Rabu, 21 September 2016

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Mendikbud Anies Baswedan akan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun untuk mengikuti setiap ajang lomba yang diselenggarakan oleh pihaknya. Selain madrasah dan sekolah kedinasan, Kemdikbud juga akan mengakomodir sekolah dari jalur pendidikan nonformal dan informal, seperti sekolah alam dan sekolah rumah.

“Kami mengapresiasi niatan tersebut, karena menurut kami, segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas peserta didik, tidak relevan lagi mempermasalahkan hal-hal teknis,” ujar Sekretaris PP LP Ma’arif NU, Zamzami, SAg, MSi saat dihubungi lewat telepon, Jum’at (13/3) di Jakarta.

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendikbud Bakal Sertakan Madrasah di Tiap Ajangnya, Ini Kata Ma’arif NU

Seperti, tambah Zamzami, kasus ‘pembegalan’ madrasah baru-baru ini di ajang OSN, itukan teknis, karena selama ini ajang-ajang kompetitif saling terpisah sejak tahun 2009 antara Kemenag (KSM) dan Kemdikbud (OSN). Oleh karena itu, kata dia, kualitas peserta didik melalui lomba-lomba kompetitif jangan dipilah-pilah seperti itu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Sesungguhnya kami sangat menyayangkan langkah Kemenag untuk mengadakan ajang sendiri, karena kalau satu sama lain menyelenggarakan sendiri-sendiri, buat apa kami menyelenggarakan pendidikan nasional,” ucapnya.

Perlu diketahui, tambahnya, tahun 2002, kompetisi seperti OSN itu diikuti oleh seluruh peserta didik dari jalur pendidikan manapun. “Kami protes kasus ‘pembegalan’ MI di Semarang itu atas dasar kepentingan peserta didik, meskipun kami tahu Kemenag dan Kemdikbud sebetulnya mempunyai ajang masing-masing,” terangnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Seperti diinformasikan, tahun 2015 ini, Kemdikbud akan menyelenggarakan berbagai macam ajang kompetisi dan festival, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional (LCSPN), Kuis Kihajar (Kita Harus Belajar), Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari), Lomba Karya Jurnalistik Siswa Nasional (LKJS), Lomba Cipta Puisi, Cipta Lagu, Melukis, Membatik, dan lain sebagainya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Internasional, Pesantren Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 18 September 2016

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bupati Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengisi akhir Ramadhan 1436 H dengan membagikan takjil gratis di depan eks kantor Pemkab Probolinggo di Kecamatan Dringu, Probolinggo, Jawa Timur.

Bagi-bagi takjil gratis ini melibatkan para pengurus PC Muslimat NU, PC Fatayat NU, PC GP Ansor, PC IPNU, PC IPPNU Kabupaten Probolinggo serta pengurus Persit Kartika Candra Kirana Cabang XXXIV Kodim 0820 Probolinggo dan Bhayangkari Polres Probolinggo.

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan Takjil Gratis, Ajak Warga Tidak Konsumtif

Pembagian takjil gratis ini disambut dengan sangat antusias oleh para pengendara jalan sekaligus pemudik yang melintas di area Jalan Raya Dringu Kabupaten Probolinggo. Bahkan sebanyak 500 paket takjil ludes dalam waktu tidak sampai lima menit.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Bagi-bagi takjil berlangsung Ahad (3/6) sore, dimulai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 17.00. “Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mengisi waktu diakhir bulan suci Ramadhan sebagai upaya berbagi kepada sesama yang sedang menjalankan ibadah puasa,” kata Tantri.

Tantri berpesan, agar masyarakat yang hendak merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah bisa menyambutnya dengan suka cita. Namun, tetap harus dengan cara sederhana. Misalnya, tidak konsumtif saat menyambut hari raya. Hendaknya uangnya dipakai untuk keperluan beribadah, bukan keperluan yang lain.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Tetap harus memprioritaskan kepentingan beribadah. Misalnya untuk beli sajadah atau rukuh senilai Rp500 ribu terasa berat sekali. Namun, untuk beli baju Lebaran, walaupun harganya Rp750 ribu tidak masalah untuk dibeli,” pungkasnya.

Selain di Kecamatan Dringu, pembagian takjil gratis juga dilakukan di depan Alun-alun Kota Kraksaan dengan melibat PC GP Ansor Kota Kraksaan. Disini disediakan sedikitnya 250 paket takjil gratis bagi pengendara jalan yang melintas di Jalan Raya Panglima Sudirman Kota Kraksaan. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Budaya Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 15 September 2016

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sejarawan NU, KH Agus Sunyoto menegaskan, bahwa kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad 22 Oktober yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Dia juga menerangkan, istilah santri memang asli dari Indonesia, berbeda dengan istilah siswa yang berasal dari Belanda.

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Hari Santri? Ini Penjelasan Agus Sunyoto

Jika dirunut sejarahnya, kata Ketua PP Lesbumi NU ini, awalnya Indonesia dianggap negara boneka Jepang oleh Negara sekutu karena kemerdekaannya dinilai pemberian dari Nippon ini. Hal ini bisa dijelaskan, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta menyambangi Jepang untuk bertemu dengan Kaisar.

“Rapat besar di Lapangan Ikada juga dijaga ketat oleh tentara Jepang. Belum lagi naskah teks Proklamasi yang diketik oleh orang berkebangsaan Jepang, Laksamana Meida,” terang Agus saat berkunjung ke Redaksi Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Rabu (14/10) di Jakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Setelah Jepang kalah perang dengan Tentara sekutu atau NICA, lanjutnya, mereka berusaha kembali menjajah Indonesia dalam agresi militer kedua. Agus menjelaskan, ternyata tentara NICA dikagetkan oleh perlawanan orang-orang pribumi dari kalangan santri.?

“Dari sinilah mereka berpikir, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan karena pemberian dari bangsa Jepang, melainkan betul-betul didukung oleh seluruh rakyat Indonesia,” jelas penulis buku Atlas Wali Songo ini.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebab itu, menurut Agus, penetapan Hari Santri Nasional bukan hanya sebagai agenda kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia yang ketika itu digerakkan oleh Resolusi Jihad, yakni fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu.

Dalam hal ini, Presiden Jokowi sendiri telah menyetujui untuk menetapkan tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional melalui Keppres yang akan diterbitkan. Bahkan menurut informasi yang telah diberitakan, Jokowi akan menggelar acara yang cukup besar di Jakarta untuk menyambut Hari Santri ini. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail, Humor Islam, Quote Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 13 September 2016

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU

Wonosobo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pagi-pagi sekali laki-laki berumur 54 tahun itu rutin mebuka jendela-jendela di kantor PCNU yang terletak di Kauman Selatan Wonosobo tersebut. Tiap waktu, saat melihat gedung berlantai dua itu kotor dan ada sampah, secara refleks ia akan segera menyapu dan membersihkan sampah yang mengotori ruangan. Dia pula yang senantiasa menyiapkan karpet beserta perlengkapan lainnya setiap kali di kantor NU tersebut hendak digelar suatu acara.? ?

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pak Slamet NU, 45 Tahun Mengabdi di Gedung PCNU

Orang-orang yang sudah mengenalnya kerap meyebutnya dengan nama Pak Slamet NU. Di samping sebagai penjaga atau penunggu gedung PCNU itu, bagi pria yang tampak bersahaja itu gedung PCNU tersebut seakan telah menjadi rumahnya. Setiap kali ada perhelatan acara NU, atau ada pengajian di pesantren NU, Pak Slamet selalu hadir di acara tersebut. Tak hanya itu memori di ponselnya pun dipenuhi lagu-lagu dan film khas NU.

Ketika Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah menanyakan punya daftar lagu dan film apa saja di HP yang dipegangnya, ia menunjukkan koleksi syiir-syiir Gus Dur yang paling sering ia putar di kala waktu senggang sendirian. Ada pula lagu-lagu solawat Habib Syekh meski tak sesering syiir Gus Dur dalam memutarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selain syiir Tanpo Watonnya Gus Dur, HP Pak Slamet juga menyimpan film "Sang Kiai". Film biografi perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari itu pula yang sedang diputar ketika penulis menemuinya pagi itu, Rabu (17/2) di gedung kantor PCNU Wonosobo. Ia menyatakan tidak bosan-bosannya menikmati syiir Tanpo Waton Gus Dur dan film "Sang Kiai" walau? barangkali sudah ratusan kali didengar dan tonton.

Lelaki kelahiran Sirandu Wonosobo tersebut mengaku berkhidmah dikantor PCNU sejak masih sangat remaja, tepatnya mulai tahun 1971 dan masih istikomah sampai sekarang. Pada tahun itu (1971), menurutnya gedung kantor PCNU belum berdiri seperti sekarang, tapi masih di rumahnya Kiai Hakim Idris, saudaranya KH Habibullah Idris, tokoh kiai Wonosobo. Di rumah itulah, menurut pria yang penuh kesederhanaan tersebut,? kala itu yang menjadi markas dan pusat aktifitas ke NU an untuk daerah Wonosobo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Mengapa Pak Slamet bersedia mendedikasikan dirinya di gedung PCNU tersebut selama 45 tahun bahkan masih bertahan sampai kini. Ia mengakui sendiri karena kecintaan pada NU serta rasa memiliki NU yang telah tertanam sejak kecillah yang membuatnya rela dan ikhlas mengabdikan tenaga dan waktunya untuk NU sesuai kadar kapasitas dan kemampuannya, yang ia ejawantahkan dengan merawat, menjaga dan menunggui gedung kantor PCNU Wonososbo. (M. Haromain/Abdullah Alawi)? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Kajian, Makam, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 10 September 2016

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah

Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya. ?

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh? belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 07 September 2016

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT

Makassar, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Universitas Islam Makassar (UIM) kedatangan tim asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Jumat 20 Februari 2015 bertempat di Aula gedung C UIM, rombongan tim asesor di sambut oleh Rektor UIM Dr. Majdah Agus AN didampingi seluruh pejabat struktural dan beberapa mahasiswa UIM.

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT (Sumber Gambar : Nu Online)
Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT (Sumber Gambar : Nu Online)

Majdah Persentasi Capaian UIM di Hadapan Asesor BAN-PT

Tim Asesor terdiri dari Prof. Dr. Bambang Rusdiarso dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Sekartedjo dari Institut Teknologi Surabaya, Prof. Dr. Bernadette Robiani dari Universitas Sriwijaya Palembang, dan Dr. Ahmad Yani Anshori dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Anregurutta Dr. KH. Sanusi Baco sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar menuturkan dalam sambutannya "Dampak postif dari memperpanjang silaturrahim, sesuai hadis Nabi yakni memperpanjang umur dan mempermudah reski, setidaknya pertemuan ini dilandasi dengan kebaikan, semoga kita termasuk dari hadis Nabi ini."

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Disisi lain perkembangan lembaga pendidikan, tanpa diwarnai dengan nilai-nilai agama, maka akan mengakibatkan malapetaka kemanusiaan, sehingga dalam mengembangkan lembaga pendidikan, setidaknya nilai-nilai agama mesti dipelihara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rektor UIM Majdah Agus AN mempersentasekan capaian-capaian monumental Universitas Islam Makassar serta menjelaskan kerja sama yang telah dilakukan baik di dalam Negeri maupun di luar Negeri.

Disisi lain Majdah juga tak lupa menjelaskan visi misi UIM ke depan dan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dimana cita-cita UIM menjadi perguruan tinggi Islam, terkemuka, berkualitas, berbudaya, diminati dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan Negara berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah di Indonesia Timur. (andy m idris/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Hadits Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 06 September 2016

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengimbau kepada para pelajar untuk tetap mengikuti perkembangan informasi soal kondisi perpolitikan nasional pasca pilpres. Bagaimanapun, situasi politik masih tetap berlangsung dinamis dan membutuhkan partisipasi aktif publik untuk menentukan arah bangsa ke depan.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Khairul Anam Haritsah, akrobat politik di parlemen saat ini menunjukkan adanya persaingan kepentingan antar fraksi partai. Isu revisi Undang-undang tentang MD3 (MPR, DPRRI, DPD, DPRD) adalah di antara bukti dari gambaran kondisi tersebut.

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Mesti Ikuti Informasi Politik Pasca Pilpres

“Tarik-menarik Pilkada dilaksanakan secara langsung atau melalui DPRD dalam RUU Pilkada contoh kedinamisan politik pasca pilpres. Isu ini perlu adanya keterlibatan secara aktif karena menyangkut calon pemimpinnya,” ujarnya dalam diskusi publik bertema “Prospek Kualitas Demokrasi Pasca Pilpres 2014” di Jakarta, Jumat (12/9).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Anam mengatakan, Indonesia sedang mencari bentuk demokrasi yang sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa, termasuk dalam proses pemilihan kepala daerah setelah masa reformasi. Apapun bentuk itu, katanya, kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas, bukan semata kepentingan kelompok tertentu.

Hadir dalam diskusi tersebut salah satu pembina IPNU Marwan Ja’far, Hanta Yuda (pengamat politik yang juga Direktur Eks PolTracking), La ode Ida (Wakil Ketua DPD RI), dan Husni Tamrin dari Friedrich Naumann Stiftung (FNS).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Marwan pada kesempatan tersebut menilai bahwa pengalaman pemilu legislatif dan pemilu presiden beberapa waktu lalu mencerminkan gairah baru dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Keterlibatan yang demikian massif, menurutnya, adalah tanda bahwa masyarakat kian melek politik.

“Namun demikian masih ada ego dari para elite politik kita pasca pilpres ini yang menyebabkan komunikasi menjadi kurang maksimal,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Santri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah