Selasa, 29 April 2014

Hukum Qadha Shalat Id karena Terjebak Macet di Tol

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah yang terhormat, beberapa waktu lalu saya terjebak macet di tol sehingga tidak bisa menunaikan shalat Id. Padahal shalat Id adalah shalat yang dilakukan hanya sekali dalam setahun. Saya benar-benar merasa kecewa.

Yang ingin saya tanyakan adalah bagimana hukumnya kalau saya mengqadha` shalat tersebut? Mohon penjelasannya, dan saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Hasyim/Tegal)

Hukum Qadha Shalat Id karena Terjebak Macet di Tol (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Qadha Shalat Id karena Terjebak Macet di Tol (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Qadha Shalat Id karena Terjebak Macet di Tol

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Kemacetan memang acapkali membuat kita stres dan kecewa. Apalagi jika itu terjadi di luar prediksi kita sehingga menyebabkan gagalnya beberapa hal yang telah direncanakan seperti tidak bisa ikut menjalankan shalat Id. Karena itu dibutuhkan kesabaran extra dalam menghadapinya.

Setidaknya ada dua situasi tertinggal shalat Id. Bisa jadi kita tertinggal shalat Id tetapi matahari belum tergelincir, atau tertinggal dan matahari sudah tergelincir. Dua situasi ini memiliki konsekuensi perlakuan hukum yang berbeda.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam situasi pertama, yaitu ketika seseorang tertinggal shalat Id tetapi matahari belum tergelincir, maka ia tidak perlu melakukan qadha` shalat Id. Sebab, pada situasi seperti ini ia masih berada dalam waktu shalat Id. Karena memang batas akhirnya adalah sampai tergelincirnya matahari. Maka tindakan yang sebaiknya diambil adalah dengan melakukan shalat Id sendiri secara ada` (bukan qadha`).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat Imam Syafi’i dan para pengikutnya sepakat bahwa disunahkan menyegerakan shalat Idul Adha dan mengakhirinya shalat Idul Fitri sebagaimana yang dikemukakan penulis kitab Al-Muhadzdzab (Abu Ishaq Asy-Syirazi). Karenanya, jika shalat Id beserta imam telah meninggalkankan seseorang, (sebaiknya) ia melakukan shalat sendiri, dan shalat tersebut adalah shalat ada` (bukan qadha`). Namun hal ini sepanjang matahari belum tergelincir pada hari Id,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VII, halaman 7).

Lantas bagaimana jika ketertinggalan tersebut setelah tergelincirnya matahari, yang berarti telah habis waktunya shalat Id. Apakah seseorang yang tertinggal—misalnya karena terjebak macet sebagaimana pertanyaan di atas—dianjurkan atau disunahkan untuk melakukan qadha` shalat Id?

Terjadi “gegeran” para ulama dalam soal qadha` shalat Id. Ada yang menyatakan tidak perlu mengqadha` seperti imam Abu Hanifah. Namun ada yang menyatakan disunahkan untuk mengqadha`. Menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi yang paling sahih adalah pendapat yang menyatakan bahwa sunah untuk mengqadha`nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun seseorang yang tidak shalat Id sampai tergelincirnya matahari, maka ia telah tertinggal. Pertanyaannya adalah apakah disunahkan untuk mengqadha`? Dalam hal ini setidaknya ada dua pendapat sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab shalat sunah tentang qadha` shalat sunah. Pendapat yang paling sahih adalah pendapat yang menyatakan disunahkan untuk mengqadha`. Sedang menurut Imam Abu Hanifah, jika shalat Id beserta imam meninggalkan seseorang, maka ia sama sekali tidak perlu melakukan shalat Id,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VII, halaman 7).

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban atas pertanyaan ini bahwa menurut pendapat yang lebih sahih adalah sunah hukumnya mengqadha` shalat Id yang tertinggal.

Namun jika tertinggalnya itu masih dalam waktu shalat Id atau sebelum matahari tergelincir, maka tidak perlu melakukan qadha` shalat Id. Karena ia masih dalam waktu shalat Id, tetapi sebaiknya tetap melakukan shalat Id sendiri secara ada`.

Sebagaimana dimaklum, sebelum matahari tergelincir adalah rentangan waktu sebelum masuknya waktu Zhuhur. Shalat Id sendiri dapat dilakukan tanpa khotbah setelahnya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Ahlussunnah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 25 April 2014

Jelang Puncak Haul ke-75 KH Munawwir Hari Ini

Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menyongsong haul ke-75 KH Muhammad Munawwir, lebih dari seribu santri pesantren Al-Munawwir mengerahkan waktunya untuk melakukan semaan Al-Qur’an di beberapa tempat sejak Selasa (8/4). Semaan ini terus dilangsungkan hingga puncak haul hari ini, Kamis (10/4) malam.

Jelang Puncak Haul ke-75 KH Munawwir Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Puncak Haul ke-75 KH Munawwir Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Puncak Haul ke-75 KH Munawwir Hari Ini

“Tidak kurang dari 9 majelis istimaul Quran diselenggarakan di dalam lingkungan pondok dan 12 majelis di masjid-masjid masyarakat luar pondok, dan maqbaroh keluarga pondok,” kata seorang pengurus pesantren Al-Munawwir, Yayan Rubiyanto, Rabu (9/4).

Yayan mengatakan, sebenarnya santri-santri putri sudah sejak hari Ahad 6 Maret menggelar semaan Al-Qur’an. Selain para santri, semaan Al-Qur’an juga diikuti oleh para Ibu Nyai.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Simaan di 21 tempat diikuti semua santri Al-Munawwir. Masjid Al-Munawwir tempat sema’an keluarga. Sementara aula kompleks AB pesantren untuk para Ibu Nyai. Sedangkan para santri Al-Munawwir mengambil tempat lain untuk sema’an,” tandas Yayan, redaktur Al-Munawwir Post.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

KH Muhammad Munawwir merupakan pendiri pesantren Krapyak yang lazim disebut pesantren Al-Munawwir. Putra pasangan KH Abdullah Rosyad dan Khodijah ini wafat di rumahnya di halaman kompleks pesantren Krapyak, Yogyakarta pada 1 Jumadil Akhir 1360 H yang bertepatan dengan 6 Juli 1942.

Puncak haul ini rencananya menghadirkan Pejabat Rais Aam PBNU Gus Mus sebagai penceramah. Dalam acara ini, para hadirin juga akan diajak untuk bersama berdoa untuk KH Zainal Abidin Munawwir dan KH Warsun Munawwir. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pahlawan, Khutbah, Fragmen Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 22 April 2014

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dalam rangka menyambut 90 tahun usia madrasah, alumni Madrasah TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyyah) Kudus berencana mengadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS yang rencana diselenggarakan pada 23 Juli 2016 atau bertepatan dengan 18 Syawal 1437 H mendatang.?

Kegiatan ini sendiri akan bertempat di Gedung Madrasah TBS Kudus, Jl KH Turaichan Adjhuri No 23 yang Insyaallah akan dihadiri oleh ribuan alumni yang berasal dari berbagai angkatan. Kegiatan ini sendiri mengangkat tema “Aswaja Pagar Nusantara”.

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara

Selain dihadiri oleh alumni dari berbagai generasi, para masyayikh dan guru Madrasah TBS Kudus juga akan menghadiri acara ini. Di antaranya adalah KH Choirozyad TA (putera almarhum KH Turaichan Adjhuri, ahli falak nasional), KH Muhammad Ulil Albab Arwani (putera almarhum KH Arwani Amin, ulama kharismatik Kudus bidang Al-Qur’an), KH Muhammad Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Musthofa Imron SHI dan masih banyak lagi lainnya.

Kegiatan silaturrahim nasional ini tak hanya berupa silaturrahim dan ngaji bareng saja. Kegiatan yang rencanyanya dilaksanakan sejak sore hari hingga malam ini juga akan ada beberapa bahasan yang nantinya akan membahas bagaimana peran alumni kepada madrasah. Nantinya akan dimasukkan dalam Forum Grup Discussion (FGD) yang jumlahnya sebanyak empat buah FGD.?

Diantara poin dalam FGD tersebut adalah pembahasan jaringan alumni, upgrade database alumni Madrasah TBS Kudus tiap angkatan, kemandirian ekonomi dan konseling aswaja kepada alumni. "Forum ini diadakan sebelum acara ngaji bareng masyayikh Madrasah TBS pada malam harinya hingga selesai," jelas Arif Mustain, ketua panitia acara ini.?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pada malam harinya akan dilanjutkan dengan kegiatan ngaji bareng Masyayikh TBS yang juga akan diagendakan pula peluncuran website www.santrimenara.com dan buku bertajuk Madzhab Santri Menara yang berisi sekitar 20 esai yang berasal dari alumni sendiri. “Semua ini pastinya atas restu dari para masyayikh kami,” imbuh Arif.

Bila ada alumni Madrasah TBS Kudus yang bersedia membantu kelancaran acara, panitia menyediakan rekening transfer untuk pendanaan acara tersebut melalui rekening bendahara panitia. Ada dua rekening yang bisa dituju, BRI: 5928-01-002637-52-9 (An. Charis Rohman) atau ke BNI: 0335317112 (An. Charis Rohman). Jika sudah melakukan transfer, silahkan konfirmasi langsung ke 085726826747 (SMS/WA). (Hanan/Fathoni)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Khutbah, Makam Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 21 April 2014

Pesantren-pesantren Ini Buat Website dengan Domain ponpes.id

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengelola Nama Domain Internet (Pandi) Indonesia memberikan domain ponpes.id kepada beberapa pesantren yang mengirimkan utusannya dalam kegiatan Workshop Membuat Website Pesantren di Kantor Iniximindo Jl Cipaganti No 95, Bandung Jawa Barat, Kamis-Jumat (5-6/3).

Pesantren yang mengikuti kegiatan ini diantaranya Pesantren Al-Mizan dengan alamat website almizan.ponpes.id, pesantren Al-Karimiyah (alkarimiyah.ponpes.id), Pesantren Al-Mukhtariyyah (almukhtariyyah.ponpes.id), dan beberapa pesantren lainnya.

Pesantren-pesantren Ini Buat Website dengan Domain ponpes.id (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren-pesantren Ini Buat Website dengan Domain ponpes.id (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren-pesantren Ini Buat Website dengan Domain ponpes.id

Ketua Pandi, Sigit Widodo mengatakan ponpes.id ini adalah domain pertama yang ada di dunia, Pandi yang mempunyai jargon bangga pakai .id ini memberikan domain kepada masing-masing pesantren dengan kapasitas 10 GB.

"Saya mengharapkan pertemuan kita tidak sampai di sini saja karena pesantren bapak-bapak semua akan menjadi proyek percontohan, ke depan akan diikuti oleh pesantren-pesantren lain di Indonesia," katanya dalam penutupan kegiatan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara itu, Tito Taqiyudin yang mewakili Pesantren Al-Karimiyah Subang mengatakan, program ini sangat bagus karena tidak semua pesantren memiliki website sehingga pesantren menjadi silent majority di dunia maya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ini bagus sekali, pesantren bisa mengikuti perkembangan zaman, ini sesuai dengan qaidah almuhafadzatul qadimus shalih walakhdu biljadidil ashlah, menjaga tradisi yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik," tukasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Syariah, Nasional, Doa Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Selasa, 15 April 2014

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi

Boyolali,? Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Malam Tahun Baru identik dengan perayaan, mulai dari tiup terompet, menyalakan kembang api hingga turun ke jalan untuk merayakannya dengan penuh euforia. Namun, tidak yang dilakukan para kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Solo dan Boyolali.? Mereka lebih memilih momentum malam pergantian tahun, dengan menyelenggarakan kegiatan organisasi. Di Boyolali misalnya, ratusan pemuda mengikuti kegiatan Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar).?

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Songsong Tahun Baru dengan Kaderisasi

Kegiatan ini, bahkan dihelat selama 3 hari, Jumat-Ahad (30/12-1/1), bertempat di Andong Boyolali. Ketua PC GP Ansor Boyolali, Choiruddin Ahmad, menerangkan momentum tahun baru sengaja dimanfaatkan untuk memperkuat kaderisasi. "Kita songsong Tahun Baru dengan semangat memperkuat kaderisasi yang punya militansi, demi keutuhan NKRI," tukas Gus Din.

Sementara itu, tak jauh dari Boyolali, tepatnya di Kota Solo, diselenggarakan acara serah terima amanah kepengurusan PC GP Ansor Kota Surakarta, dari pengurus lama ke yang baru. Acara tersebut diselenggarakan di Kantor PCNU Surakarta, Sabtu (31/1) malam.

Sebelumnya, mereka telah mengadakan acara Konfercab, yang kemudian memberikan mandat kepada Arif sebagai Ketua (Plt) PC GP Ansor Surakarta dan Abdu sebagai Kasatkorcab Banser Surakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Mohon doa restu dan dukungan dari semua. Semoga ke depan Ansor Surakarta menjadi lebih berjaya,” kata Arif.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ubudiyah, IMNU Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 13 April 2014

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru

Bojonegoro, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Menjelang masa orientasi siswa di Bojonegoro, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Bojonegoro mengadakan sosialisasi modul Masa Orientasi Peserta Didik Berkarakter, Rabu (16/7). Sosialisasi modul ini melibatkan pengurus PCNU Bojonegoro, Maarif NU, IPNU Jatim, dan PAC IPNU sekabupaten.

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Bojonegoro Sosialisasikan Pedoman Orientasi Siswa Baru

Pada kegiatan di lantai dua Kantor PCNU Bojonegoro jalan A Yani, Ketua IPNU Bojonegoro Muhammad Masluhan mengatakan, sosialisasi ini baru pertama kali diadakan di Bojonegoro kendati IPNU Jatim telah menerbitkannya pada 2013 lalu.

Sosialisasi modul ini sengaja digelar, kata Masluhan. Pasalnya selama ini acuan resmi belum tersampaikan hingga tingkat bawah. "Sehingga, setelah sosialisasi ini, seluruh PAC IPNU-IPPNU dapat menerapkannya di seluruh lembaga pendidikan di kecamatan," terangnya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara utusan IPNU Jawa Timur Mufarikhul Hazim menyampaikan isi modul MOPD-B tersebut. Ia menerangkan tujuan, mekanisme, tahapan, dan perihal terkait MOS di sekolah.

Karena memuat memuat materi ke-IPNU-IPPNUan dan sejumlah materi ke-NUan, LP Maarif mendukung kegiatan sosialisasi modul tersebut. Masluhan menjelaskan, paradigma pendidikan sikap mental, karakter dan lainnya terlupakan saat pelaksanaan MOS.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Sudah ada beberapa sekolah di kecamatan Ngasem dan kecamatan Kepohbaru yang sudah siap bekerja sama dengan IPNU-IPPNU," terangnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Sejarah, Pahlawan, Lomba Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 05 April 2014

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara

Judul Buku : NU dan Keindonesiaan

Penulis : Mohammad Sobary

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : 1, 2010

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Memperkokoh Peran NU Terhadap Negara

Tebal : xviii + 258 halaman

Peresensi : Imdad Fahmi Azizi*


Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sejak didirikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai kharismatik di Surabaya pada tahun 1926, NU mendapat banyak simpati dari berbagai kalangan karena kemampuannya mempertahankan dan menyeimbangkan antara kekuatan tradisionalisme dan budaya modern (almukhafadhatu alal qadimis sholeh wal akhdu bil jadidil ashlah). Disisi lain, tradisionalisme NU mampu mengarahkan umatnya untuk bersikap toleran, menghormati agama lain, serta menghindar dari sikap fundamentalisme dan radikalisasi.

NU menampilkan Islam yang akomodatif (moderat), berarti kesediaan menerima sikap dan pemikiran pihak lain dengan terbuka menciptakan jalan tengah. Tidak hanya dalam hal pemikiran keagamaan,  tapi kecenderungan akomodatif ini juga tercermin dalam sikap dan perilaku kebudayaan warga NU untuk menjadi penggerak kehidupan umat dalam sehari-hari sehinggga menjadi pelindung bagi kaum minoritas.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sehingga sejarah telah mencatat, bahwa NU merupakan warisan para pejuang kemerdekaan dan salah satu ‘pemegam saham’ bagi lahirnya Republik ini. Sebagai ormas Islam terbesar, NU sudah lahir jauh sebelum republik berdiri. NU tetap setia menjaga Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadi kekuatan civil society (kekuatan sipil) yang menempatkan kemaslahatan dan kesejahteraan rekyat sebagai tujuannya. Di samping itu, NU dapat menjadi  lokomotif bagi arah kebangsaan di masa depan, sehingga mampu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas dan menjadi pelopor pembentukan identitas keindonesiaan (nation-character building) (hlm.132-135).

Bersama dengan Muhammadiyah, NU selalu konsisten dengan sikapnya yang akomodatif sehingga dipandang sebagai pilar utama Islam moderat. Keduanya menghargai pluralitas bangsa dan dialog antar agama yang merupakan cerminan harmonisasi antara tradisi kultural dan ajaran agama. Juga NU menekankan keserasian hidup di tengah lingkungan masyarakat yang begitu majemuk.

Begitu juga waktu dibawah kepemimpinan Gus Dur (1984-1999), NU telah diperkenalkan ke dunia nasional bahkan internasional. NU yang sebelumnya dikenal kaum sarungan dengan adat tradisional mampu mengangkat nilai-nilai ke-NU-an yang moderat dan anti kekerasan. Waktu itu, Gus Dur tiba-tiba menjelma sebagai tokoh yang disegani dan kharismatik dimata lawan maupun kawan khususnya rezim Orde Baru, belakangan Gus Dur dijadikan jimat NU. Dengan kata lain, NU tidak bisa dipisahkan dengan nama Gus Dur. 

Oleh sebab itu, Gus Dur mulai memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai kian relevan ketika dunia dihadapkan pada pelbagai bentuk ekstremisme dan fundamentalisme yang ujungnya adalah terorisme. Memperkuat moderasi kutural seraya melebarkan perhatian pada moderasi struktural merupakan tantangan NU di masa depan. NU harus tetap bergerak dan mampu berdiri di dua kesadaran sekaligus, yakni tradisi dan kemodernan. NU masa kini dan masa depan diharapkan tetap menjadi generasi yang mampu mempertautkan kearifan tradisi dan kemanfaatan modernitas. Oleh karenanya, diperlukan peran NU untuk lebih berani secara terbuka melakukan penyebaran moral (etika) dengan instrumen yang lebih kongkret terutama bagi para elite negeri ini.

Dengan kembali ke Khittah 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai kerangka dasar bernegara menempatkan NU pada posisi aman terhadap penguasa. NU menjadi jangkar nasional sehingga mampu memainkan peranannya untuk menjadi kekuatan budaya dan mampu memperkuat masyarakat sipil (civil society). Didalam tubuh tradisi ke-NU-an, Gus Dur melihat potensi pesantren yang progresif dengan mengistilahkannya sebagai agen perubahan. Keunikan pesantren ini merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Karena itu, NU harus memperkuat peran kiai yang berfungsi sebagai ulama (cleric) sekaligus cultural broker (makelar kebudayaan)- bukan political broker ataupun menjadi political operative pemodal yang membutuhkan mereka. Karena diakui atau tidak, NU selama ini terkesan terlalu elitis-politis, kurang populis.

Menurut refleksi Mitsuo Nakamura, pemerhati NU dan Profesor Emeritus Chiba University, Jepang yang harus dikembangkan oleh pucuk pimpinan NU adalah menjadikannya sebagai gerakan agama, pendidikan, dan sosial, yaitu gerakan moral force ; penegakan sejati Pancasila sebagai dasar negara ; pembelaan hak minoritas golongan serta penegakan keharmonisan dan integrasi antar golongan, etnis, dan agama. Ini semua adalah konsekuensi dari kembali le khittah 1926. Sehingga ulama NU dapat meneruskan dan mengembangkan warisan Gus Dur ke tahap yang lebih kuat dan lebih tinggi pada hari depan. (hlm.226-228)

Peran kunci yang juga diharapkan dari NU adalah dalam bidang ekonomi. Selama ini peran tersebut masih belum menonjol. Kaum Nahdliyin dan pesantren selama ini banyak bergelut dengan usaha kecil-menengah dan sektor pertanian, seharusnya NU memiliki potensi yang besar sebagai salah satu kekuatan ekonomi umat. Para pimpinan NU diharapkan mampu mengembangkan semangat kewirausahaan di pesantren. Semangat itu bisa digali dari salah satu sejarah pergerakan ini, di mana pernah muncul gerakan kaum saudagar  (Nahdlatut Tujjar) yang berperan penting memperjuangkan ekonomi umat.

Memang selama ini, NU kurang memberikan perhatian pada problem liberalisasi ekonomi, kapitalisme, neokolonialisme, yang menjadikan masyarakat pedesaan yang merupakan basis NU semakin dimarginalkan. Hal tersebut mestinya mendorong NU makin berperan dalam mewujudkan ekonomi rakyat berbasis sumber daya lokal. Dalam rangka menjalankan ekonomi tersebut setidaknya ada dua level ekonomi yang oleh NU harus diperhatikan, yakni level makro dan mikro dengan melakukan kontrol, advokasi dan pemberdayaan.

Buku yang ditulis oleh Kang Sobary seorang budayawan ini sangat menarik untuk dikaji kembali dan dijadikan referensi bagi peneliti NU tentang perannya. Buku ini juga berisi komentar-komentar dari tokoh Republik ini terhadap kiprah NU dan harapan mereka terhadap perannya bagi Indonesia terutama di bidang keagamaan, kebudayaan, politik dan ekonomi kerakyatan.

   

*Peresensi Adalah Koordinator Komunitas Penulis Nurul Jadid (KPNJ), Paiton, Probolinggo Jawa TimurDari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pemurnian Aqidah, Ubudiyah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah