Sabtu, 08 Oktober 2016

Bacaan Ringan Jauhkan Bayi dari Dosa Berat Zina

Menjadi orang tua bagi anak-anak sangat gampang. Ia boleh menunggu saja anak-anak keluar dari rahim istrinya atau memungut anak dari pangkuan panti asuhan dan rumah bersalin. Sedangkan menjadi orang tua yang berperan, susah-susah gampang. Dibilang gampang, kadang terkendala di tengah jalan. Dibilang susah, tetapi berjalan begitu saja.

Yang paling gampang, melantunkan lafal adzan di kuping kanan dan iqamah di telinga kiri bayi yang menjadi tugas orang tua pertama kali setelah anak lahir. Selain karena demikian perlakuan Rasulullah SAW terhadap Hasan dan Husein, tetapi juga lafal dua kalimat syahadat yang masuk ke lubang telinga bayi cukup melindunginya dari setan ibu-ibu yang suka ‘mengasuh’ bayi-bayi manusia. Ini jelas disabdakan Rasulullah SAW.

Bacaan Ringan Jauhkan Bayi dari Dosa Berat Zina (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacaan Ringan Jauhkan Bayi dari Dosa Berat Zina (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacaan Ringan Jauhkan Bayi dari Dosa Berat Zina

Setelah itu, para orang tua juga selayaknya mengantisipasi masa depan bayi sejak dini. Mereka dianjurkan membaca surah Al-Qadar di telinga kanan si bayi. Amalan ini berkhasiat menjauhkan si anak dari dosa besar zina sepanjang usianya kelak. Anggaplah sebagai pembuktian kasih sayang orang tua demi kepentingan masa depan bayi. Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyatus Syekh bin Ibrahim Al-Baijuri ala Syarhil Allamah ibni Qasim Al-Ghazzi menerangkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Dikutip dari Syekh Dairobi bahwa dianjurkan membaca surah Al-Qadar di lubang telinga kanan bayi. Karena, bayi mana saja yang diperlakukan demikian niscaya dilindungi Allah dari dosa zina seusia hidupnya. Kata Syekh Dairobi, ‘Demikianlah amalan yang kami terima dari para guru kami’.”

Adapun susahnya memainkan peran orang tua yang baik seperti dikeluhkan banyak orang tua, saking banyaknya tidak perlu dikatakan di sini. Salah satunya boleh disebut; yakni menanamkan nilai-nilai agama kepada si anak agar tidak terjerumus dalam segala bentuk dosa kecil atau besar, termasuk zina. Tetapi secara umum, orang tua perlu kesabaran lebih untuk terus mendampingi dan mendidik anak. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Daerah, Internasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 07 Oktober 2016

Ketua PWNU Jateng Jelaskan Tantangan Organisasi Jelang Satu Abad

Pekalongan, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abu Hapsin mengatakan, secara jama’ah NU sudah cukup kuat, meskipun tidak sedikit kekurangan di segala lini di semua tingkatakan kepengurusan. Hal itu menjadi tugas bersama untuk melakukan pembenahan agar Jam’iyah NU semakin kuat.

Di era kebangkitan kedua menjelang satu abad Nahdlatul Ulama (NU), tantangan demi tantangan semakin berat dan upaya dari berbagai pihak untuk melakukan pelemahan telah nyata kita rasakan. Maka melalui konfercab NU Kota Pekalongan saya berpesan agar visi memperkuat jam’iyah dapat dilaksanakan.

Ketua PWNU Jateng Jelaskan Tantangan Organisasi Jelang Satu Abad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jateng Jelaskan Tantangan Organisasi Jelang Satu Abad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jateng Jelaskan Tantangan Organisasi Jelang Satu Abad

Hal tersebut diutarakan Abu Hapsin di hadapan ratusan peserta Konferensi Cabang (Konfercab) ke-17 NU Kota Pekalongan yang digelar di Gedung Aswaja, Ahad (29/10). 

Dikatakan, kita ingin pada kebangkitan kedua NU ini, seluruh elemen lembaga dan badan otonom satu langkah untuk menata gerakan ekonomi, kesehatan, pengkaderan, dakwah hingga pendidikan dapat dirasakan kehadiran oleh warga. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pasalnya, jika pada era kebangkitan pertama yakni di awal berdirinya NU tahun 1926, NU telah berdiri di garda terdepan dalam membela negara, sehingga NU dapat berjalan seiring dengan pemerintah dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“NU bisa berjalan seiring dengan pemerintah, karena memposisikan sebagai organisasi penyeimbang untuk keutuhan NKRI, hal ini berbeda dengan negara negara Timur Tengah yang meski memiliki banyak ulama yang berkualitas, akan tetapi tidak diorganisir dengan baik seperti NU, maka dengan mudahnya diporakporandakan,” ujar Abu Hapsin yang juga Disen UIN Walisongo Semarang.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Konfercab yang dihadiri oleh 4 MWC dan 47 Ranting NU akan membahas beberapa masalah dalam bidang keagamaan (masail diniyah), program kerja, organisasi dan rekomendasi akan berlangsung sampai malam hari dengan agenda terakhir pemilihan Rais dan Ketua PCNU Kota Pekalongan untuk masa khidmah 2017-2022.

Beberapa nama yang muncul untuk menjadi Rais Syuriyah antara lain KH Zaenuri Zainal Mustofa, KH Abdul Fatah Yasran, KH Zakaria Ansor dan KH Romadlon Abdul Jalil. Sedangkan untuk Ketua Tanfidziyah juga muncul beberapa nama antara lain KH Romadlon Abdul Jali, H Salahudin, H Tubagus Surur dan H Muhtarom. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, AlaNu, Nasional Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 03 Oktober 2016

Pimpinan Pusat IPNU-IPPNU Bersumpah Jalankan Amanat

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Seluruh jajaran Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) resmi dikukuhkan di Jakarta, Senin (18/3) malam. Mereka bersumpah akan melaksanakan amanat organisasi dengan sebaik-baiknya.

Prosesi pelantikan dan sumpah jabatan dipandu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Seluruh pengurus IPNU-IPPNU periode 2012-2015 ini berkomitmen patuh pada asas organisasi, serta akan menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan pelajar NU.

Pimpinan Pusat IPNU-IPPNU Bersumpah Jalankan Amanat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan Pusat IPNU-IPPNU Bersumpah Jalankan Amanat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan Pusat IPNU-IPPNU Bersumpah Jalankan Amanat

Ketua PP IPNU yang baru, Khairul Anam HS, mengatakan, pihaknya optimis masa depan IPNU akan semakin cerah. Dukungan banyak pihak dan proses orientasi untuk pengurus beberapa waktu lalu cukup untuk menyolidkan para pimpinan IPNU.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

”Tak ada lagi lambung yang dekat dengan kasur, tak ada lagi tidur. Yang ada adalah kerja keras untuk kemajuan IPNU di masa datang,” ujanrya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya Ketua PP IPPNU Farida Farichah mengemukakan beberapa tantangan pelajar NU menghadapi era globalisasi. Menurut dia, keterbukaan informasi memang menjanjikan banyak kemudahan di bidang akses pengetahuan dan kesuksesan.

”Namun dampak negatif akan selalu mengiringi proses yang serba cepat dan mudah ini,” tuturnya.

Farida juga menggaungkan kembali sejumlah rekomendasi hasil Kongres di Palembang, Sumatera Selatan, Desember 2012 lalu. Di antaranya, peninjauan kembali oleh Kemendiknas terhadap Ujian Nasional dalam sistem kelulusan pelajar, dihapusnya tayangan film yang tidak mendidik, serta beberapa penyelesaian isu lain seperti narkoba, radikalisme, dan seks bebas.

”Melalui IPPNU kami akan mengawal pelajar di negeri ini,” tegasnya.

Dalam acara yang sedianya digelar awal Marert lalu ini, hadir pula Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, utusan? Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan sejumlah mantan pengurus dan ketua umum IPNU dan IPPNU.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Nasional, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 25 September 2016

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

Gaza, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pembentukan pemerintahan nasional bersatu di Palestina masih tersendat-sendat. Pertemuan antara Presiden Mahmud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyah untuk membahas susunan pemerintahan koalisi di Gaza, sejak Ahad (4/3) malam hingga dinihari, tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.

Kedua pemimpin Palestina itu menyelesaikan pertemuan mereka lewat tengah malam, tanpa memberikan komentar pada para wartawan yang sudah menunggu. Juru bicara kabinet Hamas, Ghazi Hamad hanya mengatakan, pembahasan belum selesai dan masih akan dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertemuan Hamas-Fatah Belum Ada Kemajuan

"Mereka berharap sudah bisa mengumumkan pemerintahan koalisi di akhir tenggat waktu yang diberikan pada Haniyah, yang akan berakhir dua minggu lagi," kata Hamad.

Pertemuan antara Abbas dan Haniyah di Gaza berlangsung selama tiga jam. Sebelum pertemuan, juru bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh mengatakan, tugas untuk menentukan posisi-posisi dalam pemerintahan koalisi yang dibebankan pada Haniyah, harus selesai dalam satu minggu ini.

"Pemerintahan berjalan dengan baik. Tidak ada masalah serius dalam konsultasi itu," tukas Rudeineh.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Abbas dan Haniyah rencananya akan melanjutkan pertemuan di Gaza sampai hari Selasa besok untuk membahas sejumlah persoalan yang masih belum disepakati oleh kedua belah pihak. Salah satunya adalah penentuan orang yang akan menjabat sebagai menteri dalam negeri. Hamas sudah mengajukan dua calon untuk posisi itu, tapi keduanya ditolak oleh Abbas. Posisi menteri dalam negeri adalah salah satu posisi strategis dalam kabinet, karena menteri dalam negerilah yang akan memegang kontrol seluruh aparat keamanan di Palestina.

Haniyah dan Abbas juga belum sepakat tentang siapa yang akan memegang jabatan deputi perdana menteri. Tapi tampaknya, posisi itu masih akan dipegang oleh Salam Fayyad karena dianggap cukup moderat dan diharapkan bisa membantu melonggarkan embargo finansial negara-negara Barat terhadap pemerintahan Hamas di Palestina.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penunjukkan Ziad Abu Amar sebagai Menteri Luar Negeri, juga masih menjadi perdebatan antara Hamas dan Fatah. Hamas menginginkan penunjukkan Amar adalah bagian penunjukkan menteri-menteri dari kalangan independen, sementara Fatah menginginkan sebaliknya. (era/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Tegal, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 22 September 2016

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

Oleh Nine Adien Maulana

Ramadhan sudah berlalu. Umat Islam merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1438 H. Selama masa hari raya ini ucapan selamat (tahniah) yang paling populer yang sering disampaikan oleh banyak orang adalah minal ‘aaidiin wal faaiziin dan mohon maaf lahir batin. Media massa baik cetak maupun elektronik pun berperan besar mengampanyekan ucapan selamat ini.

Saya penasaran fenomena itu, sehingga tertarik untuk melakukan survey sederhana. Setiap ada murid yang mengucapkan minal ‘aaidiin wal faaiziin kepada saya, saya pun bertanya, “Apa maksudnya?”. Mereka pun menjawab, ”Mohon maaf lahir batin, Pak!”. Saya pun menyimpulkan bahwa selama ini ungkapan minal ‘aaidiin wal faaiziin dikira bermakna mohon maaf lahir batin.

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Kaprah Ucapan Selamat Idul Fitri

Bagi orang yang mengerti bahasa Arab, walaupun hanya sedikit, pasti akan mengatakan bahwa ini adalah tidak tepat. Dalam hal ini saya menganalogikannya seperti anak-anak SD yang baru saja belajar bahasa Inggris yang tahunya ada tulisan welcome di keset (alas yang difungsikan untuk membersihkan kotoran pada alas kaki), maka hal itu melekat dalam ingatan mereka bahwa bahasa Inggris keset adalah welcome. Karena kesalahan ini dilakukan secara massif, maka inilah yang dinamakan salah kaprah, salah tapi dilakukan banyak orang sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagaimana seharusnya yang ucapan tahni’ah yang tepat? Jika kita membaca literature, memang kita menemukan tradisi di kalangan para sahabat Nabi, yakni mengucapkan selamat (tahni’ah) kepada sesama umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan puasa Ramadlan. Bunyi bacaan selamatnya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, namun ada pula yang menambahnya “taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Ada pula yang masih menambahnya “wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair”.

Jika ucapan selamat itu dirangkai memang menjadi sangat panjang, “taqabbalallaahi minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair” Artinya adalah “semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadlan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu senantia dalam kebaikan.”

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari ucapan selamat yang panjang inilah, kita bisa lacak asal-usul ucapan minal “aaidiin wal faaiziin” yang artinya termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Dari sini pula kita sudah tahu kan bahwa ucapan tahniah ini tidak ada sangkut pautnya dengan mohon maaf lahir batin.

Sayangnya, ucapan tahniah yang panjang itu, yang juga bisa bermakna do’a itu, sampai pada kita mengalami penyusutan atau sengaja diringkas. Lebih parahnya meringkasnya juga kurang pas. Ibaratnya kita menyampaikan informasi tentang kuda, namun yang kita jelaskan adalah ekornya. Kita potong ekor kuda itu, lalu kita bawa potongan ekor itu kemudian kita sampaikan kepada semua orang bahwa ini adalah kuda. Kita merasa bahwa apa yang telah kita sampaikan adalah benar, sedangkan orang telah mengetahui kuda pasti akan tertawa dengan penjelasan kita tentang kuda itu.

Secara sederhana, kita tahu bahwa “aaidiin wal faaiziin” bukanlah kalimat yang sempurna (al-jumlatul mufiidah). Pasti mucul di benak kita lho kok tiba-tiba muncul “termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang (minal ‘aaidin wal faizin). Pasti ia tidak berdiri sendiri. Bacaan ini pasti terikat atau berhubungan dengan bacaan sebelumnya.

Dengan agak sedikit "memaksa" kita sebenarnya bisa berdalih bahwa bacaan itu bermakna do’a, sehingga boleh diucapkan dengan ungkapan singkat atau ada sesuatu yang disembunyikan (mahdzuf), namun untuk menterjemahkannya kita perlu memunculkan makna yang disembunyikan bacaannya itu, agar mudah dipahami. Dengan alasan ini kita bisa menterjemahkan “minal ‘aaidin wal faizin” dengan “(semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang.

Kalau kita mau meniru apa yang dilakukan sahabat Nabi, sebenarnya yang paling tepat kita ucapkan adalah bacaan selamat panjang itu. Kalaupun itu telalu panjang, kita bisa menyingkatnya dengan bacaan yang paling populer di kalangan mereka, yaitu “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, bukan mengucapkan minal ‘aaidin wal faizin."

Alasannya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum” adalah bacaan yang telah sempurna struktur? kalimatnya. Selain itu, bacaan ini adalah paling populer di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, dibadingkan bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Bahkan, saya menduga bacaan “minal ‘aaidiin wal faaiziin” tidak populer, untuk tidak mengatakan tidak pernah ada, di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa kita lacak pada kitab Fathul Bari karya Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau mengatakan dalam kitabnya itu, “Telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum.” (Fathul Bari, juz II, halaman 446).

Bagaimana fakta di Indonesia? Ternyata yang populer adalah “minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Inilah uniknya orang Islam di Indonesia. Mereka tidak menerima tradisi pengucapan tahniah ini apa adanya. Mereka malah mengkreasi tradisi baru ala Indonesia, walaupun kemudian menjadi salah kaprah.

Buktinya, “minal ‘aaidiin wal faaiziin” lebih populer dan dikira bermakna mohon maaf lahir batin. Selain itu mereka mengkreasi tradisi Halal Bi Halal yang tidak ada rujukannya secara khusus dari Islam atau dari tradisi Arab.

Inilah masalah budaya. Selama ia mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syari’at, marilah bersikap moderat. Sikap moderat ternyata juga ditampilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah saat ditanya tentang ucapan selamat di hari raya. Beliau menjawab, “Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan, taqabbalallaahu minnaa wa minkum dan a’aadahullaahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad, dan lain lain. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmuu’ Fatawa (XXIV/253)

Meskipun saya lebih sependapat ucapan tahni’ah dengan “taqabbalallahu minnaa wa minkum daripada “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, namun saya tidak bisa memaksakan kecenderungan saya ini kepada siapa pun, karena memang ini adalah masalah budaya. Dilakukan boleh tidak dilakukan pun juga boleh. Namun, jika anda lebih suka dengan “minal ‘aaidiin wal faaiziin”, kemudian mengartikannya dengan mohon maaf lahir batin, maka jelas saya tidak setuju. Ini jelas salah. Kalau tidak dibetulkan akan menjadi kaprah. Oleh karena itu, saya harus memaksa Anda untuk tidak mengartikan demikian agar tidak salah kaprah.

*) Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk, Megaluh, Kabupaten Jombang.Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, Olahraga, News Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 21 September 2016

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mendikbud Anies Baswedan akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun untuk mengikuti setiap ajang lomba yang diselenggarakan oleh pihaknya. Selain madrasah dan sekolah kedinasan, Kemdikbud juga akan mengakomodir sekolah dari jalur pendidikan nonformal dan informal, seperti sekolah alam dan sekolah rumah.

“Kami mengapresiasi niatan tersebut, karena menurut kami, segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas peserta didik, tidak relevan lagi mempermasalahkan hal-hal teknis,” ujar Sekretaris PP LP Ma’arif NU, Zamzami, SAg, MSi saat dihubungi lewat telepon, Jum’at (13/3) di Jakarta.

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Seperti, tambah Zamzami, kasus ‘pembegalan’ madrasah baru-baru ini di ajang OSN, itukan teknis, karena selama ini ajang-ajang kompetitif saling terpisah sejak tahun 2009 antara Kemenag (KSM) dan Kemdikbud (OSN). Oleh karena itu, kata dia, kualitas peserta didik melalui lomba-lomba kompetitif jangan dipilah-pilah seperti itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sesungguhnya kami sangat menyayangkan langkah Kemenag untuk mengadakan ajang sendiri, karena kalau satu sama lain menyelenggarakan sendiri-sendiri, buat apa kami menyelenggarakan pendidikan nasional,” ucapnya.

Perlu diketahui, tambahnya, tahun 2002, kompetisi seperti OSN itu diikuti oleh seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun. “Kami protes kasus ‘pembegalan’ MI di Semarang itu atas dasar kepentingan peserta didik, meskipun kami tahu Kemenag dan Kemdikbud sebetulnya mempunyai ajang masing-masing,” terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti diinformasikan, tahun 2015 ini, Kemdikbud akan menyelenggarakan berbagai macam ajang kompetisi dan festival, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN), Kuis Kihajar (Kita Harus Belajar), Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari), Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional (LKJS), Lomba Cipta Puisi, Cipta Lagu, Melukis, Membatik, dan lain sebagainya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 18 September 2016

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengisi akhir Ramadhan 1436 H dengan membagikan takjil gratis di depan eks kantor Pemkab Probolinggo di Kecamatan Dringu, Probolinggo, Jawa Timur.

Bagi-bagi takjil gratis ini melibatkan para pengurus PC Muslimat NU, PC Fatayat NU, PC GP Ansor, PC IPNU, PC IPPNU Kabupaten Probolinggo serta pengurus Persit Kartika Candra Kirana Cabang XXXIV Kodim 0820 Probolinggo dan Bhayangkari Polres Probolinggo.

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Pembagian takjil gratis ini disambut dengan sangat antusias oleh para pengendara jalan sekaligus pemudik yang melintas di area Jalan Raya Dringu Kabupaten Probolinggo. Bahkan sebanyak 500 paket takjil ludes dalam waktu tidak sampai lima menit.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagi-bagi takjil berlangsung Ahad (3/6) sore, dimulai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 17.00. “Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengisi waktu diakhir bulan suci Ramadhan sebagai upaya berbagi kepada sesama yang sedang menjalankan ibadah puasa,” kata Tantri.

Tantri berpesan, agar masyarakat yang hendak merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah bisa menyambutnya dengan suka cita. Namun, tetap harus dengan cara sederhana. Misalnya, tidak konsumtif saat menyambut hari raya. Hendaknya uangnya dipakai untuk keperluan beribadah, bukan keperluan yang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tetap harus memprioritaskan kepentingan beribadah. Misalnya untuk beli sajadah atau rukuh senilai Rp500 ribu terasa berat sekali. Namun, untuk beli baju Lebaran, walaupun harganya Rp750 ribu tidak masalah untuk dibeli,” pungkasnya.

Selain di Kecamatan Dringu, pembagian takjil gratis juga dilakukan di depan Alun-alun Kota Kraksaan dengan melibat PC GP Ansor Kota Kraksaan. Disini disediakan sedikitnya 250 paket takjil gratis bagi pengendara jalan yang melintas di Jalan Raya Panglima Sudirman Kota Kraksaan. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah