Rabu, 13 Januari 2010

PCNU Solo dan Boyolali Siap Ikut Sukseskan Kongres IPNU Ke-18

Solo, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Pengurus PCNU Kota Solo siap ikut membantu suksesnya pelaksanaan Kongres XVIII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang bakal dihelat di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah, awal Desember (4-8/12) mendatang.

Ketua PCNU Solo, A Helmy Sakdillah mengatakan dukungan ini memang semestinya dilakukan, ibarat sebagai bentuk wujud rasa sayang orang tua kepada anak. “Meskipun yang punya kepentingan adalah dari IPNU, tapi kami juga ingin ikut membantu,” terang Helmi saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Ahad.

PCNU Solo dan Boyolali Siap Ikut Sukseskan Kongres IPNU Ke-18 (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Solo dan Boyolali Siap Ikut Sukseskan Kongres IPNU Ke-18 (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Solo dan Boyolali Siap Ikut Sukseskan Kongres IPNU Ke-18

Dukungan yang diberikan, selain tentunya restu juga beberapa bantuan fasilitas. “Untuk hotel penginapan para tamu undangan, khususnya para tokoh ulama maupun para menteri yang akan hadir, siap kami gratiskan,” ungkap Helmy.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Meski demikian, katanya, sejauh ini belum ada pihak dari Pimpinan Pusat IPNU yang kulonuwun ke PCNU Solo maupun Boyolali. “Kemarin baru PW IPPNU Jateng yang sudah datang ke Solo. Bagaimanapun, NU di cabang ini, seperti bapak cilik (kecil) bagi pengurus IPNU, baik di wilayah atau pusat,” ujar dia.

Sementara itu, Sekjen PWNU IPNU Jateng Nahdlatul Ulum, mengajak seluruh elemen kader dan pengurus di IPNU-IPPNU Korda Surakarta, untuk ikut menyukseskan kegiatan Kongres, yang notabene bakal diselenggarakan di salah satu daerah di wilayah Korda Surakarta.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

“Pengurus PW IPNU Jateng sendiri kini sudah mempersiapkan beberapa hal yang akan dibahas pada Kongres nanti, dengan menggelar Rapimwil II di Pemalang, Sabtu (21/11) kemarin,” terangnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 06 Januari 2010

MINU Pucang Sidoarjo Gunakan 4 Kurikulum Pembelajaran

Perubahan dan perkembangan teknologi yang semakin berkembang pesat memberikan dampak terhadap pelaksanaan pendidikan. Untuk mewujudkan cita-cita pendidikan menjadi lebih baik serta menjawab tantangan zaman tersebut, Madrasah Ibtidaiyah Maarif Nahdlatul Ulama Cambridge International Examination, atau yang biasa dikenal dengan MINU Pucang Jl Jenggolo 53 Sidoarjo, Jawa Timur ini memiliki kurikulum yang berbeda dari sekolah MI/SD pada umumnya.

Sekolah milik NU ini menggunakan kurikulum terpadu atau integrated curriculum sebagai acuannya. Dengan mengadopsi dan mengadaptasi kurikulum Kementrian Agama (Kemenag), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Cambridge University dan International Baccalaureate Program (IB), diharapkan dapat mewujudkan dan menciptakan sumber daya manusia berkualitas, kompetitif di bidang ilmu pengetahuan serta memiliki keagungan akhlak.

MINU Pucang Sidoarjo Gunakan 4 Kurikulum Pembelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Pucang Sidoarjo Gunakan 4 Kurikulum Pembelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Pucang Sidoarjo Gunakan 4 Kurikulum Pembelajaran

Kepala sekolah MINU Pucang Sidoarjo, M Hamim Thohari mengaku, dengan mengadopsi dan adaptif mana yang sama dengan kurikulum nasional yang lebih tinggi, maka kurikulum itu diadopsi. Kualifikasi tersebut di atas rata-rata Madrasah Ibtidaiyah.

Menurutnya, keempat kurikulum tersebut tidak dimiliki oleh sekolah lainnya di wilayah Sidoarjo. Ada yang menggunakan kurikulum Cambridge University, namun tidak menggunakan kurikulum IB dan hanya di MINU Pucang yang menggunakan empat kurikulum. "Alhamdulillah siswa kami bisa dan mampu menerima semua kurikulum tersebut," tutur Hamim kepada Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah, Kamis (5/11).

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Materi pembelajaran berbahasa Inggris

Setiap materi pembelajaran selalu menggunakan bahasa Inggris. Tak terkecuali pada saat pembelajaran agama, guru dan siswanya tetap menggunakan bahasa Inggris. Hamim menjelaskan, semua materi yang diberikan kepada siswa, tidak ada yang dikotomi atau dikesampingkan. Semua materi agama atau pun muatan umum, diajarkan sesuai dengan kurikulum yang ada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

"Pada saat pembelajaran, yang menjadi produser atau sutradara adalah pendidiknya. Pada saat di kelas, semuanya kami serahkan kepada dewan gurunya. Rata-rata pendidik di MINU Pucang ini 90 persen guru bahasa Inggris, yakni melalui bimbingan tenaga pendidik yang profesional dengan 56 persen kualifikasi jenjang pendidikan S2. "Kami juga rutin memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada dewan guru dan alhamdulillah sampai saat ini tetap berjalan," kata Hamim.

Dalam menyeimbangkan antara ilmu agama dengan umum, Hamim menyatakan bahwa di MINU Pucang Sidoarjo juga menerapkan program intensif Tartil Al-Quran dengan target siswa hapal juz 30, 1 dan 2. Pembelajaran tersebut dilakukan secara menyeluruh dengan memadukan unsur Al-Quran dan intelektual peserta didik yang berfokus pada pembentukan akhlak dan kemampuan probelm solving.

Di MINU Pucang sendiri, jumlah tenaga pendidiknya sekitar 84 guru. Dari sekian itu, ada 16 guru yang memiliki sertifikasi internasioanl secara mandiri. Sementara jumlah siswanya hingga saat ini sekitar 1706 siswa. Untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajarnya, MINU Pucang memiliki ruang kelas sebanyak 32 ruangan dan luas sekolah 3682 meter persegi.

Prestasi membanggakan

Selain memiliki keunggulan kurikulum, siswa MINU Pucang Sidoarjo juga banyak menorehkan prestasi membanggakan. Tak ayal, banyak tropi maupun piagam penghargaan di dalam almari yang menjadi pusat pemandangan ketika mulai memasuki ruangan. Almari yang memiliki ukuran kurang lebih 2x1,5 meter ini berada di depan pintu masuk menuju ruang kelas.

Adapun prestasi yang pernah diraih oleh siswa MINU Pucang Sidoarjo pada tahun 2014 antara lain, juara I, II dan III tartil LPSI Al-Barokah tingkat Kota Surabaya-Sidoarjo, juara II dan III Pildacil tingkat Kabupaten Sidoarjo. Tahun 2015, juara I Pildacil tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat matematika tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat IPA tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat bahasa Inggris tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I Olimpiade Math Science SSC tingkat Kabupaten Sidoarjo, rangking 5 besar Nasional Math Science Emerald dan masih banyak lagi yang lainnya.

"Alhamdulillah pretasi yang diraih siswa kami dari tahun ke tahun selalu ada dan sangat banyak sekali. Tidak hanya itu, sekolah kami juga sering digunakan untuk study banding dari sekolah maupun Universitas baik yang ada di Sidoarjo maupun dari luar Sidoarjo," terang Hamim. (Moh Kholidun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah News, AlaNu Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Jumat, 18 Desember 2009

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini

Brebes, Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU 03 Larangan Brebes, Jawa Tengah kini mendirikan pondok pesantren Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Demikian disampaikan Kepala SMK Maarif NU 03 Larangan H Harus saat ditemui Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah di ruang kerjanya, Rabu (18/1).?

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pesantren Gus Dur di SMK Ini





Harun menjelaskan, pihak yayasan dan sekolah sudah bersilaturahmi atau sowan perihal pemberian nama pondok Abdurrahman Wahid ke keluarga Gus Dur di Jombang. “Kami sudah sowan ke keluarga Gus Dur perihal pemberian nama pondok di area SMK ini,” terang Harun.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah





Pondok Gus Dur, lanjutnya, baru kali dibuka pada tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah santri putra 12 anak dan santri putrid 10 anak. “Kami baru punya dua bilik pondok, jadi hanya bisa menampung maksimal 25 santri,” kata Harun.





Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Pengasuh pondok seluruh guru agama dan alumni pondok ternama seperti Lirboyo dan Darul Ulum Jombang dengan koordinator pengasuh KH Rifai. Di dalam pondok, antara lain menekuni kitab nahwu, sorof, hadits dengan kajian kitab Riyadus Sholihin, fikih dengan kajian Fathul Qorib dan lain lain.





Namun demikian, kalau bangunan lantai tiga sudah selesai dimungkinkan jumlah anak yang mondok akan terus bertambah. Karena para orang tua dan siswa sangat antusias untuk mengikuti kegiatan pondok pesantren.?





Lebih lanjut Harun menceritakan, SMK Maarif NU 03 kini memiliki siswa sebanyak 946 orang. Mereka terbagi dalam dalam bidang keahlian Tehnik Kendaraan Ringan (TKR), Tehnik Audio Video, Multi Media dan Akuntansi. Mereka di bimbing oleh 60 guru sarjana dan master.





Sekolah yang memiliki luar luas tanah 1,5 hektar tersebut kini memiliki bangunan Lantai 2 sebanyak 12 lokal, dan Lantai 3 sebanyak 18 lokal. Kini telah diselesaikan bangunan lantai tiga sebanyak 5 lokal. “Dari 35 lantai, yang digunakan pembelajaran 28 rombongan belajar dan selebihnya untuk bilik pondok, dan laboratorium,” ungkapnya.





Sekolah milik MWCNU Larangan ini juga menggelar berbagai kegiatan ekstrakurikuler antara lain pramuka, futsal, bulutangkis, rebana, marawis, pencak silat dan lain-lain. (Wasdiun/Abdullah Alawi).















Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Amalan, Aswaja Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 13 Desember 2009

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Sidoarjo Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah. Sebagai proses pengkaderan sebelum terjun ke masyarakat, para santri di pesantren mengkaji referensi literatur kutubus salaf dalam forum Bahtsul Masail. Seperti halnya yang dilakukan oleh santri aliyah kompleks Dar Assaadah di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Mereka membahas persoalan 9 patung manusia di sebelah Timur alun-alun Sidoarjo yang diturunkan beberapa pekan lalu karena karena dianggap berhala oleh sejumlah ormas. “Kami sengaja mengaji secara selektif tentang patung tersebut, karena beberapa waktu lalu masyarakat Sidoarjo diramaikan dengan pro dan kontra terhadap patung Jayandaru yang diletakkan di Alun-alun Sidoarjo itu," ucap ketua panitia Rahmat Hidayat, Kamis (11/3).

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Ia menambahkan, dari hasil bahtsul masail ini, selanjutnya akan dikaji kembali secara objektif dan akan diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo dengan tujuan meminta agar MUI Sidoarjo mengeluarkan fatwa haram terhadap patung, khususnya yang berada di Sidoarjo.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Forum itu semakin ramai dengan komentar para musyawirin yang pro dan kontra terhadap keputusan dewan Muharrir yang dalam hal ini dihadiri Ketua Islamadina Sidoarjo Agus Lukman Hakim, Ketua STIQ Al Khoziny Syu’aib Nur Ali, dan ustadz senior Ach Shodiq Firdaus, serta perwakilan dari ulama Sidoarjo yang menentang adanya patung itu, KH Moh Nurul Huda Nawawi.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebagian santri berpendapat, ketika patung itu mengandung unsur pembelajaran, maka tidak apa-apa dibangun. Ada pula santri yang berpandangan tentang penghargaan yang menjadi ikon kota. Sebagian lain menawarkan jawaban, apabila patung tersebut tanpa kepala, maka tidak apa-apa dengan alasan patung yang diharamkan itu ketika ada kepalanya.

“Apabila patung ini diarahkan terhadap sebuah Ikon kota, mengapa tidak membuat sebuah Ikon yang melambangkan Sidoarjo sebagi kota santri, seperti membuat miniatur yang berkhazanah islami," kata Agus Lukman Hakim mengomentari pendapat dari para musyawirin yang kontra terhadap keputusan sementara yang diambil.

Ach Shodiq Firdaus pun menambahkan, dari beberapa jawaban yang ada, yang menarik adalah ketika dalam pembentukan patung mengandung unsur littarbiyah (pembelajaran). Namun itu juga harus ada kajian lanjutan, apakah setiap patung ada unsur pembelajarannya?

Akhirnya, dari beberapa jawaban yang ada dikembalikan kepada dewan mushohih yang dalam hal ini dihadiri oleh KH Moh Nurul Huda Nawawi. Ia menegaskan, apapun alasannya, patung yang berada harus dihancurkan. Terlebih yang berada di Sidoarjo.

"Dari semua pendapat kebanyakan ulama mengatakan, haram menggambar sesuatu yang mempunyai ruh, seperti hewan dan manusia. Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo, serta Bupati Sidoarjo untuk segera memberantas patung yang berada di Sidoarjo," tegasnya.

Terkait permintaaan MUI Sidoarjo yang diminta mengeluarkan fatwa haram, Kiai Huda mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil dari keputusan musyawarah para ulama se-Sidoarjo. Dan tentunya akan segera mengeluarkan fatwa haram terhadap patung yang berada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Ahlussunnah, Nasional, Habib Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Rabu, 09 Desember 2009

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?

Jumat 17 Juli 2015 bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1436 H. Tentu ada dua shalat berjemaah besar atau kita sebut dua lebaran (iadan). Yaitu shalat Idul Fitri dan Shalat Jumat.

Islam menyebut Jumat juga Id (lebaran) sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha. Apakah kita wajib shalat raya dua kali dalam satu hari?

Semua ulama sepakat bahwa antara kedua shalat Id dan Zhuhur tidak saling menggugurkan. Namun bagi yang telah melakukan Shalat Idul Fitri tidak wajib shalat Jumat. Ia boleh memilih, apakah shalat Zhuhur atau shalat Jumat.

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Wajibkan Jumatan bagi yang Sudah Shalat Id?

Namun bagi Imam atau khatib Jumat sebaiknya tetap melaksanakan shalat Jumat untuk mengukur, siapa dan berapa orang yg akan hadir Jumatan. Jika ternyata yang hadir Jumat kurang dari 40 orang (menurut Imam Syafii) maka laksanakan saja shalat Zhuhur berjamaah.

Ulama melakukan analagi (qiyas), bahwa dengan shalat maka seruan utk melakukan pertemuan antar masyarakat sudah terlaksana tanpa diadakannya shalat Jumat.? Jika sudah terjadi salah satunya dari maksud yang sama di antara shalat Id dan Jumat maka sudah dianggap cukup, seperti mandi besar (junub) sudah dianggap cukup untuk berwudhu.

Hadits dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah saw bersabda: "Telah terjadi secara bersamaan dua lebaran (Id dan Jumat) dalam satu hari ini. Barang siapa yang telah melaksanakan shalat Id maka silahkan siapa yang hendak hadir Shalat Jumat dipersilahkan atau hendak shalat Zhuhur dipersilahkan (untuk memilih antara keduanya)".?

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sebenarnya masih ada ulama lain yg mewajibkan shalat meskipun sdh melaksanakan shalat Id, karena perintah shalat Jumat berdasarkan dalil. Ada juga Ulama yg berpendapat bahwa, Shalat Jumat tidak wajib karena telah melaksanakan shalat Id hanya bagi tokoh-tokoh agama yang Shalih sebagaimana? Sayyidina Utsman terapkan pada zamannya.

Kami memilih pendapat, bahwa orang yang telah melakukan shalat Id tidak wajib melakukan shalat Jumat,? namun yg lebih utama, besok ini adalah melakukan shalat Id juga melakukan shalat Jumat.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

M. Cholil Nafis, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Pesantren, AlaSantri Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Minggu, 06 Desember 2009

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Oleh Rosidi



Miris, menyimak berita ada seorang ibu yang sudah tua di Kota Tangerang, harus berurusan dengan masalah hukum karena digugat oleh anak kandungnya sendiri. Selain gugatan materiil yang cukup besar, yakni Rp 1 miliar, Fatimah, sang ibu, juga dituntut pergi dari lahan yang menjadi tempat tinggalnya.

Tak kalah miris, tersiarnya kabar pembunuhan terhadap satu keluarga Medan Deli. Korban terdiri atas Riyanto (40), Sri Ariyani (35), Sumarni (60), dan dua anaknya, Naya (13) dan Gilang (8). Hanya si bungsu, Kinara (4) yang selamat dalam tragedi itu. Hanya saja, Kirana kondisinya kritis.

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Karakter dan Pendidikan Sastra yang Terlupa

Itu hanya dua contoh kasus yang mengiris hati dan perasaan. Banyak lagi kasus-kasus yang tidak beradab, terjadi. Pertanyaannya, bagaimana ada anak yang tega menggugat ibu kandungnya, yang telah mengasuh dan membesarkannya? Bagaimana pula seseorang bisa demikian liar, hingga tega membunuh tanpa perikemanusiaan?

Banyak faktor yang menjadikan seseorang kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga bisa melakukan tindak atau perilaku tidak terpuji. Lalu, bagaimana lembaga pendidikan mesti mengambil sikap dan berperan agar tindak (perilaku) tidak terpuji seperti itu bisa diminimalisasi, syukur tidak terulang lagi? ?

Untuk itu, internalisasi (penanaman) nilai-nilai karakter harus dilakukan sedini mungkin. Dan lembaga pendidikan melalui para pendidiknya, juga mesti tidak kenal lelah menginternalisasikan nilai-nilai karakter (akhlak) setiap waktu, melalui beragam materi pembelajaran yang ada.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Salah satu materi yang tidak bisa dilupakan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak, adalah materi sastra, juga seni budaya. Sastrawan Ahmad Tohari, dalam salah satu kesempatan menyampaikan orasi budaya di Kabupaten Kudus, mengatakan, internalisasi pendidikan karakter terhadap anak, tidak bisa dipisahkan dari pengajaran sastra di sekolah.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Namun fakta yang terjadi, menurutnya, hingga berganti-ganti kurikulum, sistem pendidikan nasional di tanah air, belum lagi memberi porsi yang cukup bagi pengajaran sastra. Dengan kata lain, pengajaran sastra masih dipandang sebelah mata.

Ironis. Pengajaran sastra mestinya diberi porsi yang cukup. Sebab, pengajaran sastra akan berdampak positif pada anak. Dengan membaca sastra, anak-anak tidak sekadar menjadi cerdas, melainkan juga lebih peka terhadap situasi sosial yang berkembang. (Ahmad Tohari, 2015).

Demikian pentingnya pengajaran sastra, sampai Ki Hajar Dewantara saat berbicara dalam Kongres Pengajaran Kolonial I di Den Haag pada 1916, mengemukakan, bahwa pendidikan kesenian (termasuk di dalamnya sastra-budaya-pen) merupakan pendidikan estetis. (Darsiti Soeratman, 1986)

Pendidikan estetis ini untuk melengkapi pendidikan etis (moral), yang bermaksud menghaluskan hidup kebatinan anak. Sehingga anak bisa mengembangkan berbagai jenis perasaan, baik itu perasaan religius, sosial, individual, dan lain sebagainya.

Perlu Porsi Cukup

Belum adanya porsi yang cukup terhadap pengajaran sastra-seni-budaya di sekolah (lembaga pendidikan) dalam kurikulum di pendidikan nasional, kiranya perlu mendapatkan perhatian serius. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perlu melihat secara langsung realitas pengajaran sastra di sekolah-sekolah.

Pengajaran sastra sebagai upaya internalisasi nilai-nilai karakter ini penting, karena hakikat pendidikan itu tidak sekadar agar anak cerdas secara kognitif an-sich, tetapi sebagaimana dikemukakan Ki Hajar Dewantara, adalah tempat persemaian segala benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.

Di luar itu, pendidikan anak dalam keluarga juga perlu mendapatkan perhatian. Orang tua, tidak bisa mengalihkan pendidikan anaknya secara penuh di sekolah, tanpa mendapatkan perhatian yang cukup.

Artinya, kendati sudah menempuh (mendapatkan) pendidikan di sekolah, anak tetap harus mendapatkan pengawasan dan teladan yang baik dari orang tuanya. Pendidikan berbasis keteladanan ini juga tidak boleh terlupa.

Menilik dari sini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam rangka menginternalisasikan nilai-nilai karakter kepada anak. Pertama; pemahaman orang tua terhadap pembelajaran di tengah keluarga.

Tak bisa dimungkiri, banyak orang tua beranggapan, bahwa dengan menyekolahkan anaknya, tanggung jawabnya mendidik anak sudah lepas. Padahal, pendidikan di sekolah hanyalah bagian kecil dari pendidikan dalam rangka menyiapkan kader bangsa yang cerdas, bertanggungjawab, dan berkarakter.

Kedua; maksimalisasi pengajaran sastra. Sekolah-sekolah mestinya memaksimalkan pembelajaran sastra, paling tidak bisa diwadahi melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra ini menjadi penting, karena ? banyak memuat nilai-nilai yang bisa memperteguh karakter anak.

Ketiga, komunikasi yang efektif antara guru di sekolah dan orang tua. Komunikasi ini untuk memantau perkembangan anak, sehingga proses pendidikan dan pengawasan tidak terputus, melainkan ada sinergitas antara di sekolah dan di tengah keluarga.

Terkait komunikasi antara pendidik dan orang tua dalam rangka memantau perkembangan anak, ini bisa belajar kepada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Komunikasi antara pendidik PAUD dan orang tua peserta didik sangat baik, sehingga perkembangan anak terpantau dari dua sisi.

Di luar tiga hal di atas, perlu juga pengawasan terhadap anak dari tsunami informasi, baik melalui televisi maupun media lain, termasuk media sosial. Jaga anak dari program yang tidak mendidik. Jangan sampai, program-program televisi dan media lain memutilasi pendidikan yang didapat oleh anak, baik di sekolah maupun di keluarga.?

?

Penulis adalah pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus dan staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah Nahdlatul Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Sabtu, 05 Desember 2009

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Oleh Nasrulloh Afandi

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan.

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa; takwa.

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing “peserta”, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana.



Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah

Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan?


Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya.

Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi."

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia.

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya.

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya.

Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu.

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan.

Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat” . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu.

Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa?

Melacak Kontrol Takwa

Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa.

Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An’am: 162)

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa.

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa.

Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun.

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan?

Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya)

Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu.

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan?

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi.

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa.

Jika Nabi saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri?

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri.



Penulis adalah Kandidat Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah RMI NU, Kiai Ahmad Syafii Maarif - PP Muhammadiyah