Senin, 03 Juli 2017

Presiden Akan Buka Munas-Konbes NU di Lombok

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Musyawarah Alim Ulama Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang bakal dihelat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, 23-25 November 2017, bakal dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo.

Presiden Akan Buka Munas-Konbes NU di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Akan Buka Munas-Konbes NU di Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Akan Buka Munas-Konbes NU di Lombok

Informasi tersebut disampaikan Wakil Ketua Panitia Munas-Konbes NU 2017 H Robikin Emhas dalam acara peluncuran perhelatan akbar tersebut di auditorium PBNU, Jakarta, Jumat (22/9) malam. Menurutnya, Presiden sudah menyampaikan konfirmasi akan memenuhi undangan.

Munas-Konbes NU kali ini mengusung tema “Memperkokoh Nilai-nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga”. Acara pembukaan forum tertinggi setelah Muktamar ini bakal digelar di Islamic Center Lombok, dilanjut dengan sidang-sidang komisi di lima pesantren.

Robikin menjelaskan, Munas merupakan forum yang membahas isu-isu penting keagamaan dan kebangsaan. Kegiatan ini akan diisi dengan bahtsul masail yang terdiri dari waqi’iyyah (mendiskusikan isu-isu aktual), qanuniyah (perundang-undangan), dan maudlu‘iyyah (konsep-konsep tematik).

Sedangkan Konbes menjadi forum konsolidasi internal NU, mendikusikan peraturan organisasi, dan penguatan program bagi struktur NU secara nasional.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Munas-Konbes NU 2017 juga didahului dengan serangkaian acara Pra-Munas-Konbes yang dipusatkan di tiga kota, yakni Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Lampung. “Semoga meningkatkan khidmah nu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Robikin.

Hadir dalam kesempatan itu Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais ‘Aam KH Miftahul Ahyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Ma’sum Mahfudz, dan segenap utusan dari lembaga dan badan otonom NU. (Mahbib)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 02 Juli 2017

Presiden Jokowi Hadiri Haul dan Khotmil Qur’an di Pesantren Kempek

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek, Cirebon, Jawa Barat mengadakan Haul dan Khotmil Qur’an di lapangan pesantren setempat pada Jumat (20/10).

Presiden Jokowi Hadiri Haul dan Khotmil Qur’an di Pesantren Kempek (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Hadiri Haul dan Khotmil Qur’an di Pesantren Kempek (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Hadiri Haul dan Khotmil Qur’an di Pesantren Kempek

Acara yang bertemakan Merawat Tradisi untuk Memperkokoh NKRI ini dihadiri Presiden Republik Indonesia (RI) H Joko Widodo, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan, dan sejumlah tokoh dan pejabat lainnya.

Pengasuh Pesantren KHAS Kempek KH Mustofa Aqil Siroj dalam sambutannya  mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi Dodo telah berkenan hadir di Kempek.

Ia menilai, Jokowi merupakan presiden yang sangat memperhatikan pesantren. Jokowi juga, katanya, memberi isyarat mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kiai Mustofa mengaku senang karena Presiden Jokowi berani membawa tahlil di istana negara. “Itu sejak zaman Nabi Adam belum pernah terjadi, Pak, tahlil di istana,” katanya diikuti tawa hadirin.

Keberanian Jokowi membuat Kiai Mustofa mengungkapkan perkataan KH Maimun Zubair. “Makanya Mbah Maimun Zubair mengatakan , dia itu bukan namanya ‘Jokowi’. (Dia) Ja’a Qowiyyun, datang orang kuat,” katanya. (Husni Sahal/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian Islam, Hikmah, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 30 Juni 2017

Umat Islam Jangan Ceroboh

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mengingatkan, umat Islam Indonesia untuk tetap memperhatikan sikap keberagamaannya. Kecerobohan dalam mengambil langkah, seperti aksi kekerasan, akan berdampak pada citra Islam di mata dunia.

Umat Islam Jangan Ceroboh (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Jangan Ceroboh (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Jangan Ceroboh

“Karena dengan kekerasan, apalagi terorisme, itu senjata ampuh untuk menambah amunisi orang lain untuk dipakai bagaimana membentuk opini secara global,” ujarnya beberapa waktu lalu di Kantor Islamic Conference of Islamic Scholars (ICIS) Jakarta.

Menurut Hasyim, umat Islam sekarang sedang mengalami disorientasi sehingga cenderung reaksioner dalam menanggapi persoalan. Oleh sejumlah kepentingan ini dimanfaatkan untuk merusak citra Islam secara umum.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sekarang kita mendengar pembakaran mesjid, pembakaran gereja. Itu tidak datang dengan sendirinya, sekalipun juga pelakunya teman-teman kita sendiri yang disorientasi, sehingga merupakan gol bunuh diri untuk Islam,” tambahnya.

Sekretaris Jendral ICIS ini berpandangan, bangsa Indonesia perlu tetap waspada dengan sejumlah kepentingan global, terutama Barat, yang hendak masuk di Indonesia. Peluang itu bisa menyusup dan menunggangi suasana keruh yang terjadi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tentulah mereka cara memainkannya tidak seperti negara-negara yang diktator, tetapi berselancar di atas sistem kondisi yang ada,” tuturnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Warta, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 29 Juni 2017

Majalah Bangkit

Majalah Bangkit adalah majalah bulanan yang diterbitkan Lajnah Ta’lif Wan-Nasyr Pengurus Wilayah NU DIY dalam kurun waktu 10 tahun. Tampil dengan semboyan diniyah-ilmiyah-ijtima’iyah, majalah ini diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 1979, dengan mengangkat tema ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Bangkit lahir ketika PWNU DIY digawangi oleh kepengurusan H. Saiful Mujab sebagai Ketua Tanfidziyah dan KH Ali Maksum sebagai Rais Syuriyah. 

Majalah Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Bangkit

Sampai dengan edisi ke-11 tahun kedua, majalah tersebut terbit dalam bentuk stensilan, dan baru pada edisi ke-12 (Jumadil Awal 1401 H/Maret 1981), majalah ini dicetak offset dengan ukuran bodi tetap 20 cm x 16 cm.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bangkit memiliki rubrik: Surat Pembaca, La’alla (jawaban masail atau surat pembaca), Ajaran (tuntunan dari Al-Qur’an, Al-Hadits dan Qaul Ulama), Pandangan (artikel bebas), Paket (tulisan tentang keorganisasian), Dari Muktamar (kajian keputusan Muktamar/Munas NU di bidang masail diniyah), Pesantren Kita, Yang Ringan (kisah atau ceritera ringan), dan belakangan karena aspirasi pembaca ditambah rubrik Minbaruna (khutbah jum’at/ied).

Sebelum dikemas sebagai majalah, tim pengelola Bangkit telah aktif mempublikasikan ceramah-ceramah KH Ali Maksum dan beberapa tokoh NU di DIY, seperti Prof. Dr. Tolchah Mansoer, dan sebagainya. 

Rapat Pengurus Wilayah NU DIY tanggal 18 Januari 1980 memutuskan menugaskan Drs. H. Aliy As’ad (Sekretaris III PWNU DIY) untuk melakukan ikhtiar peningkatan kualitas warga NU di DIY dengan menerbitkan selebaran tentang ajaran yang biasa dilakukan warga NU.  

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Keputusan tersebut dikuatkan lagi oleh PWNU DIY pada rapat tanggal 13 Mei 1980. Sampai edisi ke-4, Bangkit diasuh berdua oleh H. Aliy As’ad dan Haidar Idris.Karena mendapat respons positif dari banyak pihak terutama dari kalangan internal NU, publikasi tersebut ditingkatkan menjadi majalah yang terbit rutin setiap bulan. 

Seiring dengan kebutuhan, pengasuh Bangkit disempurnakan dengan hadirnya Drs. H. Atabik Ali, Moh. Jalaluddin, H. Imam Syafi’i, Syafi’i Thoyib, A. Zuhdi Muhdlor, Saiful Karim, Nawawi Sf, Abdul Muhaimin dan Ahmad Yasin Aqib. Pengurus Besar NU dalam suratnya kepada Pimpinan Redaksi Bangkit, Nomor : 212/Syur/III-’81 menganjurkan agar risalah Bangkit lebih diperluas peredarannya karena dipandang sangat penting untuk melestarikan organisasi NU dan ajaran Ahlussunnah.

Pada masa jayanya, tiras Bangkit mencapai 9.000 eksemplar dengan pembaca dan pelanggan yang tersebar di Jawa dan Sumatera, NTB, Kalimantan, Timor Timur, bahkan mencapai Malaysia, Saudi Arabia, dan Belanda.

Dengan bentuk mungil majalah Bangkit cukup menarik bagi pembacanya ibarat obat dahaga. Tidak sedikit Bangkit dibawa Khatib sebagai rujukan khutbah jum’at atau khutbah shalat ‘id serta da’i sebagai bahan ceramah. Bahkan di beberapa tempat terbentuk komunitas pembaca Bangkit mendiskusikan isi majalah tersebut. 

Majalah Bangkit terkenal dengan bahasanya yang khas pesantren, lugas dan kadang kocak. Dalam rangka kaderisasi, pemimpin redaksi  berikutnya adalah A. Zuhdi Muhdlor menggantikan Aliy As’ad. 

Seiring dengan penataan organisasi, beberapa tahun kemudian majalah Bangkit dialihkan pengelolaannya kepada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LKPSM) PWNU DIY dengan pemimpin redaksi M. Imam Aziz. Sejak itu BANGKIT mengganti motto dan warna tulisan, bukan lagi dirasah-ilmiyah-diniyah, melainkan popular yang memberikan advokasi kepada kaum marjinal. (A. Zuhdi Muhdlor)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah IMNU, Kyai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 27 Juni 2017

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Dalam rangka meringankan beban derita dan kepiluan etnis Rohingya, Myanmar, Polres  Jember  mengumpulkan dana dari jajaran internal Polres, Selasa (12/9). Acara yang bertitel Aksi Kemanusiaan Peduli Rohingya ini digelar di Mapolres Jember dengan mengundang Pengurus Baznas Jember.

Dana yang  terkumpul dadakan dari  kantong para polisi, termasuk Kapolres Jember Kusworo Wibowo mencapai Rp. 13.294.000. Dana itu langsung diserahkan kepada Ketua Baznas Jember HM Misbahus Salam.

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Kusworo menegaskan, pihaknya menaruh perhatian besar terhadap nasib dan penderitaan etnis Rophingya. Karena itu, ia mengaku terketuk hatinya untuk sebisa mungkin membantu meringankan beban berat etnis Rohignya.

"Saya ingin menginisiasi gerakan peduli kemanusiaan untuk etnis Rohingya, dan itu harus dimulai dari pribadi-pribadi di institusi yang saya pimpin," tukasnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, HM Misbahus Salam  menyampaikan terima kasih dan penghargaan untuk jajaran Polres Jember yang telah mengumpulkan sumbangan untuk entis Rohingya. Sumbangan tersebut, katanya, wajib disampaikan kepada yang berhak, yaitu etnis Rohingya.

"Namun kami masih belum tahu teknisnya, apakah sumbangan  itu lewat Kemensos ataukah Kemenlu, kami masih akan koordinasi dulu," jelasnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ia berharap agar gerakan peduli kemanusiaan yang digelar Polres Jember benar-benar bisa menginspirasi instansi lain, khususnya Polres yang berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok minoritas yang tengah dianiaya itu.

"Coba misalnya, setiap Polsek, bahkan Polres lain juga melakukan  gerakan serupa, berapa dana yang bisa disumbangkan untuk Rohingya," urainya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bina Ukhuwah, NU dan Muhammadiyah Gelar Jalan Sehat

Jember, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, ribuan warga yang berasal dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu MWC Nahdlatul Ulama (NU) dan PC Muhammadiyah Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember Jawa Timur, Ahad pagi (30/4) menggelar jalan-jalan sehat (JJS) bersama.

Bina Ukhuwah, NU dan Muhammadiyah Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bina Ukhuwah, NU dan Muhammadiyah Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bina Ukhuwah, NU dan Muhammadiyah Gelar Jalan Sehat

?

Di samping untuk membina silaturrahmi antarormas Islam terbesar di Indonesia yang selama ini berjalan baik, kegiatan yang diselenggarakan dua ormas Islam tingkat kecamatan yang tergabung dalam FUIT (Forum Ummat Islam Tanggul) ini juga untuk meperingati Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW 1438 H.

?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Tampak ribuan peserta dari pengurus, anggota, mulai dari anak-anak dan orang dewasa yang berasal dari Majelis Wakil Cabang (MWC) NU dan Pimpinan Cabang Muhammadiah di Kecamatan Tanggul pagi itu tumpah-ruah memadati jalan depan kantor Kecamatan Tanggul.

?

"Kegiatan ini dimaksudkan selain untuk mempererat tali persatuan dan ukhuwah islamiyah, juga sebagai ajang olahraga bersama. Namun yang ? terpenting adalah sebagai wahana dalam rangka untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ungkap ketua panitia HM Sukarno

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

?

Dalam JJS yang digelar sejauh 6 km itu, panitia menyediakan berbagai hadiah, mulai dari buku tulis hingga sepeda motor Beat. "Untuk kupon, gratis, tiiis, tis, karena semua hadiah berasal dari donatur di Tanggul.Dari 17.200 kupon yang kita sediakan, semuanya ludes," jelas pengusaha Roti MBO ini.?

?

Camat Tanggul Sukardi Muspika berharap momentum kebersamaan antarormas Islam ini dapat menangkal isu- isu negatif pada masyarakat seperti radikalisme, terorisme, dan sebagainya, "Karena pada dasarnya Islam adalah agama yang rahmatan lil alamiin," katanya.

?

Hadir dalam kegiatan itu Kapolres Jember, AKBP Kusworo Wibowo, Awan PCNU Jember HM Arums Sabil, Ka Dispora, Ketua PCNU Jember, Ketua PD Muhammadiyah Jember, Muspika Tanggul, Camat Sukardi, Kapolsek AKP Bambang S, Danramil, serta Warga NU dan Muhammadiyah Tanggul. (Khoerus/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sholawat, Meme Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot

Hasrat ingin segera minum air telaga begitu menggelora. Tenggorokan kering dialami seekor burung yang hidup pada zaman Nabi Sulaiman. Ia hanya berani bertengger di atas pepohonan hijau di sekitar danau. Burung itu tidak berani segera turun karena masih ada anak-anak kecil yang bermain-main di bawah sana, takut akan mendapat siksaan atau tertangkap oleh mereka.

Detik berganti detik. Waktu pun melaju kencang meninggalkan waktu sebelumnya hingga anak-anak meninggalkan tempat bermain mereka. Suasana menjadi terlihat sepi. Hanya ada orang tua berjenggot lebat yang tersisa.

Merasa kondisi tampak aman, burung ini pun mengepakkan kedua sayapnya. Ia ingin minum air untuk mengobati dahaga yang mendera. Tapi malang. Pria berjenggot mengincar, melempar batu tepat ke arah dirinya. Salah satu mata burung ini pun luka serius sehingga menjadikan ia buta.

Si Burung mengadu kepada Nabi Sulaiman. Sebagaimana kita ketahui, Nabi Sulaiman adalah Nabi yang diberi mujizat oleh Allah Taala berupa kemampuan berbicara dengan hewan apa saja.

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nabi Sulaiman, Burung, dan Pria Berjenggot

Mendapat laporan demikian, Nabi Sulaiman bertanya, "Lantas, apa perlu aku hukum orang tua itu supaya satu matanya juga menjadi buta sebagaimana ia membutakan matamu?"

"Tidak, Wahai Baginda Nabi."

"Lalu apa maumu?"

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Aku ingin jenggotnya dikerok saja," pinta burung tersebut.

"Lho, kenapa permintaanmu aneh begitu?"

"Iya, semula aku takut turun ke danau untuk minum sebab ada anak-anak yang masih kecil. Aku merasa wajar jika anak-anak bertindak semaunya padaku. Maklum, mereka masih kecil. Sedangkan orang ini adalah orang yang sudah berjenggot panjang pertanda bahwa ia tua. Namun jenggotnya tidak menampakkan bahwa ia orang yang sudah cukup umurnya. Berarti ia dengan anak kecil levelnya masih sama saja. Jenggot bukan cerminan dari pribadinya. Oleh karena itu, saya minta dikerok saja jenggotnya."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Cerita ini disarikan dari ceramah Habib Abdul Qadir Al Jilani dari Hadramaut, Yaman di Majlis Talim Al Amin, Semarang, (21/8/2017).

Kisah ini memberi pesan bahwa hendaknya tampilan yang baik diiringi dengan karakter yang baik pula. Cerita burung tersebut juga menjadi kritik bagi para orang dewasa yang tak sanggup menunjukkan kedewasaannya.

Pesan lain adalah bahwa simbol-simbol luar tidak otomatis merepresentasikan akhlak seseorang. Bisa jadi tampilan yang terlihat sunnah tak menunjukkan karakter yang sesuai dengan sunnah. Begitu juga sebaliknya. Wallahu alam. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Amalan Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah