Rabu, 03 Agustus 2016

Ribuan Jamaah Peringati Haul Kiai Imam Rozi, Panglima Pasukan Diponegoro

Klaten, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ribuan jamaah ikut memperingati haul ke-172 tokoh ulama di daerah Tempursari, Klaten, Jawa Tengah, Kiai Imam Rozi yang serta Kiai Abdul Muid ke-76, Jumat (27/10) malam. Dalam kesempatan tersebut dibacakan sejarah hidup atau manaqib keduanya.

Ribuan Jamaah Peringati Haul Kiai Imam Rozi, Panglima Pasukan Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Peringati Haul Kiai Imam Rozi, Panglima Pasukan Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Peringati Haul Kiai Imam Rozi, Panglima Pasukan Diponegoro

“Simbah Kiai Imam Rozi merupakan putra dari Kiai Maryani Wiromenggolo dari Cawas Klaten. Dilahirkan pada tahun 1795 Masehi,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Purwokerto KH Thoha Alwy, dalam bahasa Jawa.

Sedari muda ia sudah terkenal sebagai seorang ulama. Juga sudah dikenal oleh Paku Buwono VI dan Pangeran Diponegoro.

“Pada saat terjadi perang Diponegoro, Kiai Imam Rozi baru berusia 30 tahun, diangkat menjadi seorang utusan penghubung, yang bertugas menyampaikan pesan rahasia Pangeran Diponegoro kepada PB VI,” lanjutnya.

Kiai Imam Rozi, kemudian diangkat sebagai seorang panglima perang (manggala yudha) dengan gelar Singa Manjat. “Atas jasanya, Kiai Imam Rozi diberikan sebuah tanah perdikan di daerah Tempursari,” kata dia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Kiai Imam Rozi inilah kemudian lahir sejumlah tokoh ulama di Soloraya, di antaranya Kiai Abdul Mu’id seorang tokoh mursyid Syadziliyyah dan putranya  Kiai Ma’ruf yang menjadi Ketua Barisan Kiai Jawa Tengah. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Meme Islam, Pemurnian Aqidah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 18 Juli 2016

PMII Purwokerto Ingin Jadi Pusat Pergerakan di Jateng

Purwokerto, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purwokerto khidmat 2014-2015, resmi dilantik Pengurus Besar PMII di Pondok Pesantran Darussalam, Dukuhwaluh, Kembaran, Banyumas, akhir pekan lalu. Prosesi pelantikan dipimpin langsung Ketum PB PMII Aminuddin Ma’ruf.

PMII Purwokerto Ingin Jadi Pusat Pergerakan di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Purwokerto Ingin Jadi Pusat Pergerakan di Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Purwokerto Ingin Jadi Pusat Pergerakan di Jateng

Ketua Umum PC PMII Purwokerto, Anwar Aziz mengatakan tugas utama kepengurusannya adalah menjaga khittah yang sudah digariskan para pendiri PMII. Salah satunya yakni menjaga dan melestarikan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai konsep hidup yang layak dikembangkan di masyarakat.

Sementara, dengan umur yang matang, kata Aziz, tingkat produktivitas di PMII juga harus meningkat. “PC PMII Purwokerto berharap jadi sentrum pergerakan di Jawa Tengah, salah satunya dengan konsep kaderisasi yang matang dan visi yang jelas serta terukur,”? tutur Aziz. PC PMII Purwokerto juga akan membentuk sistem pengkaderan organik yang optimal.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua Majelis Pembinan Cabang (Mabincab) PMII Purwokerto, KH Dr Khariri Shofa berpesan agar pengalaman di PMII seperti pengalaman organisasi, kepemimpinan, manajemen kegiatan, hingga membangun jaringan diaplikasikan hingga tua nanti. “Silaturahmi harus diutamakan,” ujar Khariri yang juga pengasuh Ponpes Darussalam itu.

Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf, berharap PC PMII Purwokerto lebih progresif dan menentukan arah pergerakan yang jelas. Menurutnya, ada tempat yang menjadi sasaran pergerakan PMII, salah satunya adalah masyarakat itu sendiri.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Kita harus ingat tujuan dan fokus pergerakan PMII, apa misi pendahulu kita saat mendidrikan organisasi ini. Para kader PMII, harus bergerak di tiga ranah penting, yaitu kampus, pesantren, dan NU sendiri,” ujar Amin. (Agus Riyanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tegal, Sholawat, Humor Islam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Kamis, 07 Juli 2016

Berpotensi Rugikan UMKM, UU Halal Layak Diuji Materi

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH) yang diputuskan beberapa waktu mengatur bahwa hanya MUI yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan sertifikasi halal. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyebabkan susahnya sektor usaha kecil dan mikro untuk memperoleh sertifikat halal.?

H Masrudi ? Syuhud, salah satu ketua PBNU menjelaskan, saat ini sangat sedikit usaha kecil dan mikro yang sudah mendapatkan sertifikat halal karena akses yang terbatas akibat dimonopoli oleh satu lembaga, yaitu MUI. ? Seluruh akses hanya ke satu pintu, sedangkan yang ingin mendapatkan sertifikat halal sangat banyak. Akibatnya, banyak sekali yang tak terlayani. “Karena itu, UU ini layak untuk diuji materi,” katanya saat berbicara terkait masalah UU JPH ini di di Gedung PBNU, Selasa (26/9).

Berpotensi Rugikan UMKM, UU Halal Layak Diuji Materi (Sumber Gambar : Nu Online)
Berpotensi Rugikan UMKM, UU Halal Layak Diuji Materi (Sumber Gambar : Nu Online)

Berpotensi Rugikan UMKM, UU Halal Layak Diuji Materi

H Andi Najmi, salah satu Wakil Sekjen PBNU menambahkan UU JPH disahkan pada rapat pleno terakhir DPR RI periode 2009-2014. Karena disahkan pada menit-menit terakhir, dari pengalamannya sebagai anggota DPR, banyak sekali kelemahan yang ada. Ia ,menyebut ada operasi senyap dari pihak-pihak tertentu yang berkeinginan agar UU tersebut tidak disahkan. “Yang jelas kami tidak ingin sertifikasi halal ini dimonopoli oleh satu pihak,” tandasnya.?

Diskusi ini menghadirkan narasumber dari Ombudsmen RI Ahmad Suaedy yang menjelaskan berbagai aspek tentang berbagai aspek tentang pengaruh pelayanan publik terkait dengan keberadaan UU tersebut. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Pahlawan, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 03 Juli 2016

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat

Sidoarjo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wonoayu Sidoarjo yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Desa Tanggul Kecamatan Wonoayu, Ahad (25/9) menetapkan H M Subandi sebagai Ketua Tanfidziyah dan Kiai Ali Subakir Rais Syuriah untuk masa khidmah 2016-2021.

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sidoarjo: NU Harus Mampu Mengatasi Problematika Umat

Bupati Sidoarjo H Saiful Illah menegaskan, Nahdlatu Ulama harus bisa menciptakan perdamaian, kerukunan, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Dengan dilaksanakannya konferensi tersebut, Nahdlatul Ulama dapat meningkatkan peran aktif di masyarakat serta sinergitas dengan pemerintahan dalam mewujudkan pembangunan Sidoarjo.

"Saya berharap NU mampu mengatasi problematika umat yang dapat menyebabkan disintegrasi bangsa, mandiri dan mampu mewujudkan pembangunan Sidoarjo yang inovatif, sejahtera, mandiri serta berkelanjutan," tegas pria yang akrap disapa Abah Ipul itu.

Ia menyatakan, konferensi MWCNU itu merupakan forum tertinggi para Ulama di tingkat MWCNU Wonoayu dalam rangka evaluasi, pertanggungjawaban selama masa periodesasi. Selain merumuskan atau ijtihad organisasi sebagai landasan dasar perjalanan NU Wonoayu 5 tahun ke depan, konferensi juga merupakan proses regenerasi dalam pengkaderan.

Oleh karena itu, lanjut Abah Ipul, yang terpilih menjadi ketua MWCNU Wonoayu harus tetap membawa marwah organisasi dan jamiyah NU bersama-sama untuk menjadi lebih baik.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ketua MWCNU Wonoayu terpilih H M Subandi mengaku, akan merekatkan dan menguatkan internal organisasi dalam rangka mewujudkan masyarakat Wonoayu yang mandiri, berkemajuan yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. "Kami ingin NU Wonoayu lebih baik lagi kedepannya," harap Subandi yang sebelumnya juga menjabat Ketua MWCNU Wonoayu ini.

Hasil rekomendasi konferensi NU Wonoayu itu nantinya akan disampaikan kepada pihak-pihak terkait seperti Forkopimka, PCNU, Lembaga dan Juga Banom sebagai landasan strategis jamiyah NU di Wonoayu. (Moh Kholidun/Abdulah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ulama Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 02 Juli 2016

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengagendakan pembahasan pendidikan yang antidiskiriminasi dalam Kongres XVI IPPNU akhir November (30/11) di Palembang.

Peserta kongres dari pelbagai wilayah di Indonesia akan menanggapi dan memberikan strategi alternatif ke depan bagi kebijakan pendidikan.

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Usung Antidiskriminasi Pendidikan

Isu tersebut digali dari laporan United Nation Development Program, UNDP tentang indeks pembangunan manusia (Human Development Index, HDI) yang menempatkan Indonesia pada tahun 2011 pada peringkat ke 124 dari 187 negara. Posisi pembangunan manusia Indonesia menurun dari peringkat 108 pada tahun 2010.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Indeks pembangunan manusia itu menghubungkan kualitas pendidikan dengan faktor ekonomi. Keduanya saling mempengaruhi. Kedua faktor itu secara signifikan, mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

IPPNU menilai bahwa kualitas pendidikan saat ini masih rendah. Sedangkan sejumlah institusi pendidikan dengan kualitas sumber daya pengajar dan fasilitas yang memadai hanya dapat diakses oleh segelintir warga; yang mampu.

Pemerataan pendidikan layak bagi masyarakat belum terwujud. Pendidikan dengan kualitas yang memadai masih menjadi barang mewah. Pendidikan dengan sarana dan kualitas SDM tenaga pengajar, belum dapat dijangkau oleh semua lapisan sosial di Indonesia.

Berdasarkan data di atas, IPPNU menilai akses pendidikan di Indonesia saat ini belum mewakili gagasan pendidikan nasional yang diprogramkan oleh pemerintah. Pendidikan nasional dengan persoalan ketersediaan SDM pengajar, diskriminasi akses, dan fasilitas pendidikan, masih jauh dari harapan.

IPPNU melalui kesempatan kongresnya yang ke-16 akan memanfaatkan posisinya sebagai kekuatan strategis untuk mengikis kesenjangan tersebut. Pembahasan isu pendidikan yang paling mendasar ini diharapkan menghasilkan putusan-putusan alternatif dan rekomendasi solutif dalam mengatasi kebuntuan pendidikan nasional. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Makam, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 01 Juli 2016

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah



Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Ali Yusuf menjelaskan, Nahdlatul Ulama (NU) akan mengirimkan kembali bantuan ke pengungsian Rohingya di Bangladesh. Sebelumnya pada tahap pertama, NU mengirimkan bantuan sembako dan alat masak. Pada tahap kedua ini, NU akan mengirimkan bantuan tenaga medis.

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kirimkan Bantuan Medis untuk Pengungsi Rohingya

“Untuk melakukan kegiatan pelayanan kesehatan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh bersama tim medis IHA (Indonesia Humanitarian Alliance) lainnya,” kata Ali di Jakarta, Senin (16/10).

Ia mengatakan, NU memiliki komitmen untuk mendukung bantuan medis yang dicanangkan IHA dengan cara mengirimkan tenaga medis dan dikirimkan selama enam bulan ke depan secara bertahap. Selain itu, NU juga akan ikut serta dalam pemberian bantuan nutrisi bagi anak-anak pengungsi.

“Selain juga bantuan berupa hygiene kits,” ucap yang juga Ketua Pelaksana IHA itu.

Ia menceritakan, saat ini banyak pengungsi yang terkena penyakit terutama kulit dan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Hal itu disebabkan mereka melalui perjalanan jauh dari asal mereka di Myanmar ke pengungsian Bangladesh. 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Situasi dan kondisi kamp pengungsian yang kumuh juga menyebabkan penyakit mudah menyerang mereka. Maka dari itu, saat ini bantuan pelayanan medis juga tidak kalah pentingnya dengan bantuan relief.

“Dan bahkan saat ini mereka terindikasi akan terserang wabah kolera,” tuturnya.

Dr. Angie Erdhita adalah tenaga medis yang dikirimkan NU ke pengungsi Rohingya di Bangladesh. Ia berangkat pada Ahad 15 Oktober bersama dengan tim medis lain dari IHA. Rencananya, ia akan berada di pengungsian selama dua minggu ke depan. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi) 

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, Pondok Pesantren, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 27 Juni 2016

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Salaman atau saliman dalam budaya Indonesia adalah suatu kegiatan berjabat tangan, biasanya dilakukan ketika seorang anak berpamitan pergi kepada orang tuanya, seorang murid yang bertemu dengan guru dan saudara atau keluarga ketika di jalan, atau ketika seseorang bertemu dengan teman-temannya.  Secara refleks kita akan mengulurkan tangan untuk mengajak salaman.

Salaman atau saliman sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “selamat”. Erat kaitannya dengan budaya mengucap salam dalam umat muslim. Dalam pelaksanaannya pun tidak selalu mengucap salam, namun lebih menekankan berjabat tangan sebagai rasa hormat. Sekali lagi di Indonesia, kegiatan salaman tidak melulu selalu diidentikkan dengan orang Islam walaupun berasal dari bahsa Arab. Karena makna salaman sudah dipakai oleh masyarakat umum sebagai milik bersama.

Salaman dalam tulisan adalah yang disebut orang Jawa sebagai sungkem. Salaman dan sungkem mempunyai persamaan yaitu kegiatan berjabat tangan, bedanya sungkem mempunyai nilai rasa hormat yang lebih tinggi. Sungkem bukanlah berjabat tangan biasa seperti yang dilakukan antar teman atau seseorang dengan seseorang yang derajatnya setara.

Namun sungkem dilakukan kepada seseorang yang lebih tinggi derajatnya seperti orang tua, guru atau ustadz/ustadzah. Caranya pun berbeda, sungkem disertai dengan mencium tangan seseorang yang kita sungkemi. Pada saat hari raya Idul Fitri pasti setiap anggota keluarga melakukan sungkeman, entah itu anak kepada orang tua, cucu kepada kakek nenek atau keponakan kepada paman dan bibi.

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)
Rindu Budaya Salam(an) Sungkem (Sumber Gambar : Nu Online)

Rindu Budaya Salam(an) Sungkem

Pada zaman penulis masih menempuh pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah -setara SD- ), penulis masih ingat dengan jelas setiap akan masuk kelas dan akan keluar kelas (waktu akan pulang) murid-murid antri berbaris rapi untuk sungkeman kepada sang guru. Jika direnungkan, betapa luhurnya budaya ini, penulis tidak yakin kalau dinegara lain diajarkan budaya sungkeman ini sebagai salah satu tata krama di sekolah. Jikalau ada mungkin juga masih tergolong bangsa Asia atau bangsa Timur.

Namun yang penulis sayangkan, semakin kesini budaya sungkeman mulai luntur, atau memang budaya sungkeman hanya diajarkan waktu MI/SD?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut pengalaman penulis, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin langka sekali budaya sungkeman ini. Mulai MTs (Madrasah Tsanawiyah -setara SD-) hingga MA (Madrasah Aliyah -setara SMA-) budaya ini agak jarang, mungkin karena sekolah madrasah, jadi antara murid dan guru yang berbeda jenis kelamin agak menjaga jarak. Namun menurut penulis hal seperti ini bisa disiasati, bisa saja to murid perempuan hanya salaman dengan ibu guru dan begitu juga dengan murid laki-laki hanya salaman dengan bapak guru.

Apalagi ketika menjadi mahasiswa perguruan tinggi di kota besar, budaya sungkeman seperti suatu hal yang tidak penting. Bukan dari segi mahasiswa atau anak didiknya saja yang kurang membudayakan sungkeman, tapi hal yang agak mengecewakan adalah ketika dosen itu sendiri tidak bersedia di sungkemi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ada fenomena lucu yang sering penulis temui, sungkeman yang dilakukan mahasiswa kepada dosen biasanya dilakukan berdasarkan alasan tertentu, misalnya saja ketika seorang mahasiswa datang terlambat, untuk menarik hati agar dosen tidak marah mahasiswa sering kali melakukan sungkem agar dosen luluh dan “tidak jadi” memarahi mahasiswa yang datang terlambat tersebut. Mungkin ini salah satu trik yang cerdas, hehe.

Salaman atau sungkeman merupakan budaya Indonesia yang menggambarkan karakter bangsa sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama manusia. Tidak hanya itu, salaman dan sungkeman juga salah satu cara untuk memperertat silaturrahim, persaudaraan dan pertemanan diantara manusia.

Semoga tulisan ini memberikan kita pencerahan betapa penting budaya salaman dan sungkeman, walaupun kelihatannya sepele namun penulis yakin manfaat dan hikmah dari budaya ini sangat besar dan bermanfaat.

Ayu Ulfa Dewi, Mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Quote, Olahraga Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah