Jumat, 17 Mei 2013

828 Siswa MI Probolinggo Ramaikan Aksioma MI Ke-6

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sedikitnya 828 orang siswa dan siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam 23 kontingen meramaikan Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) MI ke-6 tingkat Kabupaten Probolinggo yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, Rabu hingga Jum’at (16-18/11).

828 Siswa MI Probolinggo Ramaikan Aksioma MI Ke-6 (Sumber Gambar : Nu Online)
828 Siswa MI Probolinggo Ramaikan Aksioma MI Ke-6 (Sumber Gambar : Nu Online)

828 Siswa MI Probolinggo Ramaikan Aksioma MI Ke-6

Mereka akan bertanding dalam cabang olahraga dan cabang seni. Untuk cabang olahraga meliputi tenis meja, bulutangkis, lari sprint PI=60 m dan PA=80 m, lompat jauh, tolak peluru dan catur. Sementara cabang seni meliputi MTQ, baca puisi putra dan putri, melukis, kaligrafi, pidato resmi 3 bahasa (Bahasa Arab, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).

Aksioma MI ini dibuka secara resmi oleh Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari didampingi Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Busthami di Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, Rabu (16/11). Pembukaan ini ditandai dengan penekanan tombol sirine dan pelepasan balon udara.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dalam sambutannya Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengaku merasa sangat bangga melihat potensi dan hasil pembangunan yang dipersembahkan guru MI di Kabupaten Probolinggo. Apalagi melihat senyuman guru MI yang memberikan harapan sekaligus bersyukur dengan tantangan telah mampu menapaki perkembangan zaman.

“Lembaga madrasah di Kabupaten Probolinggo memang banyak didominasi swasta. Kita patut bangga, meskipun swasta namun mampu memberikan yang terbaik bagi murid di Kabupaten Probolinggo. Dimana guru swasta ini telah mampu menjalankan amanah orang tua yang menitipkan anaknya kepada guru MI swasta,” katanya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo ini, tantangan dan ketidaksempurnaan yang ada merupakan ikhtiar bersama. “Tetapi saya berkeyakinan, manakala di hati Bapak dan Ibu tenaga pendidik ada sebuah niatan tulus dan ikhlas dengan menularkan ilmunya untuk mendidik, Insya Allah akan dimudahkan segala urusannya oleh Allah. Akan dicukupkan rizkinya sehari-hari, tetapi bukan untuk mencukupi gaya hidup,” jelasnya.

Siswa MI jelas Tantri merupakan pewaris dari para orang tuanya. Sebab diantara siswa MI ini kelak akan menjadi pemimpin di Kabupaten Probolinggo. “Tetapi semua itu ditentukan oleh ikhtiar anak dan mematuhi perintah orang tua dan guru sehingga mampu mengangkat derajat hidupnya dan derajat hidup orang tuanya,” pungkasnya.

Sementara Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Busthami mengatakan bahwa jumlah lembaga madrasah ibtidayah (MI) di Kabupaten Probolinggo mencapai 382 lembaga. Dari jumlah tersebut yang berstatus negeri hanya 2 lembaga.

“Terima kasih kepada pondok pesantren yang telah memperkuat madrasah. Ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah karena tidak ada perbedaan antara lembaga pendidikan di bawah Dinas Pendidikan dan madrasah,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Panitia Pelaksana Solihin Bahtiar mengungkapkan kegiatan ini bertujuan sebagai wadah pembinaan dan unjuk prestasi di bidang olahraga dan seni menuju insan yang sehat, berbudaya dan berakhlak mulia, meningkatkan ukhuwah dan dakwah Islamiyah, baik di kalangan MI dan masyarakat pada umumnya.

“Selain itu, terbentuknya watak kepribadian yang baik dengan menjunjung tinggi disiplin dan sportivitas untuk mencapai prestasi, peningkatan prestasi olahraga dan seni pelajar MI serta diperolehnya bibit atlet pelajar berbakat,” katanya.

Kegiatan ini bertema “Dengan Aksioma, Kita Wujudkan Tali Persaudaraan, Prestasi, Sportivitas, Kreatifitas Siswa Madrasah Untuk Menggapai Insan Yang Sehat, Cerdas, Terampil dan Berakhlakul Karimah”. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Aswaja, Sejarah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 10 Mei 2013

Penasehat Muslimat NU Kab. Probolinggo Buka Pasar Murah

Probolinggo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Kamis (25/4) secara resmi membuka kegiatan pasar murah bersubsidi di Rest Area Tongas Kabupaten Probolinggo. 

Penasehat Muslimat NU Kab. Probolinggo Buka Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasehat Muslimat NU Kab. Probolinggo Buka Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasehat Muslimat NU Kab. Probolinggo Buka Pasar Murah

Begitu dibuka, pasar murah bersubsidi tersebut langsung diserbu oleh ratusan warga Nahdliyin yang berada di Kecamatan Tongas dan sekitarnya.

Pasar murah bersubsidi ini digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo dengan memberikan subsidi sekitar 60% dari harga sebenarnya. Satu paket sembako seharga Rp. 112.000 dijual dengan harga Rp. 45.000 per paket. Dalam pasar murah ini disediakan sedikitnya 300 paket sembako.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dewan Penasehat Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari yang juga Bupati Probolinggo ini mengungkapkan bahwa pasar murah bersubsidi ini digelar sebagai wujud kepedulian Pemerintah Daerah terhadap warga masyarakatnya, khususnya masyarakat tidak mampu.

“Dengan adanya pasar murah ini masyarakat dapat memilih dan membeli barang-barang kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dari harga pasar umumnya. Sebab harganya sudah disubsidi oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut Tantri, pasar murah ini digelar untuk mengantisipasi kecenderungan naiknya harga kebutuhan pokok dengan harapan nantinya dapat membantu masyarakat dalam memperoleh sembako dengan harga murah. “Silahkan manfaatkan dengan sebaik mungkin kegiatan pasar murah ini untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari,” ajaknya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tantri dan rombongan juga melakukan peninjauan stand yang menjual sembako bersubsidi dan produk-produk unggulannya. Tidak hanya meninjau, tetapi juga mencermati satu persatu sembako dan produk unggulan yang dipasarkan dalam kegiatan pasar murah tersebut.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Anti Hoax, Ulama, Hikmah Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 03 Mei 2013

Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri

Diperkirakan pada masa berkembang kerajaan Mataram Islam, pada waktu itu di kawasan Kediri terdapat seorang perampok yang sangat ditakuti oleh masyarakat di kawasan itu karena kesaktian dan kejadugannya. Dia lalu dikenal dengan sebutan Maling Gendiri.?

Dikisahkan oleh KH Mujaddad Faqihudin, seorang kiai pengasuh pesantren dari Warujayeng Nganjuk, bahwa Maling Gendiri tersebut dikenal sebagai orang yang sakti dan jaduk di kawasan Kediri karena dia mempunyai ilmu "bancoono". ? Tidak ada satu pendekar dan jawara pun yang dapat mengalahkannya. Kesaktian dan kejadugan yang superior tersebut membuatnya berbuat semena-mena dan meresahkan masyarakat. Harta benda masyarakat menjadi tidak aman.

Pada suatu malam maling ini merampok berbagai perhiasan yang kemudian ia dikejar-kejar oleh lusinan aparat pemerintahan Hindia Belanda. Tapi berkat ilmu bancolononya, petugas keamanan Belanda berhasil dikelabuinya, Maling Gendiri berhasil lolos, padahal waktu itu Maling Gendiri mengendarai dokar. Yang mengherankan lagi dia dapat menghilang bersama dokar yang dinaikinya sehingga perhiasan yang ia rampok tidak dapat terendus orang lain.

Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Syekh Abdullah Mursyad Kalahkan Kesaktian Maling Gendiri

Pada tempo itu (kurang lebih sebelum tahun 1800-an), hidup pula sekurun dengan Maling Gendiri ini seorang ulama alim pendakwah Islam di kawasan Kediri dan sekitarnya yang konon berasal dari Gujarat. Beliau ialah Syekh Abdullah Mursyad. Syekh Mursyad inilah yang akhirnya berhasil mengalahkan kesaktian Maling Gendiri.?

Sebagai juru dakwah waktu itu, ketika menyaksikan masyarakat dan rakyat resah tidak tenang akibat ulah Maling Gendiri itu, kemudian Syekh Mursyad tergerak hatinya berbuat sesuatu, yaitu menghentikan aksi kejahatan Maling Gendiri supaya keadaan menjadi kondusif. ? Sejak Maling Gendiri berhasil dilumpuhkan oleh Syekh Mursyad, masyarakat lega merasa tenang dan aman. Biang kekacauan dan ketidakamanan sudah hilang. ? ? ?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Menurut penuturan dari almaghfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pacul Gowang Jombang, Syekh Abdullah Mursyad merupkan seorang Muballigh Islam, penyebar Islam yang berasal dari Gujarat. Selain seorang ulama yang alim, juga jawara yang sakti sebagaimana telah diceritakan oleh Kiai Mujadad di atas.

Walau begitu, masih menurut KH Abdul Aziz Mansyur, sejarah riwayat hidupnya Syekh Abdullah Mursyad sendiri sebetulnya masih samar-samar. Hal itu karena sangat sulit melacak dan menelusuri apakah dia benar-benar pendatang dari Gujarat ataukah seorang asli pribumi. Sebab pada waktu itu banyak para pendatang baik dari negeri Cina maupun Arab yang mendarat di kepulauan Nusantara.?

Biasanya mereka singgah di kerajaan Mataram Islam seperti keraton Surakarta dan Yogyakarta yang waktu itu namanya sudah masyhur di mana-mana, sehingga tidak heran jika kemasyhuran kerajaan Mataram Islam ini menjadikan banyak bangsa lain menjadi begitu tertarik untuk mendatangi pulau Jawa yang terkenal kaya dengan potensi alamnya. Misi mereka bermacam-macam. Selain untuk berdagang, umumnya mereka juga menyebarkan agama Islam di kawasan Nusantara ini.

Kini makamnya Syeikh Abdullah Mursyad tersebut berada di area pemakaman Setono Landean, terletak kurang lebih 5 KM dari desa Mrican Kota Madya Kediri, Jawa Timur. Oleh masyarakat setempat lokasi tersebut biasa dinamakan dengan sebutan "Setono Landean". Makam tersebut kini ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah khususnya pada Kamis malam Jumat. (M. Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Bahtsul Masail Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sanlat Sebulan GP Ansor Kota Bandung Berakhir

Bandung, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pesantren kilat (sanlat) yang digelar selama sebulan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung telah usai. Secara resmi, Sanlat yang diisi Bimbingan Pasca ujian Nasional (BPUN) 2013 ditutup di gedung PCNU Kota Bandung  Jl. Yuda no.03 Kebon Kalapa Kota Bandung pada Senin (10/6).

Menurut Ketua Panitia Sanlat Ujang Miftahudin, maksud dan tujuan dari sanlat dan bimbel ini adalah dapat mematangkan peserta dalam ranah kognitif, apektif, dan psikomotorik. Tentu, tambah Miftah, dengan diberikan pemahaman tentang keaswajaan, keislaman, dan keindonesiaan.

Sanlat Sebulan GP Ansor Kota Bandung Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanlat Sebulan GP Ansor Kota Bandung Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanlat Sebulan GP Ansor Kota Bandung Berakhir

Dengan Sanlat tersebut, kata Miftah, diharapkan peserta lebih sigap dalam mengahadapi tantangan di kampus umum negeri, “Sehingga dari para lulusan bimbel Ansor Kota Bandung siap menghadapi segala dinamika di kampus, dan terbentengi dari Islam garis keras,” katanya kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah melalui pers rilis.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Miftah menyebutkan, peserta sanlat berjumlah 43 orang, terdiri dari beberapa daerah di Jawa Barat, diantaranya, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Indramayu, Garut, Subang, Purwakarta, Sukabumi, Bogor, dan Cianjur. Mereka ditempatkan di dua pesantren Syifaaush Shuduur dan Ponpes Nurul Iman.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Nanti tanggal 16 Juni seluruh peserta se-Jabar akan dikumpulkan kembali di PWNU Jawa Barat, untuk mensurvey letak lokasi tes-nya,” pungkasnya.

Redaktur: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Tokoh, Internasional, Berita Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 29 April 2013

Pemangku Makam Auliya se-Jawa Bertemu di Muria

Kudus, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Puluhan pemangku makam auliya yang tergabung dalam Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa menggerah musyawarah anggota III di Graha Muria, Colo, Kecamatan Dawe, 9-10 Maret. 

Kebanyakan berasal dari pengurus masjid dan makam para Sunan, khususnya Walisongo, seperti Kudus, Gresik, Demak, Tuban, Surabaya, Cirebon, Drajat, dan Banten.

Pemangku Makam Auliya se-Jawa Bertemu di Muria (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemangku Makam Auliya se-Jawa Bertemu di Muria (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemangku Makam Auliya se-Jawa Bertemu di Muria

Nampak hadir di antara mereka para akademisi dan penulis yang cukup populer, seperti Agus Sunyoto (Universitas Brawijaya), Djumadi (Akademi Kebangsaan Jakarta), Nurinwa Kis Hendrowinto (IAIN Sunan Ampel), Zamhuri (Universitas Muria Kudus), serta Jadul Maula (LKiS/Lesbumi Yogyakarta).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

H Em Nadjib Hasan, panitia kegiatan dalam sambutannya mengutarakan, musyawarah anggota ini untuk membahas organisasi yang didirikan para pemangku makam auliya di Jawa. "Dalam pertemuan ini nanti kita bahas bagaimana membesarkan PPMA ke depan," ujarnya.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dia pun menyinggung soal nama organisasinya mengapa bukan perhimpunan pemangku makam Walisongo, misalnya. "Nama auliya di sini memang sejak awal dipilih agar pemangku maka auliya di Jawa yang bukan anggota Walisongo seperti dari Banten dan lain sebagainya bisa bergabung," ujarnya.

Zamhuri, salah satu peserta dari unsur akademisi yang hadir dalam acara tersebut, memandang PPMA sebagai forum strategis para pemangku makam auliya untuk merapatkan barisan untuk membuat berbagai program dalam rangka melestarikan tradisi, budaya, dan ajaran Walisongo.

"Forum ini juga bisa menjadi media bertukar informasi dan membuat program yang sinergis antar-pemangku makam, mengembangkan nilai dan peradaban para wali, membuat dokumentasi, riset dan kajian kewalian, dan mengantisipasi kelompok lain yang ingin menghilangkan jejak peradaban para wali," katanya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 24 April 2013

Sako Pramuka Maarif NU Bondowoso Gelar Kemah Santri Ke-3

Bondowoso, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso menggelar kemah santri ke-3 tahun 2017 dalam rangka hari santri nasional. Kegiatan ini diikuti sebanyak 21 regu putra-putri di mana tiap regunya berisi 12 orang dari tingkat SMP/MTs yang di bawah naungan LP Maarif NU Bondowoso.

Agenda kegiatan kemah santri ini dilaksanakan selama tiga dari tanggal 10-12 November 2017 di Bumi Perkemahan Pondok Pesantren (PP) Muta Allimin (SMP NU 9) Desa Pasarejo Kecematan Wonosari Kabupaten Bondowoso.

Sako Pramuka Maarif NU Bondowoso Gelar Kemah Santri Ke-3 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sako Pramuka Maarif NU Bondowoso Gelar Kemah Santri Ke-3 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sako Pramuka Maarif NU Bondowoso Gelar Kemah Santri Ke-3

Ketua LP Maarif NU Bondowoso Moh Marzuqi mengatakan, pramuka satuan komunitas Maarif adalah bagian wadah pramuka Indonesia yang memberikan bekal kepada adek-adek generasi muda khususnya di lingkungan jamiyah nahdlatul ulama hubil khusus di Kabupaten Bondowoso dan telah eksis sejak tiga tahun yang lalu.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Alhamdulillah kita hari ini telah melaksanakan kemah santri yang ke-3 dan ini bagian kebanggan bagi kita semua dalam rangka hari santri nasional," kata Marzuqi dalam sambutannya saat menjadi pembina upacara pembukaan kemah santri ke-3 Jumat (10/11) sore.

Sako Maarif NU ini bagian dari para pemuda bangsa khususnya adalah pemuda NU untuk memberikan bekal baik keterampilan, ketangkasan, kecakapan dan juga memberikan bekal kepribadian yang utuh, kepribadian yang kokoh serta membentuk sebuah karakter bangsa kita yang nantinya akan menjadi penerus ke depan bangsa kita.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Ini merupakan wadah yang sangat baik sekali untuk kita manfaatkan dalam rangka memberikan kontribusi kepada bangsa kita demi tegaknya dan jayanya bangsa Indonesia," jelasnya.

Ia berharap bahwa dengan ada kegiatan ini peserta didik atau adik-adik pramuka artinya bahwa itu generasi muda NU yang akan kita siapkan ke depan yang memiliki mental, kepribadian khususnya juga memiliki karakter, karena pramuka ini adalah wadah atau tempat di mana memberikan keterampilan, ketangkasan, kecakapan di seluruh kehidupan dalam rangka untuk kemandirian.

Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam mengatakan, kegiatan kemah santri ini diharapkan menambah karakteristik anak-anak kita sehingga menjadi anak-anak yang berakhlak mulia dan senantiasa mendapatkan rahasia sabda Rasulullah SAW.

Pembukaan kemah santri ini dihadiri Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam beserta jajarannya, Rais Syuriyah NU Bondowoso KH Asyari Phasa, Muspica Kecamatan Wonosari, Pengurus Sako Maarif NU Bondowoso, dan para undangan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Nahdlatul Ulama, Jadwal Kajian Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Senin, 15 April 2013

Kang Said: Usung Khilafah di Indonesia Tidak Cocok

Jakarta, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah - Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyayangkan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kelompok lain yang ingin memaksakan pahamnya di Indonesia. Kang Said menceritakan peralihan kepemimpinan dari Khilafah Turki Utsmani yang sama sekali tidak bisa dipertahankan menuju negara kebangsaan di pelbagai belahan di Timur Tengah.

“Teman-teman Hizbut Tahrir dan teman-teman lain yang membawa paham politik khilafah tidak pernah akan cocok. Mereka akan berbenturan dengan kenyataan sejarah dan keragaman paham, agama, suku, serta bahasa di Indonesia,” kata Kang Said membuka dialog perdamaian pelajar internasional yang digagas Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Jakarta, Jumat (29/4) sore.

Kang Said: Usung Khilafah di Indonesia Tidak Cocok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Usung Khilafah di Indonesia Tidak Cocok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Usung Khilafah di Indonesia Tidak Cocok

Setelah Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924, para pemikir Muslim di Timur Tengah mengadakan pertemuan untuk merajut kembali kekuasaan terpusat Islam. Namun mereka terjebak pada siapa khalifah dan di mana pusat kekuasaan.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sementara di tengah mereka bangkit kekuatan politik yang berbasis kebangsaan. Kekuatan yang menamakan diri kelompok nasionalis-sosialis Arab ini ternyata berhasil menggalang konsolidasi mengusir kolonial Eropa dari tanah Arab. Mereka kemudian berhasil mendirikan negara berasas kebangsaan.

Pertemuan para pemikir Muslim tidak menemukan satu kesepakatan. Pada sisi lain gerakan mereka juga tidak bertemu dengan ideologi kebangsaan yang diusung kelompok nasionalis setempat. Pemikir muslim jalan sendiri. Kelompok nasionalis jalan sendiri. Kedua kelompok ini bersitegang hingga sekarang.

“Di Indonesia kondisinya berbeda. sejak awal pergerakan kemerdekaan, kelompok para kiai dan kelompok nasionalis saling membahu untuk menggalang kekuatan massa untuk mengusir penjajah. Jadi mustahil membangun sistem khilafah di sini,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah