menyayangkan sekali dalam satu tahun ini sidang itsbat diadakan secara tertutup. Padahal manfaat sidang itsbat yang disiarkan langsung secara terbuka manfaatnya besar sekali, kami mengimbau kembali dilakukan secara terbuka,” ujar Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A Ghozali Masroeri dalam konferensi pers penentuan 1 Syawal 1436 H, Kamis (2/7) di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.?

Kiai Ghozali Masroeri menerangkan, paling tidak ada lima manfaat sidang itsbat terbuka, yaitu pertama, manfaat syiar di tengah hiruk-pikuknya informasi negatif di tengah masyarakat. Kedua, lanjutnya, silaturrhim antar ormas, baik secara siaran langsung melalui televisi atau saat sidang itsbat itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Ketiga, dengan sidang itsbat terbuka merupakan media pencerdasan umat. Jadi tak hanya pencerdasan di bidang Iptek tetapi juga pencerdasan di bidang pemgetahuan dalam menentukan awal bulan kepada umat. Keempat, mudah diakses oleh umat, cepat dan murah dengan catatan tidak bertele-tele,” paparnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kelima, lanjut Kiai Ghozali, mendorong adanya sikap percaya masyarakat terhadap metode-metode yang digunakan pemerintah. Artinya, imbuh Kiai sepuh ini, dengan manfaat sidang itsbat terbuka, umat lebih memilih mengikuti pemerintah setelah 11 tahun lalu umat selalu mendasarkan diri pada organisasinya masing-masing.

“Pemerintah jangan terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa perayaan Idul Fitri akan bersamaan. Karena kenyataannya jalan menuju penyatuan masih terlalu jauh,” jelas Kiai Ghozali. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Sayyid Ibrohim mempunyai nama asli Ibrahim Bin Ali bin Hasyim Baabu jika diurut ke atas, maka beliau adalah termasuk dari kalangan ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW) yang bermarga Babud Kharbasan sebuah marga dalam keturunan Rasulullah SAW, atau orang sering menyebutnya dengan Sayyid atau Habib yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai kedudukan tersendiri di mata umat islam.

Beliau dilahirkan pada tahun 1864M dari ayah yang bernama Ali bin Hasyim dan ibunya adalah Syarifah Khotijah di Kauman Wonosobo. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau setelah masyarakat mengetahui kealiman dari beliau serta termasuk dalam jajaran ahlul bait.Dilahirkan sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara semenjak kecil telah mendapat pendidikan ilmu agama dari orang tuanya dengan belajar mengaji.

Sayyid Ibrohim semenjak kecil sudah mulai dikenalkan dengan Ilmu al Quran,Fiqh,Tauhid dan cabang ilmu yang lainnya, termasuk ilmu Tasawuf (thoriqoh). Pada saat itu belum banyak dikenal model pendidikan yang lazim dilaksanakan saat ini. Model pendidikan yang dilaksanakan menggunakan system individual dengan cara sorogan sebagaimana dikenal di lembaga pendidikan Pesantren. Disamping mendapatkan Ilmu agama dari orang tuanya sendiri dan juga Ulama di daerah Wonosobo, berdasarkan suatu riwayat beliau juga belajar kepada guru dan sekaligus sahabatnya yaitu Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan.

Hal ini diketahui bahwa setiap beliau pergi ke daerah Pekalongan senantiasa didereake oleh KH.Hasbullah Bumen dengan berjalan menaiki kuda sambil menuntun kambing atau sapi yang akan dihadiahkan kepada guru dan sekaligus sahabatnya Habib Abdullah Bin Tholib al Atthos Pekalongan juga sayid Hasyim Bin Yahya.

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib yang menjadi Rais Syuriyah Wonosobo Pertama

Dengan berbekal ilmu yang telah didapatkan dari para guru gurunya, Sayyid Ibrohim kemudian mengajarkan agama islam dari satu tempat ke tempat yang lain. Aktifitas beliau disamping sebagai Ulama juga sebagai saudagar yang sangat terkenal dan mempunyai banyak sawah dan tanah yang kemudian dijadikannya tempat untuk ,mendirikan Masjid atau bangunan lainnya sebagai tempat pendidikan. Kesempatan berdagang itu pula digunakannya untuk menyampaikan dakwah islamiyah dan mengenalkan NU melalu jalur Thoriqoh yang beliau dapatkan dari ayahnya. Beliau mendapatkan sanad thoriqoh dari orang tuannya berupa Thoriqoh Alawiyah yang dikenal dengan thoriqoh yang tidak menggunakan tata cara yang khusus sebagaimana Thoriqoh yang lainnya.

Pendiri NU Cabang Wonosobo

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Semenjak awal berdirinya 31 Januari 1926, NU kemudian melalui para Ulama yang? berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah mendirikan berbagai cabang di daerah daerah sebagai perpanjangan dari HBNO (PBNU) yang berada di Surabaya. Melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda) yang dibentuk oleh HBNO, para Ulama yang tergabung di dalamnya mensosialisasikan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Hindia Belanda (baca Indonesia), diantaranya ke Jawa Tengah, Jawa Barat hingga daerah Menes Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga daerah Aceh.

Propaganda itu pada gilirannya sampai ke daerah Wonosobo. Karena ikatan persaudaraan yang telah dijalin oleh para Ulama masa dulu. Kehadiran NU di Wonosobo yang diprakarsai oleh para kyai diantaranya Sayid Ibrahim Kauman, KH.Hasbullah Bumen,KH.Abdullah Mawardi Wonosobo, Kyai Abu Jamroh, KH.Asyari Kalibeber, Sayyid Muhsin Kauman, dan beberapa tokoh yang lain seperti Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf dan yang lainnya disambut dengan mendirikan Jamiyah Nahdlatul Ulama Cabang Wonosobo.

Hal itu ditandai dengan penbentukan kepengurusan NU Cabang Wonosobo dengan Rois Syuriah? Sayyid Ibrohim dengan dibantu Sayyid Muhsin bin Ibrohim sebagai Katibnya. sedangkan dalam jajaran Tanfidziah, ditunjuk Atmodimejo sebagai ketua dan Abu Bakar Assegaf sebagai sekretaris. Belum ditemukan dokumen yang jelas tentang tanggal berdirinya NU di Wonosobo secara pasti, hanya beberapa keterangan yang perlu dikedepankan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Diantaranya Pertama, menurut Mbah Muntaha (Allahu yarham) memberi keterangan bahwa NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon pada tanggal 29 Agustus 1931, keterangan ini didukung oleh H.Salim Mukhtar (almarhum) mantan ketua Tanfidziah NU. Kedua, terdapat arsip kartu tanda Anggota NU (Kartanu) yang diberi nama Rosyidul Udhwiyah atas nama Bapak Saidun Desa Kreo Kejajar, yang ditanda tangani oleh Sayyid Ibrohim dan Sayyid Muhsin sudah bernomer 1526 pada tahun 1353H, sebagai indikasi telah banyaknya warga yang mengikuti Jamiyah Nahdlatul Ulama. Ketiga, terdapat keterangan dari para sesepuh NU bahwa pada saat pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrohim dan dihadiri oleh KH.Abdul Wahab Hasbullah sebagai HBNO, sedangkan sebagai pembaca al Quran pada acara itu adalah KH.Muntaha al Hafidz.

Kepiawaian dari para pendahulu NU Wonosobo terutama Sayyid Ibrohim yang tanpa lelah memperjuangkan NU ditengah tengah masyarakat pada gilirannya membuahkan hasil secara nyata hasil itu bisa dilihat dengan banyaknya masyarakat yang dengan suka rela menjadi anggota jamiyah ini,serta gerakan gerakan lainya yang mendukung program Jamiyah.

Dalam proses sosialisasi NU dan dakwah islamiyah, beliau senantiasa ditemani salah seorang putra beliau yaitu Muhsin Bin Ibrohim yang kelak menjadi katib Syuriah. Ketika remaja beliau Sayyid Muhsin setelah mendapatkan ilmu agama dari Abahnya, kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk belajar agama islam di Pondok Pesantren Tremas Pacitan, sekembalinya dari Tremas kemudian beliau melanjutkan studinya di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama kepada beberapa Ulama di Timur Tengah hingga berkeluarga.

Namun takdir berkata lain, ketika terjadi pengusiran besar-besaran di Arab Saudi terhadap golongan muslim sunny yang dianggap bertentangan dengan kaum Wahabi, atas pesan dari gurunya beliau agar kembali ke Indonesia untuk menyalamatkan agama dan ilmu beliau kembali ke tanah air. Dan akhirnya menetap di Wonosobo berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Sebagai katib Syuriah yang membantu tugas dari abahnya, pada saat awal dibentuknya NU beliau memprakarsai pembuatan gedung NU yang sekarang ditempati NU dan sekaligus dijadikan tempat untuk pembinaan generasi muda NU dengan mendirikan sekolah Arab. Hal ini dimaksudkan untuk ajang kaderiasi dan juga penanaman nilai nilai ahlussunanh wal jamaah semenjak dini. Sebagai salah seorang yang tertua ke delapan dari putra Sayyid Ibrohim dengan istri pertama, sayyid Muhsin menerima hirarki thoriqoh dari abahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Sayyid Ibrohim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga orang istri. dari tiga orang istri tersebut bukan berarti beliau menganut poligami. Namun tetap dengan satu istri, yaitu ketika istri yang pertama meninggal dunia, kemudian beliau beristri lagi. Dari keturunan beliau ini kemudian telah berkembang di berbagai daerah bahkan luar negeri yang senantiasa menyebarkan agama islam juga kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Salah satu dari karomah yang dimiliki oleh sayyid Ibrohim yang hingga saat ini jelas kelihatan dan diketahai masyarakat adalah Jamiyah Nahdlatul Ulama. Organisasi yang telah mengalami berbagai masa, yaitu masa penjajahan Belanda dilanjutkan zaman fasis Jepang, Kemerdekaan dan kemerdekaan serta masa orde lama dan orde baru serta masa reformasi, tetap eksis dalam berkhidmah kepada umat bangsa dan negara. Hal itu tentunya telah diawali oleh Sayyid Ibrohim dan para Ulama lainnya sebagai muassis (peletak dasar pertama) Jamiyah NU. dengan ketulusan dan kesabaran dibarengi dengan keikhlasan mengeluarkan harta bendanya untuk mewujudkan cita cita NU, telah membuat catatan tersendiri di hati umat Islam di Wonosobo. Disamping itu banyak terdapat Masjid yang dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh sayyid Ibrohim yang tidak hanya di satu tempat, namun diberbagai daerah.

Apa yang dilakukan oleh Sayyid Ibrohim adalah karena kecintaannya kepada para leluhur yang telah mengajarkan agama islam ke daerah Wonosobo (Mubaligh) serta menyelamatkan masyarakat yang jika dibiarkan akan terkena musibah yang lebih dahsyat.

NU dan Tarekat

Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah NU Wonosobo, Sayyid Ibrohim juga didaulat oleh gurunya untuk menjadi Kholifah (pemimpin) Thoriqoh Syathoriyah. Terdapat dua Thoriqoh yang ada pada diri beliau yaitu Alawiyah dan Shatoriyah. Jika Thoriqoh alawiyah merupakan Thoriqoh yang banyak dilakoni oleh kebanyakan para Habaib secara turun temurun. Maka Thoriqoh Shatoriyah yang dikembangkan beliau merupakan gabungan dari Thoriqoh yang sebelumnya dalam hal penerimaan.

Melalui jalur Thoriqoh inilah, beliau mengembangkan agama Islam di daerah Wonosobo dan sekitarnya serta mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk bergabung dalam Jamiyah Nahdlatul Ulama dalam perjalanan pengembaraan dakwahnya. Pengembaraan itu pada saatnya telah memunculkan banyak masyarakat yang mengerti dan bergabung dengan NU. Murid beliau kini telah banyak yang meninggal, namun kebanyakan dari para murid itu, telah mempunyai Jamaah yang banyak pula. Para murid sayyid Ibrohim tersebar ? di seluruh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung seperti Sukorejo dan Ngadirejo Kabupaten Kendal, sebagian Wilayah Batang dan juga daerah Banjarnegara serta Purworejo

Sadar akan pentingnya kaderisasi dan kepemimpinan, menjelang usia senja pada tahun 1940 beliau meletakkan jabatan Rois Syuriah Cabang Wonosobo melalui Musyawarah yang diadakan oleh pengurus Cabang saat itu. Kemudian ditunjuklah Kyai Abu Jamroh untuk dijadikan Rais Syuriah NU Wonosobo menggantikan Sayyid Ibrohim. Dalam kondisi fisik yang tidak seperti waktu muda sebelumnya. Sayyid Ibrohim tetap berjuang mengembangkan agama islam dan NU melalui jaman fasis Jepang. Sekalipun di bawah tekanan penjajah yang sangat kejam baik pada masa Jepang maupun masa kemerdekaan, eksistensi beliau sebagai pejuang tidak pernah surut. walaupun harus bergonta ganti tempat karena pengejaran dari Penjajah, semangat memperjuangkan islam dan memberi dorongan spiritual kepada para pejuang baik yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah dan kelaskaran yang lain tetap beliau berikan.

Ketika suasana Indonesia telah semakin mereda dengan kekalahan penjajah Belanda dari rakyat Indonesia. Sayyid Ibrohim kemudian kembali ke daerah Kauman Wonosobo dan menetap disana hingga wafatnya pada bulan Syaban tahun 1948. Beliau dimakamkan di makam keluarga Maron (belakang kampung Longkrang) Wonosobo. Khaul beliau dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Syaban dengan dihadiri oleh Jamaah dan keluarganya.

?

Ahmad Muzan

Direktur IHSF dan AP Fatanugraha Wonosobo

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 30 Agustus 2017

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks

Ujian dan cobaan bisa mimpa siapa saja bahkan ulama hebat sekalipun, bahkan Nabi sudah terbiasa dengan berbagai macam teror, ejekan, dan tuduhan-tuduhan hoaks. Nah, hoaks itu pun pernah dialami oleh ulama kelas top dunia, Imam Syafii rahimahullah. Hal naas tersebut hampir saja menghilangkan nyawa sang cucu Idris.

Imam Syafii atau Abu Abdillah Muhamad bin Idris (150 H / 767 M) merupakan sosok ulama yang baik budi pekertinya. Pun demikian, akhlak yang baik tidak selamannya memperoleh respon yang baik pula. Peristiwa tersebut dialami Imam Syafii saat berada di Yaman. Sudah jadi kebiasaan Imam Syafii, diamanpun selalu berusaha memberikan banyak wawasan keilmuan. Agenda perubahan tersebut terus memperoleh tanggapan positif dari banyak masyarakat dan akademisi, bahkan penguasa Yaman kala itu.

Terang saja, capaian dan prestasi selalu tidak melegakan dan membuat sebagian oknum tidak terima atas penghormatan yang diperoleh guru Imam Ahmad bin Hambal ini. Orang-orang yang tidak suka tersebut mengatur siasat dengan membuat laporan yang tidak benar kepada kholifah Harun ar-Rosyid. Mereka mengadukan, bahwa “murid Imam Malik ini sebagai pendukung Abdullah bin al-Mahdli al Mutsanna bin Husein putra Ali kw dan Fatimah ra, cucu rasulullah SAW (alawiyyin)”.

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Cerdas Imam Syafi’i Terbebas Eksekusi Fitnah Hoaks

Nah, berita hoaks tersebut berhasil mendorong Harun ar-Rosyid mengeluarkan surat perintah pengamanan dari segala sesuatu yang disinyalir sebagai gerakan separatis kepada pemimpin Yaman. Agar wali Yaman menyerahkan dan memboyoh kelopok alawiyin ke Bagdad. Karena di bawah kekuasaan kholifah, para sindikat separatis dan pemberontak tersebut ditangkap serta diborgol dan digiring ke istana Harun ar-Rasyid, termasuk murid dari murid Abu Hanifah ini pula alias Imam Syafii.

Setelah tiba di hadapan sang Kholifah, gerombolan yang yang didakwa pemberontak satu persatu dimasukkan di sebuah ruangan tertutup dan dipenggal kepalanya. Semua yang sudah terdata sebagai kelompok perongrong kekuasaan diekseskusi jagal istana. Melihat itu, Imam Syafii diselimuti rasa cemas dan khawatir atas nasib dirinya. Lantas Imam Syafii berdoa dengan membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? “ dan doa ini dibaca berulang-ulang sampai tiba giliran pelopor madzhab Syafiiyah ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dengan keadaan terbelenggu Imam Syafii diminta menghadap ke kholifah, lantas dengan tenang terjadi obrolan:

Imam Syafii: “Assalamu alaika Ya Amirol Mukminin ...wabarokatuh “ (tanpa warahmatullah).

Harun ar-Rasyid: “Wa alaikas salam warohmatullahi wa barokatuh ! kamu memulai sesuatu sunnah yang tidak ada perintahnya, sementara saya menjawab salam sebagaimana seharusnya. Dan heran, beraninya engkau mengatakan sesuatu tanpa perintah dariku?! (sergah Kholifah)”

Imam Syafii: “Sesungguhnya Allah telah berkata dalam kitabnya,?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? “ (An-Nur: 55).

Dan Dialah Dzat saat telah berjanji, pasti menepati, dan Dialah pula yang telah menempatkan (memberikan kedudukan) engkau di buminya, dan telah memberikan keamanan kepadaku saat aku khawatir, pada saat engaku menjawab salam ? dengan “wa alaika wa rohmatullah (dan atasmu keselamatan dan rohmat Allah)”, dan tentu Rahmat Allah telah menanungiku melalui anugerahmu (garansimu) wahai Amirul Mukminin ?”

Harun Ar-Rosyid: “Ok, Lantas apa alasanmu perihal telah nampak bahwa temanmu (Abdullah bin Hasan) telah sewenang-wenang (berontak) begitupun para pengikutnya, sementara engkau jadi pemimpinnya?!”

Imam Syafii: “Oh, begini! kalau maksud engkau hendak menginterogasi (mengkonfrmasi) saya, dan tentu saya akan bersikap adil dan jujur apa adanya,akan tetapi kalau keadaan saya terborgol dan terbelenggu begini, njjih susah untuk berbicara wahai Amirul Mukminin, pripun ? dan sampon khawatir kalau saja akan bersikap tidak fair dengan anda, So, saya akan bersikap tunduk dengan duduk sambil berlutut dihadapanmu!”

Mendengar permintaan tersebut Harun ar-Rasyid menoleh dan meminta putranya untuk melaksanakan permohonan yang diajukan oleh Imam Syafii. Dalam kondis berlutut, Imam Syafii berucap,?

“? ? ? ? ? ? ? “ (Al-Hujurat: 6)

Hanya Allah, bahwa apa yang telah orang tersebut (pendengki) telah memprovokasi anda dengan berita yang anda terima, ketahuliah bahwa kehormatanku ialah kehormatan islam dan keturunan (orang) biasa, cukup itu yang jadi perantara saya selama ini, sementara engkau lebih berhak mengambil adab-adab dalam kitab Allah. Karena anda adalah putra dari paman Rasulullah SAW yang pembela agama dan penjaga ajaran-ajaranya.

Pengakuan Imam Syafii membuat Harun ar-Rasyid bertepuk tangan seraya berkata : “agar supaya deritamu berkurang dan longgar jiwamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang akan merawat kerabatmu dengan hak-haknya begitupun ilmu yang kamu miliki. Sang Kholifah meminta Imam Syafii untuk duduk dengan nyaman. Lantas Harun ar-Rasyid bertanya:

Harun ar-Rasyid: Bagaimana Ilmumu (wawasanmu) wahai Syafii, terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, keduanya sesuatu hal yang pertama dan utama untuk dimengerti?”

Imam Syafii: “Kitab yang mana yang anda maksudkan wahai amirul mukminin, sementara banyak kitab yang telah diturunan oleh-Nya?” (timpal Syafii pede) (olahan penterjemah)

Harun ar-Rasyid: “Bagus! tentu saja, yang saya maksudkan adalah kitab yang telah diturunan kepada putra pamanku Muhammad SAW, wahai Syafii?” (jelas Harun)

Imam Syafii: “Ohh, begitu ya! Ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an sungguh banyak, apakah anda hendak tahu muhkam, mutasyabih, taqdim, ta’khir atau tentang nasikh, mansukh, dan lain-lain. ? Tanpa banyak basa-basi, Imam Syafii menerangkan dengan seksama wawasan tentang Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya, hingga seluruh yang hadir takjub dan terpesona (heboh).

Kemudian, Harun ar-Rasyid merubah ke pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai disiplin ilmu: falak, kedokteran, dan ilmu psigonomi (firasat) dan semacamnya. Dan pertanyaan apapun yang ditujukan padanya berhasil dijawab dengan baik dan maksimal oleh Imam Syafii hingga membuat Harun ar Rasyid (Kholifah) gembira dan bahagia.

Lantas, kholifah meminta nasehat untuknya. Imam Syafii pun memberikan nasihat kepada Harun ar-Rasyid, hingga membuat hati kholifah gemetar dan menangis tersedu-sedu. Meskipun para sebagian punggawa istana masih kurang terima, namun Imam Syafii tetap melanjtkan permohonan nasehat oleh Kholifah. Dan akhirnya, Imam Syafii terbebas dari segala tuduhan hoax dan fitnah dari orang-orang yang tidak suka kepadanya dan selamatlah dari eksekusi. ( ? ? ? ). Al-fatihah.

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hdayatullah Jakarta.

Kisah diambil dan diolah dari muqoddimah kitab “al-Umm” Cet. I, tashih oleh Muhammad Zuhri an-Najjar (Ulama Azhar), Kairo: Maktabah Kulliyat al-Azhariyah, 1961 M / 1381 H.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Berita, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Innalillahiwainnailahirajiun. Kabar duka datang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Salah seorang ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) H Akhsan Ustadzi meninggal dunia, Sabtu (11/3), pukul 03.00 WIB.

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka: Ketua PP Pergunu Akhsan Ustadzi Wafat

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor Ifan Haryanto membenarkan kabar ini. Menurutnya, kabar wafatnya mantan wasekjen PP Pergunu periode lalu itu cukup mendadak.

“Teman-teman (NU Bogor) juga sempat kaget. Beliau kecapekan,” katanya saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu pagi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekretaris PP Pergunu Suhardi menjelaskan, karena kecapekan almarhum sempat pingsan ketika sampai di rumah, hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Prima Medika.

“Saya Bersaksi selaku Sekretaris Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, beliau orang baik,” tuturnya di akun Facebook.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ucapan duka bertebaran di dunia maya datang dari rekan, mahasiswa, aktivis NU, dan berbagai Pimpinan Cabang Pergunu. Mereka mengungkapkan kenangan manis bersama Akhsan yang dinilai sebagai sosok yang supel, pekerja keras, dan penuh inspirasi. Akhsan Ustadzi juga tercatat sebagai kontributor Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah untuk wilayah Bogor dan sekitarnya sebelama beberapa tahun sebelum aktif di PP Pergunu. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Berita, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah